1
MAKALAH
SEJARAH PEMIKIRAN DAN PENDIDIKAN ISLAM
“Upaya Lembaga Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Globalisasi”[DOSEN PEMBIMBING]
Dr. Muhammad Idris Tundru, S.Ag., M.Ag
Disusun Oleh : Ondang Indah
(15.2.3.038)
Jurusan :
Pendidikan Agama Islam (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MANADO
2 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu kenyataan yang harus dihadapi dunia pasca perang dingin adalah
kian meningkatnya fenomena globalisasi berkat kemajuan teknologi informasi.
Gelombang globalisasi muncul sebagai megatrend bukan bersifat mendadak namun
sebelumnya sudah melewati tahapan-tahapan perjalanan sejarah kemanusiaan yang
panjang. Mengutip pendapat Alvin Toffler, dunia mengalami perubahan dari waktu ke
waktu. Secara tegas dikatakan bahwa ribuan tahun yang lalu sebuah gelom bang
agrikultur dimulai. Kegiatan utama manusia berubah dari berburu dan berpetualang
menjadi bertani, ekonomi berpusat pada tanah, sifat perekonomian tukar-menukar,
setiap keluarga adalah produsen, hubungan manusia sangat akrab dan personal,
komunikasi sosial
bersifat sederhana, secara lisan dan langsung.1
Globalisasi budaya dan peradaban semakin tak terbendung oleh sekat-sekat
negara-bangsa. Globalisasi tidak menghasilkan homogenitas peradaban, tetapi justru
melahirkan kesadaran diversitas manusia di muka bumi dan melahirkan penemuan
begitu luasnya budaya-budaya local. Pluralisme peradaban dengan begitu merupakan
akibat saling pengaruh antara yang global dengan yang lokal, yang universal dengan
yang partikular. Pengaruh yang ditimbulkan globalisasi pada suatu bangsa terjadi di
semua bidang, dari bidang, ekonomi, sosial budaya, keamanan, politik, pendidikan,
agama, dan lain sebagainya.
Fenomena yang terbangun dengan munculnya era globalisasi telah memberikan
berbagai macam problem baik tentang bagaimana informasi yang terus berkembang
tanpa pandang bulu dapat diserap atau juga bagaimana mensikapi hal baru yang selalu
1
3
saja datang silih berganti tanpa adanya filter yang menyaringnya. Era globalisasi
dengan teknologi informasinya semakin dapat dirasakan perkembangannya, dengan
medianya yang berupa komputer, televisi, handphone, dan peralatan canggih lainnya,
telah benar-benar menjadi hal yang kompleks dalam transformasi informasi. Pada
masyarakat informasi peranan media elektronika sangat memegang peran penting,
bahkan menentukan corak kehidupan. Sebab lewat komunikasi satelit, orang tidak
hanya memasuki lingkungan informasi dunia, tetapi juga sanggup mengolahnya dan
mengemukakannya secara lisan, tulisan, bahkan visual.
Kehidupan beragama di era globalisasi dihadapkan pada berbagai tantangan,
antara lain modernisasi, liberalisasi, demokrasi, radikalisme, terorisme, nasionalisme,
civil society, dan partai politik. Selain itu, ada tantangan yang lebih besar lagi dari
berbagai tantangan diatas, sebagaimana yang disebut Samuel Huntington, seorang guru
besar ilmu politik di Harvard University, dengan
istilah clash of civilization atau benturan antar peradaban. Dalam persepsi benturan
antar peradaban ini hanya terdapat dua kubu, Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya
Negara Eropa pada satu pihak yang merepresentasikan Dunia Barat, dan Dunia Muslim
secara keseluruhan pada pihak lain.
Di era global seperti ini, dunia pendidikan Islam mau tak mau harus
berdialektika dengan kondisi kemajuan yang ada. Pendidikan Islam harus merespon
fenomena perkembangan dan problem yang sangat kompleks tersebut. Sebagai agen
perubahan sosial, pendidikan Islam yang berada dalam arus modernisasi dan
globalisasi dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan
peranannya secara aktif. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan
kontribusi baru yang berarti bagi perbaikan umat Islam.
