• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN - Persepsi Masyarakat Desa Parbutaran Terhadap Pendidikan Formal (Studi Etnografi Mengenai Persepsi Masyarakat Terhadap Pendidikan Formal di Desa Parbutaran Kec. Bosar Maligas Kab. Simalungun)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN - Persepsi Masyarakat Desa Parbutaran Terhadap Pendidikan Formal (Studi Etnografi Mengenai Persepsi Masyarakat Terhadap Pendidikan Formal di Desa Parbutaran Kec. Bosar Maligas Kab. Simalungun)"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Penelitian ini adalah mengenai persepsi masyarakat terhadap

pendidikan formal di Desa Parbutaran Kecamatan Bosar Maligas Kabupaten

Simalungun. Pendidikan adalah situasi hidup yang mempengaruhi

pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam

segala lingkungan dan sepanjang hidup. Dalam arti sempit pendidikan

adalah pengajaran yang diselenggarakan umumnya di sekolah sebagai

lembaga pendidikan formal. Sedangkan para ahli psikologi memandang

pendidikan adalah pengaruh orang dewasa terhadap anak yang belum

dewasa agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh

terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosialnya dalam

bermasyarakat1.

Di awal abad ke-21 ini, prestasi pendidikan di Indonesia tertinggal

jauh di bawah negara-negara Asia lainnya, seperti Singapura, Jepang, dan

Malaysia. Lemahnya sumber daya manusia (SDM) hasil pendidikan juga

mengakibatkan lambannya Indonesia bangkit dari keterpurukan sektor

ekonomi yang merosot secara signifikan2 di tahun 1998. Namun saat

negara-negara ASEAN3 lainnya pulih, Indonesia masih belum mampu

1

Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran (Alpabeta, Bandung 2009), hal 1

2

Sesuatu atau hal yang berarti, sifatnya penting, dan patut diperhatikan

3

(2)

melakukan recovery dengan baik. Dody Heriawan Priatmoko, dengan

mengutip pernyataan Schutz dan Solow, menegaskan bahwa pendidikan

merupakan faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi4 melalui

peningkatan kualitas SDM. Hal ini dapat dilihat pada negara Jepang, dimana

kemajuan ekonomi yang didapatnya sekarang tak lepas dari peranan

pendidikan5.

Sistem pendidikan Jepang yang baik telah menghasilkan

manusia-manusia berkualitas sehingga walaupun hancur setelah kekalahan dalam

Perang Dunia II, mereka dapat cepat bangkit maju dan bersaing dengan

negara yang mengalahkannya dalam perang. Negara Asia lainnya seperti

Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura juga memperlihatkan

fenomena yang tidak jauh berbeda dari negeri matahari terbit ini, dimana

kemajuan ekonomi yang mereka dapatkan adalah karena tingginya kualitas

SDM-nya. Keadaan Indonesia berbeda jauh sekali dengan negara-negara

tersebut6.

Indikator lain yang menunjukkan betapa rendahnya mutu pendidikan

di Indonesia dapat dilihat dari data UNESCO (United Nations Educational,

Scientific and Cultural Organization) tahun 2000 tentang peringkat Indeks

Pengembangan Manusia ( Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan dan penghasilan per kepala

yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia di Indonesia

makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan

4

Proses perubahan kondisi perekonomian suatu Negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu.

5

Dede Rosyada, Paradigama Pendidikan Demokratis (Kencana, Jakarta 2004), hal 1

6

(3)

ke-102 pada tahun 1996, ke-97 tahun 1997, ke-105 tahun 1998, dan ke-109

tahun 1999, dan menurun ke urutan 112 pada tahun 20007.

Saat ini telah terjadi ketidakmerataan mutu pendidikan di berbagai

daerah di Indonesia. Di satu kondisi, orang tua berusaha keras mendaftarkan

anaknya di sekolah terbaik, disisi lain masih banyak orang tua yang tak acuh

terhadap dunia pendidikan. Ditambah lagi adanya perbedaan antara fasilitas

pendidikan di daerah kota dan di daerah pedesaan . Fasilitas pendidikan

yang lebih baik dan lebih lengkap di wilayah perkotaan menyebabkan

orang perkotaan mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Banyaknya anak yang putus sekolah disebabkan karena masalah

ekonomi. Tingkat pendidikan rumah tangga miskin ternyata jauh lebih

rendah dari rumah tangga bukan miskin. Rasio partisipasi dan rasio tamat

dari setiap tingkat pendidikan (SD, SMP, SMA, Akademi, dan Universitas)

didalam penduduk miskin selalu lebih rendah dibanding pada penduduk

bukan miskin.

