BUPATI ALOR
PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 12 TAHUN 2011
TENTANG
RETRIBUSI JASA UMUM
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ALOR,
Menimbang
Mengingat
:
:
a. bahwa dalam rangka menyelenggarakan otonomi daerah perlu menggali sumber pendapatan daerah untuk membiayai kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan, maka jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum yang dinikmati oleh orang pribadi atau badan, perlu dipungut retribusi;
b. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka peraturan daerah yang mengatur tentang retribusi daerah perlu ditinjau kembali;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Jasa Umum;
1. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II Dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655);
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019);
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);
4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3852); 5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235); 6. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 9. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4444);
10. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4634);
11. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2006 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4674);
12. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4852); 13. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025); 14. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038). 15. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
16. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
17. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
18. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
19. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
20. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Sarana Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3373);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585);
22. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang
Pedoman Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4539);
23. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4655);
24. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
25. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 26. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang
Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5161);
27. Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil;
28. Peraturan Meneteri Keuangan Nomor 11/PMK.07/2010 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi terhadap Pelanggaran di Bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
29. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.61 Tahun 1993 tentang Rambu Lalulintas di Jalan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM.60 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.61 Tahun 1993 tentang Rambu Lalulintas di Jalan;
30. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2003 tentang Pedoman Operasional Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah Dalam Penegakan Peraturan Daerah; 31. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 11 Tahun
2003 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Alor (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2003 Nomor 12, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 339);
32. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 4 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Yang Menjadi
Kewenangan Pemerintah Kabupaten Alor (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2007 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 436);
33. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 10 Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2007 Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 442);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN ALOR dan
BUPATI ALOR
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI JASA UMUM.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Alor.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Alor. 3. Bupati adalah Bupati Alor.
4. Dewan Perwakikan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Alor.
5. Dinas Pendapatan, Keuangan dan Aset yang selanjutnya disebut Dinas PKA adalah Dinas Pendapatan, Keuangan dan Aset Kabupaten Alor.
6. Kepala Dinas Pendapatan, Keuangan dan Aset adalah Kepala Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset Kabupaten Alor.
7. Dinas Kesehatan adalah Dinas Kesehatan Kabupaten Alor.
8. Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika yang selanjutnya disebut Dishubkominfo adalah Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Alor.
9. Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan yang selanjutnya disebut Dinas Koperasi, UKM dan Perindag adalah Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Alor.
10. Dinas Pekerjaan Umum yang selanjutnya disebut Dinas PU adalah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Alor.
11. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang selanjutnya disebut Dispenduk dan Capil adalah Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Alor.
12. Rumah Sakit Umum Daerah yang selanjutnya disingkat RSUD adalah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Alor.
13. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah Pusat Kesehatan Masyarakat beserta jaringannya yang memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di Daerah. 14. Rumah Sakit Bergerak adalah Rumah Sakit Bergerak Kabupaten Alor. 15. Jaringan Puskesmas adalah sarana pelayanan kesehatan jaringan
Puskesmas yang terdiri atas Puskesmas Pembantu, Polindes dan Poskesdes yang berada di Daerah.
16. Unit Pelaksana Teknis Kebersihan dan Pertamanan yang selanjutnya disingkat UPTKP adalah Unit Pelaksana Teknis Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Alor.
17. Rukun Tetangga/Rukun Warga yang selanjutnya disingkat RT/RW adalah rukun tetangga/rukun warga yang ada di daerah.
18. Penderita/pasien adalah orang yang mendapat pelayanan kesehatan pada RSUD, Rumah Sakit Bergerak, dan Puskesmas beserta jaringannya.
19. Pengobatan adalah Pelayanan pengobatan oleh dokter atau tenaga medis yang ditunjuk dengan resmi untuk mengadakan pelayanan kesehatan. 20. Pelayanan kesehatan adalah segala kegiatan pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada seseorang dalam rangka observasi, diagnosis, pengobatan, atau pelayanan kesehatan lainnya di RSUD, Rumah Sakit Bergerak, dan Puskesmas dan jaringannya.
21. Pelayanan rawat jalan adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan pelayanan kesehatan lainnya tanpa tinggal di rawat inap.
22. Pelayanan rawat inap adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan pelayanan kesehatan lainnya dengan memanfaatkan sarana rawat inap.
23. Pelayanan rawat darurat adalah pelayanan kesehatan tingkat lanjutan yang harus diberikan secepatnya untuk mencegah atau menanggulangi resiko kematian atau cacat.
24. Tindakan medis dan terapi adalah tindakan pembedahan dan/atau tindakan pembedahan lainnya.
25. Penunjang diagnostik adalah pelayanan untuk menunjang menegakan diagnosa.
26. Perawatan jenazah adalah kegiatan merawat jenazah yang dilakukan oleh RSUD untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pemakaman, bukan untuk kepentingan proses pengadilan.
27. Persil adalah sebidang tanah baik dengan atau tanpa bangunan milik daerah yang digunakan sebagai tempat tinggal, tempat usaha atau keperluan lainnya.
28. Pemakai persil adalah penghuni/pemakai suatu tempat milik daerah baik untuk tempat tinggal, tempat usaha atau tempat lainnya.
29. Bangunan adalah rumah, gedung, kantor dan bangunan lainnya yang dibangun d atas persil.
30. Sampah adalah sisa/kotoran dan lain sebagainya yang berbentuk benda padat, cair dan gas yang dibuang karena dianggap tidak berguna lagi, baik yang berasal dari perorangan/rumah tangga, perusahaan/kantor dan tempat lain yang dapat mengganggu tempat-tempat atau lingkungan khususnya tempat-tempat umum.
