• Tidak ada hasil yang ditemukan

LITERASI ISLAM and LITERASI SAINS SEBAGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LITERASI ISLAM and LITERASI SAINS SEBAGA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

LITERASI ISLAM & LITERASI SAINS SEBAGAI PENJAMIN MUTU

KUALITAS MANUSIA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI

Fuad Jaya Miharja

Prodi Pendidikan Biologi – FKIP Univ. Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang

email: [email protected]

ABSTRAK

Perkembangan globalisasi membawa dampak yang teramat luas, baik dampak positif maupun dampak negatif. Kualitas masyarakat yang baik sangat dibutuhkan untuk dapat bertahan dan turut mengendalikan perkembangan global ke arah yang baik. Masyarakat yang berkualitas tinggi ditunjukkan dengan kemampuan berliterasi sains yang baik meliputi kemampuan berpikir kreatif, menganalisis masalah, mengambil keputusan, bersikap dan menyelesaikan masalah. Namun, untuk membendung dampak negatif perkembangan global tidak cukup dengan kemampuan literasi sains tetapi juga butuh kemampuan literasi islam yang baik. kemampuan berliterasi islam yang baik sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT meliputi pemahaman nilai-nilai tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah. Keseimbangan dalam pembangunan manusia berdasarkan kedua ranah ini merupakan aspek penting untuk menghasilkan manusia Indonesia yang beradab, berkepribadian dan berkemajuan.

Kata Kunci: literasi sains, literasi islam, kualitas manusia Indonesia

PENDAHULUAN

Kebutuhan akan perkembangan ilmu pendidikan berjalan seiring dengan perkembangan globalisasi. Perkembangan ilmu pendidikan tersebut turut berdampak terhadap pembangunan kualitas masyarakat. Ciri masyarakat yang berkualitas ditunjukkan dengan kemampuan literate meliputi kemampuan berpikir kreatif, menganalisis, mengambil keputusan, bersikap dan memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan informasi ilmiah yang diperoleh sebelumnya. Dalam era globalisasi seperti saat ini, setiap orang harus memiliki kemampuan untuk berhubungan dalam percakapan dan debat publik secara cerdas berdasarkan perkembangan IPTEK (Zuriyani, 2012). Individu yang mampu melakukan komunikasi dan mengikuti perkembangan IPTEK tentu dapat bertahan atau bahkan mengendalikan era globalisasi

Di sisi lain, perkembangan IPTEK yang semakin maju tidak hanya memberikan dampak

positif tapi juga dampak negatif. Hal tersebuut tampak karena setiap perkembangan IPTEK seringkali dibarengi dengan permasalahan baru seperti permasalahan etika, moral, serta hal-hal lain yang dapat menurunkan harkat dan martabat manusia (Rahayu, 2014). Ketidakmampuan dalam pengendalian dampak negatif ini dikhawatirkan akan menghasilkan peradaban yang lebih jahiliyah dari kaum yang pernah ada sebelumnya. Kekhawatiran ini setidaknya sudah banyak bermunculan bahkan pada berbagai level usia seperti masih banyaknya angka penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat aditif (NAPZA) oleh remaja, serta kasus kenakalan yang bersifat destruktif seperti perkelahian, tawuran, dan aksi bullying (Miharja, 2015).

(2)

pembangunan kualitas ruhaniyah-Ilahiyah pun sangat dibutuhkan. Pembangunan kedua dimensi harus berjalan seiring sejalan dan saling melengkapi satu sama lain. Pembangunan jasmaniah yang baik harus dapat mengarah pada kualitas ruhaniyah-Ilahiyah yang mantap sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Keseimbangan pembangunan kedua ranah ini merupakan aspek penting untuk menghasilkan manusia Indonesia yang beradab dan berkepribadian.

Peningkatan kualitas manusia secara jasmaniah ini dapat dibangun melalui kemampuan berliterasi sains, sedangkan pembangunan kualitas ruhaniyah-Ilahiyah dibangun berdasarkan penguatan pengetahuan melalui kegiatan kajian dan aplikasi nilai-nilai luhur islam atau disebut dengan literasi islam. Sebuah proses literasi islam disusun tidak hanya sampai pada ranah pengetahuan dan pemahaman, melainkan sampai pada ranah terapan dan aktualisasi dalam kehidupan sehari-hari (Miharja, 2015).

