The 2 Interntional Conference on Politics of Islamic Development
MAP– Universitas Medan Area, Indonesia
April 2019
Url: http://proceeding.uma.ac.id/index.php/icopoid
Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Pesisir Berkelanjutan
Sumatera Utara : Studi Kasus Masyarakat Pesisir Timur
Sumatera Utara
Siti MardianaFakultas Pertanian, Universitas Medan Area, Indonesia Abstract
Wilayah pesisir merupakan wilayah yang penting, yang pengelolaan mulai dari perencanaan dan pengembangan harus terintegrasi antara kepentingan sosial budaya, lingkungan dan ekonomi. Sejalan dengan pertambahan penduduk dan peningkatan kegiatan pembangunan sosial-ekonomi, "nilai" wilayah pesisir terus bertambah sehingga perlu upaya keberlanjutan dengan meningkatkan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan masyarakat. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menelaah dan mengkaji perspektif kearifan lokal masyarakat pesisir dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Pengelolaan sumberdaya alam laut dan pesisir yang didasarkan kearifan lokal masyarakat pesisir pantai Timur Sumatera Utara dalam upaya melindungi lingkungan, yaitu kesepakatan hutan mangrove tidak boleh ditebang sembarangan karena kesadaran bersama hutan mangrove dapat melindungi rumah penduduk dari terpaan angin. Kesepakatan lainnya dengan tidak boleh menangkap pesut yang bisanya muncul pada musim-musim tertentu. Kearifan lokal Desa Jaring Halus lainnya yaitu kesepakatan, bila mana masyarakat ingin melaksanakan hajatan ataupun pesta, mereka wajib untuk menanam mangrove 5 – 10 kali lipat dari kebutuhan kayu untuk keperluan acara tersebut. Tentunya hal ini berkontribusi pada pelestarian hutan mangrove di Desa Secanggang. Oleh karena itu, budaya jamu laut yang merupakan tradisi melayu di daerah pesisir sebagai warisan leluhur yang ada di Indonesia perlu dilestarikan sebagai budaya yang mencerminkan suatu kearifan lokal.
Kata Kunci: Kearifan Lokal, Pengelolaan Pesisir, Berkenlanjutan, Suamtera Utara
Abstract
The coastal area is an important area, the management starting from planning and development must be integrated between socio-cultural, environmental and economic interests. In line with population growth and an increase in socio-economic development activities, the "value" of coastal areas continues to grow so that sustainability efforts are needed by increasing the protection and maintenance of the community environment. The purpose of this paper is to examine and examine the perspective of the local wisdom of coastal communities in sustainable environmental management. Management of marine and coastal natural resources based on local wisdom of the East Coast coast of North Sumatra in an effort to protect the environment, namely the agreement of mangrove forests should not be cut down carelessly because shared awareness of mangrove forests can protect people's homes from wind. Other agreements are not allowed to catch pesut which usually appears in certain seasons. Other local wisdom of Jaring Halus Village is an agreement, if the community wants to hold a celebration or party, they are obliged to plant mangroves 5 - 10 times more than the needs of wood for the purpose of the event. Of course this contributes to the preservation of mangrove forests in Secanggang Village. Therefore, the culture of marine herbal medicine which is a tradition of Malay in the coastal areas as an ancestral heritage that exists in Indonesia needs to be preserved as a culture that reflects a local wisdom.
Keywords: Local Wisdom, Coastal Management, Sustainability, North Sumatra PENDAHULUAN
Indonesia lebih dikenal sebagai bangsa maritim atau kepulauan yang memiliki pantai terpanjang di dunia, dengan garis pantai kurang lebih 81.000 Km. Luas perairan laut
mencapai sekitar 5,8 juta Km2 (75%) dari total wiayah Indonesia yang terdiri dari 0,3 juta Km2 perairan laut teritorial, 2,8 juta Km2 perairan laut Nusantara, dan 2,7 juta Km2 laut Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia, sedangkan luas wilayah daratan hanya 1,9 juta Km2 (25%) dari total wilayah Indonesia. Sebagai negara kelautan, di dalamnya terkandung kekayaan alam yang tidak hanya menjadi sumber devisa negara yang sangat penting, tetapi juga sumber kehidupan bagi masyarakat yang mendiami di wilayah sepanjang pantai. Ada sekitar 4.735 desa dari 64.439 desa di Indonesia yang dapat dikategorikan desa pesisir (Sumintarsih dkk, 2007).
