• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I DEMOKRASI DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I DEMOKRASI DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG"

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

DEMOKRASI DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG

Deskripsi Singkat Topik :

Pokok Bahasan : Demokrasi Dalam Pemilihan Kepala Daerah Langsung W a k t u : 2 (dua) kali tatap muka pelatihan (selama 180 menit) T u j u a n : Setelah mempelajari model ini, Praja diharapkan Mampu menjelaskan demokrasi dalam pemilihan Kepala Daerah langsung

M e t o d e : Praktek (mempraktekkan, diskusi dan tugas terstruktur)

(2)

2

A. Pendahuluan

Pilihan demokratisasi menjadi pilihan wajib bagi kegiatan pemerintahan. Demokratisasi pemerintahan lokal, yaitu terbentuknya ruang bagi lahirnya kepala pemerintahan daerah yang dipilih secara langsung. Demokratisasi, juga berarti proses perubahan dan struktur tatanan yang desentralistik melalui pembagian kekuasaan dan kewenangan yang jelas antara pusat dan daerah, antara eksekutif dan legislative.

Dalam konteks Indonesia, gerakan demokratisasi politik menuntut pembaharuan mulai tampak pada era 1980-an. Ini ditandai dengan tampilnya kekuatan masyarakat sipil dan kaum intelektual melalui gerakan demokrasi sejak akhir era 1990-an. Gelombang demokratisasi dalam nuansa demokrasi, tidak saja mempengaruhi pemerintahan orde baru, tetapi juga masuk sampai ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Kondisi ini memacu dinamika politik berdemokrasi yang menuntut dilaksanakannya reformasi di segala bidang. Sejak saat itu proses pembaharuan di berbagai bidang kehidupan bangsa bergerak maju dengan beragam tuntutan perubahan.

Di bidang politik, masyarakat menuntut adanya pemerintah baru yang lebih demokratis. Oleh sebab itu, agenda prioritas yang ditempuh pemerintahan transisi pasca Orde baru adalah melaksanakan Pemilu

(3)

3

sesegera mungkin. Proses reformasi politik mulai berjalan yang ditandai dengan keluarnya beberapa kebijakan politik antara lain, Undang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik, Undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan MPR-DPR-DPRD ( saat ini telah mengalami perubahan ). Semua ketentuan tersebut diimplementasikan pada Pemilihan Umum 1999 dan Pemilihan Umum 2004 yang dalam rangka kontinuitas telah menghasilkan pemerintahan baru. Pada tataran lokal, reformasi politik pemerintahan juga terus dilakukan dan otonomi daerah melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan daerah, yang saat ini telah diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

Kondisi baru yang mewarnai nuansa praktek politik ketatanegaraan Indonesia, yaitu dilaksanakannya Pemilihan Presiden Langsung dan pemilihan Kepala Daerah langsung. Pemilihan langsung merupakan respons dari semakin meluasnya harapan seluruh komponen bangsa untuk mengembalikan kedaulatan rakyat secara demokratis. Hal ini untuk menjamin terciptanya mekanisme “ Check

and balances “ antara lembaga-lembaga pemerintahan.

Kekuasaan atau mandat yang diperoleh Presiden maupun Kepala Daerah dari rakyat yang memilihnya dalam konteks kedaulatan rakyat

(4)

4

harus diimplementasikan dengan modus kekuasaan untuk melayani rakyat dan bukan mendominasi rakyat. Ketika rakyat memberikan mandat kekuasaan kepada Kepala daerah, maka hal itu dimaksudkan untuk dikonversikan menjadi kesejahteraan rakyat.

Berbagai proses demokratisasi yang mulai tampak dalam kehidupan politik sebagai akibat berbagai perubahan dalam sistem Pemilu maupun Undang-Undang Politik yang mendasari aturan main dalam proses politik masa kini, akan berpengaruh banyak dalam proses pemerintahan di daerah. Tingkat kehidupan bermasyarakat yang makin baik akan meningkatkan apresiasinya terhadap politik sehingga membuatnya lebih kritis dalam menyikapi setiap phenomena kenegaraan. Keuntungan yang dapat diperoleh dari perubahan itu adalah pemerintahan daerah akan semakin demokratis. Di pihak lain, masyarakat akan mengenal lebih dekat dengan pemimpinnya karena masyarakat dapat menentukan secara langsung siapa yang akan menjadi pemimpin di daerah tersebut.

B. Makna Demokrasi. B.1. Materi

Dalam Ilmu Politik, demokrasi difahami dari dua aspek, yaitu demokrasi normative ( substantive democracy ) dan demokrasi empirik ( procedural democracy ). Secara normative menurut Gaffar (1998),

(5)

5

demokrasi merupakan sesuatu yang secara ideal hendak dilakukan dan dijalankan oleh sebuah negara, seperti pernyataan “ pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat “ (demokrasi klasik) yang biasanya dituangkan dalam konstitusi masing=masing Negara. Perlu difahami, bahwa apa yang normative belum tentu dapat dilihat dalam konteks kehidupan politik praktis sehari-hari suatu Negara. Oleh sebab itu, demokrasi perlu difahami dari aspek empirik, yakni demokrasi yang terwujud dalam kehidupan politik praktis.

Menurut Linz Greenstein dan Polsby ( 1975 ), demokrasi secara empiris memperlihatkan adanya ruang gerak yang cukup tinggi bagi masyarakat dalam suatu sistem politik Pemerintah untuk berpartisipasi guna memformulasikan preferensi politik mereka melalui organisasi politik yang ada, dan sejauh mana kompetisi antara pemimpin dilakukan secara teratur ( regular basis ) untuk mengisi jabatan politik.

Samuel P. Huntington ( 1997 ) dalam “Gelombang Demokratisasi Ketiga” ( Third Wave of Democratization ) mengemukakan bahwa prosedur utama demokrasi adalah pemilihan para pemimpin secara kompetitif oleh rakyat. Huntington mendefinisikan bahwa sistem politik yang demokratis adalah sejauh mana para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sistem itu dipilih melalui pemilihan umum yang adil, jujur dan berkala, bahwa

(6)

6

para calon secara bebas bersaing untuk memperoleh dukungan suara pemilih dan hampir semua penduduk dewasa berhak memberikan suara.

