• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perwalian Pemeliharaan Anak dan Status A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perwalian Pemeliharaan Anak dan Status A"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PERWALIAN PEMELIHARAAN ANAK DAN

STATUS ANAK

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tarikh Tasyri'

Dosen Pengampu: Ali Kadarisman, M.HI.

Oleh Kelompok: 10 (Sepuluh) Romadhon Nugroho (NIM. 13210109) Apap Lubis (NIM. 13210125) Amalia Dewi Agustin (NIM. 13210127)

KELAS D

JURUSAN AL-AKHWAL ASY-SYAKHSHIYYAH

FAKULTAS SYARIAH

(2)

PEMBAHASAN

A. Perwalian

1. Pengertian Perwalian

Secara etimologi (bahasa), kata perwalian berasal dari kata wali, dan jamak “awliya”. Kata ini berasal dari kata Arab yang berarti "teman", "klien", "sanak","pelindung". Umumnya kata tersebut menunjukkan arti "sahabat Allah" dalam frase walīyullah.

Sementara makna perwalian dalam konteks hukum dan kajian perkawinan adalah perwalian sebagaimana terdapat dalam Pasal 1 huruf (h) Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang menyatakan bahwa perwalian adalah “Perwalian adalah kewenangan yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan hukum sebagai wakil untuk kepentingan dan atas nama anak yang tidak mempunyai kedua orang tua, orang tua yang masih hidup, tidak cakap melakukan perbuatan hukum.”1

Dari definisi tersebut tedapat beberapa unsur yang harus diperhatikan, yaitu : kewenangan, bertindak sebagai wakil, kepentingan anak, tidak mempunyai orang tua, orang tua tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Yang dimaksud dengan kewenagan dalam definisi tersebut adalah kewenagan yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan perwalian berdasarkan penetapan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Kemudian dalam definisi tersebut ada kata bertindak sebagai wakil, artinya wali tersebut merupakan sebagai pengganti dari orang sebenarnya, yaitu kedua orang tuanya dalam melakukan perbuatan hukum untuk kepentingan anak. Lalu dalam definisi terdapat kata “Tidak mempunyai orang tua atau tidak cakap melakukan perbuatan hukum” berarti kedua orang tuanya meninggal dunia atau hilang dan boleh jadi pergi tanpa kabar apapun kepada anaknya, sehingga dapat menelantarkan anak. Yang dimaksud dengan tidak cakap hukum adalah orang tidak berhak dalam melakukan

(3)

perbuatan hukum. Orang yang tidak cakap hukum antara lain : orang gila, anak-anak dan orang dibawah pengampuan.

Dalam fikih Islam Perwalian terbagi 3 macam, yakni sebagai berikut:

a. Perwalian jiwa (diri pribadi) b. Perwalian harta

c. Perwalian jiwa dan harta

Perwalian bagi anak yatim atau orang yang tidak cakap bertindak dalam hukum seperti orang gila adalah perwalian jiwa dan harta. Ini artinya si wali berwenang mengurus pribadi dan mengelola pula harta orang di bawah perwaliannya. Hal tersebut sebagaimana dinyatakan oleh Hasyim2 yaitu perwalian terhadap anak menurut hukum Islam meliputi

perwalian terhadap diri pribadi anak tersebut dan perwalian terhadap harta bendanya. Perwalian terhadap diri pribadi anak adalah dalam bentuk mengurus kepentingan diri si anak, mulai dari mengasuh, memelihara, serta memberi pendidikan dan bimbingan agama. Pengaturan ini juga mencakup dalam segala hal yang merupakan kebutuhan si anak. Semua pembiayaan hidup tersebut adalah menjadi tanggung jawab si wali. Sementara itu, perwalian terhadap harta bendanya adalah dalam bentuk mengelola harta benda si anak secara baik, termasuk mencatat sejumlah hartanya ketika dimulai perwalian, mencatat perubahan-perubahan hartanya selama perwalian, serta menyerahkan kembali kepada anak apabila telah selesai masa perwaliannya karena si anak telah dewasa dan mampu mengurus diri sendiri.

2. Landasan Hukum Perwalian

Dalam konteks sistem hukum Indonesia, landasan hukum

(4)

(1) Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua, berada di bawah kekuasaan wali.

(2) Perwakilan itu mengenai pribadi anak yang bersangkutan maupun harta bendanya.

