• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Sis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Sis"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA DALAM BIDANG STUDI DASAR-DASAR KEJURUAN ADMINISTRASI PERKANTORAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN PREDICTION GUIDE DI KELAS X

AP 2 SMK NUSATAMA PADANG

ARTIKEL

Artikel Ini Disusun Berdasarkan Skripsi Untuk Wisuda Periode 104 (September 2015) dan Telah Diperiksa atau Disetujui Oleh Kedua Dosen Pembimbing

Oleh :

RIAN NOVERIANTO 2011/1103260

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN

FAKULTAS EKONOMI

(2)
(3)

Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa dalam Bidang Studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran dengan Menggunakan Metode Pembelajaran

Prediction Guide di Kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang

Rian Noverianto

Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang Jln. Prof. Dr. Hamka Kampus UNP Air Tawar Barat Padang

e-mail: [email protected]

ABSTRACT

This study aims to look at how the efforts of researchers in improving student learning activities in the field of Vocational Studies Basics Administration by using learning a methods Prediction Guide. This research is a Classroom Action Research, the subjects were students of Class X AP 2 SMK Nusatama Padang, many as 35 people overall are female students. The research data was collected using observation sheet that is used to see changes in the activity of students in the first and second meeting in the First Cycle. The data were analyzed using percentages. Indicators of success that researchers use are divided into two kinds, namely: an indicator of success for a positive learning activity and negative learning activities. To positive learning activities, indicators of success

≥65% and for the negative activities, the success indicator ≤20%. The results of the two meetings

showed that the students learning activities that are relevant to learning (positive) to increase since the first meeting and this improvement continued in the second meeting in the First Cycle. Thus it can be concluded from this study that one of the efforts that can be taken by teachers to improve learning activities of students are using a method Prediction Guide. For further research, it is expected to use a derivative indicator in determining the standard of success of a classroom action research.

Keywords: Student Learning Activities, a method Prediction Guide

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana upaya peneliti dalam meningkatkan Aktivitas Belajar siswa dalam Bidang Studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran dengan menggunakan metode pembelajaran Prediction Guide. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), dengan subjek penelitian adalah siswa Kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang yang berjumlah sebanyak 35 orang yang secara keseluruhan adalah siswa perempuan. Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi yang digunakan untuk melihat perubahan aktivitas belajar siswa pada pertemuan pertama dan kedua dalam Siklus I. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis persentase. Indikator keberhasilan yang peneliti gunakan terbagi menjadi dua macam, yaitu: Indikator keberhasilan untuk aktivitas belajar

positif dan aktivitas belajar negatif. Untuk aktivitas belajar positif, indikator keberhasilannya ≥65% dan untuk aktivitas negatif, indikator keberhasilannya ≤20%. Hasil penelitian dari dua pertemuan menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa yang relevan dengan pembelajaran (positif) mengalami peningkatan sejak pertemuan pertama dan peningkatan ini berlanjut pada pertemuan kedua dalam Siklus I. Dengan demikian dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa salah satu upaya yang dapat ditempuh guru dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa adalah dengan menggunakan metode

Prediction Guide. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan menggunakan indikator turunan dalam menetapkan standar keberhasilan sebuah penelitian tindakan kelas.

(4)

I. PENDAHULUAN

Sektor Pendidikan merupakan program utama sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa, karena pendidikan berupaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui pendidikan, peserta didik dibantu dan dibimbing untuk mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki potensi dalam menghadapi tantangan dan persoalan kehidupan yang semakin kompleks pada masa sekarang dan masa mendatang.

Sebagai salah satu cabang rumpun Ilmu Manajemen dan Bisnis, keberadaan kompetensi Administrasi Perkantoran khususnya dalam bidang studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran tidak dapat dipungkiri lagi bagi perkembangan dunia bisnis saat ini. Melihat pentingnya keberadaan kompetensi Administrasi Perkantoran yang selalu mencetak tenaga ahli bidang Administrasi atau Kesekretarisan yang dibutuhkan pasar tenaga kerja saat ini. Guru bidang studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran SMK Nusatama Padang telah melakukan berbagai upaya guna meningkatkan mutu keprofesionalannya, seperti: pengimplementasian kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Administrasi Perkantoran dalam setiap kali proses pembelajaran, memperbaiki perangkat pembelajaran, melakukan pembenahan terhadap sarana dan prasarana, ikut serta dalam kegiatan pelatihan dan keterampilan, serta melakukan diskusi atau kegiatan lainnya melalui MGMP AP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran Administrasi Perkantoran). Berbagai upaya yang telah diaplikasikan guru tersebut diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan akan bermuara pada peningkatan hasil belajar serta kompetensi siswa di bidang Administrasi Perkantoran.