31. Tempat sampah adalah tempat untuk menampung sampah yang disediakan oleh pemakai persil pada masing-masing persil.
32. Tempat Pembuangan Sampah Sementara yang selanjutnya disingkat TPSS adalah tempat yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk menampung sampah dari tempat-tempat sampah.
33. Tempat Pembuangan Sampah Akhir yang selanjutnya disingkat TPSA adalah tempat yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk menampung dan memasarkan sampah.
34. Kartu Tanda Penduduk, yang selanjutnya disingkat KTP, adalah identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh Dinas yang berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
35. Kartu Keluarga, yang selanjutnya disingkat KK, adalah kartu identitas keluarga yang memuat data tentang nama, susunan dan hubungan dalam keluarga, serta identitas anggota keluarga.
36. Pencatatan Sipil adalah pencatatan Peristiwa Penting yang dialami oleh seseorang dalam register Pencatatan Sipil pada Dispenduk Capil.
37. Akta Catatan Sipil adalah akta otentik yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah mengenai Peristiwa Kelahiran, Perkawinan, Kematian, Pengakuan dan Pengesahan Anak, Pengangkatan Anak, Ganti Nama dan Perubahan Nama yang diterbitkan dan disimpan di Dispenduk Capil sebagai Dokumen Negara.
38. Jalan umum adalah setiap jalan dalam daerah dalam bentuk apapun yang terbuka untuk umum.
39. Tempat umum adalah tempat-tempat yang meliputi taman-taman halaman umum, lapangan-lapangan dan fasilitas lainnya yang disediakan oleh Pemerintah Daerah.
40. Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan bermotor dan/atau tidak bermotor yang bersifat sementara.
41. Parkir di tepi jalan umum adalah pemanfaatan tepi jalan umum yang oleh Pemerintah Daerah ditetapkan sebagai tempat parkir kendaraan umum. 42. Pasar adalah tempat yang diberi batas tertentu dan terdiri atas
halaman/pelataran, bangunan berbentuk los atau kios dan bentuk lainnya yang dikelola oleh Pemerintah Daerah sebagai tempat transaksi jual beli.
43. Pasar kelas I adalah pasar yang disediakan oleh Pemerintah Daerah yang berada di Ibu kota Kabupaten (pasar kota).
44. Pasar kelas II adalah pasar yang disediakan oleh Pemerintah daerah yang berada di ibu kota Kecamatan (Pasar wilayah/Kecamatan).
45. Pasar kelas III adalah pasar yang disediakan oleh Pemerintah Daerah yang berada di Ibu Desa.
46. Los adalah bangunan tetap dalam lingkungan pasar berbentuk bangunan memanjang tanpa dilengkapi dinding.
47. Kios adalah bangunan di pasar yang beratap dan dipisahkan satu dengan yang lain dengan dinding pemisah mulai dari lantai sampai dengan langit-langit yang dipergunakan untuk usaha berjualan.
48. Penguji adalah pejabat yang ditunjuk menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku untuk melaksanakan pengujian kendaraan bermotor.
49. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakan oleh mesin yang berada pada kendaraan itu.
50. Pengujian berkala kendaraan bermotor adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau memeriksa bagian kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dilakukan secara berkala dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan.
51. Persyaratan teknis adalah persyaratan tentang susunan, ukuran, bentuk, karoseri, emisi gas buang, penggunaan penggandengan dan penempelan kendaraan bermotor.
52. Laik jalan/berlayar adalah persyaratan minimum suatu kendaraan bermotor yang harus dipenuhi agar terjaminnya keselamatan serta mencegah terjadinya pencemaran udara dan kebisingan lingkungan pada waktu dioperasikan di jalan dan/atau dilaut.
53. Mobil penumpang umum adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi sebanyak-banyaknya 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan bagasi.
54. Mobil Bus adalah setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor, mobil penumpang, dan mobil khusus yang dilengkapi lebih dari 8 (delapan) temapt duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi.
55. Kendaraan khusus adalah setiap kendaraan bermotor selain daripada kendaraan bermotor untuk penumpang, dan kendaraan bermotor untuk barang yang penggunaannya untuk keperluan khusus dan/atau pengangkutan barang-barang secara khusus.
56. Kendaraan bermotor di air adalah setiap perahu bermotor yang digunakan sebagai angkutan orang dan barang untuk menyeberang dalam wilayah Kabupaten Alor.
57. Kereta gandeng adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang yang dirancang untuk ditarik dengan kendaraan bermotor.
58. Kereta tempelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang-barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh alat itu sendiri dan dirancang untuk ditarik dengan kendaraan bermotor.
59. Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang retribusi daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
60. Jasa adalah kegiatan Pemerintah Daerah berupa usaha dan pelayanan yang memenyebabkan barang, fasilitas, atau kemanfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.
61. Jasa umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan pemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.
62. Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. 63. Retribusi jasa umum adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau
diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. 64. Obyek retribusi adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan oleh
Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan pemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.
65. Subyek retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan atau menikmati penggunaan jasa usaha yang bersangkutan.
66. Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan Perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu.
67. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa tertentu dari Pemerintah Daerah.
68. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya pokok retribusi.
69. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKRDLB adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar dari pada retribusi yang terutang atau seharusnya tidak terutang.
70. Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.
71. Surat Setoran Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SSRD adalah surat yang oleh wajib retribusi digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran retribusi yang terutang ke Kas Daerah atau ketempat pembayaran lain yang ditetapkan oleh Bupati.
BAB II JENIS RETRIBUSI
Pasal 2
Jenis Retribusi Jasa Umum yang dipungut di daerah, meliputi : a. Retribusi Pelayanan Kesehatan;
b. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;
c. Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akta Catatan Sipil; d. Retribusi Pelayanan Parkir Di Tepi Jalan Umum;
e. Retribusi Pelayanan Pasar;
f. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor; g. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta;
h. Retribusi Penyediaan dan/atau penyedotan kakus; i. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang; dan
j. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.
