PEMBAKARAN BERSIH BAGI PENGUSAHA IKAN KAYU
(
KEUMAMAH
) DI KOTA BANDA ACEH
Introduction and Utilization of Clean Biomass Stove for Ikan Kayu
(Keumamah) Craftsmen in Banda Aceh City
Hafidh Hasan1, Sri Haryani Anwar2* 1
Jurusan Teknik Elektro dan Komputer, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Indonesia
2
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Indonesia Oktober 2020 Revisi November 2020 Disetujui Januari 2021 Terbit Online Januari 2021 *Penulis Koresponden: [email protected] Kata Kunci: biomasa kayu dampak lingkungan dampak kesehatan pembakaran bersih tungku biomasa Keywords: biomass stove clean burning environmental impact health hazard wood biomass
Abstrak
Ikan kayu atau keumamah dalam Bahasa Aceh, dibuat dari ikan tongkol (Euthynnus affinis) yang diawetkan dengan cara pengeringan menggunakan sinar matahrari. Dalam produksi keumamah salah satu prosesnya adalah perebusan ikan tongkol segar. Proses ini membutuhkan banyak sekali energi dimana biasanya pengusaha keumamah merebus ikan dengan tungku terbuka. Namun, pembakaran tungku terbuka tidak efisien dan membutuhkan banyak sekali biomasa kayu. Karena pembakaran yang tidak sempurna, tungku terbuka juga menghasilkan asap dan gas-gas volatile organic compounds (VOC) yang membahayakan bagi lingkungan dan kesehatan pengusaha dan para pekerja serta lingkungan sekitarnya. Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada kedua mitra berupa tungku hemat energi dengan pembakaran bersih dan cara pemanfaatan biomasa kayu yang benar. Kedua mitra adalah pengusaha keumamah yang berlokasi di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, Banda Aceh. Mitra pengabdian selama ini menggunakan tungku terbuka dengan segala kekurangannya. Sebagai solusi, tim pengabdi telah mendesain tungku yang dapat meningkatkan efisiensi pembakaran, mengurangi pemakaian bahan bakar dan megurangi polutan. Kepada kedua mitra diberikan edukasi tentang tungku biomasa serta berbagai keuntungannya. Hasil program pengabdian berupa perbaikan yang dirasakan pengusaha adalah: 1) proses perebusan lebih cepat; 2) penggunaan biomasa kayu lebih hemat sekitar 30%; 3) berkurangnya asap; dan 4) desain tungku modular sehingga pengusaha dapat memanfaatkan lahan produksi yang terbatas dengan lebih optimal. Diharapkan keunggulan tungku tersebut dapat mengurangi biaya produksi keumamah sekaligus memberikan lingkungan kerja yang lebih bersih bagi pengusaha keumamah dan pekerjanya.
Abstract
Keumamah is made from the preservation of eastern little tuna (Euthynnus affinis). For keumamah production, boiling of fresh eastern little tuna in water, is one of the main process which requires a lot of energy. The keumamah producers utilize three-stone like stove with wood biomass as the fuel. The stove adoption is economically motivated since the fuel is cheaper than other form of commercial energy and relatively easy to obtain. However, the stove is inefficient and wasting the wood. Inefficient burning of wood releases smoke and volatile organic compounds (VOC) which are dangerous to human health and harmful for the environment. Therefore, in this community development program, two keumamah producers, located near Lampulo fish harbour - in Banda Aceh, were introduced to better practices in utilizing biomass wood as energy source. They were firstly given the information on the reverse impacts on health and environment introduced by three-stone like stove. The team has developed an improved biomass stove with improved efficiency, less fuel consumption and much cleaner combustion. Later this clean better design biomass stove with its advantages was introduced. From the test of performance, the stoves showed: 1) faster cooking time; 2) reduce fuel consumption by nearly 30%; 3) reduced smoke; and 4) flexible usage of working space with modular design. It is the intentions of this program for the stove to benefit the keumamah producers and their workers with less expending for fuel and cleaner work environment.
1.
PENDAHULUAN
Ikan kayu yang dalam Bahasa Aceh disebut dengan keumamah, adalah produk tradisonal daerah yang sudah dikenal secara turun temurun. Keumamah merupakan hasil pengawetan ikan tongkol yang direbus kemudian dijemur menggunakan sinar matahari. Istilah tongkol digunakan secara luas oleh masyarakat untuk mengidentifikasi beberapa spesies ikan dalam famili tuna, namun untuk bahan keumamah ini khusus digunakan dari spesies Euthynnus affinis (Anwar et al., 2020). Jenis ikan ini tersedia melimpah di perairan laut Aceh, sepanjang tahun (Nabila et al., 2018).
