i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunia serta rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Analisis Rencana Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga tahun 2015-2019. Laporan Analisis Industri Kreatif Rumah Tangga merupakan penjabaran mengenai proses analisis dalam Industri Kreatif Rumah Tangga di Kota Surakarta.
Di dalam Laporan Analisis ini akan dilakukan analisis sektoral untuk memverifikasi isu awal yang telah didapatkan serta karakterisrik spesifik dari wilayah studi. Tujuan penyusunan Laporan Analisis adalah Memverifikasi isu awal untuk mendapatkan isu strategis wilayah.
Dalam penyusunan Laporan Analisis Rencana Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga Tahun 2015-2019 ini Tim Penyusun telah banyak mendapatkan masukan dari berbagai pihak yang berkompeten demi kesempurnaan buku laporan ini, untuk itu kami mengucapkan terimakasih atas perhatian dan kerjasamanya kepada semua pihak yang terkait.
Dalam penyusunan Laporan Analisis Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga Tahun 2015-2019 ini kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kemajuan kami. Akhir kata, kami berharap semoga laporan analisis ini dapat bermanfaat bagi semu pihak yang berkepentingan dandapat menjadi referensi bagi pengembangan ilmu terutama dibidang perencanaan wilayah dan kota.
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... -
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL ... x BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... I-1 1.2 Tujuan ... I-2 1.3 Sasaran ... I-3 1.4 Ruang Lingkup Analisis ... I-3 1.4.1 Ruang lingkup wilayah ... I-3 1.4.2 Ruang lingkup waktu ... I-3 1.4.3 Ruang lingkup substansi ... I-3 1.5 Sistematika Penulisan ... I-4 BAB II KAJIAN LITERATUR
2.1 Peran Sektor ... II-5 2.2 Kajian Teori ... II-7 2.2.1 Aspek Kebijakan dan Kelembagaan ... II-10
iii 2.2.3.3 Sumber Daya Manusia... II-17 2.2.3.4 Kemampuan Sumber Daya Manusia... II-17 2.2.3.5 Kepadatan Penduduk ... II-19 2.2.4 Aspek Ekonomi ... II-20 2.2.4.1 Pengertian Ekonomi ... II-20 2.2.4.3 Industri dalam Pertumbuhan ekonomi ... II-21 2.2.4.3 Analisis Proses Produksi Pada Industri Kreatif ... II-22 2.2.4.3.1 Pengertian Pemasaran ... II-22 2.2.4.3.2 Teori Pemasaran ... II-23 2.2.4.3.3 Tujuan sistem pemasaran... II-24 2.2.4.4 Analisis Industri Potensial... II-25 2.2.4.5 Pengertian Alokasi Dana ... II-26 2.2.4.6 Kemampuan Pelaku Usaha Industri Kreatif Rumah
Tangga untuk Melakukan Pinjaman ... II-26 2.2.4.6.1 Pengertian Usaha Kecil Menengah ... II-26 2.2.4.6.2 Syarat UKM mendapat kucuran dana dari
Bank ... II-27 2.2.4.7 Teknik Analisis Data Kualitatif ... II-28 2.2.5 Aspek Sarana dan Prasarana ... II-29 2.2.6 Aspek Transportasi ... II-31 2.2.7 Aspek Tata Guna Lahan ... II-33 2.2.7.1 Definisi Lahan ... II-33 2.2.7.2 Kesesuaian Lahan, Peruntukan, Ketersediaan
Lahan dan Penggunaan lahan ... II-33 2.2.7.3 Permukiman ... II-33 2.2.7.4 Ruang Terbuka Hijau (RTH) ... II-34 BAB III METODE ANALISIS ... III-35 BAB IV ANALISIS
iv 4.2 Analisis Fisik Dasar ... IV-48
4.2.1 SKL Morfologi ... IV-49 4.2.2 SKL Kemudahan Dikerjakan ... IV-50 4.2.3 SKL Kestabilan Lereng ... IV-52 4.2.4 SKL Kestabilan Pondasi ... IV-53 4.2.5 SKL Ketersediaan Air ... IV-55 4.2.6 SKL Drainase ... IV-56 4.2.7 SKL Terhadap Erosi ... IV-58 4.2.8 SKL Terhadap Bencana Alam ... IV-59 4.2.9 Hasil Overlay Kemampuan Lahan ... IV-61 4.2.10 Analisis Kemampuan Lahan dan Keadaan Hidrologi ... IV-61 4.2.11 Kesimpulan ... IV-65 4.3 Analisis Kependudukan dan Sosial Budaya ... IV-67 4.3.1 Analisis Kemampuan SDM dalam Industri ... IV-67 4.3.1.1 Skill, Kratifitas, dan Pengetahuan Budaya SDM ... IV-68 4.3.1.2 Pendidikan Formal Terakhir SDM ... IV-69 4.3.1.3 Indeks Pemabungan Manusia IPM ... IV-70 4.3.2 Analisis Proporsi Penduduk yang Bekerja di Bidang Industri . IV-74 4.3.3 Analisis Proporsi Penduduk Usia Produktif yang Bekerja di
Bidang Industri ... IV-77 4.3.4 Analisis Perkembangan Jumlah IKRT yang Berbudaya ... IV-81 4.3.5 Kesimpulan ... IV-82 4.4 Analisis Ekonomi... IV-84 4.4.1 Analisis Produk IKRT yang Berbudaya ... IV-85 4.4.1.1 Kesimpulan ... IV-89 4.4.2 Analisis Persebaran Jumlah Industri ... IV-89 4.4.2.1 Kesimpulan ... IV-93 4.4.3 Analisis Proses Produksi Pada Industri Kreatif ... IV-93 4.4.4 Analisis Industri Potensial ... IV-99 4.4.4.1 Penentuan Alternatif IKRT ... IV-99 4.4.4.2 Kesimpulan ... IV-111 4.4.5 Analisis Kemampuan Pelaku Industri Untuk Mengakses
v 4.5 Analisis Sarana dan Prasarana ... IV-118
vi BAB V KARAKTERISTIK SPESIFIK WILAYAH
vii DAFTAR GAMBAR
BAB II KAJIAN LITERATUR
Gambar 2.1 Konsep-konsep Inti Pemasaran ... II-24 Gambar 2.2 Sistem Transportasi Mikro ... II-32 BAB IV ANALISIS
Gambar 4.1 Peta Sistem Pusat Pelayanan Kota Surakarta... IV-44 Gambar 4.2 Peta SKL Morfologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga…… IV-50 Gambar 4.3 Peta SKL Kemudahan Dikerjakan Kawasan IKRT……… IV-51 Gambar 4.4 Peta SKL Kestabilan Lereng Kawasan IKRT……… IV-53 Gambar 4.5 Peta SKL Kestabilan Pondasi Kawasan IKRT ... IV-54 Gambar 4.6 Peta SKL Ketersediaan Air Kawasan IKRT………... IV-56 Gambar 4.7 Peta SKL Drainase Kawasan IKRT………IV-57 Gambar 4.8 Peta SKL Erosi Kawasan IKRT………. IV-59 Gambar 4.9 Peta SKL Rawan Bencana Kawasan IKRT………IV-60 Gambar 4.10 Peta Overlay Kemampuan Lahan Kawasan IKRT……… IV-64 Gambar 4.11 Peta Kemampuan Lahan IKRT………... IV-64 Gambar 4.12 Diagram Proporsi Pendidikan Pelaku Industri……… IV-69 Gambar 4.13 Diagram Proporsi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian…… IV-75 Gambar 4.14 Grafik Pertumbuhan Pekerja Industri……… IV-76 Gambar 4.15 Peta Proporsi Penduduk Jumlah Pelaku Industri Berdasarkan Usia
Produktif ... IV-78 Gambar 4.16 Grafik Perkembangan Jumlah Penduduk Usia Produktif dan
Non Produktif ... IV-78 Gambar 4.17 Diagram Proporsi Jumlah Pelaku Industri Berdasarkan
Usia Produktif ... IV-79 Gambar 4.18 Grafik Perkembangan Jumlah IKRT yang Memiliki
viii Gambar 4.25 Diagram Alasan Pelaku Industri Kreatif Tidak Mengakses
Pinjaman ... IV-114 Gambar 4.26 Peta Hasil Overlay Analisis Sektor Ekonomi ... IV-115 Gamabr 4.27 Peta Persebaran Sarana Pendidikan ... IV-119 Gambar 4.28 Peta Jangkauan Sarana Pendidikan TK ... IV-120 Gambar 4.29 Peta Jangkauan Sarana Pendidikan SD ... IV-121 Gambar 4.30 Peta Jangkauan Sarana Pendidikan SMP ... IV-121 Gambar 4.31 Peta Jangkauan Sarana Pendidikan SMA ... IV-122 Gambar 4.32 Grafik Perbandingan Eksisting Dengan Kebutuhan Sarana