BAB III
RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN Bagian Kesatu
Nama, Objek, Subjek dan Wajib Retribusi
Pasal 3
(1) Dengan nama Retribusi Pelayanan Kesehatan dipungut retribusi atas pelayanan kesehatan oleh Pemerintah Daerah.
(2) Objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah kegiatan pelayanan kesehatan pada RSUD, Rumah Sakit Bergerak, Puskesmas dan jaringannya.
(3) Tidak termasuk objek retribusi adalah : a. pelayanan pendaftaran; dan
b. pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah, BUMN, BUMD dan Pihak Swasta.
(4) Subjek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan atau memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan.
(5) Wajib retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan Peraturan
Perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi Pelayanan Kesehatan.
(6) Pelayanan kesehatan pada RSUD sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah :
a. rawat jalan; b. rawat inap; c. rawat darurat;
d. rawat sehari (one day care); dan e. pelayanan lainnya.
(7) Pelayanan kesehatan pada Puskesmas dan jaringannya sebagaimana dimaksud pada ayat (2), meliputi :
a. rawat jalan; b. rawat inap;
c. rawat kunjungan; dan d. tindakan medik :
1). tindakan medik ringan; 2). tindakan medik sedang; dan 3). tindakan medik gizi.
e. pemeriksaan laboratorium; dan f. administrasi kesehatan lainnya.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi dan Wilayah Pemungutan
Pasal 4
(1) Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, digolongkan dalam retribusi jasa umum.
(2) Pemungutan retribusi Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), dilakukan dalam wilayah Daerah.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 5
Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan frekwensi pelayanan kesehatan, jenis pelayanan, pemakaian bahan dan kelas perawatan.
Bagian Keempat
Prinsip Penetapan Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 6
(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Pelayanan Kesehatan ditetapkan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan dan pengendalian atas pelayanan tersebut.
(2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi biaya operasional dan pemeliharaan, biaya bunga dan biaya modal.
a. dalam hal penetapan tarif sepenuhnya memperhatikan biaya penyediaan jasa, penetapan tarif hanya untuk menutup sebagian biaya penyelenggaraan;
b. pengadaan kartu dan catatan pasien; dan c. operasional dan pemeliharaan.
(3) Komponen retribusi terdiri dari : a. jasa sarana; dan
b. jasa pelayanan.
Pasal 7
(1) Biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 menggunakan komponen tarif pelayanan kesehatan, meliputi :
a. pelayanan medik, penunjang medik dan non medik; b. pengobatan;
c. penginapan dan konsumsi;
d. pengadaan kartu dan catatan pasien; dan e. operasional dan pemeliharaan.
(2) Komponen retribusi terdiri dari : a. jasa sarana; dan
b. jasa pelayanan.
Pasal 8
(1) Tarif retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 digolongkan beradasarkan jenis pelayanan dan kelas perawatan.
(2) Tarif retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 diperhitungkan berdasarkan harga dasar hasil perhitungan biaya per jenis pelayanan dan kelas perawatan.
(3) Harga dasar perhitungan biaya per jenis pelayanan kesehatan dan kelas perawatan dan penyesuaian komponen serta tarif retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kelima
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 9
Struktur dan besaran tarif retribusi pelayanan kesehatan tercantum dalam Lampiran I dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB IV
RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN Bagian Kesatu
Nama, Objek, Subjek dan Wajib Retribusi
Pasal 10
(1) Dengan nama Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan, dipungut retribusi atas pelayanan persampahan/kebersihan oleh Pemerintah Daerah.
(2) Objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah penggunaan sarana prasarana dan jasa pelayanan persampahan/kebersihan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah, meliputi :
a. pengambilan/pengumpulan sampah dari sumbernya ke TPSS;
b. pengangkutan sampah dari sumbernya dan/atau lokasi TPSS ke TPSA; dan
c. penyediaan lokasi pembuangan/pemusnahan akhir sampah.
(3) Dikecualikan dari objek pelayanan persampahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah pelayanan kebersihan jalan umum, taman, tempat ibadah, sosial dan tempat umum lainnya.
(4) Subjek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan hukum yang menggunakan atau memanfaatkan jasa pelayanan persampahan/kebersihan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah.
(5) Wajib retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan hukum yang menurut ketentuan Peraturan
Perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi persampahan/kebersihan.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi dan Wilayah Pungutan
Pasal 11
(1) Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1), digolongkan dalam Retribusi Jasa Umum.
(2) Pemungutan retribusi pelayanan persampahan/kebersihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1), dilakukan dalam wilayah Daerah.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 12
Tingkat penggunaan jasa pelayanan persampahan/kebersihan diukur berdasarkan jumlah fasilitas yang tersedia serta frekwensi pelayanan persampahan/kebersihan yang digunakan.
Bagian Keempat
Prinsip Penetapan Struktur dan Tarif
Pasal 13
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk memberikan pelayanan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa dan kemampuan masyarakat serta aspek keadilan.
Bagian Kelima
Struktur dan Besarnya Tarif
Pasal 14
(1) Struktur dan besarnya tarif retribusi didasarkan pada klasifikasi lokasi sumber sampah.
(2) Struktur dan besarnya tarif retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tercantum dalam Lampiran II dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB V
RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK DAN AKTA CATATAN SIPIL
Bagian Kesatu
Nama, Objek, Subjek dan Wajib Retribusi
Pasal 15
(1) Dengan nama Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akta Catatan Sipil, dipungut retribusi atas biaya cetak KTP dan Akta Catatan Sipil oleh Pemerintah Daerah.
