• Tidak ada hasil yang ditemukan

Industri Kreatif Rumah Tangga Studio Pro

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Industri Kreatif Rumah Tangga Studio Pro"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

STUDIO PROSES INDUSTRI KREATIF RUMAH TANGGA LAPORAN ANALISIS

i KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia serta rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Kompilasi Rencana Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga tahun 2015-2019. Laporan Kompilasi Industri Kreatif Rumah Tangga merupakan penjabaran mengenai proses mengumpulkan dan mengkompilasi data dalam Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga di Kota Surakarta.

Tujuan penyusunan Laporan Kompilasi adalah mengumpulkan dan mengkompilasi data yang digunakan sebagai input analisis dalam proses perencanaan Kawasan Indsutri Kreatif Rumah Tangga di Kota Surakarta Tahun 2015-2019. Laporan Kompilasi ini dibuat dengan beberapa teknik pengumpulan data hingga metode pendataan yang variatif.

Dalam penyusunan Laporan Kompilasi Rencana Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga Tahun 2015-2019 ini Tim Penyusun telah banyak mendapatkan masukan dari berbagai pihak yang berkompeten demi kesempurnaan buku laporan ini, untuk itu kami mengucapkan terimakasih atas perhatian dan kerjasamanya kepada semua pihak yang terkait.

Dalam penyusunan Laporan Kompilasi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga Tahun 2015-2019 ini kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kemajuan kami. Akhir kata, kami berharap semoga laporan kompilasi ini dapat bermanfaat bagi semu pihak yang berkepentingan dandapat menjadi referensi bagi pengembangan ilmu terutama dibidang perencanaan wilayah dan kota.

(2)

STUDIO PROSES INDUSTRI KREATIF RUMAH TANGGA LAPORAN ANALISIS

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... -

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR TABEL ... viii BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ... I-1 1.2 Tujuan dan Sasaran ... I-3 1.2.1 Tujuan ... I-3 1.2.2 Sasaran ... I-3 1.3 RuangLingkup ... I-3 1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah ... I-3 1.3.2 Ruang Lingkup Waktu ... I-4 1.3.3 Ruang Lingkup Substansi ... I-4 1.4 Sistematika Laporan Kompilasi ... I-4 BAB II ISU STRATEGIS

2.1 Pohon Isu ... II-12 2.2 Isu Strategis ... II-13 BAB III METODE PENDATAAN

3.1 Survey Primer ... III-15 3.1.1 Wawancara ... III-15 3.1.2 Kuesioner ... III-15 3.1.3 Observasi Lapangan ... III-15 3.2 Survey Sekunder ... III-17 BAB IV GAMBARAN UMUM

(3)

STUDIO PROSES INDUSTRI KREATIF RUMAH TANGGA LAPORAN ANALISIS

iii 4.1.2 Lembaga Industri ... IV-30 4.1.3 Analisis Peran Paguyuban ... IV-31 4.1.4 Analisis Peran Pemerintah ... IV-31 4.2 Aspek Fisik Dasar ... IV-31

4.2.1 Keadaan Topografi Kawasan Industri Kreatif

Rumah Tangga ... IV-31 4.2.2 Keadaan Morfologi Kawasan Industri Kreatif

Rumah Tangga ... IV-33 4.2.3 Keadaan Geologi Kawasan Industri Kreatif

Rumah Tangga ... IV-35 4.2.4 Keadaan Hidrologi Kawasan Industri Kreatif

Rumah Tangga ... IV-36 4.2.5 SKL Morfologi ... IV-40 4.2.6 SKL Kemudahan Dikerjakan ... IV-41 4.2.7 SKL Kestabilan Lereng ... IV-42 4.2.8 SKL Kestabilan Fondasi ... IV-43 4.2.9 SKL Ketersediaan Air ... IV-44 4.2.10 SKL Drainase ... IV-45 4.2.11 SKL Terhadap Erosi ... IV-46 4.2.12 SKL Terhadap Bencana Alam ... IV-47 4.3 Aspek Kependudukan dan Sosial Budaya ... IV-47 4.3.1 Kemampuan SDM dalamIndustri ... IV-48 4.3.2 Proporsi Penduduk yang Bekerja di Bidang Industri ... IV-51 4.3.3 Proporsi Penduduk Usia Produktif yang Bekerja di

(4)

STUDIO PROSES INDUSTRI KREATIF RUMAH TANGGA LAPORAN ANALISIS

iv 4.4.3 Rantai Produksi Industri Kreatif Rumah Tangga ... IV-61 4.4.4 Industri Potensial ... IV-67 4.4.5 Kemampuan Pelaku Industri untuk Mengakses Pinjaman ... IV-70 4.5 Aspek tata Guna Lahan ... IV-74 4.5.1 Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Studi ... IV-74 4.5.2 Kesesuaian Penggunaan Lahan Industri Kreatif Rumah

Tangga di kawasan Studi ... IV-76 4.6 Sarana dan Prasarana ... IV-77 4.6.1 Sarana Pendidikan ... IV-77 4.6.2 Sarana Kesehatan ... IV-80 4.6.3 Sarana Perdagangan ... IV-81 4.6.4 Sarana Pemasaran Produk Industri Kreatif Rumah Tangga ... IV-82 4.6.5 Prasarana Pengelolaan Limbah Industri Kreatif

(5)

STUDIO PROSES INDUSTRI KREATIF RUMAH TANGGA LAPORAN ANALISIS

v DAFTAR GAMBAR

BAB IV GAMBARAN UMUM

Gambar 4.1 Peta Pembagian Sub Pusat Pelayanan Kota Surakarta ... IV-30 Gambar 4.2 Peta Kemiringan Lahan Kawasan Studi ... IV-33 Gambar 4.3 Peta Morfologi Kawasan Studi ... IV-34 Gambar 4.4 Peta Jenis Tanah Kawasan Studi ... IV-36 Gambar 4.5 Grafik Jumlah Pengguna Sumber Air ... IV-37 Gambar 4.6 Grafik Kualitas Air Tanah berdasarkan Tingkat Keasaman (Ph)

Kawasan Studi ... IV-38 Gambar 4.7 Grafik Kuantitas Air Tanah Kawasan Studi ... IV-39 Gambar 4.8 Diagram Proporsi Pendidikan Terakhir Pelaku Industri ... IV-49 Gambar 4.9 Diagram Proporsi Jumlah Penduduk Berdasar Mata Pencaharian ... IV-52 Gambar 4.10 Diagram Proporsi Jumlah Penduduk Berdasar Mata Pencaharian . IV-52 Gambar 4.11 Peta Proporsi Usia Produktif Kawasan Studi ... IV-54 Gambar 4.12 Diagram Pertumbuhan Penduduk ... IV-54 Gambar 4.13 Diagram Proporsi Pelaku Industri Kreatif di Kawasan Studi

Berdasar Usia Produktif ... IV-55 Gambar 4.14 Diagram Pertumbuhan Jumlah Industri Kreatif Rumah Tangga

yang Memiliki Nilai Budaya ... IV-56 Gambar 4.15 Flow Chart Rantai Produksi Industri Kreatif Rumah Tangga ... IV-66 Gambar 4.16 Diagram Modal Awal Industri Kreatif Rumah Tangga di

(6)

STUDIO PROSES INDUSTRI KREATIF RUMAH TANGGA LAPORAN ANALISIS

(7)

STUDIO PROSES INDUSTRI KREATIF RUMAH TANGGA LAPORAN ANALISIS

vii DAFTAR TABEL

BAB IV GAMBARAN UMUM

Tabel IV. 1 Keadaan Topografi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga ... IV-30 Tabel IV. 2 Keadaan Morfologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga ... IV-34 Tabel IV. 3 Keadaan Geologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga ... IV-35 Tabel IV. 4 Sumber Air Tanah Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga ... IV-37 Tabel IV. 5 Sumber Air Tanah Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga ... IV-38 Tabel IV. 6 Kuantitas Air Tanah Kawasan Industri Kreatif RumahTangga ... IV-39 Tabel IV. 7 SKL Morfologi ... IV-40 Tabel IV. 8 SKL Kemudahan Dikerjakan ... IV-41 Tabel IV. 9 SKL Kestabilan Lereng ... IV-42 Tabel IV. 10 SKL Kestabilan Pondasi ... IV-43 Tabel IV. 11 SKL Ketersediaan Air ... IV-44 Tabel IV. 12 SKL Drainase ... IV-45 Tabel IV. 13 SKL Terhadap Erosi ... IV-46 Tabel IV. 14 SKL Terhadap Bencana Alam ... IV-47 Tabel IV. 15 Indikator Indeks Pembangunan Manusia ... IV-50 Tabel IV. 16 Klasifikasi Jenis Industri di Kawasan Studi ... IV-59 Tabel IV. 17 Persebaran Jumlah Industri Kecamatan Serengan ... IV-61 Tabel IV.18 Rantai Produksi di Kawasan Studi ... IV-62 Tabel IV.19 Rekap Data Kuisioner dan Wawancara Industri Kreatif Rumah

Tangga Kawasan Studi ... IV-67 Tabel IV. 20 Pendapatan Bersih Industri Kreatif Rumah Tangga ... IV-71 Tabel IV. 21 Data Produk Peminjaman KTA Beberapa Bank di Indonesia ... IV-72 Tabel IV. 22 Rekap Data Kuisioner dan Wawancara Industri Kreatif Rumah

(8)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang terletak di Provinsi Jawa Tengah dengan lokasi geografis antara110˚45’15” dan 110˚45’35” BT dan 7˚36’00” dan 7˚56’00” LS. Kota ini memiliki 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Banjarsari, Jebres, Pasar Kliwon, Laweyan, dan Serengan dengan luas total kota sebesar 4,406 Ha. Dari 5 kecamatan tersebut, terbagi lagi kedalam 51 kelurahan dengan pembagian pada masing-masing kecamatan, yaitu Kecamatan Banjarsari sebanyak 13 kelurahan, Jebres sebanyak 11 kelurahan, Pasar Kliwon sebanyak 9 kelurahan, Laweyan sebanyak 11 kelurahan, serta Serengan sebanyak 7 kelurahan. Secara administrasi, batas wilayah Kota Surakarta di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo, dan di sebelah barat dan timur dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo.

