• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perubahan paradigma pembangunan dari sentralistik menjadi desentralistik merupakan suatu manesfestasi dari proses reformasi politik orde baru yang otoriter ke orde reformasi yang demokratis. Perubahan paradigma dimaksud tidak lain bertujuan untuk menciptakanGood GoverancedanClean Govermentmenuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Pendekatan pembangunan orde baru yang sentralistik memposisikan Pemeritah Pusat sebagai Top Leader dalam pengambilan setiap keputusan terhadap berbagai kebijakan yang selalu mementingkan kepentingan pusat tanpa mempertimbangkan kepentingan daerah dan masyarakat pada umumnya, sehinga menyebabkan berbagai ketimpangan-ketimpangan baik secara spasial, ekonomi, politik dan sosial budaya. Dikatakan Hadi (2001) bahwa kebijakan pembangunan sentralistik menekan pada pertumbuhan ekonomi serta pencapaian kondisi politik keamanan yang sangat terkendali, secara spatial ternyata telah menambah tingkat ketimpangan wilayah.

Semakin besarnya peranan pemerintah pusat, karena pusat menguasai dan mengontrol hampir semua sumber-sumber penerimaan daerah termasuk penerimaan yang berasal dari potensi sumberdaya alam, daerah pertambangan, minyak bumi, gas alam, kehutanan, perkebunan dan perikanan. Akibatnya timbul ketimpangan vertikal (vertical imbalance) antara pusat dan daerah penghasil sumberdaya alam. Selain itu karena belum terukurnya mekanisme pengalokasian transfer kepada daerah menyebabkan timbul ketimpangan horisontal (horisontal imbalance)antara suatu daerah ke daerah yang lain sehingga dapat menyebabkan krisis multidimensi dan disintegrasi bangsa (Intan, 2008).

Gerakan reformasi 1997 yang dipelopori oleh mahasiswa untuk membuat suatu perubahan menuju suatu demokrasi baik secara politik maupun ekonomi. Pada masa inilah lahirlah kebijakan otonomi daerah atau desentralisasi yang

(2)

aturan pelaksanaanya diatur dalam dua produk undang yaitu undang-undang otonomi daerah dan undang-undang-undang-undang tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah.

Menurut Juanda (2007) pemberlakuan kebijakan otonomi daerah atau desentralisasi membuka peluang bagi Provinsi, Kabupaten/Kota untuk melakukan pemekaran daerah. Di Indonesia sendiri perkembangan jumlah daerah otonom baru mengalami peningkatan yang cukup besar sejak otonomi daerah 2001 sampai tahun 2008 jumlah keseluruhan di Indonesia yaitu 33 Propinsi dan Kabupaten Kota 486 Daerah Otonom, yang terdiri dari 397 Kabupaten dan 92 Kota selain itu khusus untuk Propinsi DKI Jakarta terdiri dari 1 Kabupaten Administrasi dan 5 Kota Administrasi. Perkembangan daerah otonom baru dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini :

Tabel 1 Pekembangan Pemekaran Daerah di Indonesia (1999-2008)

Tahun Provinsi Kabupaten Kota Kab/Kota

Sebelum 1999 26 234 59 293 1999 1 34 9 43 2000 - - - -2001 - - 12 12 2002 1 33 4 27 2003 1 47 2 49 2004 1 - - -2005 - - - -2009 - - - -2007 - 21 4 25 2008 - 28 2 30 Daerah Baru 1999 – 2008 7 163 33 196 Total 33 397 92 489

Total dengan DKI 33 398 97 495

Sumber : Juanda, 2008

Perkembangan daerah otonom baru terus mengalami peningkatan setelah pemilihan umum tahun 1999 Daerah Otonom baru di Indonesia makin bertambah sebanyak 205 daerah, terdiri dari 7 provinsi, 165 kabupaten dan 33 kota, sehingga pada tahun 2009 daerah otonom berjumlah 524 daerah yang terdiri dari 33 provinsi, 398 kabupaten 93 kota (Juanda, 2009)

Kabupaten Kepulauan Aru merupakan salah satu dari 3(tiga) kabupaten pemekaran baru di Propinsi Maluku yang didukungan oleh masyarakat dan DPRD Propinsi Maluku melalui Surat Nomor 10 Tahun 2002 Tanggal 7 Oktober

(3)

2002 Tentang Persetujuan Pembentukan Kabupaten Kepulauan Aru dan Keputusan DPRD Maluku Tenggara sebagai Kabupaten Induk Nomor 13/DPRD.K.MT/2000 Tanggal 5 Mei 2000 Tentang Pemberian Dukungan Pembentukan Kabupaten Kepulauan Aru maka, dibuatlah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Seram Bagian Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur dan Kabupaten Kepulauan Aru di Propinsi Maluku sebagai awal lahirnya Kabupaten Kepulauan Aru.