Pada masa sebelum dikenalnya teknologi pembekuan ikan, masyarakat Aceh menemukan metode untuk mengawetkan ikan tongkol ini dengan cara merebus lalu dijemur sehingga memperpanjang umur simpan produk yang dikenal dengan keumamah pada suhu ruang. Ternyata proses pengawetan tersebut memberikan rasa dan tekstur yang khas pada keumamah. Sebelum dikonsumsi keumamah biasanya diolah terlebih dahulu dengan berbagai resep dan bumbu tradisional menjadi berbagai jenis masakan dengan citarasa yang khas dan digemari lintas golongan dan usia.
Keumamah dalam jumlah besar diproduksi oleh pengusaha keumamah yang banyak ditemui di daerah pesisir dekat dengan tempat pendaratan ikan. Di Kota Banda Aceh, pengusaha Keumamah banyak ditemui di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo. Kajian tentang pengusaha keumamah di lokasi tersebut dan proses pengolahannya telah dibahas oleh Bakri & Nasir (2018).
Kualitas Keumamah ditentukan oleh kesegaran ikan tongkol. Menurut Karyadi dan Sulistyowati (2019), sangat penting untuk memilih bahan ikan yang baik perlu memperhatikan tanda-tanda bahwa ikan tersebut dalam keadaan segar, karena hal ini sangat menentukan kualitas ikan hasil olahan tersebut. Oleh karenanya ikan-ikan yang dibeli pengusaha keumamah harus diproses di hari yang sama. Ikan segar yang sampai ke lokasi produksi langsung dibersihkan dari sisik dan insang. Kemudian ikan dimasukkan ke dalam dandang besar berisi air dan direbus dengan suhu sekitar 100C selama 1,5-2 jam. Setelah itu ikan diangin-anginkan dan setelah agak dingin, tiap ikan dibelah dua memanjang dan dipisahkan dari tulang dan kepala. Ikan selanjutnya dijemur di bawah panas matahari untuk memperoleh tingkat kekeringan yang diinginkan selama 3-4 hari.
Program pengabdian ini melibatkan dua pengusaha Keumamah di sekitar lokasi Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo. Kapasitas produksi masing-masing pengusaha antara 1-2 ton ikan segar per hari. Untuk merebus ikan-ikan tersebut digunakan tungku terbuka seperti pada Gambar 1, yang menggunakan bahan bakar biomasa kayu kurang lebih sebanyak 1 mobil pick-up. Tungku terbuka sangat rendah efisiensinya karena sebagian besar panas dari pembakaran kayu hilang ke lingkungan sekitar. Secara ekonomi merupakan penalti bagi pengusaha berupa biaya produksi tinggi untuk pengadaan bahan bakar. Kebutuhan berlebih untuk biomasa kayu menyebabkan tungku terbuka dapat meningkatkan aktivitas perambahan hutan yang dapat menyebabkan degradasi hutan, deforestasi serta bencana erosi.
Karena efisiensi yang rendah pembakaran tungku terbuka sangat kotor, menghasilkan jelaga dan gas-gas polutan lainnya berupa volatile organic compounds (VOC). Oleh karena itu tungku terbuka berdasarkan kajian Ezzati & Baumgartner (2017); Peabody et al., (2005) merupakan sumber gangguan kesehatan hampir bagi 41% penduduk dunia dikarenakan terpapar oleh polutan tungku. Pada tahun 2010 saja, tungku terbuka diperkirakan telah menyebabkan kematian usia dini bagi hampir 4 juta orang di seluruh dunia dan sekitar 10 juta mengalami cacat atau gangguan kesehatan lainnya (Amegah & Jaakkola, 2016).