Pulau Sumatera terletak di bagian barat gugusan kepulauan Nusantara dengan luas sekitar 443.065,8 Km2. Di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Benggala, di timur dengan Selat Malaka, di sebelah selatan dengan Selat Sunda, dan di sebelah barat dengan Samudra Hindia. Sumatera utara terdiri dari 25 kabupaten dan 8 kota dengan jumlah produksi ikan yang berbeda-beda berdasarkan asal tangkapannya, yaitu laut dan perairan umum.
Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor ekonomi yang memiliki peranan dalam pembangunan ekonomi nasional, khususnya dalam penyediaan bahan pangan protein, perolehan devisa dan penyediaan lapangan pekerjaan. Namun ironisnya sektor perikanan selama ini belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dan kalangan pengusaha, padahal bila sektor perikanan dikelola secara serius akan memberikan konstribusi yang lebih besar terhadap pembangunan ekonomi nasional serta dapat mengentaskan kemiskinan.
Sumber kehidupan yang dimanfaatkan masyarakat dari sumber daya kelautan ini adalah bermata pencaharian sebagai nelayan, petani tambak, petani garam maupun tempat wisata. Tampaknya kegiatan atau aktivitas tersebut sudah merupakan ciri tersendiri bagi masyarakat yang berada di kawasan pantai. Dalam era globalisasi, pilihan itu bukan tidak beralasan. Selain potensinya yang masih berlimpah, ternyata usaha penangkapan ikan juga efesien. Sektor perikanan laut dan payau dalam penyerapan tenaga kerja lebih banyak. Demikian juga dalam tenaga kerja sektor penangkapan ikan banyak menyerap. Mestinya potensi alam laut yang sangat besar dan berbagai jenis ikan tersebut dapat memakmurkan masyarakat yang berada di sekitar pantai. Namun pada kenyataannya tidak sedikit para nelayan yang belum dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Bahkan banyak kampung nelayan yang dikategorikan sebagai kampung miskin (Emiliana, 2006). Hal ini sesuai dengan pendapat Kusniadi (2006) yang menyatakan bahwa suatu ironi bagi sebuah Negara Maritim seperti Indonesia bahwa ditengah kekayaan laut yang begitu besar masyarakat nelayan merupakan golongan masyarakat yang paling miskin.
Pesisir adalah wilayah yang unik, karena dalam konteks bentang alam, wilayah pesisir merupakan tempat bertemunya daratan dan lautan (Kay and Alder, 1999). Wilayah pesisir merupakan wilayah yang penting ditinjau dari berbagai sudut pandang perencanaan dan pengelolaan. Transisi antara daratan dan lautan di wilayah pesisir telah membentuk ekosistem yang beragam dan sangat produktif serta memberikan nilai ekonomi yang luar biasa terhadap manusia. Sejalan dengan pertambahan penduduk dan peningkatan kegiatan pembangunan sosial-ekonomi, "nilai" wilayah pesisir terus bertambah. Di masa lalu, paradigma pembangunan lebih memprioritaskan masyarakat perkotaan dan pertanian pedalaman, sedangkan masyarakat pesisir kurang diperhatikan. Sudah seharusnya masyarakat pesisir mendapat perlakuan yang sama dalam kegiatan pembangunan karena bagaimanapun masyarakat tersebut adalah bagian yang tidak terpisahkan
Salah satu tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup adalah terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam (SDA) secara bijaksana. Untuk itu sejak awal perencana kegiatan sudah harus memperkirakan perubahan rona lingkungan akibat pembentukan suatu kondisi yang merugikan akibat diselenggarakannya pembangunan. Setiap kegiatan pembangunan, dimana pun dan kapan pun, pasti akan menimbulkan dampak. Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi akibat suatu aktivitas yang dapat bersifat alamiah, baik kimia, fisik maupun biologi.
