• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Pembahasan. Profil Utang Luar Negeri Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV Pembahasan. Profil Utang Luar Negeri Indonesia"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

21

BAB IV Pembahasan Profil Utang Luar Negeri Indonesia

Selama ini utang luar negeri yang Indonesia miliki angkanya mengalami kenaikan setiap tahunnya seperti pada data time series yang diperoleh dari Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) pada Tabel 5. Jumlah utang luar negeri kepada ketiga Negara yang menjadi fokus penelitian pun menunjukan angka yang semakin mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.

Tabel 1. Jumlah Utang Luar Negeri Indonesia Negara Pemberi

Utang

Nilai (juta USD)

2009 2010 2011 2012 2013 Jan-14 Terbesar 78,365 87,784 110,307 117,901 122,253 127,675 Amerika 20,247 21,422 26,812 33,793 37,857 42,414 Jepang 35,780 41,638 44,998 41,820 34,420 34,958 Singapura 22,338 24,724 38,497 42,288 49,976 50,303 Negara Lainnya 47,628 47,477 50,198 60,523 68,719 68,774 Total Semua Negara 125,993 135,261 160,505 178,424 190,972 196,449 Sumber: Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Maret 2014, diolah

Untuk memahami seberapa baik atau buruknya pengelolaan utang luar negeri yang dimiliki Indonesia, perlu melihat pada indikator utang luar negeri. Dengan indikator utang luar negeri, kita bisa melihat sejauh mana kinerja pemerintah Indonesia dalam mengelola utang luar negeri.

(2)

22

Indikator Utang Luar Negeri

Tabel 2. Indikator Utang Luar Negeri Indonesia

Indikator Utang Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

Rasio Utang terhadap GDP (%) 31.76 28.31 26.41 28.7 30.24 Raso Utang terhadap Ekspor (%) 121.77 109.83 97.3 113.55 121.78 Rasio Utang Jangka Pendek terhadap

Cadangan Devisa (%) 47.91 44.6 42.46 48.46 57.01

Cadangan Devisa (juta USD) 66,105 96,207 110,123 112,781 99,387 Ekspor (juta USD) 141,963 184,301 231,630 222,251 216,837 GDP (juta USD) 544,350 714,978 853,478 879,426 873,240 Utang Luar Negeri Indonesia (Juta

USD) 172,871 202,413 225,375 252,364 264,060

Sumber: SULNI 2013

Dari Tabel 6. diatas terlihat bahwa jumlah utang luar negeri terus mengalami peningkatan selama 6 tahun terakhir. Disebabkan oleh semakin meningkatnya kebutuhan pembiayaan ekonomi dan jumlah utang jangka panjang mendominasi sampai pada Januari 2014 sebesar 82.7% dari total keseluruhan utang apabila dibandingkan dengan jumlah utang jangka pendeknya yang hanya sebesar 17.3%1. Sehingga, dengan melakukan utang yang baru membuat utang yang dimiliki sebelumnya semakin menumpuk. Namun apabila kita melihat pada rasio utang terhadap GDP, angkanya tidak mengalami perubahan yang fluktuatif dan relatif rendah. Bank Indonesia menilai bahwa angka rasio utang luar negeri per Januari 2014 sebesar 30.8% masih tergolong aman dan cukup sehat untuk bisa menopang ketahanan dari sektor eksternal2. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kemampuan Indonesia dalam pembayaran utang semakin besar.

Selanjutnya, untuk mengetahui lebih lanjut perhitungan dan analisis indikator utang luar negeri Indonesia kepada Amerika, Jepang dan Singapura adalah berdasarkan rasio dengan utang luar negeri sebagai pembilang dan ukuran-ukuran kemampuan Indonesia dalam membayar (GDP, Ekspor dan Cadangan devisa) sebagai penyebutnya.

1 Berdasarkan laporan BI. http://bisnis.liputan6.com/read/2026006/berapa-besar-utang-indonesia-saat-ini 7 Mei 2014

2http://www.kemenkeu.go.id/Berita/utang-luar-negeri-indonesia-dalam-posisi-aman 18 Maret 2014

(3)

23 Beberapa Indikator diantaranya adalah:

1. Rasio Utang Terhadap GDP

Pada tahun 2009-2013, angka GDP Indonesia terus mengalami peningkatan terlihat pula pada Tabel 6. yang artinya perekonomian Indonesia berada pada keadaan yang sehat. Namun jumlah utang Indonesia kepada Amerika, Jepang dan Singapura pun semakin meningkat setiap tahunnya. Sehingga dengan demikian, rasio utang terhadap GDP merupakan salah satu indikator yang penting untuk dilihat.

