• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemikiran Pendidikan Islam pada Masa Pem (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pemikiran Pendidikan Islam pada Masa Pem (1)"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Ada tiga hal yang perlu dipahami ketika mempelajari peristiwa sejarah atau pemikiran, yakni (1) peristiwa atau pemikiran, (2) sebab lahirnya/munculnya peristiwa atau pemikiran dan (3) relevansi mempelajari peristiwa atau pemikiran terhadap kehidupan kini. Dengan kata lain, tiga hal yang perlu dideskripsikan ketika mempelajari peristiwa sejarah atau pemikiran, yakni (1) deskripsikan fakta peristiwa sejarah atau pemikirannya, (2) deskripsikan apa yang melatari terjadinya fakta sejarah dan (3) lakukan kontektualisasi berdasarkan konteks. Terkait akan hal tersebut banyak para tokoh yang menjadi pencetus pemikiran dalam konteks pembaharuan pendidikan, dalam hal ini pembaharuan Mesir menjadi konteks kajian. Melalui para pemikir tersebut diharapkan ketertinggalan umat Islam atas bangsa Barat dapat dikejar dan modernisasi siap dihadapi.

Kata kunci: Pemikiran, Mesir, Tokoh, Pendidikan

ABSTRACT

There are three things that need to be understood when studying historical events or thoughts, namely (1) events or thoughts, (2) due to the emergence of events or thoughts and (3) the relevance of studying events or thoughts to present life. In other words, three things need to be described when studying historical or thought events, namely (1) describing the facts of historical events or thoughts, (2) describing what underlies historical facts and (3) contextualizing contextualities. Related to that many leaders who became the originator of thought in the context of educational reform, in this case the renewal of Egypt into the context of the study. Through these thinkers are expected to lag Muslims of the West can be pursued and modernization is ready to face.

(2)

BAB I PENDAHULUAN

Dunia Islam abad 20 ditandai dengan kebangkitan dari kemunduran dan kelemahan secara budaya maupun politik setelah kekuatan Eropa mendominasi mereka. Eropa bisa menjajah karena keberhasilannya dalam menerapkaan strategi ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengelola berbagai lembaga pemerintahan. Negeri-negeri Islam menjadi jajahan Eropa akibat keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan. Negara jajahan juga harus ditransformasikan dan dimordenisasi mengikuti kemajuan Eropa, kehidupan finansial dan komersialnya dimasukkan ke dalam sistem Barat, setidaknya beberapa orang pribumi harus dibuat akrab dengan ide-ide dan etos modern.

Modernisasi dalam bidang pendidikan adalah bagian terpenting dari modernisasi sosial, ekonomi dan politik. Hal tersebut bermakna bahwa untuk membangun dan membina masyarakat modern, maka pendidikan adalah bagian yang sangat penting sebagai media transformasi nilai dan budaya maupun pengetahuan. Pendidikan akan mendorong berkembangnya kecerdasan dan produk budaya masyarakat. Melalui pendidikan pula, muncul banyak pembaharuan di berbagai aspek kehidupan.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Timbulnya Pembaharuan

Islam mengalami puncak kejayaan di berbagai bidang dan menjadi kiblat peradaban seantero dunia ketika Dinasti Abbasiyah berkuasa yang bepusat di Bagdad. Bersamaan dengan itu, di belahan dunia bagian Barat berdiri dengan kokohnya sebuah pusat peradaban yang didirikan oleh keturunan Bani Umayyah di Spanyol, kemudian diikuti oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir. Ketiga pusat kerajaan ini masing-masing menyumbangkan peradaban tiada tara yang telah mengharumkan nama Islam.

Sejarah modernisasi pendidikan di Mesir sangat lekat dengan gerakan pembaharuan Islam. Hal ini karena hampir seluruh pelaku-pelakunya adalah tokoh-tokoh pembaharuan agama. Secara garis besar, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya proses pembaharuan pendidikan Islam, yaitu:

1. Faktor kebutuhan pragmatis umat Islam yang sangat membutuhkan satu sistem yang benar-benar bisa dijadikan rujukan dalam rangka mencetak manusia-manusia muslim yang berkualitas, bertakwa dan beriman kepada Allah swt.;

2. Agama Islam sendiri melalui ayat suci Alquran banyak menyuruh atau menganjurkan umat Islam untuk selalu berpikir serta selalu membaca dan menganalisis sesuatu untuk kemudian bisa diterapkan atau bisa menciptakan sesuatu yang baru dari apa yang kita lihat;

3. Adanya kontak Islam dengan Barat.1

Secara historis kesadaran pembaharuan dan modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari datangnya Napoleon Bonaparte di Alexandria, Mesir pada tanggal 2 Juli 1798 M. Tujuan utamanya adalah menguasai daerah Timur, terutama India. Napoleon Bonaparte menjadikan Mesir hanya sebagai batu loncatan saja untuk menguasai India, yang pada waktu itu di bawah pengaruh kekuasaan kolonial Inggris.

Kedatangan Napoleon ke Mesir tidak hanya dengan pasukan perang, tetapi juga dengan membawa 160 orang di antaranya pakar ilmu pengetahuan, dua set

(4)

percetakan dengan huruf latin, Arab, Yunani, peralatan eksperimen (seperti teleskop, mikroskop, kamera dan lain sebagainya) serta 1000 orang sipil. Tidak hanya itu, ia pun mendirikan lembaga riset bernama Isntitut d’Egypte yang terdiri atas empat departemen, yaitu ilmu alam, ilmu pasti, ekonomi dan politik, serta ilmu sastra dan kesenian. Lembaga ini terbuka untuk umum terutama ilmuwan (ulama) Islam. Ini adalah momen kali pertama ilmuwan Islam kontak langsung dengan peradaban Eropa, termasuk Abd al-rahman al-Jabarti. Baginya perpustakaan yang dibangun oleh Napoleon sangat menakjubkan karena Islam diungkapkan dalam betbagai bahasa dunia.