Potensi sumberdaya alam Kabupaten Kepulauan Aru sangat potensial dan signifikan, antara lain: potensi perikanan merupakan sektor andalan menghasilkan produksi ikan dan non ikan sebesar 792.230 Ton/Tahun dengan nilai sebesar Rp. 45.138.150.000. Potensi Perkebunan Kabupaten Kepulauan Aru dapat dilihat dari lahan yang sudah digunakan seluas 24.747 Ha dengan jumlah produksi 22.791 ton/thn. Dengan komoditas unggulan adalah kelapa rakyat. Potensi Pertanian pangan, hotikultura dan buah-buahan memiliki lahan potensial seluas 361.517 Ha. Potensi Kehutanan dapat dibagi dalam hutan konservasi seluas 76.612 Ha, hutan lindung seluas 17.224 Ha, hutan produksi terbatas seluas 1.087 Ha dan hutan produksi konservasi seluas 408.684 Ha (Bappeda,2007).

Sumberdaya alam yang memadai sebagai daerah otonom baru Kabupaten Kepulauan Aru memberikan peluang dan kemandirian dalam membangun daerahnya dengan berpijak pada prinsip-prinsip pemerataan, keadilan dan pembangunan secara berkelanjutan dan bertangungjawab untuk memanfaatkan potensi ungulan dan sumberdaya lokal secara efektif dan efisien demi tercapainya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di bumi Jargaria.

Sejak pemekaran wilayah Kabupaten Kepulauan Aru memiliki perkembangan sangat signifikan dalam bidang pembangunan manusia jika dibandingkan dengan Kabupaten/Kota di Propinsi Maluku. Menurut Badan Pusat Statistik (2006), tercatat bahwa secara rata-rata angka IPM Kabupaten Kepulauan Aru tahun 2006 sebesar 68,5. pada tahun 2004 dan tahun 2005 IPM Kabupaten Kepulauan Aru masing-masing sebesar 67,9 dan 68,3. Selain itu jika dibandingkan dengan rata-rata IPM Propinsi Maluku maka, Kabupaten Kepulauan Aru dengan Propinsi Maluku dapat dikategorikan menengah keatas. untuk kategori angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan

(4)

pengeluaran perkapita yang disesuaikan. Hal ini terjadi karena IPM Kabupaten Kepulauan Aru berada diatas 66 dan kurang dari 80 dan jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Propinsi Maluku Kabupaten Kepulauan Aru memiliki rangking ke 3 dari 8 kabupaten/kota .

Namun yang membedakan kedua wilayah jika dibandingkan selama kurun waktu 2004-2006, aspek pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Kepulauan Aru kalah cepat dibandingkan dengan pembangunan kesehatan di wilayah Provinsi Maluku secara keseluruhan, sedangkan aspek pembangunan ekonomi di Kabupaten Kepulauan Aru lebih cepat perubahannya dibandingkan dengan pembangunan aspek yang sama di Provinsi Maluku yang sebetulnya merupakan cerminan rata-rata Kabupaten/Kota di daerah ini.

Menurut Juaanda dan Tuaerah (2007) Tujuan pemekaran daerah yang memiliki suatu pemerintahan otonom adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menciptakan daerah makin mandiri dan demokratis. Meskipun pada dasarnya tujuan akhir dari pemekaran adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai peningkatan performace diatas akan tetapi tujuan pemekaran tersebut nampaknya tujuan peningkatan transfer dana pemerintah menjadigidden goaldaerah baru.

Disamping itu pemekaran daerah seharusnya ditujukan untuk peningkatan pelayanan publik. Namun yang terjadi adalah kepentingan politik sering lebih dominan dalam proses pemekaran, sehingga mengakibatkan pelulusan daerah pemekaran sering diwarnai indikasi adanya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Kepentingan substantif berupa pelayanan masyarakat, efisiensi penyelenggaraan pemerintahan, dan dukungan terhadap pembangunan ekonomi pun mempunyai potensi besar untuk tidak diharukan.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka perlu dianalisis sejauh mana manfaat pemekaran wilayah Kabupaten Kepulauan Aru terhadap perekonomian wilayah dan kesejahteraan masyarakat.

1.2. Perumusan Masalah

Kebijakan desentralisasi dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dilatar belakangi oleh kebijakan pembangunan yang sentralistik, ketimpangan antara

(5)

wilayah dan kebijakan yang salah arah (missleading policy) sehingga terjadinya krisis ekonomi, ketimpangan antara wilayah, rapuhnya pembangunan karena ketidak ada keterkaitan antar wilayah serta pengurasan sumberdaya alam yang berimplikasi pada kemiskinan, ancaman disintegrasi, ketidakadilan dan bencana alam/degradasi lingkungan yang pada gilirannya menciptakan ketidakstabilan (instability)sosial ekonomi (Anwar, 1988).

Dampak dari pemberlakuan otonomi daerah memberikan peluang bagi pemekaran daerah kabupaten/kota dan juga provinsi mengalami peningkatan yang signifikan meskipun seringkali kurang didasarkan pada kerangka perencanaan tertentu. Walaupun masalah pemekaran dan kriterianya sudah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 Tentang Kriteria Pemekaran dan Prasyarat Pembentukan, Penghapusan Dan Penggabungan Daerah yang kemudian diperbaharui dengan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah.

Pemekaran wilayah juga dapat memberikan dampak yang negatif antara lain; 1) membebani APBN yang pada akhirnya dibayar dengan berbagai macam pajak atau pengurangan subsidi terhadap kebutuhan tertentu, 2) Apabila dijadikan sebagai alat komoditas politik akan menyebabkan konflik laten, misalnya; pemilihan gubernur Maluku Utara dan pembentukan Provinsi Tapanuli, 3) Kentalnya sikap parsial, primodialisme dan sukuisme, 4) Terjadinya praktek KKN sebagai dampak dari meningkatnya dana transfer berupa dana perimbangan dari pemerintah pusat.

Departemen Dalam Negeri dalam evaluasinya pada tahun 2005 (2 Provinsi, 40 Kabupaten dan 15 Kota baru) terdapat berbagai masalah, antara lain: Aset daerah induk yang belum diserahkan ke daerah pemekaran sampai letak ibu kota yang masih belum pasti. 87,71 persen daerah induk belum menyelesaikan P3D (Pembiayaan, Personil, Peralatan, dan Dokumen). 79 persen daerah otonomi baru belum memiliki batas wilayah yang jelas. 89,48 persen daerah induk belum memberikan dukungan dana kepada daerah otonomi baru. 84,2 persen pegawai negeri sipil (PNS) sulit dipindahkan dari daerah induk ke daerah pemekaran, 22, 8 persen pengisian jabatan tidak berdasarkan standar kompentensi dan 91,23 persen daerah otonom baru belum mempunyai rencana tata ruang (Juanda 2008)

(6)

Menurut Juanda dan Tuareah (2007), Tujuan ideal dari pemekaran wilayah adalah dapat diwujudnyatakan melalui peningkatan profesionalisme birokat daerah untuk dapat menyelengarakan pemerintahan yang efektif dan efisien serta dapat meningkatkan pelayanan dasar publik, menciptakan kesempatan lebih luas untuk masyarakat dan dapat akses langsung pada unit-unit pelayanan publik yang tersebar dengan mudah dijangkau oleh masyarakat perdesaan maupun kota.

Lebih lanjut dikatakan manfaat pemekaran wilayah salah satunya adalah efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumberdaya alam sehingga dapat menigkatkan jumlah penerimaan daerah serta mempermudah alokasi pengunaan dana untuk kepentingan publik (Juanda, 2007).

Kabupaten Kepulauan Aru sebelum pemekaran wilayah merupakan wilayah pengembangan Gugus Pulau III di dalam wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, yang secara administrasi terdiri dari 1 (satu) kecamatan yaitu Kecamatan Pulau-Pulau Aru yang wilayah kerjanya meliputi 199 Desa/Kelurahan, sehinga dapat dikatakan berdasarkan pengamatan dan kondisi rill dilapangan pada tahun 2001 Gugus Kepulauaan Aru mencatat pertumbuhan ekonomi sampai 6% diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi daerah lain.

Namun demikian kondisi pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Gugus Pulau-pulau Aru sebelum pemekaran, tidak dibarengi dengan perubahan dan pembangunan seosial ekonomi masyarakat lokal. bahkan secara realistis tidak membawa perubahan yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat, Malaingkan terjadinya persoalan-persoalan sosial-ekonomi antara lain; 1). Pelayanan pemerintahan tidak efektif dan efisien yang disebabkan oleh jauhnya rentang kendali pemerintahan; 2). Kesenjangan dan kebocoran wilayah(regional linkages) sebagai akibat dari aliran sumberdaya alam, aliran sumberdaya manusia (brain drain), aliran sumberdaya fanainsal (capital outflow), aliran sumberdaya informasi dan aliran kekuasaan mengalir keluar atau ke pusat pertumbuhan atau dikenal sebagai fenomena backwash mengalir keluar dalam hal ini di Kabupaten Maluku Tenggara dan luar propinsi Maluku; 3). Infrastruktur sangat terbatas; 4). Tingkat kemiskinan yang cukup tinggi, dan 5). Degradasi sumberdaya alam didalam wilayah Gugus Kepulauan Aru.

(7)

Setelah dimekarkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kepulauan Aru mengalami tren yang positif, dimana pada tahun kelima pasca pemekaran wilayah, PDRB Kabupaten Kepulauan Aru menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007 tercatat sebesar 295.960,89 juta rupiah. Bila dibandingkan dengan tahun 2006 yang tercatat sebesar 264.569,29 juta rupiah maka terdapat kenaikan sebesar 31.391,60 juta rupiah atau 11,87% dan sektor primer yang terdiri dari sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian masih mendominasi struktur ekonomi Kabupaten Kepulauan Aru. Atas Dasar Harga Konstan 2000 PDRB Kabupaten Kepulauan Aru Tahun 2007 tercatat sebesar 178.216,49 juta rupiah, sedangkan tahun 2006 tercatat sebesar 168.974,53 juta rupiah atau naik sebesar 5,47% (BPS 2007).

Disisi lain pertumbuhan ekonomi yang positif tidak dibarengi dengan penurunan tingkat kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Aru pada tahun 2005 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Kepulauan Aru adalah 30.370 jiwa atau bila dipersentasikan dari angka penduduk Kabupaten Kepulauan Aru hasil registrasi menunjukkan angka 41,32 persen, Indikasi lain yang menunjukkan kemiskinan penduduk adalah besarnya porsi pengeluaran makanan terhadap total pengeluaran yang dibelanjakan sebulan, dimana penduduk Kabupaten Kepulauan Aru memiliki angka sebesar 68,52 persen. Kondisi ini sebenarnya masih dapat dibiarkan karena sesuai angka yang dicapai tersebut dan dibandingkan dengan kriteria Bank Dunia masih dalam batas kewajaran yaitu masih merata (BPS 2006). Walaupun pertumbuhan ekonomi berada pada trent yang positif namun juga terdapat persoalan-persoalan pembangunan yang harus mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah, antara lain; 1). Tingkat kemiskinan yang cukup tinggi sebesar 41,32 persen; 2). Aksesbilitas pelayanan dasar terbatas seperti sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan dan air bersih; 3). Terbatasnya infrastruktur jalan, jembatan dan sarana prasarana transportasi; 4). Belum optimalnya sistim kelembagaan pemerintahan, hukum dan HAM; 5). Belum optimalnya kinerja fiskal daerah dalam meningkatan PAD; 6). Terbatasnya personil dalam jabatan struktural maupun fungsional dalam meningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Pasca pemekaran wilayah pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Aru telah berbenah diri dalam memperbaiki perekonomian daerah dengan berbagai

(8)

program-program pembangunan di segala bidang guna mengatasi persoalan-persoalan pembangunan diatas. Hal ini tertuang dalam Visi Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Kepulauan Aru Tahun 2006-2011 antara lain terciptanya kondisi yang memungkinkan proses percepatan pembangunan berdasarkan keunggulan spasial dan potensi lokal dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam mewujudkan Visi, maka Misi Jangka Menengah Kabupaten Kepulauan Aru 2006-2011 adalah; 1). Mewujudkan stabilitas sosial, ekonomi, politik, pemerintahan, hukum dan HAM, serta keamanan melalui konsolidasi institusi dan sumberdaya; 2). Mewujudkan ketersediaan infrastruktur secara merata dan berkeadilan berdasarkan standar kebutuhan pembangnan minimum; serta 3). Mewujudkan ketersediaan sumber-sumber pembiayaan pembangunan secara memadai dan berkelanjutan (Bappeda 2006).