Kearifan lokal tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam pada pesisir dan laut bersifat sistematik dan holistik, di mana keberadaan manusia dipandang tidak terpisah dari dan berada di atas alam, tetapi sebagai bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dari dan menyatu dengan alam. Dalam hubungannya dengan sumberdaya alam, pendekatan ekologi lebih multidimensi, tidak hanya memperhitungkan aspek dan manfaat ekonomi, tetapi juga berbagai aspek dan dimensi lain dipertimbangkan. Berangkat dari pemahaman tersebut, maka tulisan ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana kearifan lokal berkenaan dengan pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan laut di Sumatera Utara, Studi Kasus Masyarakat Pesisir Timur Sumatera Utara. Dalam kajian ini masalah pokok yang ingin digali, yaitu bagaimana perspektif kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan pesisir yang berkelanjutan. Sedangkan tujuan dari penulisan ini adalah untuk menelaah dan mengkaji perspektif kearifan lokal masyarakat pesisir dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan
KAJIAN TEORI
Dikatkan dengan etika lingkungan dalam pengelolaan lingkungan adalah pandangan hidup bijak yang sesuai dengan berbagai prinsip moral lingkungan dan nilai-nilai yang diperlukan sebagai petunjuk arah perilaku praktis manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral lingkungan. Antara lain dalam menjaga tingkah lakunya agar mampu bersikap lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi berbagai permasalahan konkrit yang terjadi. Kita tidak saja harus mampu mengimbangi hak dengan kewajiban terhadap lingkungan, tetapi dengan etika lingkungan ini maka kita juga akan mampu membatasi tingkah laku dan melakukan berbagai upaya dalam mengendalikan berbagai kegiatan agar tetap berada dalam batas kelentingan (Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2009).
Sebelum penetrasi ekonomi modern menerpa wilayah desa, potensi sumberdaya alam pesisir dan sekitarnya terjaga secara lestari. Karena pemanfaatan sumberdaya alamnya didasarkan atas pengetahuan dan kearifan tradisional. Dengan kearifan tradisional yang dimilikinya, keseimbangan ekosistem lingkungan pesisir dan laut untuk sekian lama terjaga dan lestari, karena pemanfaatan hasil laut berada dalam batas daya dukung alam. Menurut Hidayat (2011) untuk beberapa dekade sampai tahun 1980an kelangsungan ekosistem bio sosial dan bio fisikal lingkungan masyarakat pesisir berada dalam equalibrium sosial yang dinamis.
Sejalan dengan penetrasi dalam pembangunan ekonomi, pemanfaatan SDA secara alamiah dinilai kurang efektif dan efisien. Pemahaman ini mendorong pihak ketiga (investor) untuk mengeksploitasi hutan melebihi kapasitas dan daya dukung yang diberikan oleh ekosistem SDA tersebut (Hidayat, 2011). Akibat ekploitasi laut yang berlebihan yang dilakukan dengan penggunaan kapal pukat harimau yang tidak memperhatikan ekosistem laut dan pesisir dan melebihi daya dukung alamiah, yang menyebabkan keseimbangan ekosistem laut akan terganggu. Ekploitasi pesisir dan laut yang melebihi kapasitas daya dukung alamiah berdampak cukup luas bagi kelangsungan bio fisik dan bio sosial masyarakat, antara lain: siklus waktu kegiatan nelayan semakin sempit dan pendek, ikan di pesisir yang terus menyusut.