TINGKAT LITERASI SAINS MANUSIA INDONESIA

Tingkat literasi sains manusia Indonesia dapat diidentifikasi dari berbagai indikator mikro (Tjalla, 2012). Secara umum, tingkat literasi berbanding lurus dengan kualitas pendidikan suatu negara. Indikator mikro tentang tingkat literasi sains manusia dan kualitas pendidikan Indonesia dikaji oleh beberapa studi internasional seperti The Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), The Programme for International Student Assesment (PISA), dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS).

Hasil studi TIMSS tahun 2011 menunjukkan bahwa peserta didik di Indonesia belum menunjukkan prestasi sains yang memuaskan. Studi TIMSS 2011 menempatkan Indonesia di posisi 59 dari 63 negara yang berpartisipasi dengan skor rata-rata 386 (Mullis, 2011). Hasil ini menunjukkan bahwa prestasi sains peserta didik Indonesia masuk kategori rendah (low achievement) dengan estimasi lebih dari 15% namun tidak lebih dari 25%. Skor tahun 2011 ini ternyata lebih rendah 11 poin dibandingkan dengan skor yang diperoleh pada studi TIMSS 2007 (397). Disparitas prestasi

gender juga tampak sangat signifikan berdasarkan hasil studi TIMSS. Prestasi peserta didik perempuan (392) lebih tinggi dari pada prestasi peserta didik laki-laki (379) pada tahun 2007. Hal ini berarti, menurut sudut pandang TIMSS prestasi peserta didik Indonesia mengalami penurunan skor rata-rata walaupun masih pada level yang sama .

Hasil studi PISA mendefinisikan literasi sains sebagai kapasitas individu dalam menggunakan pengetahuan ilmiah, mendefinisikan pertanyaan, menarik kesimpulan dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang dipahami tentang dunia dan interaksi manusia (OECD, 2012). Hasil penilaian terbaru PISA tahun 2012 terhadap kemampuan literasi sains Indonesia adalah 375 dari nilai rata-rata 494 dan berada di peringkat 63 dari 64 anggota. Skor penilaian ini lebih rendah 1.9 poin dari skor yang diperoleh pada saat Indonesia pertama kali bergabung pada tahun 2000, sedangkan untuk kemampuan membaca meningkat 2.3 poin pada tahun yang sama. Lebih lanjut, penilaian PISA terhadap proporsi tingkat pencapaian anak-anak Indonesia terhadap literasi matematika mayoritas pada level 0 dan level 1 (76%) sehingga masih masuk kategori low achievers (Baswedan, 2014). Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan berliterasi manusia Indonesia masih rendah. Di lingkup Asia Tenggara (ASEAN) posisi Indonesia masih di belakang Vietnam (411), Thailand (427), dan Malaysia (421).

(3)

tanpa mampu berpikir lebih lanjut (kritis-analitis) dari apa yang sudah mereka baca. PENGEMBANGAN LITERASI SAINS DALAM ERA GLOBALISASI

Penerapan Kurikulum 2013

Pengembangan kurikulum pendidikan sebagai sebuah visi masa depan tidak lepas dari faktor-faktor yang berhubungan dengan kurikulum seperti tantangan internal, tantangan eksternal, penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, dan penguatan materi. Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Tantangan internal lainnya terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. Tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional.

Penyempurnaan terhadap pola pikir tampak pada adanya pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada peserta didik (student centered), interaksi guru harus lebih berkembang menjadi interaktif, pembelajaran pasif menjadi aktif, dan lain sebagainya. Faktor lain yang mendukung berkembangnya suatu kurikulum adalah penguatan tata kelola kurikulum yang menyoroti 3 hal yaitu, 1) tata kerja guru yang bersifat individual diubah menjadi tata kerja yang kolaboratif, 2) penguatan manajeman sekolah melalui penguatan kemampuan manajemen kepala sekolah sebagai pimpinan kependidikan (educational leader), dan 3) penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan manajemen dan proses pembelajaran. Faktor terakhir yang juga sangat mendukung ialah penguasaan materi yang dilakukan dengan cara pendalaman dan peluasan materi yang relevan bagi peserta didik.