Untuk memenuhi kebutuhan ekspedisinya, Napoleon berusaha keras mengenalkan teknologi dan pemikiran modern kepada Mesir serta menggali Sumber Daya Manusia (SDM) Mesir dengan cara mengalihkan budaya tinggi Perancis kepada masyarakat setempat. Sehingga dalam waktu yang tidak lama, banyak di antara cendikiawan Mesir belajar tentang perpajakan, pertanian, kesehatan, administrasi dan arkeologi.

Ekspedisi Napoleon ke Mesir membawa angin segar dan perubahan signifikan bagi sejarah perkembangan bangsa Mesir, terutama yang menyangkut pembaharuan dan modernisasi pendidikan di sana. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Perancis banyak memberikan inspirasi bagi tokoh-tokoh Mesir untuk melakukan perubahan secara mendasar pada sistem dan kurikulum pendidkan yang sebelumnya dilakukan secara konvensional.

Hal inilah yang membuka mata para pemikir-pemikir Islam untuk melakukan perubahan meninggalkan keterbelakangan mereka menuju modernisasi di berbagai bidang khususnya bidang pendidikan. upaya pembaharuan dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, kemudian diikuti oleh pemikir-pemikir lainnya.

(5)

Modernisasi dalam bidang pendidikan adalah bagian terpenting dari modernisasi sosial, ekonomi dan politik.2 Hal tersebut bermakna bahwa untuk membangun dan membina masyarakat modern maka pendidikan adalah bagian sangat penting sebagai media transformasi nilai dan budaya maupun pengetahuan. Pendidikan akan mendorong berkembangnya kecerdasan dan produk budaya masyarakat. Melalui pendidikan pula, muncul banyak pembaharauan di berbagai aspek kehidupan.

Tokoh yang memiliki andil besar dalam pemikiran pendidikan di Mesir yaitu di antaranya Jamaluddin al-Afghani, dalam bidang pendidikan ia mengajarkan anak-anak pada masa itu untuk menulis dan melatih anak-anak untuk menyuarakan pendapat mereka. Tidak hanya menulis, mereka diajarkan membuat majalah atau surat kabar yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengutarakan pendapat mereka. Jamaluddin mengajak para penulis muda yang mempunyai bakat menulis untuk dapat memilih topik yang berkenaan dengan kehidupan umat.3

Asumsi adanya hubungan yang signifikan antara pembaharuan dengan pendidikan yaitu sebagaimana pendapat Syafi’I Ma’arif, bahwa salah satu fungsi pendidikan adalah membebaskan masyarakat dari belenggu keterbelakangan.4 Hal itu mengindikasikan bahwa untuk mengadakan ijtihad, perubahan, atau pembaharuan dalam masyarakat adalah lewat pendidikan.

Bentuk ijtihad, pembaharuan, serta modernisai pendidikan adalah salah satu pemikiran Muhammad Abduh. Dia merupakan sosok yang gigih dalam mengembangkan gerakan pembaharuan Islam melalui gerakan intelektual. Pemikirannya meninggalkan pengaruh yang luas, tidak hanya di tanah airnya Mesir dan dunia Arab lainnya di Timur Tengah, tetapi juga di dunia Islam lainnya termasuk Indonesia. Biasanya disebutkan bahwa pembaharuan dalam Islam timbul atas pengaruhnya Muhammad Abduh, melalui artikel-artikel yang dimuat Al Urwa Al Wusqa di Paris dan Majalah Al Manar di Kairo, serta

pemikiran-2 Abdur Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat Pendidikan

dan Dakwah (Yogyakarta: SI Press, 1992), h. 123.

3 Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah (Jakarta: Djambatan, 1995), h. 271.

(6)

pemikirannya yang terkandung dalam Tafsir Al Manar dan Risalah At Tauhid.5 Pemikiran-pemikirannya layak untuk terus dikaji dan dipelajari. Persoalan yang dikaji dan dipelajari bukan hanya pada persoalan kelembagaan pendidikan, tetapi juga sikap mental yang dipengaruhi oleh budaya serta tata nilai dari sebuah masyarakat.

Selain Muhammad Abduh, ada pula tokoh yang ikut penyumbangkan pemikirannya dalam kemajuan pendidikan Islam yaitu At-Tahtawi. Ia adalah salah satu pembawa pemikiran pembaharuan yang besar pengaruhnya pada pertengahan pertama dari abad ke-19 di Mesir. Ide pokok pemikirannya dalam membangun kemajuan pendidikan di Mesir yaitu penerjemahan buku-buku Barat ke dalam bahasa Arab yang dirasa sangat penting agar umat Islam dapat mengetahui ilmu-ilmu yang membawa kemajuan di Barat. Salah satu kunci menjuju kesejahteraannya adalah berpegang kepada agama dan budi pekerti yang baik, untuk itu diperlukan pendidikan, ia menganjurkan pendidikan universal, pendidikan untuk semua termasuk wanita. Tujuan pendidikan harus mencakup kecintaan kepada bangsa atau patriotisme, para ulama harus mengetahui ilmu-ilmu modern agar mereka dapat menyesuaikan syariat dengan kebutuhan zaman modern serta persatuan harus ditegakkan.6

C. Tokoh-tokoh Penggagas dan Pemikirannya 1. Tokoh-tokoh Penggagas

a) Muhammad ‘Ali Pasya

Muhammad ‘Ali Pasya adalah seorang keturunan Turki yang lahir di Kawalla, Yunani pada tahun 1769 M dan meninggal di Mesir pada tahun 1849 M. Orang tuanya bekerja sebagai seorang penjual rokok dan dari kecil Muhammad ‘Ali telah harus bekerja membantu meringankan beban keluarganya yang termasuk kurang berada, yaitu sebagai penjual rokok.7 Kemudian ia mengalihkan pekerjaannya setelah dewasa kepada bidang lain yaitu sebagai pemungut pajak dan karena kecakapannya dalam menjalankan pekerjaan ini, ia menjadi 5 Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazillah (Jakarta: UI-Press, 1987), h. 1.

6 Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintas Sejarah (Malang: UIN Malang Press, 2008), h. 256-257.

