(STUDI KASUS: BOTANI SQUARE, EKALOKASARI PLAZA,
BOGOR TRADE MALL, DAN PANGRANGO PLAZA)
Oleh
YANDA EKAPUTRA HERMAWAN
H24104030
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
(STUDI KASUS: BOTANI SQUARE, EKALOKASARI PLAZA,
BOGOR TRADE MALL, DAN PANGRANGO PLAZA)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh
YANDA EKAPUTRA HERMAWAN
H24104030
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ANALISIS PREFERENSI PENGUNJUNG DAN POSITIONING PUSAT PERBELANJAAN MODERN DI KOTA BOGOR
(STUDI KASUS: BOTANI SQUARE, EKALOKASARI PLAZA, BOGOR TRADE MALL, DAN PANGRANGO PLAZA)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh
YANDA EKAPUTRA HERMAWAN H24104030
Menyetujui, Juli 2008
Dr. Ir. Jono M Munandar, M.Sc Dosen Pembimbing
Mengetahui,
Dr. Ir. Jono M Munandar, M.Sc Ketua Departemen
Square, Ekalokasari Plaza, Bogor Trade Mall, dan Pangrango Plaza). Di bawah bimbingan Jono M. Munandar.
Maraknya pembangunan pusat perbelanjaan modern (PPM) di Kota Bogor, telah menyebabkan munculnya persaingan antar pengembang PPM untuk merebut hati pengunjung. Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang lebih dari pihak pengembang PPM untuk mengetahui bagaimana perilaku pengunjungnya.
Penelitian ini bertujuan (1) Menganalisis tahapan pengambilan keputusan pengunjung PPM di Kota Bogor, (2) Mengetahui preferensi pengunjung terhadap atribut PPM di Kota Bogor, (3) Mengetahui positioning PPM di Kota Bogor untuk studi kasus Botani Squre, Ekalokasari Plaza, Bogor Trade Mall, dan Pangrango Plaza.
Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka, internet, dan literatur. Analisis data mengunakan analisis deskriptif, Importance Performance Analysis (IPA), dan
Multidimensional Scaling (MDS) berbasis atribut, dengan software pengolah data
Microsoft Excel 2007 dan SPSS versi 13.0.
Proses pengambilan keputusan pengunjung terdiri dari tahap pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan kunjungan dan evaluasi pasca kunjungan. Preferensi pengunjung diketahui dari hasil IPA yang menunjukkan bahwa ketersediaan sarana ibadah dinilai paling penting, sedangkan yang dinilai paling tidak penting adalah ukuran (luas) bangunan. Kinerja atribut Botani Square yang dinilai paling baik adalah lokasi strategis, sedangkan yang paling tidak baik adalah ketersediaan sarana ibadah. Kinerja atribut Ekalokasari Plaza yang dinilai paling baik adalah kenyamanan, sedangkan yang paling tidak baik adalah ketersediaan sarana ibadah. Kinerja atribut Bogor Trade Mall yang dinilai paling baik adalah kemudahan akses angkutan umum, sedangkan yang paling tidak baik adalah desain interior. Kinerja atribut Pangrango Plaza yang dinilai paling baik adalah kemudahan akses angkutan umum, sedangkan yang paling tidak baik adalah ketersediaan sarana hiburan.
Berdasarkan hasil dari pengolahan data menggunakan MDS berbasis atribut dengan pendekatan analisis faktor, terlihat bahwa masing-masing PPM memiliki posisi yang cukup berjauhan. Namun jika dicermati, terdapat tiga PPM yang memiliki posisi berdekatan, yaitu Botani Square, Ekalokasari Plaza, dan Pangrango Plaza. Kedekatan posisi tersebut mengartikan bahwa Botani Square merupakan pesaing langsung Ekalokasari Plaza dan Pangrango Plaza. Perceptual
map juga menunjukkan bahwa Ekalokasari Plaza memiliki positioning yang
paling baik, karena memiliki kedekatan yang paling dominan dengan dua dimensi, yaitu dimensi fasilitas pendukung dan dimensi kelengkapan variasi tenant.
i
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 26 April 1986. Penulis merupakan putra pertama dari dua bersaudara pasangan Dadang Hermawan dan Suryantini.
Penulis mengawali masa pendidikan di TK Mujahidin Jakarta pada tahun 1991, kemudian dilanjutkan di Sekolah Dasar Negeri Pisangan Timur 03 Pagi pada tahun 1992. Tahun 1998, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 74 Jakarta dan dilanjutkan di Sekolah Menengah Umum Negeri 21 Jakarta dalam program IPA pada tahun 2001. Pada tahun 2004, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen.
Selama menyelesaikan studi di IPB, penulis meraih beberapa penghargaan akademis. Pada tahun 2007, penulis meraih juara II dalam Student Marketing
Debate Competition (SMART) FE UI. Pada tahun 2007, penulis juga berhasil
menempati peringkat III mahasiswa berprestasi Departemen Manajemen FEM IPB. Selain itu penulis juga berhasil meraih beberapa beasiswa selama studi di IPB, yaitu Beasiswa Pengembangan Prestasi Ekstrakurikuler (PPE) dan Beasiswa Coca-Cola Foundation.
Penulis kemudian aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan, antara lain sebagai Staf Departemen Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia BEM FEM IPB periode 2005-2006, Direktur Produksi, Operasi, dan Kewirausahaan Himpunan Profesi Centre Of M@nagement IPB periode 2005-2006, Vice President Director Himpunan Profesi Centre Of M@nagement IPB periode 2006-2007. Kemudian penulis berhasil terpilih menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Manajemen Jabodetabek (HMMJ) periode 2007-2008.
ii
KATA PENGANTAR
Segala puji senantiasa dipanjatkan ke khadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Peningkatan persaingan dalam bisnis ritel di Kota Bogor berimplikasi positif pada upaya pencarian strategi pemasaran yang tepat. Strategi pemasaran yang tepat dapat dianalisis dengan mengetahui preferensi dan positioning. Skripsi ini berjudul “Analisis Preferensi Pengunjung dan Positioning Pusat Perbelanjaan Modern di Kota Bogor (Studi Kasus: Botani Square, Ekalokasari Plaza, Bogor Trade Mall, dan Pangrango Plaza)”.
Penyusunan skripsi ini banyak dibantu oleh berbagai pihak baik secara moril maupun materiil. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Ir. Jono M. Munandar, MSc. sebagai dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran, motivasi dan pengarahan kepada penulis.
2. Bapak Dr. Ir. M. Syamsun, MSc dan Ir. Pramono D. Fewidarto, MS atas kesediaannya menjadi dosen penguji pada sidang skripsi, juga saran dan bimbingan yang menambah kesempurnaan skripsi.
3. Ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM selaku pembimbing akademik selama penulis menyelesaikan studi di Departemen Manajemen FEM IPB.
4. Seluruh staf pengajar dan karyawan/wati Departemen Manajemen FEM IPB. 5. Papa dan Mama, serta adik penulis yang telah memberikan curahan kasih
sayang, inspirasi hidup dan do’a yang tulus.
6. Lystia Julyani, untuk dorongan semangat, doa, dan motivasinya kepada penulis, serta kebersamaan yang indah selama ini yang mampu mengubah kerapuhan menjadi kekuatan.
7. Sahabat-sahabat terbaik Manajemen Angkatan 41 yang selalu bersama-sama membuat kenangan indah selama kuliah.
iii
8. Rekan-rekan satu bimbingan: Lystia, Icha, Opik, Indra, dan Fifi, untuk kerjasama dan motivasi selama proses bimbingan dan penyusunan skripsi. 9. Rekan-rekan terbaik di Kelembagaan BEM FEM IPB 2005-2006, COM@
FEM IPB 2005-2006, COM@ FEM IPB 2006-2007, dan HMMJ 2007-2008. 10. Sahabat-sahabat terbaik penghuni Wisma Byru Balebak: Roy, Habib, William,
Indra, Bawon, Aufiya, Annas, Yudha, Ngkong, Dior, Reza, Agus dan Ibnu, atas dorongan semangat, rasa kekeluargaan dan kebersamaan serta bantuan yang banyak diterima oleh penulis.
11. Rekan-rekan yang membantu penyebaran kuesioner penelitian: Dhania, Bebet, Arie, Anis, Perdana, Mia, Nceq, Rini, Surya, Ade Yus, Ditha, Nit-nit, Mboq, Ajeng, Indah, dan Koprol.