Pendidikan Tahun 2014 ... IV-124 Gambar 4.33 Peta Persebaran Sarana Kesehatan ... IV-124 Gambar 4.34 Peta Jangkauan Sarana Kesehatan Posyandu ... IV-125 Gambar 4.35 Peta Jangkauan Sarana Kesehatan Pustu dan Klinik ... IV-125 Gambar 4.36 Peta Jangkauan Sarana Kesehatan Puskesmas ... IV-126 Gambar 4.37 Grafik Perbandingan Jumlah Sarana Kesehatan Eksisting dengan
ix Gambar 4.56 Peta Persebaran IKRT ... IV-157 BAB V KARAKTERISTIK SPESIFIK WILAYAH
x DAFTAR TABEL
BAB II KAJIAN LITERATUR
Tabel 2.1 Peran Analisis Dalam Proses Perencanaan ... II-5 Tabel 2.2 Klasifikasi Kelas Kemampuan Lahan ... II-14 Tabel 2.3 Indikator Arahan Pemanfaatn Ruang ... II-14 Tabel 2.4 Standar Kebutuhan Sarana dan Prasarana ... II-29 Tabel 2.5 Standar Jaringan Drainase ... II-31 BAB III METODE ANALISIS
Tabel 3.1 Metode Analisis ... III-35 BAB IV ANALISIS
Tabel 4.1 Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Morfologi ... IV-49 Tabel 4.2 Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Kemudahan Dikerjakan .... IV-50 Tabel 4.3 Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Kestabilan Lereng ... IV-52 Tabel 4.4 Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Kestabilan Pondasi ... IV-54 Tabel 4.5 Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Ketersediaan Air ... IV-55 Tabel 4.6 Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Drainase ... IV-57 Tabel 4.7.Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Terhadap Erosi ... IV-58 Tabel 4.8 Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Terhadap Bencana Alam .. IV-59 Tabel 4.9 Perkalian Nilai SKL dengan Bobot sesuai PerMen PU
No.20/PRT/M/2007 ... IV-63 Tabel 4.10 Hasil Analisis Kemampuan Lahan dan Hidrologi Kawasan Industri
xi Tabel 4.22. Hasil Analisis Penentuan Alternatif Industri Kreatif Rumah Tangga IV-110 Tabel 4.23. Suku Bunga Pinjaman ... IV-113 Tabel 4.24 Rute Trayek Angkutan Kota dan Bus Kota ... IV-142 Tabel 4.25 Kondisi Jalan Kawasan Studi ... IV-146 Tabel 4.26 Halte BST ... IV-148 Tabel 4.27 Persebaran RTH ... IV-150 Tabel 4.28 Tabel Jumlah Penduduk ... IV-152 Tabel 4.29 Tabel Kebutuhan Luas RTH ... IV-153 BAB V KARAKTERISTIK SPESIFIK WILAYAH
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang terletak di Provinsi Jawa Tengah dengan lokasi geografis antara 110˚45’15” dan 110˚45’35” BT dan 7˚36’00” dan 7˚56’00” LS. Kota ini memiliki 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Banjarsari, Jebres, Pasar Kliwon, Laweyan, dan Serengan dengan luas total kota sebesar 4,406 Ha. Dari 5 kecamatan tersebut, terbagi lagi kedalam 51 kelurahan dengan pembagian pada masing-masing kecamatan, yaitu Kecamatan Banjarsari sebanyak 13 kelurahan, Jebres sebanyak 11 kelurahan, Pasar Kliwon sebanyak 9 kelurahan, Laweyan sebanyak 11 kelurahan, serta Serengan sebanyak 7 kelurahan. Secara administrasi, batas wilayah Kota Surakarta di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo, dan di sebelah barat dan timur dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo.
Kota Surakarta memiliki banyak sentra industri kreatif rumah tangga, salah satunya adalah pada bagian selatan kota yaitu pada wilayah Kecamatan Serengan. Pada kawasan terdeliniasi yang meliputi Kelurahan Tipes, Serengan, Kratonan, Danukusuman, dan Joyotakan, terdapat berbagai macam jenis industri kreatif rumah tangga. Dari segi kependudukan pun terlihat sebagian besar penduduk berusia produktif serta bermata pencaharian pada sektor industri.
2 Pemerintah Kota Surakarta sendiri melalui kebijakannya telah menjadikan industri kreatif sebagai salah satu basis dalam mencapai tujuan Kota Surakarta dalam RTRW Kota Surakarta tahun 2012-2032. Untuk mewujudkannya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Surakarta telah membuat Rencana Strategis mengenai pengembangan industri kecil dan menengah. Disperindag dapat bekerjasama dengan lembaga paguyuban dalam masyarakat industri untuk menurunkan program-programnya, namun sayangnya paguyuban ini tidak berjalan dengan aktif sehingga terdapat kesulitan dalam sosialisasi kepada pelaku industri.
Hal tersebut sangat disayangkan karena industri kreatif rumah tangga di kawasan studi memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi. Pemasaran produk tidak hanya pada skala lokal, namun sudah ada yang menjangkau hingga nasional bahkan internasional. Selain menambah pendapatan untuk Kota Surakarta, industri kreatif rumah tangga di kawasan studi ini dapat turut memperkenalkan budaya lokal ke tingkat nasional dan internasional. Sehingga diperlukan optimalisasi pengembangan yang sinergis antar semua elemen, baik dari wadah industri itu sendiri yaitu permasalahan kemampuan dan kesesuaian lahan, dari segi aktivitas industri kreatif yang meliputi sosial budaya penduduk serta pelayanan sarana prasarana, dan segi jaringan (networking) untuk keperluan pemasaran produk.
Sesuai dengan hirarkhi rencana bahwa setelah terbentuk isu awal, perlu dilakukan verifikasi ulang terhadap isu-isu yang disebutkan di atas yaitu dengan cara mengumpulkan data lapangan melalui survei dan menganalisis data-data tersebut untuk mendapatkan isu strategis dan karakteristik spesifik wilayah yang telah terverifikasi. Di dalam dokumen ini akan dilakukan analisis sektoral untuk memverifikasi isu awal yang telah didapatkan serta karakterisrik spesifik dari wilayah studi.
1.2. Tujuan
3 1.3. Sasaran
• Mengumpulkan kebutuhan data untuk keperluan analisis
• Melakukan analisis sektoral dan multisektoral berdasarkan kerangka analisis
• Membuat SWOT sektoral dan intersektoral terintegrasi
• Memverifikasi isu awal berdasarkan hasil analisis untuk mendapatkan isu strategis
• Melakukan persilangan SWOT untuk memperoleh alternatif intervensi
1.4. Ruang Lingkup Analisis
1.4.1.Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah perencanaan yang akan dijadikan sebagai daerah kajian mata kuliah Studio Proses Perencanaan adalah Kawasan Industri Kreatif yang terletak di bagian selatan Kota Surakarta, meliputi Kelurahan Serengan, Danukusuman, Joyotakan, Joyosuran dan Semanggi.
1.4.2.Ruang Lingkup Waktu
Lingkup waktu data yang dibutuhkan untuk mengkompilasi data adalah 4 tahun dengan tahun terakhir adalah tahun 2012, sehingga data yang dibutuhkan sebagai input analisis minimal dimulai dari tahun 2009 atau tahun sebelumnya.
1.4.3.Ruang Lingkup Substansi
1. Kebijakan Kelembagaan meliputi arahan pemanaatan ruang dan lembaga terkait Industri Kreatif Rumah Tangga
2. Fisik Dasar meliputi kemampuan lahan pada kawasan serta hidrologi. 3. Kependudukan dan Sosial Budaya meliputi pengetahuan penduduk
tentang budaya, keterampilan penduduk dalam hal industri kreatif, serta proporsi penduduk yang bekerja di bidang industri kreatif.
4 5. Sarana Prasarana meliputi ketersediaan TPS, BTS, kondisi jalan serta
saluran drainase.
