• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi Kuliah Pengantar Kajian Sastra, Hartono, MHum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Materi Kuliah Pengantar Kajian Sastra, Hartono, MHum"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

Hartono, M.Hum. -- PBSI FBS UNY

(2)

PENGERTIAN SASTRA

Rene Wellek dan Austin Warren

segala sesuatu yang tertulis

atau tercetak

dibatasi pada mahakarya

(great books)

yaitu buku-buku

yang dianggap menonjol karena

bentuk dan ekspresi sastranya

(3)

PENGERTIAN SASTRA

(lanjutan)

Luxemburg dkk.

teks-teks yang tidak melulu disusun

atau dipakai untuk suatu tujuan

komunikatif yang praktis dan yang

hanya berlangsung untuk

sementara waktu saja

unsur fiksionalitas

diolah secara istimewa

dapat dibaca menurut tahap-tahap

(4)

PENGERTIAN SASTRA

(lanjutan)

Abrams

Teori objektif ---- karya seni yang otonom, berdiri

sendiri, bebas dari pengarang, realitas, maupun pembaca

Teori mimetik ---- tiruan alam atau kehidupanTeori ekspresif ---- ekspresi sastrawan sebagai

curahan atau luapan perasaan dan pikiran

sastrawan sebagai produk imajinasi sastrawan yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran-pikiran, atau perasaan-perasaannya

Teori pragmatik ---- sarana untuk menyampaikan

(5)

SASTRA:

ANTARA KONVENSI DAN

INOVASI

KONVENSI : Aturan yang sudah disepakati,

diterima banyak orang, dan sudah menjadi tradisi. Artinya, kebiasaan itu dilakukan orang secara terus menerus dari waktu ke waktu.

INOVASI : Pembaharuan dari sesuatu yang telah

ada sebelumnya

TEEUW : Perkembangan karya sastra selalu

(6)

JENIS SATRA

NARATIF / PROSA

Adalah cabang teori sastra yang membahas

teks naratif, maka disebut juga naratologi atau teori fiksi

DRAMATIK

Berbentuk drama dengan dialog

sebagai ciri khasnya

PUISI

Berbentuk puisi dengan tipografi

(7)

JENIS

(8)
(9)

1. T O K O H

 Para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi  3 dimensi tokoh :

dimensi fisiologis : usia, jenis kelamin,

keadaan tubuh, ciri muka, dan sebagainya

dimensi sosiologis : status sosial, pekerjaan,

jabatan, peranan dalam masyarakat, pendidikan, agama, pandangan hidup, ideologi, aktivitas sosial, organisasi, hobi, bangsa, suku, keturunan

dimensi psikologis : mentalitas, ukuran moral,

(10)

Pembagian tokoh

Berdasar keterlibatannya dalam cerita :

Tokoh utama (sentral) : paling terlibat dengan

makna atau tema, paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, paling banyak memerlukan waktu penceritaan

Tokoh tambahan (periferal)

Berdasar watak tokoh :

Tokoh sederhana : tokoh yang kurang mewakili

keutuhan personalitas manusia dan hanya ditonjolkan satu sisi karakternya saja

Tokoh kompleks : menggambarkan keutuhan

(11)

Pembagian Tokoh

Berdasarkan sifatnya

(12)

Penokohan

(cara menggambarkan

tokoh)

Langsung (

telling,

analitik)

Tidak langsung (

showing,

(13)

Penokohan Tidak

langsung

 penamaan tokoh (naming)  cakapan

 penggambaran pikiran tokoh

 arus kesadaran (steam of consciousness)  pelukisan perasaan tokoh

 perbuatan tokoh  sikap tokoh

 pandangan seorang atau banyak tokoh terhadap

tokoh tertentu

(14)

2. ALUR (PLOT)

Adalah (rangkaian peristiwa yang

disusun berdasar hubungan kausalitas)

Pembagian alur :

awal (eksposisi yang mengandung

instabilitas dan konflik)

tengah (klimaks)