12. Semua pihak yang yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan pahala atas kebaikannya.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, kritik dan saran konstruktif diperlukan untuk hal yang lebih baik. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kemaslahatan umat dan bernilai ibadah dalam pandangan ALLAH SWT. Amien
Bogor, Juli 2008
iv DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK RIWAYAT HIDUP ... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iv DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 3
1.3. Tujuan Penelitian ... 3
1.4. Manfaat Penelitian ... 4
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1. Pusat Perbelanjaan ... 5
2.2. Perilaku Konsumen ... 7
2.3. Pengambilan Keputusan Konsumen ... 8
2.4. Preferensi Konsumen ... 9 2.5. Skala Likert ... 10 2.6. Pemetaan Persepsi ... 11 2.7. Atribut ... 12 2.8. Konsep Pemasaran ... 13 2.8.1. Pemasaran ... 13 2.8.2. Segmentasi Pasar ... 14
2.8.3. Penentuan Target Pasar (Targeting) ... 14
2.8.4. Penetapan Posisi (Positioning) ... 14
2.8.5. Bauran Pemasaran (Marketing mix) ... 16
2.9. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 17
2.10. Analisis Deskriptif ... 17
2.11. Importance Performance Aanalysis (IPA) ... 17
2.12. Multidimensional Scaling (MDS) Berbasis Atribut ... 19
2.13. Penelitian Terdahulu ... 20
III. METODOLOGI PENELITIAN ... 22
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 22
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23
3.3. Metode Pengumpulan Data dan Sumber Data ... 24
3.4. Parameter dan Variabel Penelitian ... 26
v
3.5.1. Uji Validitas dan Realibilitas ... 27
3.5.2. Importance Performance Analysis (IPA) ... 28
3.5.3. Multidimensional Scaling (MDS) Berbasis Atribut ... 29
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 31
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 31
4.1.1. Botani Square ... 31
4.1.2. Ekalokasari Plaza ... 32
4.1.3. Bogor Trade Mall ... 32
4.1.4. Pangrango Plaza ... 33
4.2. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 34
4.2.1. Uji Validitas ... 34
4.2.2. Uji Reliabilitas ... 35
4.3. Karakteristik Responden ... 35
4.4. Identifikasi Pengambilan Keputusan Pengunjung ... 37
4.4.1. Pengenalan Kebutuhan ... 37
4.4.2. Pencarian Informasi ... 39
4.4.3. Evaluasi Alternatif ... 40
4.4.4. Keputusan Kunjungan ... 41
4.4.5. Evaluasi Pasca Kunjungan ... 43
4.5. Importance Performance Analysis (IPA) ... 44
4.5.1. Tingkat Kepentingan ... 44
4.5.2. Tingkat Kinerja ... 46
4.5.3. Matriks IPA ... 52
4.6. Analisis Positioning Pusat Perberlanjaan Modern di Kota Bogor ... 60
4.6.1. Analisis Faktor Terhadap Atribut Pusat Perbelanjaan Modern ... 60
4.6.2. Peta Persepsi (Perceptual Map) Pusat Perbelanjaan Modern ... 62
4.7. Implikasi Manajerial ... 66
KESIMPULAN DAN SARAN ... 70
Kesimpulan ... 70
Saran ... 71
DAFTAR PUSTAKA ... 72
vi
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Jumlah penduduk Kota Bogor per kecamatan tahun 2006 ... 24
2. Rekapitulasi jumlah responden per kecamatan ... 25
3. Skor tingkat kepentingan dan tingkat pelaksanaan ... 28
4. Standar model MDS kruskal ... 30
5. Hasil uji validitas atribut dengan teknik korelasi product moment ... 34
6. Hasil uji reliabilitas dengan teknik alpha cronbach ... 35
7. Tingkat kepentingan atribut pusat perbelanjaan modern ... 45
8. Kriteria tingkat kepentingan atribut pusat perbelanjaan modern ... 45
9. Tingkat kinerja atribut Botani Square ... 46
10. Kriteria tingkat kinerja atribut Botani Square ... 47
11. Tingkat kinerja atribut Ekalokasai Plaza ... 48
12. Kriteria tingkat kinerja atribut Ekalokasari Plaza ... 48
13. Tingkat kinerja atribut Bogor Trade Mall ... 49
14. Kriteria tingkat kinerja atribut Bogor Trade Mall ... 50
15. Tingkat kinerja atribut Pangrango Plaza ... 50
16. Kriteria tingkat kinerja atribut Pangrango Plaza ... 51
vii
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Grafik perkembangan tingkat hunian dan tarif sewa ritel di
Jabodetabek (survei bank indonesia, 2006) ... 2
2. Sketsa sistem banyak koridor ... 6
3. Sketsa sistem plaza ... 7
4. Sketsa sistem mall ... 7
5. Lima langkah pengambilan keputusan konsumen (engel, blackweel, dan miniard, 1994) ... 9
6. Diagram importance / performance matrix (rangkuti, 2002) ... 19
7. Kerangka pemikiran penelitian ... 23
8. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin ... 35
9. Karakteristik responden berdasarkan usia ... 36
10. Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan ... 36
11. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendapatan per bulan ... 37
12. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan terakhir ... 37
13. Frekuensi kunjungan responden ke pusat perbelanjaan modern dala satu bulan ... 38
14. Tujuan kunjungan responden ... 39
15. Sumber informasi responden ... 49
16. Bentuk promosi yang menarik dari pusat perbelanjaan modern ... 40
17. Pertimbangan pertama responden mengunjungi pusat perbelajaan modern ... 41
18. Pusat perbelanjaan modern yang paling sering dikunjungi ... 42
19. Cara konsumen memutuskan kunjungan ... 42
20. Produk yang paling sering dibeli responden ... 43
21. Sikap konsumen pasca pembelian ... 43
22. Sikap konsumen terhadap kunjungan ke pusat perbelanjaan modern ... 44
23. Diagram kartesius tingkat kepentingan atribut pusat perbelanjaan modern dan tingkat kinerja atribut Botani Square ... 53
24. Diagram kartesius tingkat kepentingan atribut pusat perbelanjaan modern dan tingkat kinerja atribut Ekalokasari Plaza... 55
25. Diagram kartesius tingkat kepentingan atribut pusat perbelanjaan modern dan tingkat kinerja atribut Bogor Trade Mall ... 57
26. Diagram kartesius tingkat kepentingan atribut pusat perbelanjaan modern dan tingkat kinerja atribut Pangrango Plaza ... 59
27. Penampang dimensi 1 dan dimensi 3 perceptual map pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor ... 63
28. Penampang dimensi 1 dan dimensi 2 perceptual map pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor ... 64
29. Penampang dimensi 2 dan dimensi 3 perceptual map pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor ... 65
viii
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Kuesioner penelitian ... 75 2. Hasil olah data analisis faktor ... 81 3. Hasil olah data multidimensional scaling untuk perceptual
map ... 82
4. Peta Persepsi (Perceptual Map) Pusat Perbelanjaan Modern di Kota
Bogor ... 84 5. Dokumentasi lokasi penelitian ... 85
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kehadiran pusat-pusat perbelanjaan modern baru seolah menjadi pertanda menggeliatnya sektor perekonomian setelah dihantam krisis multidimensi pada tahun 1997-1998. Pertumbuhan sektor ritel di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun kondisi tersebut harus diwaspadai dan dicermati oleh para pengembang, khususnya terkait dengan daya beli masyarakat yang belum membaik.
Lembaga konsultan dan riset properti, Jones Lang LaSalle Indonesia, dalam risetnya menyebutkan pembangunan proyek-proyek ritel atau pusat perbelanjaan modern di Jabodetabek begitu cepat dalam lima tahun terakhir. Sebelum tahun 2000, pasar ritel di Jabodetabek membutuhkan waktu kurang lebih lima belas tahun untuk membangun pasokan sebanyak satu juta m2 ruang ritel. Namun setelah tahun 2000, pasar hanya membutuhkan waktu lima tahun untuk menghasilkan pasokan sebanyak jumlah yang sama (www.tempointeraktif.com).
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (2006), Pada Januari 2006 tingkat hunian pusat perbelanjaan modern yang disewakan di Jabodetabek tercatat 95,36%, atau naik 0,24% dibandingkan bulan sebelumnya (95,12%). Tarif sewa pusat perbelanjaan modern di Jabodetabek mengalami peningkatan sebesar Rp 304.874/m2 per bulan. Perkembangan tingkat hunian dan tarif sewa ritel di wilayah Jabodetabek ditunjukkan dalam Gambar 1.
Perkembangan tingkat hunian dan tarif sewa pusat perbelanjaan modern berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut:
a. Di Jakarta, tingkat hunian tercatat sebesar 95,09%, atau 0,09% lebih rendah dibandingkan dengan tingkat hunian pada bulan Desember 2005 (95,18%). Sementara itu, tarif sewa mengalami kenaikan 0,01% dibandingkan dengan tarif sewa pada bulan sebelumnya menjadi sebesar Rp 363.963/m2 per bulan.
b. Di wilayah Bodetabek, tingkat hunian tercatat sebesar 96,56%, atau naik 1,60% dibandingkan tingkat hunian pada Desember 2005 (94,96%). Sementara itu, tarif sewa stabil (0,0%) atau sebesar Rp 179.363/m2 per bulan.
