• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA ABB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA ABB"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Revisi Makalah

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA ABBASIYAH Diajukan Untuk Memenuhi Makalah Individu Pada Mata Kuliah

Pemikiran Pendidikan Islam

Oleh:

SATRIA WIGUNA NIM : 3003163002

Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Dja’far Siddik, MA

PRODI :

PENDIDIKAN ISLAM

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

Abstract

At the time of the Abbasid dynasty is the heyday of Islam in various fields, especially the field of science and technology. A highly diverse educational institution, in a highly conducive academic field, an educational curriculum, the presence of teachers with large areas of expertise, reputation and influence, educational facilities and infrastructure, adequate educational financing, better educational management and orderly, and students who come from all over the world.

Keywords:Thought, Islamic Education, Abbasiyah

Abstrak

Pada masa dinasti Abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, khususnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Lembaga pendidikan yang amat beragam, dalam bidang akademik yang amat kondusif, kurikulum pendidikan, keberadaan para guru yang memiliki bidang keahlian, reputasi dan pengaruh yang besar dan luas, sarana dan prasarana pendidikan yang lebih memadai, pembiayaan pendidikan yang mencukupi, manajemen pendidikan yang lebih rapi dan tertib, serta para pelajar yang datang dari berbagai penjuru dunia.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

Pemikiran pendidikan Islam semakin mengalami kemajuan pada masa dinasti Abbasiyah. Pada masa itu, mayoritas umat muslim sudah bisa membaca dan menulis dan dapat memahami isi dan kandungan alquran dengan baik. Pada masa itu murid-murid di tingkat dasar mempelajari pokok-pokok umum yang ringkas, jelas dan mudah dipahami tentang beberapa masalah.

Kemajuan sistem pendidikan Islam pada zaman khalifah Abbasiyah ditandai dengan munculnya berbagai lembaga pendidikan yang amat beragam, dalam bidang akademik yang amat kondusif, kurikulum pendidikan, keberadaan para guru yang memiliki bidang keahlian, reputasi dan pengaruh yang besar dan luas, sarana dan prasarana pendidikan yang lebih memadai, pembiayaan pendidikan yang mencukupi, manajemen pendidikan yang lebih rapi dan tertib, serta para pelajar yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Pendidikan di tingkat dasar ini diselenggarakan di kuttab, dimana alquran merupakan buku teks wajib. Pada tingkat pendidikan menengah diberikan penjelasan-penjelasan yang lebih mendalam dan rinci terhadap materi yang sudah diajarkan pada tingkat pendidikan dasar. Selanjutnya pada tingkat universitas sudah diberikan spesialisasi, pendalaman dan analisa. Dengan mempelajari sejarah Islam terutama dalam bidang pendidikan, umat Islam dapat mengambil contoh pola pendidikan Islam pada masa lalu, sejak periode Nabi Muhammad Saw, sahabat dan ulama setelahnya.

(4)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pendidikan Islam pada Masa Dinasti Abbasiyah

Pendiri dinasti Bani Abbasiyah dari keturunan Abbas paman rasulullah saw yaitu: Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah al-Abbas. Kekuasaan Daulah Bani Abbasiyah melanjutkan kekuasaan daulah umayyah, dengan memindahkan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad sehingga pusat pemerintahan daulah Abbasiyah berada disekitar bangsa persia. Kekuasaan daulah Abbasiyah dibagi dalam lima periode, yaitu: 1

1. Periode I masa pengaruh Persia pertama (132 H/750 M-232 H/847 M)

2. Periode II masa pengaruh Turki pertama (232 H/847 M-334 H/945 M)

3. Periode III masa kekuasaan Dinasti Buwaihi, pengaruh Persia kedua (334 H/945 M-447 H/1055 M)

4. Periode IV masa bani saljuk, pengaruh Turki kedua (447 H/1055 M-590 H/1194 M).

5. Periode V masa kebebasan dari pengaruh Dinasti lain (590 H/1104 M-656 H/1250 M)

Masa kejayaan Islam terhadap kepemerintahan dinasti Abbasiyah yaitu berbagai bidang pengetahuna, khususnya dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada zaman ini lmu pengetahuan baik aqli (rasional) ataupun yang naqli mengalami kemajuan dengan pesatnya, karena umat Islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan. Sehingga Berdasarkan pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga akhirnya sampai kejayaan pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Hal ini dapat dilihat dari adanya gerakan penerjemahan buku dari berbagai bangsa dan bahasa. Sehingga dengan gerakan penerjemahan buku tersebut, lahirlah para tokoh Islam sesuai dengan keahliannya. 2

1 Suwito dan Fauzan, Sejarah Sosial Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana Prenada media

Group, . 2008), h. 100

2Sri Wahyuningsih, “Implementasi Sistem Pendidikan Islam pada Masa Daulah

(5)

Perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan pada bidang seperti sastra dan seni saja memakai istilah Ibnu Rusyd, ilmu-ilmu naqli dan ilmu aqli. Ilmu-ilmu naqli seperti tafsir, teologi, hadis, fiqih, ushul fiqh dan lain-lain dan juga berkembang ilmu-ilmu aqli seperti astronomi, matematika, kimia, bahasa, sejarah, ilmu alam, geografi, kedokteran dan lain sebagainya. Ibnu Malik adalah seorang pengarang buku nahwu yang sangat terkenal Alfiyah Ibnu Malik, dan dalam bidang sejarah adanya sejarawan besar yaitu Ibnu Khaldun serta tokoh-tokoh besar lainnya yang memiliki pengaruh keilmuan ilmu bahasa yang besar bagi perkembangan sejarah ilmu pengetahuan.3

Dalam perkembangan pemikiran keilmuan keislaman, kita mengenal imam-imam mazhab hukum yang empat, mereka semua hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah, yaitu ; Imam Abu Hanifah (700-767 M), Imam Malik (713-795 M), Imam Ahmad ibn Hambal (780-855 M), dan Imam Syafi’i (767-820 M). Disamping itu para ulama juga mengumpulkan hadits, seperti; al Musnad oleh Ahmad bin Hambal (241 H/885 M). Pengumpulan enam kitab yang dikenal al Kutub as Sittah yang dipelopori oleh Bukhari (256 H/870 M), Muslim (261 H/875 M), Abu Daud (275 H/888 M), at Tirmidzi (279 H/892 M), an Nasa’i (303 H/915 M), dan Ibnu Majah (273 H/886 M).4

Tahap periode pertama ilmu pengetahuan Islam dan filsafat berhasil menyiapkan landasan. Terutam pada pemerintahan dinasti Abbasiyah tercapainya masa keemasaan. Berdasarkan para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Disamping itu, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. pemerintahan dinasti Abbasiyah mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.5

Ditandai adanya perkembangan lembaga pendidikan Islam dan madrasah, sekolah-sekolah, dan universitas-universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam menjadi kejayaan kepemerintahan dinasti Abbasiyah dalam satu periode pusat peradaan pendidikan Islam.