6. Transportasi meliputi pola dan mode distribusi.
7. Tata Guna Lahan meliputi kesesuaian penggunaan lahan pada kawasan.
1.5. Sistematika Penulisan
Sistematika pelaporan proses perencanan terdiri atas 5 bagian, yaitu: • BAB I PENDAHULUAN
terdiri dari: latar belakang, tujuan, sasaran, ruang lingkup analisis, sistematika penulisan
• BAB II KAJIAN LITERATUR
terdiri dari: peran analisis dalam proses perencanaan, teori analisis/ teknik yang digunakan
• BAB III METODE ANALISIS
terdiri dari: data yang digunakan dan teknik pengumpulan data, proses analisis, teknik analisis
• BAB IV ANALISIS PERENCANAAN
terdiri dari: analisis sistematika
• BAB V KARAKTERISTIK SPESIFIK WILAYAH
5
BAB II
KAJIAN LITERATUR
2.1 Peran Sektor
Tabel 2.1 Peran Analisis Dalam Proses Perencanaan
Sub Isu Kondisi yang
Kependudukan •Analisis perkembangan jumlah industri kreatif rumah tangga yang berbudaya
Ekonomi • Analisis industri potensial
Sifat industri rumah tangga yang
semakin kreatif
Kependudukan • Analisis kemampuan SDM dalam industri
Ekonomi • Analisis produk industri berbudaya yang
Kebijakan • Analisis program kerja Disperindag terkait
6
Kelembagaan • Analisis lembaga industri dalam kawasan
• Analisis program kerja
paguyuban industri jual lebih dan mampu meningkatkan penghasilan penduduk di kawasan studi
Ekonomi • Analisis rantai produksi industri lapangan kerja baru
Ekonomi • Analisis perkembangan jumlah industri ada di kawasan studi
Penyerapan tenaga kerja berasal dari kawasan studi
Kependudukan • Analisis proporsi penduduk yang berkerja di bidang industri
• Analisis proporsi
penduduk usia
7 Terpenuhinya
kebutuhan sarana prasarana di kawasan studi guna
Infrastruktur • Analisis ketersediaan, jangkauan dan
Kebijakan • Analisis program kerja Disperindag terkait
Kebijakan • Analisis program kerja Disperindag terkait
Infrastruktur • Analisis ketersediaan sarana prasarana pendukung industri kreatif rumah tangga
Pengoptimalan
Infrastruktur • Analisis ketersediaan sarana prasarana pendukung industri kreatif rumah tangga
Kemudahan akses dari dan menuju ke
8 lokasi distribusi
produk
• Analisis Persediaan
Sarana Prasarana
Kelembagaan • Analisis lembaga industri dalam kawasan
Ketersediaan sumber dana pengembangan
Ekonomi • Analisis kemampuan pelaku indsutri untuk mengakses pinjaman
Ekonomi • Analisis rantai produksi industri kreatif rumah tangga
Adanya jaringan pemasaran yang luas
Ekonomi • Analisis rantai produksi
Kesesuaian dengan kebijakan
pemerintah
Kebijakan • Analisis pemanfaatan ruang sesuai dengan arahan RTRW
Teroptimalkann ya daya dukung lahan di
Tata Guna Lahan • Analisis kesesuaian penggunaan lahan industri rumah tangga
Kemampuan daya tampung lahan industri kreatif
Tata Guna Lahan • Analisis ketersediaan ruang terbuka hijau
9 2.2 Kajian Teori
2.2.1 Aspek Kebijakan dan Kelembagaan
Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintahan, organisasi dan kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan hukum. Jika hukum dapat memaksakan atau melarang suatu perilaku (misalnya suatu hukum yang mengharuskan pembayaran pajak penghasilan), kebijakan hanya menjadi pedoman tindakan yang paling mungkin memperoleh hasil yang diinginkan.
Kebijakan atau kajian kebijakan dapat pula merujuk pada proses pembuatan keputusan-keputusan penting organisasi, termasuk identifikasi berbagai alternatif seperti prioritas program atau pengeluaran, dan pemilihannya berdasarkan dampaknya. Kebijakan juga dapat diartikan sebagai mekanisme politis, manajemen, finansial, atau administratif untuk mencapai suatu tujuan eksplisit.
rumah tangga cadangan lahan untuk peruntukan industri kreatif rumah tangga
Fisik Dasar • Analisis kemampuan lahan dan keadaaan hidrologi
Keseuaian keadaan hidrologi yang mendukung kegiatan industri kreatif rumah tangga
10 2.2.1.1Arahan Pemanfaatan Ruang Kota Surakarta
Kawasan I diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, budaya, perdagangan, jasa dan olah raga sebagai pusat pariwisata (budaya), perdagangan dan jasa, olah raga serta industri kreatif;
Kawasan II diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, olah raga dan perdagangan/jasa sebagai pusat pariwisata, olah raga dan industri kreatif;
Kawasan III diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk permukiman perdagangan dan jasa sebagai pusat permukiman dan perdagangan dan jasa;
Kawasan IV diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk permukiman, perdagangan dan jasa, industri kecil dan industri ringan,;
Kawasan V diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, pendidikan tinggi dan industri kreatif ;
Kawasan V diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pemerintahan, pariwisata budaya, perdagangan dan jasa.
2.2.2 Aspek Fisik Dasar
Kemampuan Lahan
Lahan pengembangan wilayah merupakan sumber daya alam yang memiliki keterbatasan dalam menampung kegiatan manusia dalam pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Banyak contoh kasus kerugian ataupun korban yang disebabkan oleh ketidaksesuaian penggunaan lahan yang melampaui kapasitasnya. Untuk itulah perlu dikenali sedini mungkin karakteristik fisik suatu wilayah maupun kawasan untuk dikembangkan, baik potensi sumber daya alamnya maupun kerawanan bencana yang dikandungnya, yang kemudian diterjemahkan sebagai potensi dan kendala pengembangan wilayah atau kawasan. Hal ini dilakukan supaya pemanfaatan lahan dalam mengembangkan kawasan perencanaan dapat dilakukan dengan optimal dengan tidak mengeksploitasi Sumber Daya Alam yang ada.
11 dan kesesuaian lahan, agar penggunaan lahan dalam pengembangan wilayah dan/ atau kawasan dapat dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem. Hasil studi analisis fisik dan lingkungan ini akan menjadi masukan dalam penyusunan rencana tata ruang maupun rencana pengembangan wilayah dan/atau kawasan (rencana tindak, rencana investasi, dan lain-lain), karena akan memberikan gambaran kerangka fisik pengembangan wilayah dan/atau kawasan.
Analisis fisik dan lingkungan diperlukan untuk mengetahui kemampuan lahan sesuai peruntukkan arahan pemerintah dalam Rencana Tata Ruang Wilayah, agar pemanfaatan lahan untuk pengembangan wilayah dapat sesuai dengan kemampuan lahan perencanaan.
Analisis fisik dan lingkungan dilakukan dengan menghitung masing-masing Satuan Kemampuan Lahan (SKL), berikut akan dijelaskan masing-masing Satuan Kemampuan Lahan dan sasaran yang terdapat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007 tentang Teknik Analisi aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi Serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang.
2.2.2.1SKL Morfologi
Melakukan pemilahan bentuk bentang alam/morfologi pada wilayah dan/atau kawasan perencanaan yang mampu untuk dikembangkan sesuai dengan fungsinya.
Sasaran
• Memperoleh gambaran tingkat kemampuan lahan untuk dikembangkan sebagai perkotaan dilihat dari segi morfologinya.
• Mengetahui potensi dan kendala morfologi masing-masing tingkatan kemampuan lahan terhadap morfologi.
2.2.2.2SKL Kemudahan Dikerjakan
12 Sasaran
• Memperoleh gambaran tingkat kemampuan lahan untuk digali, ditimbun, ataupun dimatangkan dalam proses pembangunan unutk pengembangan kawasan.
• Mengetahui potensi dan kendala dalam pengerjaan masing-masing.
2.2.2.3SKL Kestabilan Lereng
Melakukan analisis untuk mengetahui tingkat kemantapan lereng di wilayah dan/atau kawasan dalam menerima beban pada pengembangan wilayah dan/atau kawasan.
Sasaran
• Mengetahui gambaran tingkat kestabilan lereng unutk pengembangan wilayah dan/atau kawasan.
• Mengetahui daerah-daerah yang berlereng cukup aman untuk dikembangkan sesuai dengan fungsi kawasan.
2.2.2.4SKL Kestabilan Pondasi
Melakukan analisis untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam mendukung bangunan berat dalam pengembangan perkotaan, serta jenis-jenis pondasi yang sesuai untuk masing-masing tingkatan.
Sasaran
• Mengetahui gambaran daya dukung tanah secara umum
• Memperoleh gambaran tingkat kestabilan pondasi di wilayah dan/atau kawasan
2.2.2.5SKL Ketersediaan Air
Melakukan analisis untuk mengetahui tingkat ketersediaan air guna pengembangan kawasan, dan kemampuan penyediaan air masing-masing tingkatan.
Sasaran
13 • Mengetahui sumber-sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan
pengembangan kawasan, dengan tidak menganggu keseimbangan tata air.
2.2.2.6SKL Drainase
Melakukan analisis untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam mematuskan air hujan secara alami, sehingga kemungkina genangan baik bersifat lokal ataupun meluas dapat dihindari.
Sasaran
• Mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam menyerap air
• Mengetahui daerah-daerah yang cenderung tergenang saat musim penghujan
2.2.2.7SKL Terhadap Erosi
Melakukan analisi untuk mengetahui tingkat ketahanan lahan terhadap erosi.
Sasaran
• Mengetahui tingkat keterkikisan tanah di kawasan perencanaan • Mengetahui tingkat ketahanan lahan terhadap erosi
2.2.2.8SKL Terhadap Bencana Alam
Melakukan analisis untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam menerima bencana alam khususnya dari sisi geologi, untuk menghindari/mengurangi kerugian akibat bencana itu.
Sasaran
• Mengetahui tingkat kemampuan kawasan perencanaan terhadap berbagai bencana alam
• Mengetahui daerah-daerah yang rawan bencana alam pada kawasan perencanaan
Tabel 2.1. Klasifikasi Kelas Kemampuan Lahan
Total Nilai Kelas Kemampuan
Lahan
Klasifikasi Pengembangan
32 – 58 A Kemampuan Pengembangan Sangat Rendah
59 – 83 B Kemampuan Pengembangan Rendah
14 110 – 134 D Kemampuan Pengembangan Agak Tinggi
135 – 160 E Kemampuan Pengembangan Sangat Tinggi
Sumber : Modul permen no 20 tahun 2007
Berdasarkan tabel klasifikasi kelas kemampuan lahan dapat diketahui arahan pemanfaatan ruang. Arahan pemanfaatan ruang disesuaikan dengan kesesuaian lahan kawasan studi. Kesesuaian lahan ini ditentukan oleh beberapa aspek. Indikator yang digunakan adalah dari standar Kementrian Ummum yang disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel. 2.2. Indikator Arahan Pemanfaatan Ruang
Kemampuan Pengembangan Kemampuan Lahan Arahan
Rendah Sangat Rendah Kawasan Lindung
Agak Rendah Rendah Kawasan Penyangga
Sedang Sedang Kawasan Budidaya Terbatas
Agak Tinggi Agak Tinggi Kawasan Budidaya
Sangat Tinggi Sangat Tinggi Kawasan Budidaya
Sumber : Modul permen no 20 tahun 2007
2.2.3 Aspek Kependudukan
2.2.3.1Kependudukan
Studi kependudukan merupakan studi mengenai hubungan antara faktor-faktor perubahan penduduk dan faktor-faktor-faktor-faktor pembangunan. Sedangkan penduduk adalah semua orang yang berdomisili di suatu wilayah selama 6 bulan atau lebih dan atau yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan menetap. Penduduk juga bisa diartikan sebagai orang yang tinggal di suatu daerah tertentu dan mempunyai surat resmi untuk tinggal di daerah tersebut.
15 Dari diagram di atas dapat dilihat kesinambungan antar berbagai faktor. Faktor perubahan kependudukan seperti kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk akan mempengaruhi jumlah, persebaran, dan komposisi penduduk. Selanjutnya jumlah, persebaran, dan komposisi penduduk dapat mempengaruhi kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan politik penduduk.
Kondisi sosial, ekonomi, kebudayaan, dan politik dari penduduk tentu turut ambil bagian dalam perencanaan pembangunan sarana prasarana dan utilitas umum bagi penduduk tersebut. Seperti halnya lingkaran yang tidak mempunyai ujung, diagram ini terus berputar dengan kembalinya pembangunan sarana prasarana mempengaruhi kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk.
2.2.3.2Sosial Budaya Penduduk
Istilah sosial budaya menunjuk kepada dua segi kehidupan bersama manusia, yaitu segi kemasyarakatan dan segi kebudayaan. Setiap masyarakat memiliki 4 unsur penting yang menentukan eksistensinya, yaitu: struktur sosial, pengawas sosial, media sosial, dan standar sosial.
16 • Pengawas Sosial, pengawas sosial mencakup sistem dari
ketentuan-ketentuan yang mengatur kegiatan dan tindakan anggota masyarakat, pengetahuan empiris yang digunakan manusia untuk menanggulangi lingkungan, dan pengetahuan empiris yang mengatur sikap dan tingkah laku manusia seperti agama.
• Media Sosial, dalam pelaksanaan tugas dan kegiatan sosial, diperlukan adanya komunikasi dan relasi antar anggota masyarakatyang dapat dilaksanakan dengan menggunakan bahasa maupun alat transportasi.
• Standar Sosial, standar sosial merupakan ukuran untuk menilai tingkah laku anggota masyarakat serta nilai tingkah cara masyarakat mencapai tujuan.
Kebudayaan merupakan keseluruhan cara hidup masyarakat yang perwujudannya tampak pada tingkah laku para anggotanya. Kebudayaan tercipta oleh banyak faktor organ biologis manusia, lingkungan alam, lingkungan sejarah, dan lingkungan psikologinya. Masyarakat yang berbudaya membentuk pola budaya disekitar satu atau beberapa fokus budaya. Fokus budaya dapat berupa nilai, misalnya: keagamaan, ekonomi, ideologi dan sebagainya.
Oleh karena itu pengertian sosial budaya, dapat dirumuskan sebagai kondisi masyarakat (bangsa) yang mempunyai nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.
2.2.3.3Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah potensi yang merupakan asset dan berfungsi sebagai modal (non material/non finansial) di dalam organisasi bisnis, yang dapat diwujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi. SDM atau dapat juga disebut tenaga kerja berasal dari penduduk usia produktif, yaitu usia antara 15-59 tahun. Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga
kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk
masyarakat.
17 memiliki keterampilan dalam menjalankan pekerjaannya. Keterampilan ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu keterampilan yang berasal dari bakat dan kreatifitas SDM (skill) dan keterampilan yang diperoleh dari pendidikan formal.
2.2.3.4Kemampuan Sumber Daya Manusia
Kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) seringkali dihitung dengan menggunakan rumus IPM (Indeks Pembangunan Manusia) dengan menggunakan standar yang dikeluarkan oleh UNDP (United Nation Development Programme).
Secara khusus, IPM mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. IPM dihitung berdasarkan sejumlah komponen dasar kualitas hidup. IPM dihitung berdasarkan data yang dapat menggambarkan keempat komponen, yaitu angka harapan hidup yang mewakili bidang kesehatan, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah mengukur capaian pembangunan di bidang pendidikan, dan kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran perkapita sebagai pendekatan pedapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak.
Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimenso tersebut mencakup umur panjang dan sehat, pengetahuan dan kehidupan yang layak. Ketiga dimensi tersebut memiliki pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor. Untuk mengukur dimensi pegetahuan digunakan gabungan indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan indikator kemampuan daya beli.
• Angka Harapan Hidup
Angka harapan hidup adalah rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup. Ada dua jenis data yang digunakan dalam penghitungan angka harapan hidup yaitu jumlah kelahiran dan kematian penduduk dalam suatu wilayah.
• Tingkat Pendidikan
18 ke atas dalam menjalani pendidikan formal. Sedangkan angka melek huruf adalah persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis.
• Standar Hidup Layak
Dalam cakupan yang lebih luas standar hidup layak menggambarkan tingkat kesejahteraan yang dinikmati oleh penduduk sebagai dampak semakin membaiknya ekonomi.
Komponen IPM tersusun atas tiga komponen yaitu lamanya hidup, diukur dengan harapan hidup pada saat lahir, tingkat pendidikan, diukur dengan kombinasi antara angka meek huruf pada penduduk dewasa (dengan bobot duapertiga) dan rata-rata lama sekolah (dengan bobot sepertiga). serta tingkat kehidupan yang layak diukur dengan pengeluaran perkapita penduduk.
Masing-masing indeks komponen IPM tersebut merupakan perbandingan antara selisih suatu nilai indikator dan nilai minimumnya dengan selisih nilai maksimun dan nilai minimum indikator yang bersangkutan. Angka IPM yang diperoleh akan terdapat pada range 0-100, semakin tinggi angka IPM berarti semakin berkualitas pula SDM pada wilayah yang dihitung. Rumus IPM dapat dilihat sebagai berikut:
IPM =1
3(𝑋1 +𝑋2 +𝑋3)
Keterangan: IPM = Indeks Pembangunan Manusia X1 = Indeks harapan hidup
X2 = Indeks pendidikan
X3 = Indeks standar hidup layak
2.2.3.5Kepadatan Penduduk
19 pertumbuhan penduduk yang tinggi akan mengakibatkan kepadatan penduduk yang tinggi. Sebaliknya apabila jumlah penduduk rendah dengan laju pertumbuhan penduduk yang rendah pula tentu saja menjadikan wilayah tersebut tidak berkepadatan tinggi.
Tingginya tingkat kepadatan penduduk memberikan konsekuensi pada aspek-aspek kependudukan lain. Penduduk yang padat tentu memerlukan lahan yang lebih luas serta sarana prasarana yang lebih banyak. Kepadatan tinggi juga bisa berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat terkait. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan harus didasarkan pada pendekatan besaran kepadatan penduduk. Dalam merencanakan kebutuhan lahan untuk sarana lingkungan, didasarkan pada beberapa ketentuan khusus:
• Besaran standar ini direncanakan untuk kawasan dengan kepadatan penduduk <200 jiwa/ha;
• Untuk mengatasi kesulitan mendapatkan lahan, beberapa sarana dapat dibangun secara bergabung dalam satu lokasi atau bangunan dengan tidak mengurangi kualitas lingkungan secara menyeluruh;
• Untuk kawasan yang berkepadatan >200 jiwa/ha diberikan reduksi 15-30% terhadap persyaratan kebutuhan lahan; dan
• Perencanaan prasarana lingkungan, utilitas umum dan sarana lingkungan harus direncanakan secara terpadu dengan mempertimbangkan keberadaan prasarana dan sarana yang telah ada dengan tidak mengurangi kualitas dan kuantitas secara menyeluruh.
2.2.4 Aspek Ekonomi
2.2.4.1Pengertian Ekonomi
20 Pembangunan Ekonomi suatu bangsa merupakan pilar penting bagi terselenggaranya proses pembangunan di segala bidang. Karena jika pembangunan ekonomi suatu bangsa berhasil, maka bidang-bidang lain seperti bidang hukum, politik, pertanian, dan lain-lain akan sangat terbantu. Suatu masyarakat yang pembangunan ekonominya berhasil ditandai dengan tingginya pendapatan perkapita masyarakat negara tersebut. Dengan tingginya pendapatan perkapita masyarakat, maka negara dan masyarakat akan dapat lebih leluasa dalam menjalankan berbagai aktivitas pada berbagai bidang yang lain.
Aspek ekonomi ini merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa. Analisis ekonomi juga sangat berperan penting dalam pengembangan potensi industri di setiap kawasan, salah satunya industry kreatif rumah tangga yaitu dapat memberikan kontribusi melalui beberapa analisis yakni berupa analisis terhadap produk industri yang berbudaya, perkembangan jenis industri, industri potensial, produk potensial pada pasar, rantai produksi, pemasaran produk, alokasi dana untuk industri kreatif rumah tangga, dan kemampuan pelaku industri untuk mengakses pinjaman.
Sektor Industri merupakan suatu sektor ekonomi yang didalamnya terdapat kegiatan produktif yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi. Sektor ekonomi ini memiliki peran penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi sektor Industri terhadap pembangunan nasional dari tahun ke tahun menunjukkan kontribusi yang signifikan.
2.2.4.2 Industri dalam Pertumbuhan ekonomi
21 sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Pertumbuhan ekonomi ini mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode lainnya. Pembangunan perekonomian daerah adalah suatu proses, proses dimana pemerintah daerah beserta partisipasi masyarakatnya harus saling bekerja sama dalam menggunakan sumber daya yang ada dan harus mampu menaksir potensi daya-sumber daya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah.
Proses industrialisasi dan pembangunan industri ini sebenarnya merupakan satu jalur kegiatan untuk meningkatkan kesejahtraan rakyat dalam arti tingkat hidup yang lebih maju maupun taraf hidup yang lebih bermutu. Dengan kata lain pembangunan industry itu merupakan suatu fungsi dari tujuan pokok kesejahtraan rakyat bukan merupakan kegiatan yang mandiri untuk hanya sekedar mencapai fisik saja.
Industrialisasi tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dan kemampuan memanfaatkan secara optimal sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya. Hal ini berarti pula sebagai suatu usaha untuk meningkatkan produktivitas tenaga manusia disertai untuk meluaskan ruang lingkup kegiatan manusia. Dengan demikaian dapat diusahakan secara “vertikal” semakin besarnya nilai tambah pada kegiatan ekonomi dan sekaligus secara “horizontal” semakin luasnya lapangan kerja produktif bagi penduduk yang semakin bertambah.
22 yang ada pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan permintaan masyarakat (daya belinya). Kenaikan pendapatan dan peningkatan daya beli (permintaan) tersebut menunjukkan bahwa perekonomian itu tumbuh dan sehat.
2.2.4.3 Analisis Proses Produksi Pada Industri Kreatif
2.2.4.3.1 Pengertian Pemasaran
Sejak revolusi industri, terjadi penemuan dan perkembangan teknologi yang pesat, baik dalam teknologi mesin dan alat-alat berat, maupun dalam teknologi telekomunikasi.Perkembangan teknologi mesin dari manual sampai ke serba otomatis telah mampu mengubah mutu produk, mulai dari kemasan sampai kepada isinya yang semakin menarik dan kompetitif.Perubahan ini memaksa produsen untuk berpikir keras agar tetap eksis di dunianya.
Definisi pemasaran menurut Charles W. Lamb, Jr., Joseph F. Hair, Jr., Carl. McDaniel (2001:6)yang disadur oleh David Octareviaadalah sebagai berikut:
“Pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga, promosi dan distribusi sejumlah ide, barang, dan jasa, untuk
menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi”.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan dilaksanakan dengan konsep-konsep, pemberian harga, promosi, dan distribusi barang-barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan dan keinginan individu maupun kelompok.
Sedangkan pengertian produk menurut Kotler dan Amstrong (2011:11) menyatakan bahwa: “Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan. Produk mencakup objek fisik, jasa, orang, tempat, organisasi dan gagasan.”
2.2.4.3.2 Teori Pemasaran
23 individu/kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain. Pemasaran melibatkan banyak kegiatan yang berbeda yang menambah nilai produk pada saat produk bergerak melalui sistem tersebut.
Kegiatan-kegiatan dalam usaha pemasaran tidak hanya kegiatan memindahkan barang /jasa dari tangan produsen ke tangan konsumen saja dengan sistem penjualan, tetapi banyak kegiatan lain yang juga dijalankan dalam kegiatan pemasaran. Penjualan hanyalah salah satu dari berbagai fungsi pemasaran. Apabila pemasar melakukan pekerjaan dengan baik untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen, mengembangkan produk dan menetapkan harga yang tepat, mendistribusikan dan mempromosikannya secara efektif, maka akan sangat mudah menjual barang-barang tersebut.
Konsep-konsep inti pemasaran dapat ditunjukkan dalam gambar berikut ini :
Gambar 2.1. Konsep-konsep Inti Pemasaran
Sumber: Hasil Analisis Tim Stupro Industri Kreatif Rumah Tangga 2014 Keinginan
Permintaan
Produk
Nilai dan
kepuasan Pertukaran
Transaksi Hubungan
Pasar
Kebutuhan
KONSEP-KONSEP
24 Konsep paling pokok yang melandasi pemasaran adalah kebutuhan manusia.Dengan adanya perkembangan jaman, kebutuhan berkembang menjadi suatu keinginan mengkonsumsi suatu produk dengan ciri khas tertentu. Munculnya keinginan akan menciptakan permintaan spesifik terhadap suatu jenis produk. Seseorang dalam menentukan keputusan pembelian akan mempertimbangkan nilai dan kepuasan yang akan didapat dari mengkonsumsi suatu produk. Apabila konsumen yakin akan nilai dan kepuasan yang akan didapat, maka konsumen akan melalukan pertukaran dan transaksi juall beli barang dan jasa. Hal inilah yang mendasari terjadinya pasar.
2.2.4.4.3 Tujuan sistem pemasaran :
Secara umum, tujuan sistem pemasaran adalah sebagai berikut : • Memaksimumkan konsumsi
• Memaksimumkan utilitas (kepuasan) konsumsi • Memaksimumkan pilihan
• Memaksimumkan mutu hidup
Kualitas, kuantitas, ketersediaan, harga, lingkungan
2.2.4.4 Analisis Industri Potensial
Karakteristik Ekonomi Dominan dalam Industri
Pengertian Industri yang dipergunakan pada bagian ini diartikan sebagai kumpulan beberapa perusahaan yang mempunyai kesamaan atribut produk dan pada umumnya mereka bersaing dengan kelompok pembeli yang sama.
• Market size ( kecil sedang besar )
• Lingkup persaingan ( lokal, regional, national, global ) • Tingkat pertumbuhan pasar dan siklus kehidupan industri
• Jumlah pesaing dan besaran relatif dari masing masing perusahaan • Dorongan untuk melakukan integrasi ke depan dan ke belakang
• Kemudahan dan hambatan untuk memasuki atau keluar dari jenis industri • Pengaruh perubahan teknologi terhadap inovasi proses produksi
25 • Kebutuhan Modal
• Tingkat keuntungan rata rata industri
Walaupun kekuatan persaingan dalam suatu industri tidak persis sama, namun secara umum , persaingan dalam suatu industri terbentuk dari lima kekuatan pembentuk persaingan.
Sebagai pedoman dasar bagai perusahaan dalam menghadapi lingkungan persaingan dalam industri, maka strategi manager dapat menerapkan beberapa pendekatan berikut
1. Melindungi perusahaan dari pengaruh lima kekuatan persaingan yang terbentuk
2. Berupaya mempengaruhi aturan persaingan dalam industri untuk kepentingan perusahaan
3. Memperkuat posisi persaingan untuk maksud agar perusahaan dapat lebih banyak bermain peran dalam persaingan
2.2.4.5 Pengertian Alokasi Dana
Dalam melaksanakan pembangunan yang terencana dan berkelanjutan, maka serangkaian kebijakan pembangunan disegala bidang harus ditempuh.
Berdasarkan rencana atau program pembangunan tersebut, pemerintah menyusun anggaran operasional keuangan, dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan negara atau daerah dari aspek ekonominya serta skala prioritas pembangunan dan proyeksi kemampuan keuangan negara atau daerah kedepan. Bisa dikatakan, alokasi dana atau anggaran adalahrencana kerja keuangan.
Menurut M. Munandar dalam bukunya yang berjudul “Budgeting”, memberikan definisi bahwa :
26 Sedangkan menurut M. Nafarin dalam bukunya “Penggaran Perusahaan” memberikan definisi bahwa :
“Anggaran (budget) merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu” ( 2000:9)
Dari kedua definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa alokasi dana atau anggaran adalah rencana keuangan mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif untuk jangka waktu tertentu. Dengan adanya alokasi dana atau anggaran, dapat diketahui rencana penerimaan dan pengeluaran untuk suatu periode, disamping itu melalui anggaran dapat diketahui pula tercapai atau tidaknya kebijaksanaan pemerintah.
2.2.4.6Kemampuan Pelaku Usaha Industri Kreatif Rumah Tangga untuk
Melakukan Pinjaman
2.2.4.6.1 Pengertian Usaha Kecil Menengah
Pengertian kecil didalam usaha kecil bersifat relatif, sehingga perlu adabatasannya, yang dapat menimbulkan definisi-definisi usaha kecil dari beberapa segi.Berdasarkan UU No. 1 tahun 1995, usaha kecil dan menengah memilikikriteria sebagai berikut:
1. Kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1 miliar. 3. Milik Warga Negara Indonesia (WNI)
4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaanyang dimiliki atau dikuasai usaha besar.
5. Bentuk usaha orang per orang, badan usaha berbadan hukum/tidak, termasukkoperasi.
6. Untuk sektor industri, memiliki total aset maksimal Rp 5 miliar.
27 Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)Pengertian Usaha Kecil Menengah: Berdasarkan kuantitas tenaga kerja.Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yangmemiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa industri kreatif termasuk ke dalam usaha kecil dan menengah berdasarkan kuantitas tenaga kerjanya yaitu memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang pekerja, dari segi penjualan dibawah Rp 1 miliar rupiah serta milik perseorangan.
2.2.4.6.2 Syarat UKM mendapat kucuran dana dari Bank
Para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) harus memenuhi tigapersyaratan agar usahanya dinilai visible dan bankable bagi perbankan.Sehinggaperbankan bersedia untuk mengucurkan kredit. "Tiga syarat itu adalahdokumentasi usaha yang jelas, track record yang positif, dan bisnis atau cashflow yang positif,"
Seandainya aset usaha UKM tersebut tergolong besar tapi cashflownya negatif, perbankan tetap enggan mengucurkan kreditnya. Dalam halini Kementerian Koperasi dan UKM akan bekerjasama membuat pelatihan bagipara pelaku UKM, agar bisa bankable sehingga bisa memperoleh pinjaman dariperbankan untuk mengembangkan usaha.
2.2.4.7Teknik Analisis Data Kualitatif
Menurut Bogdan dan Biklen (1982) memberikan definisi bahwa:
“Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.”
28 pengumpulan dan pengelompokan data, mereduksi,menampilkan data, membuat verifikasi atau konklusi.
Miles dan Huberman (1992) mengemukakan bahwa,“...analisis data kualitatif meliputikegiatan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan”. Ia juga mengembangkananalisis data Model Interaktif sebagaimana digambarkan di bawah ini:
Tahap-tahap di atas hendaknya dilakukan sedemikian rupa, sehingga proses analisis dan interpretasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan kesimpulan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
2.2.5 Aspek Sarana dan Prasarana
Sarana merupakan alat yang disediakan untuk dapat mencapai maksud dan tujuan dalam melaksanakan segala aktifitas. Sarana tidak dapat berfungsi dengan baik apabila tidak di seimbangi dengan prasarana yang baik juga, karena prasarana sebagai alat penunjang utama atau sebagai kelengkapan dasar lingkungan guna meningkatkan kelancaran aktifitas masyarakat sebagai pengguna sarana dan prasarana. Demikian pula dengan kegiatan industri rumah tangga yang membutuhkan sarana dan prasarana berupa prasarana pengelolaan sampah, prasarana listrik, sarana pengelolaan limbah, jaringan saluran drainase, sarana toko pemasaran dan jaringan komunikasi.
Berdasarkan SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan, lingkungan perumahan merupakan tempat berteduh
Penarikan Kesimpulan
Reduksi Data Pengumpulan Data
29 dan melakukan berbagai kegiatan sehari-hari sehingga selain harus memenuhi persyaratan teknis kesehatan dan keamanan serta harus memberikan kenyamanan bagi penghuninya.
Tabel 2.3. Standar Kebutuhan Sarana dan Prasarana
No. Skala
Pelayanan Jenis Sarana
Jumlah jalan raya serta bergabung dengan
Kelurahan Sekolah Dasar 1.600 1.000 m
3 Unit
selalu harus di pusat lingkungan tinggal atau tempat
30 8 Unit
Kecamatan Puskesmas 120.000 3.000 m
Dapat dijangkau bagian dari sarana
lain
11 Unit
Kelurahan TPS 30.000 300 m
Jarak bebas TPS dengan lingkungan hunian minimal 30
m
Sumber: SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan
Tabel 2.4. Standar Jaringan Drainase
Sarana Prasarana
Badan penerima air Sumber air di permukaan tanah (laut, sungai dan danau) Sumber air di bawah permukaan tanah (air tanah akifer)
Bagian pelengkap Gorong-gorong
Pertemuan saluran Bangunan terjunan
Jembatan Pompa
Sumber: SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan
31 dilengkapi dengan sistem pembuangan air limbah lingkungan atau harus dapat disambung pada sistem pembuangan air limbah kota.
2.2.6 Aspek Transportasi
Perjalanan akan terbentuk karena adanya aktivitas yang letaknya bukan di tempat tinggal. Menurut Tamin, konsep paling mendasar yang menjelaskan terjadinya pergerakan atau perjalanan selalu dikaitkan dengan pola hubungan antara distribusi spasial perjalanan dengan distribusi spasial tata guna lahan yang terdapat dalam suau kota. Dengan banyaknya aktivitas maka konsep tersebut akan menunjukkan pada pola penyebaran spasial yang sangat berperan penting adalah sebaran spasial yaitu daerah industry,perkantoran, dan permukiman.
Pola sebaran spasial dari ketiga jenis tata guna lahan ini sangat berperan penting untuk menentukan pola sebaran perjalanan yaitu perjalanan orang dan perjalanan barang, (Tamin,Perencanaan Pemodelan Transportasi). Pola sebaran yang memiliki porsi besar adalah adalah pola perjalanan orang. Pada pola perjalanan orang, pusat kota menjadi hal yang sangat penting karena dari berbagi daerah akan menuju ke pusat kota tersebut. Dalam hal ini, jarak lokasi memiliki peran penting karena akan berpengaruh terhadap perjalanan orang menuju pusat kota tersebut. Pola perjalanan barang sangat dipengaruhi oleh aktivitas produksi dan konsumsi, yang sangat tergantung pada pola sebaran tata guna lahan permukiman dan tata guna lahan perdagangan dan industry.
32 Gambar 2.2. Sistem Transportasi Mikro
Sumber : Tamin 2007
Dari bagan tersebut diketahui bahwa setiap tata guna lahan atau sistem kegiatan tertentu akan membangkitkan pergerakan dan akan menarik pergerakan dalam proses pemenuhan kebutuhan. Sistem tersebut merupakan sistem pola kegiatan tata guna lahan yang terdiri dari sistem kegiatan sosial, ekonomi, kebudayaaan, dan lain-lain. Sistem pergerakan yang berupa pergerakan manusia dan barang sangat membutuhkan transportasi baik sarana maupun prasaranya. Sistem pergerkan manusia yang membutuhkan kenyamanan, keamanan ini harus disesuaikan dengan kondisi lingkung di sekitarnya juga .Sehingga dibutuhkan sistem jaringan dalam mendukung pergerakan ini. Untuk mengkover seluruh sistem transportasi mikro maka dibutuhkan sistem kelembagaan agar terciptasistem transportasi yang aman, nyaman, dan lancar.
2.2.7 Aspek Tata Guna Lahan
2.2.7.1 Definisi Lahan
Lahan adalah bagian yang paling atas dari planet Bumi, dimana diatasnya digunakan oleh manusia sebagai tempat beraktifitas dsb. Adapun dari pengertian dari tanah adalah meliputi mulai pusat tanah sampai lapisan paling atas dari kulit bumi (Pierce, Jhn T, 1981). Sedangkan menurut (Purwowidodo, 1983), lahan adalah suatu lingkunga fisik yang mencangkup iklim, relief tanah, hidrologi, dan
Sistem Kegiatan
Sistem Pergerakan
Sistem Jaringan
33 tumbuhan yang sampai batas tertentu akan mempengaruhi kemampuan penggunaan lahan.
2.2.7.2 Kesesuaian Lahan, Peruntukan, Ketersediaan Lahan dan Penggunaan
lahan
Kesesuaian lahan adalah kecocokan lahan tertentu untuk penggunaan lahan tertentu. Sedangkan peruntukan lahan yaitu upaya untuk merencanakan suatu penggunaan lahan pada kawasan tertentu untuk fungsi-fungsi khusus, seperti fungsi perdagangan, perindustrian, dan lain-lain. Ketersediaan lahan merupakan ukuran luas lahan yg tersedia berupa lahan kosong atau cadangan lahan. Penggunaan lahan merupakan setiap bentuk campur tangan manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik materiil maupun spiritual (Arsyad, 1989). Penggunaan lahan dapat dikelompokkan menajdi penggunaan lahan pertanian dan non pertanian. Sedangkan menurut Luthfi Rayes (2007) penggunaan lahan secara umum digolongkan menjadi pertanian tadah hujan, pertanian irigasi, padang rumput, kehutanan datau daerah rekreasi. Penggunaan lahan pertaniana dapat dibagi menajdi tegalan, sawah, kebun, hutan, dan lain-lain. Sedangkan penggunaan lahan bukan pertanian dapat dibagi menjadi lahan permukiman, industri, perdagangan dan lain-lain.
2.2.7.3 Permukiman
34 tidak hanya untuk menyediakan tempat tinggal dan melindungi tempat bekerja tetapi juga menyediakan fasilitas untuk pelayanan, komunikasi, pendidikan dan rekreasi.
2.2.7.4 Ruang Terbuka Hijau (RTH)
35
BAB III
METODE ANALISIS
Sektor Input Analisis Output Teknik
Aanalisis
Kebijakan dan Kelembagaan
•Wawancara
pelaku industri
Analisis lembaga yang terlibat dalam aktivitas industri kreatif
Analisis program kerja disperindag terkait
Analisis program kerja dari paguyuban
pemanfaatan ruang kota surakarta
Fisik Dasar •Data Geologi
•Data Hidrologi
36
•Data Morfologi
•Data Riwayat salah satu faktor penentu dalam hasil semua SKL, dan
mengklasifikasikan ke dalam kelas pengembangan
•Data pendidikan
Analisis kemampuan SDM dalam industri
•Mengidentifikasi skill,
kreatifitas, dan
Mengetahui kemampuan SDM pelaku industri berdasar skill, kreatifitas,
37 formal terakhir
SDM pelaku industri
•Hasil perhitungan
IPM
pengetahuan dasar SDM pelaku industri kreatif
•Menghitung proporsi
SDM yang memiliki skill dan yang tidak memiliki skill
•Mengidentifikasi
pendidikan formal terakhir SDM pelaku industri kreatif
•Menghitung proporsi
penduduk berdasarkan terakhir SDM terhadap produk yang penduduk yang bekerja di bidang industri
•Menghitung proporsi
jumlah penduduk per mata pencaharian
•Membandingkan
jumlah penduduk bidang industri dan bidang lainnya
•Menarik kesimpulan
Mengetahui proporsi penduduk yang bekerja di bidang industry
Kualitatif dan Kuantitatif
38
penduduk usia produktif yang bekerja di bidang industri
•Menghitung proporsi
jumlah penduduk berdasarkan usia produktif
•Menghitung proporsi
usia produktif dan usia non produktif SDM pelaku industri kreatif rumah tangga
•Membandingkan
kinerja SDM usia produktif dan usia non produktif terkait proses produksi
•Menarik kesimpulan
proporsi penduduk usia produktif yang bekerja di bidang industri kreatif jumlah industri kreatif rumah tangga yang berbudaya
•Menghitung jumlah
industri kreatif rumah tangga yang memiliki nilai budaya dari tahun ke tahun (time series 15 tahun)
•Membandingkan
pertumbuhan jumlah industri kreatif rumah tangga yang memiliki nilai budaya setiap tahunnya
• Menarik kesimpulan
39 Ekonomi
Data produk industri kreatif rumah tangga yang berbudaya
Analisis potensi produk industri yang berbudaya di kawasan studi
Klasifikasi produk ke dalam jenis subsektor yang berbudaya
Analisis data industri kreatif rumah tangga tiap tahunnya di kawasan studi
Grafik
perkembangan jumlah industri di kawasan studi
Analisis proses produksi pada industri kreatif
Jangkauan bahan baku, proses, dan pemasaran produk
40 pinjaman Langkah analisis :
• Pengolahan data
• Penyajian data
• Kesimpulan
pinjaman
Sarana dan Prasarana
• Kondisi sarana
dan prasarana permukiman di kawasan industri kreatif rumah tangga
• Kondisi sarana
dan prasarana pendukung kegiatan industri rumah tangga di kawasan studi sarana dan prasarana permukiman dan sarana prasarana pendukung kegiatan industri kreatif rumah tangga rumah tangga di kawasan studi
Kuantitatif dan kualitatif
Analisis industri kreatif rumah tangga dan kualitatif
Analisis kebutuhan sarana dan prasarana permukiman kawasan dan kualitatif
Tranportasi
• Data Trayek
angkutan kota dan
• Analisis Sistem
Pergerakan
Peta Karakter Kawasan Studi
41
• Analisis Proyeksi
Arah Pengembangan
• Analisis Kualitas
Prasarana RTH, Peta lahan permukiman
Analisis ketersediaan RTH
42
• Melihat adanya
lahan kosong dari peta eksisting lahan
• Melihat peluang
lahan kosong dengan melakukan
pengembangan industri kreatif yang membutuhkan lahan peta pola ruang RTRW kota lahan untuk industri kreatif rumah tangga
• Membandingkan peta rencana pola ruang RTRW surakarta dengan peta eksisting lahan permukiman
43
BAB IV
ANALISIS
4.1 Analisis Kebijakan Kelembagaan
Kerangka Analisis
Input Proses Output/Hasil
• Data lembaga yang terkait dengan industri
Analisis lembaga industri dalam kawasan
Mengetahui lembaga yang terlibat dalam perindustrian dalam kawasan
• RENSTRA Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surakarta 2012-2032
Analisis program kerja Disperindag terkait kreatif rumah tangga
Analisis program kerja paguyuban industri
Mengetahui keterkaitan antar paguyuban melalui koordinasi satu sama lain
• Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Surakarta 2010-2015
Analisis arahan
pemanfaatan ruang Kota Surakarta
Mengetahui kesesuaian pemanfaatan ruang kawasan delineasi sesuai dengan arahan RTRW
4.1.1 Arahan Pemanfaatan Ruang Kota Surakarta
44 Kawasan II diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, olah raga dan perdagangan/jasa sebagai pusat pariwisata, olah raga dan industri kreatif;
Kawasan III diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk permukiman perdagangan dan jasa sebagai pusat permukiman dan perdagangan dan jasa;
Kawasan IV diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk permukiman, perdagangan dan jasa, industri kecil dan industri ringan,;
Kawasan V diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pariwisata, pendidikan tinggi dan industri kreatif ;
Kawasan V diarahkan dan ditetapkan dengan fungsi utama untuk kegiatan pemerintahan, pariwisata budaya, perdagangan dan jasa.
Gambar 4.1. Peta Pusat Pelayanan Kota Surakarta Sumber: RTRW Kota Surakarta Tahun 2012-2032
45 dan jasa, olah raga serta industri kreatif, sehingga tidak ada masalah dalam penggunaan lahan sebagai idustri kreatif karena telah sesuai dengan Rencana Tata Ruang yang berlaku.
4.1.2 Lembaga Industri
Lembaga yang berperan dalam Industri kreatif yaitu Pemerintah, khususnya Disperindag, Lembaga keuangan (Bank, Koperasi), serta lembaga dari dalam masyarakat sendiri yaitu paguyuban. Berdasarkan hasil survei, diperoleh data bahwa dari lembaga tersebut yang menjalankan perannya dengan baik sehingga dapat mendukung industri kreatif adalah dari pihak lembaga keuangan. Pemilik industri banyak yang menggunakan jasa lembaga tersebut guna memperkuat modal. Sedangkan pihak yang lain kurang berperan dalam industri kreatif ini.
Pemerintah yang berperan sebagai regulator, dalam menjalankan fungsinya tersebut kurang bisa dirasakan masyarakat. Berdasarkan Renstra Disperindag, telah ada program kerja untuk penyuluhan dan peningkatan industri kreatif, akan tetapi berdasarkan hasil survei, selama ini dukungan dari pemerintah belum mereka rasakan.
Kesadaran masyarakat untuk berkembang juga masih rendah. Terlihat dari rendahnya kemauan dari masyarakat industri untuk bekerjasama, bersatu padu membentuk kekuatan bersama melalui paguyuban. Beberapa kelompok industri memiliki paguyuban namun paguyuban tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya dan tidak memiliki program kerja.Peran Paguyuban
Dari hasil survei, diketahui bahwa tidak ada dukungan dari kelembagaan dari dalam masyarakat sendiri untuk mengembangkan Industri Kreatif. Hanya ada satu paguyuban dalam kawasan studi, yaitu paguyuban pengrajin blankon di Kelurahan Serengan. Dalam sejarahnya paguyuban ini pernah membantu mengupayakan agar para pengrajin blankon mendapat bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan industri kreatif. Akan tetapi paguyuban tersebut saat ini tidak aktif.
4.1.3 Peran Paguyuban
46 ada satu paguyuban dalam kawasan studi, yaitu paguyuban pengrajin blankon di Kelurahan Serengan. Dalam sejarahnya paguyuban ini pernah membantu mengupayakan agar para pengrajin blankon mendapat bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan industri kreatif. Akan tetapi paguyuban tersebut saat ini tidak aktif.
4.1.4 Peran Pemerintah
Dari hasil survei, diperoleh data bahwa bantuan pemerintah untuk mendukung industri kreatif sangat minim. Satu-satunya industri yang pernah mendapat bantuan dari pemerintah adalah industri blankon di Kelurahan Serengan, berupa mesin jahit serta cetakan blankon. Banyak pemilik industri yang tidak mengetahui cara mengajukan bantuan dari pemerintah. Peran lain pemerintah adalah menyelenggarakan pameran produk industri kreatif. Hal ini termasuk salah satu upaya pemerintah untuk mengangkat industri kreatif ke masyarakat luas.
4.1.5 Kesimpulan
Dalam mengembangkan Industri Kreatif Rumah Tangga, diperlukan sinergisitas dari semua lembaga terkait, yaitu Pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat industri itu sendiri. Sebagai regulator, hendaknya pemerintah lebih menekankan pendekatan kepada masyarakat tentang program yang dibuat, sehingga semua program yang tersusun benar-benar dapat dirasakan masyarakat dan mampu mengembangkan industri kreatif. Semangat dari dalam diri masyarakat tidak kalah penting. Seharusnya masyarakat diberikan sosialisasi tentang pentingnya kerjasama dan pagguyuban agar masyarakat mampu maju dan berkembang bersama-sama.
Input Analisis Hasil
Arahan Pemanfaatan Ruang Kota Surakarta
Kesesuaian kawasan delineasi dengan Arahan Pemanfaatan Ruang Kota Surakarta
Kawasan Delineasi telah sesuai dengan Arahan pemanfaatan Ruang Kota Surakarta
47 terlibat dalam aktivitas
industri kreatif dalam kawasan delineasi.
industri yang terlibat dalam aktivitas industri kreatif dalam kawasan delineasi.
industri yang terlibat dalam aktivitas industri kreatif dalam kawasan delineasi.
Data peran paguyuban terhadap aktivias industri kreatif di kawasan delineasi.
Menganalisis peran
paguyuban terhadap aktivias industri kreatif di kawasan delineasi
Mengetahui dampak adanya paguyuban terhadap aktivias industri kreatif di kawasan delineasi
Data peran Pemerintah terhadap aktivias industri kreatif di kawasan delineasi.
Menganalisis peran
Pemerintah terhadap aktivias industri kreatif di kawasan delineasi
Mengetahui kebijakan dari pemerintah terkait aktivitas industri kreatif dalam kawasan
SWOT
Berdasarkan hasil analisis kebijakan dan kelembagaan yang telah dilakukan ternyata menghasilkan karakteristik spesifik kawasan industri kreatif rumah tangga seperti berikut:
Strenght Weakness Opportunity Threat
Kawasan delineasi
Kawasan studi dengan aktivitas utama industri kreatif rumah tangga telah sesuai dengan arahan pada kawasan studi
48 kreatif
4.2 Analisis Fisik Dasar
Analisis fisik dasar yaitu analisis kemampuan lahan dan keadaan hidrologi kawasan perencanaan. Untuk mendapatkan analisis kemampuan lahan dan kaedaan hidrologi, perlu dilakukan 8 analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL), yaitu: satuan kemampuan lahan morfologi, satuan kemampuan lahan kemudahan dikerjakan, satuan kemampuan lahan kestabilan lereng, satuan kemampuan lahan kestabilan pondasi, satuan kemampuan lahan ketersediaan air, satuan kemampuan lahan drainase, satuan kemampuan lahan terhadap erosi, dan satuan kemampuan lahan terhadap bancana alam. Berikut disajikan tabel kerangka analisis fisik dasar.
Kerangka Anlisis Fisik Dasar
Input Proses Output
• Data Topografi
• Data Geologi
• Data Morfologi
• Data Hidrologi
• Data Riwayat
• Analisis Ketersediaan
Air
• Analisis Drainase
• Analisis Terhadap
Erosi
• Analisis Terhadap
Bencana Alam
49 4.2.1 SKL Morfologi
Tujuan melakukan analisi ini adalah unutk memilah bentuk bentang alam/morfologi pada wilayah dan/atau kawasan perencanaan yang mampu untuk dikembangkan sesuai dengan fungsinya. Berikut disajikan tabel hasil analisis satuan kemampuan lahan morfologi kawasan perencanaan berdasarkan Peraturan Menteri PU No.20/PRT/M/2007.
Tabel 4.1. Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Morfologi
Kelurahan Nilai SKL Morfologi Potensi Pengembangan
Danukusuman 5 Kemampuan lahan morfologi rendah
Permukiman dan budidaya
Joyotakan 5 Kemampuan lahan morfologi rendah
Permukiman dan budidaya
Keratonan 5 Kemampuan lahan morfologi rendah
Permukiman dan budidaya
Serengan 5 Kemampuan lahan
morfologi rendah
Permukiman dan budidaya
Tipes 5 Kemampuan lahan
morfologi rendah
Permukiman dan budidaya
50 Gambar 4.2. Peta SKL Morfologi Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga
Sumber : Hasil AnalisisTim Stupro Industri Kreatif Rumah Tangga 2014
Seluruh kelurahan yang menjadi kawasan perencanaan memiliki kemampuan morfologi yang sama sehingga memudahkan dalam proses pengembangan kawasan perencanaan agar sesuai dengan kemampuan lahannya sebagai kawasan fungsional industri kreatif rumah tangga.
4.2.2 SKL Kemudahan Dikerjakan
51 Tabel 4.2. Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Kemudahan Dikerjakan
Kelurahan Nilai SKL Kemudahan Dikerjakan
Potensi Pengembangan
Danukusuman 5 Kemudahan Tinggi Permukiman dan budidaya
Joyotakan 5 Kemudahan Tinggi Permukiman dan budidaya
Keratonan 5 Kemudahan Tinggi Permukiman dan budidaya
Serengan 5 Kemudahan Tinggi Permukiman dan budidaya
Tipes 5 Kemudahan Tinggi Permukiman dan budidaya
Sumber : Hasil AnalisisTim Stupro Industri Kreatif Rumah Tangga 2014
52 Sumber : Hasil AnalisisTim Stupro Industri Kreatif Rumah Tangga 2014
Seluruh kelurahan pada kawasan perencanaan memiliki tingkat kemudahan dikerjakan yang sama, hal ini akan mempermudah dalam proses pengembangan kawasan perencanaan karena pemberian perlakuan yang sama sehingga pengembangan kawasan perencanaan menjadi kawasan fungsional industri rumah tangga mejadi efektif dan efisien.
4.2.3 SKL Kestabilan Lereng
Tujuan melakukan analisis ini adalah untuk mengetahui tingkat kemantapan lereng di wilayah dan/atau kawasan dalam menerima beban pada pengembangan wilayah dan/atau kawasan. Berikut disajikan tabel hasil analisis satuan kemampuan lahan kestabilan lereng kawasan perencanaan berdasarkan Peraturan Menteri PU No.20/PRT/M/2007.
Tabel 4.3. Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Kestabilan Lereng
Kelurahan Nilai SKL Kestabilan Lereng
Potensi
Pengembangan
Danukusuman 3,4 Kestabilan Lereng Sedang
Permukiman dan budidaya
Joyotakan 3,4 Kestabilan Lereng Sedang
Permukiman dan budidaya
Keratonan 3,4 Kestabilan Lereng Sedang
Permukiman dan budidaya
Serengan 3,4 Kestabilan Lereng Sedang
Permukiman dan budidaya
Tipes 3,4 Kestabilan Lereng Sedang
Permukiman dan budidaya
53 Gambar 4.4. Peta SKL Kestabilan Lereng Kawasan Industri Kreatif Rumah Tangga
Sumber : Hasil AnalisisTim Stupro Industri Kreatif Rumah Tangga 2014
Seluruh kelurahan di kawasan perencanaan ini berada pada tingkat kestabilan lereng yang sama yaitu kestabilan lereng sedang, sesuai dengan kemampuan dan peruntukkan lahan untuk permukiman sehingga memudahkan proses pengembangan kawasan untuk kawasan fungsional industri kreatif rumah tangga yang akan dikembangkan di permukiman.
4.2.4 SKL Kestabilan Pondasi
54 Tabel 4.4. Hasil Analisis Satuan Kemampuan Lahan Kestabilan Pondasi
Kelurahan Nilai SKL Kestabilan Pondasi
Potensi
Pengembangan
Danukusuman 1,6
Daya Dukung dan Kestabilan Pondasi
Kurang
Permukiman dan budidaya
Joyotakan 1,6
Daya Dukung dan Kestabilan Pondasi
Kurang
Permukiman dan budidaya
Keratonan 1,6
Daya Dukung dan Kestabilan Pondasi
Kurang
Permukiman dan budidaya
Serengan 1,6
Daya Dukung dan Kestabilan Pondasi
Kurang
Permukiman dan budidaya
Tipes 1,6
Daya Dukung dan Kestabilan Pondasi
Kurang
Permukiman dan budidaya
Sumber : Hasil AnalisisTim Stupro Industri Kreatif Rumah Tangga 2014