i SKRIPSI
Diajukan untuk menempuh ujian sarjana
pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya
SETYO NUGROHO NIM. 105030101111064
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI JURUSAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
ii
sendirian dengan ketidakpahaman akan arti hidup adalah
perjuangan”
“Malulah pada hartamu & Tangguhlah dalam kesulitan agar
kau berjiwa besar”
“terlatihlah untuk lapar agar kita tahu arti bersyukur”
vi
Andi Fefta Wijaya, MDA, Ph.D, Anggota: Moh. Said, S.Sos, M.AP
Kebijakan pemerintah menetapkan arah pengelolaan pemerintahan menuju tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan reformasi birokrasi, merupakan pilihan yang rasional (rational choice). Salah satu agenda besar menuju good governance dan reformasi birokrasi adalah peningkatan profesionalisme aparatur pemerintah, baik di tingkat pusat maupun di tingkat desa. Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (BBPMD) Malang yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri memiliki tugas dan tanggungjawab dalam pengembangan kapasitas aparatur pemerintah desa melalui pelatihan. Hal tersebut sebagaimana Permendagri No.21 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pemberdayaan Masyaraka dan Desa di Malang.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, dan menganalisa tentang peran Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang dalam Pengembangan Kapasitas aparatur Pemerintah Desa dalam upaya mewujudkan good governance. Pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui metode analisis spradley. Maka yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah 1) peran Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang dalam pengembangan kapasitas aparatur pemerintah desa 2) implikasi kapasitas aparatur desa setelah mengikuti pelatihan dalam mendukung terwjudnya good governance 3) efektifitas pelatihan yang dilakukan BBPMD Malang.
Hasil penelitian ini menunjukakan bahwa BBPMD Malang memiliki peran penting dalam pengembangan kapasitas aparatur pemerintah desa. Dalam upaya mewujudkan aparatur desa yang mampu melaksanakan pemerintahan yang baik sesuai prinsip-prinsip good governance, BBPMD Malang melakukan berbagai pelatihan yang didukung dengan perbaikan dan peningkatan modul pelatihan serta pemantapan materi melalui studi lapang. Dengan semakin meningkatnya kualitas peserta pelatihan setelah mengikuti pelatihan di BBPMD Malang diharapkan aparatur pemerintah desa mampu untuk mewujudkan good governancedi daerahnya masing-masing.
Berdasarkan hasil tersebut penulis berharap kedepannya Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang harus mampu untuk meningkatkan pelatihan yang dilakukan dari-tahun-tahun sebelumnya baik terkait dengan materi pelatihan, modul pelatihan maupun penyediaan fasilitaor yang berkualitas terlebih lagi dalam hal menyikapi Undang-Undang No. 6 tahun 2014 Tentang Desa yang baru disahkan tahun ini.
vii members: Moh. Said, S. Sos, M.AP
Government Policy to determine the direction governance toward good governance and reforming the bureaucracy governance, is rational choice (rational choice). One of the big agenda toward good governance and bureaucratic reform is the increase professionalism government apparatus, both in central level and at the village level In order to increase the professionalism. Center for Studies in Community Empowerment and Village of Malang (BBPMD) that is under the auspices of the Ministry of the land have a duty and responsibility in capacity building apparatus village government through training. This was as Permendagri No. 21 of 2006 on Organization and Management Safety Balai Besar Empowerment conduct sweeping operations and Villages in Malang
This research aims to describe, and analyze about the role BBPMD Malang in Capacity Building village government apparatus in the effort provide Good Governance. In this research researchers using type or descriptive approach with qualitative analysis methods through spradley. So are the focus in this research is 1) the role Balai Besar Rural and Community Empowerment in Malang in capacity building apparatus village government apparatus capacity 2) implications village after participating in the training in supporting implementation good governance 3) effective training which will be done BBPMD Malang.
This research showed that BBPMD has played a key role in Malang capacity village government apparatus. In the effort realizing village apparatus that to be able to do good governance in accordance the principles of Good Governance, BBPMD Malang do various training which was supported by improving and the increase modult training and material through study public square. With the growing quality the participants in the training after taking part in the training in BBPMD Malang, village government apparatus is expected to be able to provide Good Governance in their respective regions.
Result was I hope in Center for Studies in Community Empowerment and Village (BBPMD) n Malang should be able to improve training that will be done from the previous year both associated with training materials, training modules as well as providing facilitator are high-quality, and especially in this deal with Law No. 6 in 2014 which was ratified this year.
viii
berjudul “Pengembangan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa Dalam Upaya Mewujudkan Good Governance (Studi Pada Balai Pelatihan Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang)”.
Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ilmu Administrasi Publik pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. Bambang Supriyono, MS selaku Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.
2. Bapak Dr. Choirul Saleh, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.
3. Bapak Drs. Andi Fefta Wijaya, MDA, Ph.D selaku Dosen Pembimbing I yang telah berkenan meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan arahan dan membantu selama proses penyusunan skripsi. 4. Bapak Moh. Said, S.Sos, M.AP selaku dosen pembimbing II yang telah
meluangkan waktu dan dengan sabar membimbing serta memberikan masukan pada penulis selama proses penyusunan skripsi.
ix
memberikan dukungan dan semangat kepada saya agar dapat segera menyelesaikan skripsi ini.
8. Kakanda Ayunda KAHMI (Korps Alumni HMI) : kanda Imam Hanafi, bpk. Rozikin, bpk. Suharyono, kanda Suralim, kanda sidiq, kanda Imam S, kanda Said, kanda Rifky, kanda Rudi dan jajaran lainnya yang telah memotivasi serta memberikan bantuan banyak hal
9. Keluarga Besar HMI Cabang Malang Komisariat FIA UB : mas Dito, mas Husein, mas Barkah Prantama, Mas Ramon, mas Gara Purwa K, mas Hamdan, mas Galih cino-jowo, Mas Reza, Trio’2008 (mas Ricky, mas Diyan, mas Candra), duo ‘Kuncoro’, Nadi (Nanda-Gigih), mbk.Susi beserta 2009 lainny, Toriq H, Alih Aji Nugroho, M.Taufiq, Deny, Arga, Nazar Rusly, Teguh handoko, Mustanul Sania, Rofiqa Ega, Agung, Haris Arya, Sulistianto, Pus, Jaya, Zaka, Yanuar, Ilmi, Tita, Dwi, Gilang, Eko yuli, Yahya, Deca, Deo, Andika, Faris, Beny, Robert, Rizky, Fadil, punakawan (wiwid-dini-nur-levi-dayang), W.P Saka, Avis, Bunga B, Avi, Aya’, Linda, Ratna, Ridwan, Adit, cika,dan kader lainnya yang juga selalu memberi dukungan dan semangat agar segera menyelesaikan skripsi ini.
Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.
Malang, 13 Agustus 2014
x
MOTTO... ii
TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI ... iii
TANDA PENGESAHANSKRIPSI... iv
PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ... v
RINGKASAN ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 11
D. Manfaat Penelitian ... 11
E. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Administrasi ... 14
1. Pengertian Administrasi ... 14
2. Pengertian Administrasi Publik ... 15
B. Pemerintah Desa ... 18
1. Pemerintah Desa... 18
2. Otonomi Desa ... 24
C.Good Governance... 27
1. PengertianGood Governance... 27
2. Pilar Good Governance... 29
3. Prinsip-prinsipGood Governance... 29
D. Sumber Daya Aparatur Pemerintah... 32
1. Aparatur Pemerintah... 32
2. Pemberdayaan Aparatur ... 33
3. Pengembangan Aparatur... 35
E. Pengembangan Kapasitas... 38
F. Efektifitas... 42
1. Pengertian... 42
2. Ukuran dan Kriteria Efektifitas... 44
xi
G. Teknik Analisis Data ... 53
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Profil Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang... 56
a. Latar Belakang Berdirrinya Lembaga... 56
b. Visi dan Misi... 59
c. Tujuan Lembaga... 60
d. Tugas dan Fungsi Lembaga... 60
e. Bidang-Bidang Organisasi... 61
f. Tugas Pokok dan Fungsi... 80
B. Penyajian Data Fokus Penelitian 1. Upaya Pengembangan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa di Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang... 81
a. Perbaikan dan Peningkatan Pelatihan ... 82
b. Obyek yang menjadi sasaran kegiatan... 94
2. Implikasi Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa Sesudah mengikuti Pelatihan di Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang dalam Upaya Mewujudkan Good Governance... 98
a. Tertib Administrasi Desa... 101
b. Tata Naskah dan Pengelolaan Surat Dinas... 111
c. Laporan Pertangungjawaban Desa... 118
3. Efektifitas Pelatihan Aparatur oleh Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang... 125
a. Efektifitas Program Pelatihan... 126
b. Keluaran (output) yang telah dihasilkan... 133
C. Pembahasan 1. Upaya Pengembangan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa di Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang... 140
a. Perbaikan dan Peningkatan Pelatihan ... 143
b. Obyek yang menjadi sasaran kegiatan... 146
2. Implikasi Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa Sesudah mengikuti Pelatihan di Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang dalam Upaya Mewujudkan Good Governance... 147
a. Tertib Administrasi Desa... 149
b. Tata Naskah dan Pengelolaan Surat Dinas... 151
c. Laporan Pertangungjawaban Desa... 153
3.Efektifitas Pelatihan Aparatur oleh Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang... 161
