• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktek Kerja Lapangan Puskesmas Porsea

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Praktek Kerja Lapangan Puskesmas Porsea"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang menyelenggarakan upaya kesehatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Konsep kesatuan upaya kesehatan ini menjadi pedoman dan pegangan bagi semua fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia termasuk puskesmas(Anonimc, 2014).

Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu Ruang obater dalam menjalani pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten apoteker (Anonimc, 2014).

Semua tenaga kefarmasian di puskesmas harus selalu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam rangka menjaga dan meningkatkan kompetensinya. Upaya peningkatan kompetensi tenaga kefarmasian dapat

dilakukan melalui pengembangan profesional berkelanjutan(Anonimc, 2014).

Pendidikan dan pelatihan adalah salah suatu proses atau upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan di bidang kefarmasian atau bidang yang berkaitan dengan kefarmasian secara berkesinambungan untuk mengembangkan potensi dan produktivitas tenaga kefarmasian secara optimal. Puskesmas dapat menjadi tempat pelaksanaan program pendidikan, pelatihan serta penelitian dan pengembangan bagi calon tenaga kefarmasian dan tenaga kefarmasian unit lain (Anonimc, 2014).

(2)

pemberdayaan masyarakat, dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat

(Anonimc, 2014).

Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Tuntutan pasien dan masyarakat akan peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari

paradigma lama yang berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi

paradigma baru yang berorientasi pada pasien (patient oriented) dengan filosofi

pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) (Anonimc, 2014).

Akademi Farmasi Yayasan Tenaga Pembangunan Arjuna Pintubosi-Laguboti adalah pendidikan yang menciptakan farmasis untuk menunjang profesionalis farmasis Lulusan Akademi Farmasi Arjuna harus melakukan PKL di Fasilitas Kefarmasian dalam hal ini puskesmas.

Berdasarkan hal tersebut diatas, pelaksanaan PKL mahasiswa Akademi Farmasi Yayasan Tenaga Pembangunan Arjuna Pintubosi-Laguboti bekerja sama dengan UPT. Puskesmas Porsea untuk memberikan kesempatan kepada calon Ahli Madya Farmasi (AMF) untuk mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang dilaksanakan mulai tanggal 16 Maret 2015 sampai dengan 11 April 2015.

1.2 Tujuan dan manfaat 1.2.1 Tujuan PKL

Adapun tujuan dilaksanakannya praktek kerja lapangan ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perencanaan perbekalan farmasi di UPT. Puskesmas Porsea

2. Untuk mengetahui pengadaan perbekalan farmasi di UPT. Puskesmas Porsea

3. Untuk mengetahui penyimpanan perbekalan farmasi di UPT. Puskesmas Porsea

4. Untuk mengetahui pendistribusian perbekalan farmasi di UPT. Puskesmas Porsea

(3)

6. Untuk mengetahui pencatatan dan pelaporan perbekalan farmasi di UPT. Puskesmas Porsea

1.2.2 Manfaat PKL

Manfaat yang diperoleh dari hasil pelaksanaan PKL adalah sebagai sumber informasi tentang perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pelayanan, pencatatan dan pelaporan di UPT. Puskesmas Kecamatan Porsea.

BAB II

TINJAUAN UMUM PUSKESMAS

(4)

Menurut Permenkes No 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Anonimd, 2014).

2.2 Prinsip Penyelenggaraan, Tugas, Fungsi dan Wewenang Puskesmas Adapun Prinsip Penyelenggaraan, Tugas, Fungsi dan Wewenang puskesmas menurut peraturan Menteri Kesehatan RI No. 75 tahun 2014, yaitu sebagai berikut:

2.2.1 Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas Prinsip penyelenggaraan puskesmas meliputi:

a. Paradigma sehat

b. Pertanggungjawaban wilayah

c. Kemandirian masyarakat

d. Pemerataan

e. Teknologi tepat guna

f. Keterpaduan dan kesinambungan

Berdasarkan prinsip paradigma sehat puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi resiko kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat (Anonimd, 2014).

2.2.2 Tugas Puskesmas

Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat.

Dalam melaksanakan tugas puskesmas menyelenggarakan fungsi: a. Penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat (UKM) tingkat

pertama di wilayah kerjanya.

(5)

pertama di wilayah kerjanya(Anonimd, 2014). 2.2.3 Wewenang Puskesmas

1. Penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat (UKM) tingkat pertama di wilayah kerjanya. Dalam menyelenggarakan fungsi, puskesmas berwenang untuk:

a. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan masyarakat dan analisis kebutuhanpelayanan yang diperlukan.

b. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan.

c. Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan.

d. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama dengan sektor lain terkait.

e. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat.

f. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia puskesmas.

g. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan. h. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses,

mutu, dan cakupan pelayanan kesehatan.

i. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan penyakit(Anonimd, 2014).

2. Penyelenggaraan upaya kesehatan perseorangan (UKP) tingkat pertama di wilayah kerjanya. Dalam menyelenggarakan fungsi, puskesmas berwenang untuk:

a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif, berkesinambungan dan bermutu.

b. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif.

c. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

d. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung.

e. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan kerjasama inter dan antar profesi.

f. Melaksanakan rekam medis.

(6)

h. Melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.

i. Mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya.

j. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem rujukan(Anonimd, 2014).

2.3 Persyaratan Puskesmas

Pendirian puskesmas harus memenuhi ketentuan-ketentuan atau persyaratan yang berlaku berdasarkan undang-undang Peraturan Menteri Kesehatan republik Indonesia No. 75 Tahun 2014 dan harus dipenuhi guna mendapatkan izin agar puskesmas yang direncanakan dapat beroperasi sesuai peraturan yang berlaku(Anonimd, 2014).

Adapun persyaratan dalam pendirian puskesmas diantaranya, yaitu: 1. Puskesmas harus didirikan pada setiap Kecamatan.

2. Dalam kondisi tertentu, pada 1 (satu) kecamatan dapat didirikan lebih dari 1 (satu) puskesmas. Kondisi tertentu ditetapkan berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan, jumlah penduduk dan aksebilitas.

3. Pendirian puskesmas yang harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, peralatan kesehatan, ketenagaan, kefarmasian, dan laboratorium (Anonimd, 2014).

2.3.1 Lokasi Puskesmas

Lokasi pendirian Puskesmas harus memenuhi persyaratan: a. Geografis h. Kondisi lainnya(Anonimd, 2014).

Pendirian puskesmas harus memperhatikan ketentuan teknis pembangunan bangunan gedung negara(Anonimd, 2014).

2.3.2 Bangunan Puskesmas

Bangunan puskesmas harus memenuhi persyaratan yang meliputi:

a. Persyaratan administratif, persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja, serta persyaratan teknis bangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(7)

kesehatan serta kemudahan dalam memberi pelayanan bagi semua orang termasuk yang berkebutuhan khusus, anak-anak dan lanjut usia (Anonimd, 2014).

Selain bangunan puskesmas sebagaimana dimaksud, setiap puskesmas harus memiliki bangunan rumah dinas tenaga kesehatan. Bangunan rumah dinas tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud didirikan dengan mempertimbangkan aksesibilitas tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan. Puskesmas harus memiliki prasarana yang berfungsi paling sedikit terdiri atas:

10. Sistem transportasi vertikal untuk bangunan lebih dari 1 (satu) 11. Lantai

12. Kendaraan puskesmas keliling

13. Kendaraan ambulans(Anonimd, 2014).

Bangunan dan prasarana harus dilakukan pemeliharaan, perawatan, dan pemeriksaan secara berkala agar tetap layak fungsi(Anonimd, 2014).

2.3.3 Peralatan Puskesmas

Peraturan Menteri Kesehatan RI No.75 Tahun 2014, peralatan kesehatan di puskesmas harus memenuhi persyaratan:

a. Standar mutu, keamanan, keselamatan.

b. Memiliki izin edar sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan. c. Diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh institusi penguji dan

pengkalibrasi yang berwenang(Anonimd, 2014). 2.3.4 Personalia Puskesmas

(8)

pertama lainnya di wilayah kerja, dan pembagian waktu kerja. Jenis Tenaga Kesehatan paling sedikit terdiri atas:

a. Dokter atau dokter layanan primer b. Dokter gigi

c. Perawat d. Bidan

e. Tenaga kesehatan masyarakat f. Tenaga kesehatan lingkungan g. Ahli teknologi laboratorium medik h. Tenaga gizi

i. Tenaga kefarmasian(Anonimd, 2014).

