• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan Etos Kerja di Era MEA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Meningkatkan Etos Kerja di Era MEA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Meningkatkan Etos Kerja di

Era MEA

U N A I R N E W S – F a k u l t a s H u k u m U n i v e r s i t a s A i r l a n g g a

menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Perlindungan Hukum Tenaga Kerja dalam Kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN”. Acara yang dilaksanakan di Gedung A FH UNAIR ini dihadiri mahasiswa S-1, mahasiswa S-2 FH UNAIR, dosen, maupun kalangan umum.

Ada empat pakar yang mengulas persoalan ketenagakerjaan dalam seminar yang dilangsungkan pada Rabu (17/5). Mereka adalah Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur Totok Nurhandajanto, Sekretaris Umum Dewan Perwakilan Pusat Asosiasi Pengusaha Indonesia Jatim Heribertus Gunawan, dan akademisi FH UNAIR Dr. Lanny Ramli.

Menurut Lanny, dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN para Tenaga Kerja Indonesia dan Tenaga Kerja Asing perlu meningkatkan etos kerja agar kesejahteraan meningkat.

“Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya serta sistem nilai yang diyakininya. Dalam etos tersebut terkandung gairah semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal lebih baik. Upaya tersebut untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin,” tegas Lanny.

Totok selaku perwakilan dari pihak pemerintah mengatakan, bahwa Indonesia terlibat dalam perkembangan kebijakan ketenagakerjaan di tingkat regional atau ASEAN. “Pada tahun 2015 sepuluh negara-negara ASEAN mewujudkan MEA untuk menciptakan sebuah pasar tunggal berbasis produksi yang sangat kompetitif. Tujuannya, untuk mendorong pembangunan ekonomi yang adil bagi seluruh negara anggota serta memfasilitasi integrasi dengan masyarakat global,” ungkap Totok.

(2)

mengenai kebijakan penggunaan tenaga kerja asing yang meliputi pelayanan penggunaan dan rencana penggunaan tenaga asal luar negeri.

Penulis: Pradita Desyanti Editor: Defrina Sukma S

Para Tokoh Berbagi Strategi

Menghadapi MEA

UNAIR NEWS – Sebagai provinsi yang unggul, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melakukan pembenahan berbagai sektor. Hal tersebut yang diungkapkan oleh Gubernur Jatim Soekarwo dalam acara seminar nasional “Merekonstruksi Arah Pembangunan Nasional Menuju Daya Saing Bangsa di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)”. Seminar diselenggarakan oleh sivitas akademika Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Rabu (14/12), di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen UNAIR.

“Untuk menghindari terjadinya middle income trap, ada beberapa hal yang perlu dibenahi yakni memperkuat basis produksi dari segala sektor,” ujarnya. Soekarwo juga menjabarkan upaya pengembangan pasar di Jatim guna meningkatkan surplus perdagangan. Ia memperkirakan, pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 5,8 persen.

Ia juga sedang gencar dalam memberdayakan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) yang ada di Jatim agar provinsi ini bisa bersaing dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

(3)

Fadeli, Bupati Gresik Dr. H Sambari Halim Radianto, (Plt.) Gubernur Gorontalo Zudan Arif Fakrullah, Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR Prof. Dr. Hj. Sri Iswati, S.E., M.Si., Ak, dan dimoderatori oleh akademisi Fakultas Hukum UNAIR Suparto Wijoyo.

Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, dalam sambutannya mengatakan, ada banyak hal yang harus ditelaah dan direkonstruksi dalam mewujudkan kesejahteraan dan kesiapan bangsa ini untuk menghadapi MEA. “Ideologi bangsa kita harus dijadikan dasar dan pengarah proses pembangunan nasional. Pancasila harus menjadi acuan proses pembangunan,” tandas Prof. Nasih.

