• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas kasus korupsi akuntansi sektor pub

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tugas kasus korupsi akuntansi sektor pub"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh pegawai negeri atau

bahkan pejabat yang dapat merugikan negara demi kepentingan pribadi.

Salah satunya adalah korupsi. Korupsi merupakan tindak pidana yang dapat

diibaratkan sebagai penyakit kronis yang hampir tidak ada obatnya. Banyak

cara yang telah dilakukan untuk memberantas korupsi di Indonesia. Pada

masa orde lama sudah dua kali badan pemberantasan korupsi dibentuk.

Badan yang pertama adalah Panitia Retooling Aparatur Negara (PARAN)

dan yang kedua adalah Operasi Budhi.

Pada masa orde baru juga sudah dua kali badan pemberantasan

korupsi dibentuk yaitu Tim Pemberantasan Korupsi (TPK) dan Operasi

Tertib (OpsTib), namun tetap saja tidak bisa memberantas korupsi yang

bahkan semakin menguat. Pada era reformasi, B.J Habibie membentuk Tim

Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) yang gagal

(2)

dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang masih ada sampai

sekarang.

Yang menarik perhatian saya dalam mengangkat kasus korupsi

dalam makalah ini karena kasus korupsi merupakan kasus yang hampir

selalu ada dan bahkan tidak terlihat ujung pangkalnya. Kita juga jadi lebih

mengetahui mengenai cara mengindikasi dan menghindari terjadinya suatu

(3)

BAB II

TEORI & PEMBAHASAN

2.1 Teori

Istilah korupsi berasal dari perkataan bahasa latin yaitu “corruptio”,

dari kata kerja “corrumpere” yang berarti busuk, rusak, kebobrokan,

menggoyahkan, memutarbalik, dan menyogok. Di samping itu, perkataan

korupsi juga dipakai untuk menunjuk keadaan atau perbuatan yang buruk.

Korupsi juga banyak yang disangkutkan pada ketidakjujuran seseorang

dalam bidang keuangan.

Definisi korupsi menurut para ahli:

1. Mohtar Mas’oed (1994) mendefinisikan korupsi sebagai perilaku yang

menyimpang dari kewajiban formal suatu jabatan publik karena

kehendak untuk memperoleh keuntungan ekonomis atau status bagi diri

sendiri, keluarga dekat. Tindak korupsi umumnya merupakan transaksi

dua pihak, yaitu piha yang menduduki jabatan publik dan pihak yang

bertindak sebagai pribadi swasta. Tinddan yang disebut korupsi adalah

transaksi dimana satu pihak memberikan sesuatu yang berharga untuk

memperoleh imbalan berupa pengaruh atas keputusan-keputusan

(4)

2. Alfiler (1986) secara khusus merumuskan apa yang disebut sebagai

korupsi birokrasi (bureaucratic corruption) sebagai suatu perilaku yang

dirancang yang sesungguhnya merupakan suatu perilaku yang

menyimpang dari norma-norma yang diharapkan yang sengaja

dilakukan untuk mendapatkan imbalan maerial atau penghargaan

lainnya.

3. Menurut Syed Husein Alatas (1986) yang termasuk dalam pengertian

korupsi adalah:

a. Apabila seorang pegawai negeri menerima pemberian yang

disodorkan oleh seseorang dengan maksud mempengaruhinya

agar memberi perhatian istimewa pada kepentingan-kepentingan

si pemberi (disebut juga menyogok atau bribery).

b. Pemeraasan, yakni permintaan pemberian atau hadiah dalam

pelaksanaan tugas-tugas publik (graft).

c. Pejabat yang menggunakan dana publik bagi keuntungan mereka

sendiri.

d. Pengangkatan sanak saudara atau famili (nepotisme),

(5)

tanpa memandang jasa mereka maupun konsekuensinya pada

kesejahteraan publik.

4. Korupsi menurut Huntington (1968) adalah perilak pejabat publik yang

menyimpang dari norma-norma yang diterima oleh masyarakat, dan

perilaku menyimpang ini ditujukan dalam rangka memenuhi

kepentingan pribadi.

5. Menurut Dr. Kartini Kartono, korupsi adalah tingkah laku individu yang

menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan

pribadi, merugikan kepentingan umum.

6. Menurut A.S. Hornby korupsi adalah pemberian dan penerimaan

hadiah-hadiah berupa suap. Dapat diartikan juga kebusukan atau

kerusakan. Yang dimaksud dengan busuk atau rusak itu adalah moral

atau akhlak oknum yang melakukan perbuatan korupsi, sebab seseorang

yang bermoral baik tentu tidak akan melakukan korupsi.

7. Hermien Hadiati mengemukakan bahwa korupsi berasal dari kata

corrupteia yang dalam bahasa inggris berarti bribery atau seduction.