Tenaga non kesehatan harus dapat mendukung kegiatan ketatausahaan, administrasi keuangan, sistem informasi, dan kegiatan operasional lain di Puskesmas. Tenaga kesehatan di puskesmas harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan, standar prosedur operasional, etika profesi, menghormati hak pasien, serta mengutamakan kepentingan dan keselamatan pasien dengan memperhatikan keselamatan dan kesehatan dirinya dalam bekerja. Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas harus memiliki surat izin praktik sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 46 tanun 2013(Anonimd, 2014).

Pelayanan kefarmasian di puskesmas harus dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian di puskesmas dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan(Anonimd, 2014).

Pelayanan laboratorium di puskesmas harus memenuhi kriteria ketenagaan, sarana, prasarana, perlengkapan dan peralatan. Pelayanan laboratorium di puskesmas dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan(Anonimd, 2014).

2.4 Perizinan dan Registrasi Puskesmas 2.4.1 Perizinan Puskesmas

Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan No. 75 Tahun 2014 bahwa, setiap puskesmas wajib memiliki izin untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan(Anonimd, 2014).

(9)

izin. Izin diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Izin berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan(Anonimd, 2014).

Untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 26, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan permohonan tertulis kepada Bupati/Walikota melalui satuan kerja pada pemerintah daerah kabupaten/kota yang menyelenggarakan perizinan terpadu dengan melampirkan dokumen:

a. Fotokopi sertifikat tanah atau bukti lain kepemilikan tanah yang sah. b. Fotokopi izin mendirikan bangunan (IMB).

c. Dokumen pengelolaan lingkungan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

d. Surat keputusan dari Bupati/Walikota terkait kategori puskesmas.

e. Studi kelayakan untuk puskesmas yang baru akan didirikan atau akan dikembangkan.

f. Profil puskesmas yang meliputi aspek lokasi, bangunan, prasarana, peralatan kesehatan, ketenagaan, dan pengorganisasian untuk puskesmas yang mengajukan permohonan perpanjangan izin.

g. Persyaratan lainnya sesuai dengan peraturan daerah setempat (Anonimd, 2014).

Satuan kerja pada pemerintah daerah harus menerbitkan bukti penerimaan berkas permohonan yang telah lengkap atau memberikan informasi apabila berkas permohonan belum lengkap kepada pemohon yang mengajukan permohonan izin dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) hari kerja sejak berkas permohonan diterima(Anonimd, 2014).

Dalam hal berkas permohonan belum lengkap, pemohon harus mengajukan permohonan ulang kepada pemberi izin. Dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah bukti penerimaan berkas diterbitkan, pemberi izin harus menetapkan untuk memberikan atau menolak permohonan izin (Anonimd, 2014).

Dalam hal terdapat masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kurun waktu, pemberi izin dapat memperpanjang jangka waktu pemrosesan izin paling lama 14 (empat belas) hari kerja dengan menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada pemohon(Anonimd, 2014).

(10)

(Anonimd, 2014).

Dalam hal permohonan izin ditolak, pemberi izin harus memberikan alasan penolakan yang disampaikan secara tertulis kepada pemohon. Apabila pemberi izin tidak menerbitkan izin atau tidak menolak permohonan hingga berakhirnya batas waktu, permohonan izin dianggap diterima(Anonimd, 2014). 2.4.2 Registrasi Puskesmas

Setiap puskesmas yang telah memiliki izin wajib melakukan registrasi. Registrasi diajukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada Menteri setelah memperoleh rekomendasi dari Dinas Kesehatan Provinsi. Registrasi diajukan dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan setelah izin puskesmas ditetapkan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan surat pemohonan rekomendasi Registrasi puskesmas kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan melampirkan izin puskesmas dan surat keputusan dari Bupati/Walikota terkait jenis puskesmas berdasarkan karakteristik wilayah kerjanya dan kemampuan penyelenggaraan rawat inapnya (Anonimd, 2014).

Dinas kesehatan provinsi melakukan verifikasi dan penilaian kelayakan puskesmas dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah surat permohonan rekomendasi registrasi puskesmas diterima(Anonimd, 2014).

Dalam hal puskesmas memenuhi penilaian kelayakan, dinas kesehatan provinsi memberikan surat rekomendasi Registrasi puskesmas, paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah melakukan penilaian(Anonimd, 2014).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan surat permohonan registrasi puskesmas kepada Menteri dengan melampirkan:

a. Fotokopi izin puskesmas. b. Profil puskesmas.

c. Laporan kegiatan puskesmas sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan terakhir. d. Surat keputusan dari Bupati/Walikota terkait kategori puskesmas. e. Rekomendasi dinas kesehatan provinsi(Anonimd, 2014).

Menteri menetapkan nomor registrasi berupa kode puskesmas paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak surat permohonan registrasi puskesmas diterima. Kode puskesmas diinformasikan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota dan dinas kesehatan provinsi(Anonimd, 2014).

2.5 Penyelenggaraan Puskesmas

(11)

setiap puskesmas mempunyai penyelenggaraan Kesehatan. 2.5.1 Kedudukan dan Organisasi Puskesmas

1. Kedudukan Puskesmas

Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

a. Puskesmas dipimpin oleh seorang Kepala puskesmas.

b. Kepala puskesmas merupakan seorang tenaga kesehatan dengan kriteria sebagai berikut:

1) Tingkat pendidikan paling rendah sarjana dan memiliki kompetensi manajemen kesehatan masyarakat.

2) Masa kerja di puskesmas minimal 2 (dua) tahun. 3) Telah mengikuti pelatihan manajemen Puskesmas.

c. Kepala puskesmas bertanggungjawab atas seluruh kegiatan di puskesmas. d. Dalam melaksanakan tanggung jawab kepala puskesmas merencanakan dan

mengusulkan kebutuhan sumber daya puskesmas kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.

e. Dalam hal di puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil tidak tersedia seorang tenaga kesehatan maka kepala puskesmas merupakan tenaga kesehatan dengan tingkat pendidikan paling rendah diploma tiga (Anonimd, 2014).

2. Organisasi Puskesmas

Organisasi puskesmas disusun oleh dinas kesehatan kabupaten/kota berdasarkan kategori, upaya kesehatan dan beban kerja puskesmas. Organisasi puskesmas paling sedikit terdiri atas:

a. Kepala puskesmas.

b. Kepala sub bagian tata usaha.

c. Penanggung jawab UKM dan keperawatan kesehatan masyarakat.

d. Penanggung jawab UKP, kefarmasian dan laboratorium.

e. Penanggungjawab jaringan pelayanan puskesmas dan jejaring

fasilitas pelayanan kesehatan(Anonimd, 2014). 2.5.2 Upaya Kesehatan Puskesmas

(12)

dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan. Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan(Anonimd, 2014).

Upaya kesehatan masyarakat esensial meliputi: 1. Pelayanan promosi kesehatan.

2. Pelayanan kesehatan lingkungan.

3. Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana.

4. Pelayanan gizi.

5. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit(Anonimd, 2014).

Upaya kesehatan masyarakat esensial harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas untuk mendukung pencapaian standar pelayanan minimal kabupaten/kota bidang kesehatan(Anonimd, 2014).

Upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing puskesmas(Anonimd, 2014).

Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan dalam bentuk:

a. Rawat jalan

b. Pelayanan gawat darurat

c. Pelayanan satu hari (one day care) d. Home care

e. Rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan (Anonimd, 2014).

Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan sesuai dengan standar prosedur operasional dan standar pelayanan. Untuk melaksanakan upaya kesehatan puskesmas harus menyelenggarakan:

1) Manajemen Puskesmas

(13)

terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang sesuai dengan azas penyelenggaraan puskesmas, perlu ditunjang oleh manajemen puskesmas yag baik. Manajemen puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematik untuk menghasilkan luaran puskesmas yang efektif dan efisien. Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh puskesmas membentuk fungsi-fungsi manajemen (Anonime, 2014).

Ada tiga fungsi manajemen puskesmas yang dikenal yakni perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, serta pengawasan dan pertanggungjawaban. Semua fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan(Anonime, 2014).

a) Perencanaan

Perencanaan adalah proses penyusunan rencana tahunan puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja puskesmas. Rencana tahunan puskesmas dibedakan atas dua macam. Pertama, rencana tahunan upaya kesehatan wajib. Kedua, rencana tahunan upaya kesehatan pengembangan (Anonime, 2014).

1. Perencanaan Upaya Kesehatan Wajib

Jenis upaya kesehatan wajib adalah sama untuk setiap puskesmas, yakni promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana, perbaikan gizi masyarakat, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular serta pengobatan(Anonime, 2014).