7 Abd. Mukti, Pembaharuan Lembaga Pendidikan di Mesir: Studi Tentang

(7)

kesayangan Gubernur Kawalla. Akhirnya ia diangkat menjadi menantu oleh Gubernur tersebut dan mulai dari waktu itu bintangnya terus menaik.8

Kemudian ketika usianya masih sangat muda, ia tertarik kepada pekerjaan dalam bidang militer, ia mulai pekerjaan dalam bidang ini ketika ia masih berada di tanah kelahirannya, Kawalla. Pada mulanya ia memasuki dinas militer yang bertugas dalam pasukan Turki dengan pangkat prajurit. Dalam lapangan ini ia juga menunjukkan kecakapannya dan kesanggupan sehingga karirnya cepat meningkat. Tidak lama kemudian pangkatnya dinaikkan lagi menjadi perwira.9 Ketika ia pergi ke Mesir, kepadanya dipercayakan untuk mengepalai pasukan yang dikirim dari daerahnya.

Di Mesir dalam pertempuran melawan tentara Napoleon Bonaparte, Muhammad ‘Ali Pasya menunjukkan keberaniannya yang luar biasa, maka pangkatnya dinaikkan lagi menjadi kolonel. Pada tahun 1215/1800 ia mempunyai kedudukan sebagai salah satu seorang pemimpin pasukan Albania yang bertugas dalam dinas militer Turki. Pada tahun 1216/1801 ia sudah meraih pangkat jenderal. Keberhasilan Muhammad ‘Ali pasya dalam membina karirnya di bidang militer selama bertugas di Mesir dan kematangan politiknya mejelang berakhirnya pendudukan Napoleon Bonaparte telah membawanya ke puncak kekuasaan politik Mesir pada permulaan abad ke-19. Dengan demikian ia telah berhasil membuat sejarah barunya dalam bidang politik, sejak itu di samping ia dikenal sebagai seorang tokoh militer ia juga dikenal sebagai negarawan dan politikus.10

Dalam mengendalikan pemerintahan, kelihatannya Muhammad ‘Ali Pasya juga memiliki kecakapan sehingga pemerintahannya segera mendapat pengakuan dari Sultan Turki Usmani pada tahun 1220/1805.11 Sementara itu untuk memperkuat kedudukannya ia berusaha menghancurkan penentang-penentangnya terutama kaum Mamluk. Untuk itu ia menjalankan politik tipu muslihat. Kaum Mamluk yang ada di Kairo diundang ke istananya di bukit Muqattam untuk berpesta, sebelum pesta selesai mereka dibunuh secara massal, tidak kurang dari 470 orang terbunuh dalam peristiwa itu. Sedangkan kaum Mamluk yang ada di

8 Harun, Pembaharuan, h. 34. 9Ibid.,

10 Abd. Mukti, Pemnaharuan, h. 32.

11 Yusran Asmuni, Penganatar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Islam:

(8)

luar kota Kairo diburu dan mana yang dapat dibunuh, sebagian kecil melarikan diri ke Nabia, Sudan, pada tahun 1226/1811, semua kekuatan kaum Mamkluk sudah habis.12

‘Ali Pasya melakukan perbuatan tersebut dikarenakan ia takut jika kekuasaannya direbut oleh kaum Mamluk, walaupun dalam hal ini kaum Mamluk tidak memiliki kecakapan di bidang pendidikan tetapi mereka memiliki keahlian di bidang militer dan hal itulah yang menjadi alasan mengapa ‘Ali Pasya membunuh mereka. Kaum Mamluk dikhawatirkan akan merebut kekuasaan ‘Ali Pasya karena mereka memiliki keahlian dalam bidang milter.

Sebagai kepala pemerintahan, karir Muhammad ‘Ali Pasya sangat menonjol. Pada permulaan dasawarsa kedua dari abad ke-19 ia sebagai negarawan dan politikus cukup berpengaruh di Afrika Utara dan dunia Arab. Pada tahun 1228/1813 dari Mesir ia mengirimkan satu ekspedisi atas permintaan Sultan Usmani untuk mematahkan gerakan Wahhabiah yang menjadi ancaman bagi kerajaan Turki Usmani ketika itu, dan ekspedisi ini dapat membebaskan kota Makkah dan Madinah dalam tahun itu juga. Pada tahun 1235/1820 Muhammad ‘Ali Pasya menaklukan Sudan karena kaum Mamluk yang melarikan diri dari Mesir ke negeri ini masih merupakan ancaman bagi pemerintahannya, di sini ia mendirikan pula sebuha kota yang bernama al-Khurthum.

b) Jamaluddin Al Afghani

Jamaluddin lahir di Afghanistan pada tahun 1839 dan meninggal di Istanbul paada tahun 1897. Informasi tentang Jamaludiin kecil tidak banyak diketahui. Tetapi kecermelangan karirnya sudah terungkap sejak dia berusia 20 tahun ketika menjadi pembantu pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Tiga tahun kemudian, Al Afghani sudah diangkat menjadi penasehat Sher Ali Khan, yakni pada tahun 1864. Beberapa tahun kemudia Muhammad A’zam menunjuknya sebagai Perdana Menteri, pada saat itu Inggris mulai melakukan intervensi (campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak baik itu orang, golongan, negara, dan sebagainya) soal politik dalam negeri Afghanistan. Intervensi ini melahirkan gejolak dalam negeri Afghanistan antara kubu pro dan

(9)

kontra. Al Afghani sendiri memilih untuk mendukung kubu yang melawan kubu aliansi Inggris. Sayangnya, kubu Al Afghani mengalami kekalahan, dengan dalih menjaga keselamatan dirinya, Al Afghani memilih untuk meninggalkan tanah kelahirannya menuju India pada tahun 1869.13