Melalui Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2001, Pemerintah Kota Surakarta merumuskan Visi Pembangunan Kota Surakarta,yaituTerwujudnya Kota Sala sebagai Kota Budaya yang bertumpu pada potensi Perdagangan, Jasa, Pendidikan, Pariwisata dan Olah Raga. Sedangkan Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota adalahterwujudnya Kota sebagai Kota Budaya yang produktif, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan berbasis pada sektor industrikreatif, perdagangan dan jasa, pendidikan, pariwisata, serta olah raga. Merujuk pada Visi Pembangunan dan Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota Surakarta tersebut, Kota Surakarta memunculkan brandingkota “Eco Cultural City”.

(9)

2 orang.Sehingga pengertian industri kreatif rumah tangga adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan dengan jumlah tenaga kerja berkisar antara 1-4 orang.

Dalam Rencana Pola Ruang RTRW Kota Surakarta 2012-2032, untuk menampung kegiatan industri ringan di Kota Surakarta, disediakan ruang yang terletak di Kawasan I, Kawasan II, Kawasan IV, dan Kawasan V. Kaitannya dengan pengembangan kegiatan industri ini, industri kreatif dikembangkan di kawasan I sebagai lokasi kegiatan industri batik Kota Surakarta. Industri kreatif diizinkan di kawasan I selama tidak menunjukkan peningkatan kuantitas kegiatan serta tidak menimbulkan gangguan lingkungan.Perluasan dan peningkatan kuantitas kegiatan, direkomendasikan dialihkan ke kawasan IV dan kawasan V.

Kawasan delineasi pada perencanaan ini adalah kawasan industri kreatif rumah tangga bagian selatan Kota Surakarta yang meliputi Kelurahan Serengan, Danukusuman, Joyotakan, Keratonan dan Tipes. Pada kawasan tersebut memang sudah terkenal akan industri kreatifnya.

Adanya industri kreatif rumah tangga pada kawasan delineasi, tidak disertai dengan optimalnya peran pihak terkait dalam mengembangkannya.Sehingga tidak ada kerjasama antar pelaku industri.Akan tetapi telah ada lembaga yang menyediakan jasa pembiayaan sehingga cukup embantu masyarakat industri dalam memperkuat modal mereka.Hampir seluruh penggunaan lahan adalah sebagai permukiman yang padat penduduk.Keadaan tersebut didukung dengan sarana prasarana yang cukup memadai.

Berdasarkan fenomena diatas didapatkan dugaan isu strategis di Kecamatan Laweyan adalah “Belum optimalnya pengembangan industri kreatif rumah tangga untuk menghasilkan produk yang berwawasan budaya karena kurangnya pengetahuan SDM serta ketidaksinergisan pembangunan sarana prasarana menghambat distribusi produk ke pasar global”.

(10)

3 dari wawancara serta pengisian kuesioner oleh pihak terkait, dan pengamatan langsung kondisi lapangan.Data-data tersebut dikumpulkan dalam bentuk statistik maupun deskriptif yang sifatnya komprehensif, sehingga perlu adanya kebutuhan mengumpulkan informasi untuk memahami fenomena dari berbagai aspek seperti kebijakan, fisik dasar, sosial kependudukan, ekonomi, sarana dan prasarana, transportasi, dan tata guna lahan.

1.2. Tujuan dan Sasaran 1.2.1. Tujuan:

Mengumpulkan dan mengkompilasi data yang digunakan sebagai input analisis.

1.2.2. Sasaran:

1. Mengumpulkan data primer dan sekunder dari survei

2. Mengklasifikasikan data berdasarkan kebutuhan analisis sektoral, yang terdiri atas:

a) Sektor kebijakan b) Sektor fisik dasar c) Sektor kependudukan d) Sektor ekonomi

e) Sektor sarana prasarana f) Sektor tata guna lahan g) Sektor transportasi

3. Mereduksi data sektoral sesuai dengan kebutuhan analisis 4. Menginterpretasikan data

1.3. Ruang Lingkup

1.3.1. Ruang lingkup wilayah

(11)

4 1.3.2. Ruang lingkup Waktu

Lingkup waktu data yang dibutuhkan untuk mengkompilasi data adalah 4 tahun dengan tahun terakhir adalah tahun 2012, sehingga data yang dibutuhkan sebagai input analisis minimal dimulai dari tahun 2009 atau tahun sebelumnya.

1.3.3. Ruang lingkup Substansi

1. Kebijakan Kelembagaan meliputi arahan pemanaatan ruang dan lembaga terkait Industri Kreatif Rumah Tangga

2. Fisik Dasar meliputi kemampuan lahan pada kawasan serta hidrologi. 3. Kependudukan dan Sosial Budaya meliputi pengetahuan penduduk

tentang budaya, keterampilan penduduk dalam hal industri kreatif, serta proporsi penduduk yang bekerja di bidang industri kreatif.

4. Ekonomi meliputi originalitas produk, proses produksi, pemasaran, pembiayaan kegiatan industri serta realisasi ekspor.

5. Sarana Prasarana meliputi ketersediaan TPS, BTS, kondisi jalan serta saluran drainase.

6. Transportasi meliputi pola dan mode distribusi.

7. Tata Guna Lahan meliputi kesesuaian penggunaan lahan pada kawasan.

1.4. Sistematika Laporan Kompilasi BAB I PENDAHULUAN

Berisi tentang latar belakang, tujuan, sasaran, dan ruang lingkup perencanaan. 1.1. Latar Belakang

1.2. Tujuan dan Sasaran 1.2.1. Tujuan

Tujuan kompilasi berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai dengan melakukan kompilasi data.

1.2.2. Sasaran

(12)

5 1.3. Ruang Lingkup

1.3.1. Ruang Lingkup Wilayah 1.3.2. Ruang Lingkup Waktu 1.3.3. Ruang Lingkup Substansi 1.4. Sistematika Laporan Kompilasi

BAB II ISU STRATEGIS

Berisi tentang Pohon Isu dan Deskripsi Isu Strategis 2.1. Pohon Isu

Pohon Isu berisi potensi, masalah, peluang dan ancaman yang berada di Kecamatan Laweyan yang dibuat sedemikian rupa sehingga dengan suatu diagram sebab akibat tersebut dapat membentuk beberapa sub isu srategis yang kemudian dari beberapa sub isu strategis tersebut dapat ditarik menjadi satu isu strategis.

2.2. Deskripsi Isu Strategis

Deskripsi Isu Strategis berisi penjabaran mengenai pohon isu.menjelaskan hubungan antara isu dan menjelaskan sebab-akibat antar isu.

BAB III METODE PENDATAAN

3.1. Tabel Kebutuhan Data

(13)

6 3.2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data berisi definisi-definisi atau penjelasan dari metode pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan.

BAB IV GAMBARAN UMUM

4.1. Aspek Kebijakan dan Kelembagaan

4.1.1. Arahan Pemanfaatan Ruang Kota Surakarta

Berisi tentang arahan fungsi pemanfaatan ruang di Kota Surakarta. 4.1.2. Lembaga Industri

Meliputi peran lembaga yang berperan dalam industri kreatif, seperti pemerintah, lembaga keuangan, serta dari masyarakat sendiri (paguyuban).

4.1.3. Analisis Peran Paguyuban

Bagaimana pengaruh peran paguyuban dalam industri kreatif rumah tangga di kwasan studi.

4.1.4. Analisis Peran Pemerintah

Berisi mengenai bagaimana peran pemerintah dalam memberikan pada industri kreatif di kawasan studi.

4.2. Aspek Fisik Dasar

4.2.1. Keadaan Topografi Kawasan Industri Kreatuf Rumah Tangga

Keadaan topografi berisi tentang peta bentang alam dan peta kemiringan lereng di kawasan studi.

4.2.2. Keadaan Morfologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga

(14)

7 4.2.3. Keadaan Geologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga

Keadaan geologi berisi tentang jenis tanah dan peta geologi yang ada di kawasan studi

4.2.4. Keadaan Hidrologi Kawassan Industri Kreatif Rumah Tangga

Hidrologi berisi tentang sumber, kualitas dan kuantitas air tanah yang ada di kawasan studi selama ini.

