• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2. Dividen 2.2.1. Pengertian dividen - FITRI PAMUNGKAS BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "2.2. Dividen 2.2.1. Pengertian dividen - FITRI PAMUNGKAS BAB II"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Capital gains

2.1.1 Pengertian Capital gains

Merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gains terbentuk dengan adanya perdagangan saham dipasar sekunder.

Misalnya seorang investor membeli saham telkom (TLKM) dengan harga Rp 3000 kemudian menjualnya kembali dengan harga per saham Rp 3500. maka investor tersebut mendapatkan capital gains sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.

Umumnya investor dengan orientasi jangka pendek mengejar keuntungan melalui capital gains. Investor seperti ini bisa saja membeli saham pada pagi hari, lalu menjualnya pada siang hari jika saham mengalami kenaikan (Darmadji, 2006).

2.2. Dividen

2.2.1. Pengertian dividen

(2)

Besarnya dividen yang dibagikan akan dipengaruhi oleh ada tidaknya kesempatan investasi yang menguntungkan. Sejauh mana terhadap kesempatan investasi yang menguntungkan, maka dana yang diperoleh dari operasi perusahaan akan dipergunakan untuk mengambil investasi tersebut. Jika terdapat sisa, barulah sisa tersebut dibagikan sebagai dividen.

Peningkatan atau penurunan pembayaran dividen sering ditafsirkan sebagai keyakinan manajemen akan prospek perusahaan. Apabila perusahaan meningkatkan pembayaran dividen, hal ini mungkin ditafsirkan sebagai harapan manajemen akan membaiknya kinerja perusahaan dimasa yang akan datang. Demikian pula apabila terjadi sebaliknya. Manajemen akan enggan untuk mengurangi pembagian pembagian dividen, kalau hal ini ditafsirkan memburuknya kondisi perusahaan dimasa yang akan datang (sehingga akan menurunkan harga saham) . Pembagian dividen tersebut ditangkap sebagai signal oleh para pemodal tentang prospek dan risiko perusahaan dimasa yang akan datang (Husnan, 1996). 2.2.2. Dividend yield

Dividend yield merupakan angka yang menunjukan

(3)

stabilitas dividen dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap perusahaan sehingga mengurangi ketidakpastian investor dalam menanamkan dananya ke perusahaan (Marpaung, 2003) .

2.2.3. Kebijakan Dividen

Menurut Sartono (2001) kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi dimasa datang. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka akan mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana intern atau internal financing.

Jika perusahaan memilih untuk menahan laba yang diperoleh, maka kemampuan pembentukkan dana intern akan semakin besar. Dengan demikian, kebijakan dividen ini harus dianalisa dalam kaitan dengan keputuasan pembelanjaan atau penentuan struktur modal secara keseluruhan.

Menurut Riyanto (2001) faktor – faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan sebagai berikut:

a) Posisi likuiditas perusahaan

(4)

dividen merupakan “cash outflow”, maka makin kuatnya posisi likuiditas suatu perusahaan, berarti makin besar kemampuan untuk membayar dividen.

Suatu perusahaan yang sedang tumbuh serta rendabel, mungkin tidak begitu kuat posisi likuiditasnya karena semakin besar dari dananya tertanam dalam aktiva tetap dan modal kerja dengan demikian kemampuannya untuk membayar cash deviden pun sangat terbatas. Dengan sendiriya likuiditas suatu perusahaan ditentukan oleh keputusan-keputusan di bidang investasi, dan cara pemenuhan kebutuhan dananya.

Dapat dikatakan bahwa makin kuat posisi likuiditas suatu perusahaan terhadap prospek kebutuhan dana di waktu mendatang, makin tinggi ‘dividen payout ratio’nya.

b) Kebutuhan dana untuk membayar utang

Apabila suatu perusahaan memperoleh utang baru atau menjual obligasi baru untuk membiayai perluasan perusahaan, sebelumnya harus sudah direncanakan bagaimana caranya untuk membayar kembali utang tersebut.