Berbagai krisis lingkungan yang terkulminasi dengan terjadinya bencana-bencana lingkungan akhir-akhir ini relative lebih sering melanda Indonesia. Salah satu akar permasalahan lingkungan yang kompleks dan dilematis tersebut adalah akibat belum dipahami dan diterapkannya etika lingkungan secara benar. Refleksi kritis tentang norma, nilai, prinsip moral dan pandangan hidup yang bersumber dari etika lingkungan tersebut sangat diperlukan.
Adapun tujuan Pengelolaan Lingkungan Hidup antara lain: 1) Tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan; 2) Terkendalinya pemanfaatan secara bijaksana dan lestari sumberdaya; 3) Terwujudnya manusia sebagai pembina lingkungan hidup; 4) Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan; 5) Terlindunginya negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara terhadap lingkungan
Kepentingan untuk memenuhi ekonomi selalu memiliki jarak perhatian yang berbeda. Para ahli ekonomi (economicst) berpendapat bahwa efisiensi dan keuntungan maksimum alternatif yang terbaik, dimana biaya social dan biaya lingkungan (social environmental cost ) belum sepenuhnya diperhitungkan. Para lingkungan berpendapat bahwa factor etika social perlu mendapat perhatian khusus, sehingga kegiatan produksi dan ekonomi harus mengacu pada aspek pemerataan. Dan distribusi yang adil pada generasi yang akan datang yang mengacu pada pengelolaan dan konservasi sumberdaya alam. Pengelolaan sumberdaya alam proses pembangunan menghadapi tantangan karena tidak ada kondisi yang berimbang antar ketersediaan sumberdaya alam dengan dinamika penduduk yang terus berkembang sesuai dimensi ekonomi, social budaya dan lingkungan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Permasalahan lingkungan hidup (enveriomental problems) merupakan issu global dunia yang perlu ditangani secara terencana dan terintaegrasi oleh pemerintah dan masyarakat baik negara maju maupun negara berkembang. Menyadari pentingnya permasalahan lingkungan hidup memberikan perhatian khusus terutama eksploitasi sumber daya alam (natural resources) yang berorentasi profit ekonomi tidak hanya menimbulkan dampak positif tapi lebih dari itu menimbulkan dampak negatif terhadap mahluk hidup diplanet bumi ini.
Penanganan lingkungan hidup dan sumberdaya alam di Indonesia sudah melebihi ambang batas kerusakan, akibat over eksploitasi sumber daya alam pada beberapa dekade terakhir ini. Perberlakuan Undang-Undang No. 32 Tahun 2003 tentang otonomi daerah dan disertai tidak memiliki rasa bertanggung jawab pemerintah daerah, dan memarjinalkan masyarakat dari ekoploitasi sumber daya alam. Sementara kerusakan lingkungan hidup terus berlanjut, serta terkurasnya sumberdaya ekonomi mengalami penurunan, akan membawa konsukwensi lingkungan hidup. Semakin besar pemanfaatan sumberdaya ekonomi, dampaknya semakin besar terhadap sumbedaya alam dan terjadinya degradasi kualitas lingkungan yang dapat dilihat pada waktu jangka panjang (Drakel, 2010).
Sebagai sesama anggota komunitas ekologis yang setara, manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa
diskriminasi dan tanpa dominasi. Kasih sayang dan kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat.
Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan
Kearifan lokal yang dimiliki oleh komunitas masyarakat pesisir yang dominan Muslim ditandai: Pertama, pengetahuan tentang manusia, alam dan relasinya dalam alam merupakan milik bersama-komunal, bukan milik individual. Kearifan local biasanya disebarkan secara kolektif dan turun temurun, informal dan integral. Kedua kearifan lokal yang dimiliki komunitas masyarakat pesisir dalam usaha mencari ikan bersifat praktis. Dalam arti pengetahuan tersebut memberi tuntunan kepada warga komunitas bagaimana hidup secara baik dalam komunitas ekologis. Nilai budaya ini yang masih hidup dan bertahan sering disebut sebagai kearifan tradisional. Kearifan tradisional adalah pengetahuan, teknologi dan tradisi yang secara turun temurun dimiliki dan dipergunakan oleh masyarakat nelayan setempat dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam (Hidayat, 2011).