Namun kalau kita tinjau dari faktanya, upaya yang dilakukan guru tersebut belum mampu secara maksimal untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa di kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang. Semua ini terjadi tentu ada

penyebabnya atau bisa dikatakan terdapat faktor lain yang mempengaruhi aktivitas belajar di sekolah ini. Untuk menjawab serta memecahkan masalah aktivitas belajar yang terjadi di sekolah ini, maka penulis akan melakukan observasi awal. Dalam observasi ini diharapkan penulis dapat menemukan atau mengidentifikasi satu per satu penyebab akar permasalahan yang terjadi di sekolah ini.

Berdasarkan observasi awal dengan jalan melakukan pengamatan langsung dan wawancara terhadap guru bidang studi yang penulis temui di SMK Nusatama Padang pada tanggal 24 Maret 2014, guru tersebut menyatakan banyaknya aktivitas negatif yang sering dilakukan siswa dalam proses pembelajaran ketimbang aktivitas positif, sehingga dengan adanya aktivitas negatif tersebut dapat menurunkan aktivitas positif secara langsung. Adapun aktivitas negatif yang sering dilakukan siswa itu, seperti: banyaknya siswa keluar-masuk dalam proses pembelajaran, siswa mengerjakan tugas lain, siswa yang mengganggu siswa lain, siswa tidak memperhatikan guru dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya, berikut ini hasil pengamatan penulis mengenai aktivitas belajar siswa Kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang, yang disajikan dalam tabel 1:

(5)

Sedangkan siswa yang melakukan aktivitas negatif, seperti: keluar-masuk saat PBM 20%, mengerjakan tugas lain 28,57%, mengganggu siswa lain 17,14%, tidak memperhatikan guru 14,28%. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa siswa yang melakukan aktivitas belajar positif lebih sedikit atau lebih rendah jika dibandingkan dengan aktivitas negatif di dalam proses pembelajaran.

Dari sekian banyaknya faktor yang menyebabkan rendahnya aktvitas belajar siswa tersebut, penulis menduga salah satu faktor itu adalah metode pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah. Guru bidang studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran di SMK Nusatama Padang ini masih menggunakan metode ceramah di dalam setiap kali proses pembelajaran, sehingga siswa menjadi bosan, lesu dalam belajar, serta merasa sangat monoton sekali. Berdasarkan masalah di atas, penulis tertarik untuk mencoba suatu metode pembelajaran baru dengan harapan penerapan metode ini dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Metode pembelajaran yang akan diterapkan itu adalah metode Prediction Guide (tebak pelajaran). Menurut Zaini (2007:146), metode ini lebih menekankan kepada kemampuan analisis, kemampuan berbicara, serta kemampuan berfikir kritis sehingga dinilai lebih cocok kepada perkembangan intelegensi anak pada tingkat sekolah menengah, dengan harapan akan menjadikan bidang studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran terkesan lebih mudah, menyenangkan dan bermanfaat bagi kehidupan.

Prediction Guide memiliki pengertian sebagaimana berikut ini: “Prediction Guide terdiri dari dua kata yaitu prediction dan guide”. Dalam Echol (2003:443) prediction berarti ramalan, perkiraan atau prediksi. Sedangkan Guide dalam Echol (2003:125) berarti buku pedoman, panduan, menuntun atau mempedomani. Jadi, prediction guide berarti panduan atau penuntun prediksi.

Sedangkan Zaini (2007:4) mengartikan prediction guide sebagai tebak pelajaran.