2. Perencanaan Upaya Kesehatan Pengembangan

Jenis upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah ada, atau upaya inovasi yang dikembangkan sendiri. Upaya laboratorium medik, upaya laboratorium kesehatan masyarakat dan pencatatan dan pelaporan tidak termasuk pilihan karena ketiga upaya ini merupakan upaya penunjang yang harus dilakukan untuk kelengkapan upaya-upaya puskesmas(Anonime, 2014).

b) Pelaksanaan dan Pengendalian

(14)

c) Pengawasan dan Pertanggungjawaban

Pengawasan dan pertanggungjawaban adalah proses memperoleh kepastian atas kesesuaian penyelenggaraan dan pencapaian tujuan puskesmas terhadap rencana dan peraturan perundangan-undangan serta kewajiban yang berlaku(Anonime, 2014).

2) Pelayanan Kefarmasian

Peraturan Menteri Kesehatan No 30 Tahun 2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di puskesmas, mengatakan bahwa untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di puskesmas yang berorientasi kepada pasien diperlukan suatu standar yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pelayanan kefarmasian (Anonimc, 2014).

Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien(Anonimc, 2014).

Pengaturan standar pelayanan kefarmasian di puskesmas bertujuan untuk: a. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian

b. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian

c. Melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety)(Anonimc, 2014). Standar pelayanan kefarmasian di puskesmas meliputi standar:

1. Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai

Pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai meliputi: a) Perencanaan kebutuhan

Perencanaan merupakan proses kegiatan seleksi obat dan bahan medis habis pakai untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan puskesmas. Tujuan perencanaan adalah untuk mendapatkan:

1) Perkiraan jenis dan jumlah obat dan bahan medis habis pakai yang mendekati kebutuhan.

2) Meningkatkan penggunaan obat secara rasional.

3) Meningkatkan efisiensi penggunaan obat(Anonimc, 2014).

Perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai di puskesmas

(15)

Proses seleksi obat dan bahan medis habis pakai dilakukan dengan mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi obat periode sebelumnya, data mutasi obat, dan rencana pengembangan. Proses seleksi obat dan bahan medis habis pakai juga harus mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional. Proses seleksi ini harus melibatkan tenaga kesehatan yang ada di puskesmas seperti dokter, dokter gigi, bidan, dan perawat, serta pengelola program yang berkaitan dengan pengobatan (Anonimc, 2014).

Proses perencanaan kebutuhan obat per tahun dilakukan secara berjenjang (bottom-up). Puskesmas diminta menyediakan data pemakaian obat dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) (Anonimc, 2014).

Selanjutnya Gudang Farmasi Kabupaten/Kota akan melakukan kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan obat puskesmas di wilayah kerjanya, menyesuaikan pada anggaran yang tersedia dan memperhitungkan waktu kekosongan Obat, buffer stock, serta menghindari stok berlebih(Anonimc, 2014). b) Permintaan

Tujuan permintaan obat dan bahan medis habis pakai adalah memenuhi kebutuhan obat dan bahan medis habis Pakai di puskesmas, sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah dibuat. Permintaan diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat (Anonimc, 2014).

c) Penerimaan

Penerimaan obat dan bahan medis habis pakai adalah suatu kegiatan dalam menerima obat dan bahan medis habis pakai dari Gudang Farmasi Kabupaten/Kota sesuai dengan permintaan yang telah diajukan (Anonimc, 2014).

(16)

Petugas penerimaan wajib melakukan pengecekan terhadap obat dan bahan medis habis pakai yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan/peti, jenis dan jumlah obat, bentuk obat sesuai dengan isi dokumen (LPLPO), ditandatangani oleh petugas penerima, dan diketahui oleh Kepala puskesmas. Bila tidak memenuhi syarat, maka petugas penerima dapat mengajukan keberatan. Masa kedaluwarsa minimal dari Obat yang diterima disesuaikan dengan periode

pengelolaan di Puskesmas ditambah satu bulan(Anonimc, 2014).

d) Penyimpanan

Penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai merupakan suatu kegiatan

pengaturan terhadap obat yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin, sesuai dengan

persyaratan yang ditetapkan(Anonimc, 2014).

Tujuannya adalah agar mutu obat yang tersedia di puskesmas dapat dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan(Anonimc, 2014).

Penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai dengan mempertimbangkan hal-hal yang meliputi bentuk dan jenis sediaan, stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban), mudah atau tidaknya meledak/terbakar, narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus (Anonimc, 2014).

e) Pendistribusian

Pendistribusian obat dan bahan medis habis pakai merupakan kegiatan

pengeluaran dan penyerahan obat dan bahan medis habis pakai secara merata dan

teratur untuk memenuhi kebutuhan sub unit/satelit farmasi puskesmas dan

jaringannya(Anonimc, 2014).

Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan obat sub unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja puskesmas dengan jenis, mutu, jumlah dan waktu yang tepat. Sub-sub unit di puskesmas dan jaringannya antara lain:

Sub unit pelayanan kesehatan di dalam lingkungan puskesmas yaitu puskesmas

pembantu, puskesmas Keliling, posyandu, polindes (Anonimc, 2014).

(17)

sedangkan pendistribusian ke jaringan puskesmas dilakukan dengan cara penyerahan obat sesuai dengan kebutuhan (floor stock)(Anonimc, 2014).

f) Pengendalian

Pengendalian obat dan bahan medis habis pakai adalah suatu kegiatan

untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan

program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan

kekurangan/kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan dasar(Anonimc, 2014). Tujuannya adalah agar tidak terjadi kelebihan dan kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan dasar. Pengendalian obat terdiri dari:

1) Pengendalian persediaan. 2) Pengendalian penggunaan.

3) Penanganan obat hilang, rusak, dan kadaluwarsa(Anonimc, 2014).

g) Pencatatan, pelaporan, pengarsipan.

Pencatatan, pelaporan, dan pengarsipan merupakan rangkaian kegiatan

dalam rangka penatalaksanaan obat dan bahan medis habis pakai secara tertib,

baik obat dan bahan medis habis pakai yang diterima, disimpan, didistribusikan

dan digunakan di Puskesmas atau unit pelayanan lainnya. Tujuan pencatatan, pelaporan dan pengarsipan adalah:

1) Bukti bahwa pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai telah

dilakukan.

2) Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian.

Sumber data untuk pembuatan laporan(Anonimc, 2014).

h) Pemantauan dan evaluasi pengobatan

Pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat dan bahan medis habis -pakai dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk:

1) Mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam

pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai sehingga dapat menjaga kualitas maupun pemerataan pelayanan;

2) Memperbaiki secara terus-menerus pengelolaan obat dan bahan medis

(18)

3) Memberikan penilaian terhadap capaian kinerja pengelolaan (Anonimc, 2014).

2. Pelayanan farmasi klinik. Pelayanan farmasi, meliputi:

a) Pengkajian resep, penyerahan obat, dan pemberian informasi obat

Kegiatan pengkajian resep dimulai dari seleksi persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap

maupun rawat jalan (Anonimc, 2014).

Persyaratan administrasi meliputi yaitu nama, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien, tanggal resep, ruangan/unit asal resep, dan paraf dokter

(Anonimc, 2014).

Persyaratan farmasetik meliputi yaitu bentuk dan kekuatan sediaan, dosis dan jumlah obat, stabilitas dan ketersediaan, aturan dan cara penggunaan,

inkompatibilitas (ketidakcampuran obat) (Anonimc, 2014).

Persyaratan klinis meliputi yaitu ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat, duplikasi pengobatan, alergi, interaksi dan efek samping obat,

kontra indikasi, efek adiktif (Anonimc, 2014).

Kegiatan penyerahan (Dispensing) dan pemberian informasi obat

merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap menyiapkan/meracik obat, memberikan label/etiket, menyerahan sediaan farmasi dengan informasi

yang memadai disertai pendokumentasian(Anonimc, 2014).

Tujuan Pengkajian resep, penyerahan obat, dan pemberian informasi obat yaitu:

1) Pasien memperoleh obat sesuai dengan kebutuhan klinis/pengobatan.

2) Pasien memahami tujuan pengobatan dan mematuhi intruksi pengobatan

(Anonimc, 2014).

b) Pelayanan Informasi Obat (PIO)

Merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Ruang obatr untuk memberikan informasi secara akurat, jelas dan terkini kepada dokter, ruang

obater, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien (Anonimc, 2014).

Tujuan pelayanan informasi obat:

1) Menyediakan informasi mengenai obat kepada tenaga kesehatan lain di

(19)

2) Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan yang berhubungan dengan obat (contoh: kebijakan permintaan obat oleh jaringan dengan mempertimbangkan stabilitas, harus memiliki alat penyimpanan yang memadai).

3) Menunjang penggunaan obat yang rasional(Anonimc, 2014).

Kegiatan pelayanan informasi obat:

a. Memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara pro

aktif dan pasif.

b. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui telepon, surat atau tatap muka.

c. Membuat buletin, leaflet, label obat, poster, majalah dinding dan

lain-lain.

d. Melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat inap,

serta masyarakat.

e. Melakukan pendidikan dan/atau pelatihan bagi tenaga kefarmasian dan

tenaga kesehatan lainnya terkait dengan obat dan bahan medis habis pakai.

f. Mengoordinasikan penelitian terkait obat dan kegiatan pelayanan

kefarmasian (Anonimc, 2014).

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan yaitu sumber informasi obat, tempat,

tenaga, perlengkapan (Anonimc, 2014).

c) Konseling

Merupakan suatu proses untuk mengidentifikasi dan penyelesaian masalah pasien yang berkaitan dengan penggunaan obat pasien rawat jalan dan rawat inap, serta keluarga pasien (Anonimc, 2014).

Tujuan dilakukannya konseling adalah memberikan pemahaman yang benar mengenai obat kepada pasien/keluarga pasien antara lain tujuan pengobatan, jadwal pengobatan, cara dan lama penggunaan obat, efek samping, tanda-tanda toksisitas, cara penyimpanan dan penggunaan obat (Anonimc, 2014).

(20)

1) Membuka komunikasi antara ruang obater dengan pasien.

2) Menanyakan hal-hal yang menyangkut o0bat yang dikatakan oleh dokter kepada pasien dengan metode pertanyaan terbuka (open- ended question), misalnya apa yang dikatakan dokter mengenai obat, bagaimana cara pemakaian, apa efek yang diharapkan dari obat tersebut, dan lain-lain. 3) Memperagakan dan menjelaskan mengenai cara penggunaan obat.

Verifikasi akhir, yaitu mengecek pemahaman pasien, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan cara penggunaan obat untuk mengoptimalkan tujuan terapi (Anonimc, 2014).

Faktor yang perlu diperhatikan dalam konseling:

a. Kriteria pasien yaitu pasien rujukan dokter, pasien dengan penyakit kronis, pasien dengan obat yang berindeks terapetik sempit dan poli farmasi, pasien geriatrik, pasien pediatrik, pasien pulang sesuai dengan kriteria di atas.

b. Sarana dan prasarana yaitu ruangan khusus, kartu pasien/catatan konseling

(Anonimc, 2014).

Setelah dilakukan konseling, pasien yang memiliki kemungkinan mendapat risiko masalah terkait obat misalnya komorbiditas, lanjut usia, lingkungan sosial, karateristik obat, kompleksitas pengobatan, kompleksitas penggunaan obat, kebingungan atau kurangnya pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana menggunakan obat dan/atau alat kesehatan perlu dilakukan pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care) yang bertujuan tercapainya keberhasilan terapi obat (Anonimc, 2014).

d) Ronde/visite pasien (khusus puskesmas rawat inap)

Merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan secara mandiri atau bersama tim profesi kesehatan lainnya terdiri dari dokter,

perawat, ahli gizi, dan lain-lain(Anonimc, 2014).

Tujuan ronde/visite pasien (khusus puskesmas rawat inap):

1) Memeriksa obat pasien.

2) Memberikan rekomendasi kepada dokter dalam pemilihan obat

(21)

3) Memantau perkembangan klinis pasien yang terkait dengan penggunaan obat.

4) Berperan aktif dalam pengambilan keputusan tim profesi kesehatan

dalam terapi pasien(Anonimc, 2014).

Kegiatan yang dilakukan meliputi persiapan, pelaksanaan, pembuatan

dokumentasi dan rekomendasi. Kegiatan visite mandiri ronde/visite pasien

(khusus Puskesmas rawat inap): a. Untuk Pasien Baru

1. Ruang obat memperkenalkan diri dan menerangkan tujuan dari

kunjungan.

2. Memberikan informasi mengenai sistem pelayanan farmasi dan jadwal

pemberian obat.

3. Menanyakan obat yang sedang digunakan atau dibawa dari rumah,

mencatat jenisnya dan melihat instruksi dokter pada catatan pengobatan pasien.

4. Mengkaji terapi obat lama dan baru untuk memperkirakan masalah

terkait obat yang mungkin terjadi(Anonimc, 2014).

b. Untuk pasien lama dengan instruksi baru

1. Menjelaskan indikasi dan cara penggunaan obat baru.

2. Mengajukan pertanyaan apakah ada keluhan setelah pemberian obat

(Anonimc, 2014).

c. Untuk semua pasien

1. Memberikan keterangan pada catatan pengobatan pasien.

2. Membuat catatan mengenai permasalahan dan penyelesaian.

3. Masalah dalam satu buku yang akan digunakan dalam setiap

kunjungan (Anonimc, 2014).

Kegiatan visite bersama tim ronde/visite pasien (khusus puskesmas rawat inap):

1) Melakukan persiapan yang dibutuhkan seperti memeriksa catatan

pengobatan pasien dan menyiapkan pustaka penunjang.

2) Mengamati dan mencatat komunikasi dokter dengan pasien dan/atau

(22)

3) Menjawab pertanyaan dokter tentang obat.Mencatat semua instruksi atau perubahan instruksi pengobatan, seperti Obat yang dihentikan, obat baru,

perubahan dosis dan lain- lain(Anonimc, 2014).

Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu memahami cara berkomunikasi yang efektif, memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan pasien dan tim,

memahami teknik edukasi, mencatat perkembangan pasien (Anonimc, 2014).

Pasien rawat inap yang telah pulang ke rumah ada kemungkinan terputusnya kelanjutan terapi dan kurangnya kepatuhan penggunaan Obat. Untuk itu, perlu juga dilakukan pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care) agar terwujud komitmen, keterlibatan, dan kemandirian pasien dalam penggunaan Obat sehingga tercapai keberhasilan terapi obat(Anonimc, 2014).

e) Pemantauan dan pelaporan efek samping obat

Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau memodifikasi

fungsi fisiologis.Tujuan pemantauan dan pelaporan efek samping obat:

1) Menemukan efek samping obat sedini mungkin terutama yang berat, tidak

dikenal dan frekuensinya jarang.

Menentukan frekuensi dan insidensi efek samping obat yang sudah sangat dikenal

atau yang baru saja ditemukan(Anonimc, 2014).

Kegiatan pemantauan dan pelaporan efek samping obat yaitu menganalisis

laporan efek samping obat, mengidentifikasi obat dan pasien yang mempunyai resiko tinggi mengalami efek samping obat, mengisi formulir monitoring efek samping obat (MESO), melaporkan ke pusat monitoring efek samping obat

nasional(Anonimc, 2014).

Faktor yang perlu diperhatikan Pemantauan dan pelaporan efek samping

obat yaitu kerja sama dengan tim kesehatan lain dan ketersediaan formulir

monitoring efek samping obat(Anonimc, 2014).

f) Pemantauan terapi obat

Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasienmendapatkan

terapi obat yang efektif, terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan

(23)

Tujuan pemantauan terapi obat yaitu mendeteksi masalah yang terkait dengan obat dan memberikan rekomendasi penyelesaian masalah yang terkait

denganobat (Anonimc, 2014).

Kriteria pasien pemantauan terapi obat yaitu anak-anak dan lanjut usia, ibu

hamil dan menyusui, menerima obat lebih dari 5 (lima) jenis, adanya multidiagnosis, pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati, menerima obat dengan indeks terapi sempit, menerima obat yang sering diketahui

menyebabkan reaksi obat yang merugikan (Anonimc, 2014).

Kegiatan pemantauan terapi obat yaitu memilih pasien yang memenuhi

kriteria, membuat catatan awal, memperkenalkan diri pada pasien, memberikan penjelasan pada pasien, mengambil data yang dibutuhkan, melakukan evaluasi,

memberikan rekomendasi (Anonimc, 2014).

g) Evaluasi penggunaan obat

Merupakan kegiatan untuk mengevaluasi penggunaan obat secara terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin obat yang digunakan

sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau (rasional) (Anonimc, 2014).

Tujuan evaluasi penggunaan obat yaitu mendapatkan gambaran pola

penggunaan obat pada kasus tertentu dan melakukan evaluasi secara berkala

untuk penggunaan obat tertentu(Anonimc, 2014).