Penguatan karakteristik dalam Kurikulum 2013 diantaranya terkait pengembangan sikap peserta didik, sekolah sebagai sebuah bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar, alokasi waktu yang cukup, penjelasan mengenai kompetensi, kompetensi inti, dan

kompetensi dasar. Perancangan Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Kurikulum 2013 dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan hal tersebut, Kurikulum 2013 dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut:

1. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan.

2. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik.

3. Pendidikan ditujukan untuk

mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). 4. Pendidikan untuk membangun kehidupan

masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan konsep ketuhanan (ketaqwaan kepada Allah SWT), berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik

(experimentalism and social

(4)

Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif

Terbentuknya masyarakat yang melek sains (science literate) merupakan salah satu fokus pembangunan pada masa globalisasi. Menurut Setyaningrum (2014) konsep sains yang berupa fenomena alam penting digunakan sebagai dasar pemikiran dalam memecahkan masalah dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan literasi sains dibangun dengan membudayakan dan meningkatkan kemampuan literasi seperti membaca, menulis, dan berdiskusi. Pembangunan sumber daya manusia yang berliterasi ditanamkan dalam model-model pembelajaran yang bersifat melibatkan dan mengaktifkan seluruh potensi peserta didik (pembelajaran kooperatif). Model-model pembelajaran seperti inquiry, problem based learning (PBL), dan project based learning (PjBL) merupakan model yang banyak dikembangkan dalam Kurikulum 2013.

Model pembelajaran kooperatif menurut (Nur, 2005; Susanti 2013) menginisiasi tiga tujuan pembelajaran sebagai berikut.

1.

Hasil belajar akademik yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja mahapeserta didik dalam tugas-tugas akademik. Selain itu, model pembelajaran ini juga dapat memberi keuntungan baik pada peserta didik kelompok bawah maupun atas yang bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Peserta didik kelompok bawah dapat memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama.

2.

Kompetensi sosial seperti penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda baik ras, budaya, kelas sosial, pola pikir dan kemampuan maupun ketidakmampuan antar peserta didik, serta antara peserta didik dengan lingkungan di sekitarnya.

3.

Tujuan yang ketiga adalah pengembangan

keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada peserta didik yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja sama, saling tergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar menghargai satu sama lain.

Penerapan model pembelajaran kooperatif juga menginisiasi tumbuhnya nilai percaya diri, optimis, tidak takut gagal, menghargai orang lain dan beberapa sikap positif lainnya. Kepercayaan diri peserta didik terbangun dari kepercayaan yang diberikan oleh guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Rasa percaya diri yang tinggi merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu tersebut dimana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya bahwa dia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi, serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri (Rahmawati, 2010). Kepercayaan diri akan timbul secara simultan dengan berkembangnya nilai-nilai positif lainnya. Optimisme yang tinggi akan tumbuh seiring dengan perkembangan kepercayaan dirinya melalui serangkaian pembelajaran mandiri, praktikum, asistensi, serta diskusi.

Pembelajaran kooperatif pada dasarnya memberikan ruang berfikir dan berkreasi yang jauh lebih luas dari pembelajaran konvensional. Sehingga, pembiasaan penerapan model pembelajaran kooperatif dalam jangka panjang mampu menanamkan nilai positif yang menjadi spirit pengembangan dan penerapan kurikulum 2013. Lebih lanjut, pembelajaran kooperatif menuntut peserta didik untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran model ini tidak hanya menitikberatkan pada hasil akhir melainkan pada proses yang terjadi. Penghargaan peserta didik terhadap sebuah proses yang jauh lebih penting dari sekadar hasil akhir menjadi bekal yang baik dalam menghadapi kehidupan pada periode berikutnya. Pembangunan Sarana dan Prasarana Pendidikan

(5)

olahraga dan ruang ruang bermain yang memadai dan ruang kerja guru; (2) Menyediakan media pembelajaran yang kaya, yang memungkinkan peserta didik terus-menerus belajar dengan membaca buku wajib, buku rujukan, dan buku bacaan (termasuk novel), serta kelengkapan laboratorium dan perpustakaan, yang memungkinkan peserta didik belajar sampai tingkatan menikmati belajar (Yudi, 2012).