4.2.5. SKL Morfologi

Berisi kompilasi data bentuk bentang alam/morfologi pada wilayah dan/atau kawasan perencanaan yang mampu dikembangkan sesuai fungsinya.

4.2.6. SKL Mudah Dikerjakan

Kompilasi data untuk mengetahui tingkat kemudahan lahan di

wilayah dan/atau kawasan untuk digali/dimatangkan dalam proses

pembangunan/pengembangan kawasan.

4.2.7. SKL Kestabilan Lereng

Kompilasi data untuk mengetahui tingkat kemantapan lereng di

wilayah dan/atau kawasan dalam menerima beban pada

pengembangan wilayah dan/atau kawasan.

4.2.8. SKL Kestabilan Pondasi

Kompilasi data untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam

mendukung bangunan berat dalam pengembangan perkotaan, serta

jenis-jenis pondasi yang sesuai untuk masing-masing tingkatan.

4.2.9. SKL Ketersediaan Air

Kompilasi data untuk mengetahui tingkat ketersediaan air guna

pengembangan kawasan, dan kemampuan penyediaan air

masing-masing tingkatan.

4.2.10.SKL Drainase

Kompilasi data untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam

(15)

8 4.2.11.SKL Terhadap Erosi

Kompilasi data untuk mengetahui tingkat keterkikisan tanah di kawasan perencanaan.

4.2.12.SKL terhadap bencana Alam

Kompilasi data untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam

menerima bencana alam khususnya dari sisi geologi.

4.3. Aspek Kependudukan dan Sosial Budaya

4.3.1. Kemampuan Sumber Daya Manusia dalam Indsutri Kreatif

Kemampuan Sumber Daya Manusia di Indsutri Kreatif berisi mengenai data kemampuan, kreatifitas, dan pengetahuan budaya para pekerja di industri kreatif pada kawasan studi.

4.3.2. Proporsi Penduduk yang Bekerja di Bidang Industri

Proporsi penduduk yang bekerja di bidang industri kreatif rumah tangga menggambarkan tentang jenis-jenis pekerjaan yang menjadi mata pencaharian masyarakat di kawasan studi, jumlah masing-masing jenis mata pencaharian, dan jumlah mata pencaharian yang paling besar di kawasan studi.Dari data mata pemcaharian penduduk juga dapat dilihatseberapa besar proporsi penduduk yang bekerja di bidang industri kreatif rumah tangga di kawasan studi.

4.3.3. Proporsi Penduduk Usia Produktif yang Bekerja di Bidang Industri Proporsi penduduk usia produktif yang bekerja di bidang industri menggambarkan mengenai jumlah penduduk berdasarkan usia produktif dan data mengenai usia pelaku industri kreatif rumah tangga di kawasan studi.

4.3.4. Perkembangan Jumlah Industri Kreatif Rumah Tangga yang Berbudaya

(16)

9 mengenai perkembangan jumlah industri kreatif yang berbudaya di kawasan studi.

4.4. Aspek Ekonomi

4.4.1. Produk Industri Kreatif Rumah Tangga di Kawasan Studi

Berisi produk-produkdan jumlah industri kreatif rumah tangga di kawasan studi yang termasuk Industri Berbudaya di kawasan studi. 4.4.2. Perkembangan Jumlah Industri Kreatif Rumah Tangga di Kawasan

Studi

Perkembangan Jumlah Industri Budaya di Kawasan Studi berisi jumlah perkembangan jenis industri kreatif rumah tangga yang terjadi kawasan studi.

4.4.3. Rantai Produksi pada Industri Kreatif

Rantai Produksi pada Industri Kreatif berisi tentang rantai produksi yang ada di industri kreatif di kawasan studi, mulai dari pemasok bahan baku, prosesnya, hingga pemasaran produk industri kreatif. 4.4.4. Industri Potensial di Kawasan Studi

Industri Budaya Potensial di Kawasan Studi berisi tentang rata-rata pendapatan per jenis industri dan jenis industri yang potensial di kawasan studi.

4.4.5. Kemampuan Pelaku Indsutri untuk Mengakses Pinjaman

(17)

10 4.5. Aspek Tata Guna Lahan

4.5.1. Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Studi

Ketersediaan ruanh terbuka hijau di kawasan studi berisi tentang persebaran dan peta ruang terbuka hijau di kawasan studi sebagai penyerap limbah industri.

4.5.2. Kesesuaian Penggunaan Lahan Industri Kreatif Rumah Tangga di Kawasan Studi

Kesesuaian penggunaan lahan indsutri kreatif rumah tangga yang ada di kawasan studi dengan peraturan yang ada, dalam hal ini adalah RTRW, serta berisi peta kondisi eksisting lahan saat ini.

4.5.3. Ketersediaan Cadangan Lahan di Kawasan Studi

Ketersediaan cadangan lahan di kawasan studi berisi tentang data persebaran cadangan lahan yang ada di kawasan studi.

4.6. Aspek Sarana Prasarana 4.6.1. Sarana Pendidikan

Sarana pendidikan berisi tentang berapa dan bagaimana jenis tingkat pendidkan yang berada di kawasan studi.

4.6.2. Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan berisi tentang berapa sarana kesehatan yang ada di kawasan studi.

4.6.3. Sarana Perdagangan

Sarana perdagangan berisi tentang berapa jumlah sarana perdagangan (toko/warung, pertokoan, pusat pertokoan atau pasar lingkungan, dan pasar perbelanjaan dan niaga) yang ada di kawasan studi.

4.6.4. Sarana Pemasaran Produk Industri Kreatif Rumah Tangga

(18)

11 4.6.5. Prasarana Pengelola Limbah Industri Kreatif Rumah Tangga

Prasarana pengelola limbah industri kreatif rumah tangga berisi mengenai ketersediaan dan bagaimana keadaan sarana pengolahan limbah industri rumah tangga yang ada di kawasan studi.

4.6.6. Prasarana Jaringan Drainase

Prasarana jaringan drainase berisi mengenai keadaan saluran drainase yang ada di kawasan studi.

4.6.7. Prasarana Jaringan Listrik

Prasarana jaringan listrik berisi mengenai ketersediaan dan seberapa luas jangkauan listrik yang mencapai kawasan studi.

4.6.8. Prasarana Komunikasi

Prasarana jaringan komunikasi berisi tentang ketersediaan jaringan komunikasi guna optimalisasi kegiatan komunikasi industri rumah tangga di kawasan studi.

4.7. Aspek Transportasi

4.7.1. Prasarana Transportasi

Prasarana transportasi berisi mengenai bagaimana jaringan jalan dan perlintasan kereta api yang ada di kawasan studi.

4.7.2. Moda Transportasi

(19)

12

BAB II

ISU STRATEGIS

2.1. Pohon Isu

Industri kreatif rumah tangga merupakan industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan dengan jumlah tenaga kerja berkisar antara 1-4 orang.Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) tahun 2011 tercatat terdapat 269 industri kecil yang memiliki kelengkapan data dan tersebar di seluruh Kota Surakarta dengan berbagai macam variasi produk. Industri kreatif rumah tangga di Kota Surakarta dapat dibedakan menjadi 4 klaster.

Klaster 1 terdiri dari Kelurahan Pajang, Laweyan, Sondakan, dan Manahan. Klaster 2 terdiri dari Kelurahan Manahan, Mangkubumen, Punggawan, Timuran, Keprabon, dan Kauman. Klaster 3 terdiri dari Kelurahan Tipes, Serengan, Kratonan, Danukusuman, Keratonan, Joyosuran, dan Semanggi. Sedangkan untuk klaster 4 terdiri dari Kelurahan Jebres.

Pengelompokkan klaster industri kecil menengah ini didasarkan pada kedekatan lokasi masing-masing industri. Kawasan industri pada klaster 3 merupakan kawasan studi dengan keberadaan industri kreatif rumah tangga yang berbudaya. Industri budaya adalah industri yang memproduksi output kreatif dan artistik baik intangible dan tangible, yang memiliki potensi untuk daya kreasi serta pembangkit pendapatan melalui eksploitasi aset budaya dan produksi berbasis pengetahuan barang dan jasa. Industri kreatif berbudaya ini terdiri dari industri batik, mebel, blangkon, alat musik gamelan, alat musik keroncong, canting, keris dll. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah Kota, kawasan industri kreatif dialokasikan pada SPK I, Kawasan I diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, budaya, perdagangan, jasa dan olah raga sebagai pusat pariwisata (budaya), perdagangan dan jasa, olah raga serta industri kreatif.

(20)

13 dalam membantu mengembangkan inidustri kreatif berbudaya ini, para pelaku industri hanya mengandalkan kemampuan dan biaya seadanya. Terdapat beberapa paguyuban yang menaungi masing-masing industri, namun disayangkan keberadaan paguyuban itu hanya merupakan formalitas yang keberadaannya tidak terlalu berpengaruh pada perkembangan industri kreatif.

