LAPORAN OBSERVASI
“SISTEM LOKOMOSI ATAU SISTEM GERAK” Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Fisiologi Hewan
Dosen Pengampu : Djohar Maknun, M. Si
Disusun Oleh:
Kelas Biologi-C/VI
Kelompok 7
Fitri Ratnasari (1413163074)
Bahrul Ilmi (1413161127)
Nopiya (1413162034)
Atiah Nurhasanah (1413163054)
Nursyahidah Sumayah (1413161014)
JURUSAN TADRIS IPA BIOLOGI
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)SYEKH NURJATI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perkembangan zaman maka gaya hidup manusiapun semakin mengikutinya dan manusia cenderung ingin segala sesuatunya secara praktis dan mudah. Karena pola hidup manusia seperti halnya ketika ingin makan tapi tidak ingin repot maka kita dapat memesan dan makanan tersebut akan diantarkan, contoh gaya hidup seperti itulah yang menyebabkan manusia jarang bergerak atau cenderung lebih menyukai hal yang praktis.
Perlu kita ketahui bahwa bergerak itu penting salah satunya yaitu untuk melancarkan peredaran darah dan melemaskan otot-otot sehingga mengurangi resiko kram atau kesemutan. Menurut Fiona (2014), fungsi sistem gerak adalah mendukung tubuh manusia untuk bergerak, sehingga manusia dapat melakukan aktivitas, seperti berjalan, berlari, menari dan lain-lain. Hal tersebut merupakan hasil kerjasama yang serasi antar organ sistem gerak seperti rangka (tulang), persendian dan otot. Namun bergerak secara berlebihan melebihi kemampuannyapun kurang baik karena dapat menyebabkan otot terlalu tegang sehingga dapat timbul penyakit seperti nyeri sendi, sakit pinggang, pegal-pegal dan lainnya, penyekit seperti itu timbul biasanya karena aktifitas bergerak yang terlalu berlebihan seperti pekerja bangunan yang bekerja hingga larut malam.
Rangka berfungsi sebagai tempat melekatnya otot, seperti sebatang pohon yang digunakan oleh tanaman menjalar sebagai tempat bertumpuhnya, begitulah fungsi rangka bagi otot untuk dapat berfungsi dengan baik, otot harus melekat pada rangka. Fungsi otot adalah menggerakan rangka, sedang fungsi rangka adalah sebagai tempat melekatnya otot, hingga begitu dalam sistim mobilisasi, rangka dan otot bekerja sama melakukan suatu gerakan, misalnya gerakan lengan dipengaruhi oleh kontaksi otot bisep dan trisep yang melekat pada tulang lengan atas (Tobita, 2015). Pada dasarnya tubuh kitapun butuh istirahat untuk merelaksasikan otot-otot agar elastisitasnya tetap terjaga.
Manusia memiliki kemampuan untuk bergerak dan melakukan aktivitas, kemampuan ini didukung oleh adanya sistem gerak, yang merupakan hasil kerja sama yang serasi antar organ sistem gerak, seperti rangka (tulang), otot, dan persendian. Sebagaimana yang telah dikutip Fiona (2014), bahwa fungsi rangka (tulang) adalah sebagai alat gerak pasif, yang hanya dapat bergerak jika dibantu oleh otot. Fungsi otot adalah sebagai alat gerak aktif, yang dapat menggerakkan tulang sehingga terjadi suatu gerakan. Fungsi persendian adalah sebagai penghubung antara tulang satu dengan tulang lainnya.
Latar belakang yang telah dipaparkan tersebut, maka pada laporan hasil observasi ini akan dipaparkan mengenai beberapa penyakit maupun kelainan yang biasa terjadi pada sistem gerak manusia yang didapatkan dari data salah satu tempat pengobatan di salah satu puskesmas kota Cirebon. Observasi yang dilakukan dengan mendapatkan data jumlah pasien yang terkait sistem gerak serta penanganan yang dilakukan pihak puskesmas terhadap sistem gerak pasien tersebut yang terjadi kelainan maupun kesalahan pada sistem geraknya.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang mendasari dari observasi ini adalah:
1. Bagaimanakah penyakit atau kelainan yang terjadi pada sistem gerak manusia? 2. Apakah penyebab dari penyakit atau kelainan pada sistem gerak manusia?
3. Bagaimanakah cara menanggulangi penyakit atau kelainan pada sistem gerak manusia?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari observasi ini adalah:
