• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Pengaruh Faktor Penyebab Kemiski

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisa Pengaruh Faktor Penyebab Kemiski"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Analisa Faktor Penyebab Kemiskinan terhadap Upaya Penanggulangan Kemiskinan di Surabaya

Oleh:

Oliandes Sondakh1

(Business School – Universitas Pelita Harapan Surabaya) Williem2

(Business School – Universitas Pelita Harapan Surabaya)

Tulisan ini telah dipublikasikan pada

Simposium Riset Ekonomi V “Memacu Pertumbuhan Ekonomi Menuju Kemandirian Bangsa”

Abstrak

Poverty is a serious problem that is often discussed by many groups. Based on data collected by Biro Pusat Statistik (BPS), the poverty rate in Indonesia in 2010 was 13.3%, this shows a decrease from the year 2009, but the decrease is still not sufficient enough to reach the target of poverty reduction to 12.5%.

Poverty alleviation efforts have been carried out by many institutions, such as government, business institution and the society, since the monetary crisis in Indonesia in 1997, Indonesia government launched P2KP (Program Pengentasan Kemiskinan di Perkotaan) program in helping poverty alleviation. With this strategy, society is expected to act independently in an effort to reduce poverty, including young people, as future generation.

As a young generation, students have a different perspective with previous generations of the factors that cause poverty. Therefore it is necessary to study about the dominant factors that cause poverty from the perspective of students, and thus decision-makers can make suitable and appropriate programs in promoting active participation of students as part of the router and the mover of the nation.

Key words: Poverty, Society, Environment

Latar Belakang Masalah

(2)

Berdasarkan data yang dirilis oleh Biro Pusat Statistik mengenai persentase penduduk miskin, semenjak tahun 1999 hingga 2010 persentase penduduk miskin menurun, kecuali pada tahun 2006 terjadi kenaikan yang diakibatkan oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Pada tahun 2010, persentase penduduk miskin mencapai 13.3% (http://www.bps.go.id). Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan, walaupun terjadi penurunan angka kemiskinan dari tahun 2007 hingga 2009, namun perubahannya tidaklah banyak (http://bisniskeuangan.kompas.com).

Prasetijono Widjojo, Direktur Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasioan (PPN)/Bappenas, mengatakan bahwa status kemiskinan di Indonesia pada tahun 2010 adalah waspada. Karena target pemerintah adalah menjaga kemiskinan pada angkat 12,5% sampai 13,5%. Seharusnya angka kemiskinan itu bisa ditekan setidaknya mendekati plafon minimun yakni 12,5% (http://m.jpnn.com).

Salah satu konsep perhitungan kemiskinan yang diaplikasikan di banyak negara termasuk Indonesia adalah konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan konsep ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran/pendapatan per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan disebut penduduk miskin (http://www.bps.go.id)

Menurut Gunawan Sumodiningrat (2003) kebijakan pengentasan atau penanggulangan kemiskinan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu kebijakan tidak langsung, dan kebijakan yang langsung. Kebijakan tidak langsung meliputi (1)upaya menciptakan ketentraman dan kestabilan situasi ekonomi, sosial dan politik; (2)mengendalikan jumlah penduduk; (3)melestarikan lingkungan hidup dan (4)menyiapkan kelompok masyarakat miskin melalui kegiatan pelatihan. Sedangkan kebijakan langsung mencakup: (1)pengembangan data dasar (base data) dalam penentuan kelompok sasaran (targeting); (2)penyediaan kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan); (3)penciptaan kesempatan kerja; (4)program pembangunan wilayah; dan (5)pelayanan perkreditan.

Semenjak krisis moneter yang terjadi pada tahun 1999 pemerintah meluncurkan P2KP (Proyek Pengentasan Kemiskinan di Perkotaan), yaitu suatu upaya pemerintah untuk mempercepat upaya penanggulangan kemiskinan, yang tidak hanya bersifat reaktif terhadap keadaan darurat akibat krisis ekonomi tetapi juga bersifat strategis, karena dalam kegiatan ini disiapkan landasan berupa institusi masyarakat yang menguat bagi perkembangan modal sosial masyarakat di masa mendatang (www.p2kp.org). Diharapkan dengan strategi tersebut, masyarakat dapat bertindak mandiri dalam upaya untuk penanggulangan kemiskinan, termasuk di dalamnya mahasiswa, sebagai generasi penerus bangsa.