Selain berdialektika dengan kemajuan yang ada, pendidikan Islam juga tidak
boleh lupa dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Pendidikan Islam harus mampu
membentengi umat Islam dari pengaruh negatif globalisasi dan perkembangan
teknologi yang ada, serta memaksimalkan pengaruh positifnya demi terwujudkan
4 B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian globalisasi dan pendidikan Islam ?
2. Mengapa globalisasi dapat terjadi ?
5 BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan Islam dan Globalisasi
1. Pengertian Pendidikan Islam
Ada beberapa pendapat tentang pengertian pendidikan Islam, menurut M.
Yusuf Qardhawi, pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan
hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena itu, pendidikan
Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang,
dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan
kejahatannya, manis dan pahitnya.2
Sementara itu, Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai
suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan
pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselenggarakan dengan fungsi manusia untuk
beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.3
Pendidikan Islam merupakan suatu proses pembentukan individu berdasarkan
ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
Melalui proses dimana individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi
sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Tegasnya,
senada dengan apa yang dikatakan oleh Ahmad D. Marimba, bahwa pendidikan Islam
adalah bimbingan jasmani dan rohani menuju kepada terbentuknya kepribadian utama
menurut ukuran-ukuran Islam.
Dari semua pengertian tersebut terlihat penekanan pendidikan Islam pada
“bimbingan” bukan “pengajaran” yang mengandung konotasi otoritatif pihak
pelaksana pendidikan, katakanlah guru. Dengan bimbingan sesuai dengan
2 Yusuf Al- Qardhawi, Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, terj. Bustami A. Gani dan Zainal Ahmad, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h. 157.
6
ajaran Islam, maka anak didik memiliki ruang gerak yang cukup luas untuk
mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.
Terkait dengan lembaga pendidikan Islam, masih terdapat perbedaan pendapat
dalam menetapkan mana yang layak di sebut lembaga pendidikan Islam, hal tersebut
sudah tentu tidak lepas dari kenyataan, bahwa di Indonesia terdapat dua model yang
selama ini di katakan sebagai lembaga pendidikan Islam.
Pertama, dikelola pihak pemerintah yang mana semua system dan peraturan
yang ada sepenuhnya menurut pemerintah. Yang kedua, di organisasikan oleh
masyarakat dan format pelaksaanya juga di rancang sendiri, namun tidak lepas dari
undang undang atau peraturan pemerintah dalam hidup berbangsa, bernegara, dan
bermasyarakat.
Namun secara umum, pengertian dari Pendidikan Islam adalah suatu sistem
kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba
Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan
manusia, baik duniawi maupun ukhrawi.
2. Pengertian globalisasi
Istilah globalisasi diambil dari kata global. Global berarti seluruhnya atau
menyeluruh. Kata ini melibatkan kesadaran baru bahwa dunia adalah sebuah
kontinuitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan utuh. Dunia menjadi
sangat transparan sehingga seolah tanpa batas administrasi suatu negara. Batas-batas
geografis suatu negara menjadi kabur. 4
Substansi globalisasi adalah idiologi yang menggambarkan proses interaksi
yang sangat luas dalam berbagai bidang, baik ekonomi, politik, sosial, teknologi, dan
budaya.
Globalisasi sebenarnya bukanlah fenomena baru sama sekali bagi masyarakat
muslim Indonesia. Perbentukan dan perkembangan masyarakat muslim Indonesia
7
bahkan berbarengan dengan datangnya berbagai gelombang global secara konstan dari
waktu ke waktu. Sumber globalisasi adalah Timur Tengah, khususnya mula-mula
Makkah, Madinah dan juga akhir abad 19 dan awal abad 20 juga Kairo. Karena itu,
globalisasi ini bersifat religio-intelektual, meski dalam kurun waktu tertentu juga
diwarnai oleh semangat religio-politik.