Penyelenggaraan standar pelayanan kefarmasian di puskesmas harus didukung oleh ketersediaan sumber daya kefarmasian, pengorganisasian yang berorientasi kepada keselamatan pasien, dan standar prosedur operasional sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Sumber daya kefarmasian meliputi sumber daya manusia, sarana dan prasarana(Anonimc, 2014).

Pengorganisasian harus menggambarkan uraian tugas, fungsi, dan tanggung jawab serta hubungan koordinasi di dalam maupun di luar pelayanan kefarmasian yang ditetapkan oleh pimpinan puskesmas. Untuk menjamin mutu pelayanan kefarmasian di puskesmas, harus dilakukan pengendalian mutu pelayananan kefarmasian meliputi monitoring dan evaluasi (Anonimc, 2014).

3) Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat

(24)

kegiatan pokok puskesmas yang sudah ada sejak konsep puskesmas di perkenalkan(Anonima, 2006).

Tujuan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah keperawatan kesehatan masyarakat yang optimal. Pelayanan keperawatan diberikan secara langsung kepada seluruh masyarakat dalam rentang sehat-sakit dengan mempertimbangkan seberapa jauh masalah kesehatan masyarakat mempengaruhi individu, keluarga, dan kelompok maupun masyarakat(Anonima, 2006).

Fokus utama kegiatan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keperawatan, membimbing dan mendidik individu, keluarga, kelompok, masyarakat untuk menanamkan pengertian, kebiasaan dan perilaku hidup sehat sehingga mampu memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya(Anonima, 2006).

4) Pelayanan Laboratorium

Dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 37 tahun 2012 tentang penyelenggaraan laboratorium pusat kesehatan masyarakat, mengatakan bahwa penyelenggaraan laboratorium kesehatan di Indonesia diselenggarakan oleh berbagai jenis laboratorium dan pada berbagai jenjang upaya pelayanan kesehatan, yang diantaranya diselenggarakan oleh laboratorium puskesmas, bahwa agar mampu menjawab tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang tepat, akurat, dan profesional, laboratorium puskesmas harus meningkatkan mutu pelayanan serta dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi(Anonimb, 2012).

Laboratorium puskesmas diselenggarakan berdasarkan kondisi dan permasalahan kesehatan masyarakat setempat dengan tetap berprinsip pada pelayanan secara holistik, komprehensif, dan terpadu dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya(Anonimb, 2012).

Penanggung jawab laboratorium puskesmas mempunyai tugas dan tanggung jawab:

a. Menyusun rencana kerja dan kebijakan teknis laboratorium.

(25)

c. Melaksanakan pengawasan, pengendalian dan evaluasi kegiatan laboratorium.

d. Merencanakan dan mengawasi kegiatan pemantapan mutu (Anonimb, 2012).

Tenaga teknis laboratorium puskesmas mempunyai tugas dan tanggung jawab: 1. Melaksanakan kegiatan teknis operasional laboratorium sesuai kompetensi

dan kewenangan berdasarkan pedomanpelayanan dan standar prosedur operasional.

2. Melaksanakan kegiatan mutu laboratorium. 3. Melaksanakan kegiatan pencatatan dan pelaporan.

4. Melaksanakan kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja laboratorium. 5. Melakukan konsultasi dengan penanggung jawab laboratorium atau tenaga

kesehatan lain.

6. Menyiapkan bahan rujukan spesimen(Anonimb, 2012).

Tenaga non teknis laboratorium puskesmas mempunyai tugas dan tanggung jawab:

a) Membantu tenaga teknis dalam menyiapkan alat dan bahan. b) Membantu tenaga teknis dalam menyiapkan pasien.

c) Membantu administrasi(Anonimb, 2012).

2.6 Sistem informasi Puskesmas

Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan No. 75 Tahun 2014 bahwa, setiap puskesmas wajib melakukan kegiatan sistem informasi puskesmas. Sistem informasi puskesmas dapat diselenggarakan secara eletronik atau non elektronik. Sistem informasi puskesmas paling sedikit mencakup:

1. Pencatatan dan pelaporan kegiatan puskesmas dan jaringannya. 2. Survei lapangan.

3. Laporan lintas sektor terkait.

4. Laporan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya (Anonimd, 2014).

(26)

kesehatan kabupaten/kota. Dalam menyelenggarakan sistem informasi puskesmas, puskesmas wajib menyampaikan laporan kegiatan puskesmas secara berkala kepada dinas kesehatan kabupaten/kota(Anonimd, 2014).

Laporan kegiatan puskesmas merupakan sumber data dari pelaporan data kesehatan prioritas yang diselenggarakan melalui komunikasi data. Setiap laboratorium puskesmas harus diselenggarakan secara baik dengan memenuhi kriteria ketenagaan, sarana, prasarana, perlengkapan dan peralatan, kegiatan pemeriksaan, kesehatan dan keselamatan kerja, dan mutu(Anonimd, 2014).

BAB III

TINJAUAN KHUSUS UPT. PUSKESMAS KECAMATAN PORSEA

3.1 Lokasi, Sejarah dan Tata Letak Bangunan UPT. Puskesmas Kecamatan Porsea

3.1.1 Lokasi UPT. Puskesmas Kecamatan Porsea

UPT. Puskesmas Kecamatan Porsea 29 terletak di Jl. F. Lumban Tobing. Lokasi ini berada pusat kota kecamatan Porsea kelurahan pasar Porsea kabupaten Toba Samosir dan sekitarnya terdapat pertokoan, dan Poliklinik Dokter, mudah dijangkau masyarakat.

3.1.2 Sejarah Berdirinya UPT. Puskesmas Kecamatan Porsea

(27)

Sakit Umum Penolong Porsea disahkan menjadi Puskesmas Porsea atas Instruksi Presiden No I tahun 1982.

Puskesmas Porsea terletak di pusat kota kecamatan Porsea kelurahan pasar Porsea kabupaten Toba Samosir. Luas lokasi Puskesmas Porsea ± 960 M2, Luas bangunan ± 270 M2. Pertapakan Puskesmas Porsea berasal dari hibah masyarakat Porsea. Pada tahun 2013 Puskesmas Porsea direnovasi. Puskesmas Porsea mempunyai batas-batas sebagai berikut:

 Sebelah Timur : Kantor Pos Porsea, Kantor Polsek HKBP Distrik IV Toba dan Jl. Patuan Nagari Porsea.

 Sebelah Selatan : Sungai Asahan.

 Sebelah Barat : Perumahan Kejaksaan RI Kecamatan Porsea dan Perumahan Koramil Porsea.

 Sebelah Utara : Jl. F.L Tobing dan sekitar rumah penduduk Porsea 3.1.3 Tata Letak Bangunan UPT. Puskesmas Kecamatan Porsea

Bangunan Puskesmas Porsea terdiri dari: 1. Ruangan kantor/loket

2. Ruangan poliklinik 3. Poliklinik gigi

4. Ruangan imunisasi, Gizi, KIA, KB, promosi kesehatan

5. Ruangan zaal dari tahun 1987 dipergunakan untuk perumahan pegawai sampai tahun 2013

6. Dua unit perumahan dokter umum/dokter gigi.

(28)

3.2 Visi dan Misi Puskesmas Kecamatan Porsea 3.2.1 Visi Puskesmas Kecamatan Porsea

Puskesmas dengan pelayanan prima menuju masyarakat sehat dan mandiri.

3.2.2 Misi Puskesmas Kecamatan Porsea

 Memberikan pelayanan secara prima.

 Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

 Mengembangkan sarana dan prasarana yang mengutamakan kualitas pelayanan.

 Meningkatkan akses dan keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

(29)

Tugas pokok dan fungsi Kepala puskesmas:

1. Bertanggung jawab atas seluruh kegiatan puskesmas. 2. Memimpin pelaksanaan tugas pokok dan fungsi puskesmas. 3. Membina kerjasama staf dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

4. Melakukan pengawasan seluruh pelaksanaan kegiatan program dan pengelolaan keuangan.

5. Mengadakan koordinasi dengan Kepala Kecamatan dan Lintas Sektoral dalam upaya pembangunan kesehatan di wilayah kerja.

6. Menjalin kemitraan dengan berbagai pihak dan masyarakat dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

7. Menyusun perencanaan kegiatan puskesmas dengan dibantu oleh staf puskesmas.

8. Memonitor dan mengevaluasi kegiatan puskesmas.

9. Melaporkan hasil kegiatan program ke Dinas Kesehatan, baik berupa laporan rutin maupun khusus.

10. Membina petugas dalam meningkatkan mutu pelayanan.

11. Melakukan supervisi dalam pelaksanaan kegiatan di puskesmas, polindes, posyandu dan di masyarakat.

Tugas dan fungsi poliklinik umum:

a. Melaksanakan pelayanan kesehatan perorangan bagi usia 6 sampai 45 tahun. b. Menentukan pemeriksaan dan tindakan penunjang.

c. Melaksanakan rujukan.

