BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Desa Tabilaa adalah salah satu dari 23 Desa di Kecamatan Bolaang Uki yang

16  16  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1. Geografi

Desa Tabilaa adalah salah satu dari 23 Desa di Kecamatan Bolaang Uki yang didirikan pada tahun 1940 sampai dengan saat ini telah berusia 71 tahun. Nama Desa berasal dari bahasa setempat yang terdiri kata “TABI” yang berarti sayang dan “LAA” berarti sangat/amat. TABILAA berarti sangat disayangi.

Desa Tabilaa Satu Kecamatan Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan terletak diujung Timur Kabupaten, dan berjarak ± 9 Km dengan Ibu Kota Kabupaten dengan batas-batas sebagai berikut :

a). Utara berbatasan dengan Laut Maluku b). Selatan berbatasan dengan Pegunungan. c). Timur berbatasan dengan Kecamatan Pinolsian d). Barat berbatasan dengan Desa Tolondadu.

Desa tabilaa terbagi atas 4 dusun , dusun yang merupakan populasi dalam penelitian ini adalah dusun II yaitu dusun yang berada disepanjang pesisir pantai, jumlah populasi pada dusun II adalah sebanyak 46 KK, dan sampel pada penelitian ini keseluruhan dari populasi atau total sampling .

(2)

4.2. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan mulai tanggal 1 April sampai dengan 30 April 2013. Sampel penelitian berjumlah 46 kk yang berada di sepanjang pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa dan populasi menjadi keseluruhan sampel atau total sampling.

4.2.1. Hasil Analisis Univariat

Analisis univariat atau analisis deskriptif dilakukan untuk mendeskripsikan dan melihat distribusi dari lokasi tempat tinggal sampel, umur sampel, pekerjaan sampel, pendidikan, dan perilaku masyarakat Desa Tabilaa, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan tindakan. Analisis univariat dilakukan dengan mengunakan media komputer.

1) Distribusi Responden berdasarkan Umur

Distribusi responden berdasarkan umur dapat dilihat pada table 4.1. yang menjelaskan golongan umur responden

Berdasarkan tabel 4.1 , dapat dilihat bahwa responden yang paling banyak terdapat pada golongan umur dewasa muda dan dewasa penuh yaitu sebanyak 33 responden, dan responden yang paling sedikit adalah pada usia masa pra lansia dan lansia sebanyak 13 responden.

(3)

Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Umur Di Pemukiman Penduduk Kawasan Pesisir Desa Tabilaa

No Golongan Umur Jumlah Persentase

Tahun (%) 1 26-35 7 15,22 2 36-55 26 56,52 3 56-65 7 15,22 4 66-75 6 13,04 Total 46 100

Sumber : Data Primer 2013

2). Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan

Distribusi responden berdasarkan pendidikan dapat di lihat pada table 4.2. distribusi responden menjelaskan jenis pendidikan responden penelitian.

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tingkat Pendidikan Di Pemukiman Penduduk Kawasan Pesisir Desa Tabilaa

No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase

(%) 1 SMA/MA 3 6,52 2 SMP/MTS 13 28,26 3 SD 29 63,04 4 Tidak Sekolah 1 2,17 Total 46 100

Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan tabel 4.2, dapat dilihat bahwa pada umumnya tingkat pendidikan responden yang paling banyak adalah tingkat pendidikan SD sebanyak 29 dari seluruh responden

(4)

Distribusi responden berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat di tabel 4.3, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden mempunyai pekerjaan sebagai petani sebanyak 40 orang (86,96%), kemudian yang berprofesi sebagai nelayan ada sebanyak 5 orang (10,87%), sebagai pedagang atau wirasuasta sebanyak 1 orang (2,17%), dan sebagai PNS tidak ada

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pekerjaan Di Pemukiman Penduduk Kawasan Pesisir Desa Tabilaa

No Pekerjaan Jumlah Persentase

(%) 1 Petani 40 86,96 2 Nelayan 5 10,87 3 Wirasuasta 1 2,17 4 PNS 0 0 Total 46 100

Sumber : Data Primer 2013

4.2.2.Hasil Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabalaa Kecamatan Bolaang Uki Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Analisis data secara statistk dilakukan dengan uji chi square sehingga mendapatkan hasil Ha diterima atau dikatakan ada hubungan jika nila p value ≤α (0,05)

1. Hubungan pengetahuan masyarakat dengan pengelolaan sampah.

Hubungan pengetahuan dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa disajikan pada tabel 4.4.