(15)

Kaidah alur

1. plausibilitas (kemasukakalan)

jika tokoh-tokoh cerita dan dunianya dapat

diimajinasikan (imajinable)

jika memiliki kebenaran untuk dirinya

sendiri

deus ex machina (dewa dari langit)

2. suspense

membangkitkan rasa ingin tahu

ketidaktentuan harapan atau perasaan

(16)

Kaidah alur

3. surprise

(kejutan)

jika sesuatu yang dikisahkan atau

kejadian-kejadian yang ditampilkan

menyimpang atau bahkan bertentangan

dengan harapan pembaca

memperlambat ataumempercepat

klimaks

4. unity

(keutuhan)

seluruh aspek cerita berhubungan

(17)

Jenis alur

1. Berdasar penyusunan peristiwa:

alur progresif/kronologis/ maju: alur yang

peristiwa-peristiwanya disusun secara kronologis

alur regresif/flash back/sorot balik/mundur: alur yang

peristiwa-peristiwanya disusun secara tidak kronologis

alur campuran: alur yang merupakan perpaduan alur

progresif dan regresif

2. Berdasar kualitasnya:

alur rapat: alur yang alur utamanya tidak dapat

disisipi alur lain

alur longgar: alur yang alur utamanya masih dapat

(18)

Jenis alur

3. Berdasar akhir cerita:

alur terbuka: alur yang memiliki penyelesaian

yang tidak jelas atau menggantung

alur tertutup: alur yang memiliki penyelesaian

yang jelas

4. Berdasar kuantitasnya:

alur tunggal: alur yang rangkaian peristiwanya

mengandung satu peristiwa primer

alur jamak: alur yang rangkaian peristiwanya

(19)

3. LATAR

(SETTING)

Adalah unsur fiksi sesuatu yang

mengacu pada tempat, hubungan

waktu, dan kondisi sosial tempat

terjadinya peristiwa-peristiwa

(20)

3. LATAR

(SETTING)

Dilihat dari kedetilannya dalam cerita:

Latar netral: latar yang disebutkan

secara tidak detil (misalnya hanya

menyebut nama tempat saja)

Latar tipikal: latar yang dideskripsikan

secara detil, memiliki dan menonjolkan

sifat khas latar tertentu, baik yang

(21)

Unsur latar

1.

latar tempat: latar yang mengacu pada

tempat atau lokasi terjadinya peristiwa

yang diceritakan dalam karya fiksi

2.

latar waktu: latar yang mengacu pada

waktu kapan terjadinya peristiwa yang

diceritakan dalam karya fiksi

3.

latar sosial: latar yang mengacu pada

(22)

4. J U D U L

Judul menjadi daya tarik pertama bagi

pembaca.

Kriteria judul:

singkat (agar mudah diingat)

menarik (bersifat eye-catching atau menangkap

mata begitu orang memandangnya

menggambarkan isi

bersifat konotatif (bukan denotatif)

mampu menggugah pembaca terhadap

(23)

J U D U L (lanjutan)

Judul yang berhasil banyak ditentukan

oleh sensitivitas pengarang terhadap

kekuatan kata-katanya atau kepekaan

rasa bahasa.

Judul mengacu pada tokoh (misalnya

Siti Nurbaya, Saman, Larung)

, latar

(Senja di Jakarta),

tema

(Jalan

Menikung, Belenggu, Ziarah),

atau

(24)

5. SUDUT PANDANG

(POINT OF VIEW)

Adalah cara dan pandangan yang

dipergunakan pengarang sebagai

sarana untuk menyajikan tokoh,

(25)

Jenis-jenis sudut

pandang

1. Sudut pandang orang pertama “aku”

first person central atau akuan sertaan :

pencerita adalah “aku” tokoh utama

first person peripheral atau aguan taksertaan :

pencerita adalah “aku” tokoh tambahan

 Sudut pandang orang ketiga “dia”

third person omniscient atau diaan maha tahu :

pencerita berada di luar cerita dan menjadi

pengamat yang mengetahui banyak hal tentang tokoh-tokoh lain

third person limited atau diaan terbatas :

(26)

Jenis-jenis sudut

pandang

2

. Sudut pandang orang pertama “aku”

first person central

atau akuan

sertaan : pencerita adalah “aku”

tokoh utama

first person peripheral

atau aguan

(27)

7. GAYA DAN NADA

Gaya (gaya bahasa) : cara

pengungkapan seorang yang khas bagi

seorang pengarang, meliputi

penggunaan diksi (pilihan kata), imajeri

(citraan), dan sintaksis (pilihan pola

kalimat)

Nada berhubungan dengan pilihan

(28)

8. T E M A

Tema disebut juga ide utama

(central idea)

dan tujuan

utama

(central purpose).

(29)

Penggolongan tema

menurut Shipley

1.

tema jasmaniyah atau fisik, yaitu tema yang

lebih menonjolkan aktivitas fisik atau

jasmaniyah

2.

tema organik, yaitu tema yang berkaitan

dengan moral manusia (termasuk di

dalamnya masalah seksual)

3.

tema sosial, yaitu tema yang berhubungan

dengan kehidupan bermasyarakat,

termasuk di dalamnya masalah politik,

ekonomi, pendidikan, kebudayaan,

(30)

Penggolongan tema

menurut Shipley

4.

tema egoik, yaitu tema yang

berhubungan dengan reaksi-reaksi

pribadi (individualitas) yang pada

umumnya menentang pengaruh

sosial

5. tema ketuhanan, yaitu tema yang

berhubungan dengan masalah

(31)

Cara menafsirkan tema

(Stanton)

mempertimbangkan tiap detil cerita yang

dikedepankan

tidak bertentangan dengan tiap detil

cerita

tidak mendasarkan diri pada bukti-bukti

yang tidak dinyatakan, baik secara

langsung maupun tidak langsung

(32)
(33)

JENIS DRAMATIK

Yang membedakan jenis dramatik

dengan yang lainnya adalah dialog.

Teks drama dimaksudkan untuk

dipentaskan. Pementasan ini

merupakan penafsiran kedua.

Penafsiran pertama dilakukan oleh

sang sutradara. Penafsiran kedua

dilakukan oleh penonton

(34)
(35)

1. TEMA DAN AMANAT

Tema merupakan rumusan

intisari cerita sebagai landasan

idiil dalam menentukan arah

tujuan cerita.

Amanat merupakan pesan yang

ingin disampaikan pengarang

(36)

2. ALUR (PLOT)

Dalam teks drama, alur tidak diceritakan,

tetapi akan divisualkan dalam panggung.

Bagian terpenting dari sebuah alur drama

adalah dialog dan lakuan.

Penyajian alur dalam drama diwujudkan dalam

urutan babak (bagian terbesar dalam sebuah

lakon) dan adegan (bagian dari babak yang

menggambarkan satu suasana). Pergantian

babak ditandai dengan layar yang diturunkan

atau ditutup, atau lampu panggung dimatikan

sejenak. Pergantian babak biasanya

(37)

Alur dramatik

Protais

(permulaan): dijelaskan

peran dan motif lakon

Epitasio

(jalinan kejadian)

Catastasis

(klimaks): peristiwa

mencapai titik kulminasi

(38)

3. PENOKOHAN

Cara mengemukakan watak di

dalam drama lebih banyak

bersifat tidak langsung, yaitu

melalui dialog (yang

(39)

4. LATAR

(SETTING)

Dalam teks drama, latar terlihat

pada keterangan tempat, waktu,

dan suasana yang terdapat pada

teks samping atau teks

nondialog. Pada pementasan,

latar terlihat pada penataan

(40)

