I f
Rid
M k
Irfan Ridwan Maksum
A.
Pendahuluan
B.
Kedudukan Menteri
edudu a
e te
C.
Menteri Sebagai Pimpinan Puncak Birokrasi
Kementerian
D.
Materi Persetujuan Menteri
E.Standard Prosedur Operasional
F.Aransemen Kelembagaan Bromley
g
y
G.Contoh 1 dan 2
`
Membahas surat persetujuan pejabat dalam
organisasi negara bangsa, tidak bisa
g
g
g ,
dilepaskan dari pembahasannya mengenai
kedudukan, tugas, dan fungsi-nya dalam
organisasi tersebut.
`
Dalam kacamata ilmu administrasi negara,
bahkan tidak dapat dilepaskan dari aspek
manajemen leadership dan birokrasi negara
manajemen, leadership, dan birokrasi negara.
`
Surat persetujuan pada dasarnya adalah
standardisasi dan birokratisasi dalam negara
bangsa.
`
Menteri adalah kepala lembaga Kementerian.
`Dalam organisasi Kementerian, seorang
a a o ga sas e e te a , seo a g
menteri adalah top administrator. Pimpinan
Puncak.
`
Di Indonesia, menteri juga adalah pembantu
presiden sebagai kepala pemerintahan, sesuai
ruang lingkup tugasnya. Dalam hal ini,
i
j di
j
d l
menteri menjadi manajer atas dalam
organisasi pemerintahan.
`
Tugas menteri berkaitan dengan hal yang
`
Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945
Republik Indonesia Tahun 1945,
Pasal 17 menyatakan dalam
melaksanakan tugasnya Presiden
dibantu oleh para menteri yang
diwadahi dalam kementerian
diwadahi dalam kementerian
negara.
`
Proses kebijakan publik-pun banyak
ditentukan oleh peran Menteri dan
p
kementeriannya, baik dalam tahapan
perumusan maupun implementasi kebijakan
yang sejatinya diputuskan oleh kepala
pemerintahan.
`
Bahkan Kebijakan yang diputus oleh lembaga
legislatif pun seringkali dipengaruhi oleh
legislatif-pun seringkali dipengaruhi oleh
peran menteri dan kementeriannya.
`
Menteri dan kementeriannya memiliki
` Kekuasaan Menteri sangat menentukan birokrasi
sebuah negara bangsa.
` Dalam kepentingan internal kementeriannya,
kekuasaan Menteri adalah penggerak, pengarah dan pengendali manajemen kementeriannya.
` Dalam kepentingan negara secara keseluruhan,
kedudukan menteri dan kementeriannya menjadi stategis tergantung dari disain sistem hukum yang berlaku.
` Disain hukum kita mengenai posisi Menteri, lebih
banyak mengarah kepada pejabat administratif, tetapi perilaku politik kita menunjukkan sebagai pejabat politik karena pengisiannya bersifat politis.
`
Kedudukannya makin kuat,
k
i t
h k
karena sistem hukum yang
ada acapkali disusun dan
dikembangkan oleh karena
adanya peran Menteri dan
Kementeriannya tersebut,
sesuai kedudukan birokrasi
sebuah negara bangsa.
`
Produk hukum kita lebih memberi peluang
besar pada kekuasaan Menteri untuk
p
berperan dalam pengaturan (regulasi).
`
Menteri memiliki “policital authority’ juga,
terbukti dengan adanya produk peraturan
menteri, meskipun tidak masuk dalam tata
urut peraturan perundangan. Karena
produk di atasnya memberi amanat, maka
berlaku pula peraturan menteri ini.
` Idealnya, Menteri lebih tepat diamanatkan untuk
produk keputusan-keputusan yang bersifat “beschikking” (penetapan).
` Menteri adalah pejabat negara yang memiliki
kekuasan dalam arena “administrative authority”.
` Pejabat di atasnya lah yang memiliki “political
authority”. Dia bertanggungjawab kepada
atasannya tersebut. Oleh karena itu, persetujuan y O , p j Menteri adalah “beschikking”, dan pengaturannya harus dikeluarkan oleh pejabat atasannya.
` Dalam sebuah negara, pada lingkup makro,
persetujuan menteri adalah birokratisasi negara bangsa. Birokratisasi memiliki efek standardisasi, keteraturan, dan hirarki wewenang.
` Dalam lingkup mikro, efek dari kebijakan
pemerintah, ke dalam internal kementerian
persetujuan menteri merupakan beban tugas yang menyerap sumberdaya tersendiri.
` Dampak internalnya, adalah Menteri sendiri
akhirnya harus menyiapkan perangkat,
sumberdaya, nilai-nilai acuan, dan standar operasi teknis dari kegiatan tersebut.
` Persoalannya, persetujuan menteri harus juga
didasari oleh perangkat hukum yang kuat. Jika persetujuan menteri ini tidak diatur terlebih dahulu maka akan menjadi dasar berkembangnya
bureaucratic rente dalam sebuah negara bangsa.
` Persetujuan menteri seharusnya cocok untuk
kepentingan internal kementerian bukan kepentingan makro, misal: kenaikan pangkat
b h i l
bawahannya, penganggaran internal, aset
kementeriannya, dll. Kegiatan di level internal ini seringkali diwujudkan melalui keputusan menteri.
`
Dalam hal ini, akhirnya tidak
dapat dibedakan antara
dapat dibedakan antara
keputusan menteri untuk
kepentingan internal organisasi
kementeriannya dan keputusan
menteri untuk kepentingan
menteri untuk kepentingan
eksternal akibat kebijakan yang
lebih tinggi.
` Jika kepentingan makro, seharusnya persetujuan
kepala pemerintahan.
` Agar menteri terlibat, perlu dikembangkan
mekanisme pelimpahan persetujuan kepala pemerintahan tersebut kepada Menteri.
` Oleh karena itu dasar hukum persetujuan menteri
adalah pelimpahan kekuasaan persetujuan kepala pemerintahan yang diatur oleh kepala
pemerintahan.
` Terjadi BIROKRATISASI, tetapi untuk standardisasi
dan jaminan keahlian dalam kacamata ilmu administrasi, tidak mengapa alias wajar.
` Dalam hal ini, perlu produk hukum yang
mengatur perihal peran Menteri dalam memberikan persetujuan yang sebetulnya adalah wewenang Kepala Pemerintahan karena materinya menyangkut aspek makro negara.
` Hal ini diperlukan agar terlepas dari unsur
subyektifitas. Disamping itu, di satu sisi, kepala pemerintahan sendiri harus mengawasinya Di pemerintahan sendiri harus mengawasinya. Di sisi lain, Menteri yang bersangkutan-pun berkewajiban melaporkan tugas fungsi terkait pemberian persetujuan tersebut kepada
atasannya.
`
Dalam pengaturan yang menjadi dasar
bagi pelimpahan wewenang
bagi pelimpahan wewenang
persetujuan tersebut, harus jelas
diatur mengenai standar, materi, dan
arah dari pelimpahan.
`
Dasar hukum tersebut merupakan SOP
d l
li
h
dalam pelimpahan wewenang
persetujuan dari atasan Menteri
kepada Menteri yang relevan dengan
tugas dan bidangnya.
` Dalam teori Bromley, jenjang strategis ditopang
oleh jenjang organisasional dan operasional.
` Persetujuan menteri dalam kacamata Bromley
tersebut, mengisi jenjang operasional.
` Logika Bromley, membawa pemahaman bahwa
tidak semua materi dapat dikembangkan
persetujuan menteri dalam sebuah negara bangsa karena pertimbangan besarnya organisasi.
` Semakin besar Organisasi, dan semakin rumit
materi yang ditangani, maka semakin mungkin dapat dikembangkan mekanisme persetujuan menteri.
` Salah satu urusan yang tercantum dalam
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang
k d b d
kementerian Negara yaitu urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara yang kemudian diwadahi dalam Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PAN dan RB).
` Dalam UU tersebut, Kementerian PAN dan RB
di tk i t b t P id
dimanatkan mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan urusan di bidang
pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi dalam pemerintahan.
` Salah satu urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara
dan reformasi birokrasi adalah kelembagaan. Dalam melaksanakan wewenang tersebut Menteri PAN dan RB melaksanakan wewenang tersebut, Menteri PAN dan RB berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 53 Tahun 2010. Pada Pasal 35 ayat (1) juncto. Pasal 36 ayat (1) menyatakan “setiap perubahan/penyempurnaan organisasi dan/atau pembentukan kantor/satuan kerja dalam lingkungan kementerian/lembaga harus terlebih dahulu mendapat persetujuan tertulis menteri yang berwenang di bidang pendayagunaan aparatur negara”.
`
Frasa “persetujuan tertulis” sebagaimana
dimaksud dalam Keputusan Presiden tersebut
p
menjadi dasar bagi Menteri PAN dan RB
dalam memberikan persetujuan maupun
penolakan terhadap pembentukan dan/atau
penataan organisasi kementerian/lembaga.
Persetujuan tertulis tersebut, diformulasikan
dalam bentuk “surat” Menteri PAN dan RB
dalam bentuk surat Menteri PAN dan RB.
`
Dengan UU yang baru, statuta universitas
`Dengan UU yang baru, statuta universitas
ditetapkan langsung dengan PP oleh
Presiden. Undang-undang sangat tidak
memperhatikan materi persoalan universitas
dalam dunia pendidikan, struktur dalam
dunia pendidikan, dan banyaknya universitas
di b h
b
ti I d
i
di sebuah negara bangsa seperti Indonesia.
`
Amatlah baik jika statuta PT ditentukan oleh
menteri. Ini adalah bentuk persetujuan
menteri yang tidak dianut dalam UU
pendidikan nasional tadi.
`
Tidak dapat dihindari proses penjaminan
kualitas birokrasi negara dilimpahkan dari
g
p
jenjang atas ke jenjang bawah yang lebih
mengetahui persoalan operasional dan
teknis.
`
Yang perlu diperhatikan adalah tata kelola
pengaturan proses pelimpahan tersebut
harus dikembangkan untuk menghindari
harus dikembangkan untuk menghindari
bureaucratic rente
.
`
Nampak perlu dasar hukum pelimpahan
` Perlu dibedakan antara Menteri sebagai kepala
lembaga kementerian yang menjadi pengatur,
d l d h
pengendali, dan pengarah organisasi/ manajemen internalnya dengan Menteri sebagai pembantu Presiden (kepala pemerintahan) sesuai bidang-bidang substansial makro negara bangsa yang dibebankan kepadanya.
` Dalam sisi internal, menteri adalah Pengatur
i i k li hi f ti i
organisasi sekaligus chief executive organizer. Dalam sisi eksternal makro, Menteri adalah pelaksana kebijakan Pemerintah.
`
Meskipun dalam praktek, mengatur menteri
sebagai kepala lembaga kementerian dan
g
p
g
sebagai pembantu presiden (kepala
pemerintahan), juga akhirnya membutuhkan
uluran tangan Menteri juga.
`