Gambar 1. Grafik Perkembangan Tingkat Hunian dan Tarif Sewa Ritel di Jabodetabek (Survei Bank Indonesia, 2006)
Secara tahunan, tingkat hunian pusat perbelanjaan modern naik 1,80% atau tumbuh dibandingkan Januari 2005 (93,55%). Sementara itu, tarif sewa mengalami kenaikan sebesar 12,23%. Tingkat penjualan pusat perbelanjaan modern (strata-titled) di Jabodetabek tercatat sebesar 90,45% atau naik 0,73% dibandingkan dengan tingkat penjualan pusat perbelanjaan modern pada Desember 2005 (89,72%). Namun harga jual pusat perbelanjaan modern di Jabodetabek stabil sebesar Rp 46.722.432/m2.
Adapun rincian perkembangan tingkat penjualan dan harga jual pusat perbelanjaan modern berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut:
a. Di Jakarta, tingkat penjualan pusat perbelanjaan modern tercatat sebesar 92,44% atau naik 0,19% dibandingkan dengan tingkat penjualan pada Desember 2005 (92,25%).
b. Di Bodetabek, tingkat penjualan pusat perbelanjaan modern tercatat sebesar 86,53% atau naik 1,79% dibandingkan dengan tingkat penjualan pada Desember 2005 (84,74%).
c. Harga jual pusat perbelanjaan di Jakarta dan Bodetabek stabil pada bulan laporan, masing-masing sebesar Rp 54.134.060/m2 dan Rp 32.130.799/m2.
Fenomena maraknya pembangunan pusat perbelanjaan modern telah merambah ke kota satelit di sekitar Jakarta seperti Kota Bogor. Kota Bogor
berupaya untuk semakin menguatkan citranya bukan hanya sebagi tujuan wisata kuliner, tetapi juga sebagai tujuan wisata belanja. Saat ini paling tidak tercatat lebih dari sepuluh pusat perbelanjaan modern telah berdiri di Kota Bogor, belum lagi yang masih dalam proses pembangunan. Hal tersebut menyebabkan munculnya persaingan antar pengembang pusat perbelanjaan modern yang saling berlomba untuk merebut hati pengunjung.
Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang lebih dari pihak pengembang pusat perbelanjaan modern untuk mengetahui bagaimana perilaku pengunjungnya, agar mampu menarik pengunjung dalam jumlah besar. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan penelitian mengenai analisis preferensi pengunjung dan positioning pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan sebelumnya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana identifikasi pengambilan keputusan pengunjung pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor?
2. Bagaimana preferensi pengunjung terhadap atribut pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor?
3. Bagaimana positioning pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor untuk studi kasus Botani Squre, Ekalokasari Plaza, Bogor Trade Mall, dan Pangrango Plaza?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis tahapan pengambilan keputusan pengunjung pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor.
2. Mengetahui preferensi pengunjung terhadap atribut pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor.
3. Mengetahui positioning pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor untuk studi kasus Botani Squre, Ekalokasari Plaza, Bogor Trade Mall, dan Pangrango Plaza.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitan ini yaitu memberikan gambaran mengenai preferensi pengunjung dan positioning pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor, sehingga dapat menjadi informasi penunjang dalam perumusan strategi pusat perbelanjaan modern yang diteliti. Selain itu, diharapkan dapat memberikan informasi bagi pihak lain yang membutuhkan bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya atau kegiatan lain yang berkaitan.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada tiga hal, yaitu pada identifikasi pengambilan keputusan pengunjung, preferensi pengunjung, dan positioning pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor. Selain itu penelitian ini terbatas hanya dilakukan pada responden yang pernah mengunjungi Botani Square, Ekalokasari Plaza, Bogor Trade Mall, dan Pangrango Plaza. Keempat pusat perbelanjaan modern ini dipilih karena beberapa alasan utama, yaitu:
a. Merupakan empat pusat perbelanjaan terbesar secara fisik di Kota Bogor. b. Cenderung memiliki kesamaan dalam hal segmen pasar.
c. Masing-masing memiliki karakteristik dan konsep yang berbeda-beda. d. Keempat pusat perbelanjaan modern ini memiliki letak yang relatif
strategis.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pusat Perbelanjaan
Menurut Handaya (2007), pusat perbelanjaan adalah kompleks pertokoan yang dikunjungi untuk membeli atau melihat dan membandingkan barang-barang dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sosial masyarakat serta memberikan kenyamanan dan keamanan berbelanja bagi pengunjung.
Menurut Bednington dalam Handaya (2007), pusat perbelanjaan adalah suatu kelompok perbelanjaan terencana yang dikelola oleh suatu manajemen pusat, yang menyewakan unit-unit kepada pedagang dan mengenai hal-hal tertentu pengawasannya dilakukan oleh manajer yang sepenuhnya bertanggungjawab kepada pusat perbelanjaan tersebut.
Pusat perbelanjaan dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal berikut, yaitu:
1. Berdasarkan luas areal pelayanan (Edgar Lion P.Eng dalam Handaya, 2007):
a. Regional shopping center
Luas areal antara 27.870-92.900 m2, terdiri dari dua atau lebih
department store yang seukuran dengan skala pelayanan antara
150.000-400.000 penduduk, terletak pada lokasi yang strategis, tergabung dengan lokasi perkantoran, rekreasi dan seni.
b. Community shopping centre
Luas areal antara 9.290-23.225 m2, terdiri atas junior departmen store,
supermarket dengan jangkauan pelayanan antara 40.000-150.000
penduduk, terletak pada lokasi mendekati pusat-pusat kota (wilayah). c. Neigbourhood shopping centre
Luas areal antara 2.720-9.290 m2, jangkauan pelayanan antara 5.000-40.000 penduduk, unit terbesar berbentuk supermarket, berada pada suatu lingkungan tertentu.
2. Dilihat dari jenis barang yang dijual (Nadine Beddington dalam Handaya, 2007):
a. Demand (permintaan), yaitu yang menjual kebutuhan sehari-hari yang juga merupakan kebutuhan pokok.
b. Semi demand (setengah permintaan), yaitu yang menjual barang-barang untuk kebutuhan tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
c. Impuls (barang yang menarik), yaitu yang menjual barang-barang mewah yang menggerakkan hati konsumen pada waktu tertentu untuk membelinya.
d. Drugery, yaitu yang menjual barang-barang higienis seperti sabun, parfum dan lain-lain.
3. Dilihat dari sistem sirkulasi pusat perbelanjaan: a. Sistem banyak koridor
Sistem ini memiliki banyak koridor tanpa penjelasan orientasi, tanpa ada penekanan, sehingga semua dianggap sama. Lokasi yang strategis hanya bagian depan atau yang dekat dengan enterance saja, selain itu efektifitas pemakaian ruang dalam sistem ini sangat tinggi. Contoh: Pasar Senen, Pasar Bogor, dan Pertokoan Duta Merlin.
Gambar 2. Sketsa sistem banyak koridor (Handaya, 2007)
b. Sistem plaza
Sistem ini memiliki plaza atau ruang berskala besar yang menjadi pusat
orientasi kegiatan dalam ruang dan masih menggunakan pola koridor untuk efisiensi ruang. Mulai terdapat hierarki dari lokasi masing-masing toko, lokasi strategis berada di dekat plaza tersebut, dan mulai mengenal pola vide dan mezanin. Contoh: Plaza Indonesia, Gajah Mada Plaza, Glodok Plaza, Pangrango Plaza, Plaza Jambu Dua, Ekalokasari Plaza, Ratu Plaza, Plaza Semanggi, ITC Cempaka Mas, dan lain-lain.
Gambar 3. Sketsa sistem plaza (Handaya, 2007)
c. Sistem mall
Sistem mall dikonsentrasikan pada sebuah jalur utama yang menghadap
dua atau lebih magnet pertokoan dapat menjadi poros massa dan dalam ukuran besar dapat berkembang menjadi sebuah atrium. Jalur itu akan menjadi sirkulasi utama, karena menghubungkan dua titik magnet atau
anchor yang membentuk sirkulasi utama. Contoh: Pondok Indah Mall,
Blok M, Atrium Senen, Mall Kelapa Gading, Mall Ciputra, Bogor Trade Mall, dan lain-lain.
Gambar 4. Sketsa sistem mall (Handaya, 2007)
2.2. Perilaku Konsumen
Menurut Kotler (2005), konsumen adalah individu atau kelompok yang berusaha untuk memenuhi atau mendapatkan barang atau jasa untuk kehidupan pribadi atau kelompoknya. Menurut Engel, et al. (1994), perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyertai tindakan ini.
American Marketing Association (AMA) dalam Kotler (2005)
mendefinisikan perilaku konsumen sebagai interaksi dinamis dari pengaruh dan kognisi, perilaku dan lingkungan dimana manusia melakukan aspek pertukaran dalam hidup mereka. Sumarwan (2004) mengungkapkan bahwa
perilaku konsumen pada hakikatnya adalah untuk memahami mengapa konsumen melakukan apa yang mereka inginkan. Perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa, dan setelah melakukan hal-hal diatas atau kegiatan mengevaluasi.
Engel, et al. (1994) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu:
a. Pengaruh lingkungan.
Konsumen hidup dalam lingkungan yang sangat kompleks, oleh karena itu lingkungan akan mempengaruhi proses keputusan yang akan dilakukan oleh seorang konsumen. Pengaruh lingkungan meliputi: budaya, kelas sosial, pengaruh pribadi, keluarga, dan situasi.
b. Perbedaan individu.
Perbedaan individu merupakan faktor internal yang menggerakkan dan mempengaruhi perilaku. Perbedaan individu meliputi: sumberdaya konsumen, motivasi, pengetahuan tentang produk, sikap, kepribadian / gaya hidup, dan demografi.
c. Proses psikologis.
Merupakan proses sentral yang membentuk semua aspek motivasi dan perilaku konsumen. Proses psikologis meliputi pengenalan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku.
2.3. Pengambilan Keputusan Konsumen
Perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan mencerminkan tanggapan konsumen terhadap berbagai rangsangan, baik dari pemasar berupa rangsangan pemasaran maupun dari dirinya sendiri yang berupa pengaruh lingkungan, perbedaan individu, dan proses psikologis. Menurut Engel, et al. (1994), konsumen harus melalui lima urutan tahapan dalam proses pengambilan keputusan baik yang bersifat mental maupun fisik. Kelima tahapan tersebut yaitu:
a. Pengenalan kebutuhan
Konsumen mempersepsikan perbedaan antara keadaan yang diinginkan dan situasi aktual yang memadai untuk membangkitkan dan mengaktifkan proses keputusan.
b. Pencarian informasi
Konsumen mencari informasi yang disimpan dalam ingatan (pencarian internal) atau mendapatkan informasi yang relevan dengan keputusan dari lingkungan (pencarian eksternal).
c. Evaluasi alternatif
Konsumen mengevaluasi pilihan berkenaan dengan manfaat yang diharapkan dan menyempitkan pilihan hingga alternatif yang dipilih.
d. Pembelian
Konsumen memperoleh alternatif yang dipilih atau pengganti yang dapat diterima bila perlu.
e. Hasil
Konsumen mengevaluasi apakah alternatif yang dipilih memenuhi kebutuhan dan harapan segera sesudah digunakan.
Gambar 5. Lima langkah pengambilan keputusan konsumen (Engel, et al., 1994)
2.4. Preferensi Konsumen
Preferensi konsumen didefinisikan sebagai pilihan suka atau tidak suka oleh seseorang terhadap produk (barang dan jasa) yang dikonsumsi. Preferensi konsumen menunjukkan kesukaan konsumen dari berbagai pilihan produk yang ada (Kotler, 2005). Teori preferensi digunakan untuk menganalisis tingkat kepuasan bagi konsumen.
Menurut Nicholson (2002), hubungan preferensi pada umumnya diasumsikan memiliki tiga sifat dasar, yaitu:
Pengenalan
a. Kelengkapan (completeness)
Jika A dan B merupakan dua kondisi, maka tiap orang harus dapat menspesifikasikan apakah:
1. A lebih disukai daripada B 2. B lebih disukai daripada A 3. A dan B sama-sama disukai b. Transitivitas (transitivity)
Jika seorang mengatakan ia lebih menyukai A daripada B, dan lebih menyukai B daripada C, maka ia harus lebih menyukai A daripada C. c. Kontinuitas (continuity)
Jika seorang mengatakan A lebih disukai daripada B maka situasi yang mirip dengan A harus lebih disukai daripada B.
Berdasarkan ketiga sifat diatas, diasumsikan bahwa tiap orang dapat membuat atau menyusun rangking semua kondisi atau situasi mulai dari yang paling disukai hingga yang paling tidak disukai. Pada sejumlah alternatif yang ada, orang lebih cenderung memilih sesuatu yang memaksimumkan kepuasannya (Nicholson, 2002). Preferensi konsumen dapat diketahui dengan mengukur tingkat kegunaan dan nilai kepentingan relatif setiap atribut. Atribut fisik ini akan menumbuhkan daya tarik yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen terhadap produk.
2.5. Skala Likert
Skala likert digunakan secara luas yang mengharuskan responden untuk menunjukkan derajat setuju atau tidak setuju kepada setiap statemen yang berkaitan dengan obyek yang dinilai. Bentuk asal dari skala likert memiliki lima kategori. Apabila dirangking, maka susunannya akan dimulai dari sangat tidak setuju (strongly disagree) sampai sangat setuju (strongly agree). Tetapi ada juga peneliti yang mengelompokkan derajat ini menjadi enam (David dalam Rahayu, 2005).
Model skala ini sebenarnya bernama metode summated ratings, tetapi karena Rennis Likert merupakan orang pertama yang mengusulkan model ini maka model ini lebih dikenal dengan skala likert. Skala ini tergolong skala untuk manusia dan pada rancangan dasarnya disusun untuk mengukur sikap.
Berkenaan dengan pengukuran sikap, ada dua hal yang harus diperhatikan (Suryabrata dalam Yusfandrik, 2006), yaitu:
a. Bahwa sikap itu selalu mempunyai obyek, obyek sikap yaitu sesuatu yang menjadi sasaran sikap.
b. Bahwa secara teori sikap itu digambarkan dalam satu kontinum, dari negatif melalui daerah netral ke arah positf.
Menurut Simamora (2005), skala ini banyak digunakan karena memberikan peluang kepada responden untuk mengekspresikan perasaan mereka dalam bentuk persetujuan terhadap suatu pernyataan. Pernyataan yang diberikan berjenjang, mulai dari terendah sampai tertinggi. Semakin banyak pilihannya, semakin mewakili jawaban responden, namun menjadi semakin sulit untuk mencari kata-kata yang dapat dipahami secara umum.
Keunggulan skala likert (Rahayu, 2005), yaitu: a. Mudah dibuat dan diatur.
b. Responden mudah mengerti bagaimana cara menggunakan skala pada kuesioner yang digunakan.
c. Mengukur pada tingkat skala ordinal.
Sedangkan kelemahan skala likert (Rahayu, 2005), yaitu:
a. Mengenai waktu pengisiannya yang lebih lama dibandingkan skala lain. b. Validitas skala masih dipertanyakan.
c. Terdapat nilai yang sama pada ciri yang berbeda.
2.6. Pemetaan Persepsi
Persepsi dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu. Sedangkan dalam arti luas adalah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu (Leavitt dalam Yusfandrik, 2006). Kotler (2005) mendefinisikan persepsi sebagai proses bagaimana seorang individu memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi informasi menjadi suatu gambaran yang berarti mengenai suatu obyek. Persepsi seseorang tergantung pada seberapa jauh suatu obyek memberi arti dan manfaat terhadap seseorang dan persepsi juga melibatkan derajat kesadaran suatu arti atau penghargaan terhadap suatu obyek terbebut.
Menurut Mowen dalam Kurniawan (2007), persepsi adalah suatu proses dimana individu-individu terekspos untuk informasi, menyediakan kapasitas prosesor yang lebih luas dan menginterpretasikan informasi tersebut. Persepsi konsumen memegang peranan penting dalam pemasaran, karena melalui persepsi suatu produk atau merek ditafsirkan oleh konsumen dalam bentuk asosiatif yang dapat membantu konsumen menginterpretasikan dunia sekitarnya.
Walaupun persepsi sulit diukur secara pasti karena sifatnya yang abstrak, para ahli statistik berusaha untuk memperoleh gambaran persepsi seseorang terhadap suatu obyek relatif terhadap obyek lainnya. Teknik yang digunakan dinamakan dengan Multidimensional Scaling (MDS). MDS akan menghasilkan sebuah peta geometri yang mampu memetakan persepsi dan preferensi responden secara visual.
Peta geometri yang dihasilkan oleh MDS biasa dikenal dengan spatial
map atau perceptual map, yang merupakan penjabaran berbagai dimensi yang
berhubungan. Spatial map atau perceptual map ini umumnya memadatkan atribut-atribut menjadi hanya dua atau tiga dimensi, dengan alasan akan sulit dilakukan interpretasi apabila dimensi berjumlah empat atau lebih.
2.7. Atribut
Suatu produk pada dasarnya merupakan kumpulan atribut-atribut, dan setiap produk baik barang maupun jasa dapat dideskripsikan dengan menyebutkan atribut-atributnya. Engel, et al. (1994) mendefinisikan atribut sebagai karakteristik atau sifat suatu produk yang umumnya mengacu pada karakteristik yang berfungsi sebagai kriteria evaluatif selama masa pengambilan keputusan. Kotler (2005) mendefinisikan atribut sebagai mutu ciri dan model produk.
