73 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and Development). Produk yang dikembangkan adalah Lembar Kegiatan Siswa (LKS) matematika materi trigonometri untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas X dengan pendekatan guided discovery. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ASSURE. Pengembangan model ASSURE meliputi enam tahap yaitu: (1) Analyze Learners; (2) State Objectives; (3) Select Methods, Media and Materials; (4) Utilize Media and Materials; (5) Require Learner Participation; (6) Evaluate and Revise. Kualitas LKS ditinjau dari aspek kevalidan, kepraktisan dan keefektifan. Adapun hasil setiap tahapan selama proses pengembangan dapat dijabarkan sebagai berikut.
1. Hasil Tahap Analyze Learners
Tahap Analyze learner merupakan tahap awal penelitian pengembangan LKS yang telah dilakukan. Tahap Analyze learner berfungsi untuk menganalisis kebutuhan-kebutuhan dalam pembelajaran. Pada tahap ini, peneliti melakukan analisis terhadap berbagai hal untuk dijadikan dasar mendesain dan mengembangkan produk yaitu analisis situasi pembelajaran dan analisis karakteristik siswa. Hasil yang diperoleh pada tahap Analyze learner adalah sebagai berikut.
74
a. Hasil Analisis situasi pembelajaran
Analisis situasi pembelajaran didasarkan hasil pengamatan dan kajian situasi dari permasalahan yang ada di lapangan dan produk apa yang mampu membantu menyelesaikan masalah pendidikan yang ada. Pada tahap analisis situasi pembelajaran, peneliti melakukan observasi kegiatan pembelajaran matematika yang dilakukan di SMA N 1 Pengasih. Hasil observasi yang dilakukan selama dua bulan (saat peneliti praktik mengajar/PPL) diketahui bahwa pembelajaran sudah berlangsung dengan baik dan guru memberikan konsep matematika dari yang paling dasar hingga kompleks dengan baik.
Pembelajaran matematika yang dilakukan hanya dengan diberikan catatan materi yang sedang dipelajari di papan tulis kemudian siswa diberikan waktu untuk mencatat dan diberikan soal latihan. Siswa cenderung mendengarkan dan menerima apa yang disampaikan guru sehingga kurang terlibat aktif dalam menemukan konsep-konsep matematika yang sedang dipelajarinya.
Ada beberapa komponen penting pembelajaran di sekolah yang belum dimiliki. Komponen tersebut diantaranya adalah sumber belajar dan media ajar matematika yang sesuai dengan karakter siswa di sekolah tersebut. Berdasarkan beberapa komponen tersebut, diketahui bahwa sekolah belum memiliki Lembar Kegiatan Siswa (LKS) sebagaimana seharusnya. Berdasarkan pengamatan pada saat PPL siswa hanya memiliki buku paket matematika kurikulum 2013 revisi
75
2014 dan satu buku tersebut digunakan untuk 2 orang siswa. Buku tersebut digunakan siswa sebagai pegangan pembelajaran di kelas. Pada semester genap ini, siswa tidak memiliki panduan belajar baik buku paket matematika kurikulum 2013 revisi 2016 maupun lembar kegiatan siswa yang dapat digunakan secara individu. Berdasarkan hasil wawancara, guru juga mengaku mengalami kesulitan mendapatkan bahan ajar sebagai media pembelajaran di kelas. Guru juga belum mengembangkan LKS yang dapat memfasilitasi siswa dalam menemukan konsep-konsep matematika secara mandiri sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dikembangkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dengan pendekatan yang lebih bervariasi yang mampu mengajak siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Dengan demikian siswa tidak hanya menerima dan menghafal materi yang sampaikan oleh guru, namun juga turut berpartisipasi dalam menemukan konsep-konsep baru dan membangun pengetahuannya sendiri, sehingga pembelajaran akan menjadi lebih baik. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan adalah guided discovery (penemuan terbimbing). Pendekatan guided discovery dapat membantu siswa memahami materi yang dipelajari dengan lebih baik dan membuat materi yang dipelajari lebih lama membekas pada memori siswa karena siswa dilibatkan secara aktif dalam proses penemuannya.
76 b. Analisis Karakteristik Siswa
Analisis dilakukan dengan cara melakukan diskusi bersama guru matematika disekolah, wawancara secara langsung kepada siswa dan pengamatan langsung terhadap siswa kelas X MIA 4. Berdasarkan hasil analisis karakteristik siswa diperoleh data yang meliputi:
1) Karakteristik Umum Siswa
Siswa kelas X MIA 4 SMA N 1 Pengasih berjumlah 33 orang dengan siswa laki-laki berjumlah 10 orang dan siswa perempuan berjumlah 23 orang. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa diperoleh informasi bahwa rata-rata pekerjaan wali murid siswa kelas X MIA 4 adalah PNS dan wiraswasta. Dari segi sosial ekonomi siswa tergolong sedang atau menengah.
Latar belakang tingkat pendidikan siswa X MIA 4 adalah lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan ada siswa yang juga sekaligus lulusan dari Pondok Pesantren. Mereka berusia antara 15-16 tahun, dapat disebut juga sebagai remaja. Siswa kelas X MIA 4 juga memiliki berbagai bakat atau keahlian, terutama dalam bidang olahraga dan seni.
2) Kemampuan awal siswa
Analisis kemampuan awal siswa diperlukan untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan dan keterampilan yang telah atau belum dimiliki siswa dalam kegiatan pembelajaran
77
matematika. Hasil analisis ini diperoleh dari pengamatan langsung dan wawancara kepada siswa.
Pada bulan Juli hingga September 2016, peneliti melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah tempat uji coba dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil observasi selama penelitian didapatkan informasi bahwa kemampuan siswa dalam pelajaran matematika dapat dikatakan sedang. Siswa masih bergantung pada penjelasan guru sehingga siswa masih merasa kesulitan jika ada soal-soal yang lebih kompleks. Rata-rata nilai UAS yang diperoleh siswa kelas X MIA 4 yaitu 74 dengan KKM 65. Nilai tersebut masih cenderung rendah.
Dalam pembelajaran, siswa belum bisa menalar atau memecahkan suatu masalah secara mandiri sehingga sangat membutuhkan bimbingan dari gurunya. Selain itu, siswa membutuhkan panduan belajar secara bertahap langkah demi langkah supaya mudah paham bukan hanya diberikan rumus instan yang harus dihafalkan. Pada dasarnya siswa kelas X sudah mampu menyelesaikan masalah-masalah yang bersifat abstrak, akan tetapi dalam hal trigonometri siswa masih menemukan banyak kesulitan terutama dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan permasalahan sehari-hari. Siswa juga masih membutuhkan bantuan ataupun bimbingan dari guru untuk memahami materi yang dipelajari.
78
Berdasarkan analisis karakteristik siswa di atas, peneliti mengembangkan LKS dengan pendekatan guided discovery untuk membantu dan memotivasi siswa dalam belajar trigonometri. 3) Gaya-gaya belajar siswa
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa kelas X MIA 4 SMA N 1 Pengasih, gaya belajar siswa dalam belajar matematika senang dengan tipe belajar audio-visual. Dalam belajar matematika, siswa mengaku lebih senang berdiskusi dengan temannya pada saat pembelajaran matematika. Rasa ingin tahu siswa SMA cenderung mencoba dan menemukan hal-hal yang baru terutama inovasi pembelajaran yang baru ia peroleh.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti mengembangkan LKS dengan pendekatan guided discovery. LKS sebagai media belajar dan pendekatan guided discovery dapat memfasilitasi siswa mendapatkan bimbingan seperlunya dari guru sehingga dapat sesuai dengan gaya belajar siswa yang audio-visual.
2. Hasil Tahap State Objectives
Pada tahap State objectives dilakukan penetapan tujuan pembelajaran yang sebelumnya telah dilakukan telaah kompetensi. Pada tahap ini, peneliti melakukan analisis terhadap kurikulum yang berlaku di sekolah, kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), indikator dan tujuan pembelajaran.
79
Peneliti menganalisis kurikulum yang digunakan di SMA N 1 Pengasih yaitu Kurikulum 2013 revisi 2016. Salah satu materi pokok mata pelajaran matematika wajib yaitu trigonometri. Materi trigonometri merupakan materi dasar yang akan digunakan untuk pembelajaran pada tingkatan-tingkatan selanjutnya. Materi trigonometri ini disampaikan di kelas X semester 2. Berikut adalah Lampiran Permendikbud No 24 tahun 2016 tentang Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) materi trigonometri untuk SMA kelas X.
