• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA PERBAIKAN GIZI

UPAYA PERBAIKAN GIZI

MASYARAKAT

MASYARAKAT

Penyusun :

Penyusun :

Wilma

Wilma Pratiwi

Pratiwi

(

( 030.05.234

030.05.234 ))

Yenovi

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan modal utama dalam kehidupan setiap orang, dimanapun dan siapapun pasti membutuhkan badan yang sehat, baik jasmani maupun rohani guna menopang aktifitas kehidupan sehari-hari. Begitu pentingnya nilai kesehatan ini, sehingga seseorang yang menginginkan agar dirinya tetap sehat harus melakukan berbagai macam cara untuk  meningkatkan derajat kesehatannya, seperti melakukan penerapan pola hidup sehat dan pola makan yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.1

Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunkan  produktivitas kerja dan menurunkan daya tahan tubuh, yang berakibat meningkatnya angka kesakitan dan kematian. Masalah Gizi di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan, terbukti tingginya angka kematian ibu, bayi dan balita serta rendahnya tingkat kecerdasan yang  berakibat pada rendahnya produktifitas, pengangguran, kemiskinan dan akan menghambat  pertumbuhan ekonomi. Hal ini mendasari masalah Gizi menjadi salah satu faktor penting  penentu pencapaian Millenium Development Goals.2

Kecukupan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak janin yang masih dalam kandungan, bayi, anak-anak, masa remaja, dewasa sampai usia lanjut. Ibu atau calon ibu merupakan kelompok rawan karena membutuhkan gizi yang cukup sehingga harus dijaga status gizi dan kesehatannya agar dapat melahirkan bayi yang sehat.2

Tahun 2008 jumlah balita yang ada di kota Tanjungpinang sebanyak 23.240 orang. Jumlah balita yang memiliki KMS (K/S) pada tahun 2008 sebesar 18.927 orang (81,4%). Jika dibandingkan dengan tahun 2004 sampai dengan tahun 2007, maka cakupan jumlah balita yang memiliki KMS pada tahun 2008 lebih rendah. Sedangkan secara umum, cakupan balita yang memiliki KMS (K/S) dari tahun 2004 sampai dengan 2008 berada pada angka diatas 80%. Karena nilai persentase K/S kurang dari 100%, kemungkinan jumlah KMS masih kurang sehingga perlu dilakukan penambahan atau juga distribusi KMS yang belum merata.2

(3)

Partisipasi masyarakat (D/S) pada tahun 2008 sebesar 62,0%. Jika dilihat dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, maka persentase partisipasi masyarakat pada tahun 2008 ini memiliki angka yang paling kecil. Hal ini menggambarkan bahwa partisipasi masyarakat masih kurang. Untuk itu perlu dipelajari kenapa mereka tidak datang ke posyandu dan perlu dimotivasi. Selain itu dari kader posyandu sendiri bersama dengan PKK kelurahan juga dihimbau agar lebih memotivasi warganya untuk membawa balita ke posyandu setiap bulan.2

Banyak faktor yang menyebabkan masalah gizi kurang antara lain faktor ketersediaan  pangan dalam rumah tangga, asuhan gizi keluarga dan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan. Dalam dokumen RPJMN 2004-2009, telah ditargetkan penurunan masalah gizi kurang pada tahun 2009 setinggi-tingginya 20%.2

Posyandu merupakan bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang mempunyai daya ungkit yang besar dalam mengatasi masalah gizi kurang, menurunnya kinerja  posyandu akan berdampak pada menurunnya status gizi. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.411.3/1116/SJ tentang revitalisasi  posyandu yang merupakan upaya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja posyadu. Untuk itu

Pemerintah perlu menyediakan dukungan dana operasional posyandu.2

Berdasarkan Keputusan Menkes RI No. 116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang pedoman Penyelenggaraan Surveilens Epidemiologi Kesehatan, salah satu sasaran adalah pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Gizi termasuk Sistem Kewaspadaan Dini KLB Gizi Buruk. SK Menkes RI no. 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan, salah satu indikator adalah 80% kecamatan bebas rawan gizi. Gambaran yang lebih akurat tentang situasi masalah gizi buruk di tingkat masyarakat akan didapat melalui pelaksanaan surveilens aktif dengan melakukan konfirmasi dan pelacakan kasus.2