(2) Objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah penggantian biaya cetak blanko KK, KTP dan blanko Akta Catatan Sipil.
(3) Subjek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi yang melakukan pembayaran atas pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah, berupa perolehan dan/atau pemanfaatan Kartu Keluarga, KTP dan Akta Catatan Sipil.
(4) Wajib retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan Peraturan Perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP dan Akta Catatan Sipil.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi dan Wilayah Pungutan
Pasal 16
(1) Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1), digolongkan dalam jenis Retribusi Jasa Umum.
(2) Pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1), dilakukan dalam wilayah Daerah.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 17
Tingkat penggunaan jasa retribusi penggantian biaya cetak KTP dan Akta Catatan Sipil diukur berdasarkan jumlah kartu dan akta yang diterbitkan.
Bagian Keempat
Prinsip Penetapan Strutur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 18
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk memberikan pelayanan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa dan kemampuan masyarakat serta aspek keadilan.
Bagian Kelima
Srtuktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 19
Struktur dan besarnya tarif retribusi tercantum dalam Lampiran III dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB VI
RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM Bagian Kesatu
Nama, Objek, Subjek dan Wajib Retribusi
Pasal 20
(1) Dengan nama Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum, dipungut retribusi atas pelayanan parkir ditepi jalan umum yang disediakan oleh Pemerintah Daerah.
(2) Objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah penyediaan pelayanan parkir di tepi jalan umum oleh Pemerintah Daerah.
(3) Subjek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan atau menikmati penyediaan pelayanan parkir ditepi jalan umum.
(4) Wajib retribusi sebagaimana dimasud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan Peraturan Perundang-undangan diwajibkan membayar retribusi pelayanan parkir ditepi jalan umum.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi dan Wilayah Pungutan
Pasal 21
(1) Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1), digolongkan dalam jenis Retribusi Jasa Umum.
(2) Pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1), dilakukan dalam wilayah Daerah.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 22
Tingkat penggunaan jasa Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum diukur berdasarkan intensitas lalulintas, frekwensi dan jenis kendaraan.
Bagian Keempat
Prinsip Penetapan Strutur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 23
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk memberikan pelayanan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa dan kemampuan masyarakat serta aspek keadilan.
Bagian Kelima
Srtuktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 24
Struktur dan besarnya tarif retribusi tercantum dalam Lampiran IV dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB VII
RETRIBUSI PELAYANAN PASAR Bagian Kesatu
Nama, Objek, Subjek dan Wajib Retribusi
Pasal 25
(1) Dengan nama Retribusi Pelayanan Pasar, dipungut retribusi atas pelayanan pasar oleh Pemerintah Daerah.
(2) Objek retribusi pasar adalah penyedian fasiliitas pasar tradisional/sederhana berupa pelataran, los, kios yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dan khusus disediakan untuk pedagang.
(3) Dikecualikan dari objek retribusi adalah pelayanan fasilitas pasar yang dikelolah oleh BUMN, BUMD dan pihak swasta.
(4) Subjek retribusi adalah orang pribadi atau badan hukum yang menggunakan dan/atau memanfaatkan fasilitas tempat dan sarana pasar.
(5) Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan hukum yang menurut ketentuan Peraturan Perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi pasar.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi dan Wilayah Pemungutan
Pasal 26
(1) Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1), digolongkan dalam jenis Retribusi Jasa Umum.
(2) Pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1), dilakukan dalam wilayah Daerah.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 27
Tingkat penggunaan jasa Retribusi Pelayanan Pasar diukur berdasarkan pada kualitas penggunaan jasa pelayanan dan/atau fasilitas yang tersedia.
Bagian Keempat
Prinsip dan Sasaran Dalam Penetapan Tarif
Pasal 28
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi didasarkan pada kebijakan daerah dengan memperhatikan biaya penyediaan fasilitas pasar, kemampuan masyarakat dan aspek keadilan.
Bagian Kelima
Srtuktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 29
Struktur dan besarnya tarif retribusi tercantum dalam Lampiran V dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB VIII
RETRIBUSI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR Bagian Kesatu
Nama, Subjek, Objek dan Wajib Retribusi
Pasal 30
(1) Dengan nama Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor, dipungut retribusi atas pelayanan pengujian kendaraan bermotor oleh Pemerintah Daerah.
(2) Objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah uji berkala terhadap setiap kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan dan di air sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, :
a. mobil penumpang umum; b. mobil barang;
c. kendaraan khusus; d. kereta gandengan; e. kereta tempelan;
f. Kapal/perahu motor; dan g. speed boat.
(3) Subjek retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan pelayanan pengujian kendaraan bermotor yang laik uji oleh Pemerintah
Daerah.
(4) Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan hukum yang menurut ketentuan Peraturan Perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi pengujian kendaraan bermotor.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi dan Wilayah Pemungutan
Pasal 31
(1) Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), digolongkan dalam jenis Retribusi Jasa Umum.
(2) Pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), dilakukan dalam wilayah Daerah.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 32
Tingkat penggunaan jasa Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor diukur berdasarkan jumlah dan jenis kendaraan, berat kendaraan, waktu pemeriksaan dan frekwensi penggunaan peralatan pengujian kendaraan bermotor.
Bagian Keempat
Prinsip dan Sasaran Dalam Penetapan Tarif
Pasal 33
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk kenyamanan dan ketertiban serta mewujudkan kondisi kendaraan bermotor yang memenuhi persyaratan teknis laik jalan, laik berlayar, dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa dan kemampuan masyarakat serta aspek keadilan.
Bagian Kelima
Srtuktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 34
Struktur dan besarnya tarif retribusi tercantum dalam Lampiran VI dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB IX
RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK PETA Bagian Kesatu
Nama, Objek, Subjek dan Wajib Retribusi
Pasal 35
(1) Dengan nama Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta, dipungut retribusi atas pelayanan penyediaan peta oleh Pemerintah Daerah.
(2) Objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah penyediaan peta oleh Pemerintah Daerah.
(3) Subyek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh layanan data dalam bentuk peta. (4) Wajib retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang
pribadi atau badan yang menurut ketentuan Peraturan Perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi Penggantian biaya cetak peta.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi dan Wilayah Pungutan
Pasal 36
(1) Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1), digolongkan dalam jenis Retribusi Jasa Umum.
(2) Pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1), dilakukan dalam wilayah Daerah.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 37
Tingkat penggunaan jasa retribusi penggantian biaya cetak peta diukur berdasarkan skala peta.
Bagian Keempat
Prinsip Penetapan Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 38
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk memberikan palayanan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa, dan kemampuan masyarakat serta aspek keadilan.
Bagian Kelima
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 39
Struktur dan Besarnya tarif retribusi tercantum dalam Lampiran VII dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB X
RETRIBUSI PENYEDIAAN DAN/ATAU PENYEDOTAN KAKUS Bagian Kesatu
Nama, Subjek, Objek dan Wajib Retribusi
Pasal 40
(1) Dengan nama Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus, dipungut retribusi atas pelayanan penyedotan kakus oleh Pemerintah Daerah.
(2) Objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah pelayanan penyediaan dan/atau penyedotan kakus.
(3) Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah pelayanan penyediaan dan/atau penyedotan kakus yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelolah oleh BUMN, BUMD dan pihak swasta.
(4) Subjek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan hukum yang memanfaatkan jasa pelayanan penyedotan kakus.
(5) Wajib retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan hukum yang menurut ketentuan Peraturan Perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi penyediaan dan/atau penyedotan kakus.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi dan Wilayah Pemungutan
Pasal 41
(1) Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1), digolongkan dalam jenis Retribusi Jasa Umum.
(2) Pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1), dilakukan dalam wilayah Daerah.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 42
Tingkat penggunaan jasa Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus diukur berdasarkan pada frekwensi penggunaan penyedotan kakus.
Bagian Keempat
Prinsip dan Sasaran Dalam Penetapan Tarif
Pasal 43
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk memberikan pelayanan dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa dan kemampuan masyarakat serta aspek keadilan.
Bagian Kelima
Srtuktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 44
Struktur dan besarnya tarif retribusi tercantum dalam Lampiran VIII dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB XI
RETRIBUSI PELAYANAN TERA/TERA ULANG Bagian Kesatu
Nama, Subjek, Objek dan Wajib Retribusi
Pasal 45
(1) Dengan nama Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang, dipungut retribusi atas pelayanan tera/tera ulang oleh Pemerintah Daerah.
(2) Objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah pelayanan pengujian alat-alat ukur, takar timbang, dan perlengkapannya (UTTP) dan pengujian barang dalam keadaan terbungkus (BDKT) yang diwajibkan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
(3) Subjek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh pelayanan tera/tera ulang dari Pemerintah Daerah.
(4) Wajib retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan Peraturan Perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi pelayanan tera/tera ulang.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi dan Wilayah Pemungutan
Pasal 46
(1) Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1), digolongkan dalam jenis Retribusi Jasa Umum.
(2) Pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1), dilakukan dalam wilayah Daerah.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 47
Tingkat penggunaan jasa Retribusi pelayanan tera/tera ulang diukur berdasarkan jenis dan frekwensi jasa pelayanan dan pembinaan serta tingkat kesulitan, karakteristik, jenis, kapasitas UTTPT/BDKT, lamanya waktu dan peralatan yang digunakan.
Bagian Keempat
Prinsip dan Sasaran Dalam Penetapan Tarif
Pasal 48
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi didasarkan pada kebijakan daerah dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa dan kemampuan masyarakat serta aspek keadilan.
Bagian Kelima
Srtuktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 49
Struktur dan besarnya tarif retribusi tercantum dalam Lampiran IX dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
BAB XII
RETRIBUSI PENGENDALIAN MENARA TELEKOMUNIKASI Bagian Kesatu
Nama, Subjek, Objek dan Wajib Retribusi
Pasal 50
(1) Dengan nama Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi, dipungut retribusi atas pemanfaatan ruang untuk pendirian, pembangunan menara dengan memperhatikan aspek tata ruang, keamanan dan kepentingan umum.
(2) Objek retribusi adalah pemanfaatan ruang untuk pendirian, pembangunan menara dengan memperhatikan aspek tata ruang, keamanan dan kepentingan umum.
(3) Subjek retribusi adalah orang pribadi atau badan yang memanfaatkan ruang untuk pendirian dan pembangunan menara telekomunikasi.
(4) Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan hukum yang menurut ketentuan Peraturan Perundang-undangan diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi pengendalian menara telekomunikasi.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi dan Wilayah Pemungutan
Pasal 51
(1) Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1), digolongkan dalam jenis Retribusi Jasa Umum.
(2) Pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1), dilakukan dalam wilayah Daerah.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 52
Tingkat penggunaan jasa dihitung berdasarkan persentase tertentu dikaitkan dengan frekwensi pengawasan dan pengendalian menara telekomunikasi tersebut.
Bagian Keempat
Prinsip dan Sasaran Dalam Penetapan Tarif
Pasal 53
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi didasarkan pada:
a. Pembiayaan biaya operasional pengecekan dan pemantauan terhadap perijinan menara, keadaan fisik menara dan potensi kemungkinan timbulnya gangguan atas berdirinya menara; dan
b. Pembiayaan penanggulangan keamanan dan kenyamanan, biaya perlindungan kepentingan dan kemanfaatan umum serta biaya penataan ruang dan pemulihan keadaan.
Bagian Kelima Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 54
Besarnya tarif retribusi adalah sebesar 2% (dua persen) dari nilai jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) menara telekomunikasi.
BAB XIII
MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERUTANG
Pasal 55
Masa retribusi adalah jangka waktu subjek retribusi untuk mendapatkan pelayanan, fasilitas dan/atau memperoleh manfaat dari Pemerintah Daerah.
Pasal 56
Saat retribusi terutang adalah pada saat ditetapkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
BAB XIV
PENINJAUAN TARIF RETRIBUSI
Pasal 57
(1) Tarif Retribusi ditinjau kembali paling lama 3 (tiga) tahun sekali.
(2) Peninjauan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan perekonomian.
(3) Penetapan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
BAB XV
PEMUNGUTAN RETRIBUSI Bagian Kesatu
Tata Cara Pemungutan
Pasal 58
(1) Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan.
dipersamakan.
(3) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat berupa karcis, kupon dan kartu langganan.
(4) Hasil pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disetor secara bruto ke kas daerah.
(5) Tata cara pelaksanaan pemungutan retribusi diatur dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kedua Tata Cara Pembayaran
Pasal 59
(1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus.
(2) Retribusi yang terutang harus dilunasi selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sejak diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(3) Tata cara pembayaran, penentuan tempat pembayaran, angsuran dan penundaan pembayaran retribusi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Bagian Ketiga Sanksi Administratif
Pasal 60
Dalam hal wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar.
Bagian Keempat Pemanfaatan
Pasal 61
(1) Pemanfaatan dari penerimaan Retribusi Jasa Umum diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pelayanan jasa umum yang bersangkutan.
dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Bagian Kelima Keberatan
Pasal 62
(1) Wajib retribusi tertentu dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas.
(3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKRD diterbitkan, kecuali jika wajib retribusi tertentu dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.
(4) Keadaan di luar kekuasaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3), adalah suatu keadaan yang terjadi di luar kehendak atau kekuasaan wajib retribusi.
(5) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar Retribusi dan pelaksanaan penagihan Retribusi.
Pasal 63
(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Keberatan.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah untuk memberikan kepastian hukum bagi wajib retribusi, bahwa keberatan yang diajukan harus diberi Keputusan oleh Bupati.
(3) Keputusan Bupati atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya Retribusi yang terutang.
(4) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), telah lewat dan Bupati tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.
Pasal 64
(1) Jika pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran Retribusi dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 12 (dua belas) bulan.
(2) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKRDLB.
BAB XVI
PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI
Pasal 65
(1) Bupati dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi.
(2) Pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi diberikan dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi.
(3) Tata cara permohonan dan pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
BAB XVII
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN
Pasal 66
(1) Atas kelebihan pembayaran Retribusi, wajib retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Bupati.
(2) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan, sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memberikan keputusan.
(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dan ayat (3), telah dilampaui dan Bupati tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengembalian pembayaran Retribusi dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.
(4) Apabila wajib retribusi mempunyai utang Retribusi lainnya, kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang utang Retribusi tersebut.
(5) Pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB.
(6) Jika pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi dilakukan setelah lewat 2 (dua) bulan, Bupati memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pembayaran Retribusi.
(7) Tata cara pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan Peraturan Bupati.
BAB XVIII PENAGIHAN
Pasal 67
(1) Penagihan retribusi terutang yang tidak atau kurang bayar dilakukan dengan menggunakan STRD.
(2) Penagihan retribusi terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), didahului dengan surat teguran.
(3) Pengeluaran surat teguran dilakukan setelah 7 (tujuh) hari sejak tanggal jatuh tempo pembayaran.
(4) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran, wajib retribusi harus melunasi retribusi yang terutang.
(5) Surat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.
(6) Tata cara penagihan dan penerbitan surat teguran diatur dengan Peraturan Bupati.
BAB XIX
KADALUWARSA PENAGIHAN
Pasal 68
(1) Hak untuk melakukan penagihan Retribusi menjadi kedaluwarsa setelah melampaui waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya Retribusi, kecuali jika wajib retribusi melakukan tindak pidana di bidang Retribusi.
(2) Kedaluwarsa penagihan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tertangguh jika:
a. diterbitkan Surat Teguran; atau
b. ada pengakuan utang retribusi dari wajib retribusi, baik langsung maupun tidak langsung.
(3) Dalam hal diterbitkan Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya Surat Teguran tersebut.
(4) Pengakuan utang Retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, adalah wajib retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih mempunyai utang Retribusi dan belum melunasinya kepada Pemerintah Daerah.
(5) Pengakuan utang Retribusi secara tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, dapat diketahui dari pengajuan permohonan angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh wajib retribusi.
BAB XX
PENGHAPUSAN PIUTANG RETRIBUSI
Pasal 69
(1) Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa dapat dihapuskan.
(2) Bupati menetapkan Keputusan Penghapusan Piutang Retribusi kabupaten yang sudah kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Tata cara penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa diatur dengan Peraturan Bupati.
BAB XXI PEMERIKSAAN
Pasal 70
(1) Bupati berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban Retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan retribusi.
(2) Wajib retribusi yang diperiksa wajib :
a. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek retribusi yang terutang;
b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan; dan/atau
c. memberikan keterangan yang diperlukan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan Retribusi diatur dengan Peraturan Bupati.
BAB XXII
INSENTIF PEMUNGUTAN
Pasal 71
(1) SKPD yang melaksanakan pemungutan retribusi dapat diberi insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu.
(2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
(3) Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati berpedoman pada Peraturan Pemerintah.
BAB XXIII
KETENTUAN PENYIDIKAN
Pasal 72
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangkat oleh Pejabat yang berwenang sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
(3) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah :
a.menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
b.meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi, badan sehubungan dengan tindak pidana retribusi daerah;
d.memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah;
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan pencatatan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap barang bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah;
g. menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud dalam huruf e;
h.memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah;
i. memanggil orang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah;
j. menghentikan penyidikan; dan
k.melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
(4) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannnya kepada Penuntut Umum, melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
BAB XXIV KETENTUAN PIDANA
Pasal 73
(1) Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga
3 (tiga) bulan atau pidana denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah Retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah pelanggaran. (3) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan penerimaan
Negara.
BAB XXV
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 74
(1) Pejabat pengawas Dinas PKA, Dinas Kesehatan, Dinas PU, Dinas Perhub Kom Info, Dinas Kependuk dan Capil, Dinas Koperasi, UKM dan Perindag dan RSUD karena fungsi dan tugasnya mengadakan pembinaan dan pengawasan retribusi.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi :
a. pemberian pedoman pengelolaan retribusi;
b. pemberian petunjuk dan langkah operasional pemungutan retribusi; dan
c. pemberian pelatihan bagi petugas pemungut.
(3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
BAB XXVI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 75 Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku :
a. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 5 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Pasar (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 248);
b. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 7 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2003 Nomor 8, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 335) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 19 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 7 Tahun 2003 tentang Retribusi Pelayanan
Kesehatan (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2008 Nomor 28, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 461);
c. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 18 Tahun 2005 tentang Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2005 Nomor 118, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 381);
d. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 19 Tahun 2005 tentang Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2005 Nomor 19, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 382);
e. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 19 Tahun 2006 tentang Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2006 Nomor 19, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 430);
f. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 21 Tahun 2006 tentang Retribusi Penggantian Biaya Administrasi (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2006 Nomor 21, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 432) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 15 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 21 Tahun 2006 tentang Retribusi Penggantian Biaya Administrasi (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2008 Nomor 25, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 457);
g. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 10 Tahun 2008 tentang Retribusi Persampahan/Kebersihan (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 452);
Dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 76
Peraturan Pelaksanaan atas Peraturan Daerah ini ditetapkan paling lambat 1 (satu) tahun sejak Peraturan Daerah ini diundangkan.
Pasal 77
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengatahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Alor.
Ditetapkan di Kalabahi
pada tanggal 31 Desember 2011
Diundangkan di Kalabahi
pada tanggal 31 Desember 2011
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 12 TAHUN 2011
TENTANG
RETRIBUSI JASA UMUM
I. UMUM
Bahwa dalam konteks penyelenggaraan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Dalam perspektif ini berarti Pemerintah Daerah harus terus dimampukan untuk menyelenggarakan Pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan sehingga esensi dan hakekat otonomi daerah dapat diwujudkan.
Bahwa untuk memampukan daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, daerah berhak mengenakan pungutan kepada masyarakat antara lain berupa Retribusi Daerah. Oleh karena pemungutan Retribusi Daerah harus didasarkan pada ketentuan Perundang-undangan yang berlaku, maka Peraturan Daerah ini disusun.
Bahwa pemungutan Retribusi Daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang kemudian ditindaklanjuti dengan pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah, telah dinyatakan tidak berlaku seiring dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah telah terjadi diversifikasi jenis dan objek retribusi daerah, dimana daerah diberi kewengan untuk memunggut
3 (tiga) objek retribusi yakni Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha, dan Retribusi Perizinan Tertentu.
Bahwa tentang Retribusi Jasa Umum yang oleh Pemerintah Pusat menyerahkan kepada Daerah untuk memungut berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 terdiri dari 14 (Empat Belas) jenis, namun 4 (Empat) diantaranya yakni Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat, Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran, Retribusi Pengolahan Limbah Cair, dan Retribusi Pelayanan Pendidikan, tidak diatur dalam Peraturan Daerah ini karena potensinya tidak memadai. Dengan demikian Retribusi Jasa Umum yang dipungut di daerah adalah 10 (Sepuluh) jenis Retribusi. Penetapan tarif tetap mengacu pada prinsip penetapan tarif Retribusi Jasa Umum sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. Hal ini dimaksudkan dalam rangka menjaga kestabilan iklim investasi serta menghindari adanya tumpang tindih pemungutan antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah.
Bahwa pengaturan tentang Retribusi Daerah sebelumnya tersebar dalam berbagai Peraturan Daerah dimana satu jenis Retribusi diatur dengan satu Peraturan Daerah, maka dalam rangka efektifitas dan efisiensi penyusunan
produk hukum, pengaturan tentang Retribusi Daerah saat ini dari 10 (Sepuluh) jenis Retribusi Jasa Umum hanya diatur dengan 1 (satu)
Peraturan Daerah. Hal ini dimaksudkan agar tidak membingungkan Instansi pemungut dan/atau petugas pemungut serta masyarakat/Badan yang diposisikan sebagai subjek Retribusi.
Bahwa dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka telah ada kepastian hukum dalam pelaksanaan pemungutan Retribusi Daerah tanpa mengabaikan aspek keadilan dan kemanfaatan Hukum.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas. Pasal 2
Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas.
Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 34 Cukup jelas. Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas.
Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 40 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas. Pasal 49 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Pasal 52 Cukup jelas. Pasal 53 Cukup jelas. Pasal 54 Cukup jelas. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas.