Tabel 3. Rasio Utang Luar Negeri Indonesia kepada Negara Pemberi Utang terhadap GDP Indonesia

Negara Pemberi Utang (%)

2009 2010 2011 2012 2013 Terbesar 14.396 12.278 12.924 13.407 14.000 Amerika 3.719 2.996 3.141 3.843 4.335 Jepang 6.573 5.824 5.272 4.755 3.942 Singapura 4.104 3.458 4.511 4.809 5.723 Negara Lainnya 8.750 6.640 5.882 6.882 7.869 Total Semua Negara 23.146 18.918 18.806 20.289 21.869 Sumber: SULNI 2013, diolah

Dari Tabel 7. diatas, nilai rasio pada masing-masing negara sepanjang lima tahun terakhir berada pada kisaran angka yang cenderung kecil antara 3-6%. Untuk negara lainnya, nilai rasionya terlihat kecil pula dan jika dilihat dari semua negara nilai rasio masuk ke dalam kategori yang aman. Angkanya yang berada di bawah batas bawah 30% mengindikasikan bahwa Indonesia tidak mengalami masalah (low risk) dan memiliki kemampuan untuk membayar kembali utangnya secara signifikan karena semakin kecil rasio utang terhadap GDP memberi arti bahwa semakin baik perekonomian sebuah Negara. Kesinambungan fiskal yang baik telah dibuktikan Indonesia pada pelaksanaan Debt Switch SBN, program Debt

Swap oleh Negara pemberi utang salah satunya Amerika dan

(4)

24 2. Rasio Utang Terhadap Ekspor

Kondisi aktivitas ekspor Indonesia dapat dikatakan baik karena dilihat dari perkembangan pendapatan yang dihasilkan dari ekspor pada keseluruhan negara-negara tujuan ekspor, angkanya terus mengalami peningkatan yang cukup baik seperti pada Tabel 6. Indikator Utang Luar Negeri. Namun, dari pendapatan ekspor yang diperoleh tidak bisa langsung dimasukan kedalam pendapatan Negara karena dari pendapatan ekspor sendiri sebagian akan dihitung sebagai persentase pembayaran utang. Sehingga rasio utang terhadap ekspor ini juga penting untuk dihitung.

Tabel 4. Rasio Utang Luar Negeri Indonesia kepada Negara Pemberi Utang terhadap Ekspor Indonesia

Negara Pemberi Utang (%)

2009 2010 2011 2012 2013 Terbesar 55.201 47.631 47.622 53.049 56.380 Amerika 14.262 11.623 11.575 15.205 17.459 Jepang 25.204 22.592 19.427 18.817 15.874 Singapura 15.735 13.415 16.620 19.027 23.048 Negara Lainnya 33.550 25.761 21.672 27.232 31.692 Total Semua Negara 88.751 73.391 69.294 80.280 88.072 Sumber: SULNI 2013, diolah

Dapat dilihat pada Tabel 8. nilai rasio utang dari masing-masing negara pemberi utang terhadap ekspor Indonesia berada pada kisaran angka 11-25%. Artinya, persentase pendapatan ekspor Indonesia yang diterima dari masing-masing negara tersebut hanya sebesar 11-25% yang digunakan untuk membayar utang. Untuk negara lainnya, nilai rasio masih dalam kategori aman dan untuk semua Negara nilainya lebih besar bila dibandingkan hitungan dari dua kelompok sebelumnya, namun masih bisa dikatakan aman (low risk) karena nilainya jauh dibawah batas angka 100%. Semakin kecil persentase dari pendapatan ekspor yang digunakan untuk membayar utang, maka tidak menjadi beban yang berat untuk Indonesia dapat membayar dan menggunakan sisa pendapatannya untuk keperluan dalam negeri dan sebagai cadangan devisa.

(5)

25 3. Rasio Utang Terhadap Ekspor Bersih

Aktivitas perdagangan internasional terus dijalankan oleh Negara baik ekspor dan impor. Perkembangan kedua aktivitas tersebut menunjukan angka yang bervariasi kepada ketiga Negara sebagai rekan kerjasamanya. Dengan rasio ini, penelitian bisa melihat devisa bersih yang dihasilkan melalui kegiatan ekspor yang nilainya sudah dikurangi oleh kegiatan impor terlebih dahulu. Berikut hasil perhitungannya:

Tabel 5. Rasio Utang Luar Negeri Indonesia kepada Negara Pemberi Utang terhadap Ekspor Bersih Indonesia

Negara Pemberi Utang %

2009 2010 2011 2012 2013

Amerika 5.336 4.384 4.734 10.253 5.685

Jepang 4.098 4.723 3.152 5.676 22.875

Singapura -4.224 -3.793 -5.119 -4.724 -5.618 Sumber: 1.SULNI, 2.UN Comtrade (United Nations Comodity Trade Statistics Database, diolah

Pada Tabel 9. terlihat nilai rasio kepada masing-masing Negara pemberi utang memiliki variasi angka yang berbeda. Nilai rasio kepada Amerika berada pada kisaran 4-10% saja dan berarti tidak ada masalah. Untuk rasio utang kepada Jepang, terlihat mengalami peningkatan rasio yang cukup tinggi pada tahun 2013 yang sebelumnya pada tahun 2009-2012 hanya berkisar 3-5%. Namun untuk kedua Negara, nilai rasio ini masih bisa dikatakan aman (low risk) karena nilainya yang berada jauh dibawah 100%. Terakhir, nilai rasio kepada Singapura yang memiliki nilai negatif dikarenakan nilai impor yang lebih tinggi daripada nilai ekspor dan memberi arti bahwa Indonesia tidak bisa membayar utang lewat rasio ini kepada Singapura karena cadangan devisa habis digunakan untuk membayar impor kepada Singapura. Sehingga untuk keseluruhan nilai rasio ini kepada ketiga Negara berada pada kondisi moderate risk.

(6)

26 4. Rasio Utang Terhadap Cadangan Devisa

Cadangan devisa yang dimiliki Indonesia cenderung kecil bila dibandingkan dengan beberapa indikator lainnya seperti GDP dan ekspornya (pada Tabel 6.). Meskipun sempat meningkat pada tahun 2009-2012, peningkatannya hanya sedikit dan akhirnya menurun pada 2013. Hal ini terjadi karena diakibatkan oleh kasus baik dari dalam negeri maupun luar negeri (Hutauruk, 2013). Kasus dalam negeri seperti yang terjadi pada ketidaktegasan pemerintah Indonesia menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi mengakibatkan defisit neraca berjalan semakin besar akibat impor migas yang besar pula. Pengaruh dari luar negeri melalui ketidakpastian perkembangan harga komoditas juga berdampak pada nilai tukar dan cadangan devisa. Sehingga, dengan menanggapi kasus tersebut, yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan menjaga cadangan devisa yang dimiliki karena bisa menjadi bukti bahwa Negara memiliki kemampuan menjamin keamanan pembayaran perdagangan internasional dan utang luar negeri masih bisa diatasi.

Selama tahun 2009-2013, cadangan devisa masuk dalam indikator utang luar negeri untuk membayar utang dan datanya sebagai berikut:

Tabel 6. Rasio Utang Luar Negeri Indonesia kepada Negara Pemberi Utang terhadap Cadangan Devisa Indonesia

Negara Pemberi Utang (%)

2009 2010 2011 2012 2013 Terbesar 118.546 91.245 100.167 104.540 123.007 Amerika 30.629 22.267 24.347 29.963 38.090 Jepang 54.126 43.280 40.862 37.081 34.632 Singapura 33.792 25.699 34.958 37.496 50.284 Negara Lainnya 72.049 49.349 45.584 53.664 69.143 Total Semua Negara 190.595 140.594 145.751 158.204 192.150 Sumber: SULNI 20113, diolah

Hasil perhitungan Tabel 10. menunjukan nilai rasio utang kepada masing-masing negara pemberi utang terhadap cadangan devisa Indonesia sepanjang 5 tahun terakhir sebagian besar berada pada kisaran 20-50% dan angka ini memberi arti bahwa setiap tahunnya Indonesia menyisihkan cadangan devisa sebesar 20-50% untuk membayar utang kepada

(7)

masing-27

masing Negara. Dilihat dari perbandingan antara jumlah utang luar negeri Indonesia dengan cadangan devisa yang dimiliki yaitu 1:1 masih bisa dikatakan aman (low risk) namun keadaan berubah menjadi moderate risk ketika rasio ketiga Negara dijumlahkan. Artinya cadangan yang digunakan lebih besar digunakan untuk membayar kepada ketiga Negara terbesar daripada untuk membayar kepada negara lainnya. Dan persentase rasio untuk membayar utang dengan cadangan devisa ke semua Negara semakin menunjukan bahwa Indonesia kurang bisa mengelola cadangan devisanya dengan baik. Nilai rasio yang mencapai kisaran 140-192% memberi arti perbandingan antara jumlah utang dengan cadangan devisanya 2:1. Cadangan devisa habis digunakan untuk membayar kembali utang yang dimiliki dan dikatakan illiquid.

Ketika cadangan devisa yang dimiliki lebih kecil jumlahnya daripada pembiayaan yang digunakan untuk membayar utang, maka secara makroekonomi dampaknya akan berbahaya dan membutuhkan kebijakan yang kuat untuk mengatasinya. Jika hanya mengandalkan cadangan devisa untuk membayar, Indonesia tidak mampu dan bisa dikatakan miskin. Secara keseluruhan cadangan devisa Indonesia berada pada keadaan debt

distress. Namun karena yang diteliti adalah fokus kepada 3 Negara, rasio

utangnya tergolong moderate risk. Pada tahun 2014 ini, dikarenakan kondisi ekonomi yang mulai stabil dan relatif baik, cadangan devisa berhasil mengalami kenaikan hingga sebesar US$ 124.6 miliar pada 15 Agustus 2014 lalu3 dari yang sebelumnya hanya sebesar US$ 99,387 juta pada tahun 2013.

3 Berdasarkan pernyataan Presiden Yudhoyono pada pidato Kenegaraan dalam sidang bersama DPR dan DPD di Jakarta. http://www.tempo.co/read/news/2014/08/15/090599828/sby-klaim-sukses-turunkan-rasio-utang-luar-negeri 15 Agustus 2014

(8)

28

Analisis Penelitian

Setelah melakukan perhitungan indikator utang luar negeri Indonesia, adapun hasil analisis akhir yang selanjutnya bisa menentukan strategi dan kebijakan kedepan untuk Indonesia bisa menjaga dan mengelola perekonomian dengan baik dengan utang luar negeri yang dimiliki. Berikut hasilnya:

Tabel 7. Analisis Akhir Ketahanan Utang Luar Negeri Indonesia kepada Ketiga Negara Terbesar

Tingkatan tekanan utang

Jenis rasio Low Risk Moderate Risk High Risk Debt Distress

Utang terhadap GDP V - -

-Utang terhadap ekspor V - -

-Utang terhadap ekspor bersih - V -

-Utang terhadap cadangan devisa

- V -

-Sumber: Analisis data diolah

Dengan dua indikator yang tergolong pada tingkatan tekanan utangnya low risk, maka dapat ditentukan apa saja strategi yang bisa dilakukan untuk mempertahankan keadaan tekanan utang agar tetap berada pada kondisi low risk dan untuk indikator yang berada pada tingkatan moderate risk, penelitian ini berusaha untuk menemukan solusi yang untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik.

Bagaimana Strategi Pengelolaan yang Baik untuk dapat dilakukan Indonesia untuk Refinancing?

Tentunya Indonesia terus berupaya untuk melakukan strategi pengelolaan utang luar negerinya dengan baik dan tepat agar utang luar negeri tersebut dapat segera terbayar. Menjadikan strategi pengelolaan utang yang disusun tersebut sebagai pedoman untuk mencapai sasaran akhir adalah penting karena untuk proteksi terhadap posisi keuangan negara, pengembangan pasar dan juga penguatan pada kelembagaan pengelola utang sendiri (Direktorat Jendral Pengelolaan Utang, 2010). Walaupun Indonesia merupakan Negara Sedang Berkembang, Dooley (2000) berpendapat bahwa Indonesia mampu membuktikan pengelolaan utangnya yang berasal dari Negara Maju dengan baik. Contohnya, pada strategi pengelolaan utang yang sudah dijelaskan pada halaman 19 dengan pelaksanaan Debt Switch

(9)

29

SBN berhasil mengurangi resiko refinancing dan menurunkan rasio utang terhadap GDP pada tahun 2005-2009.

Dari keempat indikator yang sudah dihitung dan dianalisis, maka penelitian memilih salah satu indikator yaitu rasio utang terhadap ekspor. Rasio ini bisa dijadikan salah satu acuan untuk mengoptimalkan pengelolaan utang yang saling berkaitan dengan tujuannya mengurangi pembiayaan utang dalam hal strategi dan pemilihan kebijakannya. Selama ini strategi pengelolaan utang luar negeri yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk utang luar negeri yang berasal dari Amerika, Jepang dan Singapura adalah sama dan beberapa strategi tepat dan efektif yang sudah dilakukan pemerintah serta sebagai usulan penelitian ini untuk terus dipertahankan adalah sebagai berikut:

Memperkuat Fiskal

Keadaan defisit current account Indonesia yang dipengaruhi oleh situasi ekonomi global yang lemah secara signifikan (Arinanda, 2014) dan disebabkan juga dengan besarnya utang swasta daripada utang pemerintah, berdampak pula pada perekonomian Indonesia. Untuk mengatasinya Indonesia perlu memperkuat fiskal dengan cara menurunkan rasio utang terhadap GDP dan tetap menjaga agar nilai rasio tersebut kecil serta berada dibawah ambang batas aman. Mengingat fiskal dapat mempengaruhi perekonomian didalam APBN, dapat menentukan seberapa besar jumlah pengeluaran dan pendapatannya. Selain itu, aktivitas dalam negeri dapat mengoptimalkan pendapatan Indonesia dengan memproduksi barang berbasis ekspor yang nantinya dapat bersaing dengan barang-barang dari luar negeri dipasar global. Terakhir pengembangan pasar SBN domestik juga bisa dijadikan pedoman untuk menarik investor melakukan investasi didalam negeri. Memperkuat fiskal dapat dilakukan dengan dua cara:

Meningkatkan Pendapatan Negara

Memanfaatkan penggunaan utang untuk membiayai kegiatan atau proyek mendorong pertumbuhan ekonomi. Seperti memproduksi barang-barang yang berbasis ekspor, karena selama ini yang menjadi strategi pengelolaan utang kurang memberi perhatian pada sisi ekspor yang sebenarnya memiliki peluang yang besar untuk dapat menyumbang devisa kepada

(10)

30

Negara. Dengan nilai tambah yang dimiliki dan memenuhi kriteria barang yang bisa dijual dipasar global, dapat meningkatkan daya saing Indonesia di mata Dunia. Karena ekspor merupakan salah satu bentuk investasi yang bagus untuk mengoptimalkan pendapatan Negara, langkah ini bisa menghasilkan keuntungan yang besar untuk Indonesia. Namun dalam perkembangannya, ekspor Indonesia khususnya ke negara-negara tujuan seperti Amerika, Jepang dan Singapura masih tergolong rendah seperti yang terlihat pada Tabel 12. dibawah ini:

Tabel 8. Perkembangan Ekspor Indonesia Negara Tujuan Ekspor Indonesia

Nilai (USD juta)

2011 2012 Triwulan 1 2013 Terbesar 45,127.7 42,375.1 10,813.1 Amerika 15,684.2 14,591.3 3,752.9 Jepang 18,330.1 17,226.5 4,105.8 Singapura 11,113.4 10,557.3 2,954.4 Negara Lainnya 54,679.10 115,327.8 85,731.9

Total Semua Negara 99,806.8 157,702.9 96,545.0 Sumber : Laporan Perekonomian Indonesia,

Triwulan I Tahun 2013 dan BPS, diolah

Rendahnya angka ekspor pada 3 tahun terakhir disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya krisis perekonomian global, kebijakan Ekonomi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai pembatasan ekspor (salah satunya pada bahan mentah mineral) dan masih lemahnya permintaan di sejumlah negara tujuan ekspor pun mempengaruhi volume ekspor Indonesia (Kementerian Perencanaan Pembangunan Negara/PPN, 2013). Upaya dari pemerintah untuk meningkatkan ekspor terus dilakukan, seperti pada laporan Deputi Ekonomi Bappenas dengan memperkuat investasi seperti infrastruktur, pasar tenaga kerja dan terus melakukan kerjasama perdagangan dengan negara-negara lainnya. Penururan tarif ekspor untuk barang-barang yang memiliki nilai tambah dan memenuhi kriteria layak ekspor (tidak termasuk untuk barang mentah seperti minyak, gas dan mineral) pun bisa dijadikan sebagai strategi untuk mengoptimalkan pendapatan devisa dari ekspor ini. Selain dapat membangkitkan kinerja dari para produsen yang memproduksi barang-barang berbasis ekspor,

(11)

31

nantinya barang-barang buatan Indonesia akan lebih dikenal dunia karena memliki daya saing yang tak kalah hebatnya dengan barang-barang buatan Negara lain. Dan upaya tersebut menghasilkan pencapaian investasi mencapai Rp 2,296.6 triliun pada 15 Agustus 20144.

Oleh karena itu, strategi dalam memperkuat fiskal dengan meningkatkan pendapatan Negara dapat dikatakan tepat karena mampu mengurangi rasio utang luar negeri terhadap GDP. Pada 15 Agustus 2014, total rasio utang luar negeri terhadap GDP Indonesia berhasil turun ke angka 23% yang sebelumnya sebesar 30.24% pada Desember 2013 dan ini menunjukan penurunan yang baik selama lima tahun terakhir5.

Mengembangkan Pasar SBN Domestik

Kebijakan yang pemerintah terapkan adalah dengan menitikberatkan pada peningkatan likuiditas dan daya serap dari pasar SBN domestik sendiri serta untuk penerbitan SBN dalam mata uang rupiah lebih diprioritaskan (Direktorat Jendral Pengelolaan Utang, 2010). Keberhasilan strategi pengelolaan utang pada tahun 2005-2009 dijadikan acuan. Kondisi pasar SBN yang aktif dan likuid mampu mengurangi beban utang Negara dari penerbitan SBN baru. Menurut Loto Srinaita Ginting selaku Direktur Surat Utang Negara (SUN) mengatakan bahwa total SBN domestik yang diperdagangkan dipasar sekunder mencapai Rp 859.17 triliun pada 9 April 2013 yang lalu. Salah satunya pertumbuhan pasar SUN domestik, dengan kepemilikan oleh Bank termasuk Bank Indonesia sebesar 37.24% dan non-bank sebesar 62.76%6.

Dengan adanya fakta tersebut, penelitian berpendapat bahwa dalam jangka pendek dampaknya akan menurunkan refinancing risk. Dalam jangka menengah, rata-rata jangka waktu tempo bisa diperpanjang karena dengan program debt switch mampu menarik investor asing. Nantinya dalam

4

Disampaikan Presiden Yudhoyono bersamaan dengan peningkatan cadangan devisa pada sidang DPR dan DPD 5 http://www.tempo.co/read/news/2014/08/15/090599828/sby-klaim-sukses-turunkan-rasio-utang-luar-negeri 15 Agustus 2014 6 http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2013/04/25/menjinakkan-utang-mengelola-obligasi-negara-yang-sehat-550057.html 25 April 2013

(12)

32

jangka panjang akan menurunkan biaya pinjaman dan bisa dikatakan bahwa strategi ini tepat untuk dapat terus ditingkatkan.

Penerapan ALM (Asset and Liability Management)7

Peningkatan Kualitas Pengelolaan Utang

Sisa lebih pembiayaan anggaran atau yang disingkat dengan Silpa pada tahun 2012 turun hingga Rp 21.9 triliun menurut Dirjen Anggaran Kemenkeu, Bapak Askolani8. Namun ini merupakan salah satu keberhasilan Indonesia dalam penerapan ALM. Angka tersebut dinilai lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya dan didapat dari perhitungan realisasi pendapatan Nasional yang lebih tinggi daripada realisasi belanja Negara. Defisit tahun awal 2012 diperkirakan mencapai Rp 196.1 triliun karena belanja negara sudah mencapai Rp 1,548.31 triliun dari pendapatan Rp 1,352.2 triliun. Pemerintah pun berhutang Rp 175.2 triliun untuk berjaga-jaga apabila pendapatan diperkirakan lebih rendah dari yang ditargetkan sebelumnya. Namun laporan pada akhir tahun realisasi anggaran menunjukan defisit hanya Rp 153.3 triliun dari realisasi belanja yang hanya sebesar Rp 1,491.41 dan pencapaian pendapatan terbukti hanya Rp 1,338.1 triliun. Sehingga dari utang yang didapat, masih terdapat kelebihan pembiayaan sebesar Rp 21.9 triliun.

Sebagai upaya untuk terus meningkatkan pengelolaan utang dalam ALM, pemerintah akan menetapkan kerangka kerja struktur dan organisasi ALM dengan penyusunan tahapan pembangunan dan penerapan ALM dalam Kementerian Keuangan berdasarkan rekomendasi dari Ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) Indonesia, Hadi Poernomo9. Penelitian ini pun setuju dengan apa yang pemerintah lakukan karena resiko yang dihadapi akan berkurang dan pembiayaan untuk anggaran utang juga dapat diminimalisasikan dan diawasi pengeluarannya.

7

Dilakukan oleh Internal Pemerintah (melibatkan BI dan Pemerintah). 8 http://finansial.bisnis.com/read/20131201/10/189765/silpa-2013-menurun-diperkirakan-kurang-dari-rp10-triliun 1 Desember 2013 9 http://www.beritasatu.com/ekonomi/141620-bpk-pengelolaan-utang-negara-belum-efektif.html 1 Oktober 2013

(13)

33

Faktor yang Menghambat Langkah Indonesia dalam Pengelolaan Utang untuk Refinancing

Dengan adanya utang luar negeri, dalam jangka pendek secara signifikan memang membantu Negara dalam upayanya menutup defisit APBN akibat pembiayaan untuk pengeluaran rutin dan juga pembangunan yang cukup besar. Namun, utang luar negeri dalam jangka panjang dampaknya menimbulkan berbagai permasalahan ekonomi di dalam negeri sendiri, baik permasalahan internal maupun eksternalnya. Pertanyaannya, faktor-faktor apa saja yang menghambat Indonesia untuk refinancing? Pemberitaan dari beberapa sumber pemberitaan mengatakan bahwa faktor-faktor yang sering muncul adalah:

Faktor Internal

Perencanaan Pengalokasian Dana yang Kurang Memperhitungkan

Kemampuan Penyerapannya

Pada tahun 2010-2012, masalah rendahnya penyerapan (slow disbursement) utang masih terjadi khususnya utang proyek sebesar 60% pada APBN10. Beberapa kegiatan yang dibiayai melalui utang kurang dapat memberikan hasil yang baik karena pemerintah kurang memperhatikan kegiatan yang selayaknya mendapatkan dana tersebut sehingga penyerapannya tidak maksimal. Pada akhirnya, rendahnya penyerapan dan pengalokasian yang kurang tepat sasaran menambah biaya utang luar negeri Negara.

Faktor Eksternal

Volatilitas Nilai Tukar Mata Uang Asing Terhadap Rupiah

Faktor ini menarik untuk dibahas mengingat utang yang dimiliki Indonesia sebagian besar adalah utang dengan mata uang asing. Adanya volatilitas yang terus terjadi, telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan untuk Negara dapat membayar kewajiban dan cicilan pokok utang valasnya (Direktorat Jendral Pengelolaan Utang, 2010). Semakin volatile nilai mata uang asing, maka yang semakin besar pula ketidakpastian yang ditimbulkan untuk menentukan seberapa

10 Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 37/KMK.08/2013 tentang Strategi Pengelolaan Utang Negara Tahun 2013-2016 Menteri Keuangan Republik Indonesia

(14)

34

besar anggaran yang dibutuhkan Negara untuk membayar kewajiban utang valasnya dan ditambah apabila nilai rupiah yang mengalami pelemahan. Dari semua porsi utang valas yang dimiliki Indonesia, utang dalam mata uang USD cukup mendominasi dengan menempati posisi pertama sebesar 70.4%. Posisi kedua adalah utang dalam mata uang IDR sebesar 11.8%, selanjutnya utang dalam mata uang JPY sebesar 11.4% dan sisanya adalah utang dalam mata uang lainnya (BI, 2014).

Menanggapi permasalahan ini, pemerintah dapat melakukan kebijakan seperti mengurangi utang valasnya terhadap total utang yang ada dengan merestrukturisasi utang. Artinya, menggantinya dengan melakukan penerbitan atau pengadaan utang rupiah. Terakhir, dibutuhkan kemampuan negara untuk dapat menjaga nilai mata uangnya agar tetap stabil dan dapat mencontoh Jepang. Mata uang Yen menjadi mata uang yang secara signifikan stabil yaitu berada pada kisaran 106-109 JPY/1 USD dalam 5 tahun terakhir 2008-2013 karena kebijakan suku bunganya yang mendekati nol11.

Ekses Permintaan Barang-barang Impor

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam yang dimiliki, namun Indonesia masih melakukan impor barang migas maupun non-migas dengan alasan kurangnya mutu produk dalam negeri. Tingginya permintaan akan barang-barang impor tersebut membuat produk industri dalam negeri kalah saing dan Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak Dolar dari cadangan devisa yang dimiliki untuk membeli barang-barang impor. Penyebab lainnya adalah karena produk dari luar negeri lebih memegang peranan pasar. Laporan triwulan I tahun 2013 oleh Deputi Ekonomi Bappenas menunjukan bahwa tahun 2011 total impor Indonesia dari seluruh Negara di Dunia mencapai 136,734.1 juta US$ dan terus meningkat hingga tahun 2012 sebesar 149,106.6 juta US$. Namun pada triwulan I tahun 2013, total impor sebesar 34,148.7 juta US$ dan lebih kecil jika dibandingkan dengan triwulan yang sama di tahun 2012 (Kementerian Perencanaan Pembangunan Negara/PPN, 2013).

11

(15)

35

Hal ini terjadi dikarenakan pemerintah sedang menekan sisi impor agar pada sisi ekspor meningkat dan mampu mengembalikan perekonomian kepada keadaan yang stabil12.

Peranan Negara Pemberi Utang dalam Rangka Indonesia Mengembalikan Utang

Intervensi dilakukan oleh negara pemberi utang kepada Indonesia sesuai dengan persetujuan utang yang telah disepakati. Peranannya adalah untuk mempermudah Indonesia dalam mengembalikan utang kepada negara pemberi utang. Pemberian syarat berupa kebijakan (policy matrix) atau pelaksanaan kegiatan (refinancing

modalities) dilakukan oleh negara pemberi utang untuk maksud tersebut

(Direktorat Jendral Pengelolaan Utang, 2010). Beberapa bentuk intervensi tersebut adalah pelestarian lingkungan dan ODA.

Pelestarian Lingkungan

Pelaksanaan pelestarian lingkungan adalah salah satu bentuk pengalihan utang yang dimiliki Indonesia kepada Amerika (Rumaijuk, 2013). Pemerintah AS bekerjasama dengan Indonesia dalam program pelestarian ekosistem Leuser di bagian Utara Pulau Sumatera dengan menggunakan dana sebesar 20 juta dolar AS dan sudah berjalan sejak pertengahan 2013 kemarin. Setelah sebelumnya kerjasama yang berhasil dilakukan oleh keduanya pada tahun 2009 untuk pelestarian hutan Kalimantan, kegiatan ini merupakan kelanjutannya. Sehingga, setelah dana ini habis dikelola selama delapan tahun ke depan, nantinya utang Indonesia kepada Amerika akan berkurang sekitar 30 juta dolar AS.

ODA (Official Development Assistance)

Kebijakan utang yang diberikan Jepang kepada Indonesia dengan persyaratan utang yang lebih ringan dengan tujuan untuk lebih meningkatkan investasi dan perdagangan Jepang di Indonesia (Raymon, 2009). Artinya, utang Indonesia kepada Jepang bisa sedikit demi sedikit terbayar dengan syarat Jepang boleh ikut berperan dalam mengelola sumber daya yang ada di Indonesia. Beberapa program ODA yang diberikan Jepang untuk Indonesia seperti dalam bidang pendidikan,

12 Menurut Pihak Pengamat Pasar Modal, Reza Priyambada.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140805_indonesia_ekonomi_melemah.s html 5 Agustus 2014

(16)

36

dengan cara pemberian beasiswa. Dalam bidang pembangunan, melalui pembiayaan untuk infrastruktur, telekomunikasi dan beberapa program lainnya yang berkaitan dengan industri dan investasi. Dengan pelaksanaan ODA ini cukup memberikan keuntungan bagi Jepang, karena secara tidak langsung Indonesia akan terus bergantung pada utang Jepang.

Dari kedua bentuk intervensi tersebut, hanya Singapura yang tidak memberikan intervensi kepada Indonesia. Singapura memang memberikan utang kepada Indonesia, namun besarnya utang yang diberikan Singapura kepada Indonesia adalah bentuk kepanjangan tangan utang dari Investor asing Eropa13. Singapura sebagai tuan rumah lembaga investasi keuangan sekaligus pialang untuk pengadaan utang kepada negara-negara yang ingin berutang kepada Investor Eropa dan AS, Singapura memegang kendali supply utang. Namun diluar masalah utang, Indonesia tetap berkerjasama dalam bidang ekonomi dengan Singapura14. Indonesia dan Singapura memperkuat kerja sama untuk 6 kelompok kerja ekonomi, diantaranya kerja sama di 3 lokasi Zona Ekonomi Eksklusif seperti Batam, Bintan, Karimun, kerja sama bidang investasi, lalu lintas udara, pariwisata, sumber daya manusia, dan terakhir bidang agrobisnis. Dengan S$ 74.8 miliar atau setara dengan Rp 707.2 triliun hasil dari perdagangan kedua Negara menjadikan Indonesia menjadi mitra dagang terbesar di Singapura.

13 http://www.merdeka.com/uang/ini-bahayanya-jika-indonesia-bergantung-pada-utang-singapura.html 18 April 2014

14http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/12/0948513/.RI.Singapura.Pertahankan.Kerja.S ama.Ekonomi 12 Februari 2014

Gambar

Tabel 1. Jumlah Utang Luar Negeri Indonesia  Negara Pemberi
Tabel 2. Indikator Utang Luar Negeri Indonesia
Tabel 3. Rasio Utang Luar Negeri Indonesia kepada Negara Pemberi Utang   terhadap GDP Indonesia
Tabel 4. Rasio Utang Luar Negeri Indonesia kepada Negara Pemberi  Utang terhadap Ekspor Indonesia
+5

Referensi

Dokumen terkait

Maryetta Monalisa: Dampak Aliran Modal Asing, Utang Luar Negeri, dan Perdagangan Internasional..., 2006... Maryetta Monalisa: Dampak Aliran Modal Asing, Utang Luar Negeri,

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel jumlah uang beredar, BI rate dan utang luar negeri terhadap inflasi di Indonesia.Bank Indonesia memiliki tujuan

Dalam jangka pendek, utang luar negeri sangat membantu pemerintah Indonesia dalam upaya menutup Dalam jangka pendek, utang luar negeri sangat membantu pemerintah

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan kausalitas antara utang luar negeri dengan pertumbuhan ekonomi serta mengidentifikasi bagaimana arah dan pengaruh antara

LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL Artikel Jurnal dengan judul : ANALISIS PENGARUH UTANG LUAR NEGERI, PEMBAYARAN BUNGA UTANG PEMERINTAH, CADANGAN EMAS, PERTUMBUHAN EKONOMI

Pada 7 negara gagal bayar utang, berdasarkan hasil regresi model Fixed Effect, utang luar negeri memiliki pengaruh negatif tetapi tidak signifikan dimana peningkatan 1% pada utang luar

Pengaruh Utang Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi PDB Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, utang luar negeri ULN berpengaruh positif dan signifikan terhadap

Pengaruh utang luar negeri dan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia periode tahun