• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Analisis Kebijakan Kesehatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Analisis Kebijakan Kesehatan"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1

1.1 LATAR BELAKANGLATAR BELAKANG

Dalam kehidupan tentu tidak lepas dari masalah kesehatan. Masalah kesehatan yang dihadapi Dalam kehidupan tentu tidak lepas dari masalah kesehatan. Masalah kesehatan yang dihadapi tentunya harus memiliki manajemen yang baik. Dan dalam hal ini, pemerintah turut campur tentunya harus memiliki manajemen yang baik. Dan dalam hal ini, pemerintah turut campur tangan di bawahi oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes). Sebagai suatu lembaga yang tangan di bawahi oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes). Sebagai suatu lembaga yang mengatur jalannya sistem kesehatan di Indonesia, Kementrian Kesehatan sangat bertanggung mengatur jalannya sistem kesehatan di Indonesia, Kementrian Kesehatan sangat bertanggung  jawab

 jawab akan akan hal hal ini. ini. Kemenkes Kemenkes selaku selaku pembuat pembuat kebijakan kebijakan kesehatan kesehatan juga juga perlu perlu melakukanmelakukan analisis terhadap setiap kebijakan kesehatan yang dibuat supaya derajat kesehatan di analisis terhadap setiap kebijakan kesehatan yang dibuat supaya derajat kesehatan di Indonesia lebih terarah untuk mencapai Indonesia Sehat.

Indonesia lebih terarah untuk mencapai Indonesia Sehat.

Sistem kesehatan di Indonesia tidak terlepas dari pembangunan kesehatan. Intinya sistem Sistem kesehatan di Indonesia tidak terlepas dari pembangunan kesehatan. Intinya sistem kesehatan merupakan seluruh aktifitas yang mempunyai tujuan utama untuk kesehatan merupakan seluruh aktifitas yang mempunyai tujuan utama untuk mempromosikan, mengembalikan dan memelihara kesehatan. Sistem kesehatan memberi mempromosikan, mengembalikan dan memelihara kesehatan. Sistem kesehatan memberi manfaat kepada mayarakat dengan distribusi yang adil. Sistem kesehatan tidak hanya menilai manfaat kepada mayarakat dengan distribusi yang adil. Sistem kesehatan tidak hanya menilai dan berfokus pada tingkat manfaat yang diberikan, tetapi juga bagaimana manfaat itu dan berfokus pada tingkat manfaat yang diberikan, tetapi juga bagaimana manfaat itu didistribusikan.

didistribusikan.

Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi, yang bersifat Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi, yang bersifat mengikat, yang mengatur perilaku dengan tujuan untuk menciptakan tata nilai baru dalam mengikat, yang mengatur perilaku dengan tujuan untuk menciptakan tata nilai baru dalam masyarakat,. Kebijakan akan menjadi rujukan utama para anggota organisasi atau anggota masyarakat,. Kebijakan akan menjadi rujukan utama para anggota organisasi atau anggota masyarakat dalam berperilaku. Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan masyarakat dalam berperilaku. Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan  proaktif. Berbeda dengan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation).

 proaktif. Berbeda dengan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation).

1.2

1.2RUMUSAN MASALAHRUMUSAN MASALAH

Bagaimana konsep dari analisis kebijakan kesehatan ?

(2)
(3)

1.3 TUJUAN

 Tujuan umum

Mahasiswa mampu memahami tentang konsep dari analisis kebijakan kesehatan.

 Tujuan khusus

 Mampu menjelaskan pengertian analisis kebijakan kesehatan.  Mampu menjelaskan peran analisis kebijakan kesehatan.  Mampu menjelaskan perumusan masalah kebijakan.  Mampu menjelaskan merencanakan kebijakan kesehatan.  Mampu menjelaskan pendekatan analisis kebijakan.  Mampu menjelaskan argument kebijakan.

 Mampu menjelaskan bentuk analisis kebijakan.  Mampu menjelaskan peranan politik 

 Mampu menjelaskan kebijakan kesehatan di Indonesia

1.4 MANFAAT

(4)
(5)

BAB II

PEMBAHASAN 2.1 PENGERTIAN ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN

Analisis Kebijakan Kesehatan, terdiri dari 3 kata yang mengandung arti atau dimensi yang luas, yaitu analisa atau analisis, kebijakan, dan kesehatan.