5. CAKAPAN (DIALOG)

1. Dialog : cakapan dua orang atau

lebih tokoh

2. Monolog : cakapan satu orang tokoh

dengan dirinya sendiri

Monolog yang membicarakan hal-hal yang

sudah lampau

Soliloqui yang membicarakan hal-hal yang

akan datang

Aside (sampingan) untuk menyebut

(41)

6. LAKUAN

(ACTION)

Lakuan harus berhubungan

dengan plot dan watak tokoh

Lakuan badaniah (melalui

gerak-gerik tubuh) dan batiniah

(melalui dialog yang

(42)
(43)
(44)

1. BUNYI

Peran unsur bunyi dalam

puisi :

Agar puisi itu merdu

Pendukung arti atau makna

tertentu

(45)

Klasifikasi unsur

bunyi

 Dilihat dari bunyi :

 sajak sempurna : ulangan bunyi yang timbul

sebagai akibat ulangan kata tertentu

sajak paruh : ulangan bunyi yang terdapat

pada sebagian baris dan kata-kata tertentu

asonansi : persamaan bunyi berupa vokal

yang berjarak dekat

aliterasi : persamaan bunyi berupa konsonan

(46)

Klasifikasi unsur

bunyi

Dilihat dari perannya sebagai

pendukung makna :

Efoni : kombinasi vokal-konsonan

yang merdu, yang mendukung

suasana yang menyenangkan

Kakofoni : kombinasi bunyi-bunyi

(47)

Klasifikasi unsur

bunyi

Dilihat dari posisi kata yang

mendukungnya :

Sajak awal (anafora) : ulangan pola bunyi

di awal baris

Sajak tengah : persamaan bunyi yang

terdapat di tengah baris pada baris yang

berbeda (berupa kata atau suku kata)

Sajak dalam : persamaan bunyi kata yang

terdapat dalam satu baris

Sajak akhir : persamaan bunyi di akhir

(48)

Klasifikasi unsur

bunyi

Dilihat dari hubungan antarbaris

dalam tiap bait :

sajak merata (terus) : ulangan bunyi

a-a-a-a

sajak berselang : ulangan bunyi

a-b-a-b

sajak berangkai : ulangan bunyi

a-a-b-b

sajak berpeluk : ulangan bunyi

(49)

2. DIKSI

Fungsí diksi dalam puisi :

sarana yang menghubungkan pembaca

dengan gagasan penyair dan dunia

intuisi penyair

menciptakan kesan hidup dalam puisi

(50)

3. BAHASA KIAS

Bahasa kias =

figurative language

=

majas

Menurut Abrams, bahasa kias

adalah penyimpangan dari

pemakaian bahasa yang biasa, yang

makna katanya atau rangkaian

(51)

Macam-macam bahasa kias

(menurut Alternbernd)

simile-metafora (pembandingan)

simile : membandingkan satu hal dengan hal lain dengan kata-kata

pembanding, yaitu seperti, bagai, laksana, semisal,seumpama, sepantun, sebagai, serupa, bak, dan sebagainya.

metafora : menyatakan sesuatu sebagai hal yang sebanding dengan hal lain

yang sesungguhnya tidak sama secara implisit

metonimi-sinekdok (penggantian)

metonimi : pemindahan istilah atau nama suatu hal atau benda ke suatu hal

atau benda lainnya yang mempunyai kaitan rapat, dengan dasar kaitan yaitu hubungan kausal, logika, hubungan dalam waktu dan ruang, atau

pemanfaatan ciri atau sifat suatu hal yang erat hubungannya

sinekdok : bahasa viguratif yang menyebutkan suatu bagian penting dari

suatu benda atau hal itu sendiri. Ada 2: pars prototo (penyebutan sebagian dari suatu hal untuk menyebutkan keseluruhan) dan totum pro parte

(penyebutan keseluruhan dari suatu benda atau hal untuk sebagiannya)

personifikasi (pemanusiaan)

(52)