1. Mengetahui beragam penyakit atau kelainan yang biasa terjadi pada sistem gerak manusia.
2. Mengetahui faktor yang menyebabkan kelainan pada sistem gerak manusia.
BAB II
KELAINAN ATAU PENYAKIT SISTEM GERAK
Kelainan pada sistem gerak manusia merupakan keadaan yang mengganggu sistem gerak pada manusia dan hanya berlangsung sementara. Kelainan pada sistem gerak manusia dapat berupa bawaan sejak lahir maupun kelainan yang disebabkan karena kecelakaan, kelainan pada sistem gerak ini terbagi menjadi tiga yaitu :
1. Kelainan pada tulang
Gangguan pada sistem rangka manusia dapat terjadi karena ada gangguan secara fisiologis, gangguan persendian, dan gangguan kedudukan tulang belakang yang meliputi : a. Kelainan fisik
Gangguan yang paling umum adalah kerusakan fisik tulang seperti patah atau retak tulang (fisura). Apabila terjadi fraktula (patah tulang) akan terbentuk zona fraktula yang runcing dan tajam. Berdasarkan jenis fraktura yang terbentuk, fraktura dapat dibedakan menjadi 4 kelompok sebagai berikut: 1) Fraktura sederhana, merupakan fraktura
yang tidak melukai otot ataupun sekitarnya, 2) Fraktura kompleks, merupakan fraktura yang melukai otot ataupun sekitarnya, bahkan terkadang dapat muncul ke permukaan kulit, 3) Greenstick, merupakan fraktura sebagian yang tidak memisahkan tulang menjadi dua bagian, 4) Comminuted, merupakan fraktura yang mengakibatkan terbagi menjadi beberapa bagian, tetapi masih berada dalam otot (Prawirohartono, 2003).
Ciri-ciri fraktura diantaranya situasi sekitar menimbulkan dugaan bahwa telah terjadi cedera (tulang mencuat keluar kulit). Terasa nyeri menusuk pada daerah cendra. Terjadi pembengkakan, ini disebabkan oleh darah dan cairan tubuh lain yang mengumpul di sekitar area cedera. Kelainan bentuk, kadang-kadang kepatahan tulang menyebabkan bentuk yang tidak biasa atau pembengkokan dari bagian tubuh dan hilangnya kemampuan gerak, penderita mungkin bisa sedikit menggerakkan secara penuh
Sekarang juga jarang digunakan, tetapi dulu menjadi pengobatan utama untuk penyakit fraktura dan fiksasi internal diilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang yang merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang.
Selain fraktula (patah tulang) adapun retak tulang (fisura) dapat diperbaiki oleh periosteum dengan membentuk kalus. Tulang pada anak-anak berbeda dengan tulang pada orang dewasa, perbedaannya ialah adanya lempeng pertumbuhan pada masing-masing jenis tulang dan penutupan lempeng pertumbuhan masing-masing-masing-masing tulang berbeda-beda. Fungsi dari lempeng pertumbuhan adalah membuat tulang menjadi lebih besar dan lebih panjang seiring dengan kepadatan tulang yang juga meningkat.
Selain itu tulang pada anak-anak dilengkapi dengan lapisan pembungkus tulang yang lebih tebal dan lebih kuat dan bila terjadi patah tulang, patahan tulangnya masih dalam pembungkus tulangnya sehingga penyambungannya akan kembali ke bentuk semula, walaupun bentuk patahannya tumpang tindih. Proses penyambungan patah tulang pada anak-anak lebih baik dari orang dewasa karena lapisan pembungkus tulang masih tebal, pendarahan lebih baik dan daya remodellingnya juga baik (hal ini tidak terdapat pada proses penyambungan tulang pada orang dewasa), hal inilah yang membuat tulang pada anak-anak lebih mudah menyambung dan hasilnya baik siapapun yang menanganinya (Saktiyono, 2004).
b. Kelainan Fisiologis
Kelainan fisiologis pada tulang dapat disebabkan oleh kelainan fungsi hormon dan vitamin. Gangguan fisiologis pada tulang dapat terjadi pada beberapa kelainan sebagai berikut:
1) Osteoforosis
Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang rapuh, keropos dan mudah patah. Umumnya osteoporisis disebabkan oleh hormon jantan atau betina yang kurang sempurna atau akibat kekurangan asupan kalsium untuk tulang.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
menyebabkan kepadatan tulang berkurang. Olahraga atau aktivitas dapat meningkatkan kepadatan tulang. Faktor lain seperti merokok, banyak mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol, kafein tinggi seperti teh, kopi serta cola, kekurangan gizi, akibat penggunaan obat-obatan yang mengandung steroid atau penyakit kronis lainnya seperti penyakit hati, gagal ginjal kronis dan usia lanjut
Ciri-ciri penyakit osteoporosis yaitu terjadinya patah tulang secara tiba-tiba karena trauma yang ringan atau tanpa trauma, timbulnya rasa nyeri yang hebat sehingga penderita tidak dapat melakukan pergerakan dan berkurangnya tinggi badan dan bongkok. Cara-cara pencegahan osteoporosis diantaranya dengan cara melakukan aktivitas fisik yang teratur seperti olah raga, diet dengan menambah kalsium dan vitamin D, memperbaiki gaya hidup dan menghilangkan kebiasaan seperti merokok, minum alkohol dan penggunaan HRT (Hormon Replacement Therapy) atau terapi esterogen khususnya bagi wanita baru memasuki masa menopause.
