Sidik Cepat
UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.
Pembatasan Pelindungan Pasal 26
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap:
i. penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual; ii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian
ilmu pengetahuan;
iii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan
iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Sidik Cepat
Ancaman Banjir Bandang
Azmeri
Eldina Fatimah
SIDIK CEPAT ANCAMAN BANJIR BANDANG Azmeri
Eldina Fatimah Desain Cover : Dwi Novidiantoko
Tata Letak Isi : Haris Ari Susanto Sumber Gambar : id.wikipedia.com Cetakan Pertama: Agustus 2017
Hak Cipta 2017, Pada Penulis Isi diluar tanggung jawab percetakan Copyright © 2017 by Deepublish Publisher
All Right Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. PENERBIT DEEPUBLISH (Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA)
Anggota IKAPI (076/DIY/2012)
Jl.Rajawali, G. Elang 6, No 3, Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman Jl.Kaliurang Km.9,3 – Yogyakarta 55581
Telp/Faks: (0274) 4533427 Website: www.deepublish.co.id
www.penerbitdeepublish.com E-mail: [email protected]
Katalog Dalam Terbitan (KDT) AZMERI
Sidik Cepat Ancaman Banjir Bandang/oleh Azmeri & Eldina Fatimah.--Ed.1, Cet. 1--Yogyakarta: Deepublish, Agustus 2017.
xvii, 85 hlm.; Uk:15.5x23 cm ISBN 978-602-453-196-6
1. Permasalahan Sosial I. Judul
KATA SAMBUTAN
Dalam manajemen mitigasi bencana untuk mengatasi ancaman banjir bandang di hilir sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS), salah satu hasil dari program tersebut adalah diterbitkannya buku “Sidik Cepat
Ancaman Banjir Bandang”. Buku ini diharapkan dapat bermanfaat
untuk membantu dalam mitigasi bencana banjir bandang.
Dengan menggunakan buku Sidik Cepat ini, juga diharapkan hubungan kerja antara Badan Penanggulangan Bencana Aceh dan BPBD Kabupaten/kota, Dinas Sumber Daya Air, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup dengan Pemerintah Kabupaten dapat berjalan harmonis dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS berdasarkan mitigasi bencana banjir bandang.
Buku yang disusun ini merupakan bahagia dari manajemen risiko bencana banjir bandang yang komprehensif dalam menentukan tingkat ancaman, kerentanan, dan kapasitas, untuk dapat meminimalkan risiko terhadap bencana banjir bandang.
Parameter penyusun tingkat ancaman banjir bandang yang telah diformulasi dalam buku ini diharapkan mudah dipahami dan penting untuk dimiliki oleh instansi terkait serta berbagai pihak yang mendalami tentang kebencanaan, sehingga memudahkan aplikasinya bagi pengguna, terutama di tingkat kabupaten. Dengan kemudahan prosedur kerja tersebut diharapkan pelaksanaan kegiatan investigasi ancaman banjir bandang dapat dilakukan lebih cepat, tepat dan akurat. Diharapkan dapat sinergi dengan program pengurangan risiko bencana yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan pada daerah rawan bencana banjir bandang.
KATA SAMBUTAN
Negara Indonesia merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana, termasuk bencana banjir bandang. Sebagai salah satu langkah mitigasi bencana, maka diterbitkannya buku “Sidik Cepat Ancaman Banjir Bandang”.
Dengan menggunakan buku Sidik Cepat ini, diharapkan dapat
menjadi referensi bagi mahasiswa S1, S2 dan S3, serta menjadi referensi bagi Instansi terkait dan masyarakat luas dalam mitigasi bencana banjir bandang. Buku Referensi tersebut juga berguna karena sejak Semester Genap Tahun Ajaran 2016/2017 Universitas Syiah Kuala telah mengadakan pelaksanaan Mata Kuliah Umum Pengetahuan Kebencanaan dan Lingkungan. Adapun tujuan utama dalam mata kuliah ini adalah pengurangan risiko yang harus diperhitungkan dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan pada daerah yang rawan bencana.
Penyempurnaan buku ini perlu terus dilakukan dengan memperhatikan saran yang bersifat konstruktif yang disampaikan kepada penulis. Kepada peneliti lainnya diharapkan terus bersemangat dan berkarya untuk menghasilkan produk-produk penelitian untuk meminimalkan ancaman banjir bandang.
Banda Aceh, Mei 2017 Dekan Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala
PRAKATA PENYUSUN
Penelitian Mitigasi Risiko Bencana Melalui Analisis Perilaku Banjir Bandang akibat keruntuhan bendungan alam pada Daerah Aliran Sungai berlangsung dari tahun 2015 – 2017. Tahun pertama dilakukan analisis potensi keruntuhan bendungan alam yang terbentuk akibat keruntuhan material tebing sungai. Tahun kedua telah dilakukan analisis ancaman banjir bandang dari berbagai karakteristik DAS. Tahun ketiga sedang dilakukan survei dan analisis tingkat kerentanan, kapasitas dan risiko banjir bandang.
Berdasarkan penelitian yang telah selesai dilaksanakan dan telah dilakukan kalibrasi di lapangan, serta telah dilakukan verifikasi model ancamannya, maka disusunlah buku Sidik Cepat Ancaman Banjir Bandang ini. Namun dalam proses aplikasinya untuk penelitian ancaman banjir bandang, perbaikan formula/bobot yang tersusun masih memungkinkan untuk dilakukan. Oleh karena itu saran yang bersifat kritik konstruktif dari para pihak sangat diharapkan.
Dengan terbitnya buku ini, kami sampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para tim peneliti atas kontribusi pemikirannya. Terima kasih juga kami sampaikan kepada jajaran Jurusan Teknik Sipil dan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala yang telah mendukung terbitnya buku ini. Kepada semua pihak lainnya yang sudah membantu, kami mengucapkan terima kasih.
Semoga buku ini bermanfaat bagi para penggunanya.
Banda Aceh, Mei 2017
TERIMA KASIH:
“Kami haturkan kepada Allah SWT, atas Berkah dan
KaruniaNya sehingga dapat teruntai kalimat yang semoga
PERSEMBAHAN
“Buku ini dipersembahkan kepada M. Jevri Bustam, Faris
Zahran Jemi dan Nadhif Zauhair Jemi atas limpahan
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN ... vi
KATA SAMBUTAN ...vii
PRAKATA PENYUSUN ... viii
TERIMA KASIH: ... ix
PERSEMBAHAN ...x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ...xiv
DAFTAR TABEL ...xvi
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
1.3 Ruang Lingkup ... 2
BAB 2 PENILAIAN PARAMETER ANCAMAN BANJIR BANDANG... 3
2.1 Karakteristik Sungai ... 4
2.1.1 Gradien sungai ... 5
2.1.2 Kerapatan sungai ... 6
2.2 Akumulasi Air Sungai ... 9
2.2.1 Debit puncak spesifik ... 9
2.2.2 Volume tampungan... 11
2.2.3 Percabangan Sungai ... 12
2.2.4 Bentuk DAS ... 13
2.3 Longsor ... 15
2.3.1 Kemiringan lereng DAS ... 16
2.3.3 Stabilitas lereng ... 22
2.4 Penilaian Ancaman Banjir Bandang ... 23
BAB 3 TEKNIK INVESTIGASI ANCAMAN BANJIR BANDANG ... 26
3.1 Analisis Data Spasial Dalam SIG ... 28
3.2 Pembangkitan Digital Elevation Model (DEM) ... 28
3.3 Pembuatan Batas DAS Dan SubDAS ... 29
3.4 Identifikasi Potensi Pembendungan Alam ... 30
3.5 Debit Puncak Spesifik ... 30
3.6 Jenis Tanah ... 31
3.7 Penggunaan Lahan/Vegetasi... 32
3.8 Kemiringan Lereng DAS ... 32
3.9 Bentuk DAS Dan Morfologi Sungai ... 33
3.10 Erosi Lahan ... 33
3.11 Stabilitas Lereng ... 33
3.12 Volume Tampungan Pembendungan ... 34
3.13 Percabangan Sungai ... 34
3.14 Tingkat Ancaman Banjir Bandang ... 34
BAB 4 STUDI KASUS: PENILAIAN ANCAMAN BANJIR BANDANG DAS KRUENG TEUNGKU ... 36
4.1 Gambaran Daerah Studi ... 36
4.2 Kuantitas dan Kualitas Data Penelitian ... 37
4.3 Hasil Analisis Parameter Ancaman Banjir bandang DAS Krueng Teungku ... 38
4.3.1 Analisis data spasial dan pembangkitan Digital Elevation Model (DEM) DAS Krueng Teungku ... 38
4.3.2 Pembuatan batas DAS dan SubDAS Krueng Teungku ... 40
4.3.3 Identifikasi potensi pembendungan alam pada DAS Krueng Teungku ... 43
4.3.4 Debit puncak spesifik DAS Krueng
Teungku ... 43
4.3.5 Kemiringan lereng DAS Krueng Teungku ... 54
