Tugas
ILMU ALAMIAH DASAR
CATATAN KULIAH
Nama Kelompok I /(BP) :
1. ILHAM KURNIA HADI / (0810512083) 2. M.FAUZAN AZIMA / (1310511029) 3. RIZA KURNA PUTRA / (1310511031) 4. WINDI AGUS SAPUTRA / (1310511032) 5. FARID HADIATAMA / (1310511034)
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS
BAB 1
PENDAHULUAN
Ilmu alamiah dasar (IA) sering disebut Ilmu alamiah Pengetahuan Alam (IPA) dan akhir-akhir ini ada juga yang menyebutkan Ilmu Kealaman yang dalam bahasa inggris disebut Natural Science atau disingkat Science dan dalam bahasa Indonesia sudah lazim digunakan istilah Sains.
I.A merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji gejala-gejala dalam alam semesta, termasuk bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. Ilmu Alamiah Dasar (Basic Natural Science) hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial saja.
A. Manusia yang Bersifat Unik
Manusia sebagai makhluk hidup umumnya mempunyai ciri-ciri: (1) organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otaknya, (2) mengadakan metabolisme atau penyusunan dan pembongkaran zat, yakni ada zat yang masuk dan keluar, (3) memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar, (4) memiliki potensi untuk berkembang, (5) tumbuh dan berkembang, (6) berinteraksi dengan lingkungannya, dan (7) bergerak.
Bila kita dibandingkan tubuh manusia dengan tubuh hewan tingkat tinggi lainnya, maka tubuh manusia lemah. Misalnya: gajah, harimau, burung, dan buaya. Gajah dapat mengangkat balok yang berat, harimau dapat berjalan cepat. Burung dapat terbang, dan buaya dapat berenang cepat. Namun, rohani manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kedua alat itu, manusia dapat mengangkat barang puluhan ton, berlari dengan mobil lebih cepat, bergerak lebih cepat dengan kapal terbang dengan pesawat terbang supersonik, dan sebagainya. Dengan kedua alat itu, manusia dapat mengusai dan mengungguli makhluk lain. Akal budi dan kemauan kerasnya adalah sifat unuk dari manusia, di samping dapat belajar dan mengajar anakanya.
B. Kurioritas atau Rasa Ingin Tahu dan Akal-Budi
pernjelajahan, ingin tahu daerah lain, misalnya harimau atau burung ingin tahu tempat lain untuk memperoleh makanan dan sebagainya. Rasa ingin tahu atau kuriositas pada hewan itu didorong oleh naluri (instinct) dan oleh asimov (1972) disebut idle curiosity. Naluri itu bertitik pusat pada mempertahankan kelestarian hidup dan sifatnya tetap sepanjang zaman.
Manusia mempunyai naluri seperti tumbuhan dan hewan. Tetapi juga mempunyai akal-budi sehingga rasa ingin tahu itu tidak tetap sepanjang zaman. Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang. Rasa ingin tahu manusia tidak pernah dapat dipuaskan. Apabila suatu masalah dapat dipecahkan, akan timbul masalah lain yang menunggu pemecahannya. Manusia bertanya terus setelah tahu apa, maka ingin tahu bagaimana dan mengapa. Manusia mampu menggunakan pengetahuan yang telah lama diperoleh untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru menjadi pengetahuan yang lebih baru lagi. Hal yang demikian berlangsung beradad-adad sehingga terjadi akumulasi pengetahuan. Manusia purba hidup gua-gua, tetapi berkat pengetahuan yang bertambah terus, manusia modern bertempat tinggal dalam gedung-gedung yang kokoh dan indah seperti saat ini. Kecuali untuk memenuhi kepuasan manusia, Ilmu pengetahuan juga berkembang untuk keperluan praktis agar hidupnya lebih mudah dan menyenangkan.
C. Perkembangan Alam Pikiran Manusia
Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman Babilonia, yaitu kira-kira 700-600 SM. Orang Babiolonia berpendapat bahwa alam semesta itu sebagai ruang setengah bola dengan bumi yang datar sebagai lantainya dan langit dengan bintang-bintang sebagai atapnya. Namun, yang menakjubkan adalah mereka telah mengenal bidang ekletika sebagai bidang edar matahari dan menetapkan perhitungan satu tahun, yaitu 365,25 hari. Pengetahuan perbintangan pada zaman itu pada zaman itu memang berkembang dan muncul pengtahuan tentang rasi-rasi kelompok bintang, yaitu rasi scorpio, virgo, pisces, leo, dan sebagainya. Rasi bintang yang kita kenal pada saat ini berasal dari zaman babilonia tersebut setengahnya merupakan dugaan, imajinasi, kepercayaan, atau mitos. Pengetahuan semacam itu dapat disebut pseudo science (sains palsu), artinya mirip sains, tetapi bukan sains sebenarnya. Sains palsu itu juga terkadang masih terdapat pada pola pikir orang Yunani kuno (700-600 SM). Misalnya, Thales (624-548 SM) seorang filosof, astronom, ahli matematika, dan ahli teknik, berpendapat bahwa bintang-bintang mengeluarkan sinar sendiri, sedangkan bulan hanya memantulkan sinar dari matahari. Dia juga berpendapat bahwa bumi merupakan suatu piring yang datar terapung diatas air. Dia yang pertama kali mempertanyakan asal-usul semua benda di alam semesta ini. Thales berpendapat bahwa keanekaragaman benda alam ini merupakan gejala alam saja, sedangkan dasarnya amat sederhana, yaitu air. Bahan dasar itu melalui proses membentuk keanekaragaman benda, jadi tidak terbentuk begitu saja. Pendapat ini merupakan pendapat yang sungguh besar dalam alam pikiran manusia pada zaman itu, karena sebelumnya masih banyak orang berpendapat bahwa benda yang beranekaragam itu diciptakan oleh dewa-dewa seperti adanya itu. Selanjutanya, Thales berpendapat bahwa semua kehidupan itu berasal dari air.
Kemudian, berdasarkan kemampuan berpikir manusia yang semakin maju dan perlengkapan pengamatan yang semakin sempurna, maka mitos dengan berbagai legenda makin di tinggalkan orang dan cenderung menggunakan akal sehat atau rasio.
Gambar 1
Thales (624-549), seorang filosof dan ahli astronomi, berpendapat bahwa semua kehidupan berasal dari air
a. Aniximander, seorang kontemporer pada masa Thales. Ia berpendapat bahwa langit yang kita sebenarnya bahwa langit yang kita lihat sebenarnya hanya setengah. Langit dan segala isinya itu beredar mengelilingi bumi dan pendapat itu dapat bertahan sampai abat pertengahan. Ia juga yang mengajarkan membuat jam matahari, yaitu tongkat yang tegak lurus di permukaan bumi. Bayangan tongakat yang tebentuk oleh sinar matahari dijadikan petunjuk waktu.
Gambar 2
Ptolomeus Arkhimedes Aristoteles
b. Anaximenes (560-520), seorang yang berpendapat bahwa unsur-unsur dasar pembentukan semua benda itu adalah air, seperti pendapat Thales. Air merupakan
(384-322 SM ) seorang filosofi dan ahli ilmu ilmia, perangkum ajaran ahli-ahli lain: orang pertama yang berusaha mengklasifikasikan hewan berdasarkan anatomi dan pembedahan langsung (187-212 SM) seorang ahli
matematika dan ahli astronomi, penemu hukum hidrostatis dalam makanika (127-151 SM) ahli astronomi
salah satu bentuk benda. Jika merenggang menjadi api, dan jika memadat menjadi tanah. Ini merupakan pendapat pertama tentang transmutasi unsur-unsur.
c. Herakleitos (560-470 SM), seorang pengkoreksi pendapat Anaximenes bahwa justru apilah yang menyebabkan adanya transmutasi itu. Tanpa api, benda-benda akan tetap seperti adanya.
e. Demokritos (460-370), seorang yang berpendapat tentang unsur-unsur dasar benda. Bila suatu benda dibagi terus-meneru, suatu saat akan sampai pada bagian yang terkecil yang tidak dapat dibagi lagi. Bagian yang terkecil itu disebut atomos atau atom dan karena kecilnya, atom tidak tampak oleh mata. Istilah atom sampai saat ini masih dipakai dengan perubahan konsep, tidak lagi seperti konsep Demokritos.
f. Empedokles (480-430 SM), merupakan orang yang menyempurnakan ajaran Pythagoras tentang empat unsur dasar yaitu tanah, air, udara, dan api. Ia memperkenalkan tentang tenaga penyekat atau daya tarik-menarik dan daya tolak-menolak. Kedua tenaga tersebut dapat mempersatukan unsur-unsur itu.
g. Plato (480-345 SM), seorang yang mempunyai titik tolak berpikir yang berbeda dengan orang-orang sebelumnya sebagai seorang sastrawan tidak berpikir seperti Demokritos dan empedokles yang terlalu materialistik. Menurutnya Plato, keanekaragaman yang tampak ini sebenarnya hanya suatu duplikat dari semua yang kekal dan immaterial misalnya, serangga terdiri atas macam-macam jenis yang
bentuknya berbeda dan beranekaragam, hanya merupakan kopi atau duplikat belaka yang tidak sempurna. Yang benar adalah idea serangga.