Utang dapat dilunasi pada hari jatuhnya dengan mengganti utang tersebut dengan utang baru. Atau alternatif lain ialah perusahaan harus menyediakan dana sendiri yang berasal dari keuntungan untuk melunasi utang tesebut.

(5)

utangnya akan diambilkan dari laba ditahan, berarti perusahaan harus menahan sebagian besar dari pendapatannya untuk keperluan tersebut, yang ini berarti hanya sebagian kecil saja dari pendapatan atau earning dapat dibayarkan sebagai dividen. Dengan kata lain perusahaan harus menetapkan dividen payout ratio yang rendah.

c) Tingkat pertumbuhan perusahaan

Makin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan semakin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut. Makin besar kebutuhan dana untuk waktu mendatang untuk membiayai pertumbuhan, perusahaan tersebut biasanya lebih senang untuk menahan ‘earning’nya daripada dibayarkan sebagai dividen kapada para pemegang saham dengan mengingat batasan-batasan biayanya.

Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa makin cepat tingkat pertumbuhan perusahaan makin besar dana yang dibutuhkan, semakin besar kesempatan untuk memperoleh keuntungan, semakin besar bagian dari pendapatan yang ditahan perusahaan, berarti makin rendah dividen payout rationya.

(6)

payout ratio’ yang tinggi.

d) Pengawasan terhadap perusahaan

Variabel penting lainnya adalah ‘control’ atau pengawasan terhadap perusahaan. Ada perusahaan yang mempunyai kebijakan hanya membiayai ekspansinya dengan dana yang berasal dari sumber intern saja. Kebijakan tersebut dijalankan atas dasar pertimbangan bahwa kalau ekspansi dibiayai dengan dana yang berasal dari hasil penjualan saham baru akan melemahkan ‘control’ dari kelompok dominan di dalam perusahaan.

Demikian pula kalau membiayai ekspansi dengan utang akan memperbesar risiko finansiilnya. Mempercayakan pada pembelanjaan intern dalam rangka untuk mempertahankan “control” terhadap perusahaan berarti mengurangi dividend payout rationya.

2.2.4. Teori Kebijakan Dividen

Beberapa teori kebijakan dividen sebagai berikut: a. Dividen tidak relevan

(7)

ditentukan oleh keputusan investasi. Sementara itu, keputusan akan laba yang diperoleh akan dibagikan dalam bentuk dividen atau akan ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan.

Hal yang penting dari pendapat Modigliani–Miller adalah bahwa pengaruh pembayaran dividen terhadap kemakmuran pemegang saham akan diimbangi dengan jumlah yang sama dengan cara pembelanjaan atau pemenuhan dana yang lain. Dalam kondisi keputusan investasi yang given, apabila perusahaan membagikan dividen kepada pemegang saham, perusahaan harus ,mengeluarkan saham baru sebagai pengganti sejumlah pembayaran dividen tersebut. Dengan demikian, kenaikan pendapatan dari pembayaran dividen akan diimbangi dengan penurunan harga saham sebagai akibat penjualan saham baru. b. Bird-in-the hand theory

Myron Gordon dan John Lintner dalam Sartono (2001) berpendapat bahwa investor meningkat sebagai akibat penurunan pembayaran dividen. Investor lebih merasa aman untuk memperoleh pendapatan berupa pembayaran dividen dari pada menunggu capital gains. Sementara itu Modigliani–Miller berpendapat dan telah dibuktikan secara matematis bahwa investor merasa sama saja menerima dividen saat ini atau menerima capital gains dimasa datang. Sehingga tingkat keuntungan yang

(8)

Gordon – Lintner beranggapan bahwa investor memandang satu burung ditangan lebih berharga dari pada seribu burung di udara. Kemungkinan capital gains yang diharapkan adalah lebih besar risikonya dibanding dividend yield yang pasti.

