• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN 

 

1.1 Latar Belakang

Di antara warganegara Jepang ada sebagian orang yang mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap pola dan beban gaya hidup di lingkungan sekitarnya. Permasalahan tersebut bisa terjadi karena berbagai latar belakang situasi yang terjadi pada diri seseorang akibat berbagai tekanan situasi yang tidak normal di lingkungannya sendiri. Mereka terkungkung dalam keadaan yang terasing atau memang mengasingkan diri dari lingkungan pergaulan sekitarnya. Kelompok ini dalam masyarakat Jepang mendapat julukan hikikomor. Ini merupakan sebuah “fenomena penyakit" aneh yang sedang mewabah dan menghinggapi warga masyarakat di Jepang. Gejala penyakit aneh itu disebut dengan istilah "Hikikomori". Penderitanya beragam dari anak–anak, kaum remaja bahkan bisa juga sampai para pemuda yang telah dewasa. Berdasarkan data statistik yang dinyatakan oleh Kementerian Kesehatan negara Jepang, sebagian besar dari para penderita atau pengidap masalah yang disebut “hikikomori” tersebut adalah para pemuda sebagaimana dicatat di dalam artikel media situs online (www.wikipedia.hikikomori).

Mereka biasanya menarik diri dari kehidupan sosial, mengisolasi diri di dalam kamar yang dalam beberapa kasus yang ditangani sampai sejauh ini untuk penanganannya bisa berlangsung sangat lama. Penulis tertarik mengkaji dan mendalami beberapa hal yang menjadi catatan untuk ditelaah, serta dipelajari dengan serius perihal masalah penderita dan penderitaan pada kasus hikikomori ini. Di samping menyangkut segi persoalan dalam bersikap dan adanya kesulitan yang dialami oleh penderita hikikomori, hal ini memang merupakan suatu permasalahan dalam hal kesulitan untuk mengikuti pola dalam kehidupan sehari-hari, seperti kendala dan keengganan dalam hal berbicara. Mereka mengalami kesulitan sendiri.

Mereka umumnya tidak dapat berkomunikasi secara wajar seperti komunikasi normal yang biasa kita lakukan. Dengan menelaah dan mempelajari permasalahan yang dialami oleh para penderita hikikomori pada warganegara Jepang tersebut, tentu menjadi suatu tantangan serius bagi penulis untuk meneliti sejauh mana upaya yang sudah dilakukan dalam mencari

(2)

solusi dengan berbagai cara yang menyangkut berbagai tindakan yang kreatif untuk mengadakan usaha yang nyata dalam merehabilitasi dan penggiatan program penanganan dengan berpola pendampingan dengan pendekatan dan penanganan yang berpola praktek nyata guna merangsang para penderita hikikomoriuntuk dapat menjalani setiap proses pemulihan yang diadakan secara bertahap dan berkesinambungan.

      Adapun fokus penanganan hikikomori secara khusus akan dibahas pada penelitian atau penulisan skripsi ini menyangkut kasus hikikomori yang terjadi pada kaum muda di negara Jepang, yang melibatkan penanganan oleh berbagai figur yang berkecimpung dan dipandang sungguh berkompeten dalam dunia pendidikan dari berbagai area sektor formal dan non formal. Adapun sektor formal berasal dari dunia pendidikan bersifat resmi pada sekolah atau dari kalangan cendekiawan dari peneliti dan pengajar pada kampus maupun lembaga pendidikan, sedangkan sektor non formal berasal dari para figur panutan yang tidak harus dari lembaga resmi saja, tetapi bisa juga dari para relawan, pembina kerohanian/ rohaniawan.

Menurut berita laporan penelitian yang dilakukan oleh stasiun TV-NHK (www.wikipedia.hikikomori), untuk acara FukushiNetwork, dikatakan bahwa penduduk hikikomori di Jepang pada tahun 2005 mencapai lebih dari 1,6 juta orang. Bila penduduk semi hikikomori (orang jarang keluar rumah) ikut dihitung, maka semuanya berjumlah lebih dari tiga juta orang. Dari total perhitungan NHK tersebut, menunjukkan hasil perhitungan yang hampir sama dengan perkiraan Zenkoku Hikikomori KHJ Oya no Kai yaitu sebanyak 1.636.000 orang. Menurut survei Kementerian Kesehatan Tenaga kerja dan Kesejahteraan Jepang, dikatakan bahwa ada sekitar 1,2% penduduk Jepang yang pernah mengalami hikikomori; 2,4% di antaranya penduduk berusia 20 tahunan pernah mengalami hikikomori (1 di antara 40). Dibandingkan kaum perempuan, kaum laki-laki yang merupakan penderita hikikomori jumlahnya empat kali lipat. Satu di antara 20 anggota keluarga yang orang tuanya berpendidikan perguruan tinggi pernah mengalami hikikomori. Tidak ada hubungan antara keluarga berkecukupan atau tidak berkecukupan secara ekonomi. Dari segi latar belakang menurut jenis kelamin, ternyata jumlah laki-laki penderita hikikomori lebih banyak daripada yang berjenis kelamin perempuan, kebanyakan dari mereka itu berasal dari golongan berusia 20-29 tahun (bahkan sampai pada usia 40 tahunan).

(3)

Mengingat betapa banyaknya kaum muda yang telah mengidap hikikomori di Jepang di mana hal ini sampai menimbulkan keadaan yang perlu diperhatikan secara serius oleh banyak pihak seperti keluarga, teman bahkan sampai pemerintah selaku pengemban pelaksana perlindungan umum bagi kepentingan warga atau masyarakat banyak, maka dalam hal ini penulis mendapat dorongan untuk meneliti secara serius mendalami kajian terhadap rupa-rupa permasalahan yang timbul akibat dari persoalan hikikomori tersebut, sehingga menjadi suatu sumber referensi untuk generasi penerus di negri ini untuk bisa turut perduli dan mengambil bagian untuk turut memantau atau memperhatikan berbagai hal terutama persoalan yang ada akibat berbagai situasi dan untuk kajian yang berguna bagi generasi penerus dalam rangka perkembangan perilaku kaum muda, agar bisa kelak membantu mengingatkan semua orang yang berkepentingan untuk memberikan sumbangsih secara moral bagi peri kehidupan generasi muda penerus bangsa. Inilah alasan penulis untuk bersemangat mengkaji dan meneliti secara mendalam perihal kasus hikikomori yang saat ini menghangat sebagai salah satu permasalahan dalam masyarakat di Jepang, dan bila latar belakang pemicu ini tidak segera diatasi dan dikikis, munurut penulis inipun bisa terjadi di negara manapun termasuk di Indonesia.

1.2 Identifikasi Masalah 

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :

1. Terdapat sekelompok kaum remaja warganegara Jepang yang sadar atau tidak, tengah kesulitan mencari jati diri. Ini mereka alami secara terkondisi oleh banyak faktor pemicu yang banyak berpengaruh secara negatif.

2. Terdapat kesulitan dalam berbagai kalangan khususnya keluarga dari para penderita hikikomori yang merasakan keprihatinan dan penderitaan.

3. Terdapat berbagai kasus yang menjadi perhatian utama untuk dicarikan pola upaya guna menolong para penderita hikikomori tersebut dengan bentuk solusi.

4. Adanya kesulitan dan tantangan bagi kaum remaja dan anak muda di negara Jepang dalam hal memahami jati diri oleh adanya berbagai kondisi yang tidak kondusif.

(4)

 

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas, maka penulis membatasi isi pemaparan pada ruang lingkup permasalahan seputar kajian tentang latar belakang yang menjadi akar persoalan atau penyebab, kendala dan upaya mendapatkan solusi yang ternyata dalam hal upaya untuk mendapatkan solusi penanganannya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak yang berkompeten, termasuk peran pemerintah yang turut memikirkan upaya secara menyeluruh dan menyentuh pada pokok pemecahan dan pencegahan dini dengan pola dan metode yang terprogram dan sistematik dengan dukungan peran serta para ahli kejiwaan dan kaum pementor atau tokoh pendidik yang handal dalam berupaya untuk mencoba berkiprah atas program pemerintah. Hal ini tentu saja benar-benar hal terkait dengan pola yang kreatif untuk melakukan penanganan dengan tujuan mengadakan rangkaian pelayanan yang terfokus untuk mengupayakan pemberdayaan dan dengan upaya pemulihan jati diri. Upaya ini berfokus pada bentuk yang nyata guna mengadakan upaya pendekatan dan pola interaksi praktis yang disesuaikan dengan upaya pemulihan guna menemukan upaya untuk pemaknaan kembali jati diri para pengidap atau para penderita gejala atau gangguan ‘phobia sosial’ gejala hikikomori sampai pada tahap untuk dapat dengan sukses menemukan jati dirinya normal kembali seperti semula sama seperti orang lain yang dapat merasakan kewajaran dan kemanfaatan dalam hal menjalani kehidupan. Tulisan lebih menekankan penelahaan dari sudut pandang kajian terhadap bentuk kegiatan dan pola program praktis yang menjadi solusi di seputar tempat tinggal mereka. Permasalahan hikikomori ini terutama ditinjau dari hal sehari-hari di luar urusan resmi bisnis maupun perkantoran.

 

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada pembatasan masalah di atas, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Kendala-kendala apa sajakah yang dialami para penderita hikikomori sebagai warganegara Jepang dalam bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungan sekitar tempat

(5)

2. Upaya-upaya apa sajakah yang dilakukan oleh kerabat keluarga untuk bisa mencari solusi agar penderita hikikomori bisa kembali beradaptasi sampai selanjutnya bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka?

3. Bagaimanakah pengaruh dan peranan fasilitator yang berupaya membawa misi perlindungan pemerintah tehadap warganegara yang mengalami rupa-rupa problema atau kendala tersebut? 4. Bentuk program apakah yang menyajikan fasilitas dan sarana apakah yang sebenarnya diperlukan guna memperlancar upaya yang mendorong penderita hikikomori untuk kembali bersosialisasi sebagai jalan keluar dari masalah hikikomori ?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dialami oleh penderita hikikomori warga negara Jepang, khususnya dalam hal latar belakang pemicu, dan perihal bagaimana upaya untuk menolong para penderita masalah hikikomori tersebut agar dapat kembali bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.

2. Untuk menguraikan upaya-upaya yang dilakukan oleh kaum kerabat keluarga dari para pengidap atau penderita hikikomori di Jepang, sehingga nantinya akan kembali beradaptasi dan selanjutnya dapat kembali bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.

3. Untuk menjelaskan pengaruh dan partisipasi para fasilitator yang dipercaya sebagai salah satu sarana yang memperlancar upaya pengadaan solusi jitu untuk bisa mengembalikan motivasi diri penderita hikikomori agar mampu bersosialisasi kembali dengan wajar di tengah kaum kerabat/ keluarga, kenalan, teman serta lingkungan warga sekitarnya.

4. Untuk memberikan informasi dan masukan tentang bentuk program yang menyajikan fasilitas dan sarana yang diperlukan guna memperlancar upaya yang mendorong para penderita hikikomori untuk kembali bersosialisasi sebagai jalan keluar dari masalah hikikomori.

(6)

1.6 Landasan Teori

         Landasan teori dalam penulisan ini meliputi : Pemahaman Istilah kata dan penelaahan arti “Hikikomori” dan “Rehabilitasi /Pemulihan” antara lain sebagai berikut:

1.6.1.1 Pengertian Hikikomori :

Penulis mengutip sebagian dari isi buku yang mengetengahkan pengertian “Hikikomori”, pada sebuah buku yang berjudul : “ Unbelievable Japan ”, adapun buku tersebut adalah buah karangan Weedy Koshino. Pada halaman 89, (PT.Elex Media Komputindo, Penerbit Kompas Gramedia ), Jakarta, dikatakan bahwa pengertian istilah kata “Hikikomori itu artinya berupa “Keadaan menarik diri atau mengisolasi diri sendiri” oleh seorang /individu terhadap seorang atau beberapa individu lainnya atau aksi untuk mengasingkan dirinya untuk berada dalam suatu tempat yang tersendiri dan menjauh terhadap lingkungan sekitarnya. Keadaan ini tentu saja dapat berakibat serius dan menimbulkan kecemasan bagi kerabat keluarga dan berakibat pada keterhambatan dalam kejiwaan dari sudut pandang sosial masyarakat sekitarnya, berarti hikikomori itu lebih terasa mengenai masalah pribadi dan keluarganya dalam proses sosial masyarakat yang keberadaannya berpengaruh dalam berperilaku dan berkaitan dengan budaya pola hidup masa kini.

     Sebagai penegasan landasan teori, penulis juga mengutip dari sumber pada situs media internet yaitu dari Wikipedia perihal Hikikomori yang dalam bentuk tulisan Jepang adalah : (

引きこもり, ひきこもり, atau 引き籠もり, arti harfiah: menarik diri, mengurung diri) adalah

istilah dalam bahasa Jepang untuk fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial. Istilah hikikomori merujuk kepada fenomena sosial secara umum, sekaligus sebutan untuk orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok sosial ini. Menurut artikel internet berjudul ‘Japan Solitation” dikatakan; ”By definition, the hikikomori (the term can also be used in the plural) is one who withdraws from Figure society. The Japanese word hiki means "to pull" and komoru means "retiring" or "withdrawing," hence the sense of pulling out from society”.

(7)

Terjemahannya : “Menurut definisinya, Hikikomori (Istilah ini juga digunakan dalam bentuk jamak) di mana hal itu berupa tindakan seseorang yang mengasingkan diri menjauhi orang lain yang ada di sekitarnya atau menjauhi kehidupan sosialnya”. Adapun kata ”Hiki“ dalam bahasa Jepang berarti “Menarik”, dan kata “Komoru”, yang berarti “Undur diri”, atau “Menarik diri”. Jadi demikianlah bentuk tindakan menarik diri dari lingkungan sosialnya”.

1.6.1.2 Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, definisi

hikikomori adalah orang yang menolak untuk keluar dari rumah, dan mengisolasi diri mereka dari masyarakat dengan terus menerus berada di dalam rumah/ kamar untuk periode yang melebihi enam bulan (Janti,2006:189). Menurut Psikiater Tamaki Saitō (Janti,2006:189, dikutip pada 16 April,2016), jadi pengertian dari istilah hikikomori adalah "Sebuah keadaan yang menjadi masalah pada usia 20-an akhir, berupa mengurung diri mereka sendiri di dalam rumah sendiri dan tidak ikut serta di dalam masyarakat selama enam bulan atau lebih.

Meskipun demikian, perilaku tersebut tampaknya tidak berasal dari masalah psikologis lainnya sebagai sumber utama. Pada penelitian lebih mutakhir, enam kriteria spesifik diperlukan untuk "mendiagnosis" hikikomori : (1) Menghabiskan sebagian besar waktu dalam satu hari dan hampir setiap hari tanpa meninggalkan kamar atau rumah, (2) Secara jelas dan keras hati suka menghindar dari situasi sosial, (3) Gejala-gejala yang mengganggu rutinitas normal orang tersebut, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau kegiatan sosial, atau hubungan antarpribadi, (4) Merasa penarikan dirinya itu sebagai wujud dari rasa ego atau sebagai tradisi penganut agama Shinto di Jepang, (5) Durasi sedikitnya enam bulan, dan (6) Tidak ada gangguan mental lain yang menyebabkan putus sosial dan penghindaran.

Meskipun perihal tingkatan fenomena ini bervariasi, bergantung kepada individunya, ada sejumlah orang bertahan mengisolasi diri selama bertahun-tahun atau bahkan selama berpuluh-puluh tahun. Hikikomori sering bermula dari enggan sekolah (istilah Jepang futōkō) dalam dunia medis ataupun hukum, kita sudah tidak asing lagi dengan kata “futoukou“. (不登校) atau istilah sebelumnya : tōkōkyohi (登校拒否). Penderita hikikomori enggan atau malas bila berada di antara siswa lain, bisa saja malu maupun phobia pada pergaulan.

(8)

Sebelumnya perlu diketahui bahwa istilah rehabilitasi itu memiliki berbagai macam aspek, di antaranya ada rehabilitasi lingkungan, pertanian, pemulihan korban narkoba, rehabilitasi medis, sosial, psikologi dan berbagai keperluan lain sebagainya. Rehabilitasi (Menurut KBBI-Online). Berasal dari dua kata kata yaitu “re” dan “habilitasi”. “Re” berarti kembali dan “habilitasi” berarti kemampuan. Jadi istilah dari kata rehabilitasi berarti mengembalikan kemampuan.

     Rehabilitasi itu sendiri sama artinya dengan pemulihan, penyembuhan, pembenahan, pembaharuan dan pemugaran kembali. Rehabilitasi secara umum ialah suatu proses perbaikan ataupun penyembuhan dari kondisi yang tidak normal menjadi normal. Bahwa rehabilitasi sendiri berguna untuk mengembalikan kondisi semula dan juga untuk melatih manusia dalam melakukan suatu tindakan secara normal dengan kondisi fisik yang tadinya sudah tidak normal lagi. Rehabilitasi ialah pemulihan kepada kedudukan jati diri (keadaan, nama baik) yang dahulu (semula).

1.7 Metode Penelitian

Dalam penyusunan skripsi ini, pemulis melakukan penelitian menggunakan metode kualitatif berupa teknik wawancara secara tertulis (Online Interview) kepada beberapa narasumber yang layak dimintai masukan dan pendapatnya secara obyektif perihal peranan kaum keluarga yang dipandang praktis untuk bisa memberikan masukan dan pandangan mengenai permasalahan hikikomori. Selain itu penulis juga mengacu pada hasil kutipan referensi buku dan artikel internet yang berisi tulisan sebagai hasil pengamatan penulis mencermati permasalahan hikikomori tersebut.

1.8 Manfaat Penelitian

     Manfaat yang diperoleh dari penelitian adalah sebagai berikut :

(9)

2) Manfaat bagi bidang ilmu adalah sebagai sumbangsih dalam memberikan referensi literatur yang dapat bermanfaat bagi penelitian-penelitian di bidang tersebut.

3) Manfaat bagi masyarakat adalah menambah pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai pembelajaran untuk mengerti berbagai upaya pencapaian solusi jitu dalam mengatasi kendala yang dialami oleh para penderita hikikomori.

1.9 Sistematika Penulisan

Dalam BAB I PENDAHULUAN, menjelaskan mengenai latar belakang permasalahan, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, landasan teori , manfaat penelitian, serta sistematika penulisan skripsi ini.

Dalam BAB II, LATAR BELAKANG YANG MENJADI PEMICU GEJALA HIKIKOMORI berisi analisis uraian mengenai fakor penyebab masalah dan kendala yang dialami pengidap hikikomori pada warganegara Jepang, mengetengahkan daftar kendala dan tantangan yang mereka alami perihal pola disiplin dan kendala dalam komunikasi secara mutlak terjadi di dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

Dalam BAB III POLA YANG KREATIF UNTUK PEMULIHAN JATI DIRI PENDERITA HIKIKOMORI, berisi uraian tentang pola praktis yang diupayakan, bentuk-bentuk aktivitas, kegiatan penunjang dan faktor pendorong kegiatan yang mereka pilih guna menolong agar para penderita hikikomori agar bisa kembali hidup secara normal untuk dapat bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka. Dalam BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN, merupakan intisari dan benang merah dari pemaparan pada bab-bab sebelumnya.

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian untuk data berdistribusi Chikuadrat dengan mean 1 untuk ukuran sampel 10000 pada Tabel 8 terdapat 2.15% titik sampel yang diluar kontrol sedangkan pada Tabel 5

Zona kartilago yang mengalami mineralisasi Hasil pengamatan secara mikroskopis pada zona kartilago yang mengalami mineralisasi pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan

Kemudian pilih Jadikan default dalam menu carousel, dan tekan, untuk konfirmasi. Copy ke SIM Seperti disebutkan sebelumnya, memasukkan sejumlah nama dalam buku tele&RS\ NH 6,0

Komunikasi dari kantor pusat ke 5 kantor cabang utama yang telah memiliki koneksi internet dengan memanfaatkan server-server VoIP yang telah banyak terdapat di internet, dalam

Faktor ini tidak didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Verina dan Jovita, 2013 yang mengatakan bahwa faktor harga tidak berpengaruh signifikan

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yang pertama adalah Apakah permainan tradisional cublak-cublak suweng dapat meningkatkan keterampilan sosial anak di TK Aisyiyah

Puji Syukur Kehadirat Tuh an Yang Maha Esa atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan sehingga penulis dap at menyelesaikan skripsi yang berjudul

Data diperoleh dari hasil pengukuran limbah yang terdapat di sepanjang jalan sarad pada plot pengamatan yang telah ditentukan sebelumnya. Limbah kayu yang diukur di jalan