Gambar 1. Tungku terbuka yang digunakan oleh kedua pengusaha Keumamah
Semua temuan di atas menguatkan perlunya pengusaha Keumamah untuk diperkenalkan kepada teknologi tungku dengan pembakaran yang lebih bersih. Tungku dengan pembakaran bersih setidaknya dapat meminimalkan kekurangan dari tungku terbuka. Target dari kegiatan pengabdian ini adalah pengusaha Keumamah dapat meningkatkan aktivitas dan model
usahanya menjadi lebih ramah lingkungan dan turut menjaga kelestarian (sustainability) lingkungan. Sebagai nilai tambah diharapkan akan terjadi pengurangan biaya produksi dalam pengadaan bahan bakar. Menurut Singawinata (2020), program pelatihan yang diberikan langsung kepada masyarakat ini juga berguna untuk meningkatkan keahlian dan pengetahuan peserta pelatihan dalam meningkatkan pengetahuan kewirausahaan dan berpikir kreatif dalam berinovasi dalam meningkatkan kualitas produk dan variasinya.
2.
METODE PELAKSANAAN
Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah menemukan desain tungku yang sesuai dengan kebiasaan pengusaha dan tentunya dapat menghasilkan pembakaran bersih. Proses-proses yang terlibat dalam ekstraksi energi khususnya media padat seperti biomasa kayu merupakan proses yang komplek (Creutzig et al., 2015). Setidaknya proses terbakarnya biomasa kayu dapat dibagi dalam lima tahap (Kumar et al., 2013). Pertama, sebelum terbakar kayu terpapar panas yang menyebabkan kandungan air di dalamnya naik sampai mencapai titik didih 100C. Di tahap kedua, hemiselulosa (material yang mengisi diantara serat-serat selulosa) terurai melepaskan gas-gas volatile organic compounds (VOC) sehingga meningkatkan suhu kayu menjadi 300C. Jika kondisi tungku ideal, kayu akan mencapai tahap ketiga, yaitu gas-gas VOC bereaksi dengan oksigen dan terbakar lalu meningkatkan suhu menjadi 550C. Tahap keempat, dengan semakin banyak terbakarnya gas-gas tersebut temperatur ruang pembakaran tungku terus bergerak naik mencapai 1.100C. Terakhir, kayu yang hampir habis energinya berubah menjadi arang yang membara sambil terus melepaskan gas-gas VOC permukaan arang diselimuti abu putih (garam) sehingga panasnya berkurang sampai akhirnya habis menjadi abu.
Dari penjelasan di atas proses pembakaran bersih dan efisien dapat diperolah jika: 1) Kayu kering (kadar air rendah) sehingga kayu tidak butuh banyak energi untuk mengurangi kadar air; 2) Desain tungku sedemikian rupa agar gas-gas VOC tetap berada di dalam ruang pembakaran (tidak terlepas) dan terbakar sehingga tungku dapat mencapai temperatur 1100C. Jika dua poin di atas dapat diwujudkan dalam bentuk tungku, maka: 1) pemakaian biomasa kayu akan berkurang dibandingkan dengan menggunakan tungku terbuka; 2) proses perebusan akan lebih cepat (efektif) dengan temperatur tungku yang lebih tinggi; dan 3) pembakaran akan lebih
bersih, meminimalkan asap, polutan lainnya dan dampak negatif terhadap kesehatan pekerja, masyarakat dan lingkungan sekitar lokasi usaha (Mehetre et al., 2017).
Gambar 2 adalah skema desain tungku yang dikembangkan oleh tim pengabdian untuk digunakan oleh pengusaha Keumamah. Aliran udara dari tungku ini mengadopsi rekomendasi desain tungku ecocina (MacCarty, 2008) agar udara masuk dari bawah kayu seperti juga pada (Raman et al., 2014). Di tengah tungku diatas bahan bakar kayu adalah ruang pembakaran yang relatif tertutup agar proses pembakaran tidak dipengaruhi oleh kondisi di luar tungku dan panas di ruang pembakaran tidak hilang ke luar (Kshirsagar & Kalamkar, 2014; Woolf et al., 2017; Pasymi et al., 2018; Pradana et al., 2018).
Gambar 2. Skema tungku hemat energi rancangan tim pengabdi yang disesuaikan dengan kebutuhan
produksi pengusaha Keumamah untuk meningkatkan efisiensi dan kebersihan pembakaran bersih
Ketinggian ruang pembakaran ini minimal 35 cm untuk memberikan kesempatan terbakarnya gas-gas VOC untuk mencapai temperatur mendekati optimal, sekaligus mengarahkan sebagian besar panas bergerak keatas untuk digunakan dalam perebusan ikan tongkol. Untuk lebih meningkatkan efektifitas pembakaran biomasa kayu, dinding ruang pembakaran dipilih dari material yang dapat mempertahankan panas dalam waktu yang cukup lama (Gur et al., 2012). Menurut kajian Riva et al., (2016) pendekatan desain tungku seperti ini
berpotensi untuk mengurangi konsumsi biomasa kayu sampai dengan sepertiganya dan menekan emisi sampai dengan 60% lebih.
Dalam pelaksanaan pengabdian ini kepada kedua pengusaha Keumamah diberikan transfer teknologi secara utuh. Pertama, dimulai dengan pentingnya bahan bakar yaitu kayu yang kering. Kadar air pada kayu adalah faktor utama yang menentukan besarnya energi yang dapat dihasilkan untuk perebusan. Selanjutnya adalah penjelasan tentang bahaya gas-gas VOC dan asap dan bagaimana solusinya untuk meminimalkan kedua polutan tersebut. Lalu kedua, pengusaha diperkenalkan kepada tungku pembakaran bersih dan prinsip kerjanya. Terakhir adalah pelatihan cara pemakaian tungku.
3.
HASIL DAN DISKUSI
Tungku pembakaran bersih yang diberikan kepada pengusaha Keumamah telah didesain dan dimanufaktur sesuai skema pada Gambar 2. Desain tungku ini merupakan pengembangan dari berbagai literatur untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi emisi dari pembakaran biomasa kayu. Dan yang terpenting adalah desain tungku ini khusus disesuaikan untuk kebutuhan produksi Keumamah. Pada skema tersebut (Gambar 2) lokasi bahan bakar kayu dan jalur suplai oksigen (aliran udara) ditempatkan sedemikian rupa untuk bertemu di ruang pembakaran tunggal. Ketinggian ruang pembakaran juga ditetapkan agar gas-gas VOC dapat terbakar semaksimal mungkin agar proses pembakaran mendekati ideal, lebih sempurna dan lebih bersih dibandingkan tungku terbuka.
Gambar 3. Empat bagian tungku dalam keadaan terurai a) bagian utama tungku, b) bagian dalam sebagai dinding ruang pembakaran,
c) penutup/mulut tungku, dan d) rak penyagga biomasa kayu
Beberapa desain tungku dari permanen sampai dengan modular telah dipertimbangkan. Namun setelah memperhatikan kebutuhan mitra dan ketersediaan lahan maka diputuskan menggunakan rancangan tungku modular. Tungku modular ini mudah dipindah-pindahkan dapat dirangkai dan dibongkar untuk memaksimalkan pemakaian lahan produksi. Dalam keadaan terurai tungku ini memiliki 4 komponen seperti dapat dilihat pada Gambar 3. Untuk meminimalkan panas yang hilang dinding tungku dipertebal dengan mengisi celah antara bagian utama dan bagian dalam dengan media yang tidak mudah panas namun dapat menyimpan panas seperti kerikil atau pasir dan batu bata. Dalam perakitannya, celah itu pertama diisi dengan batu bata lalu ruangan tersisa diisi kerikil atau pasir (Gambar 4).
Gambar 4. Pengisian batu bata dan pasir sebagai insulasi sekaligus penyimpan panas untuk menstabilkan suhu di ruang pembakaran
Tungku yang sudah lengkap terangkai, pertama sekali diuji untuk perebusan air (Gambar 5a). Dandang anti karat yang merupakan bagian bantuan bagi pengusaha Keumamah
digunakan (Gambar 5b). Berdasarkan hasil pengujian, lama waktu proses mendidihkan air ada perbaikan dibandingkan dengan tungku terbuka. Bila dengan tungku terbuka kurang lebih 60-70 menit, maka dengan tungku ini sekitar 45-50 menit. Setelah air mendidih lalu diuji proses perebusan ikan. Ikan tongkol yang sudah dibersihkan dimasukkan dalam penyaring tahan karat (Gambar 5c) yang juga merupakan bagian dari bantuan program PKM ini. Penyaring dibuat dari plat aluminium berlubang dengan ukuran diameter yang lebih kecil dari dandang. Penyaring ini untuk memudahkan proses mengangkat ikan yang telah masak sehingga dandang dapat digunakan untuk melanjutkan perebusan ikan berikutnya, sehingga terjadi percepatan proses.