4.3.6 Gradien Sungai pada DAS Krueng Teungku ... 56
4.3.7 Bentuk DAS Krueng Teungku ... 58
4.3.8 Kerapatan Sungai pada DAS Krueng Teungku ... 60
4.3.9 Erosi DAS Krueng Teungku ... 61
4.3.10 Stabilitas lereng DAS Krueng Teungku ... 64
4.3.11 Volume tampungan pada DAS Krueng Teungku ... 68
4.3.12 Percabangan Sungai pada DAS Krueng Teungku ... 71
4.3.13 Tingkat ancaman banjir bandang pada DAS Krueng Teungku ... 72
BAB 5 PENUTUP ... 77
DAFTAR PUSTAKA ... 78
GLOSARIUM ... 81
INDEKS ... 83
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Parameter Penyusun Ancaman Banjir Bandang ... 4
Gambar 2.2 Ilustrasi Penampang Memanjang Gradien Sungai ... 6
Gambar 2.3 Ilustrasi Tingkat Kerapatan Sungai ... 8
Gambar 2.4 Penentuan Orde/Tingkat Percabangan Sungai ... 13
Gambar 2.5 Karakteristik Bentuk DAS ... 15
Gambar 2.6 Tahap perhitungan Kemiringan Lereng DAS ... 16
Gambar 3.1 Proses Overlay Parameter Ancaman Banjir Bandang... 35
Gambar 4.1 Daerah Studi pada DAS Krueng Teungku ... 37
Gambar 4.2 Peta DEM DAS Krueng Teungku ... 39
Gambar 4.3 Batas Das dan SubDAS Krueng Teungku... 41
Gambar 4.4 Gambar 3D DAS dan SubDAS Krueng Teungku ... 42
Gambar 4.5 Peta Tata Guna Lahan dan Kelompok Tanah ... 47
Gambar 4.6 Peta Debit Puncak Spesifik Sungai Krueng Teungku... 53
Gambar 4.7 Peta Kemiringan Lereng DAS Krueng Teungku... 55
Gambar 4.8 Peta Gradien Sungai Krueng Teungku ... 57
Gambar 4.9 Peta Bentuk DAS Krueng Teungku ... 59
Gambar 4.10 Peta Kerapatan Sungai Krueng Teungku ... 61
Gambar 4.11 Peta TBE DAS Krueng Teungku ... 63
Gambar 4.12 Gambar Bidang Keruntuhan Tebing Sampel Tanah A ... 65
Gambar 4.13 Gambar Bidang Keruntuhan Tebing Sampel Tanah B ... 65
Gambar 4.14 Gambar Bidang Keruntuhan Tebing Sampel Tanah C ... 66
Gambar 4.15 Peta Kelongsoran Tebing Sungai Krueng Teungku... 67
Gambar 4.17 Peta Percabangan DAS Krueng Teungku ... 72 Gambar 4.18 Peta Tingkat Ancaman Banjir Bandang DAS
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Pembagian Alur Sungai menjadi Ruas-ruas ... 4
Tabel 2.2 Indeks Kerapatan Aliran Sungai ... 7
Tabel 2.3 Tingkat Percabangan Sungai ... 13
Tabel 2.4 Karakteristik Bentuk DAS ... 14
Tabel 2.5 Nilai K untuk Beberapa Jenis Tanah di Indonesia ... 18
Tabel 2.6 Nilai C untuk Berbagai Jenis Tanaman dan Pengelolaan Tanaman ... 19
Tabel 2.7 Nilai Faktor P pada Berbagai Aktivitas Konservasi Tanah di Jawa ... 20
Tabel 2.8 Kriteria Tingkat Bahaya Erosi (TBE)... 21
Tabel 2.9 Faktor Keamanan Berdasarkan Studi Keruntuhan Lereng ... 23
Tabel 2.10 Besaran dan Skor Ancaman Banjir ... 23
Tabel 2.11 Bobot Parameter Ancaman Banjir Bandang ... 24
Tabel 3.1 Data Sekunder untuk Peta Zonasi Ancaman Banjir Bandang ... 26
Tabel 4.1 Data Sekunder Penelitian ... 38
Tabel 4.2 Parameter SubDAS dan Sungai Hasil Deliniasi DAS Krueng Teungku ... 42
Tabel 4.3 Hitungan Hyetograf Metode ABM SubDAS 7 ... 48
Tabel 4.4 Perhitungan Abstraksi dan ERH SubDAS 7 ... 49
Tabel 4.5 Absis dan Ordinat Hidrograf Satuan Sintetik SCS SubDAS 7 ... 50
Tabel 4.6 Perhitungan DRH Berdasarkan UHS dan ERH SubDAS 7 ... 51
Tabel 4.7 Kelas Debit Puncak Spesifik DAS Krueng Teungku ... 52
Tabel 4.8 Kelas Kemiringan Lereng DAS Krueng Teungku ... 54
Tabel 4.9 Kelas Gradien Sungai DAS Krueng Teungku ... 56
Tabel 4.10 Kelas Bentuk DAS Krueng Teungku ... 58
Tabel 4.12 Nilai Laju Erosi dan TBE pada DAS Krueng
Teungku ... 62 Tabel 4.13 Nilai Berat Jenis Tanah, Sudut Geser dan Kohesi
Tanah A, B dan C ... 64 Tabel 4.14 Volume Tampungan SubDAS Krueng Teungku ... 68 Tabel 4.15 Kategori Nilai Volume Pembendungan DAS
Krueng Teungku... 69 Tabel 4.16 Kelas Volume Tampungan DAS Krueng Teungku ... 69 Tabel 4.17 Kelas Pembendungan SubDAS Krueng Teungku ... 71 Tabel 4.18 Bobot Ancaman Banjir Bandang di DAS Krueng
Teungku ... 73 Tabel 4.19 Kelas Ancaman Banjir Bandang DAS Krueng
Teungku ... 74 Tabel 4.20 Tingkat Ancaman Banjir Bandang DAS Krueng
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Tahun 2012 banjir bandang adalah banjir yang terjadi secara tiba-tiba, memiliki debit puncak yang melonjak dan menyurut kembali dengan cepat dengan volume dan kecepatan aliran yang besar dan memiliki kemampuan erosi yang sangat besar sehingga dapat membawa material hasil erosi ke arah hilir. Banjir bandang terbentuk beberapa waktu setelah hujan lebat (dalam kisaran waktu beberapa menit sampai beberapa jam) yang terjadi dalam waktu singkat di sebahagian DAS atau alur sungai yang sempit di bagian hulu. Alur sungai ini memiliki waktu konsentrasi (waktu tiba banjir) yang singkat sehingga aliran permukaan cepat terkumpul di alur sungai. Banjir bandang terjadi pada aliran sungai yang kemiringan dasar sungainya curam. Aliran banjir bandang yang sangat cepat limpasannya dapat membawa batu besar/bongkahan dan pepohonan, serta merusak/ menghanyutkan apa saja dilewati dan meninggalkan bahan hanyutannya dimana bekas alirannya. Hal ini dapat menimbulkan masalah karena dapat menyebabkan jatuhnya korban manusia dan kerusakan serta kehancuran harta benda yang besar dalam waktu yang singkat.
Ancaman bencana banjir bandang dapat diidentifikasi melalui kondisi hidrologi dan karakteristik DAS. Berdasarkan kondisi hidrologi dan karakteristik DAS di hulu, dapat menyebabkan ancaman banjir bandang untuk daerah di hilirnya. Untuk meminimalisir dampak tersebut, maka perlu kiranya dilakukan identifikasi parameter yang mempengaruhi ancaman banjir bandang pada suatu DAS dan mengidentifikasi sebaran zona ancaman banjir bandang pada DAS.
1.2 Tujuan
Penerbitan buku ini bertujuan untuk memberikan metode investigasi cepat ancaman bencana banjir bandang yang berbasiskan pada kondisi hidrologi dan sistem karakterisasi DAS. Hasil investigasi nantinya berguna untuk mengetahui wilayah yang menjadi prioritas penanganan atau mitigasi bencana banjir bandang di lokasi kejadian.
1.3 Ruang Lingkup
Investigasi ancaman banjir bandang dilakukan terhadap 3 indikator berikut: karakteristik sungai, akumulasi air sungai, dan longsor. Selanjutnya masing-masing indikator mempunyai parameter ancaman yang dilakukan pembobotan untuk memperoleh tingkat ancaman pada setiap DAS/SubDAS.
BAB 2
PENILAIAN PARAMETER ANCAMAN
BANJIR BANDANG
Bencana akibat proses hidro-meteorologi terus meningkat seiring dengan perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang terjadi saat ini. Termasuk juga bencana banjir bandang yang semakin sering terjadi dan penting dikaji sebagai mitigasinya. Montz dan Gruntfest (2002) mendefinisikan karakteristik banjir bandang sebagai banjir yang terjadi tiba-tiba dengan waktu sangat singkat melebihi waktu yang dimiliki untuk peringatan. Terjadinya banjir bandang dapat dipicu oleh curah hujan yang tinggi di bagian hulu dan dipengaruhi oleh sifat fisik daerah resapan.Sebagian besar studi hidrologi yang berfokus pada aliran banjir bandang didasarkan pada parameter morfometrik DAS (Gabr dan El Bastawey, 2015). Menurut Sumi dkk (2013), sangatlah penting mengembangkan metodologi lanjutan sebagai mitigasi bencana banjir bandang, salah satunya melalui penyusunan peta potensi bahaya banjir. Sistem penilaian terhadap banjir bandang perlu diformulasi untuk menilai tingkat ancaman banjir bandang. Ancaman banjir bandang diukur dari ancaman suatu SubDAS mencakup indikator berikut: (1) karakteristik sungai, (2) akumulasi air sungai, dan (3) longsor. Pemilahan demikian untuk membantu dalam melakukan analisis masalah yang timbul sehingga diperoleh dasar pendekatan untuk mitigasi bencana banjir bandang yang lebih rasional. Masing-masing indikator tersebut selanjutnya diklasifikasi lagi dalam beberapa parameter penyusunnya seperti yang diberikan pada Gambar 2.1. Setiap parameter diberi bobot berdasarkan pertimbangan besarnya peran dalam potensi ancaman banjir bandang.
Gambar 2.1 Parameter Penyusun Ancaman Banjir Bandang
2.1 Karakteristik Sungai
Kementerian PU (2012) menyebutkan bahwa sebuah sistem sungai terdiri dari sungai induk dan anak-anak sungai yang berfungsi sebagai alur-alur pematus DAS, mengalirkan air ke hilir serta mengangkut sedimen yang diangkutnya. Jejaring sungai dengan jumlah alur pemasok yang kecil kemungkinan menimbulkan banjir sangat besar karena debit hanya terpusat pada sebuah alur.
Tabel 2.1 Pembagian Alur Sungai menjadi Ruas-ruas Klasifikasi Ruas Hulu
Ruas Hilir Ruas Alluvial Ruas Pasang
Surut Muara
Material Dasar
Bebatuan,
kerikil Kerikil s.d pasir
Pasir s.d lempung Pasir s.d lempung Pola Aliran dalam Alur Jeram Rapid/torrenti al Jalin/ braided Jalin/meander Meander s.d lurus Bercabang-cabang Arah Aliran Ke hilir Ke hilir Dua arah ke Dua arah ke
PARAMETER ANCAMAN BANJIR BANDANG
KARAKTERISTIK SUNGAI AKUMULASI AIR SUNGAI LONGSOR
1. GRADIEN SUNGAI 2. KERAPATAN SUNGAI
1. DEBIT PUNCAK SPESIFIK 2. VOLUME TAMPUNGAN 3. PERCABANGAN SUNGAI
4. BENTUK DAS
1. KEMIRINGAN LERENG DAS 2. EROSI DAS 3. STABILITAS LERENG
Klasifikasi Ruas Hulu
Ruas Hilir Ruas Alluvial Ruas Pasang
Surut Muara hilir dan ke hulu pada saat pasang naik hilir dan ke hulu pada saat pasang naik Angkutan Sedimen Aliran debris dan aliran individual oleh traksi aliran Aliran individual oleh traksi aliran Traksi dan suspensi Suspensi dan traksi Kedalaman Alur Bervariasi dari dalam sampai dangkal
Dalam Dalam Dangkal Kelandaian Dasar Jeram ≥ 0,03 Jalin 0,01 - 0,03 1/100 - 1/2000 ≤ 1/20000 ± 0 (sangat kecil) Sifat Banjir yang terjadi Jeram : lonjakan debit mendadak Jalin : lonjakan debit mendadak dan kemungkinan banjir bandang Di bawah apex : banjir bandang dan bagian hilir
banjir Banjir dan banjir rob/luapan pasang naik Banjir dan banjir rob/luapan pasang naik Sifat Gerakan Sedimen Jeram : daerah produksi Jalin : daerah transportasi Daerah sedimentasi Daerah sedimentasi Daerah sedimentasi Sumber: Kementerian PU (2012) 2.1.1 Gradien sungai
Menurut Paimin et al (2009) besarnya pasokan air banjir salah satunya dapat diidentifikasi dari gradien sungai. Gradien sungai diperoleh dari hasil deliniasi DAS. Gradien sungai yang terjal dapat mempercepat
laju aliran air ke bagian hilirnya sehingga menimbulkan ancaman banjir bandang. Gradien sungai biasanya memiliki kemiringan yang terjal terutama di bagian hulu DAS. Pada Gambar 2.2. memperlihatkan contoh penampang memanjang gradien sungai dari hulu ke hilir DAS.
Gambar 2.2 Ilustrasi Penampang Memanjang Gradien Sungai
2.1.2 Kerapatan sungai
Menurut Asdak (2002), kerapatan drainase adalah panjang aliran sungai per kilometer persegi luas seperti dalam persamaan berikut:
Dd = L/A ( 1 )
keterangan:
Dd = kerapatan drainase (km/ km2);
L = panjang aliran sungai (km); dan A = luas DAS (km2).
Dalam suatu DAS, anak sungai di sebelah hulu akan bersambung dengan anak sungai yang lebih besar di hilirnya. Aliran air dari kedua anak sungai tersebut menjadi satu, tetapi debit puncak untuk kedua anak sungai tersebut terjadi bersamaan. Debit puncak untuk satu anak sungai
mungkin sudah terlampaui, sementara pada anak sungai berikutnya baru akan terjadi. Pengaruh ketidaksamaan debit puncak akan menurunkan debit puncak total pada sungai utama.
Menurut Soewarno (1991) indeks kerapatan aliran sungai dapat diklasifikasikan pada Tabel 2.2 dan Gambar 2.3.
Tabel 2.2 Indeks Kerapatan Aliran Sungai No Dd
(km/km2)
Kelas
Kerapatan Keterangan
1 < 0,25 Rendah Alur sungai melewati bebatuan dengan resistensi keras, maka angkutan sedimen yang terangkut aliran sungai lebih kecil jika dibandingkan pada alur sungai yang melewati batuan dengan resistensi yang lebih lunak, apabila kondisi lain yang mempengaruhinya sama
2 0,25 – 10 Sedang Alur sungai melewati bebatuan dengan resistensi yang lebih lunak, sehingga angkutan sedimen yang terangkut aliran akan lebih besar
3 10 – 25 Tinggi Alur sungai melewati bebatuan dengan resistensi yang lunak, sehingga angkutan sedimen yang terangkut aliran akan lebih besar
4 > 25 Sangat Tinggi
Alur sungai melewati bebatuan yang kedap air. Keadaan ini menunjukkan bahwa air hujan menjadi aliran akan lebih besar jika dibandingkan suatu daerah dengan Dd rendah melewati batuan yang permeabilitas besar.
2.2 Akumulasi Air Sungai 2.2.1 Debit puncak spesifik
Bencana banjir bandang disebabkan oleh serangkaian faktor pemicu yang menentukan lokasi, frekuensi dan besarannya. Curah hujan yang berlebihan dengan intensitas tinggi adalah sumber utama terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di daerah perbukitan. Bencana tersebut terjadi secara spesifik di daerah yang terdiri dari batuan yang tidak terkonsolidasi (Sarker dan Rashid, 2013). Karakteristik banjir bandang menurut Kementerian PU (2012) adalah adanya debit puncak yang melonjak dengan tiba-tiba dan menyurut kembali dengan cepat. Untuk mengatasi permasalahan umum akan ketersediaan pengukuran debit aliran sungai, Triatmodjo (2009) menyarankan untuk mentransformasikan data hujan menjadi debit aliran dengan menggunakan konsep hidrograf satuan. Metode hidrograf banyak digunakan untuk memperkirakan banjir rancangan.
Hidrograf satuan menggambarkan semua kombinasi dari karakteristik fisik DAS (bentuk, ukuran, kemiringan, sifat tanah) dan karakteristik hujan (pola, intensitas dan durasi). Apabila di daerah tidak tersedia data hidrologi untuk menurunkan hidrograf satuan, maka dibuat hidrograf satuan sintetis yang didasarkan pada karakteristik fisik DAS.
Intensitas hujan harian dapat dihitung dengan menggunakan Metode Manonobe seperti berikut (Hadisusanto 2011):
3 / 2 24 24 24 c t R I (2) keterangan:
I = intensitas hujan rata-rata selama t jam (mm/jam); tc = waktu konsentrasi atau waktu tiba banjir (jam); dan
R24 = curah hujan harian atau hujan selama 24 jam (mm).
Waktu konsentrasi dapat dihitung dengan rumus Kirpich sebagai berikut (Hadisusanto 2011):
385 , 0 77 , 0 01947 , 0 L S tc (3) keterangan:
L = panjang maksimum perjalanan air (m); dan S = kemiringan sungai.
Soil Conservation Service (SCS) mengembangkan metode untuk menghitung hujan efektif dari hujan deras dengan persamaan (Triatmodjo 2009) : ) 8 , 0 ( ) 2 , 0 ( 2 S P S P Pe (4) 254 25400 CN S (5) keterangan:
Pe = kedalaman hujan efektif (mm);
P = kedalaman hujan (mm); dan
S = retensi potensial maksimum air oleh tanah, yang sebahagian besar adalah karena infiltrasi (mm);
Metode hidrograf satuan sintetik SCS mengekspresikan rasio antara debit q dengan debit puncak qp dalam ordinat dan waktu t dengan
waktu naik (time of rise) tp dalam absis. Debit puncak dapat diperoleh
dengan menggunakan persamaan berikut (Hadisusanto 2011) : qp = p T CA (6) Tp = p r
t
t
2
(7) tp = 0,6 x tc (8) keterangan:qp = debit puncak (m3/det);
C = konstanta (2,08); A = luas DAS (km2);
Tp = waktu naik atau waktu yang diperlukan antara permulaan hujan hingga mencapai puncak hidograf (jam);
tr = lama terjadinya hujan efektif (jam); dan
tp = waktu kelambatan (jam);
Analisis data untuk membentuk Direct Runoff Hydograph (DRH) dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut (Chow et al 1988) : Qn =
M n m 1P
mU
n m 1 (9) keterangan:Qn = debit direct runoff pada pulsa ke n;
Pm = hujan efektif pada pulsa ke m; dan
U = ordinat hidrograf satuan. 2.2.2 Volume tampungan
Beberapa kejadian banjir bandang teridentifikasi bahwa proses banjir didahului oleh tanah longsor yang menutup palung sungai sehingga membentuk pembendungan alam sebagai dam penampung air. Seiring dengan hujan turun dan penambahan volume tampungan, maka dam yang terbentuk tidak mampu untuk menampung air limpasan. Lemahnya stabilitas dam alami tersebut, mengakibatkan terjadi keruntuhan dam dan dalam waktu singkat menyebabkan banjir bandang. Kondisi ini sangat membahayakan daerah di bagian hilirnya. Untuk mengestimasi volume pembendungan tersebut, maka Soedibyo (2003) menyebutkan bahwa volume tampungan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
1 2 1 2
3 1 xF F F F k V (10) keterangan: V = volume tampungan (m3);F1 = luas genangan untuk elevasi 1 (m2); dan
F2 = luas genangan untuk elevasi 2 (m2).
Dalam analisis ancaman banjir bandang, tinggi pembendungan diambil sebesar tinggi minimum tebing sungai (tebing kanan/kiri).
2.2.3 Percabangan Sungai
Alur sungai dalam suatu DAS dapat dibagi dalam beberapa orde sungai atau tingkat percabangan sungai (bifurcation ratio). Orde adalah posisi percabangan alur sungai di dalam urutannya terhadap induk sungai dalam satu DAS (Soewarno, 1991). Dengan demikian makin banyak jumlah orde sungai akan semakin luas pula DASnya dan akan semakin panjang pula alur sungainya.
Tingkat percabangan sungai adalah angka atau indeks yang ditentukan berdasarkan jumlah alur sungai untuk suatu orde. Untuk menghitung tingkat percabangan sungai dapat digunakan rumus:
Rb = Nu/(Nu+1) (11)
keterangan:
Rb = Indeks tingkat percabangan sungai; Nu = jumlah alur sungai untuk orde ke u; dan
Nu + 1 = jumlah alur sungai untuk orde ke u + 1
Alur sungai paling hulu yang tidak memiliki cabang disebut orde pertama, pertemuan dua orde pertama disebut orde kedua, pertemuan orde pertama dengan orde kedua disebut orde kedua, dan pertemuan dua orde kedua disebut orde ketiga, begitu seterusnya. Secara umum dapat dinyatakan bahwa pertemuan dua orde yang sama menghasilkan nomor orde satu tingkat lebih tinggi, sedangkan pertemuan dua orde sungai yang berbeda memberikan nomor orde yang sama nilainya dengan nomor orde tertinggi di antara kedua orde sungai yang bertemu. Penentuan orde/tingkat percabangan sungai diberikan pada Gambar 2.4 berikut.
Gambar 2.4 Penentuan Orde/Tingkat Percabangan Sungai
Tingkat percabangan sungai menyebabkan terjadinya akumulasi aliran pada hilir percabangan, yang dijelaskan pada Tabel 2.3 berikut:
Tabel 2.3 Tingkat Percabangan Sungai
No Rb Keterangan
1 < 3 Kenaikan muka air banjir dengan cepat, sedangkan penurunannya berjalan cepat
2 3–5 Kenaikan muka air banjir tidak terlalu cepat, sedangkan penurunannya berjalan tidak terlalu cepat juga (sedang)
3 > 5 Kenaikan muka air banjir dengan cepat, sedangkan penurunannya berjalan lambat (abnormal)
Sumber: Soewarno, 1991 2.2.4 Bentuk DAS
Pola sungai menentukan bentuk suatu DAS. Bentuk DAS mempunyai arti penting dalam hubungannya dengan aliran sungai, yaitu berpengaruh terhadap kecepatan terpusat aliran. Deskripsi bentuk DAS diberikan pada Tabel 2.4.
Menurut Gregari dan Walling (1975), untuk menentukan bentuk DAS dapat diketahui dengan terlebih dahulu menentukan nilai basin circularity sebagai berikut:
Rc = 4πA/P2 (12)
keterangan:
Rc = Basin circularity; A = Luas DAS (m2); dan P = Keliling (m).
Tabel 2.4 Karakteristik Bentuk DAS
No Rc Keterangan
1 > 0,5 Bentuk DAS sungai membulat, debit puncak datangnya lama, begitu juga penurunannya
2 < 0,5 Bentuk DAS sungai memanjang, debit puncak datangnya cepat, begitu juga penurunannya
Sumber: Soewarno, 1991
Menurut Paimin et al (2009) besarnya pasokan air banjir salah satunya dapat diidentifikasi dari bentuk DAS. Asdak (2002) mengemukakan bahwa bentuk DAS yang memanjang dan sempit cenderung akan menurunkan laju aliran daripada DAS berbentuk lebar. Hal ini terjadi karena aliran air pada DAS bentuk memanjang tidak terkonsentrasi secepat pada DAS yang berbentuk lebar. Artinya jarak antara tempat jatuhnya hujan di titik pengamatan pada DAS berbentuk memanjang lebih panjang. Sehingga waktu yang diperlukan air hujan sampai ke titik pengamatan juga lebih lama, dan dengan demikian dapat menurunkan waktu terjadinya debit puncak dan volumenya. Dalam hal bentuk DAS yang bulat dapat meningkatkan laju aliran karena jarak jatuhnya hujan di titik pengamatan sampai ke outlet DAS menjadi lebih pendek. Sehingga waktu yang diperlukan air hujan sampai ke outlet juga lebih pendek. Kondisi ini dapat meningkatkan waktu terjadinya debit puncak yang dapat berpotensi terjadinya banjir bandang. Bentuk-bentuk DAS diberikan pada Gambar 2.5.
Tipe Karakteristik Gambar
Bulu Burung
Jalur anak sungai di kiri kanan sungai utama mengalir menuju sungai utama, debit banjir kecil karena waktu tiba banjir dari anak-anak sungai berbeda-beda dan banjir berlangsung lama
Radial
Bentuk DAS menyerupai kipas atau anak lingkaran, anak-anak sungai berkonsentrasi dari suatu titik secara radial, banjir besar terjadi di titik pertemuan anak-anak sungai.
Paralel
Bentuk ini mempunyai corak dimana dua jalur aliran sungai yang sejajar bersatu di bagian hilir, banjir terjadi di titik pertemuan sungai-sungai
Kompleks Memiliki beberapa bentuk dari ketiga bentuk diatas
Gambar 2.5 Karakteristik Bentuk DAS Sumber: Soewarno, 1991 2.3 Longsor
Kementerian PU (2012) menyatakan bahwa runtuhnya bendungan alam merupakan salah-satu penyebab terjadinya banjir bandang. Berdasarkan Azmeri, Yulianur dan Listia (2015), bendungan alam terbentuk akibat longsoran. Material hasil longsoran dapat terbawa oleh aliran dan menyumbat aliran sungai sehingga perlahan-lahan akan membentuk bendungan. Longsoran tanah dapat terjadi karena erosi sehingga perlahan-lahan tanah terjadi longsoran.
2.3.1 Kemiringan lereng DAS
Asdak (2002) menyatakan bahwa kemiringan lereng mempengaruhi perilaku dan hidrograf dalam hal waktu aliran. Semakin besar kemiringan lereng suatu DAS semakin cepat laju aliran dan dengan demikian mempercepat respons DAS tersebut oleh adanya hujan. Hasil kajian Firmansyah dan Kadarsetia (2010) juga telah menunjukkan bahwa banjir bandang dipengaruhi oleh kemiringan lahan. Pada areal berbukit dan tebing sungai yang curam memiliki potensi mengalami gerakan tanah sehingga terjadi terjadi penyumbatan di hulu sungai.
Mengacu pada Smith (2003) bahwa perbedaan ketinggian suatu DAS sebagai faktor fisiografis memiliki peran yang signifikan dalam terjadinya banjir bandang. Parameter lereng merepresentasikan kemiringan lereng pada tiap sub-DAS sebagai salah satu fitur dalam morfometri (Dramis et al., 2011).
Gambar 2.6 Tahap perhitungan Kemiringan Lereng DAS
2.3.2 Erosi lahan
Metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dikembangkan oleh Wischmeir dan Smith (1965, 1978) yang digunakan untukmemperkirakan besarnya erosi rata-rata tahunan dengan menggunakan pendekatan dari fungsi energi hujan. Faktor yang dipertimbangkan meliputi erosivitas
hujan (R), erodibilitas tanah (K), panjang lahan (L), kemiringan lahan (S), faktor pengelolaan tanaman (C) dan faktor tindakan khusus konservasi lahan (P).
