46 A. DATA PENELITIAN
1. Deskripsi Subjek Penelitian
Penelitian dilakukan di Bursa Efek Indonesia dengan menentukan perusahaan-perusahaan sektor pertambangan yang listing pada Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009-2011 sebagai populasi penelitian. Prosedur penentuan sampel dengan menggunakan purposive sampling.
TABEL 4.1
KRITERIA PEMILIHAN SAMPEL
No. Kriteria Jumlah Emiten
1. Jumlah populasi 88
2. Dikurangi perusahaan pertambangan yang tidak menerbitkan annual report lengkap dan tidak mengungkapkan Laporan CSR dalam annual report
( 31 )
3. Dikurangi perusahaan pertambangan yang
tidak memiliki index CG ( 21 )
4. Data perusahaan yang tidak dapat diolah ( 0 )
Data perusahaan yang diolah 36
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
2. Deskripsi Variabel Penelitian
Data sekunder yang terkumpul ditabulasi dan dianalisis. Variabel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah corporate social responsibility (CSR) yang diukur menggunakan corporate social disclosure index (CSDI) atau indeks GRI, kinerja keuangan yang diproksikan ke dalam
return on asset (ROA), dan good corporate governance (GCG) yang diperoleh dari perhitungan IICD (Indonesian Institute for Corporate Directorship). Serta variabel kontrol yang digunakan adalah leverage dan size yang diukur dengan menggunakan total asset (ln).
a. Corporate Social Responsibility
Pengungkapan Corporate social responsibility dengan menggunakan 79 item pengungkapan informasi CSR, item pengungkapan ini dikelompokkan menjadi enam pengungkapan seperti dalam tabel 4.2 berikut :
TABEL 4.2
ITEM PENGUNGKAPAN INFORMASI CSR
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
b. Return On Asset (Proksi Kinerja Keuangan)
Kinerja Keuangan sebuah perusahaan terkadang menjadi salah satu alat analisis oleh investor untuk pengambilan keputusan investasi. Kinerja keuangan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan return on asset untuk melihat seberapa besar kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva
No. KETERANGAN JUMLAH
1. Indikator Kinerja Ekonomi (EC) 9
2. Indikator Kinerja Lingkungan (EN) 30
3. Indikator Kinerja Sosial (LA) 14
4. Indikator Hak Asasi Manusia (HR) 9
5. Indikator Masyarakat dan Sosial (SO) 8
6. Tanggung Jawab Produk (PR) 9
yang digunakan. Jika suatu perusahaan memiliki ROA yang tinggi maka perusahaan tersebut berpeluang besar dalam meningkatkan pertumbuhan. Tetapi jika total aktiva yang digunakan perusahaan tidak memberikan laba maka perusahaan akan mengalami kerugian dan akan menghambat pertumbuhan.
c. Good Corporate Governance
Variabel good corporate governance ini bisa diukur dengan menggunakan instrument yang dikembangkan oleh Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG) yaitu berupa Corporate Governance Perception Index (CGPI). Namun dalam penelitian ini scor corporate governance didapatkan dari perhitungan yang dilakukan oleh IICD (Indonesian Institute for Corporate Directorship).
d. Size
Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan total asset perusahaan. Karena jumlah total asset perusahaan terlalu besar, maka total asset perusahaan tersebut di log natural (ln) terlebih dahulu sebelum dianalisis.
e. Leverage
Leverage bisa didapatkan tanpa menggunakan rumus, yaitu dengan melihat data di ICMD atau dari website www.idx.co.id. Namun dalam penelitian ini leverage diukur dengan menggunakan Dept to Equity Ratio (DER). DER diukur dengan menggunakan
rumus total hutang perusahaan dibagi dengan total asset perusahaan.
B. HASIL PENELITIAN
1. Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui deskripsi suatu data. Analisis ini dilakukan dengan melihat nilai maksismum, minimum, mean dan standar deviasi suatu data. Berdasarkan tabel 4.3, diketahui jumlah sampel (N) adalah 36 data perusahaan. Variabel yang diteliti adalah CSDI (corporate social disclosure index), ROA (return on asset) dan GCG (good corporate governance). Sedangkan variabel size dan leverage adalah sebagai variabel kontrol. Hasil analisis statistik deskriptif dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
TABEL 4.3
Analisis Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation CSDI 36 .1013 1.0000 .379394 .2615196 ROA 36 -.1383 .4657 .125664 .1412323 ICG 36 .4423 .8926 .723919 .1176997 SIZE 36 6.2964 7.8963 7.007064 .3765404 LEV 36 .0335 33.0364 2.557236 5.8216351 Valid N (listwise) 36
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
Variabel pertama yaitu CSR memiliki nilai minimum sebesar 0,1013 nilai maksimum 1, nilai rata-rata 0,3794 dan standar deviasi 0,2615. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan
pertambangan di Indonesia mengungkapkan sebanyak 30 item dari 79 item pengungkapan CSR. Perusahaan yang paling banyak melaporkan kegiatan CSR nya dalam laporan tahunannya adalah PT Timah (Persero) Tbk (TINS) tahun 2009 s/d 2011 yaitu sebesar 1. Dalam pelaporan tahunan nya (annual report) PT Timah Tbk melampirkan Referensi Indikator Laporan Keberlanjutan dari GRI yang lengkap. Sedangkan perusahan yang sedikit mengungkapkan kegiatan CSR nya adalah PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) tahun 2009 yaitu sebesar 0,1013. Standar deviasi sebesar 0,2615 di bawah nilai rata-rata berarti masing-masing perusahaan sampel memiliki tingkat pengungkapan CSR yang hampir sama.
Variabel penelitian kedua adalah return on asset (ROA), nilai minimum ROA perusahaan pertambangan adalah -0,1383, nilai maksimum 0,4657, mean 0,1257 dan standar deviasi 0,1412. Rata-rata perusahaan yang menjadi sampel perusahaan ini memiliki kinerja keuangan yang rendah, hal ini dapat dilihat dari rata-rata ROA yang sangat kecil yaitu sebesar 0,1257. Perusahaan dengan kinerja paling rendah adalah PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) tahun 2009, dan perusahaan dengan kinerja yang paling tinggi adalah Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) (PTBA) 2011, hal ini terlihat dari nilai ROA sebesar -0,1383 dan 0,4657. Standar deviasi sebesar 0,1412 di atas nilai rata-rata 0,1257 menunjukkan bahwa kinerja perusahaan yang dijadikan sampel penelitian memiliki perbedaan yang relatif besar.
Variabel penelitian ketiga yaitu good corporate governance (GCG) memiliki nilai minimum 0,4423, nilai maksimum 0,8926, mean 0,7239 dan standar deviasi 0,1177. Perusahaan pertambangan dengan nilai CG terendah adalah PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) tahun 2011 yaitu sebesar 0,4423. Sedangkan yang tertinggi yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada tahun 2010 sebesar 0,8926. Rata-rata perusahaan yang menjadi sampel memiliki scor CG (corporate governance) yang cukup tinggi yaitu sebesar 0,7239, hal ini menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan yang menjadi sampel cukup baik. Standar deviasi sebesar 0,1177 merupakan standar deviasi yang kecil, hal ini berarti nilai index CG pada perusahaan pertambangan relatif tidak bervariasi.
2. Pengujian Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Untuk melakukan pengujian normalitas data peneliti menggunkaan one sample Kolmogorov Smirnov Test dan Grafik Normal Probability Plot dengan menggunakan program SPSS 20.
Model Pertama Model Kedua
Gambar 4.1 Grafik Normal P-Plot Sumber : Data Sekunder yang diolah 2013
TABEL 4.4
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
Unstandardized Residual
N 36 36
Normal Parametersa,b Mean 0E-7 0E-7
Std. Deviation .01862925 .02769318 Most Extreme Differences Absolute .146 .209 Positive .133 .209 Negative -.146 -.163 Kolmogorov-Smirnov Z .876 1.252
Asymp. Sig. (2-tailed) .427 .087
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
Dasar dalam pengambilan keputusan adalah jika 2-tailed > 0,05, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas dan sebaliknya. Dengan melihat grafik normal plot dapat disimpulkan bahwa pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal, serta penyebarannya mendekati dari garis diagonal. Grafik ini menunjukkan bahwa model regresi tidak menyalahi asumsi normalitas. Besarnya nilai kolmogorov smirnov pada model pertama adalah 0.876 dan signifikan pada 0.427. Sedangkan besarnya nilai kolmogorov smirnov pada model kedua adalah 1.252 dan signifikan pada 0.087. Besarnya asymp sig 2-tailed > 5%, hal ini berarti H0 diterima yang berarti data residual terdistribusi normal.
b. Uji Multikolinearitas
Tabel 4.5
Uji Multikolinearitas Model Pertama
Hasil perhitungan nilai tolerance baik pada model pertama maupun model kedua menunjukan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai
tolerance kurang dari 0.10, yang berarti tidak ada korelasi antara variabel independen yang nilainya lebih dari 95%. Hasil perhitungan Variance Inflation Factor (VIF) baik pada model pertama maupun model kedua juga menunjukkan
Model 1 Collinearity Statistics Kesimpulan Tolerance VIF 1 (Constant)
ICG .755 1.325 Tidak terjadi multikolinieritas
CSDI .804 1.244 Tidak terjadi multikolinieritas
ICG*CSDI .791 1.264 Tidak terjadi multikolinieritas
LEV .877 1.140 Tidak terjadi multikolinieritas
SIZE .959 1.043 Tidak terjadi multikolinieritas
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
Tabel 4.6
Uji Multikolinearitas Model Kedua
Model Collinearity
Statistics Kesimpulan
Tolerance VIF
1
(Constant)
ROA .850 1.177 Tidak terjadi multikolinieritas
ICG .707 1.415 Tidak terjadi multikolinieritas
ICG*ROA .704 1.420 Tidak terjadi multikolinieritas
LEV .953 1.050 Tidak terjadi multikolinieritas
SIZE .885 1.130 Tidak terjadi multikolinieritas
tidak ada satu variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih dari 10, jadi disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas antar variabel independen dalam model regresi. c. Uji Autokorelasi TABEL 4.7 DURBIN WATSON Model Pertama Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 .991a .983 .980 .0201219 2.177
a. Predictors: (Constant), SIZE, LEV, ICG*CSDI, CSDI, ICG b. Dependent Variable: ROA
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
TABEL 4.8 DURBIN WATSON
Model Kedua Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 .994a .989 .987 .0299121 1.863
a. Predictors: (Constant), LEV, SIZE, ROA, ICG, ICG*ROA
b. Dependent Variable: CSDI
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
Nilai DW pada model pertama sebesar 2.177. Jika dilihat dari tabel DW dengan signifikansi 0.05 dan jumlah data (n) = 36, serta k = 5, maka diperoleh nilai Dl sebesar 1.175 dan Du sebesar 1.799. Jika dianalisa menurut tabel maka du < dw < 4-du, 1.799 < 2.177 < (4 – 1.799) 2.201, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi.
Pada pengujian model kedua, nilai DW sebesar 1.863. Jika dilihat dari tabel DW dengan signifikansi 0.05 dan jumlah data (n) = 36, serta
jumlah variabel independen 5 (k = 5), maka diperoleh nilai du < dw < 4 – du, 1.799 < 1.863 < (4 - 1.799) 2.201. Sehingga dapat disimpulkan bahwa residual random atau tidak terjadi autokorelasi antara nilai residual
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dapat dilihat melalui grafik scatterplots apabila titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji regresi pada penelitian ini menunjukkan grafik scatterplots pada model penelitian menggambarkan titik-titik yang menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hasil penelitian sebagai berikut :
Model Pertama Model Kedua
Gambar 4.2 Uji Heteroskedastisitas
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
Data grafik scatterplots pada model pertama terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah
angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pada model regresi pertama tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga model regresi pertama layak dipakai untuk memprediksi ROA perusahaan berdasarkan pengaruh variabel independen CSR, Moderasi GCG, Leverage dan Size.
Hal serupa terlihat pada grafik scatter plot model kedua, titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi kedua, sehingga model regresi kedua layak dipakai untuk memprediksi CSR perusahaan berdasarkan pengaruh variabel independen ROA, Moderasi GCG, Leverage dan Size.
3. Uji Hipotesis
a.Uji Kesesuaian Model (F-test)
Uji kesesuaian model digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen dengan tingkat signifikansi yang telah ditentukan sebesar 5%. Apabila tingkat signifikansi uji F lebih kecil dari 5%, maka terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Jika tingkat signifikansi uji F lebih besar dari 5%, maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil uji F dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
TABEL 4.9
Hasil Regresi Model Pertama
ROA = α0 + α1CSDI+ α2ICG+ α3ICG*CSDI+ α4SIZE + α5LEV+ e
ANOVAa Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression .686 5 .137 338.849 .000b Residual .012 30 .000 Total .698 35
a. Dependent Variable: ROA
b. Predictors: (Constant), SIZE, LEV, ICG*CSDI, CSDI, ICG
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
TABEL 4.10
Hasil Regresi Model Kedua
CSR= β0 + β1ROA + β2ICG + β3ICG*ROA + β4SIZE+ β5LEV+ e
ANOVAa Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 2.367 5 .473 529.074 .000b Residual .027 30 .001 Total 2.94 35
a. Dependent Variable: CSDI
b. Predictors: (Constant), LEV, SIZE, ROA, ICG, ICG*ROA
Sumber : Data Sekunder yang diolah 2013
Berdasarkan tabel 4.9, pada model pertama Nilai F Hitung sebesar 338.849, sedangkan untuk F Tabel sebesar 2.534 dengan probabilitas sebesar 0.000. Hal ini berarti F Hitung > F Tabel, 338.849 > 2.534, dengan tingkat probabilitas lebih kecil dari batas nilai signifikansi (α = 0.05). Sehingga dapat dikatakan bahwa variabel CSR, moderasi ICG, size dan leverage secara simultan berpengaruh terhadap ROA. Maka
variabel CSR, moderasi ICG, size dan leverage dapat digunakan bersama-sama.
Untuk model kedua nilai F Hitung sebesar 529.074 dengan probabilitas 0.000. Probabilitas lebih kecil dari batas nilai signifikan (α = 0.05). Nilai F Hitung lebih besar dari pada F Tabel, F Hitung > F Tabel, 529.074 > 2.534, hal ini berarti variabel ROA, moderasi GCG, size dan leverage secara simultan berpengaruh terhadap CSR. Maka variabel ROA, moderasi GCG serta variabel kontrol size dan leverage dapat digunakan bersama-sama.
b. Uji Hipotesis (T Test)
Untuk pengujian hipotesis pertama sampai pengujian hipotesis keempat dilakukan dengan menggunakan uji hipotesis atau t-test. Uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen dan variabel kontrol secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Dalam penelitian ini terdapat dua model regresi dengan ROA (proksi kinerja keuangan) sebagai variabel dependen pertama dan CSR sebagai variabel dependen kedua. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan alat analisis regresi linier berganda diperoleh hasil sebagai berikut.
TABEL 4.11
Uji Hipotesis (t- test) Model Pertama
ROA = α0 + α1CSDI+ α2ICG+ α3ICG*CSDI+ α4SIZE + α5LEV+ e
Variabel Koefisien Regresi Koefisien β T Hitung Sig. t
(Constant) .022 .308 .761 ICG -.140 -.116 -4.198 .000 CSDI .012 .022 .833 .411 ICG*CSDI 1.343 1.020 37.668 .000 LEV .000 .006 .221 .827 SIZE .010 .027 1.113 .275 Adjust R Square .980 F statistic 338.849 Sig. F .000b
Pada model pertama ini variabel independen CSR, dua variabel kontrol size dan leverage serta satu variabel pemoderasi GCG yang dimasukkan ke dalam regresi. Berdasarkan pengujian terhadap variabel independen CSR diketahui nilai koefisiennya 0.012 dengan tingkat probability sebesar 0.411, artinya secara parsial variabel CSR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Nilai koefisien variabel Leverage sebesar 0.000 dengan tingkat probability 0.827, yang berarti secara parsial variabel leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Begitu pula dengan variabel size nilai koefisiennya 0.010 dengan tingkat probability sebesar 0.275 artinya variabel kontrol size tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Berdasarkan pengujian terhadap variabel moderasi GCG nilai koefisien nya sebesar 1.343 dengan tingkat probability 0.000 < 0.05 yang berarti moderasi GCG berpengaruh signifikan pada pengaruh CSR terhadap ROA.
Dapat disimpulkan bahwa variabel kinerja keuangan yang diukur dengan ROA dipengaruhi oleh variabel moderasi GCG dengan persamaan regresi yaitu :
ROA=0.022+0.012CSDI-0.140ICG+1.343ICG*CSDI+0.010SIZE+0.00LEV
TABEL 4.12
Uji Hipotesis (t-test) Model Kedua
CSR= β0 + β1ROA + β2ICG + β3ICG*ROA+ β4SIZE+ β5LEV+ e
Variabel Koefisien Regresi Koefisien β T Hitung Sig. t
(Constant) .216 2.061 .048 ROA .054 .029 1.389 .175 ICG -.411 -.185 -8.044 .000 ICG*ROA 1.276 1.056 45.857 .000 SIZE .013 .019 .962 .344 LEV -.001 -.025 -1.195 .241 Adjust R Square 0.987 F statistic 529.074 Sig. F 0.000b
Pada model regresi kedua ini variabel ROA, moderasi GCG, size dan leverage dimasukkan ke dalam regresi. Berdasarkan pengujian terhadap variabel ROA diketahui nilai koefisien 0.054 dengan tingkat probability 0.175 > 0.05 artinya secara parsial ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap CSR. Variabel size dengan nilai koefisien 0.013 dan tingkat probability sebesar 0.344 > 0.05 yang artinya size tidak berpengaruh signifikan terhadap CSR. Begitu pula dengan variabel leverage nilai koefisiennya -0.001 dengan tingkat probability 0.241, artinya secara parsial leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap CSR. Berdasarkan pengujian terhadap variabel moderasi GCG memiliki nilai
koefisien sebesar 1.276 dengan tingkat probability 0.000 < 0.05, yang artinya secara parsial moderasi GCG berpengaruh signifikan pada pengaruh ROA terhadap CSR.
Dapat disimpulkan bahwa variabel CSR dipengaruhi oleh moderasi GCG dengan persamaan regresi nya adalah :
CSR=0.216+0.054ROA-0.4111CG+1.276ICG*ROA+0.013SIZE-0.001LEV
c. Uji Koefisien Diterminasi (R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar hubungan dari beberapa variabel dalam pengertian yang lebih jelas. Koefisien determinasi akan menjelaskan seberapa besasr perubahan atau variasi suatu variabel bisa dijelaskan oleh perubahan atau variasi pada variabel yang lain (Santosa dan Ashari, 2005). Dalam bahasa sehari-hari adalah kemampuan variabel bebas untuk berkontribusi terhadap variabel tetapnya dalam satuan persentase. Hasil uji koefisien determinasi R2 pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
TABEL 4.13
UJI KOEFISIEN DETERMINASI Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 .991a .983 .980 .0201219 2.177
a. Predictors: (Constant), SIZE, LEV, ICG*CSDI, CSDI, ICG b. Dependent Variable: ROA
TABEL 4.14
UJI KOEFISIEN DETERMINASI Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1 .994a .989 .987 .0299121 1.863
a. Predictors: (Constant), LEV, SIZE, ROA, ICG, ICG*ROA b. Dependent Variable: CSDI
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa persamaan regresi pada model pertama maupun kedua sangat baik. Pada model pertama nilai adjusted R2 sekitar 0.980 yang artinya adalah sebesar 98,0% hubungan variabel dependen yaitu ROA dapat diterangkan oleh CSR, moderasi GCG, size dan leverage sedangkan sisanya yaitu 2% diterangkan oleh faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap variabel ROA.
Pada model kedua, persamaan regresi menghasilkan nilai adjusted R2 sekitar 0,987 yang artinya adalah sebesar 98,7% hubungan variabel dependen yaitu CSR dapat diterangkan oleh ROA, moderasi GCG, size dan leverage, sedangkan sisanya 1.3% diterangkan oleh faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap variabel CSR.
C. PEMBAHASAN
Secara keseluruhan hasil hipotesis dengan menggunakan regresi berganda adalah sebagai berikut :
TABEL 4.15
Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis
Kode Hipotesis Kesimpulan
H1 Pengungkapan Corporate Social Responsibility berpengaruh positif terhadap Return On Asset
Ditolak H2 Return On Asset berpengaruh positif terhadap
Corporate Social Responsibility
Ditolak H3 Moderasi Good Corporate Governance pada
pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Return on Asset berpengaruh secara signifikan
Diterima
H4 Moderasi Good Corporate Governance pada pengaruh Return on Asset terhadap Corporate Social Responsibility berpengaruh secara signifikan.
Diterima
Sumber : Data sekunder yang diolah 2013
1. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Return On Asset
Corporate Social Responsibility menunjukkan bahwa seberapa besar pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, melalui kegiatan sosial di lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Berdasarkan hasil analisis dan ringkasan dalam tabel 4.11 dapat diketahui bahwa variabel CSR tidak berpengaruh terhadap ROA. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Dahlia dan Siregar (2008) yang menyatakan bahwa CSR berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Aktivitas dan pengungkapan CSR yang dilakukan oleh perusahaan akan membuat para stakeholder memberikan dukungan terhadap perusahaan sehingga akan berdampak positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Marrisa, dkk. yang menyatakan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, ROE
dan EPS. Waddok et al (1997) dalam Marrisa dkk. (2011) berasumsi bahwa perusahaan dengan perilaku yang bertanggung jawab mungkin memiliki kelemahan kompetitif, karena memiliki biaya yang tidak perlu. Biaya ini, berada langsung pada bottom line dan tentu akan mengurangi keuntungan pemegang saham dan kekayaan. Hal inilah yang menyebabkan laba perusahaan menurun dan akan diikuti dengan peningkatan ROA yang tidak signifikan.
2. Pengaruh Return On Asset terhadap Corporate Social Responsibility Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa probabilitas CSR di atas 0.05, hasil ini menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh signifikan antara Return on Asset dengan Corporate Social Responsibility. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Dahlia (2008) yang menyatakan bahwa tingkat return on asset (ROA) berpengaruh signifikan terhadap CSR. Akan tetapi penelitian ini sejalan dengan penelitian Cahya (2010) yang menyatakan bahwa variabel ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap CSR.
Perusahaan yang memiliki kinerja keuangan bagus, belum tentu mempraktikkan CSR dengan tingkat yang tinggi pula. Perusahaan-perusahaan di Indonesia masih menganggap praktik CSR hanyalah suatu isu yang berkembang di masyarakat dan lingkungan. Perusahaan dengan perilaku bertanggung jawab, mungkin memiliki kelemahan kompetitif, karena mereka memiliki biaya yang tidak perlu. Biaya ini tentu saja akan
mengurangi keuntungan para pemegang saham dan kekayaan. Hal inilah yang menyebabkan laba perusahaan menurun dan akan diikuti peningkatan ROA yang tidak signifikan.
3. Moderasi Good Corporate Governance pada Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Return On Asset
Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Moderasi GCG berpengaruh signifikan pada pengaruh CSR terhadap ROA. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Sari dan Kurniasih (2012) yang menyatakan bahwa moderasi culture dan corporate governance pada pengaruh corporate social responsibility terhadap return on asset tidak berpengaruh secara signifikan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Riswary (2011) yang menyatakan bahwa corporate governanance yang diproksikan dengan kepemilikan manajemen, kepemilikan institusional, proporsi komisaris independen dan jumlah komite audit berpengaruh positif terhadap hubungan antara CSR dan nilai perusahaan. Hasil ini menunjukkan bahwa adanya corporate governance sebagai variabel pemoderasi dapat meminimalisasi masalah-masalah keagenan yang pada gilirannya akan memberikan pengaruh positif pada hubungan antara kinerja keuangan dan nilai perusahaan. Tata kelola perusahaan yang baik dan pertanggung jawaban sosial yang tinggi maka akan menarik perhatian
investor untuk berinvestasi, sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
4. Moderasi Good Corporate Governance pada Pengaruh Return On Asset terhadap CorporateSocial Responsibility
Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi GCG pada pengaruh Kinerja Keuangan terhadap CSR berpengaruh positif signifikan. Hal ini bertentangan dengan hasil penelitian Charming (2010) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial (proksi GCG) sebagai variabel moderasi tidak terbukti berpengaruh terhadap hubungan Return On Asset dan nilai perusahaan atau dengan kata lain kepemilikan manajerial bukan merupakan variabel pemoderasi.
Berbeda dengan hasil penelitian pada hipotesis pertama bahwa Kinerja Keuangan tidak berpengaruh terhadap CSR, hasil dari hipotesis yang ke empat ini adalah Kinerja Keuangan yang baik disertai dengan Good Corporate Governance maka akan memberikan pengaruh signifikan terhadap CSR. Hal ini berarti Kinerja keuangan yang baik disertai dengan pelaksanaan GCG beserta aspek-aspek di dalamnya dengan baik maka akan berpengaruh terhadap luas pengungkapan CSR.