Untuk tingkat SD, rasio partisipasi dan rasio tamat dari penduduk

miskin sebesar 90%, sedangkan penduduk bukan miskin sebesar 93,4%.

Untuk tingkat SMP, penduduk miskin sebesar 53,5% ,sedangkan penduduk

bukan miskin sebesar 64,55%. Untuk tingkat SMA, penduduk miskin adalah

21,2%, sedangkan bukan miskin adalah 42,7%. Untuk tingkat akademi,

penduduk miskin sebesar 14,4%, sedangkan penduduk bukan miskin

sebesar 23,1%, dan untuk tingkat universitas, penduduk miskin 23,1%,

7

(4)

sedangkan penduduk bukan miskin sebesar 25,5%8. Di sini terlihat bahwa

lebih tinggi tingkat pendidikan, lebih rendah rasio partisipasi dan rasio tamat

belajar. Tingkat pendidikan penduduk miskin lebih rendah bila

dibandingkan penduduk bukan miskin. Walaupun ada juga penduduk miskin

yang menamatkan sampai jenjang SMA, Diploma dan universitas, akan

tetapi penduduk miskin lebih banyak hanya menamatkan sekolah sampai

jenjang SD dan SMP.

Sekalipun kemiskinan berpengaruh besar terhadap anak-anak yang

tidak bersekolah, kemiskinan bukanlah satu-satunya faktor yang

berpengaruh. Dalyono mengatakan:

“Rendahnya minat orang tua terhadap pendidikan

disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya faktor pribadi (tingkat kesadaran), faktor ekonomi, faktor sosial budaya (social cultur), dan faktor letak geografis sekolah. Faktor sosial budaya berkaitan dengan kultur masyarakat yang berupa persepsi/pandangan, adat istiadat, dan kebiasaan. Peserta didik selalu melakukan kontak dengan masyarakat. Pengaruh-pengaruh budaya yang negatif dan salah terhadap dunia pendidikan akan turut berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak. Peserta didik yang bergaul dengan teman-temannya yang tidak sekolah atau putus sekolah akan terpengaruh dengan mereka9.

Rendahnya minat orang tua akan pendidikan bukan hanya

disebabkan oleh faktor ekonomi, akan tetapi faktor sosial budaya dan letak

geografis juga menjadi faktor yang cukup berpengaruh. Lingkungan sosial

budaya adalah semua orang yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan

8

Sutyastie Soemitro Remi dan Prijono Tjiptoherijanto, Kemiskinan dan Ketidakmerataan di Indonesia (Rineka Cipta, jakarta, 2002) hal 19

9

(5)

anak. Pengaruh sosial tersebut dapat dilihat secara langsung maupun tidak

langsung. Pengaruh secara langsung, seperti terjadi di dalam pergaulan anak

sehari-hari dengan teman sebayanya atau orang lain. Ketika si anak bergaul

dengan temannya, maka si anak pun akan terikut dengan temannya.

Pengaruh secara tidak langsung dapat terjadi melalui jalur informasi, seperti

radio atau televisi.

Letak geografis daerah pedesaan membuat akses pendidikan sulit

untuk dijangkau. Pada umumnya hanya ada SD dan SMP, sehingga apabila

ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi si anak harus

menempuh jarak jauh atau menyewa rumah/kamar didaerah tersebut yan

tentunya lebih banyak membutuhkan biaya. Akan tetapi, ada juga beberapa

daerah yang terpencil bahkan tidak ada SD, sehingga anak harus menempuh

jarak yang jauh. Berbeda dengan daerah perkotaan yang letak

SD,SMP,SMA, Diploma, dan universitas yang saling berdekatan sehingga

memudahkan anak di perkotaan untuk mengenyam pendidikan dengan jarak

yang relatif dekat.

Anak-anak yang dibesarkan di kota pola pikirnya berbeda dengan

anak di desa. Pada umumnya anak yang tinggal di kota lebih bersikap aktif,

bila dibandingkan dengan anak desa yang selalu bersikap statis. Banyak

fasilitas yang memang mendukung untuk anak yang berada di perkotaan

lebih bersikap aktif yaitu adanya tempat les. Sedangkan kalau di desa jarang

ada tempat les. Ditambah lagi fasilitas yang disediakan di sekolah yang

berada di perkotaan lebih lengkap dibandingkan dengan sekolah yang

(6)

Ada pendapat masyarakat yang memandang bahwa menyekolahkan

anak hanya akan menambah pengangguran. Hal ini disebabkan oleh para

lulusan sekolah yang belum mampu memenuhi dunia kerja. Sekolah adalah

salah satu tempat yang bukan hanya berfungsi untuk memperoleh ilmu

pengetahuan, tetapi juga tempat untuk seseorang bisa menjadi pribadi yang

lebih baik lagi. Gunawan mengatakan bahwa:

“Sekolah sebagai lembaga pendidikan sangat berperan

dalam proses sosialisasi individu agar menjadi anggota

masyarakat yang bermakna bagi masyarakatnya.” Melalui

pendidikan formal akan terbentuk kepribadian seseorang yang diukur dari perkembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor seperti terdapat dalam teori Bloom10.