Menurut Asdak (2002) besarnya erosi dapat dihitung dengan menggunakan Metode USLE sebagai berikut :
A =R.K.LS.C.P (13)
keterangan:
A = besarnya kehilangan tanah persatuan luas lahan (ton/ha); R = faktor erosivitas hujan;
K = indeks erodibilitas tanah;
L = faktor panjang kemiringan lereng; S = faktor kemiringan;
C = pengelolaan tanaman; dan P = konservasi tanah.
Faktor erosivitas (R) adalah fungsi dari curah hujan yang jatuh dan intensitas hujan. Wischmeier dan Smith (1978) dalam Das (2002), menemukan bahwa hasil dari energi kinetik hujan dan intensitas hujan maksimum dengan durasi lebih dari 30 menit, merupakan estimasi yang baik untuk erosi, yang disebut dengan EI. Erosivitas hujan dapat dihitung menggunakan persamaan: 30
I
E
R
i (14) Ei = (200 + 87 log10 Ii)Pi (15) keterangan:R = erosivitas hujan (MJ-mm/ha-h); Ei = energi kinetik hujan (J/m2);
I30 = Intensitas hujan maksimum selama 30 menit (mm/jam);
Ei = Energi kinetic hujan (J/m2);
Ii = Intensitas hujan rata-rata (cm/jam); dan
Menurut Asdak (2002), erodibilitas tanah (K) merupakan faktor yang menunjukkan ketahanan partikel tanah dalam pengelupasan tanah akibat adanya energi kinetik dari hujan yang jatuh. Erodibilitas tanah untuk jenis tanah yang tersebar di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5 Nilai K untuk Beberapa Jenis Tanah di Indonesia No. Jenis Tanah Nilai K
1. Regosol 0.40
2. Alluvial 0.47
3. Grumusol 0.20
4. Komplek mediteran dan litosol 0.46 5. Kuning kemerahan latosol 0.36 6. Coklat kemerahan latosol dan litosol 0.43 7. Kuning kemerahan latosol dan litosol 0.36
8. Mediteran 0.31
9. Renzina 0.21
10. Litosol 0.22
11. Andosol 0.12
12. Latosol 0.17
Sumber: BPDAS Kr. Aceh (2013)
Menurut Asdak (2002) faktor C menunjukkan keseluruhan pengaruh vegetasi, seresah, kondisi permukaan tanah dan pengelolaan lahan terhadap besarnya tanah yang hilang (erosi). Pengaruh aktivitas pengelolaan dan konservasi tanah (P) terhadap besarnya erosi dianggap berbeda dari pengaruh yang ditimbulkan oleh aktivitas pengelolaan tanaman (C) yang diberikan pada Tabel 2.6. Tingkat erosi yang terjadi sebagai akibat pengaruh aktivitas pengelolaan dan konservasi tanah (P) bervariasi yang diberikan pada Tabel 2.7, terutama tergantung pada kemiringan lereng.
Tabel 2.6 Nilai C untuk Berbagai Jenis Tanaman dan Pengelolaan Tanaman
Jenis tanaman/tata guna lahan Nilai C
Tanaman Rumput Tanaman kacang jogo Tanaman Gandum Tanaman Ubi kayu Tanaman kedelai Tanaman serai wangi Tanaman padi lahan kering Tanaman padi lahan basah Tanaman jagung
Tanaman jahe, cabe
Tanaman kentang ditanam secara lereng Tanaman kentang ditanam secara kontur
Pola tanam tumpang gilir+mulsa jerami (6 ton/ha/th) Pola tanam tumpang gilir+mulsa sisa tanaman Pola tanam berurutan
Pola tanam tumpang gilir+mulsa sisa tanaman Kebun campuran
Ladang berpindah Tanah kosong diolah Tanah kosong tidak diolah Hutan tidak terganggu Semak tidak terganggu Alang-alang permanen Alang-alang dibakar Sengon disertai semak
Sengon tidak disertai semak dan tanpa seresah Pohon tanpa semak
0,290 0,161 0,242 0,363 0,399 0,434 0,560 0,010 0,637 0,900 1,000 0,350 0,079 0,347 0,398 0,357 0,200 0,400 1,000 0,950 0,001 0,010 0,020 0,700 0,012 1,000 0,320 Sumber: Asdak (2002)
Tabel 2.7 Nilai Faktor P pada Berbagai Aktivitas Konservasi Tanah di Jawa
Teknik Konservasi Tanah Nilai P
Teras bangku a. Baik b. Jelek
Teras bangku : jagung-ubi kayu/kedelai Teras bangku : sorghum-sorghum Teras tradisional
Teras gulud : padi-jagung Teras gulud : ketela pohon
Teras gulud : jagung-kacang+mulsa sisa tanaman Teras gulud : kacang kedelai
Tanaman dalam kontur : a. Kemiringan 0-8 % b. Kemiringan 9-20 % c. Kemiringan > 20 %
Tanaman dalam jalur-jalur: jagung-kacang tanah + mulsa limbah jerami a. 6 ton/ha/thn
b. 3 ton/ha/thn c. 1 ton/ha/thn Tanaman perkebunan:
a. Disertai penutup tanah rapat b. Disertai penutup tanah sedang Padang rumput: a. Baik b. Jelek 0,20 0,35 0,06 0,02 0,40 0,01 0,06 0,01 0,11 0,50 0,75 0,90 0,05 0,30 0,50 0,80 0,10 0,50 0,04 0,40 Sumber: Asdak (2002)
Faktor indeks topografi L dan S masing-masing merupakan panjang dan kemiringan lahan terhadap besarnya erosi. Panjang lereng mengacu pada aliran permukaan, yaitu lokasi yang akan terjadi erosi dan kemungkinan terjadinya deposisi sedimen. Lereng dengan kemiringan 3-18 %, faktor panjang dan kemiringan lereng dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut (Asdak 2002) :
2
138 , 0 965 , 0 38 , 1 01 , 0 L S S LS (16)Lereng dengan kemiringan > 20 %, maka faktor panjang dan kemiringan lereng dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
LS=
l/22
mC cos
1.5
0.5
sin
1.25
sin
2.25
(17) keterangan:m = 0,5 untuk lereng 5% atau lebih m = 0,4 untuk lereng 3,4%–4,9% m = 0,3 untuk lereng 3,5%; C = 34,71;
α = sudut lereng; dan l = panjang lereng.
Tingkat Bahaya Erosi (TBE) pada dasarnya dapat diperkirakan dengan nisbah antara laju erosi tanah potensial (A) dengan laju erosi yang masih dapat ditoleransi (TSL). Tingkat bahaya erosi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (Hammer, 1981):
TSL A
TBE (18)
keterangan:
A = besar erosi tanah potensial (ton/ha/tahun); dan TSL = erosi yang masih dapat ditoleransi (ton/ha/tahun).
Sebagai contoh, nilai laju erosi yang dapat ditoleransi untuk wilayah Sumatera adalah berkisar antara 27-29 ton/ha/tahun berdasarkan penelitian Corry (2009).
Tabel 2.8 Kriteria Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Nilai Kriteria
< 1.0 Rendah 1.10 – 4.00 Sedang 4.01 - 10.0 Tinggi > 10.01 Sangat Tinggi
2.3.3 Stabilitas lereng
Hardiyatmo (2007) menyatakan pada permukaan tanah yang tidak horizontal, komponen gravitasi cenderung akan menggerakkan tanah ke bawah. Jika komponen gravitasi demikian besar sehingga perlawanan terhadap geseran yang dapat dikerahkan oleh tanah pada bidang longsornya terlampaui, maka akan terjadi kelongsoran lereng. Analisis stabilitas tanah yang miring ini disebut dengan stabilitas lereng. Parameter yang dihasilkan dalam analisis stabilitas lereng adalah bentuk bidang keruntuhan dan faktor keamanan. Faktor keamanan dengan Metode Bishop dapat dihitung dengan menggunakan persamaan dengan persamaan:
i n i i i i n i i u i i w F tg tg tg r w b c F 1 1 sin ' 1 cos 1 ) 1 ( ' (19) keterangan: F = faktor keamanan;c’ = kohesi tanah efektif (kN/m2);
φ’ = sudut geser dalam tanah efektif (o); bi = lebar irisan ke-i (kN); dan
θi = sudut yang terbentuk pada irian ke-i (o).
Bowles (1993:547) juga merekomendasikan bahwa faktor keamanan berdasarkan studi-studi tentang keruntuhan lereng ditunjukkan pada Tabel 2.9.
Tabel 2.9 Faktor Keamanan Berdasarkan Studi Keruntuhan Lereng No. Faktor Keamanan Kejadian/Intensitas Longsor
1. SF < 1,07 Keruntuhan sering terjadi (lereng labil) 2. 1,07 < SF < 1,25 Keruntuhan pernah terjadi
(lereng kritis) 3. SF > 1,25 Keruntuhan jarang terjadi
(lereng relatif stabil) 2.4 Penilaian Ancaman Banjir Bandang
Menurut Habib, dkk (2013) untuk menentukan tingkat ancaman banjir bandang digunakan sistem pengharkatan dengan persamaan:
i = k b c (20) keterangan: i = interval;
c = jumlah harkat tertinggi; b = jumlah harkat terendah; dan k = jumlah kelas yang diinginkan.