Sesampainya di India, Al Afghani mengalami nasib yang serupa. Dia merasa sepak terjangnya terbatasi dan diawasi karena India sudah berada dalam kendali Inggris. Kemudian Al Afghani pindah ke Kiro, Mesir pada tahun 1871, ppada mulanya Al Afghani menjauhi persoalan-persoalan politik yang terjadi di Mesir, dia hanya memusatkan perhatiannya pada kajian ilmiah dan sastra Arab yang bertempat di rumahnya. Menurut Muhammad Slam Madkur yang dikutip oleh Harun Nasution, pserta didik Al Afghani adalah orang-orang terkemuka mulai dari pegawai pemerintah, ahli pengadilam, dosen-dosen, dan mahasiswa dari Al Azhar dan perguruan tinggi lainnya. Di antara murid-muridnya yang paling terkenal adalah Muhammad Abduh dan Sa’ad Zaghul, pemimpin kemerdekaan Mesir.14

Pada perkembangan selanjutnya, ide-ide baru tentang patriotisme telah berkembang pesat di Mesir, sehingga ppada tahun 1879, terbentuklah partai politik dengan nama Al Hizb Al Wata dengan mengusung slogan “Mesir untuk orang Mesir”. Partai ini bertujuan untuk memperjuangkan pendidikan universal, kemerdekaan pers dan memasukkan unsur-unsur Mesir ke dalam bidang militer.15 Dengan menggunakan kendaraan politik ini, Al Afghani sukses mengusung putra mahkota, teman anggota Freemason Mesir, untuk menggulingkan tirani raja Khedewil Ismail. Namun keberhasilan ini berbuah pahit, karena kekuasaan Khedewi Taufik tidak berkutik terhadap intervensi Inggris. Akhirnya Khedewi Taufik mengusir Al Afghani dari Mesir dengan tuduhan mengadakan gerakan menentang Khedewi Taufik.16

Walaupun Al Afghani meninggalkan Mesir dalam kesan negatif diusir, tetapi pengaruhnya di Mesir tidak hilang begitu saja. Perannya dalam membangkitkan kegiatan berpikir berdampak luar biasa, bahkan menurut Madkur

13 Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), h. 51.

(10)

yang dikutip Harun Nasution, Mesir modern adalah hasil dari usaha-usaha Jamaluddin Al Afghani. Setelah keluar dari Mesir, Al Afghani berlabuh di Paris. Kemudian dia membentuk perkumpulan Al Urwah Al Wusqa. Dengan tujuan memperkuat umat Islam. Dari perkumpulan ini, lahir sebuah majalah dengan nama yang sama, kontennya adalah ide-ide Al Afghani.

Di antaranya adalah anjuran rekonsiliasi (perbuatan menyelesaikan perbedaan) antara Muslim Sunni dan Syia’h guna mewujudkan persatuan umat Islam Afghanistan. Salah satu artikelnya yang paling terkenal berjudul Al Wahda Al Islamiyah (Islamic Unity or Islamic Union).17 Penerbitan majalahnya kemudian dihentikan karena dunia Barat melarang pemasukannya ke negara-negara berkultur keislaman yang berada di bawah kekuasaannya.

Pada tahun 1889 Al Afghani mendapat undangan untuk datang ke Persia dalam rangka penyelesaian sengketa Rusia-Persia akibat politik Persia yang pro Inggris. Namun Al Afghani tidak sepaham dengan politik ini, dia pun mengambil jalan oposisi terhadap Syah Nasir Al Din. Al Afghani kemudian memiliki pandangan bahwa Syah perlu digulingkan, tetapi dia sudah dipaksa keluar dari Persia sebelum penyusunan konsep ini secara matang. Di tahun 1896 Syah dibunuh oleh pengikut Al Afghani.

Diusir dari beberapa Negara tidaklah mengurangi ketenaran Al Afghani, terbukti setelah dipaksa untuk meninggalkan Persia, Al Afghani mendapat undangan terhormat dari Sultan Abdul Hamid. Undangan ini terkait dengan rencana Sultan dalam menggalang bantuan dan persatuan Negara-negara Islam untuk membentengi dari kekuatan Eropa. Saat itu dominasi Eropa telah menjadikan Kerajaan Usmani dalam proses terdesak.

Namun kerjasama Al Afghani dan Sultan Abdul Hamid berujung pada kebuntuhan. Al Afghani di satu sisi adalah pemikir demokratis, sedangkan sultan Abdul Hamid masih berpegang pada otokrasi lama. Karena khawatir dengan pengaruh Al Afghani, istana pun mengambil kebijakan untuk membatasi ruang Al Afghani hanya dalam lingkup Istanbul. Di Istanbul inilah tempat pelabuhan terakhir dari seorang Jamaluddin Al Afghani yang wafat pada tahun 1897.18

(11)

c) Muhammad Abduh

Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 M (1265 H) di desa Mahallah Nasr, suatu perkampungan agraris termasuk Mesir Hilir di Provinsi Gharbiyyah,19 beliau wafat pada tahun 1905 M. ayahnya bernama Abduh Ibnu Hasan Kharillah, mempunyai silsilah keturunan dengan bangsa Turki dan ibunya Junainah binti Usman Al Kabir,20 mempunyai keturunan dengan Umar bin Khattab, khalifah kedua (Khulafaur Rasyidin)21.

Orangtuanya sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Abduh, ayahnya mendatangkan seorang guru untuk mengajar Muhammad Abduh secara privat di rumahnya untuk memberi pelajaran membaca dan menulis saat usia 10 tahun (1859 M), kemudian setelah dia pandai membaca dan menulis, dia diserahkan kepada seorang guru hafidz Alquran. Pada tahun 1861 M Muhammad Abduh telah hafal Alquran.22 Pada tahun 1862 M dia akan dikirm oleh ayahnya ke perguruan agama di Masjid Ahmadi yang terletak di desa Tanta. Hanya dalam waktu enam bulan dia belajar di sana kemudian berhenti, karena metode yang dipakai hanya mementingkan hafalan saja, tidak diikuti dengan pemahaman.23

Pada tahun 1282 H (1866 M) Muhammad Abduh menikah, kemudian setelah empat puluh hari setelah pernikahan, ayahnya tetap memaksa agar dia tetap kembali ke Tanta untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dia pun pergi, tetapi tidak ke Tanta melainkan ke desa Kanisah Urin, rumah saudara ayahnya (pamannya) bernama Syekh Darwisy Khadr.24

