STUDI PREVALENSI INFEKSI CAPLAK PADA SAPI DI KECAMATAN
CIRACAP DAN KECAMATAN SURADE KABUPATEN SUKABUMI
JAWA BARAT DAN CARA-CARA PETERNAK MENANGGULANGINYA
(The Prevalence Study of Tick Infection in Cattle at Sub-Districts of Ciracap
and Surade District of Sukabumi West Java and the Ways of Farmers to
Control Them)
J. MANURUNGBalai Penelitian Veteriner, P.O. Box 151, Bogor 16114
ABSTRACT
A case study on the prevalence of tick investation in cattle and its control was undertaken (24 - 26 June 2002) in two sub districts of Surade and Ciracap, three villages each. Forty five farmers each sub district (15 farmers per village) were chosen purposively. Prevalence of tick investation was based on direct examination into cattle belong to 45 farmers and its control was based on questionary and discussion with farmers. In the sub district of Ciracap 82 of 187 cattle (44%) in April - May (69%) and October – Maret (29%). In Surade was 32 of 107 cattle (30%) were invested by tick in April - May (82%). Control of ticks done by farmers in the sub district of Ciracap by killing them manually (93.3%), fed by village chicken (64.4%). In the sub district of Surade, daily examination of cattle to tick investation done by farmers and kill them (86.7%). The use of acaricides such as asuntol or ivermectine, was very rarely done by farmers except free of charge provided by staffs of local Livestock Services. Key words: Prevalence, tick infection, cattle, tick control
PENDAHULUAN
Sapi khususnya jenis sapi PO banyak dipelihara oleh petani di Kecamatan Ciracap dan Surade. Umumnya cara pemeliharaanya secara digembalakan pada pukul 9.00 − 16.00 WIB di sawah kering, di tegalan atau di kebun kelapa khususnya di waktu musim kemarau (Juni − September). Karena itu untuk meningkatkan potensi sapi padang perlu diperhatikan masalah penyakit khususnya akibat ektoparasit. Dari antara ektoparasit yang perlu diperhatikan adalah masalah caplak (SIGIT et al., 1983) karena caplak (umumnya jenis caplak pada sapi adalah Boophilus microplus) mengisap darah, merusak kulit menimbulkan kegatalan dan dapat bertindak sebagai vektor (pemindah) berbagai penyakit virus, bakteri, protozoa, riketsia (SEDDON, 1967) dan larvanya dapat menyerang manusia (SENADHIRA, 1969).
Boophilus microplus adalah caplak berumah satu, yaitu mulai dari stadium larva, nimpa dan dewasa hidup pada satu ekor hewan (SOULSBY, 1982 ). Seekor caplak betina dapat menghasilkan telur sebanyak 2030 butir dan akan menetas menjadi larva, nimpa dan dewasa (BERIAJAYA, 1982). Selama stadium perkembangan setiap caplak menghisap darah sapi 0,5 ml dan apabila populasi caplak pada sapi mencapai 6.000 − 10.000 ekor maka dapat membunuh sapi dewasa (BARNETT, 1968 ).
Dengan memperhatikan diatas maka perlu diketahui prevalensi caplak pada sapi, waktu (musim) ditemukan caplak pada sapi dan cara peternak untuk menanggulanginya. Dengan diketahui data di atas, maka akan dapat diambil langkah kebikjasanaan baru untuk penanggulangannya.
METODOLOGI Penelitian lapangan
Penelitian ini merupakan studi kasus caplak (prevalensi caplak), studi waktu kejadian caplak dan studi bagaimana petani − peternak untuk menanggulanginya. Dilakukan 24 − 26 Juni 2002 di Kecamatan Ciracap di 3 desa, yakni Desa Purwasedar, Desa Cikangkung, Desa Ciracap dan di Kecamatan Surade di 3 desa, yakni Desa Wanasari, Kadaleman dan Cidahu. Sebanyak 45 peternak yang tersebar di 9 kampung di 3 desa dalam satu kecamatan di atas dipilih secara purposif. Pengambilan data prevalensi caplak pada sapi dilakukan dengan pengamatan langsung sapi yang terinfestasi caplak milik 45 peternak/Kecamatan. Data waktu kejadian sapi yang terinfestasi caplak serta cara peternak untuk menanggulangi caplak didapat dari pengisian kuesioner dan wawancara.