Tabel 2.10 Besaran dan Skor Ancaman Banjir
Indikator Parameter Besaran Kategori Nilai Skor
Karakteristik Sungai Gradien Sungai < 0,5 Rendah 1 0,5- 1 Agak Rendah 2 1,1 – 1,5 Sedang 3 1,5 - 2 Agak Tinggi 4 > 2 Tinggi 5 Kemiringan Lereng DAS < 8 Rendah 1 8- 15 Agak Rendah 2 16 – 25 Sedang 3 26 - 45 Agak Tinggi 4 > 45 Tinggi 5 Akumulasi Air sungai Debit Puncak Spesifik < 0,58 Rendah 1 0,58- 1 Agak Rendah 2
Indikator Parameter Besaran Kategori Nilai Skor (m3/dt/km2) 1,01 – 1,50 Sedang 3 1,51 - 5 Agak Tinggi 4 > 5 Tinggi 5 Percabangan Sungai/Air Pasang
Tidak Ada Rendah 1 Anak Cabang Sungai Induk Agak Rendah 2 Cabang Sungai Induk Sedang 3 Sungai Induk/Bottle Neck Agak Tinggi 4 Pasang Air Laut Tinggi 5
Bentuk DAS
Lonjong Rendah 1 Agak Lonjong Agak Rendah 2 Sedang Sedang 3 Agak Bulat Agak Tinggi 4 Bulat Tinggi 5 Sumber: Paimin et al (2010), dipergunakan dalam analisis banjir bandang
Analisis ancaman banjir bandang menggunakan parameter kemiringan sungai, akumulasi air sungai, dan potensi longsor di suatu DAS/SubDAS. Banjir bandang dipengaruhi oleh beberapa parameter yaitu gradien sungai, kerapatan sungai, debit puncak, volume tampungan, pembendungan akibat percabangan sungai, bentuk DAS, kemiringan lereng DAS, erosi lahan dan stabilitas lereng. Berdasarkan Azmeri, Hadihardaja, Vadya (2016), maka parameter ancaman banjir bandang dibedakan atas parameter kemiringan sungai dengan bobot 33,33 %, akumulasi air sungai dengan bobot 33,33% dan longsor 33,33%. Bobot masing-masing parameter ancaman banjir bandang dapat dilihat pada Tabel 2.11.
Tabel 2.11 Bobot Parameter Ancaman Banjir Bandang No Indikator Bobot Parameter (%) Parameter Bobot Parameter (%) Bobot Total (%) 1. Karakteristik Sungai 33,33 Gradien sungai 70 23,33 Kerapatan sungai 30 10,00
No Indikator Bobot Parameter (%) Parameter Bobot Parameter (%) Bobot Total (%) 2. Akumulasi Air sungai 33,33 Debit puncak spesifik 30 10,00 Volume tampungan 30 10,00 Pembendungan karena Percabangan sungai 20 6,67 Bentuk DAS 20 6,67 3. Longsor 33,33 Kemiringan Lereng DAS 40 13,33 Erosi Lahan 30 10,00 Stabilitas lereng 30 10,00 Total 100,00
BAB 3
TEKNIK INVESTIGASI ANCAMAN
BANJIR BANDANG
Investigasi data sebagai informasi parameter penyusun ancaman banjir bandang dapat menggunakan data berupa peta yang tersedia (data sekunder dan analisis) serta dengan melakukan survei lapangan (data primer). Penggunaan data sekunder diperoleh dari berbagai institusi. Rekapitulasi sumber data disajikan pada Tabel 3.1.Tabel 3.1 Data Sekunder untuk Peta Zonasi Ancaman Banjir Bandang
No Jenis Data Spesifik Data Sumber Data Kegunaan Data
1 Data Hidrologi
Data curah hujan harian maksimum Puslitbang Air, BWS/BBWS, dan Dinas PU Pengairan Propinsi, Kabupaten dan Kecamatan, Instansi lain Banjir dan Banjir Bandang
Data Debit Spesifik Puslitbang Air, BWS/BBWS Banjir dan Banjir Bandang 2 Peta topografi & RBI a.Morfometri DAS Luas wilayah SubDAS Bentuk SubDAS Gradien sungai Kemiringan lereng SubDAS Kerapatan sungai b.Kelas Lereng c.Penggunaan/ penutupan lahan d.Jaringan jalan Bakosutarnal, Jatop TNI AD, Bappeda Banjir Banjir Bandang Erosi Tanah Longsor Daerah Rawan Banjir dan Banjir Bandang
No Jenis Data Spesifik Data Sumber Data Kegunaan Data e.Meandering f.Percabangan sungai g.Estimasi bentuk lahan 3 Peta Jenis Tanah a.Jenis tanah b.Estimasi solum tanah Puslitanak, SimDAS Kementerian Kehutanan Kekritisan Lahan Erosi Tanah Longsor 4 Peta Tata Guna Lahan
Jenis dan persen penutupan lahan Baplan/ Dephut, Pemda Banjir Banjir Bandang Erosi Tanah Longsor Daerah Rawan Banjir dan Banjir Bandang 5 Foto Udara Foto Udara Banjir
Banjir Bandang Erosi Tanah Longsor Daerah Rawan Banjir dan Banjir Bandang 6 Citra Satelit a. Penutupan lahan
b. Meandering c. Percabangan sungai Banjir Banjir Bandang Erosi Tanah Longsor Daerah Rawan Banjir dan Banjir Bandang
Penyusunan satuan peta (lahan) dilakukan dengan tumpang tindih (overlay) peta penggunaan lahan, peta tanah, dan peta kelas lereng yang dideliniasi pada peta RBI atau peta topografi. Untuk mempermudah pekerjaan ini perangkat Sistem Informasi Geografis (Geograpic Information System/GIS) dapat digunakan. Parameter dalam satuan peta ini dikoreksi pada kegiatan survei lapangan.
Survei lapang dilakukan untuk memperoleh data parameter: solum tanah, kondisi dan jenis vegetasi penutup tanah, praktik konservasi tanah dan air, kerapatan sungai, bentuk lahan, pembendungan oleh pencabangan sungai. Seluruh data dihimpun pada masing-masing satuan lahan.
3.1 Analisis Data Spasial Dalam SIG
Jika peta yang diperoleh belum dilengkapi dengan koordinat, maka selanjutnya dilakukan transformasi data menjadi data yang mempunyai koordinat geografi (georeferensi). Proses pengolahan koordinat ini disebut geo-referencing. Proses geo-referencing dapat dilakukan dengan software ArcGIS. Data yang sudah mempunyai koordinat selanjutnya dapat dioverlay dengan beberapa data lain yang memiliki koordinat yang sama. Langkah-langkah geo-referencing adalah sebagai berikut:
a. Menjalankan software ArcGIS;
b. Menjalankan menu arctool box dan membuka data management tool;
c. Membuka projection dan transformation dan membuka define projection;
d. Mengambil data yang akan dilakukan geo-referencing; dan e. Memasukkan sistem koordinat.
3.2 Pembangkitan Digital Elevation Model (DEM)
Pembuatan batas SubDAS dengan data kontur yang berformat vektor (shapefile), terlebih dahulu perlu diubah ke dalam data DEM yang berformat raster. Pembuatan DEM dapat dilakukan dengan software ArcGIS. DEM merupakan data digital yang menggambarkan geometri dari bentuk permukaan bumi. Bila basis data yang digunakan adalah peta kontur hasil digitasi dari peta topografi, maka peta kontur diinterpolasi melalui proses Triangulated Irregular Networks (TIN) untuk mendapatkan
DEM. Warna-warna yang ditampilkan merupakan representasi dari rentang ketinggian. Langkah-langkah pembuatan TIN adalah sebagai berikut:
a. Menjalankan software ArcGIS;
b. Menjalankan menu arctool box dan membuka 3D analysist tools; c. Membuka TIN management dan membuka create TIN;
d. Input garis kontur dan memasukkan sistem koordinat; e. Pilih lokasi penyimpanan data; dan
f. Pada kolom height field pilih contour dan ok.
Setelah TIN dihasilkan, maka dapat dibuat DEM. Langkah-langkah pembuatan DEM adalah sebagai berikut:
a. Menjalankan software ArcGIS;
b. Menjalankan menu arctool box dan membuka 3D analysist tools; c. Membuka conversion dan selanjutnya from TIN, TIN to raster; d. Mengambil TIN to raster; dan
e. Input data TIN dan pilih lokasi penyimpanan data DEM selanjutnya ok.
