1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri Microbacterium tuberculosis (WHO, 2012).Bakteri ini menyebar melalui droplet pernapasan dan penularannya bisa terjadi apabila kontak erat dengan individu yang terinfeksi (Davey, 2002). Penyakit ini biasanya menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya seperti meninges, ginjal, tulang dan nodus limfe.
Penyakit TB saat ini telah menyerang semua negara di dunia dengan angka kematian terbanyak terjadi di negara berkembang dan diperkirakan 75 % dari penderita TB adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun) (Laban, 2008). World Health Organization (2012) memperkirakan, ada sekitar sembilan juta kasus baru dengan angka kematian akibat penyakit ini sebanyak 1,4 juta orang di seluruh dunia pada tahun 2011. Angka prevalensi kasus TB sendiri diperkirakan mencapai 178 kasus per 100.000 penduduk atau sekitar 12 juta kasus pada semua tipe TB.Hal ini menyebabkan TB menjadi penyakit infeksi urutan ke-2 yang menyebabkan kematian setelah infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Indonesia saat ini merupakan negara dengan beban TB tertinggi ke-5 di dunia
(Strategi Nasional Pengendalian TB, 2011). Meskipun secara nasional menunjukkan perkembangan yang meningkat dalam penemuan kasus dan tingkat kesembuhan dibandingkan tahun sebelumnya, pencapaian di tiap propinsi masih menunjukkan perbedaan. Salah satu propinsi dengan angka penderita TB yang masih tinggi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Angka insidensi, kematian, dan prevalensi TB Paru di DIY berturut – turut adalah 30,20 ; 32, 99 dan 0,87 per 100.000 penduduk (data profil kesehatan provinsi DIY, 2010). Menurut data dari Profil Kesehatan (2011) yang diterbitkan Kementrian Kesehatan, DIY juga merupakan salah satu dari enam provinsi yang belum mencapai target keberhasilan pengobatan (success rate) TB yang distandarkan World Health Organization (WHO) dan Millennium Development Goals (MDGs). Angka keberhasilan pengobatan TB provinsi DIY baru mencapai 84,2%, sedangkan standar WHO sebesar 85% dan standar MDGs sebesar 95%.
Kasus TB dengan pengobatan ulang di Indonesia sendiri diperkirakan mencapai 20% dari semua kasus TB dan angka Multy Drugs Resistence (MDR-TB) sebesar 2% (Strategi Nasional Pengendalian TB, 2011). Angka keberhasilan yang masih kurang dan masih adanya kasus MDR-TB menunjukkan bahwa kepatuhan penderita TB masih rendah. Menurut Orr (2010), penyebab paling umum terjadinya kegagalan pengobatan TB di seluruh dunia adalah kepatuhan yang rendah (poor adherence). Kepatuhan pada penyakit TB dapat didefinisikan sebagai kondisi sejauh mana pasien mengikuti nasihat medis (WHO, 2003). Selain minum obat yang diresepkan sesuai dosis dan interval waktu yang ditentukan, kepatuhan juga melibatkan pelaksanaan saran yang berkaitan dengan
rencana perawatan yang telah disepakati yang mencakup diagnostik dan pemantauan terapi, pengendalian infeksi, pengobatan dan kontak dengan sistem kesehatan misalnya kunjungan klinik (Orr, 2010)
Ketidakpatuhan terhadap pengobatan TB dapat mengakibatkan penularan penyakit dalam jangka waktu yang lama, terjadinya resistensi terhadap obat, dan bahkan kematian (Volmink, 2009). Jika hal ini terjadi, tentunya akan semakin mempersulit pemberantasan penyakit TB paru di Indonesia serta memperberat beban pemerintah. Oleh karena itu, dukungan dari semua pihak terutama anggota keluarga sangat diperlukan karena penderita TB memerlukan pengobatan paling tidak selama enam hingga delapan bulan.
