• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDY OF DETERMINATION OF FREE FORMALDEHYDE IN LEATHER PRODUCTS AND LEATHER ARTICLES AS SUPPORT FOR IMPLEMENTATION ECOLABEL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDY OF DETERMINATION OF FREE FORMALDEHYDE IN LEATHER PRODUCTS AND LEATHER ARTICLES AS SUPPORT FOR IMPLEMENTATION ECOLABEL"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

STUDY OF DETERMINATION OF FREE FORMALDEHYDE IN LEATHER PRODUCTS AND LEATHER ARTICLES AS SUPPORT FOR IMPLEMENTATION

ECOLABEL

Ike Setyorini* dan Rihastiwi Setiyamurti

Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik, Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian RI

*E-mail: [email protected]

ABSTRACT

The objective is to review the readiness of the testing laboratories in the determination of free formaldehyde in the products of finished leather and leather articles in order to support industry to applicate ecolabel. Formaldehyde is one of the tanner ingredient that is widely used in the leather tanning industry because it provides resistance properties to washing, hydrophilic, resistant to boiling water, resistant to sunlight, smooth and has a flat white color so when done coloring gives bright colors . Formaldehyde is a hazardous material that is restricted in its use so that the products of finished leather and leather goods included in any of the parameters ecolabel. Determination of free formaldehyde levels in the products of finished leather and leather articles can be carried out in a laboratory test method ISO / TS 17226:2003. While SNI for determination of free formaldehyde in the finished leather and leather goods are not yet available.

(2)

KAJIAN PENENTUAN KADAR FORMALDEHIDA BEBAS DALAM PRODUK KULIT JADI DAN BARANG KULIT DALAM RANGKA DUKUNGAN TERHADAP

PENERAPAN EKOLABEL

Ike Setyorini* dan Rihastiwi Setiyamurti

Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik, Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian RI

*E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji kesiapan laboratorium pengujian dalam penentuan kadar Formaldehida bebas dalam produk kulit jadi dan barang kulit dalam rangka mendukung kesiapan produsen terhadap penerapan ekolabel. Formaldehida merupakan salah satu bahan penyamak kulit yang banyak dipakai di industri penyamakan kulit karena memberikan sifat-sifat tahan terhadap pencucian, hidrofilik, tahan terhadap air mendidih, tahan terhadap sinar matahari, halus dan memiliki warna yang putih rata sehingga ketika dilakukan pewarnaan memberikan warna yang cerah. Formaldehida merupakan bahan berbahaya yang dalam penggunaannya dibatasi sehingga dalam produk kulit jadi dan barang kulit termasuk dalam salah satu parameter ekolabel. Penentuan kadar Formaldehida bebas dalam produk kulit jadi dan barang kulit dapat dilakukan di laboratorium pengujian dengan metode ISO/TS 17226:2003. Sedangkan SNI untuk penentuan kadar Formaldehida bebas dalam kulit jadi dan barang kulit belum tersedia.

(3)

PENDAHULUAN

Barang kulit merupakan salah satu produk yang banyak diminati sebagai pelengkap gaya hidup manusia. Berbagai macam barang yang terbuat dari kulit yaitu jaket, jok mobil/sofa, sepatu, sabuk, tas, sarung tangan, dompet, dll dikonsumsi dengan harga dan kualitas yang bervariasi. Bahan kulit adalah bahan yang tahan lama dan fleksibel, diciptakan oleh industri penyamakan kulit (sapi, domba, kambing, kerbau, dll) yang mengolah kulit mentah menjadi kulit jadi sebagai bahan baku pembuatan barang kulit. Industri penyamakan kulit di Indonesia tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, dan Sulawesi Selatan memenuhi kebutuhan ekspor sebesar 60 % dari total produksi. Dari data perdagangan ekspor, pada tahun 2010 nilai ekspor untuk komoditi kulit, barang kulit dan alas kaki bernilai US $ 1254,0 juta sedangkan pada tahun 2011 bernilai US $ 1254,0 juta US $1691,2 juta yang menunjukkan kenaikan sebesar 34,86 % (Pusdatin Kemenperin, 2012).