1. Bertanggung jawab atas kegiatan pelayanan gigi.

2. Melaksanakan pelayanan pemeriksaan dan pengobatan pasien gigi 3. Membantu Kepala puskesmas dalam peningkatan mutu pelayanan 4. Membantu pelaksanaan kegiatan lapangan dalam kegiatan UKGS.

Tugas dan fungsi pokok tenaga teknis kefarmasian yaitu: a. Bertanggung jawab atas kegiatan pelayanan di ruang obat. b. Melaksanakan pelayanan pemberian obat di ruang obat. c. Mencatat pemasukan dan pengeluaran obat.

d. Memonitor dan mendistribusikan obat ke pos kesehatan desa (poskesdes) dan polindes.

e. Membantu Kepala puskesmas dalam membuat perencanaan kebutuhan obat puskesmas.

(30)

Sumber daya manusia di Puskesmas Porsea memiliki tenaga teknis sebanyak 53 orang, Dimana personalia sudah menjalankan tugasnya dengan baik dengan 1 kepala puskesmas yang memiliki 2 poliklinik, 33 pegawai puskesmas, 19 bidan desa. Jumlah sumber daya manusia di Puskesmas Kecamatan Porsea seperti tertera pada tabel 3.1 berikut.

(31)

31

NO NAMA PEGAWAI JABATAN

1 dr. S Reinhard M. Siahaan Kepala Puskesmas 2 dr. Elfrida Panjaitan Dokter Fungsional

3 drg. Sri Dewi Sinaga Dokter Gigi

4 Saibun Situmorang Tata Usaha

5 Jisman Manurung Tata Usaha

6 Anita Sirait Tata Usaha

7 Kamaria Butar-Butar Tata Usaha

8 Norma Sitorus, Amf. Tenaga Teknis Kefarmasian

9 Marisi Manurung LCPK

10 Robert Gurning Jurim

11 Yuni Marbun,Am.Keb. Bidan

12 Guna Dolok Sidauruk, SST Bidan

13 Judika Hutapea, Am.Keb Bidan

14 Irene Tampubolon, Am.Keb Bidan 15 Rosella Simanjuntak, Am.Keb. Bidan

16 Komala Sari, Am.Keb. Bidan

17 Golda Sirait, Am.Keb. Bidan

18 Ani K. Pasaribu, Am.Keb. Bidan 19 Rosita J Siahaan, Am.Keb. Bidan 20 Romauli Hutabarat, Am.Keb. Bidan

27 Yenny Star New, Am.Keb. Bidan

28 Novita Sinaga, Am.Keb. Bidan 36 Ida Roma Yuni Saragih, Am.Keb. Bidan 37 Marlina Harianja, Am.Keb. Bidan

(32)

3.4 Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Pengembangan kesehatan masyarakat yang dilakukan melalui puskesmas didasarkan pada misi didirikannya puskesmas sebagai pusat pengembangan kesehatan (Centre For Health Development ) di wilayah kerja tertentu.

Salah satu upaya yang dilaksanakan puskesmas adalah pengadaan peralatan dan obat-obatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Mengingat pengobatan merupakan salah satu kegiatan puskesmas maka dibutuhkan penyediaan dan pengelolaan perbekalan farmasi yang baik dan benar. Pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut aspek perencanaan, pengadaan, pendistribusian dan penggunaan obat yang dikelola secara optimal untuk menjamin tercapainya ketepatan jumlah dan jenis perbekalan farmasi dan alat kesehatan, dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia seperti tenaga, dana, sarana dan perangkat lunak (metoda dan tata laksana) dalam upaya mencapai tujuan yang ditetapkan diberbagai tingkat unit kerja.

Pengelolaan obat bertujuan memelihara dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional dan ekonomis di unit-unit pelayanan kesehatan melalui penyediaan obat-obatan yang tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan tempat. Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) merupakan salah satu contoh pengelolaan obat yang bermanfaat untuk mengendalikan tingkatan stok, perencanaan distribusi, perencanaan kebutuhan obat dan memantau penggunaan obat. Pengelolaan obat di puskesmas bertujuan untuk:

a. Terlaksananya peresepan yang rasional.

b. Pengembangan dan peningkatan pelayanan obat yang dapat menjamin: 1) Penyerahan obat yang benar kepada pasien.

2) Dosis dan jumlah yang tepat.

3) Wadah obat yang baik yangb dapat menjamin mutu obat. 4) Informasi yang jelas dan benar kepada pasien.

c. Meningkatkan efisiensi penggunaan obat

Proses pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut lima fungsi pokok yaitu perencanaan obat, pengadaan, pendistribusian, penggunaan, pencatatan dan pelaporan.

3.4.1 Perencanaan

(33)

Fungsi seleksi/ pemilihan obat adalah untuk menentukan apakah obat benar-benar diperlukan sesuai dengan jumlah penduduk dan pola penyakit di daerah.

2. Tahap perhitungan kebutuhan obat

Kompilasi pemakaian obat berfungsi untuk mengetahui pemakaian bulanan masing-masing jenis obat di unit pelayanan kesehatan/puskesmas selama setahun dan sebagai pembanding bagi stok optimum.

Informasi yang didapat dari kompilasi pemakaian obat adalah:

1. Jumlah pemakaian tiap jenis obat pada unit pelayanan kesehatan/puskesmas. 2. Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun seluruh

unit pelayanan kesehatan/puskesmas.

3. Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat kabupaten/kota. Tahap perhitungan kebutuhan obat menentukan kebutuhan obat merupakan salah satu yang harus dihadapi oleh tenaga farmasi yang bekerja di Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan (UPOPPK) kabupaten/kota maupun Unit Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD). Masalah kekosongan obat atau kelebihan obat dapat terjadi apabila informasi semata-mata hanya berdasarkan informasi teoritis terhadap kebutuhan pengobatan.

Koordinasi dan proses perencanaan untuk pengadaan obat secara terpadu serta melalui tahapan seperti diatas, diharapkan obat yang direncanakan dapat tepat jenis, tepat jumlah serta tepat waktu dan tersedia pada saat dibutuhkan.

Metode yang lazim digunakan untuk menyusun perkiraan kebutuhan obat di tiap unit pelayanan kesehatan adalah:

a. Metode konsumsi

Metode ini dilakukan dengan menganalisis data komsumsi obat tahun sebelumnya. Hal yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Pengumpulan data dan pengolahan data 2. Analisis data untuk informasi dan evaluasi 3. Perhitungan perkiraan kebutuhan obat b. Metode epidemiologi

Metode ini dilakukan dengan menganalisis kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit, perkiraan kunjungan dan waktu tunggu (lead time).

Langkah-langkah dalam metode ini antara lain: 1. Menentukan jumlah penduduk yang akan dilayani

(34)

4. Menghitung perkiraan kebutuhan obat

5. Penyesuaian dengan alokasi dana yang tersedia. 3.4.2 Pengadaan

Permintaan/pengadaan obat adalah suatu proses pengusulan dalam rangka menyediakan obat dan alat kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pelayan di puskesmas. Permintaan/pengadaan dimaksudkan agar obat tersedia dengan jenis dan jumlah yang tepat. Pengadaan meliputi kegiatan pengusulan kepada kota/kabupaten melalui mekanisme Lembar Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO).

Permintaan/pengadaan obat di puskesmas merupakan bagian dari tugas distribusi obat oleh Gudang Farmasi Kabupaten/Kota (GFK), sehingga ketersediaan obat di puskesmas sangat tergantung dari kemampuan GFK dalam melakukan distribusi berdasarkan laporan pemakaian dan permintaan obat di semua puskesmas. Dalam rangka mengajukan usulan kebutuhan obat ke kota/kabupaten, puskesmas perlu memperhatikan tenggang waktu antara pengajuan usulan dengan waktu penyerahan obat ke puskesmas.