Pengembangan literasi di lingkungan sekolah mulai banyak dikembangkan dengan menyediakan fasilitas internet (wifi), pojok baca, peningkatan kualitas (upgrading) majalah dinding, dan penggunaan waktu luang untuk kebiasaan membaca (Erman, 2014). Melalui aktivitas membaca dan kegiatan literasi ini peserta didik mampu mengisi waktu dengan berbagai kegiatan positif. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan tidak hanya pada lingkungan pendidikan formal saja. Kepedulian pemerintah daerah dengan banyak menyediakan ruang terbuka hijau seperti taman baca, perpustakaan, dan gazebo di ruang publik dan dilengkapi dengan fasilitas internet memberikan sebuah stimulus bagi berkembangnya kemampuan dalam berliterasi.

Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan secara berkesinambungan disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang ditetapkan. Pembangunan kualitas literasi sains dapat dikembangkan dengan keberadaan:

1. Laboratorium untuk kegiatan yang bersifat eksperimen. Kegiatan laboratoris secara simultan mampu membentuk pola berpikir ilmiah (sains) berdasarkan atas kejadian atau pengamatan yang dilakukan.

2. Ruang baca, baik berupa perpustakaan (konvesional) dengan koleksi buku-buku referensi ilmiah dan popular, maupun perpustakaan berbasis online yang dilengkapi dengan fasilitas sarana untuk terciptanya ruang diskusi bagi peserta didik. 3. Ketersediaan peralatan penunjang pembelajaran, baik pembelajaran di kelas maupun di dalam laboratorium seperti alat pembelajaran audio-visual untuk mendapatkan kualitas pembelajaran terbaik. 4. Ketersediaan sarana penunjang lain seperti instalasi listrik, air, kelengkapan tulis

kantor untuk menciptakan suasana yang nyaman dalam belajar.

LITERASI ISLAM SEBAGAI PENUNJUK ARAH PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA

Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan ilmu pengetahuan (science-friendly). Banyak bidang ilmu pendidikan yang berkembang pesat melalui pemikiran-pemikiran umat islam. Ilmu kedokteran berkembang menurut pemikiran dan penelitian Ibnu Sina, begitu juga perkembangan ilmu pendidikan tidak lepas dari pemikiran-pemikiran ilmuwan islam seperti Hassan Al-Banna. Perkembangan ilmu pengetahuan merupakan hasil peradaban umat islam yang peduli terhadap ilmu sehingga pemahaman (literate) yang baik terhadap nilai-nilai islam dapat dijadikan sebagai petunjuk bagi manusia dalam melakukan setiap aktivitasnya. Al-Quran sebagai sebuah mukjizat bagi Rasullullah SAW dan pegangan hidup umat islam (sumber dari segala sumber ilmu) menjadi inisiator atau stimulus bagi perkembangan ilmu pengetahuan (sains).

Pendidikan pada dasarnya merupakan sebuah cara sadar yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Kualitas hidup manusia yang dimaksud tentunya bermuaran pada terwujud masyarakat yang beradab dan berkepribadian islami. Pembangunan pendidikan di Indonesia yang diharapkan melalui penerapan kurikulum 2013 adalah terbentuknya manusia yang memiliki karakter dan dekat dengan Allah SWT yang tertuang dalam kompetensi inti 1 (KI 1) dan kompetensi inti 2 (KI 2). Pemerintah mulai menyadari bahwa kualitas hidup manusia Indonesia membutuhkan suatu keseimbangan, tidak hanya terkait pada ranah keilmuan saja tetapi pada saat yang sama butuh pembangunan atau penguatan ranah keimanan (agama).

(6)

daratan dan di lautan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS. Ar-rum [30]: 41).

Timbulnya berbagai kerusakan di masyarakat seperti penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat aditif (NAPZA) oleh remaja, serta kasus kenakalan yang bersifat destruktif merupakan dampak dari ketidakpahaman dan ketidakpedulian masyarakat dalam membaca, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Al-Quran sehingga terjadi ketimpangan dan ketidakadilan. Allah SWT dalam Surat Al-Maidah: 8 menjelaskan tentang konsep keadilan sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Konsep keadilan menurut Islam tidak hanya terpatok pada satu bidang kajian melainkan berlaku universal pada berbagai jenis bidang kajian. Keadilan dalam pembangunan kehidupan bernegara, baik dalam bidang pendidikan, budaya, hukum, tata kelola lingkungan, dan sebagainya. Hal ini penting, karena tidak ada kebebasan yang mutlak melainkan dibatasi oleh kebebasan-kebebasan yang lain. Allah Azza wa Jalla yang memiliki kebebasan dalam penguasaan alam semesta sehingga ketika manusia menetapkan kebijakan dalam lingkungan harus memperhatikan keadilan bagi alam dan sesama manusia.

Pilar terakhir adalah istishlah atau kebaikan/kemaslahatan bagi manusia. Al-Quran secara eksplisit menjelaskan akan larangan untuk membuat kerusakan dimuka bumi, sehingga setiap kebijakan yang diputuskan oleh manusia harus memperhatikan pilar ini. Pelaksanaan pilar bangunan ini hanya memberikan dua rambu yaitu halal dan haram yang masing-masing memiliki konsekuensi yaitu pahala atau dosa. Jika semua kebijakan terhadap pembangunan pendidikan membawa kebaikan

bagi kualitas hidup manusia maka hal tersebut halal dilakukan dan mereka berhak mendapatkan pahala karena telah menjalankan ketaatan terhadap perintah Allah Azza wa Jalla sedangkan sebaliknya jika mereka membuat kebijakan yang dapat merusak kualitas hidup manusia maka hal tersebut haram dari sisi aturan dan dosa jika tetap dilakukan.

Pada akhirnya, pembangunan kualitas manusia dengan menitikberatkan pada pembangunan keilmuan dan keimanan mampu menghasilkan generasi baru yang cerdas berilmu dan berkemajuan dan memiliki spirit keimanan dan tauhid kepada Allah Azza wa Jalla. Sehingga islam hadir pada setiap pola pikir masyarakat, pada setiap pengambilan keputusan, serta pada segenap lini kehidupan di masyarakat. Implikasi lebih jauh dari hal tersebut adalah terciptanya lingkungan serta kehidupan social-masyarakat yang baik dan beradab.

PENUTUP Kesimpulan

Kerusakan yang tampak di tengah-tengah masyarakat saat ini terbentuk akibat ketidakpahaman dan ketidakpedulian terhadap nilai-nilai luhur islam. Pembangunan terhadap literasi sains saja tidak dapat menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi tanpa adanya kemampuan literasi islam yang baik. Pemahaman terhadap nilai-nilai luhur islam mampu membentuk manusia yang lebih berbudi, beradab, dan berkemajuan dengan bekal ilmu yang dimiliki.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Bahriah, Evi Sapinatul. 2014. Meningkatkan Literasi Sains Peserta didik pada Aspek Proses Sains melalui Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA “Pengembangan Profesi Guru Sains melalui Penelitian dan Karya Teknologi yang Sesuai Tuntutan Kurikulum 2013”. 11 September 2014

[2] Baswedan, Anies. 2014. Gawat Darurat Pendidikan di Indonesia. Makalah disampaikan pada Silaturahmi Kementerian dengan Kepala Dinas Tanggal 1 Desember

(7)

http://www.republika.co.id/files/kemendikb ud/Paparan-Menteri-Kadisdik-141201-Low-v.0.pdf. diakses 14 Mei 2015

[3] Erman. 2014. Berdaya Saing dengan Literasi Sains. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA “Pengembangan Profesi Guru Sains melalui Penelitian dan Karya Teknologi yang Sesuai Tuntutan Kurikulum 2013”. 11 September 2014

