• Tidak ada hasil yang ditemukan

CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL SARASWATI SI GADIS DALAM SUNYI KARYA A.A NAVIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL SARASWATI SI GADIS DALAM SUNYI KARYA A.A NAVIS"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 73

Abstrak: Salah satu karya sastra yang membawa pesan-pesan tertentu adalah

karya sastra prosa (Novel). Novel

merupakan bentuk karya sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak beredar karena daya

komunikasinya yang luas pada

masyarakat. Novel seperti karya sastra yang lain, juga mempunyai unsur-unsur pembangun, seperti unsur ekstrinsik yaitu salah satunya meliputi citra perempuan dalam masyarakat yang diangkat ke dalam sebuah genre sastra (novel). Hal ini juga tampak dalam novel Saraswati Si Gadis Dalam Sunyi, Karya A. A. Navis. Dengan demikian tulisan ini bertujuan

memberikan pemahaman bahwa

perempuan mempunyai hak dan

kesempatan yang sama dengan laki-laki

untuk memperoleh pendidikan dan

pekerjaan yang layak. Dengan teori feminism dan metode deskriptif kualitatif, persoalan perempuan dalam novel Si Gadis Dalam Sunyi, Karya A. A. Navis

dikaji untuk menemukan sisi

ketidakadilan yang dialami perempuan serta citra perempuan yang terdapat

dalam novel tersebut, denggan

menggunakan teori femenisme.

Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan, dengan demikian jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif.

Kata-kata kunci: Patriarkhi, Feminisme, Tokoh Perempuan, Karya Sastra.

PENDAHULUAN

Keindahan sastra terletak dalam ungkapan bahasa yang menyenangkan, sedangkan harga sastra terletak dalam pegalaman yang dituturkannya (Sumardjo, 1999:8). Salah satu karya sastra yang membawa pesan-pesan tertentu adalah karya sastra prosa (Novel). Novel diciptakan bukan hanya mengandalkan inspirasi dan imajinasi pengarang semata, tetapi oleh hal-hal tertentu yang merupakan gambaran dari suatu realitas konteks tertentu di mana pengarang berada. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan, kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya (Nurgiantoro, 2002:2).

Novel juga mempunyai unsur-unsur pembangun, seperti unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik salah satu unsur ekstrinsik yaitu citra perempuan dalam masyarakat yang diangkat ke dalam sebuah genre sastra (novel). Hal ini juga tampak dalam novel Saraswati Si Gadis Dalam Sunyi, Karya A. A. Navis.

Novel Saraswati Si Gadis Dalam Sunyi, karya A. A. Navis mengisahkan kehidupan seorang gadis yang bernama Saraswati yang memiliki kehidupan yang penuh dengan tantangan dan cobaan di tengah-tengah keterbatasannya secara fisik. Bisu dan tuli adalah keterbatasan

CITRA PEREMPUAN

DALAM NOVEL SARASWATI SI GADIS DALAM SUNYI KARYA A.A NAVIS

Oleh E. M. Solissa

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura Ambon

(2)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 74 fisik dari tokoh tersebut. Namun di

tengah-tengah keterbatasanya itu dia memiliki semangat untuk tetap bertahan menghadapi kerasnya kehidupan dunia di mana ia berada. Walaupun dia jadikan seorang penggembala ternak oleh Busra namun dia tidak pernah membantah, tetapi dia melakukan pekerjaan itu dengan senang hati. Saraswati juga mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari anak-anak disekitar tempat tinggalnya, dimana dia dilempar sampai kepalanya berdarah dan bahkan Saraswati mengalami pelecehan seksual dari saudaranya Bisri. Meskipun cacat Saraswati juga ingin untuk mendapatkan pendidikan walaupun itu hanya pendidikan informal agar dia tidak dipandang sebagai seorang gadis yang tidak berguna oleh keluarga pamannya. Dalam keadaan perang yang melanda desa mereka saat itu, membuat Saraswati harus bertahan mencari kehidupannya sendiri di tengah hebatnya perang yang telah membunuh pamannya. Penulis memilih novel Saraswati Si Gadis Dalam Sunyi, karya A.A. Navis, karena dari segi judul, novel ini sangat unik dan menarik bagi penulis untuk dikaji secara feminis. Novel ini menceritakan kisah hidup seorang gadis yang cacat, dengan berbagai tekenan-tekanan yang dia hadapi dalam hidupnya. Hal tersebut dapat terlihat jelas pada gambaran singkat mengenai isi novel yang telah dipaparkan di atas. Kata gadis ini pun dari perspektif kritik sastra feminis bermakna tertentu. Dipilihnya kata gadis bukan perempuan atau wanita pasti bukan tanpa sebab, karena gadis artinya anak perempuan yang sudah akil balig. Sebagai gadis, Saraswati adalah anak perempuan yang belum kawin, tetapi pada waktu dia bertemu dengan saudara sepupunya, maka saraswati mulai jatuh cinta kepada saudara sepupunya yaitu Bisri. Novel Saraswati Si Gadis Dalam