a. ketercapaian Program Pelatihan... 161
xii LAMPIRAN-LAMPIRAN
xiii
2 Contoh Matrik Kurikulum : Sub Pokok Bahasan Penyusunan
Produk Hukum Desa 84
3 Sasaran Rumpun Dan Bidang Pelatihan 96
4 Contoh Modul Draf Pengisian Administrasi Keuangan
Anggaran pendapatan Desa 107
5 Rincian Anggaran Pendapatan Desa. Desa Bumiaji Kec.
Bumiaji Kota Malang Tahun Anggaran 2010 109
6 Pokok Bahan Ajar Pelatihan 127
7 Evaluasi harian Oleh Penyelenggara 136
xiv
2. Kantor Balai PMD Malang 56
3. Stuktur organisasi BBPMD Malang 62
4 Suasana Pelatihan Pengembangan Kapasitas oleh BBPMD
Malang 86
5 Peserta Pelatihan Penyusunan RPJM Desa 94
6 Suasana Kelas 130
7 Bagan 7 : Tujuan kegiatan pelatihan BBPMD 142 8 Bagan 8: Peningkatan Kapasitas Pemerintah Desa oleh
BBPMD Malang 155
xv
2. Surat Balasan Riset BBPMD Malang 1
3. Pedoman Wawancara 1
4. Modul pembulatan pelatihan (pelatihanPeningkatan
kapasitas Sekretaris Desa) 9
5. Brosur profil BBPMD Malang 2
1 A. Latar Belakang
Pembangunan di Indonesia dimaksudkan untuk mewujudkan cita-cita nasional, sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Berbicara tentang pembangunan nasional, memang semakin hari semakin menunjukkan kemajuan dari segi kuantitas proyek maupun program pembangunan, baik itu pembangunan fisik maupun pembangunan non fisik. Berbagai macam proyek pembangunan dari Orde Lama, Orde Baru hingga masa Reformasi telah banyak dilakukan untuk terus mendorong kesejahteraan dan kemajuan bangsa kearah yang lebih baik. Dalam hal ini pembangunan nasional harus dimulai dari, oleh, dan untuk rakyat, serta dilaksanakan diberbagai aspek kehidupan bangsa yang meliputi politik, ekonomi, sosial budaya dan aspek pertahanan keamanan.
mengisi, saling melengkapi dalam memajukan masyarakat dan nasional pada umumnya. Pesatnya pembangunan nasional dalam segala bidang di era reformasi ini menuntut perlunya tenaga kerja yang handal. Artinya tenaga kerja yang dapat meneruskan kesinambungan pembangunan nasional melalui peningkatan sumber daya manusia yang ada secara profesional. Profesionalisme membutuhkan tenaga kerja yang berdedikasi tinggi, moralitas yang baik, loyalitas terjamin dan mempunyai disiplin kerja yang tinggi.
Pelaksanaan pembangunan mengikutsertakan pegawai sebagai aktor terpenting sebagai pelaksana dalam menjalankan pembangunan dan sebagai penggerak laju pembangunan disegala bidang. Pegawai atau aparatur negara sangat dituntut untuk dapat mencapai tujuan nasional yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata dan berkesinambungan baik materil maupun spiritual. Untuk mengarahkan pegawai dapat bekerja lebih efisien guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam organisasi, maka diperlukan perhatian khusus pada setiap lini aparatur pemerintah. Salah satu kunci keberhasilan suatu organsiasi dalam usaha pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh kemampuan serta keterampilan pegawainya, disamping kemampuan untuk menggerakkan dan mengarahkan pegawai oleh pimpinan organisasi.
penyelenggaraan pemerintahan secara mandiri. Otonomi daerah telah memberi kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mampu membuat berbagai kebijakan dalam upaya peningkatan kualitas sumberdaya aparatur pemerintah. Kaitannya dengan otonomi daerah, dalam praktiknya adalah dengan menerapkan prinsip penyelenggaraan pemerintahan yang baik dalam setiap pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan serta tindakan yang dilakukan oleh birokrasi pemerintah daerah dalam melaksanakan fungsi pelayanan publik. Pemerintah daerah dalam prakteknya menyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik, harus pula diiringi dengan penerapan prinsip good governance(kepemerintahan atau tata pemerintahan yang baik).
Sebagaimana yang diungkapkan menurut Mindarti (2007 :182) tentang pengertian good governance yang mengandung dua makna, yaitu sebagai berikut :
“Pertama, mengandung makna tentang orientasi ideal negara yang diarahkan pada pencapaian tujuan negara. Berorientasikan pada nilai-nilai yang menjunjung tinggi kehendak rakyat dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam mencapai kemandirian, pembangunan berkelanjutan, keadilan sosial, demokratisasi dalam kehidupan bernegara seperti legitimasi, akuntabilitas, perlindungan HAM, otonomi, dan devolusi kekuasaan, pemberdayaan masyarakat sipil, dan sebagainya. Kedua mengandung makna tentang aspek-aspek fungsional pemerintahan yang efektif,dan efisien, atau pemerintahan yang berfungsi ideal, yaitu mampu berfungsi secara efektif dan efisien dalam upaya pencapaian tujuan nasional, hal ini akan sangat tergantung kepada sejauh mana pemerintahan mempunyai kompetensi serta sejauh mana struktur dan mekanisme politik dan administratif mampu berfungsi secara efektif dan efisien.”
sumber daya manusia diharapkan dapat meningkatkan kinerja organisasi dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat sebagai wujud menciptakan good governance. Peningkatan kualitas aparatur pemerintah sebagai wujud terciptanya good governance juga termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang “Pendidikan, Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil”, dimana prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik terdiri dari:
1.Profesionalitas, meningkatkan kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan agar mampu memberi pelayanan yang mudah, cepat, tepat dengan biaya yang terjangkau.
2.Akuntabilitas, meningkatkan akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala bidang yang menyangkut kepentingan masyarakat.
3.Transparansi, menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
4.Pelayanan prima, penyelenggaraan pelayanan publik yang mencakup prosedur yang baik, kejelasan tarif, kepastian waktu, kemudahan akses, kelengkapan sarana dan prasarana serta pelayanan yang ramah dan disiplin.
5.Demokrasi dan Partisipasi, mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan, yang menyangkut kepentingan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung
6.Efisiensi dan Efektifitas, menjamin terselenggaranya pelayanan kepada masyarakat dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab.
7.Supremasi hukum dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat, mewujudkan adanya penegakkan hukum yang adil bagi semua pihak tanpa pengecualian, menjunjung tinggi HAM dan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.
konsekuensi dari perubahan tersebut maka perlu adanya penataan ulang berbagai elemen dalam sistem penyelengggaraan pemerintahan dalam rangka manifestasi pelaksanaan otonomi daerah, karena pada dasarnya tujuan pelaksanaan otonomi daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pelaksanaan otonomi daerah telah dilaksanakan sampai pada tataran pemerintahan paling bawah yaitu Pemerintah Desa. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah menjadi landasan kuat bagi Pemerintah Desa untuk mengatur desa dan masyarakatnya sesuai kepentingan masyarakat itu sendiri. Terlebih lagi dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah menjadi semangat terrsendiri bagi aparatur pemerintah desa dalam melaksanakan pembangunan desa.