Kemudian dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) BAB XV mengenai perwalian Pada Pasal 107 ayat (1-4) dinyatakan bahwa: (1) Perwalian hanya terhadap anak yang belum berumur 21 tahun dan atau belum pernah melangsungkan perkawinan

(2) Perwalian meliputi perwalian terhadap diri dan harta kekayaan. (3) Bila wali tidak mampu berbuat atau lalai melaksanakan tugas perwaliannya, maka pengadilan agama dapat menunjuk salah seorang kerabat untuk bertindak sebagai wali atas permohonan kerabat tersebut, (4) Wali sedapat-dapatnya diambil dari keluarga anak tersebut atau orang lain yang sudah dewasa, berpikir sehat, adil, jujur dan berkelakuan baik, atau badan hukum.

Sedangkan Dalam menetapkan hukum dan ketentuan mengenai perwalian, Islam merujuk kepada firman Allah SWT mengenai pentingnya pemeliharaan terhadap harta, terutama pemeliharaan terhadap harta anak yatim yang telah ditinggalkan oleh orang tuannya. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah dewasa) harta mereka, janganlah kamu menukar yang baik dengan yang buruk, dan jangalah kamu makan harta mereka bersama hartamu, sungguh (tindakan menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar”.3

Ayat ini menjadi suatu landasan dalam memelihara harta anak yatim yang telah ditinggalkan orang orang tuanya atau ahli warisnya. Dimana dalam ayat tersebut secara jelas menyatakan mengenai pemeliharaan dan perlindungan terhadap harta sampai mereka telah cakap dalam pengelolaannya (dewasa). Artinya jika anak-anak yatim tersebut belum

(5)

cakap hukum, maka pengelolaan harta tersebut harus dijaga dan dipelihara oleh walinya. Hal ini sebagaimana kemudian dijelaskan pada ayat berikutnya.Allah berfirman:

“Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka hartanya. Dan janganlah kamu memakannya (harta anak yatim) melebihi batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menyerahkannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (diantara pemeliharaan itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang patut. Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas”.4

Selain adanya perintah untuk menjaga anak yatim tersebut, baik dalam konteks penjagaan jiwa dan perkembangan mereka, juga penjagaan terhadap harta mereka. Dan Allah sangat murka jika orang yang kemudian menjadi wali tidak dapat menjaga dan memelihara harta tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”.5

(6)

riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, menuduh berzina wanita mukmin yang memelihara kehormatannya”.6

3. Wewenang dan Larangan Bagi Wali

Dalam sistem hukum Indonesia, wali memiliki tanggung jawab yang bertujuan untuk memelihara akan kesejahteraan dari pada yang diperwalikan, termasuk dalam pemeliharaan harta benda yang

dipertinggalkan. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam pasal 110-112 KHI7, yaitu:

Pasal 110

(1) Wali berkewajiban mengurus diri dan harta orang yang berada di bawah perwaliannya dengan sebaik-baiknya dan berkewajiban memberikan bimbingan agama, pendidikan dan keterampilan lainnya untuk masa depan orang yang berada di bawah perwaliannya.

(2) Wali dilarang mengikatkan, membebanni dan mengasingkan harta orang yang berada dibawah perwaliannya, kecuali bila perbuatan

tersebut menguntungkan bagi orang yang berada di bawah perwaliannya yang tidak dapat dihindarkan.

(3) Wali bertanggung jawab terhadap harta orang yang berada di bawah perwaliannya, dan mengganti kerugian yang timbul sebagai akibat kesalahan atau kelalaiannya.

(4) Dengan tidak mengurangi kententuan yang diatur dalam pasal 51 ayat (4) Undang-undang No.1 tahun 1974, pertanggungjawaban wali tersebut ayat (3) harus dibuktikan dengan pembukuan yang ditutup tiap satu tahun satu kali.

Pasal 111

(1) Wali berkewajiban menyerahkan seluruh harta orang yang berada di bawah perwaliannya, bila yang bersangkutan telah mencapai umur 21 tahun atau telah menikah.

6 HR Abu Hurairah, dalam Ringkasan Shahih Bukhari – Muslim Jilid III, 2008.

(7)

(2) Apabila perwalian telah berakhir, maka Pengadilan Agama

berwenang mengadili perselisihanantara wali dan orang yang berada di bawah perwaliannya tentang harta yang diserahkan kepadanya.

Pasal 112

Wali dapat mempergunakan harta orang yang berada di bawah perwaliannya, sepanjang diperlukan untuk kepentingannya menurut kepatutan atau bil ma`ruf kalau wali fakir.