“Saya berharap melalui seminar ini, kita bisa menyumbang pikiran untuk negara paling tidak untuk Provinsi Jawa Timur dan kita bersama membangun konsep ideal dalam pembangunan,” ujar Rektor UNAIR.

Bupati Lamongan memaparkan tentang kesiapan masyarakat Lamongan dalam menghadapi MEA. Ia membangun Balai Latihan kerja (BLK) sebagai strategi peningkatan kemampuan calon tenaga kerja agar terampil dan mampu bersaing.

Masih seputar strategi MEA, Prof. Dr Sri Iswati mengajak semua masyarakat untuk mengenal konsep MEA dan membangun beragam pemikiran agar masyarakat lebih unggul dalam era MEA.

Dalam seminar tersebut juga di launching Airlangga Development

Journal volume pertama yang diterbitkan oleh Sekolah

Pascasarjana UNAIR. Jurnal ini berisi artikel dari berbagai disiplin ilmu.

Selain itu, dalam acara tersebut juga ada pemberian 600 bibit sawo kecik dari Perum Perhutani untuk seluruh peserta seminar. Pemberian bibit sawo kecik itu bertujuan mendukung langkah pemerintah untuk menggalakkan penghijauan di seluruh penjuru daerah.

(4)

Penulis: Faridah Hari Editor: Defrina Sukma S

Hadapi MEA, FKp UNAIR Perkuat

Kompetensi Perawat

UNAIR NEWS – Perawat merupakan salah satu profesi medis yang

turut terdampak dengan adanya persaingan global. Pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), perawat dari negara-negara ASEAN diijinkan untuk melakukan praktik di Indonesia. Agar perawat asal Indonesia bisa bertahan dan juga melakukan ekspansi ke luar negeri, maka kompetensi yang dimiliki perlu diperkuat.

Menurut Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Prof. Nursalam, S.Kp., M.Nurs, perawat Indonesia memerlukan banyak perbaikan kompetensi untuk bersaing di era pasar bebas. Oleh karena itu, institusi pendidikan keperawatan di Indonesia harus bertanggung jawab dalam mencetak perawat yang berkualitas.

“Kompetensi yang harus dibangun adalah kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor. Setelah itu, hal yang perlu dikembangkan adalah membangun jejaring. Kami (pimpinan FKp UNAIR, -red) membangun jejaring di luar negeri. Itu adalah sasaran kita,” tutur Prof. Nursalam.

Jejaring yang telah dilakukan oleh FKp diantaranya berupa kerjasama pertukaran mahasiswa dan riset. Universitas Avans, Belanda, dan Universitas Rhode Island merupakan dua perguruan tinggi asing yang telah bekerjasama dengan FKp UNAIR.

(5)

perlu menguasai kompetensi di bidang keilmuan, penguasaan bahasa asing, dan teknologi. Prof. Nursalam juga mengingatkan masyarakat untuk mengubah kultur ‘bertahan’.

“Kan ada kebiasaan agar seseorang tak perlu mencari ilmu atau bekerja jauh-jauh dari tempat tinggal. Itu juga penting untuk diubah,” ungkap Prof. Nursalam.

Menyeragamkan kualitas

D i I n d o n e s i a t e r d a p a t s e k i t a r 3 1 3 i n s t i t u s i y a n g menyelenggarakan pendidikan keperawatan. Jumlah tersebut tersebar di berbagai jenjang, mulai dari diploma hingga profesi. Sehingga lulusan pendidikan keperawatan di Indonesia terbilang cukup banyak.

Namun, Prof. Nursalam yang juga lulusan pendidikan doktoral di UNAIR ini mengatakan bahwa kualitas pendidikan keperawatan berdasarkan akreditasi masih cukup bervariasi. Guru Besar Keperawatan UNAIR itu mengatakan sebanyak 5% institusi pendidikan keperawatan terakreditasi A, 25% terakreditasi B, dan 70% masih terakreditasi C.