Cara mengobati penyakit osteoporosis dapat dilakukan dengan cara pengobatan osteoporosi yang bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan seperti Kalsitonin dan bisphosphonates yang tentu saja harus sesuai anjuran dokter. Kalsitonin, merupakan penemuan hormon yang dapat menurunkan konsentrasi kalsium darah dimulai pada tahun 1960 oleh seorang profesor asal Kanada yang bernama Harold Copp. Ia menyebut zat itu sebagai 'calcitonin' karena dapat mengontrol konsentrasi kalsium (calcium tonus) didalam plasma. Zat ini banyak didapatkan terutama dari ikan salmon. Pada tahun 1969, Dr. Stephan Guttmann seorang peneliti dari Sandoz menyempurnakan penemuan calcitonin dengan keberhasilan memproduksi salmon calcitonin secara sintetis. Zat kalsitonin dapat mengurangi aktivitas dari sel osteoclast (sel yang bertugas menyerap tulang), memperlambat proses resorpsi dan meningkatkan peresapan kalsium oleh tulang, dengan pemakaian kalsitonin, kepadatan dan kekuatan tulang dapat ditingkatkan sehingga tulang menjadi tidak lagi rapuh dan mengurangi rasa sakit.
2) Rakhitis
Rakhitis adalah pelunakan dan melemahnya tulang pada anak-anak, biasanya karena kekuranga vitamin D yang ekstrimdan
patah tulang, yaitu pertumbuhan tertunda; nyeri pada tulang belakang, panggul dan kaki.
Cara mengobati rakhitis yaitu diet dan sinar matahari pengobatan meliputi peningkatan asupan makanan kalsium, fosfat dan vitamin D. Paparan terhadap cahaya ultraviolet B (sinar matahari ketika matahari tertinggi di langit), minyakikan cod,minyak ikan pecak-hati dan viosterol adalah sumber vitamin D. Sebuah jumlah yang cukup cahaya ultraviolet B sinar matahari setiap hari dan persendian yang memadai kalsium dan fosfor dalam makan dapat mencegah rakhitis.
3) Mikrosefalus
Mikrosefalus adalah suatu kondisi medis dimana lingkaran kepala lebih kecil dari ukuran normal karena otak tidak berkembang dengan baik atau telah berhenti tumbuh. Mikrosefalus nampak pada saat kelahiran atau mungkin berkembang dalam beberapa tahu pertama kehidupan.
Ciri-ciri mikrosefalus diantaranya keterbelakangan mental, tertunda fungsi motorik dan bicara, kelainan wajah, perawakan pendek, hiperaktif, kejang-kejang, sulit dengan koordinasi dan keseimbangan.Cara mengobati mikrosefalus yaitu tidak ada pengobatan untuk penyakit mikrosefalus yang dapat mengembalikan kepala anak ke ukuran normal. Namun perawatan berfokus pada cara-cara untuk mengurangi dampak neurologis terkait dengan cacat. Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan mikrosefalus dan biasanya dievaluasi oleh pediatrik neurolog dan diikuti oleh tim manajemen medis.
c. Kelainan pada sendi
Gangguan persendian dapat terjadi karena sendi tidak berfungsi dengan normal. Jenis gangguan sendidikelompokkan menjadi 4 yaitu sebagai berikut :
1) Dislokasi
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan, secara anatomis (tulang lepas dari sendi), dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera, (Arif Mansyur, 2000). Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi. Berpindahnya ujung tulang patah, karena tonus otot, kontraksi cedera dan tarikan Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi.
Ciri-ciri Dislokasi yaitu nyeri pada daerah cedera, pada bagian cedera tidak dapat digerakkan secara aktif, terjadi pembengkakan. Cara mengobati Dislokasi dengan cara terapi, terapi adalah dengan mengembalikan si tulang yang lepas (reposisi) itu ke persendiannya kembali lalu biasanya pasien setelah di reposisi akan dilakukan imobilisasi atau fiksasi dalam rentan waktu tertentu agar si tulang ini tidak lepas kembali.
2) Terkilir (keseleo)
Terkilir merupakan tertariknya ligamen sendi karena gerakan tiba-tiba atau gerakan yang tidak biasa dilakukan. Terkilir menyebabkan timbulnya rasa sakit disertai peradangan pada daerah sendi. Ciri-ciri terkilir diantaranya nyeri, spasme otot kehilangan kekuatan,
keterbatasan lingkup gerak sendi, bengkak atau memar, tidak stabil dan hilangnya kemampuan untuk menggerakkan sendi.
Aktivitas yang berlebih pada bagian tubuh yg terkena akan memicu terjadinya komplikasi lebih lanjut, misal ligamen yang robek akan semakin parah, bahkan seringkali terkilir disertai pula dengan fraktur/patah/retak pada tulang. Selain itu, ICES ( Es ) merupakan kompres dingin atau es akan menghasilkan vasokontriksi untuk mengurangi pembengkakan dengan meletakkan di bagian yang terluka selama 2-3 menit tiga kali sehari dalam 24 jam pertama. Menempatkan kain di atas daerah yang cedera dengan kantong es untuk menghindari luka akibat suhu rendah. Terapi dengan kompres dingin ini harus dimulai dengan segera dan diteruskan sampai 24-36 jam setelah luka terjadi.
Adapun cara yang lan dapat dilakukan dengan COMPRESS ( Kompres atau penekanan pada daerah yang cedera) artinya menekan bagian yang mengalami cedera dengan menggunakan perban khusus (ace bandage). Perban ini di harapkan juga dapat mengikatkan kantong es di tempatnya dan tetap di lanjutkan setelah terapi dingin ingin menghindari serta mengurangi pembengkakan. Meskipun balutan ini harus rapi, pastikan bahwa perban ini tidak terlalu ketat karena dapat menimbulkan mati rasa, geli atau bahkan menambah rasa sakit dan dapat dilakukan juga dengan ELEVATION (Posii,) artinya pasien sebisa mungkin harus mengangkat bagian cedera lebih tinggi di atas jantung atau dada selama 24-36 jam pertama untuk memudahkan kembalinya darah dan untuk mengurangi pembengkakan, misalnya jika yang cedera lutut, upayakan pasien dalam posisi tidur kemudian lutut diangkat atau ditopang dengan alat supaya posisinya lebih tinggi dari jantung. Teknik ini mengacu pada prinsip bejana berhubungan dan berguna untuk mengurangi pembengkakan pada bagian cedera (Ahmad, 2003).
3) Artritis
Artritis adalah peradangan pada satu atau lebih persendian, yang disertai dengan rasa sakit, kebengkakan, kekakuan, dan keterbatasan bergerak. Artrhitis dapat terjadi akibat infeksi maupun tanpa infeksi. Pelepasan mediator inflamasi dari leukosit, kondrosit, sinoviosit menyebabkan kehilangan
proteoglikan dan matriks ektraselular kartilago, sehingga terjadi kerusakan tulang. Kerusakan dan hilangnya kolagen dan kondrosit dapat menyebabkan perubahan yang tidak dapat kembali.
Jenis umum radang sendi atau arthritis ini antara lain: a) Osteoarthritis yang disebabkan oleh hilangnya jaringan tulang dari sendi dan dikenal juga sebagai arthritis degeneratif. Hal ini kebanyakan terjadi sejak usia sebelumnya. b) Rheumatoid Arthritis, radang sendi jenis ini banyak mempengaruhi orang-orang di atas usia 40 tahun, ini lebih berbahaya daripada osteoarthritis karena mempengaruhi ligamen dan tendon yang bergabung dengan tulang dan otot. c) Gout disebabkan oleh kelebihan penumpukan asam urat dalam ruang antar sendi yang menyebabkan rasa sakit dan radang sendi.
Ciri-ciri artritis yaitu adanya rasa sakit, panas dan pembengkakan pada persendian lutut (gejala panca radang), terasa adanya fluktuasi, sakit, panas, kemerahan. Penderita menjadi demam jika sakit sudah menjadi sepsis. Frekuensi dan nafas frekuen dan pincang yang hebat bahkan kadang sampai penderita tidak dapat berdiri, (Pratiwi, 2000).
Cara mengobati artritis dengan cara selain pengobatan secara medis, terapi fisik, perubahan gaya hidup (mencakup latihan fisik dan mengontrol berat badan), diet juga memainkan peranan penting dalam pengobatan arthritis dan sakit sendi. Suplemen merupakan salah satu terapi yang sangat membantu, mengkonsumsi suplemen glucosamine diikuti dengan chondroitin dan methylsulfonylmethane (MSM), seperti pada suplemen Glucosamine & Chondroitin & MSM dari Ultimate Nutrition, dapat memberikan hasil yang lebih optimal. Kombinasi ketiganya akan membantu mengatasi nyeri sendi, menambah elastisitas sendi, mengurangi peradangan pada sendi, membentuk tulang rawan dan menjaga kesehatan sendi, (Kadaryanto, 2006).
2. Kelainan pada ruas tulang belakang
Kelainan pada tulang belakang terjadi karena adanya perubahan posisi tulang belakang, sehingga menyebabkan perubahan kelengkungan batang tulang belakang. Gangguan yang disebabkan oleh kelainan tulang belakang dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu sebagai berikut :
a. Lordosis
Lordosis merupakan merupakan gangguan yang mengakibatkan ruas-ruas tulang belakang terlalu bengkok kearah depan sehingga posisi kepala tampak seperti tertarik ke belakang.
b. Kifosis
c. Skoliosis
Skoliosis merupakan gangguan yang mengakibatkan ruas-ruas tulang belakang melengkung ke kanan atau ke kiri.
d. Sublikasi
Sublikasi merupakan gangguan yang terjadi pada ruas-ruas tulang belakang di daerah leher akibat posisi kepala mengalami perubahan sehingga kepala tertarik ke arah kiri atau kanan. Sublikasi dapat terjadi karena kecelakaan atau gerakan yag melebihi batas (Furqonita, 2007).
Cara mengobati skoliosis, kifosis, lordosis dan subluksasi yaitu Jenis terapi yang dibutuhkan tergantung pada banyak faktor. Sebelum menentukan jenis terapi yang digunakan, dilakukan observasi terlebih dahulu. Terapi disesuaikan dengan etiologi,umur skeletal, besarnya lengkungan, dan ada tidaknya progresivitas dari deformitas. Keberhasilan terapi sebagian tergantung pada deteksi dini dari skoliosis. Pengobatan ada yang dengan obat, fisioterapi dan tindakan pembedahan.
Tujuan pemberian obat adalah untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri dan kemungkinan infeksi baik dari alat ataupun pembedahan, bukan untuk mengobati skoliosis. Obat yang digunakan antara lain analgesik meliputi asam asetil Salisilat 3 x 500 mg, Paracetamol 3 x 500 mg dan Indometacin 3 x 25 mg adapun selain analgesik yaitu NSAID (Non Steroid Anti Inflamation Drug.