Dalam metode pembelajaran prediction guide ini, siswa dituntut untuk lebih aktif di dalam proses belajar-mengajar, karena pada metode ini kemampuan analitik siswa lebih cenderung untuk dikembangkan, seperti: kemampuan bertanya, berpendapat dan kemampuan untuk memecahkan permasalahan terkait isu-isu yang tengah dibahas. Untuk itulah diusahakan suatu proses belajar-mengajar agar siswa memahami apa yang mereka pelajari.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang relevan, yang dilaksanakan oleh Maulana, Yoppie (2012) yang berjudul “Upaya Meningkatan Hasil Belajar siswa dalam Pembelajaran Sejarah dengan Menggunakan Metode Prediction Guide Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Pariaman”. Hasil penelitian itu menunjukkan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Prediction Guide dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah. Dari penelitian terdahulu tersebut penulis sangat tertarik dan ingin mencoba dengan metode yang sama, namun dengan level kognitif dan motivasi yang berbeda. Penelitian yang akan penulis lakukan ini untuk membuktikan apakah Metode Pembelajaran Prediction Guide akan mampu untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa atau tidak pada sekolah ini.

Berdasarkan rumusan masalah, secara umum tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah: “Bagaimanakah upaya yang akan dilakukan peneliti untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam Bidang Studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran di Kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang?”.

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Aktivitas Belajar siswa

(6)

aktivitas belajar merupakan prinsip atau azas yang sangat penting di dalam proses pembelajaran. Selama proses pembelajaran berlangsung, di harapkan siswa akan selalu aktif. Keaktifan siswa dapat berupa aktivitas fisik maupun aktivitas psikis, aktivitas positif maupun aktivitas negatif.

Ahmadi (2004:132) mendefenisikan aktivitas belajar sebagai “tindakan -tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan belajar”. Aktivitas belajar adalah suatu perilaku yang selalu berusaha bekerja atau belajar dengan sungguh-sungguh untuk mendapat kemajuan atau prestasi gemilang yang diperoleh dari perubahan tingkah laku, pengalaman dan latihan.

2. Proses Belajar dan Pembelajaran

Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan. Manusia telah banyak memulai proses belajar semenjak dilahirkan, telah banyak perubahan dan keterampilan hidup yang dimilikinya karena proses belajar. Belajar dapat mengembangkan potensi diri yang ada, yang dapat meningkatkan kualitas pribadi. Menurut Hilgrad dan Bower dalam Rahyubi (2012:4), bahwa: belajar adalah memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas dan penguasaan tentang sesuatu. Dari kutipan di atas dapat dikatakan bahwa belajar menuntut keaktifan siswa untuk tercapainya tujuan pendidikan. Dengan belajar seseorang dapat mampu memahami dan menguasai berbagai hal baik berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Menurut Sardiman (2005:21), menyatakan bahwa: “Belajar adalah usaha mengubah tingkah laku”. Perubahan sebagai hasil belajar dapat ditujukan dalam berbagai bentuk, seperti: pengetahuan yang berubah, pemahaman, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, dan

kemampuannya serta aspek-aspek yang ada pada individu.

Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi disekitar individu dan seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan tertentu dalam dirinya. Perubahan itu muncul setelah siswa berinteraksi dengan lingkungannya sehingga menimbulkan pengalaman dalam diri siswa. Sedangkan pembelajaran adalah suatu upaya untuk memaksimalkan hasil belajar. Hal ini senada dengan pendapat Rahyubi (2012:6), yang mengatakan bahwa: “pembelajaran adalah suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.

3. Metode Pembelajaran

Metode Pembelajaran adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, Djamarah (2000:19). Jadi, metode pembelajaran merupakan jembatan untuk mencapai tujuan mengajar dan hasil belajar yang baik.

Metode pembelajaran bagi seorang guru adalah jembatan untuk mencapai tujuan pembelajaran, sementara metode pembelajaran bagi seorang siswa adalah jembatan untuk memudahkan belajar agar memperoleh hasil yang baik.

Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan siswa untuk memudahkan memahami materi yang dipelajari. Dalam kegiatan belajar-mengajar, metode pembelajaran diperlukan oleh guru guna kepentingan pembelajaran. Keberhasilan proses belajar-mengajar tergantung pada bermacam-macam komponen yang merupakan satu kesatuan dan saling membantu dalam mencapai tujuan pengajaran.