(5)

Tabel 4.4

Hubungan Pengetahuan Masyarakat Dengan Pengelolaan Sampah Pada Masyarakat Pemukiman Penduduk Kawasan Pesisir

Desa Tablaa Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Tahun 2013

Variabel

Pengelolaan sampah Total

p Tidak baik ;n (%) Baik; n(%) n (%)

pengetahuan kurang 21(45,7) 8(17,4) 29(63,0)

0,014 baik 6(13,0) 11(23,9) 17(37,0)

Jumlah 27(58,7) 19(41,3) 46(100)

Sumber : Data Primer

Keterangan: n = Jumlah responden masing- masing perilaku, (%) = Persentase jumlah responden, p = kemaknaan.

Dari hasil analisis hubungan pengetahuan masyarakat dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir yang diperoleh menunjukan bahwa apabila pengethuan yang kurang baik maka perilaku masyarakat yang mengelolah sampah sedikit dan berbanding terbalik apabila pengetahuan masyarakat baik maka perikau masyarakat dalam hal mengelolah sampah menjadi baik.

Pengetahuan baik dan pengelolaan sampah baik sebanyak 11 responden (23,9) dan pengetahuan kurang pengelolaan baik 8 responden (17,4) Hasil uji statistik didapatkan nilai p value = 0,014 (p ≤ 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan Ha diterima atau ada hubungan antara pengetahuan masyarakat dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa.

(6)

2. Hubungan sikap masyarakat dengan pengelolaan sampah.

Hubungan sikap dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa disajikan pada tabel 4.5.

Tabel 4.5

Hubungan Sikap Masyarakat Dengan Pengelolaan Sampah Pada Masyarakat Pemukiman Penduduk Kawasan Pesisir

Desa Tablaa Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Tahun 2013

Variabel Pengelolaan sampah Total

P

Sikap tidak setuju

Tidak Baik ;n (%) Baik; n(%) n (%) 22(47,8) 8(17,4) 30(65,2)

0,006

Setuju 5(10,9) 11(23,9) 16(34,8)

Jumlah 27(58,7) 19(41,3) 46(100)

Sumber : Data Primer

Keterangan: n = Jumlah responden masing- masing perilaku, (%) = Persentase jumlah responden, p = kemaknaan.

Dari hasil analisis hubungan sikap masyarakat dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir yang diperoleh menunjukan bahwa apabila sikap masyarakat yang kurang baik maka perilaku masyarakat yang mengelolah sampah sedikit dan berbanding terbalik apabila sikap masyarakat baik maka perikau masyarakat dalam hal mengelolah sampah menjadi baik, atau tinggi.

Sikap masyarakat setuju dan pengelolaan sampah baik sebanyak 11 responden (23,9) dan sikap tidak setuju dan pengelolaan baik 8 responden (17,4) Hasil uji

(7)

statistik didapatkan nilai p value = 0,006 (p ≤ 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan Ha diterima atau ada hubungan sikap masyarakat dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir pantai desa Tabilaa.

3. Hubungan tindakan masyarakat dengan pengelolaan sampah.

Hubungan tindakan dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa disajikan pada tabel 4.6.

Tabel 4.6

Hubungan Tindakan Masyarakat Dengan Pengelolaan Sampah Pada Masyarakat Pemukiman Penduduk Kawasan Pesisir

Desa Tablaa Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Tahun 2013

Variabel

Pengelolaan sampah Total

P Tidak Baik ;n (%) Baik; n(%) n (%)

Tindakan tdk melakukan 26(56,5) 4(8,7) 30(65,2)

0,000 Melakukan pengelolaan 1(2,2) 15(32,6) 16(34,8)

Jumlah 27(58,7) 19(41,3) 46(100)

Sumber : Data Primer

Keterangan: n = Jumlah responden masing- masing perilaku, (%) = Persentase jumlah responden, p = kemaknaan.

Dari hasil analisis hubungan tindakan masyarakat dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir yang diperoleh menunjukan bahwa apabila tindakan masyarakat yang kurang maka perilaku masyarakat yang mengelolah sampah sedikit dan berbanding terbalik apabila tindakan masyarakat baik maka perilaku masyarakat dalam hal mengelolah sampah menjadi baik atau tinggi.