Pengukuran perilaku konsumen membutuhkan atribut-atribut yang dianggap sah oleh obyek perilaku konsumen tersebut. Menurut Simamora (2002), ada dua pengertian yang dapat diberikan tentang atribut obyek pada perilaku konsumen. Pertama, atribut sebagai karakteristik yang membedakan produk dari yang lain. Atribut produk dalam pengertian ini meliputi dimensi-dimensi yang terkait, deperti performa, daya tahan, keandalan, desain, dan
lain-lain. Kedua, atribut merupakan faktor-faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam mengambil keputusan dalam pembelian kategori produk, yang melekat pada produk atau menjadi bagian dari produk itu sendiri. Atribut dalam pengertian kedua ini selain merupakan dimensi-dimensi produk juga menyangkut apa saja yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan untuk membeli, menonton, dan memperhatikan suatu produk, seperti harga, ketersediaan produk, harga jual kembali, merek, dan sebagainya.
Menurut Sumarwan (2004) atribut produk dibedakan ke dalam atribut fisik dan atribut abstrak. Atribut fisik menggambarkan ciri-ciri fisik suatu produk, misalnya ukuran, warna, dan bentuk. Atribut abstrak menggambarkan karakteristik subyektif dari suatu produk berdasarkan persepsi konsumen. Konsumen akan mempertimbangkan atribut fisik dan atribut abstrak dalam menilai suatu produk. Pertimbangan ini akan sangat ditentukan oleh informasi yang tersimpan di dalam memorinya.
Menurut Simamora (2002), ada beberapa cara untuk mengetahui atribut produk, yaitu:
a. Metode judgement, yaitu peneliti menyusun sendiri atribut produk. Akurasi atribut dengan metode ini tergantung dari kredibilitas peneliti yang subyektif.
b. Metode focus group, dimana peneliti mengumpulkan 10 hingga 20 responden yang dianggap memahami produk, kemudian secara bersama-sama membahas atribut produk tersebut.
c. Metode survei, yaitu dengan menggunakan presentase brainstorming atau metode iterasi.
2.8. Konsep Pemasaran 2.8.1. Pemasaran
Menurut American Marketing Association (AMA) dalam Kotler (2005), pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanakan pemikiran, penetapan harga, promosi, dan penyaluran gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang dapat memenuhi sasaran-sasaran individu organisasi. Menurut Kotler (2005), pemasaran adalah
proses sosial dan manajerial, dimana seseorang dan kelompok memperoleh apa yang dibuktikan dan tunjukkan melalui penciptaan dan pertukaran produk serta nilai.
2.8.2. Segmentasi Pasar
Segmentasi adalah usaha pemisahan pasar pada kelompok-kelompok pembeli menurut jenis-jenis produk tertentu dan yang menentukan bauran pemasaran tersendiri (Kotler, 2005). Berdasarkan definisi diatas diketahui bahwa pasar suatu produk tidaklah homogen, akan tetapi pada kenyataannya adalah heterogen. Menurut Kotler (2005) segmen pasar adalah kelompok pelanggan yang memiliki seperangkat keinginan yang sama.
Segmentasi merupakan unsur pertama dalam strategi pemasaran. Menurut Kartajaya (2008), segmentasi diartikan sebagai melihat pasar secara kreatif. Segmentasi merupakan seni mengidentifikasi serta memanfaatkan peluang-peluang yang muncul di pasar.
2.8.3. Penentuan Target Pasar (Targeting)
Setelah perusahaan memilih segmen pasar, strategi selanjutnya adalah menentukan target pasar atau pasar sasaran. Definisi umum dari
targeting adalah merupakan kegiatan yang berisi dan menilai serta
memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki oleh suatu perusahaan. Menrut Kotler (2005), targeting adalah strategi mengalokasikan sumber daya perusahaan secara efektif.
2.8.4. Penetapan Posisi (Positioning)
Penetapan posisi (positioning) adalah tindakan merancang tawaran dan citra perusahaan sehingga menempati posisi yang khas (diantara para pesaing) di dalam benak pelanggan sasarannya (Kotler, 2005).
Perusahaan memiliki tiga pilihan strategi positioning (Kotler, 2005) yaitu:
a. Memperkuat posisi dirinya saat ini di benak konsumen. b. Mencari dan merebut posisi baru yang belum ditempati.
c. Menggeser (deposition) dan mengubah (reposition) posisi persaingan.
Boyd dalam Fitri (2006), menyebutkan bahwa terdapat tujuh strategi posisi pasar yang relevan dengan sejumlah besar situasi, yaitu: a. Penentuan posisi monosegmen
Mengembangkan program pemasaran dan produk yang dirancang untuk preferensi segmen tunggal. Implementasi yang sukses dari strategi ini akan memberi merek keunggulan yang jelas di dalam segmen sasaran, tetapi tidak akan menghasilkan banyak penjualan dari pelanggan untuk segmen-segmen lain. Strategi ini paling baik digunakan dalam pemasaran masal.
b. Penentuan posisi multisegmen
Penentuan posisi produk agar menarik konsumen dari segmen-segmen yang berbeda. Penentuan posisi ini biasanya cocok untuk segmen-segmen individual kecil, seperti yang biasa terjadi dalam tahap-tahap awal daur hidup produk.
c. Penentuan posisi siaga (standby positioning)
Perusahaan dapat menentukan untuk mengimplementasi strategi penentuan posisi monosegmen hanya bila terpaksa. Dengan tujuan meminimalkan waktu tanggapan, perusahan menyiapkan rencana siaga yang menspesifikasi produk dan atributnya, seperti halnya rincian program-program pemasaran yang akan digunakan untuk memposisikan produk baru.
d. Penentuan posisi tiruan (initiative positioning)
Penentuan posisi ini mungkin merupakan strategi yang tepat jika perusahaan tiruan memiliki keunggulan berbeda diluar penentuan posisi, misal akses yang lebih baik ke saluran distribusi, armada penjualan yang lebih efektif, atau jumlah uang yang sangat besar untuk dibelanjakan.
e. Penentuan posisis antisipatif
Perusahaan dapat memposisikan produk baru untuk mengantisipasi evolusi kebutuhan segmen. Hal ini cocok ketika merek baru tidak
diharapkan untuk diakui lebih cepat dan pangsa pasar akan terbentuk, ketika kebutuhan konsumen semakin disesuaikan dengan manfaat-manfaat yang ditawarkan.
f. Penentuan posisi adaptif
Secara periodik memposisikan kembali sebuah merek untuk mengikuti evolusi kebutuhan segmen.
g. Penentuan posisi defensif
Perusahaan dapat mendayagunakan strategi-strategi kompetitif dengan memperkenalkan merek tambahan dalam posisi yang sama untuk segmen yang sama. Hal tersebut akan mengurangi profitabilitas dalam jangka pendek, tetapi membuat perusahaan melindungi dirinya dengan baik melawan pesaing dalam jangka panjang.
2.8.5. Bauran Pemasaran (Marketing Mix)
Kotler (2005) menyebutkan bahwa di dalam pemasaran terdapat empat prinsip dasar bauran pemasaran yang terdiri 4 P, yaitu:
a. Produk (product)
Kebijakan mengenai produk atau jasa meliputi jumlah barang atau jasa yang akan ditawarkan perusahaan, pelayanan khusus yang ditawarkan perusahaan guna mendukung penjualan barang dan jasa, dan bentuk barang ataupun jasa yang ditawarkan. Produk merupakan elemen yang paling penting, sebab dengan inilah perusahaan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dari konsumen, namun keputusan itu tidak berdiri sendiri sebab produk atau jasa sangat erat hubungannya dengan target market yang dipilih.
b. Harga (price)
Kebijakan harga erat kaitannya dengan keputusan tentang jasa yang dipasarkan. Hal ini disebabkan harga merupakan penawaran suatu produk atau jasa. Dalam penetapan harga, biasanya didasarkan pada suatu kombinasi barang atau jasa ditambah dengan beberapa jasa lain serta keuntungan yang memuaskan. Berdasarkan harga yang ditetapkan ini konsumen akan mengambil keputusan apakah dia
membeli barang tersebut atau tidak. Selain itu konsumen juga menetapkan berapa jumlah barang atau jasa yang harus dibeli berdasarkan harga tersebut.
c. Saluran Distribusi (place)
Setelah perusahaan berhasil menciptakan barang atau jasa yang dibutuhkan dan menetapkan harga yang layak, tahap berikutnya menentukan metode penyampaian produk atau jasa ke pasar melalui rute-rute yang efektif hingga tiba pada tempat yang tepat, dengan harapan produk atau jasa tersebut berada ditengah-tengah kebutuhan dan keinginan konsumen yang haus akan produk / jasa tersebut. d. Promosi (promotion)
Aspek ini berhubungan dengan berbagai usaha untuk memberikan informasi pada pasar tentang produk atau jasa yang dijual, tempat dan saatnya. Ada beberapa cara menyebarkan informasi ini, antara lain periklanan (advertising), penjualan pribadi (personal selling), promosi penjualan (sales promotion) dan publisitas (publicity).
2.9. Uji Validitas dan Reliabilitas
Menurut Sevilla dalam Rahayu (2005), validitas adalah suatu derajat ketepatan alat ukur penelitian tentang isi atau arti sebenarnya yang diukur. Sedangkan reliabilitas adalah derajat ketepatan, ketelitian, atau keakuratan yang ditunjukkan oleh instrument pengukuran.
2.10. Analisis Deskriptif
Analisis ini bersifat uraian atau penjelasan dengan membuat tabel-tabel, mengelompokkan, dan menganalisis data berdasarkan pada hasil jawaban kuesioner yang diperoleh dari tanggapan responden dengan menggunakan tabulasi data. Statistika deskriptif berusaha menjelaskan atau menggambarkan berbagai karakteristik data.
2.11.Importance Performance Analysis (IPA)
Importance Performance Analysis (IPA) merupakan metode yang
digunakan untuk menganalisis tingkat kepentingan pengunjung dan tingkat kinerja pusat perbelanjaan modern. Kemudian tingkat kepentingan dan kinerja tersebut dipetakan dalam diagram kartesius yang dinamakan Matriks
IPA. Matriks IPA terdiri dari empat kuadran, masing-masing kuadran menjelaskan keadaan yang berbeda-beda. Kuadran-kuadran tersebut yaitu: a. Kuadran I (attributes to improve)
Kuadran ini merupakan wilayah yang memuat atribut-atribut yang dianggap penting oleh pengunjung, tetapi pada kenyataannya atribut-atribut ini belum seperti yang pengunjung harapkan. Atribut-atribut-atribut yang masuk kuadran ini harus ditingkatkan sehingga perusahaan harus melakukan perbaikan secara terus-menerus agar kinerja atribut yang ada dalam kuadran ini lebih baik.
b. Kuadran II (maintain performance)
Kuadran ini memuat atribut-atribut yang dianggap penting oleh pengunjung dan atribut tersebut sudah dianggap sesuai dengan yang dirasakannya, sehingga tingkat kepuasannya relatif tinggi. Atribut-atribut yang berada dalam kuadran ini harus tetap dipertahankan, karena semua atribut tersebut menjadikan produk unggul di mata pengunjung.
c. Kuadran III (attributes to maintain)
Kuadran ini menunjukkan atribut-atribut yang dianggap kurang penting oleh pengunjung dan pada kenyataannnya kinerjanya tidak terlalu istimewa. Peningkatan atribut-atribut yang termasuk dalam posisi ini dapat dipertimbangkan kembali karena pengaruhnya terhadap manfaat yang dirasakan oleh pengunjung sangat kecil.
d. Kuadran IV (attributes to de-emphasize)
Kuadran ini menunjukkan tingkat kepentingan pengunjung rendah atau pengunjung menganggap atribut-atribut tersebut kurang penting sedangkan kinerja perusahaan relatif tinggi sehingga pengunjung menganggap bahwa atribut-atribut tersebut dianggap terlalu berlebihan. Atribut-atribut yang termasuk dalam kuadran ini harus dapat menjadi efisien agar perusahaan dapat menghemat biaya.
Diagram kartesius tingkat kepentingan dan kinerja ditunjukkan pada Gambar 6 di bawah ini:
Gambar 6. Diagram Importance / Performance Matrix (Rangkuti, 2002)
2.12.Multidimensional Scaling (MDS) Berbasis Atribut
Multidimensional Scaling (MDS) merupakan salah satu teknik
multivariat dalam golongan interdependenced technique. MDS adalah salah satu prosedur yang digunakan untuk memetakan presepsi (perceptual mapping) dan preferensi para responden secara visual dalam peta geometri.
MDS dalam konteks pemasaran, pada umumnya memang dipakai untuk memetakan persepsi. Namun, informasi yang diberikan MDS juga dapat dipakai dalam berbagai aplikasi pemasaran lainnya, seperti:
a. Pengukuran citra (image measurement) b. Segmentasi pasar
c. Pengembangan produk baru (new product development) d. Menilai efektivitas iklan
e. Analisis harga
f. Keputusan saluran (channel decision)
MDS secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu MDS non atribut dan MDS berbasis atribut. Beberapa ahli statistik berpendapat bahwa MDS berbasis atribut dinilai lebih baik, karena dengan metode ini dimensi-dimensi yang mendasari kemiripan lebih mudah ditelusuri, selain itu posisi merek dapat dipetakan secara relatif dengan vektor yang menyatakan posisi setiap atribut. High Leverage
I
Attributes to ImproveII
Maintain PerformanceIII
Attributes to Maintain Low LeverageIV
Attributes to De-emphasize2.13.Penelitian Terdahulu
Hasil-hasil penelitian terdahulu membahas pamasaran dari berbagai sudut pandang dan berbagai aspek pembahasan. Topik-topik yang pernah diangkat berkaitan dengan penelitian yang dilakukan antara lain mengenai preferensi konsumen, pemetaan persepsi konsumen, dan studi mengenai pusat perbelanjaan modern itu sendiri.
Firmansyah (2006) melakukan penelitian mengenai preferensi konsumen terhadap atribut factory outlet. Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, proses hirarki analitik (PHA), dan tabulasi silang dengan uji chi kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengeluaran keluarga tiap bulan berhubungan nyata terhadap faktor yang membuat responden tertarik untuk mengunjungi FO. Selain itu didapatkan hasil bahwa produk merupakan faktor atau atribut yang yang paling penting dan menjadi pertimbangan utama. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan adalah dalam hal topik mengenai preferensi. Sedangkan perbedaannya terletak pada obyek penelitian dan alat analisis yang digunakan.
Widyandari (2005) melakukan penelitian mengenai preferensi pengunjung terhadap atribut wisata Kusuma Agrowisata Kota Batu Jawa Timur. Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut yang dianggap paling penting menurut nilai relatif penting adalah harga paket wisata, sedangkan yang dianggap paling tidak penting adalah kenyamanan. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan adalah dalam hal topik mengenai preferensi. Sedangkan perbedaannya terletak pada obyek penelitian dan alat analisis yang digunakan.
Fitri (2006) melakukan penelitian mengenai analisis preferensi konsumen dan positioning produk Wardah di pasar kosmetika Jakarta. Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, Importance Performance
Analysis (IPA), dan biplot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut yang
dinilai paling penting adalah kecocokan, sedangkan atribut yang dinilai paling tidak penting adalah merek yang terkenal. Persamaan penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan adalah dalam hal topik mengenai preferensi dan
positioning. Sedangkan perbedaannya terletak pada obyek penelitian dan alat
analisis yang digunakan.
Apriantoro (2006) melakukan penelitian mengenai analisis positioning Popeyes Chicken and Seafood dalam pasar restoran fast food di Kota Bogor. Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, Multidimensional
Scaling (MDS), analisis faktor, dan analisis biplot. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Popeyes memiliki dua atribut yang menonjol, yaitu cita rasa khas bumbu dan pelayanan yang ramah. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan adalah dalam hal topik mengenai positioning. Sedangkan perbedaannya terletak pada obyek penelitian dan alat analisis yang digunakan.
Mardiana (2007) melakukan penelitian mengenai analisis strategi pengembangan bisnis pusat perbelanjaan modern pada La Piazza, Sentra Kelapa Gading, Jakarta Utara. Alat analisis yang digunakan adalah matriks IFE, matriks EFE, analisis SWOT, analisis IE, dan proses hirarki analitik (PHA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi internal La Piazza tergolong rata-rata sedangkan kondisi eksternal tergolong sedang. Selain itu hasil penelitian juga menunjukkan bahwa saat ini La Piazza berada pada kuadran V Matriks IE yang berarti bahwa sedang berada dalam kondisi hold
and maintain. Strategi-strategi yang umum dipakai yaitu strategi market penetration dan product development. Persamaan penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan adalah dalam hal obyek studi berupa pusat perbelanjaan modern. Sedangkan perbedaannya terletak pada topik penelitian dan alat analisis yang digunakan.
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Kota Bogor berupaya untuk semakin menguatkan citranya bukan hanya sebagi tujuan wisata kuliner, tetapi juga sebagai tujuan wisata belanja. Hal ini ditandai dengan maraknya pembangunan berbagai jenis pusat perbelanjaan modern. Maraknya pembangunan berbagai jenis pusat perbelanjaan modern di Kota Bogor menyebabkan suatu dampak yang tidak dapat dielakkan, yaitu munculnya persaingan antar pengembang pusat perbelanjaan modern yang saling berlomba untuk merebut hati pengunjung.