4. Metode Pembelajaran Prediction Guide

(7)

yaitu prediction dan guide”. Dalam Echol (2003:443) prediction berarti ramalan, perkiraan atau prediksi. Sedangkan Guide dalam Echol (2003:125) berarti buku pedoman, panduan, menuntun atau mempedomani. Jadi, prediction guide berarti panduan atau penuntun prediksi. Sedangkan Zaini (2007:4) mengartikan prediction guide sebagai tebak pelajaran.

III. METODOLOGI PENELITIAN Pembahasan pada BAB III mengenai metodologi penelitian yang terdiri atas: Jenis penelitian, Subjek penelitian, Tempat dan Waktu penelitian, Sasaran penelitian, Desain penelitian, Defenisi operasional, Alat pengumpulan data, Teknik analisis data, Indikator keberhasilan.

Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa-siswanya.

Penelitian ini dilaksanakan di SMK Nusatama Padang. Sekolah ini berlokasi di pusat kota. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang yang berjumlah 35 orang yang secara keseluruhan adalah siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada semester II pada tahun ajaran 2014/2015. Penelitian ini mengacu pada desain PTK model Kurt Lewin (dalam Madya: 2007:59) yang terdiri dari empat komponen yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi, seperti pada gambar 2 berikut ini:

Data dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dan kuantitatif ini diperoleh dari proses pembelajaran. Sumber data adalah siswa Kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang yang menjadi subjek penelitiannya. Selain itu sumber data penelitian di dapat dari proses kegiatan belajar-mengajar dalam bidang studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran dengan menggunakan metode Prediction Guide yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, aktivitas belajara siswa sewaktu pembelajaran.

Indikator keberhasilan pada penelitian ini adalah terjadi atau tidaknya peningkatan aktivitas belajar siswa positif selama proses belajar-mengajar setelah pelaksanaan penelitian pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua dalam satu Siklus. Indikator keberhasilan ini dibagi dua, yaitu indikator keberhasilan untuk aktivitas positif dan aktivitas negatif. Kriteria dari indikator keberhasilan untuk aktivitas belajar positif adalah 65% dan untuk aktivitas belajar negatif adalah ≤20%.

(8)

nanti pada pertemuan kedua dalam Siklus I.

Lembar Observasi

Peneliti menggunakan lembar observasi untuk mengukur aktivitas belajar positif dan negatif siswa seperti di sajikan pada tabel 5 dan 6 berikut ini:

IV. HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN

1. Hasil penelitian pada Siklus I

Data hasil observasi ini didapat melalui lembar observasi aktivitas belajar yang diukur selama proses pembelajaran berlangsung. Pada pelaksanaan penelitian terjadi peningkatan aktivitas positif dan penurunan pada aktivitas negatif di setiap indikatornya. Indiaktor aktivitas positif: (1) Mengisi lembar observasi

Prediction Guide; (2) Mengajukan pertanyaan; (3) Berdiskusi dengan kelompoknya; (4) Mengemukakan pendapat; (5) Mengerjakan lembar observasi Prediction Guide tepat

waktu. Serta indikator aktivitas negatif: (1) Mengerjakan tugas lain; (2) Menganggu siswa lain.

Hasil pengamatan observer terhadap aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran Siklus I dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini:

Keterangan:

P = Pertemuan ke

N = Jumlah siswa yang hadir

2. Perkembangan Pertemuan ke-1 dan Pertemuan ke-2 dalam Siklus I

(9)

Pembahasan

Berdasarkan analisis data dari hasil penelitian pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua dalam Siklus I yang telah peneliti lakukan, selanjutnya dilakukan pembahasan terhadap aktivitas belajar tersebut. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa dengan menggunakan Metode Prediction Guide pada bidang studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran yang diterapkan pada siswa Kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang menyebabkan aktivitas belajar siswa positif yang relevan dengan proses pembelajaran meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsimi (2010:7), yang menyatakan bahwa: “tujuan penilaian aktivitas belajar adalah untuk mengetahui siswa mana yang lebih aktif dalam pembelajaran dan siswa mana yang masih pasif dalam pembelajaran”. Bagi siswa yang telah aktif, maka akan diusahakan untuk senantiasa mempertahankan keaktifan mereka dalam belajar, seperti: menumbuhkan rasa percaya diri, memberikan motivasi, penghargaan dan lain-lain. Begitu juga dengan siswa yang masih pasif dalam belajar, perlakuan yang diberikan guru hampir sama namun porsinya lebih besar ketimbang siswa yang aktif. Selanjutnya, aktivitas belajar siswa positif dalam proses pembelajaran pada penelitian ini yaitu mengisi lembaran Prediction Guide, mengajukan pertanyaan, berdiskusi dengan kelompoknya, mengemukakan pendapat, menyerahkan lembaran Prediction Guide tepat waktu. Sebaliknya, aktivitas belajar siswa negatif pada saat proses pembelajaran berlangsung mengalami penurunan. Adapun aktivitas belajar siswa negatif selama proses pembelajaran adalah siswa mengerjakan tugas lain dan mengganggu siswa lain. Untuk aktivitas belajar negatif mengerjakan tugas lain dapat ditekan turun, tetapi tidak dengan aktivitas belajar neg

atif mengganggu siswa lain yang cendrung tetap disetiap pertemuannya. Hal ini disebabkan karena peneliti kurang tegas

sehingga belum berhasil dalam mengelola kelas yang heterogen dengan baik.

Pada pertemuan pertama Siklus I rata-rata aktivitas belajar positif sebesar 70,71% meningkat sebesar 2,71% menjadi 73,42% pada pertemuan kedua Siklus I. Sedangkan aktivitas belajar negatif selama pembelajaran pada pertemuan pertama Siklus I dengan rata-rata sebesar 6,78% mengalami penurunan sebesar 0,36% menjadi 6,42% pada pertemuan kedua Siklus I. Hal ini sesuai dengan indikator keberhasilan sebesar ≥65% untuk aktivitas belajar positif, sedangkan untuk indikator keberhasilan aktivitas belajar negatif adalah sebesar ≤20%.

Kenyataan ini terjadi karena penerapan Metode Prediction Guide ini mampu membuat siswa untuk belajar aktif seperti: belajar kelompok, interaksi satu sama lain, mengemukakan gagasan sendiri dan bertanya, bahkan memecahkan masalah yang telah dibentuk sendiri. Hal ini senada dengan pendapat Zaini (2007:59), mengatakan bahwa metode pembelajaran aktif Prediction Guide ini digunakan untuk melibatkan peserta didik secara aktif dalam pembelajaran, mulai dari awal pembelajaran sampai kepada akhir pembelajaran. Sedangkan kelebihan dari metode Prediction Guide menurut pendapat Wina (2009:220) yang menyatakan bahwa: (a) Siswa dapat cepat memahami isi pelajaran; (b) Lebih menantang kemampuan siswa; (c) Meningkatkan aktivitas pembelajaran; (d) Membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan, (e) Mengembangkan pengetahuan barunya; (f) Memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap bidang studi pada dasarnya merupakan cara berfikir kritis; (g) Menyenangkan dan disukai siswa; (h) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuannya; (j) mengembangkan minat siswa untuk belajar secara terus-menerus .

(10)

yang akan diberikan kepada siswa. Metode yang digunakan oleh seorang guru akan berpengaruh terhadap kualitas dan hasil dari proses belajar. Penggunaan metode pembelajaran yang telah dievaluasi dan dielaborasi akan mampu meningkatkan kemampuan siswa untuk meningkatkan penguasaan suatu materi pelajaran, karena hal ini berkaitan dengan proses ingatan. Kesesuaian urutan elaborasi dengan proses urutan pembentukan ingatan, tidak saja meningkatkan ingatan. Tetapi juga menjadikan belajar lebih efisien dan mendorong keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

Selama penelitian, terdapat beberapa hambatan yang peneliti temukan. Hal ini terjadi karena peneliti belum memiliki banyak pengalaman mengajar dan metode Prediction Guide merupakan pengalaman baru bagi peneliti dan siswa kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang. Hambatan yang ditemukan adalah penggunaan waktu yang kurang efisien dan efektif, hal ini disebabkan oleh waktu yang tersita karena penataan kelas sebelum proses belajar dimulai. Pada pertemuan pertama, siswa kebanyakan bingung dengan metode yang akan digunakan selama proses pembelajaran, sehingga timbul banyak pertanyaan demi pertanyaan dari siswa. Sulitnya menertibkan siswa ketika diskusi kelompok sedang berlangsung yang mengakibatkan suasana kelas menjadi tidak nyaman karena sebagian siswa tidak ikut berdiskusi dengan baik. Namun, itu semua dapat peneliti tangani dengan bijak, disetiap tindakan atau kegiatan yang kita kerjakan tentu ada rintangan yang akan selalu menghampiri. Tergantung pribadi masing-masing menyikapi dan bagaimana menjadikan rintangan itu agar semakin mudah serta menjadikan rintangan atau permasalahan itu sebagai pembelajaran yang membuat kita untuk menjadi lebih baik lagi. Itu semua telah peneliti buktikan dalam penelitian ini, serta Alhamduliah penelitian ini telah selesai dan berjalan dengan baik. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya

bagi para guru yang akan mengajar dan ingin meningkatkan aktivitas belajar siswanya. Serta guru dapat menjadikan metode Prediction Guide sebagai salah satu metode alternatif yang dapat digunakan dalam setiap proses pembelajaran.

Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini, tidak semua aktivitas belajar positif yang tercapai sesuai dengan indikator keberhasilan. Hal ini dikarenakan oleh faktor-faktor lain di luar kuasa peneliti. Adapun faktor-faktor lain yang mempengaruhi aktivitas belajar positif dalam pembelajaran yang belum mencapai indikator keberhasilan adalah:

a) Pemahaman peneliti dan pemahaman siswa yang masih kurang familiar terhadap metode pembelajaran Prediction Guide. b) Kurangnya kontrol dari peneliti dalam

mengelola kelas yang dikarenakan oleh perbuatan siswa yang heterogen.

c) Aturan main dari Prediction Guide yang disampaikan peneliti kurang tertangkap dengan baik oleh pemahaman siswa. d) Waktu yang selalu kurang kondusif dalam

pembelajaran menggunakan metode

Prediction Guide.

Diharapkan kepada peneliti berikutnya, apabila ingin meningkatkan aktivitas belajar positif dalam proses pembelajaran, peneliti tersebut harus meminimalisir dari beberapa faktor di atas dengan cara:

a) Peneliti berikutnya, harus banyak membaca dan mencari informasi mengenai metode pembelajaran inovatif khususnya metode Prediction Guide agar pemahaman peneliti akan metode tersebut lebih dapat ditingkatkan.

b) Peneliti berikutnya, harus lebih tegas dalam mengawasi dan mengelola kelas yang heterogen tersebut.

c) Memperbaiki lagi cara komunikasi atau penyampaian aturan main dari metode tersebut kepada siswa.

(11)

pembelajaran dalam penerapan metode pembelajaran Prediction Guide tersebut, agar waktu yang digunakan lebih cukup sehingga materi tersampaikan dengan baik.

V. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada BAB IV terhadap penerapan metode Prediction Guide pada Bidang Studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran Kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang dengan kompetensi dasar mendeskripsikan administrasi perkantoran, dapat disimpulkan bahwa:

1. Upaya yang dilakukan peneliti dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui penggunaan Metode Pembelajaran

Prediction Guide adalah berhasil karena sesuai dengan kriteria indikator keberhasilan, namun masih terdapat dua faktor aktivitas belajar positif lagi yang masih di bawah indikator keberhasilan. Untuk aktivitas positif mampu naik sebesar 2,71% pada pertemuan kedua Siklus I dan untuk aktivitas belajar negatif mampu diturunkan atau ditekan sebesar 0,36% pada pertemuan kedua dalam Siklus I.

2. Dengan penggunaan Metode Prediction Guide, mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa yang relevan dengan pembelajaran memiliki persentase sebesar 70,71% pada pertemuan pertama Siklus I dan 73,42% pada pertemuan kedua Siklus I. Sedangkan aktivitas yang tidak relevan menurun dari rata-rata 6,78% pada pertemuan pertama Siklus I menjadi 6,42% pada pertemuan kedua Siklus I. 3. Peningkatan aktivitas belajar siswa

pada kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang (menggunakan Metode Prediction Guide) tercapai karena pada penerapan metode ini siswa diarahkan untuk memahami materi melalui

diskusi, memahami sumber belajar berupa buku dan bahan ajar, bertanya, menjawab pertanyaan, dan menanggapi jawaban teman yang memiliki respon tinggi.

Saran

Berdasarkan pengalaman penulis selama melaksanakan penelitian dan hasil penelitian yang diperoleh, maka penulis menyarankan:

1. Metode Prediciton Guide dapat digunakan sebagai salah satu alternatif bagi guru Bidang Studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran, khususnya guru yang mengajar di kelas X AP 2 SMK Nusatama Padang. Dalam proses pelaksanaan pembelajaran pada kompetensi dasar yang setara untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, karena metode Prediction Guide

mengarahkan pola pikir siswa dan membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran.

2. Kepada pihak sekolah untuk dapat mensosialisakan Metode Prediction Guide, agar dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran karena dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi serta melibatkan keaktivan siswa secara individu dan kelompok. Penggunaan metode ini dapat memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran Bidang Studi Dasar-dasar Kejuruan Administrasi Perkantoran.

(12)

4. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk dapat lebih meningkatkan lagi aktivitas belajar mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat. Karena pada penelitian yang sekarang peneliti teliti, dua aktivitas belajar ini belum menunjukkan kenaikan yang signifikan dalam artian masih di bawah indikator keberhasilan. Serta memasukan indikator turunan dalam penelitian tindakan kelas selanjutnya

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriono. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Echol, Jhon M dan Hassan Shadily. 2003. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Hisyam, Zaini. 2007. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CSD.

Madya, Suwarsih. 2007. Teori dan Praktek Penelitian Tindakan (Action Research). Bandung: Alfabeta.

Maulana, Yoppie. 2012. Upaya Meningkatan Hasil Belajar siswa dalam Pembelajaran Sejarah dengan Menggunakan Metode Prediction Guide Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Pariaman. Padang: Skripsi. UNP Padang.

Rahyubi, Heri. 2012. Teori-teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik; Deskripsi dan Tinjauan Kritis. Bandung: Nusa Media.

Referensi

Dokumen terkait

Penulis menarik hipotesis bahwa Efektivitas Modal Kerja (WCTO) , Perputaran Total Aktiva (TATO), dan Rasio Utang (DAR) mempunyai hubungan yang signifikan terhadap Rentabilitas (ROI)

materi, ahli media, dan guru biologi serta dapat digunakan sebagai acuan penelitian modul petunjuk praktikum IPA berbasis mind mapping pada materi sistem

Oleh karena itu mengingat manfaat dan isinya yang sangat penting dan berharga bagi masyarakat, koleksi langka perlu perawatan dan penanganan yang baik sehingga masyarakat

Tabel 11.Angka TBA Bubuk Bumbu Mie Instan Pada Kemasan Kontrol dan yang Dikemas dengan Film Berbasis Tepung Karaginan dan CMC Selama Penyimpanan ASLT ...34.

yang meliputi: perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Permasalahan yang ditelaah adalah

Gambar 3.3. : Peta Kelurahan Karombasan Utara depan jalan Sam ratulangi 2.. Hal ini juga untuk menghindari penumpukan kendaraan dalam suatu lahan parkir. Perkerasannya terbuat

Dari uji aktivitas menggunakan uji ANOVA formula 3 dengan dengan perbandinga 3:1 yang terdiri dari ekstrak etanol seledri 7,5 % dan daun teh hijau 2,5 %, memiliki

Fenomena ini menunjukkan bahwa Majelis Pengajian Tauhid Tasauf (MPTT) dan Majelis Pengajian dan Zikir Tasauf, Tauhid dan Fiqh (Tastafi) telah menjadi alternatif baru dalam