Tanggal masuk naskah : 22Februari 2012
HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI IBU DAN POLA
MAKANBALITADENGAN STATUS GIZI BALITA(12-59 BULAN)
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GANDUS
KECAMATAN GANDUS - PALEMBANG
TAHUN 2010
Nyimas Nur Khotimah, Rohanta Siregar, Mardiana
ABSTRAK
Pangan dan gizimemberikan kontribusi dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu berperan secara optimal dalam pembangunan.Masalah gizi di Indonesia dan di negara berkembang pada umumnya masih di dominasi oleh 4 masalah gizi, yaitu Kurang Energi Protein (KEP), masalah Anemia Besi, masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), masalah Kurang Vitamin A (KVA), dan masalah Obesitas terutama di kota-kota besar. Pengetahuan gizi ibu balita di wilayah kerja puskesmas Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang, terdapat 30 orang ibu Balita, yang memiliki pengetahuan Gizi baik (37,5%) dan 50 orang ibu Balita, yang memiliki pengetahuan Gizi kurang (62,5%). Sedangkan 48 balita memiliki pola makan yang baik (60%). Dan 32 balita memiliki pola makan kurang (40%). Dari hasil analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square, didapatkan nilai p=0,05 ( p < α 0,05 ), dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang sangat bermakna antara pola makan balita dengan status gizi balita di wilayah Kerja Puskesmas Gandus Kota Palembang, berdasarkan indikator BB/U. Dari hasil penelitian disarankan perlunya peningkatan pengetahuan gizi ibu, terutama tentang gizi dan penerapan pola makan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Melalui penyuluhan, diskusi dan sebagainya oleh petugas gizi dan para kader posyandu setempat, sehingga dapat diterapkannya pola makan yang baik bagi balita dalam upaya peningkatan status gizi. Agar tidak ditemukannya anak-anak yang mengalami gizi kurang.
Kata Kunci : Pengetahuan gizi, Pola makan, Status gizi, Balita.
ABSTRACT
Nutrition and food give contribution to qualify human resource building in order to perform maximal national building. Nutrition problem in Indonesia and other developing countries still donated in four nutrition problems, they are : Energy Protein Malnutrition (EPM), iron deficiency, yodium deficiency, vitamin A deficiency and obesity in urban. There are thirty mothers of underfive children who have good nutrition knowledge(37,5%) and fifty mothers of underfive children have lack nutrition knowledge (62,5%) in primery health service Gandus district – Palembang city, whereas fourty eight underfive children have good dietary pattern(60%) and thirty two underfive children have lack dietary pattern (40%). From the statistic analysis by using ChiSquare test we get the value p=0.05(p<0.05).The conclution is significant relation in nutrition status of dietary pattern in that area using indicator body weight/age. We sugest that mothers underfive children need more nutrition knowledge especially good dietary pattern intervation.Through nutrition compaign, discussion etc from health providers in order to increase nutrition status and they can apply good dietary pattern for underfive children so that we do not find underfive children malnourish.
PENDAHULUAN
Pangan dan gizi merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pembangunan. Komponen ini memberikan kontribusi dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu berperan secara optimal dalam pembangunan. Karena peranan ini sangat penting, sehingga pangan dan gizi dapat diibaratkan sebagai kebutuhan dan modal dasar pembangunan serta menjadi indikator untuk melihat keberhasilan pembangunan.(1)
Masalah gizi di Indonesia dan di negara berkembang pada umumnya masih di dominasi oleh 4 masalah gizi, yaitu Kurang Energi Protein (KEP), masalah Anemia Besi, masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), masalah Kurang Vitamin A (KVA), dan masalah Obesitas terutama di kota-kota besar. Secara umum, gizi di Indonesia terutama (KEP), masih lebih tinggi dari Negara-negara ASEAN lainnya.(2)
Anak balita merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit, dan yang paling
banyak menderita gangguan akibat gizi (KEP) dikarenakan anak balita berada dalam masa transisi, pada masa ini terjadi perubahan pola makan dari makanan bayi ke makanan dewasa.(3)
Gizi kurang yang terjadi pada anak-anak, dapat menghambat pertumbuhan, rentan terhadap penyakit infeksi dan rendahnya tingkat kecerdasan anak.(4)
Status gizi kurang atau status gizi lebih, merupakan suatu gangguan gizi yang disebabkan oleh faktor primer dan faktor sekunder. Faktor primer adalah apabila susunan makanan seseorang salah dalam kualitas maupun kuantitasnya, yang merupakan akibat dari kurangnya penyediaan pangan, kemiskinan, ketidaktahuan, kebiasaan makan yang salah dan sebagainya. Sedangkan faktor sekunder meliputi semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai ke sel-sel tubuh setelah makanan dikonsumsi.
Hasil Riset Kesehatan Dasar, prevalensi Nasional gizi buruk pada balita adalah 5,4% dan gizi kurang pada balita 13%.(5)
Berdasarkan hasil PSG tahun 2006 menunjukkan prevalensi gizi kurang di Provinsi Sumatera Selatan sekitar 10,40% dan gizi buruk sebesar 1,06% (Profil Kesehatan SumSel, 2008).(6)
Berdasarkan data profil gizi tahun 2007, balita yang menderita KEP total (gizi buruk dan kurang) di Palembang sebesar 10,75%, persentase daerah yang paling rawan terkena masalah gizi, adalah Kecamatan Gandus dengan persentase balita gizi buruk sebesar 4,95%, persentase gizi kurang sebesar 23,98% dan persentase gizi baik sebesar 63.75%.(7)
Berdasarkan data yang ada, peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang.
Perumusan Masalah
Ketidaktahuan para ibu tentang tata cara pemberian makanan pada anak, akan berakibat kepada kesalahan dalam pemilihan bahan makanan, hal ini akan berdampak kepada kesalahan dalam menerapkan pola makan pada anak, sehingga akan menimbulkan gizi
kurang pada anak. Anak harus mendapatkan makanan yang bergizi sesuai dengan kebutuhannya, sehingga tercapai status gizi yang baik.
Berdasarkan hal ini, maka peneliti tertarik untuk meneliti : Apakah ada hubungan antara pengetahuan gizi ibu dan pola makan balita dengan status gizi balita (12-59 bulan) di Wilayah Kerja Puskesmas Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Diketahui hubungan pengetahuan gizi ibu dan pola makanbalita (12-59 bulan) dengan status gizi balita di Wilayah Kerja Puskesmas Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang.
Tujuan Khusus
a. Mengetahui Distribusi Frekuensi Pengetahuan ibu, Pola Makan balita, dan Status Gizi balita (12-59 bulan) di Wilayah Kerja Puskesmas Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang.
b. Mengetahui hubungan Pengetahuan Gizi ibu dengan
Status Gizi balita (12- 59 bulan) di Wilayah Kerja Puskesmas Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang.
c. Mengetahui Hubungan Pola Makan balita dengan Status Gizi balita (12-59 bulan)
Hipotesa
1. Ada hubunganantara Pengetahuan Gizi ibu dengan Status Gizi balita
2. Ada hubungan antara Pola Makan balita dengan Status Gizi balita.
Manfaat Penelitian
Sebagai bahan untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam mengembangkan suatu penelitian, khususnya di bidang ilmu gizi masyarakat, serta untuk menjadi bahan rujukan bagi peneliti lanjutan lainnya.
METODE PENELITIAN Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang bersifat deskriptif analitik dengan desain penelitian
cross sectional. Penelitian ini
mempelajari dinamika korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikatnya diukur dalam waktu yang bersamaan, dengan menggunakan model pendekatan atau observasi.
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini telah dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang Sumatera Selatanpada bulan Desember tahun 2010.
Populasi dan Sampel Populasi
Populasi adalah seluruh keluarga yang mempunyai balita (12-59 bulan) yang berada di Wilayah kerja Puskesmas Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang. Besar populasi adalah 6902 anak balita.
Sampel
Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah keluarga yang mempunyai anak balita (12-59 bulan) dan menetap di wilayah kerja Gandus Puskesmas Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang. Apabila dalam keluarga tersebut terdapat lebih dari 1 orang anak balita, maka
yang dijadikan sampel adalah anak balita yang paling muda.
Sampel yang diambil dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus :
=
∝/×
×
−
− 1
Keterangan :
d =Persentasi kesalahan yang dikehendaki (10%)
Zα/2 = Derajat kepercayaan 95%
(1,96%)
P = Proporsi yang diambil adalah 28,93% (0,29)
Q = 1-p
N = Jumlah populasi n = Besar sampel
Pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan system Cluster
sampling, proses pengambilan
sampel dilakukan secara kelompok, peneliti tidak mendaftarkan semua anggota dalam populasi, melainkan cukup mendaftarkan banyaknya kelompok atau gugus yang ada didalam populasi. Kemudian mengambil sampel berdasarkan
gugus-gugus tersebut (Notoadmodjo, 2002).
Batasan operasional yang dipakai untuk pengetahuan gizi ibu, pola makan balita, dan status gizi balita meliputi :
Pengetahuan gizi : baik apabila ≥ 85% – 100%, kurang apabila ≤ 70% - 84%. Pola makan balita dikatakan baik apabila ≥ 80% - 100%, kurang apabila ≤ 70% - 79%.Status gizi balita dikatakan baik apabila ≥ 75% - 100%, kurang apabila ≤ 60% - 74% (Moehyi, Sjahmien, 2006).
Keterbatasan Penelitian
1. Tidak dilakukannya uji validitas terhadap kuesioner pengetahuan gizi ibu yang dipakai saat wawancara dengan responden. 2. Keterbatasan memori responden
saat pengisian form food frequensi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi pengetahuan gizi ibu balita di daerah Puskesmas Gandus 2010 masih kurang baik, sehingga berakibat pada kondisi keadaan status gizi balita
Analisa Data Univariat
Analisis univariat, dipergunakan untuk mendiskripsikan variable-variabel bebas dan variable-variabel terikat. Gunanya untuk mendapatkan gambaran penyebaran distribusi sampel pada masing-masing variabel penelitian ini.
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu Balita
Tingkat Pengetahuan Ibu Responden n % Baik 30 37,5 Kurang 50 62,5 Jumlah 80 100
Pada tabel 1, diketahui bahwa pengetahuan gizi ibu balita di wilayah kerja puskesmas Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang, terdapat 30 orang ibu Balita, yang memiliki pengetahuan Gizi baik (37,5%) dan 50 orang ibu Balita, yang memiliki pengetahuan Gizi kurang (62,5%). Kondisi ini, sebenarnya kurang baik, karena lebih dari 50 % sampel berpengetahuan Gizi kurang, artinya di wilayah kerja Puskesmas Gandus ini, ibu Balita masih banyak yang
belum memiliki pangetahuan gizi yang baik, kondisi ini akhirnya akan berakibat kepada kondisi anak Balitanya.
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Pola Makan Balita Pola Makan Balita Responden n % Baik 48 60 Kurang 32 40 Jumlah 80 100
Pada tabel 2, didapatkan 48 balita memiliki pola makan yang baik (60%). Dan 32 balita memiliki pola makan kurang (40%). Kondisi ini sudah cukup baik, karena sebagian besar sampel telah memilih dan menerapkan pola makan yang baik. walaupun masih ada juga yang memiliki pola makan kurang, ini terjadi diperkirakan karena dampak dari kondisi pengetahuan gizi ibu Balita yang masih kurang, sebagaimana hasil kuesioner tentang pengetahuan gizi ibu balita yang peneliti dapatkan.
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Status Gizi Balita Status Gizi Balita Responden n % Lebih 2 2,5 Baik 54 67,5 Kurang 22 27,5 Buruk 2 2,5 Jumlah 80 100
Pada tabel 3, dari hasil pengukuran status gizi secara antropometri dengan indeks BB/U, yang dilakukan, ditemukan 2 orang balita yang berstatus gizi lebih (2,5%), 54 orang balita yang berstatus gizi baik (67,5%), 22 orang balita yang berstatus gizi kurang (27,5%) dan 2 orang balita yang berstatus gizi buruk (2,5%).
Karena ada nilai expected yang kurang dari 5, maka untuk kepentingan statistik, dilakukan penggabungan, dari 4 kategori status gizi, menjadi hanya 2 kategori status gizi, yaitu status gizi baik dan gizi kurang, dan hasil penggabungan tersebut dapat dilihat pada tabel 4 ini :
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Status Gizi Balita
Status Gizi Balita Responden
n %
Baik 56 70
Kurang 24 30
Jumlah 80 100
Pada tabel 4, dari hasil pengukuran status gizi secara antropometri dengan indeks BB/U, yang dilakukan, ditemukan 56 orang balita yang berstatus gizi baik (70%), dan 24 orang balita yang berstatus gizi kurang (30%). Jika dilihat dari hasil pengisian kuesioner pengetahuan gizi ibu balita, terlihat bahwa memang masih banyak ibu balita yang belum memiliki pengetahuan gizi yang baik, yaitu hanya ada 37,5 % ibu balita yang memiliki pengetahuan gizi yang baik. Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran status gizi ini, ternyata dampak dari kurangnya pengetahuan gizi ibu balita ini, sepertinya cukup besar juga pengaruhnya. Hal Ini tidak bisa dibiarkan terus menerus, karena jika tidak segera dilakukan pengatasana terhadap kondisi ini, dikhawatirkan kasus gizi kurang akan
bertambah dikemudian hari, bahkan dapat memicu balita yng mengalami gizi kurang, akan menjadi gizi buruk.
Analisa Data Bivariat
Analisa Bivariat dilakukan dengan membuat tabel silang pada masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat, untuk memperoleh gambar variabel bebas yang diduga ada hubungannya dengan kondisi status gizi anak balita.
1. Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu dengan Status Gizi Balita
Hubungan pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita di Wilayah kerja Puskesmas Gandus Kecamatan Gandus pada tahun 2010 ini, dianalisis dengan menggunakan statistic chi-square. Hasil analisisnya dapat dilihat dalam tabel 5 dibawah ini.
Tabel 5
Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu dengan Status Gizi Balita
Pengeta huan gizi ibu Status gizi Jmlh Nilai P Baik Kura ng n % n % n % Baik 2 8 93, 3 2 6, 7 3 0 10 0 0,000 5 Kurang 2 8 56 2 2 4 4 5 0 10 0 Jumlah 5 6 70 2 4 3 0 8 0 10 0
Pada tabel 5, diketahui bahwa jumlah anak balita yang memiliki status gizi baik, paling banyak dimiliki oleh ibu balita yang memiliki pengetahuan gizi baik, yaitu sebesar 93,3%, dibandingkan dengan ibu balita yang memiliki pengetahuan kurang, yaitu sebesar 56%.
Dari hasil analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square, didapatkan nilai p=0,000(p< α 0,05), dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan yang sangat bermakna antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita di wilayah Kerja Puskesmas Gandus Kota Palembang berdasarkan indikator BB/U.
Sebagian besar gizi buruk dapat dihindari, apabila kepala keluarga, terutama ibu mempunyai tingkat pengetahuan yang baik mengenai gizi dan kesehatan. Orang tua yang memiliki pengetahuan yang kurang etntang gizi dan kesehatan, cenderung tidak memperhatikan
kandungan zat gizi dalam makanan keluarganya terutama untuk balita, serta kebersihan makanan yang disantap, sehingga akan mempengaruhi status gizinya.
2. Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Balita
Hubungan pola makan dengan status gizi balita di Wilayah kerja Puskesmas Gandus Kecamatan Gandus pada tahun 2010 ini, dianalisis dengan menggunakan statistic chi-square. Hasil analisisnya dapat dilihat dalam tabel 6 dibawah ini.
Tabel 6
Hubungan Pola Makan Balita dengan Status Gizi Balita
Pola maka n Status gizi Jumlah Nilai P Baik Kurang n % n % n % 0,00 05 Baik 4 4 91, 7 4 8,3 4 8 10 0 Kuran g 1 2 37, 5 2 0 62, 5 3 2 10 0 Jumla h 5 6 70 2 4 30 8 0 10 0 Berdasarkan tabel 6, diketahui bahwa jumlah anak balita yang memiliki status gizi kategori baik,
paling banyak terdapat pada balita yang memiliki pola makan yang baik, yaitu sebesar 91,7%, dibandingkan dengan balita yang memiliki pola makan kurang (37,5%).
Dari hasil analisa statistik dengan menggunakan uji chi-square, didapatkan nilai p=0,0005 ( p < α 0,05 ), dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan yang sangat bermakna antara pola makan balita dengan status gizi balita di wilayah Kerja Puskesmas Gandus Kota Palembang, berdasarkan indikator BB/U.
Menurut Soenardi, 1996, pola makan adalah faktor yang mempengaruhi konsumsi makan. Apabila pola makan baik maka diasumsikan konsumsi makan akan baik pula sehingga menimbulkan status gizi yang baik.
Menurut Berg (1985) pola makan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mempengaruhi status gizi.Hal ini ditunjukkan dari hasil yang peneliti dapatkan dimana balita yang memiliki pola makan yang baik, tidak mengalami gizi kurang.(8)
Pada umumnya balita yang berstatus gizi baik biasanya memiliki pola
makan yang baik pula karena pola makan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang berjudul “Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu dan Pola Makan balita Dengan Status Gizi Balita (12-59 bulan) di Wilayah kerja puskesmas Gandus kecamatan gandus Palembang”, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Tingkat pengetahuan gizi ibu balita yang baik ada 30 responden (37,5%) dan yang berpengetahuan kurang ada 50 responden (62,5%).
2. Balita yang memiliki pola makan yang baik ada 48 orang (60%), dan memiliki pola makan yang kurang ada 32 orang (40%). 3. Balita yang berstatus gizi baik
ada 54 orang (67,5%), dan berstatus gizi kurang ada orang22 (27,5%).
4. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita ditunjukkan dengan nilai p< 0,05 (0,0005)
5. Terdapat Hubungan yang bermakna antara Pola makan dengan Status Gizi, ditunjukkan dengan nilai p<0,05 (0,0005).
Saran
Perlunya peningkatan pengetahuan gizi ibu, terutama tentang gizi dan penerapan pola makan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Melalui penyuluhan, diskusi dan sebagainya oleh petugas gizi dan para kader posyandu setempat, sehingga dapat diterapkannya pola makan yang baik bagi balita dalam upaya peningkatan status gizi. Agar tidak ditemukannya anak-anak yang mengalami gizi kurang.
DAFTAR PUSTAKA
1. Khomsan, Ali, dkk, 2004,
Pengantar Pangan dan Gizi,
penerbit Swadaya, Jakarta
2. Supariasa, I Dewa Nyoman. 2001, Penilaian Status Gizi. Buku Kedokteran EGC.Jakarta
3. Notoadmodjo, soekidjo, 2003,
Ilmu Kesehatan Masyarakat.
4. Almatsier, sunita, 2001, Prinsip
Dasar Ilmu Gizi, Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta
5. Departemen Kesehatan RI, 2008, Mediakom, edisi XV. Hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2007
6. Dinkes, Provinsi sumatera Selatan, 2008, Profil Kesehatan
propinsi Sumatera Selatan
7. Dinas Kesehatan, 2007, Profil Gizi Kota Palembang
8. Berg, alan 1985, Fakto-faktorr
gizi. Bhatara karya aksara.