Analisa atau analisis, adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (seperti karangan,  perbuatan, kejadian atau peristiwa) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, sebab

musabab atau duduk perkaranya (Balai Pustaka, 1991).

Kebijakan merupakan suatu hasil analisis yang mendalam terhadap berbagai alternative yang  bermuara kepada keputusan tentang alternative terbaik. Kebijakan adalah rangkaian dan asas

yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan kepemimpinan, dan cara bertindak (tentag organisasi, atau pemerintah); pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran tertentu. Contoh: kebijakan kebudayaan, adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar rencana atau aktifitas suatu negara untuk mengembangkan kebudayaan  bangsanya. (Balai Pustaka, 1991).

Kebijakan berbeda makna dengan Kebijaksanaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1991), kebijaksanaan adalah kepandaian seseorang menggunakan akal  budinya (berdasar pengalaman dan pangetahuannya); atau kecakapan bertindak apabila

menghadapi kesulitan. Kebijaksanaan berkenaan dengan suatu keputusan yang memperbolehkan sesuatu yang sebenarnya dilarang berdasarkan alasan-alasan tertentu seperti  pertimbangan kemanusiaan, keadaan gawat dll. Kebijaksanaan selalu mengandung makna

melanggar segala sesuatu yang pernah ditetapkan karena alasan tertentu.

Menurut UU RI No. 23, tahun 1991, tentang kesehatan, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara soial dan ekonomi (RI, 1992). Pengertian ini cenderung tidak berbeda dengan yang dikembangkan WHO, yaitu: kesehatan adalah suatu kaadaan yang sempurna yang mencakup fisik, mental, kesejahteraan dan bukan hanya terbebasnya dari penyakit atau kecacatan.

(6)
(7)

Menurut UU No. 36, tahun 2009 Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Jadi, analisis kebijakan kesehatan adalah pengunaan berbagai metode penelitian dan argumen untuk menghasilkan dan memindahkan informasi yang relevan dengan kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan ditingkat politik dalam rangka memecahkan masalah kebijakan kesehatan.

2.2 PERAN ANALISIS KEBIJAKAN

Analisis kebijakan kesehatan awalnya adalah hasil pengembangan dari analisis kebijakan  publik. Akibat dari semakin majunya ilmu pengetahuan dan kebutuhan akan analisis

kebijakan dalam bidang kesehatan itulah akhirnya bidang kajian analisis kebijakan kesehatan muncul.

Sebagai suatu bidang kajian ilmu yang baru, analisis kebijakan kesehatan memiliki peran dan fungsi dalam pelaksanaannya. Peran dan fungsi itu adalah:

1. Adanya analisis kebijakan kesehatan akan memberikan keputusan yang fokus pada masalah yang akan diselesaikan.

2. Analisis kebijakan kesehatan mampu menganalisis multi disiplin ilmu. Satu disiplin kebijakan dan kedua disiplin ilmu kesehatan. Pada peran ini analisis kebijakan kesehatan menggabungkan keduanya yang kemudian menjadi sub kajian baru dalam khazanah keilmuan.

3. Adanya analisis kebijakan kesehatan,  pemerintah mampu memberikan jenis tindakan kebijakan apakah yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah.

4. Memberikan kepastian dengan memberikan kebijakan/keputusan yang sesuai atas suatu masalah yang awalnya tidak pasti.

5. Dan analisis kebijakan kesehatan juga menelaah fakta-fakta yang muncul kemudian akibat dari produk kebijakan yang telah diputuskan/diundangkan.

(8)
(9)

2.3 PERUMUSAN MASALAH KEBIJAKAN

Masalah kebijakan, adalah nilai, kebutuhan atau kesempatan yang belum terpenuhi, tetapi dapat diindentifikasikan dan dicapai melalui tindakan publik. Tingkat kepelikan masalah tergantung pada nilai dan kebutuhan apa yang dipandang paling panting.

Staf puskesmas yang kuat orientasi materialnya (gaji tidak memenuhi kebutuhan), cenderung memandang aspek imbalan dari puskesmas sebagai masalah mandasar dari pada orang yang  punya komitmen pada kualitas pelayanan kesehatan.