Strategi maupun intervensi untuk meningkatkan kepatuhan pada penderita TB telah banyak dilakukan. Salah satu cara yang telah digunakan dan menunjukkan hasil yang paling menjanjikan dalam mempengaruhi kepatuhan pasien adalah keikutsertaan keluarga dan dukungan sosial (Kogos Jr, 2004). Dukungan keluarga dan masyarakat melalui pemberian semangat, pola perawatan dan pengawasan terhadap penderita sangat mempunyai andil besar dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan. Penelitian Hutapea (2009) menunjukkan bahwa dukungan keluarga yang tinggi dapat meningkatkan kemauan penderita TB untuk meminum Obat Anti Tuberkulosis (OAT).Selain itu, dukungan sosial keluarga ternyatajuga sangat berpengaruh terhadap kesembuhan penderita TB paru (Litaay, 2005). Dari 25 penderita TB yang diteliti di dapatkan hasil bahwa pasien dengan dukungan sosial keluarga yang baik akan mengalami kesembuhan 21 kali lebih tinggi dibandingkan pasien dengan dukungan sosial yang kurang.
Masih ada beberapa pola perawatan penderita TB dalam keluarga di Yogyakarta yang kurang baik, diantaranya yaitu pada penataan lingkungan rumah untuk luas kamar penderita TB, ventilasi rumah dan kamar, frekuensi lantai di pel dalam seminggu, indeks pemenuhan nutrisi bagi penderita yang masih kurang dan masih adanya penderita dan keluarga penderita yang merokok, serta beberapa penderita tidak memiliki pengawas minum obat sehingga lupa untuk minum obat (Nugroho, 2002). Oleh karena itu peningkatan pengetahuan dan pemahaman keluarga terhadap TB Paru dan penanganannya dalam mendukung keberhasilan pengobatan TB Paru sangat penting. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Triharjanti (2006) yang meneliti mengenai hubungan pengetahuan orang tua tentang tuberculosis pada anak terhadap kepatuhan dalam pemberian obat, dimana didapatkan hasil ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan orang tua terhadap kepatuhan berobat anak dengan tuberculosis. Mengingat keluarga menjadi bagian yang dinilai penting oleh penderita TB, maka aspek ini perlu terus dibenahi dan ditingkatkan melalui pemberdayaan keluarga secara lebih optimal guna mendukung proses pengobatan yang lebih baik. Salah satunya melalui family support group therapy.
Family support group therapy merupakan terapi aktivitas kelompok yaitu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama, dalam hal ini adalah TB. Menurut Ponnuchamy et al. (2005), family support group merupakan suatu kelompok kecil yang terdiri dari anggota keluarga pasien dan bersama-sama saling membantu untuk mencapai tujuan tertentu. Anggota di dalam family support group therapy
ini meliputi keluargadari pasien yang menghadapi tantangan yang sama seperti dengan infeksi tertentu, dan memiliki beberapa beberapa kesamaan, baik dari segi usia, pola berpikir, minat atau hal yang lain. Dari kesamaan itu mereka dikumpulkan menjadi suatu kelompok atau komunitas sehingga dapat saling bertukar informasi tentang TB. Jumlah anggota sebuah support group biasanya terdiri terdiri dari lima hingga 12 orang dengan seorang fasilitator atau pemimpin kelompok (Chou et al., 2002).
Menurut Damen et al. (2000), melalui sharing informasi, support group menyediakan dua sumber dukungan yaitu dukungan emosional dan pengetahuan bagi anggotanya. Selain memberikan dukungan, support group juga membantu menyelesaikan pengalaman yang tidak menyenangkan, ketidaktahuan, kebingungan dan situasi yang menekan dari masing – masing anggota (Grant – Iramu,1997cit Hunt, 2004)
Rumah Sakit Khusus Paru Respira UPKPM Yogyakarta dipilih oleh peneliti sebagai tempat pengambilan data karena diagnosa sudah pasti dan mempermudah berkumpulnya keluarga dengan penyakit TB. Selain itu, rumah sakit ini juga merupakan tempat berobat yang potensial bagi penderita TB paru dan tempat yang tepat untuk mengembangkan berbagai penelitian yang berhubungan dengan penyakit paru-paru terutama TB. Rumah Sakit Khusus Paru Respira UPKPM Yogyakarta juga merupakan pusat administrasi dan angka penemuan kasus baru penderita TB di Rumah Sakit Khusus Paru Respira tersebut merupakan yang tertinggi di Yogyakarta. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Bagaimana gambaran
kepatuhan pengobatan penderita Tuberkulosis (TB) setelah mengikuti family support group therapy di Rumah Sakit Khusus Paru Respira UPKPM Yogyakarta?”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas memberikan dasar bagi peneliti untuk merumuskan masalah penelitian yaitu “Bagaimana gambaran kepatuhan pengobatan penderita Tuberkulosis (TB) setelah mengikuti family support group therapy di Rumah Sakit Khusus Paru Respira UPKPM Yogyakarta?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran kepatuhan pengobatan penderita Tuberkulosis (TB) setelah mengikuti family support group therapy di Rumah Sakit Khusus Paru Respira UPKPM Yogyakarta?
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dan informasi kepada beberapa pihak
1. Bagi ilmu keperawatan : dapat menjadi salah satu acuan serta rujukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan keperawatan komunitas terutama yang terkait peningkatan kepatuhan TB melalui pemaksimalan peran keluarga
2. Bagi peneliti : dapat memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan dalam penitian ilmiah
3. Bagi tenaga kesehatan : sebagai bahan masukan dalam penanganan pasien dengan TB Paru dan mendukung keberhasilan penanganan pasien TB paru serta penurunan angka penyebaran TB Paru
4. Bagi Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta : sebagai bahan masukan dalam strategi penangan TB paru di Yogyakarta melalui family support group therapy
E. Keaslian Penelitian
Penelitian dengan judul gambaran kepatuhan pengobatan penderita Tuberkulosis (TB) setelah mengikuti family support group therapy di Rumah Sakit Khusus Paru Respira UPKPM Yogyakarta, berdasarkan pengetahuan peneliti belum pernah dilakukan. Penelitian yang berhubungan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Hutapea, T.P (2009) melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis”. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah 134 penderita TB Paru BTA (+) baru yang pertama kali berobat di BP4/ RS Karangtembok Surabaya. Berdasarkan hasil analisis dan diskusi dapat disimpulkan bahwa dukungan keluarga yang tinggi dapat meningkatkan kemauan minum OAT penderita TB Paru. Analisis data dengan regresi ordinal menunjukkan bahwa variabel dukungan keluarga
yang paling besar pengaruhnya terhadap peningkatan kepatuhan minum OAT penderita TB Paru adalah perhatian atas kemajuan pengobatan, disusul dengan transportasi, dorongan berobat dan tidak menghindarnya keluarga dari penderita TB tersebut. Persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah pada variabel kepatuhan. Perbedaannya, dalam penelitian ini tidak diberikan intervensi, sedangkan pada penelitian yang peneliti lakukan ada intervensi berupa family support group therapy pada anggota keluarga penderita TB paru.
2. Penelitian Khan, Suwannapong, Howteerakul, Pacheun, & Rajatanun (2011) dengan judul Improvement of District Hospital Service System to Increase Treatment Adherence among Tuberculosis Patients in Pakistan. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental, dengan subjek sebanyak 99 orang pasien TB di rumah sakit daerah Rawalpindi, Pakistan. Hasilnya kualitas pelayanan rumah sakit, kepuasan pasien dan kepatuhan pengobatan penderita TB menunjukkan peningkatan dibandingkan sebelum pemberian Cronic Care Model di rumah sakit. Persamaan dengan penelitian yang dilakukan adalah varibel kepatuhan pengobatan (treatment adherence) dan sampel yaitu penderita tuberkulosis. Sedangkan perbedaannya adalah tempat penelitian dan terapi yang diberikan.
3. Ponnuchamy L, Mathew B.K, Mathew S, Udayakumar G.S, Kalyanasundaram S, & Ramprasad D (2005) melakukan penelitian tentang pengaruh family support group pada rehabilitasi psikososial pada pusat perawatan harian (day care center) yang ada di Chetana, India. Hasilnya,
anggota keluarga yang menghadiri pertemuan support group memiliki kemampuan adaptasi koping yang luas, dukungan emosional yang tinggi serta tumbuhnya rasa kebersamaan dengan sesama anggota. Persamaan dengan penelitian ini adalah yang yaitu variabel family support group . Perbedaanya dengan penelitian yang dilakukan adalah pengambilan data pada peneletian ini menggunakan metode semi structured interview. Selain itu penelitian ini mengukur efek family support group pada rehabilitasi psikososial, sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan mengukur efek family support group terhadap tingkat kepatuhan penderita tuberkulosis.