Pada akhir tahun 2015, program studi S-1 Pendidikan Ners FKp UNAIR memperoleh akreditasi A dari asesor Lembaga Akreditasi Mandiri – Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM – PTKes). Dari pelaksanaan uji kompetensi perawat tahun 2015, tingkat kelulusan calon perawat lulusan FKp UNAIR mencapai 98%.

Senada dengan Prof. Nursalam, Laily Hidayati, S. Kep, Ns., M.Kep, staf pengajar Departemen Keperawatan Medikal Bedah dan Kritis, FKp UNAIR, mengatakan bahwa kualitas institusi pendidikan keperawatan di Indonesia seharusnya diperbaiki agar menghasilkan lulusan sarjana keperawatan yang berkualitas.

“Kompetensi perawat itu seharusnya sama, baik yang dari Surabaya maupun di Papua, sehingga kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat juga sama baiknya untuk Indonesia,” tutur Laily. (*)

(6)

Penulis: Defrina Sukma S

Editor : Binti Q. Masruroh

Fakultas Keperawatan UNAIR

Jadi Tuan Rumah Konferensi

Internasional

UNAIR NEWS – Para pengajar Fakultas Keperawatan (FKp)

Universitas Airlangga bekerjasama dengan 14 institusi pendidikan keperawatan seluruh Indonesia menyelenggarakan konferensi internasional bertajuk ‘The 7th

International Nursing Conference: Global Nursing Challenge in Free Trade Area’. Seminar yang dilaksanakan di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen UNAIR, pada Jumat (8/4) tersebut diikuti oleh 325 peserta yang terdiri dari mahasiswa jenjang S-1 hingga S-3, dosen, dan para perawat klinis.

Dalam sambutannya, Dekan FKp UNAIR Prof. Nursalam, S.Kp., M.Nurs, menjelaskan bahwa perawat adalah salah satu profesi tenaga medis yang terkena dampak perdagangan global, termasuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mencetak lulusan keperawatan yang berdaya saing global.

“Perguruan tinggi melakukan riset dan menghasilkan berbagai publikasi internasional yang berdampak pada pemeringkatan kampus kelas dunia. Perguruan tinggi dengan iklim riset yang memadai mampu menghasilkan perawat yang berkualitas, sehingga pelayanan publik di bidang kesehatan bisa terus meningkat,” tutur Prof. Nursalam.

(7)

Apt., mewakil Rektor UNAIR berharap agar konferensi internasional bisa lebih acap dilaksanakan.

“Saya berharap agar kolaborasi penelitian, seminar, dan konferensi internasional semacam ini bisa lebih sering dilaksanakan. Dengan kegiatan semacam ini, kita bisa mewujudkan masyarakat global yang sehat sesegera mungkin,” tutur Wakil Rektor IV UNAIR.

Pada konferensi internasional kali ini, sebanyak empat sesi diskusi panel dilaksanakan, yakni pada Jumat dan Sabtu (8 – 9 April 2016). Konferensi diikuti oleh 325 peserta yang terdiri dari 115 tim dan individu pemakalah lisan, serta 72 peserta lomba poster. Dari seluruh makalah yang dipresentasikan, akan dipilih lima makalah terbaik untuk diterbitkan di jurnal ‘Ners’ milik FKp UNAIR.

Sejumlah riset yang akan dipresentasikan dalam panel diskusi tersebut antara lain berjudul “Effectiveness of Lavender Aromatherapy on Axiety Level: A Literature Review” yang ditulis oleh mahasiswa jenjang S-2 FKp UNAIR, dan “Application Relations Professional Nursing Care Model (FGM) Tim with Hospital Patient Satisfaction in Jombang” yang ditulis oleh mahasiswa S-1 asal Universitas Darul Ulum Jombang.

Ke-14 institusi pendidikan yang hadir dalam konferensi internasional itu antara lain berasal dari delegasi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Politeknik Kesehatan – Kemenkes Surabaya, Politeknik Kesehatan – Kemenkes Malang, Universitas Darul Ulum Jombang, STIKES Ngudia Husada Madura, dan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin.