Fisioterapi dapat dilakukan dengan terapi panas, dengan cara mengompres kemudian alat penyangga, digunakan untuk skoliosis dengan kurva 25°-40° dengan skeletal yang tidak matang (immature). Alat penyangga tersebut antara lain “Penyangga Milwaukee” alat ini tidak hanya mempertahankan tulang belakang dalam posisi lurus, tetapi alat ini juga mendorong pasien agar menggunakan otot-ototnya sendiri untuk menyokong dan mempertahankan proses perbaikan tersebut. Penyangga harus dipakai 23 jam sehari. Alat penyangga ini harus terus digunakan terus sampai ada bukti objektif yang nyata akan adanya kematangan rangka dan berhentinya pertumbuhan tulang belakang selanjutnya.
“Penyangga Boston”Suatu penyangga ketiak sempit yang memberikan sokongan lumbal atau torakolumbal yang rendah. Penyangga ini digunakan selama 16-23 jam sehari sampai skeletalnya matur. Terapi ini bertujuan untuk mencegah dan memperbaiki deformitas yang tidak dikehendaki oleh pasien
dari skoliosis adalah memperbaiki deformitas dan mempertahankan perbaikan tersebut sampai terjadi fusi vertebra. Beberapa tindakan pembedahan untuk terapi skoliosis antara lain : Penanaman Harrington rods (batangan Harrington) adalah bentuk peralatan spinal yang dipasang melalui pembedahan yang terdiri dari satu atau sepasang batangan logam untuk meluruskan atau menstabilkan tulang belakang dengan fiksasi internal. Peralatan yang kaku ini terdiri dari pengait yang terpasang pada daerah mendatar pada kedua sisi tulang vertebrata yang letaknya di atas dan di bawah lengkungan tulang belakang.
Keuntungan utama dari penggunaan batangan Harrington adalah dapat mengurangi kelengkungan tulang belakang ke arah samping (lateral), pemasangannya relatif sederhana dan komplikasinya rendah. Kerugian utamanya adalah setelah pembedahan memerlukan pemasangan gips yang lama. Seperti pemasangan pada spinal lainnya, batangan Harrington tidak dapat dipasang pada penderita osteoporosis yang signifikan. Selain itu ada juga menggunakan Pemasangan peralatan Cotrell-Dubousset meliputi pemasangan beberapa batangan dan pengait untuk menarik, menekan, menderotasi tulang belakang. Alat yang dipasang melintang antara kedua batangan untuk menjaga tulang belakang lebih stabil. Pemasangan peralatan Cotrell-Dubousset spinal dikerjakan oleh dokter ahli bedah yang berpengalaman dan asistennya, (Ahmad, 2003).
3. Kelainan pada otot
Beberapa kelainan atau penyakit pada otot antara lain : a. Tetanus
Tetanus adalah penyakit yang menyebabkan otot menjadi tegang secara terus menerus karena adanya infeksi bakteri tetanus (clostridium tetani) yang berbentuk basil. Bakteri ini masuk melalui luka yang terdapat pada tubuh.
b. Polio
Polio yaitu suatu kondisi mengecilnya otot karena adanya infeksi virus polio. Penyakit ini dapat dicegah dengan memberikan imunisasi polio pada bayi.
Sakit pinggang dapat disebabkan oleh penyakit alat dalam di sekitar pinggang, perubahan kedudukan tulang pinggan, fraktura, dan infeksi tumor pada tulang pinggang dan tulang kelangkang. Akan tetapi, sakit pinggang sering disebabkan karena otot-otot dan ligamen di sekitar pinggang meregang. Peregangan otot-otot dan ligamen terjadi karena mengangkat beban terlalu berat, kehamilan dan obesitas.
d. Kram (Kejang otot)
Kram (kejang otot) terjadi karena kontraksi otot yang terus menerus atau bekerja terlalu berat sehingga otot mengejang dan terasa sakit. Kram juga dapat terjadi karena cuaca dingin atau gejala ketidak seimbangan air dan ion di dalam tubuh.
e. Hipertrofi otot
Hipertrofi otot merupakan kebalikan dari atrofi otot, yaitu otot menjadi besar dan lebih kuat. Hipertrofi otot dapat disebabkan oleh aktivitas otot yang berlebihan seperti bekerja dan berolahraga.
f. Distrofi otot
Distrofi otot yaitu penyakit kronis pada otot yang terjadi sejak anak-anak, diduga merupakan penyakit bawaan (genetis).
g. Atrofi Otot
Atrofi otot yaitu terjadinya penurunan fungsi otot karena otot mengecil atau kehilangan kemampuan untuk berkontraksi. Otot yang
mengalami atrofi akan mengalami pengurangan ukuran sampai 25% dari ukuran semula. Atrofi dapat disebabkan oleh penyakit poliomielitis yang merusakkan syarag yang mengkoordinasi otot dan
h. Kaku leher (stiff)
Kaku leher terjadi karena adanya peradangan pada otot leher akibat gerakan yang sala atau hentakan secara mendadak. Leher menjadi sakit dan kaku.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Observasi
Waktu : Selasa, 17 Mei 2016
Tempat : Jl. Pramuka No. 1 Kel. Argasunya, Kec. Harjamukti kabupaten. Cirebon, Jawa Barat. Puskesmas Sitopeng Cirebon (Puskesmas Faskes Tingkat Pertama BPJS Kesehatan di Cirebon)
B. Metode
1. Wawancara
Wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi dimana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai. Pada observasi ini narasumber yang dapat kami wawancarai yaitu bapak yanto selaku kepala TU di Puskesmas Sitopeng dan Dr. Yoga Rusdianto N. dokter Umum Puskesmas Sitopeng Cirebon.