Umumnya waktu pengajuan dan pengiriman obat oleh GFK ke masing-masing puskesmas sudah ditetapkan sebelumnya berdasarkan kesepakatan antara GFK dengan puskesmas. Permintaan obat untuk mendukung pelayanan kesehatan di puskesmas diajukan oleh Kepala puskesmas kepada Dinas Kesehatan kabupaten/kota melalui GFK dengan menggunakan format LPLPO, sedangkan permintaan dari sub unit. Berdasarkan pertimbangan efisiensi dan ketepatan waktu penyerahan obat kepada puskesmas, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menyusun petunjuk mengenai alur permintaan dan penyerahan obat dari GFK ke puskesmas.

Kegiatan permintaan dari puskesmas ke GFK dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Permintaan rutin yaitu permintaan yang dilakukan sesuai dengan jadwal yang disepakati oleh Dinas Kesehatan dan masing-masing puskesmas.

(35)

Sumber penyediaan obat di puskesmas berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Obat yang diadakan di puskesmas adalah obat esensial yang jenis dan itemnya merujuk pada E-Katalog dan Formularium Nasional.

Selain itu menuliskan resep generik dan atau menggunakan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, maka hanya obat generik yang diperkenankan tersedia di puskesmas. Dengan dasar pertimbangan:

a. Obat generik mempunyai mutu, efikasi yang memenuhi standar pengobatan b. Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan publik

c. Menjaga kelangsungan pelayanan publik

d. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi alokasi dana obat pelayanan kesehatan publik.

Kegiatan utama dalam permintaan dalam pengadaan obat di puskesmas antara lain berupa:

a. Menyusun daftar permintaan obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan. b. Mengajukan permintaan kebutuhan obat kepada Dinas Kesehatan

Kota/Kabupaten dan GFK dengan menggunakan LPLPO. c. Penerimaan dan pengecekan jenis dan jumlah obat

Masalah yang sering dihadapi dalam pengadaan obat yakni anggaran yang terbatas sehingga kebutuhan tidak mencukupi, pemasok yang yang kurang baik, kualitas obat rendah dan jadwal penerimaan barang yang tidak sesuai.

3.4.3 Penyimpanan

Setelah penerimaan barang, penyimpanan dan pengisian kartu stok barang barang dilakukan disertai pencantuman tanggal penerimaan dan jumlah penambahan barang yang disimpan. Penyimpanan dilakukan secara kombinasi yaitu:

1. Bentuk sediaan

Bentuk sediaan, yaitu sediaan cair, tablet, injeksi, dan cream.

2. Menurut Alpabetis

Penyusunan obat dilakukan berdasarkan bentuk sediaannya yang disusun menurut abjad/alpabetisnya.

3. FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired date and First Out).

Obat yang masuk lebih awal dikeluarkan/dijual terlebih dahulu, sedangkan obat yang mendekati batas kedaluarsa lebih awal dikeluarkan atau dijual.

4. Alat Kesehatan dan Produk lainnya

Alat kesehatan disusun dilemari tersendiri. 3.4.4 Pendistribusian

(36)

dan jumlahnya dari gudang obat di unit-unit pelayanan kesehatan termasuk penyerahan obat kepada pasien.

Distribusi obat bertujuan untuk mendekatkan obat dan alat kesehatan kepada pemakai di unit pelayanan kesehatan sehingga setiap saat tersedia dalam jumlah, jenis, mutu yang di butuhkan secara ekonomis dan efektif.

Kegiatan distribusi meliputi:

a. Menentukan frekuensi/jadwal distribusi dalam menentukan frekuensi distribusi perlu pertimbangan jarak sub unit pelayanan dan biaya distribusi yang tersedia.

b. Menentukan jumlah obat dalam menentukan jumlah obat perlu dipertimbangkan pemakaian rata-rata setiap jenis obat, sisa stok obat, pola penyakit, jumlah kunjungan di masing-masing sub unit pelayanan kesehatan dengan menghitung stok optimum setiap jenis obat.

c. Memeriksa mutu dan kadaluarsa obat dan alat bantu kesehatan yang didistribusi ke sub unit pelayanan kesehatan perlu dicek mutu dan kadaluarsanya.

d. Melaksanakan penyerahan dapat dilakukan dengan cara:

1. Gudang obat menyerahkan/mengirim obat dan diterima di sub unit pelayanan 2. Diambil sendiri oleh petugas sub unit pelayanan. Obat diserahkan dengan

formulir LPLPO yang sudah ditanda tangani dan satu rangkap disimpan sebagai tanda bukti penyerahan/penerimaan obat.

3. Menandatangani dokumen penyerahan obat ke sub unit berupa LPLPO sub unit.

Tata cara pendistribusian obat antara lain:

a. Unit pengelola obat tingkat Kabupaten/Kota melaksanakan distribusi obat ke puskesmas sesuai dengan kebutuhan masing-masing unit pelayanan kesehatan. b. Obat-obatan yang akan dikirim ke puskesmas harus disertai dokumen

penyerahan dan pengiriman obat.

c. Sebelum dilakukan pengepakan atas obat-obat yang akan dikirim, maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap:

1. Jenis dan jumlah obat 2. Kualitas/kondisi obat 3. Isi kemasan

4. Kelengkapan dan kebenaran dokumen

(37)

Gambar 3.2 Jalur Distribusi dan Pelaporan Obat di Puskesmas Keterangan:

GFK = Gudang Farmasi Kabupaten/Kota UPO = Unit Pelayanan Obat

= Distribusi = Pelaporan 3.4.5 Pelayanan

Tenaga teknis kefarmasian Puskesmas Kecamatan Porsea telah memberikan pelayanan yang cukup baik kepada pasien. Pelayanan di Puskesmas Kecamatan Porsea mencakup pelayanan resep pada pasien umum, pasien jamkesmas, pasien askes, BPJS, dan pasien PHB. Setiap petugas yang menerima resep selalu memperhatikan isi resep yang menyangkut nama obat, bentuk obat, umur pasien, aturan pakai dan cara penggunaan obat. Apabila petugas Ruang obat atau tenaga teknis kefarmasian ragu maka petugas bertanya kepada dokter yang menulis resep. Sebelum obat disiapkan, petugas ruang obat mengecek ada atau tidaknya stok obat yang diminta, setelah itu petugas ruang obat menyiapkan obatnya.

Penyerahan obat di ruang obat kepada pasien diserahkan tenaga teknis kefarmasian disertai dengan informasi yang jelas tentang cara pemakaian, penggunaan, khasiat obat dan expire date dari setiap obat yang diserahkan ke pasien. Bila pasien yang belum memahami informasi yang jelas tentang obat

Puskesmas

Gudang Obat

UPO

Puskesmas Pembantu

UPO

Puskesmas Keliling

UPO

Posyandu dll GFK

(GUDANG FARMASI KABUPATEN)

(38)

maka petugas akan memberikan informasi yang dibutuhkan. Untuk penulisan etiket meliputi tanggal penulisan, nama pasien, nomor resep, nama obat, jumlah obat, umur, dan aturan pakai yang jelas.

3.4.6 Pelaporan

Pencatatan dan pelaporan data obat di puskesmas merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka penataan obat-obatan secara tertib, baik obat-obatan yang diterima, disimpan, didistribusikan, dan digunakan di puskesmas, dan atau unit pelayanan lainnya. Tujuan pencatatan dan pelaporan adalah:

a. Bukti bahwa suatu kegiatan telah dilakukan.

b. Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian. c. Sumber data untuk pembuatan laporan

3.5 Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA)

3.5.1 Jenis-jenis Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) 1. Otitis Media

a. Deskripsi penyakit 1) Definisi

Secara umum adalah peradangan telinga tengah yang dibagi menjadi:

a. Otitis media akut: Inflamasi telinga tengah yang gejala dan tanda-tandanya muncul cepat. Manifestasi klinik berupa ≥ 1 gejala: otalgia, gangguan pendengaran, demam, atau gelisah.

b. Otitis media efusi: Penumpukan cairan di ruang telinga tengah (Sukandar, dkk., 2009).

Faktor resiko:

a. Abnormalitas anatomi: celah langit-langit mulut. b. Musim dingin.

c. Hipertropi Adenoid (pembesaran tonsil). d. Down Syndrome.

e. Infeksi saluran pernafasan di keluarga. f. Ras Kulit putih(Sukandar, dkk., 2009).