h. Aristoteles (384-322 SM), merupakan seorang ahli pikir pada zamannya. Ia yang membuat intisari ajaran orang-orang sebelumnya. Dalam memikirkan suatu masalah, ia membuang hal-hal yang tidak masuk akal dan memasukkan pendapatnya sendiri. Bukunya yang berhubungan dengan unsur dasar alam ini menyebutkan adanya zat tunggal yang disebut Hule. Zat tungal itu tergantung kepada kondisinya sehingga dapat berwujud tanah, air, udara, atau api. Terjadinya transmutasi itu disebabkan oleh kondisi: dingin, lembab, panas, dan kering. Dalam kondisi lembab dan panas, hule akan berwujud sebagai api, sedangkan dalam kondisi kering dan dingin berwujud sebagai tanah. Aristoteles berpendapat bahwa tidak ada ruang yang hampa. Maka, bila suatu ruang tidak terisi oleh suatu benda, akan diisi oleh suatu yang imaaterial yaitu
ether. Ajaran Aristoteles yang penting adalah pola berpikir berdasarkan logika untuk mencari kebenaran. Ia juga orang pertama yang menyusun klasifikasi hewan yang ada di muka bumi ini. Di samping itu, ahli pikir ini juga memiliki pandangan tentang awal kehidupan, yaitu tentang paham abiogenesis (generatio spontanea).
i. Plotomeus (127-151), seorang tokoh besar setelah Aristoteles. Buah pikirannya yang penting tentang bumi adalah bumi sebagai pusat sistem tatasurya (geosentris), berbentuk bulat, dan diam seimbang tanpa tiang penyangga.
j. Avicenna (Ibna-Shina, abat 11), seorang ahli ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang ilmu kedokteran, filosof. Kecuali Avicenna, perlu dikemukakan ahli lainnya dari dunia Islam, yaitu: Al-Biruni, seorang ahli ilmu pengetahuan yang asli dan kontemporer (abad 11), Al-Khawirizzini, Al-Farghani, Al-Batani (abad 9), Al-Kindi, Al-Farabi (filosof abad 10), Al-Gazali (filosof abad 11), dan Averoes (ibn-Rushd). Pada abad 9-11, semua ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani diterjemahkan dan dikembangkan dalam bahasa Arab. Setelah itu, secara bertahap diterjemahkan dalam bahasa latin dan sedikit dalam bahasa Ibrani. Pada waktu itulah ilmu pengetahuan dan kebudayaan Arab merupakan kebudayaan internasional yang tersebar jauh ke Barat, yaitu ke Maroko dan Spanyol, yang terkenal dengan Pusat Perpustakaan dan Masjid Al-Hambra, Cordoba (Spanyol).
D. Lahirnya Ilmu Alamiah
gejala di alam semesta ini. Tanggapan terhadap gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa merupakan suatu pengalaman.
Pengalaman tersebut dari zaman ke zaman akan berakumulasi karena manusia mempunyai rasa ingin tahu atau kuriositas terhadap segalanya di alam semesta ini. Pengalaman merupakan salah satu cara terbuntuknya pengetahuan, yakni kumpulan fakta-fakta. Pengalaman itu akan bertambah terus selama menusia ada dimuka bumi ini dan mewariskan pengetahuan itu kepada generasi berikutnya. Pertambhan pengetahuan (kwoledge) seperti yang telah dikemukakan didorong oleh: (1) dorongan untuk memuaskan diri yang bersifat nonpraktis atau teoritis guna memenuhi kurioritas dan memahami hakikat alam semesta dan isisnya serta (2) dorongan praktis, yang memanfaatkan pengetahuan itu untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih tinggi. Kedua dorongan itu menumbuhkan kemajuan ilmu pengetahuan. Dorongan pertama menuju ilmu pengetahuan murni ( Pure-Science), sedangkan dorongan kedua menuju ilmu pengetahuan terapan (Applied Science).
Ilmu alamiah merupakan kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis. Artinya, kegiatan manusia yang tiada hentinya dari hasil percobaan akan menghasilkan konsep, selanjutnya konsep tersebut mendorong dilakukannya percobaan berikutnya dan seterusnya.
E. Kriteria Ilmiah
Kriteria atau patokan merupakan suatu rambu-rambu untuk menentukan benar atau tidak besarnya suatu untuk masuk satatus tertentu. Pengetahuan termasuk kategori ilmu pengetahuan jika kriteria berikut dipenuhi, yakni : teratur, sistematis, berobjek, bermetode, dan berlaku secara universal.
Gambar 4
G.L.L De Buffon, seorang filosof perancis (1707-1788) seorang yang menyatakan bahwa pecobaan sama pentingnya dengan pengamatan.
Untuk mencapai kebenaran, yakni persesuaian antara pengetahuan dan objeknya, tidaklah terjadi secara kebetulan, tetapi harus menggunakan prosedur atau metode yang tepat, yaitu prosedur atau metode alamiah (scientific method). Dengan prosedur atau metode ilmiah tersebut akan dicapai kebenaran yang merupakan keputusan atas objeknya, dan dirumuskan secara tertentu. Namun, keputusan mengenai, keadaan, sifat tingkah laku, dan lain-lain tidaklah bersifat khusus karena hal itu bukan tujuan ilmu pengetahuan yang mencari kebenaran yang bersifat umum. Misalnya, sepotong logam jika dipanasi akan memuai. Peristiwa itu tidak hanya berlaku untuk logam besi, tetapi berlaku untuk semua logam dan berlaku di semua tempat di alam semesta ini. Dengan demikian, hukum itu berlaku secara umum mengenai suatu objek, walaupun hanya mencakup salah satu aspek saja, tetapi dicapai jangan dengan menggunakan metode ilmiah yang dirumuskan, diorganisasikan, dan diklasifikasikan, yang terbukti secara signifikan. Sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa pengetahuan tentang signifikan. Sama sekali, perlu ditegaskan bahwa pengetahuan tentang suatu objek mencakup bebagai aspek lain sehingga timbul ketergantungan satu dengan lainnya.
F. Metode Ilmiah dan Implementasinya.
masalah yang tidak dapat diterapkan metode ilmiah, tidaklah ilmiah. Sebagaimana langkah pemecahan atau prosedur ilmiah dapat dirinci sebagai berikut.
1. Penindraan
Pengindraan merupakan langkah pertama dari metode ilmiah dari segala sesuatu yang tidak dapat diindre, maka tidak dapat diselidiki oleh I.A, walaupun pengindraan tidak selalu lansung. Misalnya, mengenai magnetisme dan inti atom yang tidak dapat kita indera secara langsung, tetapi efek-efeknya dapat ditunjukkan melalui alat-alat. Seperti halnya pikiran, tidak dapat kita indera secara langsung, tetapi efeknya dapat ditunjukkan dalam bentuk tingkah laku.
Agar pengindraan tepat dan benar, maka perlu pengulangan, dan pengulangan itu dapat juga oleh orang lain. Penginderaan yang tepat adalah sulit, memerlukan waktu yang lama, dan setelah dicoba berkali-kali sering mengalami kegagalan. Setiap orang dapat melakukan penginderaan melalui kelima inderanya, tetapi penginderaan yang tepat sukar dilakukan karena sering adanya prasangka yang melekat pada penginderaan melalui kelima inderanya, tetapi penginderaan yang tepat sukar dilakukan karena sering adanya prasangka yang melekat pada penginderaan itu. Seorang ahli hukum lebih tajam penginderaannya terhadap saksi daripada orang umum, demikian pula ahli musik yang tepat dapat diperoleh dengan latihan dan menggunakan alat-alat yang telah ditera.
Untuk meminimalkan subjektivitas penginderaan, sering kali pengamatan menggunakan instrumen standar. Contohnya, untuk mengetahui suhu air, tidak cukup dengan kulit/tangan, tetapi perlu dibantu dengan termometer.
2. Masalah atau problem
Secara umum, untuk menemukan masalah digunakan pertanyaan “bagaimana?” atau “apa?”. Pertanyaan “mengapa?” menimbulkan kesukaran, dan sering diganti “bagaimana?” atau “apa?” pertanyaan “mengapa alam ini ada?”. Termasuk kategori yang tidak dapat diuji sehingga hal itu tidak termasuk bidang I.A.
3. Hipotesis
Pertanyaan yang tepat akan melahirkan suatu jaswaban dari jawaban itu bersifat sementara yang merupakan suatu dugaaan. Dalam I.A, dugaan sementara itu disebut hipotesis. Untuk membuktikan apakah dugaan itu benar atau tidak, diperlukan fakta atau data. Bila fakta itu dapat dikumpulkan melalui survei atau eksperimen. Bila data tidak mendukung hipotesis, harus disusun hipotesis baru.
Hipotesis, kecuali didukung oleh data, agar mudah dibuktikan harus bersifat sederhana dan memiliki jangkauan yang jauh. Dalam membuat hipotesis, tidak asal saja, walaupun dalam sejarah pernah terjadi, yaitu ketika kekule, seorang ahli ilmu kimia bangsa Jerman membuat hipotesis tentang struktur zat kimia benzema. Pada suatu malam, setelah menghadiri pesta yang banyak menghidangkan alkohol, keluke bermimpi adanya eam ekor kera yang menyusun diri dari saling menggigit ekor sehingga terbentuk konfigurasi lingkaran segi enam. Rumus benzema yang disusun berdasarkan hipotesis Keluke itu pada saat ini merupkan rumus yang dapat menghasilkan 400 jenis senyawa yang banyak diproduksi dalam industri kimia.
Keadaan yang ideal untuk memberikan kebenaran suatu hipotesis adalah melalui pengujian dengan eksperimen.
4. Eksperimen
Eksperimen atau percobaan merupakan langkah ilmiah keempat. Pada titik ini, I.A dan non-I.A dapat dipisahkan secara sempurna.
seorang ilmuwan tidak akan berhenti sampai di situ, tetapi akan meneruskan pertanyaan, “mana buktinya?” dalam sejarah, cara demikian merupakan suatu cara untuk menghilangkan pendapat umum yang emosional, tidak didukung oleh bukti merupakan ilusi dan tidak bijaksana. Eksperimen yang baik harus dirancang dengan seksama sehingga semua faktor dapat dikendalikan dan hipotesis dapat diuji kebenarannya.