(8)

Tindakan masyarakat yang melakukan pengelolaan dengan pengelolaan sampah baik sebanyak 15 responden (32,6) tindakan masyarakat yang tidak melakukan pengelolaan dan pengelolaan sampah baik sebanyak 4 responden (8,7) Hasil uji statistik didapatkan nilai p value = 0,000 (p ≤ 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan Ha diterima atau ada hubungan tindakan masyarakat dengan pengelolaan sampah pada masyarkat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa.

4.3 Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan mulai tanggal 1april sampai 30 mei 2013. Sampel penelitian berjumlah 46 kk yang berada di sepanjang pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa dan populasi menjadi keseluruhan sampael atau total sampling.

4.3.1. Kajian Tentang Responden Penelitian

Desa Tabilaa adalah desa yang berada di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh KK yang berada disepanjang pesisir pantai desa Tabilaa yaitu sebanyak 46 KK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara perilaku masyarakat dalam hal ini pengetahuan, sikap, dan tindakan, dalam pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir desa Tabilaa Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

(9)

4.3.2. Hasil Penelitian

1. Frekuensi Berdasarkan Umur Responden

Dapat dilihat pada tabel 4.1. bahwa proses pengelolaan sampah dapat di pengaruhi oleh golongan umur. Menurut (Prof Soesanto Yosonegoro) golongan umur dibagi menjadi 4 yaitu usia dewasa muda 26-35, dewasa penuh 36-55, pra lansia usia 56-65,dan lansia usia 66 sampai wafat, semakin banyak golongan umur yang dewasa muda dan dewasa penuh sebanyak 33 responden maka perilaku masyarakat yang kurang baik dikarenakan golongan umur yang masih dewasa lebih banyak kegiatan yang di kerjakan atau lebih tinggi tingkat kesibukan, sehinga berpengaruh pada proses pengelolaan sampah dan pada usia dewasa juga merupakan masa transisi, dan berbanding terbalik dengan golongan umur lansia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan dapat memperhatikan kegiatan didalam rumah.(Ki Furdyatanti, 11: 2012)

2. Frekuensi Berdasarkan Pendidikan Responden

Dapat dilihat pada tabel 4.2. bahwa proses pengelolaan sampah dapat dipengaruhi oleh jumlah pendidikan yang paling banyak pada responden adalah pendidikan SD sebanyak 29 responden sedangkan Pendidikan SMA sebanyak 3 responden maka dapat di tarik kesimulan bahwa semakin rendah tingkat pendidikan responden maka semakan kurang baik perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Menurut Notoatmojdjo (2003) mengatakan bahwa tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuannya. Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Pengetahuan disini meliputi

(10)

pengertian sampah, jenis sampah dan contoh jenis sampah. Berikut akan kita lihat tabel pengetahuan responden tentang sampah berdasarkan pendidikan responden.

3. Frekuensi Berdasarkan Pekerjaan

Dapat dilihat pada tabel 4.3. bahwa proses pengelolaan sampah dapat dipengaruhi oleh jenis pekerjaan yang paling banyak pada responden, jumlah pekerjaan responden yang paling banyak adalah petani sebanyak 40 respnden, yang berprofesi sebagai wirasuasta sebanyak 1 orang, sehinga dapat di simpulkan bahwa tingkat kesibukan dalam melakukan pekerjaan ditempat kerja akan mempengaruhi proses pengelolaan sampah.

4.3.4. Hubungan pengetahuan masyarakat dengan pengelolaan sampah pada masyarakan pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa.

Hasil analisis data statistik menunjukan bahwa pengetahuan masyarakat ada hubunganya dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa . Dari hasil uji bivariat di peroleh nilai p value 0,014 (p<0,05) . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, sehingga ada hubungan antara pengetahuan masyarakat dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Tahun 2013. Menurut Notoatmojdjo (2003) mengatakan bahwa tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuannya. Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Pengetahuan disini meliputi pengertian sampah, jenis sampah dan dan

(11)

lain – lain .dapat kita lihat pada tabel 4.4 pengetahuan responden tentang sampah berdasarkan pendidikan responden.