Dalam proses perebusan ikan terjadi percepatan waktu proses kurang lebih 37 menit dari waktu sebelumnya yaitu 46 menit jika perebusan dilakukan dengan tungku terbuka. Jumlah biomasa kayu yang digunakan dari awal proses mendidihkan air sampai dengan selesai satu kali siklus perebusan ikan, juga berkurang. Pemakaian biomasa kayu dengan tungku terbuka ±40% lebih banyak dari pemakaian kayu pada tungku pembakaran bersih. Jadi kira-kira terdapat pengurangangan pemakaian kayu sekitar sepertiganya. Selain itu, perbaikan yang langsung dapat diamati selama pemakaian tungku ini adalah berkurangnya asap secara signifikan, terjadinya percepatan proses merebus ikan sehingga diperkirakan sebagian besar gas-gas VOC ikut terbakar dengan menambah energi panas yang dihasilkan tungku.
Gambar 5. Pengujian tungku hemat energi: (a) persiapan tungku, (b) perebusan air dengan dandang, dan (c) penyaring yang telah diisi ikan segar
4.
SIMPULAN
Program Pengabdian kepada Masyarakat ini telah dilaksanakan dengan melibatkan dua mitra pengusaha Keumamah. Sebelum program ini dilaksanakan, pengusaha terkendala dengan banyaknya kebutuhan biomasa kayu untuk proses perebusan ikan tongkol. Proses perebusan ini menggunakan tungku terbuka yang juga menghasilkan asap dan gas-gas VOC yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Tim pengabdian telah memberikan solusi berupa tungku dengan pembakaran bersih dengan efisiensi yang lebih baik, yang ditunjukkan dengan berkurangnya pemakaian biomasa kayu dan berkurangnya jelaga serta gas-gas VOC. Tungku pembakaran bersih ini dapat mengurangi pemakaian biomasa kayu sekitar sepertiga kebutuhan tungu terbuka. Waktu perebusan berkurang sekitar 10 menit dan asap yang biasanya sangat banyak dihasilkan oleh tungku terbuka berhasil diminimalkan dengan tungku ini. Selain itu, gas-gas VOC diduga sebagian besar juga ikut terbakar dan memberikan energi tambahan berupa panas.
Tungku yang diberikan kepada mitra didesain dalam bentuk modul-modul yang dapat dibongkar pasang. Pemilihan desain modular ini akan memudahkan pengusaha dalam proses
produksi Keumamah. Sebelumnya, pada lokasi perebusan Keumamah dimana tungku terbuka berada, tidak dapat digunakan untuk aktifitas produksi lainnya. Bara, arang dan abu sisa pembakaran masih meradiasikan panasnya ke sekitar tungku. Namun dengan desain tungku modular, tungku dapat dipindahkan bersamaan dengan sisa-sisa pembakarannya dan lokasi pun dapat digunakan untuk aktiftas produksi lainnya. Dengan demikian, bagi pengusaha dengan lahan terbatas, desain ini dapat mengefektifkan pemakaian lahan.
5.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis berterima kasih kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Republik Indonesia dan Universitas Syiah Kuala melalui Program Kemitraan Masyarakat No 004/SP2H/PPM/DRPM/2018 yang telah mendanai dan memungkinkan program ini terlaksana. Penulis juga memberikan penghargaannya kepada para pengusaha Keumamah yang sangat terbuka dan kooperatif selama pelaksanaan program pengabdian ini.
6.
DAFTAR PUSTAKA
Amegah, A. K., & Jaakkola, J. J. 2016. Household Air Pollution and the Sustainable Development Goals. Bulletin of the World Health Organization. 94(3):215.
Anwar, S. H., Poena, A. A. R. M., Muzaifa, M., & Hasan, H. 2020. Canning of Traditional Acehnese Food Made by Dried Little Tuna (Euthynnus affinis) using Two Sterilization Methods. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, 845, 012023. https://doi.org/10.1088/1757-899X/845/1/012023.
Bakri, M., & Nasir, N. 2018. Manajemen Usaha Pengolahan Ikan Kayu (Keumamah) Masyarakat Lampulo Banda Aceh. Jurnal Serambi Akademica, 6(2):1-8. https://doi.org/10.32672/jsa.v7i2
Creutzig, F., Ravindranath, N. H., Berndes, G., Bolwig, S., Bright, R., Cherubini, F., Chum, H., Corbera, E., Delucchi, M., Faaij, A., Fargione, J., Haberl, H., Heath, G., Lucon, O., Plevin, R., Popp, A., Robledo‐Abad, C., Rose, S., Smith, P., … Masera, O. 2015. Bioenergy and Climate Change Mitigation: An assessment. GCB Bioenergy. 7(5):916-944. https://doi.org/10.1111/gcbb.12205.