Menurut Dunn (1988) beberapa karakteristik masalah pokok dari masalah kebijakan, adalah: 1. Interdepensi (saling tergantung), yaitu kebijakan suatu bidang (energi) seringkali

mempengaruhi masalah kebijakan lainnya (pelayanan kesehatan). Kondisi ini menunjukkan adanya sistem masalah. Sistem masalah ini membutuhkan pendekatan Holistik, satu masalah dengan yang lain tidak dapat di piahkan dan diukur sendirian. 2. Subjektif, yaitu kondisi eksternal yang menimbulkan masalah diindentifikasi,

diklasifikasi dan dievaluasi secara selektif. Contoh: Populasi udara secara objektif dapat diukur (data). Data ini menimbulkan penafsiran yang beragam (a.l. gang-guan kesehatan, lingkungan, iklim, dll). Muncul situasi problematis, bukan problem itu sendiri.

3. Artifisial, yaitu pada saat diperlukan perubahan situasi problematis, sehingga dapat menimbulkan masalah kebijakan.

4. Dinamis, yaitu masalah dan pemecahannya berada pada suasana perubahan yang terus menerus. Pemecahan masalah justru dapat memunculkan masalah baru, yang membutuhkan pemecahan masalah lanjutan.

5. Tidak terduga, yaitu masalah yang muncul di luar jangkauan kebijakan dan sistem masalah kebijakan.

2.4 MERENCANAKAN KEBIJAKAN KESEHATAN

Perencanaan yang baik, mempunyai beberapa ciri-ciri yang harus diperhatikan. Menurut Azwar (1996) ciri-ciri tersebut secara sederhana dapat diuraikan sebagai b erikut :

1. Bagian dari sistem administrasi

Suatu perencanaan yang baik adalah yang berhasil menempatkan pekerjaan perencanaan sebagai bagian dari sistem administrasi secara keseluruhan. Sesungguhnya, perencanaan  pada dasarnya merupakan salah satu dari fungsi administrasi yang amat penting.

(10)
(11)

Pekerjaan administrasi yang tidak didukung oleh perencanaan, bukan merupakan  pekerjaan administrasi yang baik.

2. Dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan

Suatu perencanaan yang baik adalah yang dilakukan secara terus-menerus dan  berkesinambungan. Perencanaan yang dilakukan hanya sekali bukanlah perencanaan

yang dianjurkan. Ada hubungan yang berkelanjutan antara perencanaan dengan berbagai fungsi administrasi lain yang dikenal. Disebutkan perencanaan penting untuk  pelaksanaan, yang apabila hasilnya telah dinilai, dilanjutkan lagi dengan perencanaan.

Demikian seterusnya sehingga terbentuk suatu spiral yang tidak men genal titik akhir. 3. Berorientasi pada masa depan

Suatu perencanaan yang baik adalah yang berorientasi pada masa depan. Artinya, hasil dari pekerjaan perencanaan tersebut, apabila dapat dilaksanakan, akan mendatangkan  berbagai kebaikan tidak hanya pada saat ini, tetapi juga pada masa yang akan datan g. 4. Mampu menyelesaikan masalah

Suatu perencanaan yang baik adalah yamg mampu menyelesaikan berbagai masalah dan ataupun tantangan yang dihadapi. Penyelesaian masalah dan ataupun tantangan yang dimaksudkan disini tentu harus disesuaikan dengan kemampuan. Dalam arti penyelesaian masalah dan ataupun tantangan tersebut dilakukan secara bertahap, yang harus tercermin  pada pentahapan perencanaan yang akan dilakuka n.

5. Mempunyai tujuan

Suatu perencanaan yang baik adalah yang mempunyai tujuan yang dicantumkan secara  jelas. Tujuan yang dimaksudkandi sini biasanya dibedakan atas dua macam, yakni tujuan umum yang berisikan uraian secara garis besar, serta tujuan khusus yang berisikan uraian lebih spesifik.

6. Bersifat mampu kelola

Suatu perencanaan yang baik adalah yang bersifat mampu kelola, dalam arti bersifat wajar, logis, obyektif, jelas, runtun, fleksibel serta telah disesuaikan dengan sumber daya. Perencanaan yang disusun tidak logis serta tidak runtun, apalagi yang tidak sesuai dengan sumber daya bukanlah perencanaan yang baik.