(3)

dominan yang menyebabkan kemiskinan dilihat dari sudut pandang mahasiswa, dan dengan demikian para pengambil keputusan dapat membuat program yang sesuai dan tepat dalam menggalakkan peran serta aktif mahasiswa sebagai bagian dari penerus dan penggerak bangsa.

Tinjauan Pustaka

Definisi Kemiskinan

Kemiskinan adalah konsep yang abstrak yang dapat dijelaskan secara berbeda tergantung dari pengalaman, perspektif, sudut pandang atau ideologi yang dianut (Darwin, 2005), oleh karena itu dibutuhkan definisi dari para ahli yang memiliki fokus kajian dengan perspektif masing-masing.

Maxwell (2007) menggunakan istilah kemiskinan untuk menggambarkan keterbatasan pendapatan dan konsumsi, keterbelakangan derajat dan martabat manusia, ketersingkiran sosial, keadaan yang menderita karena sakit, kurangnya kemampuan dan ketidakberfungsian fisik untuk bekerja, kerentanan (dalam menghadapi perubahan politik dan ekonomi), tiadanya keberlanjutan sumber kehidupan, tidak terpenuhinya kebutuhan dasar, dan adanya perampasan relatif (relative deprivation).

Poli (1993) menggambarkan kemiskinan sebagai keadaan;

ketidakterjaminan pendapatan, kurangnya kualitas kebutuhan dasar, rendahnya kualitas perumahan dan aset-aset produktif; ketidakmampuan memelihara kesehatan yang baik, ketergantungan dan ketiadaan bantuan, adanya perilaku antisocial (anti-social behavior), kurangnya dukungan jaringan untuk mendapatkan kehidupan yang baik, kurangnya infrastruktur dan keterpencilan, serta ketidakmampuan dan keterpisahan.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bapennas dalam dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan juga mendefinisikan masalah kemiskinan bukan hanya diukur dari pendapatan, tetapi juga masalah kerentanan dan kerawanan orang atau sekelompok orang, baik laki-laki maupun perempuan untuk menjadi miskin.

Masalah kemiskinan juga menyangkut tidak terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat miskin untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan bermartabat. Pemecahan masalah kemiskinan perlu didasarkan pada pemahaman suara masyarakat miskin, dan adanya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak mereka, yaitu hak sosial, budaya, ekonomi dan politik. Oleh karena itu, strategi dan kebijakan yang dirumuskan dalam strategi nasional pengentasan kemiskinan didasarkan atas pendekatan berbasis hak (http://www.bps.go.id).

(4)

memenuhi kebutuhan hidup yang layak (Esmara, 1986). Kemiskinan pada dasarnya mengacu pada keadaan serba kekurangan dalam pemenuhan sejumlah kebutuhan, seperti sandang, pangan, papan, pekerjaan, pendidikan, pengetahuan, dan lain sebagainya (Basri, 1995).

Grafik 2.1 Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin 1996 – 2010

Sumber: (http://www.bps.go.id)

Dari grafik bisa dilihat bahwa terjadi peningkatan angka kemiskinan yang signifikan dari tahun 1996 ke 1998.

Indikator Kemiskinan

Berdasarkan data yang dilansir dari Biro Pusat Statistik, maka disebutkan bahwa indikator-indikator kemiskinan adalah (http://www.bps.go.id):

1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan papan).

2. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).

3. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).

4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa. 5. Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya

alam.

6. Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.

7. Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.

8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental. 9. Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar,

wanita korban kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan

Menurut Kartasasmita (1996) ada 4 faktor penyebab kemiskinan antara lain:

1. Rendahnya taraf pendidikan

(5)

2. Rendahnya derajat kesehatan.

Taraf kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan rendahnya daya tahan fisik, daya pikir dan prakarsa.

3. Terbatasnya lapangan kerja

Selain kondisi kemiskinan dan kesehatan yang rendah, kemiskinan juga diperberat oleh terbatasnya lapangan pekerjaan. Selama ada lapangan kerja atau kegiatan usaha, selama itu pula ada harapan untuk memutuskan lingkaran kemiskinan.