Penyamakan kulit bertujuan untuk mengubah kulit mentah yang mudah rusak oleh aktivItas mikroorganisme, kimia, atau fisika menjadi kulit tersamak yang lebih tahan terhadap pengaruh-pengaruh tersebut. Proses penyamakan kulit dapat dilakukan dengan beberapa macam bahan penyamak disesuaikan dengan sifat-sifat kulit jadi yang diinginkan misalnya dengan bahan penyamak nabati (mahoni, gambir), bahan penyamak mineral (krom), bahan penyamak kombinasi krom-nabati, bahan penyamak minyak, bahan penyamak aldehid, dan bahan penyamak sintetis. Formaldehida merupakan salah satu jenis bahan penyamak aldehid yang menghasilkan kulit jadi dengan sifat-sifat tahan terhadap pencucian, hidrofilik, tahan terhadap air mendidih, tahan terhadap sinar matahari, halus dan memiliki warna yang putih rata sehingga ketika dilakukan pewarnaan memberikan warna yang cerah. (Woodroffe, 1949). Karena sifat-sifatnya ini Formaldehida masih banyak digunakan sebagai bahan penyamak pada industri penyamakan kulit.

Formaldehida adalah senyawa kimia yang mempunyai gugus aldehid paling sederhana dan mempunyai kemampuan untuk bereaksi dengan bahan organik yang mempunyai satu gugus H aktif di mana ikatan terjadi karena pelepasan ion Hidrogen dari gugus amino (NH3+), reaksinya adalah:

(4)

RNH3 RNH2 H (1) Reaksi yang terjadi antara Formaldehida dengan protein kulit akan membentuk turunan methylol dengan reaksi sebagai berikut:

RNH2H2CORNHCH2OH (2) Reaksi ini akan terus berlangsung dengan grup amino yang lain membentuk reaksi kondensasi yaitu:

RNH2H2NR1RNHCH2NHR1H2O (3) Dalam penyamakan, reaksi ini membentuk ikatan silang (cross linking) dengan protein kulit untuk menjaga keseimbangan dengan zat penyamak. Reaksi penyamakan aldehid berlangsung cepat dan terjadi antara pH 6-8 (Thornstensen, 1976)

Formaldehida juga dapat bereaksi dengan gugus sufidril yang terdapat dalam struktur rambut yang dalam penyamakan kulit bulu berperan sebagai pengikat rambut pada kulit, dengan reaksi sebagai berikut:

RCH2SSCH2CH2OCH2(SCH2CNH3COOH)2 (4)

(O’flaherty, 1957)

Formaldehida yang telah bereaksi dengan protein kulit telah hilang sifat racunnya. Akan tetapi akan berbahaya apabila terdapat Formaldehida bebas yang tidak bereaksi dalam kulit hasil penyamakan. Sisa Formaldehida bebas (yang tidak bereaksi) hampir selalu ada dan sulit dikendalikan. Selain itu pekerja industri penyamakan kulit yang selalu bekerja dengan formalin dianjurkan untuk selalu menggunakan kacamata, penutup hidung, dan sarung tangan saat bekerja.

Sifat berbahaya dari Formaldehida disebabkan oleh karakteristik senyawa Formaldehida tersebut. Formaldehida merupakan salah satu polutan dalam ruangan yang sering ditemukan. dalam udara bebas Formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang 'formalin' atau 'formol' ). Dalam air, Formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO. Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk membatasi polimerisasinya. Formaldehida yang terhisap bisa menyebabkan iritasi kepala dan membran mukosa, yang menyebabkan keluarnya air mata, pusing, tenggorokan serasa terbakar, serta

(5)

kegerahan. Di dalam tubuh, Formaldehida bisa menimbulkan terikatnya DNA oleh protein, sehingga mengganggu ekspresi genetik yang normal.

Oleh karena itu dalam produk kulit jadi dan barang kulit, Formaldehida merupakan salah satu parameter yang diperhatikan sebagai salah satu dari daftar zat kimia yang dibatasi (restricted chemical substance lists) dalam industri penyamakan kulit. Salah satunya adalah penerapan standar ekolabel sebagai perlindungan konsumen, pelaku usaha dan masyarakat untuk keselamatan, kesehatan maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup. Beberapa tanda ekolabel yang terlihat di pasar Eropa untuk produk kulit jadi dan barang kulit yang menempel langsung dengan kulit seperti pakaian, sepatu adalah Blue angel, Oeko-Tex100, SG

Label, dan PFI Label. Sedangkan Jepang dengan ”Ecomark”, Taiwan dengan ”Green mark”, Singapore dan Thailand dengan ”Green label”, serta Indonesia

dengan nama ”Ramah lingkungan”. Hingga saat ini lebih dari 20 negara menerapkan standar ekolabel. Tanda ekolabel yang dicantumkan dalam produk menginformasikan bahwa parameter yang disebutkan dalam standar ekolabel sudah diuji dan memenuhi persyaratan mutunya. Untuk beberapa produsen alas kaki merk internasional bahkan mensyaratkan sendiri penggunaan zat kimia yang dibatasi termasuk Formaldehida. Beberapa industri otomotif dunia juga mensyaratkan batas Formaldehida emisi ke udara kabin yang berasal dari kulit jok otomotif.

BSN telah menetapkan 10 (sepuluh) SNI kriteria ekolabel pada produk, salah satunya adalah SNI 19-7188.3.1-2006 Kriteria ekolabel - Bagian 3: Kategori produk kulit - Seksi 1: Kulit jadi. Kriteria ini berlaku untuk jenis kulit boks dan kulit glace kambing/domba yang digunakan untuk atasan sepatu, kulit jaket dari kulit sapi dan kulit domba/kambing, kulit sarung tangan dan kulit jok. Kriteria ini mencakup definisi, persyaratan kriteria, nilai ambang batas dan metode uji/verifikasi, pengambilan contoh serta persyaratan umum dan metode uji/verifikasi. Sedangkan SNI 19-7188.3.2-2006 Kriteria ekolabel - Bagian 3: Kategori produk kulit - Seksi 2: Sepatu kasual. Kriteria ini berlaku untuk produk sepatu kasual dengan bagian atas dari kulit dan sol luar dari kulit, plastik atau karet. Kriteria ini mencakup definisi, persyaratan kriteria, nilai ambang batas dan metode uji/verifikasi, pengambilan contoh serta persyaratan umum dan metode uji/verifikasi.

(6)

Pada SNI 19-7188.3.1-2006 Kriteria ekolabel - Bagian 3: Kategori produk kulit - Seksi 1: Kulit jadi disebutkan kriteria, persyaratan ambang batas dan metode uji/verifikasi parameter uji ekolabel sebagai berikut:

Tabel 1. Persyaratan Ambang Batas dan Metode Uji/Verifikasi Parameter Uji Ekolabel Kulit Jadi

No Jenis Persyaratan/ambang

batas Metode uji/verifikasi

1. Cr (VI) ≤ 3 ppm DIN 53314:1996

2. Pentaklorofenol (PCP) ≤ 5 ppm ISO 17070:2006

3. Formaldehida bebas ≤ 200 ppm ISO/TS 17226:2003

4. Zat warna Azo ≤ 30 ppm DIN. 53316:1997

5. Logam berat (As, Cd dan Pb) ≤ 100 ppm (masing-masing logam)

CEN TC 309 WI 065 -4.3 6. Tetra-Klorofenol (TCP) ≤ 5 ppm ISO 17070:2006

Pada SNI 19-7188.3.2-2006 Kriteria ekolabel - Bagian 3: Kategori produk kulit - Seksi 2: Sepatu kasual disebutkan bahwa parameter Formaldehida bebas dipersyaratkan pada komponen utama yaitu kulit atasan dan lapis bagian atas sepatu yang berbahan kulit maupun tekstil. Sedangkan komponen sol dalam dan sol luar yang berbahan kulit parameter Formaldehida bebas tidak dipersyaratkan. Berikut ini adalah kriteria, persyaratan ambang batas dan metode uji/verifikasi parameter uji ekolabel untuk komponen utama sepatu kasual:

Dengan penerapan ekolabel produk kulit jadi dan barang kulit secara internasional, mendorong produsen kulit jadi dan barang kulit di Indonesia untuk memenuhi persyaratan tersebut agar diterima dalam perdagangan internasional. Industri penyamakan kulit harus melakukan proses penyamakan kulit berdasarkan pada produksi bersih. Di samping itu juga diperlukan kemampuan laboratorium pengujian untuk menguji parameter ekolabel kulit jadi dan barang kulit dalam rangka mendukung program tersebut. Pengujian di laboratorium untuk Formaldehida bebas dalam kulit jadi dan barang kulit menggunakan metode uji ISO/TS 17226:2003

(7)

Bestimung des Formaldehyd-Gehaltes in Leder, adapun emisi Formaldehida ke

udara menggunakan metode uji ISO/TS 17226-3. Sedangkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk penentuan Formaldehida dalam kulit jadi dan produk kulit belum tersedia.

Tabel 2. Persyaratan Ambang Batas dan Metode Uji/Verifikasi Parameter Uji Ekolabel Atasan Sepatu dari Kulit dan Lapis Bagian Atas Sepatu Berbahan Kulit

No Jenis Persyaratan/ambang batas Metode uji/verifikasi 1. Pentaklorofenol (PCP) ≤ 5 ppm ISO 17070:2006

2. Formaldehida bebas ≤ 200 ppm ISO/TS 17226:2003

3. Cr (VI) ≤ 3 ppm DIN 53314:1996

4. Zat warna Azo ≤ 30 ppm DIN. 53316:1997 5. Logam berat (As,Cd,

Pb) ≤ 100 ppm (masing-masing logam) CEN TC 309 WI 065 -4.3 6. Tetra-Klorofenol (TCP) ≤ 5 ppm ISO 17070:2006

Tabel 3. Persyaratan Ambang Batas dan Metode Uji/Verifikasi Parameter Uji Ekolabel Lapis Bagian Atas Sepatu Berbahan Tekstil

No Jenis Persyaratan/ambang batas Metode uji/verifikasi 1. Pentaklorofenol (PCP) ≤ 0,05 ppm ISO 17070:2006

2. Formaldehyde bebas ≤ 75 ppm ISO/TS 17226:2003

3. Zat warna Azo Tidak mengandung zat warna azo

yang tereduksi menghasilkan senyawa amina grup MAK IIIA1 dan IIIA2 § 35-LMBG-82.02-3 4. Logam berat (As,Cd,Pb) - As 1,0 mg/kg - Cd 0,1 mg/kg - Pb 1,0 mg/kg CEN TC 309 WI 065-4.3

(8)

TUJUAN

Tujuan penulisan ini adalah untuk:

1. Mengkaji kesiapan laboratorium pengujian dalam penentuan kadar formaldehida dalam kulit jadi dan barang kulit

2. Mengkaji kesiapan industri kulit dalam memenuhi standar kandungan formaldehida bebas sesuai persyaratan ekolabel

BAHAN DAN METODE Peralatan

a. Spektrofotometer UV VIS-1601 PC b. Alat penyaring vacum

c. Penangas air dengan pengaduk , suhu antara 40± 0,5ºC. d. Thermometer dengan ketelitian 0,1ºC , ukuran skala 0 - 100ºC. e. Peralatan gelas laboratorium

f. Timbangan analitis

Bahan-Bahan Kimia

a. Larutan Stok Formaldehida

b. Larutan kerja Formaldehida (6 µg/ml) c. Larutan Iodin 0,05 M

d. Larutan NaOH 2 M e. Larutan H2SO4 1,5 M

f. Larutan Sodium Tio sulfat 0,1 M

Metode

Kajian ini dilakukan melalui studi literatur, studi metode uji penentuan kadar Formaldehida bebas dalam kulit jadi dan barang kulit, pengujian dan analisis hasil uji kadar Formaldehida bebas dalam kulit jadi dan barang kulit di laboratorium uji Balai Besar Kulit Karet dan Plastik, serta informasi lain yang relevan.

(9)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan kadar Formaldehida bebas dalam kulit di laboratorium pengujian didasarkan pada metode uji (m.u) yang disusun dengan menggunakan acuan normatif sebagai berikut:

1. DIN 53315 ; 1996, Bestimung des Formaldehyd – Gehaltes in Leder

2. ISO/TS 17226: 2003, Leather – Chemical Tests – Determination of

formaldehyde content

3. SNI. 06-0642-1989 “ Cara Pengambilan Contoh “

4. SNI. 06-0643-1989 “ Cara Menyiapkan Contoh Uji Kulit Untuk Pengujia n Fisis dan Kimiawi “

Kadar Formaldehida bebas dalam kulit adalah jumlah Formaldehida bebas yang terdapat dalam kulit yang didapat dengan cara hidrolisa sebagian , dengan prinsip kerja kulit di potong kecil-kecil, diekstraksi dengan air suling pada suhu 40 ºC , disaring, kemudian hasil saringan di tambah Acetylaceton ( cairan berwarna kuning dari 3,5 Diacetil – 1,4 dihidrotoluidin ). Senyawa ini kemudian dideteksi secara fotometris dengan Spektrofotometer pada panjang gelombang 412 nm. Nilai kadar Formaldehida bebas pada hasil absorbsi tersebut didapatkan dari sebuah kalibrasi yang sesuai.

Berikut ini adalah kurva larutan standar Formaldehida yang dibuat oleh laboratorium untuk penentuan kadar Formaldehida bebas dalam salah satu contoh kulit tersamak dengan pewarnaan.

Dari Gambar 1 terlihat bahwa koefisien korelasi hampir mendekati 1 yang artinya variabel absorbansi dan konsentrasi Formaldehida pada kurva standar mempunyai korelasi positif dan hubungan yang hampir linear sempurna. Hal ini berarti kurva standar dapat dipakai sebagai dasar penentuan kadar Formaldehida dalam sampel kulit.

Pengujian kadar Formaldehida bebas dalam contoh kulit dilakukan dengan beberapa kali ulangan untuk melihat ripitabilitasnya dengan data sebagai berikut:

(10)

Koefisien korelasi (R2) = 0,9995

Gambar 1. Kurva Kalibrasi Larutan Standar Formaldehida

Tabel 4. Data Uji Contoh Kulit dalam Berbagai Ulangan

No. Ep0 Ep Ee terbaca, ppm Konsentrasi Kadar Formaldehida, ppm

1 0.003216 0.89940 0.008377 0.887807 44.4126 2 0.003216 0.90300 0.008377 0.891407 44.5926 3 0.003216 0.90240 0.008377 0.890807 44.5626 4 0.003216 0.90460 0.008377 0.893007 44.6727 5 0.003216 0.90258 0.008377 0.890987 44.5716 6 0.003216 0.90240 0.008377 0.887807 44.4126 7 0.003216 0.90540 0.008377 0.893807 44.7127 8 0.003216 0.89940 0.008377 0.887807 44.4126 9 0.003216 0.89990 0.008377 0.888307 44.4376 10 0.003216 0.90150 0.008377 0.889907 44.5176 11 0.003216 0.89947 0.008377 0.887877 44.4161 12 0.003216 0.90350 0.008377 0.891907 44.6177 13 0.003216 0.90252 0.008377 0.890927 44.5686 rata-rata = 44.5313 Sd = 0.10515

Kurva larutan standar Formaldehid

y = 1.3185x + 0.0521 R 2 = 0.999 0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 Konsentrasi, ppm A B S O R B A N S I

(11)

Keterangan:

Epo adalah absorbansi blanko

Ep adalah absorbansi larutan contoh setelah reaksi dengan acetyl aceton dikurangi absorbansi blanko

Ee adalah absorbansi contoh uji (warna asli)

Dari Tabel 4 didapatkan standar deviasi (Sd) dari berbagai ulangan hasil uji sampel kulit sebesar 0,1 yang menunjukkan data-data hasil uji tersebut berada di sekitar rata-rata hitungnya yaitu 44,53 ppm. Hal ini berarti ripitabilitas pengujian dengan metode uji ini dapat dipertanggungjawabkan.

Tabel 5 adalah data hasil uji banding penentuan kadar Formaldehida bebas dalam kulit jadi yang dilakukan oleh 3 analis.

Tabel 5. Data Uji Banding Penentuan Kadar Formaldehid Bebas dalam Kulit

Kode Epo Ep Ee Konsentrasi

terbaca, ppm Kadar Formaldehida, ppm A.1.1 A.1.2 A.1.3 0.003216 0.8994 0.007280 0.888904 44.4674 0.003216 0.90300 0.009748 0.890036 44.5241 0.003216 0.9024 0.008103 0.891081 44.5763 rata-rata = 44.5226 A.2.1 A.2.2 A.2.3 0.003216 0.9024 0.007280 0.888904 44.4674 0.003216 0.90540 0.009748 0.892436 44.6441 0.003216 0.89940 0.008103 0.888081 44.4263 rata-rata = 44.5126 A.3.1 A.3.2 A.3.3 0.003216 0.89947 0.007280 0.888974 44.4709 0.003216 0.90350 0.009748 0.890536 44.5491 0.003216 0.90252 0.008103 0.891201 44.5823 rata-rata = 44.5341

Data uji banding dianalisis dengan metode z-score berdasarkan persamaan

p a

x x

z(  )/ dimana xa adalah nilai yang ditetapkan dan padalah standar deviasi

(12)

masing-masing peserta dapat diperbandingkan. Hasil penilaian Z-score dapat dilihat pada Gambar 2

Gambar 2. Nilai Z-Score Uji Banding Antar Personel Penentuan Kadar Formaldehida Bebas dalam Kulit

Keterangan:

- Nilai Z-Score antara – 2 dan + 2 dikategorikan memuaskan

- Nilai Z-Score antara + 2 dan + 3 serta antara –2 dan –3 dikategorikan meragukan

- Nilai Z-Score > + 3 dan < -3 dikategorikan outlier.

Dari Gambar 2. dapat dilihat bahwa masing-masing analis mempunyai nilai Z-score yang terletak antara – 2 dan + 2 dengan kategori memuaskan. Hal ini berarti laboratorium mempunyai sumber daya manusia yang kompeten dalam melakukan pengujian kadar Formaldehida bebas dalam kulit.

Berikut ini adalah hasil uji kadar Formaldehida bebas dalam kulit yang diujikan oleh produsen penyamakan kulit dalam kurun waktu tahun 2010-2013 untuk kepentingan ekspor.

Tabel 6. Data Uji Kadar Formaldehida Bebas Kulit Jadi Tahun 2010 No. Jenis kulit Kadar Formaldehida Bebas (ppm)

1. Nubuck 9,15

2. Nubuck Beige 10,48

(13)

Tabel 7. Data Uji Kadar Formaldehida Bebas Kulit Jadi Tahun 2011 No. Jenis kulit Kadar Formaldehida Bebas (ppm)

1. Goat Cabretta Snow White 30,22 2. Sheep Cabretta Snow White 63,5 3. Goat Batting Glove Black Semi < 9 4. Goat Batting Glove Kangooro < 9 5. Sheep Batting Formaline 183,5

6. Cow Leather (Nubuk) 20,65

7. Sheep Batting Glove 10,9

8. Sheep Nappa Snow White < 9

9. Sheep Nappa Cream 10,80

Tabel 8. Data Uji Kadar Formaldehida Bebas Kulit Jadi Tahun 2012

No. Jenis kulit Kadar Formaldehida Bebas (ppm)

1. Sheep Snow White 34,8

2. Sheep Skin Sno 195,2

3. Sheep Cabretta Snow White < 9 4. Sheep Cabretta Snow White < 9 5. Sheep Skin Suede White < 9 6. Sheep Skin Suede Cream < 9 7. Goat Cabretta Snow White < 9 8. Sheep Cabretta Snow White 12,2

Dari Tabel 6, 7, dan 8 dapat dilihat bahwa hasil uji dari semua contoh kulit yang diujikan memenuhi persyaratan ekolabel untuk parameter kadar Formaldehida bebasnya. Produsen kulit jadi Indonesia mempunyai kesempatan yang luas untuk bersaing di pasar internasional yang memenuhi persyaratan ekolabel khususnya Formaldehida bebas dalam kulit

(14)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Laboratorium memiliki kemampuan untuk melakukan pengujian kadar Formaldehida bebas dalam produk kulit jadi dan barang kulit

2. Perlu disusun SNI untuk penentuan kadar Formaldehida bebas dalam kulit jadi dan barang kulit guna mendukung penerapan SNI Ekolabel Kulit.

Saran

Penyusunan SNI untuk penentuan kadar Formaldehida bebas dalam kulit jadi dan produk kulit sebaiknya dilakukan adopsi identik berdasarkan ISO/TS 17226: 2008, Leather – Chemical Tests – Determination of formaldehyde content dalam rangka harmonisasi standar.

DAFTAR PUSTAKA

Pusdatin Kementerian Perindustrian, 2012. Data Ekspor Kulit, Barang Kulit dan Sepatu/Alas Kaki

Woodroffe, 1949. Standard Handbook of Industrial Leathers; The National Trade Press Ltd; London

O'Flaherty, F. et al., 1957. The Chemistry and Technology of Leather; New York

BSN, 2006. SNI 19-7188.3.1-2006, Kriteria ekolabel –Bagian 3: Kategori produk kulit

–Seksi 1: Kulit jadi

BSN, 2006. SNI 19-7188.3.2-2006, Kriteria ekolabel –Bagian 3: Kategori produk kulit

Seksi 2: Sepatu Kasual; Badan Standardisasi Nasional

ISO, 2003. ISO/TS 17226:2003, Leather -- Chemical Determination of

Formaldehyde Content

Swartz, M.E., Krull, I.S., 1996. Analytical Methods Development and Validation; Marcell Dekker Inc.; New York

Gambar

Tabel 1. Persyaratan Ambang Batas dan Metode Uji/Verifikasi Parameter Uji  Ekolabel Kulit Jadi
Tabel 2.  Persyaratan Ambang Batas dan Metode Uji/Verifikasi Parameter Uji Ekolabel  Atasan Sepatu dari Kulit dan Lapis Bagian Atas Sepatu Berbahan Kulit
Gambar  1. Kurva Kalibrasi Larutan Standar Formaldehida  Tabel 4.  Data Uji Contoh Kulit dalam Berbagai Ulangan
Tabel  5  adalah  data  hasil  uji  banding  penentuan  kadar  Formaldehida  bebas  dalam kulit jadi yang dilakukan oleh 3 analis
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dapat dilihat pada gambar 4.6, bahwa kecepatan di bagian sisi turbin lebih tinggi dari kecepatan arus yang mengenai turbin. Kecepatan yang lebih tinggi disisi

Profil Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur terdiri dari gambaran kondisi geografis.. dan administratif wilayah, gambaran mengenai demografi, gambaran

Banyak penelitian yang mengembangkan pembuatan endoscope portable, s aat ini produk endoscope portable yang dihasilkan dapat mengakomodasi dimensi smartphone

multikolinieritas menggunakan regresi komponen utama lebih baik dibandingkan dengan regresi ridge dalam analisis faktor-faktor Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi

Sehubungan dengan Klarifikasi dan Negosiasi Teknis dan Biaya untuk Pekerjaan Belanja Jasa Konsultansi Perencanaan Penataan Kawasan Sungai Jawi, maka kami mengundang saudara

Setelah mempelajari materi penyajian data mahasiswa diharapkan dapat menyajikan data dalam bentuk tabel dan bentuk diagram juga mampu menggunakannya serta menerapkannya dalam

Cara Community Fresh Reptile (COFER) Surabaya menampilkan diri dalam membangun image di masyarakat adalah dengan mengadakan gathering rutin dan sosialisasi

SMART juga mengelola seluruh perkebunan kelapa sawit GAR dengan total area perkebunan di Indonesia seluas 430.200 hektar (termasuk perkebunan plasma) pada 31 Maret 2010..