Muhammad Abduh seorang murid Darwish Khadr, dia mengahadapi kesulitan dalam belajar disebabkan karena dia harus menghadapi kitab Syarah Al Kafrawi. Dia putus asa dan mempunyai anggapan bahwa dia tidak dapat belajar dan tidak dapat belajar. Oleh karena itu dia bertekad untuk tidak meneruskan belajar. Dalam hal ini Syekh Darwis menghilangkan kesulitan ini dengan jalan memberikan kitab yang berhubungan dengan ajaran akhlak untuk dipelajari. Muhammad Abduh membaca kitab tersebut dan Syekh Darwisy menerangkannya,

19 Ahmad Amir Aziz, Pembaharuan Teologi: Perspektif Modernisasi Muhammad Abduh

dan Neo-Modernisme Fazlur Rahman (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 9. 20Ibid.,

21 Yusran, Penganatar h. 78. 22Ibid.,

(12)

Muhammad Abduh dapat memahami kitab itu dan kesulitan belajar terpecahkan. Kini Muhammad Abduh mempunyai keyakinan bahwa dia juga dapat belajar.25

Dengan bimbingan pamannya Muhammad Abduh kembali mencintai ilmu pengetahuan dan kembali ke perguruan Tanta. Setelah belajar di Tanta pada tahun 1866 dia meneruskan ke perguruan tinggi Al Azhar di Kairo, Muhammad Abduh juga merasakan bahwa sistem pengajarannya cenderung verbalistis (bersifat hafalan) dan dogmatis (bersifat mengikuti atau menjabarkan suatu ajaran tanpa kritik sama sekali). Murid tidak lebih hanya disuruh mengahafal dan menerima materi-materi yang diberikan gurunya. Namun Muhammad Abduh belajar filsafat Ibnu Sina dan logika Aristoteles melalui seorang ulama bernama Hasan At Thawil kemudian belajar sastra Arab kepada Syeikh Muhammad Al Basyuni. Di Al Azhar inilah dia bertemu dan berkenalan dengan Syaid Jamaluddin Al Afghani.26

Ketika Jamaluddin Al Afghani datang ke Mesir pada tahun 1871 M, untuk menetap di Mesir, Muhammad Abduh menjadi muridnya yang paling setia. Dia belajar filsafat di bawah bimbingan Afghani dan di masa inilah dia mulai membuat karangan untuk harian Al Ahram yang pada saat itu baru didirikan. Pada tahun 1877 M studinya selesai di Al Azhar dengan hasil yang sangat baik dan mendapat gelar Darajah Al Tsani (amat baik).27 Kemudian dia diangkat menjadi dosen ilmu kalam, sejarah, ilmu politik dan kesusastraan Arab di Universitas Darul Ulum. Karena hubungannya dengan Jamaluddin Al Afghani yang dituduh mengadakan gerakan menentang Khedewi Ismail juga anaknya yang bernama Khadewi Taufik maka Muhammad Abduh yang juga turut dipandang ikut campur dalam persoalan ini. Tuduhan itu misalnya akibat reaksi terhadap tindakan Muhammad Abduh dalam mendidik mahasiswa untuk tanggap siatusi sosial politik yang sedang berkembang dan kalau perlu mengoreksi terhadap penyimpangan yang dilakukan baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Muhammad Abduh sering menceritakan perjuangan gurunya Jamaluddin Al Afghani kepada dalam membangkitkan semangat cinta tanah air rakyat Mesir. Sehingga dia bentuk pula Al Hizb Al Wathan, Partai Nasional Mesir.

(13)

Kemudian Abduh dibuang keluar kota Kairo pada tahun 1879 M dan menjalani tahanan kota di Mahallat Nasr, kampug halamannya,28 tetapi setahun kemudian di tahun 1880 M oleh Perdana Menteri Riyadh Pasya, dia dibolehkan kembali ke Ibu Kota dan diangkat menjadi redaktur kemudian ketua redaktur surat kabar resmi pemerintahan Mesir yang baernama Al Waqa’il Mishriyah.29

Dalam peristiwa pemberontakan Urabi Pasya (1882 M) Muhammad Abduh ikut terlibat di dalamnya, sehingga ketika pemberontakan berakhir, dia diusir dari Mesir. Urabi Pasya ditangkap dan dibuang ke ri Langka seumur hidup sedangkan Abduh sebenarnya tidak setuju dengan politik Urabi Pasya dalam menentang pememrintah dan menuntut parlemen. Menurut Abduh, rakyat Mesir belum matang untuk kehidupan parlemen. Oleh karena itu yang diperlukan Mesir pada waktu itu bukan paarlemen tetapi pendidikan yang baik. Untuk kehidupan parlemen rakyat harus dicerdaskan dulu, dalam pembuangannya dia memilih Syiria di sini dia mendapat kesempatan untuk mangajar pada perguruan tinggi Sultaniah, kurang lebih satu tahun lamanya. Kemudian dai pergi ke Paris atas panggilan Sayid Jamaluddin Al Afghani, bersama-sama Jamaluddin Al Afghani disusunlah suatu gerakan yang bernama “Al Urwatul Wusqa” suatu gerakan kesadaran umat Islam sedunis. Untuk mencapai tujuan gerakan ini dibuatlah sebuah majalah dengan nama organisasi ini juga yaitu “Al Urwatul Wusqa”.30

2. Pemikiran-pemikiran Para Tokoh

TOKOH PEMIKIRAN

Muhammad ‘Ali Pasya (1765-1849)

1. Untuk meningkatkan hasil pertanian dengan mengadakan irigasi baru dan memasukkan tanaman kapas dari India dan Sudan juga mendatangkan ahli-ahli pertanian dari Eropa untuk memimpin pertanian;

2. Kemajuan ekonomi dalam perbaikan pengangkutan;

3. Dalam bidang pendidikan mendirikan

(14)

sekolah modern, mengirimkan pelajar-pelajar untuk menempuh pendidikan di Eropa, mengadakan penerjemahan buku-buku Eropa yang berisikan ilmu-ilmu modern ke dalam bahasa Arab

