• Tidak ada hasil yang ditemukan

SPO-Sifilis.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SPO-Sifilis.docx"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

X70 Syphilis female X70 Syphilis female  No. ICD X:  No. ICD X: A51Early syphilis A51Early syphilis

A51.0Primary genital syphilis A51.0Primary genital syphilis A52Late syphilis

A52Late syphilis

A53.9 Syphilis, unspecified A53.9 Syphilis, unspecified 1.2

1.2 Sifilis adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkanSifilis adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Treponema pallidum dan bersifat sistemik. oleh Treponema pallidum dan bersifat sistemik. Istilah lain penyakit ini adalah lues veneria atau lues. Istilah lain penyakit ini adalah lues veneria atau lues. Di Indonesia disebut dengan raja singa karena Di Indonesia disebut dengan raja singa karena keganasannya. Sifilis dapat menyerupai banyak keganasannya. Sifilis dapat menyerupai banyak  penyakit dan memiliki masa laten.

 penyakit dan memiliki masa laten. 2.

2. Tujuan Tujuan Sebagai Sebagai acuan acuan tatalaksana tatalaksana penderita penderita Sifilis Sifilis di di PuskesmasPuskesmas Wara Kota Palopo agar dapat tertangani dengan benar dan Wara Kota Palopo agar dapat tertangani dengan benar dan efektif

efektif 3.

3. KebijakanKebijakan 3.13.1 Dokter dan perawat yang terampil dan berkompetenDokter dan perawat yang terampil dan berkompeten 3.2

3.2 Jika terdapat pengulangan baik pemeriksaanJika terdapat pengulangan baik pemeriksaan laboratorium,maupun penulisan dosis obat yang laboratorium,maupun penulisan dosis obat yang  berulang atau tidak jelas, hendaknya melaporkan  berulang atau tidak jelas, hendaknya melaporkan

kedokter pemeriksa kedokter pemeriksa 4.

4. Referensi Referensi Buku Buku Panduan Panduan Praktik Praktik klinis klinis (PPK) (PPK) di di Fasilitas Fasilitas PelayananPelayanan Kesehatan

Kesehatan Primer (FPKP), Primer (FPKP), Hal; 577- Hal; 577- 584584 5.

5. Prosedur /langkah-Prosedur /langkah-langkah

langkah

5.1

5.1

 A

 Ana

nam

mne

nesis

sis

((

 Sub

 Subje

ject

ctiiv 

e)e) Keluhan

Keluhan

Pada afek primer, keluhan hanya berupa lesi tanpa Pada afek primer, keluhan hanya berupa lesi tanpa nyeri di bagian predileksi.

nyeri di bagian predileksi.

Pada sifilis sekunder, gejalanya antara lain: Pada sifilis sekunder, gejalanya antara lain:

Ruam atau beruntus pada kulit, dan dapat menjadi Ruam atau beruntus pada kulit, dan dapat menjadi luka, merah atau coklat kemerahan, ukuran dapat luka, merah atau coklat kemerahan, ukuran dapat  bervariasi, di mana

 bervariasi, di manapun pada tubupun pada tubuh termasuk telh termasuk telapakapak tangan dan telapak kaki.

tangan dan telapak kaki.

Demam Demam

Kelelahan dan perasaan tidak nyaman. Kelelahan dan perasaan tidak nyaman. Pembesaran kelenjar getah bening. Pembesaran kelenjar getah bening. Sakit tenggorokan dan kutil seperti luka

Sakit tenggorokan dan kutil seperti luka di mulut ataudi mulut atau daerah genital.

daerah genital.

Pada sifilis lanjut, gejala terutama adalah guma. Pada sifilis lanjut, gejala terutama adalah guma.

(2)

keluhan demam. keluhan demam.

Pada tulang gejala berupa nyeri pada malam hari. Pada tulang gejala berupa nyeri pada malam hari. S III lainnya adalah sifilis kardiovaskular, berupa S III lainnya adalah sifilis kardiovaskular, berupa aneurisma aorta dan aortitis. Kondisi ini dapat tanp aneurisma aorta dan aortitis. Kondisi ini dapat tanp aa gejala atau dengan gejala seperti angina pektoris. gejala atau dengan gejala seperti angina pektoris.  Neurosifilis dapat menunjukkan gejala-gejala  Neurosifilis dapat menunjukkan gejala-gejala

kelainan sistem saraf (lihat klasifikasi). kelainan sistem saraf (lihat klasifikasi).

Faktor Risiko Faktor Risiko

Berganti-ganti pasangan seksual. Berganti-ganti pasangan seksual.

Homoseksual dan Pekerja Seks Komersial (PSK). Homoseksual dan Pekerja Seks Komersial (PSK). Bayi dengan ibu menderita sifilis.

Bayi dengan ibu menderita sifilis.

Hubungan seksual dengan penderita tanpa proteksi Hubungan seksual dengan penderita tanpa proteksi (kondom).

(kondom).

Sifilis kardiovaskular terjadi 3 kali lebih tinggi pada Sifilis kardiovaskular terjadi 3 kali lebih tinggi pada  pria dibandingkan wanita setelah 15

 pria dibandingkan wanita setelah 15

 – 

 – 

 30 tahun 30 tahun setelah infeksi.

setelah infeksi. 5.2

5.2

P

Pe

em

me

erriiksaa

ksaan F

n F iisi

sik

k d

dan p

an pe

enunj

nunja

ang

ng se

sed

de

errhana

hana

(Objective)

(Objective)

5.2.1

5.2.1 Pemeriksaan FisikPemeriksaan Fisik Tanda Patognomonis Tanda Patognomonis Stadium I (sifilis primer) Stadium I (sifilis primer)

Diawali dengan papul lentikuler yang Diawali dengan papul lentikuler yang  permukaannya se

 permukaannya segera erosi gera erosi dan menjadi dan menjadi ulkusulkus  berbentuk

 berbentuk bulat bulat dan dan soliter, soliter, dindingnya dindingnya taktak  bergaung

 bergaung dan dan berdasarkan berdasarkan eritem eritem dan dan bersih,bersih, diatasnya hanya serum. Ulkus khas indolen diatasnya hanya serum. Ulkus khas indolen dan teraba indurasi yang disebut dengan ulkus dan teraba indurasi yang disebut dengan ulkus durum. Ulkus durum merupakan afe k primer durum. Ulkus durum merupakan afe k primer sifilis yang akan sembuh sendiri dalam 3-10 sifilis yang akan sembuh sendiri dalam 3-10 minggu.

minggu.

Tempat predileksi Tempat predileksi

Genitalia ekterna, pada pria pada sulkus Genitalia ekterna, pada pria pada sulkus koronarius, wanita di labia minor dan ma koronarius, wanita di labia minor dan mayor.yor. Ekstragenital: lidah, tonsil dan anus.

Ekstragenital: lidah, tonsil dan anus.

Seminggu setelah afek primer, terdapat Seminggu setelah afek primer, terdapat

(3)

regional yang soliter, indolen, tidak lunak, regional yang soliter, indolen, tidak lunak,  besarnya

 besarnya lentikular, lentikular, tidak tidak supuratif supuratif dan dan tidaktidak terdapat periadenitis, di ingunalis medialis. terdapat periadenitis, di ingunalis medialis. Ulkus durum dan pembesaran KGB disebut Ulkus durum dan pembesaran KGB disebut dengan kompleks primer. Bila sifilis tidak dengan kompleks primer. Bila sifilis tidak memiliki afek primer, disebut sebagai

memiliki afek primer, disebut sebagai syphilis syphilis

d’embiee d’embiee..

Stadium II (sifilis sekunder) Stadium II (sifilis sekunder)

S II terjadi setelah 6-8 minggu sejak S I S II terjadi setelah 6-8 minggu sejak S I terjadi. Stadium ini merupakan great imitator. terjadi. Stadium ini merupakan great imitator. Kelainan dapat menyerang mukosa, KGB, Kelainan dapat menyerang mukosa, KGB, mata, hepar , tulang dan saraf.

mata, hepar , tulang dan saraf.

Kelainan dapat berbentuk eksudatif yang Kelainan dapat berbentuk eksudatif yang sangat menular maupun kering (kurang sangat menular maupun kering (kurang menular).

menular).

Perbedaan dengan penyakit lainnya yaitu lesi Perbedaan dengan penyakit lainnya yaitu lesi tidak gatal dan terdapat limfadenitis

tidak gatal dan terdapat limfadenitis generalisata.

generalisata.

S II terdiri dari SII dini dan lanjut, S II terdiri dari SII dini dan lanjut,  perbedaannya adalah:

 perbedaannya adalah:

S II dini terlihat lesi kulit generalisata, S II dini terlihat lesi kulit generalisata, simetrik dan lebih cepat hilang (beberapa hari simetrik dan lebih cepat hilang (beberapa hari

 – 

 – 

  beberapa minggu), sedangkan S II lanjut  beberapa minggu), sedangkan S II lanjut

tampak setempat, tidak simetrik dan lebih tampak setempat, tidak simetrik dan lebih lama bertahan (beberapa minggu

lama bertahan (beberapa minggu

 – 

 – 

  beberapa  beberapa  bulan).

 bulan).

Bentuk lesi pada S II yaitu: Bentuk lesi pada S II yaitu:

Roseola sifilitika: eritema macular, Roseola sifilitika: eritema macular, berbintik- bintik,

 bintik, atau atau berbercak-bercak, berbercak-bercak, warna warna tembagatembaga dengan bentuk bulat atau lonjong. Jika dengan bentuk bulat atau lonjong. Jika terbentuk di kepala, dapat menimbulkan terbentuk di kepala, dapat menimbulkan kerontokan rambut, bersifat difus dan tidak kerontokan rambut, bersifat difus dan tidak khas, disebut alopesia difusa. Bila S II lanjut khas, disebut alopesia difusa. Bila S II lanjut  pada

 pada rambut, rambut, kerontokan kerontokan tampak tampak setempat,setempat, membentuk bercak-bercak yang disebut membentuk bercak-bercak yang disebut alopesia areolaris.

alopesia areolaris.

Lesi menghilang dalam beberapa hari/minggu, Lesi menghilang dalam beberapa hari/minggu,

(4)

lebih lama. Bekas lesi akan menghilang atau lebih lama. Bekas lesi akan menghilang atau meninggalkan hipopigmentasi (leukoderma meninggalkan hipopigmentasi (leukoderma sifilitikum)

sifilitikum) Papul. Papul.

Bentuk ini paling sering terlihat pada S II, Bentuk ini paling sering terlihat pada S II, kadang bersama-sama dengan roseola. Papul kadang bersama-sama dengan roseola. Papul  berbentuk

 berbentuk lentikular, lentikular, likenoid, likenoid, atau atau folikular,folikular, serta dapat berskuama (papulo-skuamosa) serta dapat berskuama (papulo-skuamosa) seperti psoriasis (psoriasiformis) dan dapat seperti psoriasis (psoriasiformis) dan dapat meninggalkan bercak leukoderma sifilitikum. meninggalkan bercak leukoderma sifilitikum. Pada S II dini, papul generalisata dan S II Pada S II dini, papul generalisata dan S II lanjut menjadi setempat dan tersusun secara lanjut menjadi setempat dan tersusun secara tertentu (susunan arsinar atau sirsinar yang tertentu (susunan arsinar atau sirsinar yang disebut dengan korona venerik, susunan disebut dengan korona venerik, susunan  polikistik dan korimbiformis).

 polikistik dan korimbiformis).

Tempat predileksi papul: sudut mulut, ketiak, Tempat predileksi papul: sudut mulut, ketiak, di bawah mammae, dan alat genital.

di bawah mammae, dan alat genital.

Bentuk papul lainnya adalah kondiloma lata Bentuk papul lainnya adalah kondiloma lata  berupa papul lentikular, permukaan datar,  berupa papul lentikular, permukaan datar,

sebagian berkonfluensi, dapat erosif dan sebagian berkonfluensi, dapat erosif dan eksudatif yang sangat menular akibat gesekan eksudatif yang sangat menular akibat gesekan kulit. Tempat predileksi kondiloma lata: lipat kulit. Tempat predileksi kondiloma lata: lipat  paha, skrotum, vulva, perianal, di bawah  paha, skrotum, vulva, perianal, di bawah

mammae dan antar jari kaki. mammae dan antar jari kaki. Pustul.

Pustul.

Bentuk ini jarang didapati, dan sering diikuti Bentuk ini jarang didapati, dan sering diikuti demam intermiten. Kelainan ini disebut sifilis demam intermiten. Kelainan ini disebut sifilis variseliformis.

variseliformis.

Konfluensi papul, pustul dan krusta mirip Konfluensi papul, pustul dan krusta mirip dengan impetigo atau disebut juga sifilis dengan impetigo atau disebut juga sifilis impetiginosa. Kelainan dapat membentuk impetiginosa. Kelainan dapat membentuk  berbagai

 berbagai ulkus ulkus yang yang ditutupi ditutupi krusta krusta yangyang disebut dengan ektima sifilitikum. Bila krusta disebut dengan ektima sifilitikum. Bila krusta tebal disebut rupia sifilitikum dan bila ulkus tebal disebut rupia sifilitikum dan bila ulkus meluas ke perifer membentuk kulit kerang meluas ke perifer membentuk kulit kerang disebut sifilis ostrasea.

(5)

dan tenggorok. dan tenggorok.

S II pada kuku disebut dengan onikia sifilitikum S II pada kuku disebut dengan onikia sifilitikum yaitu terdapat perubahan warna kuku menjadi yaitu terdapat perubahan warna kuku menjadi  putih

 putih dan dan kabur, kabur, kuku kuku rapuh rapuh disertai disertai adanya adanya aluralur transversal dan longitudinal. Bagian distal kuku transversal dan longitudinal. Bagian distal kuku menjadi hiperkeratotik sehingga kuku terangkat. menjadi hiperkeratotik sehingga kuku terangkat. Bila terjadi kronis, akan membentuk paronikia Bila terjadi kronis, akan membentuk paronikia sifilitikum.

sifilitikum.

S II pada alat lain yaitu pembesaran KGB, uveitis S II pada alat lain yaitu pembesaran KGB, uveitis anterior dan koroidoretinitis pada mata, hepatitis anterior dan koroidoretinitis pada mata, hepatitis  pada hepar,

 pada hepar, periostitis atau kerusakan periostitis atau kerusakan korteks padakorteks pada tulang, atau sistem saraf (neurosifilis).

tulang, atau sistem saraf (neurosifilis).

Sifilis laten dini tidak ada gejala, sedangkan Sifilis laten dini tidak ada gejala, sedangkan stadium rekurens terjadi kelainan mirip S II. stadium rekurens terjadi kelainan mirip S II.

Sifilis laten lanjut biasanya tidak menular, lamanya Sifilis laten lanjut biasanya tidak menular, lamanya masa laten adalah beberapa tahun bahkan hingga masa laten adalah beberapa tahun bahkan hingga seumur hidup.

seumur hidup. S III (sifilis tersier) S III (sifilis tersier) Lesi pertama antara 3

Lesi pertama antara 3

 – 

 – 

 10 tahun setelah S I. 10 tahun setelah S I. Bentuk lesi khas yaitu guma. Guma

Bentuk lesi khas yaitu guma. Guma adalah infiltratadalah infiltrat sirkumskrip kronis, biasanya lunak dan destruktif, sirkumskrip kronis, biasanya lunak dan destruktif,  besarnya lentikular hingga sebesar telur ayam.  besarnya lentikular hingga sebesar telur ayam. Awal lesi tidak menunjukkan tanda radang akut Awal lesi tidak menunjukkan tanda radang akut dan dapat digerakkan, setelah beberapa bulan dan dapat digerakkan, setelah beberapa bulan menjadi melunak mulai dari tengah dan menjadi melunak mulai dari tengah dan tanda-tanda radang mulai tampak. Kemudian terjadi tanda radang mulai tampak. Kemudian terjadi  perforasi

 perforasi dan dan keluar keluar cairan cairan seropurulen,seropurulen, kadang-kadang sanguinolen atau disertai kadang-kadang sanguinolen atau disertai  jaringan

 jaringan

nekrotik. Tempat perforasi menjadi ulkus. nekrotik. Tempat perforasi menjadi ulkus. Guma umumnya solitar, namun dapat multipel. Guma umumnya solitar, namun dapat multipel. Bentuk lain S III adalah nodus. Nodus terdapat Bentuk lain S III adalah nodus. Nodus terdapat  pada

 pada epidermis, epidermis, lebih lebih kecil kecil (miliar (miliar hinggahingga lentikular), cenderung berkonfluensi dan tersebar lentikular), cenderung berkonfluensi dan tersebar dengan wana merah kecoklatan. Nodus memiliki dengan wana merah kecoklatan. Nodus memiliki skuama seperti lilin

(6)

S III pada mukosa biasanya pada mulut dan S III pada mukosa biasanya pada mulut dan tenggorok atau septum nasi dalam bentuk tenggorok atau septum nasi dalam bentuk guma.

guma.

S III pada tulang sering menyerang tibia, S III pada tulang sering menyerang tibia, tengkorak, bahu, femur, fibula dan humerus. tengkorak, bahu, femur, fibula dan humerus. S III pada organ dalam dapat menyerang S III pada organ dalam dapat menyerang hepar, esophagus dan lambung, paru, ginjal, hepar, esophagus dan lambung, paru, ginjal, vesika urinaria, prostat serta ovarium dan vesika urinaria, prostat serta ovarium dan testis.

testis. 5.2.2

5.2.2 Pemeriksaan penunjangPemeriksaan penunjang

Pemeriksaan mikroskopis untuk menemukan Pemeriksaan mikroskopis untuk menemukan T. pallidum pada sediaan serum dari lesi T. pallidum pada sediaan serum dari lesi kulit. Pemeriksaan dilakukan tiga hari kulit. Pemeriksaan dilakukan tiga hari  berturut-turut

 berturut-turut jika jika pemeriksaan pemeriksaan I I dan dan IIII negatif. Setelah diambil serum dari lesi, lesi negatif. Setelah diambil serum dari lesi, lesi dikompres dengan larutan garam fisiologis. dikompres dengan larutan garam fisiologis. Pemeriksaan lain yang dapat dirujuk, yaitu: Pemeriksaan lain yang dapat dirujuk, yaitu: Tes Serologik Sifilis (TSS), antara lain Tes Serologik Sifilis (TSS), antara lain VDRL (Venereal Disease Research VDRL (Venereal Disease Research Laboratories), TPHA (Treponemal pallidum Laboratories), TPHA (Treponemal pallidum Haemoglutination Assay), dan tes Haemoglutination Assay), dan tes imunofluoresens (Fluorescent Treponemal imunofluoresens (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption Test

Antibody Absorption Test

 – 

 – 

 FTA-Abs) FTA-Abs) Histopatologi dan imunologi.

Histopatologi dan imunologi.

5.3

5.3

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Penegakan Diagnosis (Assessment)

5.3.1

5.3.1 Diagnosis KlinisDiagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Bila diperlukan dapat dan Pemeriksaan Fisik. Bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis.

dilakukan pemeriksaan mikroskopis.

5.3.2

5.3.2 Diagnosis bandingDiagnosis banding

Diagnosis banding bergantung pada stadium Diagnosis banding bergantung pada stadium apa pasien tersebut terDiagnosis.

apa pasien tersebut terDiagnosis. Stadium 1: Stadium 1: Herpes simpleks Herpes simpleks Ulkus piogenik  Ulkus piogenik 

(7)

Balanitis Balanitis

Limfogranuloma venereum Limfogranuloma venereum Karsinoma sel skuamosa Karsinoma sel skuamosa Penyakit Behcet Penyakit Behcet Ulkus mole Ulkus mole Stadium II Stadium II

Erupsi alergi obat Erupsi alergi obat Morbili Morbili Pitiriasis rosea Pitiriasis rosea Psoriasis Psoriasis Dermatitis seboroik  Dermatitis seboroik  Kondiloma akuminata Kondiloma akuminata Alopesia aerate Alopesia aerate Stadium III Stadium III Tuberculosis Tuberculosis Frambusia Frambusia Mikosis profunda Mikosis profunda 5.3.3 Komplikasi 5.3.3 Komplikasi Eritroderma Eritroderma 5.4

5.4

Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

5.4.1

5.4.1 PenatalaksanaanPenatalaksanaan

Prinsip tatalaksana adalah menghentikan obat Prinsip tatalaksana adalah menghentikan obat terduga. Pada dasarnya erupsi obat akan terduga. Pada dasarnya erupsi obat akan menyembuh bila obat penyebabnya dapat menyembuh bila obat penyebabnya dapat diketahui dan segera disingkirkan.

diketahui dan segera disingkirkan. Farmakoterapi dilakukan dengan: Farmakoterapi dilakukan dengan:

Kortikosteroid sistemik: Prednison tablet 30 Kortikosteroid sistemik: Prednison tablet 30 mg/hari dibagi dalam 3 kali pemberian per mg/hari dibagi dalam 3 kali pemberian per hari selama 1 minggu.

hari selama 1 minggu. Antihistamin sistemik: Antihistamin sistemik:

Hidroksisin 2x10 mg/hari selama 7 hari bila Hidroksisin 2x10 mg/hari selama 7 hari bila diperlukan, atau

diperlukan, atau

Loratadin 10 mg/hari selama 7 hari bila Loratadin 10 mg/hari selama 7 hari bila diperlukan

diperlukan Topikal: Topikal:

Bedak salisilat 2% dan antipruritus (Menthol Bedak salisilat 2% dan antipruritus (Menthol 0.5% - 1%)

(8)

Prinsipnya adalah eliminasi obat penyebab erupsi. Prinsipnya adalah eliminasi obat penyebab erupsi. Pasien dan keluarga diberitahu untuk membuat catatan Pasien dan keluarga diberitahu untuk membuat catatan kecil di dompetnya tentang alergi obat yang

kecil di dompetnya tentang alergi obat yang dideritanya.

dideritanya.

Memberitahukan bahwa kemungkinan pasien bisa Memberitahukan bahwa kemungkinan pasien bisa sembuh dengan adanya hiperpigmentasi pada lokasi sembuh dengan adanya hiperpigmentasi pada lokasi lesi.

lesi.

5.5

5.5

Rujukan

Rujukan

Bila diperlukan untuk membuktikan jenis obat Bila diperlukan untuk membuktikan jenis obat yangyang diduga sebagai penyebab :

diduga sebagai penyebab :

Uji tempel tertutup, bila negatif lanjutan dengan Uji tempel tertutup, bila negatif lanjutan dengan Uji tusuk, bila negatif lanjutkan dengan

Uji tusuk, bila negatif lanjutkan dengan Uji provokasi

Uji provokasi

Bila tidak ada perbaikan setelah mendapatkan Bila tidak ada perbaikan setelah mendapatkan  pengobatan standar dan menghindari obat selama 7  pengobatan standar dan menghindari obat selama 7

hari hari

Lesi meluas Lesi meluas

5.6 

5.6 

 Sa

 Saran

rana

a Pr

Pra

asa

saran

rana

a

Laboratorium sederhana untuk pemeriksaan Laboratorium sederhana untuk pemeriksaan mikroskopis mikroskopis 5.7  5.7 

Prognosis

Prognosis

Vitam: Bonam Vitam: Bonam Fungsionam: Bonam Fungsionam: Bonam

Sanationam: Bonam (sembuh tanpa komplikasi) Sanationam: Bonam (sembuh tanpa komplikasi) 6.

6. Unit TerkaitUnit Terkait 6.16.1 Poli UmumPoli Umum 6.2

Referensi

Dokumen terkait

PENERIMA TUNJANGAN PROFESI GURU.. Nama lengkap dan gelar

Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian. Patah tulang yang terjadi pada daerah ini

negara adalah perwujudan “jiwa mutlak” (absolute idea) yang bersifat unik karena memiliki logika, system berpikir dan berperilaku tersendiri yang berbeda dengan

This research ex amines the portrayal of Liam Burke’s superhero archetype in Big Hero 6 movie directed by Don Hall and Chris Williams in order. to see how a Japanese

[161] dapat melakukan satu perbuatan motorik yang kompleks dengan lancar disertai ketepatan (keterampilan) dibutuhkan kondisi fisik yang memadai. 21) menambahkan,

Ketika Anda melakukan instalasi yang ile/berkas nya berasal dari internet/hasil unduhan, makan akan ditampilkan jendela konirmasi yang menanyakan apakah

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 dan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas PERPRES Nomor 54 Tahun 2010 tentang