Konsep taksonomi bloom mengklasifikasikan tujuan pendidikan

dalam tiga ranah (kawasan atau domain). Ketiga ranah yang dimaksud, yaitu

: pertama, ranah kognitif (cognitive domain) meliputi fungsi memproses informasi, pengetahuan dan keahlian mentalitas. Ranah ini berisi

perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan,

pengertian, dan keterampilan berpikir. Kedua, ranah afektif (affective domain) meliputi fungsi yang berkaitan dengan sikap dan perasaan. Domain

ini berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi,

seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Ketiga, ranah

psikomotorik (psyomotor domain) berkaitan dengan fungsi manipulatif dan

kemampuan fisik. Kawasan ini berisi perilaku-perilaku yang menekankan

10

(7)

aspek keterampilan motorik, seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan

mengoperasikan mesin11.

Masyarakat yang tidak menyadari pentingnya pendidikan formal

akan menjadi masyarakat yang minim pengetahuan, kurang keterampilan,

dan kurang keahlian. Mereka akan menjadi masyarakat yang tertinggal dan

terbelakang. Dalam persaingan, mereka akan kalah bersaing dengan

masyarakat lain yang pendidikannya sudah maju, terlebih-lebih bersaing

pada era globalisasi dan informasi pada saat ini. Yang akan terjadi di

kemudian hari, anak-anak yang tidak mengikuti pendidikan formal akan

menjadi beban bagi masyarakat bahkan sering menjadi pengganggu

ketentraman masyarakat. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya pendidikan

atau pengalaman intelektualnya, serta tidak memiliki keterampilan yang

menopang kehidupan sehari-hari12.

Hal ini juga terjadi di Desa Parbutaran, terlihat dari rendahnya

persentase anak-anak yang menamatkan sekolah tingkat SMA sebesar

12,49%, Diploma sebesar 1,12 %, dan Universitas sebesar 0,59% . Dari

hasil observasi sementara rendahnya tingkat pendidikan di Desa Parbutaran

bukan hanya disebabkan karena masalah ekonomi melainkan karena

sebagian besar masyarakat di Desa Parbutaran beranggapan pendidikan di

sekolah bukanlah hal penting yang harus dinomorsatukan. Oleh karena itu

peneliti pun tertarik untuk meneliti tentang “Persepsi Masyarakat

Terhadap Pendidikan Formal di Desa Parbutaran Kecamatan Bosar

Maligas Kabupaten Simalungun.

11

Ibid 12

(8)

1.2

Tinjauan Pustaka

Kebudayaan adalah suatu sistem pengetahuan yang diperoleh

manusia melaui proses belajar, yang mereka gunakan untuk

menginterpretasikan dunia sekeliling mereka, dan sekaligus untuk

menyusun strategi perilaku dalam menghadapi dunia sekeliling mereka.

Asumsinya adalah bahwa setiap masyarakat mempunyai satu sistem yang

unik dalam mempersepsikan dan mengorganisasikan fenomena material,

seperti benda-benda, kejadian, perilaku dan emosi. Karena itu, objek

kajiannya bukanlah fenomena material tersebut, tetapi tentang cara

fenomena material tersebut diorganisasikan dalam pikiran (mind) manusia (Spradley dalam Amiruddin: 1997).

Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling “bergaul” atau

dengan istilah ilmiah, saling “berinteraksi”. Ciri-ciri masyarakat adalah (1)

interaksi antar warga-warganya; (2) adat-istiadat, norma, hukum, dan

aturan-aturan khas yang mengatur seluruh pola tingkah laku warga Negara

kota atau desa; (3) kontinuitas waktu; (4) dan rasa identitas kuat yang

mengikat semua warga. Dengan memeperhatikan ciri-ciri tersebut maka

secara khusus dapat dirumuskan definisi mengenai masyarakat yaitu

masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu

sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat oleh

suatu rasa identitas bersama13.

