BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan desain case series.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik, Jl. Bunga Lau No.17 Medan Tuntungan Km 12 Medan atas pertimbangan rumah sakit ini merupakan rumah sakit tersebar di kota Medan dan menjadi tempat rujukan dari berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya serta tersedianya data rekam medis penderita SLE.
3.2.2 Penelitian
Waktu penelitian dilakukan Maret 2016 sampai dengan Agustus 2016 (lihat Lampiran 3).
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah 117 orang penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015. Besar sampel adalah sama dengan populasi (total sampling).
3.4 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang diperoleh dari kartu status penderita SLE yang berobat di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2015. Semua kartu status sampel tersebut dikumpulkan kemudian dilakukan pencatatan sesuai dengan jenis veriabel yang diteliti.
3.5 Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan program analisa komputer. Data dianalisa dengan menggunakan uji Chi Square, Fisher Exact, Kolmogorov-Smirnov dan Mann Whitney, selanjutnya disajikan dalam bentuk narasi, tabel distribusi frekuensi, pie, dan diagram bar.
3.6 Definisi Operasional
3.6.1 Penderita SLE adalah pasien yang didiagnosa dokter menderita SLE sesuai yang tercatat di kartu status.
3.6.2 Sosiodemografi meliputi :
a. Umur adalah usia penderita SLE yang sesuai yang tercatat pada kartu status pasien, dikategorikan atas (Pick, 2016):
Untuk keperluan statistik maka umur penderita akan dikategorikan berdasarkan median umur penderita SLE pada analisa bivariat.
b. Jenis kelamin adalah ciri khas tertentu yang dimiliki penderita SLE sesuai dengan yang tercatat pada kartu status pasien, dikategorikan atas: 1. Laki-laki
2. Perempuan
c. Pendidikan terakhir adalah tingkat pendidikan yang diperoleh penderita SLE sesuai yang tercatat pada kartu status pasien, dikategorikan atas (BPS, 2016):
1. Tidak/belum sekolah
2. Pendidikan dasar (SD/MI/sederajat)
3. Pendidikan menengah (SMP/MTs/sederajat) 4. Pendidikan tinggi (SMA/MA/sederajat dan PT)
3.6.3 Pekerjaan adalah aktivitas sehari-hari yang dilakukan penderita SLE sesuai yang tercatat pada kartu status pasien, dikategorikan atas:
1. Pelajar/Mahasiswa/i 2. Ibu Rumah Tangga 3. Pegawai Negeri Sipil 4. Pegawai Swasta 5. Wiraswasta
3.6.4 Agama adalah kepercayaan yang dianut oleh penderita SLE berdasarkan yang tercatatpada kartu rekam medis pasien, dikategorikan atas:
1. Islam
3.6.5 Status kawin adalah predikat yang dimiliki penderita SLE berdasarkan penikahan sesuai yang tercatat pada kartu status pasien, dikategorikan atas:
1. Belum kawin 2. Kawin
3. Cerai mati/hidup
3.6.6 Daerah asal adalah tempat penderita SLE berasal sesuai dengan yang tercatat pada kartu status pasien, dikategorikan atas:
1. Kota Medan 2. Luar Kota Medan
3.6.7 Manifestasi klinis adalah gejala yang timbul dan cenderung melibatkan multi manifestasi pada penderita SLE yang terdiri dari :
1. Manifestasi Konstitusional
3.6.8 Derajat manifestasi klinis adalah tingkat keparahan multi manifestasi klinis yang timbul pada penderita SLE, dikategorikan atas (Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2011):
1. Ringan : secara klinis tenang, tidak terdapat tanda atau gejala yang mengancam nyawa, dan fungsi organ (ginjal, paru, jantung, gastrointestinal, susunan saraf pusat, hematologi) normal atau stabil
3.6.9 Riwayat penggunaan obat-obatan adalah sejarah penggunaan obat-obatan oleh penderita SLE sebelum riwayat SLE, dikategorikan atas:
1. Tidak ada 2. Ada
3.6.10 Penatalaksanaan medis adalah tindakan yang dilakukan tim medis terhadap penderita SLE demam dalam rangka mengontrol dan mengurangi risiko yang timbul sesuai yang tercatat pada kartu status, dikelompokkan atas (Isbagio dkk, 2010) :
1. Terapi konservatif (OAINS/Antimalaria/Kortikosteroid dosis rendah) 2. Terapi agresif (Kortikosteroid+Imunosupresif)
3.6.11 Lama rawatan rata-rata adalah jumlah hari rata-rata penderita SLE yang dirawat dari tanggal masuk sampai tanggal keluar dari rumah sakit (baik dengan izin dokter, atas permintaan sendiri maupun meninggal dunia) sesuai yang tercatat pada kartu status pasien.
