• Tidak ada hasil yang ditemukan

Optimalisasi Peran Zakat sebagai Alterna

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Optimalisasi Peran Zakat sebagai Alterna"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

OPTIMALISASI PERAN ZAKAT

SEBAGAI ALTERNATIF DALAM MENGATASI DEFISIT APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)

Nama Tim:

“Sharia Economic UIN SUKIJO”

Anggota:

Annisa Nur Salam (13810025) Hana Purti Rahmania (13810013) Neneng Ela Fauziyyah (13810014)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Paper dengan Judul :

OPTIMALISASI PERAN ZAKAT

SEBAGAI ALTERNATIF DALAM MENGATASI DEFISIT APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)

Disusun oleh:

Annisa Nur Salam (13810025) Hana Purti Rahmania (13810013) Neneng Ela Fauziyyah (13810014)

Telah diperiksa dan disetujui sebagai salah satu syarat mengikuti “Call For Sharia Economics Paper Competition 2014 (CASEP 2014)” yang diadakan oleh Sharia Economics Competition (SEC) 2014 dan Ksei Sharia Economics Student Club

IPB (SES-C IPB) pada tanggal 11-13 September 2014

Bagian Kemahasiswaan,

Dr. Misnen Ardiansyah, SE.,M.Si.,Ak.,CA

Dosen Pembimbing,

Benni Setiawan., M.S.I.

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

DAFTAR ISI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

RINGKASAN ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Penulisan ... 2

C. Manfaat Penulisan... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3

BAB III METODE PENULISAN ... 13

BAB IV PEMBAHASAN A. Eksistensi Zakat di Indonesia ... 14

B. Potensi Zakat di Indonesia ... 17

C. Peluang Zakat sebagai Anggaran Pendapatan Negara ... 18

D. Optimalisasi Peran Zakat sebagai Alternatif dalam Mengatasi Defisit APBN ... 20

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 22

B. Saran ... 23

DAFTAR PUSTAKA ... 24

(4)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.

Teriring puji serta syukur tidak pernah lupa kami panjatkan kepada yang Maha Kuasa, yang senantiasa membimbing kami tetap berada di jalan-Nya dan telah memberi ilmu dan segala kemudahan untuk dapat memahaminya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpah kepada Nabi kita, Nabi seluruh umat, Muhammad SAW yang senatiasa ditunggu syafaatnya di Yaumil Akhir nanti.

Karya tulis sederhana ini dibuat dengan harapan mampu memberi saran dan masukan terhadap pemerintah baru nanti akan pentingnya zakat untuk membantu mengatasi kemiskinan dan memperkecil defisit APBN di Indonesia. Sehingga zakat dapat menjadi alternatif yang dijadikan sumber pendapatan resmi Negara. Semoga dengan mengoptimalkan zakat ini, Indonesia dapat terlepas dari utang yang berkepanjangan. Aamiin.

Karya ilmiah ini tidak lepas dari berbagai kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.

Yogyakarta, Juli 2014

(5)

RINGKASAN

Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan persoalan tahunan di Indonesia. Defisit anggaran bukan masalah biasa. Pasalnya, hal ini berkaitan dengan eksistensi dan martabat sebuah bangsa. Oleh karena itu, persoalan tersebut selayaknya menjadi perhatian serius agar bangsa dan negara ini tetap berdiri sama tinggi dengan warga bangsa lain.

Sebagai negara kesatuan yang dihuni oleh lebih dari 85 persen warga muslim, Indonesia pada dasarnya mempunyai modal untuk keluar dari jebakan defisit anggaran. Salah satunya dengan optimalisasi potensi zakat. Potensi zakat yang cukup besar, dipandang mampu menjadi alternatif mengurangi defisit APBN tersebut.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulisan ini bertujuan untuk menawarkan instrumen zakat guna dijadikan pendapatan resmi Negara. Adapun metodologi yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif. Melalui metode ini diperoleh kesimpulan bahwa untuk menjadikan zakat sebagai pendapatan resmi Negara perlu adanya optimalisasi peran zakat dengan cara merevisi UU No. 23 Tahun 2011 dengan mencantumkan kebijakan baru yaitu menjadikan instrumen zakat sebagai sumber pendapatan resmi negara serta beberapa

(6)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Setiap akhir tahun Negara membuat perencanaan APBN untuk satu tahun ke depan. Penyusunan APBN ini akan sangat membantu negara dalam mengatur dana yang ada, sehingga penyalurannya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu, dengan adanya perencanaan APBN, Negara dapat mengetahui berapa kekurangan dana yang dibutuhkan untuk menyejahterakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan.

Sumber pendapatan negara yang nantinya masuk pada APBN berasal dari pajak, kepabeanan dan cukai serta penerimaan negara bukan pajak dan juga hibah.1 Sampai saat ini pajak menjadi pendapatan terbesar bagi negara terlepas dari adanya penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh orang-orang pajak sendiri. Di Indonesia sendiri pajak disalurkan untuk membiayai fasilitas publik seperti pembangunan jembatan, jalan raya, penerangan jalan, fasilitas keamanan dan lain-lain. Dengan bagusnya fasilitas publik tentu saja akan meningkatkan mobilitas ekonomi yang implikasi akhirnya juga dapat meningkatkan PDB.2

Dalam hal ini penyaluran pajak belum diarahkan secara langsung pada upaya pengentasan kemiskinan masyarakat. Jadi meskipun pajak setiap tahunnya terus meningkat, namun tidak menjadikan kemiskinan menurun. Angka kemiskinan di Indonesia cukup tinggi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik angka kemiskinan di Indonesia mencapai 28,07 juta jiwa pada tahun 2013. Angka ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 0,52 %.3 Akan tetapi, persentase penurunan yang hanya berada pada persentase di bawah 1 % tidak

1“Advertorial APBN 2014”,

http://www.kemenkeu.go.id/Page/infografis-apbn-2014

Diakses pada 18 Juni 2014 pukul 14:25

2“Zakat, Potensi Pendapatan Negara yang Terabaikan”,

http://www.bppk.depkeu.go.id/bdk/makassar/index.php/component/content/article/14-artikel-widyaiswara/491-zakat-potensi-pendapatan-negara-yang-terabaikan. Diakses tanggal 15 Juni 2014 pukul 13.14

3

(7)

terlalu berpengaruh besar pada pengurangan penduduk miskin di Indonesia. Jika keadaan ini terus berlanjut negara akan tetap mengalami defisit anggaran yang berkepanjangan karena butuh lebih banyak dana untuk mengatasi kemiskinan yang bukan berasal dari pajak.

Dengan adanya permasalahan-permasalahan ekonomi yang dihadapi Indonesia tersebut, diperlukan solusi atau alternatif yang dapat membantu mengatasinya. Sementara itu, Islam sebagai agama yang mayoritas dianut oleh penduduk Indonesia menawarkan solusi atau alternatif untuk membantu mengatasi defisit APBN yaitu dengan instrumen zakat yang dijadikan sebagai sumber pendapatan resmi negara.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana eksistensi, potensi dan peluang zakat di Indonesia serta bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan untuk dapat mengoptimalkan zakat tersebut.

B.Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan paper ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui eksistensi dan perkembangan zakat di Indonesia 2. Untuk mengetahui seberapa besar potensi zakat di Indonesia

3. Untuk mengetahui peluang zakat di Indonesia sebagai pendapatan resmi negara 4. Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah mengoptimalisasikan zakat

untuk mengurangi defisit APBN

C.Manfaat Penulisan

Manfaat yang dapat diambil dari paper ini adalah : 1. Mengetahui eksistensi dan perkembangan zakat di Indonesia 2. Mengetahui besar potensi zakat di Indonesia

3. Mengetahui peluang zakat di Indonesia sebagai pendapatan resmi Negara. 4. Mengetahui langkah-langkah optimalisasi zakat dalam mengurangi defisit

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Pengertian Zakat

Menurut bahasa zakat diambil dari isim masdar dari kata zaka-yazku-zakah. Kata dasar zakat adalah zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, baik dan bertambah.4 Dari pengertian tersebut jelas bahwa orang yang melaksanakan zakat adalah orang yang hati serta jiwanya akan menjadi bersih dan suci.

Menurut mazhab Maliki, secara istilah zakat adalah mengeluarkan bagian khusus dari harta yang telah mencapai nishabnya untuk yang berhak menerimanya.5 Maka zakat merupakan harta yang dikeluarkan oleh aghniya (pemilik harta) kepada orang yang berhak menerimanya. Orang yang wajib mengeluarkan zakat disebut muzaki dan orang yang berhak menerima zakat disebut mustahiq.

B.Dasar Hukum Zakat

Zakat merupakan instrumen keempat dari rukun Islam. Perintah berzakat (zakat mal) diwajibkan pada awal bulan syawal tahun kedua hijriyah setelah diperintahkannya puasa ramadhan dan zakat fitrah. Zakat merupakan kewajiban bagi orang beriman (muzaki) yang mempunyai harta yang telah mencapai (nishab)

ukuran tertentu dan (haul) waktu tertentu untuk dikeluarkan dan diberikan kepada (mustahiq) orang yang berhak menerima zakat. Zakat hukumnya fardhu„ain bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat tersebut.

Pada dasarnya perintah untuk berzakat telah tercantum di dalam Q. S. At-Taubah (9: 103)

س ه مه س ت لص ّ إ مهلع ص اِ مه زت ُ هطت ةق ص مه مَأ م خ

.ملع ٌع

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu

membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.

4

Fakhruddin, Fiqh dan Manajemen Zakat di Indonesia, (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm. 13.

5

(9)

Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Q. S. at-Taubah (9 :103)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengambil zakat dari orang yang mampu berzakat dan diberikan kepada yang berhak menerimanya. Adapun orang-orang yang wajib menerima zakat ialah yang tergolong kepada delapan asnaf (orang-orang fakir, orang-orang miskin, muallaf, para amil zakat, budak, orang yang berhutang, ibnu sabil dan fi sabililah).

C.Syarat-syarat wajib zakat

1. Orang-orang yang disepakati wajib membayar zakat Mereka yang disepakati wajib menunaikan zakat adalah6 :

a. Orang Islam

Artinya orang yang selain Islam meskipun ia tinggal di daerah yang dikuasai Islam (kafir dzimmy), ia tidak diwajibkan untuk menunaikan zakat. Ia hanya akan diwajibkan untuk membayar jizyah (pajak).

b. Merdeka

Jumhur Ulama sepakat bahwa orang yang merdeka diwajibkan

membayar zakat. Namun, para ulama berselisih pendapat mengenai harus atau tidaknya seorang hamba sahaya membayar zakat. Mengutip dari bukunya M. Hasbi Ash Shiddiqy bahwa kata Abu Hanifah dan Asy Syafi’i

: “Tiada wajib zakat atas budak belian, hanya wajib atas tuannya.”

Sedangkan kata Malik dan Ahmad : “Tiada wajib zakat atas budak belian

dan tiada dikeluarkan oleh tuannya.” Dan kata Abu Tsaur dan Daud :

“Wajib zakat pada harta budak, atas sendirinya.”7

c. Baligh (telah sampai umur), d. Berakal sehat,

Baligh dan berakal sehat juga merupakan salah satu syarat wajib zakat. Untuk orang yang masih kecil dan tidak berakal sehat (gila), M. Hasbi Ash-Shiddiqy berpendapat bahwa setelah mendalami dalil

6

M. Hasbi Ash Shiddieqy, Pedoman Zakat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hlm. 40

7

(10)

masing golongan nyatalah bahwa zakat itu wajib dipungut dari harta anak-anak kecil dan orang-orang gila, karena zakat itu adalah fardlu yang dihadapkan atas harta. Oleh karena itu, siapa pun yang memiliki harta meskipun ia masih kecil atau sudah mukallaf, baik ia berakal sehat atau sedang dalam keadaan gila, wajib mengeluarkan zakat. Pelaksanaanya itu diserahkan kepada walinya. Dan harta yang dikeluarkan itu adalah harta yang lebih dari kebutuhan sehari-hari yang pokok.8

e. Memiliki harta yang mencapai nisab dengan kepemilikan sempurna Harta yang wajib dikeluarkan zakatnya harus mencapai nisab dengan dimiliki secara sempurna. Yang dimiliki senisab itu adalah harta yang lebih dari keperluan hidup sehari-hari, termasuk ke dalam keperluan sehari-hari, makan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan alat-alat bekerja.9

2. Syarat-syarat harta yang wajib dizakati a. Mencapai ukuran nisab

Harta yang disyaratkan mencapai nisab, jika ia sudah sampai pada nisabnya maka wajib dikeluarkan zakatnya. Namun jika masih kurang dari nisab, tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

b. Haul

Haul adalah waktu kepemilikan harta yaitu satu tahun penuh. Jika harta yang disyaratkan haul telah dimiliki satu tahun penuh, maka harta tersebut wajib dikeluarkan zakatnya.

Di antara harta yang disyaratkan cukup setahun dimiliki nisabnya adalah :

1. Binatang ternak 2. Emas dan perak 3. Barang perniagaan

Sedangkan harta yang tidak disyaratkan haul adalah :

1. Barang yang disimpan untuk makanan yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan

8

Ibid.

9

(11)

2. Barang logam yang baru didapat dari galian

Tegasnya harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah harta yang sudah mencapai nisab dan harta tersebut sudah dimiliki selama satu tahun. Kedua syarat ini harus beriringan adanya.10

D.Macam-macam Zakat

Secara garis besar terdapat dua macam jenis zakat: 1. Zakat fitrah

Menurut Yusuf Qardawi11zakat fitrah yaitu zakat yang sebab diwajibkannya adalah futur (berbuka puasa) pada bulan Ramadhan. Lebih jelasnya, zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Besar zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,5 kilogram) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.

Wajib zakat fitrah dilatarbelakangi oleh firman Allah surat al-A‟la (87 :14 -15)

ّّزت م حلفإ ق

.

ّّصف هب ْإ

“Sesungguhnya telah berkemenangan orang yang mengeluarkan zakat

(fitrahnya) menyebut nama Tuhanmu (mengucap takbir, membesarkan

Allah) lalu ia mengerjakan sembahyang (hari raya Idul Fitri).”Q. S.

al-A‟la (87 :14-15)

Ayat di atas menurut riwayat ibn Khuzaimah12, diturunkan berkenaan dengan zakat fitrah, takbir hari raya dan sembahyang.

2. Zakat mal

Zakat mal adalah zakat atas harta yang dimiliki setelah mencapai haul dan nisab. Adapun terkait harta yang wajib dizakati tersebut terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Namun, para ulama mazhab empat13 menyepakati jenis harta yang wajib dizakatkan ada lima macam,

Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, (Bogor: Litera Antar Nusa, 1993), hlm. 922. 12

M. Hasbi Ash Shiddieqy, Pedoman Zakat, hlm. 234. 13

(12)

perak, perdagangan, pertambangan dan harta temuan, serta pertanian (gandum, korma, anggur).

Berikut merupakan pemaparan terkait penjelasan perbedaan harta yang wajib dizakati:

a. Zakat emas dan perak

Kewajiban zakat emas dan perak didasari oleh Q.S. at-Taubah (9: 34-35) :

َّإ ِ ي ي َّإ

menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka

rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan.” Q.S. at-Taubah (9: 34-35)

Ayat di atas menunjukan adanya ancaman Allah dalam dua hal, yaitu penyimpanan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah. Yang berarti tidak berzakat.

Emas dan perak tersebut wajib dizakati jika keduanya telah

mencapai nisab dan haul. Adapun nisab emas dan perak, sesuai Hadis yang diriwayatkan oleh Ali dari Nabi saw.14 adalah 20 dinar (emas) dan 200

dirham (perak). Berdasarkan pendapat Yusuf Qardawi15, 20 dinar tersebut setara dengan 85 gram emas. Dan 200 dirham setara dengan 595 gram

Wahbah al-Zuhayly, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), hlm. 129.

15

(13)

Dasar hukum wajib zakat binatang ternak adalah Hadis yang

“Tiada seorang lelaki yang mempunyai unta, atau lembu, atau kambing, yang

tidak diberikan zakatnya, melainkan datanglah binatang-binatang itu pada hari kiamat berkeadaan lebih gemuk dan lebih besar dari masa di dunia, lalu ia menginjak-injak kakinya dengan telapak-telapaknya, dan menanduknya dengan tanduk-tanduknya. Setiap habis binatang-bintang itu mengerjakan yang demikian, kembali lagi mengerjakannya dan emikianlah terus menerus

hingga selesai Allah menghukum para manusia”.

Pada Hadis tersebut disebutkan bahwa hewan yang wajib dizakati adalah unta, lembu dan kambing. Dan tidak ada perselisihan para ulama dalam hal wajib zakat pada hewan-hewan itu.

Seseorang diwajibkan menzakati hewan ternaknya ketika memenuhi persyaratan sebagai berikut16 :

1. Sampai nisab

Sampai nisab berarti mencapai kwantitas tertentu yang ditetapkan hukum

syara‟. Adapun kwantitas minimal untuk unta adalah 5 ekor dan untuk

domba atau kambing adalah 40 ekor. Adapun untuk sapi terdapat perbedaan pendapat yang berkisar antara 5-30 bahkan 50 ekor.

2. Telah dimiliki satu tahun 3. Digembalakan

4. Tidak dipekerjakan c. Zakat kekayaan dagang

(14)

“Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah sebagian hasil usaha yang

kalian peroleh dari sebagian hasil bumi yang Kami keluarkan untuk kalian.”

Q. S. al-Baqarah (2: 267) berdagang tersebut didasarkan atas Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Samrah bin Jundab.

d. Zakat tanaman dan buah-buahan

Allah berfirman dalam surat al-An‟am (6:141) yang mewajibkan adanya zakat tanaman dan buah-buahan :

هّ ح إ تإ

اصح ي

“Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya)”. Q. S.al-An‟am (6:141)

Ibnu Abbas19 mengatakan bahwa lapadz haqqahu pada ayat tersebut bermakna zakat yang diwajibkan.

Kadar zakat tanaman dan buah-buahan salah satunya tertera dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Umar20 bahwa Nabi saw. bersabda, “Yang diairi oleh air hujan, mata air, atau air tanah, zakatnya 10%, sedangkan yang diairi

penyiraman, zakatnya 5%.”

Adapun untuk jenis tanaman dan buah-buahan yang wajib dizakati, terdapat perbedaan pandangan para ulama.21 Ibnu Umar dan segolongan ulama salaf berpendapat bahwa tanaman yang wajib dizakati adalah gandum dan sejenis gandum lain (syair). Sedangkan buah-buahannya adalah kurma dan anggur.

e. Zakat pertambangan dan barang temuan

17

Ibid., hlm.300.

18

Febrianti, Praktek Pengelolaan Zakat , hlm. 38.

19

Wahbah al-Zuhayly, Zakat Kajian, hlm. 181. 20

Yusuf Qardawi, Hukum Zakat , hlm. 331.

21

(15)

Terdapat perbedaan pandangan22 antara para ulama terkait jenis barang

tambang yang wajib dizakati. Pendapat Syafi‟i adalah hanya emas dan perak

saja yang wajib dizakati. Sedangkan menurut Abu Hanifah, setiap barang tambang yang diolah dengan menggunakan api maka harus dizakati. Berbeda dengan Hanbali yang mengatakan bahwa tambang yang wajib dizakati adalah semua pemberian bumi yang terbentuk dari unsur lain tetapi berharga.Terkait kadar zakat barang tambang pula terdapat perbedaan23, ada yang berpendapat 20% dan ada pula yang berpendapat 2.5%.

Adapun kadar zakat untuk barang temuan (rikaz) adalah 1/5 atau 20%. Tidak ada syarat haul dalam zakat rikaz, semua ulama menyepakati waktu mengeluarkan zakat rikaz ialah setelah ditempa dan dibersihkan.24

Pembahasan di atas adalah objek zakat mal yang disepakati 4 imam mazhab. Adapun pada zaman modern sekarang, Yusuf Qardawi mewajibkan zakat terhadap profesi, saham, obligasi dan sebagainya. Terlepas dari perbedaan itu, ada kebenaran yang tidak mungkin diragukan adalah terkait objek zakat yang tertera dalam al-Qur‟an.

E.Fungsi dan Tujuan Zakat

Dengan disyaria‟tkannya suatu hukum tidak akan pernah lepas dari

hikmah dan manfaat yang akan diperoleh darinya. Termasuk zakat yang merupakan ibadah mahdloh sekaligus ibadah ghoer mahdloh memiliki manfaat serta hikmah yang sangat besar jika dilaksanakan sesuai dengan aturan yang ada. Selain untuk mendapatkan ridlo Allah SWT dan penyucian jiwa serta harta yang dititipkan Allah kepada kita, zakat juga memiliki efek sosial yang dapat memperbaiki kondisi masyarakat sekitar.

Febrianti, dalam skripsinya mengutip pendapat Abdurrahman Qadir yang mencatat 5 hikmah zakat25, yaitu :

22

Ibid., 415 23

Ibid., 417.

24

Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat, hlm. 149.

25

(16)

1. Manifestasi rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Karena harta kekayaan yang diperoleh seseorang adalah atas karunia-Nya. Dengan bersyukur, harta dan nikmat itu akan berlipat ganda.

2. Melaksanakan pertanggungjawaban sosial, karena harta kekayaan yang diperoleh orang kaya, tidak terlepas dari adanya andil dan bantuan orang lain baik langsung maupun tidak langsung.

3. Dengan mengeluarkan zakat, golongan ekonomi lemah dan orang yang tidak mampu merasa terbantu. Dengan demikian akan tumbuh rasa persaudaraan dan kedamaian dalam masyarakat.

4. Mendidik dan membiasakan orang menjadi pemurah dan terpuji dan menjauhkan diri dari sifat bakhil yang tercela.

5. Mengantisipasi dan ikut mengurangi kerawanan dan penyakit sosial seperti : pencurian, perampokan, dan berbagai tindakan kriminal yang ditimbulkan akibat kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Dari tujuan dan hikmah yang dikemukakan oleh Abdurrahman Qadir dapat diambil kesimpulan bahwa zakat merupakan ibadah yang mempunyai efek sosial dalam kehidupan masyarakat terutama mengangkat garis kemiskinan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat. Jadi bukan hanya sebatas kewajiban umat Islam sebagai rukun Islam saja.26

F. Zakat Perspektif Abu Ubaid

Abu Ubaid merupakan Ekonom Muslim yang memberikan kontribusi pemikirannya terkait zakat. Dalam kitabnya yaitu al-Amwal, Abu Ubaid memaparkan tentang zakat sebagai sumber pendapatan publik yang merupakan analisis berdasarkan al-Qur‟an dan Hadis tanpa berpegang pada suatu mazhab mana pun.

Berikut merupakan pemikiran Abu Ubaid tentang zakat27:

Pertama, pemerintah harus bertanggungjawab atas segala hal yang menyangkut masyarakat. Termasuk keuangan publik, salah satunya pengelolaan zakat.

26

Ibid

27

Efectivity of Zakat in Indonesian Regulatory; Overview on Abu Ubaid Perspective ,

(17)

Kedua, zakat dijadikan sebagai sebagai institusi khusus keuangan publik yang potensial untuk mengatasi pengeluaran publik bagi kaum Muslim bahkan untuk kaum non-Muslim jika pendapatan Negara dari sumber selain pajak tidak mampu memenuhi kebutuhan publik secara umum. Yang berarti zakat bersifat obligatary (wajib/memaksa).

Ketiga, pengelolaan zakat dilakukan oleh setiap amil daerah dan distribusi dana zakat tersebut diatur oleh amil setempat yang diutus oleh pemerintah. Namun, tetap terkoordinasi dengan pemerintah pusat.

Keempat, pemerintah menggaji amil sebagaimana gubernur dan pegawai

pemerintah lainnya.

Kelima, Negara memiliki kekuatan politis untuk mengumpulkan zakat barang-barang yang tampak dari masyarakat secara memaksa. Namun, tidak untuk barang-barang yang tersembunyi, masyarakat Muslim memiliki kebebasan untuk menunaikannya sesuai kesadaran masing-masing, karena hal ini sudah memasuki ranah antara umat Islam dengan Allah.

Keenam, memasukkan kaum non-muslim sebagai penerima zakat jika pendapatan

negara selain zakat tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum. Kiranya pemikiran-pemikiran Abu Ubaid di atas dapat dipertimbangkan sebagai analisa dalam kebijakan zakat di era modern ini. Termasuk di Indonesia

(18)

BAB II

METODE PENULISAN

1. Jenis Penelitian

Dalam penulisan paper ini, penulis menggunakan jenis penelitian library research, di mana permasalahan digambarkan dengan didasari pada data-data yang terdapat dalam literatur atau dokumen. Kemudian dianalisis lebih lanjut untuk diambil suatu kesimpulan.

2. Jenis Data a. Data primer

Yaitu data utama yang bersumber dari data-data serta informasi-informasi yang diperoleh dari sumbernya secara langsung.

b. Data sekunder

Yaitu data yang bersumber dari studi kepustakaan.

3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan teknik studi dokumentasi. Yaitu mengumpulkan data berdasarkan data-data yang berkaitan dengan

masalah penulisan.

4. Teknik Analisis

Dalam menganalisi data, penulis menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, di mana data atau informasi digambarkan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh.

5. Pedoman Penulisan

Penulisan karya tulis ini mengacu pada sistematika penulisan yang ditentukan oleh panitia “Call For Sharia Economics Paper Competition 2014 (CASEP

(19)

BAB III PEMBAHASAN

A.Eksistensi Zakat di Indonesia

Instrumen zakat di Indonesia pada saat ini berlandaskan pada UU No. 23 Tahun 2011. Adapun UU tersebut merupakan hasil revisi dari UU zakat sebelumnya, yaitu UU No. 38 Tahun 1999. Revisi tersebut dilatarbelakangi oleh kelemahan UU No. 38 Tahun 1999 yang dipandang belum bisa mengakomodir pelaksanaan zakat terhadap masyarakat. Kelemahan lainnya adalah terkait sosialisasi dan implementasi dari UU yang masih terbatas sehingga kurangnya pemahaman dan edukasi untuk daerah-daerah pelosok di Nusantara.

Maka dari itu, UU No. 23 Tahun 2011 akhirnya disahkan di Jakarta pada tanggal 25 November 2011 oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan Amir Syamsudin selaku Menteri Hukum dan HAM. Hingga saat ini UU tersebut telah dijadikan landasan atas kinerja pelaksanaan zakat di Indonesia. Mengingat bahwa Indonesia bukanlah negara muslim, hanya saja mayoritas penduduknya yang muslim, maka dengan terciptanya UU baru tersebut pemerintah harus lebih efektif dalam melakukan pengawasan dan bertanggung

jawab atas amanah mengenai pengelolaan zakat di Indonesia.

Hal ini sebagaimana termaktub dalam UU No. 23 Tahun 2011 pada BAB II tentang Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) pasal 5 (ayat 1) berbunyi

“untuk melaksanakan pengelolaan zakat, pemerintah membentuk BAZNAS” kemudian disambung (pasal 3) “BAZNAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga pemerintah nonstruktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Agama”.28

Perlu diketahui juga bahwa antara Undang-undang No. 38 tahun 1999 dengan UU No. 23 tahun 2011 ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan. di dalam Undang-undang no 23 tahun 2011 keanggotaan BAZNAS hanya terdiri dari delapan orang pengurus, hal ini tercantum pada bagian keanggotaan pasal 8 ayat

(1) yang menyebutkan “BAZNAS terdiri atas 11 (sebelas) orang anggota”.

28

(20)

Dengan perincian oleh ayat (2) “Keanggotaan BAZNAS Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas 8 (delapan) orang dari unsur masyarakat dan 3 (tiga)

orang dari unsur Pemerintah”. Sedangkan di era tahun 1999, bahwa BAZNAS itu terdiri dari 50 anggota yang belum signifikan dalam perincian keanggotaannya.

Selain itu juga dalam Undang-undang yang baru masa kerja anggota BAZNAS selama 5 tahun, namun bisa dipilih kembali dengan hanya satu kali

masa jabatan. Pasal 9 “Masa Kerja anggota BAZNAS dijabat selama 5 (lima)

tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan”.

Mengingat minimnya kesadaran dan sosialisasi tentang zakat, untuk sekarang ini Pemerintah Indonesia telah mencanangkan dan meng-implementasikan sedikit demi sedikit pasal-pasal yang tercantum di dalam UU No. 23 tahun 2011. Pemerintah sedang berupaya mewujudkan Pasal 2 (f) mengenai asas pengelolaan zakat bahwa adanya pengelolaan zakat yang terintegrasi. Maksud terintergrasi disini bahwasannya pengelolaan zakat harus dilakukan secara integrasi dalam upaya meningkatkan pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaannya dan ini berbeda dengan sentralisasi.

Maksud terintegrasi menurut UU, zakat yang terkumpul disalurkan berdasarkan prinsip pemerataan, keadilan dan kewilayahan. Melalui intergrasi pengelolaan zakat, dipastikan potensi dan pengumpulan zakat dari seluruh daerah

serta manfaatan zakat untuk mengentaskan kemiskinan akan lebih terukur berdasarkan data dan juga akan lebih terpantau dalam sisi kinerja lembaga pengelolannya.29 Dengan demikian, dari keseluruhan pasal-pasal dalam UU No. 23 Tahun 2011 diharapkan memberi jaminan untuk terwujudnya suatu pengelolaan zakat yang amanah, profesional, trasparan dan akuntabel.

Selain itu juga pengelola zakat harus memahami betul atas lahirnya UU No. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat. Bahwasanya UU ini bertujuan untuk melakukan penataan terhadap pengelolaan zakat yang lebih baik. Maksudnya, penataan tersebut tidak terlepas dari kepentingan ingin

29“Integrasi

Pengelolaan Zakat dalam UU No.23 Tahun 2011”,

(21)

menjadikannya amil zakat yang profesional. Yaitu memiliki legalitas formal dan dapat mempertanggungjawabkannya kepada pemerintah dan masyarakat.

Dalam hal ini diharapkan BAZNAS dan LAZ dapat berkerjasama, yaitu memiliki tujuan besar yang sama, mengoptimalkan pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama, demi tercapainya pengelolaan zakat yang terintergrasi. Selain itu, mengingat kesadaran masyarakat Indonesia dalam berzakat masih cukup rendah, yang dibuktikan dengan masih banyaknya masyarakat Indonesia yang tergolong fakir dan miskin, maka zakat harus dimanfaatkan secara maksimal.

Namun pada saat ini pemerintah Indonesia telah berupaya merealisasikan kembali UU pasal 2 (g) tentang asas pengelolaan zakat yang berkutat pada pengelolaan zakat secara akuntabel. Maksudnya, pemerintah atau Badan Pengelolaan Zakat yang terpusat dan lembaga zakat dibawah naungan pemerintah, harus melakukan pendataan administratif yang tertib guna meningkatkan efektifitas dan efisien dalam mengelola zakat.

Sejauh ini pemerintah juga telah menegaskan kepada para amil untuk menyeleksi siapa yang wajib menunaikan zakat dan siapa yang wajib menerimanya. Hal tersebut dilakukan agar orang yang dipunguti zakat tidak merasa terdzalimi, misalnya seorang pegawai yang gaji nya pas-pasan lebih baik

tidak harus dipunguti zakatnya.

Keberadaan zakat di Indonesia saat ini mulai mengalami peningkatan, hal ini terbukti dengan terealisasinya UU No. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat. Pemerintah dengan lembaga zakat lainnya juga mulai dapat bekerjasama untuk meningkatkan kesadaran dan kualitas zakat kepada masyarakat Indonesia. Saat ini amil zakat (sebagai pemegang amanah) mulai menyadari bahwa untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia tidak bisa bekerja sendiri untuk mengatasi masalah tersebut, sekalipun atau sebesar apapun lembaga dan dana yang dikelolanya.

(22)

secara merata. Ketika zakat bersifat sukarela maka biasanya masyarakat akan enggan untuk mengeluarkan zakat.

Keberadaan zakat di Indonesia juga menyoroti terhadap gaji yang diberikan kepada para amil zakat, bahwasannya gaji para amil tidaklah terpusat, maksudnya pemerintah tidak menggaji para amil zakat sebagaimana menggaji gubernur dan pegawai pemerintah lainnya. Akan tetapi pemerintah mempercayakan lembaga zakat yang bersangkutan dalam menggaji amilnya.

B.Potensi Zakat di Indonesia

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam30 tentu sangat berpotensi dalam penghimpunan dana zakat. Potensi zakat di Indonesia dengan jumlah yang sangat besar bukan hanya wacana semata, hal tersebut telah dibuktikan secara empiris oleh beberapa badan yang melakukan riset atau penelitian serta pengkajian lebih dalam terhadap hal tersebut. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Bank Pembangunan Islam (IDB)31 dengan menggunakan data yang diolah dari Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS serta data relevan lainnya seperti dari Bank Indonesia. Dalam penelitiannya, potensi zakat

nasional diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu potensi zakat rumah tangga, industri dan BUMN. Hasil dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa potensi zakat rumah tangga sebesar Rp 82,7 triliun atau sama dengan 1,30 persen dari total PDB. Potensi zakat industri mencapai Rp 114,89 triliun dan potensi zakat BUMN sebesar Rp 2,4 triliun. Adapun potensi zakat tabungan adalah sebesar Rp 17 triliun. Sehingga jika dikalkulasikan, jumlah potensi zakat tahun 2013 secara nasional sebesar Rp 217 triliun atau 3,40 persen dari total PDB. Jumlah tersebut tentu akan semakin meningkat jika jumlah PDB terus meningkat.

30

Data BPS (2010) menunjukkan 207.176.162 atau 87,18% dari total pendudukIndonesia adalah Muslim.

31

Hasil Riset BAZNAS Potensi Zakat Rumah Tangga”,

(23)

Sebagaimana salah satu tujuan dari zakat adalah untuk pemerataan penghasilan atau kekayaan, angka potensi zakat di atas perlu dipertanyakan. Mengingat jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 28.07 juta jiwa32, dapat dikatakan bahwa penghimpunan atau penyaluran dana zakat di Indonesia belum optimal. Karena, jika sudah optimal dalam penghimpunan ataupun penyalurannya, tentu jumlah penduduk miskin tidak akan sebanyak angka di atas. Selain itu, dalam faktanya dana yang terhimpun masih jauh dari potensi yang ada, sebagaimana yang dilaporkan BAZNAS33 bahwa potensi zakat yang terserap pada tahun 2013 baru mencapai Rp 2,73 triliun atau hanya sekitar 1 persennya saja. Diperkirakan terdapat beberapa faktor mengenai tidak optimalnya potensi zakat di Indonesia, salah satunya yaitu belum adanya regulasi yang mengikat terhadap wajib zakat. Padahal, jika semua potensi zakat dapat dioptimalkan, maka akan berpengaruh positif terhadap perekonomian Indonesia.

C.Peluang Zakat sebagai Anggaran Pendapatan Negara

Dalam Islam dikenal istilah zakat yang sejak zaman Nabi Muhammad SAW dijadikan sebagai kebijakan fiskal untuk menopang dana yang dibutuhkan pemerintahan Islam dahulu. Perintah zakat ini diterima Nabi SAW setelah beliau hijrah ke Madinah. Hal ini seiring dengan upaya pembinaan tatanan sosial yang

baru dibangun Nabi SAW di Madinah.34

Setelah Nabi SAW wafat, kebijakan zakat ini tetap diteruskan oleh pemimpin pemerintahan yang selanjutnya. Mereka benar-benar menjalankannya dengan baik, fungsional dan prosedural, serta dikelola oleh lembaga amilin yang benar-benar profesional, transparan, dan amanah. Sehingga, zakat sebagai salah satu sumber ekonomi umat dapat dioptimalkan dan mampu mensejahterakan umat Islam dan masyarakat pada waktu itu.35

Sementara itu Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Dengan realitas seperti itu, secara otomatis zakat

1.html#.U7gI3PldVdw Dikses pada 7 Juni 2014 pukul 14: 22 WIB.

34

M. Amin Suma, Zakat dan Peran Negara, (Jakarta: Forum Zakat (FOZ), 2006), hlm. 3

35

(24)

yang merupakan salah satu sumber pendapatan ekonomi umat Islam sejak dahulu, dapat dijadikan sumber pendapatan resmi Indonesia juga. Argumentasi ini didasarkan pada besarnya potensi zakat di Indonesia yaitu sekitar 217 triliun36, sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya.

Pernyataan terkait zakat dijadikan sebagai sumber pendapatan resmi tersebut bukanlah sesuatu yang tanpa landasan. Hal tersebut dapat ditinjau dari beberapa peluang37 yang akan dipaparkan sebagai berikut :

Pertama, adanya pandangan umat Islam yang membedakan antara konsep zakat dan pajak. Konsep zakat dipandang sebagai kewajiban agama yang diperintahkan oleh Allah SWT melalui al-Qur‟an, sedangkan wajib pajak diperintahkan oleh pemerintah yang diatur dalam UU. Dengan adanya pandangan tersebut, bagi umat Islam yang telah membayar pajak tidak otomatis dianggap telah membayar zakat atau sebaliknya.