Pada salah satu sesi diskusi, pembicara asal JICA menyampaikan hasil risetnya berjudul ‘Advanced Nursing Practice in The Global Nursing’. Ikuko mengatakan bahwa konsep global nursing sudah mengemuka sejak tahun 1990. Meski demikian, tidak ada penjelasan khusus mengenai konsep global nursing.

(8)

seperti Malawi, Kenya, dan Burundi. Mereka sama seperti di Indonesia, saya telah menghadapi situasi global nursing. Oleh karena itu, saya ingin memberikan pandangan saya untuk bidang penelitian yang berkembang dengan pesat ini,” tutur Ketua Penasihat JICA.

Konferensi internasional kali ini dihadiri pula oleh pembicara Kristen Graham, RN, RM, MNg, MPH&TM, MPEd&Tr, GDipMid, GdipHSc asal Universitas Flinders – Australia, SEKI Ikuko MPH, R.N, R.M.W, P.H.N., asal Japan International Cooperation Agency (JICA), dan Madiha Mukhtar, RN, MScN, BScN, RM asal Institut Penelitian dan Rumah Sakit Ibn-e-Seina Pakistan. (*)

Penulis: Defrina Sukma S. Editor : Binti Q. Masruroh

Kongres

IKMVI

Tegaskan

Lulusan Vokasi Siap Hadapi

MEA

UNAIR NEWS – Untuk yang pertama kalinya, Fakultas Vokasi

Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi tuan rumah kongres Ikatan Keluarga Mahasiswa Vokasi (IKMVI) III. Kongres ini diikuti oleh lima delegasi sekaligus penggagas asal Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Airlangga. Kongres IKMVI diadakan pada tanggal 14-19 Maret 2016.

Pada Selasa (15/3), kegiatan pembukaan dilaksanakan di Aula Vokasi yang dihadiri oleh jajaran dekanat Vokasi, jajaran kemahasiswaan, serta delegasi kongres. Pada kesempatan yang

(9)

sama, Dr. Hadi Subhan, S.H., M.H., C.N, selaku Direktur Kemahasiswaan UNAIR membuka secara resmi kongres IKMVI tahun 2016, yang dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si selaku Wakil Dekan I Vokasi UNAIR tentang seluk beluk Vokasi UNAIR sendiri.

Barik, selaku penanggung jawab Kongres IKMVI tahun 2016 berharap dengan adanya acara seperti ini, sivitas akademika bisa paham tentang pendidikan vokasional. “Dengan diadakannya kongres seperti ini, saya berharap kita bisa bersinergi dan menyatukan mindset seluruh sivitas akademika mengenai Vokasi itu sendiri,” kata Barik, selaku penanggung jawab kongres IKMVI 2016.

Kongres IKMVI memiliki tiga agenda utama, yaitu perampungan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, pemilihan ketua IKMVI dan pembahasan proker IKMVI. Selain tiga agenda utama tersebut, Departemen Kebijakan Publik Bem Vokasi UNAIR juga mengadakan acara diskusi publik.

Tga pemateri berskala nasional turut hadir dalam diskusi publik yaitu Ir. Hotma Prawoto Sulistyadi, M.T., IP-MD selaku Ketua Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia tahun 2015, Prof. Dr. Ir. Sigit Pranowo Hardiwardoyo, D.E.A selaku Wakil Ketua Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia 2016, dan Drs. Henky Kurniadi, S.H., M.H selaku anggota DPR RI Komisi IV dan dimoderatori oleh Achmad Hidayat, selaku staf ahli DPR RI.

Diskusi publik bertema ‘Vokasi untuk MEA’ bertujuan untuk menambah wawasan tentang vokasional pada seluruh sivitas akademika Vokasi UNAIR, mengingat Vokasi merupakan fakultas yang masih baru terbentuk.