Tetapi, globalisasi yang berlangsung dan melanda masyarakat muslim
Indonesia sekarang ini menampilkan sumber atau watak yang berbeda. Proses
globalisasi dewasa ini, tidak lagi bersumber dari Timur Tengah melainkan dari barat,
yang terus memegang supremasi dan hegemoni dalam berbagai wilayah kehidupan
masyarakat dunia pada umumnya. Globalisasi yang bersumber dari barat tampil dengan
watak ekonomi-politik dan sainsteknologi.
B. Globalisasi Terjadi Karena
Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia
di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan
bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin
sempit Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan
antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain
yang melintasi batas negaraDalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak
karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering
dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan
dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.
1. Faktor-faktor penyebab terjadinya globalisasi
a. Faktor extern
Faktor Ekstern munculnya globalisasi berasal dari luar negeri dan
perkembangan dunia. Faktor tersebut sebagai berikut.
1) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknology (Iptek).
8
3) Adnya kesepakatan internasional tentang pasar bebas.
4) Modersisasi atau pembaruan di berbagai bidang yang dilakukan
negara-negara di dunia mempengaruhi negara-negara lain untuk mengadupsi atau meniru hal
yang sama.
5) Keberhasilan perjuangan prodemokrasi di beberapa negara di dunia sedikit
banyak memberi inspiransi bagi munculnya tuntutan tranparansi dan
globalisasi di sebuah negara.
b. Faktor intern
Faktor intern munculnya globalisasi berasal dalam negeri. Berikut
faktor-faktor intern tersebut.
1) ketergantungan sebuah negara terhadap negara-negara lain di dunia.
2) Kebebasan pers.
3) Berkembangnya transparansi dan demokrasi pemerintahan.
4) Munculnya berbagai lembaga politik dan lembaga awadaya masyarakat.
5) Berkembangnya cara berpikir dan semakin majunya pendidikan
masyarakat.5
C. Upaya Lembaga Pendidikan Islam dalam Menghadapi Globalisasi
Globalisasi yang berkembang saat ini tidak mungkin untuk ditolak
eksistensinya, sebab globalisasi merupakan keniscayaan yang harus dihadapi oleh
semua pihak termasuk pendidikan Islam. Melihat realitas seperti yang tertulis di atas,
maka dibutuhkan solusi yang konstruktif dalam rangka menata kembali seluruh
komponen pendidikan Islam. Penataan kembali sistem pendidikan Islam bukan
sekedar modifikasi atau tambal sulam, tapi memerlukan rekonstruksi,
rekonseptualisasi dan reorientasi, sehingga pendidikan Islam dapat
memberikan sumbangan besar bagi pencapaian tahap tinggal landas.6
5Jamal Ma’mur Asmani, Globalisasi, (Surabaya), h. 40.
6Muhtarom, Reproduksi Ulama di Era Globalisasi: Resistensi Tradisional Islam,
9
Untuk lebih jelas dari upaya dan usaha itu diuraikan sebagai berikut:
1. Sikap Kita Terhadap Globalisasi
Dalam menyikapi isu globalisasi umat Islam terbagi kedalam tiga kelompok,
yaitu yang menerima secara mutlak, menolak sama sekali, dan pertengahan yakni
menyikapinya secara proposional.
Kelompok pertama, yakni orang yang menerima secara mutlak adalah orang
yang di sebutkan oleh Rasulullah dalam hadistnya bahwa mereka adalah mengikuti
cara-cara dan ajaran-ajaran umat lain sejengkal demi sejengkal, sehingga jika umat
lain itu masuk ke lubang biawak mereka akan mengikutinya inilah sikap para
penyeru westernisasi yang berlebihan di dunia Arab dan Islam.
Kelompok kedua, orang yang menolak sama sekali adalah yang menjauhi
hal-hal yang baru, tidak peduli dengan dunia pemikiran, ekonomi, politik dan
sebagainya, mereka ber-uzlah dan menyingkir. Selain kelompok ini, terdapat
kelompok lain yang sering di sebut dengan kelompk fudemintas. Perbedaanya
mereka tidak mengasingkan diri, tetapi malah mengambil posisi berhadap-hadapan
dengan yang mereka tentang atau tolak.
Kelompok ketiga, adalaah kelompok pertengahan yakni yang menyikapinya
secara proposianal, menurut Yusuf Qardhawi inilah sikap yang baik sebagai
cermin sebagai manhaj Islam pertengahan. Inilah sikap orang beriman yang
mempunyai wawasan luas dan terbuka yang bangga dengan identitasnya, faham
tentang risalahnya, dan memegang teguh orisinalitasnya, tidak menghindar dari
hal-hal yang baru dan tidak menerima secara berlebihan. Di antara sikap yang tepat
menghadapi globalisasi sebagaimana tersebut di atas adalah sikap proporsional,
yakni tidak berlebihan dalam menolak dan menerimanya, kita tentu dapat memilah
milih mana yang di anggap baik dan sesuai dengan ajaran Islam dan mana yang
tidak sesuai dengan ajaran Islam. Terhadap pengaruh yang baik, tentu dengan
10
senang hati dapatlah kita terima dan bahkan jika memungkinkan
mengembangkanya untuk mendapat manfaat yang lebih baik.7
2. Sikap Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Globalisasi
Qodri Azizi mengatakan pada prinsipnya globalisasi mengadu pada
perkembangan-perkembangan yang cepat dalam teknologi, komunikasi,
transformasi dan informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh
menjadi mudah untuk dijangkau. Dari perkembangan yang cepat di berbagai bidang
inilah, pendidikan Islam bisa berpeluang besar untuk menyebarkan ajaran Islam
dengan cepat pula. Menurut Tim penyusun IAIN Sunan Ampel, agar Islam dapat
berarti bagi masyarakat global maka Islam diharapkan tampil dengan nuansa
sebagai berikut:
Pertama, menampilkan Islam yang lebih ramah dan sejuk, sekaligus menjadi
pelipur lara bagi kegarahan hidup modern. Kedua, menghadirkan Islam yang
toleran terhadap manusia secara keseluruhan agama apapun yang dianutnya.
Ketiga, menampilkan visi Islam yang dinamis, kreatif, dan inovatif. Keempat,
menampilkan Islam yang mampu mengembangkan etos kerja, etos politik, etos
ekonomi, etos ilmu pengetahuan dan etos pembangunan. Kelima, menampilkan
revivalitas Islam dalam bentuk intensifikasi keislaman lebih berorientasi ke dalam
(in mard ariented) yaitu membangun kesalehan, intrinsik dan esoteris daripada
intersifikasi ke luar (out wad oriented) yang lebih bersifat ekstrinsik dan eksoteris,
yakni kesalehan formalitas.
Implikasi globalisasi terhadap dimensi agama antara lain:
mencuatnya pola hidup materialistis yang memacu orang mengejar kekayaan
materi dan melemahkan spiritual, konsep sekularisasi telah memberikan perubahan
yang signifikan pada agama masyarakat.
11
Dalam menghadapi berbagai tantangan dan dampak tersebut, pendidikan islam
harus memiliki berbagi strategi, sebab agama harus menjawab tantangan yang
relatif dekat di hadapan kita dalam hal ini urusan dunia. Selain berhubungan
dengan urusan perakhiratan jadi harus di jawab sejauh mana agama kini bisa
menjawab tantangan kemajuan itu, iptek harus di kuasai, tetapi kini tidak boleh di
tinggalkan sehingga bisa membentuk sumberdaya manusia yang handal. Menurut
BPPN bahwa cara terbaik mengatasi kemungkinan dampak negatif adalah melalui
peningkatan mutu pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama serta
pendidikan moral pada khususnya.
Sedangkan lembaga yang sangat berperan dalam tantangan itu adalah
madrasah, madrasah menempati peran strategis bagi pendidikan generasi muda
umat Islam karena di sanalah tempat kebanyakan anak para santri mempersiapkan
diri untuk menjalankan peran penting mereka bagi masyarakat di kemudian hari.
Dibandingkan dengan pendidikan di sekolah umum, madrasah mempunyai
misi yang mulia. Ia bukan saja memberikan pendidikan umum (seperti halnya
sekolah umum) tetapi juga memberikan pendidikan agama, sehingga, kalau
pendidikan ini berhasil, para lulusannya akan dapat hidup bahagia di dunia dan
hidup bahagia di akhirat nanti (karena ketaatannya pada ajaran agama) Madrasah
yang hanya menekankan pendidikan agama dan mengabaikan pendidikan
umum mungkin hanya akan mampu memberikan potensi untuk bahagia di akhirat
saja. Dalam kaitannya dengan era globalisasi dan perdagangan bebas yang penuh
dengan persaingan ini, madrasah harus juga menyiapkan anak didiknya untuk siap
bersaing di bidang apa saja yang mereka masuki. Ini dimaksudkan agar lulusan
madrasah tidak akan terpinggirkan oleh lulusan sekolah umum dalam
memperebutkan tempat dan peran dalam gerakan pembangunan bangsa.8
12
Dengan kata lain, pendidikan Islam harus mampu menyiapkan sumber daya
manusia yang tidak hanya sebagai penerima informasi global, tetapi juga harus
memberikan bekal kepada peserta didik agar dapat mengolah, menyesuaikan, dan
mengembangkan segala hal yang diterima melalui arus informasi itu, yakni
manusia yang kreatif dan produktif.
Bersamaan dengan konsep pendidikan Islam di era global tersebut, perhatian
prinsip pendidikan Islam juga haruslah mengarah pada bagaimana konsep
kemasyarakatan yang cakupannya sangatlah luas. Konteks makro pendidikan
tersebut yaitu kepentingan masyarakat yang dalam hal ini termasuk masyarakat
bangsa, negara dan bahkan juga kemanusiaan pada umumnya, sehingga pendidikan
Islam integratif antara proses belajar di sekolah dengan belajar di masyarakat
(learning society), yakni hubungan pendidikan dengan masyarakat mencakup
hubungan pendidikan dengan perubahan sosial, tatanan ekonomi, politik dan
negara, karena pendidikan itu terjadi di masyarakat, dengan sumber daya
masyarakat, dan untuk masyarakat, maka pendidikan dituntut untuk mampu
memperhitungkan dan melakukan antisipasi terhadap perkembangan sosial,
ekonomi, politik dan kenegaraan secara simultan. Hal ini menjadi perhatian khusus
karena demi pencapaian masyarakat madani yang sanggup berada di tengah
percaturan dunia global.9
Demi mewujudkan masyarakat madani, terdapat 10 prinsip pendidikan Islam di
era globalisai ini, yaitu:
1. Pendidikan harus membangun prinsip kesetaraan antara sektor pendidikan
dengan sektor-sektor lain. Sistem pendidikan harus senantiasa bersama-sama
dengan sistem lain untuk mewujudkan cita-cita masyarakat madani Indonesia.
Pendidikan bukan merupakan sesuatu yang eksklusif dan terpisah dari masyarakat
dan sistem sosialnya, tetapi pendidikan sebagai suatu sistem terbuka dan senantiasa
berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungannya. 2. Pendidikan merupakan
13
wahana pemberdayaan masyarakat dengan mengutamakan penciptaan dan
pemeliharaan sumber yang berpengaruh, seperti keluarga, sekolah, media massa,
dan dunia usaha.
3. Prinsip pemberdayaan masyarakat dengan segenap institusi sosial yang ada
di dalamnya, terutama institusi yang dilekatkan dengan fungsi mendidik generasi
penerus bangsa. Seperti pesantren, keluarga, dan berbagai wadah organisasi
pemuda, diberdayakan untuk dapat mengembangkan fungsi pendidikan dengan
baik serta menjadi bagian yang terpadu dari pendidikan.
4. Prinsip kemandirian dalam pendidikan dan prinsip pemerataan menurut
warga negara secara individual maupun kolektif untuk memiliki kemampuan
bersaing dan sekaligus kemampuan bekerja sama.
5. Dalam kondisi masyarakat pluralistik diperlukan prinsip toleransi dan
konsensus. Untuk itu, pendidikan sebagai wahana pemberdayaan masyarakat
dengan mengutamakan penciptaan dan pemeliharaan sumber-sumber tersebut
secara dinamik.