2. Observasi
Observasi merupakan metode atau cara-cara yang menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.
3. Transkip Wawancara
Narasumber 1 : Bpk Yanto
Jabatan : Kepala TU Puskesmas Sitopeng
No Pertanyaan Jawaban
1 Apa saja penyakit yang biasa di keluhkan pasien pada saat periksa?
kulit, penyakit sistem muskulokleat pencegahan kepada pasien terhadap penyakit yang dideritanya ?
Sebelumnya kami tanyakan keluhan pasien setelah itu kami memberi obat, akan tetapi apabila belum ada perubahan setelah di periksa, pihak puskesmas memberikan surat rujukan kepada pasien untuk berobat ke rumah sakit agar di beri penanganan yang lebih lanjut untuk kesembuhan penyakit yang diderita oleh pasien. 4 Apakah banyak masyarakat yang
Biasanya orang dewasa dan juga anak-anak, namun kebanyakan dari orang dewasa.
sistem gerak ini, ada juga akibat penyakit polio yang terjadi pada anak-anak. kritis ditakutkan ada patak tulang atau tulang yang retak.
7 Apakah tulang yang retak atau patah tulang itu bisa pulih kembali?
Tentu bisa, karena apabila ada pasien yang mengalami patah tulang biasanya pengobatannya dengan menggunakan pet, dan untuk itu harus juga adanya
asupan kalsium dengan
mengkonsumsi susu murni. 8 Bagaimana untuk mengetahui bahwa
Narasumber 2 : Dr. Yoga Rusdianto N Jabatan : Dokter Umum
No Pertanyaan Jawaban
1 Apa saja penyakit yang biasa di keluhkan pasien pada saat periksa, khususnya pada bagian sistem gerak?
Penyakit yang biasa dikeluhkan oleh para warga yaitu keluhan gerak yang cukup tinggi karena warga sekitar mayoritas sebagai pegawai yang bekerja keras, bisa juga karena kekurangan kalsium dengan keadaan ekonomi mereka, ada juga faktor usia biasanya itu struk dan osteoforosis. atrofi dan bagaimana penanganan untuk seseorang yang mengalami keluhan tersebut? tulang tidak di fungsikan secara baik, jadi yang biasanya bergerak dan setelah itu lebih diam maka otot akan mengkerut dan berdampak otot akan lemah akhirnya seseorang itu tidak bisa bergerak aktif kembali.
3 Bagaimana penanganan seseorang yang mengalami terkilir ?
Biasanya untuk seseorang yang lebih paham hanya dengan di urut untuk merelaksasikan atau membenarkan otot yang salah agar pulih kembali. 4 Apakah penggunaan salep dapat
berpengaruh untuk pengobatan
terhadap kaki terkilir? seseorang ketika mengurut pasien, karena dapat meminimalisir rasa sakit yang dialami oleh pasien.
5 Bagaimana penanganan terhadap anak muda atau anak kecil yang sering berobat untuk mengeluhkan penyakit kelainan pada tulang ?
Biasanya kalau anak muda kondisi tulang masih bagus, apabila ada anak kecil yang terkilir itu sebaiknya harus segera ditangani, karena apabila tidak itu akan berdampak hingga dewasa, dan biasanya ketika keluhan penyakit tulang orang tua itu karena kondisi tulang nya yang sudah tidak kuat artinya bisa saja kekurangan kalsium dan memang tulang nya sudah keropos.
6 Bagaimana menangani pasien yang mengalami kelainan pada tulang di karenakan kecelakaan?
Biasanya dengan cara melakukan ronsen di rumah sakit, jadi di puskesmas hanya memberikan surat rujukan saja untuk berobat lebih lanjut di rumah sakit.
7 Apakah ada pemeriksaan
berkelanjutan pada pasien yang tak kunjung membaik ?
BAB IV ANALISIS
Observasi yang telah dilakukan di salah satu puskesmas kota Cirebon, yang tepatnya Jl. Pramuka No. 1 Kel. Argasunya, Kec. Harjamukti kabupaten. Cirebon, Jawa Barat. Puskesmas Sitopeng Cirebon (Puskesmas Faskes Tingkat Pertama BPJS Kesehatan di Cirebon). Puskesmas tersebut merupakan puskesmas yang berada dipinggiran kota Cirebon, dengan fasilitas dan pembangunan yang cukup baik, melayani masyarakat daerah Sitopeng dalam memeriksa segala penyakit, dengan bantuan adanya kartu kesehatan BPJS. Tersedianya kartu tersebut, karena mayoritas masyarakat daerah Sitopeng merupakan masyarakat menengah ke bawah, sehingga dengan adanya bantuan kartu kesehatan tersebut dapat meringkan pengeluar financial dalam memeriksakan kesehatan masyarakat sekitar.