Hasil penelitian dilihat dari aspek pendidikan dengan pengetahuan terhadap pengelolaan sampah dilihat dari aspek pendidikan, jumlah pendidikan yang paling banyak adalah SD sebanyak 29 orang, SMP 19 0rang SMA 3 orang dan yang tidak sekolah 1 orang, dari jumlah tersebut yang paling banyak adalah pendidikan SD, sehingga pengaruh pengelolaan sampah kurang baik di Desa Tabilaa dikarenakan aspek pendidikan yang masih rendah dapat di lihat pada tabel 4.4 Pengaruh pengetahuan masyarakat yang masih rendah dikarenakan jumlah sekolah yang sangat sedikit yang berada di desa Tabilaa hanya 1 yaitu SD 1 Tabilaa, dan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), dan sekolah sekolah menengah atas (SMA) yang jarak sekolah dengan desa Tabilaa sangat jauh, sehingga salah satu faktor yang mendukung sehingga pengetahuan masyarakat yang masih kurang dalam masalah pengeolaan sampah adalah jumlah sekolah dan jarak sekolah lanjutan yang terlampau jauh.

Dapat disimpulkan bahwa perilaku masyarakat dalam hal ini pengetahuan yang kurang baik merupakan salah satu faktor dan ada faktor yang lain, ketika faktor lain dapat dimaksimalkan akan mengurangi risiko pengelolaan sampah itu sendiri dan begitu juga sebaliknya jika faktor lain tersebut tidak dapat dimaksimalkan akan menjadi pengelolaan sampah yang kurang baik.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hermawan (2010) perilaku masyarakat Kampung Kamboja dalam mengelola sampah . Karakteristik fisik Sungai Kapuas di wilayah Kampung Kamboja membentuk image kepada

(12)

masyarakat di wilayah ini untuk menjadikan sungai sebagai bagian dari fasilitas atau bagian yang memfasilitasi dalam pengelolaan sampah permukiman. Teori tersebut diatas didasarkan atas fakta yang terjadi di masyarakat Kampung Kamboja tentang anggapan bahwa pasang surut air sungai yang secara kontinyu terjadi akan membersihkan sampah-sampah, sehingga sampah yang hanyut dan terhambat dilingkungan permukiman ini ataupun sampah akibat perilaku pembuangan secara spontan di kolong rumah. Selain itu faktor sungai yang cukup lebar, debit air yang cenderung stabil dan arus yang relatif deras, menjadikan sampah yang dihanyutkan warga cenderung tampak tidak berarti dalam mengotori sungai

4.3.5. Hubungan sikap masyarakat dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa.

Hasil analisis data statistik menunjukan bahwa sikap masyarakat ada hubunganya pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa . Dari hasil uji bivariat di peroleh nilai p value 0,006 (p<0,05) . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, sehingga ada hubungan antara masyarakat sikap dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa Kabupaten Bolang Mongondow Selatan Tahun 2013. Menurut Widayatun, N, R. (2008) sikap adalah keadaan mental saraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh yang dinamik terarah terhadap respon individu pada semua objek yang berkaitan denganya.

(13)

Hasil penelitian diperoleh bahwa responden yang dilihat dari aspek pendidikan dengan sikap terhadap pengelolaan sampah dilihat dari aspek pendidikan, jumlah pendidikan yang paling banyak adalah SD sebanyak 29 orang, SMP 13 0rang SMA 3 orang dan yang tidak sekolah 1 orang, dari jumlah di atas yang palng banyak adalah pendidikan SD.

Pengaruh pengelolaan sampah kurang baik di Desa Tabilaa dikarenakan aspek pendidikan yang masih rendah dapat di lihat pada tabel 4.4, selain itu sikap masyarakat yang tidak mau tahu dengan dampak sampah terhadap lingkungan, dan juga masih banyak masyarakat yang buang sampah di sembarang tempat atu di pesisir pantai, hal demikian sehinga dapat dikatakan pengelolaan sampah yang kurang baik diakibatkan dari aspek pendidikan, semakin tinggi pendidikan masyarakat maka perilaku masyarakat dalam hal ini adalah sikap bisa baik pula. Selain itu salah satu faktor penyebab sikap masyarakat tidak setuju atau kurang baik di akibatkan oleh jumlah tempat sampah yang sedikit yaitu sebanyak 5 buah dan penempatanya hanya berada ditempat – tempat fasilitas umum seperti sekolah, kantor desa dan mesjid, selain itu alas an masyarakat maas membuang sampah ditempat sampah dikarenakan sampah yang dibuang hanya menumpuk ditempat sampah dan tidak ada petugas BLH yang mengangkut sampah, oleh karena itu masyarakat tidak mau menyediakan tempat sampah suwadaya masyarakat dikarenakan tidak terjamahnya oleh pengelolah sampah dalam hal ini adalah (BLH).