13

(9)

Pendidikan adalah sebenarnya proses pembudayaan. Tidak ada suatu

proses pendidikan tanpa kebudayaan dan tanpa masyarakat, dan sebaliknya

tidak ada suatu proses kebudayaan tanpa pendidikan. Proses pendidikan

hanya dapat terjadi di dalam hubungan antar manusia didalam suatu

masyarakat. Proses pendidikan merupakan suatu proses dan sekaligus suatu

kata benda. Pendidikan sebagai suatu proses merupakan suatu interaksi

antara pendidik dan peserta didik di dalam suatu masyarakat. Pendidikan

adalah suatu proses menaburkan benih-benih budaya dan peradaban

manusia yang hidup dan dihidupi oleh nilai-nilai atau visi yang berkembang

dan dikembangkan di dalam suatu masyarakat. Inilah pendidikan sebagai

suatu proses pembudayaan14.

Proses pendidikan senantiasa berlangsung bagi setiap manusia, baik

yang masih bersekolah maupun tidak, yang berusia muda maupun tidak,

yang perempuan maupun tidak. Menurut Yustina Rostiawati, pendidikan

adalah:

Suatu proses mendidik seseorang manusia menjadi manusia yang dapat menghargai martabat setiap manusia baik perempuan maupun laki-laki. Implikasinya, seseorang manusia yang terdidik akan berusaha untuk senantiasa memperluas cakrawala wawasannya, memperdalam pengetahuannya, dan berisikan adil terhadap manusia lain tanpa memperhatikan jender, ras maupun etnis. Pendidikan bukan suatu proses pengolahan masukan (input) menjadi luaran (output) yang efektif, efisien, dan sikap pakai untuk dunia kerja dan kebutuhan pasar. Dengan kata lain, sistem pendidikan dan proses pendidikan tidak sama dengan sistem dan proses produksi dalam pabrik (Yayasan Toyota dan astra, 2004 : 438).

14

(10)

Pendidikan adalah suatu proses mendidik seseorang agar menjadi

pribadi yang lebih baik. Seseorang yang berpendidikan bukan hanya saja

lebih memperdalam ilmu pengetahuannya, akan tetapi juga harus lebih bisa

menghargai orang lain. Pendidikan tidak seperti pabrik produksi yang

mengolah dari barang mentah menjadi barang jadi/siap pakai. Pendidikan

belum tentu menjamin seseorang akan mendapatkan pekerjaan kalau tidak

diimbangi dengan keterampilan.

Pendidikan membantu dan memberdayakan manusia untuk

membangun daya kekuatan yang kreatif, dan mampu melakukan sesuatu.

Salah satu aspek individual dari pemberdayaan adalah agar manusia

memiliki kemampuan berpikir, menguasai ilmu penegetahuan dan

tekhnologi, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan membangun

berbagai keterampilan. Pendidikan juga membantu dan memberdayakan

manusia untuk membangun kekuatan bersama, solidaritas atas dasar

komitmen pada tujuan dan pengertian yang sama, untuk memecahkan

persoalan yang dihadapi guna menciptakan kesejahteraan bersama. Dengan

kata lain, pendidikan juga memberdayakan manusia untuk membangun

komunitas, memperkuat hubungan antar manusia15.

Pendidikan merupakan sarana paling strategis untuk meningkatkan

kualitas manusia. Artinya, melalui pendidikan, kualitas manusia dapat

ditingkatkan. Dengan kualitas meningkat, produktivitas individual manusia

pun akan meningkat pula. Selanjutnya, jika secara individual produktivitas

manusia meningkat maka secara komunal produktivitas bangsa akan

15

(11)

meningkat. Bahwa untuk meningkatkan produktivitas bangsa, diperlukan

dana besar memang demikian hukum ekonominya16.

Sejalan dengan itu, kalangan antropolog dan ilmuwan sosial lainnya

melihat bahwa pendidikan merupakan upaya untuk membudayakan dan

mensosialisasikan manusia sebagaimana yang kita kenal dengan proses

enkulturasi (pembudayaan) dan sosialisasi (proses membentuk kepribadian

dan perilaku seorang anak menjadi anggota masyarakat sehingga anak

tersebut diakui keberadaanya oleh masyarakat yang bersangkutan). Dalam

pengertian ini, pendidikan bertujuan membentuk agar manusia dapat

menunjukkan perilakunya sebagai makhluk yang berbudaya yang mampu

bersosialisasi dalam masyarakatnya dan menyesuaikan diri dengan

lingkungan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup, baik secara

pribadi, kelompok, maupun masyarakat secara keseluruhan17.

