* Semacam rangkuman catatan kuliah saya pada mata kuliah Konservasi Tanah dan Air.
** Saat ini berdomisili di Tobelo (Kab. Halmahera Utara). Pernah kuliah Program Studi Agroteknologi, Universitas Halmahera.
WANATANI SOLUSI TEPAT KONSERVASI TANAH DAN AIR
*
Oleh: Echo Tingginehe**
I. PENDAHULUAN
Tanah dan air adalah dua komponen yang paling penting bagi kelangsungan hidup manusia, bahkan dapat dikatakan manusia tidak dapat hidup tanpa adanya dua komponen itu. Air merupakan benda alam yang paling berharga (Arsyad, 2010). Dikatakan berharga karena semua kehidupan bumi tidak mungkin berlangsung jika tidak ada air. Sedangkan tanah sama pentingnya dengan air karena tanpa adanya tanah, tumbuhan tidak dapat tumbuh, berfotosintesis dan menyalurkan hasil fotosintesis ke semua mahluk hidup dalam rantai makanan. Karena peran air dan tanah yang sangat penting tersebut, maka manusia dan mahluk hidup lainnya sangat tergantung pada dua komponen ini.
Tanah dan air dewasa ini semakin sulit di dapatkan. Bahkan air dan tanah kini dapat pula menjadi komponen yang merusak bahkan menelan korban jiwa manusia dalam berbagai bentuknya: banjir, tanah longsor, dan sebagainya. Untuk mencegah dan/atau mengatasi kasus kerusakan tanah dan air ini, berbagai usaha untuk mengembalikan fungsi tanah dan air sebagaimana seharusnya terus digalakan berbagai pihak. Usaha-usaha ini kemudian dikenal dengan istilah Konservasi Tanah dan Air.
Dalam konservasi tanah dan air, dikenal tiga teknik atau metode, yakni; teknik dengan memanfaatkan tanaman atau tumbuhan (Teknik Vegetatif), teknik membangun bangunan (Teknik Mekanik), dan teknik menggunakan bahan kimia (Teknik Kimia). Dari ketiga teknik tersebut, Teknik Vegetatif merupakan yang paling mudah dan efektif serta menguntungkan.
Memanfaatkan tanaman atau tumbuhan dengan tujuan mengembalikan fungsi tanah dan air dikatakan efektif dan menguntungkan karena di daerah seluruh Indonesia terdapat beragam tanaman atau
tumbuhan yang berpotensi untuk digunakan dalam Teknik Vegetatif ini.
Salah satu teknik yang dikenal dalam teknik vegetatif adalah Wanatani atau
Agroforestry. Penerapan Wanatani sangat
pas jika dipakai dalam usaha konservasi tanah dan air, mengingat disamping memiliki fungsi utama meminimalisir kehilangan tanah dan air akibat erosi, teknik ini memberikan hasil tambahan bagi mereka yang mengaplikasikannya terutama dalam segi konsumtif dan ekonomi. Dengan demikian, penting untuk melihat lebih jauh bagaimana penerapan Wanatani untuk tujuan konservasi tanah dan air.
Uraian diatas menjadi alasan bagi saya menyusun tulisan ini. Disini akan dibahas tentang Wanatani atau Agroforestry dalam usaha konservasi tanah dan air, dan melihat beberapa contoh penerapannya. Tujuan tulisan ini adalah: (a) untuk mengetahui yang dimaksud dengan Wanatani dalam konservasi tanah dan air dan (b) untuk mengetahui contoh penerapan Wanatani dalam kegiatan konservasi tanah dan air. Sedangkan tulisan ini diharapkan dapat berguna sebagai sumber informasi kepada pembaca yang tertarik melakukan konservasi tanah dan air secara vegetatif, atau sebagai bahan referensi dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan konservasi tanah dan air.
II. WANATANI (Agroforestry)
www.renaisanstingginehe.wordpress.com 2 interaksi yang kuat, baik kompetitif atau
komplementer antara komponen pohon-pohonan dan bukan pepohonan; (2) terdapat perbedaan yang nyata antara masing-masing komponen Wanatani dalam dimensi fisik, umur, dan penampilan fisiologis; (3) Wanatani umumnya mengintegrasikan dua atau lebih jenis tanaman (atau tanaman dan ternak), dimana paling tidak salah satunya adalah tanaman berkayu; (4) Wanatani selalu mempunyai dua atau lebih hasil; (5) siklus Wanatani selalu lebih dari satu tahun; (6) walaupun dalam bentuk sederhana, secara ekologi dan ekonomi Wanatani lebih kompleks daripada sistem usaha tani monokultur; (7) Wanatani dapat diterapkan pada lahan-lahan yang berlereng curam, berbatu-batu, berawa-rawa, ataupun tanah marjinal dimana sistem usaha tani lainya kurang cocok.
Subagyono et al., (2003) mengatakan bahwa Penerapan Wanatani pada lahan dengan lereng curam atau agak curam mampu mengurangi tingkat erosi dan memperbaiki kualitas tanah, dibandingkan apabila lahan tersebut gundul atau hanya ditanami tanaman semusim. Acuan pola tanaman dalam usaha Wanatani berdasarkan kemiringan lereng dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah.
Sistem Wanatani pada umumnya telah lama dikenal oleh petani di seluruh dunia. Dengan mengkombinasikan tanaman pepohonan dan tanaman semusim lain, petani dapat memperoleh hasil-hasil hutan dan hasil tanaman semusim untuk keperluan keluargannya. Lebih lanjut Subagyono et al., (2003) mengatakan Sistem Wanatani telah lama dikenal masyarakat Indonesia dan berkembang menjadi beberapa macam, yaitu
Pertanaman Sela, Pertanaman Lorong, Talun atau Hutan Rakyat, Kebun Campuran, Pekarangan, Tanaman Pelindung atau Multistrata, dan Silvipastura. Sedangkan Santoso et al., (____) dalam Konservasi Tanah Vegetatif mengatakan pada saat ini telah dikenal enam macam kegiatan Wanatani, yaitu: Tanaman Sela, Talun, Kebun Campuran, Pekarangan, Tanaman Pelindung, dan Pagar Hidup.
Berdasarkan dua pendapat tersebut, maka umumnya wanatani terbagi dalam menjadi beberapa bentuk: (1) Pertanaman Sela, (2) Pertanaman Lorong, (3) Talun atau Hutan Rakyat, (4) Kebun Campuran, (5) Pekarangan, (6) Tanaman Pelindung atau Multistrata, (7) Silvipastura, dan (8) Pagar hidup. Penjelasan lebih lanjut tentang bentuk-bentuk Wanatani akan dijelaskan secara singkat di bawah ini.
2.1 Pertanaman Sela
Subagyono et al., (2003) mendefinisikan Pertanaman Sela adalah pertanaman campuran antara tanaman tahunan dengan tanaman semusim. Sistem ini banyak dijumpai di daerah hutan atau kebun yang dekat dengan lokasi permukiman. Pertanaman Sela menggabungkan tanaman tahunan dan tanaman semusim. Tujuannya adalah agar petani mendapatkan pemasukan dari hasil tanaman semusim sementara menunggu hasil tanaman tahunan. Hal tersebut merupakan keuntungan dari penerapan teknik ini. Sedangkan kerugiannya adalah tanaman semusim atau tanaman tahunan dapat menjadi penyebab penyakit atau hama bagi tanaman lain disekitarnya. Pola penanaman dengan teknik ini hanya baik dilakukan pada lehan dengan kemiringan lereng <30% (Santoso et al., ____).
2.2 Pertanaman Lorong
Sistem Pertanaman Lorong atau alley
cropping adalah suatu sistem dimana
tanaman pagar pengontrol erosi berupa barisan tanaman yang ditanam rapat mengikuti garis kontur, sehingga membentuk lorong-lorong dan tanaman semusim berada di antara tanaman pagar tersebut (Subagyono et al., 2003). Sistem
Gambar 1. Acuan umum proporsi tanaman pada kemiringan lahan yang berbeda (P3HTA, 1987)
www.renaisanstingginehe.wordpress.com 3 ini sesuai untuk diterapkan pada lahan
kering dengan kelerengan 3-40%. Contoh pertanaman lorong dapat dilihat pada Gambar 2. Penanaman tanaman pagar akan mengurangi 5-20% luas lahan efektif untuk budi daya tanaman sehingga untuk tanaman pagar dipilih dari jenis tanaman yang memenuhi persyaratan di bawah ini (Agus et al., 1999) dikutip dalam Teknik Konservasi Tanah Secara Vegetatif (Subagyono et al., 2003):
a. Merupakan tanaman yang mampu mengembalikan unsur hara ke dalam tanah, misalnya tanaman penambat nitrogen (N2) dari udara.
b. Menghasilkan banyak bahan hijauan. c. Tahan terhadap pemangkasan dan dapat
tumbuh kembali secara cepat sesudah pemangkasan.
d. Tingkat persaingan terhadap kebutuhan hara, air, sinar matahari dan ruang tumbuh dengan tanaman lorong tidak begitu tinggi.
e. Tidak bersifat alelopati (mengeluarkan zat beracun) bagi tanaman utama. f. Sebaiknya mempunyai manfaat ganda
seperti untuk pakan ternak, kayu bakar, dan penghasil buah sehingga mudah diadopsi petani.
Gambar 2. Contoh penerapan teknik
penanaman lorong dengan menggunakan Flemingia
congesta sebagai tanaman pagar (Subagyono et al.,
2003).
2.3 Talun atau Hutan Rakyat
Talun adalah lahan diluar areal pemukiman yang ditumbuhi oleh tanaman hutan dan tanaman tahunan lainnya (Santoso et al., ____). Subagyono et al., (2003) juga memberikan definisi Talun yaitu lahan di luar wilayah permukiman
penduduk yang ditanami tanaman tahunan yang dapat diambil kayu maupun buahnya. Dengan menerapkan teknik talun, erosi yang terjadi dapat diminimalisir dan juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang bermukum di sekitarnya.
2.4 Kebun Campuran
Kebun Campuran merupakan talun tetapi telah mendapat perawatan yang teratur dari masyarakat. Dalam Kebun Campuran biasanya terdiri dari berbagai tanaman tahunan yang ditanam dengan jarak tertentu. Jenis tanaman tahunan yang sengaja ditanam dalam Kebun Campuran seperti petai, jengkol, aren, melinjo, sengon dan buah-buahan (Santoso
et al., ____).
2.5 Pekarangan
Arsyad, (2010) dalam Konservasi Tanah dan Air, mendefinisikan Pekarangan sebagai kebun campuran yang terdiri atas campuran yang tidak teratur antara tanaman tahunan yang menghasilkan buah-buahan dan sayuran serta tanaman semusim yang terletak di sekitar rumah. Tanaman yang umumnya ditanam di lahan Pekarangan petani adalah ubi kayu, sayuran, tanaman buah-buahan seperti tomat, pepaya, tanaman obat-obatan seperti kunyit, temulawak, dan tanaman lainnya (Subagyono et al., 2003).
2.6 Tanaman Pelindung
www.renaisanstingginehe.wordpress.com 4
2.7 Silvipastura
Sistem Silvipastura sebenarnya adalah bentuk lain dari sistem tumpang sari, tetapi yang ditanam di sela-sela tanaman tahunan bukan tanaman pangan melainkan tanaman pakan ternak seperti rumput gajah
(Pennisetum purpureum), rumput raja
(Penniseitum purpoides), dan lain-lain.
Silvipastura umumnya berkembang di daerah yang mempunyai banyak hewan ruminansia. Hasil kotoran hewan ternak tersebut dapat dipergunakan sebagai pupuk kandang, sementara hasil hijauannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Sistem ini dapat dipakai untuk mengembangkan peternakan sebagai komoditas unggulan di suatu daerah (Subagyono et al., 2003).
2.8 Pagar Hidup
Pagar Hidup adalah sistem pertanaman yang memanfaatkan tanaman sebagai pagar untuk melindungi tanaman pokok (Subagyono et al., 2003). Untuk tanaman pagar dapat dipilih jenis pohon yang berfungsi sebagai sumber pakan ternak, jenis tanaman yang dapat menghasilkan kayu bakar, atau jenis-jenis lain yang memiliki manfaat ganda. Tanamantanaman tersebut ditanam dengan jarak yang rapat (< 10 cm). Karena tinggi tanaman bias mencapai 1,5 – 2 m maka pemangkasan sebaiknya dilakukan 1-2 kali setahun (Agus
et al., 1999), dirujuk dari Teknik Vegetatif
Konservasi Tanah (Subagyono et al., 2003). Contoh penerapan teknik Pagar Hidup dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah.
III. WANATANI SOLUSI TEPAT KONSERVASI TANAH DAN AIR
Klasifikasi teknik Wanatani
(Agroforestry) dan bagian-bagiannya,
secara garis besar dapat saya jelaskan melalui skema pada Gambar 4 dibawah.