Menurut Hotma, program diploma seharusnya dimaknai sebagai program Sarjana Terapan, bukan D-3 atau D-4. Senada dengan Hotma, Sigit menambahkan bahwa mahasiswa Vokasi membutuhkan kompetensi dan keunggulan yang dibutuhkan oleh industri. Apabila perguruan tinggi bisa mencetak sumber daya manusia

(10)

Indonesia yang berkualitas, maka masyarakat tak kalah bersaing dengan warga negara asing, terutama di era Masyarakat Ekonomi ASEAN. (*)

Penulis: Lovita Cendana Editor: Defrina Sukma S

Potensi SDM Indonesia Modal

Penting di Era MEA

UNAIR NEWS – Tercetusnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

mengacu pada kesepakatan bersama negara-negara Asia Tenggara. Pasar tunggal yang bersifat “baik” untuk semua ini mempunyai tujuan yang bagus. Bahkan, bisa saling menguatkan negara-negara ASEAN yang memiliki kompleksitas ekonomi hampir sama. Pelaksanaan MEA juga terbilang pada waktu yang tepat. Digerakkan sejak 2007 dan dijalankan secara lebih aktif akhir 2015 lalu. Berbeda dengan apa yang terjadi di Eropa dengan Europa Economy Community pada tahun 50-an. Ketika itu, negara-negara Eropa baru bangkit dari peperangan. Kestabilan ekonomi rapuh. Bahkan, ada beberapa negara yang punya jarak disparitas jauh sekali. Misalnya, antara Polandia dengan Inggris.

Sementara itu, Indonesia memiliki kekuatan pada Sumber Daya Manusia (SDM). “Peluang kita bersaing di aspek ini sangat luar biasa. Tinggal bagaimana meningkatkan kualitasnya agar memenangi persaingan,” kata Dr Intan Soeparna, pakar hukum internasional FH UNAIR.

Di sisi lain, jangan sampai Indonesia menjadi sasaran empuk untuk barang dagangan dari negara-negara ASEAN lain. Maka itu, pemerintah harus memberi perhatian dan intervensi pada

(11)

semua elemen masyarakat. Khususnya, terkait pembenahan kualitas SDM dan regulasi yang pro-rakyat.

Di samping itu, pengusaha harus meningkatkan standar produksi. Tenaga kerja harus meningkatkan Special Skill dan juga harus mampu berbahasa asing. Akademisi harus menemukan dan menjalankan solusi untuk Indonesia dalam menghadapi MEA. Masyarakat pada umumnya harus melek bahwa di tangan mereka sudah didapat dengan mudah barang-barang dari luar negeri. Jadi, kesadaran untuk mencintai produk lokal mesti turut diasah. (*)

Penulis: Akhmad Janni Editor: Rio F. Rachman

Pungli Ancam Investasi, Era

MEA

Harus

Jadi

Momen

Perubahan

UNAIR NEWS – “Saya sedih kalau ada yang ngeluh apakah kita

siap masuk MEA atau tidak. Kalau kita yang takut, itu keliru. Mereka (orang luar negeri) yang takut kita,” kata Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada 24 November 2015 lalu.

Ya, masyarakat dan dunia bisnis domestik tidak perlu takut. Namun, mesti sadar dan waspada. Dan pemerintah, harus lihai dan aktif mencetuskan regulasi yang pro rakyat. Tidak boleh santai-santai saja.

Pakar hukum perdagangan internasional Fakultas Hukum (FH) UNAIR Dr Intan Soeparna menjelaskan, era Masyarakat Ekonomi Asean alias MEA sejatinya sudah dimulai sejak lama. Tepatnya,

(12)

pada 2007 lalu. Acuannya, Blueprint 2007.