6. Prinsip perencanaan pendidikan. Pendidikan selalu dituntut untuk cepat
tanggap atas perubahan yang terjadi dan melakukan upaya yang tepat secara
normatif sesuai dengan cita-cita masyarakat madani Indonesia. Maka, pendidikan
selalu bersifat progresif tidak resisten terhadap perubahan, sehingga mampu
mengendalikan dan mengantisipasi arah perubahan. 10
14 BAB III
PENUTUP
Pendidikan Islam merupakan suatu proses pembentukan individu berdasarkan
ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
2. Faktor-faktor penyebab terjadinya globalisasi
c. Faktor extern
Faktor Ekstern munculnya globalisasi berasal dari luar negeri dan
perkembangan dunia. Faktor tersebut sebagai berikut.
1) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknology (Iptek).
2) Penemuan sarana komunikasi yang semakin canggih.
3) Adnya kesepakatan internasional tentang pasar bebas.
4) MOdersisasi atau pembaruan di berbagai bidang yang dilakukan
negara-negara di dunia mempengaruhi negara-negara lain untuk mengadupsi atau meniru hal
yang sama.
5) Keberhasilan perjuangan prodemokrasi di beberapa negara di dunia sedikit
banyak memberi inspiransi bagi munculnya tuntutan tranparansi dan
globalisasi di sebuah negara.
d. Faktor intern
Faktor intern munculnya globalisasi berasal dalam negeri. Berikut faktor-faktor
intern tersebut.
1) ketergantungan sebuah negara terhadap negara-negara lain di dunia.
2) Kebebasan pers.
3) Berkembangnya transparansi dan demokrasi pemerintahan.
4) Munculnya berbagai lembaga politik dan lembaga awadaya masyarakat.
15
Istilah globalisasi diambil dari kata global. Global berarti seluruhnya atau
menyeluruh. Kata ini melibatkan kesadaran baru bahwa dunia adalah sebuah
kontinuitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan utuh.
Untuk lebih jelas dari upaya dan usaha itu diuraikan sebagai berikut:
1. Sikap Kita Terhadap Globalisasi
Dalam menyikapi isu globalisasi umat Islam terbagi kedalam tiga kelompok,
yaitu yang menerima secara mutlak, menolak sama sekali, dan pertengahan
yakni menyikapinya secara proposional.
2. Sikap Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Globalisasi
Pertama, menampilkan Islam yang lebih ramah dan sejuk, sekaligus menjadi
pelipur lara bagi kegarahan hidup modern. Kedua, menghadirkan Islam yang
toleran terhadap manusia secara keseluruhan agama apapun yang dianutnya.
Ketiga, menampilkan visi Islam yang dinamis, kreatif, dan inovatif. Keempat,
menampilkan Islam yang mampu mengembangkan etos kerja, etos politik, etos
ekonomi, etos ilmu pengetahuan dan etos pembangunan. Kelima, menampilkan
revivalitas Islam dalam bentuk intensifikasi keislaman lebih berorientasi ke
dalam (in mard ariented) yaitu membangun kesalehan, intrinsik dan esoteris
daripada intersifikasi ke luar (out wad oriented) yang lebih bersifat ekstrinsik
16 DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M.1989. Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Bumi Aksara)
Asmani, Jamal Ma’mur. Globalisasi, (Surabaya)
Azizy, Qodri Azizy.2003, Melawan Globalisasi: Interpresi Agama Islam,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar)
Hamid, Farida. Kamus Ilmiah Populer Lengkap, (Surabaya: Apollo)
Langgulung, Hasan.1980. Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam,
(Bandung; Al-Maarif)
Muhtarom.2005. Reproduksi Ulama di Era Globalisasi: Resistensi Tradisional
Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)
Sanjaya,wina.2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum
Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana)
Yasin, Ahmad Fatah.2008. Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam, (Malang:
UINMalang Press)
Yusuf, Al- Qardhawi.1989. Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna, terj.
Bustami A. Gani dan Zainal Ahmad, (Jakarta: Bulan Bintang)
Zaini,Wahid.1994. Dunia Pemikiran Kaum Santri, (Yogyakarta: LKPSM)
17
18 Nama : Ondang Indah Putri Mihrati