Dari kata bribery tersebut kemudian dapat diartikan sebagai

(6)

mendapatkan keuntungan dari pemberi. Sedangkan yang diartikan

dengan seduction adalah sesuatu yang menarik untuk membuat

seseorang menyeleweng. Dari dua kata tersebut (bribery dan seduction)

terhadap arti corrupteia menunjuk kepada sesuatu yang bersangkut paut

dengan ketidakjujuran seseorang dalam hubungannya dengan sifatnya

yang menarik atau demi keuntungan yang bisa membuat seseorang

menyeleweng.

8. Nye, J.S. (1967) dalam “Corruption and Political Development

mendefinisikan korupsi sebagai perilaku yang menyimpang dari aturan

etis formal yang menyangkut tindakan seseorang dalam posisi otoritas

public yang disebabkan oleh motif pertimbangan pribadi seperti

kekayaan, kekuasaan dan status.

9. Amin Rais dalam sebuah makalah berjudul “Suksesi sebagai suatu

keharusan” tahun 1993, membagi jenis korupsi menjadi empat tipe.

Yaitu:

a. Korupsi eksortif (exortive corruption), yaitu korupsi yang

merujuk pada situasi dimana seseorang terpaksa menyogok agar

dapat memperoleh sesuatu atau mendapatkan proteksi atas hak

(7)

memberikan sogokan pada pejabat tertentu agar mendapat ijin

usaha atau perlindungan terhadap usaha sang penyogok.

b. Korupsi manipulatif (manipulative corruption), yaitu korupsi

yang merujuk pada usaha kotor seseorang untuk mempengaruhi

pembuatan kebijakan atau keputusan pemerintah dalam rangka

memperoleh keuntungan setinggi-tingginya. Misalnya adalah

pemberian uang kepada bupati, gubernur, menteri dan sebagainya

agar peraturan yang dibuat dapat menguntungkan pihak tertentu

yang memberikan uang tersebut. Peraturan ini umumnya dapat

merugikan masyarakat.

c. Korupsi nepotistik (nepotistic corruption), yaitu perlakuan

istimewa yang diberikan pada keluarga (anak, keponakan atau

saudara dekat) para pejabat dalam setiap eselon. Dengan

perlakuan istimewa itu, para anak, menantu, keponakan dan istri

sang pejabat juga mendapatkan keuntungan.

d. Korupsi subversif (subversive corruption), yaitu berupa

(8)

pejabat negara dengan menyalahgunakan wewenang dan

kekuasaannya.

10. Wahyudi Kumorotomo (2005) mengatakan korupsi sebagai representasi

dari rendahnya akuntabilitas birokrasi publik.

11. Agus Suradika (2009) mengartikan korupsi sebagai perilaku tidak

mematuhi prinsip “mempertahankan jarak”. Mempertahankan jarak ini

maksudnya adalah dalam mengambil sebuah keputusan, baik di bidang

ekonomi, politik, dan sebagainya pada permasalahan dan tidak ada

kepentingan pribadi atau keluarga.

Faktor-faktor secara umum penyebab terjadinya korupsi antara lain:

1. Penegak hukum yang tidak konsisten.

2. Penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang, takut dianggap bodoh

apabila tidak menggunakan kesempatan.

3. Langkanya lingkungan yang anti korupsi. Sistem dan pedoman anti

korupsi hanya dilakukan sebatas formalitas saja.

4. Rendahnya pendapatan penyelenggara negara. Pendapatan

(9)

Pada 30 Desember 2013 Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit

Reskrimsus) Polda Jawa Tengah menahan Dwiyono Wiyono selaku

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kebumen, Jawa

Tengah. Dwiyono Wiyono ditahan terkait kasus korupsi proyek peninggian

jalan di Kebumen, Jawa Tengah yang merugikan uang negara sejumlah Rp

1,19 miliar.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Pol Djoko

Poerba menjelaskan bahwa selain Dwiyono Wiyono terdapat dua tersangka

lain yaitu direktur PT Surya Buana Indah, Alwanuddin Nawawi dan

direktur PT Mega Sarana, Heru Setiadi. Kasus ini mulai diselidiki oleh

pihak Polda Jateng sejak 1 November 2012 dan penetapan tersangka

dilakukan pada 8 Oktober 2013.

Kerugian negara pada kasus ini terungkap setelah Badan Pemeriksa

Keuangan (BPK) melakukan audit. Nilai total proyek peninggian jalan itu

Rp 6,7 miliar dan selesai pada 2012. Dananya berasal dari bantuan APBD

Provinsi Jawa Tengah 2011. Diketahui dugaan korupsi dilakukan dengan

modus mengurangi campuran aspal dalam proyek peninggian jalan

sehingga tidak sesuai dengan kontrak. Pada pengerjaan proyek pertama di

Taman Winangun-Bocor apabila sesua I kontrak ATB (Aspal Trade Base)

seharusnya 978,63 ton. Namun tersangka hanya memakai 778,37 ton.