Kewenangan atau otonomi desa merupakan otonomi asli, bulat dan utuh yang telah diberikan kepada desa untuk mengatur desanya secara mandiri. Pemerintah pusat berkewajiban dalam hal mendukung dan menghormati otonomi asli yang dimiliki oleh desa tersebut. Prakteknya, Pemerintah Desa merupakan ujung tombak terdepan dalam upaya pemberian pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah Desa dalam menjalankan tugasnya dilapangan akan berhadapan langsung dengan masyarakat, tentunya dengan kompleksitas permasalahan dan kebutuhan yang muncul pada tataran bawah. Masyarakat desa pula yang akan merasakan imbas secara langsung apabila kinerja aparatur lembaga publik tidak optimal, terlebih lagi apabila kebijakan yang dilakukan oleh lembaga publik tidak sesuai dengan permsalahan dan kebutuhan yang ada pada masyarakat desa.
memberikan optimalisasi pelayanan pada masyarakat, sebagaimana disampaikan M. Rasyad Manaf yang dimuat Jatim Online (Kamis, 10/10/2013) bahwa, “kondisi perangkat desa saat ini masih banyak yang belum bisa mengoperasikan komputer, sehingga membuat pelayanan di masyarakat menjadi tidak optimal”. Lemahnya kualitas aparatur lembaga pelayan publik dalam tatanan pemerintah daerah terutama di tingkat pemerintah desa juga diungkapkan oleh Makmur (2008 :6) sebagaimana berikut :
Kualitas SDM di Indonesia tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat bawah, tetapi juga di lingkungan birokrasi pemerintahan mulai birokrasi pusat hingga birokrasi pemerintah desa. Rendahnya kualita SDM birokrasi pemerintahan telah memberikan dampak kepada kualitas kerja para birokrat yang rendah yang bermuara kepada kesengsaraan rakyat secara ekonomi, politik, sosial, keamanan, dan ketertiban karena tidak mendapatkan pelayanan terbaik dari aparat birokrasi. Rendahnya kualitas kerja birokrasi pemerintahan telah memberikan dampak secara langsung maupun tidaklangsung kepada tidak tercapainya tujuan dan sasaran organisasi pemerintahan mulai dari pusat, provinsi, kabupaten hingga ke pemerintahan desa, inilah kualitas SDM sangat rendah.
Berdasarkan permasalahan di atas, peningkatan kualitas aparatur pemerintahan perlu mendapat perhatian serius guna memperlancar tercapainya tujuan organisasi. Adanya desentralisasi dan Otonomi daerah maka pemerintah daerah perlu mulai berbenah dalam hal peningkatan kualitas sumber daya aparaturnya secara mandiri, yaitu manusia yang menjadi obyeknya. Siagian (2009 :40) mengemukakan bahwa :
Berkaitan dengan pemerintahan desa yang mana merupakan lembaga pelayan publik yang berhadapan langsung dengan masyarakat, maka upaya memberdayakan (empowering) aparatur Pemerintah Desa harus dilaksanakan secepatnya dan mendapat perhatian khusus. Sebagaimana disampaikan Widjaja (Widjaja, 2001: 42) berikut : “kualitas aparatur Pemerintah Desa selaku pengayom dan pelayan masyarakat sangat berperan dalam menunjang mudahnya masyarakat digerakkan untuk berpartisipasi”. Adanya perhatian khusus perihal peningkatan kapasitas aparatur Pemerintah Desa, diharapkan aparatur desa dapat membina dan memberdayakan masyarakat di daerah setempat. Lebih lanjut Rozaki, dkk (2005 :215) menyampaikan bahwa “lebih dari itu kemampuan individual aparatur Pemerintah Desa merupakan sesuatu yang sistematik dan manajerial, yang didalamnya mengandung proses interaksi antara pemerintah desa, lembaga-lembaga masyarakat dan warga.
Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang, pasal 1 ayat (1) menyatakan : Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang merupakan unit pelaksana teknis di bidang pemberdayaan masyarakat dan desa yang di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jendral pemberdayaan Masyarakat dan Desa.
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, peningkatan kapasitas aparatur desa memiliki peranan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sesuai Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dijelaskan di dalam buku pedoman Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang bahwa :
Pelaksanaan otonomi daerah saat ini diarahkan pada pembenahan sumber daya aparatur menuju penyelenggaraan pemerintahan yang efektif. Otonomi daerah yang di dalamnya adalah otonomi Desa, di mana Pemerintah Desa sebagai penggerak otonomi desa harus terdiri dari personil yang kreatif, tanggap teradap perubahan dan berdisiplin tinggi melalui penataan dan mengacu pada tata kepemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance). Sementara itu, dalam rangka penguatan kapasitas aparatur pemerintah desa dalam menjalankan tugas dan fungsinya maka peningkatan kualitas sumber daya penyelenggara pemerintah desa merupakan syarat mutlak pencapaian tujuan pemerintahan yang kredibel dan akuntabel. Aparatur pemerintah desa, bukan hanya berfungsi sekedar pelaksana administratif belaka, namun lebih dari itu, selaku aparatur hendaknya mampu menjadi inovator perubahan dan pembangkit semangat peningkatan partisipasi masyarakat. ( Buku Panduan BBPMD Malang, 2009 : 10 dan 16)
mengenai tugas Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang, sebagaimana hal di atas ditunjang dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 58 Tahun 2007 Tentang Uraian Tugas Sub Bagian dan Seksi di Lingkungan Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang.
Disahkannya Undang-Undang No. 6 tahun 2014 tentang Desa telah memberikan semangat tersendiri bagi Desa dalam hal mewujudkan percepatan pembangunan desa. Namun disisi lain, kesiapan Aparatur Pemerintah Desa untuk menyikapi diberlakukannya Undang-Undang Desa juga harus mendapat perhatian serius, sebagaimana disampaikan Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tarmizi A Karim dalam berita Kemendagri (Rabu, 12/03/2014) sebagai berikut, “Undang-undang Desa telah disahkan, maka Desa harus mempersiapkan diri dengan melakukan penguatan lembaga dan pelatihan terhadap kapasitas aparat desa”.
Dengan cakupan wilayah kerja BBPMD Malang yang luas, menjadikan lembaga teknis yang dibawah naungan Direktorat Jendral Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Dalam Negeri ini untuk terus mampu menjalankan tugasnya perihal peningkatan kapasitas aparatur Desa. Salah satu langkah strategis yang dilakukan yaitu melalui pelatihan peningkatan aparatur desa, agar mampu dan profesional menjalankan perannya dalam mewujudkan penguatan pemerintahan Desa serta mampu mengaktualisasikan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik (good governance). Berdasarkan beberapa ulasan diatas maka penulis mengambil judul “Pengembangan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa Dalam Upaya Mewujudkan Good Governance (Studi Pada Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang)”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah upaya Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Malang dalam pengembangan kapasitas aparatur Pemerintah Desa ?
2. Bagaimana Implikasi kapasitas Aparatur Pemerintah Desa setelah mengikuti Pelatihan dalam upaya mewujudkanGood Governance?
C. Tujuan Penelitian.
Berdasarkan rumusan masalah tersebut tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
a. Mendeskripsikan dan menganalisa upaya yang ditempuh Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang dalam peningkatan kapasitas aparatur Pemeritah Desa
b. Mengetahui dan mendeskripsikan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa binaan Setelah mengikuti pelatihan aparatur desa Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang dalam mewujudkangood governance. c. Mengetahui dan mendeskripsikan seberapa jauh efektifitas pelatihan yang
dilakukan oleh Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang terhadap aparatur desa binaan dalam cakupan wilayah kerjanya.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Manfaat Praktis 1) Bagi Pemerintah
2) Bagi Mahasiswa
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta kemampuan menganalisis terhadap kenyataan yang ada mengenai pengembangan kapasitas aparatur desa dalam mewujudkangood governance.
b. Manfaat Akademis
1.Menambah kepustakaan dan dapat juga digunakan sebagai referensi untuk penelitian yang sejenis.
2.Sebagai bahan acuan untuk mengkaji dan menganalisis tentang pengimplementasian kebijakan yang dikeluarkan oleh Balai Besar Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Malang dalam pengembangan kapasitas aparatur desa dalam mewujudkangood governance.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penulisan ini terdiri dari 5 bab yang merupakan rangkaian anatara bab yang satu dengan yang lainnya. Adapun sistematika pembahasan ini dimulai dari Bab I Pendahuluan, Bab II Tinjauan Pustaka, Bab III Metode Penelitian, Bab IV Hasil dan Pembahasan, Bab V Penutup.
Pada Bab II Tinjauan Pustaka, menjelaskan kerangka teori yang digunakan sebagai dasar analisis. Teori yang digunakan berkaitan dengan kapasitas Aparatur. Pada Bab III Metode Penelitian, menguraikan metode yang akan dipakai dalam penelitian, diantaranya jenis penelitian, fokus penelitian, lokasi dan situs penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian dan analisa data yang menggunakan model spradley.
Pada Bab IV Hasil dan Pembahasan, menyajikan data-data dari hasil penelitian terkait dengan kajian pengembangan kapasitas aparatur desa antara lain, gambaran umum lokasi penelitian, dan data fokus penelitian, kemudian data-data dari hasil penelitian terrsebut dianalisa dan diintrepetasikan.
14 A. Administrasi
1. Pengertian Administrasi
Administrasi merupakan suatu proses yang dinamis dan berkelanjutan yang digerakkan dalam mencapai tujuan dengan cara memanfaatkan secara bersama orang dan material melalui kordinasi dan kerjasama. Administrasi meliputi seluruh upaya penyelenggaraan pemerintahan yaitu manajemen pemerintahan yang terdiri dari perencanaan, dan kepemimpinan dengan mekanisme kerja dan dukungan sumber daya manusia serta dukungan administrasi atau tata laksananya.
Administrasi dalam arti sempit. Menurut Soewarno Handayaningrat mengatakan“Administrasi secara sempit berasal dari kata Administratie (bahasa Belanda) yaitu meliputi kegiatan cata-mencatat, surat-menyurat, pembukuan ringan, keti-mengetik, agenda dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan” (1988:2). Dari definisi tersebut dapat disimpulkan administrasi dalam arti sempit merupakan kegiatan ketatausahaan yang mliputi kegiatan cata-mencatat, surat-menyurat, pembukuan dan pengarsipan surat serta hal-hal lainnya yang dimaksudkan untuk menyediakan informasi serta mempermudah memperoleh informasi kembali jika dibutuhkan.
sekelompok orang dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu” (1980:9). Administrasi secara luas dapat disimpulkan pada dasarnya semua mengandung unsur pokok yang sama yaitu adanya kegiatan tertentu, adanya manusia yang melakukan kerjasama serta mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya
2. Pengertian Administrasi Publik
Administrasi publik menurut Chandler dan Plano sebagaimana dikutip oleh Keban, 2008:3) adalah proses dimana sumberdaya dan personel publik diorganisir dan dikordinasikan untuk memformulasikan, mengimplementasikan, dan mengelola (manage) keputusan-keputusan dalam kebijakan publik. Kedua pengarang tersebut juga menjelaskan bahwa administrasi publik merupakan seni dan ilmu (art and science) yang ditujukan untuk mengatur public affairs dan melaksanakan berbagai tugas yang telah ditetapkan. Kemudian Land dan Rosenbloom sebagaimana dikutip oleh (Kasim, 1993:20) menyatakan administrasi publik harus dilaksanakan dengan melihat kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Administrasi publik diharapkan tanggap dan bekerja secara efektif dan efisien terhadap kebutuhan masyarakat. Pendekatan ini disebut pendekatan populis yang menginginkan administrasi publik agar lebih disesuaikan oleh kebutuhan masyarakat yang memerlukan pelayanan.
proses, organisasi dan individu yang bertindak sesuai peran dan jabatan resmi dalam pelaksanaan peraturan perundangan yang dikeluarkan oleh lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Pendapat ini secara implisit menunjukkan bahwasanya administrasi publik terlibat dalam kebijakan publik. Kemudian Barton & Chappel sebagaimana yang dikutip oleh (Keban, 2008:5) mengatakan administrasi publik sebagai the work of government atau pekerjaan yang dilakukan oleh pemerintah. Definisi tersebut secara implisit melibatkan aspek keterlibatan personel atau aparatur dalam memberikan pelayanan publik.
Administrasi publik sendiri memiliki keterikatan terhadap pemerintahan, atau sering kali disebut bahwa administrasi sebagai pemerintahan. Berikut ini dikemukakan oleh beberapa pengertian administrasi sebagai pemerintahan yaitu : administrasi adalah gabungan yang dibawah jabatan pemerintahan melakukan sebagian dari pekerjaan pemerintah (tugas pemerintah) yang ditugaskan kepada badan-badan pengadilan, badan legislatif (pusat), dan badan-badan pemerintahan dari persekutuan-persekutuan hukum yang lebih rendah dari pada Negara (Utrecht dalam Syamsiar, 2006:12).
Disisi lain, Administrasi negara sebagai aparatur dari negara yang dikepalai dan digerakkan oleh pemerintah guna menyelenggarakan Undang-undang, kebijaksanaan-kebijaksanaan, dan kehendak-kehendak pemerintahan (Prajudi Atmosudirjo dalam Sjamsiar Sjamsuddin, 2006:12). Sedangkan menurut Pfiffner dan Presthus dalam Pasolong (2007:7), mendefinisikan administrasi publik adalah :
b.Koordinasi usaha-usaha perorangan dan kelompok untuk melaksanakan kebijakan pemerintahan, hal ini meliputi pekerjaan sehari-hari pemerintah.
c. Suatu proses yang bersangkutan dengan pelaksanaan kebijakan-kebijakan pemerintah, pengarahan kecakapan dan teknik-teknik yang tak terhingga jumlahnya, memberikan arah dan maksud terhadap usaha dan sejumlah orang.
Sementara itu, Waldo dalam Pasolong (2007:8) mendefinisikan administrasi publik adalah “Manajemen dan Organisasi dari manusia-manusia dan peralatannya guna mencapai tujuan pemerintah”. Sedangkan Henry dalam Pasolong (2007:8) mendefinisikan administrasi publik adalah :
“suatu kombinasi yang kompleks antara teori dan praktik, dengan tujuan mempromosikan pemahaman terhadap pemerintah dalam hubungannya dengan masyarakat yang diperintah, dan juga mendorong kebijakan publik agar lebih responsif terhadap kebutuhan sosial. Administrasi publik berusaha melembagakan praktik-praktik manajemen agar sesuai dengan nilai evektivitas, efisiensi, dan pemenuhan kebutuhan masyarakat”.
Dalam konteks pemerintahan, istilah administrasi publik merupakan istilah yang sering digunakan. Ruang lingkup yang luas mencakup ilmu sosial dan serta ilmu sosial lainnya yang memiliki objek materialnya Negara yaitu : ilmu pemerintahan, ilmu politik, hukum tata Negara, dan ilmu Negara itu sendiri merupakan studi mengenai bagaimana bermacam-macam badan pemerintahan diorganisasikan, diperlengkapi dengan tenaga-tenaganya, digerakkan, dan dipimpin. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa administrasi publik atau juga yang dikenal dengan administrasi negara adalah segala upaya yang dilakukan oleh aparatur negara dalam memberikan pelayanan pada masyarakat dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan publik melalui proses kebijakan dan manajemen publik. Dengan begitu tampak jelas bahwa tujuan dari administrasi publik yaitu pelayanan publik dengan menggunakan instrument kebijakan publik.
B. Pemerintah Desa 1. Pemerintah Desa
Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa pasal 1:1, dijelaskakan bahwa : “Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Pemerintah desa merupakan sebuah pemerintahan dalam lingkup paling bawah (local governance), dimana aparatur pemerintah desa memiliki kewenangan otonom untuk mengatur desa secara mandiri. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa pasal 1:2 bahwa “Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Pemerintahan Desa”.
Kepala Desa sebagai penyelenggara Pemerintahan Desa memiliki beberapa tugas yang harus dilaksanakan, dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Pasal 26 ayat 1 dijelaskan bahwa “Kepala Desa bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa, melaksanakan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa”. Dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala desa, Kepala desa memiliki kewenangan, hak dan kewajibannya, yang mana telah termuat di Undang-Undang No. 6 Tahun 2014. Berdasarkan ketentuan Pasal 26 ayat 2 Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, Kepala Desa memiliki wewenang sebagai berikut :
a. memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa; b. mengangkat dan memberhentikan perangkat Desa;
c. memegang kekuasaan pengelolaan Keuangan dan Aset Desa; d. menetapkan Peraturan Desa;
e. menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa; f. membina kehidupan masyarakat Desa;
g. membina ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa;
h. membina dan meningkatkan perekonomian Desa serta engintegrasikannya agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat Desa;
i. mengembangkan sumber pendapatan Desa;
j. mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negara guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa;
k. mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat Desa; l. memanfaatkan teknologi tepat guna;
m. mengoordinasikan Pembangunan Desa secara partisipatif;
n. mewakili Desa di dalam dan di luar pengadilan atau menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
o. melaksanakan wewenang lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
governance. Kewenangan Kepala Desa tersebut merupakan otonomi luas yang dimiliki oleh Pemerintah Desa dalam menjalankan pemerintahannya. Perwujuduan pelaksanaan wewenang pengelolaan Pemerintahan Desa dilaksanakan secara bertanggungjawab dengan adanya tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah Desa. Dalam melaksanakan tugas dan wewenang tersebut, Kepala Desa mempunyai kewajiban berdasar ketentuan Pasal 26 ayat 4 Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, yaitu :
a. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika;
b. meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa;
c. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa; d. menaati dan menegakkan peraturan perundang-undangan; e. melaksanakan kehidupan demokrasi dan berkeadilan gender;
f. melaksanakan prinsip tata Pemerintahan Desa yang akuntabel, transparan, profesional, efektif dan efisien, bersih, serta bebas dari kolusi, korupsi, dan nepotisme;
g. menjalin kerja sama dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di Desa;
h. menyelenggarakan administrasi Pemerintahan Desa yang baik; i. mengelola Keuangan dan Aset Desa;
j. melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Desa;
k. menyelesaikan perselisihan masyarakat di Desa; l. mengembangkan perekonomian masyarakat Desa;
m. membina dan melestarikan nilai sosial budaya masyarakat Desa; n. memberdayakan masyarakat dan lembaga kemasyarakatan di Desa; o. mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan
lingkungan hidup; dan
p. memberikan informasi kepada masyarakat Desa.
kewenangan desa seperti pembuatan peraturan desa dan pembentukan lembaga kemasyarakatan. Kemudian tugas kepala desa dalam hal pembangunan yaitu antara lain pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan sarana prasarana fasilitas umum. Sedangkan tugas kemasyarakatan kepala desa yaitu meliputi pemberdayaan masyarakat melalui pembinaan kehidupan sosial budaya masyarakat.
Atas pelaksanaan tugas tersebut, kepala desa berkewajiban memberikan pertanggungjawaban berupa pembuatan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa yang ditujukan kepada Bupati/Walikota, dan laporan pertanggungjawaban kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD) serta menginformasikan seluruh laporan penyelenggaraan pemerintahan kepada masyarakat. Di dalam laporan tersebut berisi laporan dari semua kegiatan desa berdasarkan kewenangan desa yang ada, serta tugas-tugas dan keuangan dari pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Laporan pertanggungjawaban atas tugas kepala desa ini dilakukan sebagai upaya untuk mewujudkan suatu akuntabilitas dalam suatu pemerintahan desa serta sebagai upaya dalam perwujudan transparansi pemerintah terhadap masyarakat.
ditetapkan secara demokratis”.
Kinerja Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dititikberatkan pada proses penyelenggaraan Pemerintah Desa yang responsif. Sehingga diharapkan terjadinya penyelenggaraan pemerintah yang mengedepankan pemerintah yang aspiratif dan bertanggungjawab demi kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Kinerja BPD diwujudkan dengan adanya pembentukan tata tertib BPD, pembuatan Perdes bersama dengan Pemerintah Desa, pengangkatan dan pemberhentian kepala desa. Hal tersebut sesuai dengan fungsi BPD sebagaimana yang termuat dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 pasal 55 yang meliputi : (1) membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa; (2) menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa; dan (3) melakukan pengawasan kinerja Kepala Desa.
Disisi lain untuk mewujudkan fungsi Badan Permusyawaratan Desa tersebut, dalam ketentuan pasal 61 Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa disebutkan bahwa Badan Permusyawaratan Desa memiliki hak sebagaimana berikut:
a. mengawasi dan meminta keterangan tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa kepada Pemerintah Desa;
b. menyatakan pendapat atas penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa; dan
c. mendapatkan biaya operasional pelaksanaan tugas dan fungsinya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.
pemerintahan desa yang baik sebagaimana diamanatkan pada peraturan yang ada, maka diangkatlah Sekdes (Sekretaris Desa) sebagai satu-satunya Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam perangkat desa. Fungsi sekdes sebenarnya agar urusan administratif di desa lebih rapi dan teratur. Sekretaris desa sendiri diangkat oleh Sekretaris Kabupaten/kota atas nama Bupati/Walikota.
2. Otonomi Desa
Menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 pasal I, otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan pengertian tersebut maka dalam penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah daerah diharapkan mampu menyusun kebijakan perekonomiannya sesuai dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing. Dari pengertian tersebut mengenai otonomi daerah yaitu : daerah memiliki kewenangan untuk membuat kebijakannya sendiri tanpa intervensi dari pihak luar dan daerah memiliki kewenangan untuk memilih dan menentukan pimpinannya, karena daerah berhak memiliki aparatur sendiri yang terpisah dari aparatur pemerintah pusat serta daerah memiliki sumber keuangan sendiri yang dapat menghasilkan pendapatan yang cukup memadai bagi daerah yang memiliki kewenangan penuh mengelola keuanggannya untuk membiayai kegiatan rumah tangganya sendiri.
Sebaliknya pemerintah berkewajiban menghormati otonomi asli yang dimiliki oleh desa tersebut. Sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak istimewa, desa dapat melakukan perbuatan hukum baik hukum publik maupun hukum perdata, memiliki kekayaan, harta benda serta dapat dituntut dan menuntut di muka pengadilan.
Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan disahkannya Undang-undang Nomor 6 tentang Desa telah memberikan landasan kuat bagi desa dalam mewujudkan “development community” dimana desa tidak lagi sebagai level administrasi atau bawahan daerah tetapi sebaliknya sebagai “Independent Community” yaitu desa dan masyarakatnya berhak berbicara atas kepentingan masyarakat sendiri. Desa diberi kewenangan untuk mengatur desanya secara mandiri termasuk bidang sosial, politik dan ekonomi. Dengan adanya kemandirian ini diharapkan akan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan sosial dan politik.
asli, demokrasi, dan pemberdayaan Masyarakat. Pengakuan otonomi di desa, Ndraha (1997:12) menjelaskan sebagai berikut :
a. Otonomi desa diklasifikasikan, diakui, dipenuhi, dipercaya dan dilindungi oleh pemerintah, sehingga ketergantungan masyarakat desa kepada “kemurahan hati” pemerintah dapat semakin berkurang.
b. Posisi dan peran pemerintahan desa dipulihkan, dikembalikan seperti sediakala atau dikembangkan sehingga mampu mengantisipasi masa depan.
Otonomi desa merupakan hak, wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat berdasarkan hak asal-usul dan nilai-nilai sosial budaya yang ada pada masyarakat untuk tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan desa tersebut. Urusan pemerintahan berdasarkan asal-usul desa, urusan yang menjadi wewenang pemerintahan Kabupaten atau Kota diserahkan pengaturannya kepada desa. Namun harus selalu diingat bahwa tiada hak tanpa kewajiban, tiada kewenangan tanpa tanggungjawab dan tiada kebebasan tanpa batas.
C. Good Governance
1. Pengertian Good Governance
Konsep Good Governance muncul ke publik mulai tahun 1990-an, konsep ini diduga berawal dari sebuah resolusi yang dikeluarkan oleh the council of the european community yang membahas tentang human right, democracy and development. Dan kemudian dilanjutkan pada tahun 1992 ketika Bank Dunia mengeluarkan report-nya yang berjudul Governance and Development. Konsep ini mulai masuk ke Indonesia pada akhir tahun 1990-an melalui lembaga-lembaga donor. Hal ini merupakan bentuk perlawanan terhadap konsep Government yang dinilai meremehkan partisipasi publik dalam penyelenggaraan pemerintah.