4. Dalam bidang publikasi ia menerbitkan sebuah surat kabar yang bernama Waqa’I al-2. Dalam bidang politik, Abduh menganggap perlu

adanya pembatas kekuasaan suatu pemerintahan dan perlunya kontrol sosial dari rakyat terhadap penguasa. Menurutnya Islam tidak memberikan kekuasaan kepada seseorang atau sekelompok orang untuk menindak orang lain atas dasar mandat (perintah) agama atau dari Tuhan. Bagi Abduh, pemimpin Negara adalah penguasa sipil yang diangkat dan diberhentikan oleh masyarakatnya sendiri yaitu melalui mekanisme tertentu;

3. Taklid dan ijtihad, Abduh mengecam taklid dan menyerukan ijtihad karena keterbelakangan dan kemunduran Islam disebabkan oleh pandangan sikap jumud dikalangan umat Islam. Sehingga tidak mau berpikir dinamis mencapai kemajuan. Untuk mendobrak kebekuan berpikir ini, umat Islam harus kembali pada ajaran-ajaran Islam yang sesungguhnya dan membersihkan segala macam bentuk bid’ah dan khufarat.

(15)

Nasional Mesir yang dirumuskannya. Dalam rumusan tersebut dinyatakan bahwa Parta Nasional adalah partai politik, bukan partai agama, yang keanggotaannya terdiri atas orang-orang dari berbagai kepercayaan dan mazhab. Jamaluddin Al Afghani

(1839 M-1897 M)

1. Pemikiran politik ada dua dua unsur utama yaitu kesatuan dunia Islam dan popularisme. Doktrin kesatuan politik yang dikenal sebagai Pan Islamisme dibesarkan oleh Al Afghani sebagai satu-satunya benteng pertahanan terhadap penduduk dan dominasi asing atas negeri-negeri muslim;

2. Menggunakan metode agitasi (hasutan) dalam dunia politik agar dapat menaklukan kekuasaan politik saat itu dan melahirkan revolusi;

3. Dalam bidang pendidikan, Al Afghani mengadakan diskusi bersama dengan murid-muridnya yang pada saat itu mereka haus ilmu, mengajarkan cara membaca dan menulis dan membuat majalah atau surat kabar;

4. Al Afghani mengajak masyarakat Mesir agar mau bersuara, dalam artian mau mengutarakan pendapatnya, yang mana masyarakat harus berani berkata “tidak” ketika seorang penguasa keluar daru batas-batas peraturan.

D. Aspek-aspek Pembaharuan Pemikiran Pendidikan Islam yang Dikembangkan

Adapun aspek-aspek pembaharuan yang dikembangkan di Mesir yaitu : 1. Aspek Kebebasan

(16)

Muhammad Abduh memperkecil ruang lingkunpnya, yaitu nasionalisme Arab saja dan dititikberatkan pada pendidikan. Kesadaran rakyat bernegara dapat disadarkan melalui pendidikan, surat kabar, majalah dan sebagainya.31

Salah satu tema yang beliau lontarkan dalam rangka memperjuangkan cita-cita pembaharuannya yaitu tentang manusia dan kebebasannya. Menurut Abduh, sesungguhnya manusia berbuat atas kemauannya sendiri namun daya, kemauan dan pengetahuan yang ada pada manusia tidaklah sempurna.

2. Aspek Kemasyarakatan

Pandangan Muhammad Abduh antara lain pemikiran-pemikirannya yang mengajak untuk mencintai diri sendiri, masyarakatnya dan negaranaya. Misalnya, dalam hal pernikahan, Muhammad Abduh pada dasarnya monogamy, sedangkan Alquran Surat an-Nisa:3 membolehkan poligami diikat dengan syarat adil yang tidak mungkin dilaksanakan oleh seorang manusia.32 Poligami juga hanya diperbolehkan dalam keadaan khusus misalnya ketika istrinya tidak mampu mengandung atau melahirkan. Sementara itu kalau poligami dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, maka menjadi haram hukumnya.33

3. Aspek Keagamaan

a) Taqlid

Muhammad Abduh tidak mengendaki adanya taqlid, Abduh menyerukan anti taqlid karena kenyataannya umat Islam telah mengalami kejumudan berpikir. Sikap sedemikian ini pada gilirannya akan melahirkan sikap antipati (penolakan) terhadap perkembangan sains modern. Sikap taqlid buta harus dipupus, sebaliknya kita harus membuka pintu ijtihad lebar-lebar sebab menurut Muhammad Abduh, perlu adanya penyegaran terhadap pemikiran-pemikiran klasik yang sudah tidak relevan dengan jaman sekarang ini yang serba modern dan instant.

b) Dzat Allah

31 Harun, Islam ditinjau dari Berbagai Aspek (Jakarta: UI Press, 1974), h. 64. 32 Yusran, Pengantar, h. 81.

(17)

Abduh adalah seorang yang tidak fanatic terhadap konsep teologi kelompok tertentu, dia mengomentari tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama, misalnya dalam hal Dzat Allah yang tidak terjangkau yang sering menimbulkan perbedaan paham yang terjadi di kalangan ulama. Bagi Abduh, yang wajib kita imaniadalah dzat alam semesta ini. Lebih dari itu merupakan masalah yang telah diselisihkan yang menyebabkan pertengkaran kronis di antara kaum Muslim sendiri. Maka yang seperti itu tidak perlu didalami lebih jauh untuk dipersengketakan.34

c) Akal dan Kemampuan

Akal merupakan satu-satunya ciri pembeda terpenting antara manusia dengan makhluk lainnya. Abduh menempatkan akal pada posisi yang istimewa, baik dalam hubungannya dengan akidah maupun syariat. Abduh berpendapat bahwa semua manusia dapat sampai pada pengetahuan bahwa Tuhan itu ada. Hal ini dapat dibuktikan cukup dengan fenomena lahiriah eksistensi alam raya ini.35