Daoed Joesoef memandang pendidikan sebagai bagian dari

kebudayaan karena pendidikan adalah upaya memberikan pengetahuan

dasar sebagai bekal hidup. Pengetahuan dasar untuk bekal hidup yang

dimaksudkan di sini adalah kebudayaan. Dikatakan demikian karena

kehidupan adalah keseluruhan dari keadaan diri kita, totalitas dari apa yang

kita lakukan sebagai manusia, yaitu sikap, usaha, dan kerja yang harus

dilakukan oleh setiap orang, menetapkan suatu pendirian dalam tatanan

kehidupan bermasyarakat yang menjadi ciri kehidupan manusia sebagai

makhluk bio-sosial18.

16

Ibid

17

http://fikrienas.wordpress.com/budaya-dan-pendidikan/ 18

(12)

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

susasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk meiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara19.

Selanjutnya menurut Poerbakawatja Harahap (1981), pendidikan

adalah

“…usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan

pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab

moril dari segala perbuatannya…orang dewasa itu adalah orang tua si anak atau orang tua yang atas dasar tugas dan kedudukannya mempunyai kewajiban untuk mendidik misalnya guru sekolah, pendeta atau kiai dalam lingkungan keagamaan, kepala-kepala asrama dan sebagainya20.

Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik,

luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan

pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap

kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh

segenap kegiatan pendidikan21.

Makna dan tujuan dari pendidikan adalah untuk memerdekakan,

membudayakan, dan memanusiakan manusia termasuk di dalamnya proses

sosialisasi nilai-nilai transenden dan kultural yang diharapkan dapat

senantiasa membantu manusia dalam proses menjadi manusia (on the

process of becoming human), seperti diungkapkan oleh Sastrapratedja. Fuad

19

UU Sistem Pendidikan Nasional (Pustaka Pelajar, Yogyakarta2005)

20

Muhibbinsyah. Psikologi Pendidikan (PT Rosdakarya, Bandung 2010), hal 11 21

(13)

Hassan lebih lanjut mengungkapkan, manusia tidak akan pernah berhenti

berproses melalui pendidikan yang bukan hanya terbatas sebagai sistem

persekolahan dalam pendidikan formal, melainkan juga di dalam arti dan

makna yang lebih luas. ( Yayasan Toyota dan Astra, 2004: 438)

Secara tradisional, pendidikan dipandang sebagai kegiatan yang

bertujuan, sebagai jalan menuju pencapaian tujuan yang terletak di luar

proses pendidikan adalah untuk membantu mencapai kehidupan yang baik,

kebahagiaan, keadaan yang final. Bukan hanya pendidikan yang menjadi

penopang upaya mencapai tujuan itu. Anggapan bahwa pendidikan adalah

cara atau alat menyebabkan diaturnya unsur-unsur pendidikan mengikuti

arus zaman dan tempat ini, seperti kini pendidikan dianggap sebagai cara

mencapai penyesuaian sosial, mencapai profesi yang memadai, atau

mencapai kepemimpinan dalam masyarakat22.

Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan

informal. Pendidikan formal (PF) yang sering disebut pendidikan

persekolahan berupa jenjang pendidikan yang telah baku. Mulai dari jenjang

sekolah dasar (SD) sampai dengan perguruan tinggi (PT). Pendidikan taman

kanak-kanak masih dipandang sebagai pengelompokkan belajar yang

menjembatani anak dalam suasana hidup dalam keluarga dan di sekolah

dasar. Biasa juga disebut pendidikan prasekolah dasar (Pra-Elementary School). Menurut UU No. 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan

nasional, dinyatakan setiap warga Negara diwajibkan mengikuti pendidikan

22

(14)

formal minimal sampai tamat SMP23. Pendidikan nonformal adalah jalur

pendidikan di luar pendidikan formal yang dilaksanakan secara terstruktur

dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur keluarga dan lingkungan.

Sekolah adalah salah satu saluran atau media dari proses

pembudayaan media lainnya adalah keluarga dan institusi lainnya yang ada

di masyarakat. Sekolah adalah media sosialisasi yang lebih luas dari

keluarga. Sekolah mempunyai potensi yang pengaruhnya cukup besar dalam

pembentukan sikap dan perilaku seorang anak, serta mempersiapkannya

untuk penguasaan peranan-peranan baru di kemudian hari di kala anak atau

orang tidak lagi menggantungkan hidupnya pada orang tua atau keluarganya

(J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, 2010: 94).