Analisis data
Analisis data hasil penelitian lapangan dilakukan dengan uji deskriptif (BAILEY, 1989).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah sapi milik 45 peternak di 3 desa dalam Kecamatan Ciracap adalah 187 ekor, yang terinfestasi oleh caplak adalah sebanyak 82 ekor (44%) dengan perincian pada 75 ekor sapi masing-masing memiliki 1 − 5 ekor caplak sedangkan pada 7 ekor sapi lainnya masing-masing memiliki 1 − 2 ekor caplak/4 cm2 permukaan kulit glambir atau permukaan kulit di antara 2 kaki belakang.
Jumlah sapi milik 45 peternak di 3 desa di Kecamatan Surade adalah sebanyak 107 ekor, yang terinfestasi caplak adalah 32 ekor (30%) dengan perincian pada 27 ekor sapi masing-masing memilliki 1 − 5 ekor caplak dan 5 ekor sapi lainnya masing-masing memilliki 1 − 2 ekor caplak/4 cm2 permukaan kulit glambir atau kulit di antara kedua kaki belakang (Tabel 1).
Dari tabel di atas terlihat sapi yang terinfeksi caplak di Kecamatan Ciracap adalah 14% lebih tinggi dari Kecamatan Surade. Hal ini terjadi karena di Kecamatan Surade, sapi sebelum digembalakan (pukul 9.00 − 16.00 WIB) caplaknya dicari, kemudian dibunuh secara dipencet, sedangkan di Kecamatan Ciracap caplak dipencet sesudah terlihat.
Adapun waktu (musim) caplak terinfestasi pada sapi di Kecamatan Ciracap adalah 31 peternak (68,9%) pada akhir musim hujan (April − Mei), 13 peternak (28,9%) pada musim hujan (Oktober − Maret) khususnya awal (Oktober) dan 1 peternak mengatakan pada musim kemarau (Juni − September). Di Kecamatan Surade waktu caplak terinfestasi pada sapi adalah 37 peternak (82%) mengatakan pada akhir musim hujan saampai permulaan musim kemarau (April − Mei − Juni) 4 peternak (9%) pada permulaan musim hujan (Oktober) dan 4 peternak (9%) mengatakan caplak ditemukan setiap saat (Tabel 2).
Dengan memperhatikan di atas maka untuk mengurangi kasus caplak pada sapi di Kecamatan Ciracap maupun di Kecamatan Surade diadakanlah penanggulangannya pada akhir musim hujan (April − Mei) hingga permulaan musim kemarau (Juni).
Cara peternak ntuk menanggulangi caplak pada sapi adalah di Kecamatan Ciracap 42 peternak (93,3%) bila ditemukan caplak dibunuh secara memencet dan bila ditemukan caplak khususnya stadium larva banyak di permukaan kulit misalnya diglambir, di bawah perut, di antara ke−2 kaki belakang diatasi dengan mengerok dengan pisau (3 peternak). Dua peternak (4%) mengatasi dengan obat alternatif seperti dimandikan dengan sabun colek atau dengan campuran air garam dengan buah berenuk. Pakai obat dari petugas misalnya dengan coumaphos (asuntol) atau ivermectin (ivomec)
yang diberikan secara cuma-cuma oleh 2 peternak (4%). Di Kecamatan Surade caplak pada sapi ditanggulangi dengan memencet caplak (39 peternak = 87%) dan bila parah dikerok dengan pisau (4 peternak = 8,8%). Dicoba dengan obat alternatif (2 peternak = 4%), misalnya digosok dengan daun lengkuas (daun honje) atau dengan kulit pinang muda (Tabel 3).
Adapun sebabnya petani-peternak menanggulangi caplak dengan dipungut-dipencet (DD) atau DD + dikerok karena petani kesal melihat caplak mengisap darah sapi, sapi sering mengaruk-garuk tubuhnya sehingga kulitnya menjadi rusak dan bila parah mengakibatkan harga jual sapi menjadi menurun. Cara petani-peternak mengatasi caplak dengan DD adalah cara yang lebih baik bila dibandingkan dengan menggunakan obat akarisida sintetis (obat pembunuh caplak) karena obat sintetis di samping harus dibeli juga dapat menimbulkan keracunan, polusi dan resistensi (KARDINAN, 2000). Hanya untuk cara DD ini agar lebih berhasil minimal satu kali sehari misalnya pukul delapan pagi (sebelum digembalakan) caplak dicari, dipungut di permukaan kulit sapi termasuk di liang telinga. Untuk ini perlu rajin, tekun dan teliti tiap hari. Kemudian diikuti tindakan yakni setelah caplak dipungut kulit bakas caplak diolesi dengan anti septik (mencegah infeksi sekunder). Selanjutnya caplak yang dipungut dimasukkan dalam wadah berisi minyak tanah kemudian dibakar (IMELDA, 1980). Bila caplak hanya dibunuh secara dipencet, apabila caplak betina yang akan bertelur maka caplak betina sebelum mati akan mengeluarkan telur 2.030 butir (BERIAJAYA, 1983). Bila lingkungan telur memungkinkan misalnya bersuhu 20 − 310 C dan kelembapan 70 − 90%, maka telur akan
menetas menjadi larva (HITCHCOCK, 1955) yang akan naik ke sapi (mengisap darah) dan berkembang menjadi nimfa dan dewasa. Juga dengan cara hanya mengerok kulit (gelambir atau kulit antara ke-2 kaki belakang) yang berisi caplak, lalu hasil kerokan dibuang ke tanah, kemudian kulit yang dikerok dibiarkan tanpa diberi obat luka perlu disempurnakan. Dengan cara agar caplak yang dikerokan kulit mati (sampel kerokan kulit didiagnosis di laboratorium Balitvet terdiri atas caplak Boophilus microplus dan Rhipicephalus sanguineus) maka kerokan kulit dimasukkan ke wadah berisi minyak tanah kemudian dibakar. Kulit yang dikerok agar jangan mudah terinfeksi oleh bakteri, kapang atau agar jangan mengundang lalat, maka perlu diolesi dengan obat antiseptik.
Cara peternak menanggulangi caplak dengan obat alternatif seperti di Ciracap dengan sabun colek atau dengan campuran air garam dengan berenuk adalah kurang tepat, sebab obat yang diberikan bukan bersifat akarisida, misalnya buah berenuk hanya bersifat membersihkan luka (HEYNE, 1987; EISEI INDONESIA, 1995). Juga di Kecamatan Surade menanggulangi caplak dengan digosok daun lengkuas atau dengan kulit pinang muda adalah juga kurang tepat, sebab daun
lengkuas bukan akarisida akan tetapi hanya bersifat penghangat atau antikapang (HEMBING et al., 1996). Kulit pinang muda juga kurang tepat untuk menanggulangi caplak karena kulit pinang muda belum diketahui bersifat akarisida yang dilaporkan biji pinang bersifat obat cacing dan sebagai penenang (HEMBINGet al., 1996).
Obat yang dianjurkan untuk digunakan untuk menanggulangi caplak khususnya pada saat tinggi sapi yang terinfestasi oleh caplak (April − Mei ) dan (Oktober − Maret) adalah coumaphos (asuntol) 0,1% sekali dalam seminggu secara semprot (DIREKTORAT KESEHATAN HEWAN, 1982) atau ivermectin/doramectin (ivomec/dectomax) dengan dosis 1 ml untuk 50 kg
bobot badan sapi diberikan secara subcutan sekali dalam 21 hari (JAGANNATH dan YATHIRAJ, 1999). Asuntol sebenarnya telah dikenal dan diketahui peternak efektif untuk menanggulangi caplak (sewaktu diberikan Dinas Peternakan secara cuma-cuma), sedangkan ivomec dikenal/diketahui peternak efektif sewaktu pengobatan cacing dan caplak pada sapi secara cuma-cuma pada April 2000 oleh Angkatan Laut Amerika Serikat. Karena asuntol diberikan minimal 4 kali (sekali dalam 7 hari) berturut-turutut dan ivomec/dectomax minimal 3 kali berturut, yang kedua obat tersebut mahal harganya, maka peternak sulit melaksanakannya secara swadaya.
Tabel 1. Prevalensi infeksi caplak pada sapi di Kecamatan Ciracap dan Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi Jumlah sapi yang diinfeksi caplak Kecamatan/Desa/Kampung Jumlah peternak Jumlah sapi per peternak
A B Jumlah Kecamatan Ciracap:
Desa Purwasedar:
Kampung Cijengkol 5 24 11 0 11
Kampung Kiara Nunggal 5 27 5 6 11
Kampung Tangkolo Wetan 5 19 10 0 10
Desa Cikangkung: Kampung Bangbayang 5 19 7 1 8 Kampung Ciwalaher 5 19 7 0 7 Kampung Simpenan 5 24 11 0 11 Desa Ciracap: Kampung Sukatani 5 19 10 0 10 Kampung Cilantik 5 17 5 0 5 Kampung Nangerang 5 19 9 0 9
Jumlah di Kecamatan Ciracap: 45 187 75 7 82
Persentase infeksi di Kec. Ciracap: 40,1 3,7 43,8
Kecamatan Surade: Desa Wanasari:
Kampung Cibalung 5 15 9 0 9
Kampung Sumur III 5 12 5 0 5
Kampung Cikoret 5 14 2 0 2
Desa Kadaleman:
Kampung Pasir Ipis II 5 10 3 1 4
Kampung Pasir Ipis I 5 13 1 2 3
Kampung Cihaur Koneng 5 10 3 2 5
Desa Cidahu:
Kampung Pasir Awi 5 11 1 0 1
Kampung Cikaung 5 10 1 0 1
KampungCimaja 5 12 2 0 2
Jumlah di Kecamatan Surade: 45 107 27 5 32
Persentase infeksi di Kec. Surade: 25,2 4,7 29,9
Jumlah keseluruhan: 90 294 102 12 114
Persentase infeksi keseluruhan: 34,7 4,1 38,8
Keterangan: A = 1-5 ekor caplak/ekor sapi
Tabel 2. Waktu kejadian caplak ditemukan pada sapi menurut penuturan peternak di Kecamatan Ciracap dan Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi
Jumlah Waktu kejadian caplak ditemukan Kecamatan/Desa/Kampung peternak
SD MP AMP MK
Kecamatan Ciracap: Desa Purwasedar:
Kampung Cijengkol 5 0 0 5 0
Kampung Kiara Nunggal 5 0 0 4 1
Kampung Tangkolo Wetan 5 0 1 4 0
Desa Cikangkung: Kampung Bangbayang 5 0 4 1 0 Kampung Ciwalaher 5 0 2 3 0 Kampung Simpenan 5 0 0 5 0 Desa Ciracap: Kampung Sukatani 5 0 4 1 0 Kampung Cilantik 5 0 2 3 0 Kampung Nangerang 5 0 0 5 0
Jumlah di Kecamatan Ciracap: 45 0 13 31 1
Persentase kejadian di Kec. Ciracap: 0,0 28,9 68,9 2,2
Kecamatan Surade: Desa Wanasari:
Kampung Cibalung 5 2 0 3 0
Kampung Sumur III 5 1 0 4 0
Kampung Cikoret 5 0 4 1 0
Desa Kadaleman:
Kampung Pasir Ipis II 5 1 0 4 0
Kampung Pasir Ipis I 5 0 0 5 0
Kampung Cihaur Koneng 5 0 0 5 0
Desa Cidahu:
Kampung Pasir Awi 5 0 0 5 0
Kampung Cikaung 5 0 0 5 0
KampungCimaja 5 0 0 5 0
Jumlah di Kecamatan Surade: 45 4 4 37 0
Persentase kejadian di Kec. Surade: 8,9 8,9 82,2 0,0
Jumlah keseluruhan: 90 4 17 68 1
Persentase kejadian keseluruhan: 4,4 18,9 75,6 1,1
Keterangan: SD = selalu ditemukan (tidak bergantung musim) MP = selalu ditemukan (tidak bergantung musim) AMP = musim penghujan (Oktober − Maret) MK = musim kemarau (Juni − September)
Tabel 3. Cara penanggulangan infeksi caplak pada sapi menurut penuturan peternak di Kecamatan Ciracap dan Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi
Cara penanggulangan infeksi caplak
Secara DD + DD + DD + DD + DD +
Kecamatan/desa/kampung Jumlah peternak
DD OA OP KR PA KR+PA
Kecamatan Ciracap:
Desa Purwasedar:
Kampung Cijengkol 5 0 0 1 0 1 3
Kampung Kiara Nunggal 5 3 Sb-1 1 0 0 0
Kampung Tangkolo Wetan 5 0 0 0 0 2 3
Desa Cikangkung: Kampung Bangbayang 5 0 Gb-1 0 0 0 4 Kampung Ciwalaher 5 3 0 0 0 0 2 Kampung Simpenan 5 1 0 0 1 0 3 Desa Ciracap: Kampung Sukatani 5 3 0 0 0 0 2 Kampung Cilantik 5 1 0 1 0 0 3 Kampung Nangerang 5 0 0 1 1 0 3
Jumlah di Kecamatan Ciracap: 45 11 2 4 2 3 23
Persentase cara penanggulangan: 24,4 4,4 9,0 4,4 6,7 51,1
Kecamatan Surade:
Desa Wanasari:
Kampung Cibalung 5 4 Lk-1 0 0 0 0
Kampung Sumur III 5 5 0 0 0 0 0
Kampung Cikoret 5 5 0 0 0 0 0
Desa Kadaleman:
Kampung Pasir Ipis II 5 5 0 0 0 0 0
Kampung Pasir Ipis I 5 5 0 0 0 0 0
Kampung Cihaur Koneng 5 3 0 0 2 0 0
Desa Cidahu:
Kampung Pasir Awi 5 2 Pm-1 0 2 0 0
Kampung Cikaung 5 5 0 0 0 0 0
KampungCimaja 5 5 0 0 0 0 0
Jumlah di Kecamatan Surade: 45 39 2 0 4 0 0
Persentase cara penanggulangan: 86,7 4,4 0,0 8,9 0,0 0,0
Jumlah di kedua kecamatan: 90 50 4 4 6 3 23
Persentase keseluruhan: 55,6 4,4 4,4 6,7 3,3 25,6
Keterangan: DD = dipungut dan dipencet
Sb = Sabun
OA = obat alternatif
Gb = Air garam + berenuk
OP = obat paten
Lk = Lengkuas
KR = dikerok
Pm = Kulit pinang muda PA = dipatuk ayam
KESIMPULAN DAN SARAN
Selama dilakukan studi, sapi yang terinfestasi caplak untuk Kecamatan Ciracap adalah 44%, yaitu 82 ekor dari 187 ekor sapi yang dimiliki oleh 45 orang peternak. Infeksi pada umumnya terjadi pada akhir musim penghujan (April − Mei) sebesar 69% dan pada musim penghujan (Oktober − Maret) sebesar 29%. Sementara itu, untuk Kecamatan Surade infeksi caplak adalah 30%, yaitu 32 ekor dari 107 ekor sapi yang juga dimiliki oleh 45 orang peternak. Di kecamatan inipun infeksi terjadi pada akhir musim penghujan (April −
Mei) sebesar 82% dan pada musim penghujan (Oktober
− Maret) sebesar 9%. Cara peternak menanggulangi infeksi caplak ini, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan selama studi ialah dengan cara diambil secara manual, kemudian dipencet (87 − 93%). Cara lain yaitu dengan dikandangkan sapinya, lalu dibantu dengan pematukan ayam yang terdapat di dalam kandang tersebut.
Caplak pada sapi khususnya pada bulan April-Mei dan Oktober di Kecamatan Ciracap dan Surade perlu diperhatikan penanggulangannya dengan cara tiap hari caplak dicari di tubuh sapi, dipungut, dimasukkan ke wadah berisi minyak tanah kemudian dibakar. Juga sapi perlu disemprot dengan asuntol 0,1% (minimal 4 kali berturut-turut sekali dalam seminggu) atau sapi disuntik secara subcutan ivermectin/doramectin minimal 3 kali (sekali dalam 21 hari) berturut-turut.
DAFTAR PUSTAKA
BAILEY, N.T.J. 1989. Statistical Methods in Biology. 2nd ed. Edward Arnold. A Division of Hodder & Stoughton, London.
BARNETT, S.F. 1968. The Control of Ticks on Livestock. FAO
Agricultural Studies No. 54, pp: 196-198.
BERIAJAYA. 1982. Pengaruh Jenis Induk Semang terhadap Aspek Pertumbuhan Caplak Sapi Boohilus microplus (Canestrini) (Acarina, Ixodidae). Tesis Magister Sains, Fakultas Pasca Sarjana IPB.
DIREKTORAT KESEHATAN HEWAN. 1982. Beberapa ektoparasit
yang penting sebagai vektor penyakit hewan di Indonesia. Dalam: Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular Jilid IV: 89-99.
EISEI INDONESIA. 1995. Medicinal Herb Index in Indonesia.
Indeks Tumbuh-Tumbuhan Obat di Indonesia. Edisi ke-2. PT Eisei Indonesia, p: 245.
HEMBING WIJAYAKUSUMA, H.M., SETIAWAN DALIMARTHA,
danA.S. WIRIAN. 1996. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. Jilid ke-4. Pustaka Kartini: 97-100 dan 126-128.
HEYNE, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia III. Badan
Litbang Departemen Kehutanan, Jakarta.
HITCHCOCK, L.F. 1955. Studies on the non-parasite stages of the cattle tick, Boophilus microplus (Canestrini) (Acarina , Ixodidae). Aust. J. Zool. 3: 145-155.
IMELDA. 1980. Pemeliharaan anjing Ras. Disadur dari: Bruce
Session in Dog Owners Medical Manual. pp: 138-142. JAGANNATH, M.S. and S. YATHIRAJ. 1999. Clinical evaluation
of doramectin in the treatment of ectoparasites of canines. Indian Vet. J. 76: 333-334.
KARDINAN, A. 2000. Pestisida Nabati Ramuan & Aplikasi .
PT Penebar Swadaya. pp: 1-3.
SEDDON, H. R. 1967. Diseases of Domestic Animals in Australia. Parts 3. Arthopods Infestation (Ticks and Mites). Service Publications (Vet. Hygiene) No. 7: 170. SENADHIRA, M.A.P. 1969. The Parasites of Ceylon. V.
Arthropoda: A host check list . Ceylon Vet. J. 17: 3-25. SIGIT, H. SINGGIH, SOETIYONO PARTOSOEDJONO & M. SALEH
AKIB. 1983. Laporan penelitian: Inventarisasi dan
pemetaan parasit Indonesia tahap pertama. Ektoparasit (Proyek No.2/Penel. 84 T-IPB/1980-1981). Proyek Peningkatan dan Pengembangan Perguruan Tinggi IPB. SOULSBY, E.J.L. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa
of Domesticated Animals. 7th ed. Lea and Febiger, Philadelphia, USA.