Selanjutnya akal juga dapat mengetahui sifat-sifat Tuhan. Tuhan haruslah bersifat tidak berpermulaan (Qadim) dalam wujudnya. Tuhan jelas mempunyai sifat kekal yaitu tidak mempunyai kesudahan dalam wujudnya. Kesemuannya bisa diterima oleh akal tanpa perantara wahyu, meskipun jumlah sifat-sifat Tuhan dapat diketahui secara langsung oleh akal, tetapi sejumlah sifat-sifat Tuhan yang lain tidak mampu diketahui oleh akal, atau ada sifat-sifat yang ditunjukkan oleh wahyu harus diterima oleh akal.

d) Penafsiran Alquran

Abduh dikenal sebagai pencetus ide “kebebasan rasionalitas” dalam menafsirkan Alquran yaitu bahwa kemukjizatan Alquran itu dalam perjalan waktunya dapat mengagumkan umat manusia disebabkan mampu membatalkan sesuatu (fakta atau pengetahun). Selain itu, Abduh menjadikan rasionalitas sebagai

tahkim atau penentu dalam berbagai penjelasannya tentang Alquran. Dia menggabungkan metode Islam dengan perdaban Barat.36

34Ibid., h. 34. 35Ibid., h. 43.

(18)

4. Aspek Pendidikan

Bagi Muhammad Abduh pendidikan bertujuan mendidik akal dan jiwa serta mengembangkannya hingga batas-batas yang memungkinkan anak didik mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Dari tujuan pendidikan di atas Muhammad Abduh nampaknya berkeinginan agar proses pendidikan dapat membentuk kepribadian muslim yang seimbang antara jasmani dan rohani serta intelektualitas dan moralitas. Jadi pendidikan bukan hanya mengembangkan aspek kognitif (akal) semata, tetapi juga harus menyelaraskan dengan aspek afektir (moral) dan psikomotorik (keterampilan). Pendidikan seyogiyanya dapat memperhatikan segi material dan spiritual sekaligus. Pandangan ini merupakan kritiknya terhadap situasi dan aktivitas pendidikan di Mesir pada waktu itu, dimana pendidikan hanya menekankan pengembangan salah satu aspek saja dengan mengabaikan aspek lainnya.

E. Pengaruh Pembaharuan Pemikiran Pendidikan Islam di Mesir pada Penyelenggaraan Pendidikan di Dunia Islam

Pembaharuan yang dilakukan oleh para tokoh Islam di Mesir juga berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan khususnya di dunia Islam, dalam hal ini penulis mengkaitkan dengan pendidikan Islam di Indonesia. Terkait tentang hal tersebut akan diuraikan lebih jelasnya sebagai berikut:

1) Tujuan Pendidikan

(19)

Ketika Indonesia merdeka rupanya Belanda tidak rela, dan dengan bantuan sekutu Inggris, Belanda hendak kembali mencengkramkan kakinya di bumi pertiwi ini. Maka K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa guna mempertahankan keutuhan Republik Indonesia. Tentu saja fatwa yang dikeluarkan K.H. Hasyim Asy’ari mendapat sambutan dari segala lapisan masyarakat. Bahkan Bung Tomo meminta dukungan dan menggunakan fatwa K.H. Hasyim Asy’ari untuk melalukan perlawanan bersenjata, melalui siara radio. Melalui radio pila Bung Tomo memompa semangat arek-arek Suroboyo, pemompaan semangat dari Bung Tomo ini mendapat darah segar ketika K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihadnya. Kisah heroik pertempuran 10 Nopember 1945 adalah perang terbesar dalam rangka mempertahankan kemerdekaan.37

Dengan adanya fatwa jihad yang dikemukakan K.H. Hasyim Asy’ari maka semangat para pejuang Indonesia melawan penjajah sangat berkobar. Terutama Bung Tomo sebagai pejuang di barisan terdepan yang terinspirasi dari sebuah fatwa jihad ini. Tujuan pendidikan dengan menekankan cinta tanah air dan semangat patriotisme akan tersampaikan. Dari pendidikan melahirkan seorang yang kuat jiwanya, tangguh dlam berjuang dan selalu menjadi tauladan bagi saudaranya.

2) Penintegrasian Ilmu Pengetahuan Modern (Barat) dan Ilmu Agama dalam Kurikulum

Salah satu yang memperjuangkan pembaharuan dalam bidang ini adalah Muhammad Ali Pasya dan Muhammad Abduh. Usaha yang dilakukan oleh Muhammad Abduh dalam melakukan pembaharuan ini demi terciptanya kesetaraan ilmu agama dan ilmu dunia adalah dengan memasukkan ilmu pengetahuan Barat ke dalam pembelajaran yang harus dikaji oleh pelajar-pelajar Mesir. Bahkan ia mengirimkan pelajar-pelajar Mesir ke Eropa untuk belajar ilmu Barat.

Dari beberapa tokoh Mesir tersebut implikasi dalam bidang pendidikan Islam di Indonesia yang selaras dengan pembaharuan Mesir juga diwujudkan oleh

(20)

tokoh Hamka. Sosok Hamka adalah ulama multiperan, selain sebagai ulama pejuang ia juga seorang pemikir. Di antaranya buah pikirannya adalah gagasan tentang pendidikn, bagi Hamka pendidikan adalah sarana untuk menganal apa yang dimaksud dengan baik dan buruk, tetapi selain beribadah kepada Allah juga berguna bagi sesama dan alam lingkungannya.

Dalam pandangan Hamka pendidikan di sekolah tidak bisa lepas dari pendidikan di rumah. Karena menurutnya harus ada komunikasi antara sekolah dengan rumah, antar orang tua dengan guru. Secara konvensional antara orang tua murid dengan saling bersilahrurahhim, sekaligus mendiskusikan tentang perkembangan anak didiknya. Masjid adalah sarana pertemuan tersebut, dengan adanya salat berjamaah di masjid antara guru, orang tua dan murid bisa saling berkomunikasi secara langsung. Pemikiran tersebut efektif di masyarakat pedesaan. Di era modern ini sekolah-sekolah tetap menjaga komunikasi dengan orang tua murid. Dengan menggunakan teknologi komunikasi telepon maupun internet komunikasi antara guru dan orang tua terwujud dengan baik.38

3) Pendidikan yang Universal

Dunia pendidikan pada periode pertama Islam, khususnya pada pada masa Nabi terdapat persamaan dalam kesempatan mrnuntut ilmu, tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan tidak segan untuk lansung bertanya dan mengajukan pertanyaan kepada Nabi, walaupun dalam penjelasannya (contoh Aisyah) yang ikut berperan menjelaskan persoalan yang bersifat khusus perempuan, terutama bagi perempuan yang malu bila dijelaskan oleh Rasulullah saw. Dengan demikian, eksistensi perempuan sejak era awal telah terlibat aktif dalam proses pembelajaran, meskipun hanya sebatas pendidikan non formal.

Dalam masa selanjutnya tidak ditemukan data sejarah yang menyebutkan adanya kesempatan atau kondisi yang sangat mendukung terjadinya belajar mengajar, sebagaimana yang terjadi pada periode pertama. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada tokoh perempuan yang muncul dan menguasai ilmu dalam berbagai bidang seperti tafsir, Hadis, tasawuf, fiqh, kedokteran, syair dan

(21)

sebagainya. Akan tetapi nama-nama perempuan di berbagai bidang keilmuan tersebut sering tidak terliput.39

BAB III PENUTUP

A. Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa secara garis besar, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya proses pembaharuan pendidikan Islam yaitu:

a) Faktor kebutuhan pragmatis umat Islam yang sangat membutuhkan satu sistem yang benar-benar bisa dijadikan rujukan;

b) Agama Islam sendiri menyuruh umat Islam untuk selalu berfikir serta selalu membaca dan menganalisis sesuatu;

(22)

c) Adanya kontak Islam dengan Barat.

B. Secara historis kesadaran pembaharuan dan modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari datangnya Napoleon Bonaparte di Alexandria, Mesir pada tanggal 2 Juli 1798 M. Pembaharuan pendidikan di daerah Mesir ini dilakukan oleh beberapa tokoh di antaranya Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad ‘Ali Pasya.

C. Beberapa dasawarsa setelah gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh para pemikir Mesir di atas, negeri Mesir dijadikan contoh yang paling menonjol mengenai dinamika keberagaam, hubungan antar agama dan masyarakat, tantangannya pada negara dan dampaknya pada proses demokratis.

D. Dalam dekade selanjutnya gerakan dan pemikran modernisasi Islam di Mesir menampakkan perkembangan yang pesat dengan munculnya berbagai gagasan dan gerakan yang berbeda dengan sebelumnya dalam berbagai bidang misalnya:

a) Bidang sosial politik dengan munculnya gagasan Trias Politika, patriotisme, emansipasi wanita dan juga persatuan umat Islam seluruh dunia dalam rangka membendung pengaruh-pengaruh dunia Barat yang berusaha merongrong Islam dan kaum muslimin yang diwujudkan dengan berbagai gerakan sosial;

b) Bidang pendidikan dengan memunculkan gagasan bahwa semua bangsa Mesir harus mengenyam pendidikan secara merata, yang diupayakan lewat penataan kembali sistem pendidikan;

c) Bidang agama dan teologi dengan munculnya gagasan pemurnian ajaran Islam, menghilangkan kejumudan berpikir dan sikap fatalistik yang merupakan penyebab pokok kemunduran umat Islam dan lain-lain.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Ali Mukti, 1995, Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, Jakarta: Djambatan Asmuni Yusran, 1998, Penganatar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam

Islam: Dirasah Islamiah III, Jakarta: Raja Grafindo Persada

Aziz Ahmad Amir, 2009, Pembaharuan Teologi: Perspektif Modernisasi Muhammad Abduh dan Neo-Modernisme Fazlur Rahman, Yogyakarta: Teras

Mukti Abd., 2008, Pembaharuan Lembaga Pendidikan di Mesir: Studi Tentang Sekolah-sekolah Modern Muhammad Ali Pasya, Bandung: Citapustaka Media Perintis Nasution Harun, 1996, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan,

(24)

_____________ 1987, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazillah, Jakarta: UI-Press

Rusli Ris’an, 2013, Pembaharuan Pemikiran Modern Dalam Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada

Referensi

Dokumen terkait

keagamaan mereka telah jauh dari nilai keagamaan yang murni seperti diajarkan Nabi. Kedua , hilangnya semangat induktif, un tuk menegmbalikan kejayaan Islam,

Pembaharuan pemikiran Islam Muhammad Abduh bertumpuk pada tiga hal yakni pembebasan pemikiran ummat islam terhadap kebiasaan taqlid sehingga akal tidak tunduk pada

Pembaharuan pemikiran Islam Muhammad Abduh bertumpuk pada tiga hal yakni pembebasan pemikiran ummat islam terhadap kebiasaan taqlid sehingga akal tidak tunduk pada

Dalam perkembangan pemikiran modern di dunia Islam, salah satu tokoh yang pemikirannya terus menjadi perbincangan dan acuan dalam menyoroti Islam sebagai pandangan

Untuk meningkatkan intelektual umat Islam, beliau melihat bahwa perguruan tinggi adalah sarana terbaik mencetak ilmuwan dan tenaga ahli yang diharapkan melakukan

Sebuah kekhalifahan yang berdiri lama dan terbesar dalam sejarah kekhalifahan Islam, Kerajaan Turki Usmani adalah contoh dari kekuasaan Islam yang menyebar

Pada waktu yang sama mereka juga memberi perhatian besar pada Ilmu bahasa, sastra, dan agama untuk memeliharan pemikiran dan budaya Arab Islam dari pemikiran asing.. Dalam hal

Untuk memahami iman yang rasional, ada baiknya merujuk kepada pemikiran Muhammad Abduh. Menurut Abduh, kemajuan agama Islam itu tertutup oleh umat Islam sendiri, di mana umat