Sebagai ulasan, akan dikemukakan hal berikut. Pada permulaan musim hujan, kita melihat gejala bahwa beberapa jenis lampu misalnya lampu pijar, neon atau T.L dan merkuri pada malam hari dikerumui berbagai jenis serangga. Gejala ini membangkitkan suatu hipotesis bahwa serangga tertarik pada sinar tertentu, tetapi tidak tertarik pada sinar yang lain.
Untuk membuktikan hipotesis tersebut, dirancang suatu eksperimen di laboraturium dengan menggunakan berbagai jenis serangga, misalnya : laron, lalat rumah, lalat buah, nyamuk, belalang, dan sebagainya, sedangkan untuk sinarnya dipakai berbagai sinar, misalnya : merah, biru, hijau, kunig, dan sebagainya. Dari hasil percobaan ternyat serangga tertarik pada sinar biru dan tidak tertarik pada sinar lain.
5. Teori
Bukti eksperimen merupkan dasar langkah ilmiah berikutnya, yaitu teori. Apabila suatu hipotesis telah didukung oleh bukti atau data yang menyakinkan dan bukti itu diperoleh dari berbagai eksperimen yang dilakukan di laboraturium, dimana eksperimen itu dilakukan oleh berbagai peneliti dan bukti-bukti menunjukkan hal yang dapat dipercaya dan valid, walaupun dengan keterbatasan tertentu, maka disusun suatu teori.
Beberapa teori menunjukkan validitas yang umum sehingga memiliki rangkuman yang tinggi, maka teori itu menjadi hukum alam. Hukum gravitasi itulah manusia dapat meninggalkan bumi dengan rocket menuju ke benda-benda angkasa lainnya.
Dari teori hubungan sinar dengan serangga di atas dikembangkan teori-teori baru atau memanfaatkan teori itu untuk bidang pertanian, dan kesehatan, misalnya dikembangkan lampu pengusir serangga yang dipasang di sekitar gudang biji-bijian (padi, gandum, jagung), lampu penangkap nyamuk, dan sebagianya.
Dari uraian diatas, I.A terdiri dari tida komponen, yaitu produk, proses, sikap. Contoh produk adalah konsep, teori, dan hukum. Proses merupakan keterampilan untuk menemukan produk seperti keterampilan pengamatan, eksperimen. Sementara contoh sikap adalah telitim dan jujur.
G. Keterbatasan Ilmu Alamiah
Penginderaan, penemuan masalah, penyusunan hipotesis, eksperimen, dan teori merupakan urutan langkah atau prosedur ilmiah yang lazim. Untuk menentukan sejauh mana arti konteksnya, kita uji sampai dimana berlakunya metode ilmiah dan dimana metode ilmiah tidak berlaku, serta kekhususannya.
1. Bidan Ilmu Alamiah
Yang menentukan bidan I.A adalah metode ilmiah karena bidan I.A adalah wahana di mana ilmiah dapat diterapkan, sebaliknya, bidang non I.A adalah wahana dimana metode ilmiah tidak dapat diterapkan. Hal tersebut dapat dipakai untuk menjelaskan masalah yang sering dilontarkan, yaitu konsep tentang Tuhan. Apakah Tuhan itu ada? Apakah Tuhan itu menciptakan alam ini? Dimanakah Tuhan berada? Dari pertanyaan itu dapat disususn hipotesis “Ya” dan “Tidak”.
Jika Tuhan benar ada, berarti Tuhan akan ada di mana saja. Ini berarti kita tidak akan menemukan tempat dimana Tuhan tidak ada. Tetepi tempat dimana Tuhan tidak ada kita perlukan untuk kontrol.
Jika hipotesis tersebut salah, maka Tuhan tidak ada, maka kita tidak dapat melakukan pengujian dimana Tuhan di tempat yang Tuhan ada. Dengan demikian, kita tidak dapat menerapkan metode ilmiah. Maka, konsep tentang Tuhan di luar bidang I.A. ada atau tidaknya Tuhan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah karena metode ilmiah tidak dapat diterapkan. Namun hendaknya berhati-hati dalam hal ini sehingga tidak menimbulkan pertanyaan I.A tidak dapat membuktikan Tuhan itu ada para ilmuwan it tidak ber-Tuhan atau Ateis karena banyak ilmuan merupakan orang yang saleh, yang percaya kepada Tuhan.
2. Tujuan Ilmu Alamiah
Konsekuensi metode ilmiah adalah menerapkan tujuan I.A yaitu membentuk dan menggunakan teori. Beberapa orang mengatakan bahwa tujuan I.A adalah mencari kebenaran menemukan fakta. Dalam hal ini, hendaknya kita berhati-hati dengan perkataan “kebenaran” yang sering digunakan dalam dua arti. Pertama, menujukkan kebenaran yang bersifat sementara, seperti pernyataaan, “Rambut saya adalah hitam.” Kedua menunjukkan kebenaran yang mutlak, seperti pernyataan, “Dalam bidang geometri, jumlah sudut-sudut segitiga adalah 1800”.
dan sering dipakai, tetapi mempunyai arti lain., yakni “hanya sekedar berbicara dan bersifat spekulasi.
3. Ilmu Alamiah dan Nilai
Metode ilmiah tidak dapat memberikan nilai atau moral terhadap suatu keputusan. Manusia pemakai I.A-lah yang menilai apakah hasil I.A itu baik atau sebalinya. Ilmuwan hyang bekerja dalam penemuan energi nuklir, zat antibiotika, dan lain-lain tidak dapat menyatakan apakah penemuannya baik atau jelek. Setiap orang harus menentukan sendiri. Jika seorang ilmuwan berbicara tentang moral energi nuklir memiliki bobot yang lebih daripada orang umum tertentu karena ia tahu lebih banyak akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh energi nuklir memiliki bobot yang lebih daripada orang umum tentu karena ia tahu lebih banyak akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh energi nuklir jika dipakai perang. Namun, pendapat itu adalah pendapat pribadi yang dimiliki yang bersumber dari agama atau lainnya. Ilmu alamiah tidak dapat menilai hal lain, misalnya tentang cinta dan pengaruh cinta terhadap manusia mungkin dapat dilakukan, tetapi tidak akan dilakukan, tetapi tidak akan temukan bahwa cinta it indah, dan tidak dapat menilai tentang baik buruknya apa yang di lakukan manusia. Bila dapat menilai, itu bukan merupakan penelitian ilmiah.
Selajutnya, kita juga tidak dapat mengharapkan semua kehidupan ini berifat ilmiah karena manusia memiliki banyak segi, namun masih mungkin jika kita mengharapkan orang-orang untuk berfikir secara ilmiah dalam menghadapi masalah-masalah yang empiris. Sekali lagi, hendaknya kita yakin bahwa I.A tidak dapat memberikan pedman dalam menentukan nilai atua moral dalam hidup ini.
H. Filsafat Ilmu Alamiah
Pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut dia atas mendorong untuk menemukan “penyebab pertama” dalam alam semesta ini. Petanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya merupakan pertanyaan filsafat yang tidak hanya berhubungan dengan bidang I.A, tetapi menyangkut pikiran manusia seluruhnya. Jawaban atas pertanyaan itu tergantung pada hasil pemikiran yang diambil dari berbagai segi, dan salah satu segi adalah filsafat I.A seorang ilmuwan juga harus menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang berhubungan dengan alam semesta ini, kegunaan I.A, harus selalu konsisten dengan metode ilmiah.
Berbicara tentang filsafat I.A hendaknya dapat diverifikasi keseluaruhan atau bagian demi bagian melalui analisis eksperimentaal sehingga memiliki nilai ilmiah. Filsafat yang tidak dapat diverifikasi tidak akan memiliki nilai tambah, walaupun filsafat itu memiliki nilai yang baik dalam segi lain dalam pikiran atau pandangan manusia.
1. Vitalisme
Dari sejarah perkembangan I.A dapat kita lihat bahwa pada awalnya I.A masih tercampur dengan kepercayaan atau mitos. Oleh karena itu, pada awalnya di dalam I.A terdapat filsafat vitalisme. Vitalisme merupakan suatu doktrin yang menyatakan adanya kekuatan di luar alam. Kekuatan itu memiliki peranan yang esensial yang mengatur segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini. Kekuatan itu disebut dengan berbagai sebutan. Misalnya, Tuhan, Yang Maha Kuasa, atau secara sederhana sebagai gaya vital atau elan vital. Kekuatan itu menentukan alam, membimbing tingkah laku atom, planet, makhluk hidup, dan lain-lain. Pada makhluk hidup, elan vital itu juga disebut sebagai jiwa atau roh, sebagian besar filsafat dalam agama termasuk dalam filsafat vitalisme.
Ditinjau dari segi lain, vitalisme mempunyai nilai, tetapi dalam I.A tampaknya tidak cocok karena dalam I.A segala sesuatu harus dapat dianalisis secara eskperimental berdasarkan metode ilmiah seperti yang telah dikemukakan pada pembahasannya ada atau tidaknya Tuhan (lihat pada pembahasan bidang I.A)
Mekanisme merupakan suatu pandangan yang menyatakan bahwa penyebab yang mengatur semua gerakan di alam semesta ini adalah sejumlah Hukum alam.