Disamping itu agar pembangunan lebih terarah dan tercapainya otonomisasi daerah secara nyata dan bertanggungjawab maka terdapat 10 periotas pembangunan jangka menengah Kabupaten Kepulauan Aru, antara lain; 1). Penataan Kelembagaan Pemerintah Kabupaten; 2). Penataan Kelembagaan dan Sistim Politik; 3). Penataan dan Penyediaan Infrasruktur Sosial dan Ekonomi serta Fasilitas Publik Lainnya; 4). Penataan Ruang; 5). Penataan Sistim Ekonomi Kabupaten; 6). Penataan Sistim dan Kelembagaan Sosial Budaya; 7). Penataan Sistim Kelambagaan Pendidikan dan Kesehatan; 8). Penataan Sistim Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan; 9). Penataan Kelembagaan dan Sistim Pertahanan dan Keamanan Wilayah terutama Kawasan Perbatasan Negara; serta 10). Penataan Kelembagaan Hukum dan HAM (Bappeda 2006).

Adanya sistim perencanaan pembangunan daerah yang sistematis dan terkoordinasi dengan baik maka sangat diharapkan tercapainya tujuan pemekaran wilayah Kabupaten Kepulauan Aru dalam meningkatkan perekonomian daerah, pemanfaatan kewenangan desentralisasi fiskal secara efektif dan efisien, mengelola sumberdaya wilayah secara berkelanjutan serta pelayanan masyarakat secara efektif dan efisien menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera. Penelitian ini mencoba mengetahui Dampak Pemekaran Kabupaten Kepulauan Aru dari Kabupaten Maluku Tenggara sebagai Kabupaten Induk terhadap Perkembangan Perekonomian Wilayah sebelum dan setelah pemekaran wilayah.

(9)

Permasalahan utama tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana dampak pemekaran wilayah terhadap perkembangan perekonomian wilayah dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru.

2. Bagaimana dampak pemekaran terhadap perkembangan Kapasitas Fiskal Kabupaten Kepulauan Aru.

3. Bagaimana perkembangan sektor-sektor perekonomian wilayah yang potensial dikembangkan di Kabupaten Kepulauan Aru setelah pemekaran.

4. Bagaimana persepsi antar Stakeholder (Pemangku Kepentingan) terhadap distribusi manfaat dan pengambilan kebijakan setelah pemekaran wilayah. 1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan permasalahan diatas maka, penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengkaji dampak pemekaran wilayah terhadap perkembangan Perekonomian Wilayah dan Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru.

2. Mengkaji dampak pemekaran wilayah terhadap perkembangan Kapasitas Fiskal Kabupaten Kepulauan Aru.

3. Mengkaji perkembangan sektor-sektor perekonomian yang potensial dikembangkan bagi perekonomian wilayah di Kabupaten Kepulauan Aru setelah pemekaran.

4. Mengkaji Persepsi Antar Stakeholder (Pemangku Kepentingan) terhadap distribusi manfaat dan pengambilan kebijakan setelah pemekaran wilayah. 1.4. Manfaat Penelitian

Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah Kabupaten Maluku Tengara dan Kabupaten Kepulauan Aru dalam menyempurnakan kebijakan-kebijakan pasca pemekaran wilayah untuk mempercepat pencapaian kesejahteraan masyarakat dan sebagai bahan bagi pengembangan khasana ilmu pengetahuan khususnya yang menekuni bidang pemekaran wilayah di era otonomi daerah.