Sementara dalam Pasal 51 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 menyatakan bahwa:

(1) Wali wajib mengurus anak yang berada dibawah kekuasaannya dan harta bendanya sebaik baiknya dengan menghormati agama kepercayaan anak itu

(2) Wali wajib membuat daftar harta benda anak yang berada dibawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua peru bahan-perubahan harta benda anak tersebut

(3) Wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada dibawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan kesalahan dan kelalaiannya

(4) Wali wajib membuat daftar harta benda yang berada di bawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua perubahan-perubahan harta benda anak atau anak-anak itu.

(5) Wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di bawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan atau kelalaiannya.

Mengenai larangan bagi wali, telah diatur di dalam Pasal. 52 UU No.1 tahun 1974 menyatakan bahwa wali tidak diperbolehkan

memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 tahun atau belum melakukan

(8)

terhadap kedudukan dan wewenangan seorang wali dalam menjaga dan atau memelihara baik jiwa dan harta anak yatim.

4. Orang-orang yang Berhak Menjadi Wali Nikah

Susunan wali menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagaimana dalam Pasal 21 KHI terdapat empat kelompok wali, yaitu: Pertama, kelompok kerabat laki-laki garis lurus keatas yakni ayah, kakek dari pihak ayah dan seterusnya.

Kedua, kelompok kerabat saudara laki kandung atau saudara laki-laki seayah, dan keturunan laki-laki-laki-laki mereka.

Ketiga, kelompok kerabat paman, yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara seayah dan keturunan laki-laki mereka.

Keempat, kelompok saudara laki-laki kandung kakek, saudara laki-laki seayah dan keturunan laki-laki mereka.

Pemindahan hak wali dari wali yang paling dekat kekerabatannya dengan calon mempelai perempuan kepada wali berikutnya, menurut ketentuan Pasal 22 KHI adalah karena wali yang paling dekat itu tidak memenuhi syarat sebagai wali nikah, yaitu tidak memilki kebebasan untuk bertindak, tidak berakal sehat, belum baligh dan bukan seorang muslim, atau wali nikah yang paling dekat itu menderita tuna wicara, tuna rungu dan atau sudah udzur.

Ketentuan Pasal 23 ayat (1) KHI menyatakan bahwa wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah, apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau ghaib atau enggan (adhal). Ketentuan ini menunjukan bahwa wali hakim belum dapat bertindak sebagai wali nikah, apabila seluruh kelompok wali masih ada dan diketahui tempat tinggalnya, kecuali dalam hal adlalnya wali.

B. Pemeliharaan Anak Dan Tanggung Jawab Terhadap Anak Bila Terjadi Perceraian

(9)

Pemeliharaan anak adalah pemenuhan berbagai aspek kebutuhan primer dan sekunder anak. Pemeliharaan meliputi berbagai aspek, yaitu pendidikan, biaya hidup, ketentraman, kesehatan, dan segala aspek yang berkaitan dengan kebutuhannya. Dalam agama Islam diungkapkan bahwa tanggung jawab ekonomi berada dipundak suami sebagai kepala rumah tangga, dan tidak menutup kemungkinan tanggung jawab itu berarih kepada istri untuk membantu suaminya bila suami tidak mampu melaksanakan kewajibannya. Oleh karena itu, amat penting mewujudkan kerja sama dan saling membantu antara suami dan istri dalam memelihara anak sampai ia dewasa. Hal dimaksud pada prinsipnya adalah tanggung jawab suami istri kepada anak-anaknya. KHI menjelaskan sebagai berikut:

Pasal 98 KHI

(1) Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun, sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsung perkawinan.

(2) Orantuanya mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum didalam dan diluar pengadilan.

(3) Pengadilan agama dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang mampu menunaikan kewajiban tersebut apabila kedua orang tuanya meninggal.

(10)

keluarganya, hal ini sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 233.

Selain itu, hak anak terhadap orang tuanya adalah anak mendapat pendidikan, baik menulis maupan membaca, pendidikan keterampilan, dan mendapatkan rezeki yang halal. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW. Sebagai berikut:

ابيط لا هقزريل ناو ةيامرلاو ةحابساتو ةباتكلا هملعي نا دلاو يلع دلولا قح

)

يقحيبلا هاور

(

Hak seorang anak kepada orang tuanya adalah menulis, berenang,

memanah, dan mendapat rezeki yang halal. (Riwayat Baihaki)

Berdasarkan hadits tersebut, pasal 45, 46, dan 47 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkwinan memuat garis hukum sebagai berikut.