Berdasarkan hasil peninderaan menunjukkan bahwa semua peristiwa atau gejala di alam semesta ini berdasarkan hukum alam, misalnya hukum fisika dan hukum kimiawi. Dengan dasar hukum alam itu, pandangan mekanisme dianalisis secaraeksperimental menurut metode ilmiah. Dengan demikian, pandangan ini menganggap bahwa gejala pada makhluk hidup secara otomatis terjadi hanya berdasar peristiwa fisika-kimia belaka. Mekanisme gambarannya tidak sesederhana seperti jam bila pernya diputar (jam model lama) atau diberi energi listrik (model jam sekarang) akan hidup, tetapi lebih luas. Misalnya komputer dapat belajar, menyimpan memori, mengolah data yagn ditunjukkan melalui layar monitor, atau robot yang dapat diprogram dan sebagainya.
Pandangan mekanisme menyamankan gejala pada makhluk hidup dengangejala benda tidak hidup sehingga perbedaan hakiki tidak ada. Dengan begitu dapat menghanyutkan manusia ke pandangan materialisme yang selanjutnya ke ateisme.
3. Agnoteisme
Kalau kita lebih dalam, tampak perbedaan prinsip antara vitalisme dan mekanisme, terutama tentang ada tidaknya sang perancang atau pencipta alam semesta ini. Untuk menghindari pertentangan terdapat aliran yang melepaskan diri atau tidak mempedulikan ada atau tidaknya Sang Pencipta, dan aliran ini disebut
agnotisme. Mereka yang mengikuti aliran ini hanya mempelajari gejala-gelala alam. Aliran ini banyak dianut oleh ilmuwan-ilmuwan barat.
4. Filsafat Pancasila
Ilmuwan Indonesia hendaknya dapat menjembatani antara filsafat vitalisme dengan mekanisme, misalnya dalam menjawab pertanyaan “bagaimana atau kapan hukum alam itu terjadi di alam semesta ini?” satu-satunya jawabannya ialah “hal itu diciptakan oleh Tuhan.” Dari titik awal mulai filsafat mekanisme, sedangkan proses selanjutnya menurut filsafat mekanisme, yakni hukum alam. Dalam hal ini, bagi kita hukum ala adalah sama dengan hukum Tuhan. Walaupun pada jawaban awal secara prosedur tidak ilmiah, tetapi mekanisme yang dianggap ilmiah juga tidak dapat menentukan kapan hukum alam itu mulai berlaku dan, kecuali itu sekali lagi kita bernggapan bahwa hukum alam adalah juga hukum Tuhan.
Dalam masalah gejala-gejala hidup dan makhluk hidup akan kita jumpai juga masalah –masalah semacam di atas, misalnya makhluk hidup itu mempunyai asal dan setelah berjalan pasti akan berakhir. Penginderaan dalam ha ini akan menimbulkan pertanyaan “bagaimana kondisi itu membawa ke arah kondisi terminal?” bagaimana kita dapat mengetahui titik awal dan yang titik akhir terjadi?” sebagai orang yang menganut filsafat Pancasila, maka dengan tegas kiat akan mengatakan semuanya diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa.
I. Bahasa Ilmu Alamiah
Ilmu alamiah sebagai kesatuan yang utuh sebagai bentuk bahasa.
Secara mendasar, I.A merupakan suatu bahasa, suatu sistem komonikasi. Agama, seni, politik, bahasa indonesia, bahasa inggris, dan bahasa-bahasa lainnya juga sebagai sistem komonikasi. Dengan I.A, manusia dapat menjelajah wahana-wahana baru dalam alam pikiran dan dapat memahami, seperti memahami, negara-negara yang ada di muka bumi ini. Seperti bahasa lainnya, I.A juga memiliki tata-bahasa, yaitu metode ilmiah: memiliki pengarang yang para ilmuwan dan kepustakaan (karya ilmiah) dengan berbagai dialek atau bentuk ekspresi, yaitu seperti fisika, kimia, biologi, IPBA, dan sebagainya.
terdapat ide yang dinyatakan dalam bahasa berbeda, tetapi setara. Bahasa Indonesia menyatakan “air”, bahasa Inggris menyatakan “water” bahasa latin menyatakan “aqua”, sedangkan dalam bahasa I.A adalah H2O, di mana seluruhnya adalah setara, tidak ada yang paling benar daripada yang lain. Sepintas lalu tampak berbeda tetapi dalam satu ide bahasa yang sama. Demikian juga tentang pernyataan bahwa semua makhluk termasuk manusia diciptakan oleh Tuhan. Dalam hal ini, manusia dipandang dari I.A adalah hasil peluang reaksi kimia dan evolusi. Pada hakikatnya, tidak ada pertentangan interpretasi ilmiah dan agama. Agama beragumentasi segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan, termasuk para ilmuwan yang berpikir bahwa manusia adalah hasil perluang aksi kimia yang mengkreasi manusia dengan otaknya, termasuk otak para ulama yang berdasarkan ajaran agama dapat menyusun pendapat bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu. Tekanan pendapat itu berbeda menurut sistem komunikasi masing-masing dimana para ilmuwan dan ulama adalah sama benarnya.
Suatu hal yang penting adalah didunia ini tidak ada satu rumusan ide yang paling benar yang dapat mencakup segala bahasa. Perbedaan perumusan selalu ada dan pada satu sisi bermanfaat, lebih memuaskan, atau lebih efektif. Oleh karena itu, siapa yang ahli dalam berbagai bahasa dapat menjelajah ke wahana-wahana yang lebih luas serta mudah merasakan dan menyatu dengan ide.
Dalam “bahasa” ini, tampaknya kita berhadapan dengan berbagai patokan dalam menghadapi sistem komonikasi yang berbeda yang kita gunakan. Seperti telah dinyatakan di atas bahwa di dunia ini terdapat berbagai jalan dan warna yang memiliki patokan yang merupakan pesona hidup.
J. Kemampuan Memecahkan Masalah Dapat Diperlajari dengan Melakukan Pemecahan Masalah
Tidak ada jalan yang mudah untuk belajar. Orang belajar dengan usaha, menjadi yang terpelajar dengan belajar, menjadi cermat dengan berlaku cermat, mendapatkan pengalaman dengan melakukan pengalaman, dan menjadi pengamat dengan melakukan pengamatan yang tepat.
makna (arti) bagi kita. Jenis mempelajari tentang pemecahan masalah. Jika kita memiliki masalah yang bersangkutan denan suatu kebutuhan atau tujuan belajar, kita akan berhasil karena pelajaran itu mempunyai arti bagi kita.
Manusia mempunyai indera yang sama dengan beberapa jenis hewan lain, tetapi ia dibedakan oleh kecerdasannya, yang menjadikannya tidak hanya merencanakan dan mengontrol penginderaaannya, tetapi merancang instrumen untuk membantu inderanya sendiri. Kebiasaan bekerja tanpa menggunakan pancaindera sebaik-baiknya akan menjurus tidak ahanya kepada hidup yang tidak menarik, tetapi juga pada hidup yang kurang cerdas. Karena itu, penginderaaan perlu untuk melakukan pengujian terhadap generalisasi.
Sebagai diutarakan di atas bahwa penginderaan merupakan salah satu langkah ilmiah yang penting, maka penginderaan harus dikontroll dan di cek kembali. Hal ini tidak lain karena kemampuan indera manusia itu terbatas.
K. Keterbatasan Indera Manusia
Berdasarkan peneliitian sederhana terhadap indera menusia yang normal, ternyat memang kisaran (range) pencaindera manusia sangat terbatas. Hal ini akan dibahas sebagai berikut:
1. Penglihatan
Terdapat sebagai jiening gerak yang terlalu cepat atau terlalu lambat untuk dapat didekteksi oleh mata telanjang. Mata kita dapat memisahkan suatu pandangan lain legih sering dari sepuluh kali dalam satu detik sehingga proyeksi dari enam belas gambar tiap detik menimbulkan ilusi gambar hidup yang bersambungan. Kisaran penglihatan juga sangat terbatas pada ukuran pertikel yang dapat terlihat dan terhadap jarak yang dapat terlihat.
Mata manusia normal tidak dapat memisahkan komponen-komponen warna, tetapi menerima semua panjang gelombang mata. Jadi, cahaya putih terlihat sebagai warna putih daripada sebagai campuran semua warna pelangi.
Telinga manusia cukup peka (sensitif) terhadap gelombang suaru berfrekuensi antara 16 sampai 20.000 hertz per detik. Getaran (vibrasi) dibawah dan diatas frekuensi itu sangat sukar sekali untuk di deteksi. Telinga kita hanya dapat mengenali sejumlah suara terbatas yang timbul secara serentak (simultan).
3. Pengecapan dan Pembauan
Pengecapan dan pembauan merupakan penginderaan yang bersifat kimia, terbatas dalam kisaran tertentu, dan tidak tergantung pada bantuan yang bersifat mekanis. Indera-indera tersebut dikatakan bersifat kimia karena dapat mendeteksi molekul-molekul zat dari berbagai jenis yang berbeda. Manusia dapat membedakan antara rasa manis, asam, asin, dan pahit saja. Bau-bauan seperti parfum dan semua bau-bauan yang lain dapat dibaui oleh hidung daripada dirasakan atau dikecap oleh lidah. Indera kimia ini betul-betul sangat peka. Sebagai misal, satu bagian vanili dapat dideteksi dalam 10.000.000 bagian udara. Indera pembau dapat dilatih mengidentifikasi ratusan zat yang berbeda.
4. Penginderaan Kulit
Alat indera kulit manusia dapat membedakan antara panas, dingin, dan tekanan relatif serta dapat mengukur panas hanya kasar. Indera peraba juga tidak dapat membuat membuat observasi secara eksak. Kulit berfungsi sebagai indera peraba (terjadi kontak dengan objek) dan indera perasa.
5. Penginderaan Dalam (Deep sensibility)
Penginderaan dalam termasuk bebeerapa indera, misalnya penginderaan otot daging dan sendi maupun penginderaan statis dan keseimbangan. Manusia mempunyai perbedaan yang sangat besar dalam kemampuannya untuk mengadakan perkiraan arah, jarak, bobot, dan tekanan, atau untuk mempertahankan keseimbangannya.
variasi yang sedikit abnormal, misalnya kebutawarnaan atau penderngaran yang tidak peka terhadap kisaran getaran tertentu. Bau-bauan tertentu yang berbau tidak sedap bagi beberapa orang akan berbau enak, tetapi bagi beberapa orang lain.
Sering juga penginderaaan menimbulkan kekeliruan informasi misalnya, penginderaan mata: ketika kita duduk dalam sebuah gerbong kereta api yang sedang berlari cepat, maka pohon-pohon pinggir jalan kereta api yang kita lalui itu tambak berlari menjauh kita.
Indera lainpun juga bisa menghasilkan salah kesan dalam kondisi tertentu. Misalnya, sebuah ruang yang terasa hangat bagi seseorang yang termasuk dari udara luar yang lebi dingin akan terasa dingin bagi seseorang yang memasuki ruang itu dari ruang yang udaranya lebih hangat. Banyak instrumen yang lebih peka, dapat dipercaya daripada pancaindera manusia yang tidak tertentu karena instrumen-instrumen itu kemungkinan unsur mengadakan observasi sepenuhnya.
6. Peningkatan Daya Penginderaan
Untuk meningkatkan daya observasi atau penginderaan hingga diperoleh kebenaran, dapat dilakukan dengan jalan berikut:
a. Latihan
Seorang latihan, seorang dapat mempelajari untuk mengidentifikasi minuman anggur dengan mengecapnya, mengetes minuman teh dengan meminumnya beberapa teguk, mengetes kesegaran telur atau mutu tembakau dengan membauinya, menala alat-alat musik dengan menggunakan telingga saja, atau menentukan kepekaan suatu cairan dengan meraba saja.
diingat bahwa seperti pepatah mengatakan tiada gading yang tak retak, bagaimanapun sempurnanya hasil penginderaan, “organ” manusia itu pasati selalu berubah.
b. Kewaspadaan perlu ditingkatkan dengan usaha yang sungguh-sungguh.
Penginderaan keilmuan bukanlah suatu pengamatan terhadap benda yang tanpa tujuan yang “sejati”, dalam arti bahwa kegiatan itu memerlukan energi besar yang besar, yagn menyangkut seluruh indera. Untuk di pusatkan tidak hanya terhadap benda yang sedang diamatinya atau yang sedang di minatinya, tetapi juga terhadap benda yang ia tidak menaruh minat sekalipun.
Beberapa orang bahkan berusaha untuk melihat suatu yang lain yang perlu di lihat yang menarik baginya sangat terbatas. Suatu sebab para spesialis sampai pada kesimpulan keliru adalah karena minatnya, mereka hanya memilih observasi yang sesuai dengan keahlian mereka.
Beberapa orang memperlihatkan warna atau potongan pakaian yang dipertontonkan di dalam etalase toko, sedangkan yang lain akan memperlihatkan susunan atau rangkaian penyinarannya, atau bentuk bangunan gedungnya. Yang lain lagi mungkin, atau bentuk bangunan gedungnya. Yang lain lagi mungkin, kerena terpancang oleh pikiran-pikiran sendiri, akan lewat saja dimuka etalase itu tanpa menaruh perhatian sedikitpun. Tidak dapat disangkal lagi, sekelompok orang tidak menyetujui uraian atau laporan dari tiap-tiap anggota kelompok yang telah sama-sama menyaksikan suatu insiden. Sekalipun pada kenyataannya memang demikian, ternyata tidak seorang pun dapat waspada terhadap segala yang berlangsung di sekitarnya dan setiap orang akan terpengaruh oleh minatnya dalam melakukan pengamatan. Bagaimana kekeliruan-kekeliruan ini yang justru disebabkan oleh sifat-sifat manusia itu dapat dihilangkan atau setidak-tidaknya dikurangi?
c. Instrumen harus dikalibrasi
murah mungkin memberikan pengukuran suhu yang berbeda derajat, tetapi setiap termometer yang telah dikalibrasi secara teliti akan memberikan bacaan suhu yang sama pada kondisi yang sama.
Adalah tidak benar jika kiata menganggap bahwa suatu instrumen akan selalu menghasilkan hasil yang terpecaya. Mungkin orang terakhir yang menggunakan anak timbangan yang sudah dikalibrasikan itu memegangnya dengan tangan yang bermimpi sehingga berubah bobotnya. Pengamat (observator) yang baik sering mengecek dan mengecek kembali ( check and recheck) instrumennya untuk menyakinkan bahwasannya instrumen-instumen itu akan menghasilkan data yang dapat dipercaya.
Mungkin terjadi pula bahwa setiap instrumen dari jenis tertentu akan selalu menghasilkan data yang tidak akurat karena keslahan atau keterbatasan yang inheren didalam instrumen itu sendiri. Bagaimana kesalahan-kesalahan seperti itu dapat dihilangkan?
d. Pengecekan merupakan cara yang paling berhasil untuk menghilangkan kekeliruan-kekeliruan dalam pengamatan.
Pengulangan pengamatan oleh seorang pengamat akan dapat mendeteksi kekeliruan yang telah masuk dalam suatu pengamat, tetapi tidak pada pengamatan yang lain. Pengulangan pengamatan dengan menggunakan instrumen yagn berbeda dari jenis yang sama membantu menghilangkan kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan kalibrasi. Pengulangan observasi dengan menggunakan instrumen yang sama sekali berbeda akan membantu menghilangkan kekeliruan inheren dalam jenis instrumen tertentu. Pengulangan observasi oleh pengamat yagn berbeda membantu menghilangkan kekeliruan yang justru disbebabkan oleh perangka atau perbedaan dalam kepekaan atau kewaspadaan pengamat itu.
e. Eksperimen adalah penginderaan dalam kondisi yang dikontrol
Banhyak masalah yang begitu kompleks sehingga masalah itu hanya dapat dipelajari dengan mengadakan obsevasi perubahan yang dihasilkan dari pengubahan suatu faktor pada suatu saat, sedangkan faktor-faktor yang lain dijaga agar selalu tetap (konstan).
Mungkin hal yang paling signifikan dan penting dari observasi yang terkontrol itu ialah kegiatan itu membuat banyak yang terkontrol itu ialah bahwa kegiatan itu membuat banyak pengamat dapat mempelajari secara tepat situasi-situasi yang sama dan mengecek, membetulkan, atau melengkapi hasil-hasil yang diperoleh setiap pengamat.
Pengontrolan secara sederhana dilakukan dengan menyamakan variabel yang dikontrol.
f. Penginderaan meliputi analisis dan sintesis.
Seorang belum secara nyata menghayati suatu gedung sampai ia telah mengamati bagian-bagian (analisis) sehingga dapat mengenali dan mengukur tiap-tiap bagiannya. Sebaliknya seorang belum secara nyata mengenali suatu gedung sampai gedung itu dibangun, walaupun dia mungkin sudah mengenali setiap bagiannya dan juga telah mempelajari gambar arsitekturnya. Sebuah jam tidak dapat diamati secara cukup bilamana dipreteli bagian-bagiannya: jam itu harus dalam keadaan “jalan” agar menjadikan pengamatan itu mempunyai arti. Memadukan benda-benda menjadi satu dan mempunyai arti itulah yang dimaksud dengan sistematis.
g. Instrumen baru memungkinkan penginderaan baru.
menggunakan siklotron untuk mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi dalam inti atom.
h. Pengukuran merupakan keterampilan tersendiri
Dalam memperoleh data, para ilmuan harus menggambarkan objek atau fenomena secermat mungkin, dan hampir dalam setiap hal( kasus) suatu uraian kuantitatif harus dinyatakan secara matematis.
Pengukuran dengan ketepatan yang tinggi merupakan pra syarat produksi mesin modern secara massal dengan suku cadang yang dapat saling dipertukarkan. Pengukuran tidak hanya mutlak perlu untuk arsitektur, seni pahat patung, lukisan atau musik yang baik, tetapi pengukuran itu merupakan pengetahuan eksakta seperti ilmu alamiah.
Teori pengukuran modern didasarkan pada asumsi bahwa hampir semua fenomena fasis dapat diukur dalam jarak, massa, dan waktu.
Pada tahun 1790, Dewan Nasional Prancis (The French National Asembly) mengangkat suatu komite untuk menyusun suatu standar bobot dan ukuran yang permanen. Komite ini memilih satuan panjang satu per sepuluh juta jrak kutub utara sampai ekuator. Satuan ini, yagn saat ini dikenal denan satu meter, diambil sebagai jarak antara dua tanda pada batang platina iridium ( pada 00 Celcius) yang disimpan dalam arsip International Metric Commision di Paris, dan duplikat dari satuan itu dimiliki oleh hampir semua negara didunia ini. Satuan meter sekarang diterapkan sebagai 1650763,73 kali panjang gelombang dalam ruang vakum untuk transisi elektron 2p10-5 d5 dalam iso-top 86 kr murni.
i. Pengorganisaisan data
Pengetahuan tentang matematika sangat perlu dalam menafsirkan banyak data, tetapi pengetahuan mengenai satatistik merupakan pengetahuan yang penting pula karena satatistik mengjadikan kita dapat menetukan data yang diperlukan. Untuk memudahkan penafsiran diperlukan statistik dan sistematika, karena beberapa hal berikut ini :
1. Data statistika, kita dapat mengambaikan hal-hal yang mendetail secara bijaksana.
Setiap pengukuran beberapa kekeliruan dan kerena alasan ini, adalah penting sekali bahwa jumlah dan signifikansi kekeliruan ini diperhatikan.