Salah satu upaya mempertahankan status gizi bayi dan anak usia 6-23 bulan dan juga untuk mencegah keadaan gizi menjadi lebih buruk, disediakan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). MP-ASI tersebut khususnya bagi bayi dan anak usia 6-23 bulan dari keluarga miskin yang berat badannya berdasarkan hasil penimbangan di posyandu tidak naik (T1). Distribusi MP-ASI sampai ke sasaran memerlukan dukungan dana.2

(4)

BAB II

PENGERTIAN

Kata gizi berasal dari bahasa Arab “gizzah”, dalam bahasa latin “nutrire” artinya makanan atau zat makanan sehat. Ilmu gizi adalah ilmu tentang makanan, zat-zat gizi, dan substansi yang terkandung didalamnya, peran dan keseimbangannya, untuk kesehatan dan masalah kesehatan. Definisi gizi adalah proses tubuh memanfaatkan makanan yang dimulai dari mengunyah, menelan, mencerna, menyerap, mendistribusi, menggunakan dan membuang yang tidak terpakai.3

Zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan oleh tubuh untuk melakukan fungsi yaitu menghasilkan energi, membangun sel-sel, memelihara jaringan dan mengatur proses-proses tubuh. Status gizi adalah keadaan tubuh/ekspresi sebagai akibat komsumsi makanan dan  penggunaan zat-zat gizi. Malnutrisi ( gizi salah ) adalah keadaan patologis akibat kekurangan/

kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi.3

Perbaikan gizi merupakan suatu upaya perbaikan gizi masyarakat yang diselenggarakan secara menyeluruh dan terpadu dalam kerjasama lintas sektoral, peranan keluarga serta swadaya termasuk swasta untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.5

Gizi seimbang adalah istilah untuk menggambarkan susunan makanan dan minuman yang jenis maupun jumlahnya menjamin kebutuhan tenaga, sumber pertumbuhan dan  pemeliharaan untuk mencapai status kesehatan optimal.6

(5)

BAB III

TUJUAN

Tujuan Umum

Tertanggulanginya masalah gizi di masyarakat dan meningkatnya status gizi masyarakat di wilayah Kecamatan Pasar Minggu.

Tujuan Khusus

1. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. 2. Meningkatnya cakupan vitamin A pada bayi, balita dan bufas. 3. Meningkatnya cakupan Fe pada ibu hamil dan buteki.

4. Meningkatnya status gizi pada balita gizi buruk melalui intervensi gizi.

5. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan petugas gizi kelurahan dalam melaksanakan dan pelaporan kegiatan gizi.

6. Diselenggarakannya pelayanan gizi di klinik gizi.

7. Meningkatnya kerjasama lintas program dan lintas sektoral.

8. Terlaksananya kegiatan Pos Gizi untuk menurunkan angka balita gizi buruk dengan dana swadaya masyarakat.

(6)

BAB IV

KEGIATAN DAN SASARAN

KEGIATAN DAN SASARAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU Kegiatan

IV.1 Kegiatan Rutin Program Gizi

a. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)

1. Penyuluhan gizi pada masyarakat sangat diperlukan karena pengetahuan orang tua dapat ditambah dengan cara memberikan penyuluhan setiap saat pertemuan.

