• Tidak ada hasil yang ditemukan

6e or nasional : Peran Biosistimatika; Purwokerto, 12 Desember 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "6e or nasional : Peran Biosistimatika; Purwokerto, 12 Desember 2009"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

6e or nasional : Peran Biosistimatika; Purwokerto, 12 Desember 2009

TREVESIA DAN KONSERVASINYA DI KEBUN RAYA BOGaR

Hary Wawangningrum

Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-LiPI JI. Ir. H. Juanda No.13, Bogor

email: [email protected] Abstrak

Trevesia termasuk tumbuhan suku mangkok-mangkokan (Araliaceae), yang unik dan menarik. Kebun Raya Bogor sebagai tempat konservasi tumbuhan secara ex situ, mengkonservasi jenis-jenis ini dari berbagai tempat. Inventarisasi dilakukan untuk mengetahui keragaman jenis tumbuhan Trevesia di Kebun Raya Bogor. Terdapat tiga jenis Trevesia di Kebun Raya Bogor, yaitu: Trevesia beccarii Boerl., Trevesia burckii Boerl. dan Trevesia sundaica Miq ..

Kala kunci: Trevesia, konservasi, Kebun Raya Bogor. Pendahuluan

Araliaceae adalah kelompok tumbuhan yang mempunyai ciri berupa tangkai daun yang memeluk batang, bila tangkai daun tersebut rontok meninggalkan bekas yang jelas dan perbungaan yang berbentuk payung. Anggota suku ini ada yang berupa pohon, perdu, semak dan liana (merambat).

Araliaceae memiliki potensi yang besar sebagai tanaman hias, hal ini disebabkan banyaknya anggota yang memiliki bunga yang menarik dan bentuk tangkai daun maupun helaian daunnya yang unik. Dari segi komersial juga akan menguntungkan karena beberapa jenis tanamannya dalam perbanyakannya tergolong mudah dan ekonomis, yaitu cukup dengan setek batang. Cara perbanyakan lainnya bisa dilakukan dengan biji. Disamping itu, manfaat lain dari beberapa jenis Araliac~ae yang sudah terungkap adalah untuk tanaman pagar, sumber pangan, alat musik, kayu triplek, mebel, bahan korek api dan obat-obatan (Frodin et aI., 2003; Heyne, 1987; de Padua et al. (eds), 1999; Backer et aI.,

1965 dan Philipson, 1979). .

Trevesia merupakan salah satu marga dari 50 marga yang ada pada suku Araliaceae. Marga ini belum sepopuler tanaman Araliaceae lainnya seperti : ginseng, kedondong laut, mangkokan maupun wali sanga. Tumbuhan liar ini masih sangat jarang dikenal orang apalagi dipelihara atau bahkan dibudidayakan, padahal jenis-jenis tanamannya juga berpotensi ekonomi.

Kebun Raya Bogor sebagai Pusat Konservasi Tumbuhan yang terletak pada dataran rendah dan beriklim basah mengoleksi berbagai macam tumbuh-tumbuhan termasuk Trevesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis Trevesia dan upaya konservasinya di Kebun Raya Bogor.

Metode Penelitian

Penelitian keragaman jenis Trevesia dilakukan di Kebun Raya Bogor, dengan inventarisasi jenis-jenis koleksi Trevesia yang ada. Pengamatan ini dilakukan pada tahun 2009. Disamping pengamatan langsung pada koleksi hidupnya di Kebun Raya Bogor, juga studi herbarium serta melakukan pencatatan data yang ada di bagian registrasi Kebun Raya Bogor.

Hasil dan Pembahasan

Trevesia dideskripsikan oleh Visiani pada tahun 1840 sebagai segregasi dari Gastonia dengan kemiripan alat kelamin betinanya, tetapi tanpa daun majemuk menyirip yang merupakan karakteristik marga Gastonia tersebut (Jebb, 1998). Habitus Trevesia berupa semak atau perdu dan berduri. Daunnya besar, bercuping menjari atau majemuk menjari. Bunga payung yang tersusun pada tandan sepanjang rakis atau malai. Kelopak bunga kecil, daun mahkota/petal berjumlah 7-12, benang sari sejumlah petal; kepala sari bulat telur besar. Ovarium inferior, mengerucut sungsang lebar atau agak membulat, terdiri dari 7-12 bagian. Buah membulat atau bulat telur.

Marga ini memiliki kurang lebih 10 jenis, yaitu : T. arborea, T. beccarii, T. burckii, T. lateospina Jebb, T. longipedicellata grushv. & Skvortsova, T. palmata (Roxb. Ex Lindl.) Vis., T. sphaerocarpa Grushv. & Skvortsova, T. sundaica Miq., T. tomentella Craib dan T. valida Craib (Frodin et al., 2003). Trevesia di alam dijumpai pada hutan hujan primer, terutama

(2)

Makalah Poster Topik : Konservasi Sumberdaya Hayati

pada tempat yang lembab dan ternaung (Philipson, 1979; Backer et aI., 1965) dengan ketinggian 0-1.500 mdpl (Jebb, 1998).

Koleksi Trevesia di Kebun Raya Bogor

Sebagai suatu lembaga konservasi ex situ, Kebun Raya Bogor mengoleksi berbagai jenis flora dari berbagai wilayah tanah air maupun manea negara. Asal tanaman bisa dari hasil eksplorasi di alam, pertukaran biji maupun pemberian atau sumbangan. Material tanaman bisa berupa setek, anakan/seedling dan biji. Material tanaman tersebut sebelum ditanam di kebun, disemai atau ditanam di bagian pembibitan untuk aklimatisasinya.

Upaya konservasi Trevesia di Kebun Raya Bogor sudah lama dilakukan. Sampai saat ini koleksi yang ada berasal dari wilayah Indonesia. Berdasarkan Astuti et a/ (2001) dan hasil peneatatan di bagian registrasi Kebun Raya Bogor, koleksi tertua yang samra saat ini masih ada, yaitu T. sundaica Miq. yang diperoleh dari Gunung Salak, Jawa pada tahun 1922.

Berdasarkan hasil pengamatan dan inventarisasi, sa at ini Kebun Raya

Bogar

memiliki 3 jenis Trevesia, yaitu: Trevesia burckii, T. beccarii dan T. sundaica yang terletak di tiga lokasi atau Vak, yaitu : Vak XI.B, XII.B. dan XIII.J. Terdapat 11 tanaman koleksi

Trevesia dan hampir seluruhnya pernah berbunga. Kondisi tanaman tumbuh dan

berkembang dengan baik. Sebel~mya, beberapa koleksi ada yang mati dimungkinkan karena penyakit, gangguan pengunjung maupun faktor lingkungan lainnya.

Kunci identifikasi menuju jenis Trevesia spp. yang ada di Kebun Raya Bogar : 1 a. Oaun majemuk menjari. Tangkai anak daun dihubungkan oleh jaringan daun

... 1. Trevesia burckii 1 b. Oaun tunggal, berlekuk menjari ...

2

2a. Bunga duduk atau melekat ... 2. Trevesia beccarii 2b. Bunga bertangkai ... 3. Trevesia sundaica Oi bawah ini adalah uraian dari masing-masing jenis :

Trevesia beccarii Boerl.

Tumbuhan berupa perdu, dan menurut Jebb (1998) berupa semak atau pohon kedl sampai 5 m; batang berduri kuat, panjang 0.8 em. Oaun tunggal, berlekuk menjari, panjang tangkai daun 50 em, berambut ketika muda, helaian daun 30 x 40 em, dengan 7-9 cuping, pangkal menjantung, euping 15 x 7 em, tepi daun bergerigi tidak teratur. Perbungaan ketika muda berbulu seperti tangkai daunnya, braktea lanset, lekas luruh, memitallinear. Tiap bongkol/payung mendukung 10-20 bunga yang melekatlduduk. Kelopak bunga pendek, berombak. Mahkota mengerueuUmerunjung.

Oistribusi Malesia termasuk Sumatera Barat. Ekologi hutan, ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Oi Kebun Raya Bogor T. beccarii koleksinya hanya satu tanaman, yaitu tanaman hasil eksplorasi di Bukit Tapan, Jambi. Tanaman ini ditanam pada tahun 1996.

Trevesia burckii Boerl.

Sinonim jenis ini adalah : Trevesia palmata var. cheirantha C.B.Clarke, Trevesia cheirantha (C.B.Clarke) Kuntze (Frodin et al., 2003). Nama daerah jenis ini antara lain: tapa arimau, tada /ada, kakabu, tapak itek dan tapak rimau (Philipson, 1979).

Tumbuhan berupa semak atau pohon kecil, jarang bereabang, tinggi mencapai 10 eabang kuat dengan duri kecil. Oaun tumbuhan dewasa majemuk menjari; jumlah daun 7-:;.9; panjang tangkai anak daun 60 em, kadang-kadang dengan duri keeil atau tangkai anak daun dihubungkan seluruh atau sebagian besar panjangnya oleh jaringan sehingga menyerupai selaput renang pada itik; anak daun lonjong sampai melanset jorong, panjang 30 em dan lebar 10 em, ujung meruneing, pangkal membundar, tepi bergerigi halus terutama pad a bagian lebih atas; urat utama jelas. T seedling/anakan mempunyai daun yang berlekuk menjari atau mengutuh.

Perbungaan besar, terminal, malai, rakis panjang sekitar 60 em, sedikit berduri tidak berduri, muneul eabang-eabang dan biasanya berakhir dengan satu payung eabang, braktea lekas luruhlpersistent; panjang eabang-eabang sekunder (peduncles)

18 em, kadang-kadang dengan 1 atau lebih daun gagang sepanjang panjangnya berakhir dengan bentuk seperti payung membulat terdiri dari 40-50 bunga; panjang bunga 20-35 mm. Buah agak membulat berukuran 1,5x1 ,25 em.

(3)

Semir asional : Peran Biosistimatika; Purwokerto, 12 Desember 2009

Distribusi di Malesia yaitu Sumatera, Malay Peninsula, Kalimantan (Sarawak). Jenis ini dijumpai di hutan hujan primer, kebanyakan di bawah ketinggian 500 mdpl, jarang yang sampai 1000 m (Philipson, 1979; Frodin et aI, 2003). Di Kebun Raya Bogar, koleksi yang masih ada diantaranya berasal dari : Taman nasi anal Gunung leuser, Lembang, Aceh Selatan yang ditanam pad a tahun 1999 dan dari Lembah Anai, Sumatera Barat yang ditanam pad a tahun 2004.

Trevesia sundaica Miq.

Sinonim jenis ini ialah: Aralia pa/mata Reinw. ex BI., Sciadophyllum pa/matum Blume, Aralia reinwardtiana Steud., Gastonia sundaica (Miq.) Baill., Actinophyllum pa/matum Blume ex .. Boerl. dan Trevesia sundaica var. glomerata Koord. &Valeton. Nama daerah T. ~ sundaica ialah: ahab, tapa arimau, boring, djemporang, dorang, gabus, gorang, /ontang/anting, panggang, panggang lembur, panggang puju, panggang tjutjuk dan papanggangan (Frodin et aI., 2003, Philipson, 1979, Heyne, 1987).

Habitus perdu, tahunan, tinggi 3-10 m. Batang berkayu, bulat, tegak, muda berduri, tua tak berduri, kasar, percabangan simpodial, hijau. Daun tunggal, berseling, bulat,

menjari, hijau, tangkai daun bulat, panjang 2,5-25 cm, hijau. Perbungaan majemuk, di ketiak daun, bentuk malai tersusun dari bunga-bunga payung, tiap payung terdiri 20-35 bunga, panjang tangkai 2-5 cm, kelopak bunga sangat pendek. Buah agak membulat, diameter ±1,5 em.

Koleksi T. sundaica yang masih ada selain yang ditanam tahun 1922, diantaranya yaitu koleksi yang ditanam pada tanggal 5 Februari 1974. Tanaman yang semula berupa setek ini, diterima dari Sukasdi pada tanggal 27 November 1972 yang dibawa dari Lengkong, Sukabumi, Jawa Barat dan diberi nama Araliaceae. Kemudian baru pada bulan Januari 1978, dirubah namanya oleh D.G. Frodin menjadi T. sundaica Miq. Selain itu juga koleksi yang ditanam pada tanggal 3 Oktober 1995, berasal dari G. Raya, Desa Lengkong Barang, Kecamatan Cikatomas, Tasikmalaya, Jawa Barat tumbuh dengan baik dan rajin berbunga.

Prospek d i Masa Oepan

Tumbuhan liar Trevesia ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman hias, dikarenakan selain keindahan bunganya juga bentuk daunnya yang unik. Ada juga tumbuhannya yang diketahui bermanfaat untuk bahan makanan dan obat. Kuncup bunga dan daun T sundaica dapat dimakan sebagai laJaban. Disamping itu, daunnya juga berkhasiat sebagal obat penambah nafsu makan. Daun, akar dan batang T. sundaica mengandung saponin, disamping itu akar dan batangnya mengandung polifenol, sedang akarnya juga mengandung alkaloida (Tommasi et aI., 1997; http://www.warintek.ristek.

go.id/pangan_kesehatanl tanaman obaUdepkes 14-094. pdf; Heyne, 1987). Trevesia jenis lain yaitu T. pa/mata, kuncup bunganya juga dimakan oleh orang-orang di Thailand (Jebb, 1998).

Trevesia dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif. Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan menyemai bljinya yang sudah tua. Dalam waktu kurang lebih seminggu biji sudah mulai berkecambah. Cara ini merupakan pilihan yang tepat untuk memperoleh bibit yang banyak. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan, yaitu dengan setek batang. Cara ini sering dilakukan pada saat pengambilan material di lapangan/alam, di saat tumbuhan tidak berbuah atau berbiji. Namun kalau dijumpai populasi di alam yang besar, untuk kepentingan konservasi bisa dengan mengambil seedlingl anakannya.

Kesimpulan

Trevesia di Kebun Raya Bogar ada 3 jenis, yaitu Trevesia beccarii, T. burckii dan T. sundaica. Trevesia berpotensi hias, pangan dan obat, sehingga perlu dilakukan konservasinya. Konservasi terhadap jenis-jenis Trevesia lainnya masih sangat diperlukan khususnya di Kebun Raya Bogar.

Daftar Pustaka

Astuti, IP, LP Soewilo, TO Said and RNA Kosasih (2001). An Alphabetical List of Plants Species Cultivated in the Bogar Botanical Garden. Bogar Botanical Garden,

Indonesian Institute of Sciences. Bogar. 260p.

Backer A & RC Bakhuizen (1965). Flora of Java (Spermatophytes Only) Vol. II. N.V.P. Noordhoff Groningen-The Netherlands. 641 p.

(4)

Maka Poster Topik : Konservasi Sumberdaya Hayati

De Padua LS, Bunyapraphatsara, Nand Lemmens RHMJ (Editors) (1999). Plant Resources of South-East Asia No 12 (1). Medici nal and Poisonous Plants 1. Backhuys Publishers, Leiden, the Netherlands. 711 p.

Frodin DG and R Govaerts (2003). World Checklist and Bibliography of Araliaceae. The Royal Botanic Gardens, Kew. 444p.

Heyne K (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. Terjemahan Badan Litbang

Kehutanan. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta. http://www.warintek.

ristek.go.id/pangan_kesehatan/tanamanobaUdepkes/4-094. pdf. Diakses tanggal 15 februari 2008.

Jebb MHP (1998). A Revised of the Genus Trevesia (Araliaceae). Glasra 3: 85-113. Philipson WR (1979). Flora Malesiana Series I-Spermatophyta Flowering Plants Vol.9, part

1 Revisions. Sijthoff & Noordhoff International Publishers, Alphen Aan Den Rijn, the Netherlands.

Tommasi N 0, C Pizza A. Bellino and P Venturella (1997). J. Nat. Prod., 60 (11), 1070-1074.

(5)

ISBN 978-602-95471-0-8

Trevesia AND ITS CONSERVATION IN BOGOR BOTANIC GARDENS

Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-LIPI 11. Ir. H. luanda No.13, Bogor

email: [email protected] ABSTRACT

Trevesia included of Araliaceae family. Bogor Botanic Gardens as an ex situ

conservation institution has been conserving various Trevesia from many different areas

of this country. The work was aimed to inventory Araliaceae in Bogor Botanic Gardens. The result showed that there were 3 species of Araliaceae in Bogor Botanic Gardens, that

were: Trevesia beccarii, Trevesia burckii dan Trevesia sundaica.

Referensi

Dokumen terkait

350/MPP/Kep/12/2001 mengenai sengketa konsumen (6) Dengan cara melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi tidak sesuai dengan pasal 52 huruf (a), pasal 1 ayat (11)

Akibat Hukum Penolakan Majelis Hakim atas Permohonan Non Eksekuatur Putusan Arbitrase Internasional Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 808 K/Pdt.Sus/2011 Suatu Sengketa

Algoritma yang akan digunakan dalam pemecahan CVRP adalah algoritma genetik sedangkan algoritma sweep hanya sebagai pembanding dari hasil pengujian data yang diujikan

Penelitian bertujuan untuk mengetahui Kode Etik Jurnalistik secara universal yang digunakan sebagai acuan reporter dalam menyelesaikan tugas pada serial drama Pinocchio.

Permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana memperoleh data-data yang diperlukan baik data spasial maupun data non spasial yang digunakan dalam penelitian

Persamaan peneliti saat ini dengan peneliti sebelumnya adalah sama-sama menggunakan topik Internet Financial Reporting sebagai penelitian, dan juga ada persamaan pada variabel

Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, pendanaan yang

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa di SMA Negeri Kecamatan Tangerang Kota Tangerang memiliki kebutuhan yang tinggi akan layanan online self-help dengan menampilkan