Sunyi terlihat menarik perhatian karena merupakan novel sosial dan sejarah. Di samping itu, tokoh wanita yaitu Saraswati,menarik untuk diteliti karena daya tariknya, antara lain terletak pada kuatnya ideologi gender yang mendasari sikap dan tingkahnya.

Selain isi cerita dalam novel ini menarik, pengarangnya juga memiliki kualitas terhadap dunia sastra yang digelutinya. A.A Navis lahir di Padang Panjang pada tanggal 17 November 1924. Pada tahun 1956, Ia menulis kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami yang merupakan karya monumental dalam dunia sastra Indonesia. Tiga bukunya yang diterbitkan Gramedia adalah kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami, Bertanya Kerbau pada Pedati dan Novel Saraswati. Oleh karena itu, penelitian ini layak untuk dilakukan.

Pengertian Feminisme dan Citra

Perempuan serta Bentuk Feminisme

Dalam arti leksikal, feminisme adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria (KBBI,1996:241). Feminisme adalah teori tentang persamaan antara laki-laki dan wanita di bidang politik, ekonomi dan sosial atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan wanita.

Feminisme muncul sebagai upaya perlawanan dan pemberontakan atas berbagai kontrol dan dominasi kaum laki-laki terhadap kaum perempuan yang dilakukan secara berabad-abad lamanya. Gerakan feminisme ini pada awalnya berasal dari asumsi yang selama ini dipahami bahwa perempuan biasa ditindas dan dieksploitasi dan dianggap makhluk kelas kedua. Maka feminisme diyakini merupakan langkah untuk mengakhiri penindasan tersebut (Fakih, 2004:99).

(3)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 75 Maggie Humm (dalam Ahyar,

2002:158) mengartikan feminisme sebagai istilah yang digunakan dalam budaya dan diperlukan oleh feminis untuk deskripsi ideologi superior laki-laki. Feminisme merupakan penggabungan doktrin hak-hak yang sama bagi perempuan (gerakan yang terorganisasi untuk mencapai hak-hak wanita) dan suatu ideologi transformasi sosial untuk menciptakan suatu keadaan persamaan. Dalam Kajian feminis ada beberapa ragam (Djajanegara dalam Wiyatmi 2006:115-116 ) yaitu:

1. Kritik sastra feminis ideologis

Kritik sastra feminis ideologis memfokuskan perhatian pada citra serta sterotipe wanita dalam karya sastra. Kritik ini meneliti kesalapahaman tentang wanita dan sebab-sebab mengapa wanita sering tidak diperhitungkan, bahkan nyaris tidak tidak diperhitungkan sama sekali dalam kritik sastra.

2. Kritik sastra feminis ginokritik

Kritik sastra feminis ginokritik meneliti sejarah karya sastra wanita, gaya penulis, tema, genre, struktur tulisan wanita, kreativitas penulis wanita, profesi penulis wanita sebagai suatu perkumpulan, serta perkembangan dan peraturan tradisi penulis wanita. 3. Kritik sastra feminis Marxis

Kritik sastra feminis sosial-Marxis meneliti tokoh-tokoh wanita dari sudut pandang sosial, yaitu kelas-kelas masyarakat. Pengkritik mencoba mengungkapkan bahwa kaum wanita merupakan kelas masyarakat yang tertindas.

4. Kritik sastra feminis psikoanalitik

Kritik sastra feminis psikoanalitik memfokuskan kajian pada tulisan-tulisan wanita karena para feminis percaya bahwa pembaca wanita biasanya mengidentifikasikan dirinya dengan atau menempatkan dirinya

pada si tokoh wanita, sedangkan tokoh wanita tersebut pada umumnya merupakan cermin penciptanya.

5. Kritik sastra feminis lesbian

Yang hanya meneliti penulis dan tokoh wanita saja. Kritik sastra faminis lesbian diawali dengan mengembangkan suatu defenisi yang cermat tentang makna lesbian, kemudian mengidentifikasi penulis dan karya-karya lesbian.