4. Kondisi keterisolasian

Banyak penduduk miskin secara ekonomi tidak berdaya karena terpencil dan terisolasi. Mereka hidup terpencil sehingga sulit atau tidak dapat terjangkau oleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan gerak kemajuan yang dinikmati masyarakat lainnya.

Hubungan antara Pendidikan dan Kemiskinan

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (http://www.inherent-dikti.net) tentang Sistem Pendidikan, pendidikan adalah:

usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan diyakini merupakan suatu investasi dalam modal manusia (human capital), yaitu istilah yang sering digunakan oleh para ekonom untuk pendidikan, kesehatan, dan kapasitas manusia yang lain yang dapat meningkatkan produktivitas jika hal-hal tersebut ditingkatkan. Pendidikan memainkan kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara untuk menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan (Todaro, 2004).

Hubungan antara Pemukiman dan Kemiskinan

Di dalam rencana tata ruang kawasan perkotaan, diatur alokasi pemanfaatan ruang untuk berbagai penggunaan (perumahan, perkantoran, perdagangan, ruang terbuka hijau, industri, sempadan sungai, dsb) berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, keseimbangan, keserasian, keterbukaan (transparansi) dan efisiensi, agar tercipta pemukiman yang layak huni.

Pembangunan perumahan secara informal lambat laun membentuk permukiman yang kumuh, tidak terencana dan dilengkapi prasarana dan sarana yang memadai. Jenis pemukiman inilah yang mengarah ke indikator kemiskinan (dinatropika.wordpress.com).

Hubungan antara Lingkungan Usaha dan Kemiskinan

Pemerintah dalam program pembangunannya telah menjadikan

(6)

kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan perluasan lapangan kerja. Hal ini terkait dengan pemikiran bahwa lingkungan usaha yang memadai dapat mendorong ketersediaan lapangan kerja sehingga dengan sendirinya akan mengentaskan masalah kemiskinan (Afit; 2009). Dalam kondisi ideal, maka peningkatan pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh lingkungan usaha yang bagus akan mendorong perluasan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan..

Hubungan antara Kesehatan dan Kemiskinan

Menurut Jeffrey Sachs (2005) bahwa banyak hal yang menyebabkan seseorang akan semakin terperangkap dalam “jebakan kemiskinan”. Salah satunya adalah tiadanya human capital di mana salah satu variabelnya adalah dalam wujud akses kesehatan yang memadai dan terjangkau.

Hipotesis

Hipotesis adalah dugaan sementara yang masih harus dibuktikan kebenarannya. Sesuai dengan rumusan tinjauan di atas maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:

1. Pendidikan, Pemukiman, Lingkungan Usaha, dan Kesehatan secara keseluruhan mempunyai pengaruh terhadap pengentasan kemiskinan 2. Pendidikan mempunyai pengaruh positif terhadap pengentasan

kemiskinan

3. Pemukiman mempunyai pengaruh positif terhadap pengentasan kemiskinan

4. Lingkungan usaha mempunyai pengaruh positif terhadap pengentasan kemiskinan

5. Kesehatan mempunyai pengaruh positif terhadap pengentasan kemiskinan

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan survey, yaitu teknik pengumpulan data dengan mengambil data dari responden. Adapun ruang lingkup penelitian yang dilakukan merupakan studi statistik maupun deskriptif dan inferensial, yang menekankan pada keluasan analisis ukuran-ukuran sampel.

Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

Dalam penelitian ini, penulis membataskan penelitian pada populasi mahasiswa sebuah universitas swasta di Surabaya. Hal ini karena profil mahasiswa di universtias tersebut terdiri dari berbagai macam latar belakang, sehingga diasumsikan telah mewakili profil mahasiswa pada umumnya.

(7)

pengambilan sampel menurut Sutrisno Hadi (1984; p. 221), yang berbunyi: sebenarnya tidak ada suatu ketetapan mutlak akan berapa persen sampel yang harus diambil dari populasi.

Teknik Analisa Data

Teknik analisa data yang dipakai adalah analisis statistik induktif (Inferensial), yaitu suatu model analisis yang bertujuan untuk mengambil kesimpulan atas keseluruhan anggota populasi atau menguraikan populasi yang sedang dipelajari, yang didasarkan dari hasil penelitian sebagaian populasi atau sampel.

Adapun analisis yang dipergunakan, yaitu analisis regresi (Regression Analysis) yang merupakan analisis yang dipergunakan untuk menguji pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat dengan skala pengukuran interval atau rasio dalam suatu persamaan linier.

Analisa Data

Dari 120 kuisioner yang disebar, hanya 100 kuisioner yang dapat digunakan untuk analisa data. Profil responden dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1. Profil Responden

Profil Responden

Jenis Kelamin Pria Wanita

Usia

17 tahun 1 orang 1 orang

18 tahun 3 orang 3 orang

19 tahun 17 orang 9 orang

20 tahun 7 orang 26 orang

21 tahun 9 orang 18 orang

22 tahun 1 orang 1 orang

> 22 tahun 2 orang 2 orang

Jumlah 40 orang 60 orang

Sumber: hasil pengolahan data

(8)

Tabel 2. R Square

Sumber: hasil pengolahan data

Dari hasil perhitungan ANOVAb, diperoleh hasil Sig=0.000a, hal ini berarti bahwa data yang diperoleh signifikan dan dapat digunakan dalam penelitian.

Tabel 3. ANOVAb

Sumber: hasil pengolahan data

Berdasarkan hasil perhitungan uji t diperoleh kesimpulan bahwa secara parsial, dari keempat variabel bebas yang diajukan, hanya variabel kesehatan yang terbukti mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap upaya pengentasan kemiskinan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ruger et al (2001), yang menyatakan bahwa, kesehatan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial suatu negara. Terganggunya kesehatan dapat berdampak pada pengurangan penghasilan keluarga. Jika sektor kesehatan terganggu, maka akan mengakibatkan terganggunya tingkat pendapatan suatu rumah tangga sehingga mereka bisa menjadi miskin. Hal ini berarti hipotesis kelima diterima.

Tabel 3. Uji t

Sumber: hasil pengolahan data

(9)

Pendidikan merupakan sektor yang bersifat formal, dan harus dijalankan sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan, yang secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Untuk sektor pemukiman, penyediaan fasilitas umum sosial secara mandiri oleh masyarakat dianggap membutuhkan upaya yang besar, dan harus didukung oleh ketersediaan lahan kosong untuk pembangunannya.

Variabel lingkungan usaha memiliki pengaruh yang berbanding terbalik dengan upaya pengentasan kemiskinan, hal ini karena secara implisit, konsep ekonomi mengandung arti menegakkan demokrasi ekonomi. Demokrasi ekonomi secara harfiah berarti kedaulatan rakyat di bidang ekonomi, dan kegiatan ekonomi yang berlangsung adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Konsep ini menyangkut masalah penguasaan teknologi pemilikan modal, akses ke pasar dan ke dalam sumber-sumber informasi, serta ketrampilan manajemen (Harahap; 2010).

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa untuk memberdayakan masyarakat di bidang ekonomi, memerlukan daya dan upaya yang sangat besar, sehingga apabila masyarakat terlalu fokus ke sektor tersebut dikuatirkan sektor lainnya akan terbengkalai dan pada akhirnya justru akan memperlambat upaya pengentasan kemiskinan. Namun, dari pengolahan data yang dilakukan, variabel lingkungan usaha tidak mempunyai pengaruh yang signifikan, sehingga disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan.

Batasan dan Penelitian Lanjutan

Beberapa batasan dalam penelitian ini adalah penelitian ini tidak mengikut-sertakan intervening variable, dan sampel yang digunakan hanya terbatas pada satu universitas swasta di Surabaya. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan dapat menggunakan populasi dan sampel yang lebih luas, sehingga hasilnya dapat lebih tergeneralisasi, selain itu dapat pula digunakan intervening

variable untuk lebih memperkuat penelitian, dan terakhir dapat

mempertimbangkan isu-isu sosial lainnya sebagai variable tambahan untuk mempercepat upaya pengentasan kemiskinan.

Daftar Pustaka

Basri, Faisal. 1995. Profil dan penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Surabaya: Erlangga.

Darwin, M.M. 2005. Memanusiakan rakyat. Penanggulangan kemiskinan sebagai arus utama pembangunan. Yogyakarta: Penerbit Benang Merah

Esmara, Hendra. 1986. Perencanaan dan pembangunan Indonesia. Jakarta: Gramedia

(10)

Kartasasmita, Ginandjar. 1996. Pembangunan untuk rakyat: memadukan pertumbuhan dan pemerataan. Jakarta: Cides.

Maxwell, John. 2007. 25 Ways to win with people. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Poli, W.I.M. 1993. Kemiskinan gejala dan akar suatu pandangan tentang kemiskinan. Pengantar Diskusi ISEI Cabang Ujung Pandang

Sallatang. 1986. Nelayan dan kemiskinan di Sulawesi Selatan. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional Kemiskinan, Ujung Pandang.

Sumodiningrat, Gunawan. 2003. Peran lembaga keuangan mikro dalam menanggulangi kemiskinan terkait dengan kebijakan otonomi daerah. Jurnal Ekonomi Rakyat, Artikel - Th. II - No. 1 - Maret 2003.

Todaro, M. 1989. Pembangunan ekonomi di dunia ketiga. Jakarta: Erlangga

Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. 2004. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Edisi kedelapan. Erlangga: Jakarta

---, Angka Kemiskinan Naik, Pemerintah Waspada. Diakses 29 Maret 2011

http://m.jpnn.com/news.php?id=79439

---, BPS: Angka.Kemiskinan.2010.Berkisar.14..15.Persen. Diakses 28 Maret 2011

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2009/12/08/01363633/

---, Draft strategi nasional penanggulangan kemiskinan (SNPK) 13 Juni 2005. Diakses 28 Maret 2011 http://rekrutmen.bappenas.go.id/node/89/467/draft-strategi-nasional-penanggulangan-kemiskinan-snpk-13-juni-2005/

---, Jenis Pemukiman. Diakses pada 28 Maret 2011

http://dinatropika.wordpress.com/sosial/

---, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Diakses pada 01 Juli 2011

http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_Tingkat_Satuan_Pendidikan

---, Penjelasan Data Kemiskinan. Diakses 28 Maret 2011

http://www.bps.go.id/brs_file/Penjelasan_Data_Kemiskinan.pdf

---, Penjelasan Data Kemiskinan. Diakses 28 Maret 2011

http://www.bps.go.id/index.php?news=821

---, Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin. Diakses 28 Maret 2011

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=23& notab=4

---, PKP dan Kemiskinan. Diakses 01 Juli 2011

http://pkh.depsos.go.id/index.php/pedoman-kesehatan/pendahuluan-kesehatan/101-11-pkh-dan-kemiskinan

---, Politik Kesehatan dan Kemiskinan. Diakses 01 Juli 2011

(11)

---, Program Pengentasan Kemiskinan. Diakses 28 Maret 2011 http://www.p2kp-urbanpoverty.blogspot.com/

---, Refleksi Akhir Tahun 2010. Diakses 28 Maret 2011

http://www.menkokesra.go.id/content/refleksi-akhir-tahun-2010

---, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Diakses 28 Maret 2011 http://www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf

Gambar

Grafik 2.1 Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin 1996 – 2010
Tabel 1. Profil Responden
Tabel 2. R Square

Referensi

Dokumen terkait

Dari tabel 4.3 juga bisa dilihat pada kelompok kontrol sebagian besar kategori harga diri pada lansia sebelum dilakukan Life Review Therapy yaitu pada kategori sedang

Pemberantasan narkoba adalah paling utama karena dapat mengancam generasi muda yang menjadi penerus bangsa.. Kalimat di atas

Sehingga produk yang didisain nantinya akan memiliki kesan yang simpel yang telah dimiliki image produk ini.(positioning produk jenis ini terhadap jenis produk diagnosa mata

Proses perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif berlangsung mengikuti suatu sistem atau prinsip mencari keseimbangan (seeking equilibrium), dengan menggunakan

Selain itu, radiasi yang dipancarkan oleh suatu radioisotop, lokasi dan distribusinya dapat dideteksi dari luar tubuh secara tepat, serta aktivitasnya dapat diukur secara

Pembahasan dalam makalah ini akan membongkar ideologi apa yang tersembunyi di balik pesan iklan produk bumbu masak, deterjen pakaian, dan sabun pencuci peralatan makan

[r]

beranggapan bahwa perubahan pertambahan batang yang lebih pendek akan lebih besar dibandingkan perubahan pertambahan panjang batang yang lebih panjang, sedangkan untuk soal