Demokrasi memiliki keunggulan dalam 10 hal disbanding alternative manapun yang ada ( Robert Dahl, 1999 ) :

1. Menghindari tirani 2. Menjamin hak azasi

3. Menjamin kebebasan umum 4. Menentukan nasib sendiri 5. Otonomi moral

6. Menjamin perkembangan manusia

7. Menjaga kepentingan pribadi yang utama 8. Persamaan politik

9. Mendorong kemakmuran 10. Menjaga perdamaian

Gaffar ( 1999 ), menyimpulkan 5 ( lima ) prasyarat untuk mengamati apakah sebuah political order merupakan sistem pemerintahan yang demokratis atau tidak, yaitu :

1. Akuntabilitas, bahwa setiap pemegang jabatan yang dipilih rakyat harus mempertanggungjawabkan ucapan, perilaku dan kebijakan yang ditempuhnya.

(7)

7

2. Rotasi kekuasaan, bahwa peluang terjadinya rotasi kekuasaan harus ada dan dilakukan secara teratur dan damai.

3. Rekruitmen politik yang terbuka, untuk memungkinkan terjadinya rotasi kekuasaan ; artinya, setiap orang yang memenuhi syarat untuk mengisi suatu jabatan politik yang dipilih oleh rakyat mempunyai peluang yang sama dalam melakukan kompetisi untuk mengisi jabatan tersebut.

4. Pemilihan umum, bahwa setiap warga Negara yang sudah dewasa mempunyai hak untuk memilih dan dipilih serta bebas menggunakan haknya sesuai kehendak hati nuraninya dan dilaksanakan secara teratur.

5. Menikmati hak-hak dasar, bahwa setiap warga Negara bebas menikmati hak-hak dasar mereka, termasuk didalamnya hak untuk menyatakan pendapat, hak untuk berkumpul dan berserikat dan hak untuk menikmati pers yang bebas.

Dengan demikian, esensi demokrasi adalah terwujudnya kebebasan politik rakyat dalam mengekspresikan preferensi dan hak-hak politiknya, adanya rekruitmen politik terbuka dan pemilihan umum yang langsung, bebas dan fair dalam mengisi jabatan-jabatan poilitik dan pemerintahan. Yang penting dari esensi demokrasi adalah adanya kebebasan yang bertanggungjawab.

(8)

8

1. Jelaskan pengertian demokrasi dari aspek normatif

dari aspek empirik

2. Jelaskan keunggulan sistem demokrasi dibandingkan dengan alternatif lainnya

3. Jelaskan beberapa prasyarat yang harus dimiliki suatu pemerintahan yang demokratis

4. Jelaskan esensi daripada demokrasi C. Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah C. 1. Materi

Sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dilaksanakan berdasarkan atas asas desentralisasi dengan

menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya, nyata dan

bertanggungjawab.

Prinsip otonomi yang seluas-luasnya adalah kepada daerah diberikan tugas, wewenang, hak dan kewajiban utnuk menangani urusan pemerintah yang tidak ditangani oleh pemerintah sendiri. Artinya, urusan pemerintahan yang bertalian dengan pelaksanaan fungsi Pemerintah, kepercayaan diberikan kepada daerah untuk menangani dan/atau melaksanakan urusan pemerintahan yang diserahkannya,

(9)

9

sehingga isi otonomi dapat dikatakan baik dari segi jumlah maupun jenisnya. Disamping itu, daerah diberikan keleluasaan untuk menangani urusan pemerintahan yang diserahkan tersebut (political

decentralization) dalam rangka mewujudkan tujuan dibentuknya suatu

daerah dan tujuan pemberian otonomi daerah itu sendiri terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi serta karakteristik masing-masing daerah.

Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. Dengan demikian, isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya.

Prinsip otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan

maksud pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk

memberdayakan daerah, termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan Nasional.

Dalam rangka penyelenggaraan otonomi yang luas, nyata

dan bertanggungjawab, kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai peranan yang strategis di bidang penyelenggaraan

(10)

10

pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat dan bertanggungjawab sepenuhnya tentang jalannya pemerintahan daerah.

Sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang dan setelah Proklamasi Kemerdekaan serta masa Orde Baru sampai era reformasi sekarang ini, Kepala Daerah dengan beragam penyebutan, seperti Gubernur, Bupati, Walikota, telah menunjukkan eksistensinya, baik sebagai pemimpin organisasi pemerintahan dalam mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat maupun dalam

memimpin organisasi administrasi pemerintahan. Kepala

Daerah/Wakil Kepala daerah mempunyai kedudukan yang penting dan menonjol pada struktur Pemerintahan daerah. Ia adalah orang pertama dan paling utama dalam mengkoordinasikan seluruh proses pemerintahan daerah.

Dari tinjauan organisasi dan manajemen, Kepala daerah/Wakil Kepala daerah merupakan figure atau manajer yang menentukan efektifitas pencapaian tujuan organisasi pemerintahan daerah. Dalam pendekatan pelayanan, kepala Daerah/Wakil Kepala daerah juga merupakan komponen strategis dalam mengupayakan terwujudnya pelayanan yang berkualitas, baik pelayanan internal dalam organisasi maupun pelayanan eksternal kepada masyarakat.

(11)

11

Di dalam pasal 24 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pemerintahan daerah, antara lain disebutkan :

1. Kepala daerah untuk provinsi disebut Gubernur, untuk kabupaten disebut bupati, dan untuk kota disebut walikota. 2. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah. 3. Wakil kepala daerah untuk provinsi disebut wakil gubernur,

untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil walikota.

4. Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat di daerah yang bersangkutan.

Jika dilihat dari hierarki kepemimpinan di Indonesia, Kepala daerah/Wakil Kepala Daerah berada di posisi kepemimpinan tingkat menengah, di atasnya terdapat kepemimpinan yang dijalankan oleh Presiden beserta para menteri, dan dibawahnya terdapat kepemimpinan yang dijalankan oleh Camat dan Kepala Desa/Lurah. Para pemimpin pemerintahan tersebut bertanggungjawab sepenuhnya atas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerahnya masing-masing, sekaligus mempertanggungjawabkan tugas yang diembannya kepada pejabat yang berwenang sesuai hierarki kepemimpinan tersebut.

(12)

12

1. Jelaskan pengertian prinsip otonomi yang seluas-luasnya, nyata dan bertanggungjawab

2. Jelaskan yang dimaksud dengan Kepala Daerah/Wakil Kepala daerah bagi Provinsi dan Kabupaten/Kota

3. Jelaskan kedudukan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota ditinjau dari hierarki kepemimpinan kepemimpinan di Indonesia

D. Pemilihan Kepala Daerah Langsung D.1. Materi

Suatu perubahan besar telah dilaksanakan dalam hal pemilihan Kepala daerah dan Wakil Kepala daerah. Tidak seperti dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, dimana pemilihan Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah dipilih oleh DPRD, maka dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan azas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

Perubahan kedua UUD 1945, pasal 18 yang diantaranya menyebutkan Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara

(13)

13

demokratis, telah menjadi dasar perubahan sistem pemilihan Kepala Daerah tersebut. Perubahan ini disesuaikan dengan tugas dan wewenang DPRD menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat daerah, yang menyatakan antara lain bahwa DPRD tidak memiliki tugas dan wewenang untuk memilih Kepala daerah dan Wakil Kepala daerah. Konsekuensinya, pemilihan secara demokrasi dalam undang-undang ini dilakukan oleh rakyat secara langsung.

Selama ini pemilihan Kepala Daerah yang dilakukan secara representatif oleh lembaga legislatif daerah justru menutup keran akses masyarakat terhadap kepala daerah. Sebab bangunan politik yang termanifestasikian masih cenderung absurd antara peran legislatif sebagai representasi warna ideologi politik, dalam hal ini basis massa pemilihnya atau representasi keseluruhan masyarakat dalam wilayah tersebut.

Dalam proses pemilihan Kepala Daerah mau tidak mau posisi Kepala Daerah merupakan representasi kumulatif keseluruhan masyarakat di wilayah tersebut, bukan lagi representasi kepentingan warna ideologi politik seperti yang pernah diperankan oleh anggota legislatif.

Pilkada langsung sebenarnya adalah suatu proses pemilu karena keduanya senafas dan sejiwa serta tidak bisa dipisahkan.

(14)

14

Walaupun Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah tidak mendefinisikan Pilkada Langsung sebagai pemilu, tetapi Undang-Undang tersebut telah mengadopsi seluruh asas dan tahap Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan wakil Presiden.

Pilkada Langsung merupakan satu tahap pencapaian kemajuan perkembangan demokrasi di Tanah Air. Pilkada Langsung menjadi solusi elegan sekaligus terobosan untuk mengatasi kemacetan demokrasi lokal. Dengan demikian, guliran perubahan akan terus berlangsung dari tingkat Nasional ke tingkat Lokal, khususnya dalam memilih pejabat publik yang dipilih langsung oleh rakyat sesuai keinginannya. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 telah memunculkan arus besar dalam sistem pemerintahan daerah, yaitu arus yang berorientasi pada kepentingan masyarakat (partisipatif-populis).

Sistem pemilihan langsung kepala daerah dan wakil kepala daerah tersebut mulai dilaksanakan pada tahun 2005. Dengan sistem baru tersebut, diharapkan para kepala daerah dan wakil kepala daerah di seluruh Indonesia benar-benar merupakan hasil pilihan rakyat sehingga benar-benar bertanggungjawab kepada rakyat. Kepala pemerintahan daerah yang dipilih langsung oleh rakyat akan memiliki

(15)

15

legitimasi kuat dibanding dengan Dewan yang memilih lewat sistem proporsional.

Pilkada langsung ini diselenggarakan oleh Komite Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Penyelenggaraan Pilkada ini diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan yang dibentuk dan terdiri dari unsur-unsur kepolisian, kejaksaan, perguruan tinggi, pers dan tokoh masyarakat. Pasangan calon Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah yang memperoleh suara lebih dari 50 persen dari jumlah suara yang sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih. Apabila tidak mencapai suara lebih dari 50 persen, atau pasangan calon yang memperoleh suara lebih dari 25 persen dari jumlah suara yang sah, pasangan calon yang perolehan suaranya terbesar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih. Dalam hal pasangan calon yang perolehan suara terbesar sebagaimana disebutkan diatas terdapat lebih dari satu pasangan calon yang nperolehan suaranya sama, penentuan pasangan calon terpilih dilakukan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. Apabila ketentuan tersebut tidak terpenuhi, atau tidak ada yang mencapai 25 persen dari jumlah suara yang sah, maka dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005, pasal 95, ayat (8) tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala daerah dan wakil Kepala Daerah, menyebutkan bahwa pasangan calon Kepala Daerah dan

(16)

16

Wakil Kepala daerah yang memperoleh suara terbanyak pada putaran kedua, ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih.

Dalam rangka mewujudkan penguatan dan pemberdayaan demokrasi di tingkat lokal, maka beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pelaksanaan Pilkada Langsung, yaitu :

1. Pilkada Langsung memungkinkan terwujudnya penguatan demokratisasi di tingkat lokal, khususnya pembangunan legitimasi politik. Ini didasarkan pada asumsi bahwa Kepala Daerah terpilih memiliki mandate dan legitimasi yang kuat karena didukung oleh suara pemilih nyata yang merefleksikan konfigurasi kekuatan politik dan kepentingan konstituen pemilih. Legitimasi ini akan merupakan modal politik penting dan sangat diperlukan oleh suatu pemerintahan yang akan berkuasa.

2. Pilkada Langsung diharapkan mampu membangun dan

mewujudkan local accountability. Ketika seorang kandidat terpilih menjadi Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah, maka para wakil rakyat yang mendapat mandat akan meningkatkan kualitas akuntabilitasnya (pertanggungjawabannya kepada rakyat, khususnya konstituennya). Hal ini sangat mungkin dilakukan karena obligasi moral dari penanaman modal politik menjadi kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai wujud

(17)

17

pembangunan legitimasi politik. Mekanisme pemilihan Kepala Daerah yang berlangsung pada masa lalu, cenderung menciptakan ketergantungan berlebihan dari Kepala Daerah kepada DPRD, sehingga Kepala Daerah tersebut lebih meletakkan akuntabilitasnya pada anggota parlemen daripada masyarakat yang seharusnya dilayaninya. Dampak negatifnya adalah munculnya fenomena politik uang antara Kepala daerah dan DPRD, karena laporan pertanggungjawaban (LPJ) Kepala daerah menjadi komoditi bargaining dan negosiasi. Pilkada Langsung diharapkan akan mampu mengikis fenomena tersebut.

3. Terciptanya optimalisasi mekanisme check and balances antara

lembaga-lembaga pemerintahan yang dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan penguatan demokrasi pada level lokal.

4. Pilkada Langsung diharapkan mampu meningkatkan kualitas

kesadaran politik dan kualitas partisipasi masyarakat. Pilkada Langsung akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menggunakan kearifan, kecerdasan dan kepedulian guna menentukan sendiri siapa yang dianggap layak dan pantas menjadi pemimpinnya. Mekanisme ini pula dapat memberikan jalan untuk membuka mata para elit politik, bahwa pemegang kedaulatan politik yang sebenarnya adalah warga masyarakat dan bukan lembaga-lembaga lainnya.

(18)

18

D.2. Praktek/Latihan

a. Jelaskan perbedaan pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah menurut Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

b. Jelaskan landasan hukum perubahan pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dilaksanakan secara langsung oleh rakyat

c. Jelaskan organisasi penyelenggara dan pengawas Pilkada Langsung serta unsur-unsur yang terlibat dalam organisasi penyelenggara Pilkada Langsung

d. Jelaskan bahwa dengan pelaksanaan Pilkada Langsung dapat mewujudkan penguatan dan pemberdayaan demokrasi di tingkat lokal

(19)

19

BAB II

KEDUDUKAN KEPALA DAERAH/WAKIL KEPALA DAERAH

Deskripsi Singkat Topik :

Pokok Bahasan : KEDUDUKAN KEPALA DAERAH/WAKIL KEPALA DAERAH

W a k t u : 2 (dua) kali tatap muka pelatihan ( selama 180 menit )

T u j u a n : Setelah mempelajari modul ini, Praja diharapkan mampu menjelaskan kedudukan Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah

M e t o d e : Praktek ( mempraktekkan, diskusi dan tugas Terstruktur )

(20)

20

A. Pendahuluan

Salah satu perubahan yang sangat penting dari sistem pemnerintahan daerah setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomnor 22 Tahun 1999 adalah dipisahkannya secara tegas antara institusi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan DPRD. Jika dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974 diatur bahwa yang disebut Pemerintah daerah adalah Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dan DPRD, sehingga DPRD dianggap sebagai lembaga leksekutif, maka dalam dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyebutkan bahwa di daerah dibentuk DPRD sebagai badan legislatif daerah dan Pemerintah Daerah sebagai badan eksekutif daerah yang terdiri dari Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah beserta perangkat daerah. Perubahan Undang Nomor 22 Tahun 1999 menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 telah banyak mengubah sistem pemerintah daerah menuju ke arah penyempurnaan yang lebih baik. Di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. Sedangkan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat adalah juga sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa posisi DPRD di bawah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 mengalami perubahan,

(21)

21

yaitu dari sebagai Badan Legislatif Daerah menjadi unsur penyelenggara pemerintahan daerah. DPRD Yang semula diposisikan sebagai layaknya DPR untuk mengimbangi kekuasaan eksekutif yang dipegang oleh Kepala Daerah, menjadi sebagai salah satu unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

Hubungan antara Kepala Daerah dengan DPRD merupakan hubungan-kerja yang kedudukannya setara dan bersifat kemitraan. Kedudukan yang setara bermakna bahwa di antara lembaga pemerintahan daerah itu memiliki kedudukan yang sama dan sejajar, artinya tidak saling membawahi. Hal ini tercermin dalam membuat kebijakan daerah berupa Peraturan Daerah. Hubungan kemitraan bermakna bahwa antar Kepala daerah dan DPRD adalah mitra sekerja dalam membuat kebijakan daerah untuk melaksanakan otonomi daerah sesuai dengan fungsi masing-masing, sehingga antar kedua lembaga itu dapat membangun hubungan kerja yang sifatnya saling mendukung, bukan merupakan lawan atau pesaing satu sama lain dalam melaksanakan fungsi masing-masing.

B. Kedudukan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah B.1. Materi

Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas

(22)

22

pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud oleh UUD 1945. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati/Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan, sedangkan DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.dan eksekutif adalah pemerintah daerah.

Undang-Undang tersebut dengan tegas memisahkan antara badan legislatif dan eksekutif daerah. Badan legislative daerah adalah DPRD, sedangkan badan eksekutif adalah pemerintah daerah. DPRD berkedudukan sederajat dengan pemerintah daerah atau badan eksekutif. Dengan demikian jelaslah bahwa DPRD bukan bagian atau unsur dari pemerintah daerah karena DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah. Undang-Undang ini juga menegaskan bahwa kedudukan setiap unsur pemerintah daerah berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarki. Karena itu, daerah provinsi bukan atasan dari daerah kabupaten/kota.

Kewenangan yang diserahkan kepada daerah sangat besar, mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional serta agama. Untuk melaksanakan kewenangan tersebut, peran kepala daerah menjadi unsur penting yang menggerakkan roda pemerintahan daerah. Oleh sebab itu,

(23)

23

rekruitmen kepala daerah harus diarahkan pada sistem rekruitmen yang mampu menyeleksi kepala daerah yang benar-benar memiliki kualifikasi yang dapat diandalkan dalam memacu perkembangan dan pembangunan daerahnya.

Kedudukan kepala daerah/wakil kepala daerah selain sebagai pimpinan pemerintahan, sekaligus adalah pimpinan daerah dan pengayom masyarakat sehingga harus mampu berpikir, bertindak dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa, Negara dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi, golongan dan aliran. Oleh karena itu, dari kelompok atau etnis dan keyakinan manapun Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah harus bersikap arif, bijaksana, jujur, adil dan netral. Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif dibantu oleh seorang wakil kepala daerah.

Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah pada wilayah provinsi karena kedudukannya sebagai Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, juga sebagai kepala wilayah atau wakil pemerintah. Oleh sebab itu, dalam proses rekruitmennya harus dapat memadukan dua kepentingan yang berbeda, yaitu kepentingan Pemerintah dan Daerah.

Walaupun demikian, Pemerintah Pusat tetap memberikan

kewenangan kepada daerah untuk menyeleksi calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Provinsi yang kemudian dapat disetujui oleh Pemerintah Pusat.

(24)

24

a. Tugas dan Wewenang serta Kewajiban Kepala Daerah dan Wakil Daerah .

Kepala daerah mempunyai tugas dan wewenang :

1) Memimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD ;

2) Mengajukan rancangan Peraturan Daerah ;

3) Menetapkan Peraturan daerah yang telah mendapatkan persetujuan bersama DPRD ;

4) Menyusun dan mengajukan rancangan Peraturan daerah tentang APBD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama ;

5) Mengupayakan terlaksananya kewajiban daerrah ;

6) Mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan, dan dapat menunjuk kuasa hokum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundangan-undangan; dan

7) Melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Wakil Kepala daerah mempunyai tugas :

1) Membantu Kepala daerah dalam menyelenggarakan

pemerintahan daerah ;

2) Membantu kepala daerah dalam rangka mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah, menindaklanjuti laporan

(25)

25

dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup ;

3) Memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan kabupaten dan kota bagi wakil kepala daerah provinsi ;

4) Memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan, kelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala daerah kabupaten/kota ;

5) Memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan daerah ;

6) Melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan oleh kepala daerah ; dan

7) Melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah berhalangan.

Dalam melaksanakan tugas tersebut di atas, wakil kepala daerah bertanggungjawab kepada kepala daerah. Wakil kepala daerah menggantikan kepala daerah sampai habis masa jabatannya apabila kepala daerah meninggal dunia, berhenti, diberhentikan, atau tidak melakukan kewajibannya selama 6 (enam) bulan secara terus menerus dalam masa jabataannya.

(26)

26

Dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud diatas, kepala daerah/wakil kepala daerah berkewajiban :

1) Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ;

2) Meningkatkan kesejahteraan rakyat ;

3) Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat ; 4) Melaksanakan kehidupan demokrasi ;

5) Menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan ;

6) Menjaga etika dan norma dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah ;

7) Memajukan dan mengembangkan daya saing daerah ;

8) Melaksanakan prinsip tata pemerintahan yang bersih dan baik ;Melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan daerah ;

9) Menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertical di daerah dan semua perangkat daerah ;

10)Menyampaikan rencana strategis penyelenggaraan

(27)

27

Selain mempunyai kewajiban sebagaimana tersebut di atas,kepala daerah mempunyai kewajiban juga untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah, dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD, serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan kepada masyarakat.

Laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada pemerintah tersebut disampaikan kepada Presiden melalui menteri dalam negeri untuk Gubernur, dan kepada Menteri dalam negeri melalui Gubernur untuk Bupati/Walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Laporan dimaksud digunakan Pemerintah sebagai dasar untuk melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintah daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

b. Tugas Gubernur sebagai Wakil Pemerintah

Didalam pasal 37 Undang-Undang Nomnor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah antara lain disebutkan bahwa Gubernur yang karena jabatannya berkedudukan juga wakil Pemerintah di wilayah provinsi yang bersangkutan. Dalam

kedudukannya sebagai wakil Pemerintah, Gubernur

(28)

28

Dalam kedudukannya sebagai wakil Pemerintah, Gubernur memiliki tugas dan wewenang :

1) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota ;

2) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/kota ;

3) Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota

Pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dan atau Gubernur selaku Wakil Pemerintah di daerah untuk mewujudkan tercapainya tujuan penyelenggaraan otonomi daerah. Dalam rangka pembinaan oleh Pemerintah, Menteri dan Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen melakukan pembinaan sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing yang dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri untuk pembinaan dan pengawasan provinsi serta oleh gubernur untuk pembinaan dan pengawasan kabupaten/kota. Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah proses kegiatan yang ditujukan untuk menjamin agar pemerintah daerah berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengawasan yang dilakukan oleh Gubernur terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan dan

(29)

29

utamanya terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah kabupaten/kota.

B.2. Praktek/Latihan

a. Jelaskan kedudukan Kepala Daerah dan DPRD menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004

b. Jelaskan tugas Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah c. Jelaskan tugas Gubernur sebagai wakil Pemerintah

(30)

30

BAB III

PERAN KPUD, PARTAI POLITIK DAN DPRD DALAM PEMILIHAN

KEPALA DAERAH/WAKIL KEPALA DAERAH

Deskripsi Singkat Topik :

Pokok Bahasan : PERAN KPUD, PARTAI POLITIK DAN DPRD DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH/WAKIL KEPALA

DAERAH

W a k t u : 2 (dua) kali tatap muka pelatihan (selama 180 menit)

T u j u a n : Setelah mempelajari modul ini, Praja diharapkan mampu menjelaskan Peran KPUD, Partai Politik Dan DPRD dalam Pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah

M e t o d e : Praktek ( mempraktekkan. diskusi dan tugas terstruktur

(31)

31

A. Pendahuluan

Sebagai daerah otonom, daerah provinsi dan

kabupaten/kota memiliki pemerintahan daerah yang melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan daerah, yakni Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Kepala Daerah adalah Kepala Pemerintah Daerah baik di daerah provinsi maupun kabupaten/kota, yang merupakan eksekutif di daerah. Sedangkan DPRD baik di daerah provinsi maupun daerah kabupaten/kota merupakan lembaga legislative daerah.

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah diterapkan prinsip demokrasi. Sesuai dengan pasal 18 ayat (4) UUD 1945, kepala daerah dipilih secara demokratis. Di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah diatur mengenai pemilihan kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat yang diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik.

Berdasarkan perkembangan hukum dan politik, untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang lebih efektif dan akuntabel yang sesuai dengan aspirasi masyarakat, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilakukan secara lebih terbuka dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

(32)

32

tentang Pemerintahan Daerah telah dilakukan perubahan melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yaitu memberikan kesempatan bagi calon perseorangan untuk ikut serta dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah ( KPUD ) yang bertanggungjawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Dalam melaksanakan tugasnya, KPUD menyampaikan laporan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kepada DPRD.

B. Peran Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) B.1. Materi

Pasal 22E, ayat (5) UUD 1945 menyatakan : “ Pemilihan Umum diselenggarakan oleh suatu Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang bersifat nasional, tetap dan mandiri “. Ini berarti bahwa KPU sebagai penyelenggara pemilu mencakup seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjalankan tugasnya secara berkesinambungan dan bebas dari pengaruh pihak manapun disertai dengan transparansi dan pertanggungjawaban yang jelas sesuai dengan peraturan perundangan-undangan.

(33)

33

KPU merupakan lembaga yang bersifat nasional, permanen dan independen, yang secara hierarkhis diorganisasikan pada tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota serta telah diberikan otonomi keuangan dan manajerial. KPU Nasional (Pusat) memiliki 7 (tujuh) anggota yang disetujui oleh DPR dari maksimal 21 calon anggota ( 3 kali jumlah anggota KPU ) yang diajukan Presiden. KPU Provinsi memiliki 5 (lima) anggota yang ditetapkan dengan Keputusan KPU berdasarkan hasil uji kelayakan dan kepatutan terhadap 10 orang calon yang diajukan oleh Tim Seleksi yang dibentuk KPU. KPU Kabupaten/Kota juga memiliki 5 (lima) anggota yang ditetapkan dengan Keputusan KPU Provinsi berdasarkan hasil uji kelayakan dan kepatutan terhadap 10 orang calon yang diajukan oleh Tim Seleksi yang dibentuk oleh KPU Provinsi.

Adanya lembaga penyelenggara pemilihan umum yang professional membutuhkan Sekretariat Jenderal KPU di tingkat Pusat dan sekretariat KPU Provinsi dan secretariat KPU Kabupaten/Kota di daerah sebagai lembaga pendukung yang professional dengan tugas utama membantu hal teknis administratif, termasuk pengelolaan anggaran.

Tugas dan wewenang KPUD dalam penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, pasal 66, sebagai berikut :

(34)

34

a. Merencanakan penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah

b. Menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan Kepala daerah dan Wakil Kepala daerah sesuai dengan tahapan yang diatur

dalam peraturan perundangan. Mengkoordinasikan

penyelenggarakan dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah.

c. Mengkoordinasikan, menyelenggarakan, dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

d. Menetapkan tanggal dan tata cara pelaksanaan kampanye semua tahapan pelaksanaan pemilihan Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah.

e. Meneliti persyaratan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan calon.

f. Meneliti persyaratan calon Kepala daerah dan wakil Kepala daerah yang diusulkan.

g. Menetapkan pasangan calon yang telah memenuhi persyaratan.

h. Menerima pendaftaran dan mengumumkan tim kampanye. i. Mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye.

(35)

35

j. Menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah.

k. Melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan Wakil Kepala daerah.

l. Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur oleh peraturan perundang-undangan.

m. Menetapkan kantor akuntan publik untuk mengaudit dana kampanye dan mengumumkan hasil audit.

Sedangkan KPUD Kabupaten/Kota sebagai bagian pelaksanaan tahapan penyelenggara pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005, pasal 6, mempunyai tugas dan wewenang, yaitu :

a. Merencanakan pelaksanaan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di Kabupaten/Kota.

b. Melaksanakan pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur dan Wakil Gubernur di Kabupaten/Kota.

c. Menetapkan rekapitulasi hasil penghitungan suara dari seluruh PPK dalam wilayah kerjanya, membuat berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara.

(36)

36

e. Mengkoordinasikan kegiatan panitia pelaksana pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur dalam wilayah kerjanya.

f. Menerima pendaftaran dan mengumumkan Tim

Kampanye Pasangan Calon di Kabupaten/Kota.

g. Melaksanakan tugas lain yang diberikan KPUD Provinsi. Secara teknis, berdasarkan ketentuan dalam pasal 1, Nomor 21 Undang-Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah, dan pasal 1 Nomor 6 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala daerah dan Wakil Kepala daerah, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi dan Kabupaten/Kota adalah institusi yang diberi kewenangan khusus untuk menyelenggarakan pemilihan Kepala daerah. Selanjutnya, berdasarkan Pasal 57 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, dan pasal 4 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005, KPUD Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah bertanggungjawab kepada DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Lebih lanjut di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pasal 67 diatur tentang kewajiban Komisi Pemilihan Umum Daerah , yaitu :

a. Memperlakukan pasangan calon secara adil dan setara ; b. Menetapkan standarisasi seta kebutuhan barang dan jasa

(37)

37

daerah dan wakil kepala daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan ;

c. Menyampaikan laporan kepada DPRD untuk setiap tahap pelaksanaan permilihan dan menyampaikan informasi kegiatannya kepada masyarakat ;

d. Memelihara arsip, dokumen pemilihan dan mengelola barang inventaris milik KPUD berdasarkan peraturan perundang-undangan.

e. Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran kepada DPRD

f. Melaksanakan semua tahapan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara tepat waktu.

Dalam penyusunan aturan Pemilihan Kepala daerah, Komisi Pemilihan Umum Daerah memegang peranan yang penting, khususnya berkenaan dengan penyusunan aturan, antara lain berisikan program/kegiatan, jadwal waktu dan pelaksanaan di setiap tahapan penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. Sebagai penyelenggara Pemilihan Kepala Daerah, maka pada tahap tersebut, KPUD membentuk divisi-divisi kerja yang bertugas mempersiapkan dan menyusun berbagai aturan teknis pelaksanaan Pilkada berdasarkan pasal-pasal yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, yaitu :

(38)

38

b. Divisi Pendaftaran Pemilih dan Pencalonan.

c. Divisi Logistik, Informasi Teknologi dan Keuangan. d. Divisi Hukum dan Hubungan Antar Lembaga. B.2. Praktek/Latihan

a. Jelaskan tugas dan wewenang Komisi Pemilihan Daerah b. Jelaskan kewajiban Komisi Pemilihan Umum Daerah

C. Peran Partai Politik dalam Pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah

C.1. Materi

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kemerdekaan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat sebagai hak asasi manusia yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan kehidupan kebangsaan yang kuat dalam Negara kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, demokratis dan berdasarkan hukum.

Dinamika dan perkembangan masyarakat yang majemuk menuntut peningkatan peran, fungsi dan tanggungjawab Partai Politik dalam kehidupan demokrasi secara konstitusional sebagai sarana partisipasi politik masyarakat dalam upaya mewujudkan cita-cita nasional bangsa

(39)

39

Indonesia, menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan

Republik Indonesia, mengembangkan kehidupan demokrasi

berdasarkan Pancasila sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Di dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik telah mengakomodasi beberapa paradigma baru seiring dengan menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, melalui sejumlah pembaruan yang mengarah pada penguatan sistem dan kelembagaan Partai Politik, yang menyangkut demokratisasi internal Partai Politik, transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan Partai Politik, peningkatan kesetaraan gender dan kepemimpinan Partai Politik dalam sistem berbangsa dan bernegara. Partai Politik

merupakan sarana partisipasi politik masyarakat dalam

mengembangkan kehidupan demokrasi untuk menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggungjawab. Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Melalui partai politik, rakyat dapat mewujudkan haknya untuk menyatakan pendapat tentang arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Keragaman pendapat di dalam masyarakat akan

(40)

40

melahirkan keinginan untuk membentuk berbagai partai politik sesuai dengan ragam pendapat yang hidup. Dengan demikian, pada hakekatnya Negara tidak membatasi jumlah partai politik yang dibentuk oleh rakyat. Dalam keragaman partai politik tersebut, setiap partai politik mempunyai kedudukan, fungsi dan kewajiban yang sama dan sederajat. Kedaulatan partai politik berada di tangan anggotanya. Oleh sebab itu, partai politik bersifat mandiri dalam mengatur rumah tangga organisasinya.

Sebagai salah satu lembaga demokrasi, partai politik berfungsi mengembangkan kesadaran atas hak dan kewajiban politik rakyat, menyalurkan kepentingan masyarakat dalam pembuatan kebijakan Negara, meminta dan mempersiapkan anggota masyarakat dalam pembuatan kebijakan Negara, serta membina dan mempersiapkan anggota masyarakat untuk mengisi jabatan-jabatan politik sesuai dengan mekanisme demokrasi. Partai politik juga merupakan salah satu wahana guna menyatakan dukungan dan tuntutan dalam proses politik. Semua fungsi ini diwujudkan melalui Pemilihan Umum yang diselenggarakan secara demokratis, jujur dan adil.

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik dalam perjalanannya dipandang belum optimal mengakomodasi dinamika dan perkembangan masyarakat yang menuntut peran Partai Politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tuntutan

(41)

41

mewujudkan Partai Politik sebagai organisasi yang bersifat nasional dan modern sehingga Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik diperbarui dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politiik.

Di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 diamanatkan perlunya pendidikan poilitik dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban, meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif warga Negara, serta meningkatkan kemandirian dan kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu, pendidikan politik harus ditingkatkan agar terbangun karakter bangsa yang merupakan watak atau kepribadian bangsa Indonesia yang terbentuk atas dasar kesepahaman bersama terhadap nilai-nilai kebangsaan yang lahir dan tumbuh dalam kehidupan bangsa, antara lain kesadaran berbangsa, keluhuran budi pekerti, dan keikhlasan untuk berkorban bagi kepentingan bangsa. Dalam undang-undang tersebut juga dinyatakan secara tegas larangan untuk menganut, mengembangkan,

dan menyebarluaskan ajaran komunisme/Marxisme-Leninisme

sebagaimana diamanatkan oleh Ketetapan MPRS Nomor

XXV/MPRS/Tahun 1966. Ketetapan MPRS tersebut diberlakukan dan menghormati hukum, demokrasi dan hak asasi manusia.

(42)

42

Menurut Miriam Budiardjo (2008), fungsi Partai Politik di Negara demokrasi, yaitu sebagai sarana komunikasi politik, sebagai sarana sosialisasi politik, sebagai sarana rekruitmen politik dan sebagai sarana pengatur konflik ( conflict management ).

Di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, pasal 11, dijelaskan bahwa Partai Politik berfungsi sebagai sarana, sebagai berikut :

1) Pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga Negara Indonesia yang sadar akan hak dan

kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara ;

2) Penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan

kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan

masyarakat ;

3) Penyerap, penghimpun dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan Negara ;

4) Partrisipasi politik warga Negara Indonesia, dan

5) Rekruitmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender.

(43)

43

b. Peran Partai Politik dalam Pilkada

Di dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik, Bab VI, Pasal 12, huruf d dan I, antara lain disebutkan tentang hak Partai Politik, yaitu :

1) Ikut serta dalam pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Presiden dan Wakil Presiden, serta kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

2) Mengusulkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, calon gubernur dan wakil gubernur, calon bupati dan wakil bupati, serta walikota dan wakil walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan Sedangkan kewajiban Partai Politik sebagaimana diatur didalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008, Pasal 13, antara lain sebagai berikut :

1) Menjunjung tinggi supremasi hukum, demokrasi dan hak asasi manusia.

2) Melakukan pendidikan politik dan menyalurkan aspirasi politik anggotanya.

(44)

44

Selanjutnya di dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 07 Tahun 2007 tentang Pedoman Tata Cara Pencalonan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah disebutkan bahwa Partai Politik adalah peserta Pemilihan Umum sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Dewan Perwakilan Daerah.

Di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 56, ayat 2 berbunyi : “ Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diajukan oleh Partai Politik atau gabungan Partai Politik “. Pasal tersebut menunjukkan begitu dominannya wewenang Partai Politik dalam mengajukan dan mengusulkan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah serta menutup sama sekali peluang pasangan calon independen.

Selanjutnya ketentuan Pasal 59, ayat 3 Undang-Undang Nomnor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah diatur bahwa pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diusulkan oleh Partai Politik, dan wajib membuka kesempatan seluas-luasnya bagi bakal calon perseorangan yang memenuhi syarat. Selanjutnya, partai politik dan gabungan partai politik memproses bakal calon melalui mekanisme yang demokratis dan transparan, yakni memperhatikan pendapat dan tanggapan masyarakat. Secara umum,

(45)

45

terkesan bahwa partai politik seperti mendapat kesempatan istimewa dalam Pilkada, yang cenderung memfungsikan dirinya sebagai “political vehicle” bagi para pasangan calon.

Ramainya perbincangan tentang calon perseorangan dimulai ketika Mahkamah Konstitusi membuat kejutan dengan memberikan kepastian hukum melalui putusan MK Nomor 5/PUU-V/2007 mengenai uji materi Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah terhadap Undang-Undang dasar 1945. Putusan Mahkamah Konstitusi atas hasil uji materi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah diajukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat daerah Kabupaten Lombok Tengah.

Konsekuensinya lebih lanjut, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dilakukan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008, antara lain pada ketentuan Pasal 56 ayat 2, sehingga berbunyi sebagai berikut :

(1) Kepala Daerah dan wakil Kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

(2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh partai politik, gabungan partai politik, atau perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang yang

(46)

46

memenuhi persyaratan sebagaimana ketentuan dalam undang-undang ini.

Selanjutnya didalam pasal 59 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008, menyebutkan peserta pemilihan Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah :

(1) Pasangan calon yang diusulkan oleh Partai Politik atau gabungan partai politik.

(2) Pasangan calon perseorangan yang didukung oloeh sejumlah orang

Partai Politik atau gabungan Partai Politik dapat mendaftarkan pasangan calon apabila memenuhi persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15% dari jumlah kursi DPRD atau 15% dari akumulasi perolehan suara sah dalam pemilihan umum anggota

Dalam rangka penguatan peran partai politik dalam kaitannya dengan Pilkada secara langsung, Dedi Putra (2010) mengatakan : Partai Politik harus dapat melakukan beberapa hal, yaitu :

Pertama, Perubahan paradigma, khususnya menyangkut peran partai

politik dalam pilkada. Partai Politik harus melihat Pilkada bukan semata-mata masalah proyeksi kekuasaan, tetapi harus mampu melihat dalam frame yang lebioh luas bahwa Pilkada langsung adalah

(47)

47

bagian dari proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Kompetisi yang fair dan hadirnya calon-calon yang berkualitas akan melahirkan pemerintahan daerah yang baik dan pada akhirnya akan memupuk kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi dan peran partai politik di dalamnya.

Kedua, Partai Politik harus bersungguh-sungguh berusaha menawarkan pasangan calon terbaik, yaitu calon yang memiliki kapabilitas sekaligus integritas kepemimpinan. Pertimbangan poncalonan bukan semata-mata popularitas atau modal yang dimilikinya, meskipun k3duanya memang penting dan tidak dapat diabaikan untuk mobilisasi peroleehan suara. Namun, dengan orientasi politik jangka panjang, partai politik seharusnya mempertimbangkan dengan serius kesesuaian visi, misi, dan program calon dengan platform partai karena kinerja calon sebenarnya merupakan representative partai politik dalam mengejewantahkan blueprint mereka tentangg pemerintahan.

Ketiga, Peran Partai Politik dalam mobilisasi dukungan harus

mendewasakan pemilih melalui pilihan isu dan cara yang bijak,

terutama terkait dengan kemungkinan konflik di tengah

masyarakat.Masing-masing daerah mempunyai karakteristik tersendiri dan partai harus cerdas memilah mana yang layak dan tidak untuk ditawarkan kepada pemilih. Adalah tugas partai politik sebagai mesin

(48)

48

pemenangan dalam Pilkada untuk memenangkan calonnya. Akan tetapi, hal ini tidak berarti semua cara menjadi boleh untuk digunakan, meskipun memang aturan dan perangkat yang ada belum memadai. C.2. Praktek/Latihan

a. Jelaskan fungsi Partai Politik.

b. Jelaskan peran Partai Politik pada masa Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebelum dan sesudah dilakukan perubahan kedua melalui Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008.

D. Peran DPRD dalam pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. D.1. Materi

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah telah memunculkan arus besar dalam sistem pemerintahan daerah, yaitu arus yang berorientasi pada kepentingan masyarakat (partisipatif-populis). Yang paling menarik dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah ketentuan mengenai pemilihan kepala daerah secara/wakil kepala daerah secara langsung. Ketentuan ini merupakan hal baru dan pertama kali dalam sejarah sistem pemerintahan daerah di Indonesia. Undang-undang ini mengubah secara total sistem pemilihan kepala daerah yang sebelumnya diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyebutkan

(49)

49

bahwa pemilihan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah dilaksanakan dalam rapat paripurna DPRD yang dihadiri sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah anggota DPRD.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menentukan bahwa kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dipilih melalui pemilihan umum ( pemilu ) yang dilaksanakan secara demokratis. Lebih lanjut di dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, ketentuan Pasal 56 ayat (2) diubah, sehingga Pasal 56 berbunyi sebagai berikut :

(1) Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

(2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh partai politik, gabungan partai politik, atau perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang yang memenuhi persyaratan sebagaimana ketentuan dalam undang-undang ini.

Menurut Morissan ( 2006 ), ada tiga argumentasi yang melatarbelakangi perubahan fundamental pemilihan kepala daerah tersebut, yaitu :

(50)

50

a. Pimpinan Negara tertinggi (presiden) telah dipilih secara langsung dalam pemilu yang dilakukan pertama kali melalui Pemilu tahun 2004, sementara pimpinan wilayah terendah (kepala desa) juga dilaksanakan secara langsung, lantas mengapa pemilihan kepala daerah tidak juga dilakukan secara langsung. Dengan demikiantidak ada alas an untuk tidak melaksanakan pemilu langsung bagi gubernur, bupati dan walikota.

b. Pemilu kepala daerah akan lebih mewujudkan kedaulatan yang berada ditangan rakyat, sebagaimana ketentuan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945. Dengan adanya kedaulatan ditangan rakyat di pemerintahan daerah maka ongkos politik (money

politics) tidak lagi banyak terjadi yang pada gilirannya nanti

akan mempercepat kesejahteraan rakyat.

c. Secara yuridis, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menentukan bahwa kepala daerah dipilih oleh DPRD sudah tidak sesuai lagi karena undang-undang ini merupakan produk hukum sebelum amandemen UUD 1945. Sementara itu, sudah ada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD, yang tidak menyebutkan adanya tugas dan wewenang DPRD untuk memilih kepala daerah. Hal ini ditafsirkan bahwa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 menginginkan

(51)

51

pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung oleh rakyat.

Dengan demikian, pemilihan kepala daerah/wakil kepala daerah tidak hanya dilakukan melalui sistem satu pintu, yaitu menempatkan partai politik menjadi satu-satunya saluran perekrutan kepemimpinan pemerintahan daerah, tetapi pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang dapat mendaftarkan diri sebagai pasangan calon gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati dan calon walikota/wakil walikota apabila memenuhi syarat sebagaimana dimaksud di dalam pasal 59, ayat (2a dan 2b ) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008.

Selanjutnya di dalam Ketentuan Peralihan Pasal 233, Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 dinyatakan bahwa kepala daerah yang berakhir masa jabatannya pada tahun 2004 sampai dengan bulan Juli 2005 diselenggarakan pemilihan kepala daerah secara langsung pada bulan Juni 2005. Kepala daerah yang berakhir masa jabatannya pada bulan Januari 2009 sampai dengan bulan Juli 2009 diselenggarakan pemilihan kepala daerah secara langsung pada bulan Desember 2008.

DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah yang dibentuk di daerah provinsi, daerah kabupaten/kota dan berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah. Peran DPRD dalam pemilihan kepala daerah/wakil kepala daerah

Referensi

Dokumen terkait

Pelajaran yang dapat diambil dari pendidikan di Inggris untuk kemajuan pendidikan Indonesia diantaranya perlunya peran serta aktif pemerintah daerah dan pusat dalam mengajak

IKAHI sebagai satu-satunya wadah profesi hakim di Indonesia mengeluarkan salah satu keputusan dalam Musyawarah Nasional (Munas) XIII di Bandung untuk

Ikatan dalam molekul ini terjadi karena pemakaian electron bersama dimana atom yang berikatan memiliki keelektronegatifan yang sama, sehingga merupakan ikatan kovalen

Gambar 4.8 Pengukuran Format Data Bluetooth Arus Motor BLDC Mobil Listrik dengan

[r]

Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas, penulis memilih dasar dari judul skripsi ini adalah mengenai masalah tentang tinjauan yuridis terhadap pelepasan hak ganti rugi atas

Tujuan penelitian ini mengukur kemampuan tarif INA CBGs tindakan Hemodialisa pada program Kartu Jakarta Sehat dalam menutupi biaya riil yang dikeluarkan untuk tindakan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan hubungan logico-semantic dalam klausa kompleks yang terdapat dalam liputan berita hiburan VOA edisi