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam dunia pendidikan, faktor

budaya menjadi faktor yang menentukan keberhasilan. Faktor budaya ini

berkaitan dengan kultur masyarakat yang berupa paradigma atau

persepsi/cara pandang. Persepsi dapat mempengaruhi tingkah laku

seseorang terhadap objek dan situasi lingkungannya. Manusia akan selalu

dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya, tingkah laku dan cara berfikir untuk

menanggapi sesuatu peristiwa yang terjadi dilingkungannya.

Istilah persepsi sering disebut juga dengan pandangan, gambaran,

sebab dalam persepsi terdapat tanggapan seseorang mengenai satu hal atau

objek. Persepsi mempunyai banyak pengertian, menurut Leavit persepsi

dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat

sesuatu, sedangkan dalam arti luas persepsi adalah pandangan atau

23

(15)

pengertian yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan

sesuatu. Persepsi menurut Desiserato adalah pengalaman tentang objek,

peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan

informasi dan menafsirkan pesan24.

Menurut Moskowitz dan Ogel persepsi merupakan proses integrasi

dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Dengan demikian dapat

dikemukakan bahwa persepsi itu merupakan proses pengorganisasian,

penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau

individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktifitas

yang integrated dalam diri individu25.

Persepsi menurut Fielman adalah proses konstruktif ketika kita

menerima stimulus yang ada dan berusaha memahami situasi. Sedangkan

menurut Morgan, persepsi mengacu pada carakerja, suara, rasa, selera, atau

bau. Dengan kata lain, persepsi dapat didefinisikan apa pun yang dialami

oleh seseorang. Persepsi adalah proses pengolahan informasi dari

lingkungan yang berupa stimulus, yang diterima melalui alat indera dan

diteruskan ke otak untuk diseleksi, diorganisasikan sehingga menimbulkan

penafsiran atau penginterpretasian yang berupa penilaian dari penginderaan

atau pengalaman sebelumnya. Persepsi merupakan hasil interaksi antara

dunia luar individu (lingkungan) dengan pengalaman individu yang sudah

diinternalisasi dengan sistem sensorik alat indera sebagai penghubung, dan

dinterpretasikan oleh sistem syaraf di otak26.

24

http://www.psychologymania.com/2011/08/pengertian-persepsi.html?m=1 (diakses tanggal 5 september

25 Ibid 26

(16)

Persepsi dalam pengertian psikologi menurut Sarwono adalah

proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh

informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan, pendengaran, peraba,

dan sebagainya). Sebaliknya alat untuk memahami adalah kesadaran27.

Secara umum menurut Sondang P.Siagian ada 3 faktor yang

mempengaruhi persepsi seseorang yaitu:

1. Faktor pelaku persepsi yaitu diri orang yang bersangkutan sendiri.

Apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan

interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu, ia dipengaruhi oleh

karakteristik individual yang turut berpengaruh seperti sikap, motif,

kepentingan, minat, pengalaman dan harapan.

2. Faktor sasaran persepsi yaitu sasaran itu mungkin berupa orang,

benda atau peristiwa. Sifat-sifat sasaran itu biasanya berpengaruh

terhadap persepsi orang yang melihatnya. Dengan perkataan lain,

gerakan, suara, ukuran, tindak tanduk dan ciri-ciri lain dari sasaran

persepsi turut menentukan cara pandang orang yang melihatnya.

3. Faktor situasi persepsi yaitu persepsi harus dilihat secara

kontekstual yang berarti dalam situasi mana persepsi itu timbul

perlu pula mendapat perhatian. Situasi merupakan faktor yang turut

berperan dalam penumbuhan persepsi seseorang28.

27

Ibid 28

(17)

1.3

Rumusan Masalah

Penelitian ini akan dilakukan di Desa Parbutaran Kecamatan Bosar

Maligas Kabupaten Simalungun. Alasan peneliti memilih Desa Parbutaran

karena tingkat pendidikan yang rendah29. Berdasarkan observasi sementara

tingkat pendidikan yang rendah disebabkan faktor ekonomi dan persepsi

anak ataupun orang tua yang menganggap sekolah tidak menjamin masa

depan. Berdasarkan uraian latar belakang yang telah ada maka yang menjadi

pokok permasalahan penelitian adalah “Persepsi Masyarakat Desa

Parbutaran Terhadap Pendidikan formal”.

Pokok permasalahn tersebut akan dirumuskan dengan rumusan

masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana persepsi masyarakat Desa Parbutaran terhadap

pendidikan formal.

2. Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi anak-anak Desa

Parbutaran sekolah/tidak melanjutkan sekolah.

3. Adakah hubungan antara persepsi orang tua terhadap

pendidikan formal dengan minat anak untuk bersekolah.

29

(18)

1.4

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perspsi

masyarakat Desa Parbutaran terhadap pendidikan formal. Hasil penelitian

ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara praktis maupun akademis.

Secara praktis, penelitian ini dapat memberi masukan bagi mahasiswa

Universitas Sumatera Utara. Secara akademis, dapat juga bermanfaat untuk

menambah wawasan dan kepustakaan di bidang Antropologi ataupun

ilmu-ilmu pendidikan yang berhubungan dengan penelitian ini.

1.5

Metode Penelitian

1.5.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif. Menurut Moleong (2005:6) penenlitian kualitatif adalah

penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena apa yang yang

terjadi dan dialami oleh subjek penelitian misalnya, perilaku, persepsi,

motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi

dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang

alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode kualitatif yaitu berupa

pengamatan, wawancara dan studi kepustakaan. Dengan tahapan penelitian

pra lapangan, pekerjaan lapangan, analisis data dan diakhiri dengan tahap

penelitian laporan penelitian peneliti.

Jenis penelitian yang digunakan adalah studi etnografi. Penelitian

(19)

bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atau hasil penelitian lapangan

(field work) selama sekian bulan atau sekian tahun30.

1.5.2 Tekhnik Pengumpulan Data

1.5.2.1 Observasi

Observasi adalah suatu tindakan untuk meneliti suatu gejolak

(tindakan atau peristiwa atau peninjauan secara cermat dan langsung di

lapangan atau lokasi penelitian dengan cara mengamati). Dengan observasi

kita dapat memperoleh gambaran tentang kehidupan sosial dan budaya yang

sukar untuk diketahui dengan metode lainnya.

Peneliti mengawali terlebih dahulu dengan observasi. Dalam hal ini,

peneliti mencoba untuk mengamati saja, yakni dengan mengamati tanpa ikut

terlibat langsung dengan objek yang sedang diteliti. Melihat aktifitas dan

gambaran pendidikan masyarakat desa Parbutaran. Selanjutnya, peneliti

akan melakukan observasi partisipasi (participant observation) yang artinya metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data

penelitian melalui pengamatan dan penginderaan dimana observer atau peneliti benar-benar melihat dalam keseharian informan (Bungin, 2007).

30

(20)

1.5.2.2 Wawancara

Wawancara mendalam (indepth interview) merupakan metode pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif.

Wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan

untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka

antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai,

dengan atau tanpa menggunakan wawancara (interview guide), pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relative

lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara mendalam adalah

keterlibatannya dalam kehidupan informan. Dengan metode ini, peneliti

akan menggunakan pedoman wawancara.

Peneliti berusaha menjalin rapport31dengan informan. Pengembangan rapport dilakukan dengan cara hidup beradaptasi dan mengikuti kegiatan

sehari-hari masyarakat di Desa Parbutaran dan menjalin hubungan yang

baik dengan penduduk setempat sehingga ketika melakukan wawancara,

data yang diperoleh benar-benar atau mendekati fakta yang sesungguhnya.

Hasil-hasil wawancara akan dicatat dalam catatan lapangan untuk

memudahkan pemahaman akan disertakan foto, rekaman suara dan video

yang berkaitan dengan masalah penelitian.

Pada tulisan ini, peneliti akan membedakan antara informan kunci dan

informan biasa. Informan kunci adalah orang-orang memahami

permasalahan yang diteliti dan yang menjadi fokus peneliti yang meliputi

keluarga yang anaknya tidak bersekolah atau bersekolah sampai jenjang SD

31

(21)

atau SMP . Informan biasa sebagai pembanding meliputi keluarga yang

anaknya bersekolah sampai SMA, PT dan guru sekolah di Desa Parbutaran.

1.5.2.3 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang bersifat tidak langsung, akan tetapi

memiliki keterkaitan fungsi sebagai salah satu aspek pendukung bagi

keabsahan suatu penelitian. Data sekunder berupa sumber-sumber atau

referensi tertulis yang berhubungan dengan permasalahan penelitian, data

sekunder dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan sebagai tekhnik

oengumpulan data selanjutnya, dimaksudkan peneliti sebagai suatu sarana

pendukung untuk mencari dan mengumpulkan data dari beberapa buku,

jurnal, majalah, Koran dan hasil penelitian para ahli lain yang berhubungan

dengan masalah penelitian guna lebih menambah pengertian dan wawasan

(22)

1.6

PENGALAMAN PENELITIAN

Awal mula peneliti melakukan wawancara adalah dengan salah

seorang teman peneliti sendiri. Setelah informan bersedia diwawancarai,

peneliti pun tidak mebuang-buang waktu untuk langsung

mewawancarainya. Diawal wawancara kami pun tertawa-tawa kecil karena

tidak biasa melakukan tanya jawab seperti itu. Butuh waktu sekitar 5 menit

untuk menetralkan suasana. Akhirnya peneliti pun mulai mewawancarainya

dan informan pun mulai terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan peneliti.

Setelah peneliti mewawancarainya kami pun pulang kerumah

masing-masing karena hari sudah sore.

Tidak kalah sulitnya dengan awal mula peneliti melakukan wawancara

pertama, wawancara selanjutnya kepada informan-informan yang telah

peneliti tentukan pun lumayan sulit. Walaupun sudah peneliti jelaskan

maksud wawancara peneliti akan tetapi ada beberapa informan yang

beranggapan akan menerima uang setelah diwawancarai. Ditambah lagi

terkadang informan kurang mengerti maksud dari pertanyaan peneliti,

sehingga peneliti harus bertanya dengan kalimat yang lebih dimengerti oleh

informan.

Ada perbedaan ketika peneliti bertanya kepada informan yang hanya

tamat SD dengan informan yang SMA, D3 dan S1. Kalau bertanya kepada

yang tamat SD biasanya peneliti harus mengulang-ulang dengan kalimat

yang lebih sederhana, sedangkan kalau bertanya kepada yang tamat SMA,

(23)

Pemilihan informan tidak terlalu sulit untuk peneliti dikarenakan

penelitian ini di desa peneliti sendiri, sehingga peneliti sudah bisa

menetapkan informan sesuai kebutuhan informan. Walaupun lokasi

penelitian ini di desa peneliti sendiri akan tetapi bukan berarti peneliti tidak

mengalami kesulitan saat mewawancarai informan. Ada beberapa informan

yang peneliti pilih akan tetapi tidak mau untuk diwawancarai sehingga

peneliti harus mencari informan lain. Biasanya informan yang tidak mau

diwawancarai adalah anak muda yang hanya tamat SD atau SMP.

Ada rasa malu yang peneliti tangkap dari penolakan mereka. Mereka

mungkin malu karena hanya tamat SD atau SMP. Selain itu, mereka juga

takut tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peneliti karena dalam

pikiran mereka wawancara ini berhubungan dengan pelajaran, padahal

sudah peneliti jelaskan diawal bahwa pertanyaan-pertanyaannya tidak

berhubungan dengan pelajaran melainkan pendapat mereka yang terlepas

dari benar atau salah. Ada sebagian informan yang memang teman peneliti

sendiri, sehingga ketika peneliti mewawancarai mereka peneliti dapat

langsung menangkap apa yang mereka rasakan. Rasa cemburu itu sudah

pasti. Rasa sedih lebih pasti karena terlihat dari sorotan mata maupun cara

mereka menjawab. Mereka cemburu dan sedih dikarenakan peneliti bisa

kuliah sedangkan mereka hanya bisa menamatkan SMP, seperti yang pernah

mereka ucapkan pada peneliti. Sehingga terkadang peneliti mencoba

mengalihkan pembicaraan untuk menyegarkan suasana.

Bukan hanya itu saja, ketika peneliti mewawancarai beberapa orang

(24)

garuk-garuk kepala. Sakit kepala, bingung, itulah yang terkadang peneliti

rasakan. Ketika ditanya mereka terkadang hanya menjawab gak ada uang, menggeleng, mengangguk, dan bahkan tertawa. Sungguh membutuhkan

kesabaran ekstra untuk memperoleh data dari mereka.

Berbeda dengan informan yang tamat jenjang SMA, D3, S1, informan

yang tergolong di kategori ini lebih mudah untuk diwawancarai dan lebih

mudah untuk menjawab pertanyaan yang peneliti berikan. Dari wawancara

yang peneliti lakukan setidaknya peneliti bisa memahami sesuatu yaitu

memang pendidikan seseorang mempengaruhi seseorang itu untuk

Referensi

Dokumen terkait

Kenyataan di lapangan, peneliti temukan bahwa intensitas partisipasi masyarakat sudah mulai meningkat, hal tersebut dibuktikan dengan 1) Kedatangan orang tua siswa ke

c. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan akhlak orang tua terhadap akhlak anak di dalam kelas bagi siswa Madin Miftahul Falah Desa Sidogemah kec Sayung Kab Demak