3.6.12 Keadaan sewaktu pulang adalah keterangan tentang keadaan penderita SLE yang dirawat inap ketika pulang sesuai yang tercatat pada kartu status pasien, dikategorikan atas :
1. Pulang Berobat Jalan
2. Pulang Atas Permintaan Sendiri 3. Meninggal dunia
3.6.13 Sumber biaya cara yang digunakan penderita SLE yang dirawat inap untuk melunasi biaya administrasi rumah sakit, dikategorikan atas :
1. Bukan Biaya Sendiri (Jamkesmas, Askes, Jamsostek, dan asuransi kesehatan lain)
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum RSUP H. Adam Malik Medan
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik berada di jalan Bunga Lau No. 17 Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara yang dibangun di atas tanah seluas ± 10 Ha. RSUP H. Adam Malik Medan merupakan rumah sakit pemerintah tipe A sesuai dengan SK Menkes No. 335/Menkes/SK/VII/1990 dan juga sebagai rumah sakit pendidikan sesuai dengan SK Menkes No. 502/Menkes/SK/IX/1991 dengan visi sebagai pusat unggulan pelayanan kesehatan dan pendidikan. RSUP H. Adam Malik Medan adalah rumah sakit pemerintah yang ditetapkan sebagai tempat pelayanan rujukan tertinggi dan menerima rujukan untuk wilayah pembangunan A yaitu Provinsi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau.
RSUP H. Adam Malik Medan sebagai rumah sakit tipe A memiliki 2.309 orang tenaga yang terdiri dari 461 orang tenaga medis, 562 orang tenaga keperawatan, 335 orang tenaga nonkeperawatan dan 622 orang tenaga nonmedis.
nonmedis (intalasi medis, farmsai, Central Sterilization Supply Depart (CSSD), penyuluh kesehatan masyarakat rumah sakit, dan bioelektro medis) serta pelayanan nonmedis (instalasi tata usaha pasien, teknik sipil, dan pemulasaran jenazah).
4.1.2 Visi RSUP H. Adam Malik Medan
Visi RSUP H. Adam Malik Medan adalah “Menjadi Pusat Rujukan
Pelayanan Kesehatan Pendidikan dan Penelitian yang Mandiri dan Unggul di Sumatera Utara Tahun 2019”.
4.1.3 Misi RSUP H. Adam Malik Medan
Misi RSUP H. Adam Malik Medan untuk memenuhi visi tersebut adalah:
a. Melaksanakan pelayanan yang paripurna, bermutu, dan terjangkau.
b. Melaksanakan pendidikan, pelatihan, dan penelitian kesehatan professional. c. Melaksanakan kegiatan pelayanan dengan prinsip efektif, efisien,
akuntabel, dan mandiri.
4.2 Analisa Deskriptif
4.2.1 Distribusi Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Sosiodemografi (Umur,
Jenis Kelamin, Agama, Pendidikan, Pekerjaan, Status Perkawinan,
Daerah Asal)
dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
a. Umur
Tabel 4.1 Distribusi Proporsi Penderita SLE yang Dirawat Inap Berdasarkan Umur Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015
Dari tabel 4.1 dapat diketahui distibusi proporsi penderita SLE berdasarkan umur terbanyak pada kelompok umur 20-40 tahun yaitu 57 orang (48,7%) dan paling sedikit pada kelompok umur >40 tahun sebanyak 17 orang (14,5%).
Tabel 4.2 Rata-rata Umur Penderita SLE yang Dirawat Inap Berdasarkan Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015
Rata-rata Umur Penderita SLE
Mean = 26,13
Median = 24
Modus = 19
Standar Deviasi (SD) = 11,78 Coefisien of Variation = 45,08%
sebaran umur penderita SLE >30% (heterogen) maka dalam analisa bivariat umur dikelompokkan berdasarkan median umur penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 yaitu <24 tahun dan ≥24 tahun.
b. Jenis Kelamin, Agama, Pendidikan, Pekerjaan, Status Perkawinan dan Daerah Asal
No Sosiodemografi f (%) 6 Daerah Asal
Kota Medan Luar Kota Medan
27 90
23,1 76,9
Total 117 100,0
Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa distribusi proporsi penderita SLE berdasarkan jenis kelamin lebih banyak pada perempuan sebanyak 113 orang (96,6%) sedangkan pada laki-laki sebanyak 4 orang (3,4%). Distribusi proporsi penderita SLE berdasarkan agama paling banyak beragama islam sebanyak 69 orang (59,0%) dan paling sedikit beragama katolik yaitu 8 orang (6,8%). Distribusi proporsi penderita SLE berdasarkan pendidikan paling banyak berpendidikan tinggi yaitu 67 orang (57,3%) dan paling sedikit tidak/belum sekolah yaitu 11 orang (9,4%). Distribusi proporsi penderita SLE berdasarkan pekerjaan paling banyak adalah pelajar/mahasiswa/i 52 orang (44,4%) dan paling sedikit adalah pegawai swasta yaitu 3 orang (2,6%). Distribusi proporsi penderita SLE berdasarkan status perkawinan terbanyak adalah belum kawin 66 orang (56,4%) dan paling sedikit cerai hidup/mati sebanyak 4 orang (3,4%). Distribusi proporsi penderita SLE berdasarkan daerah asal terbanyak dari luar Kota Medan yaitu 90 orang (76,9%) dan dari Kota Medan yaitu 27 orang (23,1%).