[4] Mullis, IVS., Martin, MO., Foy, P. 2011. TIMSS 2011 International Results in Mathematics. TIMSS & PIRLS International Study Center, Lynch School of Education, Boston College

[5] Miharja, Fuad Jaya. 2015 Peran Media Pembelajaran Islam dalam Mengembangkan Kualitas Pendidikan Nasional di Era Global. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan “Reformasi Pendidikan dalam Asean Economic Community (AEC)” di FKIP Universitas Jember. 30 Mei 2015

[6] Nur, Muhammad. 2005. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah UNESA

[7] OECD. 2012. PISA 2012 Results in Focus: What 15-Year-Olds Know and What They Can Do With What They Know. Retrieved by

http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf. diakses 9 Juli 2015

[8] OECD. 2013. PISA 2012 Assessment and Analytical Framework: Mathematics, Reading, Science, Problem Solving and Financial Literacy. OECD Publishing [9] Rahmawati, Anis. 2010. Pengembangan

Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada Matakuliah Struktur Baja Untuk Meningkatkan Pemahaman dan Kepercayaan Diri Mahasiswa. Retrieved by

http://si.uns.ac.id/profil/uploadpublikasi/Ess ay/197904262002122001seminas

%20karakter.doc. diakses 8 Oktober 2015 [10] Susanti, Arik. 2013. Pengembangan Model

Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Bahasa Inggris Mahapeserta didik D3 Administrasi Negara FIS UNESA.

Retrieved by

http://id.scribd.com/doc/189876536/Penge mbangan-Model-Pembelajaran-Kooperatif-

Tipe-CIRC-Untuk-Meningkatkan- Kemampuan-Menulis-Bahasa-Inggris-Mahapeserta didik-D3-Administrasi-Negara-FIS-Unesa#scribd. diakses 8 Oktober 2015

[11] Tjalla, Awaluddin. 2012. Potret Mutu Pendidikan Indonesia Ditinjau dari Hasil-hasil Studi Internasional. Retrieved by http://pustaka.ut.ac.id/pdfartikel/TIG601.pd f

[12] Thompson, S., Provasnik, S., Kastberg, D., Ferraro, D., Lemanski, N., Roey, S., and Jenkins, F. 2012. Highlights From PIRLS 2011: Reading Achievement of U.S. Fourth-Grade Students in an International Context (NCES 2013–010 Revised). National Center for Education Statistics, Institute of Education Sciences, U.S. Department of Education. Washington, DC. Government Printing Office

[13] Yudi, Alex Aldha. 2012. Pengembangan Mutu Pendidikan Ditinjau dari Segi Sarana dan Prasarana (Sarana dan Prasarana PPLP). Jurnal Cerdas Sifa Vol.1 Mei-Agustus 2012.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi pengaruh interaksi antara takaran pupuk kandang sapi dan varietas kedelai terhadap semua parameter yang diamati.Takaran

Permasalahannya selain yang juga sama dengan pola bagian 11, adanya jalur akses parkir di taman berdekatan dengan pedagang kaki lima dan perilaku ini tentunya membuat rumput

Maka dapat disimpulkan bahwa “Ada pengaruh yang signifikan metode pemetaan pikiran (mind mapping) terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VII MTs Darul Huda

Penelitian ini dilakukan pada PB Berkat Tani yang merupakan perusahaan pemanufakturan beras yang belum memiliki prosedur operasional standar pada sistem-sistem

Efektivitas pencapaian tujuan instruksional dalam bentuk peningkatan hasil pembelajaran peserta didik dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor instrumental input

Indikator Kinerja Kegiatan 001 Jumlah Penyelesaian Administrasi Perkara (yang Sederhana, dan Tepat Waktu) Ditingkat Pertama dan Banding di Lingkungan Peradilan Agama (termasuk

‘Fragmen Okazaki” mulai terjadi, diawali oleh RNA primer pada tahapan ini juga, namun RNA primer tak terlihat di dalam diagram (i-f-l) parental RF terus bereplikasi lewat

Hasil belajar siswa yang didasarkan pada hasil tes dan hasil kinerja berupa hasil pembuatan laporan pemecahan masalah ....sistem pencernaan, menunjukkan hasil belajar