6. Kritik sastra feminis ras / etnik

Kritik sastra feminis ras/etnik yaitu kritik yang membatasi kajiannya pada penulis wanita etnik dan karyanya. Kritik ini di latarbelakangi oleh kaum feminis etnik Amerika yang mengalami deskriminasi seksual dari kaum laki-laki kulit putih dan kulit hitam, serta deskriminasi rasial dari golongan mayoritas kulit putih, baik laki-laki maupun perempuan.

Secara etimologi, ideologi berasal dari bahasa yunani yaitu idea yang artinya cita-cita, dan gagasan Sedangkan

logos artinya ilmu. Jadi, dapat

disimpulkan bahwa ideologi adalah ilmu tentang gagasan, cita-cita, dan sistem kepercayaan yang telah ditentukan secara sosial (Ratna, 2008:370).

Menurut Fraiclough dalam (jorgensen dan luoise, 2007:139), ideologi ditafsirkan sebagai konstruksi makna telah memberikan kontribusi bagi produksi, reproduksi dan tranformasi hubungan-hubungan dominasi. Maksud dari pernyataan ini bahwa sebuah ideologi bisa memberikan kontribusi dan upaya untuk mempertahankan dan mengtranformasikan hubungan-hubungan kekuasaan. Dengan cara ini mereka bisa mendapatkan tempat dalam interaksi antar manusia. Ideologi bukan sekedar konsep-konsep abstrak melainkan juga memiliki eksistensi material dalam aparatus agama, pendidikan, dan keluarga. Namun

(4)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 76 demikian, tidak ada ideologi dominan

yang monolitik atau homogen, akan selalu ideologi-ideologi yang bertentangan itu saling membentuk satu sama lain. Ideologi-ideologi tentang jender, kelas sosial, dan ras, tampaknya ada dimana-mana. Untuk menghapuskan ketidakadilan dari perbedaan kekuasaan, hegemoni salah satu jenis kelamin, kelas sosial, dan ras yang berkuasa harus ditentang dengan sangat keras.

Ideologi jender yang patriarkhal mendiktekan ketidaksetaraan diantara dua jenis kelamin di mana kaum pria bersifat superior, sedangkan kaum perempuan bersifat inferior serta menjadi the other. Dari sudut pandang mereka yang memandang maskulinitas sebagai norma, pria bertindak atas nama perempuan, mengklaim universalitas, obyektivitas, serta netralitas dan dengan demikain menghilangkan peran perempuan. Pria mencengkram perempuan dan menyatakan hak-hak kepemilikan atas mereka. Mereka menciptakan ”perempuan” sebagai suatu konstruk ideologis, sebagai obyek hasrat dan fantasi laki-laki.

Hal tersebut terlihat dalam novel Saraswati Si Gadis Dalam Sunyi karya A.A Navis di mana Saraswati mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari keluarga paman angah, dimana Bisri dan Busra menjadikan saraswati sebagai seorang pengembala itik dan kambing bahkan juga saraswati mendapatkan pelecehan seksual dari Bisri. Hal ini terlihat jelas bahwa kaum pria mencabut hak kepemilikan perempuan atas tubuh dan pikirannya Spender dalam (Hellwig, 2003:17).

Citra perempuan menurut Sugihastuti (2000: 121) adalah gambaran tentang peran wanita dalam kehidupan sosialnya. Wanita diceritakan sebagai insan yang memberikan alternatif baru sehingga menyebabkan kaum pria dan

wanita memikirkan tentang kemampuan wanita pada saat sekarang.

Citra perempuan dalam kehidupan sosialnya berhubungan dengan manusia lain dapat bersifat khusus maupun umum bergantung kepada bentuk hubungan itu. Hubungan wanita dan masyarakat dimulai dari hubungannya dengan orang-seorang, antar orang, sampai ke hubungan dengan masyarakat umum. Termasuk ke dalam hubungan orang-seorang adalah hubungan wanita dengan pria dalam masyarakat (Sugihastuti, 2000:125).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yaitu penelitian yang mengungkap gejala atau fenomena secara menyeluruh dan kontekstual tentang topik yang diteliti. Penelitian ini merupakan penelitian sastra yang bersifat deskriptif dengan menekankan aspek feminisme, karena data-data yang dikumpulkan adalah data deskriptif dari proses interaksi dengan objek yang diteliti dengan menggunakan ktitik sastra feminis.