(10)

kontrak. Faktanya hanya memakai 1406,11 ton. Untuk pengerjaan yang

kedua yaitu di Soka-Klirong, ATB yang seharusnya 562,79 ton hanya

memakai 157,33 ton. Untuk HRS nya 2441,04 ton dan hanya memakai

1990,34 ton. Pada pelaporan berita acara tidak sesuai dengan fakta

lapangan. Konsultan pengawas dianggap tidak melakukan tugas dengan

benar sehingga terjadi korupsi yang merugikan keuangan negara.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat pasal 2 dan 3

Undang-Undang No 31 tahun 1999 sebagimana telah diubah dan diperbaharui dalam

(11)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan kasus yang saya bahas dapat diambil kesimpulan bahwa

tingkat kejujuran dalam pemerintahan masih perlu diragukan. Sebagian

oknum memanfaatkan adanya proyek-proyek untuk keuntungan pribadi.

Dengan begitu pemerintah (khususnya kepala dinas PU Kebumen, Jawa

Tengah) sama sekali tidak akuntabilitas.

Hal ini dapat disebabkan karena:

1. Lemahnya pengawasan pada setiap aktivitas. Kurangnya pengawasan

atau ketidakpedulian sekitarnya karena merasa tidak dirugikan oleh apa

yang dilakukan oleh pelaku menjadi salah satu penyebab utama

terjadinya korupsi, dan bisa saja pelaku dapat mengendalikan perilaku

(12)

suatu aktivitas pemerintah menyebabkan oknum-oknum tertentu dapat

memanfaatkan kesempatan secara bebas.

2. Tidak adanya pendalaman agama dan etika dalam diri pelaku. Pelaku

menganggap agama hanya berkutat pada bagaimana cara beribadah saja

sehingga nyaris tidak berfungsi untuk membendung moral. Dangkalnya

pengetahuan norma-norma agama membuat pelaku berbuat sesuatu yang

tidak seharusnya dilakukan seperti mengambil apa yang bukan menjadi

hak milik. Kemudian penyebab lainnya adalah korupsi sudah menjadi

budaya. Melakukan korupsi dianggap hal yang biasa dilakukan karena

sudah sering terjadi. Sehingga merasa aneh apabila tidak ikut melakukan

korupsi.

3. Rendahnya konsekuensi yang diterima oleh pelaku. Koruptor memiliki

anggapan apabila keuntungan korupsi yang diperoleh lebih besar

daripada kerugian bila tertangkap, koruptor dapat menyuap penegak

hukum untuk dibebaskan atau diringankan hukumannya, dengan kata

lain sanksi yang dikenakan tidak cukup besar apabila dibandingkan

dengan besarnya nilai yang dikorupsi. Rumusnya keuntungan korupsi >

(13)

4. Munculnya keinginan untuk menyalahgunakan kewenangan. Dengan

banyaknya kesempatan yang ada dapat memunculkan keinginan atau

menggoda pelaku untuk melakukan tindakan korupsi. Pelaku merasa

rugi apabila melewatkan kesempatan yang ada. Akibatnya segala cara

dapat dilakukan untuk memperoleh apa yang diinginkan.

5. Adanya kesempatan. Tidak efektifnya sistem pada suatu pemerintahan

seperti pengendalian dan pengawasan dapat menciptakan kesempatan

atau peluang bagi pelaku-pelaku korupsi. Seperti yang terjadi pada

kasus proyek jalan tersebut. Pengawas tidak membuat berita acara

sesuai dengan fakta yang terjadi, melainkan menyesuaikan berita acara

dengan kontrak. Hal tersebut menciptakan peluang bagi kepala dinas PU

untuk melakukan tindakan korupsi.

6. Adanya kemampuan. Melakukan tindakan korupsi hanya bisa dilakukan

apabila orang tersebut atau pelaku memiliki kemampuan dan kecerdasan

untuk merekayasa dengan membuat data, pembukuan dan laporan fiktif

yang bertujuan agar perbuatan yang dilakukan tidak terdeteksi atau tidak

(14)

3.2 Saran

Dari apa yang saya simpulkan diatas, tindakan yang perlu dilakukan

untuk mengatasi atau mencegah terjadinya korupsi adalah:

1. Lebih waspada, terutama pada pengendalian dan pengawasan. Tidak

menganggap remeh dan melakukan aktivitas sesuai apa yang

seharusnya dilakukan agar tidak menimbulkan kesan fiktif pada tiap

pekerjaan yang dilakukan. Contohnya ketika laporan keuangan

pemerintah daerah atau kota diperiksa oleh BPK dan laporan tersebut

sudah disajikan sesuai dengan SAP. Namun setelah diperiksa sebagian

penerimaan tidak ada bukti setoran nya ke kas negara. Dengan begitu

ada indikasi penyimpangan dalam pencatatan dan BPK akan

memberikan opini tidak wajar dan melaporkan berapa pun besarnya

temuan korupsi dalam laporan audit.