(12)
(13)

2.5 PENDEKATAN ANALISIS KEBIJAKAN

Upaya untuk menghasilk informasi dan argumen, analis kebijakan dapat menggunakan  beberapa pendekatan, yaitu: pendekatan Empiris, Evaluatif, dan Normatif (Dunn, 1988).

1. Pendekatan Empiris, memusatkan perhatian pada masalah pokok, yaitu apakah sesuatu itu ada (menyangkut fakta). Pendekatan ini lebih menekankan penjelasan sebab akibat dari kebijakan publik. Contoh, Analisis dapat menjelaskan atau meramalkan  pembelanjaan negara untuk kesehatan, pendidikan, transportasi. Jenis informasi yang

dihasilkan adalah Penandaan.

2. Pendekatan evaluatif, memusatkan perhatian pada masalah pokok, yaitu berkaitan dengan  penentuan harga atau nilai (beberapa nilai sesuatu) dari beberapa kebijakan. Jenis informasi yang dihasilkan bersifat Evaluatif. Contoh: setelah menerima informasi  berbagai macam kebijakan KIA

 – 

 KB, analis dapat mengevaluasi bermacam cara untuk

mendistribusikan biaya, alat, atau obat-obatan menurut etika dan konsekuensinya.

3. Pendekatan normatif, memusatkan perhatian pada masalah pokok, yaitu Tindakan apa yang semestinya di lakukan. Pengusulan arah tindakan yang dapat memecahkan masalah  problem kebijakan, merupakan inti pendekatan normatif. Jenis informasi bersifat anjuran atau rekomendasi. Contoh: peningkatan pembayaran pasien puskesmas (dari Rp.300 menjadi Rp.1000) merupakan jawaban untuk mengatasi rendahnya kualitas pelayanan di  puskesmas. Peningkatan ini cenderung tidak memberatkan masyarakat.

Ketiga pendekatan di atas menghendaki suatu kegiatan penelitian dan dapat memanfaatkan  berbagai pendekatan lintas disiplin ilmu yang relevan. Adapun model panelitian yang lazim

digunakan adalah penelitian operasional, terapan atau praktis.

Pembuatan informasi yang selaras kebijakan (baik yang bersifat penandaan, evaluatif, dan anjuran) harus dihasilkan dari penggunaan prosedur analisis yang jelas (metode penelitian). Menurut Dunn (1988), dalam Analisis Kebijakan, metode analisis umum yang dapat digunakan, antara lain:

1. Metode peliputan (deskripsi), memungkinkan analis menghasilkan informasi mengenai sebab akibat kebijakan di masa lalu.

2. Metode peramalan (prediksi), memungkinkan analis menghasilkan informasi mengenai akibat kebijakan di masa depan.

(14)
(15)

3. Metode evaluasi, pembuatan informasi mengenai nilai atau harga di masa lalu dan masa datang.

METODE ANALISIS UMUM METODE ANALISIS KEBIJAKAN

Deskripsi Prediksi Evaluasi Preskripsi (petunjuk) Perumusan Masalah Peliputan (monitoring) Peramalan (forecasting) Evaluasi (evaluation) Rekomendasi (recommendation) Penyimpulan Praktis (Practical inference)

Penyimpulan praktis, ditujukan untuk mencapai kesimpulan yang lebih dekat agar masalah kebijakan dapat dipecahkan. Kata Praktis, lebih ditekankan pada dekatnya hubungan kesimpulan yang diambil dengan nilai dan norma sosial. Pengertian ini lebih ditujukan untuk menjawab kesalahpahaman mengenai makna Rekomendasi yang sering diartikan pada informasi yang kurang operasional atau kurang praktis, masih jauh dari fenomena yang sesungguhnya.

Bila metode analisis kebijakan dikaitkan dengan pendekatan empiris, evaluatif, dan anjuran, maka metode analisis kebijakan dapat disusun menjadi 3 jenjang, yaitu:

1. Pendekatan modus operandi, dapat menghasilkan informasi dan argumen dengan memanfaatkan 3 jenjang metode analisis, yaitu perumusan masalah, peliputan, dan  peramalan.

2. Pendekatan modus evaluatif, dapat menghasilkan informasi dan argumen dengan memanfaatkan 4 jenjang metode analisis, yaitu perumusan masalah, peliputan,  peramalan, dan rekomendasi.

3. Pendekatan modus anjuran, dapat menghasilkan informasi dan argumen dengan memanfaatkan seluruh (6) jenjang metode analisis, yaitu perumusan masalah, peliputan,  peramalan, evaluasi, rekomendasi, dan peyimpulan praktis.[5][6]

(16)
(17)

2.6 ARGUMEN KEBIJAKAN

Analisis kebijakan tidak hanya sekedar menghimpun data dan menghasilkan informasi. Analisis kebijakan juga harus memanfaatkan atau memindahkan informasi sebagai bagian dari argumen yang bernalar mengenai kebijakan publik untuk mencari solusi masalah kebijakan publik. Menurut Dunn (1988) struktur argumen kebijakan menggambarkan  bagaimana analis kebijakan dapat menggunakan alasan dan bukti yang menuntun kepada  pemecahan masalah kebijakan.

Berdasarkan struktur argumen, dapat diketahui bahwa seorang analisis kebijakan dapat menempuh langkah yang benar, dengan memanfaatkan informasi dan berbagai metode menuju kepada pemecahan masalah kebijakan dan tidak sekedar membenarkan alternatif kebijakan yang disukai.

2.7 BENTUK ANALISIS KEBIJAKAN

Analisis kebijakan terdiri dari beberapa bentuk, yang dapat dipilih dan digunakan. Pilihan  bentuk analisis yang tepat, menghendaki pemahaman masalah secara mendalam, sebab

kondisi masalah yang cenderung menentukan bentuk analisis yang digunakan.

Berdasarkan pendapat para ahli (Dunn, 1988; Moekijat, 1995; Wahab, 1991) dapat diuraikan  beberapa bentuk analisis kebijakan yang lazim digunakan.

1. Analisis Kebijakan Prospektif

Bentuk analisis ini berupa penciptaan dan pemindahan informasi sebelum tindakan kebijakan ditentukan dan dilaksanakan. Menurut Wiliam (1971), ciri analisis ini adalah: a. Mengabungkan informasi dari berbagai alternatif yang tersedia, yang dapat dipilih

dan dibandingkan.

 b. Diramalkan secara kuantitatif dan kualitatif untuk pedoman pembuatan keputusan kebijakan.

c. Secara konseptual tidak termasuk pengumpulan informasi. 2. Analisis Kebijakan Restrospektif (AKR)

Bentuk analisis ini selaras dengan deskripsi penelitian, dengan tujuannya adalah  penciptaan dan pemindahan informasi setelah tindakan kebijakan diambil. Beberapa

(18)
(19)

a. Analisis berorientasi Disiplin, lebih terfokus pada pengembangan dan pengujian teori dasar dalam disiplin keilmuan, dan menjelaskan sebab akibat kebijakan. Contoh: Upaya pencarian teori dan konsep kebutuhan serta kepuasan tenaga kesehatan di Indonesia, dapat memberi kontribusi pada pengembangan manajemen SDM original  berciri Indonesia (kultural). Orientasi pada tujuan dan sasaran kebijakan tidak terlalu dominan. Dengan demikian, jika ditetapkan untuk dasar kebijakan memerlukan kajian tambahan agar lebih operasional.

 b. Analisis berorientasi masalah, menitikberatkan pada aspek hubungan sebab akibat dari kebijakan, bersifat terapan, namun masih bersifat umum. Contoh: Pendidikan dapat meningkatkan cakupan layanan kesehatan. Orientasi tujuan bersifat umum, namun dapat memberi variabel kebijakan yang mungkin dapat dimanipulasikan untuk mencapai tujuan dan sasaran khusus, seperti meningkatnya kualitas kesehatan gigi anak sekolah melalui peningkatan program UKS oleh puskesmas.

c. Analisis beriorientasi penerapan, menjelaskan hubungan kausalitas, lebih tajam untuk mengidentifikasi tujuan dan sasaran dari kebijakan dan para pelakunya. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil kebijakan khusus, merumuskan masalah kebijakan, membangun alternatif kebijakan yang baru, dan mengarah pada pemecahan masalah praktis. Contoh: analis dapat memperhitungkan  berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan pelayanan KIA di Puskesmas. Informasi yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar pemecahan masalah kebijakan KIA di puskesmas.

3. Analisis Kebijakan Terpadu

Bentuk analisis ini bersifat konprehensif dan kontinyu, menghasilkan dan memindahkan informasi gabungan baik sebelum maupun sesudah tindakan kebijakan dilakukan. Menggabungkan bentuk prospektif dan restropektif, serta secara ajeg menghasilkan informasi dari waktu ke waktu dan bersifat multidispliner.

Bentuk analisis kebijakan di atas, menghasilkan jenis keputusan yang relatif berbeda yang, bila ditinjau dari pendekatan teori keputusan (teori keputusan deksriptif dan normatif), yang dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Teori Keputusan Deskriptif, bagian dari analisis retrospektif, mendeskripsikan tindakan dengan fokus menjelaskan hubungan kausal tindakan kebijakan, setelah

(20)
(21)

kebijakan terjadi. Tujuan utama keputusan adalah memahami problem kebijakan, diarahkan pada pemecahan masalah, namun kurang pada usaha pemecahan masalah.  b. Teori Keputusan Normatif, memberi dasar untuk memperbaiki akibat tindakan,

menjadi bagian dari metode prospektif (peramalan atau rekomendasi), lebih ditujukan  pada usaha pemecahan masalah yang bersifat praktis dan langsung.

2.8 PERANAN POLITIK

Analisis kebijakan merupakan proses kognitif. Pembuatan kebijakan merupakan proses Politik. Dengan demikian Informasi yang dihasilkan belum tentu digunakan oleh  pengambilan kebijakan.

Seorang analis harus aktif sebagai agen perubahan, paham struktur politik, berhubungan dengan orang yang mempengaruhi kebijakan yang dibuat, membuat usulan yang secara  politis dapat diterima pengambil kebijakan, kelompok sasaran, merencanakan usulan yang

mengarah kepada pelaksanaan. Analis hanya satu dari banyak pelaku kebijakan, dengan  pelaku kebijakan merupakan salah satu elemen sistem kebijakan. Dunn (1988) menjelaskan

adanya 3 elemen dalam sistem kebijakan, yang satu sama lain mempunyai hubungan. Dapat dijelaskan bahwa 3 elemen sistem kebijakan saling berhubungan :

1. Kebijakan publik, merupakan serangkaian pilihan yang dibuat atau tidak dibuat oleh  badan atau kantor pemerintah, dipengaruhi atau mempengaruhi lingkungan kebijakan dan

kebijakan publik.

2. Pelaku kebijakan, adalah kelompok masyarakat, organisasi profensi, partai politik,  berbagai badan pemerintah, wakil rakyat, dan analis kebijakan yang dipengaruhi atau

mempengaruhi pelaku kebijakan dan kebijakan publik.

3. Lingkungan kebijakan, yakni suasana tertentu tempat kejadian di sekitar isu kebijakan itu timbul, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pelaku kebijakan dan kebijakan publik. Berdasarkan uraian di atas, maka seorang analis kebijakan dapat dikategorikan sebagai aktor kebijakan yang menciptakan dan sekaligus menghasilkan sistem kebijakan, disamping aktor kebijakan yang lainnya.

(22)
(23)

2.9 KEBIJAKAN KESEHATAN DI INDONESIA

Kebijakan pemerintah dalam hal kesehatan terdiri atas visi, misi, strategi dan program kesehatan. Masing-masing memiliki peran untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat. Kebijakan pemerintah tersebut antara lain:

1. Pemantapan kerjasama lintas sektor.

2. Peningkatan perilaku, kemandirian masyarakat, dan kemitraan swasta. 3. Peningkatan kesehatan lingkungan.

4. Peningkatan upaya kesehatan.

5. Peningkatan sumber daya kesehatan.

6. Peningkatan kebijakan dan menejemen pembangunan kesehatan.

7. Peningkatan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penggunaan obat, makanan dan alat kesehatan yang illegal.

(24)
(25)

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN

Analisis kebijakan kesehatan adalah pengunaan berbagai metode penelitian dan argumen untuk menghasilkan dan memindahkan informasi yang relevan dengan kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan ditingkat politik dalam rangka memecahkan masalah kebijakan kesehatan.

Sebagai suatu bidang kajian ilmu yang baru, analisis kebijakan kesehatan memiliki peran dan fungsi dalam pelaksanaannya.

Menurut Dunn (1988) beberapa karakteristik masalah pokok dari masalah kebijakan, adalah Interdepensi (saling tergantung), Subjektif, Artifisial, Dinamis dan Tidak terduga.

Upaya untuk menghasilk informasi dan argumen, analis kebijakan dapat menggunakan  beberapa pendekatan, yaitu: pendekatan Empiris, Evaluatif, dan Normatif (Dunn, 1988).

Metode analisis kebijakan, yaitu Metode peliputan (deskripsi), Metode peramalan (prediksi) dan Metode evaluasi. 3 jenjang Metode analisis kebijakan, yaitu Pendekatan modus operandi, Pendekatan modus evaluative dan Pendekatan modus anjuran.

Menurut Dunn (1988) struktur argumen kebijakan menggambarkan bagaimana analis kebijakan dapat menggunakan alasan dan bukti yang menuntun kepada pemecahan masalah kebijakan.

Bentuk analisis kebijakan yang lazim digunakan, yaitu Analisis Kebijakan Prospektif, Analisis Kebijakan Restropektif (AKR) dan Analisis Kebijakan Terpadu.

Dunn (1988) menjelaskan adanya 3 elemen dalam sistem kebijakan, yang satu sama lain mempunyai hubungan, yaitu Kebijakan public, Pelaku kebijakan dan Lingkungan kebijakan. Sebelum melakukan analisis kebijakan kesehatan perlu dipahami terlebih dahulu mengenai sistem kesehatan. Bagaimana pengambilan kebijakan dibidang kesehatan.

3.2 SARAN

1. Diharapkan mahasiswa agar dapat meningkatkan pemahamannya terhadap asuhan keperawatan pada low back pain.

(26)
(27)

DAFTAR PUSTAKA

AnneAhira.com. Konsep dan Implementasi Analisis Kebijakan Kesehatan (online) http://www.AnneAhira.com/artikel/analisis-kebijakan-kesehatan.html. Minggu, 13 Maret 2011 pkl 18.52

Arif Kurniawan. Kebijakan Kesehatan (online)

Ayun Sriatmi. Sejarah analisis kebijakan dan kerangka analisis kebijakan (online)

Departemen Kesehatan RI. 2009. Sistem Kesehatan Nasional . Jakarta : Departemen Kesehatan RI

Dunn WN. 2003.  Pengantar Analisis Kebijakan Publik . Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Surya Utama. Dasar-Dasar Analisis Kebijakan Kesehatan (online)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3765/1/fkm-surya4.pdf . Jumat, 11 Maret 2011 pkl 15.31

(28)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan analisis kebijakan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul. Analisis kebijakan ini

Kebijakan kesehatan melingkupi berbagai upaya dan tindakan pengambilan keputusan yang meliputi aspek teknis medis dan pelayanan kesehatan, serta keterlibatan pelaku/aktor baik

Berbagai disiplin dari tinjauan kepustakaan yang berkaitan dengan kebijakan kesehatan telah didiskusikan. Namun demikian, kepustakaan- kepustakaan tersebut tidaklah mutual

Menurut WHO, kebijakan kesehatan menunjukan suatu keputusan , rencanan dan tindakan yang diambil untuk mencapai beberapa tujuan kesehatan secara spesifik.. Menurut Hogwood

Analisis data menghasilkan peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Instalasi Rawat Jalan terhadap kebijakan Rumah Sakit Bhayangkara Kepolisian Kota Manado di 3

FORMULASI KEBIJAKAN KESEHATAN YG IDEAL ANALISIS SISTEM KESEHATAN MENYELURUH • Semua fungsi • Semua tujuan DATA/ EVIDENCE ANALISIS KEBIJAKAN. Oleh

Pengelolaan SIK Komputerisasi Online Pada jenis ini pengelolaan informasi di pelayanan kesehatan sebagian besar/seluruhnya sudah dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer, dengan

Modul ini berjudul “Analisis Kebijakan Kesehatan” disusun untuk memenuhi tugas mata