Larangan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan menjaga laut, bukan hanya bersifat normatif tanpa nilai dan argumentasi tetapi mengandung aspek teknis berkaitan dengan pengetahuan dan tata kelola sumberdaya alam yang lestari Ketiga kearifan lokal yang dimiliki masyarakat pesisir bersifat holistik dan moralis. Dikatakan holistik karena pengetahuan yang dimilikinya menyangkut pengetahuan dan pemahaman tentang seluruh aspek kehidupan dan relasinya di dalam alam smesta. Dikatakan moralis mengingat aktivitas ekonomi seperti berladang dan berburu bukan hanya merupakan pengetahuan rasional untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi mengandung tuntunan nilai moral dan sosial. Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat pesisir dalam pengelolaan sumberdaya alam dengan karakteristik di atas memberikan landasan ideologis dan filosofis bagi keberlanjutan ekologi. Keberlanjutan ekologi hanya mungkin dicapai dan tercipta kalau sumberdaya alam tidak hanya dimaknai dari nilai ekonomi (Rosramadhana, 2017).
Dilandasi ketentuan yang normative dalam upaya melakukan kebijakan pengendalian dan pengelolaan lingkungan hidup dengan pengelolaan sumberdaya alam perlu diikuti dengan penerapan tehnologi yang ramah lingkungan, partisipasi masyarakat, kesadaran aparatur pemerintah, dunia usaha swasta, peningkatan pengawasan, penerapan hukum dan perbaikan system atau perangkat hukum untuk pengelolaan dan pelestarian lingkungan. Pembangunan ekonomi sumberdaya alam, perlu memiliki strategi yang sinergi dengan arah pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan antara lain pembangunan diberbagai sektor tidak
hanya pembangunan sumberdaya ekonomi saja, tetapi juga peningkatan etika dan social budaya manusia yang mendukung pelestarian lingkungan baik sekarang maupun yang akan datang (Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2009). Dengan pendekatan perspektif pengelolaan lingkungan hidup dengan mengkorelasikan pendekatan yang integrative dan terpadu (approach), sehingga pemanfaatan kebutuhan sumberdaya ekonomi dengan kebijakan pengelolaan lingkungan dapat diketahui secara pasti. Untuk itu perlu dilakukan rumusan kehijakan yang bersifat kompromistis (trade off) antara kedua kepentingan tersebut. Adanya dasar ini perlu dilakukan kajian kebijakan pengelolaan lingkungan hidup terhadap sumberdaya ekonomi di Propinsi Sumatera Utara.
Kearifan Lokal Tradisi Jamu Laut Menjaga Pesisir dan Laut Berkelanjutan di Pantai Timur Sumatera Utara
Jamu Laut merupakan kearifan lokal masyarakat Desa Jaring Halus yang hingga ini masih dipertahankan. Misalnya pengelolaan hutan manggrove yang terdapat di Desa Jaring Halus dijaga oleh adat upacara Jamu Laut. Ketua adat (Pawang Laut) berperan besar dalam pengaturan hutan. Hutan tersebut adalah hutan mangrove yang tidak boleh ditebang sembarangan karena dapat melindungi rumah penduduk dari terpaan angin dan untuk kebutuhan penduduk setempat. Kemudian rasa tolong menolong yang masih diterapkan memberi persatuan antarwarga.
Kearifan lokal yang ada di Desa Jaring Halus sangat berpengaruh pada pengelolaan sumberdaya pesisir, seperti menjaga mangrove dan tidak boleh menangkap pesut yang sering kali muncul di sekitar Perairan Desa Jaring Halus. Hal ini terbukti dari kawasan mangrove di desa Jaring Halus sangat terjaga dan dalam kondisi baik. Kearifan lokal Desa Jaring Halus disepakati, bila mana masyarakat ingin melaksanakan hajatan ataupun pesta, mereka wajib untuk menanam mangrove 5 – 10 kali lipat dari kebutuhan kayu untuk keperluan acara tersebut. Tentunya hal ini berkontribusi pada pelestarian hutan mangrove di Desa Secanggang.
Dalam masyarakat Pesisir baik Pantai Barat maupun Pantai Timur Sumatera Utara memiliki kesamaan terkait kepercayaan secara umum dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir. Adapun kepercayaan yang diwariskan generasi pendahulu dan hingga kini masih dilestarikan adalah tradisi sedekah laut, kenduri laut ataupun di Kabupaten Langkat lebih dikenal Jamu Laut. Masyarakat nelayan percaya bahwa alam yang telah memberikan rezeki yang telah di anugrahi oleh Tuhan yang Maha Esa harus dihormati dan dijaga. Biasanya acara sedekah laut diadakan setahun sekali pada saat idul fitri atau idul adha
oleh para nelayan. Acara ini sebagai bentuk wujud syukur atas berkah yang diberikan laut kepada masyarakat pesisir. Selain itu, acara ini juga sebagai ajang hiburan dan mempererat silaturahmi antar nelayan (Hutapea, 2018).
Namun, memang diakui tidak semua daerah pesisir yang masih menyelenggarakan kenduri laut setiap tahun. Desa Jaring Halus yang terletak di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat memiliki tradisi Jamu Laut yang sudah diturunkan dari nenek moyang. Jamu Laut adalah salah satu Kearifan Lokal masyarakat Desa Jaring Halus yang bermakna menjamu laut dengan dasar bentuk rasa syukur atas karunia Allah SWT dengan segala kenikmatan dan kesejahteraan yang diberikan Nya melalui kekayaan Sumber Daya Alam yang berada di Desa Jaring Halus yang menjadi sumber kehidupan.
KESIMPULAN
Pengelolaan sumberdaya alam laut dan pesisir yang didasarkan kearifan lokal masyarakat pesisir pantai Timur Sumatera Utara dalam upaya melindungi lingkungan, yaitu kesepakatan hutan mangrove tidak boleh ditebang sembarangan karena kesadaran bersama hutan mangrove dapat melindungi rumah penduduk dari terpaan angin. Kesepakatan lainnya dengan tidak boleh menangkap pesut yang bisanya muncul pada musim-musim tertentu. Kearifan lokal Desa Jaring Halus lainnya yaitu kesepakatan, bila mana masyarakat ingin melaksanakan hajatan ataupun pesta, mereka wajib untuk menanam mangrove 5 – 10 kali lipat dari kebutuhan kayu untuk keperluan acara tersebut. Tentunya hal ini berkontribusi pada pelestarian hutan mangrove di Desa Secanggang. Oleh karena itu, budaya jamu laut yang merupakan tradisi melayu di daerah pesisir sebagai warisan leluhur yang ada di Indonesia perlu dilestarikan sebagai budaya yang mencerminkan suatu kearifan lokal.
Dilandasi ketentuan dalam upaya melakukan kebijakan pengendalian dan pengelolaan lingkungan hidup dengan pengelolaan sumberdaya alam perlu diikuti dengan penerapan tehnologi yang ramah lingkungan, partisipasi masyarakat, kesadaran aparatur pemerintah, dunia usaha swasta, peningkatan pengawasan, penerapan hukum dan perbaikan sistem atau perangkat hukum untuk pengelolaan dan pelestarian lingkungan.
Selanjutnya kearifan lokal pada masyarakat pesisir, agar dapat terus dikembangkan dalam upaya peran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan antara generasi sekarang dan masa dating
BIBLIOGRAPHY
Azhari, S. 1997. Etika Lingkungan dalam Pembangunan Berkelanjutan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. 158 h.