2. Pelayanan Gizi di Posyandu

3. Pemberian Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus pada anak - anak  4. Pemberian Vitamin A pada bufas

5. Pemberian tablet tambah darah pada bumil dan buteki dan bufas 6. Pemberian makanan tambahan pemulihan di Posyandu

7. Monitoring dan evaluasi kegiatan penimbangan balita di Posyandu 8. Pelacakan kasus gizi buruk yang ditemukan di wilayah Pasar Minggu  b. Usaha Perbaikan Gizi Institusi ( UPGI )

1. Penyuluhan Gizi di SD / MI / SMP / SMA secara terpadu dengan program UKS/PKPR 

(7)

2. Pemantauan status gizi anak sekolah dilaksanakan secara terpadu dengan program UKS melalui screening kesehatan

3. Pelayanan gizi di klinis gizi Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu c. Kegiatan SPGP ( Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi )

1. Pemantauan status gizi Balita di Posyandu

2. Melakukan survei konsumsi makanan pada masyarakat 3. Rapat koordinasi dengan sektoral

4. Pembinaan kader Posyandu dan petugas kelurahan

IV.2 Kegiatan Program Gizi dengan menggunakan anggaran subsidi 1. Pengadaan vitamin A untuk bayi, balita, dan ibu hamil 2. Pengadaan PM tambahan pemulihan untuk balita BGM 3. Pembentukan pos gizi

4. Pengadaan bahan dan pangan MP-ASI 5. Pembinaan petugas gizi kelurahan 6. Monitoring dan evaluasi program gizi

IV.3 Program Gizi yang berintegrasi dengan program lain 1. KP ibu dengan program kesehatan ibu

2. Posyandu dengan program PSM

3. Gizi anak sekolah dengan program UKS 4. Gizi remaja dengan program PKPR  5. Gizi lansia dengan program lansia

Sasaran

1. Ibu, balita dan buteki yang datang ke Posyandu 2. Lansia yang datang ke Posyandu lansia

3. Ibu hamil dengan class ANC

4. Pada kelompok Pasien DM yang ada di Pasar Minggu 5. Pada kelompok sekolah, remaja, Panti Asuhan

(8)

BAB V

PELAKSANAAN KEGIATAN

PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR MINGGU

1. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)

Jenis Kegiatan Sasaran Tempat Waktu Pelaksana

Penimbangan balita di Posyandu

Pemberian makanan tambahan di Posyandu

Penyuluhan gizi di Posyandu

Bayi,

 balita, ibu hamil, dan ibu

menyusui

Posyandu Satu bulan 1x sesuai jadwal

Petugas kesehatan Puskesmas dan Kader 

(9)

2. Usaha Perbaikan Gizi Pemuda (UPGP)

Jenis kegiatan Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Penyuluhan gizi remaja Organisasi  pemuda dan remaja/karang taruna

Kecamatan 2x per tahun sesuai jadwal Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Pembina bersama –  sama Dokter  Puskesmas Pembina

3. Usaha perbaikan Gizi Sekolah (UPGS)

Jenis kegiatan Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Penyuluhan gizi pada

masyarakat sekolah Pembinaan warung / kantin sekolah Pemeriksaan Hb anak  SD/MI Pemberian tablet Masyarakat Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidiyah, SLTP/Tsanawiyah dan SLTA/Aliyah Sekolah Dasar  (SD), SLTP/Tsanawiyah, SLTA/Aliyah 4x per  tahun sesuai  jadwal Petugas kesehatan dan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG)  puskesmas Pemberian vitamin A pada

 balita di Posyandu

Pemberian tablet Fe pada balita di Posyandu dan PMT balita

Pencatatan dan pelaporan

(10)

tambah darah

Pemantauan status gizi

4.Usaha Perbaikan Gizi Institusi (UPGI)

Jenis kegiatan Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Penyuluhan gizi pada

masyarakat institusi

Pemeriksaan Hb pada  Nakerwan

Pemberian tablet tambah darah pada  Nakerwan

Pemantauan gizi  Nakerwan

Masyarakat panti asuhan, panti jompo, dan pesantren

Tenaga kerja wanita (Nakerwan) Institusi/perusahaan,  panti, pesantren 2x per  tahun sesuai  jadwal Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas Pembina 5. Klinik Gizi

Jenis kegiatan Sasaran Tempat Waktu Pelaksana Anamnesa, diagnose

keluhan gizi dan nasihat dietetic

Pengukuran status gizi (antropometri dan laboratorium)

Pasien umum dengan kelainan gizi ganda (gizi lebih dan kurang)

Pasien rujukan dari RB, BP, BKIA, dll Poli Gizi Puskesmas Pembina 3 hari dalam seminggu, sesuai jam kerja Dokter puskesmas Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas Pembina

(11)

Riwayat kebiasaan

makan dan intake Balita gizi buruk  rujukan dari  posyandu

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1 Kesimpulan

1. Jumlah Posyandu yang rutin melaksanakan kegiatan 98,2 % 2. Jumlah kader Posyandu yang aktif 71,4 %

3. Cakupan D/S = 74,0 % ; K/S = 89,0 % ; N/D = 56,3 % ; N/S = 41,6 % 4. Cakupan Fe I ibu hamil = 81,3 % ; Fe III = 80,9 %

(12)

5. Cakupan vitamin A bulan Februari untuk 100.000 UI sebanyak 93,1 % dan 200.000 UI sebanyak 90,4 % serta Agustus untuk 100.000 UI sebanyak 99,1 % da 200.000 UI sebanyak 95,2 %

6. Rata – rata kunjungan klinik gizi 110 orang/bulan

7. Kegiatan intervensi gizi dapat memperbaiki gizi buruk dari 64,5 % menjadi 24,4 % 8. Cakupan ASI eksklusif masih rendah sekitar 36,8% sedangkan targetnya 80 %

VI. 2 Saran

1. Meningkatkan sosialisasi ke masyarakat, khususnya para ibu yang memiliki balita untuk   pertumbuhan balitanya melalui kegiatan Posyandu

2. Menjalin komunikasi dan kerjasama yang lebih efektif dengan lintas program dan lintas sector 

3. PMT – Pemulihan balita gizi buruk sebaiknya melalui klinik gizi Puskesmas kecamatan agar memudahkan monitoring dan evaluasi

DAFTAR PUSTAKA

1. Wuna. Evaluasi Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat dalam Mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010. Kendari ; 2010

(13)

2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta ; 2008

3. Direktorat Bina Gizi Masyarakat Republik Indonesia. Masalah Gizi di Indonesia dan Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta ; 2008

4. Juknis SPM Gizi Masyarakat. Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta ; 2008

5. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Standarisasi Pelayanan Kesehatan Puskesmas. Jakarta ; 2007

6. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Prioritas Peningkatan Pengetahuan dalam Perbaikan Gizi Masyarakat. Jakarta ; 2011

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa permasalahan yang menyebabkan sulitnya siswa memperoleh hasil belajar yang baik pada mata pelajaran kimia antara lain, ilmu kimia banyak memiliki

Responden pada kelompok usia dewasa tengah, pernah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan, dan masa kerja lebih lama (> 10 tahun) memiliki tingkat pengetahuan

1 Senin, 6 April 2015 Semantik Bahasa Indonesia A 11.00 - 12.30 FIB II.12 Wahyu Widodo, M.Hum & Dany Ardhian, S.Pd., M.Hum.. & Machrus

Menurut UU nomor 20 tahun 1982 tentang Pokok-Pokok Pertahanan Keamanan Negara RI dalam Bab I Pasal 1 Ayat (2) mengatakan bahwa bela negara adalah tekad, sikap

• Pfifner dan Sherwood (2001) : Organisasi adalah pola keadaan dimana sejumlah orang banyak, sangat banyak mempunyai teman berhubungan langsung dengan yang lain,

Catatan: Jika irisan sejajar dengan sumbu x maka tinggi irisan adalah kurva yang terletak disebelah kanan dikurangi kurva yang terletak disebelah kiri.. Jika batas kanan dan

Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan secara simultan antara dukungan emosional keluarga dan dukungan emosional teman sebaya dengan self-compassion yang dimiliki

Walaupun menjadi problem minor, masalah yang paling mengganggu dalam permasalahan tingkat ke-2 adalah visibilitas atau keberadaan KIN online pada dunia luar (internet)