Kedua, kepercayaan umat Islam terhadap Negara sebagai lembaga/organisasi. Kepercayaan tersebut ditunjukkan adanya dukungan umat Islam terhadap Negara Republik Indonesia.

Ketiga, Indonesia sebagai Negara demokrasi berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan warga Negaranya. Atas hal tersebut, seharusnya pemerintah bertanggungjawab terhadap fasilitas dan pelayanan zakat umat Islam sebagai

warga Negara. Sebagaimana fasilitas dan layanan haji yang telah disediakan oleh pemerintah.

Keempat, keberadaan APBN Indonesia yang selalu mengalami defisit. Berikut adalah data yang menunjukan nominal utang Pemerintah :

36

Hasil penelitian Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB.

37

“Zakat, Potensi Pendapatan Negara yang Terabaikan”,

(25)

Gambar. 1. Outstanding Utang Negara Indonesia

Sumber : Publikasi Kementerian Keuangan38

Keadaan tersebut menggambarkan bahwa pemerintah mengalami kas yang defisit. Defisit yang berturut-turut mengandung arti bahwa kebijakan yang telah diterapkan tidaklah aplikatif atau tidak mampu menyelesaikan masalah. Di sisi lain, zakat merupakan instrumen yang berpengaruh positif terhadap perekonomian. Oleh karena itu, jika potensi zakat dioptimalkan dan dijadikan instrumen pendapatan Negara, maka Indonesia akan keluar dari permasalahan defisit APBN.

D. Optimalisasi Peran Zakat sebagai Alternatif Mengatasi Definisi APBN Setelah melihat peluang zakat di Indonesia yang telah dipaparkan di atas, langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan instrumen zakat agar dapat dijadikan sebagai pendapatan resmi negara adalah :

Pertama, merevisi UU No. 23 tahun 2011 dengan mencantumkan kebijakan baru,

menjadikan instrumen zakat sebagai sumber pendapatan resmi negara. Hal ini karena, dalam UU baru tersebut, ternyata belum ada kebijakan pemerintah yang memperlihatkan bahwa zakat akan dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan resmi negara yang masuk pada APBN.

Kedua, mencantumkan pula dalam revisi UU tersebut, diwajibkan zakat kepada para muzakki sehingga dapat memaksa mayarakat untuk menunaikan zakat hartanya.

38

http://www.kemenkeu.go.id/Page/infografis-apbn-2014 Diakses pada 18 Juni 2014 pukul 14:25

1.636 1.591 1.682 1.809 1.975 2.198 2.384

0 2 4

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

(26)

Katiga, sosialisasi dari pemerintah terhadap umat muslim tentang kewajiban zakat dalam Islam serta bagaimana pentingnya zakat dalam membantu meningkatkan perekonomian negara. Karena, kurangnya kesadaran mereka dalam membayar zakat bisa jadi disebabkan masih awamnya keagamaan mereka dan ketidaktahuan mereka mengenai hakikat zakat dalam Islam.

Keempat, adanya sentralisasi pengumpulan zakat yang berada pada satu payung yang memiliki perpanjangan tangan hingga ke daerah pelosok.39 Sebab, belum semua lembaga amil zakat melaporkan penghimpunan dana zakatnya pada pemerintah pusat secara transparan, bahkan banyak di antara mereka yang sulit diakses laporannya.40

Kelima, menyeleksi amil-amil yang amanah untuk mengumpulkan zakat agar dapat memupuk kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengumpul zakat.41

Keenam, menjadikan profesi amil zakat sebagai pekerjaan tetap dan gajinya ditentukan dengan presentase yang sama secara nasional oleh pemerintah. Presentase tersebut sesuai dengan besarnya dana zakat yang diperoleh. Jika hal ini diterapkan, akan mendorong semangat para amilin dalam menghimpun dana zakat dari masyarakat dan juga akan meningkatkan kinerja mereka dalam mengelola dana zakat tersebut.

Ketujuh, memberikan sanksi administratif kepada amil zakat yang tidak memberikan bukti setoran zakat atau pendistribusian kepada pemerintah pusat dan

juga kepada amil yang tidak mendayagunakan dana zakat sesuai syari‟ah. Serta

sanksi pidana apabila para amil zakat melakukan tindakan melawan hukum yang terdapat di dalam pasal-pasal UU tentang pengelolaan zakat. Tindakan melawan hukum disini yaitu apabila pengelola zakat melakukan tindakan memiliki, menghibahkan, menjual bahkan mengalihkan dana zakat yang diperoleh dari muzaki.42

Noor Aflah, Arsitektur Zakat Indonesia, (Jakarta: UI Press, 2009), hlm. 26 41

Efectivity of Zakat in Indonesian Regulatory; Overview on Abu Ubaid Perspective ,

http://andalusia.or.id/www/index.php?page=content&&ide=26

42

(27)

BAB IV PENUTUP

A.Kesimpulan

Semangat berzakat di Indonesia saat ini telah mengalami perubahan terus-menerus, sejak diberlakukannya UU No. 23 tahun 2011 yang merupakan hasil revisi dari UU sebelumnya yaitu UU No. 38 tahun 1999 telah melahirkan sebuah semangat baru terhadap pengelolaan zakat di Indonesia.

Berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah dan Masyarakat khususnya BAZNAS dan LAZ telah mengubah paradigma masyarakat terutama muzaki untuk gemar mengeluarkan zakatnya. Meskipun usaha kerjasama yang telah dilakukan BAZNAS dan LAZ ini belum mencapai maksimal, sebagaimana yang diharapkan namun keberadaan zakat di Indonesia saat ini setidaknya telah diakui dan difahami oleh orang-orang yang menginginkan kesejahteraan di Negara Indonesia.

Mengingat besarnya potensi zakat di Indonesia, maka Riset dan kajian terkait potensi zakat di Indonesia telah dilakukan oleh beberapa lembaga. Dan menghasilkan suatu kesimpulan bahwa Indonesia selaku negara yang mayoritas penduduknya Muslim berpotensi besar terhadap penghimpunan dana zakat. Akan

tetapi, fakta dana zakat yang terhimpun masih jauh dari besarnya potensi tersebut. Sementara itu, Indonesia selama bertahun-tahun selalu mengalami defisit APBN. Padahal jika pemerintah serius terkait pelunasan utang negara, istrumen zakat dengan potensinya yang besar mampu dijadikan sebagai pendapatan Negara. Mengingat akan besarnya potensi zakat di Indonesia maka langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan instrumen zakat agar dapat dijadikan sebagai pendapatan resmi negara adalah :

Pertama, merevisi UU No. 23 tahun 2011 dengan mencantumkan kebijakan baru,

menjadikan instrumen zakat sebagai sumber pendapatan resmi negara.

Kedua, diwajibkan zakat kepada para muzakki sehingga dapat memaksa

(28)

Ketiga, sosialisasi dari pemerintah terhadap umat muslim tentang kewajiban zakat dalam Islam serta bagaimana pentingnya zakat dalam membantu meningkatkan perekonomian negara.

Keempat, sentralisasi pengumpulan zakat yang berada pada satu payung yang memiliki perpanjangan tangan hingga ke daerah pelosok

Kelima, menyeleksi amil-amil yang amanah untuk mengumpulkan zakat

Keenam, menjadikan profesi amil zakat sebagai pekerjaan tetap dan gajinya ditentukan

Ketujuh, memberikan sanksi administratif dan sanksi pidana kepada para amil zakat yang melanggar.

B.SARAN

Paper ini tidak terlepas dari kekurangan, namun diharapkan dengan adanya paper ini mampu memberi masukan kepada pemerintah terutama pemerintahan selanjutnya yaitu periode 2014-2020. Selain itu agar paper ini dapat diaplikasikan

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Aflah, Noor. 2009. Arsitektur Zakat Indonesia. Jakarta: UI Press.

Al-Zuhayly,Wahbah. 1997. Zakat Kajian Berbagai Mazhab. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ash Shiddieqy, M. Hasbi. 1991. Pedoman Zakat. Jakarta: Bulan Bintang. Asnaini. 2008. Zakat Produktif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hamidiyah, Emmy. 2006. Zakat dan Peran Negara. Jakarta: Forum Zakat (FOZ). Fakhruddin. 2008. Fiqh dan Manajemen Zakat di Indonesia.

Qardawi,Yusuf. 1993. Hukum Zakat. Bogor: Litera Antar Nusa.

Suma,M. Amin. 2006. Zakat dan Peran Negara. Jakarta: Forum Zakat (FOZ).

http://www.kemenkeu.go.id/Page/infografis-apbn-2014

http://andalusia.or.id/www/index.php?page=content&&ide=26

http://www.bppk.depkeu.go.id/bdk/makassar/index.php/component/content/article /14-artikel-widyaiswara/491-zakat-potensi-pendapatan-negara-yang-terabaikan

http://www.eramuslim.com/berita/foto/hasil-riset-baznas-potensi-zakat-rumah-tangga.htm#.U6uzc6Mxi_I

http://pusat.baznas.go.id/berita-artikel/integrasi-pengelolaan-zakat-dalam-uu-no-23-tahun-2011/

Febrianti. 2011. Praktek Pengelolaan Zakat di Negara Muslim (Studi pada Negara Brunei Darussalam). Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak Dipublikasikan.

UU No. 23 tahun 2011

(30)

BIODATA PENULIS

Annisa Nur Salam lahir di Sumedang tanggal 1 Januari 1995. Lulusan RA Nurul Mubin (2001), SDN Cileuweung (2007), MTs N Sumedang (2010), MAN 1 Sumedang (2013). Mahasiswi semester II Ekonomi Syari‟ah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan aktif di KSEI ForSEI UIN Sunan Kalijaga. Bercita-cita menjadi penulis. Hobi menulis dan membaca. Motto: “Mencoba lebih baik dari

pada tidak sama sekali” .

Hana Purti Rahmania lahir di Cilacap Jawa Tengah pada tanggal 17 Nopember 1994. Merupakan lulusan TK Masitoh Majenang (2001), SDN Sindangsari 01 Majenang (2007), MTs Darussalam Ciamis (2010), MAN Darussalam Ciamis (2013). Dan sekarang merupakan Mahasiswi semester II di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan bercita-cita ingin menjadi pengusaha atau dosen. Hobi memancing dan jalan-jalan. Motto “jadilah diri sendiri jangan

merendah terhadap yang lain”.

Neneng Ela Fauziyyah yang lahir di Ciamis Jawa Barat merupakan lulusan dari RA. Miftahussalam (1999), RA. Al-Fadliliyah Darussalam (2001), MI Al-Fadliliyah Darussalam (2007), MTs Al-Fadliliyah Darussalam (2010), MAN Darussalam Ciamis (2013) dan sekarang menjadi

mahasiswi semester 2 di Jurusan Ekonomi Syari‟ah FEBI

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang aktif di UKM SPBA (Studi Pengembangan Bahasa Asing) UIN SUKA dan menjadi pembimbing di Ponpes Pangeran Diponegoro Maguwoharjo Depok Sleman. Bercita-cita menjadi dosen yang produktif. Hobi membaca. Motto hidup

Gambar

Gambar. 1. Outstanding Utang Negara Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Dalam preceptorship, metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi yaitu dengan diskusi kasus, ronde, bed side teaching, role.. modeling, dan pre dan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei perilaku dan kepuasan pada 77 mahasiswa terhadap produk makanan cepat saji dengan menu utama ayam.. Kemudian data

Iklim organisasi merupakan hal yang perlu mendapat perhatian seorang manajer pendidikan (kepala sekolah) karena faktor tersebut sedikitnya ikut mempengaruhi tingkah laku

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe CIRC pada kompetensi dasar menganalisis dan membuat surat

Pada penelitian tersebut diungkapkan bahwa pengembangan sistem informasi keuangan pengelolaan keuangan sekolah, permasalahan yang terjadi yaitu kesalahan pencatatan

Khususnya dalam hal ini, masyarakat adat di Chiapas yang berkat adanya Globalisasi, pasar bebas dan NAFTA mereka harus dipaksa kehilangan tanah tempat tinggal

Dan dalam kaitan ini yang memiliki kekuasaan dan kekuatan adalah pemerintah maka pemerintah berkewajiban dan bertanggungjawab untuk menjalankan amar ma‟ruf nahi

hanya beberapa siswa saja yang aktif, responsive dan berani mengemukakan jawabannya dalam menerima pembelajaran di kelas. Berdasarkan wawancara dengan guru kelas V