Pasal 45

(1) Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya

(2) Kewajiban orang tua yang dimaksud ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri, kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara orang tua putus. Pasal 46

(1) Anak wajib menghormati orang tua dan menaati kehendak mereka yang baik.

(2) Jika anak lebih dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orang tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas, bila mereka itu memerlukan bantuannya.

Pasal 47

(11)

Selain kewajiban kewajiban di atas, kewajiban lain yang menjadi tanggung jawab orang tua, yaitu hak kebendaan. Pasal 106 KHI mengungkapkan garis hukum sebagai berikut.

Pasal 106 KHI

(1) Orang tua berkewajiban merawat dan mengembangkan harta anaknya yang belum dewasa atau dibawah pengampuan, dan tidak diperbolehkan memindahkan atau mengadaikan kecuali karena keperluan yang mendesak jika kepentingan dan kemaslahatan sang anak itu menghendaki atau kenyataan yang tidak dapat dihindarkan lagi.

(2) Orang tua bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan dan kelalaian dari kewajiban tersebut pada ayat (1)

Selain KHI tersebut, pasal 48 Undang-Undang perkawinan menegaskan bahwa orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau belum melangsungkan perkawinan kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya.

Kalau seorang bayi disusukan oleh orang yang bukan melahirkannya, maka perempuan yang menyuusui bai tersebut ditanggung oleh ayah dari bayi yang disusuinya itu. Hal ini diatur oleh Pasal 104 KHI sebagai berikut.

Pasal 104 KHI

(1) Semua biaya penyusuan anak dipertanggungjawabkan kepada ayahnya. Apabila ayahnya telah meninggal dunia, maka biaya penyusuan dibebankan kepada orang yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayahnya atau walinya

(12)

Demikian uraian mengenai ketentuan pemeliharaan anak dan batas-batasnya yang menjadi tanggung jawab orang tua terutama ayah selaku kepala rumah tangga dan pelindung keluarga, bagi istri dan anaknya. 2. Tanggung Jawab Terhadap Anak Bila Terjadi Perceraian

Pada dasarnya orang tua bertanggung jawab atas pemeliharaan anak-anaknya, baik orang tua dalam keadaan rukun ataupun sudah dalam keadaan bercerai.

Pemeliharaan anak bisa disebut hadanah dalam kajian fiqh.

Hadanah adalah memelihara seorang anak yang belum mampu hidup

mandiri yang meliputi pendidikan dan segala sesuatu yang diperlukan baik dalam bentuk melaksanakan maupun dalam bentuk menghindari sesuatu yang dapat merusaknya. Hal ini dirumuskan garis hukumnya dalam pasal 41 Undang-Undang perkawunan sebagai berikut.

Pasal 41 UUP

Akibat putusnya perkawinan karena perceraian

a. Baik ibu atau ayah tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak pengadilan memberikan keputusannya

b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu: bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri.

(13)

penekanannya berpokuskan kepada nilai materiilnya, sedangkan pasal 105 Kompilasi Hukum Islam yang penekanannya meliputi kedua aspek tersebut, yakni sebagai berikut.

Pasal 105 KHI

Dalam hal ini terjadi perceraian

a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya

b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaanya.

c. Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya

Ketentuan KHI tersebut, tampak bahwa tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya tidak dapat gugur walaupun ia sudah cerai dengan istrinya atau ia sudah kawin lagi. Dapat juga dipahami ketika anak itu masih kecil (belum baligh) maka pemeliharaannya merupakan hak ibu, namun biaya ditanggung oleh ayahnya. Selain itu, anak yang belum

mumayyiz maka ibu mendapat prioritas utama untuk mengasuh anaknya.

Apabila anak sudah mumayyiz maka anak dapat memilih apakah ia memilih ayahnya atau ibunya untuk memeliharanya. Lain halnya bila orang tua lalai dalam melaksanakan tanggung jawab, baik dalam merawat dan mengembangkan harta anaknya. Orang tua tersebut dapat ducabut atau dialihkan kekuasannya bila ada alasan-alasan yang menuntut pengadilan tersebut. Hal ini berdasarkan pada pasal 49 Undang-Undang perkawinan yang berbunyi sebagai berikut.

Pasal 49 UUP

(1) Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang sudah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan pengadilan dalam:

(14)

(2) Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih tetap berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.