Penggunaan lahan pada kawasan SPK I memang diarahkan sebagai kawasan permukiman dengan potensi pengembangan industri kreatif rumah tangga. Kesempatan industri kreatif berbudaya untuk berkembang sangat besar ditinjau dari banyaknya pemesanan pada musim-musim tertentu yang dikirim hingga keluar kota. Salah satu faktor lambatnya perkembangan industri kreatif berbudaya ini karena rendahnya kualitas SDM mengenai pemahaman budaya Kota Surakarta. Keadaan fisik beberapa area kawasan studi berbatasan langsunng dengan Sungai Bengawan Solo cukup mempengaruhi produksi industri kreatif saat surah hujan sedang tinggi karena menyebabkan beberapa area ini terjadi genangan. Genangan air yang berlangsung cukup lama mengakibatkan rusaknya infrastruktur yang berpengaruh pada terhambatnya proses distribusi produk industri kreatif.

Produksi industri kreatif ini masih berorientasi terhadap pasar lokal sehingga belum mampu untuk ekspor dan produk industri kalah saing dengan produk ekspor. Hal-hal tersebut mengakibatkan industri kreatif berbudaya yang terdapat di Kota Surakarta kurang berkembang karena berbagai macam kendala.

2.2. Isu Strategis

Industri yang tersebar di Kota Surakarta sangat beragam, namun keberadaan industri kreatif yang berwawasan budaya ternyata sangat minim. Minimnya keberadaan industri kreatif beebudaya ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan SDM atau pelaku industri tentang branding Kota Surakarta yaitu sebagai kota budaya. Selain itu kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan industri kreatif pada sektor penyediaan modal dan bantuan pinjaman dirasa sebagai salah satu penyebeb industri kreatif rumah tangga ini kurang berkembang.

(21)

14 kawasan studi. Hal ini dipicu karena beberapa pelaku industri kreatif masih enggan untuk mengembangkan industri karena membutuhkan modal yang banyak. Selain itu proses produksi industri kreatif rumah tangga ini masih menggunakan teknologi manual, sehingga sangat mengandalkan keahlian para pekerja industri.

Adanya industri kreatif sejenis di daerah lain yang lebih maju membuat persaingan antara pelaku industri semakin sengit. Selain itu adanya perjanjian AFTA yang membebaskan barang impor masuk tanpa bea/pajak semakin mempersulit barang-barang produksi industri kreatif rumah tangga untuk laku dipasaran, karena pembeli yang bersifat konsumtif akan lebih cenderung membeli barang-barang impor. Hal ini juga menurunkan pemesanan produk industri kreatif rumah tangga yang berdampak pada kelangsungan industri kreatif itu. Selain itu hal yang membuat pembeli lebih cenderung membeli barang impor adalah karena packging produk industri kreatif rumah tangga ini kurang menarik.

(22)

15

BAB III

METODE PENDATAAN

Metode pendataan dilakukan dengan mengadakan survey primer dan survey sekunder guna memperoleh data-data yang diperlukan.Survey data telah dilakukan pada tanggal 30 April 2014 hingga 12 Mei 2014 baik survey primer maupun survey sekunder.

3.1. Survey Primer

Survey primer merupakan pencarian data langsung ke lapangan guna mengetahui keadaan sebenarnya dari wilayah studi. Survey primer dilakukan oleh semua anggota kelompok yang terbagi dalam 5 grup kecil masing-masing terdiri dari 2 orang, dan setiap grup mensurvey satu kelurahan. Metode yang dilakukan dalam pencarian data primer adalah dengan metode wawancara, kuesioner, dan observasi lapangan. Narasumber dipilih dengan metode sampling acak, yaitu 41 pelaku industri kreatif rumah tangga pada kawasan studi.

3.1.1. Wawancara

Wawancara dilakukan untuk memperoleh kebutuhan data terutama dari sektor ekonomi dan demografi sosial budaya. Metode wawancara ini menghasilkan data berupa deskripsi yang harus diolah kembali untuk memperoleh esensi yang tepat sesuai dengan data yang diperlukan untuk diolah.

3.1.2. Kuesioner

Kuesioner dilakukan untuk memperoleh data dari sektor ekonomi, demografi sosial budaya, kebijakan kelembagaan, dan sarana prasarana. Kuesioner memberikan jawaban yang lebih pasti dibandingkan wawancara karena pilihan jawaban sudah disediakan. Meskipun demikian, dat yag diperoleh tetap harus diolah kembali untuk menyesuaikan kebutuhan data. 3.1.3. Observasi Lapangan

(23)

16 • Peta kemirirngan lahan kawasan studi

• Peta morfologi kawasan studi • Peta jenis tanah kawasan studi • Peta SKL morfologi kawasan studi

• Peta SKL kemudahan dikerjakan kawasan studi • Peta SKL kestabilan lereng kawasan studi • Peta SKL kestabilan pondasi kawasan studi • Peta SKL ketersediaan air kawassan studi • Peta SKL drainase kawasan studi

• Peta SKL terhadap erosi di kawasan studi • Peta SKL terhadap bencana alam kawasan studi • Peta SKL kemampuan lahan kawasan studi • Peta overlay kemampuan lahan kawasan studi • Peta proporsi usia produktif di kawasan studi

• Peta persebaran industri kreatif rumah tangga kawasan studi • Peta overlay analisis sektor ekonomi kawasan studi

• Peta persebaran sarana pendidikankawasan studi • Peta jangkauan sarana pendidikan TK kawasan studi • Peta jangkauan sarana pendidikan SD kawasan studi • Peta jangkauan sarana pendidikan SMP kawasan studi • Peta jangkauan sarana pendidikan SMA kawasan studi • Peta persebaran sarana kesehatan kawasan studi

• Peta jangkauan sarana kesehatan posyandu kawasan studi • Peta jangkauan sarana kesehatan pustu dan klinik kawasan studi • Peta jangkauan sarana kesehatan puskesmas kawasan studi • Peta jangkauan sarana perdagangan kawasan studi

• Peta persebaran toko pemasraan produk industri kreatif kawasan studi

• Peta jangkauan toko pemasraan produk industri kreatif kawasan studi • Peta persebaran TPS kawasan studi

• Peta keterjangkauan TPS kawasan studi • Peta jaringan drainase kawasan studi

(24)

17 • Peta analisis sarana dan prasarana pendudkung kegiatan industri

kreatif rumah tangga kawasan studi

• Peta V/C ratio dan titik kemacetan kawasan studi • Peta V/C ratio dan prasarana

• Peta karakter transportasi kawasan studi • Peta persebaran RTH kawasan studi • Peta lahan permukiman kawasan studi

3.2. Survey Sekunder

(25)

18

Sektoral Tujuan Kebutuhan Data Unit Data

Macam

Data Bentuk Data

(26)

19

Bappeda 2009-2013

Studi

Bappeda 2009-2013

Studi Dokumen

Data Kemampuan Tanah (Peta Jenis

Tanah)

Kota √ √ Bakosurtanal,

Bappeda 2009-2013

(27)

20

2009-2013 Studi Dokumen,

Pelaku Industri 2014

(28)

21

Pelaku Industri 2014

Form

Statistik (BPS) 2009-2013

Studi

Statistik (BPS) 2009-2013

Studi Dokumen

Data usia pelaku industri kreatif

rumah tangga

Kelurahan √ √ Paguyuban dan

Pelaku Industri 2009-2013

Form Wawancara,

Form Kuesioner

(29)
(30)

23

per jenis industri

(31)

24 sarana dan jaringan

pengelolaan

Kelurahan Penduduk 2014 Borang Peta

(32)

25 keadaan saluran

drainase

drainase Peta, Form

(33)

26 permukiman Data persebaran,

ketersediaan dan jangkauan sarana kesehatan di kawasan industri

kreatif Borang Peta

kreatif Borang Peta

Pelaku Industri 2014 Borang Peta

Analisis

Pelaku Industri 2014 Borang Peta

Analisis

(34)

27 lahan cadangan lahan

yang dapat pola dan sistem

pergerakan

Data jenis, fungsi dan kondisi prasarana jalan

Kota √ √ DPU 2009-2013 Studi Dokumen

Kelurahan √ √ Penduduk dan

Pelaku Industri 2014 Borang Peta

(35)

28 Pengembangan

Transportasi

kebutuhan sarana dan prasarana transportasi

Data fasilitas

transportasi Kota √

√ DPU 2009-2013 Studi Dokumen

Analisis Persediaan

Sarana Prasarana

Mengetahui kapasitas sarana

prasarana transportasi

Intervensi kebijakan pemerintah akan

transportasi

Kota √

√ DPU 2009-2013 Studi Dokumen

Data Sarana Prasarana Transportasi

(36)

29

BAB IV

GAMBARAN UMUM

4.1. Aspek Kebijakan Kelembagaan

4.1.1. Arahan Pemanfaatan Ruang Kota Surakarta

Kawasan I diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, budaya, perdagangan, jasa dan olah raga sebagai pusat pariwisata (budaya), perdagangan dan jasa, olah raga serta industri kreatif;

Kawasan II diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, olah raga dan perdagangan/jasa sebagai pusat pariwisata, olah raga dan industri kreatif;

Kawasan III diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk permukiman perdagangan dan jasa sebagai pusat permukiman dan perdagangan dan jasa;

Kawasan IV diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk permukiman, perdagangan dan jasa, industri kecil dan industri ringan,;

Kawasan V diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, pendidikan tinggi dan industri kreatif ;

(37)

30 4.1.2. Lembaga Industri

Lembaga yang berperan dalam Industri kreatif yaitu Pemerintah, khususnya Disperindag, Lembaga keuangan (Bank, Koperasi), serta lembaga dari dalam masyarakat sendiri yaitu paguyuban. Pemilik industri banyak yang menggunakan jasa lembaga keuangan guna memperkuat modal. Berdasarkan Renstra Disperindag, telah ada program kerja untuk penyuluhan dan peningkatan industri kreatif.Sedangkan paguyuban industri saat ini tidak berjalan.

Sumber: RTRW Kota Surakarta tahun 2012-2032

(38)

31 4.1.3. Analisis Peran Paguyuban

Dari hasil survei, diketahui bahwa tidak ada dukungan dari kelembagaan dari dalam masyarakat sendiri untuk mengembangkan Industri Kreatif. Hanya ada satu paguyuban dalam kawasan studi, yaitu paguyuban pengrajin blankon di Kelurahan Serengan. Dalam sejarahnya paguyuban ini pernah membantu mengupayakan agar para pengrajin blankon mendapat bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan industri kreatif. Akan tetapi paguyuban tersebut saat ini tidak aktif.

4.1.4. Analisis Peran Pemerintah

Dari hasil survei, diperoleh data bahwa bantuan pemerintah untuk mendukung industri kreatif sangat minim. Satu-satunya industri yang pernah mendapat bantuan dari pemerintah adalah industri blankon di Kelurahan Serengan,berupa mesin jahit serta cetakan blankon. Banyak pemilik industri yang tidak mengetahui cara mengajukan bantuan dari pemerintah. Peran lain pemerintah adalah menyelenggarakan pameran produk industri kreatif.

4.2. Aspek Fisik Dasar

Mengetahui keadaan Fisik Dasar dan keadaan Sumber Daya Alam pada kawasan perencanaan akan mempermudah dalam pengembangan wilayah perencanaan. Unsur Fisik Dasar ini terdiri dari karakterisktik, batasan, dan potensi alam yang terdapat pada kawasan perencanaan, sehingga diperlukan observasi untuk mengetahui keadaan Sumber Daya Alam.Hal ini dilakukan supaya pemanfaatan lahan dalam mengembangkan kawasan perencanaan dapat dilakukan dengan optimal dengan tidak mengeksploitasi Sumber Daya Alam yang ada. Berikut akan dijelaskan keadaan Fisik Dasar kawasan perencanaan.

4.2.1. Keadaan Topografi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga

(39)

32 dengan kelerengan dan kemiringan tinggi tidak akan memiliki tinggi bangunan yg sama dengan lahan yg memiliki kelerengan dan kemiringan rendah, maka dari itu faktor topografi harus sangatlah diperhitungkan dalam proses pembangunan suatu wilayah. Berikut merupakan tabel keadaan topografi kawasan studi.

Tabel IV. 1

Keadaan Topografi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga

Kelurahan Kemiringan (%) Tinggi tempat (m) dpl Kemiringan Tanah (°)

Danukusuman 0-2 92 0-40

Joyotakan 0-2 92 0-40

Kratonan 0-2 92 0-40

Serengan 0-2 92 0-40

Tipes 0-2 92 0-40

(40)

33 Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Gambar 4.2. Peta Kemiringan Lahan Kawasan Studi

Semua kelurahan di kawasan studi memiliki keadaan topografi yang sama yaitu datar (0-2%) sehingga tidak terdapat perbedaan dalam pengembangan wilayah dan keadaan topografi yang datar ini diharapkan sesuai dengan kemampuan lahannya saat akan dilakukan pengembangan wilayah. Dengan ketinggian tempat yang sama yaitu 92 m dpl dan kemiringan tanah 0-40% sesuai untuk peruntukkan lahan untuk permukiman.

4.2.2. Keadaan Morfologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga

(41)

34 dengan morfologi rendah atau kondisi morfologinya tidak kompleks, lebih mudah untuk dikembangkan sebagai tempat permukiman dan budidaya.

Tabel IV. 2

Keadaan Morfologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga

Kelurahan Fisiografi

Danukusuman Datar

Joyotakan Datar

Kratonan Datar

Serengan Datar – Landai

Tipes Datar – Landai

Sumber : Bakosurtanal

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

(42)

35 Dari keterangan data tersebut dapat terlihat bahwa kawasan studi memliki keadaan morfologi datar hingga landai. Hal ini nantinya akan mempengaruhi perlakuan lahan pada proses pengembangan wilayah. Bentang alam kawasan studi yang datar-landai yang diharapkan dapat sesuai untuk peruntukkan lahan sebagai permukiman dan budidaya.

4.2.3. Keadaan Geologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga

Faktor geologi berupa jenis tanah akan mempengaruhi kestabilan kemampuan tanah dalam pembangunan pondasi bangunan. Karakteristik jenis tanah perlu diketahui sebelum diadakan pengembangan wilayah.

Kecamatan Serengan memiliki jenis tanah vulkanik dan merupakan tanah hasil dari pelapukan abu vulkanik dan abu. Tanah vulkanik di Kecamatan Serengan ini terdiri dari:

1. Tanah Aluvial : Merupakan tanah hasil endapan yang memiliki warna kelabu dan peka terhadap erosi

2. Tanah Regosol : Merupakan tanah hasil endapan abu vulkanik yang berbutir kasar berwarna kelabu hingga kuning.

Tabel IV. 3

Keadaan Geologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga

Kelurahan Jenis Tanah

Danukusuman Aluvial Coklat Kekelabuan – Regosol Kelabu

Joyotakan Aluvial Coklat Kekelabuan

Kratonan Regosol Kelabu

Serengan Regosol Kelabu

Tipes Regosol Kelabu

(43)

36 Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Gambar 4.4. Peta Jenis Tanah Kawasan Studi

Jenis tanah di kawasan studi sebagian besar adalah regosol kelabu, kecuali Kelurahan Joyotakan yang memiliki jenis tanah Aluvial Coklat Kekelabuan dan untuk Kelurahan Danukusuman memiliki perpaduan jenis tanah Aluvial Coklat Kekalabuan dan Regosol Kelabu.

4.2.4. Keadaan Hidrologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga

(44)

37 Tabel IV. 4

Sumber Air Tanah Kawsan Industri Kreatif Rumah Tangga

NO. KELURAHAN

SUMBER AIR JUMLAH

INDUSTRI

PDAM SUMUR

1. Tipes 3 1 4

2. Serengan 7 2 9

3. Danukusuman 4 0 4

4. Keratonan 4 0 4

5. Joyotakan 7 0 7

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Sumber: Survey Lapangan, 2014

Gambar 4.5.Grafik Jumlah Pengguna Sumber Air

Dari data yang diperoleh selama survei lapangan, sumber air kawasan studi berasal dari PDAM (ledeng).Namun pada beberapa kelurahan di kawasan studi masih memanfaatkan sumber air dari sumur karena masih memiliki sumur pribadi seperti di Kelurahan Tipes dan Serengan.

0 2 4 6 8

Tipes Serengan Danukusuman Keratonan Joyotakan

JUMLAH PENGGUNA

SUMBER AIR

(45)

38 Tabel IV. 5

Sumber Air Tanah Kawsan Industri Kreatif Rumah Tangga

Sumber Dalam Selatan Tingkat Keasaman (Ph)

Jebres I 7,3

Jebres II 7,3

Pendaringan 7,7

Jurug I 7,7

Jurug II 7,7

Manahan I 7,7

Manahan II 7,7

Karangasem 7,1

Banjarsari 7,3

Tirtonadi 7,3

Banyuanyar 7,3

Sumber: PDAM Tahun 2009

Sumber : Survei Lapangan 2014

Gambar 4.6. Grafik Kualitas Air Tanah berdasarkan Tingkat Keasaman (Ph) Kawasan Studi

6,8 6,9 7 7,1 7,2 7,3 7,4 7,5 7,6 7,7 7,8

Data Kualitas Air Tanah Sumber dalam Selatan

berdasarkan tingkat keasaman (Ph) Tahun 2009

(46)

39 Dari data yang diperoleh dari PDAM terlihat kulaitas air yang berasal dari sumber dalam selatan yang juga mencakup kawasan studi memiliki kualitas air tanah yang baik. Kualitas air tanah yang berasal dari sumber dalam selatan ini relatif sama dengan tingkat keasaman (Ph) yaitu diatas 7 dan aman unutk dikonsumsi untuk kegaitan permukiman.

Tabel IV.6

Kuantitas Air Tanah Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga

Instalasi Sumber Air Jumlah Air Diproduksi Jumlah Air Didistribusi

Instalasi Wilayah Utara 410.704,44 409.347,25

Instalasi Wilayah Tengah 570.456,96 557.133,00

Instalasi Wilayah Selatan 40.080,28 39.903,50

Sumber : PDAM Tahun 2009

Sumber : Survei Lapangan 2014

Gambar 4.7. Grafik Kuantitas Air Tanah Kawasan Studi 0,00

100.000,00 200.000,00 300.000,00 400.000,00 500.000,00 600.000,00

Instalasi Wilayah Utara

Instalasi Wilayah Tengah

Instalasi Wilayah Selatan

Data Kuantitas Air Tahun 2009

Air Diproduksi

(47)

40 Dari data yang diperoleh dari PDAM terdapat 3 instalasi sumber air tanah yaitu Instalasi Wilayah Utara, Tengah, dan Selatan. Berdasarkan data tersebut terlihat keseimbangan antara air diproduksi dengan air didistribusi sehingga kuantitas air tanah ini sudah mempu mencukupi kebutuhan setiap wilayah masing-masing, begitu pula dengan Instalasi Wilayah Selatan yang mencakup kawasan studi meskipun jumlahnya tidak sebanyak instalasi pada wilayah lain.

4.2.5. SKL Morfologi

Merupakan analisis untuk memilah bentuk bentang alam/morfologi

pada wilayah dan/atau kawasan perencanaan yang mampu untuk

dikembangkan sesuai dengan fungsinya. Berikut disajikan tabel hasil

analisis satuan kemampuan lahan morfologi kawasan perencanaan.

Tabel IV.7 SKL Morfologi

Kelurahan Lereng Fisiogra

fi Tinggi Geologi Guna Lahan SKL morfologi

Nilai

SKL

Tipes 0-2 %

Datar-Landai 90-110 sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kemampuan lahan

morfologi rendah 5

Serengan 0-2%

Datar-Landai 90-100 sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kemampuan lahan

morfologi rendah 5

Kratonan 0-2% Landai 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kemampuan lahan

morfologi rendah 5

Danukusuma

n 0-2 % Datar 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kemampuan lahan

morfologi rendah 5

Joyotakan 0-2 % Datar 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kemampuan lahan

morfologi rendah 5

(48)

41 Dari perhitungan SKL Morfologi didapat hasil bahwa kawasan industri kreatif rumah tangga memiliki kemampuan lahan morfologi yang rendah yang memiliki nilai 5 di seluruh kawasan studi.

4.2.6. SKL Kemudahan Dikerjakan

Merupakan analisis untuk mengetahui tingkat kemudahan lahan di

wilayah dan/atau kawasan untuk digali/dimatangkan dalam proses

pembangunan/pengembangan kawasan. Berikut disajikan tabel hasil

analisis satuan kemampuan lahan kemudahan dikerjakan kawasan

perencanaan.

Tabel IV.8

SKL Kemudahan Dikerjakan

Kelurahan Lereng Fisiogra

fi Tinggi Geologi Guna Lahan

Landai 90-110 sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kemudahan Tinggi 5

Serengan 0-2%

Datar-Landai 90-100 sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kemudahan Tinggi 5

Kratonan 0-2% Landai 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kemudahan Tinggi 5

Danukusuma

n 0-2 % Datar 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kemudahan Tinggi 5

Joyotakan 0-2 % Datar 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kemudahan Tinggi 5

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

(49)

42 wilayahnya maka semakin mudah untuk dijadikan kegiatan permukiman, ekonomi, sosial atau budidaya.

4.2.7. SKL Kestabilan Lereng

Merupakan analisis untuk mengetahui tingkat kemantapan lereng di

wilayah dan/atau kawasan dalam menerima beban pada pengembangan

wilayah dan/atau kawasan. Berikut disajikan tabel hasil analisis satuan

kemampuan lahan kestabilan lereng kawasan perencanaan.

Tabel IV.9 SKL Kestabilan Lereng

Kelurahan Lereng Fisiogra

fi Tinggi Geologi Guna Lahan

Landai 90-110 Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kestabilan Lereng

Sedang 3,4

Serengan 0-2%

Datar-Landai 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kestabilan Lereng

Sedang 3,4

Kratonan 0-2% Landai 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kestabilan Lereng

Sedang 3,4

Joyotakan 0-2 % Datar 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga,

Pariwisata

Kestabilan Lereng

Sedang 3,4

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

(50)

43 4.2.8. SKL Kestabilan Pondasi

Merupakan analisis untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan

dalam mendukung bangunan berat dalam pengembangan perkotaan, serta

jenis-jenis pondasi yang sesuai untuk masing-masing tingkatan. Berikut

disajikan tabel hasil analisis satuan kemampuan lahan kestabilan pondasi

kawasan perencanaan.

Tabel IV. 10 SKL Kestabilan Pondasi

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Kawasan industri kreatif rumah tangga ini memiliki daya dukung pondasi kurang dengan nilai 1,6. Daya dukung pondasi ini didukung oleh strukutur tanah yang terdapat pada kawasan perencanaan yang kasar (aluvial dan regosol). Keadaan kestabilan pondasi ini akan mempengaruhi pembangunan pada kawasan perencanaan.

Kelurahan SKL Kestabilan

Lereng Tanah Geologi Guna Lahan

SKL Kestabilan

Pondasi Nilai

Tipes Kestabilan

lereng sedang Kasar Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga, Pariwisata

Daya dukung dan

kestabilan pondasi

kurang

1,6

Serengan Kestabilan

lereng sedang Kasar Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga, Pariwisata

Daya dukung dan

kestabilan pondasi

kurang

1,6

Kratonan Kestabilan

lereng sedang Kasar Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga, Pariwisata

Daya dukung dan

kestabilan pondasi

kurang

1,6

Danukusuman Kestabilan

lereng sedang Kasar Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga, Pariwisata

Daya dukung dan

kestabilan pondasi

kurang

1,6

Joyotakan Kestabilan

lereng sedang Kasar Sedimen

Permukiman, Jasa, Industri,

Lapangan olahraga, Pariwisata

Daya dukung dan

kestabilan pondasi

kurang

(51)

44 4.2.9. SKL Ketersediaan Air

Merupakan analisi untuk mengetahui tingkat ketersediaan air guna

pengembangan kawasan, dan kemampuan penyediaan air masing-masing

tingkatan. Berikut disajikan tabel hasil analisis satuan kemampuan lahan

ketersediaan air kawasan perencanaan.

Tabel IV.11

SKL Ketersediaan Air

Kelurahan Lereng Fisiografi Geologi Hidrolo

gi Guna Lahan Iklim

Landai Sedimen

Drain

Landai Sedimen

Drain

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

(52)

45 untuk memenuhi kebutuhan air baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri.

4.2.10.SKL Drainase

Merupakan analisis ini untuk mengetahui tingkat kemampuan

lahan dalam mematuskan air hujan secara alami, sehingga kemungkina

genangan baik bersifat lokal ataupun meluas dapat dihindari. Berikut

disajikan tabel hasil analisis satuan kemampuan lahan drainase kawasan

perencanaan.

Drainase Nilai

Tipes 0-2 % Datar 90-110 Sedimen

Landai 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa,

Landai 90-100 Sedimen

Permukiman, Jasa,

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

(53)

46 daerah dengan drainase cukup yang cukup baik untuk dikembangkan untuk permukiman ataupun industri.

4.2.11.SKL Terhadap Erosi

Merupakan analisis untuk mengetahui tingkat keterkikisan tanah di kawasan perencanaan sehingga dapat diketahui tingkat ketahanan lahan

terhadap erosi dan dapat mengurangi kerugian yang akan ditimbulakan

saat pengembangan kawasan perencanaan. Berikut disajikan tabel hasil

analisis satuan kemampuan lahan terhadap erosi kawasan perencanaan

Tabel IV.13 SKL Terhadap Erosi

Kelurahan Lereng Fisiografi Geologi Hidrologi Guna Lahan Iklim SKL

Erosi Nilai

Landai Sedimen

Drain

Cukup

P Permukiman, Jasa,

Industri, Lapangan

Landai Sedimen

Drain

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

(54)

47 bahwa kawasan industri kreatif rumah tangga ini tidak mudah tergerus oleh air dan angin.

4.2.12.SKL Terhadap Bencana Alam

Merupakan analisis untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan

dalam menerima bencana alam khususnya dari sisi geologi, untuk

menghindari/mengurangi kerugian akibat bencana itu. Berikut disajikan

tabel hasil analisis satuan kemampuan lahan terhadap bencana alam

kawasan perencanaan.

Tabel IV.14

SKL Terhadap Bencana Alam

Kelurahan Potensi bencana Nilai

Tipes Kurang Rawan 3

Serengan Kurang Rawan 3

Kartonan Tidak Rawan 5

Danukusuman Rawan 2

Joyotakn Rawan 2

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Berdasarkan data yang diperoleh terdapat 3 tingkat kerawanan di kawasan studi.Tingkat kerawanan di kawasan studi bervariasi. Untuk Kelurahan Joyotakan dan sebagian kawasan Kelurahan Danukusuman memiliki tingkat kerawanan bencana karena kedua kelurahan ini berbatasan langsug dengan Sungai Bengawan Solo

(55)

48 Kondisi kependudukan terkait dengan aspek sosial budayanya memiliki peran yang sangat vital dalam keberlangsungan industri kreatif rumah tangga. Penduduk merupakan tenaga kerja dari industri tersebut, sedangkan aspek sosial dan budaya sangat berpengaruh dalam proses produksi barang industri yang memiliki nilai kreatif dan budaya yang tinggi. Berikut merupakan aspek kependudukan di wilayah studi terkait pengaruhnya terhadap optimalisasi pengembangan indsutri kreatif rumah tangga yang berbudaya.

