HAKIKAT KURIKULUM PEMBELAJARAN: PLANNED DAN UNPLANNED Mestika Intan Delima (1503893)
Pendidikan Bahasa Jepang FPBS [email protected]
Kurikulum dapat disebut sebagai sebuah rencana dalam suatu kegiatan atau dokumen tertulis yang didalamnya berisikan strategi untuk mencapai tujuan yang diharapkan atau akhir (Ornstein, 1987:212). Kurikulum yang terencana atau kurikulum formal lebih terfokus kepada tujuan, materi subjek, dan pengorganisasian instruksi. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kurikulum yang tidak terencana atau kurikulum informal. Kurikulum tersebut berkaitan dengan interaksi psikologi-sosial diantara guru dan murid, terutama perasaan, sikap dan tingkah laku mereka.
Kita tidak bisa hanya mementingkan kurikulum yang terencana saja. Kita mengabaikan konsekuensi yang tidak diinginkan dan tidak berjalan dengan semestinya dari rencana dan kegiatan yang dilakukan. Misalnya, siswa mulai membenci sejarah, tetapi maksud sebenarnya adalah untuk mengajarkan mereka. Jadi, poin pentingnya adalah kita tidak boleh terlalu kaku dalam pembelajaran. Masih banyak area abu-abu di dalam pendidikan itu sendiri, dan juga variabel manusia yang tidak bisa dikontrol atau direncanakan di masa yang akan datang. Kurikulum harus memperhatikan bagaimana kondisi kelas, bagaimana para pengajarnya, apa saja minat dan kebutuhan siswa yang terus berkembang dan tidak bisa selalu direncanakan oleh siswa, guru, ataupun spesialis kurikulum.
Daftar Pustaka:
Ornstein, A. (1987). The Field of Curriculum: What Approach? What Definition? The High School Journal, 70(4), 208-216. http://www.jstor.org/stable/40364981 Reynold, S. (1996). Learning to read: the classics and the curriculum Medieval