B. Karakteristik Pendidikan pada Masa Dinasti Abbasiyah

3 Ibid.

4 Maryamah, “Pendidikan Islam Masa Dinasti Abbasiyah”, dalam Tadrib Vol. 1 No. 1 Juni

2015, h. 76

(6)

Khalifah Ja'far Al-Mansyur setelah ia mendirikan kota Bagdad dan menjadikannya sebgai ibu kota Negara. Beliau membangun gerakan ilmu dirintisnya secara besar-besaran dan menarik banyak ulama' dan para ahli dari berbagai daerah dan tinggal di Bagdad. Ia merangsang pembukuan ilmu agama seperti Fiqh, Tafsir, Tauhid, Hadits atau ilmu lainnya seperti ilmu bahasa dan ilmu sejarah. Adapun Karakteristik Pendidikan pada Masa Dinasti Abbasiyah, yaitu:6

1. Pekembangan ilmu naqli

Ilmu naqli adalah Ilmu yang bersumber dari naqli (Al-Qur'an dan Hadits) yang erat kaitannya dengan agama Islam. Ilmu naqli yang berkembang pada masa itu diantaranya : ilmu tafsir, ilmu kalam, dan ilmu hadis.

2. Perkembangan Ilmu Aqliyah

Ilmu ‘aqli adalah ilmu yang berdasarkan pada pemikiran (rasio). Ilmu yang tergolong ilmu ini kebanyakan dikenal ummat islam berasal dari terjemahan asing, yaknii dari yunani, Persia, dan india.Ilmu aqliyah meliputi ilmu filsafat, ilmu kedokteran, ilmu fisika dan matematika, ilmu Astronomi, ilmu sejarah dan geografi,

Adapun karakteristik pendidikan pada masa dinasti Abbasiyah antara lain:7

1. Masuknya ilmu aqli, yakni ilmu yang bersumber dari pengalaman dan penalaran akal dan ilmu naqli.

2. Adanya lembaga pendidikan sekolah, seperti kuttab, mesjid, istana-istana khalifah dan rumah-rumah perdana menteri, toko-toko buku, rumah para ulama, zawiyah (asrama) sebagai lembaga pendidikan, dan madrasah sebagai lembaga pendidikan formal.

3. Tokoh-tokoh pendidikan yang menitik beratkan pehartian pada kurikulum, strategi, metode dan teknik pendidikan.

C. Pengembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah

Pada masa dinasti Abbasiyah ini ada pengembangan ilmu pengetahuan yang terjadi, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Tingkatan jenjang pendidikan

6 Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik,(Jakarta, Prenada Media, 2003), h. 58-60

(7)

Pada masa Abbasiyah sekolah-sekolah terdiri dari beberapa tingkat, yaitu: Pada awal mula zaman islam, pendidikan berkembang dalam dua tingkatan:

a. Tingkatan dasar, yang bertempat di maktab dan owiyah (sudut kecil masjid). Di tempat ini anak-anak belajar alquran, aritmatika, seni menulis, dan bahasa arab

b. Tingkatan pendalaman (sekarang setara dengan sekolah menengah dan pendidikan yang lebih tinggi). Para murid pergi keluar daerah untuk menyempurnakan pendidikan mereka di bawah bimbingan atau ahli yang berwenang di bidangnya masing-masing.8

Namun ada pula pendapat dari Badri Yatim yang membagi menjadi tiga tingkatan, diantaranya adalah:

a. Tingkat sekolah rendah, namanya kuttab sebagai tempat belajar bagi anak-anak. Di samping kuttab ada pula anak-anak belajar di rumah, di istana, di toko-toko dan di pinggir-pinggir pasar. Terdapat 2 bentuk kuttab yaitu : Pertama, Kuttab berfungsi sebagai tempat pendidikan yang memfokuskan pada baca tulis. Kedua, Kuttab sebagai tempat pendidikan yang mengajarkan al-quran dan dasar-dasar keagamaan.9

b. Tingkat sekolah menengah, yaitu di masjid dan majelis sastra dan ilmu pengetahuan sebagai sambungan pelajaran di kuttab.

c. Tingkat perguruan tinggi, seperti Baitul Hikmah di Bagdad dan Darul Ilmu di Mesir (Kairo). Pada tingkatan ini umumnya perguruan tinggi terdiri dari dua jurusan. ilmu agama dan ilmu hikmah 10

Kurikulum pendidikan Islam pada masa dinasti Abbasiyah dibagi menjadi tiga bagian sesuai dengan tingkatan pendidikan masing-masing, yaitu Kurikulum Pendidikan Dasar (kuttab), Kurikulum Pendidikan Menengah, dan Kurikulum pendidikan Tinggi.11

a. Kurikulum Pendidikan Dasar (kuttab) : Membaca al-qur’an dan menghafalnya, Pokok-pokok agama Islam, seperti cara berwudlu, shalat,

8 Hassan Ibrahim, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Yogyakarta: kota kembang, 1997), h.12.

9 Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007, hlm. 113.

10Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada,2000), h.54.h

(8)

puasa dan sebagainya, Menulis, Kisah atau riwayat orang-orang besar Islam, Membaca dan menghafal syair-syair atau natsar (prosa), Berhitung, Pokok-pokok nahwu dan sharaf ala kadarnya

b. Kurikulum Pendidikan Menengah : Rencana pelajaran untuk pendidikan tingkat menengah tidak ada keseragaman di seluruh Negara Islam. Pada umumnya, rencana pelajaran tersebut meliputi mata pelajaran-mata pelajaran yang bersifat umum, sebagai berikut: (a) Al-Qur’an, (b) Bahasa Arab dan Kesusasteraan, (c) Fiqh, (d) Tafsir, (e) Hadits, (f) Nahwu/Sharaf/ Balaghah, (g) Ilmuilmu Pasti, (h) Mantiq, (i) Ilm Falak, (j) Tarikh (Sejarah), (k) Ilmuilmu Alam, (l) Kedokteran, (m) Musik

c. Kurikulum Pendidikan Tinggi :Pada umumnya, rencana pelajaran pada perguruan tinggi Islam, dibagi menjadi dua jurusan, yaitu:pertama : Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa serta sastra Arab, yang juga disebut sebagai ilmu-ilmu Naqliyah, yang meliputi: Tafsir al-Qur’an, Hadits, Fiqh dan Ushul Fiqh, Nahwu/Sharaf, Balaghah, Bahasa dan Kesusastraannya, kedua : Jurusan ilmu-ilmu umum, yang disebut sebagai ilmu Aqliyah, meliputi: Mantiq, Ilmu-ilmu Alam dan Kimia, Musik, Ilmu-ilmu Pasti, Ilmu Ukur, Ilmu Falak, Ilmu Ilahiyah (ketuhanan), Ilmu hewan, Ilmu tumbuh-tumbuhan, Kedokteran

2. Pendidik (para ilmuan) dan Siswa

Salah satu tanda kemajuan bidang pendidikan atau ilmu pengetahuan zaman bani abbasiyah adalah lahirnya para ilmuan yang sekaligus bertindak sebagai guru.12 Diantara para guru yang terkenal adalah Ibnu Sina, Ibnu

Miskawaih, Ibn Jama’ah, Imam Juwaini, dan Imam Ghozali. Sementara, para pelajar yang menimba ilmu pada zaman Abbasiyah berasal dari daerah sekitarnya serta dari mancanegara. Mereka ada yang datang dari kawasan Timur Tengah, Asia, Afrika, bahkan juga Eropa. Keberadaan para pelajar yang demikian itu menyebabkan kota Baghdad menjadi masyarakat multi etnis dan multikultural yang bersifat megapolit.13

Pada masa Abbasiyah ilmu menjadi sesuatu yang penting, sehingga masyarakat banyak antusias dalam menuntut ilmu kepada guru-guru yang

(9)

dianggap tsiqah (terpercaya) dan memiliki keluasan ilmu yang tidak diragukan. Menurut Al-Jahiz dalam Ziauddin Alavi, guru dapat diklasifikasikan ke dalam 3 golongan, yaitu :14

a. Guru-guru yang mengajar sekolah kanak-kanak (Mu’alim al kutab), para mu’alim kuttab (guru sekolah anak-anak) mempunyai status sosial yang rendah. Hal ini disebabkan oleh kualitas keilmuan mereka yang dangkal dan kurang berbobot. Namun tidak semua demikian, ada sebagian diantara mereka yang ahli di bidang sastra, ahli khat dan fuqaha. Mereka inilah golongan guru muallim al-kuttab yang dihormati dan dihargai seperti: Al-Hajaja, Al-Kumait, Abdil hamid Al-Katib, Atha bin Rabah dan lain-lain. b. Para guru yang mengajar para putra mahkota (Muaddib), berbeda dengan

muallim al-kuttab, para muaddib mempunyai status sosial yang tinggi, bahkan tidak sedikit para ulama yang mendapat kesempatan untuk menjadi muaddib. Hal ini disebabkan karena untuk menjadi muaddib diperlukan beberapa syarat, di antaranya adalah alim, berakhlak mulia, dan dikenal masyarakat.

c. Para guru yang memberikan pelajaran di masjid-masjid dan sekolah-sekolah, guru-guru dari golongan ini telah beruntung mendapat kehormatan dan penghargaan yang tinggi di hadapan masyarakat. Hal ini disebabkan penguasaan mereka terhadap ilmu pengetahuan yang begitu mendalam (rasikh) dan berbobot. Di antara mereka adalah guru ilmu syariat, ilmu bahasa, ilmu pasti dan sebagainya. Terdapat beberapa guru dari golongan ini yang terkenal di kalangan masyarakat, diantaranya adalah Abul Aswad Ad-Duali, Hasan Basri, Abu Wadaah, Syuraik Al-Qadhi, Muhamad ibn Al-Hasan, Ahmad ibnu Abi Dawud, dan lain sebagainya.7

3. Materi Pendidikan (Kurikulum)

Mahmud yunus memaparkan dalam Zuhairi, bahwa secara garis besar, pokok-pokok rencana pelajaran pada bebagai tingkatan pendidikan tersebut sebagai berikut :

(10)

a. Rencana pelajaran kuttab

Membaca alquran dan menghafalnya, pokok-pokok agama Islam, menulis, kisah atau riwayat orang-orang besar Islam, membaca dan menghafal syair-syair atau nasar (prosa), berhitung, pokok-pokok nahwu dan sorof.15

Pembagian waktu bagi mata pelajaran tiap-tiap hari, biasannya dibagi menjadi tiga: Pertama, Pelajaran alquran dari pagi hari sampai dengan waktu dhuha. Kedua, Pelajaran menulis dari waktu dhuha sampai waktu zuhur. Ketiga, Pelajaran ilmu lain (nahwu, bahasa arab, sya’ir, berhitung, riwayat, dan tarikh) dimulai setelah dhuhur sampai akhir siang.16

b. Rencana pelajaran pada tingkat menengah

Alquran, bahasa arab dan sastra, fiqih, tafsir, hadis, nahwu, ilmu pasti, mantiq, ilmu falaq, tarikh, ilmu-ilmu alam, kedokteran dan musik.

c. Rencana pelajaran pada pendidikan tinggi

Terbagi menjadi dua jurusan sebagaimana pembagian ilmu yang telah dijelaskan di atas, yakni, ilmu naqliyah (tafsir alquran, hadis, fiqih, ushul fiqh, nahwu, sharaf, balaghah, bahasa arab dan kesusastraan) dan ilmu aqliyah (ilmu mantiq, ilmu alam dan kimia, music, ilmu-ilmu pasti, ilmu ukur, ilmu falaq, ilmu ilahiyah, ilmu hewan, ilmu tumbuh-tumbuhan, dan kedokteran).17

Tujuan dan kurikulum pendidikan Islam, pada masa Nabi Muhammad saw., masa khulafa’Rasyidun, dan Bani Umayyah, tujuan pendidikan satu saja yaitu keagamaan semata-mata. Mengajar dan belajar karena Allah dan mengharapkan keredaanNya, lain tidak. Sementara pada masa Abbasiyah tujuan pendidikan itu telah bermacam-macam karena pengaruh masyarakat pada masa itu, tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut:18

a. Tujuan Keagamaan dan Akhlak, seperti pada masa sebelumnya. Anak-anak dididik dan diajar membaca/menghafal Al-Qur’an, ialah karena hal itu suatu kewajiban dalam agama, supaya mereka mengikuti ajaran agama dan berakhlak menurut agama. Begitu juga mereka diajar ilmu tafsir, hadits dan sebagainya adalah karena tuntutan agama, lain tidak.

b. Tujuan Kemasyarakatan, selain tujuan keagamaan dan akhlak ada pula tujuan kemasyarakatan, yaitu pemuda-pemuda belajar dan menuntut ilmu, supaya mereka dapat mengubah dan memperbaiki masyarakat, dari masyarakat yang

15Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2011 ), h.102.