Tabel 15. KI dan KD Materi Trigonometri untuk SMA Kelas X Kompetensi Inti (KI) Kompetensi Dasar (KD) 3. Memahami, menerapkan, dan
menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
3.7 Menjelaskan rasio trigonometri (sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan cotangen) pada segitiga siku-siku
3.8 Menggeneralisasi rasio trigonometri untuk sudut-sudut di berbagai kuadran dan sudut-sudut berelasi 3.9 Menjelaskan aturan sinus dan
cosinus
3.10 Menjelaskan fungsi trigonometri dengan menggunakan lingkaran satuan
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
4.7 Menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan rasio trigonometri (sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan cotangen) pada segitiga siku-siku
4.8 Menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan rasio trigonometri
sudut-80
Kompetensi Inti (KI) Kompetensi Dasar (KD) sudut di berbagai kuadran dan sudut-sudut berelasi.
4.9 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aturan sinus dan cosinus.
4.10 Menganalisa perubahan grafik fungsi trigonometri akibat perubahan pada konstanta pada fungsi
𝑦 = 𝑎 𝑠𝑖𝑛 𝑏(𝑥 + 𝑐) + 𝑑
Pada penelitian ini peneliti mengembangkan LKS trigonometri dengan materi pada KD 3.7, 3.8, 4.7, dan 4.8. Berdasarkan KD tersebut kemudian dapat dikembangkan indikator pembelajaran dan dapat dirumuskan tujuan pembelajaran sebagai berikut.
Tabel 16. Indikator Ketercapaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran
Kompetensi Dasar Indikator
Ketercapaian Tujuan Pembelajaran 3.7 Menjelaskan rasio
trigonometri (sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan cotangen) pada segitiga siku-siku.
3.7.1 Mengidentifikasi fakta pada radian dan derajat sebagai satuan pengukuran sudut serta hubungannya.
Siswa mampu
mengidentifikasi dengan tepat fakta pada radian dan derajat sebagai satuan pengukuran sudut serta hubungannya dengan menggunakan LKS 1.
3.7.2 Mengubah satuan ukuran sudut dari derajat ke radian atau sebaliknya.
Siswa mampu
mengubah satuan ukuran sudut dari derajat ke radian atau sebaliknya dengan benar menggunakan LKS 1.
81
Kompetensi Dasar Indikator
Ketercapaian Tujuan Pembelajaran 3.7.3 Menemukan konsep rasio trigonometri (sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan cotangen) pada segitiga siku-siku Siswa mampu menemukan dengan tepat konsep rasio trigonometri (sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan cotangen) pada segitiga siku-siku menggunakan LKS 2.
3.7.4 Menemukan sifat-sifat antar rasio trigonometri dalam segitiga siku-siku
Siswa mampu dengan tepat menemukan sifat-sifat antar rasio trigonometri dalam segitiga siku-siku menggunakan LKS 2. 3.7.5 Menentukan nilai rasio trigonometri untuk sudut-sudut istimewa
Siswa mampu dengan benar menentukan nilai rasio trigonometri untuk sudut-sudut istimewa menggunakan LKS 3. 3.8 Menggeneralisasi rasio trigonometri untuk sudut-sudut di berbagai kuadran dan sudut-sudut berelasi. 3.8.1 Menemukan konsep rasio trigonometri sudut-sudut di berbagai kuadran Siswa mampu menemukan dengan tepat konsep rasio trigonometri sudut-sudut di berbagai kuadran menggunakan LKS 4. 3.8.2 Menentukan hubungan rasio trigonometri sudut-sudut di berbagai kuadran Siswa mampu
menentukan engan tepat hubungan rasio trigonometri sudut-sudut di berbagai kuadran menggunakan LKS 4. 3.8.3 Menemukan konsep rasio trigonometri untuk sudut–sudut berelasi Siswa mampu menemukan dengan tepat konsep rasio trigonometri untuk sudut–sudut berelasi menggunakan LKS 5.
82
Kompetensi Dasar Indikator
Ketercapaian Tujuan Pembelajaran 3.8.4 Menemukan konsep identitas trigonometri Siswa mampu menemukan konsep identitas trigonometri dengan tepat mengggunakan LKS 6. 3.8.5 Menggunakan identitas trigonometri untuk membuktikan identitas trigonometri lainnya Siswa mampu menggunakan identitas trigonometri dengan tepat untuk membuktikan identitas trigonometri lainnya mengggunakan LKS 6. 4.7 Menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan rasio trigonometri (sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan cotangen) pada segitiga siku-siku. 4.7.1 Menggunakan konsep rasio trigonometri (sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan cotangen) dalam menyelesaikan masalah kontekstual Siswa mampu menyelesaikan masalah kontekstual dengan menggunakan konsep rasio trigonometri (sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan cotangen) menggunakan LKS 2. 4.7.2 Menerapkan konsep rasio trigonometri untuk sudut istimewa dalam menyelesaikan masalah kontekstual Siswa mampu menyelesaikan masalah kontekstual dengan benar menggunakan konsep rasio
trigonometri untuk sudut istimewa melalui LKS 3. 4.8 Menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan rasio trigonometri sudut-sudut di berbagai kuadran dan sudut-sudut berelasi. 4.8.1 Menentukan hubungan rasio trigonometri untuk sudut–sudut berelasi dalam menyelesaikan masalah kontekstual Siswa mampu menentukan hubungan rasio trigonometri untuk sudut–sudut berelasi dalam menyelesaikan masalah kontekstual dengan benar melalui LKS 5
83
Adapun peta konsep atau skema pencapaian kompetensi trigonometri adalah sebagai berikut.
84
Selain itu guna mendukung pengembangan, penulis menggunakan referensi buku-buku pelajaran matematika yang sesuai dengan kurikulum 2013 untuk kelas X. Adapun referensi tersebut diantaranya
a. Al Krismanto. 2008. Pembelajaran Trigonometri SMA. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika
b. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Buku Siswa Matematika SMA/MA/SMK/MAK. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
c. Noormandiri. 2016. Matematika untuk SMA/MA Kelas X Kelompok Wajib. Jakarta: Erlangga
d. Rusgianto. 2012. Trigonometri Membangun Kekuatan Konstruksi Kognitif. Yogyakarta: Grafika Indah
3. Hasil Tahap Select Methods, Media and Materials
Pada tahap ini dilakukan pemilihan metode, media, dan bahan ajar yang akan dihasilkan.
a. Pemilihan Metode
Berdasarkan analisis karakteristik siswa, analisis kemampuan awal siswa dan analisis gaya belajar siswa maka metode pembelajaran yang dipilih adalah guided discovery.
b. Pemilihan Media
Berdasarkan analisis karakteristik siswa, analisis kemampuan awal siswa dan analisis gaya belajar siswa maka media yang dipilih yaitu
85
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang disertai kolom jawaban dengan bantuan beberapa alat pembelajaran seperti jangka dan penggaris. c. Menghasilkan Bahan Ajar Khusus
Pada tahap ini, peneliti memilih untuk meracang bahan ajar baru yaitu berupa Lembar Kegiatan Siswa (LKS) matematika dengan pendekatan guided discovery. Sebelum menghasilkan LKS baru, peneliti membuat rancangan atau desain produk dengan mengacu pada hasil pada tahap analisis. Peneliti menyusun instrumen penelitian, memvalidasikan LKS dan merevisi LKS supaya layak digunakan dalam pembelajaran. Berikut penjelasan untuk masing-masing tahap pengembangan LKS. 1) Menentukan format Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Penyusunan format LKS dilakukan dengan mengacu pada Kompetensi Dasar dan indikator pencapaian materi trigonometri pada kurikulum 2013 revisi 2016 yang diperoleh dari hasil analisis state Objectivess pada tahap sebelumnya. Selain itu, LKS yang dikembangkan juga mengacu pada langkah-langkah pembelajaran guided discovery.
LKS yang dikembangkan dibagi menjadi tiga bagian yakni bagian awal, isi, dan akhir. Bagian awal LKS terdiri dari halaman sampul, halaman identitas, kata pengantar, peta konsep dan daftar isi. Bagian isi terdiri dari kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran. Pada bagian akhir berisi daftar
86
referensi yang digunakan dalam menyusun LKS. Format LKS yang dikembangkan adalah sebagai berikut.
SAMPUL
HALAMAN IDENTITAS KATA PENGANTAR PETA KONSEP DAFTAR ISI
Pengantar Materi Trigonometri
LKS 1 : Ukuran Sudut (Derajat dan Radian)
LKS 2 : Rasio Trigonometri (Sinus, Cosinus, Tangen, Cosecan, Secan, Cotangen)
LKS 3 : Rasio Trigonometri untuk Sudut-sudut Istimewa LKS 4 : Rasio Trigonometri untuk Sudut-sudut di
Berbagai Kuadran
LKS 5 : Rasio Trigonometri untuk Sudut-sudut Berelasi LKS 6 : Identitas Trigonometri
DAFTAR PUSTAKA
2) Menentukan desain awal Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Desain awal yang dimaksud adalah rancangan seluruh kegiatan yang harus dilakukan sebelum uji coba dilaksanakan. Hasil dari desain awal ini yaitu draft LKS yang akan digunakan siswa dan draft LKS Guru sebagai buku pegangan guru.
87
Berikut adalah desain awal Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang dikembangkan:
a) Halaman Sampul
Halaman sampul berisi judul LKS yang dikembangkan, kurikulum yang digunakan, subjek penelitian, nama penulis, sasaran pengguna LKS dan identitas pemilik.
Gambar 4. Tampilan Halaman Sampul Depan
88 b) Halaman Identitas
Halaman identitas berisikan informasi terkait LKS yang dikembangkan. Informasi tesebut terdiri dari judul LKS, nama penulis, pembimbing, validator, nama instansi, ukuran LKS, serta media yang digunakan dalam menyusun LKS.
Gambar 6. Tampilan Halaman Identitas c) Halaman Kata Pengantar
Bagian kata pengantar berisi ucapan rasa syukur penulis atas tersusunnya LKS yang dikembangkan, gambaran umum isi LKS, ucapan terimakasih dan harapan penulis terhadap LKS yang dikembangkan.
89
Gambar 7. Halaman Kata Pengantar d) Peta Konsep
Peta konsep berisi alur materi yang akan dipelajari dalam LKS. Peta konsep akan menjadi acuan dalam pengembangan kegiatan belajar.
90 e) Daftar Isi
Bagian daftar ini berisi informasi mengenai apa saja yang terdapat dalam LKS beserta nomor halamannya.
Gambar 9. Tampilan Daftar Isi f) Pengantar Materi Trigonometri
Bagian ini berisi materi yang akan dipelajari, KD materi trigonometri yang harus dicapai, bagian motivasi dan sub topik yang dipelajari dalam LKS.
91 g) Bagian Inti LKS
Bagian Inti LKS berisikan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. Bagian inti LKS ini terdiri dari beberapa bagian yang meliputi sub judul LKS, Kompetensi Dasar, indikator pencapaian, motivasi, petunjuk penggunaan LKS, kegiatan, pertanyaan bimbingan, soal latihan, kolom jawaban, kesimpulan, dan informas-informasi pendukung. Penjelasan masing-masing bagian sebagai berikut.
(1) Sub judul LKS
Sub judul LKS menggambarkan materi yang akan dipelajari melalui serangkaian kegiatan dalam LKS.
Gambar 11. Tampilan Salah Satu Bagian Sub Judul LKS
(2) Kompetensi Dasar
Bagian ini berisikan Kompetensi Dasar yang akan dicapai pada setiap LKS.
92
(3) Indikator Pencapaian
Bagian ini berisikan indikator pencapaian yang telah dikembangkan dengan mengacu pada Kompetensi Dasar.
Gambar 13. Tampilan Salah Satu Indikator Pencapaian
(4) Motivasi
Bagian ini berisikan motivasi untuk siswa supaya tertarik untuk mempelajari materi trigonometri. Motivasi ini berbeda setiap LKS disesuaikan sub materi yang akan dipelajari.
Gambar 14. Tampilan salah satu motivasi (5) Petunjuk Penggunaan LKS
Bagian ini berisikan petunjuk penggunaan LKS secara umum.
93
Gambar 15. Tampilan Petunjuk Penggunaan LKS (6) Kegiatan
Bagian ini berisikan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa.
Gambar 16. Tampilan Salah Satu Bagian Kegiatan LKS
(7) Pertanyaan Bimbingan
Bagian ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan suatu konsep matematika.
Gambar 17. Tampilan Salah Satu Pertanyaan Bimbingan
94 (8) Soal Latihan
Bagian ini berisi beberapa soal latihan terkait materi yang telah dipelajari. Soal-soal ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari.
Gambar 18. Tampilan Salah Satu Latihan Soal (9) Kolom Jawaban
Bagian ini merupakan bagian dimana siswa menuliskan jawaban dari pertanyaan atau soal yang diberikan.
Gambar 19. Tampilan Salah Satu kolom jawaban (10) Kesimpulan
Bagian ini merupakan tempat nbagi siswa untuk menuliskan kesimpulan dari kegiatan yang telah dilakukan.
95
Gambar 20. Tampilan Salah Satu Kesimpulan (11) Informasi-informasi pendukung
Bagian ini merupakan bagian yang memberikan informasi penting tambahan tentang materi yang dipelajari.
96 h) Daftar Pustaka
Bagian ini berisi daftar referensi yang digunakan oleh penulis untuk menyusun dan mengembangkan LKS.
Gambar 22. Tampilan Daftar Pustaka
Langkah selanjutnya yaitu penyusunan format LKS guru yang dilakukan dengan tahapan yang sama seperti menyusun format LKS untuk siswa. Namun, untuk LKS pegangan guru terdapat sedikit perbedaan pada sampul depan LKS dan disertai dengan kunci jawaban.
Berikut adalah tampilan sampul depan LKS Guru dan contoh tampilan kunci jawaban LKS.
97
Gambar 24. Contoh Tampilan Kunci Jawaban LKS Guru 3) Mengembangkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Pada tahap ini peneliti mengembangkan LKS sesuai dengan format LKS yang telah disusun sebelumnya. Peneliti mengacu dan memperhatikan syarat-syarat LKS yang baik yakni harus memenuhi beberapa aspek yaitu aspek kompetensi, kesesuaian dengan pendekatan guided discovery, kelayakan isi, bahasa, penyajian dan grafika.
Aspek kompetensi, kesesuaian dengan pendekatan guided discovery dan kelayakan isi yang harus dipenuhi adalah cakupan materi, keakuratan materi kesesuaian dengan kompetensi dan pendekatan yang digunakan. Kelayakan bahasa yang harus dipenuhi adalah penggunaan bahasa sesuai dengan siswa, susunan kalimat, kosa kata dan ketepatan kaidah penulisan serta kebenaran istilah dan simbol. Kelayakan penyajian yang harus dipenuhi adalah teknik penyajian serta pendukung penyajian
98
LKS. Kelayakan kegrafikaan yang harus dipenuhi adalah ketepatan tampilan LKS, ukuran LKS serta ketepatan warna dan dan huruf yang digunakan sehingga membuat siswa lebih tertarik dan semangat untuk belajar.
LKS yang dikembangkan juga harus mengacu pada langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan penemuan terbimbing, sebagai berikut: 1) merumuskan masalah yang akan diberikan ke siswa; 2) siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data yang diberikan; 3) siswa membuat prakiraan dari hasil analisis; 4) siswa bersama dengan guru memeriksa kebenaran prakiraan yang telah dibuat; 5) siswa membuat kesimpulan dari hasil prakiraan yang telah diperiksa kebenarannya; 6) guru memberikan latihan soal untuk memeriksa kebenaran dari kesimpulan yang dibuat.
LKS yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa media cetak dan disusun dalam bahasa Indonesia. Pada penelitian ini peneliti mengembangkan 6 sub judul LKS dengan mengacu pada 4 Kompetensi Dasar (KD) pada materi trigonometri sesuai dengan Kurikulum 2013 revisi 2016. Hasil LKS yang dikembangkan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran E2.
Produk awal LKS yang telah dikembangkan kemudian dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Hal ini bertujuan
99
untuk mendapatkan masukan atau saran dari dosen pembimbing agar LKS yang dikembangkan menjadi lebih baik. LKS yang telah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing kemudian diperbaiki sesuai dengan saran yang diberikan.
4) Menyusun Instrumen Penelitian
Tahap selanjutnya yaitu penyusunan instrumen penilaian. Instrumen penelitian digunakan untuk memperoleh data penelitian yang dapat mengukur kevalidan, kepraktisan dan keefektifan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Kevalidan LKS diukur dengan menggunakan lembar penilaian LKS yang diisi oleh ahli materi dan ahli media. Kepraktisan LKS diukur dengan mengggunakan angket respon siswa dan angket respon guru. Keefektifan LKS diukur dengan menggunakan soal tes hasil belajar. Sedangkan baik tidaknya keterlaksanaan pembelajaran menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang diisi oleh observer. Sebelum digunakan untuk memperoleh data, instrumen yang digunakan harus valid terlebih dahulu. Instrumen diserahkan kepada dosen pembimbing untuk dibaca dan dikoreksi kemudian divalidasi oleh validator. Berikut penjelasan dari setiap instrumen.
(a) Instrumen Penilaian LKS
Instrumen penilaian LKS digunakan untuk menilai kualitas LKS yang dikembangkan dari aspek kevalidan.
100
Instrumen ini berbentuk angket dengan skala Likert dalam bentuk checklist dan disertai dengan kolom komentar/saran. Skala likert ini menggunakan kategori sebagai berikut: sangat tidak baik (skor 1), tidak baik (skor 2), cukup baik (skor 3), baik (skor 4), sangat baik (skor 5).
Instrumen penilaian LKS dikembangkan dengan memperhatikan segi materi dan media. Penilaian LKS dari segi materi dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kompetensi, aspek kelayakan isi dan aspek kesesuaian LKS dengan pendekatan guided discovery. Penilaian LKS dari segi media dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kelayakan bahasa, aspek kelayakan penyajian dan aspek kelayakan grafika. Tabel 17 berikut merupakan rincian tiap aspek penilaian LKS dan jumlah butir pernyataan. Lembar penilaian LKS untuk ahli materi dan ahli media selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran A2 dan Lampiran A3.
Tabel 17. Rincian Aspek Penilaian Kevalidan LKS No Aspek yang Dinilai Jumlah Butir Ahli Materi
1. Kompetensi 5
2. Kelayakan Isi 8
3. Kesesuaian LKS dengan pendekatan guided discovery
6 Ahli Media 4. Kelayakan Bahasa 7 5. Kelayakan Penyajian 8 6. Kelayakan Grafika 13 Jumlah Butir 47
101
Instrumen penilaian LKS yang telah disusun diserahkan kepada para ahli dan digunakan untuk menilai tingkat kevalidan LKS yang dikembangkan sebelum digunakan dalam pembelajaran di sekolah.
(b) Instrumen Angket Respon Siswa
Angket respons siswa digunakan untuk mendapatkan data mengenai pendapat siswa tentang proses pembelajaran dengan menggunakan LKS dengan pendekatan guided discovery yang dikembangkan. Data ini kemudian akan dianalisis dan dijadikan dasar untuk penilaian kualitas LKS berdasarkan aspek kepraktisan. Tabel 18 berikut merupakan rincian tiap aspek penilaian pada angket respon siswa dan jumlah butir pernyataan. Lembar angket respon siswa selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran A4.
Tabel 18. Rincian Aspek Penilaian pada Angket Respon Siswa
No Aspek yang dinilai Jumlah Butir 1. Kesesuaian Materi dengan
Pendekatan Guided Discovery
4
2. Kemudahan 4
3. Keterbantuan 4
4. Kemenarikan 3
Jumlah Butir 15
Angket respon siswa ini disusun dengan skala Likert dalam bentuk checklist dan terdapat dua jenis pernyataan
102
yaitu pernyataan positif dan pernyatan negatif. Skala Likert ini menggunakan kategori sebagai berikut:
Tabel 19. Aturan Penskoran Angket Respon Siswa dengan Skala Likert
Kategori Skor Pernyataan Positif Pernyataan Negatif Sangat Setuju 5 1 Setuju 4 2 Ragu-ragu 3 3 Tidak Setuju 2 4
Sangat Tidak Setuju 1 5
(c) Instrumen Angket Respon Guru
Angket respon guru ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai pendapat guru tentang perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Data ini kemudian akan dianalisis dan dijadikan dasar untuk penilaian kualitas perangkat pembelajaran berdasarkan aspek kepraktisan. Tabel 20 berikut merupakan rincian tiap aspek penilaian pada angket respon guru dan jumlah butir pernyataan. Kisi-kisi, deskripsi dan lembar angket respon guru berturut-turut dapat dilihat pada Lampiran A5.
Tabel 20. Rincian Aspek Penilaian pada Angket Respon Guru
No Aspek yang Dinilai Jumlah Butir
1. Kesesuaian Materi 4
2. Penyajian RPP 6
3. Penyajian LKS 10
103
Angket ini berbentuk Skala Likert dalam bentuk checklist. Skala likert ini menggunakan kategori sebagai berikut: sangat tidak setuju (skor 1), tidak setuju (skor 2), kurang setuju (skor 3), setuju (skor 4), sangat setuju (skor 5). (d) Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh data mengenai tingkat penguasaan materi oleh siswa setelah kegiatan pembelajaran menggunakan perangkat pembelajaran yang dikembangkan selesai dilaksanakan. Soal tes merupakan soal berbentuk pilihan ganda dan uraian yang mewakili indikator pencapaian materi. Kisi-kisi, soal tes hasil belajar dan rubrik penilaian berturut-turut dapat dilihat pada Lampiran A7, A8 dan A9.
Data tes hasil belajar siswa ini dihitung melalui persentase ketuntasan berdasarkan nilai KKM yang diterapkan disekolah. Data tersebut kemudian akan dianalisis dan dijadikan dasar penilaian kualitas perangkat pembelajaran berdasarkan aspek keefektifan.
Instrumen penelitian yang telah disusun kemudian dikonsultasikan dengan dosen pembimbing untuk mendapat komentar dan masukan yang kemudian digunakan untuk memperbaiki instrumen. Instrumen yang telah disunting berdasarkan masukan dosen pembimbing kemudian
104
diserahkan kepada validator untuk dinilai kevalidannya. Validator yang dipilih untuk menilai instrumen penelitian ini adalah dosen ahli dari jurusan pendidikan Matematika, FMIPA UNY.
Instrumen penelitian yang telah dinilai oleh validator kemudian direvisi sesuai dengan masukan dan saran yang diberikan agar menjadi lebih baik. Setelah dilakukan revisi dan dinyatakan valid, selanjutnya instrumen digunakan untuk penelitian.
5) Memvalidasikan Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Pada tahap ini, LKS yang telah dikembangkan dan diperbaiki sesuai saran dosen pembimbing diserahkan kepada ahli atau validator untuk diberikan penilaian terkait aspek kevalidan. Validasi dilakukan oleh dosen ahli materi dan ahli media dari Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA UNY serta guru matematika dari SMA N 1 Pengasih. Penilaian LKS oleh validator dilakukan dengan mengisi lembar penilaian LKS yang telah dinyatakan valid oleh ahli. Jika LKS belum valid maka validasi terus dilakukan hingga didapatkan LKS yang valid.
Selain mendapatkan penilaian dari tingkat kevalidan LKS, tahap ini juga bertujuan untuk mendapatkan saran dan masukan dari validator yang selanjutnya akan digunakan untuk
105
memperbaiki LKS yang dikembangkan sebelum akhirnya diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas.
6) Merevisi Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Setelah divalidasi, peneliti melakukan revisi sesuai saran validator. Berikut beberapa hal yang perlu diperbaiki sesuai saran dan masukan dari validator.
(a) Gambar/desain cover depan LKS diganti dengan gambar yang lebih komunikatif dan warna lebih menarik.
Sebelum revisi: tampilan cover LKS terdapat gambar yang tidak ada kebermaknaannya. Pemilihan warna cover LKS kurang tepat.
106
Setelah revisi: tampilan cover diganti dengan gambar bianglala yang berkaitan dengan rasio trigonometri diberbagai kuadran. Warna tampilan cover dibuat lebih cerah sehingga terkesan lebih menarik dan tidak menakutkan. Hasil revisi tersebut seperti pada gambar 25 berikut.
Gambar 26. Tampilan Cover LKS Setelah Revisi (b) Perbaikan pada tampilan yang salah
Sebelum Revisi: Tampilan bagian “Keterangan” pada LKS 2 terlalu keatas sehingga menutupi informasi lain pada LKS.
107
Gambar 27. Tampilan LKS 2 Sebelum Revisi Setelah Revisi: Tampilan bagian “Keterangan” diturunkan sehingga informasi lain pada LKS tidak tertutup dan lengkap.
Gambar 28. Tampilan LKS 2 Setelah Revisi (c) Perbaikan kesalahan penulisan pada LKS
Gambar 29. Contoh Tampilan Kesalahan Penulisan Sebelum Revisi
108
Gambar 30. Contoh Tampilan Kesalahan Penulisan Sesudah Revisi
(d) Penambahan penyelesaian masalah kontekstual pada LKS 2, LKS 3 dan LKS 5.
Sebelum Revisi: LKS belum terdapat kegiatan dalam menyelesaikan masalah kontekstual namun sudah terdapat soal latihan menyelesaikan masalah kontekstual.
Setelah Revisi: LKS diberi tambahan kegiatan menyelesaikan masalah kontekstual beserta dengan langkah bimbingan penyelesaiannya.
Gambar 31. Contoh Salah Satu Kegiatan Menyelesaikan Masalah Kontekstual
109 4. Hasil Tahap Utilize Media and Materials
Sebelum LKS diujicobakan, peneliti juga membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai pedoman penggunaan LKS pada pembelajaran. RPP ini sebelumnya telah divalidasikan kepada dosen ahli materi dan guru di sekolah. RPP ini disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku disekolah dan mengacu pada langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan guided discovery. Lembar penilaian RPP yang disusun selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran A1.
LKS yang telah dinyatakan layak digunakan oleh validator dan telah melalui tahap revisi kemudian diujicobakan dengan model pembelajaran sesuai pada RPP. Sebelum dilakukan uji coba LKS dilakukan proses 5P yaitu: a. Pratinjau (preview), mengecek strategi/model/metode, media, LKS dan
RPP yang digunakan untuk pembelajaran supaya layak digunakan. b. Menyiapkan (prepare) strategi/model/metode, media, LKS dan RPP
yang mendukung pembelajaran kemudian didistribusikan kepada seluruh siswa.
c. Mempersiapkan (prepare) lingkungan belajar yaitu dengan mempersiapkan ruang kelas, alat pembelajaran meliputi: spidol, penggaris dan jangka, dan lain-lain.
d. Mempersiapkan (prepare) pembelajar dengan mengecek kesiapan siswa seperti alat tulis dan LKS yang akan digunakan.
e. Menyediakan (provide) pengalaman belajar (terpusat pada pengajar atau pembelajar) dengan memberikan apersepsi kepada siswa.
110
Uji coba penggunaan LKS ini dilakukan di SMA N 1 Pengasih yang beralamat di Jalan KRT Kertodiningrat 41 Margosari, Pengasih, Kulon Progo. Uji coba LKS dilakukan kepada 33 siswa kelas X MIA 4. Uji coba dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2017 hingga 27 Februari 2017 sebanyak sebelas kali pertemuan ditambah satu kali pertemuan yang digunakan untuk tes hasil belajar yaitu pada tanggal 6 Maret 2017. Setiap pertemuan memiliki alokasi waktu 2 × 45 menit. Tabel 21 berikut merupakan jadwal pelaksanaan uji coba LKS yang dilakukan.
Tabel 21. Jadwal Pelaksanaan Uji Coba LKS Pertemuan
Ke- Hari, tanggal Materi
1. Selasa, 17 Januari 2017 LKS 1: Ukuran Sudut 2. Senin, 23 Januari 2017 LKS 2: Rasio Trigonometri (Sinus, Cosinus, Tangen, Cosecan, Secan, Cotangen) 3. Selasa,
24 Januari 2017
LKS 3: Rasio Trigonometri untuk Sudut-Sudut Istimewa
4. Selasa,
31 Januari 2017
LKS 4: Rasio Trigonometri untuk Sudut di Kuadran I dan II
5. Senin,
6 Februari 2017
LKS 4: Rasio Trigonometri untuk Sudut di Kuadran III dan IV 6. Selasa,
7 Februari 2017
LKS 5: Rasio Trigonometri untuk Sudut Berelasi (90° − 𝛼)
7. Senin,
13 Februari 2017
LKS 5: Rasio Trigonometri untuk Sudut Berelasi (90° + 𝛼) dan (180° − 𝛼)
8. Selasa,
14 Februari 2017
LKS 5: Rasio Trigonometri untuk Sudut Berelasi (180° + 𝛼) dan (270° − 𝛼)
9. Senin,
20 Februari 2017
LKS 5: Rasio Trigonometri untuk Sudut Berelasi (270° + 𝛼) dan (360° − 𝛼)
10. Selasa,
21 Februari 2017
LKS 5: Rasio Trigonometri untuk Sudut Berelasi (𝑛. 360 ± 𝛼) 11. Senin,
27 Februari 2017
111
Pada kegiatan implementasi, peneliti menjadi observer kegiatan pembelajaran ketika guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran. Peneliti juga sebagai fasilitator dalam pembelajaran dan untuk mengamati jalannya pembelajaran peneliti dibantu oleh tiga observer yang bergerak dalam bidang pendidikan matematika.
Pada pelaksanaan uji coba ini, kegiatan pembelajaran yang dilakukan mengacu pada RPP yang telah dikembangkan. Secara umum kegiatan pembelajaran dibagi dalam tiga bagian, yakni kegiatan pendahuluan, inti, dan kegiatan penutup. Pada kegiatan pendahuluan guru mengawali pembelajaran dengan salam dan dilanjutkan dengan doa bersama, mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti pelajaran, menyampaiakan topik dan tujuan pembelajaran, menginformasikan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan, memberikan motivasi, dan melakukan apersepsi.
Pada kegiatan inti, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan LKS dengan pendekatan guided discovery (penemuan terbimbing) yang telah dikembangkan oleh peneliti. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok-kelompok kecil. Dalam kelompok masing-masing siswa melakukan berbagai kegiatan atau aktivitas untuk menemukan suatu konsep matematika dengan mengikuti langkah-langkah yang terdapat dalam LKS.
112
Gambar 32. Dokumentasi Siswa Melakukan Kegiatan Diskusi Kelompok
Pada kegiatan ini guru berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa dalam menemukan dan membangun konsep matematikanya, bukan sebagai sumber belajar. Siswa secara berkelompok difasilitasi untuk melakukan serangkaian aktivitas yang meliputi menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganilisis data dari permasalahan yang disampaikan dalam LKS. Selanjutnya siswa diarahkan untuk membuat prakiraan, mengevaluasinya, dan membuat kesimpulan awal mengenai suatu konsep matematika dengan bimbingan-bimbingan yang terdapat dalam LKS. Hasil prakiraan siswa kemudian dipresentasikan di depan kelas. Pada hal ini guru bertugas untuk memeriksa kebenaran prakiraan yang diperoleh siswa melalui serangkaian kegiatan dalam LKS. Siswa dibimbing untuk membuat suatu kesimpulan dari hasil prakiraan tersebut. Siswa juga diberikan beberapa latihan soal yang bertujuan untuk memeriksa kebenaran kesimpulan yang dibuat dan meningkatkan pemahaman siswa mengenai konsep yang telah diperoleh.
113
Gambar 33. Dokumentasi Siswa Aktif Bertanya kepada Guru
Gambar 34. Dokumentasi Siswa Mempresentasikan Hasil Diskusi Kelompok
Gambar 35. Dokumentasi Siswa mengerjakan soal latihan
Pada bagian penutup, guru memfasilitasi siswa untuk bersama-sama melakukan refleksi dan membuat kesimpulan akhir dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, menyampaikan tugas atau PR, menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya, dan menutup pembelajaran dengan berdoa bersama.
114 5. Hasil Tahap Require Learner Participation
Pada tahap require learner participation mengharuskan siswa menjadi aktif karena siswa merupakan komponen terpenting dalam suatu pembelajaran. Keterlibatan dan keaktifan siswa sangat diperlukan dalam penggunaan LKS dikarenakan sebagai tolak ukur berhasil tidaknya suatu pembelajaran. Meskipun secara keseluruhan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan LKS matematika dapat berjalan dengan cukup baik, namun masih terdapat beberapa kendala atau hambatan selama proses pembelajaran. Berikut catatan-catatan selama kegiatan ujicoba LKS dalam pembelajaran di kelas.
Pada pertemuan pertama, siswa belajar dengan menggunakan LKS 1 mengenai ukuran sudut (derajat dan radian). Siswa dapat dengan mudah memahami ukuran sudut dalam derajat dan radian. Siswa dengan mudah mampu mengubah satuan ukuran sudut dari derajat ke radian atau sebaliknya dengan menggunakan tips cerdas berdasarkan hasil temuannya pada LKS. Pada pertemuan ini tidak mengalami kesulitan yang berarti.
Pada pertemuan kedua, siswa belajar dengan menggunakan LKS 2 mengenai rasio trigonometri. Pada pertemuan ini siswa secara berkelompok melakukan aktivitas untuk menemukan konsep rasio trigonometri. Siswa sedikit mengalami kesulitan dalam menemukan rumus untuk rasio trigonometri sehingga membutuhkan banyak waktu dalam proses penemuan konsep. Materi LKS 2 ini merupakan konsep dasar rasio trigonometri sehingga guru memberikan bimbingan lebih kepada siswa. Selanjutnya siswa sudah mampu
115
menemukan konsep rasio trigonometri sehingga siswa mampu menyelesaikan soal latihan dengan baik.
Pada pertemuan ketiga, siswa belajar dengan menggunakan LKS 3 mengenai rasio trigonometri untuk sudut-sudut istimewa. Pada pertemuan ini siswa secara berkelompok melakukan kegiatan untuk menemukan rasio sudut-sudut istimewa yaitu 0°, 30°, 45°, 60°, dan 90°. Secara keseluruhan siswa mampu melakukan kegiatan pada LKS namun pada saat menemukan rasio trigonometri untuk sudut 0° dan 90° membutuhkan bimbingan lebih. Namun, hal ini tidak menjadi masalah dan siswa mampu menemukan rasio trigonometri untuk sudut-sudut istimewa. Siswa tidak hanya menghafal nilai rasio trigonometri untuk sudut-sudut istimewa namun mereka mengetahui bagaimana menemukan nilai tersebut.
Pada pertemuan keempat dan kelima, siswa belajar dengan menggunakan LKS 4 mengenai rasio trigonometri di berbagai kuadran. Berdasarkan saran dari guru matematika, materi dibagi menjadi dua kali pertemuan supaya siswa mampu menguasai materi lebih baik. Siswa juga diberi soal latihan tambahan untuk mengembangkan konsep yang telah ditemukan.
Pada pertemuan keenam hingga kesepuluh siswa belajar menggunakan LKS 5 mengenai rasio trigonometri sudut berelasi. Berdasarkan rencana awal, LKS 5 hanya digunakan untuk tiga kali pertemuan namun pada kenyataannya siswa belum mampu untuk menguasai secepat itu sehingga dibutuhkan lima kali pertemuan. Pada pertemuan keenam dan ketujuh siswa mengalami
116
kesulitan dalam melakukan langkah ke-1 sampai dengan langkah ke-5 sehingga mereka membutuhkan bimbingan lebih dalam menemukan konsep rasio trigonometri untuk sudut-sudut berelasi. Pada pertemuan kedelapan hingga kesepuluh siswa sudah mulai paham dan mampu menemukan konsep rasio trigonometri untuk sudut-sudut berelasi secara mandiri bersama kelompoknya. Setiap pertemuan siswa diberikan soal latihan untuk mengetahui apakah sudah benar hasil penemuannya. Namun, siswa masih kesulitan dalam menyelesaikan masalah kontekstual.
Pada pertemuan ke-11, siswa belajar menggunakan LKS 6 mengenai identitas trigonometri. Siswa mampu menemukan konsep identitas trigonometri dengan baik dan mampu menyelesaikan permasalahan yang diberikan tanpa adanya kendala yang berarti. Selain itu pada pertemuan ini juga dibagikan angket respon siswa terhadap kepraktisan LKS yang dikembangkan. Pada pertemuan keduabelas dilakukan tes hasil belajar siswa untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa mengenai materi trigonometri setelah melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan LKS. Hasil dari tes ini kemudian dianalisis untuk menilai kualitas LKS dari segi keefektifan.
Kegiatan pembelajaran dalam rangka uji coba produk ini diamati oleh observer yang berkompeten dalam hal pembelajaran matematika. Pengamatan dilakukan dengan berpedoman pada lembar keterlaksanan pembelajaran yang telah disusun dan dinyatakan valid oleh ahli. Pengamatan ini dilakukan untuk menilai tingkat keterlaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan apakah
117
terlaksana dengan baik atau tidak. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mengetahui kriteria keterlaksanaan pembelajaran.
6. Hasil Tahap Evaluate and Revise
Tahap terakhir pada proses pengembangan ini yaitu mengevaluasi dan merevisi yang terdiri dari kegiatan menilai hasil belajar siswa serta mengevaluasi dan merevisi strategi, teknologi dan media.
a. Menilai Hasil Belajar Siswa
Pada tahap implementasi, peneliti juga melakukan tes hasil belajar siswa yang bertujuan untuk mengukur tingkat keefektifan perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Tes hasil belajar dilaksanakan pada pertemuan keduabelas, yakni pada tanggal 6 Maret 2017 dan diikuti oleh 33 siswa.
b. Mengevaluasi dan Merevisi Strategi, Teknologi dan Media
Pada tahap ini, peneliti melakukan evaluasi strategi, teknologi dan media. Evaluasi dilakukan dengan menganalisis kesalahan-kesalahan yang terjadi selama penelitian dan melakukan revisi tahap akhir terhadap produk yang dikembangkan. Kegiatan evaluasi dan revisi dilakukan dengan menggunakan hasil saran yang terdapat pada angket respon siswa dan angket respon guru. Pengambilan data angket respon siswa dan guru dilakukan setelah siswa dan guru menggunakan LKS yang dikembangkan. Selain itu, hasil angket respon siswa dan guru juga digunakan untuk mengetahui tingkat kepraktisan LKS. Berikut adalah beberapa saran yang diberikan oleh siswa dan guru untuk LKS yang dikembangkan.
118
1) Saran dari hasil angket respon siswa
Pada angket respon siswa, terdapat beberapa saran yang diberikan oleh 33 siswa yang terangkum sebagai berikut:
a) LKS dibuat lebih menarik b) LKS sebaiknya dicetak berwarna 2) Saran dari hasil angket respon guru
Pada angket respon guru, terdapat beberapa saran yang diberikan guru matematika dari SMA N 1 Pengasih antara lain sebagai berikut.
a) Pada LKS 5 terdapat petunjuk/langkah-langkah yang membingungkan siswa sebaiknya perintah diperjelas.
b) Soal latihan sebaiknya diberikan pada setiap tahap demi tahap sehingga siswa betul-betul memahami konsep.
Revisi tahap akhir dilakukan dengan mengacu pada saran dan masukan yang diberikan oleh siswa, guru dan observer selama tahap utilize media and material. Beberapa revisi yang dilakukan setelah dilakukannya uji coba LKS adalah sebagai berikut.
1) Perbaikan terhadap kunci jawaban pada LKS Guru Sebelum revisi:
Gambar 36. Tampilan Kunci Jawaban Soal Latihan LKS 6 Sebelum Revisi
119 Setelah revisi:
Gambar 37. Tampilan Kunci Jawaban Soal Latihan LKS 6 Sesudah Revisi
2) Perbaikan langkah-langkah untuk menemukan rasio trigonometri untuk sudut-sudut berelasi.
Sebelum revisi:
Gambar 38. Tampilan Langkah Penemuan pada LKS 5 Sebelum Revisi
Sesudah revisi:
Gambar 39. Tampilan Langkah Penemuan pada LKS 5 Sesudah Revisi
120
3) Penambahan soal latihan pada LKS 4 dan LKS 5
Berikut contoh soal latihan tambahan supaya siswa lebih menguasai konsep trigonometri.
Sebelum revisi:
121 Sesudah revisi:
122
7. Kevalidan Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Penilaian validator ahli materi dan ahli media terhadap kevalidan LKS meliputi beberapa aspek yaitu kompetensi, kelayakan isi, kesesuaian LKS dengan pendekatan guided discovery, kelayakan bahasa, kelayakan penyajian dan kelayakan grafika. Adapun hasil penilaian kevalidan LKS disajikan dalam tabel 22 berikut. Data selengkapnya dan hasil pengisian lembar penilaian LKS oleh ahli materi dan media berturut-turut dapat dilihat pada Lampiran C2, Lampiran B2 dan Lampiran B3.
Tabel 22. Data Hasil Analisis Penilaian LKS No Aspek yang Dinilai Skor Kriteria Ahli Materi
1. Kompetensi 4, 3 Sangat Baik
2. Kelayakan Isi 4 Baik
3. Kesesuaian LKS dengan pendekatan guided discovery
4 Baik
Ahli Media
4. Kelayakan Bahasa 4, 43 Sangat Baik 5. Kelayakan Penyajian 4, 31 Sangat Baik
6. Kelayakan Grafika 4, 15 Baik
Jumlah Butir 4, 2 Baik
Berdasarkan data penilaian LKS yang dilakukan oleh validator diperoleh rata-rata skor penilaian 4, 2 dari skor maksimal 5 dengan kriteria baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan telah memenuhi klasifikasi valid sehingga layak digunakan dalam pembelajaran di kelas.
123
8. Kepraktisan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) a. Penilaian Angket Respon Siswa
Penilaian kepraktisan LKS oleh siswa meliputi beberapa aspek yaitu kesesuaian materi dengan pendekatan guided discovery, kemudahan, keterbantuan dan kemenarikan. Adapun data hasil penilaian angket respon siswa disajikan pada tabel 23 berikut. Data selengkapnya dan contoh pengisian angket respon siswa berturut-turut dapat dilihat pada Lampiran C3 dan Lampiran B4.
Tabel 23. Data Hasil Analisis Angket Respon Siswa
No Aspek Penilaian Skor Kriteria
1. Kesesuaian Materi dengan Pendekatan Guided Discovery
4, 45 Sangat Baik
2. Kemudahan 4, 11 Baik
3. Keterbantuan 4, 36 Sangat Baik
4. Kemenarikan 4, 33 Sangat Baik
Rata-rata 4, 28 Sangat Baik
Berdasarkan data angket respon siswa tersebut diperoleh rata-rata skor sebesar 4, 28 dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dkembangkan memiliki tingkat kepraktisan yang sangat baik ditinjau dari aspek kesesuaian materi dengan pendekatan guided discovery, kemudahan, keterbantuan dan kemenarikan.
b. Penilaian Angket Respon Guru
Penilaian kepraktisan LKS oleh guru meliputi beberapa aspek penilaian yaitu kesesuaian materi, RPP dan LKS. Adapun hasil penilaian angket respon guru disajikan pada tabel 24 berikut. Data
124
selengkapnya dan pengisian angket respon guru berturut-turut dapat dilihat pada Lampiran C4 dan Lampiran B5.
Tabel 24. Data Hasil Analisis Angket Respon Guru
No Aspek Penilaian Skor Kriteria
1. Kesesuaian Materi 4 , 00 Baik 2. Rencana pelaksanaan
Pembelajaran (RPP)
4, 17 Baik 3. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) 4, 30 Sangat Baik
Rata-rata 4, 20 Baik
Berdasarkan data angket respon guru diperoleh rata-rata skor sebesar 4, 20 dengan kriteria baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan memiliki tingkat kepraktisan yang baik ditinjau dari aspek kesesuaian materi, RPP dan LKS sehingga LKS yang dikembangkan dapat digunakan dan memberi kemudahan bagi guru dalam pembelajaran.
9. Keefektifan Lembar Kegiatan Siswa (LKS)
Penilaian keefektifan LKS yag dikembangkan dilihat dari hasil tes hasil belajar siswa. Adapun data hasil analisis ketuntasan belajar siswa disajikan pada tabel 25 berikut. Data hasil analisis tes hasil belajar siswa selengkapnya beserta contoh jawaban tes hasil belajar siswa berturut – turut dapat dilihat pada Lampiran C6 dan Lampiran B7.
Tabel 25. Data Hasil Analisis Tes Hasil Belajar Siswa Ketuntasan Siswa Jumlah Persentase
KKM 68
Siswa yang tuntas 30 90, 91 %
Siswa yang tidak tuntas 3 9, 09 %
125
Berdasarkan data tes hasil belajar siswa diketahui bahwa dari 33 siswa sebagai subjek ujicoba penelitian terdapat 30 siswa yang tuntas dan hanya 3 siswa yang tidak tuntas. Persentase ketuntasan siswa secara klasikal sebesar 90, 91% yang menunjukkan bahwa tingkat ketuntasan belajar siswa termasuk dalam kriteria sangat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa LKS yang dikembangkan efektif digunakan dalam kegiatan
B. Pembahasan
Pada penelitian ini dilakukan pengembangan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) matematika dengan pendekatan guided discovery pada materi trigonometri untuk siswa SMA kelas X. Pengembangan LKS yang digunakan adalah model ASSURE. Model ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu (1) Analyze Learners; (2) State Objectives; (3) Select Methods, Media and Materials; (4) Utilize Media and Materials; (5) Require Learner Participation; (6) Evaluate and Revise. Berikut disajikan pembahasan dari proses pengembangan LKS untuk setiap tahap.
Tahap analyze learner meliputi (1) kegiatan analisis terhadap situasi pembelajaran yaitu mengetahui masalah dasar melakukan observasi secara langsung selama 2 bulan (saat peneliti melakukan praktik pengalaman lapangan) dan wawancara terhadap guru mata pelajaran matematika yang mengampu kelas X MIA 4. Dari hasil observasi diperoleh bahwa pembelajaran dikelas sudah berjalan dengan lancar namun, siswa hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru kemudian mencatat materi yang diajarkan. Selanjutnya
126
siswa diberikan latihan soal. Hal ini membuat siswa kurang aktif padahal kurikulum 2013 menuntut siswa aktif dan pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Siswa juga belum memiliki sumber belajar yang memadai. Mereka hanya memiliki buku paket kurikulum 2013 revisi 2014 yang digunakan untuk bersama dengan teman sebangkunya.
Pada semester 2 ini, sekolah belum memiliki buku paket kurikulum 2013 revisi 2016 dan guru matematika juga belum mengembangkan LKS sebagai bahan ajar yang dapat memfasilitasi siswa dalam menemukan konsep-konsep matematika secara mandiri sesuai dengan kurikulum yang berlaku, (2) analisis karakteristik siswa yang meliputi: karakteristik umum siswa, kemampuan awal siswa dan gaya-gaya belajar siswa. Siswa kelas X MIA 4 SMA N 1 Pengasih berjumlah 33 orang dengan jumlah siswa perembpuan 23 orang dan laki-laki 10 orang. Siswa berusia sekitar 15-16 tahun sehingga menurut Piaget mereka masuk tahap operasi formal. Pada tahap ini siswa sudah mampu melakukan penalaran menggunakan hubungan antara objek-objek dalam kehidupan sehari-hari untuk dikaitkan dengan suatu persoalan matematika. Siswa SMA memang memiliki struktur kognisi yang berkembang luas tetapi kenyatannya siswa belum sepenuhnya dapat berpikir abstrak. Rata-rata kemampuan akademik siswa SMA N 1 Pengasih dapat dikatakan menengah berdasarkan rata-rata nilai rapot matematika yang mereka dapatkan. Pada pembelajaran siswa masih membutuhkan bimbingan guru untuk mampu mencapai tujuan pembelajaran. Gaya belajar siswa dalam pembelajaran matematika rata-rata senang dengan tipe belajar audio-visual. Oleh karena itu,
127
peneliti mengembangkan LKS sebagai bahan ajar dengan pendekatan guided discovery yang dapat memfasilitasi siswa dalam penemuan konsep dan bimbingan seperlunya dari guru.
Tahap states objectives, dilakukan penetapan tujuan pembelajaran. Sebelum menetapkan tujuan pembelajaran, peneliti melakukan analisis kurikulum yang digunakan di sekolah yaitu Kurikulum 2013 Revisi 2016. Selanjutnya dilakukan análisis terhadap Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) yang akan dicapai. Peneliti menetapkan trigonometri sebagai materi dalam LKS yang dikembangkan. Berdasarkan Permendikbud No 24 tahun 2016 peneliti menentukan KD yang akan dikembangkan dalam LKS yaitu KD 3.7, 3.8, 4.7 dan 4.8. Selanjutnya, peneliti menentukan indikator ketercapaian dan tujuan pembelajaran trigonometri yang akan dicapai.
Tahap select method, media and materials dilakukan beberapa kegiatan meliputi: (1) memilih metode yang sesuai dengan karakteristik siswa yaitu pembelajaran dengan menggunakan pendekatan guided discovery, (2) memilih media yang sesuai dengan karakteristik siswa yaitu membuat LKS yang telah tersedia kolom jawaban dengan bantuan alat pembelajaran seperti jangka dan penggaris, (3) merancang bahan ajar baru. Di dalam proses perancangan bahan ajar dilakukan beberapa kegiatan yaitu: (a) menentukan format Lembar Kegiatan Siswa (LKS), (b) menentukan desain awal Lembar Kegiatan Siswa (LKS), (c) mengembangkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS), (d) menyusun instrumen penelitian, (e) memvalidasikan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dan (f) merevisi Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Pada tahap ini diperoleh Lembar
128
Kegiatan Siswa (LKS) matematika dengan pendekatan guided discovery pada materi trigonometri untuk siswa kelas X. Validator yang menilai Lembar Kegiatan Siswa (LKS) ini yaitu 3 orang diantaranya 2 dosen pendidikan matematika dan 1 guru mata pelajaran matematika di SMA N 1 Pengasih.
Tahap utilize media and materials merupakan kegiatan uji coba Lembar Kegiatan Siswa (LKS). LKS yang dikembangkan diujicobakan dengan bantuan RPP sebagai panduan penggunaan LKS. RPP yang dibuat juga menggunakan pendekatan guided discovery yang sebelumnya juga dilakukan validasi dan revisi sehingga layak digunakan. Uji coba dilakukan di kelas X MIA 4 SMA N 1 Pengasih yang berjumlah 33 siswa. LKS diujicobakan selama 11 kali pertemuan. Pada tahap ini juga dilakukan tes hasil belajar dan pengisian angket reapon siswa. Tahap require learner participation ini mengharuskan siswa menjadi aktif, karena siswa merupakan komponen terpenting dalam suatu pembelajaran. Keterlibatan dan keaktifan siswa sangat diperlukan dalam penggunaan LKS dikarenkan sebagai tolak ukur berhasil tidaknya suatu pembelajaran. Pada penelitian ini, siswa melakukan serangkaian kegiatan yang ada pada LKS dengan bantuan guru sebagai fasilitator.
Tahap evaluate and revise dilakukan evaluasi dan revisi terkait penilaian hasil belajar siswa, strategi, teknologi dan media yang digunakan. Pada tahap evaluasi tes hasil belajar siswa, peneliti melakukan tes terhadap kemampuan akademik siswa dengan menggunakan soal tes pilihan ganda dan esai. Pada tahap ini, peneliti juga melakukan penilaian terhadap proses pembelajaran yang dilakukan menggunakan angket respon siswa dan angket
129
respon guru. Dalam angket respon siswa dan guru terdapat beberapa saran yang digunakan untuk perbaikan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang dikembangkan sehingga dapat digunakan pada pembelajaran selanjutnya.
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) matematika yang telah dikembangkan dengan pendekatan penemuan terbimbing kemudian dinilai tingkat kevalidan, kepraktisan, dan keefektifannya guna mendapatkan LKS yang memenuhi kualifikasi valid, praktis, dan efektif sehingga benar-benar layak digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) matematika yang dikembangkan memenuhi kualifikasi valid berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh ahli atau validator. LKS yang dikembangkan telah mencapai kriteria minimal baik pada aspek kevalidan. Berdasarkan hasil penilaian para ahli terhadap LKS yang dikembangkan diperoleh skor rata-rata sebesar 4, 20 dari skor maksimal 5 dengan kriteria baik. Dengan demikian LKS yang dikembangkan memenuhi kualifikasi valid karena telah mencapai kriteria minimal baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan memiliki validitas isi dan validitas konstruk yang baik menurut Nieveen (1999: 126-127). Validitas tersebut meliputi kompetensi, memiliki kesesuaian dengan pendekatan guided discovery, serta memenuhi 4 aspek kelayakan yang ditentukan oleh Depdiknas (2008: 28) yang meliputi aspek kelayakan isi, bahasa, penyajian dan kegrafikaan.
Pada Tabel 22, pada aspek kompetensi diperoleh skor penilaian sebesar 4, 3 dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa materi pada LKS
130
yang dikembangkan telah sesuai dengan Kemampuan Dasar (KD), tujuan pembelajaran dan tingkat pengetahuan siswa. Pada aspek kelayakan isi diperoleh skor penilaian sebesar 4 dengan kriteria baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan telah memenuhi syarat-syarat kelayakan isi dengan baik yang meliputi cakupan materi trigonometri, keakuratan materi trigonometri, sesuai dengan kompetensi dan memuat langkah-langkah guided discovery dengan baik. Pada aspek kelayakan bahasa diperoleh skor penilaian sebesar 4, 43 dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan memenuhi syarat-syarat kelayakan bahasa dengan baik yang meliputi kesesuaian dengan peserta didik, ketepatan kaidah penulisan serta kebenaran istilah dan simbol.
Pada aspek kelayakan penyajian diperoleh skor 4, 31 dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan memenuhi syarat-syarat kelayakan penyajian dengan sangat baik yang meliputi teknik penyajian dan pendukung penyajian. Pada aspek kelayakan kegrafikaan diperoleh skor 4, 15 dengan kriteria baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan memenuhi syarat-syarat kelayakan kegarafikaan yang meliputi tampilan LKS, ukuran serta ketepatan warna dan huruf yang digunakan. Dengan demikian, Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang dikembangkan memenuhi kualifikasi valid sehingga layak digunakan.
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) matematika yang dikembangkan memenuhi klasifikasi praktis berdasarakan hasil angket respon siswa, angket respon guru dan hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran. Setiap aspek
131
pada LKS yang dikembangkan mencapai kriteria minimal baik ditinjau dari tingkat kepraktisannya.
Hasil angket respon siswa menunjukkan skor rata-rata sebesar 4, 28 dari skor maksimal 5 dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan memuat pendekatan guided discovery sehingga dapat membantu, memudahkan dan menarik siswa dalam mempelajari dan memahami materi trigonometri.
Berdasarkan Tabel 23, aspek kesesuaian materi dengan pendekatan guided discovery dalam LKS mendapatkan skor rata-rata 4, 45 dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan telah memenuhi kompetensi, isi materi, pendekatan yang digunakan dan bahasa dengan sangat baik. Pada aspek kemudahan diperoleh skor rata-rata 4, 11 dengan kriteria baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan memudahkan siswa dalam mempelajari materi trigonometri. Pada aspek keterbantuan diperoleh skor 4, 36 dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan membantu siswa dalam mempelajari materi trigonometri. Pada aspek kemenarikan diperoleh skor 4, 20 dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan memiliki tampilan atau desain menarik sehingga membuat siswa lebih bersemangat dan tertarik untuk mempelajari materi trigonometri.
Data dari hasil angket respon guru menunjukkan skor rata-rata sebesar 4, 20 dari skor maksimal 5 dengan kriteria baik. Hal ini menunjukkan bahwa
132
LKS yang dikembangkan memiliki tingkat kepraktisan yang baik ditinjau dari aspek kesesuaian materi, kesesuaian RPP, dan Kesesuaian LKS.
Berdasarkan Tabel 24, pada aspek kesesuaian materi diperoleh skor rata-rata sebesar 4 dengan kriteria baik. Hal ini menunjukkan bahwa materi yang dikembangkan dalam LKS dan RPP benar menurut konsep trigonometri, sesuai dengan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD), mengarahkan pada tercapainya tujuan pembelajaran, serta di sajikan secara runtut. Pada aspek kesesuaian RPP diperoleh skor rata-rata 4, 17 dengan kriteria baik. Hal ini menunjukkan bahwa tahap atau langkah pembelajaran yang tercantum dalam RPP jelas dan realistis untuk dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu RPP juga dikembangkan dengan runtut dan menggunakan kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sedangkan, pada aspek kesesuaian LKS diperoleh skor rata-rata 4, 30 dengan kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan mampu memfasilitasi siswa untuk mempelajari dan memahami materi trigonometri dengan sangat baik. Selain itu LKS yang dikembangkan juga telah disusun dengan menggunakan bahasa yang komunikatif sehingga mudah dipahami oleh siswa yang menggunakannya.
Lembar Kegiatan Matematika (LKS) matematika yang dikembangkan memenuhi kualifikasi efektif berdasarkan hasil tes hasil belajar siswa yang dilakukan setelah kegiatan pembelajaran dengan menggunakan LKS tersebut. Rata-rata nilai tes belajar siswa yaitu 80, 39. Data hasil tes belajar siswa menunjukkan persentase ketuntasan secara klasikal sebesar 90, 91% dengan
133
kriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan memberikan pengaruh dan hasil positif bagi siswa dalam mempelajari dan memahami materi yang diajarkan. Dengan demikian LKS ini memenuhi kualifikasi efektif sehingga layak digunakan.
C. Keterbatasan Penelitian
Selama proses penelitian dan pengembangan terdapat beberapa keterbatasan yaitu LKS matematika yang dikembangkan hanya pada materi trigonometri untuk KD 3.7, 3.8, 4.7, dan 4. 8 dan setelah revisi LKS pada tahapan evaluate and revise LKS tidak diujicobakan kembali.