Data diperoleh menggunakan teknik kepustakaan, dengan cara membaca berulang-ulang novel Saraswati Si Gadis Dalam Sunyi, untuk memperoleh unsur intrinsik tema dan perwatakan tokoh utama. Pada saat melakukan pembacaan tersebut, peneliti mencatat setiap bagian novel yang menunjukan aspek feminisme setelah itu peneliti merampungkan kembali semua

catatan. Teknik Analisis Data

Proses pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini menggunakan model alir, yang terdiri atas: Reduksi Data, Penyajian Data, Penarikan Kesimpulan dengan pengkodean data adalah: SSGDS: HL:BRS, dengan keterangan sebagai berikut:

(5)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 77 SSGDS : judul novel (Saraswati Si

Gadis Dalam Sunyi) H : halaman

BRS : baris

PEMBAHASAN

Tema yang terdapat dalam novel Saraswati Si Gadis dalam Sunyi adalah tema kemanusiaan karena menceritakan tentang kisah hidup seorang perempuan yang cacat fisik yang kehidupannya selalu warnai dengan tantangan dan penderitaan yang dilakukan oleh keluarga pamannya bahkan juga orang-orang sekitar tempat tinggalnya yang selalu melakukan kekerasan terhadap Saraswati.

Ideologi Kaum Feminisme dalam Novel Saraswati Si Gadis dalam Sunyi

Feminisme merupakan sebuah ideologi yang menitikberatkan pada persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Hal-hal yang dimunculkan dalam novel Saraswati Si Gadis dalam Sunyi yaitu:

1. Memperjuangkan Persamaan Hak

dan Kewajiban Laki-Laki dan

Perempuan

Tokoh wanita pada novel

Saraswati Si Gadis dalam Sunyi

digambarkan tidak relevan untuk mempunyai pendidikan ataupun wawasan yang luas. Tokoh Saraswati merupakan representasi kondisi wanita yang jauh mengalami ketimpangan dalam emansipasi pendidikan dengan laki-laki.

Kaum perempuan sering mendapat diskriminasi oleh anggota keluarga yang laki-laki. Mereka menganggap perempuan sebagai kaum inferior yang kekuasaannya ada di tangan laki-laki dan tidak pantas mendapat pendidikan tinggi, yang memperoleh

pendidikan tinggi hanyalah laki-laki, sedangkan perempuan tugasnya hanya melayani suami dan anak-anak. Hal inilah yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang selalu memprioritaskan laki-laki, yang dapat dilihat pada kutipan berikut.

Satu-satunya yang tidak bisa diberikan ayah kepadaku dibandingkan dengan saudaraku yang lain, yaitu pendidikan di sekolah (SSGDS : 8.7-10 )

Ketika Saraswati masih tinggal dengan kedua orang tuanya saja dia sudah tidak mendapatkan pendidikan jika dibandingkan dengan kakak-kakanya yang laki-laki hal tersebut berlanjut ketika dia pindah ke Padang Panjang pun dia mendapat diskriminasi serupa ketika anak-anak dari Angah bersekolah, sedangkan Saraswati hanya menjadi pekerja di rumah bahkan menjadi seorang gadis pengembala itik. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini:

Pagi-pagi sekitar pukul sepuluh, aku melepaskan itik-itik itu lalu menghalaunya ke kolam yang tak digunakan lagi. Agaknya selama ini pekerjaan itu dilakukan oleh Angah, karena pagi-pagi Busra telah pergi ke sekolah (SSGDS : 24.14-18).

Persoalan pendidikan yang digambarkan dalam novel Saraswati Si Gadis dalam Sunyi adalah persoalan perbedaan kesempatan antara wanita dan laki-laki, bukan sekedar perbedaan antara Busra sebagai anak kandung Angah dan Saraswati yang posisinya hanya sebagai kemanakan kandung Angah. Pada novel ini masalah pendidikan digambarkan bukan bagian dari kehidupan perempuan. Pendapat bahwa anak wanita tidak pantas

(6)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 78 memperoleh pendidikan formal.

Sehingga perempuan kesulitan untuk mendapatkan akses pengetahuan. Sistem ini menjadikan kesempatan perempuan memperoleh pekerjaan lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Padahal anak laki-laki yang buta itu telah memperoleh kesempatan untuk menjadi sesuatu yang lebih berarti, hingga dia dapat ikut menikmati pergaulan yang merata antara sesam manusia. Kenapa dia bisa, tapi aku tidak diberi kesempatan sama sekali. Dia toh mendapat pendidikan juga, tetapi kenapa bagi orang bisu tuli seperti aku hanya disediakan pekerjaan sebagai penggembala kambing? (SSGDS : 43. 6-14).

1. Menampilkan Sisi Ketidakadilan yang Dialami Perempuan

Masalah yang dialami perempuan dalam bentuk ketidakadilan yang berasal dari ideologi patriarki, wanita sangat dicela, diejek dan diberlakukan tidak adil oleh kaum pria. Wanita seringkali dijadikan lelucon atau bahan olok-olokan oleh laki-laki dan mengaggap wanita sebagai sosok yang lemah, tidak rasional, tidak berani untuk menentang apa yang diperlakukan oleh laki-laki. Ketidakadilan itu juga pernah dialami oleh tokoh Saraswati ketika melakukan perjalanan ke Padang Panjang dengan menumpang kapal. Dalam kapal tersebut ada seorang pria tua yang sama bisunya dengan Saraswati namun pria bisu itu tidak solider kepada Saraswati tetapi pria itu memperolok Saraswati dengan jalan menyatakan perasaan cintanya terang-terangan dan mengajak dia menjadi istrinya sehingga membuat semua penumpang kapal tertawa dan menjadi gembira melihat tingkah lelaki yang

membadut itu. Hal ini membuat perasaan Saraswati sangat sedih karena merasa dilecehkan oleh lelaki tua bisu yang seharusnya dapat saling menghargai satu dengan yang lain, bahkan dapat menjadi teman karena sama-sama memiliki cacat secara fisik. Hal tersebut dapat di lihat pada kutipan novel di bawah ini:

Dia mengajakku berbicara dengan gerakan tangannya. Semua orang menjadi gembira melihat tingkahnya yang membadut. Sekali dia menyatakan perasaan cintanya terang-terangan dan mengajak aku menjadi istrinya dengan gerak gerik di hadapan pamanku. Semua orang tertawa dan bahkan ada yang bertepuk tangan melihat permainannya. Bahkan paman angah pun ikut tertawa. Aku sangat kesal, malah sampai menangis diperlakukan seperti itu. Aku merasa dilecehkan demi menggembirakan semua penumpang geladak itu. Sepatutnya dia tahu, bahwa aku seorang gadis yang belum dewasa. Dia senang berolok-olok. Dia puas memperolok aku. Kenapa dia tidak solider kepadaku gadis yang sama cacatnya dengan dia? (SSGDS :13.10-24).

Penggalan novel di atas menggambarkan betapa hinanya perempuan dimata kaum lelaki, mereka selalu menjadikan perempuan sebagai objek penghinaan dan menganggap perempuan sebagai makhluk yang memiliki keberadaan inferior dalam status sosial, sehinngga mereka dengan seenaknya memperlakukan perempuan sesuka mereka dan menjadikan perempuan sebagai tempat pelampiasan mereka.

(7)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 79

2. Menentang Monopoli Laki-Laki atas Perempuan

Persamaan kehidupan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan sosial adalah sama. Namun terkadang ada pihak pihak tertentu dan individu-individu yang memiliki persepsi yang berbeda akan hal ini. Sehingga sering terjadi penindasan secara sepihak terhadap perempuan. Segala sesuatu diputuskan sendiri oleh laki-laki tanpa ada persetujuan dari perempuan. Seperti yang terdapat dalam kutipan novel di bawah ini.

Busra kembali dari sekolahnya sedikit lebih lambat sambil menghela empat ekor kambing. Dia tertawa-tawa memandangku, seolah dia merasa bangga karena di berhasil menjajarkan kambing yang suka bandel itu. Tapi aku tak dapat ikut tertawa, karena aku merasa bahwa kambing-kambing itu tentulah dibeli untuk kugembalakan, disamping itik-itik tentunya. (SSGDS : 28.22-28).

Novel ini juga melukiskan watak tokoh Saraswati sebagai seorang wanita yang mengalami keterbatasan fisik, namun Saraswati memiliki kesabaran dan ketabahan serta bekerja keras dan berpikir maju dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan tantangan dan penderitaan baik di tengah-tengah kehidupan keluarga pamanya atau pun orang-orang sekitar tempat tinggalnya. Dengan demikian kita dapat mendeskripsikan tentang citra wanita dalam novel Saraswati Si Gadis dalam Sunyi ini antar lain:

a. Perempuan yang Bekerja Keras

Diskriminasi yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan bukan saja secara psikologi tetapi juga secara fisik

yakni diskrimanasi dalam pekerjaan. Perempuan merasa terbeban ketika mengerjakan pekerjaan yang bukan pekerjaannya. Kadang-kadang ketika laki-laki sibuk dengan urusan mereka, maka mereka memberikan sebagian pekerjaan untuk di kerjakan oleh perempuan. Hal ini juga di alami oleh tokoh perempuan dalam novel Saraswati Si Gadis dalam Sunyi, selain dia mencuci, memasak dan menjahit, masih banyak pekerjaan yang lain lagi yaitu menggembalakan itik dan kambing karena Busra dan Bisri ke sekolah maka pekerjaan itu di berikan kepada Saraswati. Sekarang pekerjaannya bertambah banyak, Setiap pagi Saraswati bangun lebih awal karena harus menyiapkan makanan untuk ternak dan melepaskan itik-itik itu dari kandangnya dan sementara itik-itik itu makan Saraswati langsung mengutip telur-telurnya. Hal ini dapat di lihat pada kutipan berikut:

Kini akulah yang menyiapkan makanan itik sebelum kandang-kandang dibuka. Sementara itik-itik menyudu makanannya di dalam pasu yang disediakan, aku mengutip telur-telurnya di bawah kolom. pagi-pagi sekitar pukul sepuluh, aku melepaskan itik-itik itu lalu menghalaunya ke kolam yang tidak di gunakan lagi (SSGDS : 24.17-20).

Selain memberi makan kepada itik-itik, Saraswati juga mengembalakan kambing. Sementara kambing-kambing itu merumput, Saraswati menggunakan kesempatan itu untuk belajar. Dia belajar mengenali huruf-huruf dan juga belajar menyulam. Sosok Saraswati dalam novel Si Gadis dalam Sunyi mencerminkan sosok seorang perempuan yang bekerja keras untuk masa depan hidupnya

(8)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 80 meskipun ada dalam penderitaan. Hal

tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut :

Di waktu menjaga kambing merumput, aku tentu dapat dengan tenang memperhatikan huruf-huruf pada buku yang ku bawa dengan sembunyi-sembunyi di balik rokku. Selain itu aku membawa kain yang akan aku sulam (SSGDS : 51.13-16). Dengan sembunyi-sembunyi, di kamarku aku belajar meniru susunan huruf-huruf yang artinya sama dengan setiap anggota badanku; seperti mata, pipi, gigi, kaki dan sebagainya (SSGDS : 58.3-7).

b. Perempuan yang Mandiri

Kemandirian perempuan, juga ditonjolkan melalui keputusan-keputusan hidup yang ditentukan olen perempuan itu sendiri. Dominasi laki-laki terhadap perempuan yang terjadi secara terus menerus dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan perempuan. Mereka harus patuh pada perintah laki-laki dan segala keputusan di atur oleh laki-laki. Sehingga membuat perempuan tidak dapat menentukan jalan hidupnya. Hal ini mengakibatkan perempuan tidak dapat menunjukkan citranya sebagai perempuan yang bijaksana, mandiri, dan bertanggung jawab tetapi menjadi perempuan yang terbelenggu oleh kekuasaan laki-laki.

Kerja keras yang di sertai dengan perjuangan tentu membuahkan hasil yang menyenangkan. Hal ini dialami oleh saraswati seorang gadis bisu-tuli yang ingin mandiri dan menjadikan dirinya berharga oleh masyarakat dan terutama kepada keluaraga pamannya yang selama ini menindas saraswati. Saraswati ingin membuktikan kepada busra, bisri dan bahkan untuk laki-laki yang mengejek dia pada waktu di kapal itu

bahwa meskipun dirinya cacat tetapi dia juga bisa sama dengan mereka. Dengan uang hasil usahanya itu akhirnya saraswati disuruh oleh busra untuk membuka usaha peternakan ayam, agar dia bisa mandiri dan tidak bergantung pada belas kasihan orang lain. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut ini:

Rupanya dia ingin aku membuka usaha peternakan ayam dengan modal dari uang ku sendiri, agar aku mandiri dan tidak bergantung pada belas kasihan orang lain (SSGDS: 65. 13-16).

c. Pandai Menahan Diri dan Menjaga Sikap

Dalam konstruksi sosial, perempuan (feminim) pada umunya menjadi subordinasi dari laki-laki, dengan label pasif, lemah, feminism. Asumsi inilah yang mengakibatkan perempuan tidak bisa melakukan sesuatu ketika mereka di tindas atau diejek oleh kaum laki-laki. Hal ini sering terjadi dalam kehidupan kaum perempuan, seperti halnya dalam novel Saraswati Si Gadis dalam Sunyi yang menceritakan tentang seorang gadis yang pandai dan selalu menjaga sikapnya sewaktu di ganggu dan diolok-olok oleh seorang lelaki bisu yang kocak waktu di kapal.

Rasanya Saraswati ingin untuk melempari lelaki itu, namun sebagai seorang perempuan yang lemah dia tidak sanggup untuk melakukan perbuatan itu namun Saraswati berusaha untuk mengendalikan keinginan itu. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk diskriminasi secara psikilogi yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan. Dapat dilihat pada kutipan berikut ini:

Aku sungguh-sungguh ingin melemparinya dengan apa saja. Tapi perasaanku sebagai gadis

(9)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 81 yang dididik ayah dengan kasih

saying, tidak memungkinkan aku bertindak kasar seperti yang aku inginkan waktu itu (SSGDS : 13.24-27).

d. Perempuan yang Berpikiran Maju

Tokoh perempuan dalam novel ini juga berpikiran maju, meskipun memasuki lingkungan baru yang banyak tantangan yang dia hadapi namun dia tetap tabah mengadapinya walaupun ada hal-hal yang membuat di menangis, tetapi dia tetap memiliki komitmen yang kuat agar dia tidak boleh menangis lagi karena air mata tak lagi mengubah nasibnya sebagai seorang gadis yang bisu-tuli dan sebagai gadis yang nasibnya telah dimalangkan oleh kejadian yang telah menelan habis seisi keluarganya tetapi dia juga ingin berusaha untuk membangun kehidupannya yang lebih baik. Hal ini dapat terungkap pada kutipan berikut ini.

Dunia yang aku hadapi kian muram. Hatiku bertambah ciut. Tapi aku tidak menangis lagi. Tangisan tak lagi akan mengubah nasibku. Dan kehidupan tak lagi dapat di bangun dengan air mata. (SSGDS : 15.16-19).

e. Perempuan yang Tabah dalam

Menghadapi Kehidupan

Saraswati adalah sosok perempuan yang tegar,tabah dan sabar dalam menghadapi segala ujian hidup yang setia menemaninya. Sejak kecil, dia mengalami cacat fisik yaitu bisu tuli dan kehilangan seluruh anggota keluarganya akibat kecelakan pada waktu keluargannnya berlibur ke Bandung. Hal itulah megakibatkan Saraswati harus dibawa ke Padang Panjang oleh adik ayahnya yang biasa dipanggilnya Angah. Dalam perjalanan dengan menggunakan

kapal ia bertemu dengan seorang lelaki yang sama cacatnya dengan saraswati. Laki-laki itu selalu memeperolok dia. Ketika Saraswati mengalami hal itu Saraswati sungguh menderita dengan penghinaan itu rasanya dia ingin untuk terjun ke laut karena merasa di lecehkan. Bahkan Angah pun tidak membela Saraswati karena angah juga membutuhkan bantuan laki-laki itu. Hal ini merupakan tantangan pertama yang dihadapi saraswatii. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:

Sungguh hatiku tak tahan menderita penghinaan demikian. Maulah aku lari dan terjun ke laut karenya. Dan tak seorang pun yang membelaku. Oh, tak seorang pun. Angah malah ikut tertawa, karena angah pun mengharapkan bantuan laki-laki bisu itu untuk mengambil ransum kapal. Dan untuk mengharapkan bantuan kecil itu, dibiarkan aku diolok-olok terus (SSGDS : 14.2-8).

3. Faktor yang Mempengaruhi Sikap Tokoh Sarawati

Dalam novel Saraswati Si Gadis dalam Sunyi menggambarkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi sikap tokoh Saraswati yaitu dia Kehilangan Orang-Orang yang Dicintainya, saraswati memliliki Keterbatasan Fisik (Bisu-Tuli) dan dia mengalami Kekecewaan.

KESIMPULAN

Feminisme merupakan sebuah ideologi yang menitikberatkan pada persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Hal-hal yang di munculkan dalam novel Saraswati Si Gadis dalam Sunyi yaitu: memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan, sisi ketidakadilan yang

(10)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 82 dialami perempuan dan menentang

kekerasan terhadap perempuan.

Adapun citra perempuan yang terdapat dalam novel Saraswati Si Gadis dalam Sunyi yaitu perempuan yang bekerja keras, perempuan yang mandiri, pandai menahan diri, perempuan yang berpikir maju, tabah dalam menghadapi kehidupan. Bahkan juga adanya perubahan motivasi dari tokoh utama ke arah yang lebih berani, kemauan yang kuat, serta memiliki keinginan untuk berintegrasi dengan lingkungan sosial. Gambaran watak setelah adanya pemenuhan kebutuhan menjadi lebih tenang dan tentram. Ruang sosial yang memberikan kesempatan untuk beraktualisasi telah membangun mentalitas dan motivasinya, sehingga Saraswati merasakan adanya keberartian dalam hidupnya.

Hasil analisis ini juga menggambarkan tokoh Saraswati sendiri yang dikenal dalam ruang lingkup yang berkaitan dengan penderitaan. Kebanyakan yang diceritakan dalam filosofi Saraswati adalah tentang kehidupan nyata dan bagaimana kita menyikapi kehidupan ini dengan baik. Kisah-kisah Saraswati juga banyak memberi kita pelajaran tentang bagaimana arti kehidupan orang-orang cacat di tengah orang yang tidak cacat .

Bahkan juga ada faktor-faktor yang mempengaruhi sikap Saraswati yaitu kondisi fisik Saraswati yang bisu-tuli itu juga menjadi penyebab bagi dia untuk tidak berinteraksi dengan orang lain, tidak dapat mengambil keputusan bahkan tidak dapat menentang ketidakadilan yang dilakukan keluarganya dan faktor lain yang mempengaruhi sikapnya yaitu kehilangan orang-orang yang disayang, dan dikecewakan.

SUMBER RUJUKAN

Anwar, Ahyar. 2009. Geneologi Feminis. Jakarta: Penerbit Republika.

Djajanegara Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra Epistemologis,

Model Teori dan Aplikasi.

Yogyakarta: Media Pressindo. Esten, Mursel. 1993. Kesusatraan

pengantar teori dan sejarah.

Bandung: Angkasa Bandung. Hellwig, Tineke. 2003. IN THE SHADOW

OF CHANGE Citra Perempuan dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Desantara.

Jergensen, Marianne W dan Loise J. Philips. 2007. Analisis Wacana Teori dan Metode. Diindonesiakan Imam Suino, dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kutha Ratna, Nyoman. 2008. Teori Metode, Dan Teknik Penelitian

Sastra. Yogyakarta: Pustaka

pelajar.

Moleong, Lexy. 2009. Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Navis, A. A. 2002. Saraswati si gadis dalam sunyi. Jakarta : Gramedia. Nurgiantoro, Burhan. 2002. Teori

Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:

Gajah Mada University Press. Nursito. 2000. Ikhtisar Kesusasteraan

Indonesia. Yogyakarta : Dicita Karya Nusa.

Pradotokusumo. 2005. Pengkajian Sastra. Jakarta : PT Gramedia. Sugihastuti. 2000. Citra Dominasi

Laki-Laki Atas Perempuan dalam

Saman. Surakarta: Muhamadiyah University Press

Sumardjo, Jacob. 1999. Konteks Sosial

Novel Indonesia. Bandung :

(11)

Jurnal Pendidikan ”Jendela Pengetahuan” Vol ke-5, Cetakan ke-13 83 Saini K.M. 1986. Apresiasi

Kesusasteraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Suroto. 1993. Teori dan Bimbingan

Apresiasi Sastra Indonesia.

Jakarta: Erlangga.

Tarigan, H. G. 1991. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa. Wellek, Rene & Austin, Warren. 1995.

Teori Kesusasteraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.

Zed, Mustika. 2008. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

seorang perempuan Indonesia seperti Sri, pada zamannya yg digambarkan Nh.Dini. Penelitian ini berupaya memaparkan serta menggambarkan wujud citra tokoh perempuan dalam novel

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tokoh perempuan dalam novel Ibuk karya Iwan Setyawan, mendeskripsikan citra tokoh perempuan (Ngatinah) sebagai ibu dan

Berdasarkan hasil analisis citra perempuan dengan tinjauan feminisme sastra, citra perempuan yang terdapat dalam novel Ibuk karya Iwan Setyawan yaitu citra

Tokoh-tokoh perempuan Jawa dalam novel Maskumambang yang menjadi fokus analisis terdiri atas empat tokoh, yaitu Sri Sumarti (sebagai tokoh utama perempuan), Sri Sumarti adalah

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa citra diri perempuan tokoh Norma dalam aspek psikis digambarkan sebagai perempuan yang tidak setia dan tidak pernah

Melalui penelitian deskriptif tersebut peneliti melakukan penelitian berlandaskan citra perempuan yang telah diidentifikasi dari novel berdasarkan dialog yang dilakukan

Key word: character, image, kretek Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan citra wanita tokoh utama dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala sebagai alternatif

KESIMPULAN Citra diri perempuan pada tokoh utama dalam novel Pengantin Pesanan Karya Mya Ye yang terdiri dari dua yang pertama, aspek fisik meliputi perempuan dewasa yang menga- lami