Secara prinsip, MEA sudah mulai membangun pondasi sejak 2007. Meski gaungnya baru terdengar pada 2015, mengacu Blueprint 2025, dan berfokus dengan pandangan Free Movement for Persons. Yang jadi masalah, Blueprint 2007 yang merupakan landasan awal bersaing di MEA belum diaplikasikan dengan optimal. Eksekutif mengklaim, Indonesia telah menjalankan Bluprint 2007 hingga 92,7%. Faktanya, masih banyak kekurangan dalam penerapan. Sebagai misal, pada pola Free Movement of Goods. “Masih ada pungli (pungutan liar) yang meresahkan investor,” kata Intan. Problem ini sempat jadi perbincangan hangat ketika perusahan NIKE keluar dari Indonesia dan mendirikan perusahaan di Vietnam. Namun, pasar utamanya tetap Indonesia. Isu pungli berhembus keras waktu itu. Kabar lain menyebutkan, produsen dalam negeri yang ingin memasarkan produk ke luar negeri juga merasa terancam sistem pungli.

Pemerintah mesti serius menaruh perhatian pada para preman kerah putih. Bagaimana pun juga, fakta menunjukkan, Indonesia belum 100% mengatasi imbas pola Free Movement of Goods. Harapannya, momentum MEA kali ini bisa menjadi tonggak perubahan di bidang bisnis dan ekonomi.

PR pemerintah benar-benar bertumpuk. Sebab, gelontoran tenaga kerja dari luar negeri dapat dipastikan turut terjadi. “Yang saya ketahui, negara-negara ASEAN sudah menyiapkan tenaga kerja. Misalnya, perawat di Filipina sudah diajarkan bahasa asing. Termasuk, bahasa Indonesia. Bahkan, bahasa Jawa,” ucap dosen tamatan Vrije Universiteit Brussel ini.

Di samping kebutuhan akan akselerasi program dari pemerintah, tiap individu juga mesti menggenjot kemampuan diri. Special Skill sangat menguntungkan ketika berada pada kondisi tertentu. Harus ada diferensiasi. Sedangkan untuk pengusaha-pengusaha di Indonesia, mesti memahami regulasi Blueprint 2025. Di antaranya, barang yang diperdagangkan harus memiliki

(13)

standart yang tinggi. (*) Penulis: Akhmad Janni Editor: Rio F. Rachman

Ajak Pustakawan Inovatif

Hadapi MEA

UNAIR NEWS – Tahun ini, masyarakat Indonesia telah dihadapkan

pada iklim Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan berlakunya pasar bebas ASEAN ini masyarakat harus bisa bersaing secara internasional, karena kemungkinan pesaing bukan hanya dari Indonesia, namun dari berbagai negara di ASEAN.

Dalam rangka memberikan informasi mengenai peluang dan tantangan pustakawan menghadapi MEA, perpustakaan Universitas Airlangga mengadakan seminar bertajuk “Peluang dan Tantangan Karir Pustakawan Menghadapi AEC” pada Selasa, (26/1). Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini yaitu Drs. Abimanyu Poncoatmojo I., M.M dari Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Timur, dan Juhaeri, SE., SS., MM., dari Badan Perpustakaan Provinsi Jawa Timur.

Seminar ini dibuka oleh kepala perpustakaan UNAIR, Prof. Dr. I Made Narsa, SE., M.Si., Ak., C.A, dan dihadiri kurang lebih 80 orang tenaga perpustakaan dari berbagai instansi dan lembaga. Bukan hanya dari Surabaya, namun juga dari beberapa daerah di Jawa Timur dan Bali.

Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Perpustakaan Nasiobal RI mencanangkan “Sertifikasi Pustakawan.” Adanya sertifikasi pustakawan ini salah satunya adalah untuk melindungi profesi pustakawan yang ada di Indonesia.

(14)

“Pustakawan dari luar kalau tidak tersertifikasi tidak bisa menjadi pustakawan di sini. Harus ada batasan, untuk melindungi tenaga kerja yang ada di Indonesia. Tapi kalau kita bagus dan profesional, kita bisa bersaing dengan mereka,” papar Abimanyu.

Banyak manfaat yang didapat dengan diadakannya sertifikasi pustakawan, diantaranya membantu perpustakaan meyakinkan kepada pemustaka bahwa pelayanan perpustakaan dilakukan oleh tenaga yang kompeten, membantu perpustakaan dalam rekruitmen dan mengembangkan tenaga berbasis kompetensi, memastikan perpustakaan mendapatkan tenaga yang kompeten, membantu perpustakaan dalam sistem pengembangan karir dan remunerasi tenaga berbasis kompetensi, serta memastikan dan meningkatkan produktivitas.

Pada kesempatan ini Abimanyu mengajak para pustakawan untuk meningkatkan softskill dan hardskill yang terampil. Ia juga menyarankan agar para pustakawan di Indonesia menjalin kerjasama antar pustakawan se-ASEAN. Abimanyu juga menegaskan bahwa dengan adanya sertifikasi ini para pustakawan harus lebih profesional dan banyak-banyak berinovasi.

“Kalau tenaga profesional tidak kita siapkan terlebih dahulu secara profesional, matilah kita. Profesionalisme pustakawan harus digali yang sesuai dengan kompetensi dan keahlian,” tutur Abimanyu.

Juhaeri, sebagai pembicara kedua, menerangkan kepada para peserta bahwa Indonesia merupakan negara yang banyak diincar oleh negara lain karena memiliki banyak potensi. Pustakawan Indonesia harus memiliki standar tertentu agar mampu bersaing secara internasional.

“Standar menjadi alat yang berdaya guna untuk mengarahkan perubahan positif guna merespon isu-isu global yang menyentuh berbagai aspek kehidupan. Standar kata kunci persaingan,” ujar Juhaeri.

(15)

Adanya sertifikasi pustakawan ini bertujuan untuk mencetak pustakawan yang kompeten di bidang pekerjaan dan keahlian, serta memastikan SDM yang disertifikasi mempunyai kualitas yang sama, sehingga mampu bersaing dan menjawab tantangan global.

Perlu ditekankan bahwa sertifikasi pustakawan ini tidak seperti sertifikasi guru pada umumnya yang mendapatkan dana insentif khusus. Sertifikasi pustakawan dilakukan untuk mengukur dan melihat seseorang kompeten di bidangnya. Namun, ke depan akan diperhitungkan tentang insentif bagi mereka yang tersertifikasi.

“Sekarang tidak ada. Tapi ke depan akan dipikirkan dan diperhitungkan,” ujar Juhaeri. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh Editor : Inda Karsunawati

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Nordiawan (2006) dalam Rahmawati (2015), anggaran merupakan sebuah rencana finansial yang menyatakan rencana-rencana organisasi untuk melayani masyarakat atau

[r]

Kemendiknas 2010 tentang system Pendidikan Nasional pasal 3 menyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi membentuk watak serta peradaban bangsa yang

Pemohon … bahwa Pemohon saat ini berprofesi sebagai tenaga kesehatan, jenis tenaga teknis kefarmasian Ahli Madya Farmasi berpotensi merasa diperlakukan tidak adil dan

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan siswa SMK N 2 Magetan, SMK N 1 Kartoharjo dan SMK N 1 Takeran terhadap kegiatan pembelajaran, peneliti

Dalam hal perilaku, mantan anak jalanan yang masih bersekolah selalu berupaya menunjukkan aktualisasi diri dan harapannya yang tinggi melalui sebuah tindakan yang mereka

Wisatawan yang memiliki penilaian positif terhadap Kota Batu kemudian pada saat melakukan kunjungan merasakan kepuasan dapat mengakibatkan wisatawan tersebut menjadi

Adapun hasil penelitian ini adalah praktik akad ija>rah agrowisata kebun stroberi di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga telah sesuai menurut hukum