Dalam banyak hal, adalah tidak mungkin untuk mengukur setiap anggota dalam kelompok. Ahli kimia menentukan sifat sejumlah atom dari sifat suatu atom. Statistik merupakan suatu prosedur guna mengukur seleruhan anggota kelompok daripada pengukuran setiap anggorta kelompok.
Bila dibandingkan dua kelompok dalam eksperimen, satu kelompok digunakan sebagai kontrol dan dengan mengubah-ubah faktor yang diperlajari dalam kelompok yang lain,maka perbedaan data akan dapat diamati. Apakah perbedaan itu hasil kebetulan saja atau perbedaan-perbedaan itu mempunyai beberapa siginifikasi yang eksperimental. Hal ini merupakan jenis masalah yang akan dijawab oleh statik.
Masalah yang paling penting yang tercfakup dalam penganalisisan data eksperimental adalah mendapatkan rumusan matematika yang akan mengungkapkan secara tepat hasil tersebut. Hal ini sekali lagi merupkan suatu masalah yang harus dipercahkan oleh statistik. Pengolahan data memerlukan statistik. Pengolahan data secara statistik lebih mudah dengan menggunakan komputer.
2. Pengetahuan diklasifikasikan menjadi bentuk yang sistematis.
mendelejef dalam sistem periodik unsur-unsur meramalkan terdapat unsur yang akan dikemukakan dikemudian hari. Jadi, karena sifat meramalkan itu, pengetahuan akan membantu penelitian.
Sistematis hewan dapat meramalkan hewan-hewan yang telah punah atau ketepatan letaknya dalam sistematik.
M. Pembagian Ilmu Pengetahuan (Sains)
Berdasarkan beberapa argumentasi, ilmu pengetahuan atau sains dalam arti luas dibedakan atas berikut ini:
1. Ilmu pengetahuan sosisl ( Social Science) atau sering disingkat IPS yang membahas hubungan antar manusia sebagai makhluk sosial, yang selanjutnya dibagi atas:
a. Psikologi, suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari proses mental dan tingkah-laku
b. Pendidikan, suatu perlakuan atau proses latihan yang terarah dan sistematis menuju suatu tujuan.
c. Antropologi, suatu ilmu pengetahuan yang mepelajari asal-usul dan perkembangan jasmani, sosial, kebudayaan, serta tingkah laku manusia.
d. Etnologi, suatu studi antropologi dari aspek sistem sosio-ekonomi dan pewarisan kebudayaan terutama keaslian kebudayaan dan faktor pertumbuhan perkembangan kebudayaan, serta perubahannya dalam masyarakat primitif.
e. Sejarah, suatu pencatatan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada suatu bangsa, negara, atau individu.
f. Ekonomi, suatu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan produksi, tukar-menukar barang produksi, pengelolaan dalam ruang lingkup rumah tangga, perusahaan atau negara.
Disamping ilmu pengetahuan cabang IPS yang tersebut di atas, masih terdapat puluhan cabang yang lain.
2. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Ilmu Alamiah ( Natural Science), yang membahas tentang alam semesta dengan semua isisnya dan selanjutnya terbagi atas:
a) Fisika (Physis), suatu ilmu pengethuan yang mempelajari benda tidak hiup atau mati dari aspek wujud dengan perubahan-perubahan yang bersifat sementara fisika secara klasik dibagi dalam mekanika, panas bunyi, cahaya, gelombang, listrik, magnet, dan teknik mekanik, teknik sipil, serta teknik listrik (arus lemah dan kuat). Ketiga yang terakhir itu merupakan fisika terapan.
b) Kimia (Chemistry), suatu ilmu pengetahuan yang mepelajari benda hidup dan tidak hidup dan tidak hidup dari aspek susunan materi dan perubahan-perubahan yang bersifat tetap. Kimia secara garis besar dibagi menjadi kimia anorganik dan kimia organik. Kedua bagian itu pada dasarnya membahas dasar keseluruhan, kemudian diikuti dengan analisis kualitatif dan kuantitatif.
Kimia-fisika merupakan ilmu pengethuan yang lebih luas di mana kimia dan fisika digabungkan sedemikian rupa sehingga identitas masing-masing hilang. Batas buatan manusia anatar kimia dan fisika menjadi kabur. Misalnya, beberapa perkembangan yang besar dalam bidang kimia maupun fisika. Kimia terapan menghasilkan produk berupa karet sistesis, pupuk sintesis, plastik, bahan peledak dan lain-lainya.
c) Biologi (Biological Science), ilmu pengetahuan yang memperlajari makhluk hidup dan gejala-gejalanya. Biologi dibagi atas cabang-cabang, yang antara lain adalah:
1) Botani, suatu cabang-cabang yang mempelajari seluk beluk tumbuhan.
2) Zoologi, suatu cabang biologi yang mempelajari hewan.
3) Morfologi, suatu studi tentang struktur luar atau bentuk luar makhluk hidup
4) Anatomi, suatu studi tentang struktur dalam atau bentuk-makhluk hidup.
6) Sitologi, suatu studi tentang sel secara mendalam meliputi struktur, molekuler, dan lain-lainnya.
7) Histologi, suatu studi tentang jaringan tubuh atau organ makhluk hidup, yang merupakan seretetan sel yang sejenis.
8) Palaentologi, suatu studi tentang makhluk-makhluk masa lampau yang kebanyakan hanya berupa fosil.
3. Ilmu pengetahuan bumi dan antariksa yang sering disebut IPBA Earth Science and Space), ilmu pengetahuan yang membahas tentang bumi sebagai salah satu anggota tatasurya dan ruang angkasa dengan benda angkasa lainnya IPBA antara lain meliputi:
a) Geologi, suatu cabang IPBA yang membahas struktur bumi. Dalam pembahasannya menggunakan dasar-dasar kimia dan fisika sehingga mempelajari struktur dan perubahan materi, baik yang terdapat di permukaan tanah maupun yang terdapat dalam perut bumi. Bagian geologi yang penting ialah: petrologi yang membahas batu-batuan, Vulkanologi yang membahas gempa bumi dan mineralogi yang membahas bahan mineral atau bahan galian yang dalam pembahasannya menggunakan prinsip kimia-fisika. Suatu cabang yang penting adalah kristografi yang mebahas bentuk-bentuk kristal dari meneral.
b) Astronomi, suatu ilmu pengetahuan yang membahas benda-benda ruang angkasa dalam alam semesta ini meliputi: bintang, matahari, planet, satelit, dan lain-lainnya. Penerapan astronomi yang praktis adalah dalam navigasi, perhitungan waktu, dan kalender.
c) Geografi, suatu ilmu pengetahuan tentang muka bumi dan produk ekonomi sehubungan dengan makhluk hidup, terutama manusia. Geografi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang dapat dipakai manusia untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam adaptasi dengan lingkungan. Subcabang yang penting ialah: fisiografi yang membahas kondisi hidup bagi tumbuhan, hewan, dan manusia. Geografi ekonomi merupakan bagian dari geografi biologi yang bersangkutan dengan perusahaan dan ekonomi.
Pemisahan atau pembagian ilmu pengetahuan terjadi kasena ilmu pengetahuan berkembang dalam proses yang cukup lama. Namun, dalam perkembangannya lebih lanjut, tampak kecendrungan generalisasi dari beberapa cabang ilmu pengetahuan, sehingga beberapa cabang ilmu pengetahuan itu bertemu kembali, karena pada hakikatnya merupakan satu unit. Misalnya, penemuan yang bersangkutan dengan sifat kelistrikan materi, dan struktur atom telah menjadikan kimia dan fisika hampir merupakan satu ilmu pengetahuan. Dalam mempelajari biologi, maka dasar yang kuat dalam fisika dan kimia sangat diperlukan, terutama dalam biologi molekuler.
O. Penelaahan Alam Semesta dan Sikap Ilmiah.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa seorang ilmuwan dalam penelaahan objek selalu menggunakan metode ilmiah sehingga ia akan menemukan kebenaran ilmiah atas objek itu, dalam penelaahan itu, akan ditemukan kebenaran-kebenaran yang selanjutnya disusun secara sistematis sehingga mudah dipelajari dan dikembangkan lebih lanjut. Pada akhirnya tersusunlah kebenaran-kebenaran umum yang disebut ilmu pengetahuan. Kebenaran ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak sehingga ilmuwan berikutnya dapat menguji, membantah, dan mengoreksi kembali.
Para ilmuwan pencari kebenaran selalu tertarik pada segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini. Mereka menyadari ketidaktahuannya dan berusaha untuk mengetahui sehingga dengan menemukan kebenaran yang berharga dapat memberikan kepuasaan yang besar dalam hidup. Para ilmuwan pencari kebenaran tidak segera puas pada apa yang telah diperoleh sehingga akan menelaah lebih lanjut.
Astronom Harlow Shapley menyatakan bahwa adanhya ke hidupan di planet-planet lain kemungkinannya besar sekali bintang kembar atau bintang ganda banyak yang salaing mengelilingi tidak mempunyai planet, tetapi masih bermilyar-milyar yang merupakan bintang tunggal. Seandainya terpenuhi setiap syarat untuk adanya kehidupan dari tata surya dengan adanya air, maka peluang untuk itu hanya 1 lawan 100. Maka, Shapley berhipotesis bahwa ada 100 juta planet yang mungkin dihuni oleh makhluk hidup. Namun, menurutnya hematnya tidak mungkin terdapat kembaran yang tepat, manusia berada di planet lain.
Selanjutnya, kemungkinan makhluk hidup terdapat di planet dalam alam semesta itu sebagai berikut:
Perkiraan jumlah (matahari) ... 1020
Jumlah bintang tunggal ... 1018
Bintang tunggal yang memiliki planet ... 1016
Bintang tunggal dengan cukup atmosfer ... 1014
Bintang tunggal dengan suhu: panas, dingin sedang ... 1012
Bintang tunggal dengan: udara, air, dan tanah ... 1010
Bintang tunggal dengan planet yang memiliki kehidupan .. 108
Hal yang perlu kita ketahui tentang para ilmuwan adalah mengenai: pola kepribadiannya, cara penalaahannya, luas daerah pengaruhnya, organisasinya, cara komunikasinya dan sebagainya. Kecuali itu, baik diketahui juga cara mempengaruhi kita, baik pada badan, maupun jiwa kita. Hal ini terlihat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil rasa ingin tahu terus-menurus mempengaruhi kebudayaan kita.
Di alam adalah teratur sehingga pada setiap tingkat kehidupan juga tampak keteraturan itu. Dari keteraturan itu dapat dicari hukum alam (Natural Low) yang dapat menjawab pertanyaan para ilmuwan. Dari hukum itu, para ilmuwan mengtahui bahwa dibelakang setiap akibat adanya sebabnya. Dan sebab yang sama biasanya menghasilkan akibat yang sama pula.
1. Relativitas Ilmu alamiah
Kebenaran ilmu alamiah ditemukan oleh manusia pada suatu saat mungkin disangkal atau dubah dengan kebenaran yang baru. Teori yang tidak cocok lagi dengan hasil-hasil pengamatan baru, diganti dengan teori yang lebih memenuhi keperluan para ilmuwan. Misalnya, teori geosentris dalam tatasurya pada abat pertengahan diganti oleh teori-teori heliosentris. Demikian juga dalam kimia. Teori floginton yang memberikan keterangan yang berbeda dengan teori oksidasi jatuh dan ditinggalkan oleh orang fisika, teori partikel dan teori gelombang masih dapat berjalan bersama. Teori generatio spontanae untuk makhluk hidup yang saat ini dalam Biologi diganti oleh teori Omne Vivo ex ovo, omne.
Para ilmuwan menyadari bahwa kebenaran yang di temukan manusia tidak pernah merupakan kebenaran mutlak. Para ilmuwan sebagai pencari kebenaran tidak mengharapkan kepastian terakhir. Perubahan merupakan sifat yang dominan dalam alam semesta ini. Setiap penemuan akan disusul dengan satu batas tembok masalah ketidaktahuan baru. Bila tembok itu dapat diatasi, para ilmuwan akan menemukan tembok ketidaktahuan yang baru yang lebih tinggi lagi, dan seterusnya. Pencarian kebenaran akan berlanjut, tidak akan berakhir dan tidak ada masalah yang dapat diselesaikan secara tuntas. Oleh karena itu, tindakan yang paling baik adalah mendapatkan kesimpulan sementara yang bersifat tentatif yang didasarkan pada semua data yang ada.
Bagan perkembangan konsep dalam ilmu pengethuan dapat digambarkan sebagai berikut:
Seorang ilmuwan mula-mula berpegang pada konsep/teori (1) merumuskan hipotesis (jawaban sementara terhadap masalah yang dijumpainya, (2) berdasarkan pada hipotesisnya, ilmuwan merancang cara pengujian hipotesisnya (3) hasil pengujiannya merupakan konsep/teori baru atau pembaruan konsep (4) siklus perkembangan ilmu.
2. Sikap Ilmiah
Salah satu tujuan memperlajari ilmu alamiah adalah pembentukan sikap ilmiah, untuk membuat kriteria yang tepat memang sukar, tetapi berdasarkan beberapa literatur dirumuskan sebagai berikut:
a. Memiliki rasa ingin tahu atau kuriositas yang tinggi dan kemampuan belajar yang besar.
b. Tidak dapat menerima kebenaran tanpa bukti
Apabila dalam masyarakat timbul suatu isu (issue) atau berita, seorang yang memiliki sikap ilmiah tidak begitu saja menerima kebenaran isu atau berita itu, tetapi ia memerlukan bukti kebenarannya. Pada dunia perdagangan, dalam mempromosikan barang-barang hasil suatu pabrik dilemparkan informasi-informasi yang berlebihan, misalanya sabun yang dapat mencuci sendiri, yang paling bersih dan ekonomis dan sebagainya. Maka promosi itu harus diuji dengan membandingkan sabun lain pada keadaan yang sama, yang berbeda hanya sabunnya.
Dalam diskusi ilmiah setiap pendapat atau gagasan harus disertai data dan cara data itu diperoleh sehingga dapat diversifikasi atau dicek kembali leh orag lain.
c. Jujur
Seorang ilmuwan wajib melaporkan hasil pengamatannya secara objektif. Seorang ilmuwan dalam kehidupan sehari-hari mungkin saja tidak lebih jujur dari manusia lainnya. Namun dalam penelaahannya ilmiah ada hal-hal yang memaksa pada ilmuwan, yakni yang kita sebut faktor kontrol.
Seorang ilmuwan telah dilatih untuk memperhatikan kontrol internal dalam setiap penelitiannya. Dengan ini, faktor-faktor kebetulan disingkirkan. Dalam suatu penelitiannya tentang pengaruh sejenis obat tertentu, dibuat kelompok penderita yang diberi obat dan kelompok lain yang tidak diberi obat sebagai kelompok kontrol.
Disamping kontrol internal, ada pula kontrol eksternal. Dalam hal ini, ilmuwan lain akan mengulangi penelitian ilmuwan pertama dengan kondisi yagn dibuat serupa. Seterusnya, ilmuwan ketiga dapat pula menguji penelitian di atas. Karena itu menjadi terbuka untuk pengulangan. Memang, seorang ilmuwan harus jujur dalam melaksanakan laporan penelitiannya.
Seorang ahli endokrinologi (ilmu tentang hormon) untuk hewan ambfibia, john cortelyou, telah dipilih sebagai sekretaris suatu oraganisasi profesi yang baru. Organisasi ini khusus didirikan bagi ilmuwan katolik.
Tindakan pertama yang dilakukan John Certelyou ialah mebubarkan organisasi itu. Ketika diminta pertanggunjawaban ia berkata “Tidak adakatak katolik di dunia ini.”
Seorang ilmuwan mempunyai pandangan luas, terbuka, dan bebas, dari praduga. Ia meyakini bahwa prasangka, kebencian baik pribadi maupun golongan serta pembunuhan adalah sangat kejam. Ia tidak akan berusaha meperoleh dugaan bagi buah pikirannya atas prasangka. Ia akan terus berusaha mengetahui kebenaran tentang alam, materi, moral, politik, ekonomi, dan hidup. Ia tidak akan meremehkan suatu gagasan baru. Ia akan menghargai setiap gagasan baru dan mengujinya sebelum diterima atau ditolak. Jadi, ia terbuka akan pendapat orang lain.
e. Toleran
Seorang ilmuwan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bahkan bersedia mengakui bahwa orang lain mungkin lebih banyak pengetahuannya, bahwa pendapatnya mungkin saja slah, sedangkan pendapat orang lain mungkin benar. Ia bersedia menerima gagasan orang lain setelah diuji. Dala usaha menambah ilmu pengetahuan, ia bersedia belajar dari orang lain, membandingkan pendapatnya denga pendapat orang lain, ia tidak akan memaksakan suatu pendapat kepada orang lain. Ia mempunyai tenggang rasa atau sikap toleran yang tinggi, jauh dari sikap angkuh.
f. Skeptis
Ia tidak akan menerima suatu kesimpulan tanpa didukung bukti-bukti yang kuat.
Sikap skeptis iniperlu dikembangkan oleh orang yang berniat memecahkan masalah. Bila ia tidak kritis mengenai setiap informasi yang diperoleh, munkin ada informasi yagn salah sehingga menimbulkan akibat suatu kesimpulan yang salah. Karena itu, setiap informasi perlu diuji, kebenarananya perlu dicek informasi memerlukan verifikasi. Setelah bukti-bukti cukup, ilmuwan baru boleh mengambil kesimpulan dan akhirnya memberikan keputusan.
g. Optimis
Seorang ilmuwan selalu berpengharapan baik. Ia tidak akan mengatakan bahwa suatu itu tidak dapat dikerjakan, tetapi kan mengatakan “berikan saya suatu kesempatan untuk memikirkan dan mencoba mengerjakan”. Ia selalu optimis.
Rasa humor seorang ilmuwan ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan maupun sikap optimis seseorang. John Von Neuman seorang ahli matematika, ditugaskan membuat komputer untuk perhitungan yang diperlukan ketika membuat bom hidrogen. Setelah selesai, pesawat itu diserahkan dan dicoba digunakan,. Alat tersebut ia beri nama Mathematical analyzer, numerical integrator and computer, disingkat MANIAC.
h. Pemberani
Keberanian Copernicus, galileo, dan Socrates telah banyak diketahui orang. Copernicus dan Galileo disisihkan karena tidak mempercayai bahwa bumi adalah pusat alam semesta (geosentirs). Tetapi menganggap mataharilah yang menjadi pusat tempat bumi dan planet-planet lainnya berputar (Heliosentris). Sciates memilih mati meminum racun dariapada menerima hal yang salah.
Profesor Peabody memberikan kuliah terakhir tentang “perawatan orang sakti” kuliah ini sangat jelas penuh belas kasih sehingga berkali-kali dicetak ulang. Pada saat kuliah ia baru berumur 46 tahun, terlihat segar bugar. Uraian kuliahnya sangat sarat berisi, cermat, dan disampaikan dengan fasih. Pendengarnya tidak mengetahui bahwa dibalik ketenangannya itu. Peabody mengidap kanker ganas yang telah diderita, ditekuni, dan dipahami sepenuh arti medis mengenai setiap gejala kanker yang dialaminya. Sehari sebelum meninggal, ia menulis sendiri laporan penyakitknya. Itulah ketabahan ilmuwan yang dapat ditunjukkannya.
i. Kreatif atau swadaya
Ilmuwan dalam mengembangkan ilmunya kreatif. Lewis Alvarez, ilmuwan fisika Berkeley, juga pemain golf, mengkreasi “Analisator Stroboskop” untuk meningkatkan cara bermain golf. Dengan alat itu pemukul golf fase-fase gerak dapat dipelajari, setiap pukulan dapat diteliti. Kepala presiden Eisenhower yang juga dikenal sebagai pemain golf, ia menghadiahkan alat serupa. Sejak itu ia memegang paten untuk pembuatan analisator stroboskop tadi.
Hadiah nobel yang diberikan sejak 1901 mencerminkan dengan jelas setiap usaha kreatif para ilmuwan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti fisika (fisika atom, fisika inti, fisika zat padat, optika, termodinamika, dan fisika terapan) kimia ( kimia fisika, kimia anorganik, kimia organik, biokimia) dan biologi ( genetika, fisiologi, neurofisiologi, kedocteran).
Torrance (1965) mendefinisikan kreativitas sebagai proses pertumbuhan hingga peka akan maslah kekurangsempurnaan kekurangtahuan, ketidaklengkapan, ketidakharmonisan, dan seterusnya mengenal kesulitan, mencari pemechan, membuat daugaan, merumuskan, menguji, dan mengubah hipotesis, serta melaporkan hasil penelitian. Sumbangan beberapa ilmuwan sebagai bukti kreativitas yang dipunyainya dapat ditelaah dalam buku-buku sejarah ilmu pengetahuan. Beberapa contoh ringkas dapat kita mulai pelajari dari ringkasan di bawah ini:
1. Bidang astronomi
Tycho Brahe (1564-1601)
Membuat katalog untuk posisi lebih dari 100 bintang tetap. Belum mengakui pendapat Copernicus.
Galileo Galilei (1564-1642)
Membuat teleskop. Hasil hasil eksploitasinya menunjukkan bahwa pendapat Copernicus adalah benar
John Kepler (1571-1630)
Menemukan bahwa orbit planet-planet yang mengililingi matahari bukanlah lingkaran matahari bukanlah lingkaran, tetapi elips.
Edmud Halley (1656-1742)
Pengamat cermat tentang gerakan-gerakan komet-komet dan peramal tanggal permuculan kembali komet-komet.
George Bidle Airy (1801-1892)
Penciptanya Meredian Greenwich.
William harvey (1578-1657)
Menjelaskan fungsi jantung sebagai pengatur aliran darah.
Edward james (1749-1823)
Menemukan vaksinasi terhadap cacar.
Charles Darwin (1800-1882)
Penciptaan teori evolusi
Giregor J. Mendel (1882-1884)
Melakukan eksperimen pembiakan silang antara berbagai varietas kacang ercis. Meneliti faktor dominan dan resesif. Aplikasi teori kemungkinan.
Louis Pasteur (1882-1895)
Bakteri adalah penyebab fermentasi gula, pemanasan susu, dan peragian kerju, membuktikan kebenaran Jenner tentang vaksinasi-vaksinasi.
Ronald Pasteur (1857-1884)
Penemu malaria dan nyamuk pembawa parasitnya (plasmodium)
3. Bidang Kimia
Robert Boyle (1627-1691)
Menciptakan definisi untuk unsur dan menganjurkan para ahli kimia untuk mencari unsur-unsur itu.
Hery Cavendish (1731-1810)
Menyelidiki sifat hidrogen dan karbondioksida. Menunjukkan bahwa air adalah senyawa.
Membuat oksigen dengan pemansan raksaoksida menciptakan alat pengumpul gas.
Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794)
Memperkenalkan teori oksida sebagai pengganti teori flogiston
John dalton (1766-1844)
Menciptakan teori atom, hukum Dalton.
Pierre Eugene Berthelot (1827-1807)
Sistesis senyawa karbon.
Mendelejef (1834-1907)
Menemukan hubungan antara bobot atom dan sifat-sifat zat. Susunan berkala unsur-unsur berdasarkan bot atomnya.
William Perkin (1838-1907)
Membuat alanin dari terarang (bahan yang menjadi arang)
Antoine Henri Becquerel (1852-1908)
Emisi radiasi unsur uranium.
Piere Curie (1859-1906), Marie Curie (1867-1934)
Menemukan radium yang memancarkan panas dari cahaya.
Ernest Rutherford (1871-1937, Frederik soddy (1871-1940)
Penemu sinar alfa, beda, dan gama dari radium. Transmtasi unsur-unsur dengan penembakan partikel alfa.
4. Bidang fisika
Menyelidiki gaya gravitasi, sifat cahaya, dan menghitung hubungan antara cepat rambah bunyi di udara dengan kondisi fisik ( suhu, tekanan) udara.
Benyamin Franklin (1706-1790)
Membuktikan bahwa petir dan listrik itu serupa.
Luigi Galvani (1737-1798)
Menemukan “listrik berbintang” karena dua logam yagn berbeda yang dihubungkan dengan kedua kaki katak, menyebabkan kedua kaki bergerak.
Alexandro Volta (1745-1837)
Membantah teori listrik Galvani, menurut elemen volta yang mengalirkan arus kontinu dengan jalan reaksi kimia.
Andre Marie Ampere (1775-1836)
Menentukan hubungan antara kuat arus dan medan magnet yang diakibatkannya. Membuat Galvanometer, satuan ampere.
Hans Christian Oersted (1777-1851)
Menemukan medan magnet sekitar kawat hyang diarliri listrik
George Simon Ohm (1791-1861)
Mendifinisikan konsep tahanan dan gaya gerak listrik. Hukum Ohm I (arus) = V (selisih potensial): R (tahanan)
Michael Faraday (1791-1867)
Menemukan teori garis gaya untuk menjelaskan tarik menarik dan tolak menolak listrik dan magnet. Perubahan dalam medan magnet sekitar konduktor menerbikan arus listrik dalam konduktor yang mendorong penemu dinamo, listrik dan telepon. Penyelidikan mengenai arus listrik penyebab reaksi kimia mendasari penyepuhan.
Menentukan secara eksperimen ekivalen mekanik panas.
James Clark-Maxwell (1831-1879)
Mengembangkan teori elektromagnetik cahaya dan meramalkan gelombang listrik dalam ether, yang diteruskan oleh hertz.
William Crookes (1832-1919)
Penyelidikan lintasan listrik melalui ruang hampa mendorong penemu arus katode.
Lord Rayileigh (1842-1919)
Menyelidiki fonomena gelombang cahaya dan bunyi bersama William Ramsay mengisolasi gas mulia dalam udara.
Willem Konrad Rontgen (1845-1923)
Menemukan sinar X yang dapat menembus zat dan mempengaruhi film potret.
Heinrich Rudolf Hertz (1857-1894)
Eksperimen tentang gelombang listrik dlaam ether yang diramalkan Cark-Maxwell. Dari eksperimen dikembangkan radio telegrafi, radiotelepon, dan radar.
3. Pembentukan Sikap Ilmiah.
Sifat-sifat tersebtu diatas menunjukkan kepada kita arah tujuan yang hendak divapai seseorang yang hendak menumbuhkan sikap ilmiah pada dirinya. Tidak seorang pun dilahirkan dengan memiliki sikap ilmiah. Mereka yang telah memperoleh sikap itu berbuat dengan usaha yang sungguh-sungguh.
membaca biografi mereka. Kita akan mendapatkan dorongan dan minat baru karena disamping mengetahui keberhasilan mereka, kita akan melihat kelemahan manusia walaupun ilmuwan besar sekalipun. Kita mendapatkan keuntungan dari kekurangan-kekurangan mereka dan meniru kebesaran mereka. Dengan mempelajari kehidupan orang-orang itu, kita akan menghargainya dan penghargaan itu hanya karena mereka tetap manusia, kita akan mengetahui keberhasilan sikap ilmiah sebagai suatu pendekatan untuk memecahkan masalah, walaupun sikap itu tidak kita kembangkan secara sempurna.
Kita sangat dianjurkan untuk membaca beberapa biografi ilmuwan bessr yang telah menyumbangkan karyanya bagi kesejahteraan umat manusia, misalnya: Pasteur, Marrie Curie, Isac Newton, Archimedes, Einstein, Galileo, Lavoisier, Mendelejef, Rutherford, Bohr, Pauling, Copernicus, Harvey, Mendel, Fleming, dan sebagainya. Perkembangan sains adalah akibat kegiatan manusia seperti mereka itu.
P. Peranan Matematika dalam Ilmu Alamiah
Matematika tidak diragukan lagi merupakan salahl satu puncak kegiatan alam pikiran manusia. Perhitungan matematis menjadi dasar teknologi sebagai ilmu terapan ilmu alamiah.
Ciri utama matematika adalah suatu cara dalam penalaran (reasoning). Dengan jalan mengukur sudut sejumlah segitiga yang mepunyai berbagai ukuran dan bentuk, kita dapat menetukan bahwa jumlah sudut dari setiap segitiga adalah 1800. Dalam hal ini, secarainduktif dapat disimpulkan bahwa jumlah sudut dari segitiga adalah 1800. Disamping itu, orang juga berpikir secara analogi. Misalnya karena lingkaran membentuk sebuah bidang yang mempunyai luas terbesar dengan garis lengkung lainnya, maka sebuah bola mempunyai isi yang terbesar pula.