Menurut Kooiman dalam Rewansyah (2010 :81) Governance merupakan serangkaian proses interaksi sosial politik antara pemerintah dengan warga masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan intervensi pemerintah atas kepentingan-kepentingan masyarakat tersebut. Lebih lanjut lagi Sammy Finer dalam Mindarti (2007:177) mendefinisikangovernancesebagai :
a. Aktivitas atau proses memerintah
b. Suatu kondisi dari aturan yang dijalankan
c. Orang-orang diberi tugas memerintah atau pemerintah
d. Cara, metode atau sistem dimana masyarakat tertentu diperintah.
untuk menjalankan pemerintah. Governance dalam praktik terbaiknya dapat disebut dengan good governance. Good governance mengandung dua makna seperti yang diungkapkan Mindarti (2007 :182) :
“Pertama, mengandung makna tentang orientasi ideal negara yang diarahkan pada pencapaian tujuan negara. Berorientasikan pada nilai-nilai yang menjunjung tinggi kehendak rakyat dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam mencapai kemandirian, pembangunan berkelanjutan, keadilan sosial, demokratisasi dalam kehidupan bernegara seperti legitimasi, akuntabilitas, perlindungan HAM, otonomi, dan devolusi kekuasaan, pemberdayaan masyarakat sipil, dan sebagainya. Kedua mengandung makna tentang aspek-aspek fungsional pemerintahan yang efektif,dan efisien, atau pemerintahan yang berfungsi ideal, yaitu mampu berfungsi secara efektif dan efisien dalam upaya pencapaian tujuan nasional, hal ini akan sangat tergantung kepada sejauh mana pemerintahan mempunyai kompetensi serta sejauh mana struktur dan mekanisme politik dan administratif mampu berfungsi secara efektif dan efisien.”
Lebih lanjut, UNDP dalam Rasul (2009) mendefinisikangood governance sebagai hubungan sinergis dan konstruktif di antara sektor pemerintah, swasta dan masyarakat. Jadi dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa good governance adalah metode, cara atau usaha bagaimana negara dijalankan dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara bersih, efektif, dan efisien serta berorientasi pada kepentingan rakyat melalui pembinaan hubungan yang harmonis antara pemerintah, swasta dan masyarakat sipil.
2. PilarGood Governance
demokrasi dan kebebasan. Namun ketiganya harus dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan masing-masing serta tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu membentuk masyarakat yang adil dan sejahtera Ketiga aktor tersebut memiliki peranan masing-masing, sebagaimana yang disampaikan oleh Rewansyah (2010:101) berikut :
a. Negara : negara berperan menciptakan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pelayanan publik, penyelenggaraan kekuasaan untuk memerintah, dan membangun lingkungan yang kondusif bagi terrcapainya tujuan pembangunan baik pada level lokal, nasional, maupun internasional dan global.
b.Swasta : pranan sektor swasta sangat penting dalam pola kepemerintahan dan pembangunan, karena perannya sebagai sumber peluang untuk meningkatkan produktivitas, penyerapan tenaga kerrja, sumber penerimaan, investasi publik, pengembangan usaha dan pertumbuhan ekonomi.
c. Masyarakat Sipil: peran masyarakat adalah memfasilitasi interaksi sosial dan politik, menggerakkan kelompok-kelompok dalam masyarakat untuk berperan serta dalam kegiatan ekonomi, sosial dan politik.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa setiap pemangku kepentingan memiliki perannya masing-masing dalam upayanya mewujudkan konsep good governance, sehingga yang dibutuhkan hanyalah kesamaan derajat diantara ketiganya, agar ketiga pilar tersebut dapat saling melakukan kontrol dan dapat melaksanakan perannya secara optimal serta terjalin hubungan yang harmonis diantaranya.
3. Prinsip-prinsipGood Governance
memformulasikan prinsip-prinsip dalam mewujudkanGood Governanceyaitu : a. Participation, keterlibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan,
baik secara langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasinya. Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif.
b. Rule of law,kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.
c. Transparency, adanya keterbukaan yang dibangun atas dasar kebebasan memperoleh informasi. Informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik yang dapat diperoleh secara langsung dan tepat waktu bagi yang membutuhkan.
d. Responsiveness, lembaga-lembaga publik harus cepat dan tanggap dalam melayani stakeholder.
e. Consensus orientation, berorientasikan pada kepentingan masyarakat yang lebih luas.
f. Equity, setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan dan keadilan
g. Efficiency and effectiveness, pengelolaan sumber daya publik dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna.
h. Accountability, pertanggungjawaban kepada publik atas setiap aktivitas yang dilakukan
i. Strategy vision, penyelenggaraan pemerintahan dan masyarakat harus memiliki visi jauh kedepan.
Lebih lanjut Gambir Bhata dalam Rewansyah (2010: 95) mengungkapkan bahwa unsur-unsur utama good governance, yaitu : akuntabilitas, transoaransi, keterbukaan, dan aturan hukum ditambah dengan kompetensi manajemen dan hak-hak asasi manusia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, ditetapkan tujuh asas penyelenggaraan negara yang baik, yaitu :
a. Asas kepastian hukum, yaitu asas yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggaraan negara.
b. Asas tertib penyelenggaraan negara, yaitu asas yang mengutamakan keteraturan, keserasian dan keseimbangan dalam pengndalian dan penyelenggaraan negara.
umum dengan yang aspiratif, akomodatif dan selektif.
d. Asas keterbukaan, yaitu asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara.
e. Asas proporsionalitas, yaitu asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban penyelenggara negara.
f. Asas profesionalitas, yaitu asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
g. Asas akuntabilitas, yaitu asas dimana setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggaraan negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Senada dengan beberapa paparan di atas Azizy dalam Frinces (2008 :45) mengungkapkan, setidaknya ada empat belas nilai prinsip yang menjadi tata pemerintahan yang baik dan bersih :
a. Wawasan kedepan
b. Keterbukaan dan transparansi c. Partisipasi masyarakat
d. Tanggungjawab e. Supremasi hukum f. Demokrasi
g. Profesionalisme dan kompetensi h. Daya tanggap
i. Keefisienan dan keefektifan j. Desentralisasi
k. Kemitraan dengan dunia usaha swasta dan masyarakat l. Komitmen pada pengurangan kesenjangan.
m. Komitmen pada perlindungan lingkungan hidup n. Komitmen pada pasar yang fair.
pandang serta pemahaman pihak-pihak tersebut, namun kesemuanya memiliki tujuan dan makna yang baik bagi penyelenggaraan negara.
D. Sumber Daya Aparatur Pemerintah 1. Aparatur Pemerintah
Setiap organisasi baik privat maupun organisasi publik pasti memiliki sumberdaya manusi sebagai penggerak organisasi dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Organisasi publik/pemerintah di Indonesia, sumberdaya manusia tersebut disebut dengan istilah aparatur atau birokrat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aparatur adalah alat, perangkat, sehingga bisa disimpulkan bahwa aparatur adalah alat pemerintah untuk mencapai tujuan negara.
Wijaya (1990: 172) menyebutkan : “ditinjau dari segi administrasi, aparatur pemerintah merupakan aspek administrasi yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintah, sebagai alat untuk mencapai tujuan nasional. Aspek administrasi itu bisa berupa kelembagaan atau organisasi dan dapat pula berupa manusia yang disebut pegawai”. Lebih lanjut lagi Yudhoyono (2001: 61) menjelaskan bahwa : “aparatur pemerintah daerah adalah peaksana kebijakan publik”.
pemerintah yang digunakan untuk mencapai tujuan negara yang mempunyai kewajiban untuk melayani semua warga negara.
Aparatur merupakan salah satu faktor terpenting sebagai penunjang pemerintah disamping faktor lain seperti uang, teknologi dan sistem. Tugas utama dari aparatur adalah sebagai pelayanan masyarakat dan membantu pemerintah untuk mencapai tujuan pemerintahan. Tanpa adanya aparatur, pemerintah tidak akan mampu menjalankan fungsinya sebagai pemberi pelayanan. Mengingat begitu pentingnya peran aparatur maka perlu adanya peningkatan kualitas dari aparatus itu sendiri baik melalui pengembangan aparatur dengan pelatihan maupun dengan berbagai hal lainnya. Sumber daya manusia harus terus dikembangkan dalam upaya mendukung pengebangan kemampuan aparatur pemerintah sebagai wujud melaksanakan pembangunan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat
2. Pemberdayaan Aparatur
tanggung jawab terhadap sesuatu yang dikerjakan. Ada dikotomi antara istilah memberdayakan dengan pemberdayaan yang dijelaskan oleh (Sumodiningrat, 1999). Memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian. Sedangkan pemberdayaan adalah upaya membangun daya masyarakat dengan mendorong, memberi motivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya mengembangkannya.
Dalam konsep pemberdayaan menampakkan dua kecenderungan sebagaimana menurut (Sedarmayanti,2000:75) yaitu :
a. Pemberdayaan menekankan kepada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan, kepada masyarakat, organisasi, atau individu agar menjadi lebih berdaya. Proses ini sering disebut sebagai kecenderungan primer dari makna pemberdayaan.
b. Menekankan pada proses menstimulasi, mendorong, dan memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya. Proses ini sering disebut sebagai kecenderungan sekunder dari makna pemberdayaan.
Komponen utama pemberdayaan yang dimaksud disini adalah anggota organisasi, pemerintah dan masyarakat. Tujuan atau makna pemberdayaan itu meliputi :
a. Menciptakan kemandirian dan kepercayaan diri anggota organisasi, pemerintah, maupun anggota masyarakat. Kepercayaan diri dan kemandirian dalam menghadapi berbagai hambatan atau tantangan hidup dapat melahirkan kekuatan dan ketahanan diri untuk tidak menggantungkan harapannya kepada pihak lain.
b. Memiliki kegesitan dan proaktif, pemberdayaan manusia dapat menciptakan kegesitan memiliki daya dorong untuk proaktif mencari kegiatan yang dapat lebih menguntungkan.
d. Kepatuhan dan kesadaran, kehidupan manusia senantiasa diatur oleh suatu ketentuan hidup yang perlu ditaati dan sadar untuk menciptakan keteraturan dan keharmonisan, baik dalam melakukan kegiatan maupun dalam pergaulan. Kepatuhan dan kesadaran terhadap norma-norma sebagai fundamental kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, berumah tangga, dan sebagainya menjadi terapi yang tepat serta mosaik dalam upaya meningkatkan pemberdayaan, baik pada diri sendiri maupun orang lain. (Makmur,2007 : 120-121).
Pemberdayaan tidak muncul begitu saja, tetapi merupakan suatu rangkaian proses yang memerlukan perencanaan yang menyeluruh, pemikiran yang mendalam, prosedur yang benar, pemantauan yang tepat, dan peningkatan terus-menerus dari seluruh aspek kehidupan. Wibowo (1995 :60) mendefinisikan pemberdayaan aparatur pemerintah berarti peningkatan efektivitas, menghendaki dilakukannya perubahan administrasi (birokrasi) atau reformasi kinerja aparatur pemerintah. Sementara itu, Widjaja (1995, 60) menjelaskan pemberdayaan aparatur pemerintah adalah segala usaha untuk lebih meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan.
Dari beberapa definisi diatas, pemberdayaan aparatur pemerintah merupakan usaha yang dilakukan untuk peningkatan kemampuan kinerja pegawai aparatur pemerintah melalui pengadaan, pembinaan karier, diklat, dan lainya dalam upaya meningkatan efektivitas saat menjalankan tugas umum pemerintahan dan pembangunan.
3. Pengembangan Aparatur
Seperti pengertian dari Andrew E. Sikula sebagaimana dikutip oleh (Soedarmayanti, 2007:164) “Pengembangan adalah suatu proses pendidikan jangka panjang memanfaatkan prosedur sistematis dan terorganisir, di mana personil managerial mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum.”
Pengembangan Sumber daya Aparatur sangat penting dilakukan sebagaimana diungkapkan (Soedarmayanti, 2007:163) pengembangan dan pelatihan merupakan usaha mengurangi atau menghilangkan terjadinya kesenjangan antara kemampuan karyawan dengan yang dikehendaki organisasi. Tetapi pengertian antara pengembangan dan pelatihan tidaklah sama. Pelatihan merupakan kegiatan jangka pendek dalam upaya meningkatkan kualitas karyawan dalam mencapai tujuan organisasi. Sebagaimana menurut Andrew E. Sikula sebagaiman yang dikutip oleh (Soedarmayanti, 2007:164) “Pelatihan adalah suatu usaha proses pendidikan jangka pendek memanfaatkan prosedur yang sistematis dan terorganisir, dimana personil non managerial mempelajari kemampuan dan pengetahuan teknis untuk tujuan tertentu”.
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Hal itu berati pelatihan dan pendidikan merupakan bagian dari kegiatan pengembangan sumber daya aparatur. Seperti yang diutarakan oleh (Sulistiyani,2004:272) yang mendefinisikan pengembangan sumber daya aparatur menjadi tiga kegiatan belajar, yaitu :
a. Kegiatan belajar untuk meningkatkan kinerja pegawai dalam pekerjaan yang mereka emban. Kegiatan ini disebut sebagai pelatihan.
b. Kegiatan belajar untuk pengembangan diri pekerja secara umum dan menyeluruh tanpa dikaitkan dengan tugas khusus yang mereka lakukan. Kegiatan belajar ini disebut dengan pengembangan.
c. Kegiatan belajar untuk menyiapkan pekerja untuk mengemban tugas baru dalam waktu dekat. Kegiatan belajar ini disebut dengan pendidikan.
Selain itu, pengembangan sumber daya aparatur menurut (Notoatmojo, 1991:14) dibedakan menjadi dua yaitu pengembangan sumber daya aparatur secara makro dan secara mikro. Pengembangan sumber daya aparatur secara makro adalah suatu proses peningkatan kualitas atau kemampuan manusia dalam rangka mencapai suatu tujuan pembangunan bangsa. Sedangkan pengembangan sumber daya aparatur secara mikro adalah suatu proses perencanaan pendidikan dan pelatihan serta pengelolaan tenaga kerja atau pegawai (karyawan) untuk mencapai hasil yang maksimal.
Dalam proses pengembangan sumberdaya manusia (aparatur) tentunya tidak terlepas dari berbagai pengaruh, baik itu pengaruh dari faktor eksternal. Munurut (Notoatmodjo,1991:11-13) dalam pelaksanaan pengembangan SDM perlu mempertimbangkan faktor-faktor seperti berikut :
a. Faktor Internal
bersangkutan. Secara terinci faktor-faktor tersebut antara lain : Misi dan tujuan organisasi, Strategi pencapaian tujuan, Sifat dan jenis kegiatan, Sarana Prasarana
b. Faktor Eksternal
Organisasi itu berada dalam lingkungan, dan tidak terlepas dari pengaruh lingkungan dimana organisasi tersebut berada. Agar organisasi itu dapat melaksanakan misi dan tujuannya, maka ia harus memperhitungkan faktor-faktor eksternal organisasi itu. Faktor-faktor eksternal tersebut antara lain : Kebijakan pemerintah, Sosio-budaya masyarakat, Perkembangna ilmu pengetahuan dan teknologi
Berdasarkan beberapa pendapat di atas terkait teori pemberdayaan dan pengembangan aparatur dapat diketahui persamaan kedua teori tersebut yaitu obyeknya adalah manusia yang berfokus pada pemanfaatan sumber daya manusia. Kemudian yang menjadi pembeda antara kedua teori tersebut yaitu, pemberdayaan menyangkut aspek yang lebih kompleks dan luas dengan meliputi perekrutan aparatur, pemberian kewenangan dan pada tujuan akhirnya aparatur bisa mandiri/berdaya. Sedangkan pada pengembangan menyangkut proses peningkatan kualitas/kompetensi individu aparatur yang sudah ada tanpa perlu melakukan proses seleksi lagi dan output yang dihasilkan adlah peningkatan kinerja. Proses pengembangan aparatur sering dilakukan dengan instrument pendidikan dan pelatihan (diklat). Dengan begitu berdasarkan kesimpulan di atas, maka menurut penulis pengertian pengembangan aparatur lebih cocok dipergunakan dalam tulisan ini sebagai alat analisis.
E. Pengembangan Kapasitas
variety of strategies that have to do with increasing the efficiency building (Pengembangan kapasitas) merupakan upaya yang dimaksud untuk mengembangkan suatu ragam strategi meningkatkan efficiency,effectiveness dan responsivenesskinerja pemerintah. Yakniefficiency,dalam hal waktu (time) dan sumber daya (resources) yang dibutuhkan guna mencapai suatu outcome; effectivenessberupa kepantasan usaha yang dilakukan demi hasil yang diinginkan; dan responsiveness yakni bagaimana mensinkronkan antara kebutuhan dan kemampuan untuk maksud tersebut. Sedangkan menurut Valentie Udoh James sebagaimana yang dikutip oleh (soeprapto, 1997:15) memberikan pengertian capacity buildingsebagai :
“attemp to enhance the ability of people of developing nations to develop essential politics and management skills necessary to build their nation’s human, economic, social political and cultural structures so as to their proper place in global affairs” (capacity building adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan rakyat negara sedang berkembang untuk mengembangkan ketrampilan manajemen dan kebijakan yang esensial yang dibutuhkan untuk membangun struktur budaya, sosial politik, ekonomi, dan SDM sehingga mereka eksis dalam percaturan global).
sehingga dapa tanggap terhadap perubahan lingkungan yang ada.
Sementra itu , menurut Soeprapto (2010: 60) menjelaskan capacity buildingmerupakan :
“upaya yang dimaksudkan untuk mengembangkan suatu ragam strategi meningkatkan efficiency, effectiveness, dan responsiveness kinerja pemerintah. Yakni efficiency, dalam hal waktu (time) dan sumber daya (resources) yang dibutuhkan guna mencapai outcome; effectiveness berupa kepantasan usaha yang dilakukan demi hasil yang di inginkan; dan responsiveness yakni bagaimana mensinkronkan antara kebutuhan dan kemampuan untuk maksud tersebut.”
Pengembangan kapasitas tentunya merupakan suatu langkah untuk mengatur kondisi atau kualitas baik itu individu maupun instansi agar sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Dari beberapa pengertian di atas, Capacity buildingmerupakan upaya penguatan pemerintahan baik dari individu, organisasi maupun reformasi birokrasi agar lebih efficiency, effectiveness, dan responsiveness dalam kinerjanya. Kemudian lebih spesifik didapat staf atau sumber daya aparatur jauh memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan pengembangan persoanal, organisasi dan masyarakat. Hal tersebut sebagaimana dalamJanet L. Finn & Barry Checksoway sebagaimana yang dikutip oleh (Soeprapto,2010:4) pengertian capacity building bagi penyelenggara pemerintahan didefinisikan sebagai, “the extent to which they (staff) demonstrate concrete contribution to personal, organizational and community development” (sampai seberapa jauh staf mampu menunjukkan konstribusi yang nyata terhadap pengembangan personal, organisasi dan masyarakat).
strengthening (penguatan organisasi) and Institutional reform (reformasi institusion/birokrasi). Berdasarkan pernyataan diatas maka dimensi pengembangan kapasitas menurut Grindle dapat dilihat dalam tabel 1 berikut ini :
Tabel 1
Dimensions and Focus of Capacity Buliding
Dimension Fokus Types of Activities
Human resources
development Supply of professional andtechnical personnel Training,conditions of salaries,work, recruitment
Organizational
strengthening Management system to improveperformance of specific tasks and functions; microstructures Instutional reform Institutions and systems;
macrostructures Rules of the game foreconomic and political regimes, policy and legal change, constitutional reform
Sumber : Grindle, 1997: hal. 9
Terlihar dalam tabel tersebut bahwa 3 dimensi pengembangan kapasitas yaitu :
1. Pengembangan sumber Daya Manusia (SDM) yang berfokus pada ketersediaan tenaga teknis dan profesional dengan menunjukkan aktivitas berupa : pelatihan, gaji, kondisi kerja, dan perekrutan.
kepemimpinan, budaya organisasi, komunikasi, struktur manajerial.
3. Reformasi kelembagaan yang berfokus pada lembaga dan sistem; struktur makro dengan menunjukkan aktivitas berupa: aturan permainan untuk ekonomi dan rezim politik, kebijaksanaan dan perubahan legal, reformasi konstitusi.
Tabel diatas menyatakan bahwa ketiga dimensi pengembangan kapasitas tersebut utamanya berfokus pada personal, manajemen atau struktur dan menunjukkan aktivitas yang berbeda apabila ketiganya akan dikembangkan, diperkuat dan direformasi. Dalam hal ini penulis memfokuskan pada dimensi Human resource development. Fokus dariHuman resouce development ini adalah mengisi tenaga yang profesional dan ahli (teknis). Kegiatan dari Human resource development yaitu ; (1) Training, (2) salaries, (3) condition of work, dan (4) recruitment.
F. Efektifitas 1. Pengertian
secara optimal pada pencapaian tujuan, kemampuan, dan pemanfaatan tenaga manusia.
Menurut Georgopoulus dan Tannenbaum dalam Steers (1996: 50) yang meninjau efektifitas dari sudut pencapaian tujuan manyatakan bahwa rumusan keberhasilan organisasi harus mempertimbangkan bukan saja sassaran organisasi tetapi juga mekanismenya mempertahankan diri dan mengejar sasarannya. Dengan kata lain, penilaian efektifitas harus berkaitan dengan masalah sarana maupun tujuan-tujuan organisasi. Efektifitas juga dapat diartikan sebagai hasil guna yang penekanannya pada efeknya, hasilnya, dan kurang memperdulikan pengorbanan yang perlu diberikan untuk memperoleh hasil tertentu (Syamsi, 1998:2). Pengertian efektif berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia (Poerwodarminto, 1984: 250) adalah efek, akibat, pengaruh yang dapat membawa hasil atau berhasil guna dari sesuatu yang diterapkan dimana objeknya tepat pada sasaran. Beberapa definisi lain menyatakan efektifitas merupakan kegiatannya harus mengenai sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan (Atmosudirjo : 1988: 81), dan menurut Miller dalam Tangkilisan (2005: 138) mengartikan efektivitas sebagai tingkatan seberapa jauh suatu sistem sosial mencapai tujuannya, serta menurut Sills dalam Tangkilisan (2005:138) mengartikan efektivitas sebagai keseimbangan atau pendekatan secara optimal pada pencapaian tujuan, kemampuan, dan pemanfaatan tenaga manusia.
Pada sisi lain Etziomi menerangkan tentang efektifitas dari sudut pandang lain yakni :
mana organisasi tersebut berhasil mencapai tujuannya, sedangkan efisiensi organisasi dikaji dari segi sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan suatu unit pengeluaran (output). Selain itu efektifitas organisasi dijabarkan berdasarkan keputusan organisasi untuk memperoleh dan memanfaatkan sumber daya yang langka dan berharga denagan sepandai mungkin dalam usahanya mengejar tujuan operasi dan operasionalnya.” (steers, 1996: 10)
Dari pengertian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa efektifitas mengandung beberapa pengertian yang berkaitan dengan mekanisme dalam mengejar sasaran didukung oleh sarana maupun tujuan organisasi yang jelas. Selain itu juga sejauh mana organisasi berhasil mencapai tujuan sesuai dengan rencana dan waktu yang telah ditentukan.
2. Ukuran dan Kriteria Efektivitas
Pendapat tentang ukuran efektivitas diketahui sangat beragam (steers, 1996 : 61) diantaranya adalah :
a. Menurut Thorndike, kriteria yang dipakai dalam efektivitas organisasi adalah produktivitas, laba bersih, penyelesaian misi, pertumbuhan serta stabilitas organisasi.
b. Menurut Campbell, ukuran yang digunakan oleh suatu organisasi berjumlah sembilan belas tetapi yang menonjol yaitu keseluruhan prestasi, produktivitas, kepuasan kerja pegawai, laba dan tingkat penghasilan, dan keluarnya pegawai.
c. Menurut Georgopoulus dan Tannenbaum, kriterianya adalah produktivitas, fleksibilitas, dan tidak ada tekanan dari organisasi. d. Menurut Duncan, ukurannya adalah pencapaian tujuan, integrasi dan
adaptasi.
Sedangkan untuk kriteria dari efektivitas diuraikan pula dalam Tangkilisan (2005: 143) bahwa efektivitas dapat dinilai berdasarkan pada :
c. Produktifitas organisasi, dalam hal ini berhubungan dengan tujuan organisasi
d. Tidak ada tekanan atau ketegangan diantara anggota organisasi, dalam hal ini berkaitan dengan koordinasi yang baik antar pegawai.
Lain halnya dengan Steers (1996: 26) efektivitas dapat dinilai dari pencapaian sasaran didalam tujuan organisasi. Sasaran organisasi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal berikut :
a. Sasaran sosial (social goals), merupakan hubungan masyarakat pada umumnya. Jenis sasaran ini berurusan dengan organisasi kelas besar pada umumnya.
b. Sasaran sitem (system goals), merupakan keadaan atau cara berfungsinya organisasi pada umumnya.
c. Sasaran keluaran (output) merupakan hasil dari keluaran setelah kegiatan dilaksanakan.
46 A. Jenis Penelitian
Penelitian merupakan suatu pengolahan data yang dilakukan dengan metode keilmuan tertentu yang menghasilkan laporan ilmiah. Kegiatan penelitian ditujukan untuk memecahkan berbagai persoalan masyarakat dan bangsa. Setiap penelitian yang dilakukan pasti memiliki data, metode dan tujuan yang berbeda-beda sesuai kondisi dan kebutuhan peneliti, organisasi dan masyarakat.