16Fauzan Suwito, Sejarah Social Pendidikan Islam (Jakarta: Fajar Interpratama Offset,

2005), h.19.

17Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam, h.105.

(11)

penuh kejahilan menjadi masyarakat yang bersinar ilmu pengetahuan, dari masyarakat yang mundur menjadi masyarakat yang maju dan makmur.

c. Selain itu ada lagi tujuan pendidikan, ialah cinta akan ilmu pengetahuan serta senang dan lezat mencapai ilmu itu. Mereka belajar tak mengharapkan keuntungan apa-apa, selain dari pada berdalam-dalam dalam ilmu pengetahuan. Mereka melawat ke seluruh Negara Islam, untuk menuntut ilmu, tanpa memperdulikan susah payah dalam perjalanan, yang umumnya dilakukan dengan berjalan kaki atau mengendarai keledai. Tujuan mereka lain tidak untuk memuaskan jiwanya yang haus akan ilmu pengetahuan.

4. Metode pembelajaran

Pada masa Abbasiyah pengajaran diberikan kepada murid-murid seorang demi seorang, dan belum berkelas-kelas seperti sekarang, sehingga guru harus mengajar muridnya dengan berganti-ganti.19 Praktik pembelajaan seperti

dilakukan dengan membentuk formasi lingkaran yang disebut dengan halaqah. Sementara metode pendidikan atau cara belajar yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam:20

a. Metode lisan, berupa dikte (imla’), ceramah (al-sama’), qiraat dan diskusi b. Metode tulisan yaitu metode ini dianggap sebagai metode yang paling

penting, sebab metode ini efektif untuk melestarikan ilmu pengetahuan c. Metode menghafal yaitu Metode ini merupakan ciri umum pendidikan

masa ini. Murid-murid harus membaca secara berulang-ulang pelajarannya sehingga dapat melekat pada benak mereka.21

Metode hafalan dipakai pada masa lalu juga sangat khas dan merupakan ciri umum pendidikan masa kini. Sedangkan metode tulisan dianggap sebagai metode yang paling penting dalam proses belajar mengajar pada masa itu karena merupakan metode pengkopian karya-karya ulama.22 sebelum guru

menyampaikan materi, ia terlebih dahulu menyusun ta’liqah yang memuat silabus dan uraian yang disusun oleh masing-masing tenaga pengajar atau guru berdasarkan catatan perkuliahannya, hasil bacaan, dan pendapatnya tentang materi yang bersangkutan. Ta’liqah memua rincian jumlah pelajaran dan dapat disampaikan dalam jangka waktu 4 tahun.

19Fauzan Suwito, Sejarah Social Pendidikan Islam, h.17. 20Ibid, h.14.

21Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam Menelusuk Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia (Jakarta: kencana, 2008), h.114.

(12)

D. Ilmu – ilmu Pengetahuan yang Berkembang pada Masa Abbasiyah

Daulah Abbasiyah adalah salah satu daulah Islam yang namanya pernah menjulang baik di dunia Timur maupun di Barat. Hal itu dikarenakan kontribusi Daulah tersebut yang besar terhadap umat Islam dan kemanusiaan secara umum terutama di bidang peradaban. Ibu kotanya, Baghdad, dikenal dengan kota bundar, amat makmur dan kosmopolitan, dan merupakan satu-satunya saingan negara Bizantium masa itu. Baghdad juga merupakan pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan pusat penelitian berbagai disiplin ilmu, yang pusat kegiatannya dikenal dengan Darul-Hikmah atau Baitul-Hikmah.23 Bentuk dan jenis pengetahuan yang

berkembang pada masa Daulah Abbasiyah adalah sebagai berikut:24

1. Ilmu Hisab dann Al Jabar

Sepeninggalan mereka mempelajari dan memasukkan nomor puluhan ke dalam bilangan. Dengan hal tersebut, bangsa Arab menjadi sangat maju dalam ilmu pengetahuan. Mereka maju dengan mengubah pemahaman dan sifat matematika. Ketika itu bilangan baru sampai Sembilan, nol belum dikenal. Lalu bangsa Arab memasukkan angka nol dengan bentuk umum dan mutak seperti yang telah ada. Merekalah yang menciptakan ilmu dipindah ke Barat. Yang mempopulerkan nol adalah Al Khawarizmi dan Habasy Al Hasib.25

Adapun Al Jabar adalah orang yang membuat dalam bahasa Arab. Al Khawarizmi yang memiliki buku “Al Jabar wa Al Muwabalah” yang darinya lahirnya dasar Al jabar. Adapun orang yang melakukan langkah lebih besar daripada Al Jabar adalah Umar Al Khiyam, dia telah memberikan solusi teknik dari derajatn ketiganya.

2. Ilmu Astronomi

Dalam lapangan ilmu pengetahuan astronomi terkenal nama al-Fazari (abad VIII) sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolabe (alat yang dahulu dipakai untuk mengukur tinggi bintang-bintang dan sebagainya). Al-Fargani yang dikenal di Eropa dengan Fragnus, mengarang ringkasan tentang

23 Mundzirin Yusuf, “Khalifah Al-Mu’tashim: Kajian Awal Mundurnya Daulah Abbasiyah”, dalam jurnal Thaqafiyyat, Vol. 13, No. 1, Juni (2012), h. 124

24 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (Cet. V; Jakarta: UI Press,

2010, h.66-68.

(13)

ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis.

3. Ilmu Optika

Dalam optika, Abu Ali al-Hasan Ibu al-Haytham (abad X) yang namanya di-Eropa-kan dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata yang mengirim cahaya kepada benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian ternyata kebenarannya, bendalah yang mengirim cahaya ke mata dan karena menerima cahaya itu mata melihat benda yang bersangkutan. 4. Ilmu Kimia

Dalam ilmu kimia, Jabir Ibnu Hayyan terkenal sebagai bapak al-kimia, dan Abu Bakar Zakaria al-Razi (865-925 M) mengarang buku besar tentang al-kimia yang baru dijumpai di abad XX ini kembali. Pengetahuan yang diperoleh Islam dari Yunani sedikit sekali, pengetahuan ini banyak berkembang sebagai hasil penyelidikan ahli-ahli Islam.

5. Ilmu Fisika

Dalam lapangan fisika, Abu Raihan Muhammad al-Baituni (973-1048 M) sebelum Galileo telah mengemukakan teori tentang bumi berputar pada porosnya. Selanjutnya ia mengadakan penyelidikan tentang kecepatan suara dan cahaya dan berhasil dalam menentukan berat dan kepadatan 18 macam permata dan metal. 6. Ilmu Geografi

Dalam bidang geografi Abu al-Hasan Ali al-Mas’ud adalah seorang pengembara yang mengadakan kunjungan ke berbagai dunia Islam di abad X dan menerangkan dalam bukunya Maruj al-Zahab tentang geografi, agama, adat istiadat dan sebagainya daerah yang dikunjunginya.

Buku mereka dalam geografi sangat banyak. Salah satunya buku yang paling bagus tentang hal tersebut adalah “Ahsan At Taqasim fi Ma’rifah Al Aqalim” yang ditulis oleh Al Muqaddasi. Dia telah melihat perilaku dan sifat manusia dari perdagangan dan pekerjaan. Dia pun mengumpulkan dimensi-dimensi kehidupan dengan cara geografi yang sangat bagus. Dengan demikian, mereka tidak melihat geografi sebagai gambaran bumi saja, tetapi melihatnya sebagai geografi manusia, daerah, perilaku, dan lain-lainya.26

(14)

7. Ilmu Kedokteran

Pengaruh Islam yang terbesar terdapat dalam lapangan ilmu kedokteran dan filsafat. Dalam ilmu kedokteran, al-Razi yang di Eropa dikenal dengan nama Rhazes, mengarang buku tentang penyakit cacar dan campak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Inggeris dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Begitu pentingnya buku ini bagi Eropa sehingga terjemahan Inggrisnya dicetak empat puluh kali di antara tahun 1498 dan 1866 M. Bukunya Al-Hawi, yang terdiri atas 20 jilid, membahas berbagai cabang ilmu kedokteran. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di tahun 1279 dan menjadi buku pegangan penting berabad-abad lamanya di Eropa. Al-Hawi merupakan salah satu dari kesembilan karangan seluruh perpustakaan Fakultas Kedokteran Paris di tahun 1395 M. Ibnu Sina (980-1037 M) selain dari filosof, dia juga seorang dokter yang mengarang suatu ensiklopedia dalam ilmu kedokteran yang terkenal dengan nama Qanun fi al-Tib. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, berpuluh kali dicetak dan tetap dipakai di Eropa sampai pertengahan kedua dari abad XVII.

Perhatian dengan keilmuan kedokteran yaitu mereka mendirikan berbagai rumah sakit semenjak zaman Al Walid bin Abdil Malik di Damasykus dan akhir berkembang secara ppesar. Para khalifah Abbasitah lalu mengembangkannya menjadi bangunan yang megah. Harun Rasyid mendirikan rumah sakit umum (Bimaristan Al Kabir) di Baghdad. Ia mendirikan dengan model rumah sakit Persia. Didalam rumah sakit terdapat gudang obat-obat.27

8. Ilmu Filsafat

Dalam lapangan filsafat, nama al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd terkenal. Al-Farabi mengarang buku-buku dalam filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan interpretasi tentang filsafat Aristoteles. Sebagian dari karangannya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan masih dipakai di Eropa pada abad XVII. Ibnu Sina banyak mengarang dan yang termasyhur ialah Al-Syifa, suatu ensiklopedia tentang fisika, metafisika dan matematika yang terdiri atas 18 jilid. Bagi Eropa Ibnu Sina dengan tafsiran yang dikarang tentang filsafat Aristoteles lebih masyhur daripada al-Farabi, tetapi di antara semuanya, Ibnu

(15)

Rusyd atau Averroeslah yang banyak berpengaruh di Eropa dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran yang disebut Averroisme.

Dalam bidang filsafat antara lain: (a) Al-Kindi (809-873M) filsuf muslim pertama, buku karangannya sebanyak 236 judul. Beliau juga termasuk tokoh pendidikan multikultural dan dikenal sebagai tokoh humanis, (b) Al Farabi (wafat tahun 916 M) dalam usia 80 tahun, (c) Ibnu Majah (wafat tahun 523 H), (d) Ibnu Thufail (wafat tahun 581 H), (e) Ibnu Shina (980-1037 M).28

E. Lembaga dan Institusi Penyelenggaraan Pendidikan pada Masa Abbasiyah

Institusi pendidikan Islam yang diselenggarakan pada masa Bani Abbasiyah dapat dikategorikan sebagai berikut:29

1. Lembaga pendidikan sebelum madrasah a. Kuttab adalah institusi pendidikan dasar.

Mata pelajaran yang diajarkan adalah khat, kaligrafi, alquran, akidah, dan syair. Kuttab dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu yang tertutup terhadap ilmu pengetahuan umum dan yang terbuka terhadap pengetahuan umum.

Dalam ensiklopedi Islam dijelaskan bahwa kuttab adalah sejenis tempat belajar yang mula-mula lahir di dunia Islam, pada awalnya kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak, dan dinyatakan bahwa kuttab ini sudah ada di negeri Arab sebelum datangnya agama Islam, namun belum dikenal. Di antara penduduk Mekah yang pernah belajar adalah Sofwan bin Umayyah bin Abdul Syam.

b. Halaqah artinya lingkaran.

Halaqah merupakan institusi pendidikan Islam setingkat dengan pendidikan tingkat lanjutan atau college. Sistem ini merupakan gambaran tipikal dari murid-murid yang berkumpul untuk belajar pada masi itu. Guru biasanya duduk di atas lantai sambil menerangkan, membacakan karangannya, atau komentar orang lain terhadap suatu karya pemikiran. Murid-muridnya akan mendengarkan penjelasan guru dengan duduk di atas lantai, yang melingkari gurunya.

28 Sri Wahyuningsih, “Implementasi Sistem Pendidikan Islam”, dalam jurnal, h. 119 29Serli Mahroes, “Kebangkitan Pendidikan Bani Abbasiyah Perspektif Sejarah

(16)

c. Majelis

Majelis adalah institusi pendidikan yang digunakan untuk kegiatan transmisi keilmuan dari berbagai disiplin ilmu, sehingga majelis banyak ragamnya. Ada 7 macam mejelis, yaitu: (1) majelis Hadis; (2) majelis Tadris; (3) majelis Munazharah; (4) majelis Muzakarah; (5) majelis al-Syu’ara; (6) majelis al-Adab; dan (7) majel al-Fatwa. Tidak banyak penjelasan tentang deskripsi macam-macam mejelis tersebut.

Pada masa khalifah Abbasiyah, majlis sastra ini sangat menjadi kebanggaan yang pada umumnya khalifah-khalifah Bani Abbas sangat menarik perhatian pada perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam majlis sastra tersebut, bukan hanya dibahas dan didiskusikan masalah kesusastraaan saja, melainkan juga berbagai macam ilmu pengatahuan (majelis ilmu pengetahuan dan majelis kesenian). Pada masa ini majelis sastra juga mengalami kemajuan yang luar biasa, karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengetahuan dan juga mempunyai kecerdasan sehingga khalifah sendiri aktif didalamnya. Disamping itu pada masa Khalifah Harun Al Rasyid dunia Islam diwarnai oleh perkembangan ilmu pengetahuan, sedangkan negara berada dalam kondisi yang aman, tenang dan dalam zaman pembangunan.30

d. Masjid

Masjid merupakan institusi pendidikan Islam yang sudah ada sejak masa nabi. Masjid yang didirikan oleh penguasa umumnya dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas pendidikan seperti tempat belajar, ruang perpustakaan dan buku-buku dari berbagai macam disiplin keilmuan yang berkembang pada saat itu. Pada masa Bani Abbas, masjid didirikan oleh para pengusaha pada umumnya dilengkapi dengan berbagai macam sarana dan fasilitas untuk pendidikan. Tempat pendidikan anak-anak, tempat untuk pengajian dari ulama yang merupakan kelompok-kelompok (khalaqah), tempat untuk berdiskusi dan munazarah dalam berbagai ilmu pengetahuan yang cukup banyak. Masjid disamping fungsinya sebagai tempat berkomunikasi dengan tuhan, juga sebagai lembaga pendidikan dan pusat komunikasi sesama kaum muslim.31 Saloon-saloon pada masa Daulah

Umayah dan Dauah Abbasiyah memiiki persamaan dengan masa Khulafaur

(17)

Rasyidin, yaitu sebagai sarana untuk mencerdaskan manusia dan penyiaran ilmu pengetahuan.

e. Khan berfungsi sebagai asrama pelajar dan tempat penyelenggaraan pengajaran agama antara lain fiqih.

f. Ribath adalah tempat kegiatan kaum sufi yang ingin menjauh dari kehidupan duniawi untuk mengonsentrasikan diri beribadah semata-mata. Ribath biasanya dihuni oleh orang-orang miskin.

g. Rumah-rumah ulama

Rumah-rumah ulama, digunakan untuk melakukan transmisi ilmu agama dan ilmu umum dan kemungkinan lain perdebatan ilmiah. Ulama yang tidak diberi kesempatan mengajar di institusi pendidikan formal akan mengajar di rumah-rumah mereka. Pelaksanaan kegiatan belajar di rumah sebernarnya pernah terjadi pada awal permulaan Islam, yaitu pada masa sebelum tumbuhnya masjid dan pada masa kekuasaan dinasti abbasiyah masih tetap rumah ulama masih menjadi salah satu tempat untuk mencari ilmu. Dipergunakan rumah ulama dan para ahli adalah karena terpaksa dalam keadaan darurat, misalnya rumah Al-Gazali setelah tidak mengajar lagi di Madrasah Nidamiyah dan menjalani kehidupan sufi. Para pelajar terpaksa datang kerumahnya karena kehausan akan ilmu pengetahuan dan karena pendapatnya yang sangat menarik perhatian mereka. Sama halnya dengan Al-Gazali, adalah Ali Ibnu Muhammad Al-Fasihi, yang dituduh sebagai seorang Syiah kemudian di pecat dari mengajar di Madrasah Nidamiyah, lalu mengajar dirumahnya sendiri. Beliau-beliau, karena dikenal sebagai guru dan ulama yang kenamaan maka kelompok-kelompok pelajar tetap mengunjungi di rumahnya untuk meneruskan pelajaran.32

h. Toko buku dan perpustakaan.

Toko buku dan perpustakaan berperan sebagai tempat transmisi ilmu dan Islam. Di Baghdad terdapat 100 toko buku. Pada permulaan masa daulah bani Abbasiyah, dimana ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam sudah tumbuh dan berkembang dan diikuti oleh penulisan kitab-kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, maka berdirilah toko-toko kitab. Pada mulanya toko kitab tersebut berfungsi sebagai tempat jual beli kitab yang telah ditulis dalam berbagai ilmu

32 A. Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam :Terjemahan dari Muhtar Yahya (Jakarta: Bulan

(18)

pengetahuan yang berkembang pada masa itu. Mereka membeli dari para penulisnya kemudian menjualnya kepada siapa yang berminat untuk mempelajarinya. Toko kitab tersebut telah berkembang fungsinya bukan hanya sebagai tempat jual beli kitab saja tetapi juga merupakan tempat berkumpulnya para ulama, pujangga dan ahli-ahli ilmu pengetahuan lainnya, untuk berdiskusi, berdebat, bertukar pikiran dalam berbagai masalah ilmiah. Jadi berfungsi sekaligus pula sebagai lembaga pendidikan dalam rangka pengembangan berbagai macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.33 Menurut Akbar S.Ahmed pada

tahun 891 terdapat 100 toko buku di Baghdad. Ketekukan pada cendekiawan muslim juga masih mengagumkan hingga sekarang, misalnya Al Tabari yang mampu menulis 40 halaman setiap hari dalam masa 40 tahun. Salah satu karya utamanya berwujud tafsir al-Quran sebanyak 30 jilid.34

i. Observatorium dan rumah sakit.

Observatorium dan rumah sakit sebagai tempat kajian ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dan transmisi ilmu kedokteran. Berdasarkan penelusuran institusi pendidikan Islam tersebut, terlihat perhatian yang signifikan bagi transmisi pengetahuan.

Pada zaman jayanya perkembangan kebudayaan Islam, dalam rangka menyebarkan kesejahteraan di kalangan umat Islam, maka banyak didirikan rumah sakit oleh khalifah dan pembesar negara. Rumah sakit tersebut bukan hanya berfungsi sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit, tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan. Mereka mengadakan berbagai penelitian dan percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan, sehingga berkembang ilmu kedokteran dan ilmu obat-obatan atau farmasi. Rumah sakit juga merupakan tempat praktikum dari sekolah kedokteran yang didirikan diluar rumah sakit, tetapi tidak jarang juga sekolah kedokteran tersebut didirikan tidak terpisah dari rumah sakit. Dengan demikian, rumah sakit dalam dunia Islam juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.35

33 Zuhairi, Sejarah Pendidikan Islam, h. 94.

34 Akbar S.Ahmed, Citra Muslim Tinjauan Sejarah dan Sosiologi (Jakarta: Erlangga, 1992),

h. 48.

(19)

2. Madrasah

Madrasah sudah eksis semenjak awal masa kekuasaan Islam bani Abbasiyah seperti Bait al-Hikmah, yaitu institusi pendidikan tinggi Islam pertama yang dibangun pada tahun 830 M oleh khalifah al-Makmun. Institusi yang mengukir sejarah baru dalam peradaban Islam dengan konsep multikultural dalam pendidikan, karena subjek toleransi, perbedaan etnik kultural, dan agama sudah dikenal dan merupakan hal biasa.

Di catatan lain, al-Makrizi berasumsi bahwa madrasah pertama adalah madrasah Nizhamiyah yang didirikan tahun 457 H.53 Madrasah selalu dikaitkan dengan nama Nidzam Al-Mulk (W. 485 H/1092 M), salah seorang wazir dinasti Saljuk sejak 456 H/1068 M sampai dengan wafatnya, dengan usahanya membangun madrasah Nizhamiyah di berbagai kota utama daerah kekuasaan Saljuk.

Madrasah Nizhamiyah merupakan prototype awal bagi lembaga pendidikan tinggi, ia juga dianggap sebagai tonggak baru dalam penyelenggaraan pendidikan Islam, dan merupakan karakteristik tradisi pendidikan Islam sebagai suatu lembaga pendidikan resmi dengan sistem asrama. Pemerintah atau penguasa ikut terlibat didalam menentukan tujuan, kurikulum, tenaga pengajar, pendanaan, sarana fisik dan lain-lain.

Kendati madrasah Nizhamiyah mampu melestarikan tradisi keilmuan dan menyebarkan ajaran Islam dalam versi tertentu. Tetapi keterkaitan dengan standarisasi dan pelestarian ajaran kurang mampu menunjang pengembangan ilmu dan penelitian yang inovatif.

Madrasah di Mekah dan Madinah. Informasi tentang madrasah mendapat dukungan banyak dari berbagai literatur. Namun sayang para sejarawan tidak cukup tertarik berbicara madrasah di Mekah dan Madinah. Hal ini mengakibatkan pelacakan informasi tentang permasalahan tersebut kurang lengkap.

(20)

E. Spesifikasi Pemikiran Pendidikan Islam pada Masa Abbasiyah

Perkembangan pemikiran dan peradaban umat Islam mencapai puncak kejayaannya pada masa Dinasti Abbasiyah. Untuk mencapai kejayaan tersebut, tergambar bahwa strategi dan aktivitas yang efektif dilakukan oleh para Khalifah Dinasti Abbasiyah adalah: Pertama, keterbukaan. Jika dibandingkan dengan masa kekhalifahan Umayyah yang sangat membatasi diri dengan pihak luar, keadaan pemerintah dinasti Abbasiyah sebaliknya. Bentuk pemerintahan dinasti Umayyah lebih menonjol kepada pemerintahan Arab, sedangkan politik dinasti Abbasiyah merupakan pemerintahan campuran dari segala bangsa. Kedua, kecintaan pada ilmu pengetahuan. Pada masa dinasti Abbasiyah, ilmu pengetahuan Islam banyak digali oleh para ulama (intelektual) Islam. Sebab para khalifahnya sangat senang dengan ilmu pengetahuan. Karena itu dinasti ini sangat besar jasanya dalam memajukan peradaban Islam di mata dunia. Ketiga, toleran dan akomodatif. Corak kehidupan orang-orang Abbasiyah lebih banyak meniru tata cara kehidupan bangsa Persia. Pada masa ini kebudayaan Persia berkembang sangat maju, sebab bangsa Persia mempunyai kedudukan yang baik di kalangan keluarga istana. Banyak orang Persia yang dipilih untuk mengendalikan pemerintahan Dinasti Abbasiyah.36

Peralihan kekuasaan dari dinasti Umayyah ke dinasti Abbasiyah adalah sebuah peralihan yang signikan, dimana pemerintahan Umayyah yang identik dengan nepotismenya berubah kearah monarki (Abbasiyah). Perubahan ini tentunya menuju keraha yang lebih baik, yaitu dalam perguliran sejarah Islam, pada dinasti Abbasiyahlah peradaban Islam terlihat sangat mengagumkan yaitu masa keemasan (golden age),37 tepatnya pada masa al- Rasyid dan al-Makmun.38

Keberhasilan itu tidak terlepas dari para pemikir-pemikir Islam yang ada di lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan. Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesar ketika itu disebabkan terjadinya pergesekan budaya Timur dan Barat. Dimasa pemerintahan al-Makmun, pemikir-pemikir

36Yunus Ali Al Muhdar, & Bey Arifin, Sejarah Kesusastraan Arab (Jakarta: Bina

Ilmu,1983), h. 135).

37 Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah,cet.4.(Jakarta:Raja Grafindo

Persada, 1995).h. 52.

(21)

Islam telah membuktikannya dengan melahirkan beberapa keilmuan, termasuk ilmu Matematika, Kedokteran, Astronomi dan Filsafat sebagai gudang insprasi.39

Pada tahun 198-813 H awal dan akhir pemerintahan al-Makmun, telah membukakan mata Barat bahwa Islam ketika itu adalah sebuah peradaban yang sangat diperhitungkan dalam dunia Internasional, beliau mendatangkan para ilmuan baik dari Timur ataupun Barat untuk berkarya di Baghdad. Hasilnya perkembangan keilmuan bergulir dengan derasnya, Baitul Hikmah sebagai lembaga pendidikan Islam berperan sebagai Institusi pendidikan dan membidani kelahiran ilmu-ilmu agama dan dunia.40

Pesatnya perkembangan pendidikan dimasa al-Makmun yang diprakarsai oleh pemikir-pemikir Islam dan non-Islam bukan hanya membidani kelahiran teori-teori baru dalam keilmuan, disamping pendidikan non-formal yang berkembang,41 pendidikan formal juga digagas, bukti pemikir-pemikir turut

menginstruksikan kepada pemerintah agar mendirikan infra-struktur sebagai lembaga institusi pendidikan, agar peserta didik dan peserta ajar dapat mengajar dan mengkaji ilmu-ilmu pada tempat-pempat yang menurut mereka lebih terkonsentrasi.42

Perkembangan pemikiran Islam pada masa ini tidak hanya berdampak besar pada kemajuan peradaban di dunia Islam, bahkan sangat berpengaruh ke dunia luar, utamanya Eropa dan sekitarnya. Gerakan pemikiran Islam ini banyak melahirkan para tokoh pemikir muslim dan bukan muslim. Para ilmuwan yang bukan muslim juga memainkan peranan penting dalam menerjemahkan dan mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, serta ilmu zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat Yunani yaitu Aristoteles terkenal di Eropa.

39 Badri, Sejarah Peradaban Islam, h. 53.

40 K.Ali, Sejarah: Tarikh Pramodrent ,ed.1.cet.4 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003),

h. 385.

(22)

BAB III PENUTUP Kesimpulan

Dari pembahasan tentang pemikiran pendidikan Islam masa Abbasiyah di, dapat disimpulkan sebagai berikut bahwasanya perkembangan dan kemajuan yang dimiliki suatu bangsa pada zamannya tertentu adalah tergantung dari pemimpinnya yang dengan arif dan bijaksana serta cinta akan ilmu memimpin negaranya dengan sebaik-baiknya berdasarkan tuntunan ajaran Islam dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Perkembangan dan kemajuan Daulah Abbasiyah hingga mencapai puncak kejayaan, karena dukungan penuh khalifahnya yang memberikan banyak fasilitas dan kebebasan untuk perkembangan ilmu pengetahuan, agama, dan teknologi.

Hal inilah yang memotivasi rakyat untuk terus meningkatkan kemampuan diri dan ilmunya. Lebih khusus lagi bahwasanya kemajuan sistem pendidikan Islam masa daulah Abbasiyah ini karena menerapkan konsep dasar pendidikan Islam yang multikultural dengan tetap berpegang teguh pada ajaran Islam, sehingga terjadi tukar menukar pengetahuan dan budaya yang menjadikan khasanah ilmu pengetahuan dan budayanya bertambah kaya, namun tidak meninggalkan ajaran Islam. Hal ini karena pembentukan karakter murid dari seorang guru begitu kuat dan berhasil.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Isy, Yusuf. 2007 . Dinasti Abbasiyah, Jakarta : Al Kautsar.

Ali. K. 2003. Sejarah: Tarikh Pramodrent ,ed.1.cet.4, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Bakti, Hasan. 1995. Dirasah Islamiyah, Medan:Media Persada.

Ibrahim, Hasan. 1997 Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta: kota kembang,

Mahroes, Serli. 2015. “Kebangkitan Pendidikan Bani Abbasiyah Perspektif Sejarah Pendidikan Islam,”: Jurnal Tarbiya Vol: 1, No: 1.

Ma’ruf. 2011. Sejarah Peradaban Islam, Pontianak: STAIN Press

Muhdar, Yunus Ali Al & Bey Arifin, 1983, Sejarah Kesusastraan Arab, Jakarta: Bina Ilmu

Nata, Abudin. 2011. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: fajar interpratama, Nasution, Harun. 2010. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Cet. V; Jakarta:

UI Press.

Nizar, Samsul. 2008. Sejarah Pendidikan Islam Menelusuk Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, Jakarta: kencana.

Suriana. 2013. “Dimensi Historis Pendidikan Islam (Masa Pertumbuhan, Perkembangan, Kejayaan, dan Kemunduran)”, Jurnal Pionir, Vol 1, No.1. Suwito, Fauzan. 2005. Sejarah Social Pendidikan Islam, Jakarta: Fajar

Interpratama Offset.

Wahyuningsih, Sri. 2014. “Implementasi Sistem Pendidikan Islam pada Masa Daulah Abbasiyah dan pada Masa Sekarang”: Jurnal Kependidikan, Vol. II No. 2.

Yatim, Badri. 1995. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah,cet.4, Jakarta:Raja Grafindo Persada.

. 2000. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Yunus, Mahmud. 1981. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Hidakarya Agung. Zuhairi et.all 2004. Sejarah Pendidikan Islam, Jakata:Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

Lebih jauh Abduh menyatakan bahwa kalau khalifah atau raja saja tidak memiliki kekuasaan keagamaan, lembaga-lembaga pemerintahan di bawah kepala negara lebih tidak mempunyai

Tradi- si sains Islam zaman keemasan (masa Daul- ah Abbasiyah) digunakan Barat sebagai landasan dalam pengembangan keilmuan dalam berbagai bidang dengan menggu- nakan

Zaman baru kebangkitan intelektual Muslim Indonesia, paling tidak ditandai oleh munculnya beberapa literatur yang mencoba mencermati secara sistematis perkembangan dunia

Yakni periode pendidikan islam zaman awal hingga abad pertengahan, pendidikan islam zaman modern klasik, dan pendidikan islam yang dinilai maju oleh Fazlur Rahman

Pendidikan telah diterapkan manusia sejak zaman kuno. Manusia berusaha menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan diajarkan secara turun temurun melalui pendidikan sejak

Keempat, pada masa Khalifah Ali bin Abi Tholib, beliau menjabat sebagai khalifah selama 5 tahun, pada zaman beliau tidak banyak perkembangan islam tetapi beliau melakukan kebijakan,

pendidikan seorang pemimpin harus menjadikan kepemimpinannya tertuju untuk kemajuan lembaga bukan untuk kepentingan pribadi. Jika yang muncul justru adalah kepemimpinan

Yakni periode pendidikan islam zaman awal hingga abad pertengahan, pendidikan islam zaman modern klasik, dan pendidikan islam yang dinilai maju oleh Fazlur Rahman