3.3 Pembuatan Batas DAS Dan SubDAS
Analisis penyusunan batas DAS dan SubDAS dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan extension SWAT. Langkah-langkah dalam pembuatan DAS dan SubDAS adalah sebagai berikut:
a. Menjalankan extension SWAT;
b. Membuka new swat project melalui menu Swat Project Setup dan mengambil lokasi penyimpanan data;
c. Menjalankan automatic watershed deliniation melalui menu watershed deliniator;
d. Mengambil data DEM dan melakukan proyeksi peta; e. Mendefinisikan tipe aliran (stream);
f. Selanjutnya menjalankan flow direction and accumulation sehingga muncul luas maksimal dan minimal SubDAS yang dapat dihasilkan;
g. Menentukan luas batas SubDAS yang dihasilkan;
h. Menjalankan create stream and outlet sehingga diperoleh outlet jaringan sungai
i. Mendefinisikan outlet utama dari SubDAS dan point outlet jaringan sungai;
j. Memproses deliniasi DAS dan SubDAS dengan menjalankan deliniate waterhed sehingga didapatkan peta DAS dan SubDAS dalam format vektor; dan
k. Menjalankan calculate subbbasin parameters sehingga diperoleh data topografi yang beriskan data luas SubDAS, panjang lereng, panjang dan slope sungai.
3.4 Identifikasi Potensi Pembendungan Alam
Pembendungan alam dapat terjadi di pertemuan anak-anak sungai dengan sungai induk, dan anak cabang sungai induk. Setelah diperoleh kemungkinan letak bendungan alam di sungai pada SubDAS yang ditinjau, maka tindakan selanjutnya adalah klasifikasi tingkat ancaman banjir bandang.
3.5 Debit Puncak Spesifik
Bila debit puncak tidak tersedia, maka dihitung berdasarkan data curah hujan. Banyak metode yang dapat digunakan, termasuk metode hidrograf satuan sintetik SCS. Metode ini dapat memperkirakan debit aliran dengan menggambarkan kombinasi karakteristik DAS. Perkiraan banjir puncak dengan menggunakan hidrograf satuan membutuhkan hyetograf hujan rencana pada durasi hujan tertentu. Hyetograf ini dapat diperoleh dari data hujan jam-jaman. Apabila data hujan yang ada hanya data hujan harian, maka untuk menghitung intensitas curah hujan
jam-jaman berdasarkan data curah hujan harian tersebut. Apabila data hujan jam-jaman telah didapat, maka hyetograf hujan dapat dibentuk dengan menggunakan Alternate Block Method (ABM).
Hujan yang digunakan dalam analisis debit puncak adalah hujan dengan periode ulang tertentu. Periode ulang yang diambil berdasarkan curah hujan yang terjadi tanggal kejadian banjir bandang historis. Hujan yang mengakibatkan direct run off merupakan hujan efektif (efective rainfall) atau excesss rainfall yaitu hujan yang telah tertahan (intersepsi) atau terinfiltasi dalam tanah. Excess Rainfall Hytograph (ERH) adalah grafik yang menunjukkan hubungan antara hujan efektif dengan waktu. Model infiltasi dengan SCS Curve Number (CN) mengestimasikan hujan lebih sebagai fungsi dari hujan kumulatifnya, tata guna lahan dan jenis tanah.
Jenis tanah ini dikelompokkan lagi berdasarkan klasifikasi tanah secara hidrologi berdasarkan tekstur tanah. Kemungkinan besar terdapat tata guna lahan dan jenis tanah yang bervariasi. Penentuan nilai CN yang merupakan fungsi dari tata guna lahan dan jenis tanah dianalisis dengan SIG. Peta tata guna lahan dan jenis tanah yang masing-masing telah dioverlay dengan peta DAS, yang selanjutnya dioverlay kembali sehingga menjadi peta yang berisikan luas dan jenis TGL, serta jenis tanah di masing-masing SubDAS. Selanjutnya dihitung persentase luas dari jenis tata guna lahan dan tanah di masing-masing SubDAS dan diperoleh nilai CN. Setelah diperoleh nilai CN, maka dihitung hujan efektif dan hidrograf satuan sintetik. Setelah dihitung debit puncak, maka debit puncak diklasifikasi sebagai tingkat ancaman banjir bandang.
3.6 Jenis Tanah
Bila peta jenis tanah yang diperoleh dari instansi yang merupakan peta digital namun peta tersebut belum mempunyai koordinat geografis, maka perlu dilakukan transformasi data dari data yang belum mempunyai koordinat geografis menjadi data yang akan mempunyai koordinat
geografi (georeferensi). SubDAS diklasifikasikan kelas jenis tanah, tekstur tanah dan kelompok tanah. Selanjutnya klasifikasikan kelas jenis tanah, tekstur tanah dan kelompok tanah untuk tingkat ancaman banjir bandang.
3.7 Penggunaan Lahan/Vegetasi
Bila peta tata guna lahan yang diperoleh perlu dilakukan geoprocessing dapat menggunakan ArcGIS melalui operasi clip. Operasi clip ini digunakan untuk memotong peta tata guna lahan Provinsi dengan peta SubDAS. Pengoperasian clip dilakukan dengan cara berikut:
a. Menjalankan menu arctool box dalam ArcGIS dan membuka analysis tool;
b. Membuka extract dan selanjutnya clip;
c. Selanjutnya input features dengan peta tata guna lahan Provinsi dan clip features dengan peta SubDAS; dan
d. Pilih lokasi penyimpanan dan OK.
Peta tata guna lahan yang sudah berisikan data di-overlay melalui operasi union dengan peta SubDAS, sehingga setiap SubDAS terbagi atas penggunaan lahan tertentu. Operasi union dapat menggabungkan data pada peta SubDAS dengan data pada peta tata guna lahan. Pengoperasian union dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Menjalankan software ArcGIS;
b. Menjalankan menu arctool box dan membuka analysis tool; c. Membuka overlay dan selanjutnya union;
d. Selanjutnya input features dengan peta tata guna lahan clip dan peta SubDAS; dan
e. Pilih lokasi penyimpanan dan OK.
3.8 Kemiringan Lereng DAS
Kemiringan lereng DAS juga dianalisis dengan menggunakan SIG. Kemiringan lereng diperoleh dari hasil deliniasi DAS menggunakan
extension ARCSWAT. Selanjutnya daerah dengan kemiringan tertentu dilakukan klasifikasi kelas kemiringan lereng untuk tingkat ancaman banjir bandang.
3.9 Bentuk DAS Dan Morfologi Sungai
Dari peta DAS yang diperoleh maka dapat dilihat bentuk DAS, gradien sungai dan kerapatan sungai untuk tiap SubDAS yang ditinjau. Selanjutnya dilakukan klasifikasi nilai. Sebagai tingkat ancaman banjir bandang berdasarkan bentuk DAS, gradien sungai dan kerapatan sungai tersebut.
3.10 Erosi Lahan
Erosi lahan yang terjadi di SubDAS dapat membentuk bendungan alam. Panjang lereng dapat dianalisis dengan menggunakan SIG dan nilai laju erosi dapat menggunakan Metode USLE, MUSLE atau RUSLE. Selanjutnya dihitung nilai TBE yang diklasifikasikan untuk tingkat ancaman banjir bandang.
3.11 Stabilitas Lereng
Ketidakstabilan lereng sungai dapat menyebabkan longsor yang dapat menutup alur sungai, yang memberikan potensi terjadinya pembendungan alam yang dapat menyebabkan banjir bandang. Data tanah diambil merupakan sampel tanah yang diambil di tebing sungai. Data tanah tersebut perlu diuji di Laboratorium Mekanika Tanah untuk mendapatkan data berat volume (γ), kohesi (c), dan sudut geser dalam tanah (φ). Selanjutnya dihitung angka keamanan dapat menggunakan alat bantu Software Geo Slope. Metode Geo Slope menggunakan batas keseimbangan untuk menghitung faktor keamanan tanah dan lereng. Selanjutnya disusun peta stabilitas lereng, dapat menggunakan software ArcGIS, dan diklasifikasikan untuk tingkat ancaman banjir bandang.
3.12 Volume Tampungan Pembendungan
Setelah diketahui titik pembendungan alam, maka dapat dihitung volume tampungan pembendungan. Untuk menghitung luas genangan berdasarkan elevasi pada masing-masing SubDAS dapat dihitung dengan menggunakan software ArcGIS. Setelah diperoleh volume tampungan di titik-titik lokasi, maka nilai volume tampungan diklasifikasi tingkat ancaman banjir bandang.
3.13 Percabangan Sungai
Untuk mendapatkan ancaman banjir bandang berdasarkan percabangan sungai, dapat menggunakan rumus (11). Selain itu juga dapat menggunakan kategori yang telah ditetapkan oleh Paimin et al (2010) pada Tabel 2.10.
3.14 Tingkat Ancaman Banjir Bandang
Metode analisis tingkat ancaman banjir bandang menggunakan metode weighted overlay dengan software ArcGIS. Peta parameter ancaman banjir bandang yaitu debit puncak spesifik, kemiringan lereng DAS, bentuk DAS, gradien sungai, kerapatan sungai, pembendungan, erosi lahan, stabilitas lereng dan volume tampungan disusun skor dan bobot dari setiap peta tersebut. Overlay parameter tingkat ancaman banjir dilakukan dengan cara:
a. Menjalankan software ArcGIS;
b. Mengambil data shapefile masing-masing parameter; c. Open attribute tabel dengan dengan membuat field baru;
d. Masukkan angka skor untuk setiap parameter ancaman banjir bandang;
e. Menjalankan menu Arctoolbox, analysis tool, overlay dan intersect;
f. Input data shapefile parameter ancaman banjir bandang; dan g. Pilih lokasi penyimpanan dan Ok.
Sketsa proses overlay parameter ancaman banjir bandang diberikan pada Gambar 3.1. Bobot yang telah diperoleh untuk masing-masing SubDAS, maka dilakukan pembagian kelas. Kemudian dari skor yang dihasilkan diklasifikasikan tingkat ancaman banjir bandang pada masing-masing SubDAS.
BAB 4
ANCAMAN BANJIR BANDANG DAS
STUDI KASUS: PENILAIAN
KRUENG TEUNGKU
Sebagai gambaran bagi pembaca dalam menilai tingkat ancaman banjir bandang, maka pada Bab ini diberikan langkah-langkah penilaian ancaman banjir bandang. Studi kasus yang diberikan pada DAS Krueng Teungku Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh sesuai dengan Azmeri, Hadihardaja, Vadya (2016).
4.1 Gambaran Daerah Studi
Selama lima belas tahun terakhir telah terjadi 4 kali kejadian bencana banjir bandang (Tahun 1987, 2000, Januari 2013 dan Januari 2016) di DAS Krueng Teungku. Setiap kali banjir bandang terjadi, menimbulkan dampak besar pada khsusunya pada Desa Beureuneut dan sekitarnya, Kecamatan Seulimeum Kabupaten Aceh Besar. Namun dampak terbesar terjadi pada Tanggal 2 Januari 2013.
Banjir bandang yang terjadi di Gampong Beureuneut berasal dari volume air yang besar dari DAS Krueng Teungku. Kejadian tersebut diakibatkan oleh jebolnya bendungan alam di Sungai Krueng Teungku yang terbentuk oleh material tebing sungai yang longsor akibat curah hujan yang tinggi. Secara geografis DAS Krueng Tengku berada pada koordinat 5026’40’’– 5038’20’’LU dan 95032’30’’ – 95040’50’’ BT (Gambar 4.1).
Gambar 4.1 Daerah Studi pada DAS Krueng Teungku Sumber: Bappeda Provinsi Aceh (2014)
4.2 Kuantitas dan Kualitas Data Penelitian
Penelitian ini memerlukan data primer dan sekunder. Data primer berupa sampel tanah untuk menghitung stabilitas lereng. Pengumpulan data tanah dilakukan dari penyelidikan tanah di laboratorium pada sampel tanah yang diperoleh dari tebing Sungai Krueng Teungku. Data yang digunakan untuk analisis stabiltas lereng adalah berat volume (γ), kohesi (c), dan sudut geser dalam tanah (φ). Tanah diambil dengan menggunakan tube yaitu dengan metode pengambilan tanah tidak terganggu (undistrubed method). Sampel tanah diambil di tiga titik lokasi sebanyak 2 sampel tanah. Sampel A, B dan C diambil pada kedalaman berturut-turut adalah 3,1 m dan 3,5 m untuk sampel B dan C dari dasar
sungai. Data sekunder yang digunakan adalah data curah hujan, peta topografi, peta jenis tanah, peta tata guna lahan, tanah seperti dalam Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Data Sekunder Penelitian
No. Jenis Data Tahun Sumber
1. Data Curah Hujan 1982 s.d 2011 Stasiun Hujan Blang Bintang Aceh Besar
2. Peta Topografi 2012 Bappeda Aceh
3. Peta Jenis Tanah 2012 SimDAS Kementerian Kehutanan 4. Peta Tata Guna
Lahan 2013 Bappeda Aceh
Data curah hujan berasal dari Stasiun Hujan Blang Bintang Aceh Besar. Data ini diperlukan untuk menghitung intensitas hujan, hujan efektif, debit aliran. Peta topografi menggambarkan tinggi muka tanah DAS Krueng Teungku. Peta topografi digunakan untuk menghitung volume tampungan bendungan alam.
4.3 Hasil Analisis Parameter Ancaman Banjir bandang DAS Krueng Teungku
4.3.1 Analisis data spasial dan pembangkitan Digital Elevation Model
(DEM) DAS Krueng Teungku
Peta topografi yang diperoleh dari sumber data merupakan peta digital, namun peta tersebut belum mempunyai koordinat. Maka perlu dilakukan transformasi data dari data yang belum mempunyai koordinat geografis menjadi data yang mempunyai koordinat geografi (georeferensi) dengan menggunakan langkah yang telah diberikan pada subbab 3.1.
Peta DAS Krueng Teungku yang berformat vektor (shapefile) perlu diubah ke dalam data DEM yang berformat raster. Pembuatan DEM dilakukan dengan software ArcGis. Basis data yang digunakan adalah peta
kontur hasil digitasi peta topografi 1:50.000. Peta kontur diinterpolasi melalui proses Triangulated Irregular Networks (TIN) untuk mendapatkan DEM dengan menggunakan langkah yang telah diberikan pada subbab 3.2 di atas. Hasil pemrosesan TIN berupa data DEM dapat dilihat pada Gambar 4.1.
4.3.2 Pembuatan batas DAS dan SubDAS Krueng Teungku
Analisis DAS dan SubDAS Krueng Teungku dilakukan dengan menggunakan bantuan extension SWAT. Langkah-langkah dalam pembuatan DAS dan SubDAS Krueng Teungku dengan menggunakan langkah yang telah diberikan pada subbab 3.3.
Deliniasi DAS menghasilkan jaringan sungai sintetik, outlet tiap SubDAS dan batas DAS. Sebelum mendefinisikan outlet utama DAS Krueng Teungku, jaringan sungai sintetik hasil deliniasi harus dikoreksi dengan jaringan sungai hasil digitasi dari peta topografi. Koreksi dilakukan dengan cara menghapus dan menambah outlet pada tiap sungai sintetik sehingga sesuai dengan jaringan sungai hasil digitasi dari peta topografi. Hasil deliniasi DAS diperoleh bahwa DAS Krueng Teungku terbagi lagi menjadi 7 SubDAS. Batas DAS dan SubDAS Krueng Teungku dapat dilihat pada Gambar 4.2. Gambar 3D DAS dan SubDAS Krueng Teungku diberikan pada Gambar 4.3.
Gambar 4.4 Gambar 3D DAS dan SubDAS Krueng Teungku
Parameter SubDAS dan Sungai hasil deliniasi DAS Krueng Teungku diberikan pada tabel berikut.
Tabel 4.2 Parameter SubDAS dan Sungai Hasil Deliniasi DAS Krueng Teungku Kode SubDAS Luas SubDAS (Ha) Kemiringan SubDAS (%) Panjang Sungai (m) Gradien Sungai (%) 1 182,79 6,16 2.576,726 0,100 2 1.362,24 6,50 5.552,206 0,901 3 1.217,61 13,20 7.870,618 1,588 4 1.191,60 8,99 3.831,118 2,611 5 3.133,44 7,43 6.828,341 2,298 6 1.897,74 14,47 3.844,830 4,473 7 1.773,90 25,32 2.691,650 8,801 Total 10.759,32 33.195,49
4.3.3 Identifikasi potensi pembendungan alam pada DAS Krueng Teungku
Pembendungan alam sering terjadi di pertemuan anak-anak sungai dengan sungai induk, dan anak cabang sungai induk. Oleh karena itu penelitian ini mengasumsikan bahwa pembendungan alam terjadi di cabang sungai induk dan anak cabang sungai induk sehingga diperoleh 7 SubDAS pada DAS Krueng teungku. Setelah diperoleh kemungkinan letak bendungan alam di sungai yang di SubDAS yang ditinjau (Azmeri, Yulianur, Listia, 2015), maka dapat diklasifikasi tingkat ancaman banjir bandang.
4.3.4 Debit puncak spesifik DAS Krueng Teungku
Debit puncak DAS Krueng Teungku diperoleh berdasarkan data curah hujan. Hal ini akibat tidak tersedianya data debit pada lokasi studi. Dilakukan analisis frekuensi untuk mendapatkan jenis distribusi hujan berdasarkan nilai parameter statistik dari data hujan.
Hujan yang digunakan dalam analisis debit puncak adalah hujan dengan periode ulang tertentu. Periode ulang yang diambil berdasarkan curah hujan yang terjadi tanggal 2 Januari 2013 yang menyebabkan banjir bandang yaitu sebesar 125 mm. Berdasarkan analisis curah hujan rencana dengan periode ulang tertentu maka curah hujan yang menyebabkan banjir bandang merupakan curah hujan dengan periode ulang 5 tahun.
Metode yang digunakan dalam menghitung debit puncak di DAS Krueng Teungku adalah metode hidrograf satuan sintetik SCS. Metode ini dapat memperkirakan debit aliran dengan menggambarkan kombinasi karakteristik DAS.
Peta jenis tanah yang diperoleh dari SimDAS Kehutanan merupakan peta digital namun peta tersebut belum mempunyai koordinat geografis. Selanjutnya dilakukan transformasi data dari data yang belum mempunyai koordinat geografis menjadi data yang akan mempunyai koordinat geografi (georeferensi). SubDAS Krueng Teungku diklasifikasikan kelas jenis tanah, tekstur tanah dan kelompok tanah. DAS Krueng Teungku terdiri atas tata guna lahan dan jenis tanah yang