2.3. Analisis Rasio Keuangan

Analisis keuangan yang mencakup analisis rasio keuangan, analisis kelemahan dan kekuatan dibidang finansial akan sangat membantu dalam menilai prestasi manajemen masa lalu dan prospeknya dimasa datang. Rasio tersebut dapat memberikan indikasi apakah perusahaan memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban finansialnya. Besarnya piutang yang cukup rasional, efisiensi manajemen persediaan, perencanaan pengeluaran investasi yang baik, dan struktur modal yang sehat sehingga tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat dicapai.

Dengan menganalisis prestasi keuangan, seorang analis keuangan akan dapat menilai apakah manajer keuangan dapat merencanakan dan mengimplementasikan kedalam setiap tindakan secara konsisten dengan tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham (Sartono, 2001) .

Adapun rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1) Rasio Likuiditas

(9)

informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar. Dalam penelitian ini rasio likuiditas diukur dengan menggunakan Current Ratio. Rasio lancar (Current Ratio) menggubungkan aktiva lancar terhadap kewajiban lancar untuk mencoba memperlihatkan keamanan klaim pemberi hutang jika ada kegagalan (Helfert, 1996) . Perhitungannya sebagai berikut:

Current Ratio =

lancar Kewajiban

lancar Aktiva

x100%

2) Rasio Profitabilitas

Menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya. Dalam penelitian ini rasio profitabilitas diukur dengan menggunakan Retun on Investment (ROI). Retun on Investment (ROI) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan (Harahap, 1998). Perhitungannya sebagai berikut:

Retun on Investment ( ROI ) =

(Equity) modal

rata Rata

bersih Laba

− x100%

3) Rasio Aktivitas

(10)

(STR). Sales Turnover Ratio (STR) atau disebut juga perputaran penjualan adalah rasio yang membagikan penjualan dengan total aktiva (Hamzah, 2007). Perhitungannya sebagai berikut:

Sales Turnover Ratio (STR) =

aktiva Total

Penjualan

x100%

4) Rasio Solvabilitas

Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjang/kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi.Rasio ini dapat dihitung dari pos- pos yang sifatnya jangka panjang seperti aktiva tetap dan hutang jangka panjang. Dalam penelitian ini rasio solvabilitas diukur dengan menggunakan Debt to Equity Ratio (DER). Debt to Equity Ratio (DER)

menunjukkkan total hutang dengan total aktiva (Sartono, 2001). Perhitungannya sebagai berikut:

Debt to Equity Ratio (DER)

sendiri modal Total

hutang Total

Referensi

Dokumen terkait

Dalam menetapkan kebijakan dividen, tentu saja perlu mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti posisi likuiditas perusahaan, kebutuhan dana untuk

Hal ini karena besarnya dividen yang akan dibayarkan akan sangat dipengaruhi oleh besarnya posisi kas pada suatu perusahaan (Aggy dan Anis, 2013). Hal ini berarti

Sama halnya dengan dividend yield , rasio ini juga dapat digunakan sebagai salah satu proksi (pendekatan) dalam menetapkan kebijakan dividen, yaitu suatu

dividen ( dividend policy) adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen, atau.. akan ditahan dalam

Kebijakan dividen merupakan keputusan untuk menentukanberapa banyak dividen yang harus dibagikan kepada para pemegang saham.Kebijakan ini bermula dari bagaimana

Besarnya dividen yang dibagikan oleh perusahaan dapat mempengaruhi harga saham karena investor lebih menyukai pengembalian yang berasal dari dividen dibandingkan dengan

Jadi arus kas merupakan faktor penting yang harus diperhatikan ketika perusahaan ingin membagikan besarnya dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang

Berdasarkan hasil dari penelitian fitri (2011) yang berjudul “pengaruh profitabilitas, likuiditas, pertumbuhan, dan posisi kas terhadap kebijakan dividen” yang di ujikan