Kalau perceraian dilakukan olleh pegawai negeri, orang tua terikat dalam pelaksanaan tanggung jawab terhadap anaknya. Hal ini ditur oleh pemerintah melalui surat Edaran Kepala Badan Adminidtrasi Kepegawaian Negara (BAKN) Nonor 08/SE/1983 pada poin 19 yang menyatakan.

Apabila perceraian terjadi atas kehendak pegawai negeri sipil pria, maka ia wajib menyerahkan sebagian gajinya untuk penghidupan bekas istri dan anak-anaknya, dengan ketentuan sebagai berikut.

a. Apabila anak mengikuti bekas itri, maka pembagian gaji ditetapkan sebagai berikut.

(1) Sepertiga gaji untuk pegawai negeri sipil pria yang bersangkutan

(2) Sepertiga gaji untuk istrinya

(3) Sepertiga gaji untuk anaknya yang diterimakan kepada bekas istrinya

b. Apabila perkawinan tidak menghasilkan anak, maka gaji dibagi dua, yaitu setengah untuk pegawai negeri sipil pria yang bersangkutan dan setengah untuk istrinya

c. Apabila anak mengikuti pegawai negeri sipil pria yang bersangkutan maka pembagian gaji ditetapkan sebagai berikut.

(1) Sepertiga gaji untuk pegawai negeri sipil pria yang bersangkutan

(2) Sepertiga gaji untuk bekas istrinya

(3) Sepertiga gaji untuk anaknya yang diterimakan kepada pegawai negeri sipil pria yang bersangkutan

(15)

bersangkutan dan yang 2 (dua) orang mengikuti bekas istri. Dalam hal ini demikian, maka gaji yang menjadi hak anak itu dibagi sebagai berikut

(1) 1/3 (sepertiga) dari 1/3 (sepertiga) gaji = 1/9 (sepersembilan) gaji diterimakan kepada pegawai nengeri sipil yang bersangkutan

(2) 2/3 (dua pertiga) dari 1/3 (sepertiga) gaji = 2/9 (dua persembilan) gaji diterimakan kepada bekas istrinya

Ketentuan diatas tidak berlaku apabila perceraian terjadi atas kehendak istri yang bersangkutan, kecuali istri meminta cerai karena dimadu maka sesudah perceraian terjadi bekas istri tersebut berhak atas bagian gaji tersebut. Selain itu, apabila bekas itri yang bersangkutan kawin lagi, pebayaran bagian gaji dihentikan terhitung mulai bulan berikutnya bekas istri yang dimaksud kawin lagi. Demikian juga bekas istri yang bersangkutan kawin lagi, sedangkan semua anak ikut kepada kepada bekas istri tersebut, maka 1/3 gaji tetap menjadi hak anak yang diterimakan kepada bekas istri yang bersangkutan. Lain halnya, pada waktu perceraian sebagian nak mengikuti pegawai negeri sipil dan sebagian lagi mengikuti bekas istri dan bekas istri kawin lagi dan anak tetap mengikutinya, maka bagian gaji yang hak anak itu tetap diterimakan kepada bekas istri yang dimaksud.

Aturan diatas diberlakukan kepada pegawai negeri sipil, muatan ketentuannya dapat juga diberlakukan kepada suami istri yang bercerai bila mereka mempunyai anak. Karena masa depan anak adalah tanggung jawab dari kedua orang ruanya.

C. Asal Usul Anak

(16)

hubungan nasab dengan ibu atau bapak zinanya, karena itu pula anak zina tidak bisa mewarisi keduanya8

Di dalam Fikh Islam, tidak ditemukan definisi yang jelas dan tegas berkenaan dengan anak yang sah, namun berangkat dari definisi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits, dapat diberikan batasan, anak yang sah adalah anak yang lahir oleh sebab dan di dalam perkawinan yang sah. Selain itu, disebut sebagai anak zina (walad al-zina) yang hanya memiliki hubungan nasab dengan ibunya.

Secara Implisit Al-Qur’an, Surat Al-Mu’minun ayat 5-6 menyatakan :

“ Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”. Selanjutnya didalam surat al-isyra’ayat 32 juga dijelaskan: “Jangan kamu dekati zina,sesungguhnya zina adalah perbuatan yang keji dan seburuk- buruk jalan”.

Larangan-Larangan Al-Qur’an di atas, tidak saja dimaksudkan saja agar setiap orang menjaga kehormatan dirinya, tetapi juga yang lebih penting menghindarkan dampak terburuk dari pelanggaran larangan itu. Lahirnya anak zina, sebenarnya adalah akibat dari pelanggaran larangan-larangan Allah tersebut.9 Selanjutnya, fiqh Islam tidak memberikan defini

yang tegas tentang anak yang sah, namun para ulama ada mendefinisikan anak zina sebagai kontra anak yang sah.” Anak zina adalah anak yang dilahirkan ibunya dari hubungan yang tidak sah. Dan anak li’an adalah anak anak yang secara hukum tidak dinasabkan kepada bapaknya, setelah suami isrti saling meli’an dengan sifat tuduhan yang jelas”. Definisi di atas membicarakan anak zina dan anak li’an. Jika ada seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan. Dan perkawinan tersebut dengan perkawinan yang sah. Lalu si istri mengandung anak. Suami dapat mengingkari bahwa anak yang dikandung atau yang dilahirkan oleh istrinya bukanlah anak yang sah nya itu apabila istri melahirkan anak sebelum masa kehamilan

8 Ahmad Rofiq,Hukum Perdata Islam di Indonesia,Raja Grafindo Persada,2013:Jakarta,hal177 9 Amir Nuruddin dan Azhari akmal Tarigan,Hukum Perdata Islam di

(17)

maksudnya, istri melahirkan anak yang masa kehamilannya kurang dari minimal usia kandungan kalau dihitung dari awal pernikahan dan atau apabila jika si istri melahirkan anak setelah lewat batas batas maksimal masa kehamilan dari perceraian.10

Batas minimal usia bayi dalam kandungan adalah 6 bulan dihitung dari saat akad nikah dilangsungkan. Ketentuan itu diambil dari firman Allah dalam Surat Al-Ahqaf ayat 15 yanga artinya “mengandung dan

menyapihnya adalah tiga puluh bulan (dua setengah tahun)”. Berarti bahwa

menyusui lalu mnyapihnya itu selama 2 tahun atau 24 bulan. 30 bulan- 24 bulan = 6 bulan. Maka 6 bulan itu adalah masa minimal bayi dalam kandungan. Penduduk yang mayoritas merndiami negara Republik Indonesia beragama islam yang bermadzhab Imam Syafi’i, sehingga pasal 42,43,44 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 mengatur asal – usul anak berdasarkan hukum Islam Madzhab Syafi’i. Sebagai mana bunyi dari Pasal 42 menyebutkan bahwa “Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah “.

Memperhatikan pasal tersebut, didalamnya memberi toleransi hukum kepada anak yang lahir dalam perkawinan yang sah, meskipun jarak antara perkawinan dan kelahiran anak kurang dari batas waktu minimum usia kandungan. Jadi, selama bayi yang dikandung itu lahir pada saat ibunya dalam ikatan perkawinan yang sah, maka anak itu adalah anak yang sah. Undang undang tidak mengatur batas minimal usia kandungan, baik dalam pasal-pasalnya maupun dalam penjelasannya.

Adapun Pasal 43 yang berbunyi:

1) Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.

2) Kedudukan anak tersebut ayat (1) diatas selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah

(18)

1) Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan oleh istrinya bilamana ia dapat membuktikan bahwa istrinya telah berzina dan anak itu akibat dari perzinaan tersebut.

2) Pengadilan memberikan keputusan tentang sah/tidaknya atas permintaan pihak yang bersangkutan.

Kalau memperhatikan pasal-pasal di atas, dapat dipahami bahwa anak yang lahir dari ikatan perkawinan yang sah maka anak itu adalah anak yang sah. Namun tidak dijelaskan mengenai status bayi yang dikandung dari akibat perzinaan atau akad nikah dilaksanakan pada saat calon mempelai wanita itu hamil. Anak yang lahir sesudah dilangsungkannya akad nikah maka status anak itu adalah anak yang sah. Demikian pula status anak berdasarkan Kompilasi Hukum Islam.11

Pasal 99 KHI

Anak yang sah adalah :

1) Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. 2) Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut.

Pada pasal 99 KHI ini mengandung pembaharuan mana kala ada kemungkinan bayi tabung, yaitu proses ovulasi yang direkayasa di luar rahim, melalui tabung yang disiapakn untuk itu kemudian dimasukkan lagi kedalam rahim istri, dan dilahirkan pula oleh rahim istri tersebut . jadi tetap dibatasi antara suami dan istri yang terikat oleh perkawinan yang sah.

Pasal 100 KHI

Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya.

Pasal 101 KHI

Seorang suami yang mengingkari sahnya anak, sedangkan istri tidak menyangkalnya, dapat meneguhkannya dengan li’an.

Pasal 102 KHI

(19)

(1) Suami yang akan mengingkari seorang anak yang lahir dari isterinya, mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama dalam jangka waktu 180 hari sesudah hari lahirnya atau 360 hari sesudah putusnya perkawinan atau setelah suami itu mengetahui bahwa istrinya melahirkan anak dan berada di tempat yang memungkinkan dia mengajukan perkaranya kepada Pengadilan Agama.

(2) Pengingkaran yang diajukan sesudah lampau waktu terebut tidak dapat diterima

Dalam pasal 101 dan 102 diatas membahas tentang li’an suami kepada istri, atau bisa disebut juga bahwa istri telah berzina, dan menyangkal bahwa anak yang dikandung oleh istri bukan lah anak sah nya. Akan tetapi, anak tersebut adalah hasil zina istri dengan laki-laki lain. Dan tidak dijelaskan batas umur bayi dalam kandungan si istri dalam hal suami menyangkal sah tidaknya anak tersebut. Cuma dijelaskan bahwa, jika suami ingin menyangkal anak tersebut batas waktu untuk mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama adalah 180 hari sesdudah lahirnya atau 360 hari. Itu tidak menunjukan batasan usia kandungan si istri tetapi batas suami bisa mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama.

Mengenai masalah anak li’an terkadung di dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 6 dan 7. Demikian juga jika si Istri menolak tuduhan dari suaminyadijelaskan oleh Allah tata cara penolakan tuduhan didalam Surat An-Nur ayat 8 dan 9. Hal inilah yang dijadikan dasar Pasal 125, 126, 127, 128 KHI.

Pasal 125 KHI

Li’an menyebabkan putusnya perkawinan antara suami istri selama untuk selama-lamanya.

Pasal 126 KHI

(20)

Pasal 127 KHI

Tata Cara Li’an diatur sebagai berikut:

1) Suami bersumpah empat kali dengan kata tuduhan zina dan atau pengingkaran anak tersebut, diikuti sumpah kelima dengan kata-kata ”laknat atas dirinya atas tuduhan dan atau pengingkaran tersebut dusta” 2) Istri menolak tuduhanj dan atau pengingkaran tersebut dengan sumpah empat kali dengan kata “tuduhan dan atau pengingkaran tersebut tidak benar”. diikuti dengan sumpak kelima dengan kata-kata murka Allah atas dirinya bila tuduhan atau pengingkaran tersebut benar”.

3) Tata cara pada huruf a dan b tersebut merupakan satu-kesatuan yang tak terputuskan.

4) Apabila tata cara yang a tidak diikuti dengan tata cara huruf b, maka diangkap tidak terjadi li’an.

Pasal 128 KHI

Li’an hanya sah apabila dilakukan dihadapan sidang Pengadilan Agama.

Menurut pasal 128 tersebut menjelakan bahwa Li’an harus di hadapan pengadilan ini untuk mewujudkan adanya kemaslahatan.dan Kemaslahatannya itu sangat besar baik yang bersangkutan maupun bagi kepentingan pembinaan kesadaran hukum masyarakat maka upaya tersebut ditempuh. Mengapa KHI memiliki tata cara tersebut ? karena secara teknis hukum islam tidak menjelaskan secara konkret bahwa tata cara li’an harus di depan Pengadilan Agama.

Adapun status anak Li’an adalah sama dengan anak zina yaitu dinasabkan kepada ibunya dan keluarga ibunya demikian kesepakatan para ulama’.Dan ini merujuk kepada suatu hadits yakni:12

“Riwayat dari Ibn Umar r.a bahwa seorang laki-laki telah meli’an istrinya pada zaman Nabi SAW. Dan beliau menafikan anak istrinya

(21)

tersebut. Maka Nabi SAW. Menceraikan antara keduanya dan mempertemukan nasab anaknya kepada ibunya”. (Riwayat Al-Bukhori dan Abu Dawud)

Adapun pembuktian asal-usul anak diatur didalam Pasal 55 UUP Nomor 1 Tahun 1974 jo Pasal 103 Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi:

1) Asal-Usul seorang anak hanya dapat dibuktikan dengan akte kelahiran yang autentik, yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.

2) Bila akte kelahiran tersebut dalam ayat (1) tidak ada, Pengadilan dalam mengeluarkan penetapan asal–usul seorang anak setelah diadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan bukti-bukti

3) atas dasar ketentuan Pengadilan tersebut ayat (2) ini, maka instansi pencatat kelahiran yang ada dalam daerah hukum Pengadilan yang bersangkutan mengeluarkan akte kelahiran bagi anak yang bersangkutan.

Ketentuan hukum tentang perlunya akta kelahiran sebagai bukti autentik asal usul anak, meski sudah diupayakan sejak lama. Didalam hukum islam, asal usul anak dibuktikan dengan adanya ikatan perkawinan yang sah, dipertegas dengan batasan minimal atau maksimal yang lazim usia janin dalam kandungan, maka pembuktian secara formal, kendati ini bersifat administratif, asal-usul anak dengan akta kelahiran atau surat kelahiran. Penentuan perlunya akta kelahiran tersebut didasarkan atas prinsip

maslahah mursalah, yaitu merealisasikan kemaslahatan bagi anak. Selain

anak tersebut bisa mengetahui secara persis siapa kedua orang tuanya, dan juga jika ada permasalahan, dengan bantuan akta anak tersebut dapat melakukan upaya hukum.

(22)
(23)

BAB III PENUTUP Kesimpulan

Dapat kita ambil kesimpulan dari penjelasan diatas bahwa dalam konteks hukum dan kajian perkawinan adalah perwalian sebagaimana terdapat dalam Pasal 1 huruf (h) Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang menyatakan bahwa perwalian adalah “Perwalian adalah kewenangan yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan hukum sebagai wakil untuk kepentingan dan atas nama anak yang tidak mempunyai kedua orang tua, orang tua yang masih hidup, tidak cakap melakukan perbuatan hukum.

Pemeliharaan anak adalah pemenuhan berbagai aspek kebutuhan primer dan sekunder anak. Pemeliharaan meliputi berbagai aspek, yaitu pendidikan, biaya hidup, ketentraman, kesehatan, dan segala aspek yang berkaitan dengan

kebutuhannya. Dalam agama Islam diungkapkan bahwa tanggung jawab ekonomi berada dipundak suami sebagai kepala rumah tangga, dan tidak menutup

kemungkinan tanggung jawab itu berarih kepada istri untuk membantu suaminya bila suami tidak mampu melaksanakan kewajibannya.

(24)

DAFTAR PUSTAKA

UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Kompilasi Hukum Islam (KHI)

Al Qur’an dan Hadist

Abdul Manan Hasyim, Hakim Mahkamah Syariah Provinsi Aceh di download dari http://www.idlo.int/DOCNews/240DOCF1.pdf. 2010 Diakses pada 20 april 2015

Ahmad Rofiq,Hukum Perdata Islam di Indonesia,Raja Grafindo Persada,2013:Jakarta

Amir Nuruddin dan Azhari akmal Tarigan,Hukum Perdata Islam di Indonesia,Kencana,2006:Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan pola konsumsi bayi berusia 6-24 bulan berdasarkan kategori tingkat susunan makanan mayoritas berada dalam kategori baik yaitu sebanyak

Pada anak yang tidak menderita anemia defisiensi besi akan diberikan besi dengan dosis suplementasi selama 4 bulan. Setelah bulan ketiga dan keempat dilakukan pengukuran tinggi

Perubahan peningkatan jumlah item perkembangan yang dicapai contoh yang pada data awal berusia 13-24 bulan disajikan pada Tabel 56. Data tersebut menunjukkan

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan status gizi, kejadian ISPA selama 6 bulan terakhir pada anak di Panti Asuhan Arif Rahman Hakim Surabaya dengan pola konsumsi,

“Hubungan Antara Pengetahuan Ibu tentang Cara Menyusui yang Benar dengan Status Gizi Anak Usia 0-24 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Keraton Yogyakarta”.. Shalawat dan salam

Sementara hasil yang signifikan ditunjukkan pada hubungan variabel perancu seperti protein, zink, vitamin A, dan pola asuh dengan panjang badan anak stunting usia 12- 24

DISKUSI Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kebiasaan sarapan siswa di SDN Karang Tengah 04 Kabupaten Bogor mayoritas pada kategori tidak baik sebanyak 25 siswa 51% dan 24 siswa

Kesimpulan dari penelitian ini yaitu mayoritas asupan zat gizi makro energi, protein, lemak, dan karbohidrat pada anak 6-24 bulan di Suku Tengger sebagian besar tergolong kurang,