4.3.1. Kemampuan SDM dalam Industri

Kemampuan sumber daya manusia dalam hal ini para pelaku industri, perlu diketahui untuk memetakan potensi industri tersebut. Industri kreatif yang bernilai budaya terutama, membutuhkan pekerja yang memiliki skill dan kreatifitas tinggi serta memiliki pengetahuan budaya yang cukup. Industri yang memiliki pekerja lebih terampil tentunya akan menghasilkan produk yang lebih kreatif dan inovatif serta lebih mampu bersaing pada pasar.

Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner, skill para pekerja diberikan secara turun temurun oleh keluarga mereka seperti halnya industri yang juga diwariskan turun temurun. Sedangkan para pekerjanya biasanya juga hanya diajari oleh sang pemilik industri, tanpa ada program pelatihan khusus baik dari paguyuban maupun pemerintah. Seiring dengan maraknya globalisasi, beberapa pemilik industri yang memiliki kemampuan untuk mengakses teknologi berusaha untuk mencari referensi untuk pengembangan produk mereka melalui internet, catalog, dan sebagainya. Selain untuk referensi desain produk, teknologi terutama jaringan internet dapat dimanfaatkan sebagai media promosi produk industri kreatif rumah tangga yang berbudaya.

(56)

49 dan menjaring relasi juga akan lebih dimiliki oleh lulusan SMK. Berikut adalah diagram pendidikan formal terakhir yang dimiliki oleh pelaku industri di kawasan studi:

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Gambar 4.8. Diagram Proporsi Pendidikan Terakhir Pelaku Industri

Diagram tersebut menunjukkan proporsi dari masing-masing tingkat pendidikan yang dimiliki oleh pelaku indsustri di kawasan studi. Dari sampel yang diambil, dapat diketahui bahwa hampir separuh yaitu 49% pernah mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA/SMK, hampir sepertiga yaitu sebesar 32% hanya sampai pada tingkat SD, hanya seperlima atau 17% yang bersekolah hingga tingkat SMP, dan hanya ada 2% yang pernah menduduki bangku kuliah.

(57)

50 dengan rentang antara 0-100, di mana semakin tinggi nilai IPM berarti semakin tinggi pula kemampuan SDM tersebut.

Perhitungan indeks pembangunan manusia dapat dilihat dengan membandingkan nilai maksimum dan minimum pada setiap indikator. IPM pada kawasan studi dapat dilihat sebagai berikut

Tabel IV.15

Indikator Indeks Pembangunan Manusia

Indikator Nilai

Angka Harapan Hidup 57,97

Angka Melek Huruf 100

Angka Rata-rata Lama Sekolah 9,68

Konsumsi perkapita Rp520.000,00

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Berdasarkan data yang diperoleh melalui perhitungan dari Kecamatan Dalam Angka dan survey primer berupa wawancara dan kuesioner seperti dapat dilihat di atas, dapat dibuat perhitungan sebagai berikut

Indeks Angka Harapan Hidup

= 57,97−25

85−25 =𝟎,𝟓𝟒𝟗𝟓

• Indeks Angka Melek Huruf

= 100−0

100−0= 1

• Indeks Rata-rata Lama Sekolah

=9,68−0

(58)

51

Indeks Konsumsi Perkapita

= 520−300

732,72−300= 𝟎,𝟓𝟎𝟖𝟒

• Dari indeks angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, dapat dihitung Indeks Angka Pendidikan sebagai berikut

= 2

3(1) +

1

3(0,6453) =𝟎,𝟖𝟖𝟏

Setelah diperoleh angka indeks per kriteria, dapat dihitung Indeks Pembangunan Manusia sebagai berikut:

𝐈𝐏𝐌=𝟏

𝟑(𝟎,𝟓𝟒𝟗𝟓+𝟎,𝟓𝟎𝟖𝟒+𝟎,𝟖𝟖𝟏𝟖) =𝟎,𝟔𝟒𝟔𝟔

Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa angka IPM di kawasan studi sudah cukup tinggi sehingga diharapkan akan mampu mengembangkan industrinya.

4.3.2. Proporsi Penduduk yang Bekerja di Bidang Industri

(59)

52 Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Gambar 4.9. Diagram Proporsi Jumlah Penduduk Berdasar Mata Pencaharian

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

(60)

53 Pada diagram dapat dilihat bahwa pada kawasan studi, mata pencaharian yang mendominasi adalah sebagai buruh industri walaupun selisihnya tidak terlalu banyak dengan buruh bangunan dan pedagang. Banyaknya penduduk yang bekerja di bidang industri diharapkan mampu menjadi potensi yang besar bagi perkembangan indsustri kreatif budaya karena mampu menyuplai banyak tenaga kerja.

Dengan menjamurnya industri kreatif budaya yang sejenis pada suatu kawasan justru akan memberi efek positif bagi industri itu sendiri. Adanya pengumpulan atau klasterisasi berdasar kedekatannya akan memberi tanda atau ciri pada kawasan tersebut sehingga terlabeli dengan tulisan kawasan industri kreatif budaya Kota Surakarta. Secara tidak langsung hal ini menjadi branding bagi industri tersebut dan menciptakan promosi, seperti halnya kawasan industrial Third Italy.

4.3.3. Proporsi Penduduk Usia Produktif yang Bekerja di Bidang Industri

(61)

54 Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Gambar 4.11. Peta Proporsi Usia Produktif Kawasan Studi

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Gambar 4.12. Diagram Pertumbuhan Penduduk

(62)

55 Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa usia produktif lebih mendominasi dibandingkan usia non produktif. Perkembangan jumlahnya fluktuatif setiap tahun namun tetap seimbang dan tidak terjadi perubahan terlalu besar. Namun dari hasil survey yang dilakukan ternyata masih ada pelaku industri yang sudah berusia tidak produktif. Berikut merupakan diagram proporsi usia pelaku industri kreatif rumah tangga yang berbudaya di kawasan studi.

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Diagram tersebut merupakan data olahan survey mengenai usia pelaku industri yang disampel. Diagram tersebut menunjukkan bahwa masih ada 34% atau sepertiga dari pelaku industri kreatif rumah tangga yang berusia tidak produktif, walaupun 66% atau duapertiganya berusia produktif.

4.3.4. Perkembangan Jumlah Industri Berbudaya

Industri kreatif rumah tangga yang memiliki nilai budaya adalah pada subsektor kerajinan, desain fashion, dan alat musik. Perkembangan

(63)

56 industri kreatif rumah tangga yang berbudaya ini dapat dianalisa untuk mengetahui potensi dalam mengembangkan industri budaya tersebut.

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa jenis industri yang mengalami perkembangan cukup signifikan adalah jenis batik kemudian disusul oleh mebel. Tidak mengherankan karena batik merupakan ciri khas dari Kota Surakarta sehingga banyak pelaku industri yang memilih jenis industri kreatif budaya tersebut. Namun demikian, jenis industri canting yang merupakan alat untuk membatik dari 15 tahun yang lalu hingga sekarang hanya ada 1 jenis dan tidak mengalami perkembangan jumlah. Sedangkan untuk jenis lain seperti alat musik keroncong, alat musik gamelan, warangka keris, dan blangkon tidak mengalami perkembangan yang baik ditunjukkan dengan grafiknya yang datar atau bahkan malah menurun.

(64)

57 4.4. Aspek Ekonomi

Aspek ekonomi sangat berperan penting dalam pengembangan industri kreatif rumah tangga dalam memberikan kontribusi berupa analisis terhadap produk industri yang berbudaya, perkembangan jenis industri, industri potensial, produk potensial pada pasar, rantai produksi, pemasaran produk, alokasi dana untuk industri kreatif rumah tangga, dan kemampuan pelaku industri untuk mengakses pinjaman.

Keberhasilan untuk mengoptimalkan pengembangan industri kreatif pada aspek ekonomi terkait dengan isu dan sub isu yang telah di dapatkan di kawasan studi yaitu minimnya industri kreatif rumah tangga yang berwawasan budaya, industri kreatif belum mampu meningkatkan taraf hidup penduduk di kawasan studi, pemilik industri kreatif dikhawatirkan beralih profesi menjadi distributor barang-barang impor karena kalah saing, serta kondisi sarana prasarana menghambat proses distribusi produk industri kreatif rumah tangga.

Sehingga dalam menunjang kelemahan pada isu-isu tersebut perlu dilakukan kompilasi data dan juga analisis terhadap aspek ekonomi yang berupa analisis perkembangan jumlah industri, analisis perkembangan jenis industri, dan analisis industri potensial yang berguna untuk peningkatan jumlah dan kualitas industri kreatif rumah tangga.Kemudian analisis produk potensial pada pasar yang berguna untuk mengetahui terjadinya keterkaitan (aglomerasi) antar industri dalam kawasan. Analisis proses produksi pada industri kreatif dan analisis pemasaran produk yang berguna supayaindustri kreatif mampu menyejahterakan taraf hidup penduduk di kawasan studi. Analisis kemampuan pelaku indsutri untuk mengakses pinjaman berguna untuk peningkatan kualitas sarana dan prasarana dan untuk menunjang kelancaran distribusi produk.

Dari analisis tersebut, maka data yang diperlukan yaitu berupa data creative milieu kebudayaan, data persebaran jumlah industri, data perkembangan

(65)

58 produk, data alokasi dana industri kreatif (PDRB Kota Surakarta), dan data aksesibilitas pelaku industri untuk melakukan pinjaman.

4.4.1 Data Produk Industri Kreatif Rumah Tangga

Produk adalah barang inovasi atau kreasi yang menjadi suatu hasil dari kegiatan industri yang berkaitan. Produk industri kreatif rumah tangga merupakan salah satunya, Produk ini memiliki inovasi atau kreasi yang berbeda dengan yang lainnya. Produk industri kreatif rumah tangga ini biasanya didesain dengan karakter wilayah tertentu. Dengan menggunakan teknologi yang sederhana dan desain asli Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan produk lainnya.

Batik merupakan jenis industri berbudaya yang jumlah industrinya paling dominan di beberapa kelurahan yang ada di Kecamatan Serengan. Produk batik memang terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu.

Berdasarkan data Menteri Perdagangan Republik Indonesia, produk industri yang berbudaya ini dapat dibagi menjadi 14 jenis sub-sektor, diantaranya sebagai berikut: periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, desain fashion, video, film dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, televisi dan radio, layanan komputer dan piranti lunak serta riset dan pengembangan.

Berikut adalah persebaran industri berbudaya di 5 kelurahan yang ada di Kecamatan Serengan:

1. Kelurahan Danukusuman : Sandal batik, tas, tongkat/teken dll

2. Kelurahan Joyotakan : Canting, Alat Musik Keroncong, Batik dll 3. Kelurahan Kratonan : Mebel , Batik , Konveksi dan Keris 4. Kelurahan Serengan : Blangkon

(66)

59 Beberapa industri yang tersebar di kawasan tersebut, kemudian diklasifikasikan ke dalam 14 jenis subsektor.Jenis industri yang ada di kawasan studi kami kemudian dimasukkan ke dalam 14 golongan jenis subsektor industri yang berbudaya. Berdasarkan klasifikasi jenis industri tersebut, jumlah industri yang berbudaya yang tersebar di kawasan studi kami ini dibagi menjadi 4 jenis subsector diantaranya desain, desain fashion, kerajinan dan musik. Untuk lebih jelasnya, lihat tabel produk industri kreatif rumah tangga di bawah ini.

Tabel IV.16

Klasifikasi Jenis Industri di Kawasan Studi

Jenis Industri Jenis Subsektor Kelurahan

Canting Desain Kelurahan

Joyotakan

Blangkon Kelurahan

Serengan Tas dan Sendal

Batik

Kelurahan Danukuman, Tipes, Kratonan, Joyotakan Batik warna

alam

Desain Fesyen Kelurahan Joyotakan

Konveksi Kelurahan

Kratonan, Tipes, dan Joyotakan

Baju Batik Kelurahan

Danukusuman, Kratonan, Tipes, dan Joyotakan

(67)

60 Kratonan, Tipes,

dan Joyotakan

Peti mati Kelurahan Tipes

Tongkat/Teken Kelurahan

Danukusuman

Keris Kelurahan

Kratonan Kerajinan alat

musik (gitar,biola)

Musik Kelurahan

Joyotakan, Kelurahan Tipes Alat Musik

Tradisional (kerocncong)

Kelurahan Joyotakan

Gamelan Kelurahan

Serengan

Sumber: Hasil kompilasi kelompok STUPRO Industri Kreatif Rumah Tangga, 2014

4.4.2 Perkembangan Jumlah Industri Kreatif Rumah Tangga

(68)

61 Tabel IV. 17

Persebaran Jumlah Industri Kecamatan Serengan

Tahun Jenis Industri

Besar/Sedang Kecil Rumah Tangga

2009 50 1033 231

2010 48 941 271

2011 46 991 290

2012 33 928 304

Sumber: Data Industri Disperindag 2012

Berdasarkan Tabel Persebaran Jumlah Industri Kecamatan Serengan ini, jumlah industri rumah tangga memiliki jumlah terbanyak setelah jumlah industri kecil.Jumlah industri rumah tangga tiap tahunnya meningkat dari tahun sebelumnya.Kenaikan jumlah industri terbesar terjadi pada tahun 2009-2010.Sedangkan kenaikan jumlah industri terkecil terjadi pada tahun 2011-2012.Dibandingkan dengan jumlah industri lainnya, jumlah industri kreatif rumah tangga mampu bertahan di tengan-tengah industri lainnya.Sehingga bisa dikatakan jumlah industri rumah tangga memiliki potensi untuk menarik minat konsumen pada produk industri ini.

4.4.3 Rantai Produksi Industri Kreatif Rumah Tangga

(69)

62 Berikut adalah tabel rantai produksi yang di peroleh dari wawancara dan kuisioner kepada pelaku industri kreatif rumah tangga di kawasan studi.

Tabel IV. 18

Rantai Produksi di Kawasan Studi

Pemasok Bahan Baku Jenis industri kreatif

rumah tangga

Tujuan Pemasaran

Pemasok batik dari Pasar Klewer dan Sragen

Pemasok kayu mebel dari Surakarta

Mebel

Kel. Joyotakan

• Wonogiri • Jawa Timur

Pemasok kain dari Cina dan India

Batik Warna Alam Kel. Joyotakan

• Jawa Timur • Luar pulau Jawa

Pemasok kayu dari Surakarta

Alat Musik Keroncong Kel. Joyotakan

• Luar pulau Jawa • Luar negeri

(Sarajevo)

Pemasok kain dari Surakarta

Konveksi Kel. Tipes

• Surakarta • Bandung

Pemasok kayu dari Solo Baru

Alat Musik Keroncong Kel. Danukusuman

(70)

63 Pemasok perca kain

batik dari Pasar Gedhe

Tas dan sandal batik Kel. Danukusuman

• Pasar Gedhe

Pemasok kayu dari Klaten

Alat Musik

Kel. Danukusuman

• Pasar cinderamata Surakarta

Pemasok kayu dari Surakarta

Mebel

Kel. Kratonan

• Luar pulau Jawa

Pemasok logam dari Madura

Keris

Kel. Kratonan

• Jawa • Sumatera • Sulawesi

Sumber:Survey Lapangan, 2014

(71)

64 Blangkon

Mebel

Batik Warna Alam

Pasar Klewer

dan Sragen

Serengan

Pasar Klewer

Kudus

Yogyakarta

Bandung

Jakarta

Sumatera

Surakarta

Kratonan

Joyotakan

Wonogiri

Jawa Timur

Luar pulau Jawa

Klewer

Yogyakarta

Sumatera

Cina

India

Joyotakan

Jawa Timur

Luar pulau Jawa

Pemasok

(72)

65 Alat Musik

Konveksi

Tas dan Sandal Batik

Keris

Surakarta

Solo Baru

Klaten

Joyotakan

Danukusuman

Luar pulau

Jawa

Luar negeri

(Sarajevo)

Surakarta

Pulau Jawa

Surakarta

Tipes

Surakarta

Bandung

Pasar Gedhe

Danukusuman

Pasar Gedhe

Madura

Kratonan

Jawa

Sumatera

(73)

66 Canting

Peti Mati

Tongkat/Teken

Sumber : wawancara dan kuisioner, 2014

Gambar 4.15. Flow Chart Rantai Produksi Industri Kreatif Rumah Tangga

Surakarta

Joyotakan

Surakarta

Surabaya

Bali

Surakarta

Joyotakan

Wonogiri

Bandung

Jakarta

Sumatera

Klaten

Danukusuman

Bandung

Yogyakarta

Sumatera

Gambar

Gambar 4.1. Peta Pembagian Sub Pusat Pelayanan Kota Surakarta
Gambar 4.2. Peta Kemiringan Lahan Kawasan Studi
Tabel IV. 2
Gambar 4.4. Peta Jenis Tanah Kawasan Studi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat dari penelitian ini adalah mampu menguak realita faktor apa saja yang menghambat kemajuan industri kreatif di Surakarta, mengetahui pihak-pihak yang berperan

MODEL PEMBERDAYAAN RUMAH TANGGA MISKIN (RTM) UNTUK MENUMBUHKAN EKONOMI KREATIF DI KOTA

MODEL PEMBERDAYAAN RUMAH TANGGA MISKIN (RTM) UNTUK MENUMBUHKAN EKONOMI KREATIF DI KOTA

Dari potensi industri kreatif dapatlah diketahui bagaimana kebijakan dan strategi penting dalam pengembangan industri kreatif di Kota Medan, yang dihimpun dari hasil temuan

Penulisan tesis yang berjudul “Kontribusi Hasil Pelatihan CNCAdvanced terhadap Perkembangan Industri Kreatif Indonesia” , dengan sub judul (Penelitian dilakukan pada

Industri kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan, bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa untuk

Di samping berkembangnya industri rumah tangga tahu, industri rumah tangga ini selalu menghadapi masalah dan kesulitan dalam mengembangkan usahanya, seperti kurangnya peran Pemerintah

Rumah Tangga Konsumen dan Produsen adalah pelaku ekonomi yang berperan dalam konsumsi dan produksi barang atau