2. Menerapkan konsep skeptisisme professional pada pengendalian dan

pengawasan. Dengan sikap skeptis yang berarti adalah sikap meragukan,

mencurigai, dan tidak mempercayai kebenaran suatu hal, teori, ataupun

pernyataan yang kemudian diterapkan pada sistem pengendalian dan

(15)

3. Selektif dalam memilih calon pemimpin. Dua hal yang dapat memicu

korupsi adalah kemiskinan dan keserakahan. Fenomena korupsi yang

terjadi pada kasus yang saya bahas adalah korupsi yang dipicu oleh

keserakahan. Mereka yang berkecukupan melakukan korupsi karena

serakah, tidak pernah puas dan menghalalkan segala cara untuk

mendapatkan keuntungan. Dengan kita selektif memilih pemimpin maka

tidak akan muncul permasalahan mengenai korupsi dan juga

permasalahan lainnya.

4. Menerapkan prinsip-prinsip etika dalam bekerja seperti disiplin, jujur,

tanggung jawab, kerja keras, dan tekun pada diri sendiri karena dengan

memulai dari sendiri sudah memberikan contoh bagi yang lain untuk

membenahi diri dan juga dapat mencegah adanya kecurangan untuk

terjadi seperti menolak adanya suap dan peduli pada segala tindak

penyelewengan yang terjadi. Pengaruh yang akan terjadi apabila cara ini

dilakukan adalah mencegah adanya permasalahan yang sudah dijelaskan

pada kesimpulan pada poin ke dua, tiga dan lima. Dengan menjalankan

etika maka budaya dan keinginan untuk memanfaatkan kesempatan

(16)

5. Bekerja secara transparan seperti yang dilakukan oleh gubernur dan

wakil gubernur provinsi DKI Jakarta, Joko Widodo dan Basuki Rahmat.

Mereka berdua melakukan berbagai cara untuk menunjukkan bahwa

mereka tidak melakukan penyelewengan seperti menampilkan berapa

besar gaji yang mereka terima pada website Provinsi DKI Jakarta dan

yang lebih hebat lagi adalah merekam setiap rapat yang dilaksanakan

dan mengunggahnya ke youtube. Dengan begitu masyarakat dapat

mengetahui apa saja yang sedang direncanakan oleh pemerintah

provinsi, bagaimana hasilnya dan informasi mengenai anggaran.

6. Membuat peraturan baru yang memberatkan hukuman bagi pelaku

korupsi. Jadi peraturan yang baru tersebut akan menambahkan hukuman

apabila dirasa hukuman yang diberikan masih belum sebanding dengan

tindakan penyelewengan yang dilakukan. Hal ini cukup penting untuk

membuat takut calon-calon koruptor dan saya pikir tidak mungkin ada

yang menolak cara ini. Karena apabila begitu sama saja mendukung

kebebasan calon koruptor.

7. Meningkatkan kinerja BPK dalam hal memeriksa dan mengawasi

(17)

8. Memperkecil peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku

penyelewengan. Dengan menghilangkan peluang maka tidak akan ada

tindak korupsi, dengan kata lain pelaku yang memiliki keinginan dan

kemampuan tidak akan memiliki kesempatan yang dapat dimanfaatkan

untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Walaupun faktanya

hampir tidak mungkin untuk menghilangkan peluang apabila melihat

sistem pemerintahan di Indonesia masih belum seluruhnya bekerja

Referensi

Dokumen terkait

Motif adalah dorongan yang membuat seseorang yang berbuat sesuatu. Motif selalu mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang

Adalah audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance), apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar,

Motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang berbuat sesuatu.. kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam belajar, kalau siswa mempunyai motif

Motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang mampu untuk melakukan sesuatu. Daya dorong yang lebih bersifat psikologis membuat bertambahnya kekuatan fisik, sehingga

Nilai Pakai Subjektif adalah seseorang terhadap sesuatu benda, sehubungan dengan benda tersebut dapat memenuhi kebutuhannya, atau kemapuan suatu benda untuk dapat dipakai

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia, penelantaran anak adalah kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya, seperti:

Dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang ada sekarang maka Laporan tersebut disebut sebagai Laporan Arus Kas, pada dasarnya pengertian Laporan Aliran Kas dengan

Hasil yang lebih bermakna dapat diperoleh dengan membuat akun- akun anggaran yang diklasifikasikan dengan cara tertentu yang spesifik terhadap jasa tertentu namun