2) Patofisiologi

(39)

b. Fungsi Tuba eusthakhius yang tidak normal menyebabkan refluks cairan transundat di telinga tengah dan perkembangan embrio (Sukandar, dkk., 2009).

c. Bakteri penyebab:

1. Streptococcus pneumonia (35%). 2. Haemophillus influnzae (25%).

3. Moxarella catarrhalis (10%) (Sukandar, dkk., 2009). 3) Manifestasi klinik

a. Otitis media akut: Otalgia, gangguan pendengaran, demam, gelisah, yang terjadi dengan cepat. Otorea lewat perforasi membrane timpani atau tuba timpanostomi. Gejala yang tidak spesifik: gelisah, lemah (lethargi), anoreksia, muntah.

b. Efusi ditandai dengan perubahan membrane timpani: kemerahan, keruh, cahaya tidak refleksi, menonjol, tidak bergerak pada saat di otoskopi pneumatik. Penyakit ini akan membaik secara spontan pada sebagian besar anak-anak. Komplikasi pada intracranial, meningitis, mastoiditis dan abses otak jarang terjadi(Sukandar, dkk., 2009).

c. Terapi

1) Tujuan terapi

a) Mengendalikan nyeri, menghilangkan infeksi, dan mencegah komplikasi. b) Menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu.

c) Meminimkan Reaksi yang tidak diinginkan (Sukandar, dkk., 2009). 2) Pendekatan umum

Terapi farmakologi

a. Antibiotik oral 5-10 hari

Beberapa anak-anak dapat sembuh tanpa Antibiotik

Terapi pendukung: analgesik, antipiretik, penghangatan local.

Antihistamin dan dekongestan tidak efektif untuk mengatasi efusi dan menghilangkan gejala.

Pilihan pertama Antibiotik: Amoksisilin 40 mg/kgbb/hari

(40)

c. Bila H. influenza atau M. catarrhalis penghasil beta-laktamase umum didapati maka gunakan antibiotic yang tahan terhadap beta-laktamase.

Sulfamethoksazole-trimethoprim (ko-trimoksazol), sefiksim, sefuroksim axetil, sefaklor, seftibuten, sefprozril, sepodoksim, azitromisin, azitromisin, eritromisin/sulfisoksazol(Sukandar, dkk., 2009).

3) Evaluasi terapi

a. Gejala otilitis media akan hilang dalam waktu 24-72 jam bila terapi dengan tepat.

b. Bila otalgia/demam selama terapi tetap/kambuh maka harus dicurigai kemungkinan infeksi bakteri yang menghasilkan beta laktamase, terapi dengan antibiotic terhadap beta-laktamase.

c. Bila kambuh setelah 1 bulan yang disebabkan infeksi karena mikroba sama, terapi dengan amoksisilin dosis tinggi atau antibiotik stabil beta-laktamase. d. Pada hari ke 10 terapi periksa ulang untuk kemungkinan terjadinya efusi

(frekuensi efusi 10%). Bila efusi tetap ada sampai 3 bulan pertimbangkan untuk:

1) Teruskan terapi dengan amoksisilin 20 mg/kg/bb/hari atau kotrimoksazol 4/20mg/kg bb

2) Miringotomi dan penyisipan tuba timpanostomi

3) Terapi setiap episode otitis media akut dengan antibakteri yang tepat (Sukandar, dkk., 2009).

2. Faringitis

1. Deskripsi penyakit 1) Definisi

Inflamasi faring dan jaringan limfoid sekitarnya akibat infeksi bakteri atau virus (Sukandar, dkk., 2009).

2) Etiologi

a. Penyebab: virus, bakteri group A beta hemolyc streptococci (streptococcus pyogenes, Group A streptococcus/GAS).

b. Pada kasus infeksi group A streptococcus dapat terjadi demam rematik (0,3-3%) (Sukandar, dkk., 2009).

3) Manifestasi klinik

(41)

d. Infeksi karena Group A streptococcus/GAS ditandai dengan: pembengkakan kelenjar limfa, tidak batuk, demam > 38oC (Sukandar, dkk., 2009).

2. Terapi

 Faringitis virus diobati secara simtomatis  Terapi GAS faringitis: Penisilin;

1. Untuk anak < 12 tahun penisilin V, 2x 250/hari, 10 hari atau benzhatin penisilin im 25000-50000 unit/kg, dosis tunggal.

2. Untuk dewasa penisilin V 500mg 2x 250/hari, 10 hari.

 Untuk yang alergi penisilin berikan eritromisin estolat 20-30mg/kgbb/hari atau eritromisin etilsuksinat 40-50 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2-4 dosis selama 10 hari.

 Antibiotik lain: amoksisilin, ampisilin, sefalosporin, eritromisin-sulfasoksazol (Sukandar, dkk., 2009).

3. Sinusitis

a. Deskripsi penyakit 1) Definisi

Infeksi di sinus, akut sampai dengan 4 minggu, kronik 12 minggu (Sukandar, dkk., 2009).

2) Etiologi

Bakteri penyebab:

a. Streptococcus pnemoniae (30-40%). b. Haemophillus influnzae ((20-30%). c. Moxarella catarrhalis (12-20%), lain-lain. d. Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus. e. Bakteri anaerob(Sukandar, dkk., 2009).

3) Manifestasi klinik

Keluarnya cairan kental berwarna dari hidung, sumbatan di hidung, nyeri, muka, sakit gigi, demam(Sukandar, dkk., 2009).

b. Terapi

1) Gejala dapat sembuh sendiri dalam 48 jam, bila menetap atasi gejala, perbaiki fungsi sinus, cegah komplikasi intracranial, dan atasi bakteri patogen.

(42)

azitromisin, klaritromisin, sefuroksim, sefiksim, sefaktor, fluorokuinolon: levofloksasin, gantifloksasin.

3) Durasi terapi: 10-14 hari dan dapat diperpanjang sampai dengan 30 hari. 4) Obat semprot vasokonstriktor: fenileprin, oksimetazolin dapat

memperbaiki aliran. Tapi penggunaan tidak melebihi 72 jam agar tidak terjadi toleransi.

5) Antihistamin tidak efektif untuk sinusitis(Sukandar, dkk., 2009). 3.5.2 Jenis-jenis Antibiotik dalam Pengobatan ISPA

a. Golongan penisilin

1. Benzilpenisilin dan Nonsimetilpenisilin a) Benzilpenisilin (penisilin G)

Indikasi : Infeksi tenggorokan, otitis media, streptokokus, endokarditis, meningkokus meningitis, pneumonia, profilaksis amputasi pada lengan atau kiri. Peringatan : Riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal.

Interaksi : Lihat interaksi Antimikroba.

Kontraindikasi: Hipersensitivitas (alergi) terhadap penisilin.

Efek Samping : Reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leucopenia, trombositopenia, syok anafilaktik pada pasien yang alergi, diare pada pemberian per oral(Sukandar, dkk., 2009).

b) Fenoksimetil Penisilin (penisilin V)

Indikasi : Tonsilitis, otitis media, erysipelas, demam rematik, profilaksis infeksi. Peringatan: Kontraindikasi; efek samping: lihat benzilpenisilin, penisilin harus diberi 1 jam sebelum makan (Sukandar, dkk., 2009).

2. Penisilin tahan penisilinase a) Kloksasilin

Indikasi : Infeksi karena stafilokokus yang memproduksi penisilinase. Peringatan : Kontraindikasi; efek samping: lihat benzilpenisilin (Sukandar, dkk., 2009).

b) Flukoksasilin

Gambar

Gambar 3.2 Jalur Distribusi dan Pelaporan Obat di Puskesmas

Referensi

Dokumen terkait

 Dilanjutkan dengan observasi langsung, melakukan wawancara kebeberapa mitra ; pemilik toko, swalayan, bank- bank, warga/customer yang berada di Mall (Penulis

Menganalisis hubungan karakteristik faktor reinforcing (peran tenaga kesehatan, sikap kader, dukungan keluarga, dan dukungan tokoh masyarakat) terhadap pemanfaatan

Jika diterima menjadi Nasabah MBK, maka Nasabah harus memberikan fotocopy dokumen tersebut dan Account Officers (AO) membandingkannya dengan dokumen asli; setelah itu AO

Setelah penelitian ini dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi Universitas Bina Darma Palembang diantaranya: dapat mengetahui keunggulan penerapan layanan private

Penilaian kelas merupakan bagian dari penilaian internal ( internal assessment ) untuk mengetahui hasil belajar peserta didik terhadap penguasaan kompetensi yang diajarkan oleh

g. Pengendalian dan evaluasi pelaksanaan pemanfaatan data dan dokumen kependududukan, kerja sama serta inovasi pelayanan administrasi kependudukan. Pelaksanaan tugas –

Mengingat tujuan terbitnya Kepmen ESDM adalah untuk mencegah terjadinya kelang- kaan batubara di dalam negeri dan menjaga kelangsungan aktivitas produksi bagi industri

(Strenghts, Weakness, Opportunities, Threats) sebagai penentu strategi yang tepat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk meningkatkan daya saing penjualan, dan