• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

14

A. Pembiayaan

1. Pengertian Pembiayaan

Menurut Undang-undang Perbankan No. 10 Tahun 1998, Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dan pihak lain yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.1 2. Tujuan Pembiayaan

Pembiayaan merupakan sumber pendapatan bagi bank syariah. Tujuan pembiayaan yang dilaksanakan perbankan syariah terkait dengan stakeholder, yakni:

a. Pemilik

Dari sumber pendapatan di atas, para pemilik mengharapkan akan memperoleh penghasilan atas dana yang ditanamkan pada bank tersebut.

b. Pegawai

Para pegawai mengharapkan dapat memperoleh kesejahteraan dari bank yang dikelolanya.

1

(2)

c. Masyarakat 1) Pemilik Dana

Sebagai pemilik, mereka mengharapkan dari dana yang diinvestasikan akan diperoleh bagi hasil.

2) Debitur yang Bersangkutan

Para debitur, dengan penyediaan dani baginya, mereka terbantu guna menjalankan usahanya (sektor produktif) atau terbantu untuk pengadaan barang yang diinginkannya (pembiayaan konsumtif).

3) Masyarakat umum-konsumen

Mereka dapat memperoleh barang-barang yang dibutuhkannya.

4) Pemerintahan

Akibat penyediaan pembiayaan, pemerintah terbantu dalam pembiayaan pembangunan negara, di samping itu akan diperoleh pajak (berupa pajak penghasilan atas keuntungan yang diperoleh bank dan juga perusahaan-perusahaan).

5) Bank

Bagi bank yang bersangkutan, hasil dari penyaluran pembiayaan, diharapkan bank dapat meneruskan dan mengembangkan usahanya agar tetap survival dan meluas

(3)

jaringan usahanya, sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat dilayaninya.2

3. Unsur-unsur Pembiayaan

Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian pembiayaan ini adalah:

a. Bank syariah

Merupakan badan usaha yang memberikan pembiayaan kepada pihak lain yang membutuhkan dana.

b. Mitra usaha/Partner

Merupakan pihak yang mendapatkan pembiayaan dari bank syariah, atau pengguna dana yang disakurkan oleh bank syariah. c. Kepercayaan

Bank syariah memberikan kepercayaan kepada pihak yang menerima pembiayaan bahwa mitra akan memenuhi kewajiban untuk mengembalikan dana bank syariah sesuai dengan jangka waktu tertentu yang diperjanjikan.

d. Akad

Akad merupakan suatu kontrak perjanjian atau kesepakatan yang dilakukan antara bank syariah dan pihak nasabah/mitra.

e. Resiko

Setiap dana yang disalurkan oleh bank selalu mengandung resiko tidak kembalinya dana. Resiko pembiayaan merupakan

2

(4)

kemungkinan kerugian yang akan timbul karena dana yang disalurkan tidak dapat kembali.

f. Jangka Waktu

Merupakan periode waktu yang diperlukan oleh nasabah untuk membayar kembali pembiayaan yang telah diberikn oleh bank syariah. Jangka waktu dapat bervariasi antara lain jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

g. Balas Jasa

Sebagai balas jasa atas dana yang disalurkan oleh bank syariah, maka nasabah membayar sejumlah tertentu sesuai dengan akad yang telah disepakati antara bank dan nasabah.

4. Manfaat Pembiayaan

Beberapa manfaat atas pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah kepada mitra usaha antara lain:

a. Manfaat Pembiayaan Bagi Bank

1) Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah akan mendapat balas jasa berupa bagi hasil, margin keuntungan, dan pendapatan sewa, tergantung pada akad pembiayaan.

2) Pembiayaan akan berpengaruh pada peningkatan profitabilitas bank. Hal ini dapat tercermin pada perolehan laba.

3) Pemberian pembiayaan kepada nasabah secara sinergi akan memasarkan produk bank syariah lainnya, seperti produk dana jasa.

(5)

4) Pegawai bank semakin terlatih untuk dapat memahami berbagai sektor usaha sesuai dengan jenis usaha nasabah yang dibiayai. b. Manfaat Pembiayaan Bagi Debitur

1) Meningkatkan usaha nasabah.

2) Biaya yang diperlukan dalam rangka mendapatkan pembiayaan dari bank syariah relatif murah.

3) Nasabah dapat memilih berbagai jenis pembiayaan berdasarkan akad yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.

4) Bank dapat memberikan fasilitas lainnya kepada nasabah, misal transfer dengan menggunakan wakalah, kafalah, hawalah dan fasilitas lainnya yang dibutuhkan oleh nasabah

5) Jangka waktu pembiayaan disesuaikan dengan jenis pembiayaan dan kemampuan nasabah dalam membayar kembali pembiayaannya, sehingga nasabah dapat mengestimasikan keuangannya dengan tepat.

c. Manfaat Pembiayaan Bagi Pemerintah

1) Pembiayaan dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong pertumbuhan sektor riil.

2) Pembiayaan bank dapat digunakan sebagai alat pengendali moneter.

3) Pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

(6)

4) Secara tidak langsung bank syariah dapat meningkatkan pendapatan negara, yaitu pendapatan pajak.

d. Manfaat Pembiayaan Bagi Masyarakat Luas 1) Mengurangi tingkat pengangguran.

2) Melibatkan masyarakat yang memiliki profesi tertentu, misalnya akuntan, notaris, apparaisal independent, asuransi.

3) Memberikan rasa aman bagi masyarakat yang menggunakan pelayanan jasa perbankan, misalnya letter of credit, bank garasi, transfer, kliringdan layanan jasa lainnya.

4) Penyimpan dana akan mendapat imbalan berupa bagi hasil lebih tinggi dari bank apabila bank dapat meningkatkan keuntungan atas pembiayaan yang disalurkan.

5. Jenis-jenis Pembiayaan

Menurut sifat penggunaannya, pembiayaan dapat dibagi menjadi dua hal berikut.

a. Pembiayaan produktif

Yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan, maupun investasi.

b. Pembiayaan konsumtif

Yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan.

(7)

Menurut keperluannya, pembiayaan produktif dapat dibagi menjadi dua hal berikut:

a. Pembiayaan modal kerja

Yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan produksi, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif dan untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang.

b. Pembiayaan investasi

Yaitu untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal (capital goods) serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan itu.3

Kebutuhan barang konsumsi, perumahan atau properti apa saja secara umum dapat dipenuhi dengan pembiayaan berpola jual beli dengan akad jual beli.

Dengan akad ini bank syariah memenuhi kebutuhan nasabah dengan membelikan aset yang dibutuhkan nasabah dari supplier kemudian menjual kembali kepada nasabah dengan mengambil margin keuntungan yang diinginkan. Selain mendapat keuntungan margin, bank syariah juga hanya menanggung resiko yang minimal. Sementara itu, nasabah mendapatkan kebutuhan asetnya dengan harga yang tetap.4

3

Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h.160

4

Ascarya, Akad & Produk Bank Syariah, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 127

(8)

6. Analisa Pemberian Pembiayaan

Analisa pembiayaan merupakan suatu proses analisis yang dilakukan oleh bank syariah untuk menilai suatu permohonan pembiayaan yang telah diajukan oleh calon nasabah. Bank melakukan analisis pembiayaan dengan tujuan untuk mencegah secara dini kemungkinan terjadinya default oleh nasabah.

Ada beberapa prinsip yang perlu dilakukan sebelum memutuskan permohonan pembiayaan yang diajukan oleh calon nasabah antara lain dikenal dengan prinsip 5C, yaitu sebagai berikut:

a. Character

Menggambarkan watak dan kepribadian calon nasabah Bank perlu melakukan analisis terhadap karakter calon nasabah dengan tujuan untuk mengetahui bahwa calon nasabah mempunyai keinginan untuk memenuhi kewajiban membayar kembali pembiayaan yang telah diterima hingga lunas.

b. Capacity

Analisis terhadap capacity ini ditujukan untuk mengetahui kemampuan keuangan calon nasabah dalam memenuhi kewajibannya sesuai jangka waktu pembiayaan. Kemampuan keuangan calon nasabah sangat penting karena merupakan sumber utama pembayaran. Semakin baikk kemampuan keuangan calon nasabah, maka semakin baik kemungkinan kualitas pembiayaan.

(9)

c. Capital

Modal merupakan jumlah modal yang dimiliki oleh calon nasabah atau jumlah dana yang akan disertakan dalam proyek

yang dibiayai. Semakin besar modal yang dimiliki dan disertakan oleh calon nasabah dalam objek pembiayaan akan semakin meyakinkan bagi bank akan keseriusan calon nasabah dalam mengajukan pembiayaan dan pembayaran kembali. d. Collateral

Merupakan agunan yang diberikan oleh calon nasabah atas pembiayaan yang diajukan. Agunan merupakan sumber pembayaran kedua. Dalam hal nasabah tidak dapat membayar angsurannya, maka bank syariah dapat melakukan penjualan terhadap agunan. Hasil penjualan agunan digunakan sebagai sumber pembayaran kedua untuk melunasi pembiayaannya. Bank tidak akan memberikan pembiayaan yang melebihi dari nilai agunan, kecuali untuk pembiayaan tertentu yang dijamin pembayarannya oleh pihak tertentu.

e. Condition of Economy

Merupakan analisis terhadap kondisi perekonomian. Bank perlu mempertimbangkan sektor usaha calon nasabah dikaitkan dengan kondisi ekonomi. Bank perlu melakukan analisis dampak kondisi ekonomi terhadap usaha calon nasabah

(10)

dimasa yang akan datang, untuk mengetahui pengaruh kondisi ekonomi terhadap usaha calon nasabah.5

7. Penilaian kelayakan Pembiayaan

Dalam tahap penilaian kelayakan pembiayaan ini, banyak aspek yang akan dinilai, yaitu:

a. Aspek hukum

Merupakan penilaian terhadap keaslian dan keabsahan dokumen-dokumen yang diajukan oleh nasabah.

b. Aspek pasar dan pemasaran

Menilai prospek usaha yang dijalankan oleh calon nasabah untuk masa sekarang dan akan datang.

c. Aspek keuangan

Dalam aspek ini yang dinilai dengan menggunakan analisis laporan keuangan adalah aspek keuangan perusahaan yang dilihat dari laporan keuangan yang termuat dalam neraca dan laporan laba rugi yang dilampirkan dalam aplikasi pembiayaan. d. Aspek teknis/operasional

Untuk mengetahui mengenai lokasi tempat usaha, kondisi gedung beserta sarana dan prasarana pendukung lainnya yang dimiliki calon nasabah.

5

(11)

e. Aspek manajemen

Penilaian terhadap pengalaman perusahaan nasabah dalam mengelola kegiatan usahanya, termasuk sumber daya manusia yang mendukung kegiatan usaha tersebut.

f. Aspek sosial ekonomi

Untuk melakukan penilaian terhadap dampak dari kegiatan usaha yang dijalankan oleh perusahaan calon nasabah khususnya bagi masyarakat baik secara ekonomis maupun sosial.6

B. Pembiayaan Bermasalah

1. Pengertian Pembiayaan Bermasalah

Dalam berbagai peraturan yang diterbitkan Bank Indonesia tidak dijumpai pengertian dari “Pembiayaan Bermasalah”. Begitu juga istilah Non Perfoming Financings (NPFs) untuk fasilitas pembiayaan maupun istilah Non Perfoming Loan (NPL) untuk fasilitas pembiayaan tidak dijumpai dalam peraturan-peraturan yang diterbitkan Bank Indonesia. Namun dalam setiap statistik Perbankan Syariah yang diterbitkan oleh Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia dapat dijumpai istilah Non Perfoming Financing (NPFs) yang diartikan sebagai “Pembiayaan Non Lancar mulai dari kurang lancar sampai dengan macet”.

6

Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), h 70

(12)

Pembiayaan bermasalah tersebut, dari segi prodiktivitasnya yaitu dalam kaitannya dengan kemampuannya menghasilkan pendapatan bagi bank, sudah berkurang/menurun dan bahkan mungkin sudah tidak ada lagi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan yang kualitasnya berada dalam golongan kurang lancar, diragukan dan macet.7

2. Dalil Tentang Pembiayaan bermasalah Qs. Al-Baqarah : 280



Artrinya: dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

3. Faktor-faktor Penyebab Pembiayaan bermasalah

Ada beberapa faktor penyebab pembiayaan bermasalah sebagai berikut:

a) Faktor Intern (berasal dari pihak bank)

1) Kurang baiknya pemahaman atas bisnis nasabah 2) Kurang dilakukan evaluasi keuangan nasabah

3) Kesalahan setting fasilitas pembiayaan (berpeluang melakukan side streaming).

7

Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), h. 64

(13)

4) Perhitungan modal kerja tidak didasarkan kepada bisnis usaha nasabah.

5) Proyeksi penjualan terlalu optimis 6) Proyeksi penjualan

7) memperhitungkan kebiasaan bisnis dan kurang memperhitungkan aspek kompetitor.

8) Aspek jaminan tidak diperhitungkan aspek marketable. 9) Lemahnya supervisi dan monitoring

10) Terjadinya erosi mental: kondisi ini dipengaruhi timbal balik antara nasabah dengan pejabat bank sehingga mengakibatkan proses pemberian pembiayaan tidak didasarkan pada praktik perbankan yang sehat.

b) Faktor ekstern (berasal dari pihak luar).

1) Karakter nasabah tidak amanah (tidak jujur dalam memberikan informasi dan laporan tentang kegiatan)

2) Melakukan sidestreaming penggunaan dana.

3) Kemampuan pengelolaan nasabah tidak memadai sehingga kalah dalam persaingan usaha.

4) Usaha yang dijalankan relatif baru. 5) Bidang usaha nasabah telah jenuh.

6) Tidak mampu menanggulangi masalah/kurang menguasai bisnis. 7) Meninggalnya key person.

(14)

9) Terjadi bencana alam.

10) Adanya kebijakan pemerintah: peraturan suatu produk atau sektor ekonomi atau industri dapat berdampak positif maupun negatif bagi perusahaan yang berkaitan dengan industri tersebut.8

4. Penetapan Kualitas Pembiayaan

Menurut ketentuan pasal 12 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 tentang penilaian Kualitas Bank Umum dibagi menjadi sebagai berikut:9

a) Lancar

Apabila pembayaran angsuran tepat waktu, tidak ada tungggakan, sesuai dengan persyaratan akad, selalu menyampaikan laporan keuangan secara teratur dan akurat, serta dokumentasi perjanjian piutang lengkap dan pengikat agunan kuat.

b) Dalam perhatian khusus

Apabila terdapat tungggakan pembayaran angsuran pokok dan atau margin sampai dengan 90 (sembilan puluh) hari, selalu menyampaikan laporan keuangan secara teratur dan akurat, dokumentasi perjanjian piutang lengkap dan pengikatan agunan kuat, serta pelanggaran terhadap persyaratan perjanjian piutang yang tidak prinsipil.

c) Kurang Lancar

8

Trisadini P. Usanti dan Abd. Shomad, Transaksi Bank Syariah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), Cet. Ke-1, h. 102

9

(15)

Apabila terdapat tungggakan pembayaran angsuran pokok dan atau margin yang telah melewati 90 (sembilan puluh) hari sampai dengan 180 (seratus delapan puluh) hari, penyampaian laporan keuangan tidak teratur dan meragukan, dokumentasi perjanjian piutang kurang lengkap dan pengikatan agunan kuat, terjadi pelangggaran terhadap persyaratan pokok perjanjian piutang dan berupaya melakukan perpanjangan piutang untuk menyembunyikan kesulitan keuangan.

d) Diragukan

Apabila terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokokdan atau margin yang telah melewati 180 (seratus delapan puluh) hari sampai dengan 270 (dua ratus tujuh puluh) hari. Nasabah tida menyampaikan informasi keuangan atau tidak dapat dipercaya, dokumentasi perjanjian piutang tidak lengkap dan pengikatan agunan lemah serta terjadi pelanggaran yang pinsipil terhadap persyaratan pokok perjanjian piutang.

e) Macet

Apabila terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokok dan atau margin yang telah melewati 270 (dua ratus tujuh puluh) hari, dan dokumentasi perjanjian piutang dan atau pengikatan agunan tidak ada.10

C. Murabahah

10

(16)

1. Pengertian murabahah

Murabahah, berasal dari perkataan Ribh yang berarti pertambahan. Secara pengertian umum diartikan sebagai suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah dengan keuntungan yang disepakati.11Murabahah adalah akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli kemudian menjual kepada pihak pembeli dengan mensyaratkan keuntungan yang diharapkan sesuai jumlah tertentu.12

Karena dalam definisinya disebut adanya “keuntungan yang disepakati”, karakteristik murabahah adalah si penjual harus memberi tahu pembeli tentang harga pembelian barang dan menyatakan jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya tersebut.13

2. Landasan syariah a. Al-qur’an

Landasan Syariah murabahah (dalam konteks jual beli) dalam Al-Quran terdapat pada QS. Al-Baqarah: 275, QS. An-Nisa’:29 :

QS. Al-Baqarah: 275

...

...

11

Syukri Iska, Sistem Perbankan Syariah di Indonesia Dalam Perspektif Fikih Ekonomi, (Yogyakarta, Fajar Media press, 2012), cet. ke-1, h. 200

12

Ismail, op.cit., h. 138

13

Adiwarman A. Karim,Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan”, (Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, 2013), cet-9, h. 113

(17)

Artinya: “…Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan

riba…” (QS. Al-Baqarah: 275) Qs.An-Nisa’:29





Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling

memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.(An-Nisa’: 29).

b. Al-hadist

Hadist Nabi riwayat Ibnu Majah

اَا اَ اَ اَ اَ اَ بِ بِا اَ بِ يْ اَ اَ اللهُ اَ اَ نَّ بِ نَّلا نَّ اَ : اللهُ اَ اَ اَ يْا نَّ بِ يْ بِ ثٌ اَ اَ : ، ضر قما ،لجأ اإ ع ا ع الا ت ا عشا ب ا ط خ ( ب ج م ب ه ر )

“Dari Suhaib ar-Rumi r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda: ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqharadah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan

(18)

jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual...” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).

Hadist Nabi riwayat Al-Baihaqi dan Ibnu Majah

“HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.”14

3. Rukun dan syarat Murabahah a. Rukun Murabahah

1) Penjual

Adalah pihak yang memiliki objek barang yang akan diperjual belikan. Dalam transaksi perbankan syariah, maka pihak penjualnya adalah bank syariah.

2) Pembelian

Merupakan pihak yang ingin memperoleh barang yang diharapkan, dengan membayar sejimlah uang tertentu kepada penjual. Pembeli dalam aplikasi bank syariah adalah nasabah. 3) Objek jual beli

Merupakan barang yang akan digunakan sebagai objek transaksi jual beli. Obyek ni harus ada fisiknya.

4) Harga

Setiap transaksi jual beli harus disebutkan dengan jelas harga jual yang disepakati antara penjual dan pembeli.

14

Wirdyaningsih, et al, Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, (Jakarta:Kencana, 2005), h.106

(19)

5) Ijab kabul

Merupakan kesepakatan penyerahan barang dan penerimaan barang yang diperjualbelikan. Ijab kabul harus disampaikan secara jelas atau dituliskan untuk ditandatangani oleh penjual dan pembeli.

b. Syarat

Adapun syarat dalam murabahah: 1) Pihak yang berakad

Pihak yang melakukan akad harus ikhlas dan memiliki kemampuan untuk melakukan transaksi jual beli, misalnya sudah cakap hukum.

2) Obyek Jual Beli

a) Barangnya ada atau ada kesanggupan dari penjual untuk mengadakan barang yang akan dijual. Bila barang belum ada, dan masih akan diadakan, maka barang tersebut harus sesuai dengan pernytaan penjual (jenis, spesifikasi, kualitas dan kuantitasnya).

b) Barang yang akan dijual adalah milik sah penjual, yang dibuktikan dengan bukti kepemilikan.

c) Barang yang diperjualbelikan merupakan barang berwujud. d) Barang yang diperjualbelikan adalah barang halal.

(20)

a) Harga jual yang ditawarkan oleh bank merupakan harga beli ditambah dengan margin keuntungan.

b) Harga jual tidak boleh berubah selama masa perjanjian.

c) Sistem pembayaran dan jangka waktu pembayaran disepakati bersama antara penjual dan pembeli.15

4. Macam-macam murabahah a. Murabahah tanpa pesanan

Murabahah tanpa pesanan maksudnya adalah ada yang pesan atau tidak, ada yang beli atau tidak, bank (ba’i) menyediakan barang dagangannya. Penyediaan barang pada murabahah model ini tidak terpengaruh atau terkait langsung dengan ada tidaknya pesanan atau pembeli.

b. Murabahah berdasarkan pesanan

Maksudnya adalah suatu penjualan dimana dua pihak atau lebih bernegosiasi dan berjanji satu sama lain untuk melaksanakan suatu kesepakatan bersama, dimana pemesan (nasabah/musytari) meminta bank (ba’i) untuk membeli aset yang kemudian dimiliki secara sah oleh pihak musytari.16

5. Skema akad murabahah

Gambar 2.1

15

Ismail, op.cit., h. 136

16

Bagya Agung Prabowo, Aspek Hukum Pembiayaan Murabahah Pada Perbankan

(21)

Skema proses pembiayaan murabahah 2 3 1 4 6 5 Keterangan:

1. Pembuatan akad jual beli barang antara bank dan nasabah yang sekaligus merupakan pemesanan baran oleh nasabah kepada bank. 2. Pembuatan akad jual beli yang diikuti pelaksanaan pembayaran harga

barang oleh bank.

3. Penjualan dan penyerahan hak kepemilikan barang oleh pemasok kepada bank.

4. Penjualan barang + mark-up/margin dan penyerahan hak kepemilikan oleh bank kepada nasabah.

5. Pengiriman barang secara fisik oleh pemasok kepada nasabah.

6. Pelunasan harga barang oleh nasabah kepada bank secara cicilan atau secara sekaligus pada akhir waktu pelunasan.17

D. Penanganan atau Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah

17

Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah Poduk-produk dan Aspek-aspek Hukumnya, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h.194

BANK PEMASOK

(22)

1. Penanganan Pembiayaan Bermasalah

Bank syariah dalam memberikan pembiayaan berharap bahwa pembiayaan tersebut berjalan dengan lancar, nasabah mematuhi apa yang telah disepakati dalam perjanjian dan membayar lunas bilamana jatuh tempo. Akan tetapi, bisa terjadi dalam jangka waktu pembiayaan nasabah mengalami kesulitan dalam pembayaran yang berakibat kerugian bagi bank syariah. Dalam hukum perdata kewajiban memenuhi prestasi harus dipenuhi oleh debitur sehingga jika debitur tidak memenuhi sesuatu yang diwajibkan, seperti yang telah ditetapkan dalam perjanjian maka dikatakan debitur telah melakukan wanprestasi. Ada empat keadaan dikatakan wanprestasi, yaitu:

1. Debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali

2. Debitur memenuhi prestasi tidak sebagaimana yang diperjanjikan. 3. Debitur terlambat memenuhi prestasi, dan

4. Debitur melakukan perbuatan yang tidak diperbolehkan dalam perjanjian.

Setiap terjadi pembiayaan bermasalah maka bank syariah akan berupaya untuk menyelamatkan pembiayaan berdasarkan PBI No. 10/18/PBI/2008 tentang Restrukturisasi pembiayaan bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah maka bank syariah, yaitu:

1. Penjadwalan kembali (Rescheduling)

Yaitu perubahan jadwal pembayaran kewajiban nasabah atau jangka waktunya. Misalnya perpanjangan jangka waktu dari enam

(23)

bulan menjadi satu tahun sehingga si debitur mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembalikan.

2. Persyaratan kembali (Reconditioning)

Yaitu perubahan sebagian atau seluruh persyaratan pembiayaan tanpa menambah sisa pokok kewajiban nasabah yang harus dibayarkan kepada bank, antara lain meliputi:

a) Pengurangan jadwal pembayaran b) Perubahan jumlah angsuran c) Perubahan jangka waktu dan/atau d) Pemberian potongan.

3. Penataan kembali (Restructuring)

Yaitu perubahan persyaratan pembiyaan yang antara lain meliputi:

a) Penambahan dana fasilitas pembiayaan bank b) Konversi akad pembiayaan

c) Konversi pembiayaan menjadi surat berharga syariah berjangka waktu.

d) Konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara pada perusahaan nasabah yang dapat disertai dengan rescheduling atau reconditioning.

Bank hanya dapat melakukan restructuring pembiayaan terhadap nasabah yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

(24)

1) Nasabah telah atau diperkirakan mengalami penurunan atau kesulitan kemampuan dalam pembayaran dan/atau pemenuhan kewajibannya.

2) Nasabah memiliki prospek usaha yang baik maupun memenuhi kewajiban setelah direstrukturisasi.

Pada pembiayaan murabahah, bank syariah dapat melakukan penjadwalan kembali (rescheduling) tagihan murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati dengan ketentuan:

1) Tidak menambah jumlah tagihan yang tersisa

2) Pembebanan biaya dalam proses penjadwalan kembali adalah biaya riil

3) Perpanjangan masa pembayaran harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.18

2. Penyelesaian pembiayaan bermasalah a. Penyelesaian melalui eksekusi jaminan

Eksekusi jaminan disesuaikan dengan lembaga jaminan yang membebani benda jaminan tersebut, rahn (gadai syariah), jaminan hipotik, jaminan hak tanggungan, jaminan fidusia.

b. Penyelesaian lewat badan Arbitrase Syariah Nasional

18

(25)

Berdasarkan klausula dalam perjanjian pembiayaan, bilamana jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau terjadi perselisihan diantara kedua belah pihak dan tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah, maka penyelesaiannya melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS).

Basyarnas memiliki wewenang:

1) Menyelesaikan secara adil dan cepat sengketa muamalah (perdata) yang timbul dalam bidang perdagangan, keuangan, industri, jasa dan lain-lain yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa, dan para pihak sepakat secara tertulis untuk menyerahkan penyelesaiannya kepada BASYARNAS sesuai dengan prosedur. 2) Memberikan pendapat yang mengikat atas permintaan para pihak

tanpa adanya suatu sengketa mengenai persoalan berkenan dengan suatu perjanjian.

c. Penyelesaian lewat litigasi

Penyelesaian lewat litigasi akan ditempuh oleh bank bilamana nasabah tidak beritikad baik, yaitu tidak menunjukkan kemauan untuk memenuhi kewajibannnya sedangkan nasabah sebenarnya masih mempunyai harta kekayaan yang tidak dikuasai oleh bank atau sengaja disembunyikan atau mempunyai sumber-sumber lain untuk menyelesaikan pembiayaan bermasalahnya.19

19Ibid

Referensi

Dokumen terkait

Untuk bangunan hancur dan rusak memiliki bentuk yang tidak teratur dibandingkan dengan mungkin rusak dan tidak ada kerusakan, sehingga parameter nilai berdasarkan hasil

Dengan melihat fungsi bangunan yaitu sebagai Galeri sepeda motor bekas dimana sebagai tempat pameran dan jual beli motor bekas maka konsep bentuk yang di ambil dari sebuah

Bentuk miring pada secondary skin dimaksud untuk cahaya yang masuk tetap maksimal serta bagian yang memiliki lubang berbentuk segitiga digunakan agar cahaya tetap

Terdapat 4 bentuk upaya kesehatan yang menjadi standar terpenuhinya pemenuhan kesehatan bagi Narapidana, yaitu upaya kesehatan promotif, upaya kesehatan preventif, upaya kesehatan

Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah: 1 guru SD, sebaiknya dapat mengembangkan media gambar seri dalam pembelajaran mengarang, sehingga memudahkan siswa dalam

(4) Dalam hal penutupan KKA dilakukan tanpa persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemimpin atau Pemimpin Rekan dikenai sanksi administratif berupa

Dalam keseimbangan pada film Slepping Beauty, lebih memperlihatkan bagaimana kehidupan raja dan ratu, ketika mereka telah mempunyai seorang anak yang telah lama mereka

Melalui hasil penelitian dengan kerangka teori analisis wacana kritis S.Jäger dan F.Maier pada film “Cinta Tapi Beda” ditemukan bahwa peran laki-laki dalam menghadapi