Ezzati, M., & Baumgartner, J. C. 2017. Household Energy and Health: Where next for research and practice?. The Lancet, 389(10065):130-132. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)32506-5.
Gur, I., Sawyer, K., & Prasher, R. 2012. Searching for a Better Thermal Battery. Science, 335(6075):1454-1455.
Karyadi dan Sulistyowati. 2009. Usaha Meningkatan Ketrampilan Kelompok Pengrajin Ikan Asap melalui Pelatihan dan Pendampingan dengan memakai Rumah Asap Hasil Modifikasi, Agromedia. 27(1):12-22. Februari 2009.
Kshirsagar, M. P., & Kalamkar, V. R. 2014. A Comprehensive Review on Biomass Cookstoves and a Systematic Approach for Modern Cookstove Design. Renewable and Sustainable Energy Reviews. 30:580-603. https://doi.org/10.1016/j.rser.2013.10.039
Kumar, M., Kumar, S., & Tyagi, S. K. 2013. Design, Development and Technological Advancement in the Biomass Cookstoves: A Review. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 26:265-285.
Nabila, C. P., Izwani, Hamid, Y.H. 2018. Daya Terima Konsumen terhadap Keumamah Teucrah
Berlevel Pedas. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. 3(2):79-103.
MacCarty, N. 2008. Testing Results of the Ecocina Cooking Stove from El Salvador. Aprovecho
Research Center. Extraído El, 7.
http://www.bioenergylists.org/files/Ecocina%20testing%20report_3.5.08.pdf.
Mehetre, S. A., Panwar, N. L., Sharma, D., & Kumar, H. 2017. Improved Biomass Cookstoves for Sustainable Development: A Review. Renewable and Sustainable Energy Reviews. 73: 672-687. https://doi.org/10.1016/j.rser.2017.01.150.
Pasymi, P., Budhi, Y. W., & Bindar, Y. 2018. Axial Inlet Geometry Effects on the Flow Structures in a Cyclone Burner Related to the Combustion Performance of Biomass Particles. Journal of Engineering and Technological Sciences. 50(5):684-697. https://doi.org/10.5614/j.eng.technol.sci.2018.50.5.7.
Peabody, J. W., Riddell, T. J., Smith, K. R., Liu, Y., Zhao, Y., Gong, J., Milet, M., & Sinton, J. E. 2005. Indoor Air Pollution in Rural China: Cooking Fuels, Stoves, and Health Status. Archives of Environmental & Occupational Health. 60(2): 86-95.
Pradana, Y. S., Hartono, M., & Prasetya, A. 2018. Evaluation of Household Pyrolitic Stove Performance: Effect of Bottom Air Apertures. International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology. 8(5): 2005-2011.
Raman, P., Ram, N. K., & Murali, J. 2014. Improved Test Method for Evaluation of Bio-Mass Cook-Stoves. Energy. 71:479-495. https://doi.org/10.1016/j.energy.2014.04.101. Riva, F., Lombardi, F., Pavarini, C., & Colombo, E. 2016. Fuzzy Interval Propagation of
Uncertainties in Experimental Analysis for Improved And Traditional Three - Stone Fire Cookstoves. Sustainable Energy Technologies and Assessments. 18:59-68. https://doi.org/10.1016/j.seta.2016.09.007.
Singawinata, I.P., Fachrul, B.F., Zakarias, R., Fachrul. M.F. 2020. Pelatihan Kewirausahaan Pembuatan Dodol Rumput Laut di Desa Kuta, Kecamatan Pujut-Mandalika Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. JUARA: Jurnal Wahana Abdimas Sejahtera. 1(2):206-216, Juli 2020. e-ISSN 2715-4998. Doi: 10.25105/juara.v1i2.7397.
Woolf, D., Lehmann, J., Joseph, S., Campbell, C., Christo, F. C., & Angenent, L. T. 2017. An Open-Source Biomass Pyrolysis Reactor. Biofuels, Bioproducts and Biorefining. 11(6):945-954. https://doi.org/10.1002/bbb.1814.