(10)

1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Kepulauan Aru, Propinsi Maluku dengan tujuan untuk melihat bagaimana dampak pemekaran wilayah terhadap perekonomian wilayah , kapasitas fiskal pemerintah daerah, perkembangan sektor perekonomian yang potensial dikembangkan bagi perekonomian wilayah di Kabupaten Kepulauan Aru dengan membandingkan sebelum pemekaran tahun 2000-2002 dan sesudah pemekaran tahun 2003-2009 . Model dalam pelaksanaan penelitian ini telah dilakukan secara optimal dengan mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasan baik sumberdaya penelitian maupun ketersediaan data. Oleh karena itu, banyak permasalahan dan topik yang dapat dibahas dalam penelitian ini dilakukan baik secara sengaja dengan pembatasan cakupan. Secara garis besar keterbatasan penelitan ini terdiri dari :

1. Keterbatasan cakupan penelitian, meliputi ;

a) Perekonomian wilayah dalam penelitian ini hanya memfokus pada pertumbuhan dan perkembangan struktur perekonomian wilayah sebelum dan setelah pemekaran wilayah serta tidak menyertakan aspek ekonomi yang lain seperti : inflasi, tenaga kerja, pengentasan kemiskinan dan indeks pembangunan manusia dengan pertimbangan bahwa aspek ketersediaan data dan dana dengan deret waktu yang digunakan dalam penelitian ini.

b) Kebijakan fiskal yaitu perubahan pengelolaan fiskal dari terpusat menjadi terdesentralisasi (desentralisasi fiskal), dengan demikian aspek kebijakan moneter tidak termasuk dalam penelitian ini meskipun kebijakan pemerintah umumnya dilakukan secara bersamaan antara moneter dan fiskal.

c) Persepsi stakeholder dan masyarakat dalam penelitian ini hanya memfokus pada distribusi manfaat bagi pengambil kebijakan pasca pemekaran wilayah di Kabupaten Kepulauan Aru sedangkan kesejahteraan masyarakat yang memfokus pada perekonomian masyarakat (pendapatan, kesempatan berusaha dan lapangan perkejaan), pelayanan pemerintah, partisipasi masyarakat, infrastruktur publik dan pengelolaan sumberdaya alam sebelum dan setelah pemekaran.

(11)

2. Keterbatasan model; model yang dibangun bukan merupakan model yang ideal, namun merupakan model operasional yang optimal. jika kendala data dan informasi cukup maka model yang dibangun akan lebih baik lagi. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Analisis Deskritif, Model Analisisi Indeks Diversitas Entropi (IDE) PDRB dan Pendapatan Daerah (PD) ,Model Analisis Koresponden dan Model Analisis Location Quetiont (LQ)/ Analisis Shift Share (SSA) serta Model Analisis Hierrachy Process (AHP) 3. Untuk melihat distribusi manfaat antar stakeholder dan kesejahteraan

masyarakat setelah pemekaran wilayah maka sampel yang diambil secara proposive sampel yaitu dengan pertimbangan bahwa responden memiliki karekteristik dan pengetahuan yang sama atau homogen terhadap suatu masalah penelitian. Adapun sampel yang diambil antara lain; masing-masing 60 responden dari 2 kecamatan induk (Maluku Tenggara), yaitu 30 responden Kecamatan Dula Selatan dan 30 responden dari Kecamatan Dula Utara dan dibandingkan dengan masing-masing 60 responden dari 2 kecamatan Kabupaten Kepulauan Aru, yaitu 30 responden dari Kecamatan Aru Selatan dan 30 responden dari Kecamatan Aru Tengah. Data yang diperoleh secara langsung melalui poling (kuesioner) serta wawancara terstruktur dan stakeholder yang dipilih untuk Kabupaten Kepulauan Aru berjumlah 12 responden terdiri dari Pemerintah Daerah/DPR, Pengusaha Besar/Kecil dan Menengah, Koperasi, LSM, Tokoh Pemuda dan Perempuan serta Tokoh Adat.

Gambar

Tabel 1 Pekembangan Pemekaran Daerah di Indonesia (1999-2008)

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak : Tujuan penelitian ini yaitu diketahuinya hubungan antara persepsi mahasiswa dengan pemanfaatan Pusat Informasi dan Konsultasi Mahasiswa (PIK-M) Mahkota Puri

[r]

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Evaluasi Mutu Organoleptik Mayonnaise dengan Bahan Dasar Minyak Nabati dan Kuning Telur Ayam Buras.. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang

Berdasarkan hasil penelitian, variabel ukuran perusahaan yang dimoderasi oleh PMK 191/2015 (Size atau x2 _ M Rev) mempunyai nilai signifikan yang lebih besar dari

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang pemenuhannya setelah kebutuhan primer terpenuhi, namun tetap harus dipenuhi, agar kehidupan manusia berjalan dengan baik. Contoh: pariwisata

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk