• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ii

Hak Cipta pada Masing-Masing Kontributor

Dilarang memperbanyak sebagian dan/atau seluruh isi buku ini dalam bentuk

apapun, tanpa ijin tertulis dari Kontributor dan Editor

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang

(SAMARTA)

Penerbit:

Universitas Udayana, 2017

Desain Sampul:

Antonius Karel Muktiwibowo

Kontributor Foto Sampul Depan dan Belakang: Antonius Karel Muktiwibowo

Pracetak:

Ni Made Swanendri, I Wayan Yuda Manik, Dwi Pratiwi, Ni Putu Dian Pratiwi, Sanar Oktaviani, Ni Wayan Fortuna Ningsih, Yosephine Estherina Wibowo, I Kadek Diantara, Kadek Satria Ariwibawa.

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan

Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana

Prosiding Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang

Denpasar: Penerbit Universitas Udayana, 2017

x, 501 hlm; 4 cm

Bibliografi

ISBN: 978-602-294-240-5

1. Arsitektur dan Tata Ruang

(3)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 iii

P R A K A T A

Identitas suatu bangsa memiliki peran yang penting dalam percaturan dunia internasional. Bangsa yang beridentitas memiliki karakter yang menjadi pembeda dengan bangsa lain. Dalam konteks Indonesia, identitas bangsa tidak bisa dipisahkan dari budaya lokal, masyarakat, dan lingkungan setempat yang mendukungnya. Tradisi dan budaya Indonesia masih bertahan hingga kini menjadi sebuah kekuatan untuk mempertahankan identitas Secara fisik, arsitektur dan lingkungan binaan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjukkan identitas suatu bangsa. Kedua faktor ini memiliki keterkaitan yang erat dengan dengan manusia sebagai pengguna dan Tuhan sebagai sang pencipta. Dalam filosofi orang Bali, Tri Hita Kharana merupakan sebuah konsep universal yang melestarikan hubungan harmonis antara manusia, alam dan Sang Pencipta untuk melestarikan budaya lokal. Konsep ini diangkat sebagai tema utama dalam seminar yang mengkaji arsitektur, manusia dan lingkungan terbangun dari berbagai sudut pandang yang beragam mulai dari filosofi dan konsepsi tentang arsitektur, kearifan lokal arsitektur, warisan dan budaya lokal serta identitas kota masa kini.

Karenanya, Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Bali (IAI Bali) dan Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) menyelenggarakan Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA) dengan tema Arsitektur, Manusia, dan Lingkungan Binaan pada tanggal 6 Oktober 2017 ini. Seminar nasional ini mengajak para akademisi, para peneliti, para praktisi terkait arsitektur, pemerintah, organisasi nirlaba, pengembang dan pihak lain yang tertarik untuk mengkaji kekayaan arsitektur Indonesia untuk mempertahankan identitas bangsa dari pengaruh globalisasi. SAMARTA 2017 merupakan kegiatan perdana dan direncanakan akan dilakukan secara berkelanjutan setiap dua tahun dengan tema yang berbeda-beda sesuai dengan situasi terkini yang perlu didiskusikan. Akhir kata, kepada Pembicara Kunci, kami ucapkan terima kasih atas waktu serta kesediaannya untuk berbagi di melalui kegiatan ini. Kepada Pemakalah dan Peserta Seminar, kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya. Akhirnya, kepada semua Panitia Pelaksana Seminar, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kerja kerasnya, sehingga seminar nasional tahun ini dapat terlaksana dengan baik, dan mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan selama persiapan maupun pelaksanaan kegiatan. Semoga seminar nasional ini bermanfaat dan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan lokal dan nasional.

Terima kasih

Ketua panitia SAMARTA 2017 6 Oktober 2017

Dr. Tri Anggraini Prajnawrdhi, S.T, M.T, MURP. NIP. 197301012000122001

(4)

iv

KATA SAMBUTAN

Om Swastyastu,

Puja Pangastuti dipanjatkan kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa karena berkat rahmat dan karunia-Nya Prosiding Seminar Arsitektur dan Tata Ruang (Samarta) tahun 2017 dengan Tema Arsitektur, Manusia dan Lingkungan Terbangun, dapat diterbitkan. Prosiding ini memuat kumpulan makalah yang disertakan pada seminar tersebut.

Seminar yang diselenggarakan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana ini diharapkan dapat terlaksana setiap tahun. Tema ini mengajak berbagai pihak untuk secara berkelanjutan membedah arsitektur dan tata ruang dalam suatu diskusi.

Terima kasih disampaikan kepada Rektor Universitas Udayana serta Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana atas dukungan moral dan material. Terima kasih juga kami sampaikan kepada pembicara kunci Prof. Josef Prijotomo, Prof. Antariksa, Prof. Sudaryono, dan Prof. Widjaja Martokusumo. Selain itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada peserta seminar, panitia seminar dosen dan mahasiswa serta semua pihak yang telah membantu terbitnya prosiding ini.

Akhir kata, mudah-mudahan prosiding ini bisa menginspirasi pembaca dan menjadi referensi bagi akademisi, praktisi serta pembaca lainnya.

Terima Kasih

Om, Santhi, Santhi, Santhi, Om

Jimbaran, 6 Oktober 2017 Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana

Prof. Dr. Ir. A. A. Ayu Oka Saraswati, M.T. NIP. 196104151987022001

(5)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 v

RINGKASAN

Prosiding seminar ini merupakan kumpulan paper-paper yang dipresentasikan dan dipublikasi pada Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA) dengan tema Arsitektur, Manusia, dan Lingkungan Terbangun yang diselenggarakan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana di Ruang Nusantara Lantai 4 Gedung Agro Kompleks Universitas Udayana, Kampus Denpasar pada hari Jum’at, tanggal 6 Oktober 2017.

Adapun sub tema yang diangkat dalam seminar nasional ini adalah:

1. Interpretasi filosofi dan konsepsi;

2. Diskursi kearifan lokal dalam rancang bangun; 3. Eksplorasi arsitektur warisan dan budaya; dan 4. Identitas lokal pada ruang kota masa kini.

Masing-masing paper telah dipresentasikan, baik dalam sesi presentasi untuk para pembicara kunci maupun sesi diskusi paralel untuk para pemakalah. Peserta dan pemakalah dalam seminar nasional ini berasal dari para akademisi, para peneliti, mahasiswa program pascasarjana, para praktisi terkait arsitektur, para pemerhati lingkungan terbangun, pemerintah, organisasi nirlaba, pengembang, dan kalangan umum.

Kegiatan seminar nasional ini adalah kegiatan awal dari rangkaian kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan secara berkelanjutan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana. Pada setiap kegiatan seminar nasional akan ditetapkan tema yang berbeda-beda sesuai dengan situasi dan isu aktual pada saat itu. Semoga seminar nasional ini dapat menjadi wadah diskusi dan berbagi pengetahuan, pengalaman, dan gagasan berkaitan dengan arsitektur, manusia, dan lingkungan binaan dan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan berkelanjutan di negeri yang kita cintai ini.

Terima kasih

(6)

vi

DAFTAR ISI

Halaman SAMBUTAN DAN PENGANTAR

1. Prakata Ketua Panitia Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Universitas Udayana

2017 ... iii

2. Kata Sambutan Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana 2017 ... iv

3. Ringkasan Prosiding Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Universitas Udayana 2017 ... v

DAFTAR ISI ... vi

PEMBICARA UTAMA ... 1. ‘Nusantara’ dan Perkembangan Arsitektur di Indonesia. (Josef Prijotomo) ... 1

2. Memaknai Lokalitas Dalam Arsitektur Lingkungan Binaan. (Antariksa) ... 9

3. Pendekatan Fenomenologi untuk Eksplorasi Arsitektur Lokal Bali. (Sudaryono) ... 15

4. Pelestarian Warisan Budaya. Catatan untuk Konsep Autentisitas dan Integritas dalam Pelestarian Arsitektur. (Widjaja Martokusumo) ... 23

SUB TOPIK 1. INTERPRETASI FILOSOFI DAN KONSEPSI ... 1. Konsep Panca Maha Bhuta dalam Perencanaan dan Perancangan Taman Rekreasi Kalianget

Wonosobo.

(Daisy Radnawati, Samsud Dlukha, Ray March Syahadat, Priambudi Trie Putra) ... 1-1 2. Pengaruh Konsep Catus Patha terhadap Tata Ruang Pemukiman di Kawasan Transmigrasi

Masyarakat Bali. Studi Kasus: Desa Jati Bali, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

(Imade Krisna Adhi Dharma, Weko Indira Romanti Aulia) ... 1-9 3. Konsepsi dan Makna Arsitektur Tradisional pada Bangunan Kekinian. Sebuah Intepretasi

Masyarakat Lokal Bali Tengah pada Transformasi Rumah Tradisional.

(I Dewa Gede Agung Diasana Putra) ... 1-21 4. Façade dan Landscape Bali, Interpretasi dan Konsep Tata Ruang Lingkungan Terbangun

Desa Bayung Gede.

(Petrus Rudi Kasimun) ... 1-31 5. Identifikasi Bentuk, Struktur, dan Kontruksi Bale Meten Sakaulu pada Arsitektur Tradisional

Bali di Desa Gunaksa-Klungkung.

(I Nengah Lanus, I Nyoman Susanta, Gede Windu Laskara) ... 1-35 6. Ignition Factor sebagai Informasi Berharga Desain Arsitektur.

(Heru Sufianto) ... 1-43 7. Dari Teks Menjadi Arsitektur: Interpretasi terhadap Naskah Lontar Asta Kosala Kosali.

(I Nyoman Nuri Arthana) ... 1-51 8. Landasan Konsepsual dan Penerapan Pradaksina dan Prasawya dalam Perwujudan

Arsitektur Hindu Bali.

(I Nyoman Widya Paramadhyaksa) ... 1-59 9. Makna Simbolis Penataan Palebahan sebagai Unsur Dasar Kompleks Puri di Bali.

(7)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 vii SUB TOPIK 2. DISKUSI KEARIFAN LOKAL DALAM RANCANG BANGUN ... 1. Ragam Hias Arsitektur Tradisional Bali pada Gedung Kantor Gubernur Bali.

(Donna Sri Lestari Poskiparta, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-1 2. Kearifan Lokal Migran Madura pada Permukiman Kota Lama Malang.

(Damayanti Asikin, Antariksa, Lisa Dwi Wulandari, Wara Indira Rukmi) ... 2-9 3. Identifikasi Bangunan Kolonial untuk Pelestarian Fasade di Jalur Belanda Kota Singaraja-Bali.

(Agus Kurniawan) ... 2-17 4. Representasi Tradisi Demokrasi pada Arsitektur Bale Banjar Adat di Denpasar-Bali.

(Christina Gantini, Josef Prijotomo) ... 2-25 5. Karakteristik Tangible dan Intangible Gereja Tua Sikka. Sebagai Bukti Sejarah Masuknya

Agama Katolik di Sikka.

(Yohanes Pieter Pedor P., I Wayan Kastawan, Widiastuti) ... 2-35 6. Keunikan Bentuk Ragam Hias pada Pura Dalem Desa Bebetin, Kecamatan Sawan,

Kabupaten Buleleng.

(Tri Anggraini Prajnawrdhi, Ni Ketut Agusintadewi, Ni Luh Putu Eka Pebriyanti, dan Ni Made Mitha Mahastuti) ... 2-45 7. Bale Tumpang Salu pada Bangunan Umah di Desa Sidatapa, Singaraja.

(Anak Agung Ayu Oka Saraswati) ... 2-53 8. Bentuk dan Makna Arsitektur dan Ornamen Monumen Bajra Sandhi.

(Sri Indah Retno Kusumowati, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-59 9. Kajian Penerapan Arsitektur dan Ragam Hias Tradisional Bali pada Kori Agung Bangunan

Balai Pertemuan di Kantor DPRD Bali.

(Syilvia Agustine Maharani, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-67 10. Adaptasi Arsitektur Tradisional Bali pada Balai Pertemuan DPRD Renon, Bali.

(Made Chryselia Dwiantari, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-75 11. Kajian Ergo-Arsitektur pada Dapur Tradisional di Banjar Tiga Kawan, Desa Penglumbaran,

Bangli-Bali.

(Ida Bagus Gde Primayatna, I Gusti Agung Bagus Suryada) ... 2-83 12. Ekspansi Ruang pada Bangunan Tradisional Bali.

(I Made Adhika) ... 2-89 13. Kearifan Ekologis Bangunan Vernakuler dalam Konteks Mitigasi Bencana.

(Sri Utami) ... 2-95 14. Memahami Esensi Ruang Domestik pada Masyarakat Tradisional Bali Aga di Desa Sekardadi,

Kintamani.

(Ni Ketut Agusintadewi, I Wayan Yuda Manik, Ni Made Mitha Mahastuti) ... 2-103

SUB TOPIK 3. EKSPLORASI ARSITEKTUR WARISAN DAN BUDAYA ... 1. Kampung Adat Deri Kambajawa di Kabupaten Sumba Tengah sebagai Living Museum.

(Titien Saraswati, Maria Adrianus Rambu Day) ... 3-1

2. Reinterpretasi Prinsip Ruang Bersama Tanean Lanjang Madura pada Pusat Komunitas Seni Tari Topeng Malang.

(Dionisius Dino Briananto, Tito Haripradianto, Abraham M. Ridjal) ... 3-11

3. Peragaman Rupa dan Rupa Inklusif dalam Desain Warisan Arsitektur.

(Noviani Suryasari, Antariksa, dan Lisa Dwi Wulandari)... 3-17

4. Kota Terapung Muara Muntai. Studi Kasus: Pengembangan Kota Muara Muntai Sebagai Kota

Heritage.

(Huda Nurjanti) ... 3-23

5. Pola Tata Bangunan dan Hubungan Kekerabatan: Dusun Kasim, Kabupaten Blitar.

(Yurista Hardika Dinata, Wara Indira Rukmi, dan Antariksa) ... 3-33

6. Kawasan Wisata Permukiman Bantik di Pesisir Pantai Malalayang Berbasis Cultural Heritage.

(8)

viii

7. Kajian Place Attachment pada Anak-Anak di Desa Bali Aga Tenganan dengan Visual

Analy-sis.

(Antonius Karel Muktiwibowo, Gede Windu Laskara) ... 3-49

8. Identifikasi Tingkat Perubahan Kawasan Bersejarah Menggunakan Visual Impact

Assessement dan Tipologi Bangunan di Koridor Jalan Ijen, Malang.

(Eddi Basuki Kurniawan, Novita Dian Zahdella, Wulan Astrini) ... 3-59

9. Pola Pemanfaatan Ruang Pemukiman Masyarakat Bajo di Desa Lemo Bajo Kabupaten Konawe Utara sebagai Arahan Penataan Kawasan Pemukiman Pesisir.

(Santi, Siti Belinda Amri, Haryudin) ... 3-67

10. Kajian Penataan Ruang Kawasan Jabotabek dengan Pendekatan Ekosistem.

(Parino Rahardjo) ... 3-77

11. Ruang Teror pada Labirin Kampung Pulo.

(Coriesta Dian Sulistiani) ... 3-85

12. Faktor Kritis Penentu Keberhasilan Kolaborasi Desain pada Perusahaan Properti di Kabupaten Gresik.

(Moh. Saiful Hakiki, Ikhtisholiyah, Dandy Nugroho) ... 3-97

13. Tipologi Rumah Adat Pada Desa Bali Aga. Studi Kasus pada Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

(Tri Anggraini Prajnawrdhi, Ni Made Yudantini) ... 3-103

14. Perubahan Arsitektur Tradisional Hunian Desa Bayung Gede, Bangli.

(Widiastuti, Syamsul Alam Paturusi, Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, Gede Windu Laskara) ... 3-109

15. Identifikasi Potensi Internal, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Lima Tipe Daya Tarik Wisata Desa Singapadu Tengah.

(I Made Suarya, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, Ni Ketut Agusinta Dewi, dan I Gusti Agung Bagus Suryada) ... 3-119

16. Cultural Landscape: Pola Desa Tradisional di Desa Buahan, Kintamani.

(Ni Made Yudantini, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 3-127

SUB TOPIK 4. IDENTITAS LOKAL PADA RUANG KOTA MASA KINI ... 1. Konsep Ruang Komunal Sosio-Kultural Kota Multi-Etnis Historis Gresik.

(Dian Ariestadi, Antariksa, Lisa D. Wulandari, Surjono) ... 4-1

2. Konsep Perancangan Kawasan Pasar Tradisional Badung sebagai Upaya Memperkuat Karakter Kawasan Jl. Gajah Mada-Denpasar.

(Gede Windu Laskara, Bramana Ajasmara Putra) ... 4-9

3. Place Attachment pada Jalur Pedestrian di Jalan Ijen, Malang sebagai Ruang Terbuka Publik. (Wulan Astrini, Eddi Basuki Kurniawan) ... 4-17

4. Kearifan Pejabat, Pengembang, Perencana, Perancang, dan Supervisi dalam Etika Lingkungan Hidup.

(JM. Joko Priyono Santoso) ... 4-25

5. Kearifan Lokal dan Identitas Kota Baru.

(Franky Liauw) ... 4-33

6. Ekowisata pada Cultural Landscape Subak sebagai Identitas Kota Denpasar. Sebuah Upaya Penggalian Potensi Ekowisata di Subak Sembung Kecamatan Denpasar Utara.

(I Gusti Agung Bagus Suryada, I Nyoman Widya Paramadhyaksa) ... 4-41

7. Pengembangan Wisata Sejarah sebagai Penguatan Identitas Kawasan Kabupaten Pulau Mo-rotai.

(Yudha Pracastino Heston, Yonanda Rayi Ayuningtyas, dan Rivaldo Okono) ... 4-49

8. Permukiman Bali Kuno Desa Bayung Gede sebagai Atraksi Pariwisata di Bali.

(Syamsul Alam Paturusi) ... 4-57

9. Perancangan Kawasan Kedungu Resort sebagai Upaya Pembangunan Sektor Pertanian yang Berkelanjutan di Kabupaten Tabanan.

(9)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 ix (Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, I Wayan Yogik Adnyana Putra, Marthin Gunardhy) ... 4-67

10. Materialisasi Ruang Publik dan Pembangunan Pariwisata Budaya. Konflik Kepentingan Pemanfaatan Kawasan Pesisir di Bali.

(I Ketut Mudra) ... 4-75

11. Upaya Mengeleminir Dampak Investasi terhadap Lingkungan dan Tata Ruang Wilayah Kabu-paten Badung.

(Putu Rumawan Salain) ... 4-83

12. Permasalahan Keruangan dalam Perencanaan Pasar Seni Desa Pakraman Kutri, Desa Sin-gapadu Tengah, Gianyar.

(I Nyoman Widya Paramadhyaksa, I Made Suarya, dan Ida Ayu Armeli)... 4-93

13. Konsep Tata Kelola Homestay di Desa Wisata Pinge Kabupaten Tabanan.

(Ni Putu Atik Pranya Dewi, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, dan Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 4-101

14. Kajian Kawasan Nelayan di Pantai Kuta.

(I Gusti Ngurah Anom Rajendra) ... 4-109

15. Identifikasi Desain Ruang Luar yang Berkearifan Lokal sebagai Place Branding terhadap Persepsi Wisata Kota di Area Catus Patha Kota Denpasar.

(Kadek Agus Surya Darma) ... 4-117

16. Makna dan Karakteristik Ruang Bermain Anak di Bantaran Sungai Code. Studi Kasus: Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta.

(Ni Luh Putu Eka Pebriyanti) ... 4-125

17. Pemanfaatan Lansekap sebagai Identitas Kota dalam Perspektif City Branding.

(Subhan Ramdlani)... 4-133

18. Aktivitas Masyarakat sebagai Pembentuk Identitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) Berkualitas di Kota Malang.

(Lisa Dwi Wulandari, Subhan Ramdlani) ... 4-141

(10)
(11)

TA Prajnawrdhi1), NKA Dewi2), NLPE Pebriyanti3), dan NMM Mahastuti4)-Keunikan Bentuk Ragam Hias pada Pura Dalem Desa

Bebetin, Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng

1

KEUNIKAN BENTUK RAGAM HIAS PADA PURA DALEM DESA BEBETIN,

KECAMATAN SAWAN, KABUPATEN BULELENG

Tri Anggraini Prajnawrdhi1), Ni Ketut Agusinta Dewi2), Ni Luh Putu Eka Pebriyanti3),

dan Ni Made Mitha Mahastuti4)

1)PS Arsitektur, Fak.Teknik, Universitas Udayana

[email protected]

2)PS Arsitektur, Fak.Teknik, Universitas Udayana

[email protected]

3)PS Arsitektur, Fak.Teknik, Universitas Udayana

[email protected]

4) PS Arsitektur, Fak.Teknik, Universitas Udayana

[email protected]

ABSTRACT

Bali has been famous as the island of thousand temples. Those temples has been known as the identity of Bali. The temples’ forms of decorative motifs varied depend on each region and have its own identity. This paper aimed to unveil the richness of decorative motifs of Pura Dalem Bebetin which located in Sawan district, Buleleng regency- Bali. Qualitative method was applied to this research includes site observation, interview and photo documentation. It showed that the style of decorative motifs in in this temple were influenced by some themes include the Dutch colonial period, daily activity of the local community in the past, local flora and fauna, Hindu’s God and Goddess and history of Hindu folklore. The form of the decorative motifs of Pura Dalem Bebetin has a very strong character which shown as the existence of this temple.

Keywords: form, temple, decorative motifs

ABSTRAK

Bali dikenal sebagai pulau dengan seribu pura. Pura-pura yang ada di Bali memiliki pesona yang sangat kuat sebagai bentuk dari identitas pulau Bali. Bentuk serta ragam hias pura-pura yang ada di Bali sangat beragam dan masing-masing daerah yang ada di Bali memiliki ciri khasnya masing-masing. Tulisan ini ingin mengungkap kekayaan ragam hias yang terdapat pada Pura Dalem desa Bebetin yang terletak di Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng Bali. Dengan menggunakan pendekatan secara kualitatif melalui kegiatan observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi dapat diketahui bahwasanya bentuk dan gaya yang mempengaruhi ragam hias pada pura ini mendapat banyak pengaruh dari negara Belanda, gambaran aktifitas rakyat di masa lalu, bentuk flora dan fauna setempat serta Dewa –dewi dan tokoh-tokoh dalam legenda pewayangan. Bentuk dan motif ragam hias yang khas pada Pura Dalem Bebetin ini memberikan sebuah identitas kharakter yang kuat terhadap keberadaan pura ini.

Kata Kunci: bentuk, pura, ragam hias

PENDAHULUAN

Bali dikenal sebagai pulau seribu pura sejak dahulu. Sangatlah jelas bahwa keberadaan pura di Bali begitu pentingnya sehingga pura menjadi obyek penting dalam sejarah keberadaan pulau Bali sebagai salah satu destinasi wisata dunia. Pura merupakan salah satu destinasi wisata di Bali mampu memberikan sebuah identitas yang kuat akan sebuah wilayah. Secara umum semua wilayah di Bali memiliki pura umum yang termasuk ke dalam Pura Kahyangan Tiga yaitu Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Dalem. Disamping pura tersebut pura umum lainnya yang hirarkinya lebih tinggi seperti Pura Kahyangan Jagat dan Dang Kahyangan tersebar di beberapa wilayah di pulau Bali. Pura-pura ini sudah sejak lama menjadi obyek wisata yang dikunjungi oleh wisatawan baik local maupun mancanegara. Pura sebagai obyek wisata memberikan sebuah pengetahuan bagi pengunjungnya tentang keberadaan agama Hindu di Bali yang berbeda dengan agama Hindu yang ada di belahan dunia lainnya. Disamping itu, pura memberikan sebuah pengetahuan tentang arsitektur Bali kepada para pengunjungnya. Pengetahuan yang didapat baik dari segi kekayaan bentuk yang ada pada pura tersebut, tata leta bangunan, skala dan proporsi maupun ragam hias yang menempel dan menjadi ciri khas dari pura tersebut.

(12)

Ragam hias pada pura merupakan unsur yang sangat menarik perhatian para pengunjung saat pertama kali melihat bangunan tersebut disamping sosok pura. Hal ini disebabkan karena ragam hias mampu menangkap pandangan pertama yang memberikan keindahan bagi mata saat melihat pura terutama dari jarak pandang tertentu. Ragam hias mampu mengkomunikasikan kepada pengamat akan unsur-unsur yang ada pada sebuah wujud bangunan, demikian juga dengan pura. Begitu kayanya ragam hias yang ada di Bali, dimana masing-masing wilayah di Bali memiliki keunikan ragam hiasnya tersendiri yang menjadi identitas/ ciri dari wilayahnya.

Sudah banyak tulisan tentang keindahan ragam hias yang ada di Pulau Bali, bahkan banyak buku buku dengan penulis asing telah mengungkapkan keindahan dari ragam hias yang ada pada arsitektur Bali. Beberapa penelitian dan tulisan yang membahas tentang ragam hias dari arsitektur Bali diantaranya adalah Prajnawrdhi (2002), Wijaya (2002), Waisnawa (2004), Kathadinata (2008), Paramadhyaksa (2010), Prijotomo (2010), Sukayasa (2012), Indrianto (2013), Hartanti dan Nedhiari (2014) dan masih banyak peneliti lainnya yang meneliti tentang ragam hias Bali. Ragam hias yang banyak diteliti sebelumnya adalah gaya Gianyar, Badung dan Denpasar. Masih sangat minim penelitian tentang ragam hias di daerah Bali Utara yaitu daerah Buleleng. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan keunikan ragam hias yang terdapat di Pura Dalem Bebetin yang belum pernah ditelaah oleh peneliti sebelumnya dan memiliki keunikan khas daerah Bali Utara. Permasalahan penelitian yang akan dicari jawabannya dalam kajian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :1) Apa saja ornamen dan dekorasi yang terdapat pada bagian kaki, badan dan kepala bangunan di Pura Dalem Desa Bebetin?, 2) Apa keunikan dari ragam hias yang terdapat di Pura Dalem Desa Bebetin?

TINJAUAN PUSTAKA

Kepercayaan umat Hindu di Bali terhadap alam dengan berbagai kehidupan yang ada di dalamnya termasuk tumbuhan, air, udara dan binatang merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan masyarakat tradisional Bali. Hal ini tidak terlepas dari konsep Tri Hita Kharana yang merupakan dangan hidup masyarakat Bali yang mengutamakan keharmonisan dirinya dengan alam lingungan dan Ida Sang Hyang Widhi. Oleh sebab itu, bentuk-bentuk yang ada di dalam merupakan bentuk-bentuk yang menginspirasi kesenian masyarakat tradisional terutama dalam bentuk ragam hias.

Waisnawa (2014) menyatakan bahwa ragam hias Bali merupakan hasil pengembangan ragam hias yang datang dari daerah Jawa dengan datangnya kerajaan Hindu Jawa ke Bali dan datangnya orang-orang Jawa ke Bali dengan tujuan penyebaran agama. Oleh sebab itu ragam hias Bali membentuk sendiri ciri khasnya sehingga menjadikannya berbeda dengan ragam hias daerah lain yang ada di Indonesia. Menurut Hartanti dan Nediari (2014), motif ragam hias Bali terdiri atas ornamen konstruktif dan ornament estetis. Dan ornamen estetis Bali ini terbagi atas empat karakter yaitu: (1) Geometris. (2) Floralistik. (3) Antrophomorfis / submorphosis (pola manusia atau hewan). (4) Perimbuhan (mengkombinasikan semua unsur alam benda).

Pada dasarnya bentuk-bentuk ragam hias tersebut memberikan sebuah makna khusus yang merupakan ungkapan keindahan, simbol-simbol dan penyampaian komunikasi (Granquist, 2003). Dan simbul adalah sebagai ekpresi dalam menguatkan makna tentang bentuk yang dapat berkomunikasi, yang memiliki keterkaitan dengan pengalaman pada masa lalu, (Venturi, 1977). Terkait dengan bentuk-bentuk ragam hias yang merupakan pengkomunikasian dari symbol-simbol, dapat dinyatakan bahwa dalam mewujudkan suatu simbul harus memiliki ketegasan, jelas, dan lengkap sehingga dapat menampilkan simbul tersebut secara utuh dan bisa ditangkap oleh pengamat tanpa memiliki suatu makna yang lain (Broadbent, 1980). Sehingga dapat dinyatakan bahwa sebuah simbul harus mampu dengan jelas mengkomunikasikan maksud yang diinginkan.

Ragam hias adalah merupakan bentuk karya seni yang melibatkan pemikiran terhadap unsur-unsur keindahan yang dipengaruhi oleh masa lampau. Terlihat dari ragam hias di arsitektur Bali bahwasanya ornament maupun dekorasi serta patung-patung merupakan perwujudan dari bentuk-bentuk legenda pewayangan yang berasal dari legenda negeri India. Oleh sebab itu ragam hias dapat dikatakan sebagai gabungan pemikiran dari masa lalu dan masa kini dan menjadikan pemikiran masa lalu tersebut sebagai sebagai landasan dan kekuatan untuk dipertimbangkan dalam menghadirkan sesuatu secara bebas dan rasional dan lebih kepada pemikiran yang menyangkut studi filosofi kesejarahan. Hal ini merupakan sebuah pola pemikiran yang komposit dan eklektik yang menggabungkan hal-hal yang terbaik secara terseleksi kedalam sebuah karya seni (Peter Collins 1971 dalam Prajnawrdhi, 2005). Vitruvius juga menyebutkan bahwa arsitektur itu berkembang dari trial

(13)

TA Prajnawrdhi1), NKA Dewi2), NLPE Pebriyanti3), dan NMM Mahastuti4)-Keunikan Bentuk Ragam Hias pada Pura Dalem Desa

Bebetin, Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng

3

and error, sehingga dari mitos tersebut diatas dapat disimpulkan bahwasanya dasar dari suatu penemuan (ciptaan baru) adalah imitasi (Prajnawrdhi, 2005). Dari apa yang disampaikan oleh Vitruvius, dapat dilihat bahwa bentukan-bentukan dari ragam hias yang ada arsitektur Bali adalah merupakan peniruan bentuk-bentuk yang ada di alam sekitarnya dan juga merupakan peniruan bentuk-bentuk dari kepercayaan umat Hindu Bali terhadap legenda dan sejarah di masa lampau.

Gambar 1 Ornamen Arsitektur Tradisional Bali pada bagian kaki, badan dan kepala dari bangunan Pelinggih Gedong Sumber: Penulis, 2017

Ragam hias yang terdapat pada bagian kaki bangunan atau bebaturan seperti ornamen keketusan,

karang daun, karang asti/karang gajah, ukiran-ukiran pepatran. Pada bagian badan bangunan

terdapat ruang (rong) dan beberapa batang tiang bangunan (sasaka). Pada bagian ini terdapat pula ornamen karang boma, karang goak, karang tapel, karang bentulu, karang daun, karang dedari,

karang rangda, karang sae, karang garuda, karang singa, karang naga, karang barong dan ukiran karang daun. Pada bagian atap bangunan dapat dilihat adanya ornamen murdha, ornamen karang bentala di bagian puncaknya, ornamen keketusan serta ukiran ikut celedu.

METODA

Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Gaya penelitian kualitatif berusaha mengkonstruksi realitas dan memahami maknanya. Sehingga, penelitian kualitatif biasanya sangat memperhatikan proses,peristiwa dan otentisitas (Somantri, 2005,p.58). Menurut Moloeng (2004), metode penelitian kualitatif adalah metode yang dipakai untuk meneliti kondisi obyek alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian lebih menekankan kepada makna. Analisa terhadap bentuk dan makna dari ragam hias yang ada dilakukan pada penelitian ini. Pembandingan antara bentuk ragam hias yang terdapat di Pura Desa Bebetin dengan pakem ragam hias yang telah dinyatakan sebagai ragam hias arsitektur Bali. Dari pembandingan yang dilakukan tersebut, kemudian dilihat makna yang terkandung dari bentuk-bentuk yang ada sehingga mampu menghasilkan sebuah kesimpulan yang mampu menunjukkan kekayaan bentuk ragam hias arsitektur Bali.

DISKUSI

Gambar 2 Denah Jeroan Pura Sumber: Penulis, 2017

Kepala

Badan

(14)

Ragam hias yang dimiliki oleh Pura Dalem Bebetin ini dapat dikategorikan kedalam ornamen dan dekorasi. Baik ornamen maupun dekorasi yang terdapat pada Pura Dalem desa Bebetin ini memiliki keunikan tersendiri. Pura ini terbagi kedalam tiga bagian yaitu: Jeroan (area utama), Jaba Tengah (area madya) dan Jaba Sisi (area nista). Seperti halnya pura lain di Bali, ketiga area ini memiliki bangunan yang berbeda satu sama lainnya. Area Jeroan yang merupakan area utama memiliki tiga buah pelinggih utama yaitu: Gedong Mahadewa, Bale Lelengen dan Gedong Siwa. Dan pada area ini terdapat pula Bale Pengaruman, Bale Penganteb dan Bale Piyasan. Pada Jeroan, bangunan pelinggih maupun penyengker sarat dengan ragam hias. Seangkan pada Jaba Tengah terdapat dua buah bale yaitu Bale Linggih dan Bale Paruman. Sedangkan pada Jaba Sisi terdapat Bale Pesandekan dan Paon.

Ornamen

Ornamen merupakan ragam hias yang integral dengan konstruksi dari sebuah bangunan. Jika ornamen tersebut dihilangkan maka makna dan kualitas dari bangunan tersebut akan berubah bahkan hilang. adalah setiap detail dari bentuk, tekstur dan warna yang mana dengan sengaja di manfaatkan atau dibubuhkan untuk menarik perhatian pengamat, (Cyril M. Harris,1975). Pada dasarnya bangunan pelinggih (tempat suci) yang terdapat pada pura Dalem desa Bebetin sarat dengan ornament pada keseluruhan bangunan pelinggih. Adapun jenis-jenis ornamen yang memiliki keunikan pada bangunan pelinggih maupun penyengker dari Pura Dalem desa Bebetin. Ornamen yang terdapat pada pura ini sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur alam di daerah tersebut. Ukuran dari setiap detail ornamen seperti misalnya kekarangan yang terdapat pada pelinggih di pura ini memiliki skala yang lebih besar dari kekarangan ornamen tradisional Bali di daerah lainnya. Seperti yang bisa dilihat pada Gambar 3, Karang Goak dan Karang Bunga memiliki dimensi yang jauh lebih besar dari ukuran umum ornamen yang terdapat pada daerah lainnya di Bali. Hal ini dapat dilihat sebagai sebuah keinginan dari masyarakat setempat untuk lebih menonjolkan sisi detail dan keindahan pada bangunan tempat suci, sebagai salah satu wujud dari penghargaan terhadap Sang Pencipta.

Ragam hias yang terdapat pada pura ini merupakan suatu pengejawantahan berasal dari perilaku individu dan masyarakat pada lingkungan tertentu ini adalalah erat kaitannya dengan proses adaptasi secara psikologis dari manusia, terhadap hal-hal yang mempengaruhi persepsi dan kognisi yang mempengaruhi panca indera manusia terhadap suatu wujud fisik bangunan (Broadbent, 1980). Hal ini menghasilkan sebuah simbol dalam masyarakat tertentu yang dapat berkomunikasi secara baik dengan pengamat serta dapat memberikan suatu indentitas terhadap masyarakat maupun lingkungan tertentu.

Gambar 3. Karang Goak dan Karang Bunga

Sumber: Penulis, 2017

Ornamen kekarangan yang dipergunakan pada Pura Dalem desa Bebetin memiliki bentuk yang lebih beragam dari bentuk kekarangan yang terdapat pada ornament Bali pada umumnya. Terdapat beberapa bentuk-bentuk kekarangan pada pura ini yang belum pernah ditelaah sebelumnya. Dan nama dari bentuk-bentuk kekarangan inipun belum diketahui secara pasti. Disamping motif yang khusus, hal yang mengundang perhatian adalah penggunaan warna pada ragam hias baik ornamen maupun patung-patung yang ada di pura ini. Pada umumnya sangat jarang bahkan hampir tidak pernah ditemui pelinggih yang terbuat dari batu padas yang ber-ornamen menggunakan warna.

(15)

TA Prajnawrdhi1), NKA Dewi2), NLPE Pebriyanti3), dan NMM Mahastuti4)-Keunikan Bentuk Ragam Hias pada Pura Dalem Desa

Bebetin, Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng

5

Namun pada pura ini, ketiga pelinggih yang terdapat pada Jeroan semarak dengan warna. Dan sejak dahulu sedari pura ini didirikan memang telah menggunakan warna yang dibuat secara alamiah dari warna tumbuhan. Di awal tahun 2017 sudah ditambahkan warna buatan yang dipilih mendekati warna aslinya, karena warna asli dari ornamen ini sudah mulai pudar. Hal ini juga menunjukkan bahwa pura ini tampil sangat istimewa dan berbeda dengan bangunan maupun pura lain yang ada pada desa ini.

Ornamen adalah ragam-hias yang merupakan bagian integral dari konstruksi, dan ornamen tersebut muncul sebagai akibat penyelesaian konstruksi yang disebut tektonika (Josef Prijotomo, 1999). Ragam hias yang terdapat pada pelinggih seperti pada Gambar 4 digolongkan sebagai ornamen. Oleh sebab itu, ragam hias pada pelinggih-pelinggih ini merupakan bagian integral dari konstruksi, dimana jika ragam hias ini dihilangkan maka bangunan ini akan memiliki arti dan makna yang berbeda. Disamping ragam hias ini dibuat untuk menarik perhatian pengamat, ragam hias ini adalah menyiratkan suatu symbol/ status dan cara untuk berkomunikasi dengan pengamat. Jika dilihat dari keseluruhan bangunan yang terdapat pada pura ini, bangunan pelinggih yang terdapat pada Jeroan merupakan bangunan yang terpenting karena sarat dengan ornamen dan memiliki warna yang semarak, sedangkan bangunan lain yang ber-ornamen tidak menggunakan warna, hanya meng-expose material aslinya.

Gambar 4 Motif ornamen pada pelinggih Gedong Mahadewa dan Gedong Siwa

Sumber: Penulis, 2017

Pepatraan yang terdapat pada bangunan pelinggih maupun penyengker serta kori dan candi bentar

pada Pura Dalem Bebetin ini memiliki motif-motif yang berbeda dari motif-motif yang ada pada ragam hias arsitektur Bali. Gambar 5 menunjukkan keragaman motif yang terdapat pada pura ini. Bentuk ragam hias terinspirasi dari jaman penjajahan Belanda yaitu adanya patra mobil yang dikendarai oleh orang Belanda dan pada badan Kori Agung pintu masuk utama ke pura ini terdapat patra gadis Belanda yang memakai rok. Hal ini jelas menunjukkan bahwa ragam hias yang digunakan mengandung unsur untuk mengabadikan sejarah sebagai salah satu unsur informasi kepada generasi berikutnya.

Gambar 5 Motif ornamen pada pelinggih

(16)

Disamping mengabadikan sejarah tentang masa kolonial negara belanda, Unsur-unsur sejarah agama Hindu pun merupakan faktor yang sangat penting dan telah diabadikan dalam motif-motif ragam hias pada pura ini. Legenda-legenda pewayangan serta dewa-dewa dalam kepercayaan agama Hindu digambarkan dengan indahnya, sehingga sangat kuat simbol yang telah disampaikan.

Gambar 6 Motif ornamen pada bataran pelinggih dan penyengker

Sumber: Penulis, 2017

Gambar 7. Motif ornamen dan relief pada penyengker, candi bentar dan dinding bale

Sumber: Penulis, 2017

Dapat dilihat pula penggunaan gabungan bentuk floralistik dengan antrophomorfis / submorphosis seperti pada Gambar 7 dan 8 menyiratkan bahwa ragam hias ini merupakan pemikiran yang komposit dan yang menggabungkan hal-hal yang terbaik secara terseleksi kedalam sebuah karya seni (Prajnawrdhi, 2005). Alam lingkungan serta flora dan fauna yang khas yang terdapat pada daerah ini dituangkan dalam bentukan relief-relief yang terdapat pada pura.

Gambar 8. Motif ornamen dan relief pelinggih di Jeroan pura

(17)

TA Prajnawrdhi1), NKA Dewi2), NLPE Pebriyanti3), dan NMM Mahastuti4)-Keunikan Bentuk Ragam Hias pada Pura Dalem Desa

Bebetin, Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng

7

Dekorasi

Dekorasi merupakan bagian dari ragam hias yang bukan merupakan struktur dan integral dengan bangunan (Prijotomo, 1999). Dekorasi merupakan unsur hiasan dan tidak akan berpengaruh terhadap bangunan apabila dekorasi dihilangkan dari bangunan. Secara definisi, dekorasi adalah gabungan dari beberapa material, perlengkapan, dan obyek atau benda yang dipakai untuk menghias bangunan, (Harris, 1975). Berbagai bentuk dekorasi yang terdapat pada Pura Dalem Desa Bebetin adalah mayoritas berupa patung-patung yang ada pada pura ini. Pada dasarnya bentukan patung-patung yang menjadi penghias pura ini memiliki bentuk dan makna yang tidak jauh berbeda dengan pakem bentuk patung-patung arsitektur Bali secara umum. Beberapa patung yang memiliki bentuk yang khusus terdapat pada pura ini yaitu sebagai berikut:

Gambar 9. Ragam bentuk patung pada pura

Sumber: Penulis, 2017

Bentuk patung mengambil tema hewan dan alam sekitarnya juga mengambil bentuk dari Bhuta Kala,

Rangda yang merupakan wujud-wujud angker dan yang identik dengan Pura Dalem sebagai pelebur.

Disamping bentuk angker terdapat juga patung dewa-dewi yang tersebar di pura ini terutama pada penyengker Candi Bentar dan Kori Agung. Bentuk patung yang mengambil tema hewan, Bhuta Kala dan Dewa Dewi juga dipadukan dengan bentuk flora yang mampu memberikan nuansa alamiah dari motif yang ditampilkan.

Keunikan Ragam Hias

Adapun keunikan ragam hias pada bangunan di Pura Dalem Desa Bebetin, kecamatan Sawan, Buleleng bila dibandingkan dengan ragam hias Arsitektur Tradisional Bali umumnya (bali selatan) antara lain :

No. Ragam Hias Bagian

bangunan Ragam hias ATB selatan Bentuk ragam hias Skala/ ukuran Warna

1 Relief mobil Kaki/bebaturan tidak ada Bentuk spesifik - Ekspose batu

2 Relief gadis belanda/ rok Kaki/bebaturan tidak ada Bentuk spesifik - Ekspose batu

3 Relief naga, monyet, babi hutan, ikan, buaya

Kaki/bebaturan tidak ada Bentuk spesifik - Ekspose batu

4 Relief cerita

pewayangan/dewa Kaki/bebaturan

ada Bentuk spesifik Sama Ekspose batu

5 Karang rangda Kaki/bebaturan ada Kekarangan Sama Ekspose batu

6 Keketusan kakul-kakulan Badan ada pepatran Sama Biru muda

7 Ornamen raksasa

membawa keris

Badan tidak ada Bentuk spesifik - Kuning, biru tua,

hitam

8 Ornamen manusia (pria- wanita)

Badan Tidak ada Bentuk spesifik - Hijau neon,

kuning, krem

Tabel 1. Tabel Perbandingan Ragam Hias Sumber: Penulis, 2017

(18)

9 Patra Cina Badan ada pepatran Lebih besar

Merah,pink, biru tua, kuning

10 Patra Ulanda Badan ada pepatran Besar Biru tua, merah

11 Karang Goak Badan ada Kekarangan Lebih

besar

Biru tua, merah, putih, hitam

12 Karang Garuda Badan ada Kekarangan Lebih

besar

Biru muda, merah, kuning

13 Karang Bunga/daun Badan/tiang ada kekarangan besar Biru, merah

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dari uraian yang telah disampaikan pada diskusi, terlihat bahwa keunikan motif-motif ragam hias yang terdapat pada Pura Dalem Bebetin, merupakan bentuk pengkayaan dari ragam hias tradisional Bali. Dimana selama ini ragam hias tradisional Bali lebih identik dengan gaya Bali Selatan, dan ragam hias ini sudah sangat terkenal dan menjadi ciri khas ragam hias tradisional Bali. Dengan melakukan eksplorasi terdahap motif ragam hias di daerah Kabupaten Buleleng khususnya desa Bebetin, maka bentuk, jenis, ukuran dan style ragam hias yang ada pada Pura Dalem Bebetin mermberikan sebuah warna dalam keberagaman ragam hias tradisional Bali. Dan bentuk ragam hias Pura Dalem Bebetin memberikan sebuah identitas yang kuat akan keberadaan pura ini. Penelitian ini mampu memberikan sebuah wawasan ilmu pengetahuan baru mengenai keragaman bentuk ragam hias tradisional Bali dan mampu dijadikan acuan bagi penelitian serupa terutama terkait dengan bentuk ragam hias.

REFERENSI

Anthony Antoniades, 1990, Poetic of Architecture, Theory and Design, Van Nostrand Reinhold, NY Geoffrey Broadbent, Richard Bunt, Charles Jencks, 1980, Sign, Symbol and Architecture, John Wiley

and Son, Chichester

Cyril M. Harris, 1975 Dictionary of Architecture and Construction, 2nd Ed, R.R Donnelly & Sons Company

Davison, J., Enu, N., dan Granquist, B. (2003). Bali Architecture. Hongkong: Periplus Edition Ltd. Enrike Puspita Indrianto 2013,Akulturasi Pada Gereja Kristen Pniel Blimbingsari- BaliJURNAL INTRA

Vol. 1, No. 1, (2013) 1-10

Gumilar Rusliwa Somantri, 2005, Memahami Metode Kualitatif, Makara, Sosial Humaniora, Vol. 9, No. 2, Desember 2005: 57-65

Grace Hartanti; Amarena Nediari, 2015 Pendokumentasian Aplikasi Ragam Hias Budaya Bali, Sebagai Upaya Konservasi Budaya Bangsa Khususnya Pada Perancangan Interior, HUMANIORA Vol.5 No.1 April 2014: 521-540.

Lexy J Moloeng, 2004, Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda Karya, Bandung

I Made Jayadi Waisnawa, 2014, Ornamen Bali Dalam Desain Interior Hotel Ari Putri, FSRD InstitutSeni Indonesia Denpasar

INW Paramadhyaksa, 2010, Bahan-bahan Bangunan Baru sebagai Tampilan Luar Arsitektur Berlanggam Bali Masa Kini, Journal of Architectural Research and Design Studies, Jurnal.uii.ac.id N. Gelebet, ed. Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Proyek

Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Tahun 1981/1982

I. K. W. Sukayasa, 2007, Gaya Ekletik Pada Arsitektur Gereja Protestan Blimbingsari di Bali”. Jurnal Jurusan Seni Murni, Flakutas Seni Rupa dan Desain, Universitas Kristen Maranatha Bandung Prijotomo, 1997, Rangkuman Materi Kuliah Arsitektur Nusantara, S2-ITS

Robert Venturi, Denise Scott Brown, Steven Izenour, 1977, Learning FromLas Vegas: The Forgotten Symbolism of Architectural Form, The MIT Press.

Tri Anggraini Prajawrdhi, 2005, Eclecticism Dalam Arsitektur Dalam Tulisan Charles Jenck: Toward Radical Eclecticism, Jurnal Natah Vo. 3, No.2.

Robert Venturi, Denise Scott Brown and Steven Izenour, 1977, Learning from Las Vegas, revised edition, MIT Press (Cambridge, Mass)

Wijaya, M. (2002). Architecture of Bali: A Source Book of Traditional and Modern Form. Bali: Wijaya Words.

Sumber : analisa, 2017 Sumber: Penulis, 2017

Gambar

Gambar 1 Ornamen Arsitektur Tradisional Bali pada bagian kaki, badan dan kepala dari bangunan Pelinggih Gedong  Sumber: Penulis, 2017
Gambar 3. Karang Goak dan Karang Bunga  Sumber: Penulis, 2017
Gambar 4 Motif ornamen pada pelinggih Gedong Mahadewa dan Gedong Siwa  Sumber: Penulis, 2017
Gambar 6 Motif ornamen pada bataran pelinggih dan penyengker  Sumber: Penulis, 2017
+2

Referensi

Dokumen terkait

c. Sumber data kualitatif yang kurang kredibel akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan

Jika responden mengalami 2 atau lebih kejadian tersebut tanyakan kejadian yang paling awal/pertama kali pada kolom [1] dan selesaikan dahulu sampai BR18 dan

Berdasarkan data curah hujan bulan Desember 2019 dari stasiun-stasiun BMKG dan pos-pos hujan kerjasama terpilih pada 15 Zona Musim (ZOM) di Bali dapat disajikan

Hasil uji coba program komputer yang dibuat menunjukkan bahwa kontur dapat dimodelkan dengan baik menggunakan grafik interpolasi 2D dan 3D, parameter yang dapat diubah

Gambar atau grafik merupakan bagian yang penting sistem multimedia, pada dasarnya sebuah format gambar dapat direpresentasikan kedalam tipe bitmap atau vektor, perbedaan dari

Pilihan yang sempurna para desainer, untuk pembuatan bangunan virtual akan sangat membantu dalam menelusuri wilayah atau denah gedung, khususnya gedung bertingkat yang cukup

Pada prinsip keadilan, arena birokrasi memiliki indeks di bawah rata-rata nasional, yaitu 4,29 (cenderung buruk) dari rata-rata nasional yaitu 6,44 (cenderung baik), disusul

Keberadaan sebuah Pura tidak lepas dari sejarah berdirinnya Pura tersebut, begitu juga Pura Dalem Ularan di Banjar Kuwum Desa Banyuatis Kecamatan Banjar kabupaten