Gambar 4. Skema metode konservasi tanah dan
air. Agroforestry merupakan salah satu teknik
konservasi tanah dan air.
Wanatani saya katakan sebagai solusi tepat untuk usaha konservasi karena dari berbagai teknik konservasi yang ditawarkan, teknik ini lebih menjanjikan atau mudah untuk dilakukan. Mudah dilakukan karena selain Teknik Vegetatif (Wanatani), teknik-teknik konservasi lainnya sangat tidak mungkin (lebih tepat tidak cocok) untuk dilakukan oleh masyarakat biasa –atau masyarakat umum- yang dari segi ekonomi tergolong dalam masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah. Mengingat teknik-teknik lainnya memerlukan biaya yang mahal dalam penerapannya, selain itu tidak memberikan manfaat secara nyata yang dibutuhkan masyarakat. Misalnya saja penggunaan teknik mekanik dan kimia yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, hal ini membuat masyarakat kita tidak dapat berperan serta dalam kegiatan konservasi. Atau penggunaan teknik vegetatif lainnya yang tidak memberikan manfaat langsung pada masyarakat sekitar pun juga akan membuat masyarakat yang merupakan pihak yang secara langsung terlibat dengan tanah dan air di masing-masing daerah menjadi enggan melakukan kegiatan-kegiatan konservasi yang demikian.
Masyarakat kita sebenarnya telah mempunyai pemahaman tentang bagaimana pentingnya menanam tanaman demi keperluan hidupnya dan keluarga.
www.renaisanstingginehe.wordpress.com 5 Untuk memaksimalkan kegiatan konservasi
tanah dan air, saya rasa dengan menambah pengetahuan tentang bagaimana cara budidaya tanaman yang baik dan tentang bagaimana peran tanaman dalam meminimalisir dampak erosi, maka dengan sendirinya mereka sedia mempraktekan. Wanatani atau Agroforestry sendiri dalam penerapannya terbagi lagi menjadi beberapa teknik yang kian praktis dalam penerapannya (lihat Gambar 4. Diatas). Dibandingkan dengan metode lainnya dalam teknik konservasi secara vegetatif, saya melihat Wanatani lebih efektif dan efisien jika diaplikasikan oleh masyarakat di Indonesia.
Teknik Wanatani dengan
menggabungkan tanaman tahunan dan tanaman semusim dalam konservasi tanah dan air, juga dapat memberi manfaat bagi masyarakat disekitarnya baik secara langsung dengan menyediakan bahan pangan, obat-obatan, pakan ternak dan sebagainya, juga dapat bermanfaat secara tidak langsung yakni menyediakan oksigen (O2) sebagai hasil sampingan fotosintesis.
IV. KESIMPULAN
Pemilihan teknik konservasi untuk mencegah atau menanggulangi kerusakan tanah dan air haruslah selektif dan disesuaikan dengan keadaan lingkungannya (alam), jenis kerusakan, sosiologis kemasyarakatannya, dan berbagai aspek lainnya yang berkaitan dengan dapat-tidaknya suatu teknik konservasi dilakukan. Di Indonesia, Teknik Vegetatif (khususnya Wanatani) sangat baik digunakan dalam rangka konservasi tanah dan air, mengingat masyarakat kita dalam melakukan suatu aktifitas haruslah membawa keuntungan baginya. Dibanding dengan pilihan teknik konservasi lainnya Wanatani adalah tepat untuk dilakukan karena teknik ini mudah, murah, menguntungkan, efektif, dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air
(Edisi Kedua). IPB Press. Bogor.
Bahtiar A. 2007. Makalah Polusi Air Tanah Akibat Limbah Industri dan Rumah
Tangga Serta Pemecahannya. Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran.
Mulyoutami et al., ____. Pengetahuan Lokal Petani Dan Inovasi Ekologi Dalam Konservasi Dan Pengolahan Tanah Pada
Pertanian Berbasis Kopi Di Sumberjaya,
Lampung Barat. Tidak diterbitkan. Nasoetion A. H. 2009. Pengantar Ke
Ilmu-ilmu Pertanian. Litera AntarNusa.
Jakarta.
Santoso et al., ____. Teknologi Konservasi
Tanah Secara Vegetatif. Tidak
diterbitkan.
Subagyono K. et al., 2003. Teknik
Konservasi Tanah Secara Vegetatif.