Sebagai antisipasi dalam menghadapi persaingan usaha, pihak pengembang pusat perbelanjaan modern perlu memberikan perhatian lebih untuk mengetahui bagaimana perilaku pengunjungnya, sehingga pusat perbelanjaan modern mampu menarik pengunjung dalam jumlah besar. Perilaku pengunjung pusat perbelanjaan modern dapat dilihat dari tiga aspek yaitu proses pengambilan keputusan pengunjung, preferensi pengunjung, dan persepsi pengunjung. Dalam pengambilan keputusan, pengunjung harus melalui lima urutan tahapan, diantaranya pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan kunjungan, dan hasil. Kemudian akan dianalisis secara deskriptif dengan visualisasi melalui tabel, grafik, dan diagram.
Tingkat preferensi pengunjung diukur menggunakan alat Importance
Performance Analysis (IPA). Dari berbagai persepsi tingkat kepentingan
pengunjung, dapat dirumuskan tingkat kepentingan yang paling dominan. Selanjutnya, dapat dikaitkan pentingnya peubah tersebut dengan kenyataan yang dirasakan oleh pengunjung.
Persepsi mengenai kenyataan yang dirasakan oleh pengunjung, kemudian akan dipetakan dalam sebuah peta persepsi dengan menggunakan teknik Multidimensional Scaling (MDS) berbasis atribut dengan pendekatan analisis faktor. Setelah dipetakan dalam sebuah peta persepsi, akan diketahui kedudukan (positioning) masing-masing pusat perbelanjaan modern yang
diteliti. Kemudian akan terlihat rekomendasi strategi yang dapat diberikan pada masing-masing pusat perbelanjaan modern tersebut.
Gambar 7. Kerangka Pemikiran Penelitian
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah Kota Bogor yang mencakup enam kecamatan yaitu Bogor Selatan, Bogor Tengah, Bogor Timur, Bogor Barat, Bogor Utara, dan Tanah Sareal. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kota Bogor saat ini semakin menguatkan citranya sebagai kota tujuan wisata belanja dan kuliner. Hal ini
Persaingan antar Pengembang Pusat Perbelanjaan Modern
Perilaku Pengunjung Pusat Perbelanjaan Moden
Identifikasi Pengambilan Keputusan Pengunjung
Preferensi
Pengunjung Pengunjung Persepsi
Analisis Deskripstif Importance Performancce Analyisis (IPA) Pemetaan Persepsi Pusat Perbelanjaan Modern di Kota Bogor
Multidimensional Scaling (MDS) Berbasis Atribut
Rekomendasi Strategi pada Pusat Perbelanjaan
Modern yang Diteliti
Positioning Pusat Perbelanjaan Modern
di Kota Bogor Analisis
ditandai dengan semakin maraknya pembangunan pusat-pusat perbelanjaan, restoran, factory outlet, dan penginapan. Kegiatan pengumpulan dan pengolahan data penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, terhitung mulai Februari sampai dengan April 2008.
3.3. Metode Pengumpulan dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang didapat dari sumber utama baik individu atau perseorangan sepert hasil dari wawancara atau hasil pengisian kuesioner seperti yang biasa dilakukan oleh peneliti (Umar, 2004). Dalam penelitian ini data primer diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner kepada responden.
Responden yang dijadikan sebagai objek penelitian harus memenuhi kriteria bahwa responden tersebut adalah penduduk Kota Bogor dan pernah mengunjungi Botani Square, Ekalokasari Plaza, Bogor Trade Mall, dan Pangrango Plaza minimal satu kali. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan prosedur quota sampling berdasarkan letak geografis, yang mengacu pada pembagian enam wilayah kecamatan di Kota Bogor. Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk Kota Bogor yang berjumlah 750.250 orang (Pemerintah Kota Bogor, 2007). Secara rinci, jumlah penduduk Kota Bogor per kecamatan tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Penduduk Kota Bogor Per Kecamatan Tahun 2006
Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah
Bogor Selatan 77.254 73.881 151.135 Bogor Timur 38.307 38.958 77.265 Bogor Utara 64.148 61.710 125.858 Bogor Barat 86.496 84.148 170.644 Bogor Tengah 46.235 46.620 92.855 Tanah Sareal 67.006 65.487 132.493 Jumlah 379.446 370.804 750.250
Sumber: Pemerintah Kota Bogor (2007)
Ukuran responden diperoleh dengan berdasarkan perhitungan secara matematis menggunakan rumus Slovin berikut:
Keterangan:
n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi
e = Kesalahan yang dapat ditolerir (8%)
Dengan menggunakan rumus Slovin, maka nilai n adalah sebagai berikut:
n . . , 156,2175 dibulatkan keatas = 157 orang
Dengan menggunakan quota sampling, maka ditentukan jumlah responden per kecamatan sebagai berikut:
Bogor Selatan: .. 157 31,627 Bogor Timur: .. 157 16,169 Bogor Utara: .. 157 26,338 Bogor Barat: .. 157 35,709 Bogor Tengah: .. 157 19,431 Tanah Sareal: .. 157 27,726
Tabel 2. Rekapitulasi Jumlah Rersponden Per Kecamatan
Kecamatan Jumlah Responden (dengan pembulatan) Bogor Selatan 32 Bogor Timur 16 Bogor Utara 26 Bogor Barat 36 Bogor Tengah 19 Tanah Sareal 28 Jumlah 157
Sumber: Pengolahan Data Kuesioner Secara Deskriptif
Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain, misalnya dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram (Umar, 2004). Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik, Survei Properti Komersial BI, Pemerintah Kota Bogor, beberapa website di internet yang berhubungan dengan pusat perbelanjaan, dan studi literatur dari beberapa buku.
3.4. Parameter dan Variabel Penelitian
Santoso dalam Kompas (2002) dari PRoLEASE Property Consultant, menyatakan bahwa untuk berhasil menarik pengunjung potensial, pusat perbelanjaan modern harus memperhatikan faktor eksternal dan internal. Parameter dan variabel yang dipergunakan dalam penelitian ini diklasifikasikan berdasarkan:
1. Identifikasi responden
2. Identifikasi pengambilan keputusan pengunjung a. Pengenalan kebutuhan
b. Pencarian informasi c. Evaluasi alternatif d. Keputusan kunjungan e. Hasil
3. Faktor internal utama
a. Ketersediaan supermarket atau hypermart b. Ketersediaan sarana hiburan
c. Ketersediaan tempat makan d. Kelengkapan produk 4. Faktor internal pendukung
a. Ketersediaan tempat parkir b. Ketersediaan toilet
c. Ketersediaan sarana ibadah d. Ketersediaan fasilitss umum e. Desain interior f. Kebersihan g. Keamanan h. Kenyamanan 5. Faktor eksternal a. Lokasi
3.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan beberapa software pengolah data statistik, yaitu Statistical
Package for Social Sciences (SPSS) versi 13.0 dan Microsoft Excel 2007.
Keunggulan dari kedua software ini adalah mudah digunakan, mampu mengolah data dalam jumlah besar, dan mampu memvisualisasikan hasil analisis data secara akurat dan menarik. Metode pengolahan dan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
3.5.1. Uji Validitas dan Reliabilitas
Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden, kuesioner harus diuji validitas dan realibilitasnya terlebih dahulu, agar instrumen atau variabel yang digunakan terbukti baik dan handal.
Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment (Simamora, 2005). Rumus korelasi product
moment:
r ∑ ∑ ∑
∑ ∑ ∑ ∑ …………...…………...………….. (2) Keterangan:
r = Koefisien korelasi
X = Skor butir-butir pertanyaan Y = Skor total
n = Jumlah responden
Pengujian reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan teknik alpha cronbach (Simamora, 2005). Rumus alpha cronbach:
∑
………….……….………...………. (3) Rumus varian yang digunakan:
σ ∑
∑
……….……….……….………. (4) Keterangan:
α = Realibilitas instrumen k = Banyak butir pertanyaan
∑ = Jumlah varian butir X = Nilai skor yang dipilih n = Jumlah responden
3.5.2. Importance Performance Analysis (IPA)
Untuk dapat melakukan analisis dengan IPA, maka skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert, dengan menggunakan lima peringkat nilai yang masing-masing diberikan skor atau bobot seperti tercantum pada tabel 3.
Tabel 3. Skor tingkat kepentingan dan tingkat kinerja
Kriteria Jawaban Skor (Nilai)
Skor tingkat kepentingan
(Importance)
Sangat Tidak Penting Tidak Penting Biasa Saja Penting Sangat Penting 1 2 3 4 5 Skor tingkat kinerja
(Performance)
Sangat Tidak Baik Tidak Baik Biasa Saja Baik Sangat Baik 1 2 3 4 5 Sumber: Rangkuti (2002)
Berdasarkan hasil penilaian tingkat kepentingan dan tingkat kinerja, akan dilakukan perhitungan mengenai tingkat kepentingan dan tingkat kinerja yang kemudian digambarkan dalam suatu diagram kartesius. Tingkat kepentingan dan kinerja yang dimuat dalam diagram kartesius adalah berupa skor penilaian kepentingan dan kinerja total. Masing-masing atribut diposisikan dalam suatu diagram. Skor total penilaian terhadap tingkat kinerja (performance) menunjukkan posisi suatu atribut pada sumbu X, sementara posisi atribut pada sumbu Y ditunjukkan oleh skor total tingkat kepentingan (importance) pengunjung terhadap atribut.
Diagram kartesius merupakan suatu bangun yang dibagi menjadi empat bagian yang dibatasi oleh dua buah garis yang saling berpotongan tegak lurus di titik (A, B). A merupakan rataan dari skor total tingkat kinerja dan B merupakan rataan dari skor total tingkat kepentingan seluruh atribut pusat perbelanjaan modern yang
mempengaruhi pengunjung. Nilai A dan B diukur dengan menggunakan rumus: A ∑ B ∑ ..………….…....………..…...……. (5) Keterangan: A = Batas sumbu x B = Batas sumbu y k = Jumlah atribut
3.5.3. Multidimensional Scaling (MDS) Berbasis Atribut
Peta persepsi dapat dihasilkan dari analisis menggunakan
multidimensional scaling (MDS) berbasis atribut. Terdapat beberapa
kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur seberapa baik peta persepsi (perceptual map) yang dihasilkan. Kriteria-kriteria tersebut antara lain:
a. R-square (disingkat RSQ)
RSQ dalam MDS mengindikasikan proporsi varians data input yang dapat dijelaskan oleh model MDS. Semakin tinggi RSQ, semakin baik model MDS. Menurut Maholtra dalam Simamora (2005), model dapat diterima bila RSQ ≥ 0,6.
b. Stress
Kriteria ini merupakan kebalikan RSQ. Stress mengindikasikan proporsi varians perbedaan yang tidak dijelaskan oleh model. Stress dapat dihitung dengan berbagai cara, namun yang paling sering digunakan adalah stress Kruskal, dengan rumus:
Stress = ………...……...………….…..………… (6)
Dari hasil perhitungan, dapat diinterpretasikan bahwa semakin rendah stress, semakin baik model MDS yang dihasilkan. Standar yang digunakan oleh Kruskal dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Standar Model MDS Kruskal
Stress (Percent) Goodness of Fit
20 Poor 10 Fair 5 Good 2,5 Excellent 0 Perfect Sumber: Simamora (2005)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1. Botani Square
Botani Square merupakan salah satu pusat perbelanjaan modern yang baru didirikan di Kota Bogor. Botani Square berlokasi di Jalan Pajajaran kawasan Baranangsiang yang merupakan bekas lahan kampus Institut Pertanian Bogor.
Botani Square menawarkan konsep baru kepada konsumen, yaitu menggunakan sistem square yang merupakan pertama di Kota Bogor. Dalam perencanaan ke depan, selain sebagai pusat perbelanjaan modern, Botani Square juga akan dilengkapi dengan hotel berbintang dan convention center berstandar internasional.
Botani Square secara fisik bangunan terdiri dari empat lantai, dengan rata-rata tenant setiap lantai berjumlah 30 buah. Gerai pengisi atau komposisi tenant Botani Square dapat dikatakan amat baik karena sebagian besar merupakan famous brand (merek ternama). Selain itu berbagai kebutuhan konsumen pun tersedia di pusat perbelanjaan ini, seperti restoran, hypermarket, toko buku, arena games, toko pakaian, dan sebagainya.
Famous brand yang terdapat di Botani Square antara lain
Chidori, Sapo Oriental, Starbucks Coffee, J-Co Donuts, Breadtalk, Super Bowl, Solaria, A&W Restaurant, Super Baso, Rice Bowl, Es Teler 77, Giant, Electronic City, Rimo, Super Home, Giordano, Batik Keris, Number 61, Point Break, Hammer, Nokia, Sony Ericsson, Smart Cell, Jhonny Andrean Salon, Optik Melawai, M-Studio, Century, Optik Seis, Christopher Salon, Innovation Store, Mie Menteng, Fun World, Gramedia, dan Fuji Film. Dari komposisi tersebut, terlihat bahwa gerai makanan (restoran) mendominasi tenant famous brand di Botani Square. Hal ini menunjukkan bahwa Botani Square memiliki keunggulan di mata konsumen untuk kelengkapan variasi jenis restoran (tempat makan) yang menyediakan banyak pilihan bagi pengunjung.
4.1.2. Ekalokasari Plaza
Ekalokasari Plaza berlokasi di kawasan Sukasari yang merupakan bekas lahan Asrama Sukasari Institut Pertanian Bogor. Ekalokasari Plaza menggunakan sistem plaza untuk layoutnya, sedangkan untuk desain interior Ekalokasari Plaza berupaya menampilkan kesan mewah dan glamour.
Ekalokasari plaza secara fisik bangunan terdiri dari tujuh lantai, dengan rata-rata tenant setiap lantai berjumlah 25 buah. Gerai pengisi atau komposisi tenant Ekalokasari Plaza cukup baik dan memiliki keragaman yang cukup tinggi dengan beberapa famous brand (merek ternama), sehingga kebutuhan konsumen dapat terpenuhi dengan baik.
Famous brand yang terdapat di Ekalokasari Plaza antara lain
Nokia, Sony Ericsson, Olympic, My Salon, Cinema 21, Christopher Salon, Gramedia, Batik Semar, Rudi Hadisuarno Salon, XL Center, Electrolux, Matahari, Planet Surf, Eiger, Disc Tara, Food Mart, Es Teler 77, Mie Menteng, Popeyes, Time Zone, KFC, Dunkin Donuts, Multi Toys, Number 61, Duta Suara, M-Studio, Tomkins, Optik Seis, Optik Melawai, Innovation Store, Giordano, dan Prooptik. Dari komposisi tersebut, terlihat bahwa gerai fashion mendominasi tenant
famous brand di Ekalokasari Plaza. Hal ini menunjukkan bahwa
Ekalokasari Plaza memiliki keunggulan kompetitif dalam ketersediaan gerai fashion, yang ikut mengangkat citra Ekalokasari Plaza sebagai salah satu pusat mode yang up to date di Kota Bogor.
4.1.3. Bogor Trade Mall
Bogor Trade Mall berlokasi di kawasan Empang yang merupakan salah satu persimpangan teramai di Kota Bogor, tepatnya di Jalan Juanda. Bogor Trade Mall menggunakan sistem mall untuk layoutnya, sedangkan untuk desain interior Bogor Trade Mall berupaya menampilkan kesan nyaman, meriah, dan ramai.
Bogor Trade Mall secara fisik bangunan terdiri dari tujuh lantai, dengan rata-rata tenant setiap lantai berjumlah 40 buah. Bogor Trade Mall mengelompokkan toko-toko yang memiliki kesamaan dalam satu
lantai yang sama, hal ini terlihat dari adanya spesialisasi di setiap lantai. Misalnya terdapat lantai khusus pakaian, barang elektronik, dan makanan. Gerai pengisi atau komposisi tenant Bogor Trade Mall memiliki keragaman yang cukup tinggi, namun sebagian besar bukan berupa famous brand (merek ternama).
Famous brand yang terdapat di Bogor Trade Mall antara lain
Sentra, My Salon, Ramayana, Jesslyn Kafe, KFC, Hoka-hoka Bento, Mr. Baso, Ink Mate, M-Studio, Jhonny Andrean, Toko Buku Kurnia Agung, Columbia, dan Cinema 21. Dari komposisi tersebut, terlihat bahwa sarana hiburan mendominasi tenant famous brand di Bogor Trade Mall. Hal ini menunjukkan bahwa Bogor Trade Mall berupaya untuk memposisikan diri sebagai salah satu pusat hiburan di Kota Bogor, terutama untuk kalangan remaja.
4.1.4. Pangrango Plaza
Pangrango Plaza merupakan salah satu pusat perbelanjaan modern yang paling awal berdiri di Kota Bogor. Dahulu pusat perbelanjaan modern ini bernama Plaza Internusa yang mencitrakan gaya hidup kalangan menengah atas, namun sejalan dengan pergantian manajemen Plaza Internusa pernah ditutup untuk sementara waktu, kemudian berganti nama menjadi Pangrango Plaza saat dibuka kembali.
Pangrango Plaza berlokasi di Jalan Pajajaran, tepatnya di persimpangan Kebun Raya Bogor. Pangrango Plaza merupakan pelopor penerapan layout sistem plaza di Kota Bogor. Sedangkan untuk desain
interior Pangrango Plaza berupaya menampilkan kesan nyaman,
tenang, dan privat.
Pangrango Plaza secara fisik bangunan terdiri dari tujuh lantai, dengan rata-rata tenant setiap lantai berjumlah 50 buah. Pangrango Plaza mengelompokkan toko-toko yang memiliki kesamaan dalam satu lantai yang sama, hal ini terlihat dari adanya spesialisasi di setiap lantai. Misalnya terdapat lantai khusus pakaian, barang elektronik, dan makanan. Gerai pengisi atau komposisi tenant Pangrango Plaza memiliki keragaman yang kurang baik karena cenderung homogen, dan