Macam-macam bahasa kias

(menurut Alternbernd)

simile-metafora (pembandingan)

simile : membandingkan satu hal dengan hal

lain dengan kata-kata pembanding, yaitu

seperti, bagai, laksana, semisal,seumpama, sepantun, sebagai, serupa, bak, dan

sebagainya.

metafora : menyatakan sesuatu sebagai hal

yang sebanding dengan hal lain yang

sesungguhnya tidak sama secara implisit

personifikasi (pemanusiaan)

(53)

Macam-macam bahasa kias

(menurut Alternbernd)

metonimi-sinekdok (penggantian)

metonimi : pemindahan istilah atau nama suatu

hal atau benda ke suatu hal atau benda lainnya yang mempunyai kaitan rapat, dengan dasar kaitan yaitu hubungan kausal, logika, hubungan dalam waktu dan ruang, atau pemanfaatan ciri atau sifat suatu hal yang erat hubungannya

sinekdok : bahasa viguratif yang menyebutkan

suatu bagian penting dari suatu benda atau hal itu sendiri. Ada 2: pars prototo (penyebutan

sebagian dari suatu hal untuk menyebutkan

keseluruhan) dan totum pro parte (penyebutan keseluruhan dari suatu benda atau hal untuk

(54)

4. CITRAAN

Yaitu rangkaian kata yang

mampu menggugah

(55)

Jenis-jenis citraan

 Citraan visual (visual imagery) ---- berhubungan

dengan indera penglihatan

 Citraan auditif (auditory imagery) ----

berhubungan dengan indera pendengaran

 Citraan kinestetik/gerak (kinaesthetic/movement

imagery) ---- berhubungan dengan indera gerak

 Citraan peraba (thermal imagery)

----berhubungan dengan indera peraba

 Citraan penciuman ---- berhubungan dengan

indera penciuman

 Citraan pencecapan ---- berhubungan dengan

(56)

5. SARANA RETORIKA

Sarana kepuitisan yang berupa

muslihat pikiran untuk

memunculkan ketegangan puitis

karena pembaca harus

memikirkan efek apa yang

(57)

Jenis sarana retorika

(menurut Altenbernd dan Lewis)

1.

hiperbola : gaya bahasa yang

menyatakan sesuatu secara

berlebihan

2. ironi : bentuk pengucapan kata-kata

yang bertentangan dengan maksud

sebenarnya, dan biasanya

dimaksudkan untuk menyindiri atau

mengejek

3. ambiguitas : pernyataan yang

(58)

Jenis sarana retorika

(menurut Altenbernd dan Lewis)

4

. paradoks : sarana retorik yang

mengungkapkan sesuatu secara

berlawanan

5. litotes : pernyataan yang

menganggap sesuatu lebih kecil dari

realitas yang ada (kebalikan dari

hiperbola)

6. elipsis : pernyataan yang tidak

(59)

6. WUJUD VISUAL

tipografi (bentuk visual puisi yang

berupa tata hubungan dan tata

baris, atau disebut juga ukiran

bentuk)

susunan baris (pembaitan)

enjambement (perloncatan baris)

(60)

7. MAKNA

Makna merupakan wilayah isi

sebuah puisi yang bisa dipahami

setelah pembaca mampu

mengungkap unsur-unsur puisi yang

mendukungnya.

Dapat dipahami setelah pembaca

(61)

Selamat Belajar …. !!!!

selamat Anda menjadi orang yang

SMART

 Percaya bahwa sesuatu dapat dilakukan!  Hapuskan kata tidak mungkin dari pikiran

anda!

 Pikirkan sesuatu yang istimewa!

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan kesimpulan pada penelitian ini, disarankan kepada para guru, dosen atau tenaga pendidik matematika lainnya beberapa hal sebagai berikut: 1) Mahasiswa dengan

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

Teknologi virtual reality juga dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu hal yang sulit terlihat oleh mata atau yang tidak diketahui bentuk fisiknya seperti pada mata kuliah Pengantar