PKM GAGASAN TERTULIS ATAU GT UNESA 2015

18  15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS VIDEO ANIMASI TERHADAP SISWA TUNARUNGU DI SMA-LB

SURABAYA BIDANG KEGIATAN: PKM-GAGASAN TERTULIS

Diusulkan Oleh :

Christiana Nurcahyanti 12040284007 / 2012 Reniy Atika Damayanti 12040284009 / 2012 Maulana Hanif Rahman 12040284023 / 2012 Aisah Fitri Mutiatun 12040284036 / 2012

(2)
(3)

Daftar Isi ...iii

Ringkasan ... iv

A. Pendahuluan 1. Latar Belakang ... 1

2. Tujuan Penelitian ... 2

3. Manfaat Penelitian ... 2

B. Gagasan 1. Kondisi Kekinian ... 3

2. Solusi yang Pernah Dilakukan ... 5

3. Kehandalan Gagasan ... 5

4. Pihak-Pihak yang Terkait ... 5

5. Strategi Penerapan ... 5

C. Kesimpulan 1. Gagasan yang Pernah Diajukan ... 6

2. Prediksi Hasil yang Diperoleh ... 7

D. Daftar Pustaka ... 8

E. Lampiran-Lampiran 1. Biodata Ketua Anggota ... 9

2. Susunan Organisasi Tim Penyusun dan Pembagian Tugas... 13

(4)

RINGKASAN

Semakin maju sebuah bangsa semakin besar pula penghargaan yang negara berikan kepada warganya yang berkbutuhan khusus. Semakin tinggi pula penghargaan terhadap mereka untuk mendapatkan kesempatan dan hak yang sama dalam menikmati pendidikan. Pendidikan inklusif merupakan salah satu langkah yang strategis untuk memberikan perhatian kepada anak yang berkebutuhan khusus untuk dapat menikmati pendidikan pada sekolah umum ataupun sekolah luar biasa (segregasi).

Dalam perkembangan di dunia pendidikan terutama adanya Kurikulum 2013 seorang guru dituntut untuk kreatif dalam menyampaikan materi pembelajaran yang akan mereka sampaikan, salah satu hal atau komponen dalam menunjang pembelajaran adalah adanya media pembelajaran atau alat bantu yang digunakan guru dalam menyampaikan pembelajaran. Hal yang menjadi masalah adalah saat guru tersebut tidak hanya mengajar anak-anak normal pada suatu lembaga pendidikan namun juga mengajar salah satu anak berkebutuhan khusus. Dalam hal ini penulis mengangkat tema mengenai anak tunarungu (anak yang mengalami hambatan atau gangguan dalam hal pendengaran).

Berdasarkan analisis yang telah diketahui bahwa media pembelajaran merupakan komponen yang sangat diperlukan dalam proses pembelajaran, dalam hal ini penulis mencoba salah satu alternative dalam memberikan solusi untuk guru, lembaga pendidikan atau dinas pendidikan untuk menciptakan video berbasis animasi untuk siswa tunarungu (anak yang mengalami hambatan atau gangguan dalam hal pendengaran), khususnya di SMA LB Surabaya. Hal ini tentunya akan sangat membantu siswa berkebutuhan khusus dalam mempelajari sejarah. Seperti pesan Bapak Proklamator kita Bung Karno, “ Jasmerah ” dengan maksud jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sejarah merupakan harkat dan martabat bangsa ini. Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus mengetahui dan memahami sejarah bangsa tercinta ini.

(5)

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan bagian dari kegiatan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Oleh sebab itu kegiatan pendidikan merupakan perwujudan dari cita-cita bangsa. Karenanya negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan perbedaan secara fisik atau yang lebih sering disebut sebagai siswa yang memiliki kebutuhan khusus seperti yang tertuang pada UUD 1945 pasal 31 (1). Saat ini di Indonesia gencar dikembangkan pendidikan Inklusif bagi seluruh anak yang memiliki keterbatasan baik di tingkatan Dasar, Menengah maupun Umum. Tujuan dari dikembangkannya pendidikan Inklusif ialah memberikan kesempatan bagi seluruh anak untuk memperoleh pendidkan secara sama tanpa memandang latar belakang atau apapun keterbatasan yang ada dalam diri peserta didik. Dalam Permendiknas No.70 tahun 2009 menyebutkan bahwa, pendidikan inkulusi didefinisikan sebagai sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Selain itu tujuan lain dari pendidikan inklusi adalah untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya dan mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif.

Pada tahapan awal pelembagaan atau pengadaan sekolah yang berbasis inklusif tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak sarana prasarana dan tenaga pengajar yang perlu dipertimbangkan serta diperbaiki untuk menunjang terlaksananya proses pendidikan inklusif di sekolah. Sarana yang dimaksud meliputi media pembelajaran, bahan ajar yang sesuai bagi para siswa berkebutuhan khusus, serta penambahan guru bantu yang khusus menangani siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Media pembelajaran penting dalam proses pembalajaran karena dapat membantu siswa untuk lebih memahami apa yang tengah mereka pelajari.

(6)

2

melihat mereka dapat lebih memaknai proses pembelajaran sejarah daripada hanya dengan membaca buku teks saja. Video animasi ini tak hanya diperuntukkan bagi mereka yang menderita tuna rungu tapi bagi siswa yang normal juga dapat membantu memotivasi mereka untuk mengikuti pelajaran Sejarah dengan baik, moderen dan berkualitas. Karena dengan memanfaatkan teknologi saat ini video animasi akan memiliki kualitas yang memuasakan. Sebab dalam proses pembelajaran sejarah di lapangan, banyak siswa yang kurang tertarik untuk mengikuti pembelajaran, dikarenakan metode atau cara yang digunakan guru sangat monoton. Dengan diciptakannya media pembelajaran berbasis video animasi ini diharapkan siswa dapat memahami peristiwa sejarah dengan mudah dan menarik, khusunya bagi mereka yang tidak bisa mendengar atau tunarungu. Sejarah merupakan harga diri bangsa ini. Soekarno sebagai bapak Proklamator telah berpesan kepada kita semua, “ Jasmerah ” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jadi dalam keadaan apapun diri kita, sejarah harus tetap menjadi pondasi utama dalam membangun bangsa ini.

2. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penulisan gagasan tertulis ini ialah untuk membantu proses pengembangan media pembelajaran di sekolah Inkusi ataupun sekolah luar biasa untuk membantu siswa yang memiliki kebutuhan khusus agar dapat mengikuti proses pembelajaran Sejarah di Sekolah secara baik.

3. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penulisan penelitian ini adalah,

a. Memberikan gagasan pada sekolah Inklusi atau sekolah SLB agar dapat mengembangkan media pembelajarannya bagi siswa yang memiliki kebutuhan khusus

(7)

B. GAGASAN 1. Kondisi Kekinian

Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang memiliki kelainan pada fisik, mental, tingkah laku (behavioral) atau indranya memiliki kelainan yang sedemikian sehingga untuk mengembangkan secara maksimum kemampuannya (capacity) membutuhkan PLB atau layanan yang berhubungan dengan PLB. Sesuai dengan hak asasi sebagai anak dimana ia harus tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan keluarga, maka PLB dalam bentuk Kelas khusus yang lokasinya berada di SLB harus dirancang sedemikian rupa sehingga program dan layanannya dekat dengan lingkungan ABK.

Pada akhir perkembangan sekarang ini, Anak luar Biasa sudah mulai dianggap sebagai manusia biasa sama seperti yang lain. Ia memiliki hak yang sama. Hal ini menimbulkan perlakuan yang wajar seperti pada anak yang lain yaitu dididik dan disekolahkan.

Perbedaannya hanya terletak pada adanya kelainan yang disandangnya, Kelainan bisa terletak pada fisiknya, mentalnya, sosialnya atau perpaduan ketiganya. Mereka mengalami kelainan sedemikian rupa sehingga membutuhkan pelayanan Pendidikan Luar Biasa. Dengan sikap ini maka ia memiliki hak yang sama dengan anak biasa lainnya. Dengan sikap ini timbul deklarasi hak asasi manusia penyandang cacat yang meliputi :

1. Hak untuk mendidik dirinya. (The Right to Educated Oneself)

2. Hak untuk pekerjaan dan profesi.(The Right to Occupation or Profession)

3. Hak untuk memelihara kesehatan dan fisik secara baik ( The Right to Maintain Health and Physical Well Being)

4. Hak untuk hidup mandiri (the Right to Independent Living) 5. Hak untuk mendapatkan kasih sayang (Right to Love)

(8)

4

mungkin berbeda dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada model kelas yang lain. Pada model Kelas Reguler (Inklusi Penuh), bahan belajar antara anak luar biasa dengan anak normal mungkin tidak berbeda secara signifikan; namun pada model Kelas Reguler dengan Cluster, bahan belajar antara siswa luar biasa dengan siswa normal biasanya tidak sama, bahkan antara sesama siswa luar biasa pun dapat berbeda.

Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pembelajar , sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar mengajar dengan baik. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran atau pelatihan.

Sedangkan menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Kemudian menurut National Education

Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah

sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.

Media pengajaran yang berupa multimedia adalah cara efektif yang bisa diigunakan untuk memberikan pengajaran kepada siswa tunarungu. Media ini merupakan sebuah aplikasi yang dirancang khusus untuk membantu pengajaran yang lebih menarik, menyenangkan, mudah dimengerti dan jelas karena informasi yang berupa pengetahuan disajikan dalam bentuk dokumen yang lebih hidup.

Pengajaran menggunakan multimedia membantu para guru untuk membuat suasana menjadi menarik dan menyenangkan, karena materi pelajaran yang diajarkan dikemas dalam bentuk animasi yang lebih hidup, mudah dimengerti dan jelas sehingga para siswa tunarungu dapat dengan mudah memahami materi yang diajarkan.

(9)

otomatis proses belajar akan lebih efektif baik dari segi pemanfaatan waktu maupun kualitas belajar.

Kondisi anak berkebutuhan khusus khususnya anak tunarunggu (anak yang memiliki gangguan dalam pendengaran) memiliki hambatan dalam menerima pelajaran terutama mata pelajaran sejarah yang notabenennya berkaitan dengan mempelajari peristiwa-peristiwa masa lampau. Yang pada umumnya mata pelajaran sejarah hanya disampaikan melalui ceramamah. Tentunya hal seperti ini sangat membosankan bagi siswa.

2. Solusi yang Pernah Dilakukan

Solusi ditawarkan untuk membantu siswa berkebutuhan khusus dengan gangguan tunarungu yaitu guru lebih sering menggunakan gambar sesuai dengan materi yang disampaikan. Sehingga siswa dapat memahami materi yang diajarkan oleh guru. Gambar yang disajikan disertai dengan tulisan untuk memberikan kemudahan pada siswa.

Selain itu seorang guru dalam menggunakan media pembelajaran yang ditawarkan untuk membantu siswa yang berkebutuhan khusus adalah dengan menggunakan metode bahasa isyarat, hal ini dirasa kurang efektif dan efisien dalam penggelolaan pembelajaran sejarah.

3. Kehandalan Gagasan

Gagasan mengenai video animasi untuk anak berkebutuhan khusus tepatnya untuk anak tunarungu (gangguan pada pendengaran) mempunyai keefektifan dalam proses pembelajaran pada materi pembelajaran sejarah hal ini didukung pada rendahnya pembelajaran yang hanya disampaikan melalui gambar sesuai dengan materi pembelajaran yang berkaitan dengan materi pembelajaran sejarah.

Video animasi yang dirancang untuk mata pembelajaran sejarah khususnya untuk anak tunarungu (gangguan pada pendengaran) diharapkan mampu mengatasi permasalahan terkait dengan adanya media pembelajaran yang berkembang di ruang lingkup pembelajaran lainnya.

Video animasi untuk pembelajaaran sejarah anak tunarungu belum banyak digunakan oleh lembaga sekolah maupun oleh guru oleh karena itu adanya video animasi dapat dijadikan motivasi untuk lebih efektif, efisien, dan menyenangkan bagi siswa.

4. Pihak yang Terkait

Pihak-pihak yang terkait berkaitan dengan terlaksanannya gagasan mengenai video animasi untuk anak berkebutuhan khusus untuk mata pelajaran sejarah SMA adalah :

a. Pemerintah :

(10)

6

anak berkebutuhan khusus mata pelajaran sejarah di SMA LB. Guru yang terkait mata pelajaran :

Guru yang terkait dalam melaksanakan gagasan mengenai video animasi untuk anak berkebutuhan khusus (tunarungu) untuk mata pelajaran sejarah SMA.

b. Dinas Pendidikan :

Dinas pendidikan daerah memberikan motivasi serta mengusahakan adanya fasilitas untuk menciptakan terwujudnya video animasi sehingga video animasi tersebut mampu membantu pembelajaran sejarah pada tingkat SMA dan jika bias video tersebut dijadikan alternative untuk membantu guru maupun lembaga dalam mengajarkan materi sejarah untuk anak tunarungu.

c. Lembaga sekolah

Lembaga sekolah berperan serta dalam mendukung terwujudnya media pembelajaran yang lebih variatif untuk anak berkebutuhan khusus. Hal ini tentunya didukung lewat sarana dan prasarana yang tidak hanya ditujukan untuk anak-anak normal namun juga ditujukan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

d. Strategi Penerapan

Strategi penerapan yang akan dijalankan terkait gagasan video animasi untuk pembelajaran sejarah anak berkebutuhan khusus (tunarungu) pertama akan diterapkan pada anak tunarungu untuk siswa SMA-LB. Guru meninjau dan mengawal proses pembelajaran sejarah pada materi tertentu dengan menggunakan media pembelajaran video animasi. Pemberian media video animasi ini diberikan pada proses pembelajaran Sejarah sesuai dengan kebijakan metode pembelajaran Sejarah yang tengah dirancang oleh guru.

C. KESIMPULAN 1. Inti Gagasan

Gagasan mengenai video berbasis animasi untuk anak tunarungu (anak yang mengalami hambatan atau gangguan dalam hal pendengaran). Dengan konsep media pembelajaran mata pelajaran sejarah yang disampaikan kepada siswa tunarungu di tingkat SMA-LB diharapkan mampu dikembangkan dengan mengacu pada kurikulum yang diterapkan pada lembaga pendidikan. Hal ini akan menjadi salah satu alternative yang dapat digunakan oleh guru mata pelajaran sejarah dalam menunjang pemahaman siswa tunarungu melalui video animasi sesuai dengan bab maupun materi yang akan disampaikan.

2. Teknik Implementasi Gagasan

(11)

pembelajaran mata pelajaran sejarah bagi siswa tunarungu tingkat SMA-LB, yaitu :

a. Membentuk sinergi tim ahli khusus yang terdiri dari pihak-pihak yang terlibat dalam suatu lembaga pendidikan misalnya guru sejarah, guru mata pelajaran komputer yang mengetahui pengetahuan lebih mengenai IT serta guru pembimbing khusus, dalam hal ini guru inklusi.

b. Meningkatkan kerjasama antara guru mata plajaran sejarah dalam suatu lembaga pendidikan SMA-LB dengan guru mata pelajaran seejarah sekolah umum dalam hal ini sekolah bagi anak-anak normal untuk merealisasikan pengembangan media pembelajaran berbasis video animasi bagi anak tunarungu.

c. Mengalokasikan dana guna merealisasikan pengembangan media pembelajaran berbasis video animasi bagi anak tunarungu untuk SMA-LB.

3. Prediksi keberhasilan gagasan

(12)

8

DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional, Pedoman Manajemen dan Pembelajaran Sekolah Inklusi Tunagrahita Ringan ( C ), 2010.

2. Desmita.Psikologi Perkembangan Peserta Didik : Panduan Bagi Orang Tua dan Guru dalam Memahami Psikologi Anak Usia SD, SMP, dan SMA. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.2009.

3. Sumarno. “ Manajemen Pendidikan Inklusif : Konsep, Kebijakan, dan

Implementasinya dalam Perspektif Pendidikan Luar Biasa ”,

http://file.upi.edu/direktori/A-FIP/JUR-PEND-LUARBIASA/19560722985031-Sunaryo/makalah inklusi. pdf dalam google.co.id. Diakses pada 24 Maret 2015

4. Sambas. Pendidikan Inklusi ”.http://sambasalim.com /pendidikan/pendidikan-inklusi.html.dalam Google co.id, 2010. Diakses pada 23 Maret 2015

5. Supariadi. Mengapa Anak Berkelainan Perlu Mendapat Pendidikan. Jakarta : Balai Pustaka, 1982.

6. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. “ Mengenal Pendidikan Inklusif ”,.http://118.98.163.196.dalam Google.co.id. Diakses pada 22 Maret 2015

7. Efendi, Mohammad. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta : Bumi Aksara. 2006.

(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)

14

Penggunaan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...