LAMPIRAN I
PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 12 TAHUN 2011
TENTANG RETRIBUSI JASA UMUM STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN
I. RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT BERGERAK
NO JENIS PELAYANAN KOMPONEN TARIF TOTAL (Rp) JASA RUMAH SAKIT (Rp) JASA PELAKSANA (Rp) A. RAWAT JALAN 1 Kunjungan Pertama 2.000 1.000 3.000 2 Kunjungan Ulang 1.500 1.000 2.500 B. PENGUJIAN KESEHATAN
1 Pemeriksaan Kesehatan Untuk Sekolah 3.000 1.000 4.000
2 Pemeriksaan Kesehatan untuk Bekerja 4.000 3.000 7.000
3 Pemeriksaan Kesehatan untuk Asuransi Jasa Raharja 15.000 15.000 30.000
4 Pemeriksaan Kesehatan untuk Keterangan Sakit/Istirahat 3.500 5.000 8.500
5 Pemeriksaan Kesehatan untuk Keterangan Cuti 3.500 5.000 8.500
6 Pemeriksaan Kesehatan untuk SIM 5.000 5.000 10.000
7 Pemeriksaan Kesehatan untuk Bebas Narkoba 3.000 2.000 5.000
8 Pemeriksaan Kesehatan untuk Bebas Buta Warna 3.000 2.000 5.000
9 Pemeriksaan Kesehatan untuk Calon Haji 3.000 2.000 5.000
10 Pemeriksaan Kesehatan untuk Calon Legislatif 30.000 20.000 50.000
11 Pemeriksaan Kesehatan untuk Calon Pejabat Struktural 65.000 35.000 100.000
12 Pemeriksaan Kesehatan untuk Calon Bupati dan Wakil Bupati 125.000 25.000 150.000
13 Pemeriksaan Kesehatan untuk PNS (100%) 15.000 10.000 25.000
14 Visum Et Repertum 3.000 2.000 5.000
C. DARURAT MEDIK
1 Darurat Medik 6.000 5.000 11.000
Pasien Darurat Medik yang perlu observasi medik lebih dari 6 Jam dikenakan tarif 1 hari penuh sebagaimana berlaku untuk pasien rawat inap Kelas II (dua).
A. RAWAT INAP
NO KOMPONEN TARIF
KELAS I
(Rp) (Rp) II (Rp) III
1 Jasa Rumah Sakit 90.000 65.000 25.000
2 Jasa Dokter Spesialis 40.000 25.000 10.000
3 Jasa Dokter Umum 30.000 15.000 5.000
4 Jasa Keperawatan 20.000 10.000 2.500
JUMLAH 180.000 115.000 42.500
NO KOMPONEN TARIF I KELAS
(Rp) (Rp) II (Rp) III
1 Jasa Dokter Umum 10.000 5.000 1.000
2 Jasa Dokter Spesialis 15.000 10.000 2.500
3 Jasa Keperawatan 4.000 2.000 1.000
JUMLAH 29.000 17.000 4.500
Tarif perawatan bayi bersama ibu yang melahirkan ditetapkan sebagai berikut: Bayi baru lahir yang dirawat bersama ibunya (Rooming In) ditetapkan sebesar 50% (lima puluh prosen) dari tarif jasa rumah sakit ditambah jasa Dokter dan jasa Perawat sesuai kelas perawatan ibunya.
Bayi baru lahir yang memerlukan perawatan tersendiri diruang perinatologi ditetapkan per-hari sesuai dengan kelas perawatan ibunya serendah-rendahnya tarif rawat inap Kelas II (dua).
Perawatan di ruang pemulihan ditetapkan sebesar 1 (satu) hari tarif perawatan sesuai kelas perawatanya.
Tarif Perawatan pada ruang HCU
No Jenis Pelayanan Jasa Rumah Sakit (Rp) Jasa Pelaksana TOTAL (Rp) Dokter Spesialis (Rp) Dokter Umum (Rp) Perawat (Rp) A. KEPERAWATAN
1 Minimal Care per hari rawat (Observasi/tindakan setiap 3 jam)
189.000 - - 120.000 309.00
2 Partial Care per hari rawat (Observasi/tindakan setiap 1 - 2 jam)
189.000 - - 180.000 369.000
3 Total care per hari rawat (Observasi/tindakan setiap 15 menit sampai 1 jam)
189.000 - - 360.000 549.000
B. MEDIS
1 Visite Dokter per hari - 100.000 50.000 - 150.000
2 Memerlukan
konsultasi/pemeriksaan dokter jaga, per shif jaga
4.500 50.000 25.000 - 79.500
3 Konsultasi antar dokter Spesialis sekali Konsul
4.500 25.000 - - 29.500
C. DOKUMEN MEDIK
1 1 (Satu) paket 15.000 - - - 15.000
D. PENUNGGU PASIEN
1 Penunggu Pasien 10.000 - - - 10.000
Pasien rawat inap yang dirawat oleh dokter umum/dokter spesial bersama dokter spesial lain biaya perawatannya ditambah jasa dokter spesial pendamping sesuai kelas perawatannya.
Lama hari perawatan dihitung sebagai berikut :
Hari perawatan dihitung sejak pasien masuk sampai 24 (dua puluh empat) Jam pertama, dihitung 1 (satu) hari, 24 (dua puluh empat) Jam ke 2 (dua) dihitung 2 (dua) hari dan seterusnya.
Pasien yang dirawat dan pulang lebih dari 7 (tujuh) Jam kurang dari 24 (dua puluh empat) Jam diitung 1 (satu) hari, kurang dari 7 (tujuh) Jam tidak dihitung.
Kelebihan Jam rawat setiap hari, lebih dari 7 (tujuh) Jam dihitung 1 (satu) hari, kurang dari 7 (tujuh) Jam tidak dihitung.