Drakel, A. 2010. Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan (agrikan UMMU-Ternate), Volume 3 Edisi 1 (Mei 2010)
Emiliana, S 2006. Pendayagunaan Sumber Daya Alam Di Kampung nelayan Di Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kab. Demak Jateng. Yogyakarta: Hasil penelitian Jarahnitra.
Hidayat. 2011. Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Kelembagaan Lokal. Jurnal Sejarah
CITRA LEKHA, Vol. XV, No. 1 Februari 2011: 19-32.
https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/jas/article/download/8626/7174
Hutapea. D.F. & Amal. B.K. (2018). Tradisi Jamu Laut menjadi Sistem pada Masyarakat
Desa Jaring Halus. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS). 1 (2):
66-74.
Kantor Menteri Negara LH, 2001. Bunga Rampai Kearifan Lingkungan, Asisten Deputi Urusan Sosial Budaya, Deputi II). Jl. DI Panjaitan Kav 42-43, Kebon Nanas, Jakarta Timur 31410 Kay and Alder. 1999. Coastal Planning and Management. London: E & FN SPON., 375 pp. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2009. Etika Lingkungan Dalam Amdal Pusat
Pendidikan Dan Pelatihan.
Keraf, A.S. 2002. Etika Lingkungan. Penerbit Buku Kompas. Jakarta. 320 h.
Kusniadi. 2006. Nelayan Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial, Bandung: Humaniora Utama Press.
Lubis, H. 2002, Zonasi Konservasi Mangrove dalam Proseding Workshop Perencanaan Strategi Pengendalian Kerusakan Mangrove Se-Sumatera Bandar Lampung : DFID.
Lubis, H. 2008. Kearifan Tradisional Masyarakat Pesisir Sumatera Utara. Seminar Nasional
Budaya dan Lingkungan,di Parapat, 20 Juli 2008
https://nuecoreligioncenter.blogspot.com/2016/05/kearifan-tradisional-masyarakat-pesisir.html
Medanbisnisdaily.com. Kearifan Lokal Jamu Laut Masih Dipertahakan Desa Jaring Halus. http://www.mdn.biz.id/o/70570
Purnomohadi, Ning. 2006. ETIKA LINGKUNGAN, instrumen penting untuk menghadapi bencana dan menanggulangi krisis lingkungan. Materi disusun sebagai bahan diskusi pada Diklat AMDAL PENILAI, di Pusdiklat Pemda Prov. Lampung, 29 Mei 2006 (tidak dipublikasikan)
Ronnie Harding (ed), 2002. Environmental Decision-Making: the roles of scientist, engineers and the public
Rosramadhana, Lidesty N.Z.S., Nurul A., Kartika S., Musdiani S., Meisy I.L.M., Yunda M.., (2017), Pengetahuan Kearifan Lokal dalam Bercocok Tanam (Nuan-Nuan) Suku Karo di Desa Keling Kecamatan Merdeka Kabupaten Karo, Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya, 3 (1): 19-24
Skolimowski, H. 2004. Filsafat Lingkungan (terjemahan). Penerbit: Bentang Budaya. Yogyakarta. 164 h.
Sumintarsih dkk. 2007. “Kearifan Lokal Di Lingkungan Masyarakat Nelayan Madura”.
Kementrian Kebudayaan Dan Pariwisata, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan BKSNT Yogyakarta, 2007.
Zulham, Hidayah & Purba, Joondy. 2004: Kearifan Lingkungan Pada Masyarakat Pesisir dan Nelayan dalam Bunga Rampai Kearifan Lingkungan, Jakarta; Kementerian Lingkungan Hidup, hal 418-435.
Zuska, Fikarwin. 2004. Nelayan Kutuk-Kutuk di Tapanuli Tengah: Kearifan dan ketidakberdayaan menegakkan pelestarian dalam Bunga Rampai Kearifan Lingkungan, Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup, hal,443 -448.