4.2.2 Distribusi Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Manifestasi Klinis
Tabel 4.4 Distribusi Proporsi Penderita SLE yang Dirawat Inap Berdasarkan Manifestasi Klinis Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015
No. Manifestasi Klinis f (%)
1. Manifestasi Konstitusional 117 100,0
2. Manifestasi Muskuloskeletal 115 98,3
3. Manifestasi Kulit 106 90,6
4. Manifestasi Kardiovaskuler 3 2,6
5. Manifestasi Paru 23 19,7
6. Manifestasi Ginjal 31 26,5
7. Manifestasi Hematologik 54 46,2
8. Manifestasi Susunan Saraf 4 3,4
9. Manifestasi Gastrointestinal 9 7,7
Dari tabel 4.4 dapat diketahui bahwa distribusi proporsi penderita SLE berdasarkan manifestasi klinis, terbanyak memiliki manifestasi klinis konstitusional yaitu 117 orang (100%) dan paling sedikit memiliki manifestasi kardiovaskuler yaitu 3 orang (2,6%).
4.2.3 Distribusi Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Derajat Manifestasi
Klinis
Distribusi proporsi penderita SLE yang di rawat inap berdasarkan derajat manifestasi klinis di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.5 Distribusi Proporsi Penderita SLE yang Dirawat Inap Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis Di RSUP H. Adam Malik Medan
4.2.4 Distribusi Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Riwayat Penggunaan
Obat
Distribusi proporsi penderita SLE yang dirawat inap berdasarkan riwayat penggunaan obat di RSUP H. Adam Malik Medan 2011-2015 dapat dilihat di bawah ini :
Tabel 4.6 Distribusi Proporsi Penderita SLE yang Dirawat Inap Berdasarkan Riwayat Penggunaan Obat Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015
No. Riwayat Penggunaan Obat f (%)
1 Tidak ada 114 97,4
2 Ada 3 2,6
Total 117 100,0
Dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa distribusi proporsi penderita SLE berdasarkan riwayat penggunaan obat, lebih banyak tidak memiliki riwayat penggunaan obat ada 114 orang (97,4%) dibandingkan dengan memiliki riwayat penggunaan obat ada 3 orang (2,6%).
4.2.5 Distribusi Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Penatalaksanaan
Medis
Distribusi proporsi penderita SLE yang dirawat inap berdasarkan penatalaksanaan medis SLE di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015 dapat dilihat di bawah ini :
Tabel 4.7 Distribusi Proporsi Penderita SLE yang Dirawat Inap Berdasarkan Penatalaksanaan Medis Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015
No. Penatalaksanaan Medis f (%)
1 Terapi Konservatif 32 27,4
2 Terapi Agresif 85 72,6
Dari tabel 4.7 dapat diketahui bahwa distribusi proporsi penderita SLE berdasarkan pentalaksanaan medis yang diberikan pada penderita SLE, lebih banyak dengan terapi agresif yaitu 85 orang (72,6%) dibandingkan dengan terapi konservatif yaitu 32 orang (27,4%).
4.2.6 Rata-rata Lama Rawatan Penderita SLE
Rata-rata lama rawatan di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.8 Rata-rata lama rawatan Penderita SLE yang Dirawat Inap Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015
Rata-rata Lama Rawatan (Hari)
Mean = 9,85
Median = 8,00
Modus = 3
Standar Deviasi (SD) = 6,66
Variance = 44,39
Coeficient of Variation = 67,61%
Minimum = 1
Maksimum = 36
4.2.7 Distribusi Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Keadaan Sewaktu
Pulang
Distribusi proporsi penderita SLE yang dirawat inap berdasarkan keadaan sewaktu pulang di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.9 Distribusi Proporsi Penderita SLE yang Dirawat Inap Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015 Berdasarkan Keadaan Pulang
No Keadaan Sewaktu Pulang f %
1 Pulang Berobat Jalan 64 54,7
2 Pulang Atas Permintaan Sendiri 17 14,5
3 Meninggal 36 30,8
Total 117 100,0
Dari tabel 4.9 dapat diketahui bahwa distribusi proporsi panderita SLE berdasarkan keadaan sewaktu pulang, terbanyak pulang berobat jalan yaitu 64 orang (54,7%) dan paling sedikit pulang atas permintaan sendiri yaitu 17 orang (14,5%)
4.2.8 Distribusi Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Sumber Biaya
Distribusi proporsi penderita SLE yang dirawat inap berdasarkan sumber biaya di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 terdapat pada tabel di
4.3 Analisa Bivariat
4.3.1 Umur Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis
Distribusi proporsi umur berdasarkan derajat manifestasi klinis penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.11 Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis Penderita SLE yang Dirawat Inap Di RSUP H. Adam Malik dengan derajat manifestasi klinis ringan terdapat 20 orang (62,5%) berumur <24 tahun dan 12 orang (37,5%) berumur ≥24 tahun. Dari 85 orang penderita SLE dengan derajat manifestasi klinis berat terdapat 46 orang (54,1%) berumur <24 tahun dan 39 orang (45,9%) berumur ≥24 tahun.
Analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p=0,415 (p>0,05) artinya tidak ada perbedaan umur berdasarkan derajat manifestasi klinis.
4.3.2 Jenis Kelamin Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis
Tabel 4.12 Distribusi Proporsi Jenis Kelamin Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis Penderita SLE yang Dirawat Inap Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015
No
Dari tabel 4.12 dapat diketahui bahwa dari 32 orang penderita SLE dengan derajat manifestasi klinis ringan terdapat 2 orang (6,25%) laki-laki dan 30 orang (93,75%) perempuan. Dari 85 orang penderita SLE dengan derajat manifestasi klinis berat terdapat 2 orang (2,4%) laki-laki dan 83 (97,6%) perempuan.
Analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square tidak dapat dilakukan karena terdapat 50% sel memiliki nilai excpected <5 maka digunakan alternative uji Fisher Exact diperoleh p= 0,303 (p>0,05) artinya tidak ada perbedaan jenis kelamin berdasarkan derajat manifestasi klinis.
4.3.3 Rata-rata Lama Rawatan Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis
Distribusi proporsi rata-rata lama rawatan berdasarkan derajat manifestasi klinis penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat padatabel di bawah ini :
Tabel 4.13 Distribusi Proporsi Rata-rata lama rawatan Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis Penderita SLE yang Dirawat Inap Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015
Dari tabel 4.13 dapat diketahui bahwa penderita SLE dengan derajat manifestasi klinis ringan memilki rata-rata lama rawatan 5,09 hari sebanyak 32 orang dan penderita SLE dengan derajat manifestasi klinis berat memiliki rata-rata lama rawatan 11,64 hari sebanyak 85 orang.
Sebaran lama rawatan penderita SLE dengan derajat manifestasi klinis ringan (CV=40,80%) lebih sedikit dibandingkan dengan penderita SLE dengan derajat manifestasi klinis berat (CV=59,36%).
Analisa statistik dengan menggunakan uji t-test tidak dapat dilakukan karena setelah uji normalitas menggunakan kolmogorov-smirnov diketahui bahwa data tidak berdistrbusi normal (p<0,05) sehingga digunakan alternative uji Mann Whitney diperoleh p=0,0001 (p<0,05) artinya ada perbedaan rata-rata lama rawatan berdasarkan derajat manifestasi klinis.
4.3.4 Keadaan Sewaktu Pulang Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis
Distribusi proporsi keadaan sewaktu pulang berdasarkan derajat manifestasi klinis penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.14 Distribusi Proporsi Keadaan Pulang Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis Penderita SLE yang Dirawat Inap Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015
Dari tabel 4.14 dapat diketahui bahwa dari 32 orang penderita SLE dengan derajat manifestasi klinis ringan terdapat 23 orang (71,9%) pulang berobat jalan, 9 orang (28,1%) pulang atas permintaan sendiri dan tidak ada yang meninggal. Dari 85 orang penderita SLE dengan derajat manifestasi klinis berat terdapat 41 orang (48,2%) pulang berobat jalan, 8 orang (9,4%) pulang atas permintaan sendiri dan 36 orang (42,4%) meninggal dari seluruh penderita SLE dengan derajat berat.
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Distribusi Penderita SLE
5.1.1 Penderita SLE Berdasarkan Sosiodemografi (Umur, Jenis Kelamin,
Pendidikan, Pekerjaan, Status Perkawinan, Daerah Asal)
Distribusi proporsi penderita SLE berdasarkan sosiodemografi yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 :
a. Umur
Proporsi penderita SLE berdasarkan umur yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 5.1 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Umur yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
Berdasarkan gambar 5.1 dapat diketahui bahwa proporsi penderita SLE berdasarkan umur terbesar pada kelompok umur 20-40 tahun yaitu 48,7%, kemudian pada kelompok umur <20 tahun yaitu 36,8% dan paling kecil pada kelompok umur >40 yaitu14,5%.
48,7%
36,8% 14,5%
96,6% 3,4%
Perempuan Laki-laki
Hal ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri (2014) di Komunitas Cinta Kupu Sumatera Utara yang menyatakan bahwa penderita SLE terbanyak pada kelompok umur 20-40 tahun yaitu 23 orang (51%), sedangkan kelompok umur <20 tahun yaitu 12 orang (27%) dan paling sedikit pada kelompok umur >40 tahun yaitu 10 orang (22%). Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati (2011) di salah satu rumah sakit Bandung menyatakan bahwa penderita SLE lebih banyak terjadi pada umur dewasa awal (20-40 tahun) yaitu 51 orang (68%).
Sebuah penelitian di China menyatakan bahwa umur berperan dalam patogenesis SLE, perempuan pada kelompok usia reproduktif memiliki risiko lebih tinggi disebabkan produksi esterogen dan kasus terbanyak berada dalam kelompok umur dewasa awal yaitu 20-40 tahun (Mak, A dan Tay, SH, 2014)
b. Jenis Kelamin
Proporsi penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 berdasarkan jenis kelamin yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Berdasarkan gambar 5.2 dapat diketahui bahwa proporsi penderita SLE berdasarkan jenis kelamin lebih besar pada perempuan yaitu 96,6% dibandingkan pada laki-laki yaitu 3,4%.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Utomo (2012) di RSUP dr. Kariadi Semarang yang menyatakan bahwa jumlah penderita SLE yang lebih tinggi pada perempuan yaitu 43 orang (97,7%), dibandingkan penderita SLE laki-laki yaitu sebanyak 1 orang (2,3%).
Isselbacker dalam Asih R (2014) menyatakan bahwa mayoritas penderita SLE adalah perempuan muda. Hal ini disebabkan oleh faktor hormonal, yang pada beberapa penelitian menunjukkan hubungan timbal balik antara kadar hormon esterogen dengan sistem imun. Hormon esterogen mengaktivasi sel B poliklonal sehingga mengakibatkan produksi autoantibodi berlebihan.
c. Agama
Proporsi penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 berdasarkan agama yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 5.3 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Agama yang Dirawat Inap
59,0% 34,2%
6,8%
Islam
Berdasarkan gambar 5.3 dapat diketahui bahwa proporsi penderita SLE berdasarkan agama terbesar beragama islam yaitu 59,0%, kemudian Kristen protestan yaitu 34,2% dan paling kecil beragama katolik yaitu 6,8%. Hal ini bukan menunjukkan bahwa agama islam merupakan faktor risiko untuk menderita SLE dan agam tidak berhubungan langsung dengan kejadian SLE.
Pada penelitian ini proporsi penderita SLE terbesar beragama islam karena penduduk Sumatera Utara dominan memeluk agama islam yaitu sebesar 66,38%, kemudian penduduk beragama kristen protestasn sebesar 27,17%, penduduk beragama katolik sebesar 3,99%, penduduk beragama budha sebesar 2,35%, penduduk beragama hindu sebesar 0,11% dan yang paling sedikit adalah penduduk beragam konghucu sebesar 0,01% (BPS Sumatera Utara, 2012).
d. Pendidikan
Proporsi penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 berdasarkan pendidikan yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 5.4 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Pendidikan yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
57,3% 17,9%
15,4%
9,4% Pendidikan tinggi
Berdasarkan gambar 5.4 dapat diketahui bahwa proporsi penderita SLE berdasarkan pendidikan terbesar adalah pendidikan tinggi yaitu 57,3%, kemudian pendidikan menengah sebesar 17,9%, pendidikan dasar sebesar 15,4% dan paling kecil adalah tidak/belum sekolah.
Proporsi penduduk angkatan kerja di Sumatera Utara berdasarkan pendidikan yaitu tidak /belum sekolah sebesar 1,65%, pendidikan dasar sebesar 9,84%, pendidikan menengah sebesar 21,56%, dan pendidikan tinggi sebesar 66,95%. Proporsi penduduk yang masih menjalani pendidikan dasar 14,07%, pendidikan menengah 6,11%, dan pendidikan tinggi 4,63% (BPS Sumatera Utara, 2015).
Besarnya proporsi penderita SLE yang berpendidikan tinggi karena proporsi penduduk Sumatera Utara dengan pendidikan tinggi sebesar 97,40% (BPS Sumatera Utara, 2015). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Komalig, dkk (2006) di Jakarta yang menyatakan bahwa proporsi penderita SLE dengan pendidikan tinggi lebih besar yaitu 90,5%.
Pada penelitian ini proporsi penderita SLE terbesar pada berpendidikan tinggi tapi hal ini bukan menunjukkan bahwa pendidikan tinggi merupakan faktor risiko untuk menderita SLE dan pendidikan tidak berhubungan langsung dengan kejadian SLE.
e. Pekerjaan
Gambar 5.5 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Pekerjaan yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
Berdasarkan gambar 5.5 proporsi penderita SLE berdasarkan pekerjaan terbesar adalah pelajar/mahasiswa/i (44,4%), kemudian ibu rumah tangga (28,2%), wiraswasta (20,5%), pegawai negeri sipil (4,3%) dan proporsi terkecil adalah pegawai swasta (2,6%).
Penduduk Sumatera Utara berdasarkan pekerjaannya, terdapat lebih dari sepertiga bekerja sebagai buruh atau karyawan (38,95%), penduduk yang berusaha sendiri sebesar 18,31%, penduduk yang bekerja sebagai pekerja keluarga sebesar 17,47%, dan pengusaha yang mempekerjakan buruh tetap sebesar 3,55% (BPS Sumatera Utara, 2015)
Pekerjaan penderita SLE merupakan status pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan penderita SLE sehari-hari. Besarnya proporsi penderita SLE yang masih pelajar/mahasiswa/i karena proporsi penderita SLE berdasarkan umur terbesar pada kelompok remaja (<20 tahun) dan dewasa awal (20-40 tahun) yang mayoritas masih menjadi pelajar/mahasiswa/i dan proporsi penduduk di Sumatera
44,4%
28,2% 20,5%
4,3% 2,6%
Pelajar/Mahasiswa/i Ibu Rumah Tangga Wiraswasta
Utara dengan status pelajar/mahasiswa/i sebesar 24,81% (BPS Sumatera Utara, 2015)
Pada penelitian ini proporsi penderita SLE terbesar adalah pelajar/mahasiswa/i tapi hal ini bukan menunjukkan bahwa pekerjaan bukan merupakan faktor risiko untuk menderita SLE dan pendidikan tidak berhubungan langsung dengan kejadian SLE.
f. Status Perkawinan
Proporsi penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 berdasarkan status perkawinan yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 5.6 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Status Perkaninan yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
Berdasarkan gambar 5.6 dapat diketahui bahwa penderita SLE berdasarkan status perkawinan terbesar adalah belum kawin yaitu 56,4%, kemudian kawin sebesar 40,2% dan paling kecil cerai hidup/mati sebesar 3,4%.
Pada penelitian ini proporsi penderita SLE banyak yang berstatus belum kawin karena pasien yang berobat di RSUP H. Adam Malik Medan mayoritas
56,4% 40,2%
3,4%
Belum Kawin Kawin
berada dalam kelompok umur remaja dan dewasa awal yang masih menjadi pelajar/mahasiswa/i. Hal ini bukan menunjukkan bahwa status belum kawin merupakan faktor risiko untuk menderita SLE dan status perkawinan tidak berhubungan langsung dengan kejadian SLE.
g. Daerah Asal
Proporsi penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 berdasarkan daerah asal yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 5.7 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Daerah Asal yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
Berdasarkan gambar 5.7 dapat diketahui bahwa proporsi penderita SLE berdasarkan daerah asal terbesar berasal dari luar Kota medan yaitu 76,9% dibandingkan penderita SLE yang berasal dari Kota Medan yaitu 23,1%.
Pada penelitian ini proporsi penderita SLE banyak yang berasal dari luar Kota Medan karena RSUP H. Adam Malik merupakan rumah sakit kelas A yang menjadi pusat rujukan dari berbagai rumah sakit lainnya sehingga pasien yang berobat di RSUP H. Adam Malik Medan mayoritas pasien rujukan dari luar Kota
76,9% 23,1%
Medan. Hal ini bukan menunjukkan bahwa berasal dari luar Kota Medan merupakan faktor risiko untuk menderita SLE dan asal daerah tidak berhubungan langsung dengan kejadian SLE.
5.1.2 Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Manifestasi Klinis
Proporsi penderita SLE yang di rawat inap berdasarkan setiap manifestasi klinis di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 5.8 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Manifestasi Klinis yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
Dari gambar 5.8 dapat diketahui bahwa penderita SLE berdasarkan setiap manifestasi klinis tertinggi dengan manifestasi konstitusional sebesar 100% dan terendah dengan manifestasi kardiovaskuler sebesar 2,6%.
Cervera R (2003) menyatakan bahwa manifestasi konstitusional merupakan keluhan yang umum dijumpai pada penderita SLE dan mendahului berbagai
100% 98,3%
90,6%
2,6%
19,7% 26,5%
46,2%
3,4% 7,7% 0
20 40 60 80 100 120
manifestasi klinis lainnya. Manifestasi konstitusional yang terjadi adalah kelelahan, penurunan berat badan dan demam, biasanya manifestasi kontitusional sulit dibedakan dengan gejala penyakit lainnya.
Tingginya manifestasi konstitusional, muskuloskletal dan kulit karena ketiga manifestasi ini dapat menetap dan terjadi secara bersamaan dengan manifestasi lainnya (kelainan organ) pada penderita SLE. Hopkinson, dkk (Inggris) dalam Saigal, dkk (2011) menyatakan 85% penderita SLE yang pertama kali didiagnosa positif menderita SLE memiliki manifestasi muskuloskeletal dan kulit.
Kelainan organ yang terjadi berupa manifestasi kardiovaskuler, manifestasi paru, manifestasi ginjal, manifestasi hematologik, manifestasi susunan saraf, dan manifestasi gastrointestinal merupakan manifestasi yang mengancam nyawa penderita SLE.
5.1.3 Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis
Gambar 5.9 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
Berdasarkan gambar 5.9 dapat diketahui bahwa penderita SLE berdasarkan derajat manifestasi klinis lebih besar pada derajat manifestasi klinis berat yaitu 72,6%, dibandingkan dengan manifestasi klinis ringan yaitu 27,4%.
Besarnya proporsi penderita SLE dengan derajat manifestasi berat disebabkan manifestasi yang muncul sangat bervariasi, berbeda pada setiap individu dan sering mirip dengan penyakit lainnya sehingga sulit untuk didiagnosis secara dini (Yuliasih, 2013).
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Utomo (2012) di RSUP dr. Kariadi Semarang yang menyatakan bahwa penderita SLE dengan berdasarkan manifestasi klinis terbanyak adalah manifestasi berat yaitu 22 orang (50,0%) dan paling sedikit memiliki manifestasi ringan yaitu 9 orang (20,5%).
5.1.4 Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Riwayat Penggunaan Obat
Proporsi penderita SLE yang di rawat inap berdasarkan riwayat penggunaan obat di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar
72,6% 27,4%
Gambar 5.10 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Riwayat Penggunaan Obat yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
Berdasarkan gambar 5.10 dapat diketahui bahwa proporsi penderita SLE berdasarkan riwayat penggunaan obat terbesar adalah yang tidak memiliki riwayat penggunaan obat yaitu 97,4% dibandingkan dengan yang memiliki riwayat penggunaan obat sebesar 2,6%.
Vedove dalam Xiao dan Chang (2013) menyatakan bahwa ada 10% kasus SLE memiliki riwayat penggunaan obat. Riwayat penggunaan obat pada penderita SLE merupakan sindrom temporal yang berhubungan dengan obat-obatan tertentu yang terus menerus yang dapat sembuh setelah penghentian obat dan perawatan yang baik.
5.1.5 Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Pentalaksanaan Medis
Proporsi penderita SLE yang di rawat inap berdasarkan penatalaksanaan medis di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
97,4% 2,6%
Gambar 5.11 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Pentalaksanaan Medis yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
Berdasarkan gambar 5.11 dapat diketahui bahwa proporsi penderita SLE berdasarkan penatalaksanaan medis terbesar dengan terapi agresif yaitu 72,6% dibandingkan dengan terapi konservatif sebesar 27,4%.
Besarnya proporsi pemberian terapi agresif disebabkan karena penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik merupakan penderita SLE dengan berat. Terapi agresif yang paling banyak diberikan kepada penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 adalah methylprednisolon dari golongan kortikosteroid dan azathioprine dari golongan imunosupresif.
Hal ini sejalan dengan penelitian Nugroho dkk (2015) di Rumah Sakit Al-Ihsan Bandung yang menyatakan bahwa penderita SLE yang diberi terapi agresif sebanyak 119 orang (73%) dibandingkan penderita SLE yang diberi terapi konservatif.
72,6% 27,4%
5.1.6 Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang
Proporsi penderita SLE yang di rawat inap berdasarkan keadaan sewaktu pulang di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 5.12 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
Dari gambar 5.12 dapat diketahui bahwa proporsi penderita SLE berdasarkan keadaan sewaktu pulang terbesar pulang berobat jalan yaitu 54,7%, kemudian meninggal sebesar 30,8% dan paling kecil pulang atas permintaan sendiri sebesar 14,5%.
Proporsi penderita SLE yang pulang berobat jalan merupakan keadaan penderita SLE yang terbesar karena penderita SLE dengan derajat ringan sehingga setelah dirawat inap dan mendapatkan penatalaksanaan medis yang sesuai di RSUP H. Adam Malik kondisinya lebih baik dan terkontrol sehingga dapat melanjutkan pengobatan rawat jalan.
54,7% 30,8%
1,4%
Pulang Berobat Jalan Meninggal
Penderita SLE yang meninggal merupakan penderita SLE dengan derajat manifestasi berat, yaitu manifestasi yang telah merusak organ-organ tubuh (kardiovaskuler, paru, ginjal, susunan saraf, dan pencernaan). Penderita SLE yang meninggal mayoritas perempuan yaitu 35 orang (97,2%) yang berada dalam kelompok umur <24 tahun sebesar (52,8%) dengan status belum kawin (55,56%) dan berasal dari luar Kota Medan (72,2%).
Penderita SLE yang pulang atas permintaan sendiri karena keadaan penderita SLE setelah dirawat inap dan mendapatkan penatalaksanaan yang sesuai keadaannya lebih baik dan meminta untuk pulang dan juga berkaitan dengan sumber biaya.
5.1.7 Proporsi Penderita SLE Berdasarkan Sumber Biaya
Proporsi penderita SLE yang di rawat inap berdasarkan sumber biaya di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 5.13 Proporsi Penderita SLE berdasarkan Sumber Biaya yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
81,2% 18,8%
62.50% Berdasarkan gambar 5.13 dapat diketahui bahwa proporsi penderita SLE berdasarkan sumber biaya terbesar adalah bukan biaya sendiri yaitu 81,2% dibandingkan biaya sendiri sebesar 18,8%.
RSUP H. Adam Malik merupakan rumah sakit pemerintah yang melayani pasien dari seluruh lapisan masyarakat baik dengan bukan dengan biaya sendiri (asuransi kesehatan pemerintah atau swasta) maupun biaya sendiri. Besarnya proporsi bukan biaya sendiri karena mayoritas masyarakat sudah merupakan anggota asuransi kesehatan baik asuransi berupa jaminan kesehatan dari pemerintah maupun asuransi kesehatan swasta.
5.2 Analisa Bivariat
5.2.1 Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis
Distribusi proporsi umur berdasarkan derajat manifestasi klinis pada penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
6.30% Berdasarkan gambar 5.14 dapat dilihat bahwa proporsi penderita SLE dengan derajat manifesatsi klinis ringan lebih tinggi pada umur <24 tahun (62,5%) dibandingkan penderita SLE pada umur ≥24 tahun (37,5%). Proporsi penderita
SLE dengan derajat manifestasi berat lebih tinggi pada umur <24 tahun (54,1%) dibandingkan dengan penderita SLE pada umur ≥24 tahun (45,9%).
Hasil analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh p=0,415 (p>0,05) artinya tidak ada perbedaan umur berdasarkan derajat manifestasi klinis.
5.2.2 Distribusi Proporsi Jenis Kelamin Berdasarkan Derajat Manifestasi
Klinis
Distribusi proporsi jenis kelamin berdasarkan derajat manifestasi klinis pada penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Berdasarkan gambar 5.15 dapat dilihat bahwa proporsi penderita SLE dengan manifestasi ringan tertinggi pada penderita perempuan (93,8%) dibandingkan pada penderita SLE laki-laki (6.3%). Proporsi penderita SLE dengan derajat manifestasi berat lebih tinggi pada penderita SLE perempuan (97,6%) dibandingkan penderita SLE laki-laki (2,4%).
Hasil analisa statistik dengan menggunakan uji Fisher Exact diperoleh p=0,303 (p>0,05) artinya tidak ada perbedaan jenis kelamin berdasarkan derajat manifestasi klinis.
5.2.3 Distribusi Proporsi Rata-rata Lama Rawatan Berdasarkan Derajat
Manifestasi Klinis
Distribusi proporsi lama rawatan rata-rata berdasarkan derajat manifestasi klinis pada penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 5.16 Distribusi Proporsi Rata-rata Lama Rawatan berdasarkan Derajat Manifestasi Klinis Penderita SLE yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
11,64 5,09
0 5 10 15
Berat Ringan
Berdasarkan gambar 5.16 dapat dilihat bahwa penderita SLE dengan derajat manifestasi berat memiliki rata-rata lama rawatan 11,64 hari dan dengan derajat manifestasi ringan 5,09 hari.
Hasil analisa statistik dengan uji Mann Whitney diperoleh p= 0,0001 (p<0,05) artinya ada perbedaan rata-rata lama rawatan berdasarkan manifestasi klinis penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015.
5.2.4 Distribusi Proporsi Keadaan Sewaktu Pulang Berdasarkan
Manifestasi Klinis
Distribusi proporsi keadaan sewaktu pulang berdasarkan manifestasi klinis pada penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 5.17 Distribusi Proporsi Keadaan Sewaktu Pulang berdasarkan Manifestasi Klinis Penderita SLE yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2015
Berdasarkan gambar 5.17 dapat dilihat bahwa proporsi keadaan sewaktu pulang penderita SLE dengan derajat manifestasi ringan tertinggi pulang berobat jalan (71,9%), diikuti pulang atas permintaan sendiri (28,1%) dan tidak ada yang meninggal. Keadaan sewaktu pulang penderita SLE dengan derajat manifestasi berat tertinggi adalah meninggal (42,4%), diikuti pulang berobat jalan (48,2%) dan pulang atas permintaan sendiri (9,4%).
Proporsi penderita SLE dengan derajat manifestasi klinis ringan lebih tinggi pulang berobat jalan karena setelah mendapatkan penatalaksanaan yang sesuai penderita SLE dengan manifestasi ringan kondisinya membaik sehingga pengobatan dilanjutkan dengan rawat jalan. Penderita SLE dengan derajat manifestai ringan yang pulang atas permintaan sendiri karena penderita yang sudah dirawat inap dan mendapatkan pentalaksanaan yang sesuai, kondisinya lebih baik dan meminta untuk pulang disebabkan faktor ekonomi terutama bagi penderita SLE dengan biaya sendiri. Penderita SLE dengan derajat manifestasi ringan tidak ada yang meninggal karena pada derajat manifestasi ringan belum ada kerusakan pada organ vital sehingga tidak mengancam nyawa.
Penderita SLE dengan derajat berat yang meninggal karena penderita SLE sudah mengalami kerusakan organ vital tubuh. Penderita SLE dengan derajat berat yang meninggal di RSUP H. Adam Malik Medan karena dominan penderita SLE berasal dari luar kota Medan sehingga penderita SLE datang dengan keadaan buruk. Penderita SLE dengan derajat manifestai berat yang pulang atas permintaan sendiri seperti penderita SLE dengan derajat manifestasi ringan, setelah dirawat inap dan mendapatkan pentalaksanaan medis yang sesuai, kondisinya lebih baik dan meminta untuk pulang disebabkan faktor ekonomi terutama bagi penderita SLE dengan biaya sendiri.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah:
6.1.1 Jumlah penderita SLE yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2015 adalah sebayak 117 orang.
6.1.2 Proporsi terbesar penderita SLE pada kelompok umur 20-40 tahun (48,7%), rata-rata umur penderita SLE adalah 26,13 tahun, berjenis kelamin perempuan (96,6%), beragama islam (59,0%), pendidikan tinggi (57,3%), pekerjan pelajar/mahasiswa/i (44,4%), belum kawin (56,4%), dan berasal dari luar Kota Medan (76,9%).
6.1.3 Proporsi tertinggi penderita SLE berdasarkan manifestasi klinis adalah manifestasi konstitusional (100%).
6.1.4 Proporsi terbesar penderita SLE berdasarkan derajat manifestasi klinis adalah manifestasi klinis berat (72,6%).
6.1.5 Proporsi terbesar penderita SLE berdasarkan riwayat penggunaan obat adalah tidak ada (97,4%).
6.1.6 Proporsi terbesar penderita SLE berdasarkan penatalaksanaan medis adalah terapi agresif (72,6%).
6.1.8 Proporsi terbesar penderita SLE berdasarkan keadaan sewaktu pulang adalah pulang berobat jalan (54,7%).
6.1.9 Proporsi terbesar penderita SLE berdasarkan sumber biaya adalah bukan biaya sendiri (81,2%).
6.1.10 Tidak ada perbedaan manifestasi klinis berdasarkan kelompok umur (0,415).
6.1.11 Tidak ada perbedaan jenis kelamin berdasarkan derajat manifestasi (p=0,303).
6.1.12 Ada perbedaan rata-rata lama rawatan berdasarkan manifestasi klinis (p=0,0001).
6.1.13 Ada perbedaan keadaan sewaktu pulang berdasarkan manifestasi klinis (p=0,0001).
6.2 Saran
6.2.1 Kepada populasi yang berisiko menderita SLE terutama perempuan pada usia produktif yang memiliki keluarga dengan riwayat penyakit SLE agar melakukan upaya pencegahan, seperti konseling genetik sebelum menikah.
6.2.3 Kepada penderita SLE dengan manifestasi ringan harus mengontrol penyakitnya dengan patuh obat untuk mencegah terjadinya manifestasi berat yang mengancam nyawa.