• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Kadar TGF-2 Cairan Sulkus Gingiva Saat Retraksi Kaninus pada Kelompok Usia 10-15 dan 30-35 Tahun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbedaan Kadar TGF-2 Cairan Sulkus Gingiva Saat Retraksi Kaninus pada Kelompok Usia 10-15 dan 30-35 Tahun"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perawatan ortodonti sudah semakin dirasakan sebagai suatu kebutuhan oleh

masyarakat saat ini. Penelitian yang dilakukan Sony (1990) menyatakan bahwa

kebutuhan akan perawatan ortodonti tersebut bahkan sudah dirasakan oleh penderita

maloklusi yang ringan sekalipun. Hal ini mungkin disebabkan karena tingginya

tuntutan terhadap perbaikan estetis, dalam hal ini adalah tampilan dental, dan

kebutuhan akan perbaikan fungsi. Terkait dengan tuntutan terhadap estetika wajah,

Paula dkk (2009) mengatakan bahwa semakin parah maloklusi yang diderita, maka

semakin rendah rasa percaya diri seseorang. Hasil penelitian ini memperkuat

pernyataan Dowsing dan Sandler (2004) yang mengatakan bahwa ejekan mengenai gigi

akan memberikan efek yang kurang menyenangkan, terutama pada kelompok usia

sekolah.

Usia untuk memulai perawatan ortodonti haruslah menjadi pertimbangan yang

penting bagi klinisi. Hal ini disebabkan karena pada perawatan yang memerlukan

modifikasi pertumbuhan, perawatan haruslah dilakukan sebelum pasien sampai pada

akhir percepatan pertumbuhan (growth spurt). Bila perawatan ditunda terlalu lama,

maka percepatan pertumbuhan yang ada tidak dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

Setiap anak akan mengalami pubertal growth spurt, namun waktu terjadinya growth

spurt tersebut sangat bervariasi pada setiap individu. Pada anak perempuan, maturitas

(2)

tahun. Pada anak laki-laki, growth spurt biasanya akan terjadi pada usia 14 sampai 16

tahun (Proffit, 2007).

Pergerakan gigi terjadi karena reaksi jaringan periodontal terhadap daya

mekanis yang diberikan. Reaksi pada tulang alveolar dan jaringan periodontal yang

terjadi akibat daya ortodonti sangat bergantung pada besarnya daya yang diberikan dan

distribusi tekanan/regangan. Stimulus mekanis yang dikenakan pada gigi akan

menyebabkan respon inflamasi periodontal. Mediator inflamasi inilah yang akan

mendorong terjadinya proses biologis yang berhubungan dengan resorpsi dan aposisi

tulang alveolar (Melsen, 2001).

Menurut Boyle, dkk (2003, cit Juhasz-Böss, dkk 2012) remodeling tulang

diregulasi oleh berbagai hormon, sitokin, dan berbagai growth factor (growth

factor/GF). Kesemua faktor ini berperan dalam menambah atau mengurangi massa

tulang. Faktor yang berperan dalam mengurangi massa tulang diantaranya adalah

hormon paratiroid dan tumor necrotising factor (TNF), sedangkan faktor yang berperan

dalam meningkatkan massa tulang diantaranya adalah calcitonin, estrogen, androgen,

dan transforming growth factor beta (TGF-β).

Selama fase awal pergerakan gigi, cairan pada ligamen periodontal akan

tertekan dan menyebabkan gangguan pada sel dan matriks, sehingga terjadi interaksi

antara berbagai elemen yang ada. Untuk merespon kejadian dan interaksi fisikokimia

tersebut, akan terjadi pelepasan sitokin, GF, colony-stimulating factor (CSF), dan

neurotransmitter vasoaktif yang kemudian akan mendorong terjadinya pergerakan gigi

(3)

menyebabkan peningkatan aliran darah, terjadi perubahan tekanan oksigen, dan

pelepasan prostaglandin dan sitokin. Kemudian dalam hitungan jam akan terjadi

perubahan metabolik, dan dalam waktu kurang dari 2 hari akan terjadi pergerakan gigi

yang ditandai dengan remodeling soket tulang oleh osteoklas dan osteoblas (Proffit,

2007).

Salah satu cara untuk melihat perubahan molekuler yang terjadi pada

remodeling tulang selama gigi digerakkan secara ortodonti adalah dengan melihat

komposisi cairan sulkus gingiva (CSG) (van Gastel dkk, 2011). Cairan ini mudah untuk

dikumpulkan, sehingga memungkinkan CSG untuk digunakan dalam berbagai

penelitian untuk melihat tingkat pelepasan molekul selama terjadi pergerakan gigi

ortodonti pada manusia (Junior dkk, 2011). Berbagai penelitian dengan menggunakan

media CSG antara lain melihat peningkatan kadar berbagai sitokin inflamatoris (Kaya,

dkk, 2010; Hadi, 2009), mediator inflamasi seperti MMP-8 (Djaja, 2009, dan

Soesilowati, 2011), serta berbagai matriks metaloproteinase seperti MMP-3, MMP-9

dan MMP-13 (Junior, dkk, 2011).

Berbagai penelitian juga telah dilakukan dalam rangka mengetahui peranan

growth factor dalam remodeling tulang selama pergerakan gigi secara ortodonti (Kaya,

dkk 2010; Faulkner, 2011; Barbieri, dkk, 2013) . Salah satu jenis growth factor yang

diketahui berperan dalam proliferasi, diferensiasi dan apoptosis osteoblas adalah TGF-β

(Zheng, dkk, 1994 cit Phan dkk, 2004). TGF-β memiliki tiga isoform, yaitu TGF-β1,

TGF-β2, dan TGF-β3. Hormon pertumbuhan diketahui dapat meningkatkan jumlah

(4)

(1996), TGF-β2 berperan dalam regulasi tulang dengan menemukan adanya ekspresi

yang berlebih dari TGF-β2 pada keadaan kehilangan tulang yang progresif.

Peran TGF-β dalam destruksi atau resorpsi tulang pada pergerakan gigi

ortodonti belum sepenuhnya terungkap dan masih menjadi kontroversi dikalangan

peneliti. Penelitian pertama mengenai TGF-β1 dilakukan oleh Uematsu dkk (1997)

yang mendapati bahwa nilai tertinggi dari sisi tekanan adalah pada 24 jam pertama

setelah aktivasi. Penelitian Garlet, dkk (2007) mendapati hasil bahwa TGF-β memiliki

nilai yang sama pada sisi tekanan dan regangan. Hal ini menunjukkan bahwa TGF-β

berperan baik pada resorpsi tulang maupun pada pembentukan tulang.

Menurut Barbieri, dkk (2012), nilai TGF-β lebih tinggi pada sisi yang

mengalami tekanan dibanding sisi yang mengalami regangan, sehingga dapat

disimpulkan bahwa TGF-β berperan dalam destruksi tulang. Penulis lainnya

mengatakan bahwa TGF-β berperan sebagai inhibitor pelepasan prekursor osteoklas

dan merupakan mediator yang menekan aktivitas osteoklas, sementara penulis lain

mengatakan bahwa TGF-β memiliki peranan dalam menginduksi resorpsi tulang

(Barbieri, dkk, 2012; Ehnert, dkk, 2010). Mengingat bahwa TGF-β2 juga berperan

dalam regulasi tulang, maka perlu dilakukan penelitian untuk melihat perubahan atau

dinamika kadar TGF-β2 pada retraksi kaninus untuk lebih memahami peranan TGF-β,

(5)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka dapat

dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apakah ada perbedaan kadar TGF-β2 pada kelompok usia 10-15 tahun dengan

kelompok usia 30-35 tahun akibat pemberian tekanan mekanis?

2. Bagaimana perbandingan beda kadar TGF-β2 antara kelompok usia 10-15 tahun

dengan kelompok usia 30-35 tahun?

3. Apakah ada perubahan kadar TGF-β2 sebelum dilakukan pemberian tekanan

mekanis, 24 jam, dan 72 jam setelah dilakukan pemberian tekanan mekanis

pada kelompok usia 10-15 tahun dan pada kelompok usia 30-35 tahun?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui perbedaan perubahan kadar TGF-β2 setelah dilakukan pemberian

tekanan mekanis pada kelompok usia 10-15 tahun dan kelompok usia 30-35

tahun

2. Membandingkan perbedaan perubahan kadar TGF-β2 antara kelompok usia

10-15 tahun dengan kelompok usia 30-35 tahun

3. Mengetahui perbedaan perubahan kadar TGF-β2 pada kelompok usia 10-15

tahun dengan kelompok usia 30-35 tahun sesaat sebelum diberikan tekanan

(6)

1.4 Manfaat Penelitian

Dengan mengetahui perubahan kadar TGF-β pada saat dilakukan pergerakan

gigi ortodonti, diharapkan hasil ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Memberikan pengetahuan tambahan mengenai peranan TGF-β, khususnya

TGF-β2 dalam resorpsi tulang yang berhubungan dengan pergerakan gigi secara

ortodonti.

2. Memberikan penjelasan mengenai pengaruh usia terhadap perubahan kadar

TGF-β2.

3. Membuktikan bahwa masa pertumbuhan merupakan waktu yang tepat untuk

memulai perawatan ortodonti.

4. Merupakan dasar bagi penelitian selanjutnya mengenai growth factor,

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Sistem informasi ini tidak berisikan foto makanan dan minuman tetapi hanya harga, nama makanan, minuman, keterangan, nama dan lokasi tempat.Sistem informasi ini dibuat

Individual resistance to change can be caused by factors such as selective information processing, habit, fear of the unknown, security, economic factor (Robbins

Populasi dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua sumber populasi yaitu, populasi dari pegawai yang berjumlah 82 orang di Balai Besar Taman Nasional Betung

Pada makalah ini telah dikembangkan suatu model persediaan untuk produk yang mendekati masa ka- daluwarsa dengan mempertimbangkan diskon pen- jualan tiga tahap, dimana

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat, kasih karunia dan penyertaanNya yang selalu menyertai penulis dari awal hingga

Keluaran dari Langkah-7 adalah pilihan-pilihan keputusan yang bisa diambil sebagai berikut: (i) Koordinasi dengan atasan karyawan yang bersangkutan untuk diberi- kan

Since the Holy Rude had been brought back to Scotland for the first time by his ancestor, Sir Henry St Clair, it seems likely, given the emotional attachment involved, that