Lokasi puskesmas tersebut, berada di lingkungan Desa yang kondisi lingkungannya kurang baik, dimana saluran air baik sungai maupun selokan, tampak berwarna kehitaman dan dipenuhi sampah organik dna anorgnik. Banyaknya sampah disekitar daerah tersebut terjadi karena tidak tersedianya TPA atau tempat pembuangan akhir, sehingga masyarakat sekitar dengan leluasa membuang sampah di sekitar sungai dan selokan, sehingga menimbulkan bau yang menyengat. Kondisi lingkungan yang tidak mendukung diwilayah tersebut, menyebabkan beragam penyakit yang terjadi terhadap masyarakat sekitar, untuk mengetahui beragam penyakit tersebut, maka dilakukan observasi dengan dilakukannya wawacara serta pengumpulan data yang mendukung untuk mengetahui beragam penyakit yang terjadi terhadap masyarakat sekitar, terutama penyakit pada sistem lokomosi atau sistem gerak.
Data masyarakat yang telah berobat maupun konsultasi di puskesmas tersebut, bisa didapatkan setelah mendapatkan surat dari dinas kesehatan Kota Cirebon yang berada di daerah Kesambi. Hal tersebut wajib dilakukan, karena data puskesmas maupun rumah sakit merupakan data privasi, selain itu terdapat sebuah aturan yang mengemukakan bahwa setiap pengambilan data yang dilakukan mahasiswa manapun untuk kegiatan belajar, harus mendapatkan persetujuan dinas kesehatan, sebagai pewenang terbesar dari puskesmas. Puskesmas Sitopeng merupakan puskesmas yang berada dibawah tanggung jawab dinas kesehatan kota Cirebon, sehingga apapun yang terjadi pada puskesmas tersebut menjadi tanggung jawab dinas kesehatan terkait.
Pengeluaran surat izin dari dinas kesehatan tersebut diberikan pada kepala tata usaha (TU) puskesmas Sitopeng yang bernama Bapak Yanto. Beliau merupakan kepala TU yang salah satunya mengurus segala data yang didapatkan pada puskesmas Sitopeng tersebut, tremasuk data masyarakat yang telah berobat serta penyakit yang seirng dikeluhkan masyarakat khususnya masyarakat Desa Sitopeng. Banyak penyakit yang terjadi kepada masyarakat sekitar, bahkan didata penyakit yang termasuk ke dalam 10 besar yang seirng dikeluhkan masyarakat Sitopeng, terutama penyakit pada sistem lokomosi atau sistem gerak.
Sistem lokomosi atau sistem gerak pada data, tidak tertulis dengan jelas bahwasannya data tersebut menunjukan kelainan ataupun penyakit sistem gerak, sebagaimana pernyataan dari Bapak Yanto “Keluhan yang biasa diungkapkan masyarakat Sitopeng yang berobat ke puskesmas pada sistem gerak, disini termasuk ke dalam penyakit muskulokleat dan jaringan ikat, yang didalamnya terdiri dari kelainan pada otot, syaraf, dan tulang, dimana didapatkan sebanyak 1907 warga yang telah mengeluhkan sakit pada sistem gerak tersebut, terutama pada bagian otot”. Berdasarkan pernyataan Bapak Yanto tersebut, bahwasannya sistem lokomosi atau sistem gerak termasuk ke dalam muskuloskleat, dijelaskan dalam teori bahwa muskuloskleat adalah sistem kompleks yang melibatkan otot-otot dan kerangka tubuh, dan termasuk sendi, ligament, tendon, dan saraf. Sistem muskuloskeletal merupakan jantung kedua dari manusia karena sistem tersebut sebagai alat gerak, (Susilawati, 2015).
Penyakit atau kelainan yang biasa dikeluhkan masyarakat terhadap sistem gerak disekitar puskesmas tersebut termasuk kedalam penyakit sepuluh besar, pada urutan keempat. Sebagaimana data tahun 2015 pada table dibawah ini:
N o
Penyakit Jumlah %
1 ISPA 10277 43,2
3 Kulit 4660 19,6
4 Penyakit sistem
muskulokleat dan jaringan ikat
1907 8
5 Diare 1496 6,3
6 Penyakit pernafasan lainnya 748 3,1
7 Penyakit sistem pembuluh darah
739 3,1
8 Penyakit saluran kemih 464 1,9
9 Penyakit susunan syaraf 456 1,9
10 Defisiensi gizi 448 1,8
Data Table masyarakat yang berobat di puskesmas Sitopeng
Data keluhan dari masyarakat sekitar, lebih banyak terjadi pada ISPA atau pada pernafasan. Hal tersebut terjadi karena kondisi lingkungan Sitopeng yang cukup kumuh serta banyaknya sampah yang membusuk, sehingga menyebabkan polusi udara dan polusi air, sehingga berpengaruh pada kesehatan sistem pernafasan masyarakat sekitar. Sedangkan keluhan yang dirasakan pada sistem gerak, biasa terjadi karena aktifitas masyarakat sekitar yang cukup membutuhkan tenaga ekstra, namun penyakit pada sistem gerak yang terjadi pada masyarakat tersebut bukanlah penyakit besar, namun hanya penyakit biasa, seperti sakit otot karena kesalahan tidur, terkilir saat bekerja, orangtua yang sudah osteoporosis dan beberapa masyarakat yang mengalami kecelakaan sehingga terjadi patah tulang.
Penanganan yang dilakukan pihak rumah sakit terhadap keluhan masyarakat pada beberapa penyakit tersebut, terutama pada sistem gerak dikemukakan oleh dokter umu yaitu Dr. Yoga, “Mayoritas masyarakat yang mengeluh sakit pada sistem gerak biasanya telah berusia dewasa hingga lanjut, dimana pada masyarakat dewasa mengeluhkan sakit pinggang karena terlalu lama mengangkat beban berat, kaki terkilir ketika bekerja, sakit pada bagian otot lengan sehingga kaku ketika digerakan (disebut dengan atrofi), pada usia renta biasanya mengeluhkan pada sakit bagian kaki karena telah terjadinya osteoforosis, sedangkan beberpa pada usia anak-anak hanya mengeluhkan sakit pada bagian leher akibat salah posisi ketika tertidur atau kebiasaan anak tersebut selalu diurut, bahkan yang terparah pada anak kecil biasanya akibat penyakit polio”.
kegiatan pekerjaan yang memberatkan, karena akan sangat mempengaruhi bagian sistem gerak yang sakit sehingga akan menjadi lebih parah. Pengobatan pada pasien yang mengalami patah tulang, akibat kecelakaan biasanya ada yang bisa diobati di puskesmas tersbeut namun ada juga yang tidak bisa diobati sehingga harus di rujuk ke rumah sakit.
Patah tulang atau fraktula tidak bisa diobati di puskesmas tersebeut, karena ketersediaan obat dan alat yang sangat terbatas. Fraktula atua patah tulang yang biasa terjadi tersebut, diantaranya patah tulang luar dan patah tulang dalam, dimana keduanya hanya bisa diobati di tempat kesehatan yang lebih lengkap laat maupun obatnya. Namun bukan berarti puskesmas Sitopeng tersebut tidak bisa melakukan apapun terhadap pasien yang patah tulang tersebut, puskesmas hanya bisa membantu sementara dengan memasangkan papan yang diletakan pada bagian kanan maupun kiri bagian tubuh yang tulangnya patah, untuk meminimalisir akan terjadinya patah tulang yang lebih parah, sebelum pasien tersebut diobati di tempeat pengobatan yang lebih baik.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Penyakit pada sistem gerak akan mengganggu pada sistem pergerakan, baik pada tulang sebgai alat gerak pasif maupun pada otot sebagai alat gerak aktif.
2. Penyakit yang terjadi pada sistem gerak atau sistem lokomosi yang termasuk kedalam sistem muskulokleat, mayoritas terjadi akibat aktivitas yang dilakukan serta beberapa ada yang disebabkan karena keturunan atau genetik.
3. Pengobatan penyakit yang terjadi pada sistem gerak, dapat dilakukan dengan mmemperbanyak mengkonsumsi kalsium dan berolahraga, serta mengurangi kegiatan yang menyebabkan tulang maupun otot mengangkut beban berat.
DAFTAR PUSTAKA
Amien, M. 1995. Biologi 2 untuk Sekolah Menengah Umum Kelas 2.Jakarta : Penerbit Balai Pustaka.
Furqonita,D. 2007. Seri IPA-BIOLOGI 3 SMP Kelas IX. Jakarta : Quadra-Penerbit Yuhistira.
Kadaryanto et al. 2006. Biologi 2. Penerbit Yudhistira, Jakarta. h. 53, 56.
Pratiwi, D.A. et al. 2000. Buku Penuntun Biologi untuk SMU kelas 2. Jakarta : Penerbit Erlangga..
Prawirohartono, S. dan Kuncorowati. 2003. Biologi 2 Untuk Kelas 2 SLTPKurikulum 1994 Semester 1 dan Semester 2. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara.
Saktiyono. 2004. Sains : Biologi SMP 2 Untuk Kelas VIII. Jakarta : Esis-Penerbit Erlangga
Fiona. 2014. Fungsi Sistem Gerak Pada Manusia: http://nonfiona.blogspot.co.id, diakses pada 28 mei 2016 pukul 11:55 WIB.
Susilawati, desy. 2015. Sistem Gerak: http://www.sistemgerak.com, diakses pada 28 Mei 2016 pukul 12:00 WIB.
Tobita, O. 2015. Materi: http://tobi-tobita.blogspot.co.id, diakses pada 28 Mei 2016 pukul 10:22 WIB.
Bapak Yanto
(Kepala TU) Wawancara dengan kepala TU
Pengambilan Dat
Data Pasien yang berobat
tahun 2015 Dokumentasi bersama kepala TU
Dr. Yoga Rusdianto N. (DokterUmum)
Wawancara dengan dokter umum
Dokumentasi bersama Dr. Yoga