Dapat disimpulkan sama halnya dengan pengetahuan bahwa perilaku masyarakat dalam hal ini sikap yang kurang baik merupakan salah satu faktor dan

(14)

ada faktor yang lain, ketika faktor lain dapat dimaksimalkan akan mengurangi risiko pengelolaan sampah itu sendiri dan begitu juga sebaliknya jika faktor lain tersebut tidak dapat dimaksimalkan akan menjadi pengelolaan sampah yang kurang baik.

4.3.6 Hubungan tindakan masyarakat dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa.

Hasil analisis data statistik menunjukan bahwa tindakan masyarakat ada hubunganya pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa . Dari hasil uji bivariat di peroleh nilai p value 0,000 (p<0,05) . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, sehingga ada hubungan antara masyarakat tindakan dengan pengelolaan sampah pada masyarakat pemukiman penduduk kawasan pesisir Desa Tabilaa Kabupaten Bolang Mongondow Selatan Tahun 2013.

Hasil penelitian diperoleh bahwa responden yang dilihat dari aspek pendidikan dengan tindakan terhadap pengelolaan sampah dilihat dari aspek pendidikan, jumlah pendidikan yang paling banyak adalah SD sebanyak 29 orang, SMP 19 0rang SMA 3 orang dan yang tidak sekolah 1 orang, dari jumlah di atas yang palng banyak adalah pendidikan SD.Selainitu aspek kebiasaan dan pekerjaan juga bisa mempengaruhi tindakan masyarakat dalam hal pengelolaan sampah. Pengaruh pengelolaan sampah kurang baik di Desa Tabilaa dikarenakan aspek pendidikan yang masih rendah dapat di lihat pada table di 4.3, sehinga dapat dikatakan pengelolaan sampah yang kurang baik diakibatkan dari aspek

(15)

pendidikan, semakin tinggi pendidikan masyarakat maka perilaku masyarakat dalam hal ini adalah tindakan tehadap pengelolaan sampah bisa baik pula.

Selain itu salah satu faktor pendukung tindakan masyarakat yang kurang baik diakibatakan kebiasaan masyarkat yang membuang sampah di pesisir pantai, hal tersebut terjadi secara berkelanjutan dikarenakan dari pihak pemerintah sendiri tidak pernah memberikan penegasan pada masyarakat yang membuang sampah disepanjang pesisir pantai yang diberikan kebijakan pada badan lingkungan hidup (BLH).

Dapat disimpulkan sama halnya dengan pengetahuan dan sikap bahwa perilaku masyarakat dalam hal ini tindakan dalam pengelolaan sampah yang kurang baik, atau tidak melakukan pengelolaan merupakan salah satu faktor dan ada faktor yang lain, ketika faktor lain dapat dimaksimalkan akan mengurangi risiko pengelolaan sampah itu sendiri dan begitu juga sebaliknya jika faktor lain tersebut tidak dapat dimaksimalkan akan menjadi pengelolaan sampah yang kurang baik.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya Hermawan (2010) perilaku masyarakat Kampung Kamboja dalam mengelola sampah, Pembinaan pengelolaan sampah yang telah diadakan oleh Pemerintah Kota Pontianak kepada warga di Kampung Kamboja sampai saat ini cenderung belum menampakkan keberhasilannya. Pelaksanaan pembinaan yang tidak rutin dan pola pembinaan yang tidak menyentuh langsung kepada masyarakat melainkan hanya dilakukan dengan perwakilan oleh tokoh warga, menjadikan perkembangan upaya pengelolaan sampah oleh warga di wilayah ini cenderung stagnan. Selain itu

(16)

pelaksanaan program pembinaan yang tidak disertai dengan monitoring dan evaluasi menjadikan program pembinaan yang telah dilaksanakan tidak diketahui perkembangannya oleh pemangku program pembinaan, sehingga tidak terjadi intraksi dengan masyarakat dalam mengupayakan keberhasilan

Keterbatasan dari pihak peneliti adalah keterbatasan waktu dalam suatu penelitian, keterbatasan jangkauaan dalam lokasi penelitian dan juga keterbatasan pengetahuan peneliti sendiri. Sehingga masi banyak terdapat kekurangan dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :