• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

4

LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Persepsi

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensor stimuli).Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas.Sensasi adalah bagian dari persepsi.Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori (Desiserato, 1976, p.129 dalam (Rakhmat, 2007, p. 51)).

Persepsi seperti juga sensasi, ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional.Krech & Crutchfield (1977, p. 235 dalam (Rakhmat, 2007, p. 51)) menyebutnya faktor fungsional dan faktor struktural.Faktor lainnya yang sangat menentukan persepsi, yakni perhatian.

(2)

Faktor Struktural Yang Menentukan Persepsi

Faktor-faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu.Para psikolog Gestalt, seperti Kohler, Wartheimer, dan Koffka (1959, dalam Rakhmat, (2007, p. 58), merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang bersifat struktural.Prinsip-prinsip ini kemudian terkenal dengan teori Gestalt.Menurut teori Gestalt, bila individu mempersepsi sesuatu, individu mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan.

Dengan kata lain, bagian-bagian medan yang terpisah (dari medan persepsi) berada dalam interdependensi yang dinamis (yakni, dalam interaksi), karena itu dinamika khusus dalam interaksi menentukan distribusi fakta dan kualitas lokalnya. Mungkin masih agak sukar dicerna.Maksud Kohler, jika individu ingin memahami suatu peristiwa, individu tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah; individu harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan.Untuk melihat seseorang individu harus melihatnya dalam konteksnya, alam lingkungannya, dalam masalah yang dihadapinya.Hal ini merupakan dalil persepsi yang pertama.

Dari prinsip ini Krech dan Crutchfield melahirkan dalil persepsi yang kedua: “Medan perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti”. Individu mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang individu terima itu tidak lengkap, individu akan mengisinya dengan interprestasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang individu persepsi. Dalam hubungan dengan konteks, Krech dan Crutchfield menyebutkan dalil persepsi yang ketiga: sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan pada umumnya oleh

(3)

sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan ditentukan oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras.

Krech dan Crutchfield menyebutkan dalil yang keempat yaitu objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Dalil ini umumnya bersifat struktural dalam mengelompokkan objek-objek fisik. Pada persepsi sosial, pengelompokan tidak murni struktural; sebab apa yang dianggap sama atau berdekatan oleh seorang individu, tidaklah dianggap sama atau berdekatan dengan individu yang lain. Kebudayaan juga berperan dalam melihat kesamaan. Jadi, kebudayaan dalam ruang dan waktu menyebabkan stimuli ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Sering terjadi hal-hal yang berdekatan juga dianggap berkaitan atau mempunyai hubungan sebab dan akibat.Menurut Krech dan Crutchfield, kecenderungan untuk mengelompokkan stimuli berdasarkan kesamaan dan kedekatan adalah hal yang universal.

(4)

2.1.2 IT Infrasructure &IT Services(Infrastruktur TI & Layanan TI)

IT infrastructureatau infrastruktur TI adalah fasilitas fisik, komponen TI, layanan

TI, dan personil TI, yang dipergunakan untuk mendukung suatu organisasi.IT

services atau layanan TI adalah komponen TI yang dipergunakan personil TI

untuk menyediakan layanan TI, yang terdiri dari:pengembangan sistem, pengelolaan keamanan dan resiko, dan manajemen data (Rainer & Cegielski, 2011, pp 11-30).

Gambar 2.1 IT Infrastructure & IT Services (Rainer & Cegielski, 2011, p. 12)

(5)

2.1.3 Technology Acceptance Model (TAM)

TAM merupakan pengembangan dan Teori Tindakan Bersebab atau Theory of

Reasoned Action (TRA) yang diciptakan oleh Fishbein dan Ajzen (1967).TRA

lebih umum sementara TAM lebih spesifik, dimana TAM yang diciptakan oleh Davis (1986) digunakan untuk meramalkan niat perilaku menggunakan TI. Terdapat dua variabel independen kepercayaan (belief) dalam TAM, yaitu persepsi kebergunaan atau perceived usefulness(U) dan persepsi mudah digunakan atau perceived ease of use(EOU) yang diperkirakan mempengaruhi niat perilaku (BI) dengan sikap sebagai variabel mediating (lihat Gambar 2.2). Sebuah kajian pemasaran yang dilaksanakan Hauser dan Simnile (1981) tentang persepsi teknologi telekomunikasi alternatif mengemukakan dua dimensi penting, yaitu mudah digunakan (EOU) dan efektivitas (effectiveness).

Sehingga kini, TAM telah digunakan dengan suksesnya oleh banyak peneliti untuk meramalkan perilaku niat menggunakan TI (Dholakia & Bagozzi, 2000; Legnis, Ingham, & Collerette, 2002). Dalam TAM, Davis et al., (1991) menemukan bahwa Norma Subjektif (SN) tidak mempengaruhi secara langsung niat perilaku, sehingga SN tidak dimasukan ke dalam TAM. Namun, dalam penelitian Brown et al, (2002), Ma’ruf et al., (2002), dan Venkatesh dan Davis (2000), menemukan bahwa norma subjektif mempengaruhi secara signifikan terhadap niat perilaku. Formula dan model TAM dapat dilihat pada Gambar 2.2.

(6)

B D A A U U E T v p a ( d R a BI = A + U Dimana : BI A = Sik A = U + U = Pe U = EO EOU = Pe TAM telah variabel sik peranan seb antara EOU sikap sebag (behavior diaplikasika Ramayah, d al., (2002), I = Niat pe kap seseoran + EOU rsepsi keber OU + Variab rsepsi muda Gambar Sumb direvisi ol kap dalam m bagai variab dan U deng ai variabel intention). an dengan su dan Chin (20 Ramayah, erilaku ng terhadap s rgunaan bel eksternal ah digunakan 2.2 Techno ber: Davis, Bag eh Venkate model, hal in

bel mediatin gan BI. Temu mediating a TAM yan uksesnya oleh 001), Ndubi Jantan, No sistem n logy Accept gozzi, & Warsh esh dan Dav

ni dikarenak ng secara p uan Brown e atas hubunga ng telah d h Aafaqi, Jan si et al., (20 oor, Razak, tance Model haw, (1989, p. 9 vis (1996) kan variabel penuh (fully et al. (2002) an antara E direvisi (tan ntan, dan Ra 001), Ndubi Gambar 2. l (TAM) 985) dengan men l sikap tidak y mediated) juga tidak a OU dan U npa konstr amayah (200 si (2003), R .4 Model P ngeluarkan k memiliki hubungan ada peranan dengan BI ruk sikap) 03), Jantan, Ramayah et Penerirnaan

(7)

Teknologi (TAM) (Davis, Bagozzi, & Warshaw, 1989, p.985) sebagai variabel independen dalarn pengambilan keputusan pembelian melalui Internet.

Model dasar dari teori technology acceptance model adalah theory of reasoned

action yang dikembangkan oleh Fishbein dalam Malhotra (2003). Tujuan dari technology acceptance model adalah untuk menjelaskan faktor-faktor apa yang

mempengaruhi perilaku pengguna komputer. Theory of reasoned action secara luas telah digunakan dalam penelitian psikologi sosial, yang menentukan perilaku

intention. Menurut theory of reasoned action kinerja spesifik perilaku seseorang

ditentukan oleh niat dari perilaku tersebut, dan niat perilaku dipengaruhi oleh sikap dan norma subjektif orang tersebut. Technology acceptance model menggunakan TRA sebagai dasar teori untuk menjelaskan saling keterkaitan antara percieved usefulness, percieved ease of use, userattitude, dan behavioral

inention.Menurut Malhotra (2003) percieved usefulness didefinisikan sebagai

penilaian subjektif pengguna bahwa menggunakan sistem aplikasi yang spesifik dapat meningkatkan kinerja pekerjaannya dalam sebuah konteks organisasi.

Davis et al dalam penelitiannya menemukan bahwa percieved usefulness tetap menjadi faktor yang paling kuat dalam mepengaruhi intention, yang mana

percieved ease of use masih berpengaruh terhadap intention tapi kurang

signifikan.Karena adanya penemuan yang konsisten bahwa percieved usefulness merupakan penentu utama terhadap intention pengguna. Venkatesh dalam Sharp (2004) mengusulkan sebaiknya mengidentifikasi faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi percieved usefulness seperti norma subjektif, imej, keiginan untuk mempertahankan sistem yang ada sekarang, relavansi dengan pekerjaan.

(8)

Penelitian yang dilakukan oleh Davis dalam Sharp (2004) menemukan variabel eksternal yang memiliki pengaruh signifikan terhadap percieved usefulness, antara lain yaitu: keuntungan yang diperoleh dari hasil efisiensi, perbaikan efisensi kinerja, cara pandang terhadap risiko, benefit yang diterima, kepercayaan pribadi, sikap, percieved enjoyment. Teori TAM banyak digunakan saat ini oleh peneliti pemasaran karena teori ini dapat menjelaskan persepsi individu terhadap

percieved usefulness dan percieved ease of use dalam menentukan penerimaan

individu terhadap sebuah teknologi. Ndubisi (2005) mendefinisikan percieved usefulness sebagai seberapa besar seseorang mempercayai bahwa dengan menggunakan sistem tertentu dapat mempertinggi kinerja pekerjaan mereka.Dalam banyak penelitian percieved usefulness dijadikan sebagai salah satu konstruk yang berhubungan dengan produktivitas, dan saat ini percieved

usefulness dianggap sebagai sebuah konstruk yang paling kuat dalam

mempengaruhi perilaku kossumen terhadap penerimaan teknologi.

Venkatesh dalam Ndubisi (2005) menyatakan bahwa TAM dapat menjelaskan perilaku penerimaan individu terhadap teknologi secara utuh, tapi TAM tidak dapat membantu menjelaskan perkembangan karakteristik sistem yang mempengaruhi percieved usefulness dan percieved ease of use. Mathieson dalam Ndubisi (2005) percaya bahwa TAM dapat menjelaskan perilaku individu terhdap penerimaan teknologi, tapi secara umum menurut Mathieson TAM tidak memberikan pemahaman yang cukup bagaimana sebaiknya merancang suatu sistem sesuai dengan informasi yang dibutuhkansehingga individu meneriman sistem baru tersebut. Lebih jauh lagi Straub et al dalam Ndubisi (2005) mempertanyakan ketepatan intention dijadikan sebagai predictor bagi actual

(9)

behavioral. Sehingga Straub et al tidak setuju dengan pendapat Fishbein yang

menyatakan bahwa attitude dan norma dapat mempengaruhi perilaku.

Pendapat Sendecka (2006) percieved usefulness sebagai pandangan individu bahwa sistem yang digunakan sangat berguna yang mana dapat meningkatkan kinerja pekerjaan pengguna. Sebuah sistem dengan percieved usefulness yang tinggi akan memberikan kepercayaan kepada individu bahwa sistem tersebut dapat meningkatkan kinerja individu tersebut. Dinyatakan oleh Davis dalam Sendecka (2006) bahwa percieved usefulness berpengaruh langsung terhadap niat konsumen untuk menggunakan teknologi, secara logika jika sebuah pelayanan atau sistem dapat mempertinggi kinerja pekerjaan seseorang maka sistem tersebut akan dianggap berguna, dengan demikian akan merangsang banyak orang untuk menggunan sistem tersebut. Namun Doll dalam Sendecka (2006) telah memodifikasi definisi di atas dengan menyatakan bahwa sebuah sistem tidak berhubungan secara langsung terhadap sebuah pekerjaan, sehingga belum pantas sistem tersebut dikatakan berguna, alasannya sebuah sistem baru dapat dikatakan berguna jika sistem tersebut dapat menyelesaikan secara langsung pekerjaan tersebut dan biasanya akan memberikan nilai percieved usefulness yang tinggi bagi konsumen. Seperti mobile service.seseorang akan memiliki dorongan yang lebih tinggi untuk menggunakan sistem atau pelayanan jika sistem atau pelayanan tersebut dapat membantu menyelesaikan pekerjaan tertentu dan mendapatkan kepuasan dan nilai yang positif. Oleh karena itu, percieved usefulness berpengaruh secara positif terhadap usage intention.

(10)

2.2 Hasil Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu

No Penulis Judul Jurnal Deskripsi Metodologi

Alat Penguku ran Hasil 1 Rose, Kumar, dan Wemyss (2009)

Empirical evaluation of the electronic procurement system acceptance in Malaysia

Menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan sistem

E-Procurement di Malaysia.

Dilakukan dengan pendekatan teori TAM, danmenggunakan analisis

Structural Equation Model

(SEM)

TAM Hasil penelitian menemukan bahwa Perceived

Usefulness, Perceived Usefulness, Facilitating Conditions, Perceived Ease of Use, Perceived risk, dan Web Design Quality berpengaruh signifikan terhadap Intentions to transact the E-Procurement system.

2 Pikkarainen, Pikkarainen, Karjaluoto, dan Pahnila (2004)

Consumer acceptance ofonline banking: anextension of thetechnology acceptancemodel

Menyelidiki penerimaan perbankan online dari sudut pandang Technology

Acceptance Model(TAM), dengan

memanfaatkan lingkungan online.

Menggunakan analisis regresi berganda

TAM Temuan penelitian menunjukkan bahwa manfaat yang dirasakan dan informasi di perbankan online di situs Web merupakan faktor utama yang mempengaruhi penerimaan

online banking.

3 Bertrand dan Bouchard (2008)

Applying the technology

acceptance model to virtual reality with people who are favorable to its use

Penelitian tersebut bertujuan untuk menguji bagaimana Technology

Acceptance Model(TAM) berlaku

untuk penggunaan virtual reality dalam pengaturan clinical.

Menggunaka analisis

Structural Equation Model

(SEM)

TAM Hasil penelitian menunjukkan bahwa Intention to Use

Virtual Realityhanya dapat memprediksiPerceived Usefulness. Hasil tersebut menentukan apa yang harus

lebih didokumentasikan dalam rangka mendorong penyebaran virtual realitydalam clinical. 4 Payne, dan

Curtis (2008)

Can the unified theory of acceptance and use of technology

(UTAUT) help us understand the

adoption of computer-aided audit techniques by auditors?

Penelitian tersebut bertujuan untuk memberikan kontribusi untuk pemahaman tentang lingkungan audit pemodelan keputusan adopsi teknologi dalam perikatan audit.

Menggunakan analisis regresi berganda

TAM Temuan penelitian menunjukkan bahwa ada dukungan untuk penerapan model UTAUT pada lingkungan audit (Payne&Curtis, 2008, p. 20)

Gambar

Gambar 2.1 IT Infrastructure & IT Services  (Rainer & Cegielski, 2011, p. 12)
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait

Kerangka Technology Acceptance Model (TAM) memiliki enam variabel penting dalam model TAM yang dapat membantu menjelaskan diterimanya sebuah sistem teknologi informasi

Mencari saran Mailing list, e Mailing list, e--mail, chatting, video/audio conference, on video/audio conference, on--line / / mail, chatting, , , line mentoring..

Ketika Izin Usaha Pertambangan (IUP) dikeluarkan oleh Pemerintah daerah pada masing-masing kabupaten (Ende, Manggarai,Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada,dan Sikka) perintah

Jetstream Tooling adalam sistem pengiriman bahan pendingin tekanan tinggi terarah yang dapat dipasang dengan cepat dan mudah yang secara cepat mampu melepaskan panas dari

matematika tersebut dapat dilihat apakah model yang dihasilkan telah sesuai dengan rumusan sebagaimana formulasi masalah nyata yang dihadapi. Hubungan antara

Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual yang berbeda terhadap prestasi siswa namun untuk melihat seberapa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ∆H pati terhidrolisis asam lebih rendah dibandingkan dengan pati alami terutama pati talas beneng H 2 SO 4 3,16M sebesar 25,3068 J/g,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya pemberlakuan otonomi daerah sejak 1 Januari 2000 di Jawa Tengah berpengaruh terhadap perekonomian maupun sektor