Nama : Mimhaturrohmah Demikian yang dikemukakan oleh ‘Ali, Ibnu Abbas, dari Masruq, dan Muhammad bin Ka’ab. Yaang dimaksud dalam ayat ini adalah waktu fajar pada hari raya kurban, khususnya, yang merupakan penutup malam yang sepuluh. Dan yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang dikatakn oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid, dan lain-lain dari kalangan kaum Salam dan Khalaf. (Katsir, tanpa tahun)
Surah ini memiliki tiga kaitan dengan surah sebelumnya :
1. Sumpah di awal surah ini sebagai dalil kebenaran isi kandungan akhir surah sebelumnya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Sungguh kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.” (al-Ghaasyiyah: 25-26)
2. Surah sebelumnya berisi pembagian manusia menjadi dua kelompok: orang-orang celaka dan orang-orang bahagia, orang-orang yang bermuka tuduk dan orang-orang yang bermuka penuh kenikmatan. Surah ini menyebutkan beberapa kelompok dari orang-orang yang zalim: kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan Fir’aun yang merupakan kelompok pertama. Beberapa kelompok dari kaum Mukminin yang diberi petunjuk dan bersyukur atas nikmat Allah. Mereka masuk dalam golongan kelompok kedua. Jani dan ancaman sama-sama ada dalam kedua surah tersebut.
3. Sesungguhnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Tidakkah engkau (Muhammad) memerhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad?” (al-Fajr: 6)
senada dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala di surah sebelumnya, “Maka tidakkah mereka memerhatikan unta, bagaimana diciptakan?” (al-Ghaasyiyah: 17)
Walaupun Al-Qur’an menyebut “malam-malam yang sepuluh” itu secara umum namun terdapat riwayat-riwayat yang menentukannya. Menurut satu riwayat yang dimaksudkan dengan malam-malam yang sepuluh itu ialah sepuluh malam dari bulan Dzulhijjah, dan mengikut riwayat yang lain pula ialah sepuluh malam dari bulan Muharram dan dalam satu riwayat lagi ialah sepuluh malam dari bulan Ramadhan.
Walau bagaimanapun mengekalkan “malam-malam yang sepuluh” dalam pengertiannya yang umum itu lebih mendalam keberkesanannya dan lebih lunak artinya yaitu sepuluh malam yang berada dalam ilmu Allah dan dipandang mulia di sisi-Nya. Ia menggambarkan bayangan malam-malam yang berpribadi istimewa seolah-olah malam-malam itu merupakn makhluk-makhluk hidup yang bernyawa yang saling bermesra dengan kita dalam pengungkapan Al-Qur’an yang lemah-lembut itu.
Dan firman Allah Ta’ala, ( ) “Dan yang genap dan yang ganjil.” Mengenai hal ini telah dikemukakan sebuah hadits yang menjelaskan bahwa yang ganjil itu adalah hari ‘Arafah yang jatuh pada hari kesembilan, sedangkan yang genap adalah hari Nahar yang jatuh pada hari kesepuluh. Dan dalam kitab ash-Shahihain disebutkan sebuah hadits dari riwayat Abu Hurairah , dari Rasulullah :
“Sesunggunya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitungnya, maka dia akan masuk Surga. Dan Dia itu ganjil dan menyukai yang ganjil.”
Ayat ini menggambarkan sholat dan ibadah dalam suasana mesra yaitu suasana waktu fajar dan malam-malam yang sepuluh. Tersebut dalam hadits:
“Dai ibadah sholat, ada yang genap dan ada yang ganjil (yakni bilangan rakaatnya).”
Inilah pengertian yang paling sesuai di dalam suasana ini. Disini roh ibadah yang khusyu’ bertemu dengan roh alam yang tenang tentram, dan disini juga roh orang-orang yang beribadah, berdialog dengan roh-roh malam yang terpilih di sisi Allah dan dengan roh waktu fajar yang gemilang. (Katsir, tanpa tahun)
Dan mengenai firman-Nya, ( ) “Dan yang genap dan yang ganjil,” al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia mengatakan: “Allah itu ganjil dan esa sedangkan kalian itu genap.”
Sesuatu yang genap dan yang ganjil dari setiap sesuatu, diantaranya adalah hari-hari (malam-malam) ini yang genap dan yang ganjil. (Katsir, tanpa tahun)
Ada yang mengaakan bahwa kata asy-Syaf’u disini adalah hari Idul Adha karena hari tersebut adalah hari kesepuluh dari bulan Dzulhijjah. Sementara itu, yang dimaksud al-Witru adalah hari ‘Arafah karena hari tersebut jatuh pada tanggal sembilan Dzulhijjah. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud asy-Syaf’u disini adalah dua hari Tasyrik; hari pertama dan kedua yang diperbolehkan untuk keluar dari Mina (dalam ritual ibadah haji). Sementara itu, al-Witru disini adalah hari Tasyrik yang ketiga.
Semua itu merupakan sumpah yang agung dengan fajar Shubuh yang cahayanya bersinar setiap hari, bahwa sungguh orang-orang kafir akan disiksa. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, hitungan genap, hitungan ganjil, dan waktu malam bahwa adzab orang-orang kafir pasti akan terjadi, tidak ada tempat untuk menghindar darinya.
Inilah gambaran kebesaran kekuasaan Alloh dengan Firman-Nya yang agung sebagai hujjah atau pegangan seluruh hamba-Nya sebagai kholifah di bumi ini, semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang terhindar dari siksa neraka dan termasuk golongan hamba-Nya yang selamat dunia dan akhirat. Maka dari itu hendaknya kita mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menyongsong kehidupan akhirat yang abadi. Merekalah orang-orang beriman dan memenuhi kehidupannya dengan catatan amal shalih. Semoga kita termasuk di dalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Az-Zuhaili, W. 2005. Tafsir Al-Munir. Jilid 15. Jakarta : Gema Insani Katsir, I. Tanpa tahun. Tafsir Ibnu Katsir Juz 30. Diunduh dari